Sabtu, 17 Mei 2014

Yohannes 17: 1-11 (Khotbah Minggu 01 Juni 2014) Thema: "Supaya semua pengikut Kristus menjadi satu”

Doa adalah komunikasi yang paling ampuh dan tercepat untuk berbicara dengan Tuhan.
Doa adalah napas peredaran kehidupan rohani setiap orang yang percaya.
Kemajuan teknologi informasi terbukti cukup membantu antar individu maupun institusi dalam berkomunikasi. Memang efisiensi dan efektifitas menjadi tuntutan dunia era sekarang ini. Ambil contoh misalnya dengan semakin canggihnya handphone, yang tidak hanya bisa untuk mengirim pesan atau tulisan yang bisa dibaca maupun berkata-kata yang bisa didengar, namun bisa juga melihat orang yang sedang berbicara dengan kita. Namun di tengah kemajuan teknologi informasi ini, ternyata ada yang hilang dari kemajuan komunikasi ini. Anggapnya serasa sah dan cukup terwakili komunikasi jarak jauh, dengan slogan “jauh di mata dekat di hati”.Komunikasi tanpa ”sentuhan” dan kehadiran fisik secara bersama pada ruang dan waktu yang satu, bisa jadi telah kehilangan orisinalitasnya. Bisa-bisa terjadi saling memanipulasi fakta baik fisik maupun batin. Di samping itu di tengah hiruk-pikuk kecanggihan telekomunikasi, hati dan jiwa terasa ”kesepian” karena ketidak-hadiran fisik secara bersama.
Komunikasi langsung dalam komunitas kehidupan bersama religius baik secara verbal maupun spiritual masih relevan untuk dipertahankan. Pun pula dalam hal berdoa bersama. Di tengah derasnya iklan religius maupun permintaan tentang dukungan doa jarak jauh untuk sesuatu hal dari pemirsa tayangan televisi maupun dari pendengar pesawat radio, muncul masalah baru. Tentu menjadi relatif bila dipertanyakan sejauhmana kuasa doa jarak jauh itu. Namun ada yang hilang dari diri individu pendoa dan yang didoakan yakni nihilnya kehadiran bersama. Tidak bisa disalahkan bila semakin banyak pelayanan doa jarak jauh, yang menjadi masalah adalah bila telah terjadi komersialisasi doa. Apakah sudah menjadi suatu pemakluman karena zaman? Tentu bagi komunitas komunal tradisional akan ”menggugat” dengan adanya fenomena yang demikian ini. Tidak menutup kemungkinan masyarakat modern-pun mengalami hal serupa. Kehadiran bersama untuk berdoa lebih dari sekadar menjawab masalah yang didoakan, sebab ada sentuhan fisik, ada dukungan moral, yang akan dapat mengalirkan arus hangatnya pertautan batin dan spiritual.
Keterangan:
Doa Yesus dalam Yoh 17 dikenal “Doa Tuhan Yesus sebagai Imam Besar” tetapi ada yang berpendapat “ Doa penyerahan” atau “ Doa Kemenangan”  tetapi ini cenderung adalah nubuat dari Yesus sang Nabi. Yang tercantum di pasal 17 tidak dicatat di injil sipnotis tetapi Injil Yohanes tidak mencatat doa Yesus di Taman Getsemani. Jika eksegese bahwa ini adalah nubuatan dari Yesus sang Nabi maka doa Yesus di Getsemani benar benar hanya dicantumkan di Injil Sinopsis sedangkan bentuk nubuatan terdapat di Yohanes 17 hal ini disebabkan Yohanes 17 kata ἐρωτῶ bukan berarti berdoa melainkan lebih tepat meminta.
Ayat 1. Seruan telah tiba saatnya mengigatkan kita bahwa seluruh Injil Yohanes setuju pada salib-Nya. (Yoh 2:4; 7:30; dan 8:20) Yesus bekerja sesuai dengan waktu yang tepat. Saat waktu mendekat Yesus berkata menyatakan kerelaan-Nya untuk disalibkan dan mengerjakan tugas-Nya yaitu “Permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau” Salib adalah kemuliaan sebab melalui salib maka sifat-sifat menjadi nyata seperti: kasih-Nya kepada manusia, ketaatan kepada kehendak Bapa, kerendahan hati-Nya, kasih karunia-Nya. Melalui salib manusia mengenal Bapa sehingga Bapa dipermuliakan.
Ayat 2. Pemuliakanlah Anak-Mu mengigatkan Allah Bapa bahwa sebelum dunia dan manusia diciptakan, dalam kekekalan yang lampau. Allah Bapa telah memberikan kepada Tuhan Yesus kuasa atas segala manusia. Allah Bapa memberikan kuasa itu dengan tujuan supaya Tuhan Yesus menyelamatkan setiap manusia yang dipilih oleh Allah Bapa. Permohonan agar Dia dipermuliakan berdasarkan rencana keselamatan yang ditakdirkan dalam masa kekekalan yang lampau. Tuhan Yesus mempunyai kuasa atas seluruh manusia, namun mereka yang dipilih Bapa akan menerima keselamatan dari Tuhan Yesus.
Ayat 3. Hidup yang kekal bukan status atau kualitas manusia. Hidup yang kekal adalah hubungan pribadi antara manusia dengan Allah. Mengenal Allah bukan saja jalan menuju kehidupan yang kekal, tetapi pengenalan tersebut adalah kehidupan yang kekal.
Ayat 4. Yesus berkata-kata seolah olah Dia telah menaati kehendak Bapa dan disalibkan, padahal belum. Apakah Yesus bernubuat? Apakah Yesus bersikap itu karena penyaliban-Nya sudah pasti? Tuhan Yesus mempermuliakan Bapa dengan menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepada-Nya. Jalan yang ditempuh Yesus adalah sesuatu yang khusus kepada Tuhan Yesus sendiri.
Ayat5. Kemuliaan yang Dia minta adalah kemuliaan surgawi yang Dia nikmati sebelum menjadi manusia, tetapi kemuliaan ini tidak dapat dipisahkan dengan kemuliaan salib.
Dalam ayat 6-11. Yesus mendoakan murid-murid. Dan menjadi alasan memohon dan Yoh 11b-16 supaya murid murid dilindungi, serta Yoh 17: 17-19 supaya murid murid dikuduskan. permintaan Yesus adalah sesuatu yang dikabulkan sehingga identik dengan nubuat.
Ayat 6-9. Mereka itu adalah milik-Mu dua kali diucapkan dalam waktu berdekatan. di ayat 6 memakai imperfect Tense dan di ayat 9 gunakan present tense. Apakah karena murid-murid adalah milik Bapa menjadi alas an Yesus meminta permohonan khusus? Alasan yang dikemukakan anara lain: bahwa Dia telah menyatakan nama Allah kepada mereka, bahwa mereka itu milik Allah dan Allah telah memberikan mereka kepada Tuhan Yesus, bahwa murid murid telah menuruti Firman Allah, bahwa iman para murid yang Dia ucapkan semakin mantab, bahwa murid murid menerima, mengetahui dan percaya Tuhan Yesus datang dari Allah. Mereka milik Bapa sehingga jadi berkat bagi dunia, karena murid-murid memberitakan Injil di dunia tetapi dunia tidak dapat diberkati dengan perkataan seperti ini karena dunia melawan Allah.
Ayat 10-11a. Setiap orang dapat berkata, segala milik-ku adalah milik-Mu tetapi hanya Tuhan Yesus berkata Milik-Mu adalah milik-Ku. Yesus akan meninggalkan murid-murid dan kembali ke Bapa sehingga memohon agar murid-murid dilindungi.
Khotbah:
Injil Yohanes 17:1-11 (Supaya mereka menjadi Satu)
Setelah Yesus memberikan petuah kepada para murid agar tetap tegar menghadapi penceraiberaian menjelang Ia ditangkap untuk disalibkan (Yoh 16:32-33), Ia berdoa kepada Bapa. Permohonan di hadirat Bapa adalah agar kemuliaan Bapa memancar kepada-Nya. Bahwa kemuliaan Kristus diwujudkan di dalam kesetiaan menjalankan pekerjaan penyelamatan bagi dunia. Kemuliaan Yesus Kristus dipancarkan dengan jalan penyelesaian pekerjaan penebusan dosa dunia.
Doa Yesus dilanjutkan dengan kesaksian bahwa umat telah Ia terima sebagai milik-Nya karena mau mendengarkan firman yang Ia sampaikan. Karena keterharuan atas iman percaya serta kesetiaan umat menjalani firman yang hidup itu, Yesus mengajukan permohonan agar umat yang dipercayakan kepada-Nya, mendapatkan pemeliharaan iman dan pengharapan. Dengan iman dan pengharapan yang sama maka umat menjadi satu. Pengakuan akan keesaan Allah ditunjukkan dengan kebersatuan hati dan perjuangan menjalani kehidupan di dunia yang penuh penghambatan. Yesus juga berdoa agar umat menjalani kehidupan di dunia dengan ketekunan membangun iman dan pengharapan yang sama dan yang satu.
Bertekun bersama di dalam doa membutuhkan prasyarat yakni proses bersekutu dan berdoa bersama tidak kalah pentingnya dari isi bahkan kuasa doa itu sendiri. Kuasa doa justeru dimaknai dari wujud persekutuan yang bertekun berdoa. Persekutuan doa tidak berhenti pada level basa-basi atau hanya formalitas belaka, yakni bahwa semua yang hadir turut menangkupkan kedua telapak tangan, memejamkan mata dan menundukkan kepala, namun tiada pertautan hati dan spiritual. Dalam pada itu ada dua dimensi penting yang mesti dihayati yakni pertama, makna kehadiran fisik dan hati di antara yang hadir di dalam persekutuan. Kedua, ketekunan berdoa bersama menuntut keseriusan olah spiritual.
Aplikasi:
1. Perkembangan/pertumbuhan gereja mula-mula tidak terlepas dari Kuasa Doa . Dalam Kisras 1: 6-14 dijelaskan bahwa Para rasul bertekun bersama berdoa di tempat yang dipersiapkan dengan baik, hal ini menunjukkan kesiapan fisik dan spiritualnya. Hal ini mengingatkan kita bagaimana mungkin kita bisa bertekun berdoa bila tidak mempersiapkan fisik yang segar dan hati yang saling rengkuh.
2. Sama seperti Yesus mendoakan para murid-Nya agar mendapatkan pemeliharaan iman dan pengharapan di tengah-tengah penceraiberaian oleh dunia melalui persekutuan dan persaudaraan di antara para murid-Nya. Baiklah kita saling mendukung dalam doa agar setiap warga jemaat terpeliharan iman dan pengharapan di tengah pergumulan hidup yang semakin sulit dan berat. Agar di dalam setiap pergumulan itu di antara kita tidak merasa ”sendirian”, namun ada kekuatan iman karena dukungan doa bersama.
Akhirnya marilah kita bertekun di dalam doa bersama dengan beralaskanpersaudaraan kasih, kesiapan hati, dan pengharapan akan kebaikan Tuhan sehingga masukilah doa dengan sukacita, serta berdoalah terus karena pergumulan hidup di dunia ini semakin berat.
Amen


Tidak ada komentar: