Kamis, 17 Agustus 2017

Peduli (Empati) Perempuan yg Peka terhadap isu2 sosial Masyaraat


Matius 25:31-46

Terlalu sering kita mendengar panggilan untuk melayani Tuhan dan melayani sesama. Materi tersebut tidak pernah habis-habisnya untuk dibahas, dikemukakan, dan dimaknai secara baru. Karena memang melayani Tuhan dan melayani sesama merupakan panggilan yang begitu esensial dalam kehidupan umat percaya. Bukan hanya dalam kehidupan jemaat, namun dalam kehidupan sehari-hari istilah “melayani” telah menjadi ukuran mutu dan profesionalisme suatu bidang pekerjaan. Semakin seseorang atau lembaga apapun yang mampu melaksanakan pelayanan, maka semakin berkualitas, terpercaya, dan dihargai oleh banyak orang. Karena itu di setiap bank, kantor-kantor pemerintah/swasta, perusahaan-perusahaan, dan industri berlomba-lomba mengedepankan mutu suatu pelayanan kepada masyarakat. Namun ironisnya, dalam kehidupan gereja justru semakin jarang umat mau berlomba-lomba meningkatkan mutu pelayanan. Sebab setiap orang berpikir dan mengharap, “kapan saya mendapat pelayanan.” Namun jarang di antara umat yang berpikir dan memiliki komitmen, “kapan saya memberi pelayanan yang terbaik bagi Tuhan dan sesama.” Kita tidak dapat membayangkan seandainya setiap umat memiliki beban dan tanggungjawab untuk saling melayani, dan mengembangkan pelayanan tersebut kepada masyarakat dalam lingkup yang lebih luas, pastilah dampak kehadiran gereja akan menjadi signifikan sebagai garam dan terang dunia.
Urgensi pentingnya pelayanan kepada sesama dalam perikop Injil Matius 25:31-46 ditempatkan dalam konteks pengadilan zaman akhir. Pentingnya pelayanan bukan karena mampu menghasilkan keuntungan/profit, namun pelayanan kepada sesama menentukan keselamatan dan hidup kekal. Dalam hal ini kita dapat melihat pentingnya pelayanan kepada sesama dalam konteks pengadilan zaman akhir, yaitu di Matius 25:40, dan Matius 25:31. Di Matius 25:40, setiap umat akan diadili Kristus berdasarkan segala sesuatu yang kamu lakukan kepada sesama, dan di Matius 25:31, mempersaksikan Kristus selaku Raja akan datang dalam kemuliaan bersama para malaikat-Nya untuk mengadili setiap orang seperti gembala yang memisahkan domba dari kambing. Dengan perkataan lain, selaku Raja, Kristus akan menjadi Hakim yang memisahkan manusia dalam kelompok “kambing” atau “domba” berdasarkan perilaku mereka terhadap sesama khususnya sesama yang lemah dan tertindas.
Pada umumnya dunia mengembangkan profesionalisme pelayanan kepada masyarakat dalam rangka bisnis dan sikap humanisme. Namun dalam kesaksian Injil Matius 25:31-46, makna dan hakikat pelayanan kepada sesama ditempatkan lebih mendalam. Sebab perlakuan kita kepada sesama pada hakikatnya kita lakukan kepada Kristus. Apabila kita mengasihi, mempedulikan, menghargai, dan menolong setiap orang pada hakikatnya kita melakukannya kepada Tuhan Yesus. Sebaliknya bila kita berbuat jahat, berlaku sewenang-wenang, mempraktikkan ketidakadilan, menindas, merusak nama baik seseorang, dan mengeksploitasi sesama untuk keuntungan diri sendiri pada hakikatnya kita memperlakukan kepada Tuhan Yesus. Sesama manusia bukan sekedar “orang-orang di sekitar” kita, namun sesama adalah manifestasi dari wajah Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu tidaklah mengherankan jika filsuf Emmanuel Levinas memahami sesama sebagai peristiwa epifani (penampakan Tuhan). Dalam bukunya yang berjudul Totality and Infinity (1979), Levinas menggunakan istilah “wajah” (visage). Makna “wajah” yang dimaksud oleh Levinas bukanlah secara harafiah seperti seseorang yang memiliki kepala yang terdiri dari mata, hidung, mulut, dagu, pipi, dan sebagainya. Makna “wajah” dalam filsafat Levinas dipakai untuk menunjuk pada situasi orang lain muncul di hadapan kita. Kita berhadapan muka dengan muka dengan orang lain. Orang lain dengan wajahnya itu menyapa kita baik dengan ataupun tanpa kata. Wajah orang lain tersebut dipahami Levinas sebagai suatu “epifani” (penampakan), yaitu peristiwa penampakan wajah melalui peristiwa munculnya ‘orang lain’ di hadapan ‘aku’ (fenomena), serta penglihatan sebagai sarana untuk menangkap ‘orang lain’ yang muncul di hadapan ‘aku’ (Levinas 1979, 194-195). Karena itu tanggungjawab setiap orang adalah menghormati dan saling membagi ruang.
Memberitakan Injil berarti kita menghormati, peduli, dan mengasihi sesama dalam konteks hidupnya. Injil Kristus sebagai kabar baik harus menjadi suatu kabar yang meneguhkan harkat dan martabat kemanusiaan. Karena itu kita selaku gereja menolak dengan tegas setiap sikap/tindakan yang melecehkan orang lain, penindasan dalam bentuk apapun, kekerasan fisik atau mental, sikap pengabaian kepada orang yang menderita, dan eksploitasi manusia dalam berbagai sistem. Tugas memberitakan Injil berarti kita membuka setiap sekat dan belenggu, sehingga tercipta suatu ruang kasih yang berbela-rasa. Karena itu kita wajib memperlakukan setiap orang sebagai sahabat-sahabat Kristus. Jika demikian, apakah kita telah meneladan Kristus yang menjadi sahabat bagi sesama, sehingga kita terpanggil menabur kasih Allah, dan memberitakan Injil Kristus kepada dunia?


“Berjiwa Muda”

Khotbah Lansia Yesaya 40:21-31

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang. (Amsal 17:22)
Setiap orang memiliki alasan saat hendak atau saat sedang melakukan sesuatu. Ada motif yang menyebabkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Bahkan, kualitas hasil pekerjaan seseorang sangat dipengaruhi oleh motivasinya.
Namun, ada kalanya seseorang kehilangan motivasi dan semangat ketika hendak melakukan sesuatu. Pernahkah Sdr/i kehilangan motivasi dan semangat ? sdr yang mulanya menggebu-gebu mengerjakan suatu hal – ternyata setelah beberapa waktu – akhirnya kehilangan minat untuk melanjutkan atau menyelesaikan pekerjaan tersebut; pernahkah sdr mengalaminya?
Penyebab hilangnya semangat dan motivasi dalam diri seseorang bisa bermacam-macam. Ada orang yang kehilangan semangat karena banyaknya masalah yang dihadapinya. Ada orang yang vitalitasnya menurun karena banyaknya kesibukan yang membebaninya. Ada orang yang semangatnya menurun karena masalah disorientasi atas tujuan hidupnya. Ada pula orang yang kehilangan semangat karena merasa tidak ada yang mendukung dirinya saat melakukan suatu pekerjaan.
Kehilangan motivasi dan semangat pernah di alami bangsa Israel setelah mereka dibuang. Mereka ragu atas diri mereka sendiri sebagai bangsa pilihan Allah. Apa sebabnya? Yerusalem sudah porak-poranda; Israel dibuang dan pembuangan itu berlangsung sangat lama. Mereka juga mengalami kehidupan yang sulit di Babel. Bangsa Israel menganggap bahwa Allah telah melupakan mereka dan akan membiarkan mereka hancur. (Yesaya 40:27; 49:14).
Itu sebabnya dalam khotbah ini (Yesaya 40:21-31), Yesaya dengan keras bertanya dengan gaya retoris sampai tiga kali: tidakkah kamu tahu; tidakkah kamu dengar; tidakkah kamu mengerti – kepada bangsa Israel. Dalam pertanyaan ini kelihatan bahwa Yesaya seolah kecewa melihat orang Israel yang semangatnya sudah menurun.
Pada zaman ini banyak sekali orang yang merasa putus asa dan kecewa secara berlebihan dan berlarut-larut. Perasaan ini sering di sebut dengan depresi. Depresi tidak memandang bulu, orang dari golongan atas atau rendah, kaya atau miskin, terpelajar atau tidak, tua atau muda semuanya dapat di serang oleh perasaan ini. Depresi telah menyelinap kedalam kehidupan manusia, membawa kesusahan yang tak terkatakan.
Tujuan universal manusia ialah memperoleh damai sejahtera serta kebahagiaan yang sempurna, semua orang ingin meperoleh kepuasan hati. Diseluruh dunia sejumlah besar dokter, pendeta, ahli jiwa, psikiater sibuk dalam usaha untuk menolong orang-orang untuk mendapatkan kebahagiaan.
Usaha untuk mendapatkan damai sejahtera itu sering kali tidak mebuahkan seperti yang diharapkan. Dalam mencari kepuasan pribadi, berjuta-juta orang akhirnya menemui kegagalan dan yang menyedihkan.
Jika anak Tuhan kalah terhadap masalah, akan mempengaruhi kehidupan pribadinya maupun kesaksiannya sebagai orang Kristen. Hal ini akan merusak hubungan pribadi seseorang dengan Allah, kebahagiaan mereka akan hilang hal ini juga akan menggerogoti inti kehidupan rumah tangga dan hubungan dengan orang lain.
Semua orang pasti pernah merasakan, kecewa, takut, khawatir dan was-was perasaan itu membuat tubuh menjadi lemas dan semangat menjadi pudar, dari manakah kita mendapat kekuatan yang baru ?
Nats renungan kita ini adalah penghiburan bagi umat Allah, dimana Allah akan mengakhiri perhambaan mereka. Perhambaan ini memang di sebabkan oleh dosa dan kesalahan mereka, tetapi dosa dan kesalahan itu telah diampuni oleh Tuhan. Tuhan akan datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya yang berkuasa. umat Isarael kembali diajak merenungkan “siapa yang paling besar dalam dunia ini”. Karena pada waktu itu umat yang di buang ke babel, merasakan tidak ada yang lebih besar dari kerajaan dan dewa Babel. Pola pikir seperti ini membuat hilangnya pengharapan merea akan kebebasan. Mereka lebih takut kepada manusia dari pada Allah. (Illustrasi: Bom di Prancis) Karena itu…:
1.Hiduplah dan bekerjalah bersama Kristus.Hidup baru bersama Kristus adalah hidup yang tidak pesimis (rendah) , putus asa, tetapi adalah hidup yang penuh semangat, optimis, kuat dan dipenuhi oleh pengharapan.
2.Perubahan hidup dari segi negatif (rendah, tidak bermutu) bisa berubah menjadi hidup yang baik dan berguna, jika kita mau menerima Kristus dalam hidup kita (2 Kor 5:17)
3.Jaman sekarang adalah jaman yang penuh dengan berbagai macam problema hidup. Problema hidup itu acapkali mengganggu stabilitas hidup kita, sehingga kita sering merasa kecewa, tidak berdaya, dan putus asa. Kadangkala kita menggugat Tuhan, seraya berkata bahwa Tuhan itu tidak adil, Tuhan tidak bekerja lagi buat hidup dan kehidupan saya. Sebenarnya Tuhan mengetahui semuanya itu, Tuhan mengetahui apa yang mau diperbuatnya, yang penting bagi kita, apakah kita mau berserah kepadaNya dan memohon bimbingannya dalam perjalanan hidup kita, niscaya Tuhan akan memberikan segala yang perlu bagi kita, berkat yang berkelimphan (bnd Rm 11:33-36)
Mengalami masalah seperti ini (kehilangan semangat) sesungguhnya sangat berbahaya. Bangsa kita ini juga sedang berada dalam situasi serupa. Kepercayaan masyarakat terhadap para pemimpin negara sudah berkurang. Tindak kejahatan semakin bertambah. Keadilan tidak bisa ditegakkan. Akibatnya masyarakat menjadi pesimis atas nasib bangsa ini. Masyarakat kehilangan semangat dan vitalitasnya untuk membangun dirinya. Sehingga tidak heran, seorang pengamat pernah mengatakan, “Seharusnya Bangsa Indonesia sudah collapse saat ini.” Jika sebuah bangsa kehilangan semangat dan vitalitasnya, bangsa tersebut bisa punah.
Nah, jika itu mungkin terjadi pada sebuah bangsa, maka bagaimana jika itu kita alami sendiri? Mudah-mudahan tidak turut punah, seperti kata Ayub, “Semangatku patah, umurku telah habis, dan bagiku tersedia kuburan” (Ayub 17:1).
Pada dasarnya Allah menghendaki bahwa kehidupan Kristen itu sebagai kehidupan yang penuh gairah dan bersemangat. Semangat yang ada dalam diri orang Kristen berasal dari Roh Kudus. Ialah causa yang menggerakkan orang-orang Kristen untuk berbuat hal-hal benar dan besar dalam kehidupan.
Melalui Firman Allah ini, Tuhan mengatakan kepada kita bahwa segala kendala yang kita hadapi dalam hidup tidak boleh membuat kita takut, lemah, dan kehilangan keberanian kita. Kekuasaan orang lain yang berusaha membatasi ruang gerak kita tidak boleh membuat kita minder atau tawar hati. Tapi hendaklah kita mengikuti kata Paulus, “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Tentu, Allahlah yang menguatkan kita dalam setiap keluh kesah kita.
Tuhan tidak pernah tersembunyi dan meninggalkan sdr/i dari setiap pergumulan yang sdr hadapi. Ini adalah kesaksian Yesaya. Allah tidak pernah menjadi lelah dan menjadi lesu melihat kelemahan yang ada dalam diri kita. “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yesaya 40:29).
Allah berkuasa untuk menaklukkan segala kekuasaan yang menghalangi kita untuk melakukan kebaikan yang terbaik dalam kehidupan kita. Ia mampu menjauhkan kita dari segala usaha jahat yang melemahkan jiwa kita. Oleh sebab itu, ketika Anda kehilangan gairah dalam hidup Anda untuk melakukan yang terbaik, nantikanlah Tuhan, sebab Anda akan mendapat kekuatan baru (Yesaya 40:31). Amin


"Mendengar, Mengerti dan Berbuah"

Matius 13 : 1 – 9 + 18 – 23,

I.              Pendahuluan
Dalam nats ini, Yesus memberi tips khusus bagi pengikut-Nya agar mereka bisa menjadi bagian dari Kerajaan-Nya. Untuk mempermudah pemahaman para pengikut-Nya, Yesus member perupamaan tentang seorang penabur, benih dan lahannya.
II.           Penjelasan Nats
Melalui perumpamaan ini, Yesus menjelaskan bahwa benih yang ditaburkan adalah FIRMAN ALLAH atau “firman tentang Kerajaan Allah.” Namun, Firman ini tidak memberikan hasil yang sama di semua tempat, karena tergantung pada tanah di mana Firman itu ditaburkan.
Benih Yang Jatuh di Pinggir Jalan dan Dimakan Burung Sampai Habis
Salah satu dari jenis tanah itu adalah tanah “di pinggir jalan”, yang menurut penafsirannya, adalah orang yang meskipun mendengarkan Firman Allah tetapi “tidak mengertinya”. Yang dimaksud dengan “tidak mengertinya” dapat kita ketahui melalui konteks dari perumpamaan ini. Kata bahasa Yunani yang dipadankan dengan “mengerti” dalam ayat di atas adalah kata kerja “suneimi” yang dipergunakan 6 kali dalam Matius 13, dan 5 di antaranya berkaitan dengan perumpamaan kita.
Yang dimaksud adalah pemahaman dan penerimaan akan Firman Allah dengan segenap hati dan dengan segenap pikiran kita yang terdalam. Pada hati yang telah menebal, Firman Allah seakan jatuh di pinggir jalan. Firman itu tidak akan tumbuh, apalagi menghasilkan buah (II Kor. 4:3-4 ; Ef. 4:17-19).
Orang-orang seperti ini adalah orang yang mendengar firman Tuhan, namun menolaknya sehingga iblis mengambil kesempatan untuk menggugurkan firman itu dari hatinya sampai habis, sehingga sia-sialah firman itu dia dengarkan karena tidak berdampak apa-apa bagi dia.
Benih Yang Jatuh di Bebatuan, Tumbuh, tapi Layu Oleh Sinar Matahari Karena Tanahnya Tipis
Benih dapat tumbuh di dalam beragam jenis tanah, namun ada jenis tanah yang membuat benih tidak dapat bertahan atau menghasilkan buah. Salah satu jenis tanah di mana benih, yang sekalipun pada awalnya cepat/ segera  tumbuh, namun pada akhirnya tidak dapat bertahan adalah benih yang jatuh ke tanah yang berbatu-batu. Penyebab benih tidak dapat bertahan di sana adalah karena batu-batu tidak memungkinkan benih untuk berakar sehingga dapat menyerap air.  Seperti yang kita lihat, tanah yang berbatu-batu adalah orang-orang yang mendengarkan Firman, segera menerimanya, bahkan menerimanya dengan penuh kegembiraan. Namun, ini tidak berlangsung lama, karena begitu terjadi penindasan dan penganiayaan, orang-orang ini pun murtad,. Jelas di sini, penyebab yang membuat mereka jatuh adalah karena mereka sangat lemah dalam penganiayaan dan penindasan. Sehingga, ketika Iblis melakukannya terhadap mereka, mereka pun segera jatuh. Kejatuhan mereka bukan disebabkan oleh karena penindasan itu terlampau berat untuk mereka tanggung, sebab II Korintus 4:17, I Korintus 10:12-13 and I Petrus 5:10 berkata bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami itu biasa dan tidak melebihi kekuatan kita (I Korintus 10:12-13). Sebaliknya, mereka jatuh karena tidak mau melakukan bahkan perlawanan terkecil pun terhadap si Iblis (Yak. 4:7; I Ptr. 5:8-9)
Bila kita tidak melawan Iblis, ia tidak akan lari dari kita. Orang yang sepertini perlu memahami bahwa mengikut Tuhan itu tidak cukup hanya semangat yang menggebu-gebu, namun disertai komitmen, tekad yang kuat dan teguh dan pondasi/ akar iman yang tertancap kuat.
Benih Yang Jatuh di Semak Duri, Tumbuh, tapi Mati Dihimpit Semak Duri
Tanah ketiga yang ke atasnya benih ditaburkan adalah di tengah semak duri. Benih yang jatuh di tanah ini dihimpit, sehingga ia tidak berbuah. Masalahnya adalah mereka menyimpan Firman Tuhan di dalam hati mereka, namun menyimpannya bersama-sama dengan hal-hal lain, seperti “kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan akan hal-hal lain”, bahkan menjadikan kekuatiran dan keinginan itu mengatasi firman Tuhan. Hal-hal ini akhirnya menjadi duri bagi pertumbuhan Firman, menghimpitnya dan membuatnya tidak berbuah. Apabila kita menerapkannya dan menempatkan kekhawatiran di posisi teratas dalam hidup kita, atau kita teperdaya oleh kekayaan atau keinginan untuk mengejar kesenangan duniawi dan hal-hal lain, maka benih Firman itu akan terhimpit dan tidak akan berbuah!
Menjadi seorang kristiani yang tidak berbuah lebih merupakan sebuah ironi. Yesus sendiri berkata bahwa berbuah adalah bukti seseorang itu adalah murid Kristus. Mereka yang tidak berbuah, mereka yang mengejar keinginan duniawi sehingga tidak berbuah bukanlah murid Kristus. Orang seperti ini lebih tepat dikatakan orang Kristen yang bukan pengikut Kristus.
Benih Yang jatuh di Tanah Yang Subur, Tumbuh dan Berbuah Berlipat Ganda
Kita telah mempelajari tiga jenis tanah yang ke atasnya benih Firman ditaburkan. Sayangnya tak satu pun dari ketiga tanah itu dapat membuat benih itu berbuah. Namun jenis keempat mengumpamakn seperti apa tanah yang BAIK yang menghasilkan buah itu. Matius 13:8, “Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”
Yesus menjelaskan makna benih yang keempat ini. “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti [Yunani: suniemi], dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”
Seperti yang kita ingat, kategori orang pertama tidak dapat “mengerti”, dan menerima Firman karena hati mereka tebal dan keras. Sebaliknya, orang-orang yang masuk kategori berbuah mengerti Firman dan menyimpannya dalam hati yang baik. Kategori yang berbuah ini memiliki apa tidak dimiliki oleh ketiga kategori yang tidak berbuah. Jadi, jika orang kategori pertama memiliki hati yang keras, di sini mereka memiliki hati yang baik. Jika orang kategori kedua tidak memiliki ketahanan dan segera jatuh begitu terjadi penindasan, di sini mereka memiliki ketekunan (mereka mengeluarkan buah dalam ketekunan, seperti yang dikatakan ayat di atas) dan tidak mudah menyerah. Jika pada orang kategori ketiga Firman Tuhan dihimpit oleh segala macam kekhawatiran dan berbagai keinginan lain menempati posisi tertinggi, di sini Firman Tuhan DISIMPAN di dalam hati mereka, dan Firman itu menduduki tempat tertinggi dalam hati mereka dan tidak tergantikan oleh hal-hal lain. Inilah kategori yang berbuah dan biarlah kita semua menjadi orang-orang yang termasuk dalam kategori ini sehingga kita akan menghasilkan banyak buah bagi Allah kita!
Orang Kristen Yang Berbuah
Tidak ada pohon yang berbuat dengan instan begitu ditanam, tetap ada proses yang harus dialami dan dihadapi. Benih (firman) harus ditanam di lahan (hati) yang tulus dan mau menerimanya, benih yang ditanam harus mengalami perubahan untuk menjadi tunas. Lahan harus dipupuk dan disiram sehingga tunas bertumbuh dengan baik. Pertumbuhan dan pemeliharaan yang baik akan menghasilkan buah yang baik pula. Tentu dalam proses itu akan banyak tantangan yang dihadapi (hama, cuaca, dll). Buah yang baik akan memberi gizi dan kesehatan bagi orang yang menikmatinya. Maka buah iman orang Kristen yang baik dan benar juga akan mendatangkan sukacita dan berkat bagi orang lain yang ada di sekitarnya. Orang Kristen yang berbuah adalah orang yang mau mendengar firman Tuhan, mengerti akan perintah Tuhan dalam firman-Nya dan melakukan apa yang baik dan benar di hadapan manusia, maka buahnya tidak hanya akan dinikmati sendiri, namun juga orang yang ada di sekitarnya.
III.        Aplikasi
Firman Allah dapat ditaburkan kepada bermacam-macam orang. Namun, hasilnya akan berbeda tergantung pada kualitas hati orang-orang yang mendengarkan Firman itu. Ada orang yang menolaknya, ada juga orang yang menerimanya namun segera murtad begitu terjadi penindasan. Ada orang yang menerimanya namun menempatkan Firman itu pada posisi terakhir dalam hatinya serta menggantikannya dengan hal-hal lain (kekhawatiran, kekayaan, dan keinginan lain), dan ada orang-orang yang menyimpan Firman itu di dalam hati yang baik dan menghasilkan banyak buah. Itulah mengapa ketika mengakhiri penjelasan-Nya tentang perumpamaan itu, Yesus berkata “perhatikanlah cara kamu mendengar” (Lukas 8:18). Mendengar firman Tuhan adalah kebutuhan pokok orang Kristen. Untuk itu :
1.        Selama kesiapan kita mendengar Firman Tuhan hanya sekedar menjalani rutinitas, dengan sekejap Firman yang ditaburkan itu akan hilang.
2.        Selama kesiapan kita mendengar Firman Tuhan hanya menerima tetapi tidak mau menyelidiki dan memahami lebih dalam, maka ketika berhadapan dengan realita hidup Firman yang ditaburkan itu pun akan mati. Sebab orang itu mendengar Firman Tuhan hanya siap untuk membuat dia senang dan gembira tanpa mempertanyakan apakah dia sudah menyenangkan Tuhan. Justru sebaliknya, pendengarannya akan Firman Tuhan di pakai untuk menyelidiki kesalahan dan dosa orang lain, sementara dia tidak menyelidiki dirinya. Dalam 2 Korintus 13:5 dikatakan: "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman"
3.    Selama kesiapan kita mendengar Firman Tuhan hanya sampai pada mengetahui, maka Firman yang ditaburkan itu pun akan mati terhimpit. Dia sudah mendengar, menerima dan mengetahui apa yang seharusnya dia perbuat, tetapi dia tidak lekas bertindak karena ternyata dia lebih mengikuti keinginan dagingnya daripada keinginan Tuhan.

4.        Ketika Firman Tuhan itu didengar, dipergumulkan untuk dimengerti, maka firman itu akan bertumbuh dan menghasilkan buah yang benar melalui pola hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Dan buah itu akan membawa kebahagiaan dan sukacita dan keagungan bagi nama Tuhan kita. Tuhan Yesus memberkati. Amin..

“RAHASIA HIDUP BAHAGIA”

“Pemberian Yg Memberi Ruang Bagi Berkat”  Ams 18:16

Illustrasi: 1.Anak kecil mencuri Bakpao....di suru putrinya mengikuti sampai e rumahnya...ternyata sakit mamanya. Akhitnya jadi dr. Spesialis. 2. Suatu hari, anak seorang lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu menemukan bahwa kantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar. Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi, anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah. Anak itu tidak jadi meminta makanan, dia hanya berani meminta segelas air. Wanita muda tersebut melihat dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar. Oleh karena itu, dia membawakan segelas susu. Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat.
Kemudian, dia bertanya, “ Berapa aku harus membayar untuk segelas susu ini?” Wanita itu menjawab, “Kamu tidak perlu bayar apa pun. Ibu kami mengajarkan tidak menerima bayaran untuk kebaikan,” kata wanita itu menambahkan. Kemudian, anak lelaki itu menghabiskan susunya dan berkata, “Dari dalam hatiku, aku sangat berterima kasih kepada Anda.” Sekian tahun kemudian, wanita muda tersebut mengalami sakit yang sangat kritis. Para dokter di kota itu sudah tidak sanggup menanganinya.
Akhirnya, mereka mengirimnya ke kota besar tempat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit langkanya tersebut.
Dr. Howard Kelly

"Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya" - Mazmur 119:1-3. Kebahagiaan Org Batak; 3 H. Hagabeon anak 17 Putri 11. Hamoraon = Hasangapon. Ada banyak buku yang menulis tentang kebahagiaan hidup. Penulis buku-buku tersebut melihat kebahagiaan dari berbagai sudut pandang. Resep yang ditawarkan juga sangat beragam. Kendati demikian, masih saja banyak orang mencari kebahagiaan. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan kebahagiaan hidup begitu tinggi. 
Menurut survei tentang kebahagiaan hidup, ukuran kebahagiaan bagi banyak orang berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa kebahagiaan hidup ditentukan oleh harta yang banyak. Ada juga yang mengatakan bahwa kebahagiaan hidup ditentukan oleh status sosial dan jabatan atau kedudukan yang tinggi. Ada juga yang mengatakan bahwa kebahagiaan hidup itu ditentukan oleh kesehatan yang baik atau tidak mengalami sakit penyakit. 
Ada juga yang mengatakan bahwa kebahagiaan ditentukan oleh pasangan yang cantik/ganteng dan setia. Dan lain sebagainya. Faktanya ialah ada orang yang punya harta banyak tapi tidak mengalami kebahagiaan. Lalu semakin tinggi statul sosial dan jabatan seseorang juga tidak menjamin seseorang itu bahagia. Lebih lagi yang punya pasangan hidup yang cantik/ganteng, setia, tapi perceraian dikalangan mereka semakin tinggi. Kalau demikian realitanya, lalu pertanyaan lebih lanjut dimanakah sesungguhnya letak kebahagiaan hidup itu?, ada beberapa rahasia kebahagiaan hidup. 
1. Hidup tidak bercela 
Hidup tidak bercela ialah hidup yang memiliki moralitas dan integritas yang berkualitas. Hidup jujur, berlaku adil, setia, tulus merupakan karakter yang disukai oleh Tuhan. Bagi orang yang demikian, Allah berjanji akan mencurahkan berkat dan kebahagiaan kepadanya. 
2. Hidup sesuai dengan firman Tuhan 
Firman Tuhan adalah pedoman hidup kita. Firman Tuhan adalah hukum utama bagi kehidupan kita. Firman Tuhan merupakan cara Allah mengarahkan hidup kita supaya berada di jalan atau jalur yang benar.. Bila kita hidup sesuai dengan firman Tuhan dan menaatinya, maka dijamin kita pasti menikmati kebahagiaan dalam hidup. 
3. Hidup di jalan-jalan Allah 
Jalan-jalan Allah menunjukkan prinsip-prinsip dan sarana operasional yang dengannya Allah berhubungan dengan kita umat-Nya. Jalan-jalan Allah sangat berbeda dengan jalan-jalan dunia ini. Jalan-jalan Allah bertentangan dengan hikmat dunia ini. Itu sebabnya bila kita berjalan di dalam prinsip-prinsip ilahi, maka hidup kita akan bahagia.  
Sdr/i yang di kasihi Tuhan Yesus kita diingatkan melalui Thema Khotbah pagi ini. Pemberian seseorang, membuat ruangan yang besar untuk dia, dan membawa dia di hadapan orang-orang besar. Kita menemukan dua hal yaitu, pemberian kita akan membuat ruangan yang besar dan akan membawa kita berhadapan dengan orang-orang besar. Yang pertama ruangan yang besar, yang kedua, orang-orang besar.
Sangat sedikit sekali, orang melihat rahasia ini. Bahwa pemberian seseorang, siapapun dia, kecil apa besar, akan membuat dia leluasa, akan membuat dia menemukan ruang yang besar bagi dirinya. Kesempatan yang luas, pekerjaan yang baik dan sebagainya, juga akan menempatkan dia berhadapan dengan orang-orang besar
Orang kaya melihat fakta dari kuasa uang, mereka tertipu, berharap pada uangnya. Uang tidak dapat membeli anugrah Allah Kis8:20. Kebanyakan orang kaya (tidak semua), lebih mudah bersandar kepada uang, sehingga sulit percaya sepenuhnya padaTuhan Mat.19:24. HARTANYA ADALAH KOTA BENTENGNYA, SEPERTI TEMBOK YANG TINGGI. Karena mereka hanya melihat dengan akal jasmaninya saja, sebab mata hatinya buta. Orang yang matanya celik akan tahu bahwa kota benteng uang itu akan sia sia Luk.12:19-21, jadi jgn sandarkan hidupmu dengan uang / kekuatanmu Yer 17:5-7
Betapa besar pengaruh hadiah (maksudnya, suap) sudah ditunjukkan Salomo sebelumnya (17:8, 23). Di sini ia menunjukkan kekuatan hadiah, maksudnya, hadiah yang bahkan diberikan oleh para bawahan kepada orang-orang yang di atas mereka, dan yang memiliki jauh lebih banyak daripada yang mereka miliki. Hadiah yang baik akan berpengaruh besar,
1. Terhadap kebebasan manusia: hadiah dari seseorang, jika ia ada di dalam penjara, dapat membuatnya bebas. Ada petugas-petugas yang berharap mendapatkan uang suap seperti itu, bahkan dengan menyalahgunakan wewenang untuk menindas orang yang tidak bersalah. Atau, jika orang kecil tidak tahu bagaimana mendapat jalan untuk berte/mu dengan orang besar, ia dapat melakukannya dengan menyuap pelayan-pelayannya atau memberikan hadiah langsung kepada orang itu sendiri. Hal-hal seperti ini akan membuka jalan baginya.
2. Terhadap kenaikan pangkatnya. Hadiah itu akan membawanya duduk di antara orang-orang besar, dalam kehormatan dan kuasa. Lihatlah betapa rusaknya dunia sekarang karena hadiah-hadiah orang, sekalipun begitu besar, tidak lagi membawa hasil. Bahkan, hadiah-hadiah itu dapat memberi mereka apa yang tidak layak dan tidak pantas mereka terima. Tidak heran bahwa orang-orang yang memberi suap untuk mendapat pekerjaan, juga akan menerima suap dalam menjalankan pekerjaan mereka. Vendere jura potest, emerat ille prius – Siapa membeli hukum dapat menjualnya.
Bp/Ibu/Sdr/i yg dikasihi Tuhan. Kita harus meyakini bahwa:  persembahan juga adalah wujud dari syukur kita kepada Tuhan.  Berapa jumlah persembahan bukan persoalan utama bagi Tuhan karena Ia memiliki segalanya. Yang penting bagi Tuhan adalah hati kita. Apakah kita memberikan persembahan sebagai ungkapan syukur, ataukah kita memiliki maksud-maksud yang lain. Persembahan uang adalah lambang dari persembahan tubuh (baca: seluruh hidup) kita (Rm. 12:1). Kalau Tuhan sudah mati dan bangkit dan memberkati seluruh hidup kita, jangankan mempersembahkan seluruh uang kita, kalau kita mempersembahkan seluruh hidup sebagai ungkapan syukur tetap tidak sebanding dengan anugerah yang telah kita terima dari-Nya.
Nah, kalau pemahaman kita sudah benar mengenai apa arti persembahan, maka seharusnya sikap kita dalam memberikan persembahan akan benar pula sehingga memberi ruang bagi Berkat. Dalam memberi persembahan seharusnya kita tidak “pelit” kepada Tuhan, karena kita tahu bahwa semua yang kita miliki adalah dari Tuhan.  Sebagai contoh saja, seorang rekan pernah bertanya kepada saya, “di manakah kita dapat menemukan uang yang paling lusuh, kotor dan bau?” Setelah ia menangkap ekspresi ketidaktahuan saya, sang teman itu berkata lagi, ”uang yang paling lusuh, kotor, dan bau pertama dapat ditemukan di loket tol dan yang kedua di kantong kolekte.” Mendengar jawabannya itu saya cuma bisa nyengir.  Anekdot itu cuma sekadar gambaran saja bagaimana sikap kita kala memberikan persembahan kepada Tuhan. Sebetulnya kita sering tidak mempersembahkan yang terbaik, bahkan mempersembahkan sisa dan sering kali yang terjelek.
Ada juga orang Kristen yang memberi persembahan demi prestise dan gengsi. Seolah-olah ia merasa diri paling rohani—atau setidaknya lebih rohani—karena telah memberi persembahan dalam jumlah yang besar. Ketika namanya terpampang di papan pengumuman atau warta jemaat sebagai pemberi persembahan terbanyak di gereja itu, hatinya bangga dan ia merasa dirinya hebat. Motivasi yang semacam ini jelas salah! Kita memberi persembahan seharusnya bukan supaya diri kita dikenal dan terkenal. Tetapi karena kita mau bersyukur kepada Tuhan yang sudah berbuat baik kepada kita.
Sikap salah yang lain berkaitan dengan persembahan adalah ketika seorang Kristen memberikan persembahan namun sebetulnya ia sedang berdagang dengan Tuhan. Bagi orang ini persembahan semacam investasi bisnis. Kalau ia memberi persembahan dalam jumlah sekian, ia mengharapkan berkat Tuhan berkali lipat dari apa yang telah ia persembahkan. Jadi motivasinya bukan memberi demi bersyukur namun memberi untuk mendapatkan lebih banyak lagi. 
Kalau kita memberi persembahan demi berkat, kita tak beda dengan orang-orang yang belum mengalami karya keselamatan Kristus. Banyak orang yang belum diselamatkan mereka memberi persembahan, seolah-seolah mereka memberi untuk ilah mereka, tetapi sesungguhnya fokus pemberian itu adalah diri mereka sendiri. Mereka memberi supaya mereka diberkati, dilimpahi kekayaan dan kesehatan. Kalau kita berlaku demikian, meminjam perkataan Martin Buber—seorang filsuf-teolog Yahudi—kita telah memakai persembahan sebagai alat untuk “memanipulasi” Tuhan. Kita menggunakan persembahan untuk “memaksa” Tuhan memberkati kita.  sebaliknya kita memberi karena menyadari betapa besarnya pemberian Tuhan dalam hidup kita, antara lain: keselamatan, kesehatan, keluarga, makanan dan masih banyak lagi. Kita memberikan persembahan sebagai ungkapan syukur atas berkat Tuhan itu. 
 Yang lebih celaka lagi, ada orang Kristen yang memberi persembahan untuk melakukan “money laundry.” Maksudnya begini, ada orang Kristen yang mendapatkan uangnya dengan cara yang tidak halal. Ia memperoleh uang karena ia merampas hak orang lain, menjalankan aksi tipu-tipu dalam bisnis, atau melakukan korupsi di tempatnya bekerja. Nah, untuk membersihkan kejahatannya itu ia memberikan persembahan (sering dalam jumlah yang besar). Dengan melakukan itu seolah-olah dosanya sudah dihapus, dan hati nuraninya menjadi (lebih) tenang. Padahal dosa tetap dosa di hadapan Tuhan. Persembahannya seberapa pun besarnya tak dapat mencuci dosanya, karena Tuhan tidak mempan suap. Terlebih Tuhan tidak membutuhkan uang kita, sebab ia yang memiliki segala sesuatu. Nah, selama ini bagaimana konsep kita mengenai persembahan, kita menganggapnya sebagai persembahan atau sumbangan?


Bekerja untuk Menjadi Berkat. Kejadian 45:10-11 –


Dalam suatu pertemuan, seorang teman mengungkapkan niatnya untuk melayani di gereja. Dalam perjalanan hingga mencapai karir yang tinggi saat ini, dia mengakui menerima berkat Tuhan yang berlimpah dalam hidupnya. Namun, dia juga merasa belum berbuat untuk membalasnya. Dia merasa belum menjadi berkat. Karena itu, dia memikirkan kemungkinan terlibat di dalam kegiatan pelayanan gereja. Melalui pelayanan itu dia berharap bisa menjadi berkat.
Menjadi berkat adalah visi dan janji Allah bagi kita umat-Nya. Dia mengungkapkannya kepada Abraham dan menyatakannya di dalam karya penyelamatan melalui pengorbanan Kristus. Dia melekatkannya sebagai panggilan di dalam diri setiap orang percaya. Allah melakukannya untuk mewujudkan kehendak-Nya yaitu memberkati semua ciptaan.
Bagaimana seseorang dapat memenuhi panggilan tersebut? Apakah dia harus menjalankan peran, profesi, atau aktifitas tertentu? Apakah itu baru bisa dilakukan apabila seseorang telah mencapai kemapanan dan memiliki keleluasaan waktu, finansial, dan sumber daya lainnya? Mungkinkah menjadi berkat menyatu di dalam aktifitas pekerjaan setiap hari?
Bekerja sebagai Panggilan
Panggilan sering kali diasosiasikan dengan pelayanan gereja. Seseorang disebut memenuhi panggilan ketika menjadi pendeta, penatua, dan mengemban jabatan gerejawi lainnya. Istilah panggilan digunakan untuk pelayanan, tetapi tidak untuk pekerjaan sekular. Pemisahan seperti ini tidak beralasan. Tidak ada kegiatan yang sakral kecuali berkaitan dengan pamrih dan motivasi kepada Allah dan kehendak-Nya. Teologi kerja yang kita anut menekankan pekerjaan sebagai panggilan dan pekerjaan adalah pelayanan.
Beberapa pekerjaan seperti petani, pelayanan kesehatan, pendidik-pengajar, pelayanan sosial, pemberian bantuan hukum, relatif lebih mudah dihayati sebagai amanah Tuhan. Tetapi, bagaimana para pekerja di pabrik, penjual barang eceran, tenaga pemasar meyakini dirinya sebagai mitra Allah? Bagaimana pekerja bangunan, olahragawan, pegawai negeri, pengembang program komputer, pelukis, artis, atau para ahli manajemen menghayati aktifitasnya sebagai pemenuhan panggilan?
Panggilan memberi orientasi dasar bagi totalitas kehidupan. Melaksanakan panggilan berarti menjalankan kehidupan begitu rupa sehingga pengajaran Kristus dan firman-Nya mewujud melalui karunia dan talenta kita. Seorang pekerja kristen adalah orang yang memberikan dirinya dipakai oleh Allah untuk menjadi berkat bagi orang lain melalui profesinya.
Meyakini bekerja sebagai pemenuhan panggilan akan mendorong kita untuk terus mencari makna atas semua aktifitas kerja. Ketika kita menemukan kehendak Allah di dalamnya serta mengalami penyertaan dan tuntunan Roh Kudus dalam melaksanakannya, maka kita merasakan kepenuhan. Allah menjadikan kita sebagai rekan sekerja dalam mewujudkan rencana-Nya.
Menjadi berkat bagi Keluarga, Rekan Kerja, Masyarakat, dan Alam Semesta
Memandang kerja sebagai panggilan membawa kita kepada definisi kerja yang luas. Lebih dari sekedar aktualisasi diri dan mencari nafkah, kerja adalah ruang disiplin rohani bagi pembentukan dan penguatan karakter. Di pekerjaan-tempat kita memakai mayoritas waktu- kita mengasah kepekaan atas kehadiran dan tuntunan Roh Kudus. Kita melatih belas kasihan, pengampunan, kejujuran, kesabaran, kemurahan, kerendah-hatian, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri di dalam interaksi dengan rekan kerja, mitra, dan pelanggan. Ini adalah berkat rohani yang kita peroleh sekaligus bagikan dalam relasi di tempat kerja.
Kesadaran akan panggilan memungkinkan kita memperluas cara pandang atas orang-orang yang berhubungan dengan kita dalam pekerjaan. Jika sebelumnya kita menganggap mereka sebagai rekan bertransaksi semata, panggilan mengarahkan kita untuk memperlakukannya sebagai orang-orang yang Tuhan kasihi. Karena itu, kita mengasihi dan melayani mereka. Kita senantiasa mencari kesempatan untuk membangun hubungan dengan mereka. Kita memperlakukan setiap orang dengan adil dan menghormati mereka sebagaimana adanya. Kita peduli atas kebutuhan mereka dan berusaha untuk memenuhinya. Dalam keyakinan demikian, kita tidak akan merugikan pelanggan dan tidak berlaku curang kepada mitra. Kita senang atas keberhasilan rekan kerja dan oleh sebab itu kita tergerak untuk mendukung dan menyemangati pengembangan dirinya.
Dengan meyakini apapun yang kita kerjakan sebagai ungkapan syukur bagi Allah dan melakukannya dengan segenap hati seperti untuk Tuhan, kita akan semakin inovatif dan produktif dalam menghasilkan yang baik dan berkualitas.
Panggilan membawa kita untuk menghayati kerja sebagai pelaksanaan tanggungjawab sosial. Melalui pekerjaan, Tuhan memberkati kita dengan penghasilan serta manfaat-manfaat lain seperti pengobatan, pendidikan, pengembangan diri, bahkan manfaat pensiun. Selain untuk mencukupkan kebutuhan sendiri dan keluarga, berkat tersebut juga menjadi sesuatu yang dibagikan kepada sesama yang berkekurangan dan menjadi bukti pemeliharaan Allah atas umat-Nya.
Di tengah eksploitasi tanpa batas dan ketidakpedulian pada kerusakan dan perusakan alam, panggilan mengingatkan kita akan mandat memeliharanya. Sekecil apapun hasilnya, kita bisa mengusahakan praktek-praktek alternatif yang mengurangi beban dan memulihkan bumi di lingkup kerja kita masing-masing.
Mewujudkan Kehendak Allah
Bekerja untuk menjadi berkat terjadi ketika kita menghayati kerja sebagai panggilan. Sepanjang bukan pekerjaan yang dilarang hukum dan yang bertentangan dengan etika, apapun pekerjaan kita bisa menjadi ruang pelayanan untuk menyalurkan berkat Tuhan kepada sesama dan ciptaan-Nya. Menjadi berkat tidak memerlukan peristiwa khusus, tetapi dapat diwujudkan dalam aktifitas dan relasi sederhana di kerja sehari-hari. Di dalam kerja yang demikian kita memuliakan Allah


Allah Menciptakan dan Memelihara Kehidupan kita

Kej. 1: 1-;4a

Patutlah kita menaikan pujian syukur kepada Allah yang telah menyatakan diriNya sebagai Bapa di dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus. Allah yang senantiasa berkarya dan berbuat di dalam hidup kita. Dalam minggu trinitas ini kita disadarkan akan kuasa Allah yang tidak terbatas itu bahwa kehidupan yang boleh kita rasakan saat ini semuanya hanya berasal dari Dia. Hidup kita bukan milik dunia ini, tetapi milik Allah.
Dalam kisah penciptaan di kitab Kejadian ingin menyatakan kepada kita bahwa segala sesuatu semua berawal dari firmanNya dan yang memberikan kehidupan kepada segala mahluk dan termasuk kita sebagai manusia. Keajaiban kuasa penciptaan Tuhan ketika manusia itu di cipta adalah “menurut gambar dan rupa Allah” (Kej. 1:26) yang berkuasa atas mahluk hidup lainnya. Semua harmohi kehidupan dijadikanNya sungguh begitu amat baik.
Hal yang harus dapat kita sadari atas penciptaan Tuhan atas kehidupan ini bahwa Dia sungguh sangat mengasihi yang telah dijadikanNya. Sehingga tidak hanya untuk mencipta, namun dengan kasihNya yang besar Dia memelihara segala sesuatu yang telah dijadikanNya itu. Maz 100:3
Apakah kita mampu menjangkau dengan pikiran kita apa yang telah diperbuat Allah dalam proses penciptaan? Bagaimana kita mampu menjangkau dengan pikiran kita bagaimana kasih Allah akan ciptaanNya harus dinyatakan dalam Yesus Kristus. Dan bagaimana juga kita dapat merasakan kehadiran Allah melalui Roh Kudus dalam hidup kita. Tetapi kepastian yang nyata bahwa iman adalah sesuatu pemberian Allah yang besar atas hidup kita untuk memahami dan mengerti semua perbuatan dan pemeliharaan Tuhan atas kehidupan ini. (Ibr. 11: 1; Rm. 1:17)
Kita patut bersyukur atas iman yang telah kita terima melalui Yesus Kristus, bahwa kita telah menjadi bahagian ciptaan Allah yang baru dengan memberikan hati dan roh yang baru untuk selalu diperbaharui oleh Allah (Yeh. 36:26; 2 Kor. 5:17; Kol. 3:10; Yak. 1:18). Melalui Yesus Kristus Allah telah memperlihatkan kemuliaanNya sebagai pencipta, bahwa Allah pencipta itu bukan hanya ada dalam kata-kata saja namun telah nyata hadir ditengah-
tengah kehidupan manusia (Yoh. 1:1, 14). Dari sinilah kita mampu memahami konsep ajaran kekristenan tentang Trinitatis secara sederhana bahwa Allah tidak hanya mencipta tetapi Allah juga menyelamatkan dan memelihara ciptaanNya melalui Yesus Kristus dan Roh-Nya yang dicurahkan bagi kita.
Semua yang diciptakan oleh Allah pada mulanya adalah sungguh amatlah baik, namun demikian kebaikan ciptaan Tuhan itu telah dirusak oleh kuasa dosa yang membuat manusia itu hidup dengan tidak tunduk dibawah kuasa bimbingan dan pemeliharaan penciptaNya. Di dalam Kristus tubuh lama kita turut disalibkan supaya kuasa dosa tidak lagi berkuasa atas hidup kita (Rm. 6: 6 dst.). Sehingga bukan kuasa dosa lagi mengatur hidup kita, namun kuasa Allah yakni melalui Roh-Nya yang dicurahkan kepada setiap orang yang di tebus melalui Yesus Kristus supaya kita dituntun, diperbaharui dan dipelihara oleh Allah yang menciptakan kita. Demikianlah kasih Allah kepada ciptaanNya yang kekal sampai selamanya dan yang mengenal Allah Bapa di dalam Yesus Kristus dan Roh Kudus.
Sebagaimana dinyatakan dalam 1 Yoh. 4: 8 bahwa “Allah adalah kasih” yang telah menyatakan kasihNya kepada manusia. Maka sebagai umat yang percaya kita menyadari kasih Allah dalam diri kita. Sebagai pribadi yang diciptakan oleh Allah, Ia memperlihatkan kasihNya yang besar untuk melindungi dan memelihara kehidupan kita masing-masing. Dia yang berkuasa atas kehidupan ini dan Dia jugalah yang berkuasa memelihara kehidupan kita. Dan kita juga tidak hanya hidup dalam pengenalan akan kasih namun kita juga harus ambil bagian dalam kasih itu sendiri dengan mengasihi sesama, dengan demikian “Kasih-Nya sempurna di dalam kita” (1 Yoh. 4: 12). Sehingga dalam 2 Korintus 13:11 Paulus menasehatkan "usahakanlah dirimu supaya sempurna", sebab Tuhan memanggil kita agar menjadi ciptaanNya yang sempurna sebagaimana mulanya adalah sungguh baik ciptaanNya dan kita diciptakan serupa dengan gambaran Allah (Rm. 8:29). Amen



MERAIH HIDUP BERKEMENANGAN


BAHAN KHOTBAH IBADAH LANSIA 08 Agt 2017
Ayat Pokok: II Korintus 4:1-10

Pendahuluan
Orang-orang percaya atau gereja Tuhan sering disebut sebagai bejana tanah liat, dan Tuhan sebagai Sang Penjunan. Sebutan bejana ini memberikan pemahaman kepada kita betapa sebenarnya kita adalah mahkluk yang rapuh, yang tidak berdaya, jika tanpa Tuhan beserta dengan kita. Sebagai bejana, kita juga harus siap dibentuk oleh Sang penjunan menjadi bejana yang mulia seturut akan kehendak-Nya.
Ayat bacaan kita mengingatkan bahwa memang dalam diri manusia ada dua unsur kehidupan, yakni unsur jasmaniah atau manusia lahiriah dan manusia rohaniah atau batiniah.
a. Manusia lahiriah, semakin 
lama semakin merosot, dan semakin berkurang    Berkurang tenaganya, berkurang nafsu makanya, berkurang pendengaranya, berkurang daya
     pikirnya, dll
b. Manusia batiniah, semakin hari semakin dibaharui
    Semakin bertambah usia, semakin bertambah dewasa iman kita, dan bertambah dalam pengenalan
    pribadi akan Tuhan.
Bagaimana supaya kita dapat meraih kemenangan dalam hidup, bahkan sampai usia tua?
a. Tidak mudah putus asa ( ayat 1, 18 )
     Dalam dunia ini kita sering diperhadapkan dengan berbagai penderitaan, tapi biarlah kita senantiasa berkeyakinan seperti Rasul Paulus bahwa penderitaan yang dialaminya ringan, tidak sebanding dengan kemuliaan yang  disediakan oleh Tuhan ( Roma 8:18 ). Persoalannya adalah mengapa banyak orang mudah patah semangat? karena menganggap seolah-olah penderitaannya begitu berat. Mereka lupa akan janji Tuhan dalam 1 Kor 10:13.
b.  Tetap mengucap syukur ( ayat 15 )
      Tuhan tidak katakan mengucap syukurlah pada waktu kita sedang, berkat melimpah, keluarga tanpa masalah, rizki melimpah. Tetapi Tuhan mengatakan mengucap syukurlah dalam segala hal ( 1 Tes 5;18 ). Jadi seburuk apapun kondisi kita, Tuhan mengatakan kita harus tetap mengucap syukur. Alkitab banyak memberikan pelajaran kepada kita akan betapa besar kuasa dari ucapan syukur kita.
c. Arahkan perhatian hanya kepada Tuhan ( ayat 18 )
    Artinya kita jadikan Tuhan dan perkara-perkara Sorga sebagai fokus utama hidup kita. Kondisi kehiduapan hari-hari ini yang sarat dengan  kesibukan dan persaingan dapat menjadi godaan untuk kita tidak lagi kita jadikan Tuhan sebagai fokus utama hidup kita. Tetapi Tuhan berkata dalam Kolose 3:2, pikirkanlah, perkara-perkara yang diatas bukan yang dibumi. 1. Tes 5;16-18
Penutup
Biarkanlah kita terus utamakan Tuhan, menjadikan Tuhan sebagai sandaran hidup kita, dengan demikian kita akan dimampukan untuk tetap tegar menghadapi permasalahan dan tampil sebagai pemenang ditengah segala problema yang melanda kehidupan kita.
  AMIN