Jumat, 20 Juli 2012

"PEMBENARAN KARENA IMAN" Roma 4 : 13 – 25

Pendahuluan: Dalam bagian ini Rasul Paulus hendak membuktikan bahwa semua manusia adalah orang berdosa, dan bagaimana orang berdosa ini dapat diselamatkan. Istilah teologi untuk keselamatan ini ialah pembenaran karena iman, dimana pembenaran ini adalah tindakan Allah untuk membenarkan orang berdosa di dalam Kristus berdasarkan karya penyelamatan Kristus yang sempurna di kayu salib. Disini Paulus juga ingin berbicara mengenai hubungan antara Injil dengan hukum Taurat, dimana doktrin pembenaran karena iman tidak bertentangan dengan hukum Taurat karena doktrin ini justru meneguhkannya.(3:27-31). Pernyataan ini adalah untuk meluruskan pandangan Jahudi terhadap hukum Taurat itu, dimana mereka yakini bahwa dengan melakukan hukum Taurat keselamatan itu akan mereka peroleh. Orang-orang Kristen Jahudi bertanya, bagaimana hubungan antara doktrin pembenaran karena iman dengan sejarah kita..? bagaimana dengan Abraham..? Lalu Paulus menjelaskan bagaimana Abraham diselamatkan. Renungan: Abraham dibenarkan karena kasih karunia, bukan karena hukum Taurat (4: 9-17) Seperti telah kita ketahui, orang-orang Jahudi sangat bangga akan sunat dan hukum Taurat. Jika seorang Jahudi ingin menjadi benar dihadapan Allah, ia harus disunat dan melakukan hukum Taurat. Dalam Rom 2:12-29 Paulus telah menjelaskan bahwa harus ada ketaatan batin kepada “hukum Taurat dan sunat di dalam hati”. Perbuatan lahiriah tidak akan dapat menyelamatkan orang berdosa yang sesat. -Tetapi Abraham dinyatakan benar ketika ia belum disunat. Dari sudut pandangan bangsa Jahudi, Abraham bukan orang Jahudi, dan dia berumur 99 tahun ketika ia disunat (Kej 17:23-27), Kalau begitu mengapa sunat diberikan..? Sunat adalah tanda dan meterai (4:11) bukti bahwa ia menjadi milik Allah dan percaya kepada janji-Nya. Sedang orang-orang percaya saat ini dimeteraikan dengan Roh Kudus Allah (Ep. 1: 13-14). -Tetapi Abraham juga dibenarkan sebelum hukum Taurat diberikan, dan fakta ini dibicarakan Paulus dalam ayat 13 sampai dengan ayat 17. Di sini kata yang penting adalah “ janji “. Abraham dibenarkan karena percaya kepada janji Allah, bukan karena melakukan hukum Taurat; karena hukum Allah melalui Musa belum diberikan. Janji Allah kepada Abraham diberikan benar-benar karena kasih karunia Allah. Abraham tidak mengusahakannya atau memperolehnya sebagai ganjaran. Jadi pada masa sekarang ini, Allah membenarkan orang-orang durhaka karena mereka percaya kepada janji-Nya yang penuh rahmat, bukan karena mereka melakukan hukum Taurat. Hukum Taurat diberikan bukan untuk menyelamatkan manusia, melainkan untuk menunjukkan kepada manusia bahwa mereka perlu diselamatkan ( Roma 4 : 15 ). Fakta bahwa Abraham dibenarkan karena kasih karunia dan bukan karena melakukan hukum Taurat membuktikan bahwa keselamatan adalah untuk semua orang. Abraham adalah bapa semua orang percaya, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi ( Roma 4 : 16; Gal 3 : 7, 29 ). Daripada menggerutu karena Abraham diselamatkan bukan karena melakukan hukum Taurat, orang Yahudi seharusnya bersenang hati bahwa keselamatan Allah adalah untuk semua orang, dan bahwa Abraham memiliki keluarga rohani ( semua orang percaya yang sejati ) maupun keluarga jasmani ( bangsa Israel ). Paulus memandang ini sebagai penggenapan Kejadian 17 : 5 : “ Karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. “ Abraham dibenarkan oleh kuasa Kebangkitan, bukan oleh usaha manusia ( 4 :18 -25 ). Ayat-ayat ini merupakan perluasan dari satu ungkapan dalam ayat 17 : “ yang menghidupkan orang mati. “ Paulus melihat peremajaan tubuh Abraham sebagai suatu gambaran kebangkitan dari antara orang mati; dan kemudian ia menghubungkannya dengan kebangkitan Kristus. Satu alasan mengapa Allah menunda dalam memberikan keturunan kepada Abraham dan Sara adalah untuk membiarkan seluruh kekuatan jasmani mereka menurun dan kemudian lenyap. Tak dapat dibayangkan bahwa seorang laki-laki berumur 99 tahun dan memperanakkan seorang anak dalam rahim isterinya yang berumur 89 tahun! Dipandang dari segi reproduksi, keduanya telah mati. Tetapi Abraham tidak berjalan dengan mata jasmani; ia berjalan dengan iman. Apa yang dijanjikan Allah akan dilaksanakan-Nya. Yang perlu kita lakukan hanyalah percaya. Iman Abraham yang mula-mula kepada Allah seperti yang tercatat dalam Kejadian 15 tidak berkurang pada tahun-tahun berikut. Dalam Kejadian 17 dan 18, Abraham “ kuat dalam iman”. Iman inilah yang memberikan kekuatan kepada Abraham untuk memperoleh seorang anak laki-laki pada usia tuanya. Penerapannya pada keselamatan jelas: Allah harus menunggu sampai orang berdosa “ mati “ dan tidak dapat menolong dirinya sendiri sebelum Ia dapat melepaskan kuasa-Nya yang menyelamatkan. Selama orang berdosa yang sesat merasa bahwa ia cukup mampu melakukan sesuatu untuk menyenangkan Allah ia tidak dapat diselamatkan oleh kasih karunia. Pada saat Abraham mengakui bahwa ia “mati”, maka kuasa Allah mulai bekerja di dalam tubuhnya. Pada saat orang yang sesat mengakui bahwa ia mati secara rohani dan tidak dapat menolong dirinya sendiri, maka barulah Allah dapat menyelamatkannya. Injil adalah “kekuatan Allah yang menyelamatkan” ( Roma 1:16 ) karena kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati. Roma 4:24 dan Roma 10:9-10 adalah sebanding satu dengan yang lain. Yesus Kristus “telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibagkitkan karena pembenaran kita” (Roma 4:25). Ini berarti bahwa kebangkitan Kristus adalah bukti bahwa Allah menerima korban Anak-Nya, dan bahwa sekarang orang berdosa dapat dibenarkan tanpa Allah melanggar hukum-Nya sendiri atau bertentangan dengan sifat-Nya sendiri. Tentu saja, kuncinya adalah “karena kita percaya” (ayat 24). Ada lebih dari 56 referensi pada iman atau ketidakpercayaan dalam Surat Roma. Kuasa Allah yang menyelamatkan dialami oleh orang-orang yang percaya kepada Kristus ( Roma 1:16). Kebenaran-Nya diberikan kepada semua orang yang percaya ( Roma 3 : 22 ). Kita dibenarkan karena iman ( Roma 5:1). Sasaran iman kita adalah Yesus Kristus yang telah mati untuk kita dan telah bangkit kembali. Semua fakta ini membuat iman Abraham semakin indah. Ia tidak memiliki Alkitab, tetapi ia hanya memiliki janji Allah, ia percaya dan mendapatkan buah janji itu. Sekarang kita memiliki Alkitab yang dapat dibaca setiap hari, memiliki persekutuan di gereja, kebaktian rumah tangga, dan dapat melihat pengalaman orang-orang percaya di masa lampau, tetapi mengapa banyak orang tidak mau percaya….? Amin RHL. Tobing.

Tidak ada komentar: