Senin, 12 Desember 2016

Khotbah Efesus 3:20-21 “Tuhan Memberikan Melebihi yang kita Pikirkan dan Doakan Kepada-Nya”



 Rasul Paulus dlm Efesus 3:14-21 sekaligus mengajarkan keagungan kasih Kristus. Memahami kasih Kristus memang bukan sesuatu yang mudah. Kasih ini begitu sempurna dan melampaui segala pengetahuan, sehingga untuk memahaminya merupakan sebuah pergumulan spiritual, bukan hanya intelektual belaka.
Dalam teks ini Rasul Paulus menunjukkan sikapnya dalam berdoa, yaitu “sujud” (ayat 14a). Ia lalu menjelaskan obyek doanya, yaitu Bapa sebagai sumber segala keturunan (ayat 14b-15). Setelah itu ia menaikkan tiga isi doa yang ditandai dengan kata sambung “supaya" di ayat 16, 18, dan 19b. Bagian terakhir dari doa ini adalah sebuah pujian (doxology) kepada Allah (ayat 20-21).
Rasul Paulus mendoakan agar jemaat di Efesus dikuatkan dan diteguhkan oleh Roh Kudus yang ada dalam hati mereka, berakar dan berdasar di dalam kasih, memahami kasih Kristus, serta dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah (3:16-19).
Roh Kudus adalah sumber kekuatan bagi orang percaya. Tanpa Roh Kudus, kita akan dipenuhi oleh ketakutan dan keragu-raguan di dalam menjalani kehidupan Kristen. Kita harus meyakini bahwa setiap orang percaya telah memiliki Roh Kudus di dalam hatinya (1:13). Bila Roh Kudus menguasai hidup kita, kita akan bertumbuh menjadi seorang Kristen yang normal. Iman kita tidak mudah tergoncang oleh kesukaran dan penderitaan. Dalam keadaan apa pun, kasih akan mewarnai kehidupan kita.
Memahami kasih Kristus merupakan sumber kekuatan dalam menghadapi kesukaran dan penderitaan, sekaligus membentuk pola dalam berinteraksi dengan orang lain. Memahami kasih Kristus akan membuat penderitaan dan kesukaran menjadi tidak terasa, karena kasih Kristus jauh lebih besar daripada semua masalah yang kita hadapi. Memahami kasih Kristus juga akan membangkitkan dorongan dalam hati kita untuk membagikan kasih Kristus kepada orang lain.
Dalam Alkitab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS), perkataan "dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah" (3:19) diterjemahkan menjadi "penuh dengan kepribadian Allah yang sempurna." Hal ini berarti bahwa seharusnya orang percaya mencerminkan kepribadian Allah di dalam kehidupannya (Bandingkan dengan Kejadian 1:26; Matius 5:48). Bila kehidupan kita memancarkan kepribadian Allah yang penuh kasih, niscaya kita akan menjadi saksi Kristus yang efektif.
Saudara, ketika saudara berdoa, reaksi apa yang saudara harapkan dari Tuhan? Kenapa hal ini penting? Karena ini akan menentukan sikap saudara terhadap doa, bagaimana saudara berdoa.
Banyak orang Kristen berdoa sekadar untuk menghilangkan rasa bersalah – karena kalau belum berdoa kok rasanya ada yang mengganjal ya; atau, ada juga yang berdoa karena kebiasaan – jadi sudah otomatis, sudah jadi refleks: lipat tangan, tundukkan kepala, tutup mata, lalu mengalirlah kata-kata yang sama dari hari ke hari, tahun demi tahun.
Saudara, ketika saudara berdoa, seberapa jauh saudara menyadari bahwa saudara tengah berdialog dengan Allah yang mahakuasa, yang dalam kasih-Nya yang besar kepada kita telah membuat rencana-rencana yang baik untuk kita dan yang dalam kemahakuasaan-Nya mampu mewujudkan rencana-rencana-Nya itu?
Masalah kita adalah, kata C.S. Lewis, “kita terlalu mudah dipuaskan.” “Kalau kita melihat janji-janji yang besar yang Allah janjikan di dalam Kitab Suci, akan jelas sekali bahwa bagi Tuhan gairah kita, keinginan-keinginan hati kita, mimpi-mimpi kita, bukannya terlalu menggebu-gebu, tetapi sebaliknya, terlalu loyo, terlalu lunglai, terlalu melempem. Kita adalah makhluk-makhluk setengah hati, terlalu mudah dipuaskan oleh kesenangan sesaat dan ambisi yang dapat terlihat oleh mata kita sementara kita mengabaikan sukacita tak terbatas yang ditawarkan kepada kita; kita seperti seorang anak yang ngambek karena dia belum puas bermain-main dengan lumpur di depan gubuknya sementara orang tuanya mau mengajak dia berlibur ke pantai. Kita terlalu mudah dipuaskan.”
Padahal, Yoh. 1:12 mengatakan, “Semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah ….” Ini yang dituliskan juga oleh Rasul Paulus dalam Ef. 3:20 yang kita baca, “seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” Atau, dalam terjemahan Bahasa Indonesia Masa Kini, “Dengan kuasa Allah yang giat bekerja di dalam diri kita, Allah dapat melakukan jauh lebih banyak daripada apa yang dapat kita minta atau pikirkan.”
Nah, saudara, apa yang ada dalam benak saudara ketika saudara membaca kata-kata Rasul Paulus ini, “jauh lebih banyak daripada apa yang dapat kita minta atau pikirkan”? Apa yang biasanya saudara minta kepada Tuhan? Keinginan-keinginan semacam apa yang menguasai pikiran saudara? … Apakah saudara puas dengan apa yang saudara minta itu?
Mari kita bandingkan dengan apa yang ada dalam doa dan pikiran Rasul Paulus, di Ef. 1, mulai ay. 16: “[A]ku selalu mengingat kamu dalam doaku, dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia (1) memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan (2) supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya.”
Ini yang penting bagi Rasul Paulus. Ini satu hal yang bisa memuaskan dia. sama seperti Rasul Paulus, ketika pandangan kita tertuju kepada Kristus, maka perspektif kita akan berubah. Kita akan melihat dunia dengan lebih jelas dari perspektifnya Tuhan. Apa yang penting bagi Tuhan menjadi penting bagi kita; apa yang kecil di mata Tuhan akan menjadi kecil di mata kita; apa yang menjadi prioritas di mata Tuhan akan menjadi prioritas di mata kita. Dan karena tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, maka kita bisa percaya bahwa ketika kita menerima Yesus yang datang ke dalam dunia untuk mati di kayu salib bagi kita sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat kita – ketika saudara menerima Dia yang menjanjikan bahwa Roh Kudus akan hadir dan tinggal di dalam saudara untuk selama-lamanya (Yoh. 14:16-17) – Amen RHL

3 komentar:

JM mengatakan...

Terimakasih atas penjelasan firman Tuhan ini Pak Pendeta. Sungguh memberkati dan mengajar saya untuk melihat kehidupan ini dari perspektif nya Tuhan kita.
Tuhan memberkati pelayanan Bapak Pendeta di hari hari yang mendatang. AMEN.

Unknown mengatakan...

Trima ksh dgn firman ini sungguh sy terberkati.kirax Tuhan terus memakai bpk pdt menjadi berkat bg baxak org.Amin

Unknown mengatakan...

terima kasih ya pak pendeta