Rabu, 02 Maret 2011

"Mengenal Kasih"

Mengenal Kasih Berdasarkan 1 Korintus 13:1-13
Khotbah Keb. R. Tangga GKPI Rw. Lumbu
10 Maret 2011

Dalam I Kor 13 tercatat beberapa prinsip kesempurnaan kasih yang memperkaya. Ayat 1-3 diawali dengan, “Sekalipun aku…” Artinya, sekalipun mempunyai banyak karunia, hikmat, materi dan berbagai hal yang layak dipersembahkan bagi pekerjaan Tuhan seperti jemaat Korintus, tetapi tanpa kasih maka semuanya sia-sia belaka dan tidak berguna karena tak ada lagi yang dapat dibanggakan selain diri sendiri. Sedangkan egoisme hanya akan menimbulkan kompetisi tak sehat yang sa¬ngat berbahaya dan tidak memuliakan Tuhan.
Paulus mengatakan, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (I Kor 13:1). Dalam I Kor 12 dan 14, ia membahas betapa banyaknya jemaat yang berbahasa roh. Namun dalam I Kor 14:23 secara khusus ia mengkritik, “Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?” Pemakaian bahasa tersebut justru membuat keributan dan bukan keteraturan dalam ibadah. Kadangkala, bahasa roh juga dimanipulasi dan direkayasa sedemikian rupa. Padahal Paulus telah menegaskan, “Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya. Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya” (I Kor 12:10-11; 14:13). Ayat inipun seringkali disalahartikan. Akibatnya, terjadi pemalsuan karena orang yang berbahasa roh sekaligus menterjemahkannya. Kekristenan percaya bahwa bahasa tersebut ada tetapi tidak mudah mempercayai mereka yang mengaku memilikinya karena Yohanes pernah mengatakan, “Saudara- saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah” (I Yoh 4:1). Paulus juga memberikan pengertian yang benar tentang bahasa roh karena jemaat Korintus memiliki tendency untuk melebih-lebihkan karunia tersebut. Selain itu, mereka cenderung menganggap diri lebih rohani daripada orang lain. Maka terjadilah perpecahan, “Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus” (I Kor 1:12).

Ada 3 aspek yang dipaparkan oleh Paulus dalam I Kor 13:4-8:

Pertama, kasih membangun kualitas dan kualifikasi orang Kristen secara pribadi hingga memancarkan kasih Kristus. Kasih yang pertama adalah cintakasih Kristus yang menyentuh hati dan kehidupan manusia. Paulus menegaskan, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.” Namun dunia yang semakin materialis, egois dan individual telah menurunkan kadar kasih Kristen. Paulus pernah mengingatkan tentang keadaan manusia pada akhir jaman dalam 2 Tim 3:2, “Manusia akan mencintai dirinya sendiri.” Jikalau Gereja tidak memperhatikan dengan baik maka tanpa disadari telah menggenapinya.
Kedua, kasih membangun kualitas relasi dengan sesama antara lain sikap, interaksi dan komunikasi. Paulus mengajarkan, “Ia tidak melakukan yang tidak sopan”. Selama bersosialisasi, setiap orang Kristen seharusnya berusaha agar ucapannya tidak terkesan kasar dan latar belakang karakternya tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan diri. Sebaliknya, ia harus mengerti perasaan sesamanya sehingga komunitas Kristen tidak saling menjatuhkan melainkan mendukung karena, “Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.”
Ketiga, kasih membangun kualitas penyelesaian masalah. Paulus mengajarkan, “Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Hidup menggereja pasti ada masalah hingga menimbulkan cekcok karena manusia memiliki kelemahan. Maka pihak yang bertengkar harus dipertemukan untuk mencari solusi. Setelah saling mengakui dan memaafkan, mereka diharapkan untuk tidak mengungkitnya kembali agar tidak berkembang hingga menghancurkan Gereja. Memang lidah tak bertulang tapi dapat dikendalikan oleh kasih.
Keempat, kasih itu kekal. Paulus mengatakan, “Nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” Sedangkan kasih adalah pola kehidupan surgawi. Karena itu, ia melanjutkan, “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal” (I Kor 13:12). Dengan kata lain, di hadapan Tuhan tak ada yang tersembunyi dan semua orang akan saling terbuka.
Seorang penafsir Alkitab, gembala sekaligus pengkhotbah dengan preaching yang mantap bernama Warren William W. mengatakan: (1)Tritunggal adalah dasar kehidupan Gereja; (2)Firman adalah makanan rohani umat Tuhan; (3)doa adalah nafas hidup Gereja; (4)cintakasih adalah peredaran darah dalam tubuh Kristus. Dengan kata lain, kasih adalah fellowship yang menghangatkan suasana Gereja.
Salah satu sifat utama Allah adalah kasih. Allah pun ingin kita sebagai anak-anak-Nya juga memiliki kasih seperti yang diajarkan-Nya melalui Rasul Paulus. Ada banyak syarat yang harus dipenuhi supaya kita bisa memiliki kasih yang benar. Amen

Tidak ada komentar: