Kamis, 17 Agustus 2017

“RAHASIA HIDUP BAHAGIA”

“Pemberian Yg Memberi Ruang Bagi Berkat”  Ams 18:16

Illustrasi: 1.Anak kecil mencuri Bakpao....di suru putrinya mengikuti sampai e rumahnya...ternyata sakit mamanya. Akhitnya jadi dr. Spesialis. 2. Suatu hari, anak seorang lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu menemukan bahwa kantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar. Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi, anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, dia hanya berani meminta segelas air. Wanita muda tersebut melihat dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar. Oleh karena itu, dia membawakan segelas susu. Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat.
Kemudian, dia bertanya, “ Berapa aku harus membayar untuk segelas susu ini?” Wanita itu menjawab, “Kamu tidak perlu bayar apa pun. Ibu kami mengajarkan tidak menerima bayaran untuk kebaikan,” kata wanita itu menambahkan. Kemudian, anak lelaki itu menghabiskan susunya dan berkata, “Dari dalam hatiku, aku sangat berterima kasih kepada Anda.” Sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter di kota itu sudah tidak sanggup menanganinya.
Akhirnya, mereka mengirimnya ke kota besar tempat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langkanya tersebut.
Dr. Howard Kelly

"Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya" - Mazmur 119:1-3. Kebahagiaan Org Batak; 3 H. Hagabeon anak 17 Putri 11. Hamoraon = Hasangapon. Ada banyak buku yang menulis tentang kebahagiaan hidup. Penulis buku-buku tersebut melihat kebahagiaan dari berbagai sudut pandang. Resep yang ditawarkan juga sangat beragam. Kendati demikian, masih saja banyak orang mencari kebahagiaan. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan kebahagiaan hidup begitu tinggi
Menurut survei tentang kebahagiaan hidup, ukuran kebahagiaan bagi banyak orang berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa kebahagiaan hidup ditentukan oleh harta yang banyak. Ada juga yang mengatakan bahwa kebahagiaan hidup ditentukan oleh status sosial dan jabatan atau kedudukan yang tinggi. Ada juga yang mengatakan bahwa kebahagiaan hidup itu ditentukan oleh kesehatan yang baik atau tidak mengalami sakit penyakit. 
Ada juga yang mengatakan bahwa kebahagiaan ditentukan oleh pasangan yang cantik/ganteng dan setia. Dan lain sebagainya. Faktanya ialah ada orang yang punya harta banyak tapi tidak mengalami kebahagiaan. Lalu semakin tinggi statul sosial dan jabatan seseorang juga tidak menjamin seseorang itu bahagia. Lebih lagi yang punya pasangan hidup yang cantik/ganteng, setia, tapi perceraian dikalangan mereka semakin tinggi. Kalau demikian realitanya, lalu pertanyaan lebih lanjut dimanakah sesungguhnya letak kebahagiaan hidup itu?, ada beberapa rahasia kebahagiaan hidup. 
1. Hidup tidak bercela 
Hidup tidak bercela ialah hidup yang memiliki moralitas dan integritas yang berkualitas. Hidup jujur, berlaku adil, setia, tulus merupakan karakter yang disukai oleh Tuhan. Bagi orang yang demikian, Allah berjanji akan mencurahkan berkat dan kebahagiaan kepadanya. 
2. Hidup sesuai dengan firman Tuhan 
Firman Tuhan adalah pedoman hidup kita. Firman Tuhan adalah hukum utama bagi kehidupan kita. Firman Tuhan merupakan cara Allah mengarahkan hidup kita supaya berada di jalan atau jalur yang benar.. Bila kita hidup sesuai dengan firman Tuhan dan menaatinya, maka dijamin kita pasti menikmati kebahagiaan dalam hidup. 
3. Hidup di jalan-jalan Allah 
Jalan-jalan Allah menunjukkan prinsip-prinsip dan sarana operasional yang dengannya Allah berhubungan dengan kita umat-Nya. Jalan-jalan Allah sangat berbeda dengan jalan-jalan dunia ini. Jalan-jalan Allah bertentangan dengan hikmat dunia ini. Itu sebabnya bila kita berjalan di dalam prinsip-prinsip ilahi, maka hidup kita akan bahagia.  
Sdr/i yang di kasihi Tuhan Yesus kita diingatkan melalui Thema Khotbah pagi ini. Pemberian seseorang, membuat ruangan yang besar untuk dia, dan membawa dia di hadapan orang-orang besar. Kita menemukan dua hal yaitu, pemberian kita akan membuat ruangan yang besar dan akan membawa kita berhadapan dengan orang-orang besar. Yang pertama ruangan yang besar, yang kedua, orang-orang besar.
Sangat sedikit sekali, orang melihat rahasia ini. Bahwa pemberian seseorang, siapapun dia, kecil apa besar, akan membuat dia leluasa, akan membuat dia menemukan ruang yang besar bagi dirinya. Kesempatan yang luas, pekerjaan yang baik dan sebagainya, juga akan menempatkan dia berhadapan dengan orang-orang besar
Orang kaya melihat fakta dari kuasa uang, mereka tertipu, berharap pada uangnya. Uang tidak dapat membeli anugrah Allah Kis8:20. Kebanyakan orang kaya (tidak semua), lebih mudah bersandar kepada uang, sehingga sulit percaya sepenuhnya padaTuhan Mat.19:24. HARTANYA ADALAH KOTA BENTENGNYA, SEPERTI TEMBOK YANG TINGGI. Karena mereka hanya melihat dengan akal jasmaninya saja, sebab mata hatinya buta. Orang yang matanya celik akan tahu bahwa kota benteng uang itu akan sia sia Luk.12:19-21, jadi jgn sandarkan hidupmu dengan uang / kekuatanmu Yer 17:5-7
Betapa besar pengaruh hadiah (maksudnya, suap) sudah ditunjukkan Salomo sebelumnya (17:8, 23). Di sini ia menunjukkan kekuatan hadiah, maksudnya, hadiah yang bahkan diberikan oleh para bawahan kepada orang-orang yang di atas mereka, dan yang memiliki jauh lebih banyak daripada yang mereka miliki. Hadiah yang baik akan berpengaruh besar,
1. Terhadap kebebasan manusia: hadiah dari seseorang, jika ia ada di dalam penjara, dapat membuatnya bebas. Ada petugas-petugas yang berharap mendapatkan uang suap seperti itu, bahkan dengan menyalahgunakan wewenang untuk menindas orang yang tidak bersalah. Atau, jika orang kecil tidak tahu bagaimana mendapat jalan untuk berte/mu dengan orang besar, ia dapat melakukannya dengan menyuap pelayan-pelayannya atau memberikan hadiah langsung kepada orang itu sendiri. Hal-hal seperti ini akan membuka jalan baginya.
2. Terhadap kenaikan pangkatnya. Hadiah itu akan membawanya duduk di antara orang-orang besar, dalam kehormatan dan kuasa. Lihatlah betapa rusaknya dunia sekarang karena hadiah-hadiah orang, sekalipun begitu besar, tidak lagi membawa hasil. Bahkan, hadiah-hadiah itu dapat memberi mereka apa yang tidak layak dan tidak pantas mereka terima. Tidak heran bahwa orang-orang yang memberi suap untuk mendapat pekerjaan, juga akan menerima suap dalam menjalankan pekerjaan mereka. Vendere jura potest, emerat ille prius – Siapa membeli hukum dapat menjualnya.
Bp/Ibu/Sdr/i yg dikasihi Tuhan. Kita harus meyakini bahwa:  persembahan juga adalah wujud dari syukur kita kepada Tuhan.  Berapa jumlah persembahan bukan persoalan utama bagi Tuhan karena Ia memiliki segalanya. Yang penting bagi Tuhan adalah hati kita. Apakah kita memberikan persembahan sebagai ungkapan syukur, ataukah kita memiliki maksud-maksud yang lain. Persembahan uang adalah lambang dari persembahan tubuh (baca: seluruh hidup) kita (Rm. 12:1). Kalau Tuhan sudah mati dan bangkit dan memberkati seluruh hidup kita, jangankan mempersembahkan seluruh uang kita, kalau kita mempersembahkan seluruh hidup sebagai ungkapan syukur tetap tidak sebanding dengan anugerah yang telah kita terima dari-Nya.
Nah, kalau pemahaman kita sudah benar mengenai apa arti persembahan, maka seharusnya sikap kita dalam memberikan persembahan akan benar pula sehingga memberi ruang bagi Berkat. Dalam memberi persembahan seharusnya kita tidak “pelit” kepada Tuhan, karena kita tahu bahwa semua yang kita miliki adalah dari Tuhan.  Sebagai contoh saja, seorang rekan pernah bertanya kepada saya, “di manakah kita dapat menemukan uang yang paling lusuh, kotor dan bau?” Setelah ia menangkap ekspresi ketidaktahuan saya, sang teman itu berkata lagi, ”uang yang paling lusuh, kotor, dan bau pertama dapat ditemukan di loket tol dan yang kedua di kantong kolekte.” Mendengar jawabannya itu saya cuma bisa nyengir.  Anekdot itu cuma sekadar gambaran saja bagaimana sikap kita kala memberikan persembahan kepada Tuhan. Sebetulnya kita sering tidak mempersembahkan yang terbaik, bahkan mempersembahkan sisa dan sering kali yang terjelek.
Ada juga orang Kristen yang memberi persembahan demi prestise dan gengsi. Seolah-olah ia merasa diri paling rohani—atau setidaknya lebih rohani—karena telah memberi persembahan dalam jumlah yang besar. Ketika namanya terpampang di papan pengumuman atau warta jemaat sebagai pemberi persembahan terbanyak di gereja itu, hatinya bangga dan ia merasa dirinya hebat. Motivasi yang semacam ini jelas salah! Kita memberi persembahan seharusnya bukan supaya diri kita dikenal dan terkenal. Tetapi karena kita mau bersyukur kepada Tuhan yang sudah berbuat baik kepada kita.
Sikap salah yang lain berkaitan dengan persembahan adalah ketika seorang Kristen memberikan persembahan namun sebetulnya ia sedang berdagang dengan Tuhan. Bagi orang ini persembahan semacam investasi bisnis. Kalau ia memberi persembahan dalam jumlah sekian, ia mengharapkan berkat Tuhan berkali lipat dari apa yang telah ia persembahkan. Jadi motivasinya bukan memberi demi bersyukur namun memberi untuk mendapatkan lebih banyak lagi. 
Kalau kita memberi persembahan demi berkat, kita tak beda dengan orang-orang yang belum mengalami karya keselamatan Kristus. Banyak orang yang belum diselamatkan mereka memberi persembahan, seolah-seolah mereka memberi untuk ilah mereka, tetapi sesungguhnya fokus pemberian itu adalah diri mereka sendiri. Mereka memberi supaya mereka diberkati, dilimpahi kekayaan dan kesehatan. Kalau kita berlaku demikian, meminjam perkataan Martin Buber—seorang filsuf-teolog Yahudi—kita telah memakai persembahan sebagai alat untuk “memanipulasi” Tuhan. Kita menggunakan persembahan untuk “memaksa” Tuhan memberkati kita.  sebaliknya kita memberi karena menyadari betapa besarnya pemberian Tuhan dalam hidup kita, antara lain: keselamatan, kesehatan, keluarga, makanan dan masih banyak lagi. Kita memberikan persembahan sebagai ungkapan syukur atas berkat Tuhan itu. 
 Yang lebih celaka lagi, ada orang Kristen yang memberi persembahan untuk melakukan “money laundry.” Maksudnya begini, ada orang Kristen yang mendapatkan uangnya dengan cara yang tidak halal. Ia memperoleh uang karena ia merampas hak orang lain, menjalankan aksi tipu-tipu dalam bisnis, atau melakukan korupsi di tempatnya bekerja. Nah, untuk membersihkan kejahatannya itu ia memberikan persembahan (sering dalam jumlah yang besar). Dengan melakukan itu seolah-olah dosanya sudah dihapus, dan hati nuraninya menjadi (lebih) tenang. Padahal dosa tetap dosa di hadapan Tuhan. Persembahannya seberapa pun besarnya tak dapat mencuci dosanya, karena Tuhan tidak mempan suap. Terlebih Tuhan tidak membutuhkan uang kita, sebab ia yang memiliki segala sesuatu. Nah, selama ini bagaimana konsep kita mengenai persembahan, kita menganggapnya sebagai persembahan atau sumbangan?


Tidak ada komentar: