Senin, 18 Juni 2018

Khotbah Pembukaan Retreat Anak Sidhi dan Pembinaan Penatua GKPI Ciliwung Bandung Thema: MELAYANI X 3


Bagaimana saya bisa Melayani menjadi saksi Kristus yang efektif di dunia yang terhilang ini?
 "Saksi" adalah seseorang yang menegaskan atau membuktikan sebuah fakta. Untuk menjadi saksi yang efektif bagi Kristus, seseorang harus memiliki pengetahuan yang langsung berasal dari-Nya. Rasul Yohanes berbicara mengenai hal ini dalam 1 Yohanes 1:1-3, ketika ia mengatakan, "Apa … yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup--itulah yang kami tuliskan kepada kamu."
kita harus mengingat beberapa hal yang mendasar:
1.TEMA dari kesaksian kita adalah Yesus Kristus. Paulus mendefinisikan Injil sebagai kematian, penguburan, dan kebangkitan Yesus Kristus (1 Kor 15:1-4). Jika kita tidak menjelaskan pengorbanan Kristus, maka kita tidak benar-benar membagikan Injil. (Lihat juga di 1 Kor 2:2 dan Rom 10:9-10). Satu bagian yang penting dari tema ini terkait fakta bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya cara bagi seseorang untuk bisa dianugerahi keselamatan, bukan hanya salah satu dari banyak cara. "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yoh 14:6).
2) VALIDITAS dari kesaksian kita akan ditunjukkan oleh cara kita menjalani hidup kita. Filipi 2:15 menetapkan tujuan ini bagi kita: "Supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia." Saksi Kristus yang efektif akan menjalani kehidupan yang tidak bercela di dalam kuasa Roh Kudus, yang buah-buahnya akan terlihat nyata ketika kita tetap hidup di dalam Kristus (Yoh 15:1-8; Gal 5:22-23).
 Enam ciri seorang saksi Kristus
#1 Hidup dalam teladan Kristus
• "Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya." (1 Petrus 2:21)
• "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6)
Hidup menjadi pengikut Kristus identik dengan menjadi ciptaan baru di dalam Kristus. Itulah sebabnya, hampir setiap hari kita diperhadapkan dengan berbagai tantangan rohani yang berusaha menyeret kita kepada kehidupan lama kita, yaitu mengikuti hawa nafsu dan dosa. Namun Petrus mengingatkan kita, bahwa Yesus Kristus tidak saja menjadi Penebus serta Juruselamat hidup kita, tetapi juga Pemberi teladan bagaimana kita menjalani kehidupan yang baru di dalam Dia.
Pertama, "mengikuti jejak" Kristus berarti kita meneladani bagaimana Kristus telah hidup. Jika kita membaca berbagai kesaksian di seluruh kitab Injil, maka kita akan mengetahui, bahwa Ia sangat dekat dan taat kepada Bapa-Nya. Apa yang menjadi tujuan-Nya datang di dunia, dikerjakan-Nya sesuai rencana Bapa. Ia hidup dalam kebenaran dan kekudusan, sekali pun Iblis berusaha menjatuhkan-Nya dengan berbagai cara. Kesetiaan-Nya terhadap firman-Nya telah memberikan kepada kita pencerahan, bahwa sesungguhnya kemenangan kita atas dosa dan tipu daya Iblis dapat diraih dengan bersandar pada firman-Nya. Demikian pula kasih-Nya terhadap para lawan-Nya, membuat kita tidak bisa membanggakan diri, sebab kita pun (dulu) adalah orang-orang yang memusuhi-Nya, namun sekarang dikasihi-Nya. Jejak-jejak inilah yang membuat orang Kristen 'perdana' begitu kuat di dalam menghadapi tantangan hidup lawan-lawan mereka, sebab mereka mengikuti jejak Kristus.
Kedua, "mengikuti jejak" Kristus adalah identitas orang Kristen. Orang Kristen tidak bisa disebut "Kristen" jika tidak mengikuti jejak Kristus, sebab kata "Kristen" itu sendiri berarti "pengikut Kristus." Maka, menjadi Kristen berarti menjadi orang yang hidupnya mengikuti teladan Kristus. Ini berarti, mengikuti sikap Kristus atas diri-Nya sendiri, dunia ini dan Allah Bapa, wajib menjadi sikap kita. Marilah kita menjadi orang-orang Kristen yang hidup mengikuti jejak Kristus.
#2 Hidup intim dengan Tuhan
Tujuan kita diselamatkan adalah untuk mengembalikan hubungan kita yang sudah hilang, menjadi intim kembali dengan Bapa kita. Melalui salib Kristus, hal-hal yang selama ini menghalangi hubungan kita dengan Bapa dihapuskan. (Yohanes 14:23; Wahyu 3:20; 2 Korintus 13:5).
"Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran." (Roma 8:9-10)
Manusia sangat berharga di mata Allah, dirindukan oleh Allah untuk memiliki hubungan intim dengan Dia. Allah ingin kita membina persahabatan yang erat dengan Dia. Tuhan ingin agar kita banyak menghabiskan waktu dengan Dia, berkomunikasi dan bersekutu dengan Dia, mengikuti Dia dan Dia akan memberi makna dan tujuan pada hidup kita.
Setiap orang harus menyadari bahwa kita sangat perlu untuk mendengarkan suara Tuhan, karena hal itu adalah bagian yang paling penting dalam membina hubungan kita dengan Allah. Dengan membina komunikasi dengan berdoa; maka di mana pun kita berada dan bagaimana pun hidup kita, Dia akan senantiasa memimpin kita.Iman dan kasih kita kepada Allah membawa kita untuk:lebih mengenali dan merasakan hadirat-Nya,berani berbicara dengan Dia,mendengarkan suara-Nya.
Ini adalah doa; pernyataan rasa syukur kita, kasih kita, pengharapan kita, dan kita menerima jawaban doa, jaminan dan bimbingan, damai sejahtera, kekuatan dan kuasa, pewahyuan tentang siapa Dia dan apa kehendak-Nya. (Matius 7:7-8; Yohanes 16:13; Efesus 1:17-18)
Doa adalah wujud komunikasi dengan Allah. Melalui doa kita mengalami hubungan dengan Allah. Kualitas doa kita dengan demikian juga ditentukan oleh kualitas hubungan kita dengan Dia.
#3 Fokus kepada perkara yang di atas
"Perkara yang di atas" menunjuk kepada hal-hal yang Ilahi; yang sifatnya memuliakan Tuhan. Hal-hal yang berkenan kepada Allah, hal-hal yang membawa berkat bagi banyak orang dan hal-hal yang tidak merugikan orang lain. Itu adalah maksud dari fokus pada perkara-perkara di atas. Kebiasaan hidup seperti inilah yang selalu menonjol dari mereka yang telah dapat menjadi saksi Kristus. Manusia yang mau memikirkan perkara yang di atas adalah manusia yang mampu menyangkal diri. Mengatakan "tidak" terhadap kemanjaan, kenyamanan dan keinginan diri sendiri yang dapat menjadi penghalang terhadap penerapan "perkara yang di atas".Menanggalkan egoisme dan egosentrisme di segala aspek kehidupan.
Memikirkan segala sesuatu yang berguna bagi pekerjaan Tuhan dan menanggalkan keinginan duniawiKarena orang yang memikirkan perkara yang di atas, mau tidak mau bertentangan dengan pola pikir duniawi. Ia harus hidup untuk melakukan kehendak Tuhan dan bukan bagi diri sendiri. Kondisi ini akan memampukan setiap orang percaya menjadi saksi Kristus.
#4 Telah mengalami kasih Kristus
Ciri khas dari seorang saksi adalah dia sudah mengalami sesuatu hal yang telah terjadi. Sebagai orang Kristen tentunya kita pernah mengalami pengalaman hidup bersama Tuhan Yesus, mungkin kita mengalami kesembuhan, pemulihan, terobosan-terobosan, mujizat bahkan juga hal-hal yang tidak pernah kita lihat, tidak pernah kita dengar, semua itu adalah kasih Kristus terhadap kita semua dan kita sudah mengalaminya.
#5 Hidup di dalam kasih
"Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran." (Kolose 3:12)
Kasih adalah bagian paling penting di dalam kehidupan manusia, sebab apabila kita telah mengalami kasih Kristus, maka sudah seharusnya kita membagikan kasih itu kepada saudara-saudara kita, kita diajak untuk saling mengasihi. Mengasihi yang diajarkan Tuhan juga bukan sebuah kasih yang karena orang lain mengasihi kita saja, tetapi kita memberikan kasih yang lebih daripada itu; yaitu kita mengasihi juga orang yang tidak mengasihi kita.Mengasihi orang yang membenci adalah hal yang tidak mudah, namun jika kita mampu melakukannya, maka kita adalah orang yang berbeda dengan orang yang tidak mengenal Kristus. Kasih mampu membuat kita melakukan apa yang tidak mungkin kita lakukan sebelumnya. Allah mengajarkan kita untuk menanggalkan cara hidup kita yang lama dan menjadi manusia
baru di dalam Kristus, dan saat ini marilah kita hidup di dalam hidup yang diperbaharui yaitu hidup di dalam kasih, sebab Allah sendirilah kasih itu. Mengasihi sesama adalah wujud kasih kita kepada Allah.
6 Mengekspresikan gaya hidup yang baru
"Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;" (Kolose 3:9-10)
Seorang saksi Kristus adalah seorang yang sudah mengalami perubahan dari manusia lama menjadi manusia baru ; dan perubahan itu terwujud dalam perubahan gaya hidup nya juga. (2 Korintus 5:17). Amen. RHL. Tobing




KATA SAMBUTAN PADA RETREAT ANAK-ANAK SIDHI DAN PEMBINAAN PENATUA KARANG TUMARITIS LEMBANG.


PujidansyukurkitapanjatkankepadaTuhanYesus Raja gereja karena pada hari ini Jumat-Sabtu, 22-23 Juni 2018,kita dapat melaksanakan Retreat anak-anak Sidhi dan Pembinaan para Penatua GKPI Jemaat Khusus Bandung.di tempat yang sejuk ini, jugakarenaKasihsetia-Nya yang memberkati anak-anak kita sehingga Anak-anak Sidhi GKPI Jemaat Khusus Bandung dapat menyelesaikan Pendidikan Sidhi selama setahun, dan sebelum mereka menerima Berkat dari Tuhan dengan Peneguhan Sidhi, mereka sejenak mengundurkan diri ketempat yang sunyi, untuk berhubungan dengan Tuhan. Hari ini akan memasuki suatu Penyerahan kepada Tuhan semua yang telah mereka serap.…? dan bertanya Tuhan jadi apa saya nanti...? Patut kita Syukuri juga...karena Retreat ini dapat disatukan dengan Pembinaan para Penatua GKPI Jemaat Khusus Bandung. Semua ini kita laksanakan hanya dengan satu tujuan agar Pelayanan di Jemaat kita semakin baik, karena kita telah memiliki satu Komitmen yang sama dengan seluruh warga jemaat khususnya dengan Pemuda/i gereja kita. Kita sangat berharap bahwa Anak-anak Sidhi ini akan menjadi Anggota Paduan Suara PP di Gereja kita setelah mereka di dewasakan melalui Peneguhan Sidhi.
DalamInjilMateus 28: 19 – 20, adatigatugasdantanggungjawab orang Kristen/gerejasebagaitubuhKristus di duniaini yang sama-sama harus kita laksanakan khususnya rekan-rekan Pelayan.
Ketigatugasiniseringdisebutsebagaitritugaspanggilan   Kristen  yakni:  to  be,  to  go,  to  do  ( menjadi,  pergidanberbuat).

Tugaspertamaadalah“menjadi”  (to  be).  DalamKisah  Para  Rasul  1:8  Yesusmengatakan: “  Tetapikamuakanmenerimakuasa,  kalauRoh  Kudus   turunkeataskamu,   dankamuakanmenjadisaksi-Ku  di  Yerusalemdan   di  seluruhYudeadan  Samaria   dansampaikeujungbumi”.  Sebelumkitabolehpergidanberbuat,   kitaharusterlebihdulumenerimakuasaRoh   Kudus.  SebabtanpaRoh  Kudus  kitatidakmemilikikesanggupandankekuatanuntukmelakukantugas  yang  beratitu.  MengandalkankuasamanusiauntukmelaksanakantugaspekabaranInjiladalahmustahil.  “Bukandengankeperkasaandanbukandengankekuatan,  melainkandenganroh-Ku,  firmanTuhansemestaalam” (Zak.  4:6). SamasepertiYesus,  sebelumdiamulaitugasmisi-Nyauntukmenyelamatkanduniaini,   terlebihduluDiamenerimaRoh   Kudus.              Diaberkata,    RohTuhanadapada-Ku, olehsebabIatelahmengurapiAku,  untukmenyampaikankabarbaikkepada  orang-orang  miskin”  (Luk  4:18).
Demikianlahmurid-muriditu,   harusterlebihdulumenerimakuasa  agar   merekamampumelaksanakanAmanatAgungYesusKristus.  Titiktolakmisiadalah    menjadi”  (to  be).  Menjadiorang  yangpenuhdenganRoh  Kudus,  menjadiciptaanbaru   di  dalamYesusKristusdanmenjadisepertiYesus. HanyaapabilaRoh   Kudus   turundanberkuasaataskita,   makakitamenjadiciptaanbaru  (2  Kor.  5:17). 

Tugaskeduaadalah“pergi”  (to  go).   Menjadi  orang   Kristen   adalahpilihandankeputusan.   MengabarkanInjilbukanlagipilihanbagi   orang   Kristen,    tetapikewajiban.   Paulus   mengatakan“celaka”kalautidakmengabarkanInjil  (I Kor.  9:16).
Amanatkedua   yang   diberikanYesusadalah  “pergi’  YesusKristusmemanggilmurid-murid-NyadanmengutusmerekauntukpergimemberitakanInjilkeseluruhdunia.  Gerejadipanggilsebagaialat  Allahuntukmenjadigaramdanterangduniaini.  
     Kita   sebagai   orang   Kristen   jugadipanggiluntukpergimemberitakanInjil.   Siapadanapa  punprofesikita,   sebagai   orang   Kristen,  kitaterpanggildandiutusuntukpergi.   Kemana  pun   kitapergisetiapharihendaknyakitaaminkanitusebagaiperintah  Allah.  Karenaitu,   setiapkitakeluardarirumahkita,   kitaharusbertanyakepada  Allah   apa   yang   Iakehendakiuntukkitalakukanhariini   di  tempatkemanakitapergi:  kantor,   sekolah,  tempatkerja,  dansebagainya. Sudahkah GKPI ber-PI selamaini….?

Amanatketigaadalah“berbuat”  (to  do).   Kita   tidakcukuphanyapergitanpatujuandantanpaberbuat.   Pergitanpaberbuatsesuatusamadenganmenghabiskantenagadanwaktu.  Yesusmengutuskitapergiuntuk:  bersaksi,   memberitakanInjil,  memuridkan   orang,   membaptiskan,   danmengajar.   Dengan   kata   lain,   kitaterpanggiluntukmembawajiwakepadaYesusKristus, bukanmalahmenjauhkanjiwa-jiwadariKristus. ApakahkitasemuaharusmenjadiPenginjil, Penatua, atauPendeta…? Jawabnyatidak, denganmembantugerejamelaluiapa yang kitaterimadariTuhan, kitasudahmelaksanakanketigatugaspanggilantersebut. Mendukungmelaluipersembahan, PI, Diakoni, danpelayanan yang lainnya, kitasudahturutberbuat.Sejak hari ini kita/anak-anak Sidhi, marikitabersama-samabertanyakepadadirikita, sudahsampaidimanakitaberbuatuntukTuhan…?
Jangantanyaapa yang sudahdiperbuatgerejakepadamu, tapitanyalahdirimuapa yang sudahkamuperbuatuntukgereja, jangan Tanya apa yang sudahdiperbuatTuhankepadamu, tapitanyakandirimuapa yang sudahkamuperbuatuntukTuhan.

Akhirnya saya sebagai Pimpinan/Pendeta Jemaat Khusus Bandung, mengucapkan terimakasih kepada semua Panitia yang telahj berlelah untuk mewujudkan Acara selama dua hari ini. Tuhan Yesus Memberkati sdr/I dan memberkati Jalinan Kerjasama yang telah di jalin bersama Majelis khususnya Pengurus Hariaqn Jemaat  Khusus GKPI Bandung.
SelamatRetreat dan Pembinaan, Tuhanmemberkati.
Pdt. R.H.L. Tobing. S.Th. MA




Khotbah Keb. R. Tangga 19-20 Juni 2018 Kejadian 7, 10-24 ”Kasih Setia Tuhan”


Dalam Perjanjian Lama dosa dimengerti sebagai ketidaktaatan, seperti pelanggaran, pembrontakan dan perbuatan yang tidak senonoh. Umat manusia pada zaman Nuh melakukan pelanggaran dan perbuatan tidak senonoh dengan makan, minum, kawin mawin. Hal ini dipahami sebagai ketidaktaan pada perintah Allah, maka terjadilah peristiwa air bah sebagai hukuman bagi bangsa yang tidak taat tersebut.
Keangkuhan manusia adalah bentuk pertama dosa konkret, di mana manusia ingin menyamai Allah sehingga berlaku seolah-olah dia sendiri adalah Allah yang disebut sebagai ketidaktaatan atau ketidakpercayaan. Allah telah menunjukkan jalan bagi manusia, oleh karena itu manusia tidak boleh melepaskan diri demi kepentingannya sendiri, tidak boleh mencari jalan yang kabur yang penuh penipuan, kecerobohan dan keputusasaan dengan menentang anugerah yang telah diterima. Ketika manusia melalaikan anugerah dan menganggap diri mampu bertahan dengan kekuatannya sendiri, maka disitu lah Allah menyatakan diri dengan bertindak tegas atas keangkuhan manusia. Istilah yang digunakan oleh Paul Tillich manusia mengalami peralihan dari esensi ke eksistensi, yang mencakup dua elemen yaitu moralis dan tragis.
Dalam masyarakat modern manusia tidak lagi sepenuhnya dipimpin oleh ajaran alkitab mengenai ajaran tentang yang baik dan yang jahat, sehingga banyak orang menganggap dosa hanya pasir dalam roda gigi teknokrasi yang mengganggu perputaran gesekan yang mulus. Dosa dilihat sebagai suatu kesalahan struktur masyarakat yang dapat diperbaiki dan bukan suatu kuasa trans-subyektif yang dapat menghancurkan manusia.
Pemahaman tentang dosa di zaman modern membuat orang tidak takut melakukan dosa, bahkan ada yang telah menikmati dosa itu sendiri dengan berpikir seolah-olah apa yang diperbuat adalah benar. Suatu hari ada suatu kelompok yang mengadakan pertemuan di rumah salah seorang anggota kelompok. Ketika tuan rumah menyalam para tamu, salah seorang tamu tidak mau disalam dengan dengan menolak tangan si pemilik rumah, tanpa alasan yang jelas. Tamu itu tidak merasa bahwa yang dia lakukan bukan lah sebuah kesalahann karena dia telah terstruktur dengan kebiasaan masyarakat yang mencurigai dan memusuhi. Dan yang luar biasa dia boleh dengan lapah menikmati jamuan makan dari tuan rumah, tanpa sungkan sedikitpun. Itu salah satu contoh bentuk kebejatan manusia yang sudah dinikmati.
Kesalahan-kesalahan personal telah terbungkus pada sebuah pemahaman yang salah tentang dosa. Ketika secara pribadi manusia tidak memahami kekurangannya, maka dosa umat akan semakin menumpuk, pertobatan akan semakin jauh, karena semua menganggap diri benar. Itu yang disebut, melihat masa depan dengan mata bukan dengan iman. Artinya, tolok ukur untuk suatu penilaian manusia secara moral tidak lagi dilihat dari kepercayaan, melainkan hanya dari kemanusiaan. Maka masing-masing orang melihat orang lain yang salah dan dia yang benar. Sikap hidup seperti inilah yang menutup pertobatan bagi manusia.
Ketika ketidaktaatan telah menguasai kehidupan manusia pada zaman Nuh, terjadi lah air bah, untuk membumi-hanguskan semua kejahatan manusia. Menghancurkan setiap bibit yang dapat merusak eksistensi manusia sebagai ciptaan sekaligus menjaga kelestarian alam. Allah ambil bagian dalam penciptaan ulang melalui penghangusan segala virus yang merusak moral manusia. Pemeliharaan moral diwujudkan dengan cara tragis.
Maka sering muncul pertanyaan dengan berbagai kejadian bencana alam yang dialami masyarakat Indonesia, Ada yang mengatakan ya, di mana manusia semakin bobrok dalam iman, tidak perduli lingkungan dengan menebang pohon, membuang sampah sembarangan, dan tidak menjaga keutuhan ciptaan dengan penghangusan binatang liar di hutan. Artinya, bencana alam boleh sebuah tanda bagi kita untuk mau mengoreksi diri, bagaimana kita dalam perjalanan hidup dalam relasi kita dengan Tuhan, sesama dan alam. Istilah Ebiet G. Ade, mengatakan, mungkin Tuhan mulai bosan mlihat tingkah kita...
Tapi kita jangan menganggap bahwa orang lainlah bersalah, sehingga kita selamat dan orang lain menjadi korban. Bukan, Tuhan sering kali bertindak di luar pikiran kita, dan Dia melakukan semua untuk menyatakan kuasaNya, agar manusia sadar, bahwa kita bukanlah siapa-siapa, kita bukan sama dengan Allah, tapi kita adalah ciptaan yang sepenuhnya bergantung pada sang pencipta. Orang bisa berteriak minta tolong oleh bencana alam yang terjadi, tetapi mereka yang setia akan tetap berada dalam genggaman Tuhan, mereka boleh selamat, karena Tuhan menyediakan perahu bagi orang yang taat.
Hal lain yang boleh kita pahami ialah, air yang sebenarnya adalah sumber hidup, boleh menjadi alat Tuhan menghukum umat yang berdosa. Mengapa? Sejauh kita tidak melihat sumber hidup adalah pemberi hidup, maka berkat, hidup yang kita terima dapat menjadi kutuk bagi kita. Bila kita tidak taat pada Tuhan sebagai sumber hidup, maka Tuhan juga akan memberi penghukuman bagi kita. Bila kita merasa berkat Tuhan sebagai usaha kita sendiri, dan kita melupakan sumber berkat itu, maka berkat itu dapat membunuh hidup kita. Air adalah satu sumber hidup manusia, tetapi air itu sendiri yang menghanguskan umat yang tidak taat dalam peristiwa air bah ini.
Tuhan sangat sabar menanti kita berubah, dia tidak menginginkan kehancuran ciptaanNya, sehingga Dia mengutus orang pilihan masuk ke perahu Nuh, membuat binatang liar dan ternak berpasang-pasang mewakili ciptaanNya ikut masuk ke perahu Nuh. Nuh bersama istri dan ketiga anaknya dan istri mereka masuk pada ruang anugerah Tuhan. Ketaatan mereka membuahkan kehidupan.
Allah yang maha kasih adalah yang sama dari kemarin, kini dan masa yang akan datang (Maleaki 3,6). Dia sabar menanti pertobatan kita dan Dia tidak memperlambat janjiNya untuk mewujudkan cinta bagi orang yang mau meninggalkan kejahatanNya dan masuk pada ruang anugerah yang disediakan Tuhan bagi mereka yang taat (2 Petrus 3,3-10). Kiranya Kasih setia Tuhan menuntun kita masuk pada ruang yang sudah Tuhan sediakan bagi kita, selamat menikmati anugerah kebaikan Tuhan. Amin.


Khotbah Kebaktian R. Tangga 5-6 Juni 2018 MENGAKUI KEDAULATAN TUHAN Keluaran 7 : 14 – 25


“Tulah pertama: Air menjadi Darah”
Cara apa yang Tuhan bisa pakai agar orang mengakui kedaulatan-Nya atas hidup mereka? Salah satunya adalah dengan menghancurkan semua yang menjadi pegangan hidup mereka, sehingga mau tidak mau mereka akan berpaling kepada satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka.Tulah pertama dijatuhkan. Tulah air menjadi darah menggerogoti sendi utama kehidupan bangsa Mesir. Sungai Nil, yang selama ini disembah sebagai salah satu dewa utama Mesir, jadi tak berfungsi. Padahal Nil adalah sumber air minum dan sekaligus sumber makanan, karena ikan yang hidup di dalamnya. Inilah awal persoalan dalam nas ini adalah ketika Firaun berkeras hati dan menolak membiarkan bangsa Israel keluar dari Mesir. Penolakan ini adalah bukti bahwa Firaun tidak takut kepada Allah Israel. Firaun dengan sangat keras hendak mengandalkan kekuatan mantera dan ramalan para dukun yang bekerja untuknya. Oleh karena ramalan dan mantera itu begitu diyakini oleh Firaun, membuat ia berkeras hati untuk tidak memperbolehkan bangsa Israel keluar dari Mesir. Walaupun sebenarnya sikap Firaun ini adalah suatu kebodohan, karena sikap dari penolakan itu mengakibatkan bangsa Mesir merasakan perbuatan tangan Tuhan seperti dalam Kel.8-10. Nas ini membuktikan dengan jelas, bahwa tidak ada apapun di dunia ini yang dapat diandalkan. Kita hanya berharap kepada kasih sayang-Nya semata.
Tugas besar dari Tuhan kemudian diberikan kepada Musa. Musa datang menjumpai Firaun untuk menyampaikan kepadanya, dari siapa dan untuk apa dia menerima tugas besar itu. Tugas besar yang disertai dengan wibawa dari yang mengutusnya merupakan andalan utama Musa. Musa tidak datang kepada Firaun dari dirinya sendiri, tetapi atas nama Tuhan yang berkuasa atas seluruh ciptaan. Kuasa dan wibawa Tuhan yang secara simbolik dinyatakan dengan tongkat yang ada di tangannya akan dinyatakan kepada Firaun secara khusus dan kepada bangsa Mesir secara umum. Tongkat yang dipakai oleh Musa hendak menyatakan kuasa Allah atas seluruh bumi dan bukti dari keberpihakan Tuhan kepada bangsa Israel. Hal itu dinyatakan dengan tegas dalam ay. 16 “TUHAN, Allah orang Ibrani, telah mengutus aku kepadamu untuk mengatakan: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku di padang gurun; meskipun begitu sampai sekarang engkau tidak mau mendengarkan.”
Cara apa yang Tuhan bisa pakai agar orang mengakui kedaulatan-Nya atas hidup mereka? Salah satunya adalah dengan menghancurkan semua yang menjadi pegangan hidup mereka, sehingga mau tidak mau mereka akan berpaling kepada satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka. Sungai Nil dipercaya oleh orang Mesir membawa berkat bagi kehidupan mereka. Oleh karena keberadaan Sungai Nil-lah, maka Mesir dapat menjadi suatu negeri yang pertaniannya amat subur dan menjadi kerajaan yang berkembang dengan pesat. Berhubungan dengan fakta bahwa dalam setahun hujan hampir tidak terjadi di Mesir, maka Sungai Nil juga menjadi hampir satu-satunya sumber air minum bagi orang Mesir. Dengan alasan-alasan inilah, orang-orang Mesir sangat mendewakan Sungai Nil. Sungai Nil dipercaya dikuasai oleh seorang dewa bernama dewa Hapi. Hal inilah yang menjadi alasan dari tindakan Firaun yang biasa datang ke Sungai Nil pada pagi hari, yaitu untuk memberikan persembahan atau sesajen kepada dewa sungai Nil untuk memohonkan berkat.
Tuhan menggunakan moment di mana Firaun pada pagi hari datang ke tepi Sungai Nil untuk mempersembahkan persembahan kepada dewa Sungai Nil, untuk menjelaskan kepada orang Mesir bahwa mereka telah salah mengerti. Sungai Nil hanyalah merupakan salah satu alat penyalur berkat Tuhan bagi orang Mesir, dan bukan tuhan itu sendiri. Yang harus disembah, dihormati, dan ditakuti adalah Allah yang memberikan berkat-Nya melalui Sungai Nil, dan bukan sungai Nil itu sendiri yang dijadikan sebagai dewa. Kesuburan Mesir akibat adanya Sungai Nil telah membuat orang Mesir, khususnya Firaun, merasa aman dan tidak merasa perlu takut akan Allah orang Ibrani, serta tidak perlu mengakui keberadaan dari Allah orang Ibrani. Akhirnya, Allah memberikan hukuman dan pengajaran-Nya kepada orang Mesir dengan mengubah air Sungai Nil menjadi darah, untuk menunjukkan siapakah yang menjadi Allah sebenarnya, siapakah yang berkuasa atas Sungai Nil, dan siapakah yang sebenarnya memberikan berkat kesuburan kepada orang Mesir melalui Sungai Nil.
Tanda yang Allah berikan melalui Musa ini harus diperhatikan tujuannya, karena tujuan itu jauh lebih penting dari tanda itu sendiri. Sungai Nil merupakan sumber kehidupan Mesir, oleh karena itu mereka menyembah dewa sungai ini. Ikan-ikan yang hidup di sungai Nil juga merupakan sumber kehidupan bagi Mesir sehingga mereka menyembah dewa-dewa dalam bentuk ikan. Melalui tulah ini, Allah ingin menjelaskan bahwa sumber kehidupan manusia adalah Allah sendiri, bukan sungai atau ikan yang harus disembah orang Mesir. Memang para ahli di Mesir bisa melakukan tanda yang sama, tetapi mereka tidak bisa memulihkan kembali. Ini menunjukkan bahwa kuasa yang menyertai Musa dan Harun lebih dari kuasa yang menyertai para ahli di Mesir.
Melalui tulah itu, Allah memaksa Firaun mengakui bahwa Tuhan orang Israel tidak boleh dibuat main-main. Tulah ini menimbulkan bencana besar bagi penduduk Mesir karena Nil merupakan sumber semua aliran air yang ada di Mesir. Namun ketika para ahli Mesir mampu menghasilkan mukjizat yang serupa, mengubah air menjadi darah, Firaun berkeras menolak mengakui Allah Israel. Ini merupakan kebodohan. Firaun tidak mau menyadari bahwa para ahlinya telah kalah melawan kuasa Allah Israel (ayat 22). Mereka hanya mampu meniru mukjizat yang dilakukan Musa, yang sebenarnya justru menambahkan sengsara bagi rakyat karena semua air jadi tidak dapat digunakan untuk apapun. Kalau memang mampu, seharusnya mereka mengadakan mukjizat yang membalikkan, yaitu dari darah menjadi air yang jernih. Akibatnya harga yang mahal harus dibayar oleh rakyat Mesir karena kebebalan dan kekeraskepalaan Firaun.
Kadang-kadang Tuhan memakai bencana untuk menyadarkan manusia bahwa mereka tidak bisa menolak Allah dalam hidup mereka. Anak-anak Tuhan pun tidak jarang harus dicambuk dengan penderitaan hidup agar mereka sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan dalam hidup, bukan kekuatan dan hikmat sendiri. Sebab itu kita perlu belajar mengakui kedaulatan Allah atas hidup kita. Bahkan kita perlu menundukkan diri dan taat pada cara yang Tuhan terapkan dalam hidup kita! Amen


Khotbah Keb. R. Tangga 30-31 Mei 2018 Yoh. 3:1-8 Percakapan Yesus Dengan Nikodemus



Dalam nas ini diberitakan bahwa Nikodemus yang adalah seorang Farisi, pemimpin orang-orang Yahudi (Sanhedrin) dan juga Ahli Taurat (7:26,48,50; 3:10) sedang melakukan percakapan dengan Yesus. Hal menarik yang dapat diperhatikan bahwa adanya percakapan Yesus dengan seorang tokoh Yudaisme yang sangat berpengaruh. Jika semua agama membawa setiap penganutnya ke dalam kehidupan kekal yang berbahagia, Nikodemus pasti berada di antrian deretan depan. Jika segala jenis kebaikan relijius memadai untuk menghantar seseorang ke surga, Nikodemus merupakan salah satu orang yang paling pamtas untuk menerimanya. Para pembaca Injil Yohanes yang teliti dengan mudah akan menemukan keistimewaan Nikodemus.
Di kalangan bangsa Yahudi yang terkenal sangat relijius, Nikodemus menempati posisi yang istimewa. Dia adalah pemimpin agama Yahudi dari golongan Farisi. Pada zaman itu bangsa Yahudi mendapatkan perlakuan agak khusus dari pemerintah Romawi dalam hal otonomi. Untuk hal-hal tertentu, mereka bisa memutuskan sendiri perkara-perkara mereka melalui sebuah mahkamah konstitusi yang disebut Sanhedrin. Nah, salah satu elemen penting dalam kelembagaan ini berasal dari golongan Farisi. Tentu saja tidak semua orang Farisi secara otomatis menjadi anggota Sanhedrin. Hanya mereka yang terpilih saja untuk mewakili.
Dari kacamata kultural dan relijius pada zaman itu, semua ini jelas memberi keuntungan bagi Nikodemus. Dia dipandang sebagai seorang yang rohani. Bahkan di antara berbagai kelompok relijius waktu itu, golongan Farisi terkenal sangat militan dan detil dalam menaati Hukum Taurat. Mereka secara sengaja membedakan diri  dari rakyat biasa yang dinilai tidak mengenal Taurat (7:49; bdk. Luk. 18:10-14; Flp. 3:5-6). Mereka terlihat lebih taat daripada golongan Saduki yang hanya berkutat pada ritual di bait Allah dan dipandang dekat dengan para penguasa asing. Jika setiap agama menawarkan jalan yang valid kepada kehidupan kekal yang berbahagia, bukankah Nikodemus pantas mendapatkan akses khusus untuk ke jalan tersebut?
Dia menunjukkan sikap kepada Yesus yang jauh lebih positif daripada orang-orang Farisi yang lain.
Nikodemus menjumpai Yesus pada malam hari dapat dipahami adalah adanya unsur kebijaksanaan karena kekacauan mungkin bisa terjadi jika pertemuan ini diketahui oleh banyak orang karena status Nikodemus sebagai tokoh agama yang terpandng. Namun yang jelas motif Nikodemus untuk datang kepada Yesus tentunya bukanlah motif untuk melakukan konfrontasi seperti yang telah terjadi sebelumnya (2:18 dst.) namun adalah karena ia ingin mengenal Dia dengan baik.
Nikodemus  : “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah”
Yesus          : “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat  melihat Kejaraan Allah”
Kedatangan Nikodemus kepada Yesus untuk berbicara bukan dengan sebuah pertanyaantetapi dengan sebuah pernyataan (“kami tahu”). Nikodemus berbicara dalam bentuk jamak untuk mengatakan apa yang kelompok-kelompok tertentu percayai atau tidak percayai tentang Yesus (2:23). Ia menyebut Yesus dengan “Guru yang diutus Allah” dan ia dapat mendasarkan pandangannya ini sama seperti pandangan umum orang-orang Yahudi bahwa mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus mengindikasikan bahwa Ia adalah seseorang yang diutus Allah (9:31 dst.) dan Yesus merespon Nikodemus dengan “Amin-amin” (LAI= "Sesungguhnya").
Hal menarik dapat diperhatikan dari Nikodemus adalah keingintahuan yang mendalam akan pengenalan akan Firman Tuhan. Walaupun sebenarnya dia sudah merupakan seorang ahli taurat dan merupakan seorang dari pemimpin agama namun keingintahuan begitu besar dalam dirinya, tidak puas akan apa yang telah diketahui. Nikodemus memperhatikan fenomena yang terjadi dikalangan orang Yahudi dari pekerjaan yang dilakukan oleh Yesus yang mengindikasikan bahwa Yesus adalah yang diutus Allah (9:31 dst.). Inilah yang membawanya keinginan untuk berjumpa dengan Yesus dengan mengusung alasan untuk membuka pembicaraan kepada Yesus dengan kata “kami tahu”. Patut untuk di tiru sikap Nikodemus yang positif yang mau terbuka untuk mempelajari dan menanggapi sesuatu yang baru untuk diketahui dan dipahami. 
Nikodemus         : “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua?”
Yesus                 :  “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh (ayat 2= “kembali”), ia tidak dapat  masuk ke dalam Kejaraan Allah”
Dilahirkan kembali = dilahirkan dengan air dan Roh
Sepertinya satu kalimat yang disampaikan oleh Yesus mengenai Kerajaan Allah bahwa “Jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” membuat Nikodemus terguncang atas pemahaman yang dipahami selama ini dan terlihat dari jawabnya atas pernyataan Tuhan Yesus “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”. Nikodemus memberikan tanggapan kemustahilan akan apa yang telah Yesus katakanan, sebab ia menanggapi dan mengartikannya “masuk kembali ke dalam rahim ibunya” sementara yang Yesus maksudkan adalah seperti yang terlihat pada ayat 5 dan 8 yaitu suatu kelahiran “dari air dan Roh” dan itu adalah “dari Allah” (1:12-13). Memang perbuatan Allah adalah mustahil jika hanya ditanggapi dengan logika manusia. Kita akan mengatakan “bagaimana mungkin?” tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk. 1: 37).Menanggapi pertanyaan Nikodemus, Yesus kembali memberikan pernyataan untuk menjelaskan pernyataanNya tentang kelahiran kembali bahwa untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah harus dilahirkan dari “air dan Roh”. Pemahaman akan “air” dalam hal “lahir kembali” dalam seluruh rangkaian percakapan Yesus dengan Nikodemus memang tidak lagi disinggung kecuali masalah kuasa “Roh”, namun demikian pemahaman akan “air dan Roh” dapat merujuk kepada Baptisan jika kita pahami dalam konteks “memasuki Kerajaan Allah” dan juga jika memperhatikan nas yang ada setelah percakapan Yesus dengan Nikodemus yaitu tentang Baptisan Yohanes (3: 22 dst.). Baptisan adalah untuk melepaskan yang lama dan Roh sebagai pencipta dan karunia hidup yang baru. “air dan Roh” juga dapat merujuk kepada pembaharuan rohani yang tersirat pada Yehezkiel 36: 25-27 yaitu air yang menjernihkan dan Roh yang baru untuk hati yang keras. 
Hidup baru dalam Kristus tidak terlepas dari Iman percaya akan salib Kristus, percaya akan pengampunan dosa melalui Yesus Kristus yaitu dengan pertobatan, maka baptisan adalah jalan untuk memasukinya yaitu penyucian hidup yang lama kepada hidup yang bersih didalam Kristus. Kemudian “Roh” adalah kuasa Allah untuk memampukan kita untuk hidup dan memahami maksud dan rencana Allah.
Selanjutnya Yesus memberikan penjelasan tentang “Dilahirkan dari air dan Roh”, yaitu dengan mengkontraskan perbandingan yaitu yang “dilahirkan dari daging” dan yang “dilahirkan dari Roh” dan kemudian dijelaskan bagaimana Roh itu bekerja dengan memberikan gambaran “angin” yang merujuk pada “Roh” bahwa angin bertiup kemana ia mau, bebas dan berkuasa yang tidak dapat ditelusuri pergerakannya.
Nikodemus        : “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?”
Yesus       : “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”
Kemungkinan untuk dilahirkan kembali hanya terjadi adalah karena kasih Allah.Untuk dapat melihat dan masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah percaya akan keselamatan dari Allah yang telah turun dari sorga yaitu Yesus Kristus. Pertanyaan Nikodemus (“bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?”) membawa percakapan selanjutnya yang berfokus pada Kristus sebegai kebenaran sejati yang turun dari sorga. Rahasia wahyu Allah dalam Kristus terdapat  di dalam inkarnasi Firman sebagai pemberian Anak-Nya yang tunggal merupakan dasar bagi kedatangan Kerajaan Allah dan kuasa oleh Anak Manusia.
Lebih rinci lagi Yesus menyatakan mengenai peninggian Anak Manusia berdasarkan referensi kisah di Bil. 21:8 dst. Dimana Musa meninggikan ular di padang gurun. Yesus memberikan arti “peninggian Anak Manusia” dengan arti ganda seperti yang tertulis dalam Matius 16:21 dan Lukas 9:22 bahwa Anak Manusia akan dinaikkan di kayu salibadalah jalan peninggian Anak Manusia. Sebagaimana memandang ular merupakan sarana kuasa Allah untuk penyelamatan dari kuasa kematian, maka Yesus sebagai Anak Manusia dalam penderitaan dan kematianNya di kayu salib juga adalah untuk membawa keselamatan dari Allah.
Kita tidak dapat mengesampingkan akal budi dan logika dalam hidup ini, namun bagaimanapun banyak hal-hal yang tidak kita mengerti terlebih Firman Allah tidak akan dapat kita mengerti dan lakukan jika hanya dengan logika. Namun kuasa Roh Kudus akan memampukan kita untuk mengerti segala sesuatunya. Ada banyak orang yang akan stress menghadapi tekanan hidup karena dihadapi hanya dengan akal budinya saja, tetapi dengan Roh Allah seberat apapun tekanan hidup itu tidak akan pernah membuat kita hancur. Itulah sebabnya dalam 1 Korintus 2: 10 dikatakan: “Sebab Roh Allah menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah”.
Lahir kembali akan menjadikan kita ciptaan Allah yang baru, hal itu hanya terjadi jika kuasa Roh Kudus bekerja dalam diri kita untuk memampukan kita meninggalkan manusia lama. Kerajaan Allah hanya akan menjadi bahagian dari orang-orang yang telah diperbaharui oleh Allah. Sehingga iman percaya kita kepada Kristus bukanlah sifatnya verbal hanya pada perkataan, namun menjadi pola hidup yang benar-benar diubah menjadi ciptaan Allah yang baru. Galatia 2: 20. Amen. RHL



Khotbah Keb. R. Tangga 22-23 Mei 2018 Yesaya 40:12-14 KEKUATAN ALLAH YANG TAK TERTANDINGI


Ayat-ayat ini menekankan hikmat, kebesaran, keagungan, dan kuasa kreatif Allah
Kebenaran-kebenaran yang terungkap di sini mengilhami umat-Nya untuk percaya Dia, yang dapat melepaskan mereka dan menetapkan kerajaan-Nya untuk selama-lamanya.
Kekaguman kita kepada Allah membuat kita kehabisan kata dan cara untuk mengungkapkannya. Penggambaran tentang kedahsyatan Allah digambarkan dengan gunung, laut, langit, debu tanah ini yang ditonjolkan dalam ayat 12-14. Yesaya menggambarkan bangsa lsrael dengan setitik air, setitik debu halus beratnya. Allah memiliki hikmat dari cara Allah menciptakan semesta dengan teratur sehingga terjadi keseimbangan dalam ciptaan-Nya, Dla Allah yang kekuatan-Nya tidak tertandingi, walaupun dalam pandangan bangsa Israel bangsa lain dirasa sangat menakutkan, tetapi dalam pandangan Tuhan mereka bukan apa-apa. Demiklan pula dengan korban bakaran dan persembahan manusia tidak pernah cukup atau setara dengan
kebesaran dan keagungan Allah (ay 16-17).
Umat pilihan Tuhan (bangsa Israel) sangat mengakui kebesaran Tuhan. Mereka percaya bahwa keluarnya nenek moyang mereka dari perhudakan di Mesir hanya karena "pertolongan Tuhan". Tetapi ketika mereka dibuang ke Babel, mereka merasa ditinggalkan oleh Tuhan, dan bahkan mereka merasa "Tuhan mereka" tidak sanggup menolong mereka. Keadaan 

Ini membuat bangsa ini merasaputus asa dan tidak punya pengharapan lagi.

Memahami kemahakuasaan Tuhan, maka hendaknya kita tetap berpengharapan kepada-Nya walau bagaimanapun kehidupan yang yang kita alami saat ini. Sebagalmana Allah yang sanggup membebaskan umat pada masa pembuangan, adalah juga Allah yang sama yang selalu menyertai kehidupan kita sebagai orang percaya saat ini. Masalah apa yang sedang membuat anda meragukan kehadiran Allah dalam hldup ini? Percayalah, Allah yang berdaulat diatas segala-galanya. Orang yang menantikan Tuhan tidak akan pernah kecewa. Mungkln Dia tidak menghapus semua beban berat itu. Namun yang pasti Dia akan memberikan kekuatan-Nya pada anda agar dapat bertahan dan terlepaskan dari beban pergumulan anda.

Terbang Mengatasi Masalah
Nats : Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN ... seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya (Yesaya 40:31)
Bacaan : 
Yesaya 40:15-31
Salah satu bahaya hidup di dunia yang penuh kesulitan ini adalah bahwa kita dapat berpusat pada persoalan kita dan, bukannya pada Allah. Ketika hal ini terjadi, kita kehilangan cara pandang yang benar. Sedikit demi sedikit, semua persoalan kita tampak bertambah besar dan kekuatan Allah yang Mahakuasa menjadi tampak kecil. Kita kehilangan iman yang memindahkan gunung dan menjadi orang yang terus-menerus kuatir, bahkan menciptakan sendiri gunung tekanan yang tidak perlu, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Yesaya 40 merupakan resep mujarab bagi kita yang memandang Allah begitu kecil. Allah mengingatkan kita bahwa Dia jauh lebih besar daripada dunia yang diciptakan-Nya. Dia menunjukkan bahwa dibandingkan dengan-Nya, "bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba" (ayat 15) dan penduduk bumi "seperti belalang" (ayat 22). Firman-Nya tidak bermaksud merendahkan kita, tetapi justru untuk mendorong kita untuk memandang kepada Dia dan memperoleh cara pandang-Nya akan kehidupan ini.
Namun demikian, Allah menawarkan kepada kita lebih dari sekadar sebuah cara pandang yang baru. Dia menawarkan sesuatu yang akan memampukan kita hidup dengan pandangan itu. Daripada hanya merenungi persoalan-persoalan kita, marilah kita bergantung kepada-Nya. Dia akan memberikan kekuatan baru, dan sayap-sayap iman akan membawa hati kita terbang di atas kesulitan-kesulitan kita. Memang ada kesulitan yang besar, namun hal itu akan tampak kecil karena kita mempunyai Allah yang besar. Dan yakinlah bahwa Anda akan mendapati segala sesuatu berubah. Amen 




Khotbah Keb. Rumah Tangga 15-16 Mei 2018 Matius 9:27-31 BELAS KASIHAN TUHAN DAN IMAN


"Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?"  Matius 9:28
Injil Matius menjelaskan bahwa Yesus orang Nazareth ini mempunyai kuasa atas sakit-penyakit, dan juga punya kuasa atas kebutaan secara phisik. Oleh karena itu, Yesus dengan belas kasih-Nya mencelikkan mata kedua orang buta, dan terjadilah demikian. Yang menyebabkan mereka dapat melihat adalah iman mereka. Keduanya percaya bahwa Yesus itu bukan hanya sekedar Anak Daud, sebagai orang yang terpandang di antara raja-raja Israel. Kuasa Yesus adalah kuasa Allah.
Sementara itu, inspirasi bathin yang dapat kita tarik dari Injil Matius hari ini antara lain bahwa kita sebagai umat beriman barangkali tidak buta secara phisik. Namun apa yang terjadi? Kita memang punya mata, tetapi ternyata tidak melihat, dan kita juga punya telinga, tetapi tidak mendengar. Tentu ini harus diartikan secara rohani. Dengan kata lain pula, bahwa di balik kesembuhan jasmani, kesembuhan rohani juga sangat penting. Memiliki hidup rohani yang baik, akan menjadikan seseorang memiliki phisik yang sehat pula. “Mens sana in corpore sano”, jiwa/pikiran yang sehat dalam tubuh yang sehat”. Artinya bahwa dalam menjalani hidup ini, baik jasmani dan rohani harus dipelihara dengan baik.
Bagaimana keadaan Saudara hari ini?  Mungkin Saudara sedang terbaring lemah di tempat tidur karena sakit-penyakit?  Atau mungkin Saudara sudah merasa putus asa karena dokter sudah mengangkat tangan sebagai pertanda ketidaksanggupan menangani sakit yang Saudara derita?  Jangan berputus asa, karena bagi orang percaya pengharapan itu selalu ada!  Berserulah kepada Tuhan Yesus dan mohon belas kasihan-Nya, karena Dia adalah Allah yang menyembuhkan.  "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."  (Matius 8:17).  Ini merupakan penggenapan dari nubuatan yang disampaikan oleh nabi Yesaya,  "Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah."  (Yesaya 53:4)  dan  "Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh."  (1 Petrus 2:24b).
     Seseorang beroleh kesembuhan dari Tuhan bukan karena ia baik dan layak, atau karena ia adalah seorang keluarga pendeta, orang kaya, orang berpangkat, terkenal,  melainkan semata-mata oleh karena belas kasihan dari Tuhan.  Selain karena belas kasihan Tuhan, yang menjadi kunci untuk mendapatkan mujizat dari Tuhan adalah iman kita, karena  "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."  (Ibrani 11:1), tanpa iman tak seorang pun berkenan kepada Tuhan dan Ia  "...memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia."  (Ibrani 11:6).
Dua kisah orang buta yang berteriak minta pertolongan Yesus, yang hari ini diceritakan dalam Injil adalah kisah cerita dua manusia yang berani meminta bantuan. Dua orang buta mengikuti Yesus dan berseru-seru mohon disembuhkan. Orang buta itu tak berdaya. Secara fisik, mereka tidak bisa berbuat banyak. Banyak hal bergantung pada kemurahan hati orang lain. Melihat upaya dan mendengar seruan mereka, dan setelah bertanya kepada mereka, Yesus kemudian menyentuh mata kedua orang itu dan sembuhlah mereka. Dua orang buta ini bisa menjadi guru bagi kita dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Mereka yakin bahwa dalam nama Yesus segala sesuatu bahkan yang tampaknya tidak mungkin menjadi mungkin. Buta menjadi melek. Tuli bisa mendengar. Kusta menjadi tahir. Yang mati dibangkitkan.
Banyak orang percaya pada Yesus, pada sabda, pada pengajaran dan pada karya-Nya, tetapi tidak mengimani pribadi dan sabda-Nya tersebut. Sebab mereka mengikuti Yesus masih dengan penuh perhitungan untung rugi, nyaman dan tidak nyaman. Maka marilah kita menghayati iman dalam hidup sehari-hari, dengan dan dalam iman kita hidup dan bertindak. Kesengsaraan, kemiskinan, kesulitan, tantangan dan hambatan merupakan media bagi kita untuk semakin beriman, semakin terbuka pada Penyelenggaraan Ilahi, karya Roh Kudus. Melalui mukjizat Yesus yang menyembuhkan dua orang buta, yang berteriak-teriak,“Yesus, Anak Daud, kasihanilah kami!” Yesus mengajarkan agar kita tidak lekas menyerah dalam doa permohonan kita. Maka hadapilah semuanya itu dengan rendah hati dan dalam doa serta kasih karunia Roh Kudus.Imanlah yang dituntut.  Dari manakah iman kita dapatkan?  "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus."  (Roma 10:17).  Semakin kita banyak mendengar firman Tuhan dan tinggal di dalam firman-Nya iman kita akan semakin bertumbuh dan apa yang kita imani akan menjadi sebuah kenyataan!"Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia;"  Yakobus 5:15. Amen


Khotbah Kebaktian R. Tangga 8-9 Mei 2018 HADAPILAH MASALAH DENGAN TANGGUNG JAWAB Yakobus 1: 2 - 8.


Selama kita masih hidup di dunia ini, persoalan akan tetap ada. Bahkan masalah sepertinya datang silih berganti, yang seringkali membuat kita merasa tidak mampu menghadapi semuanya.
Jadi apabila saat ini kalau kita berpikir bahwa kita bisa menjalani hidup ini tanpa masalah, itu berarti kita sendiri ada di dalam masalah, karena telah memiliki pola pikir yang salah.
Tidak mungkin manusia hidup didunia ini tanpa masalah. Sebab saat manusia pertama kali jatuh kedalam dosa, ini merupakan sumber masalah yang terbawa sampai saat ini. Dengan pemahaman ini kita akan semakin mengerti bahwa setiap masalah yang datang kita harus tetap menghadapinya, dan bukan berusaha lari dari masalah yang kita hadapi.
Masalah yang datang harus kita hadapi dengan penuh tanggung jawab, dan berjuang dalam menghadapinya dengan tekun, karena sesulit apapun masalah yang kita hadapi, didalam Tuhan kita Yesus Kristus, pasti ada jalan keluarnya.
Firman Tuhan mengajarkan kita supaya menganggap sebuah masalah sebagai suatu kebahagiaan.
Yakobus 1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
Mungkin kita berkata bagaimana mungkin kita bisa menganggap setiap masalah sebagai suatu kebahagiaan ? Sebenarnya karena selama ini kita telah memiliki pola pikir yang salah, dimana yang kita inginkan hanyalah hidup tanpa masalah.
Padahal dibalik sebuah masalah sesungguhnya kita sedang di didik, kita sedang di ajar oleh Tuhan, supaya kita lulus didalam ujian terhadap iman percaya kita kepada Tuhan. Karena dengan ujian itu maka kita akan semakin bertekun.
Menjalani hidup sebagi orang Kristen bukanlah berarti langkah kita menjadi mudah dan tanpa masalah; sebaliknya kita justru menghadapi banyak ujian/pencobaan. "Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia," (Filipi 1:29). Namun, ujian dan pencobaan yang kita alami itu semuanya mendatangkan kebaikan bagi kita; Tuhan ingin melihat sejauh mana kualitas iman anak-anakNya. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi apabila seseorang mengalami ujian dan pencobaan: ia kecewa dan meninggalkan Tuhan, atau akan semakin tekun dan melekat kepadaNya sehingga imannya semakin bertumbuh dan dewasa.
Adakalanya Tuhan memperingatkat kita dengan keras melalui keadaan atau situasi yang kita alami supaya kita belajar bergantung penuh kepadaNya dan berdiri di atas dasar iman yang teruji. Iman yang teruji tidak terjadi dalam semalam, namun harus melewati proses yang panjang, yang di dalamnya terkandung unsur ketekunan dan kesetiaan.
 Beberapa proses ujian yang harus kita alami adalah:
1.      Kelimpahan.Luk 16:11 Hal lain, selain masalah dan penderitaan, yang terkadang diijinkan untuk menguji iman kita adalah kelimpahan. Banyak anak Tuhan yang jatuh alam dosa justru pada waktu ia diberkati dan dalamkelimpahan. Ketika sedang susah atau dalam keadaan miskin biasanya seseorang lebih mengutamakan Tuhan dan selalu berusaha untuk dekat dengan Dia, berdoa pun all out, tetapi pada waktu mengalami pemulihan, diberkati dan menjadi kaya, ia mulai lebih dekat dengan hartanya dibanding dengan Tuhan; yang diutamakan dan dicari bukan lagi Tuhan, melainkan dunia dengan segala kesenangannya.Maksud Tuhan Yesus adalah ada hubungan yang langsung dari bagaimana saya mengurus uang dengan kedewasaan rohani. Artinya jika aku tidak setia dalam mengurus kekayaan materi, maka Yesus tidak akan mempercayakanku kekayaan rohani. Uang adalah ujian. Dlm Kis2: 45)
2. Peristiwa buruk. Hal ini pernah dialami Ayub, padahal ia seorang yang "...saleh dan jujurl ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." (Ayub 1:!). Semua anaknya mati, hartanya ludes, istrinya mengutuk dia, bahkan tubuhnya penuh borok. Namun Ayub tetap kuat karena dia tahu bahwa Tuhan sedang memprosesnya. Karena lulus dalam ujian, kehiudpan Ayub dipuluhkan secara luar biasa (baca Ayub 42:10-17).
Yakobus 1:3-4 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. 
Tuhan tidak membiarkan kita sendiri. Oleh sebab itu saat kita menghadapi masalah mintalah hikmat Tuhan yang akan menuntun kita untuk menyelesaikan segala persoalan yang kita hadapi.Jadi jangan dengan mudahnya kita selalu meminta pertolongan Tuhan untuk mengangkat masalah yang kita hadapi. Tetapi mintalah hikmat Tuhan supaya kita mampu menyelesaikan masalah yang kita hadapi dengan tanggung jawab.Tuhan telah memberikan potensi yang dikaruniakan kepada setiap orang percaya, supaya mampu untuk menghadapi apapun keadaan hidup saat ini. 
Hal ini juga bukan berarti kita tidak perlu mengharapkan pertolongan Tuhan, tetapi kita harus kerjakan apa yang menjadi bagian kita yang harus kita kerjakan, sebagai manusia yang bertanggung jawab. Sebab sebagai anak-anak-Nya tanpa kita meminta pertolonganpun, Tuhan pasti menolong, asal saja kita setia didalam Dia. Karena Dia Bapa yang baik.
Kita harus belajar menjadi dewasa dalam iman percaya kita kepada Tuhan. Karena apabila kita tidak menjadi dewasa dalam iman percaya kita kepada Tuhan, maka jangan pernah berharap Tuhan akan dengan mudahnya mengubah hidup kita.
Yakobus 1:7-8 Dengan menjadi dewasa dalam iman percaya kepada Tuhan, kita akan semakin mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita. Sehingga bila ada masalah yang Tuhan izinkan terjadi di dalam hidup kita, kita akan tetap melihatnya bukan lagi menjadi masalah, karena kita tahu didalam Tuhan kita akan cakap menanggung segala perkara.
Persoalan boleh datang, masalah yang kita hadapi boleh silih berganti, tetapi kita tidak akan menjadi takut lagi. Saat ini kita diajar untuk mengerti bahwa, masalah-pun kita telah mnganggapnya sebagai suatu kebahagiaan.Jadi sebuah kebahagian hidup bukan hanya sesuatu yang enak untuk dinikmati, yang membuat kita bisa tinggal didalam rasa nyaman, tetapi masalah-pun bagi kita saat ini bisa menjadi sebuah kebahagiaan hidup, karena kita tahu didalam Tuhan kita Yesus Kristus dan oleh hikmat yang Tuhan karuniakan bagi kita, maka kita akan tetap melihat pasti ada jalan keluarnya. Lalu kita bisa berkata kepada Tuhan “Engkaulah kota benteng perlindunganku, disepanjang umur hidupku”. Amin.