Jumat, 10 Juni 2016

Khotbah Minggu 05 Juni 2016 Wahyu 22: 1-5




Pendahuluan
Kitab Wahyu merupakan kitab yang ditempatkan paling terakhir dalam urutan kitab-kitab Perjanjian Baru. Kata “Wahyu” dalam nama kitab ini merupakan terjemahan dari kata Bahasa Yunani Apokalypsis yang berarti menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi.
Kata ini sebenarnya menunjuk pada jenis sastra yang terdapat dalam kitab ini. Pada umumnya, sastra apokaliptik dalam konteks Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sebenarnya dimaksudkan untuk menyatakan rahasia-rahasia yang berhubungan dengan akhir zaman atau makna sejarah.
Kitab ini berisi simbol-simbol dan lambang-lambang yang pada zaman sekarang menimbulkan pelbagai tafsiran yang tidak hanya beragam tetapi juga seringkali kontroversial (berbahaya).
Salah satu tema yang menarik didiskusikan selain “ Kota Babel” [Why. 14-18] adalah tema tentang “Yerusalem baru [Why. 21: 2-22: 5]”. Kota Yerusalem Baru ini merupakan sebuah tema yang menarik bukan pertama-tama karena ditempatkan sebagai salah satu kota yang disebutkan dalam Kitab Wahyu dan juga bukan karena sebagai kota terakhir yang disebutkan dalam bab-bab terakhir Kitab Wahyu; [Why. 21:2-22:5] tetapi bahwa kota ini dipersaksikan sebagai “kota kudus, yang turun dari surga, dan penuh dengan kemuliaan Allah.”
Tafsiran:
 SUNGAI AIR KEHIDUPAN.
Ini bisa sebagai yang sesungguhnya, yang melambangkan Roh Kudus dan hidup, berkat serta kuasa rohani yang dikaruniakan-Nya (bd. Wahy 7:17 ; Wahy 21:6; 22:17 ; Yes 44:3 ; Yoh 7:37-39 ).
 POHON-POHON KEHIDUPAN
Nas : Wahy 22:2
Pohon ini menunjuk kepada hidup kekal yang dikaruniakan kepada semua orang yang mendiami kota yang baru itu ( Kej 2:9; 3:22 ). Daun-daun yang berkhasiat menyembuhkan itu menggambarkan ketidakhadiran apa pun yang menyebabkan kesakitan jasmani ataupun rohani (bd. Yeh 47:12 ); perhatikanlah bahwa dalam tubuh baru kita nanti, kita masih akan terus bergantung pada Tuhan untuk kehidupan, kekuatan, dan kesehatan.
MEREKA AKAN MELIHAT WAJAH-NYA.
Nas : Wahy 22:4
Ini merupakan tujuan terakhir dari sejarah penebusan: Allah yang berdiam di antara umat-Nya yang setia di suatu bumi yang bersih dari segala yang jahat. Di bumi yang baru ini, orang kudus akan melihat dan tinggal bersama dengan Yesus, Anak Domba Allah, yang oleh kasih-Nya telah menebus mereka dengan kematian-Nya di kayu salib. Kesukacitaan mereka yang terbesar adalah, "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka yang akan melihat Allah" ( Mat 5:8 ; bd. Kel 33:20,23 ; Yes 33:17 ; Yoh 14:9 ; 1Yoh 3:2 ).

Gambaran tentang langit dan bumi yang baru serta tentang Yerusalem yang baru (pasal 21-22) seharusnya membuat kita merindukan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Bila kita takut menghadapi kedatangan Tuhan Yesus, berarti ada yang harus dibereskan dalam hidup kita!
Apa yang kita rasakan dan kita pikirkan ketika kita merenungkan uraian tentang masa depan yang akan dinikmati oleh orang yang beriman kepada Yesus Kristus dalam Wahyu 21-22? Apakah ada pengharapan yang lebih tinggi daripada pengharapan untuk menikmati kehidupan di kota Yerusalem Baru dengan langit dan bumi yang baru? Apakah ada pengharapan yang lebih nikmat daripada terbebas dari godaan dosa, kemerosotan fisik, dan kemerosotan lingkungan? Apakah ada tempat di bumi ini yang lebih indah daripada tempat yang disediakan Allah bagi orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus (22:1-5)? Apakah ada pengharapan yang lebih menggetarkan hati daripada menerima upah atas jerih payah yang kita lakukan untuk membangun Kerajaan Allah di bumi ini (22:12)?
Ada tiga hal yang bisa membuat kita ragu-ragu untuk mengharapkan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali: Pertama: kita tidak akan menantikan kedatangan Tuhan Yesus bila kita tidak sungguh-sungguh beriman kepada karya Kristus di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Kedua: kita tidak akan menantikan kedatangan Tuhan Yesus bila kita masih menyimpan dosa kesayangan yang belum ingin kita lepaskan. Ketiga: kita tidak akan mengharapkan Tuhan Yesus segera datang bila kita belum melakukan apa pun untuk ikut membangun Kerajaan Allah. Bila ketiga penghalang di atas telah bisa kita singkirkan, kita akan dengan berani mengatakan, “Amin,
Dari gambaran kota yang begitu mulia, perhatian Yohanes diajak beralih pada gambaran taman Eden yang baru (22:1-5; bdk. Kejadian 2). Taman Eden yang lama, di mana manusia bekerja mengelolanya dan beribadah dan bersekutu kepada Allah dari waktu ke waktu, digantikan dengan taman Eden yang baru, di mana yang ada hanyalah ibadah (3) dan bersama memerintah sebagai raja (5).
Saat Yohanes diperlihatkan semua ini, tentu kerinduannya agar segera langit dan bumi yang lama berlalu, langit dan bumi yang baru, serta Yerusalem dan taman Eden yang baru datang. Kenyataannya, dua ribu tahun berlalu, kita masih di tengah langit dan bumi yang lama. Mengapa? Karena belas kasih Allah yang ingin tak seorang pun binasa. Marilah selama waktu masih ada, yang sudah sangat singkat ini, kita memberitakan kabar baik ini kepada lebih banyak orang! Amen RHL

Tidak ada komentar: