Rabu, 25 Juli 2012

"Khotbah Minggu 29 Juli 2012" 2 Raja-raja 4: 42-44

Pengantar: 1.Setelah Nabi Elia diangkat ke surga, segera nampak bahwa kuasa kenabian diberikan Tuhan kepada Elisa. Jubah Elia pun telah ditinggalkan padanya. Elisa telah resmi mengganti fungsi Elia sebagai nabi. Teks khotbah kita ini adalah bagian dari tanda-tanda mujizat yang dilakukan oleh nabi Elisa, mulai dari pasal 3-7. Tuhan menunjukkan kuasaNya melalui perbuatan-perbuatan mujizat yang dilakukan Elisa. 2.Seperti yang pernah terjadi pada masa Elia, demikian juga pada masa Elisa terjadi kekeringan selama 7 tahun lamanya. Dimana-mana terjadi kekurangan makanan. Oleh karena itu perempuan Sunem dengan keluarganya disuruh pergi oleh Elisa untuk menyelamatkan diri dari bahaya kelaparan tersebut (Psl 8:1 dst). Sebelumnya Elisa pernah menolong keluarga ini, dengan menghidupkan kembali anak laki-lakinya yang sudah mati (4:8-37). 3.Minggu ini adalah munggu ke-8 setelah Trinitatis yang mengingatkan kita akan meja perjamuan, yang tersirat juga dalam mujizat yang dilakukan oleh Yesus, dimana ia memberi makan 5000 orang hanya dengan 2 ekor ikan dan 5 keping roti, dan masih tersisa 12 bakul. Hal ini mengingatkan kita bahwa kuasa Tuhan Yesus jauh melampaui segala akal budi manusia. Dalam teks khotbah kita. Tuhan juga menunjukkan kuasaNya yang besar melalui tanda mukjizat yang dilakukan Elisa. Penjelasan: Ada seseorang dari Baal-Salisa datang membawa roti hulu / hasil pertama bagi Elisa (ay 42). Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: 1) Dari cerita ini kelihatannya kelaparan dalam ay 38 masih terus berlangsung sampai saat ini. Jadi ay 38-41 dan ay 42-44 saatnya berdekatan. Tetapi sekalipun ada pada masa kelaparan, orang ini membawa persembahan yang harus diberikannya. Bandingkan dengan banyak orang yang pada waktu krismon, atau mengalami problem uang, berhenti memberi persembahan persepuluhan. Ia tidak membayangkan bahwa ‘kelaparan di negeri itu’ membebaskannya dari kewajiban dalam hal hasil pertama. Andaikata setiap orang kristen mempunyai standard yang tinggi dan teliti dalam pemberian agamawi. 2) Pada hal hukum Taurat memberikan peraturan bahwa hasil pertama itu harus diberikan kepada imam. Bil 18:13 - “Hulu hasil dari segala yang tumbuh di tanahnya yang dipersembahkan mereka kepada TUHAN adalah juga bagianmu; setiap orang yang tahir dari seisi rumahmu boleh memakannya”. Ul 18:4-5 - “Hasil pertama dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, dan bulu guntingan pertama dari dombamu haruslah kauberikan kepadanya. Sebab dialah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu, supaya ia senantiasa melayani TUHAN dan menyelenggarakan kebaktian demi namaNya, ia dan anak-anaknya”. Namun diberikan kepada Elisa yang bukan Imam. Tetapi karena pada saat itu tidak ada imam yang benar di Israel, kecuali imam-imam dari patung anak lembu (bdk. 1Raja 12:31), maka orang ini lalu mengalihkan persembahannya kepada Elisa dan rombongan nabi itu. Adalah jelas bahwa orang-orang yang lebih saleh di antara orang Israel tidak hanya memandang kepada nabi-nabi untuk pengajaran agama (ay 23), tetapi menganggap mereka sebagai pewaris posisi dari imam-imam Lewi, yang oleh pembaharuan yang dilakukan Yerobeam, telah diusir dari negeri itu. Hasil pertama dari jagung, anggur, dan minyak ditetapkan oleh hukum Taurat bagi imam-imam (Bil 18:13 Ul 18:4,5)] Kewajiban pembayaran agama biasanya diberikan kepada imam-imam dan orang-orang Lewi, tetapi dalam keadaan agama di Israel, orang saleh ini berpikir bahwa ia memelihara / mentaati dengan sebaik-baiknya arti sebenarnya dari hukum Taurat dengan membawa roti dan jagungnya kepada Elisa dan murid-muridnya) 3) Pemeliharaan pelayan Tuhan. Sang nabi dipelihara. Itu adalah masa kelaparan. ‘Tetapi mereka yang takut kepada Tuhan tidak akan kekurangan sesuatupun yang baik’. Elisa menerima persembahan syukur dari umat Israel - roti hulu hasil, 20 roti jelai, serta gandum baru. Keberatan terhadap pelayanan yang dibayar tidak mempunyai dasar dalam Firman Allah. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sama-sama menganjurkan pemeliharaan untuk kebutuhan pelayan-pelayan Allah. Yesus berkata: ‘Seorang pekerja patut mendapat upahnya’. Paulus berkata: ‘Mereka yang memberitakan Injil harus hidup dari Pemberitaan Injil itu’. Adalah tidak praktis dan menyusahkan / menyukarkan bahwa seseorang harus memberitakan Injil, dengan semua persiapan yang dibutuhkan oleh pekerjaan itu, dan menggembalakan jemaat, dengan semua perhatian yang dibutuhkan, dan pada saat yang sama dibebani dengan kerja keras dan kekuatiran untuk kebutuhan sementara mereka dan kebutuhan keluarga mereka, jika mereka mempunyainya. Catatan: Kutipan pertama dari Maz 34:10-11, kutipan kedua dari Luk 10:7, kutipan ketiga dari 1Kor 9:14. 4) Roti yang diberikan itu hanya sedikit. Istilah ‘20 roti jelai’ dalam bahasa Inggris diterjemahkan ‘twenty loaves of barley bread’ (istilah ‘loaves’ menunjuk pada bentuk roti tawar pada umumnya yang berbentuk seperti mobil station), dan ini bisa menimbulkan kesan bahwa roti yang diberikan itu cukup banyak, padahal sebetulnya tidak demikian. ‘loaves’ bagi orang Israel adalah potongan roti kecil dan tipis atau roti tipis yang digulung, dan bukannya ‘loaves’ dalam arti modern. Setiap orang yang ikut makan biasanya mendapat satu untuk dirinya sendiri. Tentu saja 20 ‘loaves’ hampir tidak cukup untuk 20 orang. Jadi jelas bahwa untuk 100 orang jumlah itu sangat tidak memadai (bdk. ay 43a). 5) Elisa tidak egois, ia tidak mengambil semua roti itu untuk dirinya sendiri, tetapi membaginya untuk semua. ” Dalam masa kelaparan ia bisa berpikir bahwa adalah bijaksana untuk menyimpan bagi dirinya sendiri persediaan makanan yang telah ia terima. Tetapi tidak. Ia percaya kepada Allah untuk masa depan. Yang pertama ia pikirkan adalah orang-orang lain yang lapar di sekitarnya. ‘Berikanlah itu kepada orang-orang ini, supaya mereka makan’. Dibutuhkan lebih banyak ketidak-egoisan, sikap penuh perhatian seperti ini. Betapa banyak dari mereka yang mempunyai berlimpah-limpah lupa untuk memikirkan mereka yang ada dalam kekurangan 6) Elisa bernubuat (ay 43b) dan lalu melakukan mujijat, sehingga roti itu cukup untuk makan mereka semua, dan bahkan masih ada sisanya (ay 44). Aplikasi 1 Dari teks khotbah kita dapat melihat, bahwa kuasa Tuhan tetap berlangsung dan bekerja di segala zaman. Juga di zaman kita sekarang ini Tuhan tetap menampakkan kuasaNya. Hanya kita harus melihat dengan mata iman kita, bukan hanya dengan akal budi kita. 2 Kita bisa belajar dari nabi Elisa, juga untuk kehidupan kita sehari-hari. Kita dapat melihat ciri-ciri kehidupannya, antara lain: 1. Elisa adalah orang yang beriman. Dia sangat meyakini, bahwa Firman Tuhan berkuasa. Dengan penuh yakin dia menyuruh pembantunya untuk membagikan sedikit roti untuk banyak orang. Dan memang menjadi kenyataan, bahwa roti itu masih sisa seperti Firman Tuhan (ay.43). Tanpa iman dan keyakinan kepada firman Tuhan, tidak mungkin Elisa memerintahkan pembantunya untuk membagikan roti itu. Pertama iman baru ada mujizat. 2. Elisa tidak egois. Dia tidak mengejar keuntungan bagi dirinya sendiri. Dia mempunyai hak untuk memakan roti yang dihadiahkan kepadanya. Tetapi dia tidak memakai haknya tersebut untuk dirinya. Dengan kebebasan dan kerelaannya, dia membagi-bagikannya untuk orang lain. Berkat yang dia terima, dijadikan berkat juga bagi orang lain. Elisa memberi teladan, memberi pelajaran bagi kita, bahwa pelayanannya adalah pelayanan yang menyeluruh (holistik), rohani dan Jasmani. 3. Bagi orang-orang yang percaya dan berpengharapan kepada Tuhan, dia akan selalu memperhatikan dan mencukupkan kebutuhan-kebutuhan hidup kita. Oleh karena itu janganlah khawatir, tetapi tetap bekerja dan berdoa, jalankan apa yang diperintahkan Tuhan kepada kita maka Tuhan akan memberi yang kita perlukan dalam hidup ini. Amen Diambil dari berbagai sumber

Tidak ada komentar: