Selasa, 03 April 2018

Khotbah Minggu 14 Januari 2018 Keluaran 6:1-7.


 Allah yang Menyatakan Diri

 “Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham,  Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu: Akulah TUHAN” (ayat 7)
Bagaimana keputusasaan Musa diatasi?
1.  Allah mengingatkan Musa tentang Penyataan DiriNya (6:1-4).
-    Allah mengingatkan penyataan diriNya kepada Musa dengan nama baru : “Akulah TUHAN” (6:1).
-    Allah mengingatkan penyataan diriNya kepada para leluhur  Israel dengan ikatan perjanjian (6:2-3)
-    Allah mengingatkan bahwa Ia mendengar kesengsaraan umatNya dan mengingat perjanjianNya (6:4)
2.  Allah memerintahkan Musa melanjutkan tugasnya (6:5-12)Musa harus mengatakan kepada umat Israel tentang diri Tuhan dan apa yang akan diperbuatNya bagi mereka (ay 5-7).
Penyataan “Akulah TUHAN” menegaskan bahwa apa yang dikatakanNya itu juga yang akan dilakukanNya  kepada Israel (ay 5-7). Namun tugas Musa tidak berjalan mulus. Sebab respons umat Israel kali ini tidak positif. Walaupun sebelumnya mereka sudah percaya. Namun karena perbudakan yang semakin berat, mereka menjadi putus asa (6:8).Oleh karena umat tidak mendengarkan Musa, ia merasa gagal. Ditambah lagi tugas yang sangat berat, yaitu menghadap Firaun untuk mengatakan agar melepaskan umat Israel pergi dari Mesir (6:9-10, 27-28). Berangkat dari penolakan (6:8), ia berkeberatan (6:11, 29). Hal ini memperlihatkan bahwa Musa lebih bersandar pada akal dan kemampuannya dari pada percaya sepenuhnya kepada Tuhan.
Dalam tugas Musa yang berat Allah menegaskan beberapa hal:
-    Tuhan menjamin Musa bahwa ia akan mempunyai fungsi yang bersifat ilahi (7:1-2). Musa diangkat sebagai Allah bagi Firaun, sedangkan Harun diangkat menjadi nabi baginya. Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak saja memberi tugas, tetapi membuatnya berhasil. Allah juga menetapkan Harun mendampingi Musa sebagai juru bicaranya. Penetapan Allah ini menegaskan bahwa kerja sama dalam pekerjaan Tuhan merupakan hal yang terbaik karena akan terjadi saling mengisi, saling melengkapi, dan saling menguatkan.
-    Allah memperlihatkan tanda & mujizat (7: 3-10). Allah sudah melihat bahwa tugas tersebut akan disambut dengan kekerasan hati Firaun. Pada kenyataannya, Firaun memang mengeraskan hati walau sudah melihat tanda dan mujizat Allah yang luar biasa. Akan tetapi, kekerasan hati tersebut bukanlah tembok penghalang bagi tergenapinya rencana Allah, melainkan batu loncatan bagi Musa untuk menyaksikan tanda dan kedahsyatan mujizat Allah menaklukkan Firaun. Dengan perantaraan perbuatan serta  ucapan Musa,  kehadiran Tuhan akan menjadi nyata bagi Firaun (Kel 6:5-6). Sebab Allah akan memampukan Musa dan Harun membuat mujizat (ay 9,10).
Panggilan Allah kepada seseorang untuk menjadi hamba-Nya bersifat mulia. Dalam menjalaninya, memang berat/sulit sebab berhadapan dengan kekerasan hati orang-orang yang diikat ilah zaman ini (bdk. 2 Kor 4:4). Akan tetapi, janganlah takut dan putus asa, ketika menghadapi semuanya itu. Belajar dari Musa, kita tahu bahwa Allah yang menyatakan diriNya dengan memberitahukan NamaNya “Akulah TUHAN” adalah jaminan kepastian penggenapan janjiNya kepada umat-Nya. Dialah TUHAN yang tetap sama, dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya, akan tetap berkarya dan dan setia membaharui panggilan dan kepercayaanNya kepada kita untuk melaksanakan tugasNya yang mulia.
Dalam perikop pagi ini (ayat 4-7) ada tiga kali pernyataan “Akulah TUHAN” dan berulang kali Tuhan menyatakan “Aku akan”.  Pernyataan-pernyataan itu Tuhan nyatakan kepada Musa dalam rangka membangkitkan harapan dalam diri Musa yang bertubi-tubi dihujat oleh orang-orang Israel.  Musa diteguhkan bahwa Tuhan tidak lupa akan perjanjian-Nya dengan Abraham tentang Kanaan (bdk. Kej. 15:18-21, Kej. 17:8).  Tuhan juga menyatakan bahwa Ia mendengar erangan Israel, mengatakan bahwa Ia mengingat perjanjian-Nya dengan para leluhur Israel (ayat 4b).
Pernyataan “Akulah TUHAN” dan “Aku akan” hendak menyadarkan Musa dan Israel bahwa Tuhan Allah bagi Israel seharusnya bukanlah Tuhan Allah yang mati (yang sering digantikan oleh umat Israel dengan patung baal, patung lembu emas dll), melainkan Tuhan Allah yang hidup, yang bekerja, yang penuh dengan dinamika.  Kehadiran-Nya mewujud dalam tindakan, karya-karya nyata.  Israel akan mengenal Tuhan Allah dari karya-karya-Nya bagi Israel.
Di sepanjang sejarah umat Israel menyaksikan bahwa Tuhan Allah menyatakan dan memperkenalkan diri-Nya dengan karya-karya-Nya.  Hal itu menjadi semakin jelas dan terbuka melalui kehadiran dan karya-karya Yesus Kristus bagi manusia dan dunia ini.
Bukankah kitapun mengenal dan percaya kepada “Yesus Kristus” karena tindakan dan karya keselamatan serta teladah kasih yang disaksikan-Nya?  Dan semua itu yang kita layankan dan saksikan kepada sesama dan dunia.
Dengan demikian tujuan dari peristiwa Keluaran adalah supaya umat mengenal Tuhan dengan akrab yang adalah Allah mereka, yang membebaskan mereka dari belenggu Mesir dan membawa mereka ke tanah perjanjian. Kiranya tujuan peristiwa Keluaran terjadi juga dalam hidup kita, yaitu semakin akrab dengan Tuhan, yang membebaskan kita dari dosa. Amen
Pdt. R.H.L. Tobing, S.Th.MA.





Tidak ada komentar: