Senin, 16 Januari 2012

“KETIDAK BERUBAHAN TUHAN YANG BAIK”

Khotbah Pelantikan Majelis POUK BDP
Yes 41:4; 48:12; Yak 1:17

Masalah ketuhanan Yesus sebagai Mesias yang dinanti-nantikan adalah sebuah masalah yang penting dalam Perjanjian Baru. Banyak pertentangan yang timbul ketika Yesus muncul sebagai Mesias di dunia. Ketika Yesus mengklaim bahwa Dia adalah utusan Allah dan bahkan Dia adalah Allah, secara langsung orang-orang yang mengetahuinya harus mengambil keputusan bersikap pro atau kontra. Percaya atau tidak percaya, itulah yang sedang dihadapi oleh jemaat-jemaat asuhan Yohanes yang terdiri dari orang-orang Kristen asal Yahudi dan bukan Yahudi. Dalam Yohanes 8:21-29 diberitakan bahwa Tuhan Yesus berasal dai Bapa ("Aku dari atas...., Aku bukan dari dunia ini") dan setelah Ia melaksanakan seluruh karya penyelamatan-Nya bagi umat manusia, Ia akan kembali kepada Bapa di sorga. Namun, manusia berdosa berasal dari "bawah", dari "dunia" ini (ayat 23) sehingga tidak mungkin bagi mereka datang kepada Bapa di sorga (ayat 21: "mati dalam dosamu... ke tempat Aku pergi tidak mungkin kamu datang"). Mereka pasti binasa kecuali mereka percaya bahwa Yesuslah Mesias (ayat 24). Ungkapan "Akulah Dia" (bahasa Yunani ego eimi, dalam ayat 24 dan 28) merujuk pada pernyataan Allah di Yesaya (bahasa Ibrani ani hu yang berarti "Aku tetap Dia": Yes. 41:4;10, 13, 25; 46:4; 48:12) yaitu Allah penyelamat. Yesuslah satu-satunya penyelamatan Allah bagi umat manusia. Klaim Yesus "Akulah Dia" menunjuk kepada kesatuan-Nya dengan Bapa (ayat 26, 28) serta kepada penyertaan Bapa pada Yesus dalam menggenapi rencana keselamatan Bapa (ayat 29). Hanya ketika manusia berdosa menerima karya Kristus disalib ("meninggikan Anak Manusia") mereka dimampukan untuk mengerti dan menerima Yesus sebagai Mesias dari Allah (ayat 28)
Ketidakberubahan Allah adalah sesuatu hal yang sangat fundamental bagi keadaan-Nya yang bermula dari diri-Nya sendiri. Ketidakberubahan ini adalah kesempurnaan dari Allah, yang dengan-Nya Ia tak mungkin mengalami perubahan, bukan saja dalam keberadaan-Nya, tetapi juga dalam segala kesempurnaan-Nya, dan dalam tujuan serta janji-janji-Nya. Dalam kebaikan dari sifat ini Ia ditinggikan di atas segala-galanya, dan terbebas sepenuhnya dari segala yang mengecilkan-Nya atau dari segala pertumbuhan atau penyusutan, dalam keberadaan dan kesempurnaan-Nya. Pengetahuan dan rencana-Nya, prinsip-prinsip moral dan tindakan-Nya tetap untuk selamanya. Bahkan juga proses berpikir mengajarkan kepada kita bahwa tidak mungkin ada perubahan dalam diri Allah, sebab suatu perubahan bisa berarti perubahan yang baik maupun buruk. Akan tetapi dalam diri Allah, sebagai Kesempurnaan yang mutlak, perkembangan dan kemerosotan sama-sama tidak mungkin. Ketidakberubahan Allah ini jelas diajarkan oleh Alkitab spt dalam ayat-ayat berikut
Kel 3:14; Maz 102:26-28; Yes 41:4; 48:12; Mal 3:6; Rom
1:23; Ibr 1:11-12; Yak 1:17.
Sdr/I yang dikasihi Tuhan.
1. Yesus adalah Allah, Ia adalah Mesias yang diutus Allah datang ke dunia untuk menyelematkan manusia dan manusia memperoleh hidup kekal bersama Allah. Kita menjadi anak2llah; lahir dari Fir; Allah dan Roh Kudus.
2. Yesus tidak pernah gentar menghadapi penolakan atas diri-Nya. Dia tetap menyatakan diri-Nya bahkan Dia memberi diri-Nya untuk mati di kayu salib ("Meninggikan Anak Manusia"), sebagai bukti bahwa hanya melalui kematian-Nya saja, orang menjadi percaya dan menerima Dia sebagai Mesias yang diutus Allah. Kematian-Nya sama dengan pembebasan manusia dari dosa. Melalui kematian-Nya manusia dibebaskan dari belenggu dosa dan menjadi percaya kepada-Nya. Itulah cara yang hanya dapat ditempuh dalam menyatakan diri-Nya sebagai yang diutus Allah.
3. Yesus telah membabaskan manusia dari belenggu dosa. Pernyataan yang dibuat Yesus melalui kematian dan kebangkitan-Nya membuktikan bahwa manusia selamat. Keselamatan hidup ini harus mewarnai perjalanan hidup manusia, sehingga manusia selalu bersyukur. Dengan demikian kehidupan yang telah diselamatkan dan dimerdekakan itu ditandai dengan ungkapan syukur di dalamnya.
4. Kematian Yesus sebagai tanda penyataan diri-Nya yang diutus Allah berlaku sekali untuk selamanya. Orang percaya yang sudah diselamatkan, hidup hanya di dalam pengasihan-Nya saja. Tidak ada kekuatan yang mampu membaharui hidup ini kecuali Yesus yang mati dan bangkit untuk kita. Bersandarlah kepada-Nya yang telah membuat pernyataan bahwa hanya melalui kematian dan kebangkitan-Nya, manusia menjadi selamat.
Dewasa ini masyarakat kita makin familiar dengan
istilah facebook. Facebook adalah sebuah website
jejaring
sosial yang kini semakin mendapat tempat di hati
masyarakat Indonesia. Malah kini diberitakan oleh
barbagai media kalau Indonesia adalah salah satu
negara pengguna facebook terbesar di
dunia. Facebook memungkinkan seseorang dapat berkomunikasi secara luas dan tanpa batas lewat dunia maya. Dengan facebook seseorang yang berada di kota Manado misalnya, bisa berkominikasi dengan seseorang yang ada di kota lain atau di negara yang berbeda. Tapi, berita yang mengejutkan darifacebook adalah seperti yang dirilis oleh inilah.com yakni "Anti Tuhan Galam Masa di Facebook". Tahun 2009 anggotanya ada 350 orang, Tahun 2012 berapa..? Komunitas ini sedang mengkampanyakan berbagai keyakinan yang meragukan keberadaan Tuhan. Sementara itu, diperkirakan pengguna internet di kalangan warga POUK BDP makin hari makin meluas. Internet kini tidak lagi milik kalangan tertentu (berpunya), atau tidak lagi milik orang perkotaan. Internet kini telah menjadi milik semua orang bahkan datang dari segala usia. Sejauh ini masih amat minim upaya untuk memproteksi dampak-dampak negatif dari internet, termasukfacebook. Saat ini, musuh Gereja bukan lagi terbatas pada seorang yang datang sebagai "nabi palsu" secara kelihatan yang menyesatkan iman percaya, tapi mungkin datang dengan "baju" baru seperti internet berupa facebook dan jejaring sosial yang lain yang amat digandrungi banyak orang. Dengan maksud mempengaruhi supaya meragukan bahkan menolak keberadaan Tuhan. Ini pertanda bahwa warga gereja harus waspada dalam segala hal. Dan ini adalah tugas Penatua.
• Disadari atau tidak masih ada juga dengan apa yang disebut dualisme kepercayaan. Bahkan seringkali orang-orang yang mempraktekkan dualisme kepercayaan ini adalah justru orang yang beragama. Mereka melakukan ritual-ritual khusus untuk memohon pada roh-roh supranatural (ilmu-ilmu klenik) agar diberikan "jodoh", "jabatan", "kesehatan",
• "perlindungan" atau kekebalan", "kekayaan", bahkan santet, white magic, dll.
• Dewasa ini masih tumbuh ajaran-ajaran atau paham-paham yang menolak Yesus sebagai Tuhan Allah. Saksi Yehova misalnya, bagi mereka Yesus adalah Allah yang lebih rendah dari Bapa, dan karena itu Yesus adalah pribadi yang berbeda dengan Allah Bapa yang berperan sebagai pelayan utama Yehova.
• Masih terdapat warga Gereja yang menjadikan Tuhan sebagai "ban reserep = ban cadangan). Tuhan diperlukan jika ada pergumulan, musibah, kesulitan atau Tuhan diperlukan jika ada hari-hari khusus, seperti membaptis anak, perkawinan, dll. Di luar itu Tuhan tidak diperhitungkan sama sekali. Kekristenan seperti itu adalah Kekristenan KTP (Kristen Tanpa Pertobatan).
• Ajaran Hadasah yg mengajarkan bahwa Org tua hanya melahirkan setelah itu milik Tuhan. Saksi Ahli dari PGIW
TUHAN TIDAK PERNAH BERUBAH.
“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; padaNya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Yakobus 1:17.
Ada satu hal yang harus kita ketahui dan pahami dengan sungguh, sebagaimana disampaikan Yakobus dalam nats ini,
yaitu bahwa Allah baik!
Tidak hanya dalam waktu-waktu tertentu Dia baik, tetapi untuk selama-lamanya Ia selalu baik.
Jadi, Tuhan itu memang baik, tanpa ada embel-embel tertentu.
Pemazmur menegaskan pula, “Sebab Tuhan itu baik, kasih setiaNya untuk selama-lamanya, dan kesetiaanNya tetap turun-temurun.” (Mazmur 100:5). Yakobus pun mengatakan bahwa Allah tidak berubah, dan AnakNya, Yesus Kristus, juga tidak pernah berubah: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” (Ibrani 13:8).
Dan dalam Yohanes 10:30 dijelaskan bahwa Yesus dan Allah adalah sama.
Jika Allah tidak pernah berubah, Yesus pun tidak pernah berubah; jadi Bapa, Putera dan Roh Kudus tetap sama.
Jika saat ini kita sedang dalam kesulitan atau pergumulan berat, jangan pernah putus asa, apalagi lari dan minta pertolongan kepada ‘allah’ lain. Datanglah kepada Yesus karena Ia sangat bisa kita andalkan. KuasaNya, kasihNya, kesetiaanNya dan kebaikanNya tidak pernah berubah.
Dia rindu melakukan perkara-perkara yang baik bagi kita bukan karena kita ini baik dan layak;
Ia melakukan perkara-perkara yang baik bagi kita karena Ia memang baik.
Bahkan, “…Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8b).
Kita patut berbahagia, sebab walaupun segala sesuatu di dunia ini berubah, Tuhan tetap sama.
Ia mengasihi kita tanpa syarat; Ia tidak mengasihi kita jika kita baik, lalu berhenti mengasihi jika kita tidak baik.
Ingatlah, Tuhan selalu mengasihi kita, berlimpah anugerah, belas kasihan dan selalu siap untuk mengampuni.
Jadi Tuhan tidak pernah berubah setiap kali keadaan kita berubah.
Bukankah kita yang seringkali berubah tidak lagi setia, bersungut-sungut dan menyalahkan Tuhan,
ketika melihat keadaan di sekitar kita sedang tidak baik?
Tetapkan hati dan jangan pernah goyah karena kita memiliki Tuhan yang tidak berubah!
Pdt. RH.L. Tobing, S.Th.MA

Tidak ada komentar: