Selasa, 03 April 2018

Khotbah PAK 1 Maret 2018 Efesus 4:1-6


Hidup Yang Berpadanan Dengan Panggilan
Panggilan yang mulia (ayat 1)
Gereja ada bukan tanpa tujuan. Ada panggilan ilahi bagi gereja. Hal ini ditegaskan Paulus melalui pemunculan kata “panggilan” (klēseōs) maupun “dipanggil” (eklēthēte) masing-masing sebanyak dua kali (4:1, 4). Panggilan ini merujuk pada panggilan ilahi yang luar biasa dan disertai dengan pengharapan yang penuh kemuliaan (1:18; 4:4).
Apakah yang dimaksud dengan “panggilan” dalam konteks ini? Berdasarkan konteks, kita sebaiknya menafsirkan ini sebagai panggilan untuk menjadi satu tubuh. Pertama, panggilan di 4:4 dikaitkan dengan “satu tubuh”. Kedua, panggilan di 1:18 maupun 4:1, 4 juga dihubungkan dengan posisi Kristus sebagai Kepala Gereja yang memenuhi dan mengikat semua bagian (1:22-23; 4:15-16).Ketiga, dalam bagian yang paralel di Kolose 3:12-15 dikatakan bahwa orang-orang percaya “telah dipanggil menjadi satu tubuh” (3:15b).
Panggilan ini dimungkinkan melalui karya penebusan Kristus (2:11-22). Orang-orang Yahudi yang “dekat” dan orang-orang Yunani yang “jauh” sama-sama didekatkan dan dijadikan satu keluarga dan bangunan rohani melalui darah Kristus (2:13). Kematian Kristus menjadikan mereka “satu manusia baru di dalam diri-Nya” (2:15). Salib Kristus “mendamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah” (2:16). Betapa mulianya panggilan kita!
Walaupun Kristus sudah memungkinkan pemenuhan panggilan itu, orang-orang percaya tetap harus mengerjakan bagian mereka, yaitu hidup berpadanan dengan panggilan tersebut (4:1). Kata “berpadanan”, axiōs) secara hurufiah berarti “layak” (semua versi Inggris, Kol 1:10). Panggilan ilahi bagi kita adalah begitu mulia, sehingga tidak semua cara hidup layak atau pantas bagi panggilan itu.Orang yang mempunyai panggilan mulia dituntut untuk mempraktekkan cara hidup tertentu yang pantas. Mengapa kriminalitas yang dilakukan oleh seorang polisi, aparat hukum, atau penegak hukum menjadi begitu serius? Karena mereka secara khusus dipanggil untuk memberantas kriminalitas. Mengapa korupsi yang dilakukan oleh para pejabat terlihat begitu jahat? Karena mereka dipanggil untuk menyejahterakan rakyat, bukan merampas hak mereka. Mengapa perselisihan dalam gereja selalu menjadi berita yang heboh? Karena gereja dipanggil untuk menjadi satu tubuh di dalam Kristus. Kekristenan dikenal sebagai agama yang penuh kasih, sehingga ketidakadaan kasih merupakan persoalan sangat serius bagi gereja.
 Wujud kehidupan yang layak bagi panggilan (ayat 2-3)
ayat 2-3 merupakan penjelasan tentang bagaimana wujud dari kehidupan yang layak bagi panggilan ilahi. Wujud ini ditunjukkan melalui dua frase kata depan dan dua partisip seperti ditunjukkan berikut ini:
dengan segala kerendahhatian dan kelemahlembutandengan  kesabarantunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantuberusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahteraBagaimana hidup yang layak bagi panggilan ilahi?1.kehidupan yang diwarnai dengan kerendahhatian dan kelemahlembutan (4:2a). Dari struktur kalimat yang digunakan di sini terlihat bahwa Paulus sengaja menegaskan kaitan erat antara kerendahhatian dan kelemahlembutan. Dalam sebuah perselisihan, kelemahlembutan sangat diperlukan. Sikap ini dikontraskan dengan kekerasan (1 Kor 4:21) atau kecenderungan untuk bertengkar (2 Tim 2:24-25; Tit 3:2). Mengapa kita tidak bisa lemah-lembut? Salah satu alasannya adalah karena kita memandang diri kita terlalu tinggi. Kita lebih memilih jalan otoritas daripada persuasi. Kita lebih nyaman mengedepankan status dan jabatan yang tinggi daripada hati yang mau melayani. Jadi, dengan menyadari kerendahan kita (tapeinophrosynēs), kita akan memupuk kelemahlembutan (prautētos) dalam diri kita.
2., kebersamaan yang diwarnai dengan kesabaran (4:2b). Kata makrothymia secara hurufiah berarti “temperamen yang panjang”. Kesabaran bukan berarti meniadakan teguran (2 Tim 4:2) atau hukuman (Rom 9:22; 1 Pet 3:20). Orang yang sabar lebih memilih untuk memberi kesempatan dan mengupayakan orang lain bertobat (Rom 2:4; 1 Tim 1:16; 2 Pet 3:15). Orang yang sabar akan memilih jalur persuasi terlebih dahulu (Ams 25:15), tidak langsung menempuh jalur hukuman. Sama seperti Allah dahulu bersabar terhadap kita dan membimbing kita pada pertobatan, demikianlah kita seharusnya memperlakukan orang lain.
3. kebersamaan yang mau menanggung satu dengan yang lain di dalam kasih (4:2c). “menunjukkan kasih dalam hal saling membantu” terkesan sangat bebas. Kata anechomai bisa berarti “bersabar” (Mat 17:17; Mar 9:19; Luk 9:41; 1 Kor 11:1, 4, 19-20) atau “menanggung”
Kunci untuk melakukan hal ini adalah “di dalam kasih” (en agapē). Bagi kita yang sudah mengalami dan memahami kasih Allah yang tanpa batas (3:18-19), menanggung kelemahan orang lain seharusnya tidaklah sukar. Di dalam kasih, Allah sejak kekekalan sudah memilih kita untuk diselamatkan di dalam Kristus terlepas dari keberdosaan kita (1:4). Oleh kasih Allah kita telah dihidupkan bersama-sama dengan Kristus (2:4). Karena itu, sudah sepantasnya kalau kita meneladani kasih Allah (5:2). Tanpa kasih, pembangunan tubuh Kristus tidak mungkin tercapai (4:15-16).
4. kebersamaan yang mau memelihara kesatuan Roh dalam ikatan damai sejahtera (4:3). Kata “berusahalah”. Kata ini mengandung makna kesungguhan (Gal 2:10; 1 Tes 2:17; 2 Pet 1:10).
 Dasar kehidupan yang layak bagi panggilan (ayat 4-6)
Perbedaan seharusnya menjadi kekayaan bagi gereja. Dalam realita hal ini sayangnya seringkali tidak demikian. Perbedaan menjadi sumber perselisihan. Bahkan perbedaan yang sepele tidak jarang menyebabkan konflik yang parah dalam sebuah gereja. Hal ini jelas merupakan situasi yang ironis. Dasar dari kesatuan kita jauh lebih agung dan mendasar daripada perbedaan-perbedaan manusiawi yang ada.
Kesatuan kita terletak pada kesatuan tubuh (4:4), kesatuan pengharapan (4:4), kesatuan iman (4:5), dan kesatuan baptisan (4:5). Semua ini bersifat lebih fundamental dan permanen daripada perbedaan-perbedaan di antara orang-orang percaya. Lebih jauh, Paulus menelusuri kesatuan kita sampai pada Allah Tritunggal. Sebagaimana Roh Kudus (4:4), Tuhan Yesus (4:5), dan Bapa (4:6) adalah satu secara hakekat, demikian pula kehidupan bergereja seharusnya merefleksikan sebagian aspek dari kesatuan itu.
Masih adakah alasan untuk tidak mengasihi satu dengan yang lain? Adakah perbedaan yang terlalu besar yang tidak bisa dikalahkan oleh kesatuan rohani kita?



Tidak ada komentar: