Senin, 12 Desember 2011

"Mateus 5: 13-16 " “Mana Terangmu”..?

Khotbah Pada HUT Pemuda/I Gereja Kristus.

Garam dan Terang adalah 2 metafora yang juga digunakan untuk menggambarkan bagaimana seharusnya gereja (umat percaya) dapat bersuara menjadi saksi yang benar di tengah dunia. Dengan kata lain, agar gereja dapat terus menyuarakan kebenaran di tengah dunia, maka orang2 percaya di dalamnya terlebih dahulu harus rela digarami dan diterangi terlebih dahulu.
Khotbah Yesus
tentang garam dan terang dunia pada intinya menekankan bahwa Kristen tidak boleh hidup sebagai 'gated community' (masyarakat yang dipagari).
Kristen harus berbaur dengan masyarakat sebab
hanya Kristen yang dapat menjadi garam dan terang
dunia
. Apa artinya? Garam mempunyai beberapa manfaat: sebagai penyedap masakan, sebagai pupuk, dan yang paling utama sebagai pengawet makanan karena garam dapat memperlambat pembusukan. Itulah gambaran tentang peran Kristen dalam masyarakat. Kristen dipanggil untuk menjadi disinfektan moral dalam dunia yang standar moralnya sangat rendah, selalu berubah, bahkan tidak ada sama sekali. Namun apakah Kristen dapat kehilangan keefektifannya bagai garam kehilangan asinnya? Sesungguhnya garam tidak dapat kehilangan asinnya, namun garam zaman Yesus tidak dihasilkan dari air laut yang diuapkan, namun dari rawa-rawa, sehingga banyak mengandung kotoran.
Ketika garamnya larut, yang tertinggal hanyalah
kotoran. Jadi dengan ungkapan garam menjadi tawar,
Yesus ingin menegaskan bahwa Kristen dapat
berperan sebagai garam jika mereka tetap
mempertahankan norma-norma Kerajaan Allah di dalam
hidupnya, jika tidak ia hanya seperti kotoran sisa
garam.
Selain itu Kristen juga harus berperan sebagai terang
dunia. Dalam PL dan PB, terang hampir selalu
melambangkan kemurnian, kebenaran, wahyu, dan
kehadiran Allah. Hanya kehadiran Kristen yang
mampu melambangkan ketiga hal di atas dalam
masyarakat dan Kristen harus memancarkannya dimana
pun mereka berada (ayat 15). Bagaimana caranya?
Kristen harus memperlihatkan wujud perilaku apa
pun yang sesuai dengan kehendak Allah, walaupun
akibatnya mengundang penganiayaan atas dirinya
(ayat 10-12). Dengan cara itu masyarakat akan
disadarkan betapa berdosanya mereka.

Ayat 13 ”Kamu adalah garam dunia”
Fungsi garam: menyedapkan, mengawetkan dan mencegah pembusukan makanan. Supaya gereja dapat terus menggarami dunia dengan kebenaran maka orang2 kristen didalamnya terlebih dahulu harus mengalami digarami oleh kebenaran. Hidupnya harus terlebih dahulu menyedapkan hati Tuhan, awet dalam arti konsisten dalam ajaran kebenaran sehingga dengan demikian mampu menjadi garam yang melindungi gereja-Nya dari pembusukan.
Bagaimana garam bisa bekerja efektif mencegah terjadinya kebusukan dan kehancuran? Dengan mempertahankan keasinannya. Menurut ilmu kimia: garam (sodium klorida) adalah senyawa kimia yang bersifat stabil dan kebal terhadap hampir setiap serangan yang berusaha mengkontaminasinya. Namun jika ia tercemar atau tercampur oleh kotoran, maka tidak akan dapat dipergunakan lagi bahkan berbahaya dan merugikan. Garam hanya akan benar-benar bermanfaat apabila ia asin, dan bila sudah tercemar atau kehilangan keasinannya; maka, seperti kata Tuhan Yesus ia akan dibuang orang.
Garam yang dikenal pada zaman Tuhan Yesus terdiri dari semacam bongkahan debu putih (yang biasanya di ambil dari sekitar Laut Mati). Bongkahan debu putih itu disamping mengandum Sodium Klorida juga mengandung zat-zat lain. Biasanya orang melarutkan bongkahan debu putih itu dalam air bersih untuk mendapatkan Sodium Klorida yang rasanya asin itu. Untuk selanjutnya larutan SK tersebut digunakan untuk keperluan mengawetkan makanan, mencegah makan dari pembusukan dan untuk menyedapkan masakan.
Bagaimana dengan sisa bongkahan debu putih tadi? Kelihatannya masih seperti garam. Tapi rasa dan pengaruhnya bukan lagi seperti garam. Bongkahan debu putih itu sudah tidak ada gunanya lagi. Biasanya orang membuangnya dijalanan / halaman rumah.
Demikian pula orang percaya. Penting bagi kita untuk memelihara keasinan kristiani kita. Setiap kita harus mau memaksa diri untuk terus-menerus berjuang memelihara dedikasi sebagai murid Kristus, berjuang mengikut dan meneladani Kristus sehingga semakin lama makin menjadi serupa dengan Kristus. Jika kita menjadi serupa dengan dunia yang bobrok dengan segala pola pikirnya yang penuh dosa, maka itu berarti kita telah tercemar oleh kotoran dunia. Kita kehilangan keasinan kita dan itu berarti kita tidak ada nilai dan gunanya dalam keluarga Kerajaan Allah. Kita hanya sekedar onggokkan atau kumpulan dari bongkahan2 debu putih yang sudah tidak lagi ada gunanya.
Sudahkah kebenaran menggarami kehidupan kita? Gereja dipanggil untuk menjadi garam bagi dunia bukan membiarkan gereja digarami dunia. Bila justru membiarkan gereja yang digarami oleh dunia maka itu berarti orang2 percaya didalamnya masih belum digarami oleh kebenaran. Dan kalau itu terjadi maka iman tidak lagi akan murni. Charles Colson, pendiri Prison Fellowship Ministry mengatakan, di abad ini, iman telah menjadi semacam komoditi, dimana gereja berperan sebagai ritail outlet-nya. Kehadiran jemaat dalam setiap peribadatan, semata-mata untuk memenuhi kepuasan mereka. Alasan untuk datang ke gereja tidak lebih soal selera: selera terhadap khotbah, selera terhadap musik, selera terhadap nyanyian, selera terhadap orang-orang, dst. Bila tidak sesuai selera maka lebih baik tidak bergereja dan beribadah.
Mengapa hal ini terjadi? Karena mentalitas percaya sudah melenceng jauh dari kebenaran Firman Tuhan. Mentalitas yang digunakan adalah mentalitas ego yang pusatnya adalah kepuasan diri. Meskipun hal ini tidak serta merta diakui namun dalam kejujuran yang masih bisa muncul dari himpitan natur keberdosaan manusia hal ini adalah kenyataan yang sesungguhnya. Mentalitas sebagai konsumenlah yang menjadi pemicu fenomena ini. Sekali lagi Charles Colson menyebutnya sebagai mentalitas McChurch. Suatu mentalitas yang telah menjadikan gereja sebagai salah satu pemain dalam persaingan bisnis modern. Jemaat dimanjakan dengan produk2 pelayanan spiritual semisal urapan ilahi, doa pemulihan, kesembuhan ilahi hingga layanan SMS rohani yang ’dijual’ di TV bersaing dengan SMS para dukun dan paranormal lainnya termasuk bersaing juga dengan RBT ’Tak Gendong’ yang heboh itu. Fenomena ini berdampak pada krisis identitas gereja. Gereja sebagai simbol Kerajaan ALLAH berubah menjadi wadah pemenuhan kepuasan spiritual jemaat belaka. Survei yang dilakukan Business Week (majalah bisnis terkemuka USA disamping Fortune dan Forbes) menyebutkan angka penjualan buku di toko2 buku Kristen didominasi oleh buku2 yang terfokus pada penghargaan, kepuasaan, dan analisa pribadi, dimana rujukan utamanya adalah pengalaman hidup sang penulis.
Sebagai Hamba Tuhan saya sangat bergumul dengan kehidupan iman kristiani kita masa kini. Kadangkala saya heran mengapa banyak orang kristen tidak pernah mau sadar dengan perkataan Yesus dalam Lukas 18:8, ”Apabila Anak Manusia datang kedua kalinya, adakah Ia menemukan iman di bumi?.” Ini sama sekali tidak berarti bahwa Yesus mengucapkan Firman ini karena Ia tidak suka melihat ada banyak orang kristen di bumi, tidak suka jika ada banyak gereja dibumi. Tapi yang IA hendak tekankan disini adalah apakah iman yang dimiliki oleh orang2 kristen atau gereja adalah IMAN yang benar atau tidak? Mengapa? Karena Yesus tidak butuh orang2 kristen atau gereja2 yang ternyata hanya bongkahan2 dari debu putih yang keasinannya sudah tidak ada lagi. Ia pasti akan membuang orang2 kristen dan gereja yang demikian. Matius 7:21-23 adalah sebuah contoh yang kita harus selalu ingat. Siapa mereka? Orang2 kristen yang sukses melakukan mujizat, bernubuat, mengusir setan dalam nama Yesus. Tapi Tuhan Yesus justru menolak mereka pada akhir zaman!! Mengapa? Karena kebenaran tidak ada didalam diri mereka. Fungsi garam itu tidak ada dalam diri mereka. Bukannya mengawetkan / melestarikan ajaran kebenaran tetapi justru merusaknya dengan menjadikannya sebagai komoditi untuk memuaskan keinginan orang2 dan juga memuaskan diri mereka sendiri tentunya dengan keuntungan yang mereka dapat melaluinya. Maka Yesus bilang, ”Enyah kamu semua pembuat kejahatan. Aku tidak mengenal kamu!” Ini berarti bahwa mereka sebenarnya tidak lebih dari bongkahan2 debu putih yang sudah tidak asin lagi yang tidak ada gunanya selain dibuang dari hadapan Tuhan. Kita perlu hati-hati: jangan mudah tertipu dengan praktek2 yang menggunakan nama Yesus. Murnikan motivasi Saudara dalam mengikut dan melayani Tuhan. Jangan main2 dengan iman kita, dengan ibadah kita, dengan pelayanan kita, dengan ajaran kebenaran. Ini hanya mungkin jikalau kita sudah digarami oleh kebenaran terlebih dahulu. Sudahkah Saudara membiarkan kebenaran menggarami hidup Saudara?
Ayat 14-16 ”Kamu adalah Terang dunia”
Supaya gereja kita ini bisa terus menyuarakan kebenaran maka orang2 didalamnya harus terlebih dahulu mengalami terang Yesus. Dalam Yohanes 9:5 Yesus berkata, ”Akulah terang dunia.” Memiliki Yesus berarti memiliki Terang. Ini berarti agar kita dapat menjadi alat terang bagi-Nya; maka, kita harus memiliki Dia terlebih dahulu didalam hidup kita. Kita harus memastikan bahwa kekristenan kita itu sungguh asli bukan palsu, bukan sekedar ikut2an, bukan kristen cap KTP. Bila gereja dipenuhi dengan orang2 yang telah mengalami Terang Yesus; maka, gereja pasti mampu terus bersuara menyatakan kabar terang kepada dunia yang gelap oleh dosa ini. Jadi dalam pengertian ini; maka, pertanyaan terpenting yang pertama bukan lagi pada bagaimana menjadi terang tetapi sudahkah terang Yesus menerangi hidup kita? Ini harus jelas dan beres terlebih dulu dalam hidup kita. Membangun rumah harus dimulai dari fondasi. Fondasinya harus beres dan kokoh. Kalau tidak bangunan apapun diatasnya hanya tinggal tunggu waktu untuk rusak dan hancur.
Sayangnya, pada hari ini orang kristen sudah over praktis dalam memahami bagaimana menjadi terang dunia ini. Atas nama menarik jiwa kepada Yesus bukan lagi Injil/FT yang menjadi daya tarik utama. Tetapi menggunakan cara2 bisnis dan cara2 entertainment. Gereja menarik jiwa dengan memakai bintang idola yang karirnya sedang bersinar terang. Yesus bukan lagi menjadi daya tarik utama tetapi artis. Kita beri contoh soal baliho artis untuk ‘bisnis’ rohani. Di satu sisi, fenomena semacam ini merupakan fenomena yang wajar sebagai dampak dari upaya gereja menjawab tantangan perubahan zaman. Namun, di sisi lain, fenomena menjawab kebutuhan pasar ini menjadikan teologi gereja sebagai teologi yang bukan lagi berpusat kepada Allah tetapi berpusat kepada manusia dan tujuan-tujuan manusia.
Tetapi bukankah ini sama saja dengan perbuatan menghina Kristus Yesus yang rela mati bagi umat pilihan-Nya di kayu salib?? Harus pasang gambar artis baru orang berduyun-duyun datang? Karena kalau hanya pasang baliho dengan gambar Yesus atau Alkitab saja tidak cukup untuk menarik orang datang. Tapi kalau artis banyak yang datang. Mengapa? Karena inilah bisnis. Dan inilah yang membuat gereja tidak bisa memancarkan terang kebenaran Injil. Kecenderungan gereja untuk menjawab kebutuhan pasar dan selera orang telah menodai Injil. Gereja lebih berorientasi pada upaya membahagiakan jemaat, mengikuti dan memuaskan selera dan telinga jemaat dan bukan lagi membuat mereka kudus, hidup didalam terang ajaran kebenaran dan menghargai pelayanan. Ini yang membuat otoritas gereja hancur2an. Gereja kehilangan apa yang disebut dengan Discipleship dan Discipline. Hal ini terbukti dengan kesungguhan belajar FT / Alkitab yang sangat merosot bahkan ditinggalkan sama sekali mulai dari jemaat biasa hinggá aktifis dan majelis gereja. Kalau begitu apakah gereja akan memiliki masa depan yang baik? Apakah generasi yang akan datang akan mewarisi gereja yang baik dan sehat? Apakah gereja akan sanggup bertahan terhadap kuasa kegelapan duniawi? Apakah setiap keluarga umat Tuhan mempersembahkan hidup sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada Tuhan? Apakah para orang tua akan menjadi teladan yang mendidik dan menjaga anak-anaknya didalam ajaran FT yang benar? Akankah anggota-anggota gereja makin mengerti apa artinya berkurban bagi pekerjaan Tuhan? Silakan masing-masing kita menjawab dengan jujur dihadapan Allah!
Mari sebagai bagian dari umat Tuhan kita memiliki sikap dan pendirian yang teguh, tepat, tegas dan penuh kasih didalam kebenaran untuk menjadikan gereja Tuhan dimana kita berbagian didalamnya sebagai tempat dan alat Tuhan untuk terus menyuarakan kebenaran menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Maukah Saudara?....Amen RHL

"MADU SURGAWI"

"MADU SURGAWI"

"Pembinaan Cln Pnt GKPI"

Pelajaran 7 dan 8
Imamat
(Kitab Mengenai Kekudusan)

Penulis dan Judul Kitab: Yang menulis kita ini adalah Musa. Judul Imamat didapat dari Septuagintam dan bermakna “berhubungan dengan Orang-orang Lewi.” Orang-orang Lewi adalah para imam yang dipilih Allah untuk melayani bangsa Israel. Kitab Imamat berisi banyak hukum yang disampaikan Allah untuk menuntun mereka di dalam pekerjaan mereka sebagai para imam untuk menyembah Allah.
Tahun Penulisan: 1450–1410 S.M.
Tema dan Tujuan: Imamat 11:45 berbunyi, “Jadilah kudus, sebab Aku ini kudus”. Tuntunan-tuntunan yang diberikan di dalam kitab Imamat menunjukkan bahwa bangsa Israel harus berjalan di depan Allah pada saa itu. Imamat dibuat untuk mengajarkan Israel (1) bagaimana menyembah dan berjalan bersama Allah, dan (2) bagaimana bangsa tersebut harus memenuhi panggilannya sebagai bangsa para imam. Tema penting dari Imamat adalah kekudusan. Kekudusan adalah proses membuat seseorang menjadi kudus. Allah yang kudus hanya dapat dihampiri dengan kekudusan melalui meditasi seseorang imam.
Tokoh Penting: Musa dan Harun.
Kristus seperti yang Tergambar dalam Imamat: Sama dengan kitab Keluaran, sejumlah tipologi Kristus terlihat nyata di dalam kitab Imamat.
Ke-Lima Korban semuanya melambangkan kemanusiaan dan pekerjaan Kristus di dalam kehidupan-Nya yang tidak berdosa dan kepatuhan-Nya kepada Bapa, sehingga kita boleh bersekutu dengan Allah.
Imam Agung merupakan tipologi Kristus yang paling menonjol di dalam kitab Imamat.
Ke-Tujuh Perayaan juga merupakan tipologi dari Juruselamat, yang mengajarkan kita tentang kemanusiaan-Nya yang sempurna, pengorbanan-Nya, kebangkitan-Nya dari kematian, dan karya pendamaian-Nya.
Untuk di Pelajari: Garis Besar
1. Hukum Pengorbanan (1:1–17:16)
A. Untuk Mendekat kepada Allah (1:1–7:38)
1:1-17 4:1-35 6:8-30
2:1-16 5:1-19 7:1-38
3:1-17 6:1-7
B. Untuk Para Imam (8:1-10:20)
8:1-36 9:15-24
9:1-14 10:1-20
C. Mengenai Kemurnian (11:1–15:33)
11:1-12 13:1-59 15:1-33
11:13-47 14:1-32
12:1-8 14:33-57
D. Mengenai Pendamaian Bangsa (16:1–17:16)
16:1-28 16:29-34 17:1-16
2. Hukum Pengudusan (18:1–27:34)
A. Untuk Umat Allah (18:1–20:27)
18:1-30 19:9-37
19:1-8 20:1-27
B. Untuk Para Imam Allah (21:1–22:33)
21:1-24 22:1-16 22:17-33
C. Dalam Penyembahan (23:1–24:23)
23:1-25 24:1-16
23:26-44 24:17-23
D. Di Tanah Kanaan (25:1–26:46)
25:1-22 25:35-46 26:1-13
25:23-34 25:47-55 26:14-46
E. Mengenai Perjanjian (27:1-34)
27:1-13 27:14-34


Bilangan
(Pengembaraan di Padang Gurun)

Penulis dan Judul Kitab: Kitab ini ditulis oleh Musa. Kitab Bilangan ini diberi judul berdasarkan dua catatan di dalam bab 1 dan bab 26 mengenai jumlah atau penghitungan orang Israel, yang pertama di Gunung Sinai dan yang kedua di dataran Moab.
Tahun Penulisan: 1450–1410 S.M.
Tema dan Tujuan: Meskipun pemberian judul bagi kitab Bilangan didasarkan pada penghitungan orang Israel, namun kitab ini terutama berhubungan dengan pengembaraan di padang gurun dengan masa waktu hampir 40 tahun. Suatu perjalanan yang semestinya dapat dilakukan hanya dalam sebelas hari, menjadi 38 tahun penderitaan hanya karena ketidakpercayaan dan ketidakpatuhan bangsa tersebut. Kitab Bilangan menunjukkan akibat gagalnya menggabungkan iman dengan janji-janji Allah (Ibrani 3:16-4:2). Selain itu, kitab Bilangan mengajarkan kita bahwa sementara hidup itu mempunyai pengalaman-pengalaman “padang gurun”, umat Allah tidak akan terus menerus berada di dalam kondisi seperti itu. Pilihan-pilihan yang kita buat menentukan arah yang kita ambil dalam kehidupan kita. Yosua akan menggambarkannya kemudian.
Tema lain yang juga penting ditunjukkan di sepanjang kitab Bilangan dirasakan melalui pemeliharan Allah yang tidak putus-putusnya bagi umat-Nya. Berulang-ulang, meskipun pemberontakan dan ketidakpercayaan mereka, Dia memenuhi kebutuhan mereka dengan mujizat. Dia menyediakan air, roti manna, dan burung puyuh untuk mereka. Dia tetap mengasihi dan mengampuni bangsa tersebut bahkan apabila mereka bersungut-sungut, mengeluh, dan memberontak terhadap-Nya.
Tokoh Penting: Musa, Harun, Miriam, Yosua, Kaleb, Balak.
Kristus seperti yang Tergambar dalam Bilangan: Mungkin tidak ada penggambaran yang lebih jelas lagi mengenai Kristus dan penyaliban-Nya dari pada seperti ular yang ditinggikan di padang gurun. (Bilangan 21:4-9 cf; Yohanes 3:14)
Batu yang memuaskan dahaga bangsa Israel adalah tipologi dari Kristus (1 Korintus 10:4).
Manna menggambarkan Kristus sebagai roti yang turun dari Sorga (Yohanes 6:31-33)
Tiang awan dan tiang api menggambarkan tuntunan Kristus dan kota-kota tempat perlindungan jelas menggambarkan Kristus sebagai tempat perlindungan kita dari penghukuman.
Akhirnya, lembu betina merah juga merupakan tipologi dari Kristus (Bilangan 19).
Untuk Pelajaran Pribadi: ttg Garis Besar

1. Persiapan di Bukit Sinai (Generasi Tua) (1:1–10:36)
A. Posisi dan Penghitungan Bangsa Israel (1:1-4:49)
1:1-46 3:1-24 4:1-20
1:47-54 3:25-39 4:21-28
2:1-34 3:40-51 4:29-49
B. Peraturan-peraturan Allah dan Penyucian Bangsa (5:1–9:14)
5:1-10 6:22-27 8:5-22
5:11-31 7:1-89 8:23-26
6:1-21 8:1-4 9:1-14
C. Pengembaraan ke Tanah Perjanjian (9:15–10:36)
9:15-23 10:1-10 10:11-36

2. Kegagalan Generasi Tua (11:1–25:18)
A. Ketidakpuasan di sepanjang jalan (11:1–12:16)
11:1-19 11:16-30 12:1-16
11:10-15 11-31-35
B. Ketidakpercayaan di Kadesh-Barnea (13:1–14:45)
13:1-24 14:1-10 14:20-38
13:25-33 14:11-19 14:39-45
C. Pendisiplinan dari Allah (15:1–25:18)
15:1-13 18:8-32 21:21-35
15:14-31 19:1-22 22:1-21
15:32-41 20:1-7 22:22-41
16:1-40 20:8-22 23:1-30
16:41-50 20:23-29 24:1-25
17:1-13 21:1-5 25:1-9
18:1-7 21:6-20 25:10-18
3. Persiapan Generasi Baru (26:1–36:13)
A. Reorganisasi Israel (26:1–27:23)
26:1-65 27:1-14 27:15-23
B. Peraturan Korban Persembahan dan Janji (28:1–30:16)
28:1-31 29:1-40 30:1-16
C. Regionalisasi Tanah Perjanjian (31:1–36:13)
31:1-24 33:1-49 35:1-5
31:25-54 33:50-56 35:6-34
32:1-42 34:1-29 36:1-13

Ulangan
(Peninjauan Ulang Hukum)
Penulis dan Judul Kitab: Yang menulis kitab ini adalah Musa. Judul dalam bahasa Inggris, yang berasal dari Septuaginta, memiliki arti “pemberian hukum kedua” dan berasal dari terjemahan yang salah dari ayat 17:18, yang seharusnya diterjemahkan sebagai “salinan hukum ini”. Kitab Ulangan bukan hukum kedua, tetapi lebih tepat sebagai suatu peninjauan ulang dan penguraian dari hukum pertama yang diberikan di Sinai.
Tahun Penulisan: 1410 S.M.
Tema dan Tujuan: Berjaga-jagalah kalau-kalau engkau lupa. Setelah empat puluh tahun berjalan di padang gurun, bangsa Israel menjelang memasuki tanah perjanjian. Sebelum mereka masuk, penting (kalau-kalau mereka lupa apa yang telah dilakukan Allah dan siapa diri mereka) untuk mengingatkan mereka dengan apa yang telah dilakukan Allah bagi mereka dan tengan hukum Allah yang kudus, yang begitu penting agar mereka dapat tetap berada di tanah tersebut dan berfungsi sebagai bangsa Allah yang kudus dan sebagai imamat rajani di mata bangsa-bangsa (Ulangan 4:1-8). Sebagai bagian dari tema atau tujuan ini, kitab ini juga menekankan pada pentingnya mengajarkan anak-anak untuk mengasihi dan mematuhi Allah.
Kitab Ulangan berakhir dengan diperbaharuinya perjanjian Allah dengan bangsa Israel (Bab 29). Pengangkatan Yosua sebagai pemimpin yang baru (Bab 31), dan kematian Musa (Bab 34).
Tokoh Penting: Musa dan Yosua.
Kristus seperti yang Tergambar dalam Ulangan: Pernyataan mengenai Musa pada ayat 18:15 adalah salah satu dari gambaran-gambaran yang paling jelas mengenai Kristus. Ayat tersebut berbunyi, “Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh Tuhan, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.” Lebih lanjut lagi, Musa, sebagai tipologi dari Kristus, adalah satu-satunya figur selain dari Kristus untuk mengisi seluruh ketiga jabatan nabi (34:10–12), imam (Keluaran 32:31-35), dan raja (meskipun Musa bukan raja, dia berfungsi sebagai pemimpin Israel; 33:4-5).2


Untuk Pelajaran Pribadi: ttg Garis Besar
1. Pendahuluan (1:1-5)

2. Peninjauan Ulang Sejarah (1:6–4:43)
1:6-18 2:26-37 4:1-43
1:19-46 3:1-17
2:1-25 3:18-29
3. Peninjauan Ulang Hukum (4:44–5:33)
4:44-49 5:1-21 5:22-33
4. Pengaplikasian Hukum (6:1–11:32)
6:1-25 9:1-29 11:1-32
7:1-26 10:1-11
8:1-20 10:12-22
5. Hukum Tambahan (12:1–26:19)
12:1-32 18:9-22 23:1-25
13:1-18 19:1-13 24:1-5
14:1-29 19:14-21 24:6-22
15:1-23 20:1-20 25:1-19
16:1-22 21:1-23 26:1-19
17:1-20 22:1-12
18:1-8 22:13-20
6. Pemberian Janji (27:1–30:20)
27:1-26 28:15-68 30:1-14
28:1-14 29:1-29 30:15-20
7. Penggantian Pemimpin (31:1–34:12)
31:1-13 32:1-52 34:1-12
31:14-30 33:1-29
Ringkasan: Tema Untuk Diingat

Kejadian Pemilihan Bangsa
Keluaran Penebusan Bangsa
Imamat Pengudusan Bangsa
Bilangan Memimpin Bangsa
Ulangan Mengajarkan Bangsa

"Pembinaan Cln. Pnt. GKPI"

Pelajaran 6
Keluaran
(Kitab Mengenai Penebusan)

Penulis dan Judul Kitab: Kitab ini ditulis oleh Musa. Kata “Exodus” (Keluaran) adalah bahasa Latin yang diambil dari bahasa Yunani EXODOS, dan kitab tersebut diberikan nama yang oleh mereka diterjemahkan ke dalam bahasa Septuaginta Yunani (LXX). Kata tersebut bermakna “keluar”.
Tahun Penulisan: 1450–1410 S.M.
Tema dan Tujuan: Ada dua tema yang tersingkap dari Keluaran ini: (1) Penebusan sebagaimana digambarkan di dalam Paskah, dan (2) pelepasan dari perbudakan Mesir sebagaimana digambarkan keluar dari tanah Mesir dan menyeberangi Laut Merah.
Setelah lebih dari dua ratus tahun bertumbuh di Mesir, Kitab Keluaran terus menceritakan sejarah bangsa pilihan Allah, bangsa Israel, dan menjelaskan penyelamatan mereka keluar dari Mesir dan pemberian hukum Taurat. Ini menjelaskan tentang kelahiran, sejarah, dan panggilan Musa dari Tuhan untuk memimpin umat itu keluar dari perbudakan mereka di Mesir dan masuk ke dalam Tanah Perjanjian, yaitu tanah Kanaan. Melalui domba Paskah, penyelamatan anak sulung, bersamaan dengan mujizat dari sepuluh tulah, dan penyeberangan Laut Merah, Allah menunjukkan kepada umat-Nya bahwa Ia tidak hanya berkuasa dari para Firaun Mesir, namun Ia adalah TUHAN yang Berdaulat, YAHWE, Allah yang menebus dan pemberi wahyu.
Setelah bangsa itu menyeberang Laut Merah dan tiba di padang gurun, Allah memberikan kepada mereka hukum kebenaran-Nya dan mengumumkan bahwa mereka adalah milik berharga bagi Dia dan menjadi imamat rajani, bangsa yang kudus sebagai saksi bagi bangsa-bangsa (Keluaran 19:4-7). Hukum Taurat ini, termasuk di dalamnya Sepuluh Perintah, yang mendemonstrasikan kesucian Allah, mengajar mereka bagaimana mengasihi Allah dan mengasihi sesame, namun dalam prosesnya, itu juga mendemonstrasikan betapa semua orang telah jatuh dan kehilangan kemuliaan Allah dan memerlukan jalan akses kepada Allah yang memberikan pengampunan. Inilah perlunya dibuat Kemah Suci, persembahan korban-korban bakaran, dan Keimamatan Lewi.
Tokoh Penting: Musa, Harun, Miriam, dan Firaun
Kristus seperti yang Tergambar dalam Keluaran: Walaupun Kitab Keluaran tidak berisi nubuatan langsung tentang Kristus, namun ada sejumlah type yang indah tentang sang Juruselamat. Dalam berbagai cara, Musa ditunjukkan sebagai type Kristus. Ulangan 18:15 menunjukkan bahwa Musa, sebagai nabi, menggambarkan Kristus. Baik penyelamatannya ketika ada dalam bahaya pembunuhan pada waktu ia masih bayi, kuasanya untuk menyelamatkan yang lain, dan fungsinya sebagai perantara, pemberi hukum, dan penyelamat.
Pasakh adalah type spesifik tentang Kristus sebagai anak Domba Allah yang tanpa dosa (Yohanes 1:29; 36; 1 Korintus 5:7).
Tujuh hari raya besar, masing-masing merupakan gambaran dari beberapa aspek sang Juruselamat.
Kisah Keluaran sendiri, yang Paulus hubungkan dengan baptisan, menggambarkan persekutuan kita dengan Kristus dalam kematian, penguburan, dan kebangkitan-Nya (1 Korintus 10:1-2; Roma 6:2-3)
Manna dan Air keduanya digambarkan sebagai gambaran-gambaran Kristus (Yohanes 6:31-35, 48-63; 1 Korintus 10:3-4).
Kemah Suci menggambarkan sang Juruselamat dalam hal peralatan, warna, furnitur, pengaturan, dan korban-korban yang dipersembahkan di sana (Ibrani 9:1–10:18).
Imam besar merupakan bayangan yang sangat jelas dari pribadi dan pelayanan Kristus (Ibrani 4:14-16; 9:11-12, 24-28).
Untuk Pelajaran Pribadi: ttg Garis Besar
1. Pembebasan dari Mesir (1:1-18:27)
A. Dalam Masa Perhambaan (Perbudakan) (1:1–12:32)
1:1-7 5:1-23 9:8-17
1:8-14 6:1-13 9:18-35
1:15-22 6:14-30 10:1-20
2:1-14 7:1-7 10:21-29
2:15-25 7:8-13 11:1-10
3:1-9 7:14-25 12:1-13
3:10-22 8:1-15 12:14-22
4:1-13 8:16-32 12:23-32
4:14-31 9:1-7

"Pembinaan Cln Pnt GKPI Rw. Lumbu"

Pelajaran 5
Lima Kitab Pertama
Lima kitab pertama di dalam Alkitab kadang-kadang disebut Pentateuch, yang berarti “lima kitab”. Kitab ini juga dikenal sebagai kitab hukum karena berisi hukum dan perintah-perintah yang disampaikan Tuhan melalui Musa untuk bangsa Israel. Kitab-kitab ini ditulis oleh Musa, kecuali bagian terakhir kitab Ulangan, karena bagian tersebut menceritakan tentang kematiannya. Kelima kitab ini meletakkan dasar mengenai kedatangan Kristus, yang mana Allah memilih dan membawanya menjadi bangsa Israel. Sebagai umat pilihan Allah, Israel menjadi pemelihara Perjanjian Lama, penerima perjanjian, dan bapa leluhur Mesias (Roma 3:2; 9:1-5).
Kejadian
(Kitab Permulaan)
Penulis dan Judul Kitab: Kitab ini ditulis oleh Musa. Sebutan Kejadian berarti “yang awal” dan diambil dari Septuaginta (LXX), yang merupakan penerjemahan bahasa Yunani dari Perjanjian Lama bahasa Ibrani.
Tahun Penulisan: 1450–1410 S.M.
Tema dan Tujuan: Bahkan membaca Kitab Kejadian secara sambil lalu saja sudah mengungkapkan tema utamanya, yaitu berkat dan kutuk. Untuk yang patuh dan beriman, ada berkat seperti di Taman Eden, namun untuk yang tidak patuh, ada kutuk. Seluruh kitab berbicara mengenai tema ini. Tetapi mungkin tema utama merupakan pilihan dari suatu bangsa melalui Abraham dan perjanjian Abraham. Melalui Abraham, Allah berjanji untuk memberkati bangsa itu (Kejadian 12:1-3; 15:1-21).
Kitab Kejadian tidak hanya berarti “permulaan”, namun juga merupakan kitab permulaan. Kitab Kejadian menjadi pusat referensi sejarah bagi kita, dari mana pewahyuan yang berikut dimulai. Di dalam kitab Kejadian, semua tema-tema utama di dalam Alkitab bermula. Inilah kitab yang banyak berisi hal-hal yang permulaan : di dalamnya kita melihat permulaan penciptaan semesta alam ini, pria dan wanita, dosa manusia dan jatuhnya umat manusia, mulanya perjanjian Allah akan keselamatan, dan mulanya bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah, karena tujuan khusus-Nya untuk mereka sebagai bapa leluhur Mesias dan Juruselamat. Di dalam Kejadian kita belajar tentang Adam dan Hawa, tentang Setan si penggoda, tentang Nuh, Air Bah, Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf beserta saudara-saudaranya. Kita juga belajar tentang awalnya pernikahan, keluarga, pekerjaan, dosa, pembunuhan, hukuman mati, pengorbanan, bangsa-bangsa, bahasa-bahasa, peradaban, hari Sabat, pencobaan pertama membentuk pemerintahan satu dunia, dan Babilonia (agama disebarkan di Menara Babel). Alkitab merupakan pewahyuan historis. Catatan kegiatan Allah dalam sejarah.
Sebuah kalimat yang umum ditemukan di dalam Kejadian adalah “inilah generasi dari”. Kalimat tersebut ditulis sebelas kali untuk memperkenalkan bagian berikutnya kepada pembaca, yang memberikan informasi mengenai apa yang terjadi sehubungan dengan peristiwa-peristiwa penting dan manusia, mulai dari penciptaan langit dan bumi hingga ke segenap kepala keluarga Israel.
Tokoh Penting: Adam, Hawa, Nuh, Abraham, Sarah, Ishak, Ribka, Esau, Yakub, Rahel, Yusuf.
Kristus seperti yang Tergambar dalam Kejadian–Secara nubuatan: segera setelah kejatuhan, janji keselamatan diberikan kepada keturunan perempuan itu (3:15), namun kemudian hubungan Mesias disampaikan dengan jelas di seluruh Kejadian : garis keturunan Set (4:25), keturunan Sem (9:26), keluarga Abraham (12:3), keturunan Ishak (26:3), anak-anak Yakub (46:3), dan suku Yehuda (49:10).
Di dalam Kejadian, ada beberapa “tipologi-tipologi” utama yang menggambarkan Juruselamat. Adam adalah tipologi dari Kristus (Roma 5:14).
Adam adalah yang pertama dari penciptaan yang lama, dan Kristus adalah yang pertama dari penciptaan baru secara rohani.
Korban darah Habel merujuk pada Kristus yang mati bagi kita. Pembunuhan Habel yang dilakukan Kain juga dapat menggambarkan kematian Kristus.
Melkisedek sebagai raja dan imam juga sebagai tipologi Kristus (Ibrani 7:3).

Yusuf, yang sangat disayangi oleh ayahnya, dikhianati oleh saudara-saudaranya, namun menjadi jalan keselamatan yang melambangkan Kristus.
Untuk Pelajaran Pribadi: ttg Garis Besar
Berikanlan judul untuk bagian-bagian yang tidak diberi judul. Dengan judul yang anda berikan, cobalah untuk menunjukkan hubungan dari satu bagian ke bagian yang lain. Misalnya, di dalam bagian “C” dari yang berikut, murid dapat memberikan judul :
1) Persiapan Nuh menghadapi Air Bah
2) Nuh selama Air Bah
3) Air Bah surut
4) Perjanjian dengan Nuh
5) Keluarga Nuh
1. Empat Peristiwa (1:1–11:32)
A. Penciptaan Bumi dan Manusia (1:1–2:25)
1:1–2:3 2:4-25
B. Kerusakan Manusia, Kejatuhan (3:1–5:32)
3:1-24 4:1-24 4:25–5:32
C. Manusia dimusnahkan, Air Bah (6:1–9:29)
6:1-22 8:1-22 9:18-29
7:1-24 9:1-17
D. Penyebaran Manusia, Bangsa-bangsa (10:1–11:32)
10:1-32 11:1-9
11:10-31
2. Empat Orang : Pemilihan suatu Bangsa dan Persiapan Sang Penebus (12:1–50:26)
A. Abraham (Bapa orang beriman dan Bangsa Israel) (12:1–23:20)
12:1-20 17:1-27 21:1-34
13:1-18 18:1-33 22:1-24
14:1-16 19:1-29 23:1-20
14:17-21 19:30-38
16:1-16 20:1-18
B. Ishak (Anak Perjanjian) (24:1–26:35)
24:1-67 25:19-34 26:26-35
25:1-11 26:1-17
25:12-18 26:18-25
C. Yakub (Rencana dan Penghukuman) (27:1-36:43)
27:1-46 31:1-55 34:1-31
28:1-22 32:1-23 35:1-8
29:1-35 32:24-32 35:9-29
30:1-43 33:1-20 36:1-43
D. Yusuf (Penderitaan dan Kemuliaan) (37:1–50:26)
37:1-36 40:1-41:57 49:1-50:21
38:1-30 42:1-45:28 50:22-26
39:1-23 46:1-48:22

Minggu, 27 November 2011

"KATA - KATA BIJAK"

1. Belajar tersenyum bila masalah datang
2. Tulus seperti merpati supaya jangan menipu, cerdik seperti ular supaya jangan ditipu (berhikmat)
3. Boleh lupa dompet asal jangan lupa doa.
4. Punyailah iman yang dapat melihat kesempatan dalam kesulitan dan bukan melihat kesulitan dalam kesempatan
5. Layanilah Tuhan dengan karunia yang Tuhan berikan, karena banyak yang mampu (melayani) tetapi tidak mau dan banyak yang mau tapi tidak mampu.
6. Jadikan persembahan saudara menjadi penyembahan dan bukan penyesalan
7. Layanilah Tuhan dengan sukacita dan bukan dengan suka-suka
8. Pilihlah makanan saudara sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan
9. Jadilah Kristen yang kritis tetapi jangan penuh kritik
10. Jadikanlah Alkitab sebagai "Obat Kuat" dan bukan "Obat Tidur"
11. Lakukanlah yang benar, bukan apa yang kamu rasa benar
12. Terimalah orang lain apa adanya, bukan "ada apanya".

Humor tentang Korup.
Ada saat2 di mana logika kita sebagai manusia begitu menguasai, sehingga kita akan berkata "tidak mungkin" akan banyak hal.
Tidak mungkin mencapai target yg sudah ditetapkan.
Tidak mungkin mendapatkan apa yang dirindukan.
Tidak mungkin melakukan sesuatu yg besar.
Jangan lupa bahwa kuasa TUHAN bisa membuat segala sesuatu menjadi mungkin. Jika di tahun ini kita sering berada dalam keragu-raguan, apakah sesuatu benar2 bisa terjadi, itu tandanya logika kita sebagai manusia yg sedang berbicara. Di tahun mendatang, yaitu 2012, biarkan TUHAN yg berbicara & biarkan DIA bekerja dgn cara-Nya sendiri untuk menyatakan kuasa-Nya melalui perkara2 yg ajaib & besar.

Ada serombongan manusia yang sedang menunggu pintu masuk neraka.
Mereka dipanggil masuk satu persatu oleh pejabat malaikat yang
bertugas di sana. Di dinding belakang, tergantung puluhan jam dinding
sebagaimana biasa terlihat di bandara. Meski begitu, jam-jam itu
berbeda dengan jam-jam yang ada di dunia. Kalau jam di dunia
menunjukkan posisi waktu yang berbeda-beda untuk berbagai kota tujuan,
jam dinding di neraka berputar lebih cepat dan tidak berfungsi sebagai
penunjuk waktu kota tujuan.

Salah seorang yang agak bingung bertanya kepada malaikat di sana
tentang jam itu. “Oh itu, jam yang tergantung di sana menunjukkan
tingkat kejujuran pejabat pemerintah yang ada di dunia sewaktu Anda
hidup,” jawab sang malaikat.

Sang malaikat menjelaskan, “Semakin jujur pemerintah negara Anda, jam
negara Anda di sini semakin lambat. Sebaliknya, semakin korup pejabat
pemerintah negara Anda, semakin cepat pula jalannya.”

“Coba lihat,” kata seorang yang sedang antri kepada yang lainnya. “Jam negara A berputar kencang. Berarti memang pejabat di negara A itu
banyak yang korupsi.”

“Itu lagi, itu lagi,” seru yang lainnya, “Jam negara B, putaran jamnya
tidak kalah cepat dari jam negara A.”

Mereka semua terlihat menikmati pengetahuan baru itu. Tetapi mereka
mencari-cari, di mana gerangan jam negara C, yang memang terkenal
dengan tingkat korupsinya yang tinggi. Salah seorang dari mereka
memberanikan diri bertanya kepada malaikat tadi.

“Oh, jam negara C …, kami taruh di belakang dapur. Sangat cocok
dijadikan kipas angin!” jawab sang malaikat.
Pelajaran 4 Cln Pnt GKPI
Persiapan Mempelajari Alkitab
Pada dua bagian terakhir, kita diperkenalkan akan pentingnya mengetahui kejadian-kejadian penting yang terjadi di masa lalu (Bagian 3), serta urutan kapan peristiwa-peristiwa tersebut terjadi (Bagian 4). Kita sedang meletakkan sebuah dasar untuk membantu menjawab sebuah pertanyaan penting yang pasti akan ditanyakan oleh murid yang sedang belajar Alkitab : “Kapan?” Saat kita mencoba mengerti Alkitab, kita mendapatkan diri kita sendiri tidak henti-hentinya mencari jawaban terhadap pertanyaan penting untuk “berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (2 Timotius 2:15). Allah mengundang kita untuk membawa semua pertanyaan kita kepada-Nya (Matius 7:7-8).
Pertanyaan-pertanyaan dasar yang pasti akan kita tanyakan dari setiap ayat sangat sederhana: siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana? Jawaban-jawabannya harus dipertimbangkan sementara kita tetap harus mengingat dua pertanyaan utama mengenai Kehidupan Kristen: Bagaimana hal ini membantu kita mengembangkan hubungan pribadi yang akrab dengan Tuhan Yesus Kristus kita (Filipi 3:10), dan bagaimana kita seharusnya hidup (Yohanes 7:17)?
A. Enam Pertanyaan Dasar atas Setiap Ayat
1. Siapa?
Saat kita mengajukan pertanyaan “siapa”, ktia sedang berusaha menentukan siapa yang berbicara dan kepada siapa hal itu disampaikan. Satu contoh terlihat di dalam Genesis 22:2, ketika Allah memerintahkan Abraham untuk mengorbankan putranya, anak tunggalnya kepada-Nya. Dalam hal ini, Allah berbicara langsung kepada Abraham, bukan kepada orang lain. Oleh sebab itu, kita, sebagai pendengar Firman, tidak berkewajiban untuk melakukan perintah tersebut.
2. Apa?
Pertanyaan “apa ?” berhubungan dengan realita dari hal yang sedang dikatakan. Yesus Kristus dikatakan sebagai “Anak Domba” dalam Wahyu 5. Itu tidak berarti bahwa Dia adalah seekor mahluk berbulu, berkaki empat, tetapi merujuk kepada pengorbanan-Nya bagi dosa (Yohanes 1:29), itulah “kenyataan” nya.
3. Kapan?
Pertanyaan “kapan” mengarahkan kita kepada batasan waktu di mana suatu ayat tertentu dikatakan. Sebagai contoh, perkawinan Abraham dengan adik tirinya bisa diinterpretasikan sebagai hal yang tidak bermoral sampai pembaca mengerti bahwa perkawinan ini terjadi sebelum Hukum Taurat, yang melarang tindakan seperti itu, diberikan. Karena dosa pribadi bukan menjadi masalah karena tidak adanya hukum (Roma 4:15), kita menyimpulkan bahwa dalam kasus Abraham, perkawinannya itu bukanlah dosa. Jawaban yang jelas terhadap pertanyaan “kapan” ini penting untuk melengkapi pemahaman.
4. Di mana?
Pertanyaan “di mana” berhubungan dengan letak geografis dan kebudayaan di mana suatu ayat ditulis pada saat itu. Seringkali di dalam Alkitab kita menemukan kalimat “sampai ke Yerusalem”. Di dalam banyak kebudayaan, kalimat “sampai ke Yerusalem” berarti mengadakan perjalanan ke arah utara. Namun, maksud secara Alkitabiah berhubungan dengan tingkat dan bukan arah. Ketika Yesus baru tiba dari Galilea dan sedang “menujuk ke Yerusalem”, Dia sebenarnya sedang menuju ke selatan, namun berjalan dengan tingkat yang lebih tinggi.
5. Mengapa?
Pertanyaan “mengapa?” seringkali merupakan pertanyaan yang paling sulit dijawab. Jawabannya paling sering ditemukan saat sedang mempelajari ayat-ayat lainnya. Apabila seseorang membaca ayat di dalam Yesaya 7:14, yang berbunyi, “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”, suatu pertanyaan yang nyata adalah “mengapa seorang perempuan muda?” Kita mungkin menjawab pertanyaan tersebut dengan, “itu meamng sudah kehendak Allah.” Jawaban itu meskipun benar, namun tidak lengkap.
Ketika kita mencari jawaban, kita akan menemukan ayat di dalam Roma 5 yang menyampaikan pengaruh dosa Adam terhadap umat manusia. Kita menemukan bahwa melalui manusia tersebut, Adam, setiap anggota dari umat manusia mendapatkan Dosa Alami. Apabila Yesus memiliki ayah duniawi, maka Dia juga memiliki Dosa Alami. Jawaban atas pertanyaan “mengapa” dalam hal ini penting sebagai persyaratan Kristus untuk menebus dosa.

6. Bagaimana?
Pertanyaan “bagaimana” juga seringkali sulit untuk dijawab. Kita mungkin bertanya, “Bagaimana Yesus berjalan di atas air ?” Jawabannya sederhana karena Dia berjalan dalam Roh Kudus (Lukas 4:18). Kita juga mungkin bertanya, “Bagaimana Tuhan mengendalikan sejarah ketika umat manusia memiliki kebebasan untuk memilih?” Pertanyaan tersebut tidaklah mudah dijawab, dan kita akan menyelidikanya nanti dalam pelajaran kita.
B. Dua Pertanyaan Pribadi Penting

1. Bagaimana hal ini membantu kita mengembangkan hubungan pribadi yang akrab dengan Tuhan Yesus Kristus kita?
Ini salah satu pertanyaan-pertanyaan penting yang kita ajukan. Pengetahuan yang kita dapatkan dari pelajaran Firman Tuhan harus bersatu dengan iman (Ibrani 11:6), sehingga hubungan kita dengan Tuhan akan bertumbuh. Kita harus mempercayai Firman Tuhan dan bergantung padanya. Hasilnya adalah hubungan dengan Tuhan yang didasarkan pada kasih-Nya dan di luar dari pemahaman manusia. Rasul Paulus mengatakan hal ini dengan jelas dalam Efesus 3:14-19 saat dia menulis :

Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang daripada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.

Apabila kita mempelajari Firman Tuhan hanya untuk alasan intelektual dan bukannya untuk bertumuh di dalam kasih untuk Tuhan dan sesama (Markus 12:29-31), kita menjadi sombong (1 Korintus 8:1). Rasul Paulus, yang mengetahui lebih banyak mengenai ilmu agama dari pada orang lain di bumi ini (2 Korintus 12:1-4), mengungkapkan keinginannya yang terdalam untuk, “mengenal Dia” (Filipi 3:10). Paulus, sebagai seorang Farisi, adalah orang yang sudah melalui pendidikan tinggi, namun sebagai seorang Kristen, dia baru mulai mengejar suatu hubungan penting dengan Allah yang Hidup.

Nantikanlah janji-janji Tuhan, dan yakinlah, sehingga anda dapat “bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (2 Petrus 3:18).
2. Kalau begitu, bagaimana kita harus hidup?
Begitu kita mengerti makna dari ayat-ayat yang kita pelajari, kita harus berusaha memahami bagaimana ayat-ayat tersebut berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita diberikan suatu contoh yang indah mengenai konsep ini di dalam Ibrani 12:1-3. Ayat 1 dan 2 berbunyi:

Karena kita mempunyai banyak saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Ilustrasi yang dipilih oleh penulis Ibrani dalam dua ayat ini adalah ikut dalam suatu pertandingan. Orang orang yang berada di panggung menonton (pahlawan-pahlawan di Bab 11). Pertandingan tersebut untuk kecepatan dan jarak, dan bagi pemenang akan diberikan bangku kehormatan. Peserta harus melepaskan beban tambahan yang dapat memperlambat gerakannya, atau setiap gangguan yang dapat membuatnya tersandung. Matanya tertuju pada garis akhir, dimana Dia (Yesus Kristus) yang sudah menjalankan pertandingan-Nya, dan sudah menang, berdiri. Sukacita besar menjadi lebih penting dari pada pengalaman yang melelahkan, sehingga si pelari dapat bertahan.
Kemudian, di dalam ayat 3, penulis menerapkan kedua ayat tersebut kepada hidup kita saat dia menulis:
Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya kamu jangan menjadi lemah dan putus asa.

Ketika kita menghadapi pencobaan dan tantangan, kepedihan dan kesedihan, dipermalukan dan aib karena Kristus, ingatlah selalu akan Pemimpin kita dan kita akan mendapatkan keberanian oleh karena-Nya ! Sadarilah bahwa, “Imam besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya, sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa” (Ibrani 4:15).

C. Bagaimana Jika Kita Tidak Dapat Menjawab Semua Pertanyaan?
Pertanyaan-pertanyaan dan jawabannya adalah penting. Namun, kita harus ingat, bahwa hubungan kita dengan Allah Yang Hidup adalah didasarkan oleh iman (Efesus 2:8-9; Kolose 2:6), jadi kita tidak bisa mendapatkan seluruh jawaban yang kita cari seumur hidup kita. Namun, Allah telah berjanji bahwa akhirnya seluruh pertanyaan kita akan dijawab (1 Korintus 13:12). Alkitab memberikan informasi yang cukup untuk memimpin hidup kita.
Untuk Pelajaran Pribadi: dari Bab 1, Bagian 5
1. Bacalah ayat Yeremia 39:1-2 dan jawablah enam pertanyaan dasar yang pasti akan kita tanyakan untuk setiap ayat.

Siapa? =
Apa? =
Kapan? =
Di mana? =
Mengapa? =
Bagaimana? =
2. Bacalah Markus 12:29-31. Dengan keempat hal apakah kita mengasihi Tuhan?

3. Bacalah Ibrani 11:6 dan 1 Yohanes 2:7-11. Apakah dua hal yang penting bagi kehidupan orang Kristen?