Rabu, 24 April 2019

Khotbah Kamis Putih 18 Apr 2019 Lukas 22:39-46 Jadilah KehendakMu


Hari Minggu 14 Apr yg lalu kita sdh memasuki  Minggu Palmarum  yg disebut pembuka Pekan Suci yang di ikuti dengan Selasa daging (lemak)! Umat masuk dalam sikap penyembahan dengan berkata selamat tinggal untuk keinginan daging. Rabu Abu! Kepala umat ditaburkan abu daun palem sebagai simbol pertobatan, penyesalan dan untuk mengingatkan umat bahwa manusia berasal dari debu dan kembali kepada debu. Dan malam ini kita masuki Kamis Putih! Dimana di beberapa gereja Di dalam sikap penyembahan  dilakukan Perjamuan Kudus dan Pembasuhan Kaki sebagai peringatan Perjamuan Malam yang dilakukan oleh Yesus  bersama dengan para Murid-muridnya, dan hidup rendah hati di dalam hidup saling melayani. Jumat Agung (devosi salib)! Umat datang berdiam diri masuk dalam sikap penyembahan mengenang penyaliban Kristus. Sabtu sunyi! Tidak ada aktivitas semuanya sunyi mengingatkan kesunyian Yesus di dalam kubur. Minggu Paskah! Umat menyanyikan Gloria In Excelsis Deo sebagai ungkapan sukacita, kemenangan Yesus yang bangkit dari kubur. Demikianlah Gereja memaknai Pekan Suci dalam ranah spritualitas menyatu di dalam jalan salib dan kebangkitan Kristus. Firman kita sore hari ini adalah tentang sebuah pergumulan Yesus di taman Getsemani. Di taman tersebut Yesus sedang berdoa dan bergumul dengan luar biasa tentang penyaliban-Nya. Tuhan tahu bahwa Dia akan disalib dan akan meninggalkan murid-murid-Nya sendirian. Oleh karena itu Tuhan meminta para murid agar mereka berdoa di taman Getsemani tersebut. Sebab kedepan para murid akan berjalan sendirian tanpa Tuhan Yesus. Dengan berdoa juga, iman kita akan tetap dikuatkan dan tidak sampai jatuh dalam pencobaan yang ada.
berdoa bukan hanya memanjatkan apa yang kita harapkan kepada Tuhan. Terlebih lagi berdoa juga dapat membuat iman kita tetap teguh dan membuat kita tidak jatuh dalam pencobaan yang ada. Berdoa akan senantiasa menjaga dan menuntun hidup kita untuk tetap ada di jalan yang telah dipilihkan oleh Allah kepada kita.
Melalui Nats ini Yesus telah memberikan satu teladan kepada kita tentang kehidupan doaNya, di mana Dia senantiasa menyediakan waktu untuk bercakap-cakap dengan Bapa saat pagi masih gelap. BagiNya Bapa adalah segalanya. Keintiman dengan Bapa inilah yang menjadi kekuatan dalam pelayanan Yesus. Alkitab tidak pernah mencatat Yesus merasa bosan atau jemu berdoa. Justru Dia begitu teguh menjalankan waktu-waktu tetapNya berdua dengan Bapa dalam doa.
Berbicara kepada Bapa melalui doa bukalah sekedar runinias atau kebiasaan bagi Yesus, melainkan suatu kerinduan yang dalam untuk bertemeu, memandang wajahNya dan memahami kehendakNya karena, "...Aku hidup oleh Bapa," kata Yesus (Yohanes 6:57).Saat berada di Yerusalem Tuhan Yesus biasa berdoa di taman Getsemani di bukit Zaitun. Kata biasa menunjukkan keteraturan (rutininasNya) berdoa di situ. Di tempat itu pula Dia sering berkumpul dengan murid-muridNya. Tuhan Yesus sangat disiplin dalam hal waktu; Ia berdoa secara teratur di pagi hari guna mempersiapkan hati dan mempertajam kepekaanNya terhadap kehendak Bapa.
Hal ini juga dilakukan Daud, seperti katanya, "Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar!" (Mazmur 57:9). Daud mencari hadirat Tuhan terlebih dahulu sebelum memulai segala sesuatu. Daniel pun memiliki tempat dan waktu khusus di mana ia secara teratur berdoa. "Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya." (Daniel 6:11b).
Berdoa teratur dan disiplin adalah kunci memiliki hidup berkemenangan! Demikianlah yang di lakukan Yesus Malam sebelum ditangkap, Yesus berdoa ditaman Getsemani dan diakhir doa-Nya Ia berkata kepada Bapa-Nya: “…bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” Perkataan ini tidak berarti Yesus putus asa dan menyerah, tetapi kemanusiaan-Nya diselaraskan dengan kehendak Bapa di sorga.
1.Berdoa “Jadilah Kehendak-Mu” ini sulit kita lakukan karena berarti membalikkan hasrat pribadi kita dan menyerahkannya kepada kehendak Allah. Manusia alami kita setiap saat ditarik untuk memuaskan keinginan daging yang berdosa. Berserah itu bukan kata yang indah bagi ego dan kesombongan manusia.
2.Berdoa “Jadilah Kehendak-Mu” ini sulit kita lakukan karena berarti menyerahkan kendali hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Manusia alami kita tidak suka diatur dan dipimpin Roh Kudus, maka berdoa “Jadilah kehendak-Mu” membutuhkan kerendahan hati dan penyangkalan diri yang sangat serius.
3.Berdoa “Jadilah Kehendak-Mu” ini sulit kita lakukan karena berarti mempercayai, bahwa kehendak Allah bagi kita adalah yang terbaik. Kesombongan manusiawi kita menilai segala sesuatu berdasarkan akal budi, pengalaman dan selera diri kita yang sangat tidak sempurna, maka untuk berkata, “Jadilah Kehendak-Mu” membutuhkan iman yang sungguh-sungguh.
4.Berdoa “Jadilah Kehendak-Mu” ini sulit kita lakukan karena berarti kita bersedia menerima berkat sekaligus juga siap menderita bagi Allah. Sebagai manusia kita pasti senang kalau menerima berkat dan tidak suka dengan penderitaan, tetapi ketika kita berkata, “Jadilah Kehendak-Mu” maka berarti kita siap menderita karena kita percaya kepada-Nya.
5.Berdoa “Jadilah Kehendak-Mu” ini sulit kita lakukan karena berarti kita siap meninggalkan posisi kita yang nyaman demi misi Allah. Seperti Yesus “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (filipi 2:6-7) kitapun bersedia menyerahkan hak dan mengosongkan diri demi misi Kerajaan Allah yang kita jalani.
Penderitaan berat yang menakutkan seringkali memaksa kita memilih untuk berkata “Jadilah Kehendak-Mu” dan indahnya ini menjadi saat yang istimewa bagi kita mengalami kehadiran-Nya secara nyata menguatkan kita. Amen



Tidak ada komentar: