Selasa, 31 Juli 2018

Khotbah Galatia 5 : 13-15 Allah yang Memerdekakan


1 Pet 2:16-17
 Di tengah-tengah jemaat Galatia saat itu sedang terjadi permasalah antara para petobat baru (orang-orang non-Yahudi) dengan hukum-hukum Yahudi. Bagi orang-orang Yunani, menerima Kristus merupakan suatu sukacita  besar. Kristus bukan hanya menebus dosa dan memberikan jaminan hidup kekal, akan tetapi juga membebaskan mereka dari berbagai macam ritus agamawi yang harus mereka lakukan sebelumnya. Akan tetapi response berbeda justru di berikan oleh orang-orang Kristen dari keturunan Yahudi. Orang-orang Kristen keturunan Yahudi ini, menuntut para petobat baru ini mengikuti tradisi atau ritus agamawi mereka. Misalnya setiap laki-laki harus disunat. Hal ini lah yang menjadi salah satu pemicu perselisihan ditengah-tengah jemaat.
Meresponi akan hal ini, Rasul Paulus mengingatkan jemaat agar tidak menggunakan kemerdekaan untuk berdosa melainkan melayani oleh kasih (Gal. 5:13).  Paulus mengingatkan jemaat bahwa, oleh kuasa salib Kristus, jemaat telah dibebaskan dari :
Hukum Taurat (seremonial keagamaan) sebagai suatu sistim untuk beroleh keselamatan.
Perbudakan Dosa, sehingga kita menjadi hamba dosa (Yoh. 8:34-36; Ro. 6:14-23).
Tahayul. Oleh karena sudah dimerdekakan, maka Rasul Paulus mengingatkan tanggung jawab baru yang harus dikembangkan oleh jemaat Galatia yakni jangan mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam daging. Kehidupan dalam daging merupakan suatu kehidupan :
Fokusnya adalah diri sendiri (hawa nafsu) yang telah tercemar oleh dosa (Gal. 5:24).
Tidak mempedulikan dampaknya bagi pertumbuhan dan kedewasaan iman saudara seiman (1 Kor. 8:9).
Penuh tipu muslihat (1 Pet. 2:16).
Apa itu keinginan daging? Kata daging dari kata Sarkos: Flesh artinya: human weakness because of the fall of mankind in Genesis 3 (cf. Rom. 6:19; 7:18) Kelemahan manusia karena kejatuhan manusia Adam yg tergoda oleh Iblis di taman Eden ( Kej 3). Keinginan daging yang ada pada manusia yg adalah kelemahan manusiawi jika tidak dikendalikan oleh Roh Kudus, itu akan muncul menjadi perbuatan daging seperti yang Paulus daftarkan dalam  Gal 5: 19-21:  Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, (dosa seksual,pornografi,free sex)
20      penyembahan berhala, sihir, (okkultisme) perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, 21  kedengkian,(egoisme) kemabukan, pesta pora (hedonisme) dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. (diulang) .
 2.  Kemerdekaan orang Kristen bukanlah kemerdekan untuk merugikan sesama
…melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. ( Gal 5: 13) . ay. 14-16  Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” 15  Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan. Ay.26.    dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.   …janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. ( Fil 1: 12)
Pada tanggal 17 Agustus 2018 ini bangsa dan negara kita Republik indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke 73 tahun, mengenang dan memperingati hari kemerdekaan tentu kita perlu mengenang perjuangan para pahlawan yang telah gugur dalam merebut dan memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa ini pada saat ini kita perlu mengsyukuri sebab bangsa kita terlepas dari penjajahan bangsa lain dan berdasarkan ideologi negara kita dimana negara mengakui adanya Tuhan dan bangsa indonesia menyadari betul kemerdekaan yang kita peroleh ini bukanlah hanya kekuatan kita semata akan tetapi  kita harus mengakui dan imanni bahwa ini semua terjadi karena campur tangan Tuhan yang penuh dengan belas kasihan, tindasan yang kita alami membuat rakyat menjerit menahan siksaan dan jeritan anak bangsa telah sampai ke telinga Tuhan dan Allah mendengar dan menjawaban Allah itu diterima bangsa indonesia dengan memproklamirkan kemederkaan pada tanggal 17 Agustus 1945 pada 73 tahun yang silam.
Nas renungan kita pada saat ini mengajak kita untuk merenungkan kembali apa yang terjadi pada masa kita dijajah hak dan kemederkaan kita direngut dan rasa kemanusian yang hilang dengan saling menghilang nyawa dengan mempertahankan haknya masing-masing setelah 73 Tahun kita medeka apa yang kita dapat sebab pada saat ini banyak kemederkaan yang salah gunakan oleh orang - orang tertentu mereka tidak lagi menghargai orang lain ( Merampas hak orang lain dengan cara Korupsi ) dan para pengusaha membuat harga seenaknya saja, bahkan telah terjadi penjajahan diatas bangsa sendiri yang lebih keci dan sadis dari pada penjajahan bangsa lain pada jaman dahulu.Kemerdekaan yang diterima bangsa Indonesia telah disalahgunakan demi kepentingan diri sendiri maupun  kelompok tertentu.
Galatia mengingatkan kita agar kita benar-benar mengsyukur arti kemerdekaan yang telah kita terima pada saat ini dengan berkata "  Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih ". Amin.....


Khotbah Masterindo Jaya Abadi 13 dan 20 Juli 2018 Kehancuran Iman, Kehancuran Generasi Bilangan 25:1-9, 16-18


 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? 2 Korintus 6:14
Apa kesan Anda ketika membaca kisah yang tercantum di dalam Bilangan 25? Keji, kejam? Kok orang hanya mau menikah dengan yang beda bangsa dibunuh dan diberi tulah? Saya ingin mengatakan bahwa apa yang sesungguhnya terjadi tidak sesederhana yang kita lihat di permukaan. Pertama, jelas bahwa Tuhan sudah melarang bangsa Israel kawin campur dengan bangsa lain (Kel. 34:12-16). Mengapa? Bukan soal rasis tetapi soal menjaga kemurnian iman. Hal serupa juga ditegaskan Rasul Paulus dalam Perjanjian Baru (2Kor. 6:14-15). Pernikahan beda iman lebih banyak mendatangkan akibat buruk daripada akibat baik.
 Kedua, Balak, raja Moab dalam pasal 22-24 sudah menyewa Bileam untuk mengutuk bangsa Israel. Bileam gagal melakukannya karena Tuhan mengubah kutuk menjadi berkat. Apakah Balak menyerah? Tidak. Atas nasihat Bileam, muncul strategi baru (bdk. Bil. 31:16). Strategi baru itu adalah menggerakkan perempuan-perempuan Moab untuk mengundang pria Israel hadir dalam festival agama Baal. Setelah upaya menyewa Bileam mengutuk Israel gagal, Moab memakai senjata baru: merusak rohani orang Israel. Moab tahu bahwa Israel itu kuat karena hubungannya kuat dengan Allah. Bagaimana membuat hubungan itu lemah? Dengan membuat Allah murka dan menghukum mereka. Bagaimana caranya membuat Allah murka? Yaitu dengan membawa mereka menyembah berhala. Jadi peristiwa ini adalah upaya penghancuran iman yang terencana. Bukan peristiwa yang terjadi kebetulan atau alamiah. Jangan anggap remeh pernikahan beda iman. Menikah dengan pasangan beda iman menjadi awal dari kehancuran hubungan dengan Allah. Jangan biarkan anak-cucu kita demi asal dapat jodoh (apalagi karena alasan kaya, ganteng, cantik, pendidikan tinggi) menjual iman mereka. Upaya penghancuran iman melalui pernikahan seringkali tidak disadari orang Kristen. Karena alasan cinta maka iman pun dikorbankan. Sebagai orangtua, kita harus mendidik anak-cucu kita untuk mengutamakan Allah lebih daripada jodoh. Jodoh pentingtetapi jangan dianggap lebih penting daripada iman kepada Kristus.
Pernahkah Saudara merasa cemburu? Ketika suami atau isteri kita lebih memperhatikan, mengagumi atau bahkan mencintai orang lain hati kita pasti terbakar api cemburu. Rasa cemburu yang dipendam lambat laun akan menjadi ‘bom waktu’ yang sewaktu-waktu bisa meledak. Di televisi atau di surat kabar banyak berita kejahatan terjadi akibat tersulut rasa cemburu: suami nekat membunuh isterinya atau sebaliknya,bahkan Pendeta membunuh pacarnya yg juga Pdt di Surabaya. karena mendapati pasangannya telah berselingkuh dengan orang lain, memiliki pria atau wanita idaman lain dan sebagainya. Cemburu buta mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan yang nekat, yang tidak hanya berdampak buruk bagi diri sendiri, tetapi juga orang lain. 
Begitu juga Tuhan kita adalah Allah yang pencemburu! Ia menjadi sangat murka ketika melihat bangsa Israel telah berzinah dengan perempuan-perempuan Moab seperti tertulis: “Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan Moab.” (ayat 1). Tidak hanya itu, mereka juga turut serta dalam memberi persembahan dan menyembah allah orang-orang itu. Akibatnya Tuhan menghukum bangsa Israel sehingga “Orang yang mati karena tulah itu ada dua puluh empat ribu orang banyaknya.” (ayat 9). Tuhan sangat benci kepada orang Kristen yang ‘mendua hati’: mengasihi Tuhan dan juga masih mengasihi dunia. Tuhan menghendaki agar kita memusatkan seluruh perhatian dan hidup kita hanya kepada Dia saja. Ia ingin agar kita mengasihi, meninggikan, mengagungkan dan menyembah Dia saja, jangan sampai ada allah lain dalam hidup kita.
Apakah benar kita berkata, “Aku mengasihi Tuhan” tetapi kita masih saja mencari pertolongan kepada ‘allah’ lain saat berada dalam kesesakan? Tuhan tidak lagi menjadi yang utama dalam hidup kita. Begitu banyak ‘allah’ lain dalam hidup kita: pekerjaan, hobi, televisi, surat kabar dan sebagainya yang lebih menyita waktu dan perhatian kita sehingga kita mulai mengabaikan Tuhan.
“Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena Tuhan, yang namaNya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Keluaran 34:14. 

Pertanyaan tentang pacaran beda iman atau pacaran beda agama sepertinya merupakan salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan, dan jawabannya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan karena walaupun sudah jelas apa yang tertulis di Alkitab, masih banyak orang yang tidak setuju. Ada satu bagian dalam Alkitab yang menjelaskan dalam 2 Korintus 6:14-15.
2 Korintus 6:14-15, Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? Pesan dari ayat ini jelas, bahwa dalam memilih pasangan hidup, kita harus memiliki pasangan yang satu iman.
Apa artinya satu iman?
Satu iman yang dimaksudkan di sini adalah satu iman dalam Yesus Kristus. Setiap orang yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat pribadinya, bisa dikatakan sebagai orang yang memiliki satu iman, selain daripada iman kepada Yesus Kristus berarti berbeda.
Alasan mengapa harus mempunyai pasangan yang satu iman
Selain memang kita menuruti apa kata alkitab tentang pasangan yang seiman, ternyata firman ini mempunyai alasan yang jelas. Kalau kita lihat dari sejarah bangsa Israel, mereka seringkali jatuh pada penyembahan berhala karena pasangan mereka yang tidak seiman, yaitu pasangan dari bangsa lain. Padahal Tuhan sudah berfirman agar mereka tidak mengambil pasangan dari bangsa lain selain bangsa Israel agar mereka tidak turut menyembah allah - allah bangsa lain. Raja Salomo pun yang dikatakan sebagai orang yang paling bijak ternyata jatuh ke dalam dosa penyembahan berhala pada akhir hidupnya (1 Raja2 11:1-13). Kalau Salomo yang begitu bijak saja bisa jatuh dalam dosa penyembahan berhala karena istri - istrinya, bagaimana dengan kita?
Alasan lain adalah karena dalam suatu hubungan pernikahan, bukan hanya sekedar tentang cinta antara seorang laki - laki dan seorang perempuan, tetapi juga tentang bagaimana hubungan tersebut mempunyai dasar yang teguh, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Seperti kapal yang tidak boleh mempunyai dua orang Nakhoda, demikian juga hubungan pernikahan yang tidak boleh berdasarkan dua iman yang berbeda karena nantinya tidak mempunyai arah yang jelas. Lagipula saya yakin setiap dari kita pasti menginginkan pasangan kita, yang adalah orang yang paling dekat dengan kita di dunia ini juga diselamatkan oleh Yesus Kristus. Hubungan yang tidak dilandaskan oleh kasih kepada Yesus Kristus sangatlah berbahaya, oleh karena itu baiklah kita mempunyai pasangan yang satu iman, iman dalam Yesus Kristus.

Kan Yesus mengasihi semua orang, kok hanya boleh sama yang satu iman? Ya, benar sekali bahwa Yesus mengasihi semua orang dan ingin semua orang diselamatkan, oleh karena itu kita harus mengasihi semua orang tanpa terkecuali. Bertemanlah dengan siapa saja agar kasih Kristus dalam diri kita dapat terpancar kepada semua orang, namun dalam masalah memilih pasangan hidup firman Tuhan katakan mutlak harus satu iman. Kalau sudah terlanjur pacaran dengan yang beda iman bagaimana? Yang menjadi masalah tentu jika memang sudah terlanjur pacaran beda iman. Saya hanya bisa bilang, break dulu hubungannya, buat dia satu iman dulu kalau benar - benar mau sama dia, lalu pacaran lagi kalau memang sudah satu iman. Kalau memang tidak bisa menjadi satu iman maka lebih baik ditinggalkan dan mencari yang satu iman. Memang terkesan seperti memaksa, tetapi jika memang mau dengan orang tersebut ya memang harus seperti itu karena kita mutlak harus mempunyai pasangan yang satu iman, ingat dalam amanat agung Tuhan Yesus Kristus? Matius 28:19, Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, Dengan demikian selain kita mendapatkan pasangan yang seiman, kita juga turut memenuhi amanat agung ini. Jika dia mau ikut kita bagaimana? Pada dasarnya adalah pastikan dia benar - benar percaya dan mengalami Yesus terlebih dahulu, baru pacaran. Jangan sampai dia ikut agama Kristen karena mau bersama dengan kita saja, karena menurut saya bukan status sebagai Kristen yang penting, yang penting adalah bagaimana seseorang tersebut telah mengenal dan mengalami Yesus sehingga percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Bagaimana dengan orang yang sudah menikah dan beda iman? 1 Korintus 7:12-13 Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan: kalau ada seorang saudara beristerikan seorang yang tidak beriman dan perempuan itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah saudara itu menceraikan dia. Dan kalau ada seorang isteri bersuamikan seorang yang tidak beriman dan laki-laki itu mau hidup bersama-sama dengan dia, janganlah ia menceraikan laki-laki itu. Matius 19:6, Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Banyak orang yang memakai dua ayat di atas untuk “sengaja” menikah dengan yang orang yang beda iman dan bilang kalau dia sudah terlanjur menikah dan berkata tidak apa – apa karena pasangannya mau hidup dengan dia. Ini merupakan hal yang sangat ironis. Jadi beda iman di sini terjadi bukan sebelum menikah, melainkan setelah menikah karena salah satunya menjadi percaya. Tapi sekali lagi, untuk orang – orang yang mengalami masalah demikian, doakan dan bawalah pasanganmu agar dapat bersama – sama hidup di dalam terang kasih Kristus. Banyak yang berkata “Enak dong yang sudah terlanjur menikah beda iman, mereka jadi boleh.” Pertanyaan yang sungguh ironis. Tidak ada pernikahan yang lebih indah daripada pernikahan ilahi, pernikahan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Jika pernikahan kita tidak di dalam Tuhan Yesus Kristus, maka pasti ada sesuatu yang kurang. Kita seharusnya kasihan kepada mereka yang sudah terlanjur menikah beda iman karena mereka tidak bisa merasakan pernikahan ilahi di dalam Tuhan Yesus Kristus, bukannya malah iri. Amen




Khotbah Minggu 05 Agustus 2018 Kekuatan Tangan Tuhan yang Membebaskan/Memerdekakan Keluaran 13, 11-16 Sidhi 2 Orang dan Babtisan


1. 17 Agustus adalah Hari kemerdekaan Indonesia dari penjajahan tahun ini kita rayakan kemerdekaan yang ke 73 tahun. Kemerdekaan ini diperoleh dengan Rahmat Tuhan yang Maha Esa, itu berarti bahwa kemerdekaan adalah pemberian Tuhan; Kekuatan tangan Tuhan yang membawa bangsa ini keluar dari penjajahan. Apakah yang perlu kita lakukan sebagai bangsa yang menerima rahmat dan kemurahan Tuhan?
2. Bangsa Israel pun menerima kemerdekaan dari Tuhan, dengan keluarnya mereka dari perbudakan Mesir. Kebebasan ini merupakan berkat Tuhan, oleh karena itu mereka bersyukur dengan pemberian Tuhan, dengan pembebasan yang telah mereka nikmati. Berkat yang mereka terima, diwujudkan dengan mengadakan ucapan syukur dengan memberikan persembahana anak sulung dari semua binatang peliharaannya, juga tebusan anak sulung untuk anak Tuhan, di mana semua anak sulung menjadi iman, namun tugas ini sudah menjadi tugas kaum Lewi.
^    Mengucap Syukur Adalah Kunci Kebahagiaan
Kekayaan tidak dapat memberi kita kebahagiaan, begitu pula dengan jabatan, kepandaian, kekuatan kita. Jika uang menjadi tolak ukur kebahagiaan, Adolf Merckle tidak akan menabrakan dirinya di kereta, jika ketenaran dapat menjamin kebahagiaan, tentunya para selebritis tidak ada yang depresi. Kunci kebahagiaan adalah selama kita mensyukuri hidup ini. Ketika kita mengucap syukur, kita membuka diri untuk bahagia.
^    Menjadi Pribadi yang Positif
Orang yang mengucap syukur dalam segala hal adalah orang yang senantiasa membangun dirinya ke arah yang lebih baik. Melihat segala sesuatu pada sisi yang benar, setiap kejadian yang ada entah baik atau buruk tidak melemahkan dia, namun selalu berdampak positif.
Mungkin anda berkata, bagaimana mungkin saya dapat mengucap syukur sedangkan hidup saya sudah sulit, saya menanggung masalah yang begitu berat. Jadi bagaimana kita dapat mengucap syukur ?
+    Ingatlah Selalu ada hal untuk disyukuri
Siapapun anda, seberat apapun hari yang anda lalui ingatlah bahwa selalu ada hal untuk disyukuri. Ketika kita masih diberikan kesehatan mengucap syukurlah, ketika kita masih bisa makan kita mengucap syukur, ketika kita masih memiliki rumah untuk berlindung, teman yang mengasihi kita, bahkan ketika kita masih diberikan nafas kehidupan, mengucap syukurlah. Seberat apapun masalah pergumulan kita selalu ada hal untuk disyukuri.
+    Segala Sesuatunya Mendatangkan Kebaikan
(Roma 8:28a) “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia”. Ketika kita mengasihi Tuhan, kita melakukan kehendakNya dan dalam hal ini kita mengucap syukur. Ingatlah bahwa Allah selalu merancangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi dia, bagi setiap pribadi yang melakukan kehendak Allah, setiap pribadi yang mengucap syukur. Ketika kita tahu bahwa segala sesuatunya (entah menyenangkan atau tidak) pasti mendatangkan kebaikan, mengapa kita enggan mengucap syukur ?
3. Bila Tuhan memberi yang baik padamu, membawa kita keluar dari kesusahan di tengah hidupmu, sebagaimana yang dijanjikanNya padamu (ay.11), maka haruslah kau memberi persembahan syukur, persembahan anak sulung (ay12), di mana semua yang baik, semua yang paling kita cinta kita beri sebagai persembahan kepada Tuhan. Bagian ini hendak mengatakan supaya kita tidak memberi dari sisa-sisa yang kita miliki. Saya pernah mendengar satu keluarga ingin mempersembahkan anaknya yang paling bodoh menjadi pendeta. Kata mereka, saudaranya yang lain pintar, jadi bisa jadi dokter, bisa cari kerja, sayang kalau jadi Pendeta, sayang memberi yang terbaik kepada Allah. Itu sebabnya sulit bagi kita memberi perpuluhan , karena perpulhan selalu diberi di awal bukan dari sisa uang bulanan kita. Mengapa? Karena kita berpikir bahwa hidup kita bersumber dari kekuatan kita sendiri.
4. Tuhan menjelaskan bahwa semua yang kita miliki adalah hasil kebaikan Tuhan memelihara kehidupan kita, sehingga dalam ay 13 dikatakan: Tetapi setiap anak keledai yang lahir terdahulu kau tebuslah dengan seekor domba; atau, jika engkau tidak menebusnya, engkau harus mematahkan batang lehernya. Tetapi mengenai manusia, setiap anak sulung di antara anak-anakmu lelaki, haruslah kautebus. Ada bayaran dari semua yang kita miliki. Dalam arti meski kita mempunyai sesuatu, tapi kita tidak berhak atas semua yang kita miliki, sebab kita hanya tempat penitipan belaka. Bahkan anak kita sendiripun adalah titipan maka, anak sulung harus dibri pada Tuhan, namun Lewi telah menggantikannya, maka dibayar dengan persembahan hidup untuk ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan.
5. Tradisi persembahan syukur bukanlah hanya milik pribadi. Maka ketika Indonesia merdeka, sejarah mencatat, bahwa kemerdekaan itu adalah Rahmat tuhan yang Maha Esa. Catatan ini hendeka meneruskan pemahaman bangsa Indonesia akan kemerdekaan yang diperoleh 73 tahun lalu adalh hasil karya tangan Tuhan. Setiap generasi harus mengetahui ini, bahwa kemerdekaan adalah rahmat Tuhan. Demikianlah maksud Allah terhadap orang israel, setelah mereka masuk ke tanah Kanaan, ke tanah yang dijanjikan Allah bagi mereka, agar memberitahukan mewariskan tradisi persembahan kepada generasi berikut. Dalam ay 14, dikatakan: Dan apabila anakmu akan bertanya kepadamu di kemudian hari: Apakah artinya itu? maka haruslah engkau berkata kepadanya: Dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN telah membawa kita keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan.
6. Maksud dari ay 14 ini bahwa sesuatu yang terbaik akan diberikan kepada Tuhan. Memberi persembahan beri persembahan terbaik (Jgn Uang 200 utk Parkir pun kurang), menjadi sintua, jangan menunggu sampai pensiun dari pekerjaan, berilah dirimu dengan sungguh dipakai Tuhan apakah sebagai sintua, pendeta, pekerja sosial bahkan pekerja pemerintahan, semua berilah yang terbaik. Cara kerja yang baik untuk memuliakan Tuhan akan menurun dari generasi ke generasi, sehingga kemerdekaan itu mempunyai makna teologis. Dengan demikian pemilikian tanah kanaan akan selalu dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Pemilikan kita atas sesuatu akan kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan. Dan tanggung jawab ini yang akan kita jelaskan pada generasi muda kita, mengapa harus bersyukur, emngapa haru memakai semua yang punya untuk emmuliakan Tuhan? Karena tangan Tuhan yang kuatlah yang membawa kita keluar dari perbudakan, dari ketidakmampuan dan keterpurukan kita, sehingga kita menjadi bangsa yang merdeka, dimerdekan dengan kasih Tuhan yang ajaib.
7. Sikap hidup kita yang tahu berterimakasih akan mendidik generasi muda untuk selalu percaya pada Tuhan, percaya pada kekuatan tanganTuhan, bahwa Tuhan sanggup melakukan perkara-perkara besar. Semua komponen bangsa akan mengethui, walaupun dari sudut kekuatan Belanda dan Jepang tidak mungkin dikalahkan Indonesia, tetapi fakta sejarah membuktikan, bahwa kemerdekaan telah kita peroleh, dan itu adalah anugerah Tuhan dengan kekuatan tanganNya.
8. Hal kemerdekaan ini sangat akrab dalam pengalaman orang Israel, sebab ketika Firaun dengan tegar menolak untuk membiarkan mereka pergi, maka TUHAN membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, dari anak sulung manusia sampai anak sulung hewan (15a). Alasan inilah menyebabkan mengapa dipersembahkan kepada TUHAN segala binatang jantan yang lahir terdahulu dari kandungan, sedang semua anak sulung di antara anak-anak lelaki kutebus (ay 15b). Ketika kemerdekaan itu kita lihat sebagai pemberian Tuhan, maka kita mengisi kemerdekaan itu dengan sebaik-baiknya, maka kita akan menggunakan kemerdekaan itu untuk memuliakan Tuhan. Sebagai orang meredeka, hendaklah kita mensyukuri kebebasan yang dibawa Tuhan kepada kita, dengan saling mengasihi, tidak saling menggigit atau saling menelan. Janganlah kita mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (gal 5, 13-15: Epistel). Artinya kemerdekaan yang kita terima akan menjadi cara kita mewujudkan cinta kasih Allah yang membebaskan kita. Jangan sampai ada orang meresa tidak merdeka di alam kemerdekaan yang telah kita terima dari Tuhan, karena kemerdekaan tidak kita wujudkan dnagn saling mengasihi dan melayani seorang terhadap yang lain.
9. Kebaikan kita dalam mengisi kemerdekaan, memberi kesejahterahan pada rakyat akan terus mewujud dalam hidup kita dan anak-anak kita. Tuhan berkata dalam ay.16; Hal itu harus menjadi tanda pada tanganmu dan menjadi lambang di dahimu, sebab dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN membawa kita keluar dari Mesir."
10. Jangan melupakan kabikan Tuhan, jangan mengatakan semua hasil kekuatanmu, tapi tuliskanlah di loh hatimu, bahwa tangan kuat Tuhanlah yang membawa kita keluar dari perbudakan dosa, Tuhanlah memerdekakan negara kita dari penjajahan, Tangan Tuhan membuktikan keselamatan kita dalam darah Yesus Kristus di Golgata. Amin. RHLT
Dari Berbagai Sumber.


Khotbah Minggu 29 Juli 2018 Mat 16:24-28 Pengikut Yesus Yang Setia


Mengikut orang atau seseorang yang belum kita kenal dan tidak jelas arah tujuannya tentu saja rasanya berat sekali. Kalau kita dijanjikan tentang hal-hal yang enak nantinya mungkin akan mau dan merasa senang, tetapi bila kita disuruh menanggung beban yang berat dari orang yang kita ikuti tentu hati kita akan menentangnya, bahkan kita sama sekali tidak sudi mengikutinya.
Mengikut Yesus bukanlah perkara yang gampang, ada harga yang harus dibayar dan harga itu amat mahal, “Setiap orang yang mengikut aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut aku”. Yesus menghendaki pengikut-pengikut yang sadar, paham, tidak hanya ikut-ikutan, terpikat oleh janji-janji lalu lupa membuat kalkulasi mampukah kubayar nanti?
Yesus katakan bahwa harga sebuah kemuridan untuk mengikut Dia itu tinggi sakali, mengapa? Sebab Yesus memang bukan barang murahan dan yang kita peroleh apabila benar-benar mengikut Dia juga bukan hadiah sembarangan,  “Dan setiap orang yang karena namaKu meninggalkan segala sesuatu akan menerima seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Mat 19:29). Jadi wajar sekali apabila kita mau memperoleh barang yang “bagus” kita mesti bersedia membayar mahal. Masalahnya adalah apakah kita memang benar-benar menganggap Yesus itu cukup berharga? Lebih berharga dari yang lain termasuk keluarga bahkan diri kita?
Yang ketiga, Yesus menghendaki agar kita yang mengikut Dia adalah pengikut yang konsekuen, berani menanggung resiko dan menjadikan Dia yang nomer satu dan yang satu-satunya dalam hidup kita. Ketika kita rela berkorban dan memikul salib demi Yesus kita pasti akan memperoleh anugerah yang besar sekali. Bertahanlah! Iman dan kesetiaan kita kepada Yesus tidak akan mengecewakan.
Tiga Hal Penting : Dlm Mengikut Yesus
HARUS MENYANGKAL DIRI
MEMIKUL SALIB
MENGKUTI PELAYANAN
Maknanya berarti, keputusan untuk mengikut Yesus adalah hal yang sangat “MAHAL” harganya. Sebab, manusia harus meletakkan semua kepentingan dirinya kepada Kristus, Rela mati bagi Kristus, dan Rela miskin melayani DIA dalam dunia ini.
Yesus memberikan syarat itu, agar murid-muridnya berhenti berpolemik tentang apa yang mereka makan, upah apa yang mereka dapatkan dari semua pengorbanan waktu.
Murid-muridnya mulai berhitung-hitung, jika waktu saya habis, maka apa imbalannya. Manusia memperhitungkan untung rugi dalam setiap kehidupannya, itu sangat wajar. Tetapi, syarat mengikut Tuhan Yesus, tidak menjanjikan emas, perak dan makanan seperti harapan manusia baik di zaman itu maupun di zaman modern sekarang ini.
Harus Menyangkal Diri
Menyangkal Diri, adalah tindakan yang sangat berat dilakukan manusia, sebab harus meletakkan semua hak-hak kepemilikkannya terhadap apapun yang selayaknya manusia miliki. Jika saya seharusnya berhak mendapatkan kesempatan untuk menginap di hotel bintang lima, karena alasan penghargaan dan jabatan yang saya miliki,  maka saya sangkal diri saya, bahwa hak itu tidak saya terima, sebab saya bukan diriku lagi, saya lebih baik bersama-sama dengan orang-orang yang papah. Penghormatan adalah penghargaan yang sia-sia di dunia ini. “bukan aku lagi …..tetapi Yesus yang ada dalam diriku”
Sekarang bukan lagi saya yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri saya. Hidup ini yang saya hayati sekarang adalah hidup oleh iman kepada Anak Allah yang mengasihi saya dan yang telah mengurbankan diri-Nya untuk saya. Galatia 2 : 20
Memilih hidup seperti Yesus, sama dengan menyerahkan seluruh visi misi dan opsesi hidup kita tanpa syarat. Mampukah ? Mampukan anda menyangkal diri sekarang dan hanya hidup kepada KRISTUS?
Harus Memikul Salib
Memikul salib adalah menanggung beban berat yang tidak biasa dialami oleh orang pada umumnya. Seberapa beratnya salib itu Tuhan yang sudah menentukan ukuran yang pas untuk setiap kita yang mau mengikuti DIA hari ini. Salib itu menyerupai dengan penderitaan selama mengikut DIA, jadi sangat salah kalau para hamba TUHAN saat ini berfoya-foya mengelola uang Gereja Tuhan, namun mereka seharusnya menanggalkan jas dan jubahnya. Yesus memikul salibnya, bukan karena IA salah, bukan karena dosaNya. Demikian juga kita yang hari ini mempersiapkan diri menanggung beban yang berat seperti Yesus.
Tuhan Yesus, babak belur dan hampir-hampir saja mati dalam perjalanan Fiadolorosa, menuju Golgota. Namun, ukuran beban salib itu TUHAN yang MAHA KUASA, yaitu Bapa yang baik itu, telah menentukan batas kemampuan yang wajar bagi setiap manusia. Sekalipun rasanya mau mati karena begitu  beratnya beban itu, namun pasti berhasil sampai pada bukit Golgota. Bagaimana dengan anda?
Dalam Matius 10:38, denga tegas Tuhan Yesus bermaksud, bahwa mereka yang takut menahan beban, tidak rela mati, tidak mampu menderita, tidak layak untuk hidup.
Mat 10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. 
Tidak layak hidup bagi Tuhan Yesus, berarti tidak pantas, bahkan tidak berhak  untuk menikmati berkat dari ALLAH yaitu Bapa kita. Kata ini sangat tegas, bahwasanya siapa pun manusia di bawah kolong langit ini yang mau sukses dalam hidupnya haruslah ia memikul beban yang seharusnya bukan bebannya. Tetap beban yang telah diletakkan oleh Tuhan di punggung kita, yaitu beban visi misi Yesus untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Sudah berapa jiwa yang engkau bawa kepada Kristus? Dari cara hidupmu, apakah sudah membawa pengaruh yang besar merubah hidup orang lain dan mengenal kasih Kristus?
Menyangkal diri berarti mengakui ketergantungan kita kepada Allah, dan karena itu, kita menyerahkan hak dan otoritas diri kita sepenuhnya kepada Allah. Kita mengakui bahwa hidup yang diserahkan kepada Tuhan, sebagai pemegang hak dan otoritas penuh untuk menentukan bagaimana hidup kita dijalani bukan saja sudah seharusnya tetapi juga akan membawa kebaikan bagi kita.
Dalam buku kecil ‘Hatiku Rumah Kristus,’ Robert Boyd Munger mengungkapkan dengan indah bagaimana suatu kehidupan yang diserahkan sepenuhnya kepada Kristus sebagai penguasa hidup kita adalah cara terbaik untuk menjalani kehidupan Kristen. Ibu Teresa pernah mengatakan bahwa dirinya hanyalah pensil sederhana yang diserahkan ke dalam tangan Tuhan untuk Ia pakai sesukaNya untuk maksud Allah.
Menyangkal diri berarti pertempuran seumur hidup menaklukkan dosa dalam diri kita. Mau tidak mau, harus kita akui bahwa ada banyak sifat buruk di dalam diri kita. Untuk lepas dari keinginan dosa yang melekat dalam dirinya sampai inilah rasul Paulus bergumul sampai ia mendapatkan kemenangan rohani dalam diri Allah Tritunggal (Rom 7:13-8:17).
Dalam Gal 5:19-21 Paulus memperingatkan kita bahwa orang yang menuruti keinginan daging tidak layak mendapat bagian di dalam Kerajaan Allah. Tidak seorangpun dari kita yang bebas dari dosa; karena itu, jangan ada orang yang menyombongkan diri. Biarlah setiap kita yang jatuh dalam berbagai macam dosa ini, berusaha untuk bangkit kembali dengan pertolongan Tuhan. Biarlah kita menyalibkan tubuh dosa kita sehingga dosa kehilangan kuasaNya di dalam diri kita. Inilah pengalaman rasul Paulus: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.“ (Gal 2:19-20)
Hanya setelah belajar untuk menyangkal diri, kita mampu melakukan kebaikan sejati kepada orang lain dan kepada dirinya sendiri. Selama belum menyangkal diri, bahkan ketika berbuat baik sekalipun, semua itu kita lakukan demi dirinya. Kita hanya berbuat baik kepada yang baik kepada kita, kepada orang yang kita sukai, kepada orang yang akan memberikan keuntungan kepada kita, atau yang suatu hari dapat menolong kita. Bahkan berbuat amal pun itu untuk mengumpulkan amal bagi kita, atau melaukan kebajikan yang sangat mulia, karena itu memberikan kesenangan rohani kita. Demikian juga, hanya setelah belajar untuk menyangkal diri kita baru dimampukan untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita.
Penyangkalan diri memampukan kita untuk mengakui diri kita hanya penatalayan Tuhan dan segala sesuatu yang ada pada diri kita: talenta, kepandaian, kekayaan, waktu, kesempatan, kelancaran, kesehatan, dsb adalah karunia dari Tuhan. Dan semua itu bukan untuk dipakai bagi kepentingan kita sendiri, apalagi untuk diboroskan atau untuk tujuan yang berdosa, sebaliknya kita akan memakai semua itu dengan rendah hati, disiplin dan dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan maksud dan ketetapan Allah.
Musuh setiap orang ialah dirinya sendiri: keegoisannya, hawa nafsu dan keinginan daging di dalam dirinya; bukanlah situasi luar seperti kurang pintar, kaya, kurang tampan atau kurang cantik, kurang mendapat kesempatan, dan sebagainya. Anak Tuhan harus berjuang menaklukkan dosa sehingga rencana Tuhan yang indah dapat terwujud dalam dirinya. Kemenangan pribadi atas atas diri sendiri inilah rahasia kemenangan rohani yang memberikan kesuksesan di bidang lain. Sebaliknya kegagalan untuk menaklukkan sifat-sifat buruk dalam diri kita secara pasti menghambat kemajuan yang diharapkan Tuhan dari kita. Kiranya Tuhan menolong kita menjadi muridNya yang sejati. Amin. 
Dari Berbagai Sumber






Khotbah Minggu 22 Juli 2018 Menjadi Pemimpin Yang Adil dan Jujur Ev.: 1 Raja-raja 21 : 1 – 16


Setiap manusia pasti mempunyai banyak keinginan. Dan itu tidak salah. Namun tidak berarti tidak ada masalah. Sebab dalam kenyataannya tidak semua keinginan kita dapat terpenuhi dan hal ini dapat membuat kita kecewa, bersungut-sunggut, menyalahkan orang lain, diri kita bahkan menyalahkan Tuhan; juga tidak semua keinginan yang tercapai tersebut sungguh-sungguh bermanfaat bagi kita, membawa kebahagiaan bagi kita. Oleh karena itu dibutuhkan kebijaksanaan menyikapi dan memilah-milah (sekala prioritas) dalam merealisasikan kenginan-keinginan tersebut. Terlebih sebagai orang percaya, kita harus dapat membedakan mana keinginan daging dan mana keinginan roh. Paulus dalam Galatia 5:17 mengingatkan jemaat/kita agar tidak hidup dalam keinginan daging, tapi hidup dalam keinginan roh. Keinginan daging[1] berlawanan dengan keinginan roh[2]. Mengapa? Sebab keinginan daging berpusat pada keinginan manusia yang berdasarkan hawa nafsu dan membawa kepada kebinasaan, sebaliknya keinginan roh berpusat pada keinginan Tuhan, keinginan yang mendatangkan damai sejahtera.
 Misalnya berkeinginan menjadi kaya, banyak harta, tidak kurang apa pun, namun bagi orang percaya ternyata bukan hal tersebut yang paling penting atau yang menjadi perioritas utama dalam hidup. ternyata walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu. Apa artinya ini? Yesus mengingatkan kita tentang arti hidup yang sesungguhnya.(Luk 12:15) Dapatkah manusia dengan hartanya membeli kebahagiaan yang sesungguhnya (padahal tujuan terpenuhinya keinginan apa pun itu tidak lain agar bahagia), terlebih membeli ganti nyawanya? Jawabannya, tidak.
1 Raja-Raja 21:1-16 menceritakan mengenai kelakuan atau tindakan seorang raja Samaria (Israel Utara) yang bernama Ahab dan Istrinya Izebel mewujudkan keinginannya untuk memiliki kebun anggur Nabot dengan cara yang keji, yakni membunuh Nabot dengan jalan membuat suatu konspirasi jahat yang di skenarioi Izebel.
Ahab sebagai seorang raja, kehidupanya pasti tidak kekurangan. Ia memiliki kebun yang jauh lebih baik dari kebun anggur Nabot[4]. Namun mengapa Ahab mengingi kebun anggor Nabot? Alasannya sangat sederhana yakni karena kebun tersebut berdekatan denganrumahnya dan kebun itu mau ditanami sayur-sayuran (ayt.2). Ahab berpikir alangkah senangnya kalau kebun anggur Nabot menjadi miliknya. Ia tidak perlu jauh-jauh menanam sayur-sayuran. Disamping itu, untuk melepaskan kepenatan atau kebosanan di istana ia dapat pergi melihat kebun sayur-sayuran yang dekat dengan istananya. Keinginan Ahab ini saya pikir sangat wajar. Bukanakah kita juga menginginkan yang sama? Kalau bisa, saya pikir kita juga sangat mengingini agar tempat kerja tidak jauh dari rumah kita. Kalau bisa hanya dengan berjalan kaki kita bisa sampai ditempat kerja, sehingga tidak perlu kuatir dengan kemacetan yang selalu kita alami khususnya di kota Jakarta ini. Demikian juga tempat sekolah anak-anak kita, dsb. Masalahnya ialah ketika keinginan tersebut tidak memungkinkan terwujud (mentok) apakah kita harus menghalalkan cara-cara yang tidak terpuji? Ahab, ketika keinginannya mentok, dimana Nabot tidak bersedia menjual kebun anggurnya dengan alasan yang sangat jelas, yakni Tuhan melarang penjualan tanah pusaka/warisan nenek monyangnya [5], membuatnya kesal, gusar bahkan menyakiti diri dengan mengurung diri dan tidak mau makan. Keinginan telah berubah menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Akibatnya sangat luar biasa, Nabot orang yang taat terhadap aturan agama, harus mati ketika berhadapan dengan Izebel yang jahat, yang menghalalkan segala cara untuk menyenangkan hati suaminya, raja Ahab, dengan memenuhi keinginannya memiliki kebun anggur Nabot[6].
Pada akhir2 ini bahwa banyak wanita yang bermasalah dengan urusan belanja[7]. Wanita memang seringkali kesulitan menahan godaan belanja. Saat tidak melihat iklan atau melihat barang tertentu, keinginan untuk membeli tidak muncul. Namun, sesaat setelah melihat sebuah barang yang baru, lucu, dan stylish (apalagi jika bisa dicicil), seketika muncul keinginan untuk memiliki barang tersebut. Parahnya lagi, kadang keinginan ini berubah menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi. Kalau tidak dipenuhi, hidup menjadi tidak bergairah, seperti Ahab, gusar, tidak mau makan. Dengan kata lain bila keinginan tersebut belum terpenuhi ia merasa hidup belum normal, ia menjadi merana. Sama dengan orang kecanduan narkoba, bila tidak menggunakannya disarakan hidupnya hampa, menderita, tidak bahagia. Padahal sebaliknya bila hal tersebut tidak dihentikan akibatnya tidak hanya merugikan dirinya tetapi juga orang lain, terlebih keluarganya. Yang paling parah lagi, bila dalam memenuhi keinginan tersebut ia menghalalkan segala cara, tidak lagi memiliki rasa takut melakukan dosa. Seperti raja Ahab dan Istrinya Izebel, dengan tega membunuh Nabot. Bagaimana endingnya orang yang demikian? Pasti bukan berakhir dengan baik[8]. Hidupnya akan dipenuhi banyak masalah dan akibatnya tidak akan merasa bahagia.
(2) Salah satu trik untuk menahan pengeluaran yang tak diperlukan saat berbelanja adalah dengan membedakan apakah pembelanjaan tersebut berdasarkan keinginan atau kebutuhan. Bagaimana membedakan keinginan dan kebutuhan? Sebenarnya sangat mudah. Yang sulit adalah mengendalikan diri sendiri. Ada tiga hal pokok yang membedakan antara keinginan dan kebutuhan, yaitu:
Keinginan selalu datang tiba-tiba tanpa perencanaan, sedangkan kebutuhan sudah dapat diperkirakan jauh hari.
Keinginan, bila tidak dipenuhi hanya mengganggu mood, sedangkan kebutuhan bila tidak dipenuhi akan mengganggu jalannya kehidupan.
Keinginan bila dipenuhi akan membawa penyesalan di kemudian hari (hati tidak tentram) karena ternyata barang yang baru dibeli tidak terlalu diperlukan. Sedangkan kebutuhan bila dipenuhi maka hati akan tenteram dan damai.
Kerena itu, suami-istri hendaknya saling mengingatkan dan menguatkan agar memiliki kebijaksanaan dalam memenuhi keinginan-keinginan sesuai dengan kemampuan.
1. Ahab: Penguasa yang dikuasai. Tentunya kita masih ingat dalam zaman Orba dahulu, Sang Penguasa atau Anak Sang Penguasa atau bahkan teman Sang Penguasa begitu berkuasa. Apa pun yang mereka inginkan harus dapat dimiliki dengan cara apa pun, walau harus menabrak batas-batas moral, nilai-nilai agama, atau bahkan mengorbankan nyawa orang lain. Namun kekuasaan itu ternyata tidak pernah memberikan kepuasan kepada mereka. Setelah mereka berhasil menguasai bisnis-bisnis besar, mereka masih menginginkan bisnis-bisnis kecil seperti tata niaga jeruk, lahan perparkiran, dan pemasok sepatu seragam untuk sekolah tertentu. Siapa pun tidak berani menentang atau menghalangi keinginan mereka karena risikonya sangat berat.
Kisah kebun anggur Nabot memanifestasikan paradoks itu dengan tepat.
Ahab, sebagai raja Israel, mempunyai kekuasaan, kekayaan, dan kemegahan yang pasti jauh di atas Nabot. Namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah ia miliki. Ia tidak dapat menguasai nafsu untuk mengingini dan memiliki sesuatu, walaupun ia tahu bahwa firman Tuhan memang melarang Nabot untuk menjual kebunnya. Nafsu yang tidak dapat dikuasai itu akhirnya berbuahkan tindakan dosa yaitu melanggar firman Tuhan secara sadar dan sengaja. Atas bujukan istrinya, ia menyetujui untuk melenyapkan Nabot secara licik dan sadis. Dengan demikian, keinginan Ahab terpuaskan.
Jelas tergambar bahwa walaupun Ahab sebagai penguasa Israel, namun ia sendiri hanyalah seorang budak nafsu. Oleh karena itu Allah mendatangkan hukuman yang setimpal kepadanya. Walaupun Allah menangguhkan hukuman-Nya, tidak berarti bahwa Allah membatalkannya.
Paradoks ini dapat menjadi cermin bagi Kristen masa kini. Hati-hatilah terhadap setiap keinginan yang timbul dalam hati. Kita harus dapat menguasai dan mengontrolnya dengan cara belajar puas dan merasa cukup terhadap apa pun yang kita miliki sekarang. Karena keinginan yang tidak terkontrol akan berbuahkan dosa yang dibenci oleh Allah. Kuasailah nafsu sebelum nafsu menguasai kita.
2. Ahab, si anak manja. Kisah Ahab adalah kisah seorang yang memiliki jabatan tertinggi di dalam pemerintahan, namun bertingkah bagaikan anak kecil yang manja karena terbiasa mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya. Kisah ini menarik untuk dikaji secara kejiwaan. Namun dalam renungan kita hari ini, mari kita mengkaji kisah ini secara teologis.
Pertama, Ahab serakah. Ia tidak mengendalikan hawa nafsu keserakahannya. Ia tidak mau menyadari bahwa Tuhan sudah memberikan hak dan “berkat” kepada setiap orang sesuai dengan kasih karunia-Nya. Keinginan yang serakah adalah dosa di mata Tuhan (ay. 1-4).
Kedua, Izebel licik. Ratu jahat ini menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Jelas ini bukan sikap iman! Orang yang merasa bahwa ia bisa dan harus mendapatkan apapun dengan memakai cara apapun, bukan anak Tuhan (ay. 5-10)!
Ketiga, para tua-tua dan pemuka Kota Samaria adalah masyarakat kelas atas yang memiliki moral rusak dan hati nurani yang busuk. Buktinya mereka mau saja mengikuti perintah Izebel yang jelas-jelas bermotivasikan kejahatan. Masyarakat seperti ini adalah masyarakat yang sakit (ay. 11-12)!
Keempat, dua orang dursila adalah orang-orang yang mau melakukan apa saja demi sedikit keuntungan. Ini adalah produk dari masyarakat yang sakit (ay. 13-14).
Betapa mengerikannya kalau keserakahan Ahab, kelicikan Izebel, dan kerusakan moral dan hati nurani masyarakat Samaria adalah gambaran kehidupan pemimpin-pemimpin dan kelompok elit negeri ini. Pastilah produk yang muncul adalah orang-orang dursila. Siapa yang bisa mengatasi semua ini? Syukur kepada Allah. Allah sendiri, melalui anak-anak-Nya yang mau dipakai-Nya untuk menyuarakan kebenaran dan menegakkan keadilan.3. Lalu, apa yang harus kita perbuat, agar kita hidup benar dan tidak serakah? Dalam (Amsal 16 : 16 – 20) menghantar kita untuk memahaminya. Pada, ayat 16 dikatakan, “memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak”. Dalam rangka mendorong seseorang melakukan hidup dengan benar, ayat ini menasihatkan bahwa memperoleh hikmat dan pengertian jauh lebih penting daripada emas dan perak. Hikmat dalam bahasa Ibrani adalah “hokmah” dari akar kata yang berarti teguh dan berpengalaman. Hikmat adalah pengetahuan untuk menjalani kehidupan (Am.1:5). Tempat hikmat adalah di dalam hati, yang menjadi pusat pengambilan keputusan yang bermoral dan berakal (bnd. 1 Raja 3:9, 12). Begitu pentingnya hikmat, sehingga penulis Amsal mengatakan “Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk” (Am. 3:21-23). Orang Israel percaya bahwa hikmat berasal dari Allah, “tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian” (Ayb. 12:13). Oleh karena itu memperoleh hikmat dan pengertian jauh melebihi emas dan perak. Karena hikmat adalah dasar, fondasi, jalan (bhs. Ibrani, derek), sedangkan emas dan perak tidak dapat dijadikan sebagai jalan dan dasar. Melalui hikmat dan pengertian, manusia dapat memahami jalan Tuhan. Marhite hapistaran dohot hapantason i, i do bohal laho mangantusi dohot mananda dalan lomo ni roha ni Debata. Itulah yang paling berharga.Menjaga hati supaya jangan congkak dan tinggi hati, itu berarti menjaga kehidupan, ”jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Am.23: 4).
Persoalan pokok mereka adalah karena mereka tidak mempunyai permulaan hikmat yaitu takut akan Tuhan.
Firman Tuhan atau persekutuan dengan Tuhan (= takut akan Tuhan), itulah yang berharga di dalam kehidupan orang yang percaya, dan kepadanya akan diberikan kebahagiaan sejati.
4.  . Namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah ia miliki. Ia tidak dapat menguasai nafsu untuk mengingini dan memiliki sesuatu, walaupun ia tahu bahwa firman Tuhan memang melarang Nabot untuk menjual kebunnya. Nafsu yang tidak dapat dikuasai itu akhirnya berbuahkan tindakan dosa yaitu melanggar firman Tuhan secara sadar dan sengaja. Atas bujukan istrinya, Izebel, ia menyetujui untuk melenyapkan Nabot secara licik dan sadis. Dengan demikian, keinginan Ahab terpuaskan. Jelas tergambar bahwa walaupun Ahab sebagai penguasa Israel, namun ia sendiri hanyalah seorang budak nafsu.
Dan itulah yang diingatkan oleh Amsal 16:16-20 ini, hikmat yang merupakan pewujudan dari takut akan Tuhan menjaga setiap orang dari nafsu-nafsu jahat, dari keinginan daging. Hikmat itu lebih penting daripada emas dan perak, juga menjaga orang dari kecongkakan dan tinggi hati, seperti raja Ahab yang memakai kuasanya dengan salah menjadi orang yang congkak. Murka Allah dinyatakan kepada raja Ahab. Firman Tuhan melalui nabi Elia menyatakan akan hukuman Tuhan kepada raja Ahab dan keluarganya (baca, 1 Raja-raja 21: 17-29), bahwa dia akan mati dan darahnya akan dijilat anjing. Firman Tuhan terbukti, raja Ahab mati dalam peperangan, dan darahnya dijilat anjing (1 Raja-raja 22:38). Amin.

Khotbah Minggu 15 Juli 2018 Kisras 18:1-8 Mau Saling Melayani Dan Berbuat Baik.



(Pembukaan Pekan Keluarga Spy Setiap Kel. Melaksanakan Kebaktian dan Kolekte. Spirit Berbakti Dan Memberi hrs nyata dlm Kehidupan setiap Org Kristen Ams,3:9: Mz 37:25)

Darwin berpandangan bahwa dalam perjuangan hidup, hanya makhluk yang paling ulet dan paling mampu menyesuaikan diri dengan Alam yang dapat bertahan hidup. Ini adalah evolusi kompetitif. Namun dalam ilmu biologi evolusioner modern, banyak ilmuwan mulai beralih dari konsep evolusi kompetitif ke konsep koevolusi[1]. Dalam koevolusi diyakini bahwa perjuangan hidup spesies bukanlah hasil dari kompetisi, tetapi hasil bahu-membahu mutual antarspesies dalam ekosistem. Mereka yang dapat bertahan hidup justru bukan mereka yang berkompetisi satu dengan lainnya, tetapi mereka yang mau belajar bekerja sama satu sama lain. Hewan seperti rayap, semut, dan tawon bisa bertahan hidup justru karena mereka mampu bekerja sama atau tolong menolong dan menjalani kehidupan sosial yang mengagumkan, bukannya karena mengasingkan dan bermusuhan satu dengan lainnya.
Rasul Paulus memberi nasihat tentang cara hidup koevolusi, bukan kompetitif. Dari pada masing-masing memikirkan bagaimana kepentingan mereka sendiri terpenuhi, Paulus mengajarkan jemaat Galatia untuk saling tolong-menolong menanggung beban bersama[2].
Sebenarnya, dalam kehidupan orang Batak, cara hidup koevolusi bukan hal yang baru.”[3] 
Diceritakan tentang satu keluarga yaitu keluarga Akwila dan Priskila. Akwila adalah seorang laki-laki Yahudi dari Pontus dengan istrinya Priskila mengungsi dari Roma menuju Korintus untuk menghindari pengejaran terhadap orang-orang Yahudi di bawah pemerintahan Claudius. Lalu yang menjadi pertanyaannya, apa maksudnya kita harus belajar dari Akwila dan Priskila ?
dalam perikop ini diceritakan tentang pekabaran injil yang dilakukan oleh Paulus di Kota Korintus. Kota ini dalam cerita sejarahnya merupakan sebuah kota kuno yang terkenal sebagai kota perdagangan tetapi juga terkenal dengan kota yang dosa tumbuh subur . Salah satu yang terkenal adalah adanya rumah berhala Aphrodite yaitu dewi cinta kasih. Bisa dibayangkan bagaimana Paulus mempunyai suatu tugas yang berat untuk memberitakan injil di tempat ini. Di kota ini juga Paulus bertemu dengan Priskila dan Akwila. Dalam bacaan kita diceritakan bagaimana Akwila dan Priskila menerima Paulus dengan senang hati untuk tinggal bersama mereka dan melakukan pekerjaan yang sama dengan Paulus yaitu sebagai tukang tenda. Paulus tinggal bersama Akwila dan Priskila selama 1 tahun 6 bulan, ini bukan merupakan waktu yang singkat. Tentunya pekabaran injil yang dilakukan oleh Paulus tidak terlepas dari peranan penting keluarga ini. Paulus sebagai tokoh utama yang melakukan pekabaran injil dalam hal ini melakukan apa yang menjadi misinya yaitu mengenalkan Kristus yang sudah bangkit kepada jemaat dan berusaha keras meyakinkan orang-orang dalam rumah-rumah ibadat. Akwila dan Priskila dalam hal ini adalah adalah teman kerja Paulus yang sangat setia meskipun mereka berdua bukan tokoh utama dalam melakukan pekabaran injil tetapi mereka setia mendampingi Paulus, memberikan bantuan, membantu pelayanan Paulus dengan segenap hati. Jika dibaca sampai ayat terakhir akan ditemukan bahwa Perjalanan pekabaran injil Paulus setelah itu kembali ke Antiokhia, dan Akwila serta Priskila masih bersamanya sampai tiba di Efesus. Sesampainya di Efesus ternyata Paulus tidak tinggal lebih lama, hanya Akwila dan Priskila yang tinggal di situ, Paulus kembali ke Antiokhia meskipun jemaat disitu sudah memintanya untuk tetap tinggal bersama mereka tetapi ia berkata “Aku akan kembali padamu, jika Allah mengkehendakinya”. Paulus tidak berada di Efesus, yang ada hanyalah Akwila dan Priskila yang tadinya dengan setia bersama dengan Paulus memberitakan injil.
di Kota Efesus. Pada perikop berikutnya terlihat bahwa selain Paulus, ada juga seorang yang bernama Apolos yang datang ke Efesus untuk memberitakan injil. Sangat terlihat bahwa Apolos ini adalah seorang yang fasih berbicara, berasal dari Aleksandria sebuah kota yang terpandang sebagai pusat pendidikan pada masa itu. Dijelaskan fasih berbicara, dapat juga diterjemahkan sebagai seorang yang pandai dan baik dalam mengajar atau seorang yang terpelajar, yang tahu banyak hal khususnya dalam soal-soal tentang kitab suci. Dijelaskan pula bahwa Apolos ini adalah seseorang yang sudah menerima pengajaran dalam jalan Tuhan, jalan disini lebih dimaksudkan kepada cara hidup atau cara berkelakuan yang sesuai dengan kehendak Allah. Dalam pekabaran yang Apolos lakukan, Apolos tidak takut sedikitpun, dia mengajar dengan penuh semangat. Hanya yang menjadi kendala adalah Apolos hanya tau sampai baptisan Yohanes, dia belum mengetahui tentang baptisan dalam nama Yesus. Akwila dan Priskila tampil untuk bersaksi kepada Apolos, memberitahu Apolos tentang injil sudah mereka ketahui sebelumnya, dalam pengalaman mereka dengan Paulus tentang Yesus Kristus. Akwila dan Priskila tidak takut, tidak malu bersaksi kepada Apolos sekalipun mereka tahu bahwa Apolos adalah orang terpandang, sementara mereka hanyalah tukang tenda.
hal pertama yang bisa kita pelajari dari kehidupan keluarga Akwila dan Priskila adalah mereka melayani secara total. Perkara menerima seorang asing masuk ke dalam rumah tangga untuk menetap dan menjadi anggota keluarga selama 1 tahun 6 bulan bukanlah hal yang mudah, apalagi untuk orang-orang yang sudah nyaman dengan kehidupan pribadi, tidak ingin terganggu dengan keberadaan orang lain. Akwila dan Priskila berbeda, mereka sangat menunjukkan tekad mereka, kesetiaan mereka dalam melayani Tuhan. Bukan saja tempat tinggal yang mereka korbankan, waktu, tenaga, pikiran juga mereka persembahkan untuk membantu pekerjaan pekabaran injil. Lamanya waktu tinggal Paulus dengan mereka mungkin bisa sedikit memberi gambaran kepada kita betapa baiknya pelayanan yang diberikan keluarga ini kepada Paulus sehingga Paulus kelihatan betah berada di tengah-tengah keluarga ini.
Paulus, Akwila dan Priskila berprofesi sebagai pembuat tenda
Komitmen, kerelaan, pengorbanan, kesetiaan yang dimiliki oleh keluarga Akwila seharusnya bisa diteladani oleh keluarga-keluarga pada masa kini. Keluarga Akwila yang hanya profesi sebagai tukang tenda namun bisa melakukan pekerjaan besar memberi arti bahwa dalam kesederhanaan,keterbatasan secara manusiawi sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak bisa melayani. Dalam keadaan apapun, jika sudah bertekad, berkomitmen melayani Tuhan, pasti akan ada jalan untuk mewujudkannya. Komitmen itu tentunya harus dilandasi dengan sikap kerelaan, pengorbanan rendah hati dan kecintaan terhadap Tuhan yang diakui memegang segala kendali atas hidup kita sebagai manusia.
Hal yang berikutnya adalah sebagian orang berpikir bahwa yang dipandang dalam melakukan pekerjaan mulia memberitakan injil hanyalah orang-orang yang secara langsung memberitakan injil, memberitakan Kristus, berkhotbah di depan umum, di atas mimbar, dan jarang melihat kepada orang-orang yang juga melalui apa yang dikerjakan mereka walaupun sederhana, bukan sebagai pengkhotbah tapi sebenarnya mereka turut mengambil bagian menjadi pekabar injil. Akwila dan Priskila diceritakan tidak pernah meninggalkan pekerjaan tukang tenda mereka, mereka tetap berprofesi sebagai tukang tenda, tapi apakah mereka bukan pekabar injil? dari cerita ini kita bisa menyebut mereka juga adalah para pekabar injil. Paulus dan Apolos bisa kita sebut sebagai pekabar injil secara verbal, sedangkan Akwila dan Priskila yang membantu Paulus, menyediakan fasilitas, membantu Apolos untuk lebih mengenal siapa Kristus bisa kita sebut sebagai pekabar injil non verbal. Mereka memang tidak tampil di hadapan umum untuk langsung menceritakan tentang Kristus, tetapi tindakan mereka memperlihatkan mereka juga mengabarkan injil, memperkenalkan Yesus Kristus lewat hidup mereka. Dalam PI Belajar dari Akwila dan Priskila, mereka tidak harus meninggalkan pekerjaan mereka sebagai tukang tenda, tetapi dalam keseharian mereka tetap bisa melakukan pekabaran injil. Mereka tidak mengejar kekayaan, kekuasaan, pengakuan sebagai tokoh-tokoh utama pekabar injil, yang penting bagi mereka adalah hidup mereka dalam pekerjaan yang sederhana, tetap bisa melayani Tuhan, membantu pekerjaan pekabaran injil.
Akwila dan Priskila, sepasang penginjil Yesus
Sdr/i seharusnya bisa mencontohi apa yang dilakukan oleh keluarga Akwila dan Priskila. Sekali lagi saya tekankan bahwa perkembangan gereja, perkembangan iman Kristen bukan saja tanggung jawab pendeta dan para majelis, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh keluarga Kristen yang menjadi anggota gereja tersebut. Tidak banyak di antara kita yang dalam kesederhanaan, mau melayani Tuhan dengan segenap hati. Tidak jarang orang yang kecil menurut ukuran manusia dipandang bisa dan bahkan mereka pun tidak memandang diri mereka sebagai seorang yang ingin dipakai Tuhan. Di dalam keterbatasan kita sebagai manusia, ingatlah bahwa perencanaan Allah itu baik adanya.
Sementara kota Korintus salah satu kota terkaya dan terpadat penduduknya di Yunani. Saat itu Yunani di bagi menjadi 2 Propinsi. Mekadonia dengan ibu kotanya Tesalonika dan Akhaya ibu kotanya Korintus. Korintus juga mempunyai penduduk yang menyembah berhala, terkenal karena kesombongannya dan kebejatan moralnya, sampai-sampai pada saat itu kalau ada orang yang bermoral bejat, lalu disebut dengan sebutan “orang Korintus”.
Di Korintus ini, Paulus bertemu dengan Akwila (seorang Yahudi) dan istrinya Priskila (mungkin dari bangsa Roma). Tidak di ketahui tentang pertobatan dari mereka. Dalam ayat 2 hanya disebutkan mereka berasal dari Pontus, dan baru datang dari Italia karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus, di samping seorang penginjil, juga mempunyai pekerjaan sampingan membuat kemah/tenda. Hal ini mempertemukannya dengan keluarga Akwila yang juga mempunyai pekerjaan yang sama. Walaupun sama-sama pembuat kemah/tenda, tidak membuat satu dengan yang lain merasa sebagai saingan atau tersaingi sehingga membuat jarak atau menggunakan teori evolusi kompetitif, tetapi sebaliknya menggunakan pemahaman koevolisi. Paulus tinggal di rumah keluarga ini. Mereka bersahabat, mereka bekerja sama. Dan mereka semakin berkembang baik usaha maupun kerohanian mereka. Dalam ayat 4,5 disebutkan bahwa tugas Paulus memberitakan Injil dapat terus dilakukan. Pekerjaan tidak boleh menghambat panggilan utama orang percaya yakni memberitakan Injil, baik melalui pekerkataan maupun perbuatan. Hal inilah yang dinampakkan Paulus. Dan bagaimana dengan Akwila dan Priskila? Kehadiran Paulus di rumah mereka, serta kerjasama yang dilakukan selama ini juga tidak hanya menambah pengetahuan atau pemahaman mereka tentang iman kristen tetapi juga menumbuhkan semangat memberitaka Injil kepada mereka. Kalau kita baca dalam Kisah Rasul 18:18 disebutkan bahwa Akwila dan Priskila menyertai Paulus ke Efesus, dan di Efesus Akwila/Priskila memberi pengajaran kepada Apolos mengenai jalan Tuhan[5]. Juga dalam Roma 16:3, Paulus mengatakan bahwa mereka kawan sekerjanya dalam Kristus.
(1) Salah satu ciri kehidupan di era globalisasi ini ialah kehidupan yang semakin kompetitif. Kehidupan demikian jelas memiliki plus minus. Bila kita berkemampuan, berkualitas dalam IPTEK, kita akan semakin maju, semakin berkembang, tetapi sebaliknya akan tersingkir. Juga manusia akan semakin individualistis. Kerjasama oke, bila selevel atau menguntungkannya. Tentu hal ini tidak sesuai dengan iman kristen[6].
(2) Memang benar bahwa di era globalisasi kita harus semakin berkualitas, kita harus semakin berkembang, semakin maju, tetapi bukan dengan menyingkirkan orang lain atau tidak mau peduli terhadap orang lain. Bagaimana caranya? Paulus mengatakan dengan bertolong-tolongan, dengan bekerjasama[7]. Dalam meningkatkan kemampuan berbisnis, misalnya kita dapat sharing, saling membangun dalam penegetahuan dan keterampilan. Meningkatkan usaha, misalnya, kita dapat bekerjasama, baik jaringan usaha maupun permodalan. Hal ini dapat dilakukan dan akan berjalan dengan baik bila kita masing-masing hidup takut akan Tuhan, hidup ber-iman. Artinya setiap kita dapat dipercaya, bertanggungjawab, dan jujur.
(3) Dalam pembacaan kita (1 Timotius 6:6) disebutkan ibadah memang memberi keuntungan besar. Keuntungan besar yang dimaksud Paulus tentu berbeda dengan pemahaman guru-guru sesat pada waktu itu dimana motivasi mereka lebih tertuju kepada mencari keuntungan materi. Dan hal ini sangat berbahaya[8]. Keuntungan besar yang dimaksud Paulus dalam arti rohani, walaupun juga mempunyai dampak duniawi[9]. Artinya dalam ibadah (persekutuan) kita akan mengenal satu dengan yang lain, usahanya, pergumulannya, dll. Melaluinya kita dapat menjalin kerjasama dan saling tolong menolong sehingga sebagaimana Paulus dan keluarga Akwila tidak hanya kebutuhan mereka tercukupi tetapi juga bertumbuh dalam hal kerohanian dan hal tersebut nampak dalam semangat mereka memberitakan Injil.Amen.
Dari berbagai sumber