Kamis, 05 April 2018

Khotbah Keb. R. Tangga. 20-22 Maret 2018 PenderitaanNya Membawa Kemenangan



1 Petrus 2:21-25

Petrus mengalamatkan surat ini kepada budak-budak Kristen di dalam jemaat, ia menekan pentingnya tunduk kepada atasan. Beberapa budak yang baru bertobat mengira bahwa kemerdekaan mereka secara rohani juga menjamin kemerdekaan mereka secara pribadi dansecara politik.
Petrus mengingatkan para hamba akan panggilan Allah kepada mereka untuk berbuat baik dengan cara tunduk/taat kepada majikannya sekalipun harus menderita, karena Kristus pun telah memberikan teladan yang demikian.
Dari perikop ini, sedikitnya kita dapat mempelajari dua hal:
1. Penderitaan karena perbuatan baik adalah kasih karunia Allah (Ay. 18-20)
Topik mengenai penderitaan seringkali menjadi topik yang hangat dalam kekristenan. Sebagian orang berpendapat bahwa orang Kristen pasti akan mengalami penderitaan. Tetapi sebagian lainnya berpendapat bahwa dengan menjadi Kristen, maka kita bebas dari penderitaan.
Bagian surat yang kita baca ini ditulis oleh Petrus kepada para hamba Kristen di dalam jemaat yang tersebar di seluruh bagian utara Asia kecil. Jemaat-jemaat ini adalah jemaat yang mengalami penganiayaan karena mereka percaya kepada Kristus. Sekalipun demikian, Petrus menasehatkan para hamba ini untuk tetap tunduk kepada majikan mereka dengan penuh ketakutan, bukan saja kepada yang baik, tetapi juga kepada yang kejam. 
Kata “ketakutan” dalam bahasa aslinya menggunakan kata Phobos, yang dalam I Petrus ini selalu ditujukan sebagai penghormatan kepada Allah (Psl. 1:17, 2:17, 3:2,6 dan 14). Jadi motif ketundukan mereka bukanlah kepada majikan mereka, tetapi kepada Allah. 
2. Penderitaan karena perbuatan baik adalah konsekuensi mengikuti jejak Yesus (Ay. 21)
Bagian ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengan perikop sebelumnya, dalam bagian ini Petrus ingin mendorong hamba-hamba yang menderita ini dengan memberikan gambaran mengenai Yesus Kristus yang telah menjadi teladan dalam hidup-Nya. Petrus menghubungkan nasihat-nasihatnya dengan teladan Kristus, Hamba Allah yang telah menderita (2:21-25, dan Yes. 52:13-53:12). Menderita dengan sabar, walaupun Ia tidak pernah bersalah. Kristus telah memilih menjadi seorang hamba (Fil. 2:7), menderita dan mati. Kristus telah menjadi teladan bagi orang-orang yang ditebus-Nya. Oleh karena itu seharusnyalah mereka mengikuti teladan Kristus untuk menderita dengan sabar. Sebab penderitaan karena perbuatan baik ini adalah konsekuensi mengikuti jejak Yesus.
Ay. 22-25 ini dikutip Petrus dari Yes. 53, tentang nubuatan yang terkenal dari Nabi Yesaya mengenai Ebed Yahwe (Hamba Allah) yang menderita, untuk memberikan gambaran kepada para hamba mengenai penderitaan yang dialami oleh Yesus. Oleh karena itu penderitaan karena perbuatan baik kita, sudah menjadi konsekuensi kita dalam mengikuti jejak Yesus
3 (tiga) hal yang dinasihatkan Petrus kepada mereka dan juga kita sekarang ini dalam memaknai penderitaan yang didatangkan oleh ulah orang lain:
(1) penderitaan dijadikan latihan bagi diri sendiri untuk menjalani hidup sebagaimana yang diteladankan Kristus semasa hidup-Nya; 
(2) penderitaan dijadikan kesempatan untuk menjadi saksi bagi orang lain (termasuk orang yang menyebabkan kita menderita) tentang siapa Kristus dan apa yang telah dilakukannya bagi kita orang berdosa; 
(3) penderitaan dijadikan bukti pemeliharaan Allah yang tiada putusnya atas orang-orang percaya. Tuhan tahu tidak mudah menjalani hidup yang demikian, karena itu Tuhan janjikan bahwa Ia akan menjadi Gembala yang bukan hanya memelihara secara fisik, tetapi juga jiwa kita.
“Betapa pun dalamnya lembah penderitaan kita; betapa pun beratnya perjalanan hidup kita, tangan kasih Yesus masih tetap akan mampu menjangkau kita, menarik kita keluar serta menopang kita. Karena Ia sendiri pun telah mengalami penderitaan dan meninggalkan teladan bagi kita supaya kita mengikuti jejak-Nya.” 
Penderitaan hari ini menghasilkan kemuliaan dan kemenangan di hari esok.
Ay. 16. Kita diberikan kebebasan sebagaii hamba Allah. Itu statement yang sangat penting. jika kita sudah sadar, maka perikop berikutnya kita sadar bahwa kita sebagai hamba Allah memiliki konsekuensi akan menderita. Dalam falsafah jawa ada kata “nrimo” yaitu menerima apa adanya. 
Karena Kristus menderita untuk kamu. penderitaan bukan hanya dalam pengertian secara global. tetapi penderitaan Krtistus bagi kita semua. Ketika kita berbicara kondisi manusia, pada umumnya ketika jatuh ke dalam dosa, mereka komit terhadap dosa, mulutnya penuh dengan kebohongan. jadi penderitaan ada karena kuasa dosa, dan kuasa dosa itulah yang membuat mulut manusia penuh dengan kebohongan. jadi penderitaan bukan karena Allah, tetapi karena dosa. itulah yang menimbulkan penderitaan.
di dalam kondisi seperti inilah kita membutuhkan pengharapan. Kristus memberikan kememangan terhadap:
1. ay. 23. tidak membalas, tidak mengancam. di tengah-tengah penderitaan ada kemenangan
2. hidup di dalam kebenaran, tidak lagi hidup dalam dosa. 
3. kembali kepada hidup bersekutu dengan Tuhan.
dalam konsep dunia, penderitaan dihindari dan dianggap sebagai hukuman. penderitaan di dunia sifatnya sementara. penderitaan sebagai latihan dan pemeliharaan dari Tuhan.
Setiap orang menginginkan berjalan baik2, namun realitanya tidak demikian. kita selalu evaluasi dan introspeksi diri, apakah penderitaan dari dosa atau sebagai hamba Allah.
Keteladanan itu sangat penting. sebagai hamba Tuhan, apakah ada keteladanan? Ada 2 hal yang dapat kita pelajari:
1. belajar dari teladan Kristus
2. melakukan apa yang Tuhan Yesus ajarkan
Penderitaan itu merupakan kasih karunia, dan meneladani Kristus dalam penderitaan-Nya. itu semua karena Kristus hidup di dalam kebenaran. penderitaan itu membawa kita kepada Tuhan & akan berakhir penderitaan itu.
Penderitaan seringkali identik dengan sesuatu yang negative. namun, ternyata konsep ini salah. Yesus menderita justru untuk membawa kemenangan. ay. 22 orang yang sudah mengalami penderitaan di dalam Kristus, maka hatinya tidak akan berbuat dosa kerena dia sudah menang. tidak berniat membalas dengan tipu muslihat. ay. 23. tidak ada niat untuk membalas caci maki, tidak berniat untuk mengancam orang lain. berserah total kepada Tuhan. Ujilah kemenangan di dalam Kristus.
Kemenangan terhadap apa? kemenangan terhadap dosa. dampaknya adalah di ay. 24. manusia dimampukan hidup kembali kepada kebenaran dan kepada Tuhan. Yesus bukan mati konyol, tetapi Yesus menderita dan mati untuk membawa kemenangan. Jangan takut karena Tuhan akan menerima kembali kita.
Kemenangan disini bukan hanya karena dosa, tetapi juga karena pergumulan hidup. Penderitaan di dalam Kristus merupakan panggilan. Tuhan adalah pemelihara jiwa. di dalam kesulitan tidak dibenarkan untuk berbuat salah. Membawa jemaat untuk mengakui dosa-dosa di hadapan Tuhan.
Sikap orang di dalam menerima penderitaan ada 2: yang menerima dan yang tidak menerima. sebagai anak Tuhan kita bisa menderita. kenapa orang Kristen menderita:
1. Alam sudah rusak. 2. Dosa. 3. Iblis
4. Tuhan ijinkan sebagai sumber ujian supaya orang mengalami pemurnian di dalam iman.
Keteladanan Kristus sangat penting. kemenangan-Nya membawa kita kembali kepada sang pemelihara hidup kita. kemenangannya memberikan kesaksian.
Ada 3 macam orang:
1. menerima. 2. tidak menerima. 3. tahu menderita dan dia rela untuk menderita (Dia adalah Kristus). penderitaan Kristus adalah penderitaan yang meninggalkan jejak. barangsiapa mengikut YEsus dia harus siap untuk menderita.
Bagaimana mengalami hidup yang berkemenangan itu?
1. Adanya penyangkalan diri secara konstan. Menjadi hamba antara teori dan realita tidak sama. Petrus menyapa dengan istilah budak dengan jelas. Status ini memiliki mentalitas menerima perlakukan yang tidak seharusnya. Tuhan Yesus menjadi teladan dg menyangkal diri & menjadi seorang Hamba (ayt. 22).
2. Mengikuti teladan Kristus (ayat 21-24). Dalam surat Petrus, tiap pasal berbicara penderitaan dimana ada 20 kali diungkapkan. Peran orang Kristen dalam konteks hamba dan dalam penderitaan. Penting sekali untuk menyadari bahwa status boleh hamba, tetapi mentalitas seperti tuan yang mau belajar untuk mengasihi tuannya. Tuhan Yesus mengasihi murid-murid-Nya dengan mencuci kaki mereka meski sepertinya ada yg tidak layak untuk dikasihi. Ayat 18 Atidak saja menerima tetapi juga mengasihi. Teladan penderitaan Kristus adalah: Dia tidak berbuat dosa. Dia dihina dan di caci maki dan menderita. Dia mati memikul dosa kita (ayt. 21-24).
3. Hidup dalam iman dan pengharapan di dalam Kristus. Rasul Paulus berkata bahwa semua orang sudah berbuat dosa dan hilang kemuliaan Allah dan upah dosa adalah maut (Rm. 3:23; 6:23). Anda dan saya adalah manusia karena itu, kita adalah orang yang berdosa dan terancam hukuman maut. Kita adalah orang yang sudah dikalahkan dosa dan iblis. Sebab itu untuk hidup berkemenangan satu-satunya jalan adalah beriman kepada Kristus. Kuncinya kita harus bertobat dan beriman kepada Kristus (Kis. 2:38; 16:31; 17:30). Jika malam ini anda mati, apakah anda yakin pasti masuk surga? Apakan anda sudan mengundang Yesus masuk ke dalam hatimu? Paulus dalam surat Efesus 2:8-9 menegaskan bahwa keselamatan itu bukan hasil kerja/usaha, tapi anugerah/hadiah/pemberian dari Allah. Kita menerima keselamatan itu oleh iman di dalam Kristus. Surat Roma 5:8-10, menegaskan bahwa keselamatan itu bukan hal yang tidak pasti, tapi suatu kepastian. Cara menerima keselamatan itu menurut surat Roma 10:9-10: Mengaku dengan mulut bahwa …. Dia sudah mati dan bangkit. Amin. Pdt. RHL. Tobing

Khotbah Kebaktian R. Tangga Tgl. 20-21 Maret 2018 1 Petrus 2:21-25


Seorang bapak separo baya berdiri menyaksikan kasih Tuhan dalam kehidupannya. Ia memulai dengan kisahnya dan berkata, ”Seorang ayah, anaknya dan teman anak itu berlayar di lautan pasifik saat badai besar menghantam dan ombak begitu tinggi, sang ayah tidak dapat menahan kapalnya dari badai besar itu, walaupun ia adalah seorang pelaut yang handal. Ketiganya terhempas ke lautan bebas. Sang ayah berusaha menggapai pelampung, namun ia harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Kepada siapa ia harus melemparkan satu-satunya pelampung itu. Anaknya atau teman anaknya. Dia hanya punya beberapa detik saja untuk memutuskan”. Ayah itu tahu kalau anaknya adalah ”anak Tuhan yang setia”, namun teman anaknya bukanlah seorang Kristen. Kegalauan gejolak hatinya untuk mengambil keputusan tidak sebanding dengan gejolak ombak yang begitu besarnya saat itu. Dan ketika sang ayah berteriak, ”aku mengasihimu, anakku!” diapun melemparkan pelampung itu ke arah teman anaknya. Pada saat itu dia menarik pelampung dan teman anaknya ke atas perahu, anaknya telah hilang dan lenyap ditelan ombak dalam gelapnya malam. Dan sampai sekarang tubuh anaknya tidak pernah ditemukan lagi.
”Si ayah mengetahui kalau anaknya pasti masuk ke dalam kekekalan bersama Tuhan Yesus dan ia tidak dapat membayangkan teman anaknya itu masuk kedalam kekekalan tanpa Tuhan Yesus. Karena itu dia mengorbankan anaknya. Oh betapa luar biasanya kasih Tuhan karena ia juga melakukan hal yang sama untuk kita!” lanjutnya, ”aku adalah teman dari anaknya itu”. Camkan hal ini, kita bisa hidup karena ada seseorang yang sudah mati buat kita 2000 tahun yang lalu.
Tuhan Yesus telah sengsara dan mati untuk kita. Kisah kematianNya telah kita renungkan setiap saat, secara khusus dalam sakramen perjamuan kudus ini. Kesedihan pasti merenggut setiap kita yang merenungkan tentang kematianNya yang mengerikan itu, tetapi sesungguhnya bukan hanya tentang kesedihan dan kedukaan saja melainkan juga tentang kehidupanNya. hidupNya sungguh singkat tapi apa yang diperbuatNya sungguh melampaui waktu hidupNya. Apa yang diperbuatNya tetap dikenang oleh setiap generasi dari masa ke masa, karena memang kehidupanNya adalah sebuah kasih Allah yang luar biasa dahsyatnya kepada manusia. Apa rahasianya? Jangan tanyakan tentang bagaimana Ia telah mati, tetapi bagaimana ia bisa mengisi kehidupanNya yang singkat itu sehingga menjadi berkat bagi manusia.
”Sungguh Ia telah mati untuk kita semua agar dengan kematianNya, kita bisa memperoleh kehidupan (keselamatan)”. Jika Ia telah mati agar kita hidup, maka marilah disisa waktu hidup ini, kitapun merangkai kehidupan kita dengan kasih dan senantiasa hidup dalam kebenaran yang meneladani Sang Juruselamat kita. Semuanya bukan demi menorehkan sebuah kenangan indah dalam hati dan pikiran generasi yang akan datang, tetapi sebagai ucapan syukur atas hidup yang diberikan olehNya. Marilah kita ingat bahwa Ia telah mati untuk kita, maka hendaklah kita hidup bukan saja untuk diri kita sendiri melainkan untuk Tuhan dan sesama. Kiranya hidup kita menjadi sumber inspirasi bagi orang lain sehingga orang lainpun mampu menatap kehidupan mereka sesuai dengan kebenaran firman Tuhan

"Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya."  1 Petrus 2:21
Semua orang di dunia ini tanpa terkecuali pasti pernah mengalami masalah.  Masalah, sakit-penyakit, penderitaan, kesesakan dan sebagainya adalah bagian dari kehidupan manusia selama hidup di dunia ini.  Berbicara tentang masalah dan penderitaan, tidak seorang pun yang rela mengalaminya walau kenyataannya hampir semua orang pernah menderita.  Masalah dan penderitaan itu datang bukan karena dicari, bahkan ia begitu saja datang tanpa diundang;  sekalipun kita berusaha untuk lari menghindarinya pada akhirnya ia datang juga dan melanda hidup kita.  Tetapi Alkitab menyatakan,  "Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa?  Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah."  (1 Petrus 2:20).  Saat ini kita hidup di hari-hari akhir di mana Tuhan hendak memurnikan umatNya.
Masalah dan penderitaan bagi orang percaya merupakan suatu proses pemurnian yang harus dilewatinya.  Penderitaan bisa saja terjadi karena perbuatan Iblis, karena  "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;"  (Yohanes 10:10a).  Adalah tugas kita untuk melawan segala tipu muslihat Iblis.  "Lawanlah dia  (Iblis)  dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama."  (1 Petrus 5:9).  Kita harus percaya bahwa Tuhan senantiasa menjaga dan memelihara umatNya, kecuali jika ada celah yang terbuka bagi Iblis karena dosa dan pelanggaran kita.  Jika kita tidak segera bertobat, Iblis akan masuk dan menguasai kita sehingga kita menderita.  Masalah dan penderitaan bisa terjadi karena seijin Tuhan karena Dia hendak memurnikan kita.
Dengan mengerti maksud Tuhan di balik masalah dan penderitaan kita akan sadar bahwa kita tidak sendirian menghadapinya, karena Tuhan Yesus senantiasa menyertai dan memberi kekuatan kepada kita.  Di balik masalah dan penderitaan yang kita alami selalu ada maksud mulia Tuhan bagi kita, karena itu tetaplah kuat dan jangan mengeluh.
Milikilah sikap hati yang benar di hadapan Tuhan, sebab masalah dan penderitaan pasti akan berlalu karena  "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,"  Pengkotbah 3:11a. Amen. Pdt. RHL. Tobing



Khotbah Keb. Rumah Tangga 13-15 Maret 2018 Yes 54:11-17



Hidup yang dihiburkan
Setiap Orang Tentunya menginginkan hidup dalam sukacita, namun ternyata keinginan itu bukan hanya datang dari diri kita saja, tetapi Tuhan juga menginginkan kita hidup dalam penuh dengan sukacita. Bahkan, keinginan Tuhan jauh lebih besar supaya kita bersukacita dalam hidup ini. Itulah sebabnya mengapa Tuhan menyatakan diriNya melalui Tuhan kita Yesus Kristus dan mati di kayu salib untuk keselamatan manusia. Sebagaimana dikatakan oleh Tuhan Yesus  “tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15: 13).
Jika kita memperdalam nas kita ini, bahwa perjalanan bangsa Israel menjadi pelajaran berharga bagi kita saat ini. Bagaimana bangsa itu dituntun Tuhan menjadi umat yang di berkati, menjadi bangsa yang besar. Namun, kita melihat apa yang terjadi, mereka menjadi bangsa yang terbuang, bangsa yang menderita, bangsa yang terhina.
Mengapa mereka menjadi seperti itu? Inilah contoh umat yang mengsia-siakan kasih Tuhan, bangsa yang tidak lagi mengenal Tuhan. Mereka hanya mengenal Tuhan dari luar, namun dari dalam diri dan dari perbuatan mereka sama sekali menjadi bangsa yang tidak mengenal Tuhan. Inilah yang dinamakan “kebiasaan yang tidak berbuah”.
Hal seperti ini penting untuk kita dalami, bisa saja karena kita sudah terbiasa dengan kegiatan keagamaan sehingga kita jatuh kepada rutinitas tanpa buah dalam sikap, perilaku dan pengharapan kepada Tuhan.
Apa yang telah terjadi pada umat Israel, yang walaupun mereka telah jatuh ke dalam dosa yang besar. Namun ternyata kasih Tuhan tetap kepada umatNya, maka Tuhan membuat perjanjian yang baru, yaitu umat yang di bangun dari kebenaran Tuhan. Dalam nas ini sudah sangat jelas bagaimana Tuhan membangun suatu kerajaan yang megah dengan batu-batu yang mahal dan orang yang mendiami kerajaan itu akan aman tanpa rasa takut.
Janji keselamatan itu pun telah di genapi di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Bahwa Dia adalah yang paling berharga dalam hidup kita, hanya di dalam Dia kita mendapatkan perlindungan, ketenangan dan kedamaian. Yesus Kristus adalah tempat kebahagiaan kita, tempat sukacita kita, tempat untuk memberkati dan penyelamat kita.Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata “sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15: 5), selanjutnya Tuhan Yesus juga berkata “supaya sukacitaKu ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh” (Yoh. 15: 11).
Bukan hanya keinginan Tuhan yang begitu besar supaya kita hidup dalam sukacita tetapi juga Tuhan memberikan jalan dan memanggil kita untuk masuk ke dalam sukacita yang berasal dari Tuhan. Maka, bagaimana kesungguhan kita untuk tetap menyatu dan bersama dengan Tuhan Yesus sepanjang hidup kita? Disinlah letak sukacita itu. Karena Allah itu bertindak sebagai pembebas. Tentu pembebasan yang dianugrahkan oleh Tuhan adalah untuk membaharui hidup manusia menjadi lebih baik.
Dan selanjutnya manusia itu diharapkan menjadi murid yang taat, royal kepada tuntunan Tuhan. Dan inilah yang harus diwatakan kepada manusia, hanya Tuhan yang menjadi sumber sukacita, sumber kebebasan abadi ketika kita tetap yakin dan percaya kepada Tuhan. Deutero Yesaya (Yes 40-55) menggarisbawahkan bagaimana jiwa manusia yang dibebaskan dari keterbatasan-keterbatasan kebangsaan dan agama di bawah pembebasan Allah yang tidak tertahankan itu.
1.      Teks ini dituliskan pada jaman pembuangan di Babel. Israel sudah ditaklukkan dan Kota Sion Yerusalem telah menjadi puing-puing. 2.      Harus diakui bahwa pembuangan adalah akibat dari dosa-dosa mereka (lih.1: 2-9: mereka memberontak, jahat; 1:21 Yerusalem menjadi sundal, tidak ada keadilan, 2:6: melakukan praktek tenung, 3: 16:-4:1 wanita Sion menjadi sombong..dsb).
3.      Fakta itu jelas mereka pahami. Tapi yang menjadi persoalan sekarang adalah mereka memahami bahwa Tuhan sedang menghukum mereka dan menghabisi mereka dengan kesusahan ini. Tuhan dianggap telah meninggalkan [melupakan] bangsa itu sendirian (lih. Yes 40:27; 49:14: TUHAN telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku).
4.      Melalui teks ini, Yesaya memberitahukan kepada bangsa itu, bahwa anggapan mereka keliru. Tidak lama lagi pertolongan Allah akan datang, membebaskan dan memerdekakan mereka.
5.      Tentang kasih setia Allah, menurut Yesaya dalam ay.10. tidak perlu diragukan. Biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setiaKu tidak akan beranjakdari padamu dan perjanjian damaiKu tidak akan bergoyang firman TUHAN, yang mengasihani engkau.
6.      Jadi jelaslah bahwa hukuman yang dialami bangsa Israel itu bagian dari proses pembelajaran bukan pemusnahan dan bukan pula menginsyaratkan bahwa Allah melupakan mereka.
7.      Ayat 11-12. Proses pendamaian Allah dengan bangsa itu semakin dekat dan jelas. Karya pembebasan itu digambarkan sebagai ‘penciptaan baru’ yang di dalamnya Tuhan akan meletakkan alas dan dasar yang baru, kemuncak-kemuncak tembok yang baru, pintu-pintu gerbang juga tembok perbatasan akan diperbaharui menjadi baru. Tidak ada lagi tiang-tiang yang roboh, puing-puing yang berserakan. Semua akan diperbaharui dan menjadi baru kembali.
8.      Ayat 13-15. Pembebasan itu tidak hanya menyangkut pembaharuan phisik kota-kota mereka tapi juga membawa mereka kembali kepada status awal menjadi bangsa Tuhan “semua anakmu akan menjadi murid TUHAN dan sejahtera”. Pembebasan juga akan mengembalikan martabat mereka dan Tuhan akan menjadi pelindung atas musuh mereka.
9.      Ayat 16-17. TUHAN memberi penegasan kembali akan wibawaNya sebagai Sang Pencipta dan penuh kuasa yang berkuasa atas semua ciptaanNya sehingga tidak ada yang perlu ditakutkan. Inilah yang menjadi bukti akan janji Allah kepada mereka dan menjadi bagian dari hamba-hamba TUHAN dan kebenaran akan diterima dari Tuhan.
10.  Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia. Manusia pernah meninggalkan Tuhannya! Namun demikian  janji Tuhan tidak akan diingkari. Kasih setiaNya tetap untuk selamanya. Kenyataan inilah yang membawa kita pada pengharapan dan suka cita sesuai dengan arti Minggu Letara (bersukacitalah!) sebab Allah selalu menjadi pembebas dan solusi terakhir dari semua ketidakmampuan kita untuk menterjemahkan rumit dan sulitnya hidup ini. Amen.



Text Box: Bersyukurlah kepada Allah Bapa, Tuhan kita Yesus Kristus, Ia sangat mengasihani kita. itu sebabnya Ia memberikan hidup yang baru dengan menghidupkan kembali Yesus Kristus dari kematian. Ini memberikan kita harapan yang kokoh. (1 Petrus 1:3)

 

 

Tata Ibadah

Kebaktian Syukuran Memasuki Resto Baru

PINUKKA dari Kel. Ir. T.M. Sihombing. MT/Br.                                Rajagukguk




 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 





1.    Marilah kita mulai Kebaktian Pengucapan syukur ini, dengan bernyanyi KJ no. 392:1-3          KU BERBAHAGIA
a.     “Ku berbahagia, yakin teguh : Yesus abadi kepunyaanku !
Aku warisnya, kuditebus, ciptaan baru Rohul Kudus.
Ref ; Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
        Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
b.     Pasrah sempurna, nikmat penuh, suka sorgawi melimpahiku.
Lagu malaikat amat merdu ; kasih dan rahmat besertaku (Ref)
c.     Aku serahkan diri penuh, dalam Tuhanku hatiku teduh.
Sambil menyongsong kembaliNya, “ku diliputi anugerah.

2.    Votum/doa                                                                                  
P = Pemimpin;   J= Jemaat;        
P
:
Ibadah pengucapan syukur ini, kita mulai di dalam nama Allah Bapa dan nama anakNya Yesus Kristus dan nama Roh Kudus yang menciptakan langit dan bumi. Amin
J
:
Aku senantiasa mengucap syukur kepada Allah, atas kasih karuniaNya yang begitu besar di dalam Yesus Kristus.
P
:
Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di negri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena Tuhan.
J
:
Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya dan Ia akan bertindak.
P
:
Berdiam dirilah dihadapan Tuhan dan nantikanlah Dia, maka segala sesuatu yang kamu lakukan akan di berkatiNya.
J
:
Sesungguhnya orang-orang yang diberkatiNya akan mewarisi negri, tetapi orang-orang yang dikutukiNya akan dilenyapkan.
P
:
Tuhan senantiasa menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya. Amin

3.    Bernyanyi Kj. No. 393 :1          tuhan betapa banyaknya
Tuhan, betapa banyaknya berkat yang Kau beri,
teristimewa RahmatMu dan hidup abadi.
Trima kasih, ya, Tuhanku atas keselamatanku !
Padaku telah Kau beri hidup bahagia abadi.

4.    pembacaan Firman Tuhan (Responsoria)             
P
:
Setiap orang yang mendengar perkataanku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu tetapi tidak rubuh sebab didirikan di atas batu.
J
:
Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain selain dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.
P
:
Hanya dekat Allah saja aku tenang daripadaNyalah keselamatanku.
Kel.
Sihombing
:
Ya Tuhan, jadikanlah Usaha Resto Pinukka ini menjadi kemuliaan nama-MU dan sukacita bagi banyak orang. Tempat kami mengembangkan usaha, sekaligus tempat kami melaksanakan tugas pelayanan kami, dan menjadi altar kecil untuk memuji dan memuliakan namaMu dan menjadi saluran berkat bagi orang lain.
J
:
Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.
P
:
Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku aku tidak akan goyah.
Kel.
:
Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah tangga kami sia-sialah orang yang membangunnya. Terimakasih Tuhan dengan rendah hati kami mensyukuri segala berkat yang telah Kau limpahkan kepada kami.
P+J
:
Rumah dan harta adalah warisan nenek moyang tetapi istri yang berakal budi adalah karunia Tuhan
P
:
Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik bahwasannya kasih setiaNya untuk selama-lamanya. Amin
J
:
Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan.
P
:
Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.
P+J
:
Jiwaku bersukaria, kalau bibirmu mengatakan yang jujur. Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapi takutlah akan TUHAN senantiasa.
P
:
Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.


  1. kusiapkan hatiku tuhan.
Kusiapkan hatiku Tuhan, ‘tuk dengar Firman-Mu saat ini.
Kusujud menyembah-Mu Tuhan, masuk hadirat-Mu saa ini.
Curahkan urapan_mu Tuhan bagi jemaat-Mu saat ini,
Kusiapkan hatiku Tuhan, ‘tuk dengar Firman-Mu.
Reff.
Firman-Mu Tuhan tiada berubah.
Dahulu sekarang, selama-lamanya tiada berubah,
Firman-Mu Tuhan penolong hidupku,
Kusiapkan hatiku Tuhan, ‘tuk dengar Firman-Mu.
6.    renungan: Pdt. R.H.L. Tobing, STh. MA
7.    bernyanyi Kj. No. 395 :1          Betapa indah harinya
Betapa indah harinya saat kupilih Penebus.
Alangkah suka citanya ; ku memb’ritakannya terus.
Indahlah harinya Yesus membasuh dosaku.
“kudiajari Penebus berjaga dan berdoa t’rus.
Indahlah harinya Yesus membasuh dosaku.

8.    Persembahan : 1 Kor 9:13-14  sambil mengumpulkan persembahan bernyanyi      betapa hatiku
Betapa hatiku berterima kasih Yesus, Kau mengasihiku, Kau memilikiku
Hanya ini Tuhan Persembahanku, Segenap hidupku jiwa dan ragaku
Sbab tak kumiliki harta kekayaan, Yang cukup berarti tuk’ku persembahkan
Hanya ini Tuhan permohonanku, Terimalah Tuhan persembahanku
Pakailah hidupku sebagai alatMu, Seumur hidupku..

9.    Doa persembahan + berkat + Doa penutup







"Keagungan dan Kasih Setia Tuhan"


Tak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupannya orang beriman juga mengalami kesulitan, dan bahkan penderitaan. Kesulitan dan penderitaan itu bisa terjadi karena kesalahan diri sendiri, atau disebabkan oleh sesuatu di luar dirinya, yang kemudian juga menimbulkan banyak pertanyaan. Tidak jarang, ketika penderitaan hidup datang, apalagi bila dirasakan terlalu berat, orang beriman menjadi ragu-ragu akan kasih dan kesetiaan Tuhan. Di satu pihak, orang beriman menyakini akan kebesaran dan keagungan Tuhan, namun pada pihak lain, ia sebagai orang beriman, seperti berada pada keadaan yang tidak memungkinkannya mengakui kebesaran dan keagungan Tuhan. Dengan membaca dan merenungkan firman Allah, kita akan tahu bahwa Allah selalu memperhatikan keadaan umatNya, dan pasti akan menolong dan menyelamatkannya. Sejak semula kasih Allah tidak berubah. Sekalipun banyak orang menolak dan ingin menghalangiNya, Ia tetap dengan rencanaNya, yakni membawa manusia kembali kepadaNya. Melalui manusia Yesus, yang dapat merasakan semua pergumulan dan penderitaan manusia, Allah menyatakan kasih dan karuniaNya yang menyelamatkan. Dengan menghayati apa yang dilakukan Allah di dalam Yesus Kristus ini, umat beriman akan dikuatkan dalam menjalani kehidupannya, sekalipun tidak selalu mudah. Kitab Kolose merupakan suatu dokumen yang mengandung arti yang dalam sekali dan tidak ternilai harganya. Uraian ajaran ini bernada pembelaan karena Paulus bermaksud memerangi ajaran-ajaran mistik dan asketik yang bercorak Yahudi dengan pengertian yang salah tentang alam, penyembahan kepada malaikat-malaikat. Tema pokok Kolose ini adalah kepenuhan dan keutamaan Kristus dan kesempurnaan orang Kristen dalam Dia dibandingkan mistik dan siksaan diri yang diajarkan oleh ilmu filsafat dan hikmat manusia. Ajaran sesat yang mencampurkan teosofi, agama Yahudi dan asketisisme itu nampak bersifat rohani, tetapi pada hakekatnya menjauhkan Kristus dari jabatan-Nya sebagai Tuhan. Beberapa hal yang dibentangkan dalam Kol 1:15-20 ini yang melukiskan Kristus sejati sebagai Allah adalah: pertama, Dia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Kedua, sulung dari segala yang diciptakan. Ketiga, di dalam Dialah diciptakan segala sesuatu. Keempat, Dia adalah terlebih dahulu dari segala sesuatu. Kelima, segala sesuatu ada di dalam Dia. Keenam, seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia. TIADA TANDING, TIADA BANDING! (Kolose 1:15-20) Pengantar Bagi orang Kristen, Allah dikenal bukan saja sebagai Pencipta, tetapi juga Pembebas. Cara pembebasan itu ialah melalui karya penebusan yang dikerjakan oleh Anak-Nya yang tunggal. Penebusan itu berisikan penebusan dosa (1:13-14). Sebagai bentuk syukur atas karya penebusan Allah tersebut, meluaplah syukur rasul Paulus dalam bentuk puji-pujian yang menunjukkan betapa agung dan utamanya Kristus di atas segala sesuatu. Pasal 1:15-20 merupakan doksologi (pujian) Paulus rentang keagungan dan kemuliaan Yesus Kristus. Ia termulia atas seluruh ciptaan (ay. 15-17) dan di dalam penebusan (18-19). Paulus menunjukkan adanya sesuatu yang hilang di dalam ajaran yang menyelusup ke dalam jemaat Kolose: pandangan yang tepat akan siapa Kristus. Maka, dengan cara pandang yang terarah ini, jemaat diberi peranti untuk menangkal setiap bentuk penyelewengan. Di sini, rasul mengajak jemaat masuk ke dalam suasana penyembahan terhadap Pribadi Kristus, dan bukan sekadar dimensi doktrinal. Keutamaan Kristus ini secara langsung melucuti kepongahan kuasa-kuasa lain yang ingin berkuasa. Penjelasan Teks Kalau kita perhatikan, ada dua bait di dalam nyanyian pujian di 1:15-20 Bait pertama—Kristus, Allah, dan Ciptaan, 1:15-16 1:15 Kristus, gambar Allah 1:16 Kristus, Agen Penciptaan dan Tujuan Segala Sesuatu Bridge—Kristus, Figur Sentral, 1:17,18a 1:17a Kristus, Yang Terlebih Dahulu Ada 1:17b Kristus, Penopang Segala Sesuatu 1:18a Kristus, Kepala Gereja Bait Kedua—Kristus, Allah, dan Ciptaan Baru, 1:18b-20 1:18b Kristus, Dasar Gereja 1:19 Kristus, Kepenuhan Allah 1:20 Kristus, Sarana Pendamaian Segala Sesuatu Pertama, Kristus, Allah dan Ciptaan (1:15-16). Kristus disebut sebagai gambar Allah (eikon Theou) yang berarti representasi tepat atau perwujudan Allah sendiri. Allah adalah roh, dan Ia tidak akan pernah kelihaatan (1Tim. 6:16). Anak Allah adalah pengungkapan yang kelihatan. Ia tidak hanya mencerminkan Allah, tetapi, sebagai Allah sendiri, Ia menyatakan Allah kepada kita (Yoh. 1:18; 14:9; Ibr. 1:1-2). Kemuliaan Kristus mengekspresikan kemuliaan ilahi-Nya (2Kor. 4:4). Ia bukanlah salinan, tetapi pengejawantahan hakikat Allah sendiri. Kita memperoleh “pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2Kor. 4:6). Kristus adalah “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” (Ibr. 1:3). Sebagai yang sulung dari segala ciptaan, Kristus memiliki keutamaan dan kuasa seperti seorang anak sulung di keluarga kerajaan (Ibr. 1:2). Ia datang dari surga, bukan dari debu tanah (1Kor. 15:47), dan Dialah Tuhan segala sesuatu (Rm. 9:5; 10:12; Why. 1:5; 17:14). Kristus benar-benar suci (Ibr. 7:26-28; 1Ptr. 1:19; 2:22; 1Yoh. 3:5), dan Ia memiliki kuasa untuk menghakimi dunia (Rm. 2:16; 2Kor. 5:10; 2Tim. 4:1). Karena itu, Kristus lebih dari segala sesuatu di atas ciptaan, termasuk dunia roh. Meskipun kata “sulung” mengandung arti anak pertama yang dilahirkan manusia, 1:16 segera menjelaskan kebenaran siapa Yesus, bahwa Ia adalah Pencipta. Kristus, tidak sama dengan ciptaan; Ia sendiri adalah Khalik alam semesta. Sebagai Agen dan Tujuan Segala Sesuatu, di sini Paulus memakai kata sambung di dalam, melalui dan untuk Kristus. Jadi, Paulus hendak membungkam pernyataan bahwa Kristus bukan setara dengan Allah. Kata sambung “untuk” menunjukkan bahwa tujuan dari segala ciptaan yakni untuk “memuliakan Kristus.” (Bdk. Yoh. 1:3; Ibr. 1:2-3). Sebagaimana seluruh kepenuhan Allah berada di dalam Dia (1:19), maka di dalam Dia pula seluruh kuasa penciptaan menyatakan Dia adalah Tuhan yang terutama. Oleh sebab para pengajar sesat percaya bahwa dunia fisik ini jahat, mereka berpikir bahwa Allah yang adalah roh tak mungkin menciptakannya. Tetapi Paulus menerangkan bahwa segala singgasana, maupun kerajaan, pemerintah, maupun penguasa, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, tunduk di bawah kuasa Kristus sendiri. Pada zaman Paulus diyakini bahwa umat manusia sedang menghadapi kuasa yang bekerja untuk menjatuhkannya. Tetapi segala macam kuasa ini tunduk tak berkutik di bawah Kristus. Kristus, tiada tanding dan tiada banding. Karena Kristus adalah Pencipta semesta, maka segala kuasa baik yang tak kelihatan maupun yang kelihatan berada di bawah kekuasaan mutlak Kristus. Maka, tidak benar pula jika dikatakan bahwa di samping Kristus, ada perantara lain seperti malaikat yang patut dipuja. Semua kuasa malaikat dan kuasa langit dan bumi takluk di bawah kuasa Kristus. Dialah Tuhan segala sesuatu. Kedua, Kristus adalah Figur Sentral (1:17, 18a). Bahwa Kristus yang lebih dahulu ada. Kristus sudah ada baik secara waktu maupun posisi. Ia adalah Allah yang agung. Kristus Penopang segala sesuatu. Ia bukan hanya Pencipta; Ia juga Penjaga segala hal. Oleh Dia, segala sesuatu ada, dan oleh Dia segala sesuatu terus menjadi. Di dalam Dia, segala sesuatu terjalin, terpelihara dan terjaga dari kekacauan. Sebab Kristus adalah Penopang kehidupan, tidak ada satu pun di dalam dunia yang dapat bebas dari Dia. “Segala sesuatu ada di dalam Dia” dapat dipahami “segala sesuatu terjalin satu sama lain” (sunestaken), yaitu dalam satu keterikatan yang koheren dan logis, tertopang dan tegak, terjaga dari segala keterpurukan dan kekacauan. Di dalam Dia saja dan oleh sabda-Nya, kita menjumpai prinsip pemersatu kehidupan. Umat di Kolose, dan semua kaum beriman, adalah hamba-hamba-Nya yang tiap hari harus mempercayai penjagaan dan pemeliharaan-Nya. Serta, Kristus adalah Kepala Gereja. Gereja ada oleh sebab Kristus adalah awal dan sumber keberadaan-Nya. Kristus adalah Sang Kepala. Orang-orang Kristen harus bekerja bersama-sama di bawah perintah dan otoritas Yesus Kristus. Gereja terdiri dari banyak tipe manusia dari segala jenis latar belakang, dengan pelbagai karunia dan kemampuan. Kendati berbeda-beda, semua orang percaya memiliki prinsip pemersatu—iman di dalam Kristus. Di dalam kebenaran hakiki ini, semua orang percaya bersepakat. Semua orang percaya tidak kehilangan identitasnya, tetapi semuanya bersatu di dalam Kristus, kepala tubuh. Tiap anggotanya bekerja untuk menuntaskan pekerjaan Kristus di atas dunia (Ef. 4:15). Ketiga, Allah, Kristus, dan Ciptaan Baru (1:18b-20). Kristus disebut sebagai dasar gereja, sebab Dialah “yang sulung . . . yang pertama bangkit dari antara orang mati.” Dialah yang pertama mati serta bangkit. Orang yang percaya pun akan mengalami kebangkitan (1Kor. 15:20; 1Tes. 4:14). Tetapi Ia tetap menduduki tempat yang terutama. Kebangkitan Kristus adalah batu penjuru keyakinan Gereja—alasan keberadaan gereja. Hanya Kekristenan yang memiliki Allah yang menjadi manusia, wafat dengan cara hina bagi umat-Nya, dan dibangkitkan kembali dalam kuasa dan kemuliaan untuk memerintah ciptaan lama dan ciptaan baru (yang dimulai oleh gereja) selama-lamanya. Kebangkitan meyakinkan kaum beriman bahwa Kristus bukan legenda; Ia hidup dan memerintah kerajaan-Nya. Kristus juga Kepenuhan Allah. Allah berkenan agar “kepenuhan-Nya” (“totalitas” atau “kesempurnaan”) tinggal (artinya “hidup secara permanen”) di dalam Kristus. Rasul pun menolak ajaran sesat bahwa segala kuasa malaikat mengalir dari Allah, memenuhi ruang antara surga dan bumi, sehingga menjadi perantara Allah dan manusia. Ketika kita memiliki Kristus, kita memiliki segala sesuatu yang ada pada Allah, dalam rupa manusia. Segala ajaran yang mengecilkan salah satu aspek—kemanusiaan dan keilahian Kristus—adalah ajaran yang salah. Amen Pdt. RHL. Tobing