Kamis, 28 Maret 2019

Khotbah Minggu Estomihi 03 Maret 2019 Mat 16:13-20 Yesus Mesias Anak Allah Yang Hidup

Peristiwa ini terjadi pada momen yang krusial. Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem di propinsi Yudea (bdk. 19:1) untuk menggenapi rencana keselamatan. Ia sebentar lagi akan menghadapi penolakan dan penyaliban dari pihak orang-orang Yahudi (13:21). Di tengah situasi ini Ia ingin memastikan bahwa murid-murid-Nya benar-benar mengetahui siapa Dia dan (16:13-20) dan sejauh mana mereka harus berkomitmen (16:21-28). Siapakah si dia itu?  Mungkin tidak sulit untuk menjawabnya melalui berbagai pengetahuan atau curriculum vitae tentang seseorang itu. Apa lagi bila mengetahui orang yang terkenal di jaman sekarang ini tidak sesulit jaman dulu. Dengan kemajuan teknologi internet, facebook dll semua bisa dicari. Namun bila ditanya siapakah seseorang itu secara dalam, mengetahui apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, inilah yang sulit. Seperti itulah gambaran tanya jawab antara Yesus dengan para muridNya.
Perjalanan dari Galilea ke Yudea kali ini menyediakan waktu yang berharga bagi murid-murid. Orang banyak tidak mengikuti Yesus. Hanya murid-murid dan guru mereka. Pengajaran bisa lebih intensif diberikan.
Di ayat 13-17 Tuhan Yesus mengajarkan beberapa hal penting tentang pengakuan iman.
Pertama, pengakuan harus bersifat pribadi. Pada awal pembicaraan Yesus menanyakan pendapat publik tentang diri-Nya (ayat 13 “kata orang siapakah Aku ini?”). Dari informasi yang didengar murid-murid-Nya, pandangan publik tentang Yesus sangat beragam (ayat 14). Yesus lalu memberikan pertanyaan yang lebih pribadi: “tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (ayat 15). Dalam teks Yunani, kata “kamu” (lit. “kalian”) diberi penekanan dengan cara dimunculkan secara eksplisit dan diletakkan di bagian depan. Ini menyiratkan bahwa Tuhan Yesus ingin menegaskan pentingnya pengakuan secara pribadi.
Kedua, pengakuan harus benar. Pandangan banyak orang menyiratkan kerancuan konsep bangsa Yahudi tentang Mesias dan/atau akhir zaman. Herodes berpikir bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang bangkit dari kematian (14:1). Sebagian menduga bahwa Yesus adalah Elia yang akan datang (16:14) seperti dinubuatkan oleh Maleakhi (Mal 4:5; bdk. Yoh 1:19-21), padahal sebelumnya Yesus memberitahu bahwa Elia yang akan datang adalah Yohanes Pembaptis (11:14). Yang lain mengira Yesus sebagai Yeremia, karena beberapa aspek pelayanan keduanya mirip dan dalam salah satu tulisan kuno Yahudi disebutkan bahwa Yeremia dan Yesaya akan datang kembali sebelum akhir zaman. Walaupun pandangan-pandangan ini tidak ada yang negatif terhadap Yesus, tetapi Yesus tidak hanya mencari sikap positif. Walaupun Yesus disamakan dengan tokoh-tokoh Alkitab yang ternama, tetapi Ia seharusnya bukan dalam deretan manusia. Ia adalah Anak Allah. Walaupun Yesus dalam taraf tertentu adalah nabi (13:57), tetapi Ia lebih daripada sekadar nabi. Kalau Yohanes Pembaptis sebagai pembuka jalan bagi diri-Nya saja sudah “lebih daripada nabi” (11:9) dan “nabi terbesar” (11:11, 13), apalagi Yesus sendiri yang kepada-Nya Yohanes mempersiapkan jalan! Hanya pengakuan kepada Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah yang membawa keselamatan (Yoh 20:30-31).
Ketiga, pengakuan yang benar hanya dimungkinkan oleh Allah. Petrus bukan hanya sebagai orang yang “beruntung” atau “pandai” karena tebakannya tentang Yesus tepat. Ia “berbahagia” (ayat 17, LAI:TB). Hampir semua versi Inggris dengan tepat memilih terjemahan “diberkati”. Bahagia adalah tentang perasaan. Diberkati adalah kenyataan. Kebahagiaan sejati muncul dari kenyataan yang benar.
Terlepas dari seberapa jauh Petrus bisa memahami ucapannya (bdk. 16:22-23), pengakuan itu pada dirinya adalah benar dan berasal dari penyataan Bapa (ayat 17b). Manusia berdosa tidak mungkin memberi pengakuan yang benar dan sungguh-sungguh jikalau tidak ada intervensi Allah dalam diri orang itu (11:25-27).
Janji Tuhan yang teguh (ayat 18-19)
Petrus muncul dengan pernyataan yang 100 % benar dan sebenarnya dia sungguh mengenal Yesus. Petrus mengatakan : Engkau adalah  Mesias, Anak Allah yang hidup”. Bila kita ingin kembali ketika pemilih murid-murid pertama di Matius 4:18-22, Yesus menjadikan Petrus murid yang pertama. Tanpa ada bantahan dan pertanyaan, Yesus mengatakan : Mari dan ikutlah Aku? Akhirnya Petrus dan Andreas serta Yohanes dan Yakobus mengikuti Yesus. Pernyataan Petrus membuat dia menjadi Murid yang utama bagi Yesus, bahkan Yesus menetapkan atas Petrus gereja awal di dunia ini. “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya”, “kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga, apa yang kauikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga”. Betapa luarbiasanya kuasa yang diberikan Yesus kepada Petrus di situ.
Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Yesus terhadap Petrus tentang terbentuknya gereja bukanlah makna harafiah. Tetapi Yesus mau menjelaskan bahwa melalui pelayanan Petrus dan Iman kepada Yesus akhirnya munculnya jemaat pertama. (bandingkan di Kisah 2 tentang Pentakosta). Dari pengakuan Petrus itulah makna Gereja yang sesungguhnya yaitu kumpulan orang-orang percaya yang dipersatukan di dalam nama Yesus Kristus. Gereja tidak hanya gedungnya (fisiknya) tetapi gereja juga adalah persekutuan orang-orang percaya. Yesus pernah mengatakan : barang siapa berkumpul dua atau tiga orang di dalam namaKu disitulah aku berada.
Pertanyaan yang sangat penting di jaman sekarang ini adalah apakah kita masih berani menyaksikan nama Kristus di manapun kita berada? Pengakuan yang dimaksudkan bukanlah hanya sebatas untaian kata-kata yang indah, atau hanya pemanis di bibir saja. Justeru pengakuan itu lahir dari perenungan yang sangat dalam dan kesaksian hidup yang terus menerus di dalam hidup kita. Kalau kita berani menyaksikan bahwa Yesus itu adalah Messias di dalam hidup kita, maka sejalan atau selaras hidup kita juga harus mengalami transformasi ke arah Kristus yang kita imani itu. Kekristenan kita saat ini sudah perlu dipertanyakan kembali apakah kita benar-benar mengatakan seperti Petrus? Atau mungkinkah kekeristenan kita seperti mercu suar yang hanya berdiam di tempat dan tidak beranjak ke mana-mana? Melalui Firman Tuhan ini, Iman kita dipertanyakan kembali : Siapakah yesus itu sesungguhnya di dalam hidup kita?
Tugas berat yang menanti gereja (ayat 20)
Pada waktu di Kaisarea Filipi Tuhan Yesus melarang murid-murid untuk memberitahukan kepada orang-orang lain bahwa Ia adalah Mesias. Mengapa? Para murid sendiri belum benar-benar memahami apa maksud kemesiasan-Nya (16:21-23). Ia juga belum memberikan bukti tentang hal itu, yaitu kematian dan kebangkitan-Nya (16:20). Lagipula, banyak orang Yahudi memiliki pengharapan mesianis yang sangat rancu. Tuhan Yesus tidak ingin menambahkan kerumitan ini sebelum Ia memberikan bukti untuk kemesiasan-Nya.
Kini Tuhan Yesus sudah mati dan bangkit. Bukti-bukti yang meyakinkan bahwa Ia adalah Mesias telah diteguhkan. Kita pun semakin mengerti Mesias seperti apakah Dia. Melalui kitab suci kita benar-benar tahu bahwa Ia adalah pembebas dari dosa, bukan dari penjajahan militer atau politis kekaisaran Romawi.
Karena kita berada sesudah kebangkitan Tuhan Yesus, kita tidakboleh menyembunyikan berita gembira bahwa Yesus adalah Mesias.Sebaliknya, kita didorong untuk terus memberitakannya. Siapkahkita menjadi pemberita bagi Dia? Siapkah kita dilibatkan oleh Allahdalam pelebaran kerajaan-Nya? Relakah kita membayar harga bagiperkembangan gereja di muka bumi? Ingatlah, gereja pasti teguh,karena didasarkan pada janji Tuhan yang teguh. Amen


Tidak ada komentar: