Sabtu, 15 April 2017

Khotbah Kebaktian RT Jem Ciliwung Mazmur 118:1-2, 14-24



Mazmur 118 adalah mazmur favorit Martin Luther. Dia mengatakan: Aku mencintai semua Mazmur dan menyukai seluruh isi Alkitab. Mazmur ini sangat melekat di hati saya, dan aku menyebutnya sebagai Mazmurku. Mazmur ini telah menyelamatkan saya dari banyak bahaya yang menekan; dari orang-orang bijak, dari orang-orang yang mengatakan dirinya kudus, dan dari raja-raja. Mazmur ini adalah teman saya; ia lebih berharga daripada semua kehormatan dan kekuasaan yang ada di bumi. Lurther meletakkan ayat 17 yang mengatakan: “Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan,” pada dinding ruang kerjanya supaya dapat melihatnya setiap hari. Pemazmur melukiskan umat yang diserang oleh musuh seperti lebah (Mzm. 118:12). Ini mengingatkan kita akan penyerangan bangsa Amori kepada umat Israel (Ul. 1:44). Bangsa Amori menyerang dalam jumlah yang begitu banyak seperti lebah, sehingga umat Israel kalah. Di Mazmur 118:13, umat yang diserang oleh musuh juga mengalami kekalahan. Umat didorong sampai jatuh dan hampir diinjak sehingga tidak dapat bangkit lagi. Tetapi kini Tuhan menolongnya. Allah menyelamatkan mereka di saat yang paling kritis. Pengalaman inilah yang melahirkan nyanyian pengakuan iman umat, sehingga umat berkata: ”TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku; Ia telah menjadi keselamatanku” (Mzm. 118:14). Tuhan tampil sebagai kekuatan: dan mazmur (zimrah), sehingga Allah menjadi sang penyelamat (yÄ•shuw`ah). Nyanyian pengakuan iman tersebut tampaknya diinspirasikan dari nyanyian Musa (Kel. 15:2; bdk. Yes. 12:2). Inspirasi dari nyanyian Musa tersebut memiliki alasan yang kuat, yaitu ada persamaan makna kisah. Di saat umat Israel tidak memiliki harapan akan pertolongan, di situlah Allah berkarya menyelamatkan mereka secara ajaib. Nyatalah “Tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan” (Mzm. 118:15). Semula Allah menghajar dengan keras dan menyerahkan kepada musuh, tetapi ternyata Allah memberi kehidupan. Situasi mereka semula seperti batu yang dibuang oleh tukang bangunan. Tetapi Allah mengubahnya menjadi batu penjuru (Mzm. 118:22). Tujuan karya keselamatan Allah dengan memberi kehidupan tersebut adalah agar umat menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN (Mzm. 118:17). Keselamatan dan pertolongan Allah tersebut harus dideklarasikan oleh umat agar seluruh umat manusia juga mengalami pengalaman yang sama. Selain itu karya keselamatan Allah tersebut mendorong umat untuk mengucap syukur dengan memasuki pintu gerbang di pelataran Bait Suci. Pintu gerbang di Bait Suci itu disebut ”pintu gerbang kebenaran atau keadilan” (Mzm. 118:19), sebab sebelum umat diizinkan memasukinya mereka harus membuktikan kesungguhannya. Umat yang akan memasuki pintu gerbang kebenaran adalah umat yang tidak memiliki dosa yang tidak dapat diampuni, dan tidak memiliki maksud yang jahat sebagaimana dijelaskan syarat-syaratnya di Mazmur 15:1-5.
 Kuasa Ucapan Syukur .
Hati yang bersyukur melalui ucapan kata-kata adalah suatu rahasia besar dari kebenaran mulia. Berabad-abad kebenaran ini telah dijelaskan dan diperkatakan oleh orang-orang hebat. Salah satunya adalah penulis Kitab Mazmur, Raja Daud.
Kebenaran pertama yang kita angkat, pintu gerbang pujian dan penyembahan adalah ucapan syukur. Hanya dengan hati yang bersyukur atas segala rahmat dan pertolongan Tuhan sebagai penyebab segala sesuatunya boleh ada. Dalam Mazmur  100:4 kita membaca: “Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!” (Enter into his gates with thanksgiving, and into his courts with praise: be thankful unto him, and bless his name. Sekarang kita mengerti bahwa POLA PENYEMBAHAN dimulai dengan ucapan syukur baru kemudian puji-pujian. Ucapan syukur HARUS keluar dari mulut yang mengalir dari hati yang JUJUR. Dalam Mazmur  109:30 kita baca: “Aku hendak bersyukur sangat kepada TUHAN dengan mulutku, dan aku hendak memuji-muji Dia di tengah-tengah orang banyak. DALAM Mazmur  119:7 kita membaca: "Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil.”
Lalu mengemuka satu pertanyaan, MENGAPA KITA MENGUCAP SYUKUR?
1. Karena Ucapan syukur adalah sebuah (salah satu) persembahan. Kita baca Mazmur  116:17: “Aku akan mempersembahkan korban syukur kepada-Mu, dan akan menyerukan nama TUHAN”. Kita diajarkan untuk memberi bukan? Kita rajin memberikan uang kita, tetapi kita sering lupa untuk memberikan salah satu persembahan penting lainnya yaitu ucapan syukur, perhatikan kata ucapan syukur. Itu artinya ucapan atau kata-kata yang keluar dari mulut dan mengalir dari perbendaharaan hati. Namun demikian dijelaskan bahwa ucapan syukur itu harus keluar dalam bentuk kata-kata verbal. Ucapan syukur tidak cukup di dalam hati, tetapi harus keluar sebagai suatu untaian kata-kata verbal. Bahkan para tuna rungu (bisu) sekalipun dapat merangkai kata-kata yang memang sulit kita mengerti. Tetapi sejatinya, para tuna rungu pun dapat mengucapkan syukur kepada Allah yang sekalipun mengijinkan kekuranang kepadanya.
2. Karena Dia (TUHAN) sangat baik. Kita baca Mazmur  118:1 “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Kebaikan dari orang yang paling baik sekalipun akan berakhir, namun kebaikan ALLAH kita tak pernah habis untuk selama-lamanya, maka kita harus mengucap syukur kepadaNya. KebaikanNya yang melebihi akal dan logika memaksa setiap mulut harus bersyukur kepadaNya.
3. Karena Dia (TUHAN) menjawab doa kita. Kita membaca Mazmur  118:21 “Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku.” Seringkali kita tidak mendapatkan jawaban doa, bukan karena kita kurang iman atau kurang percaya, tetapi karena kita lupa MENGUCAP SYUKUR. Atau yang paling logis adalah, kita tak mengucap syukur karena jawabanNya bukan sesuatu yang kita inginkan. Memang sangatlah logis, karena Tuhan tidak digerakkan oleh keinginan, tetapi kebutuhan. Bila doa kita didorong oleh keinginan, maka manusia akan jatuh kedalam dosa hawanafsu. Itulah sebabnya Tuhan hanya digerakkan oleh kebutuhan. Sudah menjadi pasti bahwa doa yang lahir dari hati yang sungguh mengharapkan Tuhan menjawab kebutuhan, akan mengalami ucapan syukur karena jawaban doa datang tapat pada waktuNya. Dalam Injil MARKUS 11:24 KITA BACA: “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.”
JAWABAN doa karena dilandaskan pada iman memang sangat penting. Allah tidak kuasa untuk tidak menjawab kebutuhan umatNya. Namun demikian, hanya orang-orang yang mengucap syukurlah yang akan mengalami mukjizat sebanarnya. Orang-orang yang telah mendapatkan jawaban doa, namun hatinya tidak bersyukur, maka semua yang didapatnya menjadi tak bermakna kekal. Kita membaca kisa sepuluh orang yang disembuhkan Tuhan dari kusta dan  hanya satu orang yang kembali dengan ucapan syukur. Sembilan yang lain pergi tanpa berita dan mereka hilang tanpa berita, sementara yang satu lagi. Ia mengalami kesembuhan pisik dan hatinya mengalami pemulihan. Hati yang dilingkupi ucapan sykur akan menyempurnakan mukjizat. Kita membacanya dalam Lukas  17:17 Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?”
4. Karena DIA (TUHAN) Mahaadil. Dalam Mazmur  119:62 tertulis: “Tengah malam aku bangun untuk bersyukur kepada-Mu atas hukum-hukum-Mu yang adil.” Daud sebagai orang biasa, rakyat jelata yang tak terpandang. Namun demikian karena Allah adalah Mahaadil, maka Dia mengangkatnya menjadi raja yang mulia. Saat mengalami berbagai gejolak selama pemerintahannya sebagai Raja Israel, Daud tidak ditinggalkan. Saat anaknya berkhianat, Dau tetap ditolong. Dia adalah Tuhan yang tidak berpihak seperti manusia, Dia membela kaum marginal. Bacalah Mazmur  10:14 “Engkau memang melihatnya, sebab Engkaulah yang melihat kesusahan dan sakit hati, supaya Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu sendiri. Kepada-Mulah orang lemah menyerahkan diri; untuk anak yatim Engkau menjadi penolong.”
5. Karena kasih setiaNya yang tak pernah habis untuk selama-lamanya. Kita baca Mazmur  136:2 “Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” Manusia itu fana dan tanda kefanaannya adalah dari keterbatasan kasihnya. Manusia akan marah dan memutuskan untuk pergi, namun Allah tetap mengasihi bahkan saat dalam amarah dan murka yang menyala-nyala. Allah itu kasih adanya sehingga apapun tidak dapat membatasih kasihnya. Bahkan sebagai puncak dari kasihNya, Dia rela mati di kayu salip untuk menunjukkan kasihNya. Maka, sepantasnyalah hati kita mengucap syukur atas segala kasihNya.
6. Karena Dia (Tuhan) menciptakan kita dengan dahsyat dan ajaib. Mari kita baca Mazmur  139:14 “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” Tuhan adalah penjunan yang telah menenun kita didalam rahim ibu. Ia menjadikan kita sangat baik. Kalau kita melihat bagaimana proses kelahiran anak manusia yang luar biasa, maka hati kita pastilah terkagum. Dalam kekakguman itu, maka mulut kita menjadi penuh dengan ucapan syukur. Daud menulis dalam Mazmur  9:2 “Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib;” DIA MENENUN KITA laksan seorang menenun halai-helai kapas menjadi benang dan akhirnya menjadi selembar kain. Dalam Mazmur  139:13 tertulis kata-kata yang sangat indah: “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.”
Ada demikian banyak hal yang “memaksa” kita untuk mengucap sykur kepadaNya. Namun intinya adalah karena Dia semata-mata. Kita bersyukur buat mahakaryaNya. Kita bersyukur buat kasihnya yang kekal. Kita bersykur buat segala hal yang baik dari padaNya. Terpujilah Yesus Kristus, haleluyah, amin


Tidak ada komentar: