Selasa, 03 April 2018

Khotbah Minggu 18 Maret 2018 Ev : Mazmur 43 : 1 – 5


Beriman Dan Berharap Hanya Kepada Allah
(Ada Babtisan 3 Orang. Arti Babtisan Ondolhon)
Tujuan kehidupan manusia adalah kebahagiaan.Jika ada pertanyaan, apakah ada manusia yang menginginkan hidupnya tidak bahagia atau hidupnya selalu meminta penderitaan datang kepadanya?Pastinya tidak.Konsep kebahagiaan setiap manusia pasti berbeda-beda.Ada yang mengartikan kebahagiaan itu dgn keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dr segala yg menyusahkan); ada yang mengartikan beruntung dan sebagainya.
Bagaimana kebahagiaan itu bagi orang Kristen?Tidak ada satu orang pun yang mendoakan datangnya penderitaan atau bencana dalam dirinya.Akan tetapi, bagaimana jika penderitaan, kesusahan menghinggapi orang Kristen? Apakah yang ia lakukan? Mengutuki TUHAN, atau menyalahkan TUHAN? Bahkan ada yang menjadi ragu-ragu akan kuasa TUHAN dalam penderitaannya. Tidak semua orang Kristen jika mengalami penderitaan dalam penuh kerendahatian dan berhikmat.
 Ada beberapa orang Kristen justru ingin meminta keadilan kepada TUHAN dengan merincikan perbuatan baiknya, atau bahkan sampai ia meninggalkan imannya dengan tujuan, lepas dari penderitaan dan mendapat kebahagiaan. Timbul pertanyaan, apakah orang Kristen dijanjikan hidupnya akan selalu memperoleh kebahagiaan di dunia ini? Bagaimana pertanyaan tersebut diperhadapkan dengan nas perikop ini?
  Kitab Mazmur merupakan susunan ungkapan hati Pemazmur kepada Tuhan untuk sebagai ungkapan imannya kepada Tuhan.
Ungkapan itu Pemazmur tuangkan melalui nyanyian, doa, pujian maupun seruan meminta tolong kepada Tuhan. Semua itu menunjukkan ketergantungan Pemazmur kepada Allah.Pemazmur merasa hampa dan tidak ada apa-apanya tanpa Tuhan.Pergumulan yang dihadapi Pemazmur menunjukkan betapa ia harus benar-benar berjuang untuk membuktikan kesetiaannya kepada Tuhan meskipun banyak tantangan yang ia hadapi. Dapat Kita lihat betapa Pemazmur
1.      Meyakini Pertolongan Tuhan (ay. 1 – 2)
Salah satu bukti iman yang benar dari seorang Pemazmur adalah keyakinannya akan pertolongan Tuhan. Dia tidak pernah ragu dan kuatir akan kemampuan Tuhan dalam menjawab doa-doanya. Dengan keyakinan inilah pemazmur datang ke hadapan Tuhan menyampaikan doa permohonannya. Ada 3 hal utama yang menjadi permohonannya kepada Tuhan.
Pertama, “Berilah Keadilan kepadaku, ya Allah”. Pemazmur sangat mengenal Allah karena ia memiliki dan menjalin hubungan yang erat dengan Allah, sehingga dia tahu bahwa Allah itu adalah Allah yang adil, yang tidak pernah kompromi dengan kesalahan, tidak memandang orang, status dan jabatan, tidak berkenan terhadap penindasan dalam bentuk apapun.
Kedua, “Perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh”. Ada banyak orang yang memilih berpindah keyakinan dan menggadaikan imannya demi mencari keamanan dirinya sendiri, khususnya ketika terjadi penghambatan atas iman percayanya.Ada juga orang yang merencanakan pembalasan dendam ketika dia disakiti dan dihina.Namun bukan itu yang dilakukan Pemazmur.Tantangan tidak mempengaruhi iman percayanya, malah semakin memperkokoh iman dan ketergantungannya kepada Tuhan.Perbuatan orang yang tidak mengenal Tuhan itu tidak dia balaskan, namun dia serahkan kepada Tuhan supaya Tuhan yang membelanya.
Ketiga, “Luputkanlah aku dari orang penipu dan orang curang”. Dalam pelariannya Pemazmur sadar bahwa kalau bukan Tuhan yang meluputkannya, mungkin dia akan mati di tangan orang-orang yang mengejarnya. Untuk itu, ia tidak ragu lagi memohon kepada Tuhan agar para penipu dan orang curang yang suka membalikkan fakta tidak mampu menjerumuskannya.
2.      Kerinduan Untuk Datang ke Rumah Tuhan (ay. 3 – 4)
Yang lebih mengagumkan dari Pemazmur adalah ketika dia memohon pertolongan Tuhan, tujuannya bukan semata-mata hanya ingin bebas dari rencana jahat orang-orang yang mengejarnya. Namun ada sebuah kerinduan dan harapan yang ia idam-idamkan di hatinya. Dia rindu ketika ia Tuhan bebaskan, Tuhan juga menuntunnya untuk berjalan menuju Bait Allah, bukan kembali ke rumahnya untuk berkumpul dengan keluarganya, Dia meminta tuntunan Tuhan untuk membawanya ke gunung Tuhan supaya di sana dia bisa beribadah kepada-Nya. Tanda Pemazmur memprioritaskan rumah Tuhan dibanding tempat lain adalah dapat kita lihat dalam Mazmur 84 : 11, “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah
Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.” 
3.      Berharap dan Bersyukur Kepada Allah (ay. 5)
Pemazmur menenangkan jiwanya sendiri yang sebelumnya tertekan dan gelisah karena beratnya tantangan yang dia hadapi. Dia sadar bahwa tekanan dan kegelisahan itu akan menjadi harapan yang pasti karena Tuhan yang menjadi penolong baginya. Inilah alasan mengapa ia mengatakan, “Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku (ay. 5)”.
Sungguh satu teladan iman yang amat hebat.Walaupun dalam keadaan yang amat menghimpitnya, dia tetap yakin bahwa Tuhan adalah penolongnya.Daud sangat yakin bahwa Tuhan itu adil. Tuhan tidak akan membiarkan dirinya terus menerus berada dalam himpitan musuh
Ia juga menyadari bahwa ia tidak perlu merasa susah hati meskipun musuh menjepitnya.
Sdr Yg Dikasihi Tuhan. sekiranya saat ini, saudara juga sedang mengalami keterjepitan yang membuat jiwa saudara menjadi sesak, atau anggap seolah tidak sanggup lagi bernafas karena berbagai masalah, entah itu karena himpitan ekonomi, persoalan keluarga dan lain-lain, marilah kita belajar dari firman Tuhan dalam teladan Daud . Maka saya mendorong saudara keluar dari jepitan yang sangat menyesakkan itu.
Tegakkan kepala saudara, dalam iman pandang terus kepada-Nya.Tuhan akan turun tangan menolong saudara keluar dari kondisi yang menyesakkan ini.
Ada berbagai macam bentuk badai kehidupan yang dirasakan setiap orang.
Ketika badai kehidupan itu datang menerpa kita, maka apa yang akan kita lakukan? Mazmur 43 akan memperlihatkan pada kita sikap dari seorang (pemazmur) yang sedang menghadapi badai kehidupan yang sungguh amat berat. Pemazmur berkata seberat apapun masalah tetaplah hanya Allah satu-satunya penolong atas masalah yang dihadapinya. Hanya bersama Tuhan ada sukacita dan kegembiraan (ay.4), betapapun pergumulan yang besar dihadapinya tidak akan merenggut sukacita dan kegembiraannya. Sebab pemazmur yakin tidak ada yang dapat mengusik sukacitanya sebab Tuhanlah yang akan tampil dalam perkaranya. Maka dengan dengan keyakinan yang teguh pemazmur mampu menyatakan “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Sepertinya kalimat ini adalah wujud kesedihan, tetapi ini adalah ungkapan keyakinan akan pertolongan Tuhan yang membangkitkan semangat mengadapi kesulitan bersama Tuhan.
Sehingga tidak ada sikap lain yang boleh ditunjukkan selain “Bersyukur”. Mengapa?Sebab seberat apapun masalah yang dihadapi, ternyata masalah itu tidak lebih dari kebesaran Tuhan yang mengatasi kehidupan ini. Firman Tuhan mengatakan “Ucapkanlah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita” (Efesus 5:20). Ucapan syukur kepada Allah telah membuat kita mampu melewati hal-hal yang sukar, yang mengarahkan pandangan kita kepada Allah yang berkuasa dan menjauh dari ketakutan.Dengan bersyukur, kita telah membalikkan keadaan menjadi lebih baik.Kita tidak lagi terbawa derasnya arus kesulitan, namun telah mampu untuk menguasai diri untuk bertahan sebari menanti pertolongan Tuhan.Yang selalu berpengharapan pada Tuhan akan selalu menerima kuasa Allah yang luar biasa. Tuhan yang mengendalikan segala sesuatu pasti akan mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi Allah (Roma 8: 28). Tuhan tidak merancangkan kecelakaan maupun penderitaan dalam hidup kita, namun Tuhan dengan kuasaNya yang besar akan sanggup membalikkan keadaan justu menjadi kebaikan bagi kita. Dalam setiap krisis dan masalah yang terjadi Tuhan ada dan bahkan sedang bekerja mendatangkan kebaikan yang justru lebih jauh dari yang kita harapkan dan pikirkan.Tuhan tidak diam, Tuhan tidak tidur ketika kita menghadapi pergumulan.Dia berkuasa menguatkan dan menyelamatkan hidup kita. Tuhan sedang menantikan seruan kita memohon kuasaNya, maka Tuhan akan menguatkan dan menuntun kita kejalan kebaikan yang dirancangkanNya. Ketika menghadapi badai kehidupan biarlah Firman Tuhan Yesus selalu mengingatkan kita untuk tetap menyerahkan hidup hanya pada Tuhan “Dimanakah
kepercayaanmu?” Sehingga kita tidak biarkan bisikan iblis menguasai hati dan pikiran kita untuk menjauh dari kuasa Tuhan.
Amen. Pdt. RHL. Tobing, S.Th.MA



Tidak ada komentar: