Rabu, 05 Januari 2011

"Menjadi Guru yang rendah hati"


Khotbah Persekutuan Guru-guru BPK Penabur Jakarta
Thema: “Menjadi Guru yang Rendah Hati” (modesty)
Matius 23:12 (Amsal 15:33) Amsal 29:23
Dalam Perjanjian Lama (PL), kerendahan hati (modesty) diperlihatkan dengan sikap menangis, berpuasa dan mengoyakkan jubah (1 Raj. 21:29; 2 Raj. 22:11-20; Amsal 3:34).
Kesombongan adalah lawan dari kerendahan Hati.
Karena itu tidak mengherankan jikalau dosa kesombongan merupakan jenis dosa maut nomor wahid alias nomor satu, karena kesombongan mampu menyelinap dalam berbagai hal yang tampaknya mulia dan suci umpamanya: Pendeta, Penatua, Guru dllsbg. Untuk mencari dan menemukan orang-orang yang sombong, kita tidak perlu pergi ke pusat perbelanjaan atau mall. Justru kita akan mudah menemukan orang-orang yang berlaku sombong dan tidak peduli dengan sesama, saat kita berada di tempat ibadat dan pelayanan. Karena di tempat-tempat ibadah itulah umat akan berupaya untuk menyembunyikan kesombongannya dengan berlaku rendah-hati dan penuh simpati.

Kesombongan Dan Citra Diri
Kesombongan merupakan jenis dosa yang terbesar (the great sin) dan melahirkan dosa-dosa yang lain (Ilustrasi seorg Pnt/Pdt dapat PIN atas prestasinya di Gereja setiap minggu dipakainya ke gereja =Dia menyombongkan Kerendahan Hatinya). Dari sikap sombong, kita mengembangkan menjadi dosa iri-hati karena kita menjumpai bahwa sesama ternyata memiliki suatu kelebihan yang tidak kita miliki. Kesombongan juga melahirkan sikap puas diri dan meremehkan orang lain sehingga dia enggan mengembangkan karunia dan talenta. Selain itu dosa kesombongan akan membentuk citra diri yang salah, sehingga dia menganggap dirinya sebagai orang yang terpenting. Sikap sombong secara prinsipial membutakan mata hati dan akal sehatnya, seakan-akan dia telah berhasil melampaui keterbatasan manusiawinya. Pernah dikisahkan tentang Muhammad Ali, seorang petinju legendaris, yang sedang bepergian dengan sebuah pesawat. Selama perjalanan udara itu, tiba-tiba pesawat yang ditumpanginya mengalami gangguan cuaca hingga berguncang-guncang. Dengan cepat pilot menginstruksikan seluruh penumpang untuk memasang sabuk pengaman. Dan semua penumpang mematuhi perintah pilot tersebut, kecuali Muhammad Ali. Ketika pramugari mendatanginya, Ali berkata dengan suara keras, “Superman tidak membutuhkan sabuk pengaman.” Tanpa berpikir lama pramugari itu segera berkata, “Benar, tapi Superman juga tidak membutuhkan pesawat terbang.” Kalau Muhammad Ali memang seorang superman, mengapa dia harus menumpang pesawat? Kemenangannya bertinju telah membutakan mata Muhammad Ali seakan-akan dia telah menjadi satu-satunya penghuni bumi yang paling jagoan dan bebas dari hukum gravitasi bumi. Dia mungkin jago di atas ring tinju, tetapi di dalam pesawat terbang yang sedang berguncang dan mungkin dapat jatuh, dia hanyalah seorang insan yang tidak berdaya apa-apa.

Selain itu karena seseorang menganggap dirinya terpenting, maka orang yang sombong akan cenderung untuk selalu merendahkan orang lain. Kesombongan menghasilkan sikap superioritas yang ingin selalu menundukkan sesama sehingga segala hal yang dilakukan oleh sesama tidak pernah dianggap berharga dan berkualitas. Sikap sombong yang demikian selalu memposisikan keberadaan dan kemampuan orang lain dalam kategori yang lebih rendah dan hina. Karena itu tidaklah mengherankan jikalau kesombongan selalu merusak semua hal yang bernilai dalam kehidupan ini. Kesombongan merupakan kanker spiritual yang menghancurkan ikatan dan nilai-nilai persahabatan dan persaudaraan dengan sesama sekaligus menghancurkan relasi kasih dengan Allah.
Suatu sikap atau tingkah-laku senantiasa dilandasi oleh sistem nilai, prinsip spiritulitas dan teologi tertentu. Demikian pula sikap sombong yang meremehkan sesama bukanlah sekedar suatu perilaku yang spontan dan alamiah. Sikap sombong muncul karena pemahaman teologis tertentu yang diejahwantahkan menjadi pola hidup seseorang. Karena sikap sombong mendorong seseorang untuk menganggap dirinya lebih tinggi dan lebih baik dari pada sesamanya, itu sebabnya teologi orang-orang sombong sering disebut dengan teologi vertikalis. Dia menempatkan orang lain dalam hubungan “komando” dari atas ke bawah sehingga meniadakan hubungan yang horisontal dan setara dengan sesama. Dengan teologi vertikalis, seseorang menempatkan dirinya di puncak yang paling ujung dan menganggap dirinya hampir sejajar dengan Allah. Kesombongan menjadi dosa maut nomor satu karena dengan sikap angkuhnya seseorang tidak hanya mengangkat dirinya di atas sesama, tetapi juga suatu upaya untuk menempatkan dirinya sejajar dengan Allah. Ungkapan yang menarik hati bagi manusia pertama dengan godaan ular adalah: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat" (Kej. 3:4-5). Karena itu dosa kesombongan selalu memisahkan manusia dari kasih-karunia Allah. Mungkin seseorang yang sombong tetap mampu beribadat dan berdoa dengan khusuk, tetapi ibadah dan doanya bukanlah bertujuan untuk mempermuliakan Allah dan menghadirkan kasihNya. Jadi model teologi vertikalis pada prinsipnya merupakan suatu keyakinan dogmatis yang berupaya mengubah esensi iman yang mempermuliakan Allah dengan suatu tindakan yang melecehkan kemuliaan Allah.
Sebenarnya para penganut teologi vertikalis juga mengenal dan mempraktekkan “kasih persaudaraan”. Tetapi kasih persaudaraan yang mereka maksudkan hanyalah sebatas persaudaraan di lingkungan internal mereka saja. Kasih yang mereka maksudkan bukanlah kasih yang universal, yaitu kasih yang tertuju kepada setiap orang tanpa memandang keyakinan, agama dan suku atau bangsa. dalam surat Ibrani memberi nasihat: “Peliharalah kasih persaudaraan!” (Ibr. 13:1). Tetapi kasih persaudaraan yang dimaksudkan oleh penulis surat Ibrani ternyata tidak eksklusif dan terbatas hanya kepada suatu lingkungan internal jemaat Kristen saja. Sebab di Ibr. 13:2 firman Tuhan berkata: “Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat”. Pemberian tumpangan yang dimaksudkan dalam Ibr. 13:2 ternyata bukan hanya ditujukan kepada orang-orang yang kita telah kenal, tetapi justru diingatkan agar kita mau peduli dengan orang-orang asing yang membutuhkan pertolongan. Di Kej. 18:1-15 disaksikan bagaimana sikap Abraham yang menunjukkan kemurahan hati dan keramahannya saat dia menyambut 3 orang tamu asing di kemahnya. Abraham segera menyediakan makanan dan minuman kepada para tamunya serta membasuh kaki mereka. Akhirnya diketahui oleh Abraham bahwa ketiga orang tamunya itu sesungguhnya adalah para malaikat Tuhan. Tradisi dari kisah Abraham ini menyampaikan suatu pesan teologis bahwa Allah kadang-kadang menyatakan diriNya sebagai tamu-tamu asing yang hadir di tengah-tengah kehidupan kita.
Dalam Perjanjian Baru (PB), kerendahan hati adalah merasa tidak berdaya seperti “anak-anak” (Mat. 18:4); tidak mempertahankan kedudukan (Flp. 2:8-9); tidak merendahkan martabat orang lain (Luk. 14:11; 18:4). Dengan demikian kerendahan hati adalah bersikap ramah, terbuka, tidak sombong/tinggi hati, mampu menghargai martabat dan kelebihan orang lain, dan mudah menyesuaikan diri. Kerendahan hati seperti ini berkenan kepada Allah (Ef. 4:2). Itulah sebabnya mengapa dalam Yakobus 4:6b dikatakan, bahwa “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”
Dalam Filipi 2:7 Paulus menggunakan istilah “kenosis” (pengosongan diri atau pengingkaran diri dari segala arogansi insani). Menurut Paulus, Yesus telah mengosongkan dirinya. Ia menerima rupa seorang hamba. Merendahkan diri dan mati. Ketakjuban Paulus akan pengorbanan Kristus di kayu salib telah melenyapkan segala bentuk kesombongan dirinya.

Hidup dengan kerendahan hati justru akan membuat seseorang lebih menghargai dirinya dan bebas dari perangkap kesombongan. Dengan bersikap rendah hati orang dapat menerima dan menghargai dirinya serta menghargai orang lain, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jika kita menginginkan kehidupan bersama kita lebih baik, mulailah melakukan perubahan dari diri kita lebih dulu. Kita dapat melakukan sesuatu yang baik bagi orang lain, ketika kita sudah mengalami pembaharuan hati, pikiran dan tindakan kita. Itulah transformasi kehidupan yang seutuhnya. Karena kita harus mengubah dunia ini menjadi lebih baik, dengan kerendahan hati. Mulailah dari diri kita. Memang bukan hal yang mudah, tetapi sangat mungkin untuk dilakukan.....jadi, bagaimana dengan kita...???!!!
Kerendahan Hati
1 Petrus 5:5
Orang percaya hendaknya menunjukkan sikap rendah hati dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu diperlukan usaha untuk mencari sikap rendah hati ini [Zef 2:3]. Namun ada juga orang sombong yang berpura-pura menjadi rendah hati [Kol 2:18]. Paulus menuliskan hal ini dalam sikap rendah hati yang sejati, yaitu untuk meninggikan orang lain [2 Kor 11:7].
Surat yang ditulis Paulus kepada Filemon, salah seorang anak rohaninya mencatat nasihat-nasihat Paulus yang meminta dengan kerendahan hati bukan dengan menggunakan perintah dan kedudukannya [Flm 1:8-9]. Orang yang lebih tua hendaknya hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan [Tit 2:2].
Tinggi hati mendahului kehancuran, namun kerendahan hati mendahului kehormatan. Allah menghormati setiap orang yang rendah hati dan takut akan Dia [Ams 18:12; 22:4]. Bukanlah hal yang mudah untuk memiliki sikap rendah hati dalam kehidupan kita. Oleh sebab itu carilah sikap rendah hati untuk diterapkan di dalam kehidupan kita.
Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian. Amsal 29:23
TAK ADA PAKAIAN YANG LEBIH PANTAS BAGI ANAK ALLAH
SELAIN JUBAH KERENDAHAN HATI

Tidak ada komentar: