Sabtu, 13 Juli 2013

"HIKMAT YANG BENAR" 1 Raja2 3: 4-15

Apa itu Hikmat, sehingga Alkitab berkata ia begitu penting? Ada Tiga pengertian hikmat dalam Alkitab, yaitu pengertian secara Teknis, pengertian secara Intelektual dan pengertian secara Rohani. Secara Teknis, hikmat adalah keahlian yang dikaruniakan Allah untuk mengerjakan sesuatu dengan sempurna (Kel 31:3) Talenta, keunggulan, dan keahlian sdr terhadap sesuatu, adalah Hikmat yang dikaruniakan Allah kepada sdr, dan dengan mengembangkannya, sdr akan terkejut bahwa ternyata sdr bisa berhasil. Coba tanyakan Michael Jackson, mengapa ia benar-benar berhasil menjadi “The King Of Pop?” Ia menjawab pertanyaan ini dalam ruang wawancara, bahwa ia berhasil karena ia menyadari, menghargai, mengembangkan, dan mengunakan talenta dan keahliannya. Coba tukarkan peran Michael Jackson dengan Pdt. Jhon Simarangkir, M.Th. Mintalah Jackson untuk berkhotbah, dan biarkan Jhon bernyanyi serta menari di panggung. Bisakah keduanya benar-benar berhasil??? belum tentu! Mengapa? Jawabanya adalah: Karena itu bukan keahliannya. Hikmat adalah keahlian yang dikaruniakan Tuhan kepada seseorang. Dan semua orang memiliki jenis hikmat ini. Itulah sebabnya entah orang berdosa atau orang kudus bisa berhasil jika ia menggunakan talenta dan keahliannya. Tuhan telah memberikan talenta dan keahlian kepada tiap-tiap orang, sesuai kemampuan kita masing-masing. Persoalannya adalah apakah kita menyadarinya, mengharagainya, mengembangkannya dan menggunakannya? Tanyakan diri Anda sendiri! Secara Intelektual, hikmat adalah kemampuan menyusun rencana yang benar dan cara yang tepat untuk memperoleh hasil yang dikehendaki (Kej 41:39). Jenis kemampuan ini disebut kebijaksanaan. Suatu hari, Ayah meminta saya untuk memasukan tempat tidur yang besar ke kamar tamu. Lalu saya mengajak teman untuk membantu memindahkan benda tersebut. Kami mengangkat tempat tidur itu dengan santai karena ringan. Namun saat kami ingin memasukannya ke dalam kamar, ternyata kami kesulitan. Pintu kamar terlalu sempit sehingga benda itu tidak bisa masuk. Kami tegang memegang tempat tidur itu, hingga kami lelah dan kami melepaskannya di bawah. Melihat tempat tidur itu belum dipindahkan, Ayah berkata: “Mengapa belum juga dipindahkan?” saya menjelaskan bahwa: “Pintu kamar itu terlalu kecil, sehingga tempat tidur besar ini tidak bisa masuk” Lalu Ayah saya berkata: “Oke, sekarang coba lagi”. Sekali lagi kami menggotong benda itu dan kami mendekatkannya ke pintu kamar. Setelah itu Ayah berkata, caranya miringkan tempat tidur itu dan masukan terlebih dahulu kaki tempat tidur itu, kami mengikuti petunjuknya, dan tempat tidur itu berhasil dimasukan ke dalam kamar melalui pintu yang sempit. Mengapa benda yang besar itu bisa masuk melalui pintu yang sempit? Jawabannya adalah: Karena kami menggunakan cara. Hikmat adalah kemampuan menyusun cara untuk memperoleh hasil yang dikehendaki. Persoalan seringkali kita menunda untuk melakukan sesuatu yang membaikkan hidup kita ialah, karena kita kekurangan hikmat. Kita tidak tahu bagaimana caranya. Namun dengan kebijaksanaan, kita bisa berhasil. Secara Rohani: Hikmat adalah pengetahuan yang dikaruniakan Allah (1 Kor 12: 8) untuk mengenal Allah dan menyelami karya Allah di dalam diri kita (1 Kor 1:20,21, Ef 1:17); untuk memecahkan persoalan yang rumit, yang supranatural dan yang tidak dapat terselami oleh akal manusia (Kej 40-41; 1 Raja 3; Dan 2,) Suatu hal yang seringkali membuat kita kalah, gagal, rugi, kecewa, ialah bahwa kita tidak tahu apa yang Allah mau kita lakukan di antara setumpuk hal yang kita anggap baik. Hikmat adalah pengetahuan tentang apa yang Allah mau untuk kita lakukan. Hal ini termasuk suatu karunia, yang boleh dimiliki oleh semua orang, tetapi tidak semua orang telah memilikinya. Manusia memerlukan hikmat untuk dapat mengenal Penciptanya dengan benar (Ef 1:17), untuk dapat mengerjakan sesuatu seperti yang Tuhan mau (Kel 31: 3) dan untuk mengambil keputusan-keputusan yang tepat dalam situasi yang sulit (I Raj” 3:9, 24). Firman Tuhan memberitahu kita bahwa hikmat bukan hanya bagian yangbaik bagi kehidupan, melainkan Hikmat adalah bagian yang terpenting dalam kehidupan. “Memperoleh hikmat, sungguh jauh melebihi memperoleh emas dan memperoleh pengertian, jauh lebih berharga dari pada mendapatkan perak.”(Ams 16:16) “Untuk gantinya tidak dapat diberikan emas murni dan harganya tidak dapat ditimbang dengan perak. Ia tidak dapat dinilai dengan emas Ofir, ataupun dengan permata krisopras yang mahal atau dengan permata lazurit, tidak dapat diimbangi oleh emas atau kaca, ataupun ditukar dengan permata dari emas tua. Baik gewang, baik hablur, tidak terhitung lagi. Memiliki hikmat adalah lebih baik dari pada mutiara.” (Ayub 28:15-18) Dengan hikmat seorang budak bisa menjadi orang berhasil,(Yusuf) dengan hikmat seorang pemuda bisa menjadi pemimpin,(Daniel) dengan hikmat seorang kanak-kanak bisa mengajar para ahli (Yesus), dan dengan hikmat satu orang bisa mengatur jutaan orang (Salomo), sebab itu “Yang terpenting untuk berhasil ialah Hikmat” Pertanyaan yang penting sekarang adalah: Bagaimana Sayamemperoleh Hikmat? Ada 4 cara agar kita memperoleh Hikmat Allah: Pertama, Yak 1:5 “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah…” Jadi cara pertama untuk memperoleh hikmat ialah, dengan meminta kepada Allah. “Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian”(Ams 2:6). Rasul Paulus berdoa kepada Allah dan meminta, agar Allah memberikan hikmat kepada jemaat di Efesus (Ef 1:16-17), Salomo berdoa dan meminta Hikmat dari Allah, dan Allah memberikan hikmat kepada Salomo (I Raj” 3:9). Kita perlu memintanya dari Allah, karena Dialah sumber segala hikmat. (Khusus untuk Jhon) Kita boleh, untuk mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan, tetapi untuk memperoleh hikmat, kita perlu merendahkan hati, dan memintanya dari Allah. Berdoalah dan minta hikmat dari Tuhan. Karena dengan hikmat kita tahu cara,untuk menggunakan ilmu pengetahuan kita. Kedua, Ayub 28:28 “Tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya takut akan Tuhan ialah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi” Cara kedua untuk memperoleh hikmat ialah takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan ialah menghormati Tuhan, dan menjauhi kejahatan. Orang saleh dalam Alkitab, seperti Henokh, Nuh, Ayub, mereka dapat menjauhi kejahatan, bukan karena mereka hebat, melainkan karena mereka punya hubungan yang dekat dengan Allah. Itulah sebabnya mereka punya rasa hormat yang besar kepada Allah, sehingga walaupun semua orang berbuat jahat, mereka tetap berkata “Tidak” terhadap kejahatan. Inilah yang disebut takut akan Tuhan. Maz 25:12 berkata: “Siapa orang yang takut akan Tuhan, kepadanya Tuhan menunjukkan jalan yang harus dipilihnya” dan Maz 25:14 berkata: “Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka” Ketiga, Dan 6: 11 “Demi didengarnya Daniel, bahwa surat perintah itu telah di buat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya, ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa dan memuji Allahnya, Seperti yang biasa dilakukannya” Cara ketiga untuk memperoleh hikmat ialah, dengan terbiasa sujud menyembah Allah dalam doa dan penyembahan. Daniel biasa berlutut, berdoa, dan memuji menyembah Allah tiga kali sehari, dan Allah memberikan hikmat kepada Daniel, sehingga ia sepuluh kali lebih cerdas dari semua orang berilmu (Dan 1:20). Semakin sering kita sujud menyembah di hadapan Tuhan, dalam doa dan pujian penyembahan, wawasan kita tentang Allah akan semakin diperluas. Allah akan membuka rahasia-rahasia-Nya kepada kita, sehingga kita akan menjadi orang yang cerdas dan berhikmat. Orang-orang yang bersekutu dengan Allah dalam doa dan penyembahan, biasanya tahu apa yang tidak dapat diajarkan oleh ilmu pengetahuan. Mereka bisa tahu kita sedang bermasalah, mereka bisa tahu kita sedang susah, bahkan mereka bisa tahu kalau kita sedang berdosa. Mengapa? Karena Allah yang memberitahukannya kepada mereka. Selain Yesus, hamba-hamba-Nya Allah, seperti Musa, Yeremia, Yesaya, mereka bisa memberitahu apa yang akan terjadi di masa depan, karena mereka suka bersekutu dengan Allah. Melalui Doa dan Pujian penyembahan kepada Allah, suara kita semakin terdengar di Sorga, sehingga Allah menjadi karib dengan kita, dan pengetahuan-pengetahuan-Nya, diberikan-Nya kepada kita. Sisihkanlah menit-menit Anda untuk sujud menyembah Tuhan dalam doa dan pujian, maka engkau akan terkejut mendapati dirimu lebih cerdas dari orang lain. Keempat, “Aku lebih berakal budi dari semua pengajarku, sebab peringatan-peringatanmu kurenungkan. Aku lebih mengerti dari orang-orang tua sebab aku memegang titah-titah-Mu” (Maz 119: 99-100) Cara Keempat untuk memperoleh Hikmat ialah dengan membaca danmerenungkan Firman Allah. Daud berkata: “Aku lebih berakal budi dan aku lebih mengerti, sebab aku merenungkan peringatan-peringatan-Mu dan memegang titah-titah-Mu” Daud mempelajari Firman Allah, dan menjadikannya sebagai isi pikirannya, serta gaya hidupnya. Allah telah mengilhami orang-orang-Nya yang Ia pilih melalui Roh Kudus, untuk menuliskan kepada kita Apa yang Allah mau di dalam Alkitab. Alkitab adalah Firman Allah, yang memberitahu kita mengapa kita hidup,bagaimana kehidupan berjalan, apa yang harus dihindari dan apa yang akan terjadi pada masa depan. Dengan membaca dan merenungkan Firman Allah, kita akan tahu Peta perjalanan hidup kita, sehingga kita tidak tersesat. Daud memuji Firman Allah dengan berkata: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Maz 119:105) Ketika Yosua menerima tanggung jawab untuk memimpin bangsa Israel memasuki tanah Kanaan, perintah penting yang tidak boleh ia abaikan ialah: “Janganlah engkau lupa memperkatakan Taurat itu siang dan malam, tetapi renungkanlah itu siang dan malam” Allah mengerti bahwa dengan membaca dan merenungkan Firman-Nya, manusia akan tahu apa yang harus ia perbuat. Selanjutnya dari ayat ini berkata: “ Supaya engkau bertindak hati-hati.” Bertindak hati-hati, dalam bahasa asli yaitu Ibrani, juga mengandung arti supaya engkau bertindak dengan bijaksana. Jadi dengan mempelajari dan merenungkan Firman Tuhan, seseorang dapat bertindak dengan hikmat dan kebijaksanaan. Kalimat selanjutnya dari ayat ini berkata: “Dengan demikian, perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung” Hikmat akan menjadikan seseorang berhasil. Itulah sebabnya Pengkhotbah 10:10 berkata:“Yang terpenting untuk berhasil ialah Himat” Buatlah suatu komitmen untuk mempelajari dan merenungkan Firman Tuhan. Belajarlah untuk mengucapkannya atau menjelaskannya kepada orang lain karena itu akan menolong Anda supaya Anda tidak lupa. Semakin banyak Anda mempelajari Firman Tuhan, wawasan Anda akan bertambah tentang carakerja Allah, prinsip-prinsip Allah, dan agenda-agenda-Nya, sehingga Anda dapat bertindak sesuai apa yang tertulis dengan penuh kebijaksanaan.Amin

Minggu, 07 Juli 2013

Khotbah Minggu 14 Juli 2013 I Raja raja 3 : 4 - 14 Thema : Hati yang penuh Hikmat

Pengantar: Nats ini berbicara tentang penampakan diri Allah kepada Salomo yang terjadi di Gibeon. Di situ addalah tempat yang paling besar, berupa bukit pengorbanan yang sering dipergunakan untuk mempersembahkan kurban bagi Allah. Bahkan tempat itu sanggup menampung seribu korban bakaran yang dipersembahkan Salomo kepada allah. Allah menampakkan diri kepada Salomo melalui mimpi ketika dia sedang tertidur. Allah menampakkan diri kepada Salomo dan memberitahukan bahwa Allah akan mengabulkan permintaannya. Sebuah kesempatan yang sebenarnya bisa disalahgunakan oleh Salomo. Dia bisa saja meminta kekayaan kepada Allah, tetapi dia tidak memintanya, yang dia minta hanyalah hati yang bisa menimbang perkara untuk menghakimi umatNya dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat. Apa yang diminta salomo adalah hal yang kelihatannya sangat sederhana tetapi memiliki kesan yang amat dalam. Didalam Amsal 1 : 7,dikatakan: Takut akan Tuhan adalah permulaan dari pengetahuan,tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. Didalam perjanjian lama kata hikmat adalah Khokhma yang artinya : Bijaksana, pintar yang datangnya dari pada Allah. Orang yang menerima hikmat yang datangnya dari pada Allah, mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak dikehendaki oleh Allah. Dan orang yang menerima hikmat itu sanggup melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah, dan menolak apa yang tidak dikehendaki oleh Allah. Berbeda dengan kepintaran yang datang nya dari dunia, hal itu tidak mimikirkan atau tidak memandang apa itu kehendak Allah atau tidak, yang penting cita cita mereka tercapai. Hikmat/kepintaran yang datangnya dari pada Tuhan menuntun orang kejalan yang benar yang diukehendaki oleh Tuhan, menyatakan keadilan dan kebenaran. Raja Salomo dikatakan sebagai Raja yang penuh hikmat pada waktu mengambil keputusan terhadap dua orang prempuan yang sedang melahirkan dalam satu kamar. Dimana Ibu yang satu pada waktu tidur menimpa bayinya sehingga meninggal,setelah itu dia menggantikannya dengan bayi Ibu yang satu lagi dimana bayinya itu hidup. Ibu yang bayinya hidup tidak menyaksikan hal itu karena dia tidur nyenyak. Setelah bangun pagi mereka bertengkar karena Ibu yang bayinya hidup melihat bayinya sudah ditukar oleh ibu yang didekatnya yaitu bayi yang sudah meninggal. Raja salomo mengambil keputusan yang tepat, penuh dengan kebijaksanaan siapa sebenarnya ibu bayi yang hidup dan siapa ibu bayi yang telah meninggal. Keterangan: Setelah Salomo menggantikan ayahnya Daud menjadi Raja,Tuhan menampakkan diri kepada Salomo dalam bentuk mimpi pada malam hari, berfirman Tuhan kepada Salomo mintalah apa yang kamu akan perlukan supaya kuberikan kepadamu ( ayat 5). Salomo boleh memilih apa saja, karena Tuhan tidak membatasi pilihan itu,Salomo boleh saja meminta untuk mengalahkan musuh musuhnya, atau meminta kekayaan, meminta umur panjang, meminta supaya dia dihormati bangsanya, dll, bisa saja diminta oleh Salomo. Tapi Salomo yang penuh hikmat kebijaksanaan sudah dapat membedakan apa yang dikehendaki oleh Tuhan dan apa yang tidak dikehendaki oleh Tuhan.Bagi orang orang yang tidak meminta hikmat kepada Tuhan, maka mereka pasti memilih apa yang dia perlukan seperti umur panjang, kekayaan, kehormatan ,dll. Salomo sudah tahu apa yang terbaik yang harus dilakukannya, sehingga ia memohon kepada Tuhan Hikmat kebijaksanaan supaya dia dapat memimpin bangsa Israel dengan baik sesuai dengan kehendak Tuhan, supaya Tuhan memberikan hati yang faham menimbang perkara perkara yang ada dengan dapat membedakan mana yang jahat dan mana yang baik. Pada zamansekarang ini sulit mencari orang yang ingin menjalankan kebenaran didalam hidupnya seperti Salomo terbukti didalam doa doa orang percaya yang selalu meminta kepada Tuhan umur panjang, kesehatan, rejeki, penyertaan Tuhan, tetapi tidak ada yang meminta “berikan aku hati supaya bisa membedakan mana yang dikehendaki oleh Tuhan dan yang tidak dikehendaki oleh Tuhan yang harus kujalankan didalam kehidupan ini. Jarang sekali orang meminta kepada Tuhan (dalam doa syafat ) meminta supaya aku jujur dan selalu adil sesuai dengan kehendak Tuhan. Salomo walaupun dia masih muda dan belum ber pengalaman, dia bukan meminta kebutuhan dunia tapi bagaimana dia bisa memimpin bangsa Israel dengan adil dan bijaksana . Ternyata permohonan salomo itu dikabulkan oleh Tuhan, Karena Tuhan sangat menyenangi permohonan Salomo,Tuhan mengatakan : Oleh karena Salomo telah memohon hikmat kepada Tuhan, bukan umur panjang atau kekayaan, melainkan pengertian untuk membuat suatu keputusan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, maka kuberikan kepadamu yang engkau minta yaitu hati yang penuh hikmat, dan juga apa yang tidak engkau minta yaitu : yaitu kekayaan, kemuliaan, umur panjang Kusediakan bagimu.Jadi yang paling penting adalah bagaimana supaya kita menerima hikmat dan kebijaksanaan dari Tuhan. Karena hikmat dunia ini sia sia, tidak bersedia membawa keselamatan kepada manusia. Filsafat mencari kebenaran tapi tidak akan pernah dapat. Kata “dewasa” banyak orang sudah lanjut usia tapi tidak menjamin dewasa didalam iman, yang menentukan dewasa dalam iman adalah orang orang yang bertumbuh dalam ajaran Kristus. Artinya kita sudah mengerti akan rahasia hikmat Allah, bukan dipahami akal manusia tapi menurut Yes 64 : 4 ; Hanya Tuhanlah yang dapat melakukan yang ajaib itu, bahkan Paulus mengatakan : O,alangkah dalamnya kekayaan,khikmat danpengetahuan Allah,Rom 11 : 33, 0leh Roh Kudus mengetahui semuanya itu,juga orang percaya yang sudah menerimaRoh Kudus. Rohlah yang bias mengerti dan memahami rencana pemikiran Allah sendiri bagiumatmanusia, sehingga roh orang percaya dapatmemperoleh dan menyelami hikmat pengertian,pengetahuan,dan pemikiran Allah karena sudah dituntun oleh roh Allah. Roh Allah dapat memenangkan orang percaya melawan kuasa dosa ,Roh Allah menuntun orang percaya kepada kepada hikmat Allah. Penutup: Seekor kucing keasyikan mengejar ekornya sendiri. Berputar-putar, dan berputar-putar lagi, berharap segera mendapati ekornya tertangkap. Ia pikir, ketika ia sudah mendapatkan ekornya, ia akan bahagia. Ia tidak akan khawatir kehilangan ekor, karena ia telah memegang ekornya. Padahal itu salah sama sekali! Berputar sampai pingsan pun ia takkan dapat menangkap ekornya. Ia hanya akan kelelahan. Dan sesungguhnya, bukankah tanpa dikejar pun, ekor itu selalu setia mengikutinya? Sadar atau tidak, kerap kali orang memakai waktu hidupnya untuk banyak mengejar kesuksesan, kekayaan, pengakuan, dan sebagainya, agar hidupnya bahagia. Segala upaya, waktu, dan energi, dicurahkannya untuk mengejar hal-hal itu. Padahal, itu sebenarnya adalah target hidup yang salah! Segala target yang tidak bernilai kekal, tidak layak kita kejar sedemikian rupa. Kita malah kehilangan target yang utama, yang Tuhan ingin agar kita raih dan miliki, supaya hidup kita berarti. Mari simak lagi, bagaimana Tuhan berkenan pada permintaan Salomo (ayat 10). Yakni, ketika Salomo meminta hikmat sebagai hal terpenting yang ia rindukan, bukan yang lain-lain (ayat 9). Dan, ketika target utama itu telah ia sasar, Tuhan ternyata menambahkan hal-hal lain yang Salomo perlukan, meski Salomo tidak memintanya (ayat 13). Tanpa perlu dikejar, Tuhan memberinya kekayaan, kemuliaan, umur panjang. Itu semua bonus! Sebab itu, kita diajar untuk tidak mengejar bonus, tetapi target utama: hikmat. Yakni, hati yang berpadanan dengan hati Tuhan. Mata yang melihat seperti mata Tuhan. Hidup yang berjalan sebagaimana Tuhan berjalan. Mari kenali pribadi Tuhan lebih intim. Dan, milikilah hikmat dari-Nya’. Amin Dari berbagai sumber

Khotbah Minggu 21 Juli 2013 Yohannes 15: 9-17

Pengantar: Bagian ini adalah perintah yang sangat sentral dalam kehidupan orang Kristen yaitu saling mengasihi. Sebelum Yesus naik ke atas kayu salib Ia berpesan pada murid-murid-Nya. Pesan ini kemudian menjadi identitas orang Kristen, yaitu orang-orang yang saling mengasihi. Kita diperintahkan untuk menjadi kudus karena berkaitan dengan Allah kita yang Kudus. Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal dan Roh Kudus untuk menguduskan kita. Kudus berarti kita menjadi murni, setia kepada Tuhan, sejati di hadapan Tuhan. Kudus berarti tidak mendua hati. Perintah untuk saling mengasihi dalam Injil dikaitkan dengan Sepuluh Perintah Allah. Ada seorang yang bertanya apa inti dari Torah, hukum Allah? Yesus menjawab, “Hendaklah engkau mengasihi Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap kekuatanmu, dengan segenap tubuhmu, hatimu, jiwamu dan kasihilah orang lain seperti dirimu sendiri.” Ini adalah dua perintah yang di dalamnya tergantung seluruh perintah Allah. Penjelasan: Di FirmanNya, Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi sesama kita. Sebatas mana kita harus mengasihi sesama kita? Ternyata Tuhan memberi target kepada kita bahwa kita harus mengasihi sesama kita sebagaimana Tuhan telah mengasihi kita semua. Untuk dapat mencapai target ini harus lahir dari benih Ilahi (1 Yohanes 5:3-4). Empat berkat yang di janjikan Tuhan kalau kita dapat mengasihi sesama seperti perintah Tuhan: 1. Kamu akan bersukacita (ayat 11). Setelah mengasihi sesama maka sukacita kita penuh. Sukacita yang bahasa Inggrisnya joy adalah berbeda dengan bahagia (yang bahasa Inggrisnya happiness). Happiness dapat kita buat, berasal dari luar, dan bersifat sementara, contohnya orang-orang yang mencari kebahagian dari dunia di club, bioskop, dll. Tetapi sukacita berasal dari dalam, merupakan buah Roh, dan berasal dari Tuhan. 2. Kamu akan menjadi sahabatNya (ayat 14). Setelah kita dapat mengasihi sesama maka kita bukan hanya hamba Tuhan lagi, tetapi kita juga menjadi sahabatNya. Sebagai sahabat Tuhan, kita menjadi makin sensitive mendengar suara Tuhan. Karena seperti pada umumnya seseorang memberitahukan isi hati dan rencananya pada sahabatnya, demikian juga dengan menjadi sahabat Tuhan, kita menjadi sensitive mengetahui hal-hal yang tidak di ketahui orang lain. 3. Kamu akan di panggil melayani Dia (ayat 16). Amanat agung Tuhan adalah agar kita pergi bertemu banyak orang dan mengabarkan Injil, untuk ini perlu terlebih dahulu kita mengasihi sesama. Tuhan tiga kali bertanya kepada Simon Petrus “Apakah kamu mengasihi Aku” sebelum Tuhan memerintahkan Petrus untuk mengembalakan domba-dombaNya. Ada tertulis bahwa apa yang kita perbuat untuk sesama yang paling hina, kita telah melakukannya untuk Tuhan, jadi mengasihi Tuhan berarti mengasihi sesama dan sebaliknya. Andai kata Petrus tidak mengiyakan bahwa dia mengasihi Tuhan maka Tuhan juga tidak akan memerintahkan Petrus untuk mengembalakan domba-dombahNya. Kalau kita belum mengasihi Tuhan atau sesama janganlah kita pelayanan karena itu hanya akan merusak domba-domba Tuhan. 4. Kamu akan di berkati untuk memberkati (ayat 16) Buah dinikmati oleh orang lain bukan yang menghasilkannya, contohnya buah mangga dinikmati oleh orang lain bukan oleh pohon mangga itu sendiri. Setelah mengasihi sesama kita akan mengasilkan buah yang dapat dinikmati orang lain. Orang hidup adalah untuk orang lain, Agustinus dengan radikal dan sangat berani mengatakan, “Jika engkau terus bertanya kehendak Tuhan apa, apakah ini boleh atau tidak, maka kasihilah dan lakukan yang engkau mau. Allah pasti berkenan.” Karena itu marilah kita semua saling mengasihi sesama kita dan menerima ke-empat berkat Tuhan. Tuhan Yesus memberkati. Amen. Dari berbagai sumber

Khotbah Minggu 28 Juli 2013 (2) Lukas 10: 25-37,

Pengantar: IBU TERESA DARI KALKUTA: SEBUAH TELADAN PEMBAWA DAN CERMIN KASIH ALLAH Dalam kehidupan yang konkrit dapat kita lihat dalam diri Ibu Teresa dari Kalkuta. Ia menerima panggilan Allah untuk melayani Dia dalam diri orang-orang yang termiskin dari para miskin pada tahun 1946 dengan cara yang sederhana, yaitu merawat orang yang sakit dan yang hampir mati yang ditemuinya di sepanjang jalan di Kalkuta. Walaupun sejak tahun 1944 (saat ia menjadi kepala sekolah) ia mengidap penyakit TBC, tetapi semangatnya tetap menyala untuk melayani Allah di atas segala sesuatu melalui orang-orang miskin. Ia melayani Yesus dalam diri kaum miskin, merawatnya, memberi makan dan pakaian, dan mengunjunginya. Ibu Teresa berkata, ”Yesus ingin menolong dengan berbagai hidup kita, kesepian kita, perjuangan kita, susah payah kita, kematian kita. Hanya dengan menjadi satu dengan kita, Dia telah menebus kita. Kita diperkenankan untuk berbuat yang sama: semua kesepian orang miskin, kemiskinan material dan spiritual mereka, semuanya harus ditebus, dan kita harus mengambil bagian, karena hanya dengan menjadi satu dengan mereka kita dapat menebus mereka, yakni dengan membawa Allah ke dalam kehidupan mereka dan membawa mereka kepada Allah.” Kita melihat dalam diri Ibu Teresia bahwa ia tumbuh dalam cinta kepada Yesus. Ia berkata, ”untuk melakukan hal ini kita harus terus mencintai dan mencintai, memberi dan memberi, hingga cinta itu melukai diri kita. Itulah jalan yang dilakukan Tuhan Yesus.” Renungan: Adalah Gabriel Marcell, filsuf berkebangsaan Perancis (1889-1997), yang meng-gambarkan berbagai tingkatan relasi antarmanusia. Pertama, kita menganggap orang itu sebagai “seseorang”. Entah siapa dia, kita tidak tahu. Dia asing bagi kita. Demikian juga sebaliknya, kita asing bagi dia, sehingga ada semacam perasaan untuk saling menjaga jarak. Kita melihatnya tetapi tidak berkomunikasi. Bertemu selintas, tidak meninggalkan kesan apa pun bagi masing-masing. Yang kedua, Marcell mencoba menggambarkan apa yang disebut sebagai “mereka”. Mereka adalah orang-orang yang saya butuhkan karena sesuatu. Mereka merupakan pusat infor-masi bagi saya, menjadi obyek untuk bertanya, untuk menda-patkan hal-hal yang saya butuhkan. Mereka menjadi obyek dan saya menjadi subjek. Saya berkomunikasi dengan mereka tetapi tidak memberikan kesan. Saya kontak dengan mereka dalam bahasa tetapi tetap merasa asing karena tidak punya kesan yang panjang, tidak punya relasi yang jelas. Ada kontak dalam bahasa, tetapi tidak dalam rasa. Mereka lebih dari sekadar apa yang kita sebut “seseorang” tadi. Namun kelebihan itu hanya dalam bidang komunikasi bahasa, bukan dalam kesan dan rasa. Mereka hanya objek, dan saya subjek. Yang ketiga: engkau. Ini lebih tinggi, ada keterbukaan antara aku dan dia. Artinya, saya siap untuk dikenal oleh dia, dan saya siap mengenal dia dengan segala risiko apa pun. Keterbukaan itu mem-buat kami bisa saling memahami. Dalam tingkatan ini ada komunikasi dua arah. Dia menjadikan hubungan saya dan dia menjadi hubungan yang disebut “kita”. Engkau dan aku sama-sama menikmati, sama-sama merasakan, sama-sama masuk di dalam pembicaraan di mana kita berdua terlibat dan di sanalah tercipta relasi sebagai sesama subjek. Jadi, saya subjek engkau subjek. Oleh karena itu, engkau akan menjadi pribadi yang dapat menjadi bagian hidupku. Dalam hidup kita menemukan relasi-relasi seperti ini. Kita berpapasan setiap hari dengan orang, tapi tidak mengenal dan tidak tahu aktivitasnya. Duduk sama-sama, tetapi asing, bahkan mungkin saling mencurigai. Itu relasi tahap pertama yang paling dasar dari relasi hidup manusia. Hanya basa-basi, tidak perduli apa yang dialami dan dirasakan dia. Betapa tragisnya suasana seperti ini. Patut kita renungkan, seperti apa kita berelasi. Jangan-jangan itu yang terjadi dalam kehidupan kita berjemaat. Orang di sekitar kita adalah orang yang tidak kita pedulikan. Hanya karena pola yang diciptakan dalam gereja maka orang bersalaman, say hello, sehingga pecahlah memang kekakuan. Gereja jadi kaku karena orang-orang yang berbakti asing satu sama lain. Waktu gereja memecah suasana kaku dan menciptakan suasana untuk ada satu relasi, maka ada jabat tangan. Orang-orang itu saya butuhkan untuk mengung-kapkan rasa kasih saya: selamat siang, selamat pagi. Saya puas waktu bisa mengucapkan selamat siang, karena saya bisa mengekspre-sikan kasih saya. Bodoh amat dia bisa menikmati itu apa tidak. Saya puas karena saya orang kaya, punya jabatan, mau mengucapkan selamat pagi kepada orang miskin untuk mengekspresikan kasih saya. Bodoh amat orang itu merasakan-nya apa tidak. Di sana terjadi komunikasi dalam bahasa tetapi tidak dalam rasa. Batin tidak ada kontak. Mudah mengatakan Oleh karena itu pertanyaan, si ahli Taurat tentang siapakah sesamaku (Lukas 10: 25-37), sangat penting kita pikirkan, jangan-jangan kita tidak mengerti siapa sesama kita. Kita berpikir dia sudah menjadi sesama kita, padahal belum. Siapakah sesamaku? Sesamaku adalah orang yang bisa terbuka dengan aku, mau mengenalku dan aku mau mengenalnya. Sesamaku adalah orang yang bisa berkomunikasi dengan aku di dalam dua arah, sehingga kami menjadi kita, menjadi satu. Sesamaku adalah mereka yang kuperlakukan sebagai subjek dan memperlakukan aku sebagai subjek sehingga tidak ada yang memperalat dan diperalat. Tidak mudah untuk bisa menempatkan orang di sekitar kita menjadi sesama. Perlu suatu kematangan, kejujuran, supaya kita bisa menghargai orang di sekitar kita. Ketika Tuhan mengatakan: “Cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri”, maknanya amat dalam, mengagumkan, terlebih jika kita lihat dari apa yang kita pahami tentang relasi tadi. Gereja bisa dengan mudah mengatakannya. Pendeta mudah mengkhotbahkannya, tetapi sulit melakukannya. Kita sering memperlakukan orang lain sebagai orang yang kita tidak kenal. Kita sering menjadikan mereka sebagi objek untuk mencari informasi memuaskan perasan kita. Tetapi mampukah kita menghargai orang-orang di sekitar kita, yang kita berikan derajat yang sama dengan diri kita: subjek dan subjek, sehingga kita bisa menghargai dia sebagai orang yang sama dengan kita? Siapakah sesama kita? Ijinkan saya memberikan tiga hal: Pertama, sesamaku adalah dia yang sama-sama denganku sebagai subjek. Posisi saya dan dia sama. Meski dia kaya dan saya miskin tidak jadi masalah. Pendeta dan jemaat, sama. Tidak berarti karena perbedaan jabatan atau posisi membuat relasi menjadi atas-bawah. Kedua, sesamaku adalah dia yang kuyakini sesuai dengan gambar dan rupa Allah (imagodei). Allah menciptakan saya menurut gambar dan rupa-Nya, maka orang di sekitarku pasti juga diciptakan Allah menurut gambar dan rupa-Nya. Kalau memang kita menganggap seluruh manusia adalah gambar dan rupa Allah, maka kita harus memperlakukan mereka sebagai sesama subjek. Yang ketiga, sesamaku itu adalah dia yang kukasihi, seperti aku mengasihi diriku sendiri. Karena saya sudah memperlakukan diri saya sebagai subjek dan dia subjek, maka saya akan coba merasakan di dalam hidup saya kalau saya melakukan sesuatu bagi dia. Berapa banyak orang merugikan orang lain, menindas orang lain untuk posisi-nya. Berapa orang berkompetisi dengan cara yang tidak etis. Kita menjadi egois, tidak lagi sempat memikirkan orang lain apalagi menyamakan dirinya seperti diri kita sendiri. Dunia ini akan tenteram aman nyaman lepas dari segala pergolakan dan pertikaian yang menghancurkan persatuan manusia kalau manusia bisa menghargai manusia yang lain sebagai sesamanya, dan kekristenan telah memberikan sumbangsih. Kiranya setiap orang Kristen yang punya anugerah, berkat, warisan firman Allah yang menyatakan: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, bisa mewujud nyatakannya di dunia ini, khususnya kita di Indonesia ini. Di tengah kerusuhan dan kekacauan kita bisa menunjukkan hal itu. Amen. Dari berbagai sumber

Khotbah Minggu 04 Agustus 2013 1Petrus 3:8-12

Pendahuluan: Kata persekutuan dari bahasa Yunani “KOINONIA” yang menekankan pada keeratan hubungan yang dilandasi kasih, serta kesepakatan dalam melakukan sesuatu pekerjaan. Jadi persekutuan yang sehat dan benar bukanlah mencari-cari perbedaan yang dapat menciptakan perselisihan atau pertengkaran, melainkan menerima perbedaan sebagai pintu terciptanya keberhasilan. Ciri-ciri persekutuan yang sehat dijelaskan berdasarkan 3M dibawah ini. 1. “Mengasihi” (I Petrus 3:8) - Karena kita telah disucikan dari dosa (I Petrus 1:22). - Membuat kita tidak berbuat dosa ( I Petrus 4:8). 2. “Memberkati” (I Petrus 3:9) - Itu adalah kasih karunia dari Allah (I Petrus 2:20). - Bukti ketaatan terhadap Allah (I Petrus 2:21). - Panggilan untuk menjadi berkat (I Petrus 3:9; Amsal 11:24). 3. “Mencari perdamaian” (I Petrus 3:11) - Menjaga lidah terhadap yang jahat (I Petrus 3:10). - Menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik (I Petrus 3:11). - Allah murka dengan kejahatan (I Petrus 3:12). Khotbah: "Persekutuan dan persaudaraan yang rukun adalah dambaan setiap orang di dunia ini. Bagaimanakah agar impian ini menjadi kenyataan? Persektuan dan persaudaraan ini terwujud jika kita memiliki nilai-nilai hidup seperti: Pertama, Seia sekata. Harus kita akui bahwa kita memiliki banyak latar belakang yang berbeda-beda menurut suku, bahasa dan adat istiadat, pendidikan, pekerjaan, cara berpikir dan sebagainya, namun kita harus benar-benar sehati, seia-sekata, supaya dapat hidup sebagai persekutuan yang mau mengerti satu dengan yang lain. Situasi yang demikian menggambarkan bahwa jemaat merupakan organ atau badan yang hidup, di mana terdapat berbagai-bagai anggota atau suatu badan yang sangat berlainan bentuknya dan sangat beraneka ragam fungsinya. Di dalam keberanekaragaman itu anggota-anggota dapat saling membantu dan saling mengisi satu sama lain. Tidak ada yang menganggap dirinya lebih berharga dan lebih tinggi. Baik Tuhan Yesus maupun rasul-rasul, sering menekankan kesatuan di dalam persekutuan. Tuhan Yesus dalam doaNya supaya "murid dan pengikutNya, menjadi satu“ (ut omnes unum sint). Rasul Paulus menggarisbawahi dalam surat kirimannya kepada jemaat di Roma, Korintus, dan Efesus, “meskipun anggota-anggota itu berlainan dan mempunyai talenta-talenta yang sangat berlainan, namun mereka tetap satu badan, satu organ yang hidup“. Kedua, seperasaan (sympathein=sama merasai sakit). Dalam satu organ yang hidup, bila tangan terluka, sesungguhnya tidak hanya tangan saja yang menderita, melainkan seluruh tubuh menderita kesakitan. Begitulah sifat organ yang hidup, di mana semua anggota ikut menderita apabila salah satu anggota mengalami kesakitan dan sama-sama bersukacita apabila salah satu anggota bersukaria (1Kor.12:26). Ketiga, mengasihi. Pusat atau azas hidup orang Kristen adalah kasih karena hakikat atau kesempurnaan Allah adalah mengasihi dunia. Kasih adalah sumber dari segala kebajikan. Kasih itu panjang sabar, kasih menjauhkan dengki, kasih tidak memegahkan diri dan tidak sombong dan sebagainya. Artinya kita diharapkan memiliki persekutuan dan persaudaraan yang rukun (bd.Mzm.133). Jika pada kita tidak ada kasih sudah barang tentu persaudaraan itu tidak dapat dinikmati. Keempat, penyayang. Sifat penyayang ini harus didasari atas kepenyayangan Tuhan kepada kita yang rela berkorban menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia. Kita juga harus mampu menyayangi suami-istri dan anak-anak, serta orang lain tanpa memandang suku, ras dan budaya. Kelima, rendah hati. Dengan rendah hati kita mampu mengalahkan kesombongan dan kecongkakan kita. Karena sifat kesobongan dan kecongkakan inilah yang sering merusak persekutuan dan persaudaraan di antara kita. Sifat rendah hati akan menjadikan persekutuan kita akan semakin indah dan bahagia. Kesimpulan: Dalam membangun persekutuan yang sehat, jika kita mengandalkan kekuatan atau kekayaan itu tidak akan membuahkan hasil apa-apa, tetapi jika kekuatan kuasa-Nya yang diandalkan, pasti berhasil. Sebagaimana dikatakan dalam Amsal 16:3, “Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu”. Amen.

Senin, 01 Juli 2013

Khotbah Kebaktian R. Tangga 04 Juli 2013. I RAJA-RAJA 19:19-21 "Elisa Mendapat Panggilan Sebagai Nabi" Pemimpin Melahirkan Pemimpin

Seseorang yang dipanggil untuk menjadi nabi selain Allah yang mengurapi dan menyertainya juga harus membayar mahal harga panggilannya kepada Allah, seperti harus hidup kudus dihadapan Allah, hanya menyampaikan suara kebenaran Allah walaupun resikonya adalah ancaman terhadap nyawanya, penolakan dari orang lain (umat Allah sendiri), tekanan secara fisik, batin, penganiayaan dan lain sebagainya. I. Elisa sebelum / pada saat dipanggil. 1. Elisa sedang sibuk bekerja (ay 19). Elisa dipanggil untuk melayani Tuhan pada waktu ia sedang sibuk bekerja, bukan pada waktu ia sedang menganggur / bermalas-malasan. Hal yang sama terjadi dengan Petrus, Andreas, Yohanes, dan Yakobus (Mat 4:18-22), dan juga dengan Matius (Mat 9:9 - ‘duduk’ di sini bukan bermalas-malasan, tetapi sedang bekerja, karena pemungut cukai ini sedang ‘duduk di rumah cukai’ Pada waktu melakukan pekerjaannya ia dipanggil oleh Allah. Bisnis tidaklah baik jika itu menghalangi kita untuk mendengar suara Allah Penerapan: Setiap saudara dipanggil untuk melayani Tuhan. Jangan ber-kata "Saya tidak ada waktu", atau "Saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya". Saudara harus memilih antara mengutamakan Tuhan / pelayanan atau mengutamakan pekerjaan / kesibukan dan menjadikannya sebagai ‘allah lain’ (bdk. Kel 20:3 - "Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu"). 2. Elisa adalah orang yang kaya. Dikatakan dalam ay 19 bahwa ia sedang membajak dengan ‘12 pasang lembu’, dan ini menunjukkan bahwa Elisa adalah orang yang kaya. Ini menunjukkan: kerajinannya. Sekalipun ia kaya tetapi ia sendiri ikut bekerja. pada waktu ia memenuhi panggilan Tuhan, ia kehilangan banyak harta duniawi. Luk 14:33 - "Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu". II. Panggilan terhadap Elisa. 1. Panggilan ini datang dari Tuhan, bukan dari Elia (ay 16). 2. Cara Elia memberikan panggilan adalah dengan melemparkan jubahnya. Ay 19b: "Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya". Jubah yang dimaksud adalah jubah nabi (bdk. Zakh 13:4 yang mengatakan bahwa nabi mempunyai ‘jubah berbulu’). = ‘Jubah nabi adalah tanda dari pekerjaan nabi’ (Keil). Karena itu, melemparkan jubah itu kepada atau ke atas Elisa merupakan suatu cara yang tepat / cocok dan berarti untuk menunjuknya pada jabatan nabi. ‘Pada waktu Elia naik ke surga, Elisa mendapatkan seluruh jubah itu’ 2Raja-raja 2:13 = Pelemparan jubah Elia kepada Elisa merupakan tanda bahwa ia harus ‘mengikutinya’, mula-mula sebagai pelayannya, dan akhirnya menjadi penggantinya. Karena itu, jubah itu menjadi milik Elisa sepenuhnya pada waktu ‘tuan’nya ‘diambil dari kepalanya’ (2Raja-raja 2:3,13)] - III. Tanggapan Elisa. 1. Elisa mengikuti Elia (ay 20a). Tidak diragukan lagi iapun telah lama mengeluh dan berdoa mengenai penurunan moral dari negaranya dan aib yang dilakukan terhadap Allahnya) - Karena itu pada waktu dipanggil, ia langsung mau. Ada banyak orang yang prihatin dengan keadaan kekristenan di Indonesia, tetapi tidak mau melayani. Ini prihatin yang omong kosong! 2. Elisa minta ijin untuk pulang dulu untuk mencium orang tuanya (ay 20b). Elia menjawab: "Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu" (ay 20c 3. Elisa menunjukkan bahwa ia mau melepaskan segala sesuatu, yaitu keluarga (ay 21 bdk. Mat 10:37), rumah dan pekerjaannya. a. Satu hal lagi yang diperdebatkan adalah: apakah akhirnya Elisa pamitan / mencium orang tuanya atau tidak? Ay 21 tidak menceritakan hal itu, sehingga ada penafsir yang beranggapan bahwa ia memang tidak jadi melakukan hal itu. Tetapi ada yang berpendapat bahwa ia melakukan hal itu, hanya tidak diceritakan oleh Kitab Suci. b. Reaksi orang tua Elisa. Kalau diasumsikan bahwa Elisa pamitan kepada orang tuanya, maka kelihatannya orang tuanya tidak menghalanginya. (= Celakalah orang tua yang berjuang, demi uang yang kotor, untuk mencegah anak mereka menerima panggilan untuk memberitakan Yesus kepada orang sebangsa mereka yang sedang menuju kepada kebinasaan, atau kepada orang kafir, karena mereka melihat bahwa hidup dari seorang penginjil yang sejati adalah suatu hidup yang relatif miskin, dan mereka lebih menginginkan bahwa ia mencari / menghasilkan uang dari pada menyelamatkan jiwa) c. Elisa menyembelih lembunya dan menggunakan bajaknya sebagai kayu api untuk memasak lembu itu (ay 21). adalah lebih penting untuk melihatnya sebagai suatu tindakan simbolis, pernyataan Elisa untuk membuang sepenuhnya panggilan / pekerjaan duniawinya. Mulai saat ini ia tidak memerlukannya lagi) Mungkin tindakan Elisa ini seperti tindakan John Sung yang membuang semua ijazahnya ke laut waktu ia memutuskan untuk memenuhi panggilan Tuhan untuk melayani Tuhan. Bandingkan dengan Petrus dkk. yang pada waktu dipanggil, hanya meninggalkan tetapi tidak menghancurkan peralatan menangkap ikan (Mat 4:18-22). Karena itu pada waktu Yesus mati, mereka kembali menjala ikan (Yoh 21:1-dst). d. Elisa menggunakan lembu ini untuk pesta perpisahan. Pada waktu Lewi / Matius dipanggil, ia juga mengadakan pesta perpisahan (Luk 5:29). e. Elisa menjadi pelayan Elia. Ay 21 akhir: ‘menjadi pelayannya’. Kesimpulan / penutup. Dalam bukunya 21 Hukum Kepemimpinan Sejati, John Maxwell menuliskan bahwa salah satu karakteristik penting dari seorang pemimpin yang kerap kali dilupakan adalah melahirkan pemimpin untuk masa depan. Banyak pemimpin begitu hebat sewaktu hidupnya. Sayangnya, ketika ia lengser atau meninggal, perjuangannya turut berhenti karena ia tidak memiliki penerus yang akan mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan. Ayat bacaan hari ini berkisah tentang bagaimana Elia, sang nabi besar, menyiapkan Elisa yang akan menjadi penggantinya. Ada dua hal yang Elia lakukan dalam proses ini. Pertama, ia memberikan otoritas dan kepercayaan kepada Elisa (ayat 19). Ia melemparkan jubah kenabiannya yang merupakan simbol otoritas kepada Elisa. Kedua, ia melatih Elisa dari bawah—sebagai pelayannya (ayat 21). Padahal menurut beberapa penafsir Alkitab, Elisa adalah orang kaya sebagaimana ditunjukkan dengan banyaknya ternak yang ia miliki. Namun, Elisa merendahkan diri dan “magang” sebagai pelayan Elia. Tampaknya Elia ingin menumbuhkan sikap melayani dalam diri Elisa sebelum kelak ia diresmikan menjadi seorang nabi. Apakah sdr adalah orangtua dalam keluarga? Apakah sdr seorang pemimpin dalam gereja atau komunitas sdr? Sadarilah bahwa sdr mengemban tanggung jawab untuk menyiapkan pemimpin selanjutnya. Mintalah hikmat dari Tuhan supaya sdr dapat menemukan calon penerus yang terbaik. Lalu, siapkan mereka dengan memberikan otoritas dan kepercayaan. Didiklah mereka melayani lebih dahulu sebelum sdr mewariskan tugas kepemimpinan kepada mereka. Waktu Elisa dipanggil, ia rela mengorbankan segala-galanya, dan ia pergi melayani Tuhan. Bagaimana dengan saudara? Ingat, jangan ‘mengubur talenta’ saudara! Amin. RHLT

Sabtu, 29 Juni 2013

"PRIA SEBAGAI IMAM DALAM KELUARGA" Ayat Pokok: 1 Petrus 3:1-2 [ I Raja-Raja 2:1, 3-4 ]. (II Samuel 7:12)

Pendahuluan: Sebutan “bapa” sangatlah familiar khususnya bagi kita yang telah terbiasa dengan pola hidup yang patriakhal. Dalam budaya patriakhal, seorang pria dewasa, lebih-lebih seorang pria yang berpengaruh dan cukup lanjut usia memiliki peran yang sangat menentukan bagi anggota keluarga dan orang-orang di lingkungannya. Sehingga dalam budaya patriakhal, peran seorang “bapa” dalam arti yang seluas-luasnya berada dalam posisi yang sangat tinggi (superior). Yang mana superiotas dan peran yang serba mendominasi dari para pria sering melemahkan dan melumpuhkan para wanita. Dalam pola pandang yang demikian, wanita sering dianggap mahluk yang lemah dan tidak berdaya. Padahal kini makin terbukti para wanita ternyata memiliki kemampuan yang tidak kalah dengan para pria. Mungkin zaman dahulu peran para pria sangat menentukan karena segala pekerjaan masih mengandalkan kekuatan otot secara manual. Tetapi pada masa kini di mana segala pekerjaan yang penting hampir telah dioperasikan dengan sistem komputer dan berbagai perangkat lunak lainnya, sebenarnya sekarang kita tidak terlalu membutuhkan kekuatan otot lagi. Semua jenis pekerjaan yang profesional atau pekerjaan sehari-hari hampir telah diganti dengan sistem teknologi yang canggih. Karena peran pria sebagai seorang “bapa” dianggap superior, maka para pria justru kehilangan kemampuan utamanya untuk memerankan “bapa” dalam arti yang positif dan konstruktif. Mereka tidak dapat memerankan fungsi atau perannya sebagai seorang bapa dengan penuh kasih. Akibatnya cukup banyak para bapa yang mudah menyakiti hati istri dan anak-anak mereka. Mereka menerapkan sikap otoriter dan kadang-kadang menggunakan cara yang keras untuk mengatur kehidupan keluarga atau orang-orang di tempat pekerjaannya. Makna peran seorang “bapa” sering diidentikkan dengan sikap “maskulin” yang konotasinya menunjuk sikap kelelakian yang kasar, tangguh, kejam dan selalu mampu memaksakan kehendak. Padahal arti seorang “bapa” tidaklah demikian. Karena dalam diri seorang “bapa” tersirat suatu model dari ketokohan yang dilandasi oleh kebijaksanaan, intelektualias dan keteladanan moral. Itu sebabnya gelar “bapa” dalam Alkitab kemudian dikenakan kepada sesuatu yang ilahi, yaitu Allah. Secara khusus dalam pengajaran Tuhan Yesus, Allah dipanggil dengan “bapa” (Abba). Banyak keluarga yang hancur akibat dari tidak menempatkan diri dalam posisi yang sebenarnya sehingga terjadi mis-komunikasi dalam satu rumah tangga. Hal ini juga dialami keluarga Kristen hingga ada yang berakibat berantakan karena suami ... Model keluarga Kristen, suami adalah kepala keluarga yang mempunyai otoritas terhadap istri dan anak-anaknya (Kej 3.16; 1 Tim 3.12; 1 Kort 11.3) The Saturday Evening Post pernah menerbitkan sebuah artikel berjudul “True Love”. Demikian petikannya: “Untuk membuktikan kesungguhan cintanya, seorang suami membuktikannya dengan berenang mengarungi sungai yang terdalam, melintasi gurun pasir yang terluas, dan mendaki gunung yang tertinggi. Tetapi apa hasilnya? Istrinya menceraikannya. Karena apa? Karena sang suami tidak pernah di rumah.” Sang Istri tidak merasakan “true love” dari suaminya. Tatkala Yosua bersama umat Israel menyeberangi Laut Teberau, melintasi gurun pasir, mengintai Kanaan, menyeberangi Sungai Yordan, bahkan sampai memasuki negeri Kanaan, semuanya itu, baik peristiwa besar maupun kecil, mereka tetap melihat Tuhan selalu hadir dan menyertai mereka. Mereka sungguh melihat “true love” Tuhan secara nyata. Inilah yang membedakan “true love” manusia dengan Allah. “True love” Allah sangat tidak terbatas oleh tempat dan waktu, sedangkan manusia sangat terbatas. Sungguh patutlah kita bersyukur. Demikianlah “true love” Allah sungguh nyata dalam kehadiranNya di tengah-tengah umatNya. Karena itu jugalah di akhir hidupnya, Yosua kembali menantang bangsa Israel untuk tetap menyembah Tuhan, “…pilihlah kepada siapa kamu akan beribadah hari ini. Tetapi, aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15) Petrus mengatakan pada suratnya dengan jelas memaparkan tugas dan tanggung jawab sebagai istri-suami sebagai keluarga Kristiani dimana dikatakan 1 Petr 3:1-2 Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu. Dan sebagai seorang suami juga dikatakan dengan jelas "Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang" (aya 7). Kebanyakan keluarga Kristen tidak lagi meletakkan firman Tuhan sebagai dasar yang kokoh bagi keutuhan keluarga mereka. A. Beberapa model keluarga pada zaman sekarang Sebelum kita melihat apa fungsi seorang pria sebagai imam di dalam kelauarganya, mari kita lihat terlebih dahulu beberapa model "kedudukan"pemerintahan yang ada di dalam keluarga Kristen dewasa ini. 1. Model garis lurus yaitu: model ini menyatakan suatu urutan otoritas dengan garis lurus; Otoritas tertinggi berada di tangan suami; otoritas kedua yang ada di bawah suami adalah istri; Istri mempunyai otoritas terhadap anak-anak, model ini biasanya terdapat pada keluarga di mana sang suami adalah orang yang super sibuk sehingga tanggungjawab pengurusan anak dilimpahkan sepenuhnya kepada istri. 2. Model persamaan hak dimana model ini menyatakan bahwa suami dan istri mempunyai kedudukan yang sama otoritasnya. Otoritas yang tertinggi berada di tangan suami dan istri. Anak-anak diurusi oleh siapa saja yang sempat dan model ini biasanya terdapat pada keluarga yang suami maupun istri sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. 3. Model penguasa tunggal; model ini menyatakan di mana suami mempunyai kedudukn dan otoritas tertinggi atas istri dan anak. Kedudukan istri tidak mempunyai otoritas apapun terhadap anak-anak. Ini terjadi bila seorang suami dikenal dengan sikap diktator, tidak ada yang boleh menentangnya, tidak anak tidak istri 1. 4. Model bertukar peran; di mana istri menggantikan perananan suami dengan memengang otoritas tertinggi atas suami dan anak. Suami kurang berperan tidak mempunyai otoritas apapun dan bahkan mengurusi rumah tangga, istri menjadi pencari nafkah. 5. Model Izebel, istri yang memang seluruh kendali atas suami, anak dan seisi rumah suami hanya tunduk kepada perintah istri demikian juga anak-anaknya. Ini biasa terjadi pada wanita karier yang lebih sukses dibandingkan suaminya. Model Yang Benar Model keluarga Kristen, suami adalah kepala keluarga yang mempunyai otoritas terhadap istri dan anak-anaknya (Kej 3.16; 1 Tim 3.12; 1 Kort 11.3), istri mewakili suami sebagaimana Kristus mewakili Allah dan suami mewakili Kristus. Suami juga bertanggungjawab atas anak-anaknya (Kol 3.21; Efs 6.4) istri mempunyai otoritas terhadap anak-anaknya sebagai seorang ibu ( Efs 6.1-20 dan model ini adalah model keluarga Kristen yang dikehendaki Tuhan. B. Peranan Suami Sebagai Imam dalam keluarga Ada 3 fungsi utama seorang imam, yaitu; 1. Mempersembahkan korban, korban yang dipersembahkan seorang imam adalah untuk dirinya sendiri dan seluruh jemaat, korban yang dipersembahkan untuk menguduskan dirinya dan seluruh jemaat. Di dalam lingkungan keluar, peranan seorang suami sebagai seorang imam dalam atau bagi keluarganya adalah menjaga kekudusan dirinya sendiri dan anak-anaknya 2. Menaikkan doa syafaat. Tugas seorang imam menaikkan doa syafaat kepada Tuhan untuk kepentingan umat Tuhan atau dikatakan bahwa ia menjadi penengah antara Tuhan dan umatNya dan juga penengah antara iblis dan anak-anakNya. Suami Kristen juga menjadi pendoa syafaat atau penengah bagi istri dan anak-anaknya. 3. Memberkati. Dimana suami Kristen harus memberkati umat Tuhan, demikian juga suami Kristen wajib memberkati dan menjadi berkat bagi keluarganya dengan cara melayani istri dan anak-anaknya dalam hal berkat materi dan berkat jiwani dan berkat batiniah bagi istri. Pdt. R.H.L. Tobing, S.Th.MA