Sabtu, 27 Oktober 2018

Khotbah Minggu 19 Agus 2018 Kejadian 17, 15-27 Indahnya Keberagaman


Epistel : Gal. 4:22-28 (Ceriterakan Makna Kebersamaan Melalui Bulan Keluarga ini Gal. 6:2; Ngambil Nasi Jgn Berebut; Pikirkan na parpudi/Kepedulian)
Allah yang penuh anugerah
Allah melimpahkan anugerah-Nya kepada siapa pun semata-mata berdasarkan kehendak-Nya dan bukan berdasarkan apa yang dilakukan orang tersebut. Anugerah Allah dapat dibagi menjadi anugerah khusus dan anugerah umum.
Walaupun di pasal 16 Sarai telah melakukan kesalahan dengan memberikan solusi yang tidak sesuai dengan jalan Tuhan, Tuhan tetap mengingat Sarai dan mengganti namanya menjadi Sara. Tuhan menyatakan bahwa ia akan menjadi ibu bagi bangsa-bangsa dan akan melahirkan raja-raja (16). Ketika Abraham meminta kepada Tuhan untuk memilih Ismael (17), Allah menegaskan bahwa anak yang lahir dari Saralah yang akan mewarisi perjanjian Allah dengan Abraham (19). Allah memilih semata-mata berdasarkan kasih karunia dan kedaulatan-Nya. Apa yang Allah janjikan merupakan anugerah khusus karena ini adalah perjanjian yang kekal, yang akan menjadikan keturunan Ishak sebagai umat Allah.
Meski Allah tidak memilih Ismael untuk mewarisi perjanjian-Nya, tetapi dalam kasih karunia-Nya Allah juga memberikan anugerah umum kepada Ismael sehingga ia pun diberkati untuk menjadi bangsa yang besar (20). Jadi, walaupun keturunan Ismael tidak akan menjadi umat Allah dan mendapatkan anugerah khusus dari Allah, bukan berarti bahwa Allah tidak akan memberkati dia beserta keturunannya.
Abraham merespons anugerah Allah dengan menaati perintah-Nya. Ia memanggil Ismael, semua orang yang lahir di rumahnya, dan budak-budaknya untuk melaksanakan sunat (23-27).
Allah kita memang adalah Allah yang penuh dengan kasih karunia dan kemurahan. Ia selalu memberkati, terutama keturunan orang-orang yang berkenan kepada-Nya. Jadi kita tidak perlu heran jika melihat bahwa secara umum manusia tetap diberi anugerah yang berlimpah dari Tuhan. Namun sebagai umat percaya, kita harus sadar bahwa anugerah yang Allah berikan kepada kita merupakan anugerah yang khusus. Karena itu kita perlu mensyukurinya dan mewujudkan rasa syukur kita dengan menjalankan apa yang telah Allah perintahkan.
1. Identitas baru yang diberikan Allah kepada istri Abraham, Sarai menjadi Sara, adalah suatu janji bahwa dia akan menjadi ibu bangsa-bangsa, dari keturunannya akan muncul raja-raja bangsa-bangsa. Itulah janji Allah bagi Abraham dan istrinya Sara. Janji itu merupakan lelucon bagi Abraham, dia tertawa; mungkinkah di usianya yang ke-99 dengan seorang istri berusia 90 tahun dapat melahirkan seorang anak?
2. Allah bukanlah manusia sehingga Dia berbohong, itu berarti janji Allah adalah ya dan amin, sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk 1,37). Namun pikiran manusia sering sulit menerima janji dan cara kerja Allah, sebagaimana Abraham yang mengandalkan pikirannya. Dia berpikir bahwa usia subur seorang perempuan maksimal 50 tahun, maka janji Allah menjadi hal yang lucu baginya, dan dia kurang menyakini apa yang dikatakan Tuhan tentang Sarai menjadi Sara.
3. Ketidakpercayaan Abraham menyebabkan dia memohon agar Ismail diperkenankan di hadapanNya, tetapi Tuhan mengulang bukan Ismail, tapi seorang anak yang lahir dari Sara dan akan diberi dia nama Ishak. Tentang Ismail anak Hagar, hambanya yang dijadikan sebagai gundik, Tuhan akan memberkati dan memberi keturunan yang banyak baginya, serta menjadikan bangsa yang besar di mana akan berdiri 12 raja dari keturunannya, karena dia bukan anak perjanjian, tapi anak yang lahir atas kehendak manusia, anak perjanjian adalah Ishak, karena kepada Ishak yang akan lahir pada tahun depan lah Allah membuat perjanjian selama-lamanya. Dialah anak yang dijanjikan (Gal 4, 22-28).
4. Pengulangan janji Allah membuat Abraham mengubah pikiran, dia mengaminkan janji itu, sehingga melaksanakan sunat baginya, Ismail, dan semua laki-laki yang ada di rumahnya, yang dibeli dan lahir di rumahnya, setelah Allah naik meninggalkan Abraham. Sunat adalah lambang perjanjian umat Allah.
5. Bagaimanakah kita merespon janji Allah dalam hidup kita? Apakah kita mengandalakan pikiran kita, jika janji itu bertentangan dengan ilmu pengetahuan, dengan pemahaman kita atau mungkin karena tidak sesuai dengan keinginan kita? Banyak orang menertawakan janji dan cara kerja Allah dalam hidupnya, seolah-olah apa yang dikatakan Tuhan adalah lelucon, sesuatu yang tidak masuk akal, sehingga terkadang kita sulit menerima dan mengaminkan janji Allah dalam hidup kita. 
6. Saya sering mendengar orang melihat sesuatu dan berkata bahwa tidak mungkin dia bisa memiliki barang tersebut. Jika saya katakana bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, dia akan menentang, bukan mengaminkan kekuatan dan kemampuan Tuhan mengatasi pikiran dan kemampuan kita. Pikiran kita telah mengkonsepkan Allah sebatas yang dapat kita lakukan tentang kehidupan kita, padahal Allah jauh melebihi apa yang kita pikirkan, apa yang kita kotakkan tentang Allah. Dan satu hal yang harus kita ingat, bahwa ketidakpercayaan manusia, tidak membatalkan perjanjian yang sudah Allah Firmankan.
7. Menertawakan Firman adalah penyangkalan atas kuasa Firman itu, maka dampak dari ketidakyakinan akan janji yang telah dikatakan adalah ketidak sejahteraan. Bila kita pelajari lebih dalam lagi maka kita akan melihat bagaimana Hagar menertawai Sara yang melahirkan pada usia tua, dan bagaimana Ismail mengolok-olok Ishak yang kecil.
8. Firman Tuhan mengajak kita untuk percaya penuh pada janji Tuhan,walaupun agak ‘lama’ janji itu diwujudkan dari yang kita harapkan. Janji Tuhan adalah ya dan amin, maka ketika Tuhan berfirman, kita hanya percaya dan menunggu semua janji itu, karena Tuhan berkarya tepat pada waktunya. Merancang masa depan yang baik bagi kita, maka jangan andalkan pikiranmu tentang masa depanmu, percayalah bahwa Tuhan tidak manusia yang mau berbohong. Allah berjanji, mari kira meraih janji itu dengan iman dan perjuangan. Amin


Khotbah Minggu 16 Sep 2018 Rut 2:8-16. Solidaritas Kepada Sesama”


Dalam Alkitab hanya 2 kitab saja yang diberi nama wanita: Rut dan Ester.Namun keduanya mempunyai ciri yang bertentangan. Rut adalah wanita bukan Israel, kemudian bersuamikan seorang Israel yang termasuk leluhur raja Daud. Sedang Ester adalah wanita Israel, yang hidup ditengah-tengah orang kafir, bersuamikan raja bangsa kafir. Baik Rut maupun Ester, keduanya adalah orang besar dan berbudi. Namun Kitab Rut adalah unik, karena inilah satu-satunya kitab dalam Alkitab yang seluruhnya menceritakan riwayat seorang wanita.
a)    Kisah tentang Rut terjadi di tengah-tengah zaman kekerasan yang dikisahkan dalam kitab Hakim-Hakim. Walaupun suaminya, seorang Israel sudah meninggal, ia tetap menunjukkan kesetiaannya terhadap ibu mertuanya yang berbangsa Israel itu, dan selalu beribadat kepada Tuhan umat Israel. Pada akhir kisah ini Rut mendapat seorang suami baru dari antara sanak saudara mendiang suaminya. Melalui pernikahannya yang kedua ini Rut menjadi nenek buyut Daud, raja Israel yang terbesar. Kisah-kisah dalam buku Hakim-hakim menunjukkan kesukaran-kesukaran yang terjadi karena umat Tuhan meninggalkan Tuhan. Sebaliknya, kisah Rut menunjukkan berkat-berkat yang diberikan Tuhan kepada seorang asing yang meninggalkan agamanya untuk percaya kepada Tuhan Israel. Oleh sikapnya itu ia menjadi anggota umat Tuhan.
c) Cerita dalam kitab ini bukanlah sekedar cerita roman, namun berisi tipologi atau lambang; yakni Tipologi penebusan; itulah pokok dari kitab ini yakni ada dua: pertama penebusan terhadap orang kafir; yakni Rut yang berlatar belakang kafir dan masuk dalam keluarga Israel bahkan sebagai nenek moyang raja Daud yang mereka sangat hormati dan kagumi. Bahkan Bangsa Israel juga mengetahui dari nubuat, bahwa Mesias yang mereka nantikan adalah keturunan Daud, berarti juga keturunan Rut, seorang wanita kafir. Kedua. Penebusan sebagai mempelai; merupakan penebusan tingkat tinggi. Rut sebagai bayangan gereja Tuhan yang asalnya dari bangsa kafir merupakan
fakta dari rencana Allah yang tersembunyi dalam kitab Perjanjian Lama . Melalui Rasul Paulus misteri Allah itu diungkapkan (Ef.3:6) bahwa dengan Berita Injil yang bukan Yahudi turut serta menjadi ahli waris Kerajaan Allah dalam Yesus Kristus.

b) Dalam perikop ini kita melihat pembicaraan pribadi dan langsung antara Rut dan Boas; suatu dialog antara penebus dan orang yang akan ditebus. Inilah suatu tipologi yang indah bagaimana kita harus mempunyai dialog dengan Tuhan kita, Yesus Kristus. Seringkali kita mendengar bahwa hubungan antara mertua dan menantu sangatlah sulit dan rentan konflik. Tetapi dari kisah Rut, kita dapat belajar bahwa pandangan tersebut tidaklah seluruhnya benar. Justru dalam kisah Rut, kita dapat belajar bahwa hubungan mertua dan menantu ternyata dapat begitu menyentuh dan mengharukan. Di antara Rut dan Naomi terjalin ikatan kasih yang sangat mendalam. Rahasianya Rut dan Naomi memiliki kedewasaan kepribadian yang ditopang oleh imannya kepada Tuhan. Tidaklah berkelebihan jikalau dalam kepribadian Rut terpancarlah ”inner-beauty” (kecantikan yang terpancar dari dalam batinnya), sehingga dia dipilih oleh Tuhan untuk menurunkan keturunan seorang raja besar yaitu Daud. Bahkan Rut dipilih oleh Tuhan untuk kelak menurunkan diri Tuhan Yesus. Walaupun Rut seorang wanita Moab, tetapi dia diberkati oleh Tuhan sehingga dia dapat memiliki kepribadian dan spiritualitas iman yang menakjubkan.
c) Latar belakang masa lalu, harta, status dan kehebatan manusia tidaklah cukup kuat untuk membuat kita kepada sebuah karakter terhormat. Rut mendapatkannya dengan kesetiaan kepada Allah. Langkah imannya yang teguh kepada Allah yang belum lama ia kenal membuat dirinya hidup penuh pengharapan, tidak bersungut-sungut, rendah hati dan berbudi pekerti. Dan itu semua membuatnya menjadi sosok wanita terhormat yang diakui oleh orang lain, bahkan berkenan pada Tuhan sehingga lewat dirinyalah Sang Penebus lahir di dunia ini. Hidup ini tidaklah mudah. Setiap saat ada banyak keinginan yang bisa menjerumuskan kita kepada kemerosotan moral hingga berujung pada dosa. Ada begitu banyak penderitaan yang mungkin saat ini belum terlihat jalan keluarnya. Tapi kita diingatkan untuk tidak bersandar pada kekuatan diri sendiri, melainkan bergantunglah pada Allah dengan pengharapan tanpa henti. (2 Korintus 1:8-9). Mata Tuhan tetap melihat segala yang kita lakukan, dan Dia selalu lebih dari siap untuk melimpahkan berkat kepada siapapun yang selalu taat dengan sungguh-sungguh kepadaNya. "Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia." (2 Tawarikh 16:9a). Terang Tuhan akan terpancar lewat kita jika kita mengijinkanNya hidup di dalam kita, dan kita hidup di dalamNya. Langkah iman tidak akan pernah sia-sia, karenanya hiduplah selalu sesuai firman Tuhan !. Bukti bahwa saudara dan saya adalah umat yang telah ditebus dengan darah Yesus adalah penyertaan Tuhan. Sekarang, mari kita perhatikan, pelajari tentang sikap Boas terhadap Rut. Sikap Boas terhadap Rut: 
a.    Boas langsung memperhatikan Rut (ay 5) Mungkin sekali Rut adalah seorang yang cantik, sehingga Boas langsung memperhatikan Rut. Juga pesan Boas dalam ay 9,15,16 yang melarang pekerja-pekerja lelaki mengganggu Rut, secara implicit (tidak langsung) menunjukkan bahwa Rut adalah seorang yang cantik.
b.    Boas mengajak Rut bicara (ay 8) 
Mungkin sekali saat itu ada kebiasaan bagi orang-orang yang memunguti bulir-bulir jelai / gandum yang tersisa itu untuk berpindah-pindah dan mencari pemilik ladang yang baik (cf ay 2: ‘orang yang murah hati kepadaku’) Boas menasehati Rut untuk tidak pindah ke ladang lain, tetapi tetap saja memunguti jelai di ladang Boas. Ini ia katakan jelas supaya ia bisa sering bertemu dengan Rut! 
c. Boas melindungi Rut dengan memberi pesan kepada pegawai-pegawainya (ay 9,15,16)
d. Boas berdoa untuk Rut (ay 12) 
Doa ini akhirnya dijawab oleh Tuhan melalui diri Boas sendiri 
e. Boas mengajak Rut makan (ay 14)
Boas memberi makanan yang begitu banyak sehingga berlebihan dan akhirnya diberikan kepada Naomi (ay 18) 
f. Boas memberikan hak khusus kepada Rut (ay 15) 
Ia jelas tak memberikan hak seperti ini kepada para pemungut yang lain!
g. Boas memberi perintah kepada para pegawainya untuk mempermudah pekerjaan Rut (ay 16) 
Dari semua ini terlihat dengan jelas bahwa Boas tertarik kepada Rut! Suatu perhatian penuh kasih sayang dan belas-kasih itulah yang terjadi dalam diri Boas terhadap Rut.
1) Kalau ditinjau dari sudut manusia, maka munculnya titik terang dalam kehidupan Rut itu, terjadi secara kebetulan!
2) Kalau ditinjau dari sudut Allah, maka tidak ada kebetulan! Dari sejak semula, Allah sudah menentukan / merencanakan semuanya dan Allah lalu mengatur segala sesuatu sehingga semua terjadi sesuai dengan Rencana Allah yang kekal!
a. Bacalah ayat-ayat KS ini: Amsal 16:9 19:21 21:1
Rut mungkin memikir-mikir ke ladang mana ia akan pergi. Tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya (Amsal 16:9 19:21).
Ruth berani untuk meninggalkan masa lalunya dan memulai sesuatu yang baru. Persoalan banyak orang di zaman ini adalah ketidakmampuan kita meninggalkan kesedihan, persoalan kehidupan masa lalu yang selalu membayangi diri. Ketidakmampuan itu membuat banyak orang lari dari kenyataan dan akibatnya, persoalan demi persoalan melanda kehidupan, sementara persoalan yang satu belum selesai, persolan lain telah datang. Rut berani untuk meninggalkan masa lalunya dan beranjak ke depan untuk memulai sesuatu yang baru, yang walaupun belum diketahui bagaimana keadaannya nantinya.
Maka dapat kita simpulkan beberapa dari sikap Rut untuk kita renungkan bersama, yaitu:
1. Bersikeras mengikuti Tuhan dan jangan mendua hati di tempat persimpangan.
2. Meninggalkan masa lampau saudara dan hidup dengan iman.
3. Bersikeras memulai hidup baru dengan Allah dan memegang semua instruksiNya, peraturanNya.
4. Jangan malas untuk melakukan pekerjaan yang hina dan kecil. Ayub 8:7,“Maka kedudukanmu yang dahulu akan kelihatan hina, tetapi kedudukanmu yang kemudian akan menjadi sangat mulia.” Yang penting bukan bagaimana awalnya tapi bagaimana akhir saudara ikut Tuhan.
5. Jangan mencari kehormatan. Seperti Ruth berkata, “Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku.” (Rut 2:2).
6. Hidup berintegritas. Apa itu integritas? Karakteristik dari Ruth adalah seseorang yang loyal dan tidak egois.
7. Hormati mertuamu, orangtua, otoritas, pemimpin Anda.
Amin.


Khotbah Minggu 07 Oktober 2018 II. Tim 4: 1-5 Menjadi Pemberita Firman


  Setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi saksi Kristus dan mengemban Amanat Agung untuk memberitakan Injil. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk menjadi saksi atas hidup dan karya Kristus berkaitan dengan penebusan atas umat manusia yang berdosa. Bersaksi untuk Kristus bukan hanya bercerita dan berbicara, melainkan memperlihatkan sebuah gaya hidup yang serupa dengan Kristus.Bila mendengar kata ‘pelayanan’, yang ada dalam pikiran kita adalah kegiatan yang dilakukan para hamba Tuhan/pendeta, misionaris, gembala sidang, majelis gereja, pemimpin pujian dan lain lain; sesungguhnya melakukan pelayanan itu merupakan tanggungjawab anak Tuhan. Ada contoh yaitu ibu mertua Petrus, setelah dijamah oleh Tuhan Yesus dan disembuhkan dari sakitnya “Ia pun bangunlah dan melayani Dia.” (Matius 8:15b); jadi setelah menerima kesembuhan, ibu mertua Petrus melayani Tuhan! Itulah yang dikehendaki Tuhan untuk kita perbuat. Dia memberkati kita agar kita menjadi berkat, Dia menyelamatkan kita agar kita memberitakan kabar keselamatan itu kepada orang yang belum mendengarnya, bukan untuk bermalas-malasan, seperti yang disampaikan Rasul Paulus kepada Timotius, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2 Timotius 4:2)
Keterlibatan kita dalam pelayanan sangat dibutuhkan dalam Tubuh Kristus, jadi masing-masing dari kita memiliki peranan yang harus kita mainkan dan setiap peran itu penting; tidak ada pelayanan yang kecil/tidak penting bagi Tuhan, semuanya berharga di mataNya! Pelayanan adalah inti dari kehidupan orang Kristen, sebab Tuhan Yesus sendiri telah memberi satu teladan bagi kita, “…Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45). ‘Melayani’ dan ‘memberi’ inilah yang serhatusnya menjadi ciri hidup orang Kristen di tengah dunia ini.
Melayani adalah lawan dari sifat alamiah manusia yang lebih suka dilayani. Kita mengharapkan orang lain mau melayani, memperhatikan, menghargai, menghormati kita terlebih dahulu, bukan sebaliknya, padahal Alkitab menulis, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” (Matius 7:12a). Oleh karena itu, gunakanlah kesempatan yang ada saat ini sebaik mungkin, karena kesempatan itu belum tentu datang lagi menghampiri kita. Karena itu Tak henti-hentinya rasul Paulus mendorong dan menguatkan Timotius supaya terus maju dalam memberitakan Injil.  Memang seyogianya Timotius meneladani pemimpin rohaninya itu, yang meski dipenjara tak surut semangatnya berkarya bagi Tuhan.  Paulus sadar bahwa  "...penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita."  (Roma 8:18), sehingga ia dapat menasihati,  "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran."  (2 Timotius 4:2).
Selagi masih ada kesempatan mari tunaikan tugas pelayanan kita sebaik mungkin, jangan disia-siakan.  "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja."  (Yohanes 9:4),  "Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat,"  (2 Timotius 4:3).  Jadi tugas memberitakan Injil Kristus dan menyatakan kebenaran secara tegas adalah tugas Ilahi yang bersifat wajib dan sangat mendesak, karena jemaat akhir zaman ini kian tertidur rohaninya dan makin disibukkan oleh perkara-perkara duniawi.  Bukan hanya itu, mereka juga lebih suka  "...mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng."  (2 Timotius 4:3-4).
     Sudahkah kita menjalankan tugas pelayanan kita dengan benar?  Butuh komitmen tinggi, kesetiaan, kesabaran dan kesungguhan hati untuk menjadi seorang pelayan Tuhan!  Selain itu kita pun harus punya dasar iman dan pengajaran yang kuat yang diperoleh dengan cara bertekun membaca, meneliti dan merenungkan firman Tuhan.  Terpenting, kita harus hidup di dalam firman dan menjadi pelaku firman Tuhan,  "...supaya kemajuanmu nyata kepada semua orang."  (1 Timotius 4:15).  Menjadi pelayan tuhan berarti terlebih dahulu memberikan teladan hidup bagi orang lain. Amin.



Khotbah Minggu 14 Okt 2018 Pesta HUT/Panen GKPI Ciliwung Ulangan 16”16-17


Dalam Ulangan 16:1-17, secara khusus Musa meringkaskan kembali dan menegaskan tentang tiga hari raya utama orang Yahudi, yaitu Hari Raya Paskah, Hari Raya Roti tidak Beragi dan Hari Raya Pondok Daun. Hal ini penting untuk disampaikan kepada generasi kedua dari umat Israel yang keluar dari tanah Mesir, yang siap untuk memasuki tanah perjanjian. Penegasan Musa kepada umat Israel untuk merayakan ketiga hari raya utama ini sesuai dengan perintah Tuhan yang bertujuan: 1. Sebagai pertemuan kudus umat Tuhan (Im. 23:2). 2. Sebagai peringatan akan perbuatan besar yang dilakukan Allah dari Mesir hingga ke tanah perjanjian (Ul.16:1, 3, 6). 3. Sebagai persiapan bagi bangsa Israel memasuki tanah perjanjian supaya tetap mengingat apa yang telah dikerjakan Tuhan bagi mereka (Kel. 12:24-27; Ul 8:11-16). 4. Sebagai simbol dan bayangan dari hidup dan karya Mesias yang akan datang (Kol. 2:16-17; Ibr. 10:1).
Kilas balik karya besar Allah. Perayaan agama sangat berarti bagi pembaruan iman umat. Itulah sebabnya Allah selalu meminta umat-Nya untuk senantiasa merayakan perayaan agama (ayat 1). Tiap-tiap perayaan memiliki keunikan makna masing-masing, namun sama bertujuan agar umat menyadari semua kebaikan Tuhan dan hidup mengasihi Tuhan. Khususnya perayaan Paskah bermaksud untuk mengingatkan kembali peristiwa keluaran dari Mesir. Dalam perayaan ini umat harus melakukan kegiatan-kegiatan ritual seperti mempersembahkan korban hewan (ayat 2), sebagai tindakan simbolis dari penyerahan diri umat kepada Allah Israel satu-satunya. Uniknya, kegiatan ini harus dilakukan di tempat yang dipilih Allah (ayat 2,6,7). Pemusatan ibadah di tempat yang dipilih Allah ini bertujuan agar, [1] umat tidak memiliki hati dan sikap yang bercabang. Melalui merayakan Paskah itu hati, pikiran dan jiwa umat ditujukan kepada Allah saja yang telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. [2] Umat diingatkan untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan dengan jalan Tuhan, sesuai dengan berbagai ketetapan, peraturan dan hukum yang relevan pada waktu itu seperti yang terdapat dalam Ulangan 12-26. Kepada umat Israel Tuhan berfirman,  "Janganlah engkau mempersembahkan bagi Tuhan, Allahmu, lembu atau domba, yang ada cacatnya, atau sesuatu yang buruk;  sebab yang demikian adalah kekejian bagi Tuhan Allahmu."  (Ulangan 17:1).  Di zaman Perjanjian Lama dulu, setiap kali bangsa Israel datang menghadap kepada Tuhan mereka harus selalu membawa persembahan berupa hewan korban.  Tetapi tidak sembarang hewan persembahan itu berkenan di hati Tuhan. Jadi mereka harus membawa hewan-hewan yang terbaik:  gemuk atau tambun, sehat dan tidak bercacat sebagai persembahan, karena Tuhan menyukai persembahan yang terbaik.      Di zaman anugerah ini kita tidak perlu membawa hewan korban dalam ibadah atau saat datang menghadap Tuhan.  Lalu, apa yang kita bawa kepada Tuhan sebagai persembahan?  Persembahan itu adalah hidup kita sendiri seperti yang disampaikan rasul Paulus kepada jemaat di Roma,  "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah:  itu adalah ibadahmu yang sejati."  (Roma 12:1).  Maka dari itu kita harus bisa menjaga hidup kita sesuai dengan kehendak Tuhan.  Inilah yang Tuhan kehendaki:  suatu kehidupan yang tidak bercacat cela.  Yang terbaiklah yang harus kita persembahkan kepada Tuhan, karena Tuhan sudah terlebih dahulu memberikan yang terbaik bagi kita!  Dikatakan,  "Ia (Yesus) sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran."  (1 Petrus 2:24)     Jadi, sebagai balasannya kita juga harus memberikan yang terbaik bagi Tuhan.  Dengan cara apa?  Dengan cara menyembah Dia dengan segenap hati, beribadah dengan sungguh-sungguh, dan juga melayani Dia dengan penuh komitmen.  Banyak orang Kristen yang datang ke gereja hanya sebagai rutinitas semata, cuma duduk diam, memuji Tuhan tanpa ekspresi dan saat mendengarkan kotbah pun sambil bersenda gurau atau memainkan handphone.  Itukah yang dinamakan memberikan yang terbaik?Kesukaan dan penderitaan merupakan pengalaman bukan saja umat Israel tetapi juga pengalaman umat Allah masa kini. Keunikan perayaan umat Kristen adalah bahwa perayaan-perayaan itu terjadi karena penderitaan: Penderitaan Allah di dalam Kristus yang rela menjadi manusia dan mati untuk menebus dosa. Terkadang Allah mengizinkan kita menderita. Apabila kita menderita karena kebenaran, kita patut bersyukur atas hak istimewa itu. Semua orang laki-laki Israel harus datang menyembah TUHAN Allahmu di tempat yang dipilih-Nya tiga kali setahun, yaitu pada Hari Raya Paskah, pada Pesta Panen dan Pesta Pondok Daun. Setiap orang harus membawa persembahan menurut kemampuannya, sesuai dengan banyaknya rezeki yang diberikan TUHAN Allahmu kepadanya." Umat Allah dipanggil untuk menikmati hidup yang enak, setelah mereka mengalami perbudakan di Mesir selama bertahun-tahun. Kini mereka adalah orang yang bebas. Tapi, orang yang bebas, bisa jadi lupa cara bagaimana dia menjadi bebas. Seperti bangsa kita, bertahun-tahun lepas dari perbudakan dari bangsa asing, kita lupa diri dan kini tidak sadar bahwa kita masih jadi bangsa yang terkekang dan berjuang untuk lepas dari perbudakan kemiskinan, dan kelakuan jahat memiskinkan orang lain melalui kegemaran mengambil apa yang bukan hak kita dengan korupsi. Kita masih jadi bangsa yang diperbudak. Sebelum mereka akan menikmati Tanah Perjanjian, Ulangan diturunkan. Maksudnya agar semua sejarah di belakang mereka ini diulang sehingga mereka tidak lupa diri. Bangsa Israel bisa hidup hanya karena belas kasih Allah, mereka tidak boleh lupa itu. Jadi, mereka harus memelihara ikatan perjanjian itu seumur hidup mereka. Teorinya sih begitu, tapi bagaimana dengan prakteknya? Siapa masih ingat dengan semua janji? Apa bapak ibu, masih ingat dengan janji nikahnya masing-masing? Ada tidak yang kalau merayakan anniversarynya mengingat lagi bersama janji nikahnya? Apa majelis, komisi, dan pengurus-pengurus yang diteguhkan masih ingat janji nya ketika diteguhkan bersama jemaat kepada Tuhan? Dan, lebih penting lagi, apa kita semua yang sudah disidi, ingat semua janji dan kepercayaan ketika kita masuk dalam persekutuan? Bisa jadi lupa. Kenapa? Kebiasaan, manusia memang suka lupa. Karena itu, Israel harus merayakan Hari Pembebasan itu dengan tujuan agar mereka terus ingat. Sekali setahun, dalam berbagai bentuk: datang ke rumah ibadah yang ditentukan Allah, memotong, memasak dan memakan ternak sebagai korban bersama dengan seisi rumah, dan menjauhkan diri mereka dari segala yang jahat sehingga mereka bisa berbuat adil pada tiap orang. Itulah cara mereka harus menikmati pembebasan yang dikerjakan Allah dalam hidup mereka. Itu harus diingat agar tidak lupa. Amen

KhotbahMinggu 23 Sep 2018 Cara Pandang Yang Benar Akan Kekayaan Hidup yang diubahkanKristus


Lukas 19:1-10

Perjumpaan zakheus dengan Tuhan Yesus merupakan perjumpaan yang Membawa perubahan besar dalam kehidupan nya. Ia tidak menduga hal itu akan terjadi. Awalnya, Dia hanya ingin melihat seperti apakah Yesus itu. Namun, di luar dugaan nya, ternyata Tuhan Yesus dating kekota Yerikho khusus untuk menemuinya. Tuhan yesus berkata, “zakheus, segera lah turun, sebab hari ini aku harus menumpang di rumahmu.”Ada satuhal yang menarik untuk diperhatikan dalam kisah ini, yakni kata “harus” (lih. Yohanes 4:4).Tuhan Yesus harus menumpang dirumah zakheus dan Tuhan Yesus harus melintasi daerah samaria. Inimenekan kan tentang misi kedatagan-nya kedalam dunia. Hati-nya yang Penuh dengan belaskasihan mendorong-nya untuk mencari dan menyelamat kan manusia yang
berdosa.
Siapakahzakheus?
Artinama: adalah tulus, bersih, suci. Akan tetapi, kehidupan dan namanya bertolak belakang. Perilaku dan perkataan zakheus tidak memperlihatkan ketulusan, bersih, suci dan integritas.
Apa yang terjadi dengan zakheus? Pekerjaannya yang berkaitan dengan pemungutan cukai telah menempatkan nya pada posisi yang tidak mungkin untuk menjaga semuanya itu. Pemungut cukai adalah pegawai kerajaan romawi (yang waktu itu            menjajah israel). Mereka ditugaskan untuk memungut pajak dari bangsanya sendiri, yakni sesama orang yahudi. Bahkan, terkadang pajak yang dipungut pun sangat keterlaluan.
Pandangan orang yahudi: orang yahudi yang bekerja pada pemerintah romawi disebut sebagai pengkhianat atau kafir sebab mereka telah mempermainkan imannya dengan cara pro bangsa romawi yang menyembah berhala.
Orang yahuditelahbelajardaripengalamanpembuanganke babel karenamerekatelahberulang kali jatuhkedalamdosapenyembahanberhala. SejakituMerekatidakmaulagibersentuhandenganberhala. Karenaitu, orang yahudisangatbencikepadapemungutcukai yang bergauldanhidupdari orang romawi.
Zakheusbukanhanyaseorangpemungutcukai, tapidiaadalah kepala pemungutcukai. Iniadalahjenjangkarir yang sangatbagus, dantidakgampanguntukmencapainya. Itusebabnya, zakheus bias menjadi orang kaya.
Apa yang menyebabkanzakheusreladicapsebagaipengkhianat? Karenauang. Zakheustidakmempedulikanpandangansoialterhadapdirinya, yang penting kaya. Ia pun tidakmempedulikanhatinuraninya, asalkanimpiannyatercapai.
Bagaimanakarakterzakheus? Jikasaudara bias membayangkanseorangpemungutcukai yang memeras, makasaudara juga membayangkanbagaimanakarakterzakheus: cintauang, pelit, serakah, galak, pemeras – tidakberperikemanusiaan
Refleksi: ada orang-orang yang relauntukmengorbankanhal-hal yang paling berhargadalamdirinya: hargadiri, kehidupanrohani, bahkanimannyasekalipun karenauang.
Perubahanapa yang terjadipadadirizakheus?
Ayat 8:
"tuhan, setengah darimilikkuakan kuberikankepada orang miskin  dansekiranyaadasesuatu yang kuperasdariseseorangakankukembalikanempat kali lipat."
Jikakitamemperhatikanayat 8 ini,
Makasangatkontrassekalidengankehidupanzakheussebelumnya.Tadinya serakah, sekarangmalah memberikansetengahdarihartanya.Tadinya garangterhadap orang miskin, sekarangmalah berbelaskasihan.Tadinya kerasdankasar, tapisekarangmenjadi orang yang peduli, care, dsb.Tadinya mementingkandirisendiri (mengejarkekayaan demi dirisendiri), sekarang mementingkan orang banyak.
Kalaudibayangkan: makazakheusmenjadi orang yang “tidakpunyaapa-apalagi” ataukalau pun masihpunya, makaiatidakmempunyaisecaraberkelimpahan.
Misalnya zakheusmemilikikekayaansebanyak 1 m. Berdasarkanjanjinya, maka 500 jutadiberikankepada orang miskin; selainitu, iaakan mengganti 4x lipatkepada yang diperas (menuruthukum taurat: mengembalikanseharga yang diperasdanditambah 20%, tapizakheusmengganti 400%). Inimelampauiketetapan yang ditetapkanolehtaurat.Jikazakheussudahmemilikiistri, bagaimanapendapatistrinya? Apakahistrinyamendukungkeputusannya?
Refleksi:
Bagaimanadenganbuahpertobatan yang kitahasilkan? Apakahkitahanyamenghasilkanbuah yang manis di bibirtapitidakmenunjukkanbuah yang sesungguhnya?
Apa yang menyebabkannyaberubah?
KedatanganYesuskerumahdanhidupnyatelahmengubahkannya. Menurut Lukas 8, kitamengetahuibahwapemungutcukaimerasaenggan (tepatnyamalu) untuk dating ke bait Allahdanberdoa. Kalau pun merekadatang, merekaakanberdirijauh-jauhkarenamenyadarikeberdosaandanketidaklayakannya.
Akan tetapi, sekarang TuhanYesus yang mendatanginya, dan menumpang di rumahnya! Di luardugaannya, bahwaTuhanYesusbersediauntukhadir di dalamrumahdanhidupnya. Iamerasakankasih, pengampunandanpenerimaandariTuhanterhadapdirinya. Orang-orang di sekitarnyamenolakdanmembencinyakarenadosanya, tapi Allahbersediauntukmenerimanya. AnugerahTuhan yang telahmenerimadanmengampuninyatelahmembuatnyaberubah.
Banyaktokoh-tokoh di dalamsejarahkekristenan yang hidupnyadiubahkanolehkasihTuhan. Salah satunyaadalahagustinus. Sebelumbertobat, agustinusmemilikikehidupan yang tidakbaik. Namun, setelahbertobat, iamemberikandirinyabagi Allahdanpelayanannyamembawadampak yang besarbagigerejahinggahariini.
Apa yang bias menjadiperenunganbagikita…?
1.      DidasariataskasihKristus yangsudahmenyentuhkita, lakukanlahsegalasesuatu di dalamkasih-nya.
Rasul Paulusmengingatkankita “dansekalipunakumembagi-bagikansegalasesuatu yang adapadaku, bahkanmenyerahkantubuhkuuntukdibakar, tetapijikaakutidakmempunyaikasih, sedikitpuntidakadafaedahnyabagiku” (1 korintus 13:3). Lakukanlahsegalasesuatunya di dalamkasih Allah.
Bagaimanarelasikitadengankeluargakita? Mencintaikeluargadanmelayanikeluargaadalahsesuatu yang natural. Siapa pun bias melakukannya. Akan tetapi, kitaperlumenambahkannya: kitamengasihidanmelayanikeluargakitadengankasihkristus. Iniakanmenolongkitauntukmenerimaapaadanya. Mengampuni. Mengulurkantanganpadaanggotakeluarga yang tidaksempurnadan yang tidaktaat.Bagaimanadenganpelayanankita? Apakahlahirdarikasihkepada Allah?
2.      Perubahaninimenyentuhaspek yang paling dalamdarihidupkita.Zakheusmenjadikanuangsebagaitujuanhidupnya. Pertobatanzakheusmemperlihatkanbahwaaspek yang paling pentingdalamhidupnyatelahdiubahkanolehTuhan, yakniuang. Hal iniberbedadenganseorangmuda yang kaya yang mendatangiTuhanYesus. IamenolakuntukmenjualhartanyadanmengikutYesus. Hartatersebuttelahmenjadiberhalanya, walaupuniamemiliki moral danetika yang baik.
ApakahsaudaramengizinkankasihKristusmenyentuhhatikita yang paling dalam? Dan membiarkankasih-nyauntukmewarnaikehidupankita…? Amen



Khotbah Minggu 28 Oktober 2018 Jemaat Yang Berdiakoni


Yesaya 58,4-12
2 Kor 9: 6-15 : Memberi Dgn Sukacita,bkn krn Paksaan, berantam dulu mau memberi ucapan Syukur. Ilustrasi ttg Memberi yg terbaik utk Tuhan, Peng 6:2
1."Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Yesaya 58:3a Pembukaan: PUASA YANG SEJATI. Nabi Yesaya bin Amos secara serius mengingatkan umat Yehuda agar kembali bertobat kepada TUHAN karena selama ini mereka mengalami kemerosotan moral yang hebat. Untuk itu ia bernubuat dengan suara lantang bagaikan sangkakala (58:1). Kondisinya semakin parah karena umat Allah (Yehuda) rupanya jatuh pada penghayatan agama yang legalistic – formalistic (mengutamakan formalitas sesuai dengan aturan/hukum agama yang berlaku), namun secara hakiki mereka jauh dari Allah (ay.2). Yesaya menegaskan bahwa PUASA yang tidak dilandasi oleh spiritualitas yang benar adalah sia-sia belaka (ay.3-4 "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi) Khotbah: Puasa yang dikehendaki Allah adalah “merendahkan diri” dan “mewujudkan keadilan” kepada sesama (ay.6) ,mewujudkan “cinta kasih” dan kepedulian kepada sesama terutama kepada mereka yang menderita (ay.7). Bila hal itu dilakukan maka ada berkat TUHAN yang pasti diterima, yaitu: • Ada pengharapan di tengah kesesakan dan pergumulan (ay. 8, 10) • Ada relasi yang baik dengan Tuhan (ay. 9) • Ada pengharapan di dalam Tuhan (ay. 10) • Ada pertolongan Tuhan (ay. 11) • Ada jaminan keberhasilan (ay. 12, 14) Dari uraian tsb., kita bisa menarik kesimpulan bahwa PUASA bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum. Puasa juga bukan sekedar memenuhi Hukum Agama. Namun lebih dari itu semua bahwa Puasa adalah kesediaan untuk bertobat/merendahkan diri di hadapan Allah yang ditandai dengan mewujudkan keadilan, cinta kasih dan kepeduliaan terhadap sesama manusia. Banyak orang berpuasa karena suatu tujuan tertentu. Namun ada yang berpuasa hanya karena terpaksa atau karena kewajiban yang harus dijalankan. Tapi pada intinya orang berpuasa selalu mempunyai tujuan agar mendapatkan sesuatu yang dia doakan karena merasa tidak cukup bila berdoa saja; mungkin juga karena terlalu beratnya pergumulan yang dihadapi sehingga perlu disertai puasa. Puasa adalah sesuatu yang kita lakukan sebagai bentuk merendahkan diri di hadapan Tuhan, memohon pertolonganNya. Puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga saja tapi juga nafsu kedagingan kita.
2.Puasa merupakan bagian dari peribadahan hampir semua agama. Kekristenan juga mengenal puasa (Yunani: nesteia: ne=tidak; istea=makan. Lukas 18,12), bahkan Yesus sebagai Guru besar orang Kristen itu pun berpuasa selama 40 hari, 40 malam. Dengan berpuasa Yesus hendak menyampaikan pada pengikutNya supaya * bersikap merendahkan hati; * menyatakan rasa kasih pada Tuhan; * mendisiplinkan tubuh dari keinginan daging (menyangkal diri), menaruh simpati pada sesame yang miskin; *Meminta jawaban dari Tuhan untuk masalah yang kita hadapi. *Mengusir setan. Jadi, puasa bukan sekedar tidak makan dan tidak minum, tetapi dengan puasa, kita mengerti penderitaan orang yang lapar karena tidak ada makan atau karena kemiskinan; dengan berpuasa kita kuat melawan godaan, kita tidak akan memperebutkan makanan, tetapi mau menunggu, antri sesuai dengan barisan, karena saat kita lemah akan banyak menggoda iman kita, tetapi apakah kita dapat mengendalikan diri? Saat berpuasa kita boleh menyisihkan makanan yang harusnya kita makan untuk dibagikan bagi orang yang berkekurangan.
  Secara terperinci, jujur dan terbuka kita mengakui segala dosa dan kesalahan di hadapan Tuhan.  Jangan pernah menyembunyikan dosa sekecil apa pun, sebab  "...tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab."  (Ibrani 4:13).  Dosa harus benar-benar dibereskan di hadapan Tuhan secara tuntas, jika tidak, pertumbuhan rohani kita tidak akan pernah maksimal dan berkat-berkat Tuhan pun akan menjadi terhalang.  Karena itu kita harus menjadi orang Kristen yang benar-benar merdeka, terbebas dari segala belenggu dosa dan kuk.  Tuhan berkata,  "Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,"  (Yesaya 58:6).
3. Umat Jahudi juga melakukan puasa. Ada persoalan yang muncul saat berpuasa, yaitu terjadi perbantahan, perkelahian dan memukul dengan tinju. Ada tindak kekerasan saat melakukan ibadah puasa. Allah hendak menyatakan puasa tidak sekedar tidak makan dan tidak minum, tetapi melampaui dari itu, di mana dengan berpuasa kita menjadi kuat menahan nafsu amarah, meskipun kita lapar dan haus, bahkan saat di gurun pasir. Memang seseorang yang lapar akan mudah jatuh ke pencobaan, makanya sering kita dengar, karena lapar orang mau menyikut, mencuri, bahkan membunuh. Tetapi dengan berpuasa (dari kata puasa dalam bahasa Ibrani: Tsum, inna natsyo: merendahkan diri di hadapan Allah. Imamat 16,29+31; 23, 27-32), lapar tidak membuat kita menjadi marah, sebaliknya akan semakin rendah hati, lemah lembut dan memikirkan orang yang belum makan.
4. Ketika terjadi kemorosotan iman dan moral orang Israel yang telah masuk ke Yerusalem, setelah kembali dari pembuangan Babel, Yesaya menyampaikan pada bangsa itu, supaya kembali pada peribadahan yang benar, membenahi iman dan tidak hanya mementingkan diri sendiri. Memang mereka rajin melakukan ritual ibadah, termasuk berpuasa, tetapi ibadah itu tidak membawa dampak dalam pembangunan iman mereka. Mereka beribadah, tetapi rumah Tuhan yang hancur tidak dibenahi sebaliknya, rumah mereka yang lebih dahulu di bangun. Ibadah demikian tidak dikehendak oleh Tuhan yang membawa mereka keluar dari pembuangan, bahkan dalam ay.8 dikatakan, suara mereka tidak di dengar jika ibadah itu hanya rutinitas yang tidak membawa baik dalam hidup mereka dan lingkungan mereka. Koor yang telah dilatih bertahun-tahun dan sangat indah tidak di dengar Tuhan kalau itu hanya sekedar numpang manggung di gereja. Itulah yang dikatakan Nabi Amos dalam pasal 5; ‘Aku benci ibadahmu, Aku benci persembahanmu, jika tanpa keadilan’. 
5. Tuhan sungguh menghendaki ibadah puasa, di mana pada hari puasa menjadi hari merendahkan diri, membuka belenggu kelaliman, melepaskan tali untuk memerdekakan orang yang teraniaya, memecah rotimu untuk orang lapar serta memberi pertolongan bagi orang miskin (ay. 5-7). Saat berpuasa akan nampak dalam dirinya terang seperti fajar, lukanya pun akan pulih karena telah dimenangkan dengan perbuatan baik dan kepedulian terhadap lingkungan. 
6. Di Negara kita muncul berbagai istilah saat ini tentang bobroknya moral dan hukum Negara. Ada yang menjadi saksi dusta dengan berbagai rekayasa untuk suatu scenario yang mendukung kebebasan dari hukuman, ada yang disebut sebagai mafia peradilan, dsb. Yang menjadi pertanyaan, sebagai umat beragama apakah sumbangsih kita untuk membongkar kelaliman ini? Apakah makna kita dalam membebaskan orang yang teraniaya? Mungkin sebagian sudah mengatakan bahwa sudah ada yang berwewenang untuk itu, sebagaian ambil bagian dengan mendukung kelompok tertentu dalam sebuah gerakan agar keadilan ditegakkan, dsb. Tetapi, saat ini kita terpanggil agar ibadah, doa dan puasa kita boleh membawa dampak untuk kepedulian social, untuk suatu kehidupan yang mau berbagi. Istilah yang digunakan Rasul paulus dalam 2 Korintus 9,6 agar mengingat hukum tabur tuai, menabur sedikit, sedikit yang dituai, menabur banyak, melimpah tuaiannya. Menabur dalam kasih akan mendapat damai sejahterah, menabur dalam daging akan dihancur oleh keinginan dagingnya
7. Puasa bukan untuk didemonstrasikan, tetapi sebuah keheningan, meditasi, dan berdiam diri merendahkan hati, tunduk secara hormat pada Tuhan. Ketika puasa didemonstrasikan, maka dia akan menunjukkan muka murung seperti orang lapar, sebaliknya, ketika puasa menjadi keheningan, dia akan tetap segar dan lincah melakukan kebaikan (ay 10), sehingga hidupnya bagi sesama seperti terang yang terbit pada kegelapan. Di keheningan yang berbuat itulah Tuhan mendengar suaranya, mendengar keheningannya, karena Tuhan yang menuntunnya melewati jurang maut, dan membebaskannya dari godaan yang mengitari hidupnya.
8. Inilah ibadah sejati, ibadah puasa yang berkenan di hadapa Tuhan: terbuka memberi pertolongan dalam doa dan perbuatan, dalam kata dan pikiran, dalam ibadah dan pekerjaan. Amen. Pdt. R.H.L. Tobing.