Senin, 30 April 2018

Khotbah Minggu 29 April 2018 Nyanyikanlah Pujian Syukur Bagi Tuhan1 Tawarikh 16:7-13


Daud seorang yang mengutamakan Tuhan. Setelah selesai peletakan Tabut Allah di kemah yang disediakan dan ritual mempersembahkan korban dilaksanakan, Asaf dan saudara-saudara sepuaknya disuruh Daud untuk menyanyikan syukur bagi Tuhan.
Nyanyian syukur ini bersumber dari beberapa mazmur. Ayat 8-22 dari Mzm. 105:1-15, memuji-muji Tuhan yang sudah berkarya dalam sejarah Israel mulai dari Abraham sampai menjadi bangsa yang besar. Ayat 23-33 dari Mzm. 96, puji-pujian kepada TUHAN yang mulia, besar, dahsyat. Ayat 34-36 dari Mzm. 106:1, 47-48, puji-pujian sebab Tuhan, Allah baik.Dengan merenungkan mazmur pujian Asaf, kita bisa membayangkan suasana sukacita saat raja Daud dan bangsa Israel telah berhasil memindahkan tabut Allah ke Yerusalem. Sudah begitu lama tabut berada di tempat yang tidak semestinya, kini tabut ada di Sion, kota Daud, ibukota Kerajaan Israel. Asaf mengajak umat untuk bersyukur bagi Tuhan sebab Tuhan sudah mengikatkan perjanjian dengan Abraham, Ishak, Yakub menjadi perjanjian kekal. Berkaitan dengan perjanjian ini, Tuhan memberikan tanah milik pusaka dan kerajaan dan raja-raja, nabi-nabi yang melindungi umat-Nya. Selanjutnya Asaf mendorong segenap bumi bernyanyi bagi Tuhan dan juga menceriterakan kemuliaan dan perbuatan-Nya diantara bangsa-bangsa. Asaf juga mengajak bangsa-bangsa datang dan mengakui bahwa Tuhan itu Raja. Kemudian Asaf menutup dengan ajakan untuk bersyukur Tuhan itu baik, kasih setia-Nya selama-lamanya, Ia adalah Tuhan, Allah, Penyelamat umat.
Semua orang harus mengucap syukur, bahkan langit dan bumi beserta segala ciptaan harus mengucap syukur. Pada ayat 12 dikatakan bahwa orang-orang pilihan-Nya mengucap syukur kepada Tuhan. Artinya hanya orang-orang pilihan saja yang mampu mengucap syukur kepada Allah. Mengucap syukur tidak cukup hanya dengan mengangkat tangan dan bernyanyi bagi Dia, tetapi ada sikap lain yang menunjukkan bahwa kita mengucap syukur.
Lalu bagaimana cara kita mengucap syukur kepada Allah? Cara kita mengucap syukur kepada Allah dimulai dengan:
Memanggil Nama Tuhan (Ayat 7-8)
                Dalam budaya orang Israel yang bertugas untuk mengangkat Tabut Perjanjian adalah suku Lewi. Artinya mereka adalah orang-orang yang dikhususkan untuk melayani Tuhan dan Bani Asaf untuk pertama kalinya dipercayakan oleh Daud untuk mengangkat Tabut Allah dan menyanyikan nyanyian syukur kepada Allah. Dalam ayat 8 berkata bersyukurlah kepada-Nya dan panggil nama Tuhan.
Pada saat kita memanggil nama Tuhan, hal ini menandakan bahwa kita sedang mengucap syukur kepada Allah. Sebab itu Mazmur berkata bersyukurlah kepada Tuhan, dan dimulai dengan memanggil nama-Nya. Memanggil dapat diartikan alamat dan untuk menuju sebuah alamat, harus ada tujuan yang jelas. Dengan demikian, ketika kita memanggil seseorang, kita harus menyebut namanya. Begitu juga pada saat kita memanggil nama Tuhan, kita harus menyebut nama-Nya dan fokusnya harus jelas yaitu kepada Tuhan dan Daud mempraktekkan hal ini. Sehingga mengucap syukur tidak hanya mengangkat tangan melainkan memanggil nama-Nya dan pada saat mengucap syukur kepada Allah jangan kita fokus kepada hal-hal lain. Jangan fokus kepada orang lain tetapi fokuslah kepada Allah.
Memperkenalkan Perbuatan-Nya (Ayat 8)
Memperkenalkan perbuatan-Nya artinya memberitahukan agar semua orang tahu tentang perbuatan Allah. Memperkenalkan juga berarti mempromosikan Tuhan kepada orang lain dan hidup kita adalah untuk mempromosikan perbuatan Tuhan. Untuk dapat mempromosikan sesuatu harus ada sumber atau buktinya. Begitu juga ketika kita mempromosikan Tuhan, kita harus memiliki bukti atau sumber yang dapat dipercaya dan sumber promosi itu diri kita sendiri. Pada saat kita memperkenalkan Tuhan, kehidupan kita juga harus menunjukkan bahwa kita adalah orang percaya dan orang lain pun akan memuliakan Tuhan.
Memperkenalkan Tuhan adalah tanda bahwa kita mengucap syukur kepada Allah. 1 korintus 14:16 mengajarkan kepada kita bahwa untuk memperkenalkan Tuhan harus dengan bersuara tidak dilakukan di dalam hati agar setiap orang yang ada disisi kita dapat mendengar apa yang kita katakan. Jadi mengucap syukur bukan hanya memanggil nama-Nya tetapi memperkenalkan Tuhan.
Mempercakapkan Segala Perbuatan-Nya (Ayat 9)
Mempercakapkan artinya membicarakan, mengupas atau memperbincangkantentang perbuatan Tuhan. Mazmur berkata percakapkanlah perbuatan-Nya yang ajaib dan kelahiran kita pun adalah sebuah keajaiban dari Tuhan. Sebagai orang Kristen kita harus mempercakapkan tentang perbuatan Tuhan saat kita sakit, atau ketika Tuhan menolong kita dalam keadaan sulit. Dengan demikian, orang lain pun akan merasakan tentang kebaikan Tuhan dan kita dapat menyaksikan kebaikan Tuhan kepada orang lain.
Selalu Bermegah Di dalam Tuhan (Ayat 10)
Bermegah dapat diartikan adanya suatu kebanggaan. Pada saat kita bangga pada seseorang, kita pasti akan membicarakannya terus menerus. Begitu juga pada saat kita bangga memiliki Tuhan, kita akan membicarakan Tuhan secara terus menerus tanpa rasa takut. Pada saat kita bangga kepada Tuhan, kita sedang mengucap syukur kepada-Nya. Yesaya 45:25 berkata “Tetapi seluruh keturunan Israel akan nyata benar dan akan bermegah di dalam Tuhan”. Artinya seluruh manusia di muka bumi ini akan bermegah di dalam Tuhan dan kita adalah orang-orang yang ada di dalamnya, yaitu orang-orang pilihan-Nya. Dan kita dapat berkata bahwa bukan karena kuat kita melainkan Allah yang ada dalam hidup kita.
 Mau Dipimpin Oleh Tuhan (Ayat 11)
Mengucap syukur tidak hanya bermegah di dalam Tuhan tetapi juga mencari Dia adalah tanda kita mengucap syukur. Dalam 1 Tawarikh 14:10-14, dikisahkan bahwa Daud sebelum berperang melawan orang Filistin, ia bertanya terlebih dahulu kepada Tuhan dan Tuhan menjawabnya. Sehingga Daud mengalami kemenangan. Hidup kita juga harus seperti demikian, mencari Tuhan selalu. Orang yang mencari wajah Tuhan adalah ciri orang yang mau dipimpin oleh Tuhan dan Daud melakukannya.
Untuk melakukan segala sesuatu, kita perlu bertanya kepada Tuhan. Sebab hanya Tuhan saja yang akan memberikan jawaban pasti kepada kita. Bahkan dalam kisah ini, Allah memberikan strategi yang baik kepada Daud untuk melawan orang Filistin. Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa ada ide-ide baru dan tidak terbatas yang Tuhan beri ketika kita datang mencari Tuhan. Saat kita datang kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberi jawaban.
 Ingatlah ! Akan Tuhan (Ayat 12)
Pada saat mengucap syukur kepada Tuhan, itu tandanya kita mengingat akan Tuhan. Mengingat artinya tidak lupa dan saat kita  mengingat Tuhan, kita tidak lupa akan perbuatan-Nya kepada kita. Jangan lupa akan kebaikan-Nya dan ingatlah atas pertolongan-Nya kepada kita. Tetapi terkadang manusia sering lupa bahkan sengaja melupakan kebaikan yang sudah diterima daripada Tuhan.  Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita.
Mazmur 77:12 berkata “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan, ya aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala”. Ingat bahwa dari awal kejadian hidup kita pun itu merupakan kebaikan Allah yang perlu kita syukuri (Mazmur 139:13-14). Bahkan sampai sekarang pun Allah masih tetap sama, memimpin dan menyertai bahkan janji-Nya kekal sampai selamanya.
Sebab itu marilah kita mengucap syukur kepada Allah sebagai tanda kita berkarya maksimal bagi Dia dalam kehidupan kita sehari-hari lewat memanggil nama Tuhan, memperkenalkan perbuatan-Nya, mempercakapkan segala perbuatan-Nya, mau dipimpin oleh Tuhan, dan ingat akan Tuhan.
Mencari Tuhan adalah sebuah kebutuhan, keharusan dan juga perintah bagi semua manusia.  Selagi ada waktu dan kesempatan marilah kita mencari Tuhan dengan seluruh keberadaan hidup kita, bukan hanya sebatas formalitas atau lahiriah saja, melainkan harus melibatkan hati dan pikiran, sebab  "TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita."  (1 Tawarikh 28:9).  Jangan sampai kita hanya datang mendekat kepada Tuhan secara lahiriah sementara hati dan pikiran jauh dari Tuhan, seperti yang diperbuat oleh bangsa Israel:  "...bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,"  (Yesaya 29:13).  Ibadah yang demikian adalah kebencian Tuhan.  "Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu."  (Amos 5:21).
     Biarlah teguran Tuhan ini menjadi peringatan keras bagi kita supaya kita tidak lagi bermain-main dengan ibadah kita.  Tuhan menegur bukan berarti Dia kejam dan tidak mengasihi kita, justru menunjukkan bahwa Tuhan sangat mempedulikan kita.  "...perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan,"  (Amsal 6:23).  Karena itu carilah Tuhan segera selagi Ia berkenan untuk kita temui.
Berbahagialah orang yang mencari Tuhan dengan segenap hati!  
Mazmur 119:2
 Amen
                                                                         



Khotbah Ke. Rumah Tangga 1-2 Mei 2018 Mateus 11:25-30


Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."  Matius 11:28
Apakah saat ini Saudara merasa letih, lesu dan tak berdaya karena beratnya beban permasalahan yang harus Saudara tanggung dalam hidup ini?  Mulai dari bangun pagi sampai hendak tidur malam banyak perkara yang kita pergumulkan dan keluhkan, mulai dari masalah keuangan keluarga yang pas-pasan, usaha yang seret dan sedang berada di ujung tanduk, beban pekerjaan, dan suasana kerja yang tidak kondusif, kesehatan yang terganggu karena sakit-penyakit yang lama belum kunjung sembuh, belum lagi anak-anak di rumah yang susah diatur dan studinya yang kian terseok-seok.
     Dalam hal pelayanan pun kita merasa bahwa pelayanan yang kita lakukan selama ini serasa sia-sia, tidak ada kemajuan, jalan di tempat dan kita pun berniat untuk mundur karena tidak tahan dengan tekanan dari berbagai pihak.  Akhirnya kekuatiran dan kecemasan terus saja membayangi langkah kaki kita yang kian gontai.  Abraham L. Feinberg, seorang rohanian Amerika, menulis tentang sepuluh kiat untuk menikmati kebahagiaan hidup.  Salah satu dari sepuluh kiat itu adalah:  "Berhentilah kuatir.  Rasa kuatir akan membinasakan hidupmu."  Alkitab juga menegaskan bahwa kekuatiran itu sama sekali tidak mendatangkan kebaikan bagi seseorang, sebab  "Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang,"  (Amsal 12:25), dan  "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?"  (Matius 6:27).
     Mengapa Saudara harus memikul beban itu sendirian?  Rasul Petrus menasihati,  "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu."  (1 Petrus 5:7).  Tuhan berjanji,  "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."  (Ibrani 13:5b).  Karena itu kuatkan diri dan tetaplah percaya kepada Tuhan Yesus!  Keadaan dunia ini boleh saja berubah, tetapi kita punya Tuhan yang tidak pernah berubah:  kuasa, kasih, kemurahan dan kebaikan-Nya  "...tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya."  (Ibrani 13:8).  Tuhan Yesus tetaplah sebagai jalan dan kebenaran dan hidup bagi orang percaya. Dia adalah setia dan dapat diandalkan. Lalu mengapa kita tidak dapat menikmati ketenangan yang permanen? Karena kita hanya berhenti di “Marilah” saja.
Jika kita introspeksi diri baik-baik, alasan utama adalah karena kita mengabaikan ayat-ayat berikutnya, ayat 29-30 di sini selanjutnya dikatakan: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Yang disebut dengan orang-orang Kristen adalah murid-murid Kristus, orang yang harus belajar seperti Kristus dan mengikuti Kristus. Hanya orang yang secara konsisten terus belajar dan meneladani Yesus, barulah ia dapat terus menerus menikmati kehidupan yang penuh ketenangan dan kedamaian yang kekal itu.
Pertama, jangan biarkan kata “kuk” ini menakut-nakuti Anda. Karena ini adalah kuk dari Kristus, Dia akan membantu kita memikulnya. Ia akan membuat kita menyukainya, melalui daya tarik keadilan dan kebenaran. Ia akan membuat kita bosan dengan kesenangan semu dan membuat kita bergembira karena melatih diri untuk kebajikan.
Pada saat itu cara orang-orang Yahudi melatih sapi muda untuk membajak sawah adalah membiarkan sapi muda dengan sapi yang sudah berpengalaman berdampingan untuk memikul satu kuk. Sapi muda itu akan belajar dari sapi tua membajak di sana dengan patuh dan perlahan-lahan sapi muda itu akan menjadi terbiasa. Tuhan kita seperti sapi tua ini. Hari ini Tuhan tidak hanya berjalan bersama kita, Dia juga ada di dalam kita. Ketika kita membiarkan Tuhan hidup di dalam kita, maka kerendahan hati Tuhan akan dinyatakan di dalam diri kita. Selanjutnya dikatakan lagi: “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (ayat 30). Yang dimaksud dengan enak dan ringan yaitu yang sesuai, karena Tuhan tidak akan memberikan kuk yang melampaui batas kemampuan kita.
Kedua, belajar apa? 1. Lemah-lembut dan rendah hati. Yang disebut lemah-lembut adalah tidak panik, rendah hati lawan kata adalah sombong; semua keberhasilan kita juga bukan karena kemampuan dan kehebatan kita, untuk apa tinggi hati dan sombong, sesungguhnya tidak ada yang dapat dibanggakan! Kita juga tidak ada apa-apanya. Yesus adalah Allah Tritunggal yang Mahatinggi, tapi Ia rela merendahkan diri menjadi manusia seperti yang tercatat di dalam Flp. 2:7-8. Jika bukan karena anugerah Allah, apalah artinya kita? 2. Pengenalan dan keyakinan terhadap Allah Bapa: “Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu” (ay. 25-26). Yakin dan jelas siapa yang dilayani; Dia adalah Bapa, Tuhan langit dan bumi: Dia adalah Bapa kita, Dia tidak akan sesuka hati memperlakukan kita, setiap hal harus dengan seizin-Nya baru bisa terjadi di atas diri kita. Segala sesuatu ada di dalam kuasa-Nya. Karena itu buat apa kita menghitung-hitung untung rugi, keberhasilan dan kegagalan kita. 3. Ayat 25-26: Jelas bahwa Allah adalah Bapa, Tuhan langit dan bumi, aku bersyukur kepada-Mu. Mengucap syukur dalam segala hal. Waktu itu Yesus berada dalam situasi pasang surut, pekerjaan tidak berhasil, ditolak, diremehkan,…mengapa Ia masih bersyukur kepada Allah Bapa? Karena Yesus tahu siapa Bapa, karena Bapa maka Ia harus taat. Yakin bahwa Allah Bapa tidak akan salah juga tidak akan ada yang salah. 4. Ayat 27 menunjukkan betapa eratnya hubungan Dia dengan Allah Bapa. Dia membiarkan Bapa mengenal Dia (jujur, tanpa rasa sesal)Sebaliknya Ia juga sepenuhnya memahami Allah Bapa. Bagaimana kita di hadapan Allah, ada berapa banyak hal yang kita tidak berani terbuka kepada-Nya, dan sejauh mana pemahaman kita terhadap Allah Bapa? Tidak mengherankan, kita tidak dapat menikmati ketenangan! Amen


Khotbah Kaum Lansia 01 Mei 2018 Memuji Tuhan Atas Kebaikan dan KuasaNya yg Menyembuhkan Matius 21:14-16.


Cerita kehidupan di dunia seperti sebuah gua yang besar, ketika kita berbicara kita akan mendengar gaungnya. Gaung yang menunjukkan kehidupan manusia, gaung antara susah dan senang, suka dan tidak suka, tawa dan tangisan, marah dan kasih mesra. Seperti itu juga sikap Allah kepada manusia, terkadang keras dan lembut.
 Seperti kehadiran Yesus di Bait Allah membawa perubahan bagi orang-orang yang pada awalnya merasa Bait Allah tempat untuk berjual beli (Mat. 21:12). Yesus mambersihkan semua tujuan orang-orang yang salah ketika berada di Bait Allah. Yesus menegaskan bahwa Bait Allah adalah rumah doa bukan sarang penyamun. Hal itu terbukti ketika Yesus menyembuhkan orang-orang timpang dan buta yang datang menjumpai Yesus, dan rasa syukur akan kasih Yesus ini ditunjukkan dengan pujian yang dinaikkan oleh anak-anak yang hadir di Bait Allah pada saat itu.
 Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah (ay.12). Bait Suci adalah rumah doa, tetapi otoritas di Bait Suci telah menjadikannya sarang penyamun (ay.13, bandingkan dengan Yesaya 56:7; Yeremia 7:11).Setelah Yesus menyucikan Bait Allah, orang-orang buta dan orang-orang timpang datang kepada Yesus di Bait Allah dan mereka disembuhkan (ay.14). Aneh tapi nyata, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat tidak suka melihat Yesus menyembuhkan orang-
 orang sakit, mereka tidak suka melihat anak-anak memuji Tuhan (ay.15-16).Bait Allah yang di Yerusalem telah mengalami pergeseran fungsi (ay.13). Seharusnya Bait Allah adalah rumah doa, rumah kesukaan bagi segala bangsa . Praktek jual beli yang terjadi di Bait Allah menunjukkan bahwa orientasi ibadah tidak lagi berfokus pada Tuhan dan firman-Nya. Keadaan yang memprihatinkan tersebut membuat Bait Allah tidak ubahnya seperti sarang penyamun (Yeremia 7:9-11).
Kehadiran Yesus di Bait Allah menjadikannya bait kesembuhan/pemulihan, bait mujizat dan bait pujian (ay.14-15).
Roh agamawi dan orang-orang yang dipengaruhinya adalah penghambat/penghalang bagi pekerjaan Tuhan. Orang-orang semacam itu bukanlah orang yang tepat untuk dijadikan sebagai tim dalam melayani Tuhan (ay.15-17).
Bait Allah adalah orang-orang beriman yang telah diselamatkan (1 Korintus 6:19; Ibrani 3:6), karena itu sebagai orang-orang beriman yang telah diselamatkan, kita harus memperhatikan praktek dan motivasi ibadah kita. Apakah yang menjadi tujuan ibadah kita? Siapakah yang kita sembah dalam peribadatan kita?Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1-2).
Kita harus mewaspadai roh agamawi yang menganggap agama dan peribadatan hanya sebagai ritual atau tradisi tanpa mau mentaati firman Tuhan (Markus 7:6-9).
Mari kita undang Tuhan Yesus masuk ke dalam hidup kita, masuk ke dalam rumah tangga kita, masuk ke dalam komunitas kita (Wahyu 3:20). Sebab di mana ada Tuhan Yesus, di situ ada kesembuhan/pemulihan, ada mujizat dan ada puji-pujian bagi Allah.
Kehadiran Yesus di dunia diakui orang-orang percaya untuk menunjukkan kasih Allah kepada manusia. Walaupun masih banyak manusia kurang menyadari itu. Yesus hadir bukan saja dalam hal kebahagian tapi juga dalam kesusahan. Dan kehadiran Yesus membawa perubahan yang baik bagi orang-orang percaya. Kuasa Yesus mampu menyelesaikan setiap perkara manusia, tidak mungkin menurut dunia tapi dihadapan Yesus semua mungkin adanya. Muzijat-muzijat Yesus tetap terjadi sampai saat ini bagi orang-orang yang percaya padaNya.
Dalam kehidupan ini banyak permasalahan dan tantangan. Ketika permasalahan itu semakin mencekam baru kita sadar untuk menjumpai Yesus Sang Penolong. Seperti orang-orang yang datang kepada Yesus di Bait Allah untuk disembuhkan Yesus. Walaupun perbuatan Yesus akhirnya membuat para iman jengkel karena pujian-pujian rasa syukur yang diserukan oleh anak-anak. Atau selama ini kita yang mengaku sebagai anak-anak Allah kurang peka terhadap permasalahan orang lain ketika mereka timpang dan buta dalam arti imannya yang sudah timpang dan perlakuannya sudah dibutakan oleh dunia ini sehingga tidak lagi berjalan dalam kebenaran Kristus perlu pertolongan penguatan dari kita sebagai orang percaya atau malahan kita juga yang selalu merasa jengkel ketika kita melihat orang-orang memuji Allah dengan kesaksian-kesaksian hidupnya. Amen.

Rabu, 25 April 2018

Khotbah Minggu 22 April 2018 BNKP Bandung 1 Tes 2:13-20



Apa itu sukacita yang sempurna?
Apakah dengan kita memiliki segala macam yang kita inginkan, kita dapat mengatakan diri kita memiliki sukacita?
Apakah dengan mengatakan bahwa saya tanpa masalah dan hidup ini lancar-lancar saja, saya dapat berkata memiliki sukacita?Tampaknya kata sukacita merupakan kata yang cukup penting dalam sepanjang pemberitaan Firman Tuhan yang disaksikan Alkitab.Kembali pada pertanyaan apa itu sukacita yang sempurna?
Maka, setidaknya ada 3 poin penting yang dapat menjawab akan hal tersebut.
1.Sukacita yang sempurna adalah wujud nyata dari relasi seorang murid dengan Bapa (Allah)
2.Sukacita yang sempurna adalah wujud nyata dari ketaatan untuk menuruti perintah-Nya
3.Sukacita yang sempurna adalah wujud nyata seseorang yang berani untuk membagikan kasihnya kepada orang lain (sesama).
Saat kita Focus Dengan Tujuan Akhir Apapun Pergumulan Yang kita Hadapi Akan kita Jalani Dengan Sukacita,
KITA DICIPTAKAN UNTUK MELAYANI. Bukan Secara Kebetulan kita hidup sampai saat ini, tetapi ada Rencana Tuhan yg besar bagi hidup mu, dan bagi hidupku.
Karena itu Paulus katakan Dlm Efesus 2:10 “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya..”  –
Alkitab menyatakan bahwa, bahkan sebelum Anda dilahirkan, Tuhan sudah membuat rencana pelayanan bagi Anda. Alasan mengapa begitu banyak orang menderita sekarang, mengapa banyak yang ingin bunuh diri, serta merasa hampa adalah karena mereka telah kehilangan tujuan hidup, Kehilangan Sukacita. Bagian ini mengajarkan bahwa Allah menghendaki setiap orang percaya ditengah penderitaan hidup tidak menjadi serupa dengan dunia, tetapi tetap melayani Tuhan dengan benar. Hal seperti inilah yang dijalani oleh rasul Paulus. Ia mengalami penganiayaan (ayat 15-16), tapi ia tidak menjadi tawar hati/serupa dengan dunia ini. Walau dihambat, ia tetap merambat. Ia tetap melayani Tuhan dengan benar. Hal-hal apa saja yang menguatkan setiap orang percaya untuk dapat tetap hidup melayani Tuhan ditengah penderitaannya?
Focus on positive things (ayat 13-16)
Rasul Paulus tidak mau membiarkan perhatiannya terpusat pada orang-orang yang menentang pemberitaan Injilnya. Ia memusatkan perhatiannya pada orang-orang yang terbuka untuk menerima Injil. Hal ini membuat ia tidak mengeluh saat menghadapi perlawanan, melainkan ia dapat bersyukur karena orang-orang yang menerima Injil. Rasul Paulus juga bersyukur untuk orang-orang percaya yang rela menderita bagi kemuliaan Tuhan (ayat 14-16).
Serving with a loving heart (ayat 17-18)
Rasul Paulus tidak hanya asal melayani, melainkan ia melayani dengan hati yang mengasihi. Ia tidak asal melakukan tugas penginjilan namun ia rindu untuk mengunjungi jemaat Tesalonika untuk menguatkan iman mereka. Meskipun iblis melalui orang-orang Yahudi menganiaya dirinya, namun rasul Paulus tetap memperhatikan orang percaya di Tesalonika. Ia berdoa dan menulis surat Tesalonika ini.
Eternal value of the Gospel (ayat 19-20)
Menyadari nilai kekal dari pelayanan Injil merupakan kekuatan bagi setiap orang percaya yang melayani. Pelayanan yang berhubungan dengan keselamatan jiwa adalah bernilai kekal. Semua yang kita usahakan di dunia ini seperti mencari uang, kepandaian, prestasi, yang tidak berkait dengan keselamatan jiwa adalah sementara. Hanya jiwa-jiwa yang dimenangkan bagi Kristus yang akan “menyertai” kita sampai kekekalan. Rasul Paulus bersukacita karena kenyataan ini.
  Membangun hidup di atas Firman Tuhan
Dari ayat 13, kita dapat melihat bagaimana sikap jemaat Tessalonika dalam menerima Firman Tuhan. Rasul Paulus bersyukur atas penerimaan mereka terhadap Firman Tuhan dengan tulus. Walaupun yang memberitakan Injil itu manusia, namun mereka menerima dengan tulus dan berharga sebagai firman Allah. Jika firman Tuhan kita terima seperti seorang yang lapar dan haus, maka firman Tuhan benar-benar bekerja dalam diri kita. Firman Tuhan akan berdampak dalam kehidupan orang yang percaya ketika kita menerima dengan penuh kesungguhan dan ketulusan. Kemurnian dari niat kita menerima firman Tuhan tidak akan terpengaruh tentang siapa yang menyampaikan dan seperti apa cara penyampaiannya, namun kita akan bersungguh-sungguh dengan tuntunan Roh Kudus menemukan sapaan Firman Tuhan untuk kita hidupi.
 Kalau kita perhatikan sebuah bongkahan batu karang yang besar dengan teliti, maka kita akan melihat bahwa sebenarnya bongkahan karang itu terdiri dari rumah binatang kecil yang disebut KORAL. Koral-koral kecil akan mudah terbawa arus dan ombak lautan jika mereka hidup sendiri-sendiri, tetapi sebaliknya ketika koral itu bersatu dan membentuk sebuah gugusan karang maka,sebuah kapal besarpun akan hancur bila menabraknya ! Sungguh sebuah kekuatan yang hebat dari sebuah persatuan dan kebersamaan.
Amsal 17:17 (Silahkan dibaca) Menunjukkan bahwa ini adalah kekuatan sebuah hubungan yang  ditunjukkan dengan saling memperhatikan dan membantu, khususnya dalam keadaan yang sulit. Bagaimana cara kita membangun sebuah kebersamaan dengan orang lain? Berdasarkan bacaan kita pagi ini ada 2 cara supaya kita dapat membangun sebuah kebersamaan yang pada akhirnya membawa kekuatan yang sungguh luar biasa di Gereja kita.
Menerima dan Melakukan Firman Allah (ayat 13-14)
Dampak dari orang yang menerima dan Melakukan Firman Allah adalah Hidup dalam damai sejahtera dengan orang-orang yang ada disekitarnya walaupun mungkin orang lain memusuhinya; dan orang tersebut lebih memilih mengasihi orang lain dalam situasi dan kondisi apapun sebagai wujud nyata bahwa dia sungguh-sungguh mengasihi Allah ( 1 Yohanes 4:20)
Saling Memperhatikan (ayat 17-18)
Wujud nyata dari memperhatikan adalah memliki hubungan yang harmonis, ada kerinduan untuk saling mengunjungi; dengan tindakan itu satu sama lain dapat memahami sifat dan karakter masing-masing.Dalam sebuah kebersamaan pasti menimbulkan sukacita yang luar biasa karena dapat saling menopang kelemahan masing-masing, seperti yang terjadi pada Paulus dan jemaat Tesalonika.
Bagaimana Bpk,Ibu Sdr Apakah Kita Rindu Gereja kita menjadi kuat dan bertumbuh? 2 cara inilah yang di ajarkan kepada kita. AMIN



Khotbah Kebaktian R. Tangga 10-11 Apr 2018
Mazmur 23:1-6

Salah satu metafora yang sangat terkenal dalam Alkitab yang menunjukkan kebaikan, perlindungan, pemeliharaan Tuhan atas umatNya adalah melalui hubungan antara seorang gembala dengan domba-dombanya. Dalam Mazmur 23 ini diungkapkan bagaimana Tuhanbekerja dalam kehidupan Daud seperti seorang Gembala untuk menuntun Daud dalam setiap perjalanan kehidupannya. Tuhan Yesus sendiripun sangat jelas mengungkapkan metafora seperti ini tentang kehadiranNya dan kedatanganNya ke dunia ini: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya kepada domba-dombanya” (Yoh. 10: 11). Dalam metafora ini ada benang merah yang sangat indah bahwa ketika Daud mengakui bahwa Allah adalah Gembala, dan Tuhan Yesus mengatakan bahwa Akulah Gembala yang baik. Kita akan mencoba melihat beberapa hal yang boleh kita renungkan dari nats ini:
Allah menuntun kita dengan kasihNya yang besar
Mazmur ini sangat menarik untuk kita renungkan, ketika Allah digambarkan hadir sebagai Gembala ditengah-tengah kehidupan umatNya terlebih jika kita merenungkannya ke dalam kehidupan pribadi kita masing-masing. Sebagaimana yang diungkapkan Tuhan Yesus menjadi Gembala yang memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (Gembala yang baik), bahwa Allah adalah satu-satunya “Jalan kebenaran dan hidup” di luar Tuhan mustahil kita dapat menjalani jalan yang benar dan mendapatkan hidup. Sebab hidup seekor domba tergantung kepada gembala yang menuntunnya, namun Tuhan Yesus lebih dari penuntun saja tetapi Ia menjadi gembala yang memberikan nyawaNya bagi keselamatan domba-dombaNya. Maka tidak ada lagi kasih yang lebih besar yang dapat melampaui gembala yang mau memberikan nyawanya bagi domba-dombanya yaitu Tuhan Yesus Kristus. Tuhan bukan menuntun kita seperti gembala gajian namun Allah menggembalakan kita sebagai domba kepemilikanNya. Tuhan-lah yang akan mencukupkan segala kebutuhan umatNya bukan saja hanya untuk dapat hidup namun lebih dari itu agar umatNya mengenal jalan kebenaran.
Allah satu-satunya yang akan menuntun kita masuk ke Rumah Tuhan
Memang benar “ada banyak jalan ke Roma” namun ke Rumah Tuhan hanya ada satu dan yang tahu kesitu hanyalah Tuhan Yesus. Inilah yang harus kita syukuri sebagai anak-anak Allah bahwa kita dituntun memasuki Rumah Tuhan (ay. 6). Bagaimanapun suka dan duka yang kita jalani dalam hidup ini, namun tetap kita akan meninggalkan hidup di dunia ini. Dengan penggembalaan Tuhan kita dituntun meninggalkan dunia ini memasuki Rumah Tuhan.
Roh Kudus adalah kekuatan dan kuasa Tuhan yang akan menuntun kita tetap di jalan yang benarGada dan tongkat adalah wibawa kuasa Tuhan yang akan menuntun kita tetap di jalan yang benar, maka di dalam ancaman bahaya akan merangkul dan menyelamatkan kita dengan Gada dan TongkatNya. Wibawa dan kuasa Allah diberikan kepada umatNya yaitu melalui Roh Kudus yang menjadi sumber kekuatan, pertolongan dan penghiburan dari Tuhan (2 Tim. 1:7; Yoh 14:26). Ada banyak ancaman dan bahaya yang dapat membuat kita keluar dari jalan Tuhan, namun Tuhan memberikan RohNya kepada kita untuk tetap dapat berjalan bersamaNya. Itulah kuasa Allah yang besar yang dicurahkan kepada kita yang percaya pada Tuhan Yesus Kristus. 
Tuhan melimpahi kita dengan sukacita
Jaminan keselamatan Tuhan berikan kepada kita, sekalipun kita hidup dalam ketidakadilan, penindasan, krisis dan kebencian dari orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Sebab kita adalah “tamu Allah” yang meminyaki kepala kita dengan minyak dan piala kita tetap terisi penuh. Tuhan tidak akan biarkan ‘tamunya” tinggal dengan kegelisahan dan kekawatiran. Namun Ia akan senantiasa memberikan berkatNya pada kita sehingga sukacita kita tidak akan pernah hilang. Itulah berkat yang terbesar dari Allah bahwa kita dilimpahi sukacita yang menetap dari Tuhan oleh karena persekutuan dengan Tuhan yang akrab. 
 Itulah hidup orang-orang percaya yang digembalakan oleh Tuhan. Namun kita harus ingat bahwa ada banyak gembala-gembala penyesat dalam hidup ini yang mungkin akan menawarkan kita akan keselamatan dan kehidupan, namun semuanya itu akan menuntun kita kepada kebinasaan, seperti domba-domba yang dituntun ke Rumah pemotongan. Tetapi hanya ada satu Gembala Agung yang memberikan keselmatan, kehidupan dan menuntun kepada jalan yang benar yaitu Tuhan Yesus Kristus yang akan menggembalakan kita sampai kepada Rumah Tuhan. Amen


Khotbah Keb. PAK 19 Apr 2018 Doa Kita dan Kuasa Doa. Yakobus 5:13-20


Ketika menghadapi berbagai masalah, banyak cara yang mungkin kita lakukan untuk mengatasinya. Namun dari semua cara yang kita tempuh, apakah itu selalu diawali dengan datang lebih dahulu kepada Tuhan untuk memohon hikmat dan kuasaNya dalam mengatasi setiap masalah kita?
Melalui bagian Firman Tuhan ini, kita diberi petunjuk dalam mengatasi setiap masalah sesuai dengan kehendak Tuhan yaitu selalu datang kepada Tuhan melalui berdoa dan bernyanyi (ay 13).  Hal ini tidak berarti bahwa jika seseorang menderita ia hanya berdoa saja dan tidak menyanyi. Atau sebaliknya seseorang bergembira ia hanya menyanyi saja tetapi tidak berdoa. Hendaknya dalam keadaan menderita maupun bergembira, kita selalu ingat /datang kepada Tuhan (berdoa dan bernyanyi; bdk 1 Sam 2:1-10; Kisah 16:25).
Dalam ayat 14 dilanjutkan mengenai penderitaan yang dialami yaitu sakit/penyakit. Kata ‘sakit’ dalam ayat 14 ini,  dalam bahasa Yunani menggunakan kata asthenei. Kata ini juga digunakan dalam Yoh 5:5 untuk menggambarkan orang yang lumpuh selama 38 tahun.  Jadi sakit di sini menunjukkan penyakit yang cukup berat sehingga dinasehatkan untuk memanggil penatua, bukan datang kepada penatua (ay. 14). Dengan kata lain, kondisi sakit menjadi gambaran tiada pengharapan, kelemahan dan keterbatasan manusia, tetapi doa menjadi cara yang membuat manusia keluar dari pergumulan tersebut atau mendapat kekuatan menghadapinya.
Minyak (ay. 14) pada jaman itu mempunyai arti medis : menyembuhkan. Namun Yakobus tidak menasehatkan agar mengoles orang yang sakit saja dengan minyak, tetapi melakukan lebih dari itu yakni mereka harus berdoa memohonkan pertolongan dari Tuhan dan saling mengaku dosa mereka.
Ayat 14-16 menunjukkan pentingnya doa bagi hidup orang Kristen. Khusus dalam bagian ini doa dihubungkan dengan permohonan untuk kesembuhan dari penyakit. Di sinilah kita melihat makna doa kita dan kuasa Tuhan. Di balik nasihat ini, kita diberi petunjuk untuk memahami Tuhan yang kepadaNya kita berdoa yaitu Tuhan yang Mahakuasa, yang dapat kita harapkan dan andalkan dalam keadaan tidak berdaya sekalipun karena sakit, dan bahkan hal-hal yang tidak pernah kita pikirkan.  Tuhan yang sedemikian hebat, dapat kita temui dengan cara berdoa memohon kepadaNya. Dan doa itu begitu penting karena itulah cara kita berjumpa dengan Tuhan yang Mahakuasa yang dapat menunjukkan kuasaNya dalam segala pergumulan kita.
Beberapa janji yang saling berhubungan doa kita dan kuasa Tuhan yakni  janji untuk menyembuhkan, membangunkan dan mengampuni dosa (ay 15-16, 19-20).  Sebagai contoh nyata atas campur tangan Kuasa Tuhan dalam setiap pergumulan, Yakobus menggunakan pengalaman Elia yang karena ia berdoa kepada Tuhan yang Mahakuasa, pencipta dan pemilik alam semesta, maka keajaiban terjadi (ay. 17-18; bdk 1 Raja-Raja 17-18).
Saling mendoakan merupakan tugas dan panggilan sesama orang percaya. Ketika kita berdoa bagi orang lain, berarti kita telah menjadi rekan sekerja Allah dalam karya penyelamatan, penyembuhan, penghiburan, dan keadilan-Nya. Allah memang dapat mengerjakan semuanya itu tanpa bantuan kita, tetapi dalam rencana-Nya, Dia memberikan hak istimewa kepada kita agar dapat ikut terlibat dalam karya-Nya melalui doa.
Tentu saja doa kita harus “sesuai dengan kehendak Allah” (1Yohanes 5:14; Bdk. Mrk 14:36). Karena doa bukanlah sebuah tongkat ajaib yang dapat memuaskan segala keinginan kita (Yak 4:3), melainkan suatu kesempatan untuk bekerja sama dengan Tuhan dalam mencapai tujuan-Nya (ay. 16; bdk Doa Paulus bagi jemaat dan beberapa nasehatnya untuk saling mendoakan: Ef 6:18-20; 2 Tes 3:1-2; Ibr 13:18-19; 2 Tim 2:1-6, dll).
Dalam bukunya yang berjudul Prayer (Doa), Olan Hallesby menggambarkan cara kerja doa: “Kuasa ini begitu besar dan bergerak ke segala arah. Karena itu, yang harus kita lakukan saat berdoa hanyalah menunjuk kepada orang atau hal-hal tertentu yang kita ingin kuasa Allah berlaku atasnya. Lalu Dia, Allah yang empunya kuasa akan mengarahkan kuasa-Nya ke tempat yang diinginkan.” Oleh sebab itu, marilah kita dengan rendah hati dan tidak jemu-jemu mendoakan satu sama lain. Dan biarkanlah Kuasa Allah bekerja untuk memberikan  yang terbaik bagi setiap orang yang berseru kepadaNya. Amen


Khotbah Keb. R. Tangga 24-25 April 2018 Yeremia 31, 7-14



Ditengah penghukuman umatNya, Allah memperlihatkan kasih setiaNya, bahwa Dia akan memulihkan umatNya, yaitu perjanjian rohani yang di tuliskan dalam hati mereka dan bukan lagi perjanjian hukum yang tidak mampu mereka pelihara. Tuhan menggenapi perjanjianNya ini dengan kedatangan Yesus Kristus yang menjadi keselamatan bagi umat yang mau dituntun oleh Tuhan.Dalam janji keselamatan itu Tuhan yang akan membimbing umatNya mendapatkan keselamatan dan kehidupan yang penuh sukacita. Tuhan menyediakan harapan baru. Sebab Tuhan akan menjadi penjaga bagi umatNya seperti seorang Bapa dan juga gembala. Tuhan akan menghibur, memuaskan dan menebus umatNya.
Melalui nas ini kita diajak untuk meneliti iman kita kepada Tuhan. Sejauhmana kita mempercayai dan menghidupi janji setia Tuhan dalam hidup kita. Dalam penyataan kasih setia Tuhan ini, umat diajak untuk bersukacita sementara mereka berada dalam penderitaan di pembuangan. Maka muncul pertanyaan: “bagaimana bersukacita di tengah penderitaan?”Ketika pergumulan, penderitaan kita hadapi dalam hidup ini, mampukah kita meyakinkan diri kita bahwa  kasih setia Tuhan akan memberikan pertolongan pada waktunya? Sebagaimana Paulus menuliskan “bersukacitalah senintiasa di dalam Tuhan” (Flp. 4:4). Ini adalah sikap yang hendak diperlihatkan nas ini bagi kita untuk menjalani kehidupan ini. Bahwa kita adalah umat yang bersukacita, apapun yang terjadi tidak akan menyurutkan kita untuk bersukacita sebab kita percaya akan perbuatan Tuhan yang besar.
Kita memiliki alasan yang kuat mengapa kita senantiasa bersukacita:
      1.      Tuhan telah menghancurkan penghalang sukacita kita. Dosa adalah sumber penderitaan. Inilah yang terjadi pada umat Israel, bahwa penderitaan yang mereka hadapi hingga sampai di pembuangan karena dosa mereka. Hidup yang mengabaikan perintah Tuhan itu sama artinya kita mengubur dalam-dalam hidup yang berbahagia dalam hidup kita.Namun, dalam keberdosaan manusia, Tuhan datang dengan kasih setiaNya memberikan pengampunan dosa bagi kita. Karena Tuhan tahu manusia tidak akan bisa selamat dari hukuman dosa jika bukan Tuhan yang menyelamatkan. Sehingga kita bersyukur oleh sebab kasih Tuhan yang besar melalui anakNya Tuhan Yesus Kristus yang telah menebus kita dari kutuk dosa.Ini adalah alasan utama mengapa kita bersukacita dalam hidup ini, sebab halangan utama yang membuat manusia itu menderita yaitu dosa telah diruntuhkanNya. Sehingga kita dengan penuh semangat dapat memasuki hidup yang penuh sukacita.
       2.      Tuhan menyediakan sukacita bagi kita
Tuhan adalah sumber sukacita. Jika kita telah hidup dalam pengampunan dosa dari Tuhan, maka Tuhan memberikan kepastian pada kita bahwa Tuhan senantiasa menuntun kehidupan kita. Bahwa Dia akan menjadi Bapa dan Gembala yang memastikan masa depan yang baik bagi kita. Ketika dengan yakin dan tulus mempercayakan hidup kita pada Tuhan, maka Dia akan memberikan kepuasan dan penghiburan kepada kita. Kuncinya adalah kita mau datang dan menyerahkan hidup kepadaNya.
Pengharapan, iman kita kepada Tuhan Yesus tidak akan mengecewakan. Sebab hanya dari Tuhan saja kita dapat menerima segala kebaikan dalam kehidupan. Sehingga walaupun kita sedang berada pada pergumulan hidup, kita yakin bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi kita. Inilah alasan mengapa kita harus bersukacita. Maka orang yang mempercayakan hidupnya kepada Tuhan tidak akan mau ditindih, dibebani dan di tekan oleh kesusahan, sungut-sungut. Namun sebaliknya, kita akan pegang teguh keyakinan akan apa yang Tuhan katakana dalam nas ini: “umat-Ku akan menjadi kenyang dengan kebajikan-Ku”
Hukuman Allah menyadarkan mereka setelah mengalami penderitaan yang mereka terima di Babel. Dibalik penderitaan itu, mereka membangun sebuah pengharapan, munculnya penyelemat yang membebaskan mereka. Sukacita menjadi bagian kerinduan mereka.Kata membebaskan dan menebus, biasanya dipergunakan untuk pembebasan dalam bidang sekuler, seperti penebusan harta milik yang digadaikan, penebusan budak. Penebusan ini biasanya dilakukan oleh anggota keluarga terdekat. Kata-kata ini sangat akrab bagi umat Israel, maka teologia juga memakai kata ini untuk menyatakan perbuatan tangan Allah atas Israel dari perbudakan Mesir. Dalam ay. 7 istilah ini digunakan untuk orang Israel di pembuangan Babel. Allah menjadi ‘anggota keluarga’ mereka, menebus mereka dari perbudakan.
Pengalaman dikeluarkan atau dibebaskan banyak mempengaruhi jiwa seseorang. Orang sembuh dari sakit akan lebih menghargai kesehatan dibanding yang belum mengalaminya. Seorang ibu yang mempunyai bakat stroke masih ‘bandel’ dengan memakan pantangannya, tetapi begitu ada serangan stroke, dia jera dan berhenti memakan semua jenis makanan yang dapat membuat penyakitnya makin parah. Dia diubah oleh sakit yang luar biasa, dia membangun harapan di tengah kelemahannya. Dalam istilah hukum, hukuman membuat si terdakwa sampai pada efek jera.
Ketika Yeremia menggambarkan kepulangan para buangan dari Babel ke Israel, ada ajakan sukacita bagi keturunan Yakub. Biarlah keluh kesah mereka, sakit penyakit dan derita mereka diganti dengan sorak sorai, karena Allah yang bertindak membawa mereka pulang, membayar hutang mereka dan menebus mereka dari perbudakan Babel. Allah lah satu-satunya keluarga dekat mereka, menebus mereka dari perbudakan
Saat seseorang keluar dari RS dengan kondisi sehat, akan terlihat wajah sumringah karena gembira meliputi hatinya, orang keluar dari penjara akan ada cahaya optimis di wajahnya, apalagi jika keluar dari sebuah perbudakan panjang, bukankah kegembiraan meliputi hati, jiwa dan pikiran untuk terus tersenyum menjalani masa depan bersama Tuhan yang rela menjadi anggota keluarga membayar seluruh hutang-hutang? Kegembiraan sangat sempurna ketika ada penebusan dari ketidakmampuan. Hanya dalam mimpinya Martin Luther King menyatakan penebusan Allah pada kulit hitam untuk menjadi warga yang sama dengan kulit putih, di Amerika Serikat, sudah terlihat nuansa kegembiraan bagi suku tersebut dengan tetap optimis berjuang di negara berkulit putih itu. Janji keselamatan dari Allah membawa jaminan dan kegembiraan. Maka satu-satunya pengharapan kita untuk ditebus dari perbudakan dosa hanya pada Allah keluarga terdekat kita.
Inilah panggilan bagi orang yang berduka, menderita, tertindas dan mengalami sakit penyakit karena kesalahan masa lalu kita, Tuhan membawa pengampunan bagi kita, Tuhan memulihkan jiwa kita yang kering, Tuhan menebus kita dari dosa maut, membayar hutang kita dengan darah Yesus Kristus. Tidak ada lagi tangisan, hanya sorak-sorai bagi mereka yang memiliki DNA Yesus Kristus. Jangan terlalu percaya dengan kata-kata manis yang dijanjikan dunia, tapi mari tetap dengar-dengaran dengan suara Roh yang mengingatkan kita akan ketidakbenaran supaya hidup seturut dengan kebenaran Allah.
Allah tidak hanya menebus kita dari penderitaan, Dia juga menyediakan segala yang perlu bagi kita, saat kita dibawa pulang. Dalam ay. 10-14 ada ungkapan kesejahteraan. Yeremia menggambarkan kemakmuran umat Israel pada masa depan dan kegembiraannya di atas bukit Sion. Bila dibandingkan keluaran dari Mesir, maka pemulangan dari Babel akan lebih hebat, di mana Tuhan memberi umatNya kelimpahan makanan dan kemakmuran harta benda lainnya. Dia juga bertindak menjadi bapa Israel, Efraim adalah anak sulung-Nya. Keluarbiasaan terjadi bagi bangsa yang telah dipilihNya.
Bangsa pilihan Allah selalu mandapat perlakuan istimewa dari Allah. Dia menebus Yakub dari tangan orang yang lebih kuat darinya (11), menyediakan gandum, anggur dan minyak, anak-anak kambing domba dan lembu sapi (12); hidup mereka akan seperti taman yang diairi baik-baik. Istilah ini sangat tepat bagi Israel yang curah hujannya rendah dan jarang diharapkan. Dengan perlakuan istimewa ini semua kalangan, semua usia dapat bersukacita (13) karena kebajikan Tuhan yang diberi pada mereka. Tuhan melimpahkan anugerahNya bagi imam dan umat (14).
Banyak pengalaman pahit yang kita lalui sebagai umat percaya. Dalam epistel (1 Tesalonika 2, 13-20) dikatakan bahwa percaya dan beriman pada Tuhan tidak membuat jemaat Tesalonika tenang dan damai, sebaliknya mendatangkan kesusahan dan penderitaan oleh karena kejaran dari penguasa dunia. Ada yang tidak dapat menjabat jabatan tertentu karena beriman pada Tuhan Yesus. Ada tawaran pindah agama supaya mendapat posisi yang baik di negara ini, ada juga ketidak nyaman tinggal karena ketidakbebasan beribadah, kekeransan dan ketidakadilan yang diterima oleh umat percaya. Dibalik semua penderitaan ini, Tuhan menjanjikan kesejahteraan dan kemakmuran. Dia telah menebus kita dari utang dosa dengan darahNya yang kudus. Kita akan terus membangun tangga pengharapan kita dalam arak-arakan menuju kekekalan sebab, tangan Allah sendiri yang membawa kita keluar dari penderitaan, menuju sukacita surgawi bersama pasukan orang benar. Kita terpanggil menjadi pasukan khusus melawan ketidak-benaran memenangkan sukacita dalam Kristus. Selamat berjuang, Tuhan memberkati! Amin