Rabu, 02 November 2016

Khotbah Minggu 06 Nopember 2016 Lukas 20: 27-38 Thema: Memberikan Hak Allah



Kaum Farisi adalah suatu kelompok keagamaan. Mereka ini tidak memiliki ambisi politik, melainkan lebih fokus dengan masalah keagamaan dan pelaksanaan ritus-ritus liturgi sesuai hukum-hukum agama Yahudi. Kaum Saduki adalah kelompok kecil yang biasanya beranggotakan para imam dan aristokrat. Mereka ini, biarpun kelompok kecil, biasanya merupakan kelompok berpengaruh, karena pada umumnya mereka kaya. Mereka juga biasanya terlibat persekongkolan dengan pemerintah yang berkuasa, termasuk pemerintah Romawi yang menjajah daerah Palestina pada masa itu.Kaum Farisi menerima Kitab Suci ditambah dengan semua peraturan dan hukum-hukum keagamaan yang tertulis maupun lisan, misalnya hukum tentang Sabbat dan tentang aturan mencuci tangan. Kaum Saduki hanya menerima hukum yang tertulis, yakni hanya Kitab Suci Perjanjian Lama. Perjanjian lama yang mereka terima juga lebih terbatas pada hukum Musa dan tak peduli dengan kitab para Nabi.Kaum Farisi percaya pada kebangkitan sesudah kematian. Mereka juga percaya akan malaikat dan roh-roh. Kaum Saduki tidak percaya pada kebangkitan dan malaikat serta roh-roh. Kaum Farisi percaya pada nasib serta yakin bahwa hidup manusia tergantung dari rencana Allah. Kaum Saduki percaya pada kehendak bebas yang tak terbatas. Kaum Farisi percaya dan berharap akan kedatangan Mesias. Kaum Saduki tidak percaya dan tidak mengharap kedatangan Mesias, sebab itu bisa mengganggu posisi mereka yang makmur. Dengan latar belakang seperti itu, kita bisa memahami alasan kaum Saduki datang pada Yesus dan mencoba membenarkan keyakinan mereka tentang tidak adanya kebangkitan, menggunakan logika mereka. Sebagai kaum imam mereka tahu hukum perkawinan Yahudi, yakni kalau sesorang laki-laki yang sudah punikah meninggal tanpa anak maka saudaranya yang lain harus menikahi iparnya tersebut untuk melanjutkan keturunan saudaranya yang telah meninggal (Ulangan 25: 5). Kaum Saduki yakin sekali bahwa ini merupakan hukum yang mengikat, sebab terdapat dalam Kitab Musa.Yesus memberi keterangan bahwa sebaiknya jangan membayangkan bahwa hidup sesudah kehidupan di dunia ini akan sama saja. Surga dan dunia jauh berbeda. Yesus memberi jawaban yang luar biasa benar dan sah untuk selamanya. Yesus memberi keterangan bahwa kehidupan di surga itu (Ilustrasi: Na sarupa ma dirimpu halak batak di surgo dht portibi on; Gabe naeng mamboan Mast u Surgo)
 merupakan kehidupan yang kekal, tak berakhir. Di sana tidak ada kawin dan mengawinkan. Kehidupan di sana bagaikan hidup para malaikat. Dan karena yang bertanya adalah kaum Saduki yang begitu menghormati hukum Musa,maka Yesus juga mengutip dari Keluaran 3: 1- 6 tentang “pertemuan Musa dengan Allah” di bukit pada sa at Musa melihat semak berapi tetapi takterbakar. Menurut Yesus, Musa sendiri percaya pada kebangkitan, sebab ia memanggil Allah sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub.
Ev. Lukas 20:27-38. Sokrates pernah berkata, “hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dihidupi”. Dalam kalimat tersebut, mengandung makna yang sangat dalam, yang mengatakan kepada kita, bahwa setiap manusia perlu ada waktu untuk berdiam sejenak dan berpikir tentang segala sesuatu dalam hidupnya, baik yang pernah dialami, maupun kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada masa depan dalam kehidupannya. Refleksi yang dalam dan rutin (saat teduh) akan menghantar kita pada suatu titik yang penting, di mana titik itu akan menjadi fokus kehidupan kita, bahkan menjadi kekuatan, dan menuntun kita untuk melakukan sesuatu dengan mengerti tujuannya. Istilah Rick Warren dalam hal ini, adalah, “kehidupan yang digerakkan oleh tujuan”. Dalam pembacaan Minggu ini, Mazmur Daud dalam pasal 17:1-9; merupakan bagian-bagian ayat yang ditulis oleh orang-orang yang memiliki hidup reflektif yang kuat, dan jelas dalam kisah-kisahnya, mereka dalam hidup ini digerakkan oleh sebuah tujuan yang jelas dan terfokus. Yaitu Allah sebagai “the first”. Itulah sebabnya, ketika segala macam kondisi dan masalah yang sedang melanda (Ayub dan Mazmur 17:1-9), dan akan melanda (2 Tesalonika 2:1-5;13-17), para tokoh Alkitab tetap teguh pada pengajaran yang benar yang telah mereka terima dari para nabi dan rasul . Pada bagian Injil Lukas 20:27-38, Yesus pun memakai fokus, “the first” itu untuk menjawab pertanyaan orang Saduki yang tidak memiliki landasan teologia yang jelas. Yesus memakai frasa pada Lukas 20:38 yang persis sama dengan Ayub 19 : 25, yaitu, “Tuhan itu hidup.” Inilah teologia yang jelas dan merupakan hasil refleksi Daud, sehingga ketika masalah dalam hidupnya datang, dia mencari Allah yang hidup, dan ketika kedurhakaan akan datang, Paulus menasehatkan jemaat Tesalonika untuk tetap berpegang pada iman kepada Tuhan sebagai sumber segala sesuatu yang benar, atau kebenaran itu sendiri. Refleksi di atas mengajak kita untuk memiliki fokus hidup, di tengah-tengah dunia yang kompleks ini. Bukan hanya bersiap –siap menghadapi pengajaran yang sesat, tetapi juga sebagai perisai dalam menghadapi kesesakan atau pergumulan hidup. Bersama dengan Allah, kita hidup, sebab Dia adalah Allah “orang hidup” Sdr/I Yang dikasihi Tuhan Yesus..! 1. Sikap iman kepada Allah yang hidup menentukan keselamatan. Keselamatan merupakan anugerah dari Allah, bukan hasil usaha dari manusia. Kita telah memperoleh anugerah iman. Melalui iman, kita diperkenankan untuk melihat karya Allah yang berkenan menebus kita dari kuasa dosa sehingga kita diselamatkan. Bagi kita, kematian dan kebangkitan Kristus merupakan jawaban atas pertanyaan, bahwa apakah nanti akan ada kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Sebab melalui Kristus, kita ditebus oleh kuasa darah-Nya sehingga kita dibebaskan dari kuasa dosa dan maut. Di dalam Kristus tersedia hidup kekal yang memampukan kita untuk bersatu dengan Allah yang hidup. 2.Dia Adalah Allah Orang Hidup, Demikianlah Kita Hidup Di Hadapan Dia. Atau ini adalah pilihan yang lain: bahwa Allah adalah Allah orang hidup. Itulah yang dikatakan Kitab Suci, bahwa sesungguhnya Dia akan membangkitkan bukan hanya orang-orang percaya, tetapi bahkan orang-orang yang tidak percaya akan dibangkitkan untuk menghadap penghakiman. Itulah yang diajarkan Kitab Suci. Setiap orang akan mati, tetapi setiap orang akan dibangkitkan untuk menghadapi penghakiman Allah. Tidak ada yang dapat lolos dari penghakimanNya. Sebenarnya, Dalam Lukas 20:38, pernyataan yang sama dibuatnya. Inilah yang kita baca di sana: "Sekarang Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup; sebab di hadapan Dia semua orang hidup." Apakah artinya, "di hadapan Dia semua orang hidup"? Pernyataan ini, dalam kasus datif bahasa Yunani, berarti bahwa setiap orang hidup oleh kuasaNya dan hidup memberi pertanggungan-jawab kepada Dia. Setiap orang hidup bagi Dia. Pernyataan ini, singkatnya, menyimpulkan kenyataan bahwa segala sesuatu dari kehidupan ini berada dalam tangan Allah. Hidup anda ada di dalam tangan Tuhan. Hidup dalam Tujuan Allah Untuk menghargai kasih karunia Allah sebagai ciptaan baru dalam Kristus Yesus, hidup kita harus punya tujuan yaitu untuk melakukan segala hal yang baik. Tujuan Allah dalam hidup kita harus JELAS dan KUAT dan JANGAN PUTUS ASA meskipun belum kita capai.. Tetap percaya rencana/tujuan Allah pasti tergenapi dalam hidup kita (Yes 55:8-11) (Yes 55:8) Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. (Yes 55:9) Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yes 55:10) Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, (Yes 55:11) demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.Amen
Illustrasi: 1. Percaya akan Mujijat Tuhan msh sama hari ini…. 2. Vocus Kpd Pengharapan jgn masalah

Khotbah Minggu 30 Oktober 2016 Bertobat Lebih Baik dari Mempersembahkan Korban Yesaya 1: 10- 18 Epistel: Lukas 19: 1-10



Kita ketahui bahwa kitab Yesaya adalah kitab yang menekankan “kekudusan Allah” dengan tujuan mengingatkan umat Israel bahwa mereka harus menyembah Tuhan Allah saja, serta berbuat sesuai dengan sifat kekudusan-Nya itu. Salah satu yang disoroti oleh Yesaya adalah upacara-upacara ibadah yang dilakukan umat pada saat itu dan bagaimana sikap mereka kepada sesama manusia. Dalam pembahasan ini kita akan melihat bagaimana Yesaya melihat ibadah Israel dan sikap hidup mereka, khususnya dalam Yesaya 1:10-18.
Hubungan Yesaya 1:10-20 Dalam Keseluruhan Kitab
Dalam pemberitaannya, nabi Yesaya sangat menekankan pemahaman tentang Allah sebagai “Raja Israel” dan “Allah adalah Yang Maha Kudus”. Namun setelah Allah memilih Yesaya sebagai nabi, Yehuda mengalami krisis politik yang sangat hebat sehingga umat Allah hidup dalam ketidakadilan, kekerasan dan ketidakjujuran (Yes 1:14, 21-23). Yerusalem yang dahulu sangat dibanggakan sebagai kota hukum yang baik, yaitu di mana umat Allah hidup dalam kebenaran, kejujuran, adil dan kesetiaan kepada Allah, tapi sekarang mereka meninggalkan itu semua, umat Israel sudah melupakan Allah. Mereka tidak peduli lagi kepada Allah, nilai-nilai kemanusiaan mereka abaikan. Keadaan inilah yang mendorong Yesaya untuk menyampaikan pesan Allah bahwa umat Israel akan ditimpa malapetaka yang dahsyat. Pasal 1 merupakan pendahuluan untuk seluruh kitab Yesaya. Pasal 1 secara singkat berisi mengenai ratapan mengenai kekerasan hati Yehuda dan panggilan untuk bertobat
Ayat 10
Di dalam menghadapi krisis bahaya yang dilukiskan dalam ayat-ayat 5-9, mereka yang berada di Yerusalem memperbanyak korban-korban dan perayaan-perayaan religius untuk mendapatkan keselamatan. Mungkin TUHAN masih dapat dipengaruhi dengan segala kesibukan religius itu, lalu menolong mereka. Inilah pandangan secara agama kafir yang hanya memperhatikan soal-soal lahiriah saja, formal saja. Maka mereka kini dipanggil oleh nabi untuk mendengar “firman TUHAN” yang akan menyadarkan mereka dan membuka segala kedok kemunafikan mereka dan untuk mendengar “pengajaran Allah kita”, agar mereka menginsyafi kebodohan mereka dan bertobat dari segala praktik-praktik dan pemikiran-pemikiran yang berasal dari “Allah kita”. Mereka itu disebut di sini “para pemimpin (penghulu) manusia Sodom” dan “manusia Gomora”. Sodom adalah lambang untuk menggambarkan dunia dalam pemberontakannya terhadap Allah melalui kehidupan yang penuh kejahatan dan perbuatan asusila, serta untuk melambangkan murka Allah terhadap kejahatan tersebut.
Marilah, baiklah kita berperkara! -- firman TUHAN -- Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.
Tuhan angkat bicara “Marilah, baiklah kita berperkara!”. “oops..! apa yang sedang terjadi?” Bahkan mereka sudah disamakan dengan manusia Sodon dan Gumora. Sepertinya Tuhan sedang marah besar. Tentu ada penyebabnya.
Selidik punya selidik, ternyata ada yang salah tentang perilaku mereka di bait Allah dengan kenyataan kehidupan mereka. Begitu tingginya kesenjangan antara praktek ibadah dengan kenyataan hidup yang mereka jalankan. Sungguh tidak ‘nyambung “jauh panggang dari api”, terjadi kesenjangan “bagai bumi dan langit”.
Perlakuan mereka datang ke bait Allah layaknya seperti membayar premi asuransi dengan perlindungan total. Selama bait Allah ada diantara kita, selama persembahan yang terbaik diberikan dan menjalankan ritual keagamaan, maka semuanya akan baik-baik saja kita akan mendapatkan keselamatan. Demikianlah anggapan mereka tentang Tuhan.
Ternyata, mereka datang ke bait Allah hanya bermodalkan “kebiasaan”, hanya sekedar memperpanjang masa asuransi. Padahal sesungguhnya yang terjadi adalah mereka datang dan pergi ke bait Allah tanpa membawa apa-apa dan tidak pergi dari bait Allah tanpa membawa sesuatu yang berguna bagi hidup mereka. Yang mereka bawa datang ke bait Allah tidak lain hanyalah tubuhnya dan persembahan yang tidak berguna itu, tetapi tidak membawa dirinya.
Yang Tuhan inginkan bukan korban persembahan yang terbaik itu, tetapi dirinya yang penuh dosa itu untuk diampuni supaya mereka pulang dari bait Allah juga dapat pulang membawa pembaharuan dalam hidupnya. Tetapi itulah yang terjadi, bagaimana mereka datang, seperti itu jugalah mereka pulang, tidak ada yang berubah.
Apakah Tuhan sebodoh yang mereka pikirkan? Sehingga mereka dapat mempermainkan Tuhan? Apakah Tuhan tidak mengetahui apa yang mereka perbuat? Kejahatan dan ketidakadilan yang mereka perbuat. Kedatangan mereka ke bait Allah tidak lain hanya mengotori bait Allah dan membuat Tuhan semakin murka atas sikap mereka.
Maka Tuhan ingin berperkara dengan mereka di depan pengadilan. Maka dapat dipastikan bahwa mereka sudah kalah telak. Sebab dikatakan dosanya sudah seperti warna Kirmizi dan kain kesumba yang tidak dapat luntur. Maka seharusnya tidak ada lagi jalan selain dari hukuman dijatuhkan atas mereka.

Namun, Tuhan ingin berperkara bukan untuk melakukan penghukuman jika mereka mau “membersihkan diri”; “Berhenti berbuat jahat”; “belajar berbuat baik” dan mau datang untuk dikuduskan Tuhan. Walaupun kelihatannya Tuhan sedang marah, tetapi yang Tuhan mau lakukan adalah supaya mereka dapat tampil dihadapan Tuhan tanpa ada sesuatu yang ditutupi dan mengakui segala dosanya.
Yang Tuhan perlihatkan adalah kasihNya, yang dapat mengubah kehidupan kita menjadi baik, mengubah kehidupan yang “merah” karena dosa menjadi “Putih” bersinar seperti salju dan hangat seperti bulu domba. 
Jika kita sudah dapat memahami nas ini, maka patutlah kita merenungkan:
1.       Jika kita datang ke gereja, maka apakah kita hanya bermodalkan “kebiasaan” dan “rutinitas”? Apakah kita datang dan pergi dari Gereja tanpa ada yang mau di ubah dan tanpa ada yang akan berubah? Yang mau kita bawa ke hadapan Tuhan adalah diri kita, yaitu diri yang terbuka dan mau untuk di ubah Tuhan.
2.      Dosa akan memisahkan kita dari Tuhan, sekalipun kita datang kehadapanNya di dalam doa dan ibadah.
3.      Sebesar apapun dosa kita, namun karena kasihNya yang besar Dia tetap memanggil kita untuk mau diubah dan disucikan.
Kita sering mendengar kata "tobat" dan "bertobat". Apa yang dimaksud dengan kata Tobat ini?
Tobat dalam kamus Bahasa Indonesia berarti: sadar dan menyesal akan dosanya dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatannya.
Dalam bahasa Ibrani tobat diartikan “Syub”: membalikan diri, memalingkan diri, kembali. Kata “Syub” memang tidak berarti apa-apa kalau tidak diikuti oleh kata “Nakas” yang berarti menyesal. Sedangkan dalam bahasa Yunani adalah "Metanoia", artinya berubah di dalam atau juga bisa diartikan secara bebas, berubah dari dalam.
Jadi orang yang bertobat adalah orang yang berbalik kepada Allah, berubah pikirannya dari yang jahat kepada kebaikan. Orang yang bertobat bukan takut akan hukuman, bukan juga karena pengaruh lingkungan, bukan pula takut akan akibat-akibat dosa itu, bukan pula takut akan merosotnya derajat di mata manusia. Tetapi yang menyebabkan kepedihan hatinya sedalam itu ialah bahwa ia telah memedihkan hati Allah, bahwa ia telah menyinggung hati Allah, bahwa ia telah merusak hubungannya dengan Allah. Pendek kata, orang yang bertobat adalah orang yang mau berdamai dengan Allah.
Sebagai tanda bahwa orang itu mau berdamai dengan Allah:
1. Ia menyesali dosanya dengan tulus hati (Mazmur 51:6)
2. Ia mengakui dosanya (Lukas 15)
3. Ia membenci dosa serta menjauhkan diri dari dosa.

Rabu, 26 Oktober 2016

Jamita Haheheon Minggu 16 April 2017 1 Korintus 15: 1-4 “Hehe Kristus, Monang Hita”



Patujolo :
Sadari on marpungu do hita mamestahon haheheon ni Tuhanta Jesus, na gabe laos songon tudu-tudu tu haheheonta tu hangoluan na manongtong i.
Haheheon di jaman modern nuaeng on, mansai jotjot gabe perdebatan, suang songon I do nang di tingki ni Ap. Paulus, mansai maol do halak Kristen di tingki I manghaporseai na adong do haheheon muse di angka na porsea di Yesus i. Ai aut sugari dang adong haheheon I, marisuang ma haporseaonta I, jala dang adong gareja di tonga-tonga ni portibi on. Ala ni ima umbahen di surat na parjolo ni ap. Paulus tu halak Korint dipatorang Ap. I do taringot tu haheheon ni Jesus songon sada poda haporseaon na mansai ringkot situtu.  Molo so tutu naung dipahehe Debata Kristus I naung gabe rumar do isi ni Barita na uli i, naung gabe pargabus do Debata. Alai tutu do dipahehe Debata Anakna i, ala ni i sintong do hataNa.
Ala na dipahehe Debata do Kristus i, gabe dihaporseai angka niseanNa do Ibana ro di angka siihuthon Ibana tahe marhatopothon naung tutu do dipahehe Debata Ibana, jala i do sada poda haporseaon ni halak Kristen na mansai porlu situtu.
Alai aha do pangkorhon ni haheheonNa i? Aha do hahonaanna di ngolu ni halak Kristen nuaeng? Taida ma jolo hatorangan ni ap. Paulus na di turpuk on.
Hatorangan ni turpuk :
          Na parjolo, ia haheheon I na marlapatan do i paboa naung mangolu muse Jesus i. Hamamate ni Jesus dang hamamate ala ni sahit manang ala ni hasalaanNa gabe di uhum mate, alai Ibana mate hombar tu na tarsurat I, jala di tingki ngolu ni Jesus pe nunga di pabotohon hian tu angka siseanna na ingkon tumaon na porsuk Ibana jala pola ingkon mate (Mat 16:21; 12: 40) Na mate do Jesus di Jumat Agung, mate di hau pinorsilang alai di ari Minggu dohot di angka ari na mangihut tusi na didapothon Ibana do angka siaseanNa i, songon jolma naung mulak mangolu Ibana. Angka bukti taringot tuson ma na sinurathon ni Ap. Paulus diturpuk on, na gabe hajongjongan ni halak Kristen I di ganup huria.Lapatanna, I do na gabe haluaon ni angka na porsea i.
Naung mate do Kristus ala ni dosanta, songon na tarsurat di buku na badia i, jala na tartanom do Ibana huhut dipangolu di ari patoluhon songon na tarsurat i.
Molo didok ap. Paulus naung dipahehe Jesus di ari patoluhon dung mate di hau pinorsilang i, ndang na marlapatan i na gabe mangolu muse Jesus songon na somal. Alai na mangolu do Jesus dibagasan ngolu na imbaru. Daging ni Jesus na muba do songon ginombarhon ni ap. i gabe daging partondion nang daging parbanuaginjang. Nunga masuk be Jesus i tu panggulmiton na asing na so boi digombarhon dohot pandohan ni jolma.
          Paduahon, Haheheon ni Jesus, ima na songon pardomuan ni asi ni roha ni Debata dohot angka na porsea i. Haheheon ni Jesus mamboan holong ni roha do di angka siseanNa I, suang songon I hasesaan ni dosanasida.
          Patoluhon: Haheheon ni Yesus, I ma na songon sada jou-jou laho manghobasi Ibana. Ai halak na porsea, ndada sae holan na manjalo asi ni roha ni Debata sambaing, alai ingkon pasahatonna do dirina tu Tuhan Jesus I jala ingkon mangolu do ibana mangihuthon aturan na imbaru, ima na dibagasan Kristus. Mangihuthon Ap. Paulus, jou-jou laho manghobasi Jesus na marlapatan do I, ingkon gabe parbarita na uli na sa na porsea di Ibana.
          Paopathon: Haheheon ni Kristus I, I do na gabe tiruan ni haheheon ni sude jolma na porsea di Ibana, Yesus do na gabe patujolo ni haheheon ni sude jolma, hehe Ibana gabe hamonangan di hita. Asa haheheon ido na gabe sihirimon ni halak Kristen, ai nasa na porsea di Ibana partohap do I di haheheonNa/di hangoluanNa (Joh 11:25).
Pangarimpunan/si pahusor-husoron;
  1. Haheheon ni Jesus sian na mate, naeng ma tarida di ngolu ni ganup na porsea di Ibana. Ai haheheon I do mamboan hita tu ngolu na imbaru. Ai molo naung dibagasan Kristus halak, naung pinaimbaru ma I, nunga be salpu ngolu na buruk I, nunga be soluk ngolu na imbaru.
  2. Ia haheheon ni Tuhan Jesus, I do na songon jaminan nang di haheheon ni saluhut jolma angka na porsea di Jesus i. Na tutu do adong haheheon ni angka na mate, jala na gabe patujolo ni haheheon ni angka na porsea ido haheheon ni Jesus i.
  3. Haheheon ni Jesus sian na mate I do na gabe ojahan ni Barita na Uli, molo parjambar hita di hamamate ni Kristus I, laos parjambar do hita nang di haheheonNa, ai molo tahaposi naung mate Kristus I jala hehe muse boanon ni Jesus do nang hita rap dohot Ibana. Ido Alana umbahen dang pola ma biar be hita mida hamatean I, ai ingkon hehe do muse angka na mate di bagasan Ibana.
  4. Kristus nungga hehe sian na mate, tanda ni hamonanganna do I, sorop ni hamatean i/dosa I nunga di taluhon Ibana, asa monang do Ibana, monang nang hita. Amen
Pdt. Rosevelt. H.L. Tobing, S.Th.MA

Khotbah Pelantikan Pengurus Punguan Sitorus Bekasi dan Sekitarnya Minggu 16 Okt 2016



Mazmur 133:1-3
Judul: Berkat atas kasih persaudaraan
Mazmur 133 ialah pernyataan iman mengenai kasih persaudaraan umat Tuhan. Bila kasih itu ada, maka berkat Tuhan pun melimpah.
Kristus merumuskan ulang hukum Allah di Perjanjian Lama menjadi: "Kasihilah Tuhan Allahmu..., dan kasihilah sesamamu manusia..." Kasih kepada Allah menjadi dasar kasih kepada sesama. Kasih kepada sesama menjadi bukti dan wujud kasih kepada Allah. Kasih kepada sesama hanya mungkin ada pada orang-orang yang sudah lebih dahulu mengalami kasih Allah.
Mazmur 133 melukiskan keindahan kasih kepada sesama saudara. Kasih Allah yang sudah dialaminya menjadi kekuatan bagi komunitas anak-anak Allah untuk dapat saling mengasihi. Mereka pun akan belajar mengasihi sesama yang belum menjadi komunitas umat Allah.
Mazmur 133 juga melukiskan bagaimana komunitas persaudaraan kasih tersebut menyenangkan Allah sehingga Dia mencurahkan berkat-Nya yang limpah. Seperti minyak urapan yang melimpah dan turun atas diri Harun, demikian berkat yang melimpah itu akan dialami anak-anak Tuhan seperti imam yang karena pengurapan atasnya, dapat melayani Tuhan di rumah-Nya. Berkat Tuhan ini pasti akan dialami dan dinikmati umat-Nya, yang mewujud dalam tindakan saling mengasihi dan saling memberkati!
Sedangkan embun yang turun dari Hermon sampai ke Sion, menggambarkan keajaiban berkat Tuhan mengingat kedua bukit itu terpisah jauh secara geografis. Maka kelimpahan berkat ini secara ajaib akan menyeberang dari komunitas umat Tuhan kepada sesama yang di luar komunitas itu.
Bila kita termasuk dalam komunitas persaudaraan karena kasih, pastilah kasih Allah akan mengalir juga melalui kita kepada sesama manusia di luar sana! Wujud kasih itu ialah kita berani berbagi berkat Allah kepada mereka, sama seperti kita berbagi berkat kepada sesama saudara!
Kalau disuruh memilih, hidup rukun dan tidak rukun (harmonis dan tidak harmonis), saya pikir jarang ada orang, bahkan mungkin tidak ada yang memilih untuk hidup tidak rukun atau tidak harmonis. Namun kenyataannya yang justru sering terjadi ialah hidup yang tidak/kurang rukun. Tidak rukun dengan mertua, dengan sesama saudara, dengan pasangan, dengan anak-anak, dengan tetangga, antar etnis, kelompok dan golongan, antar bangsa, dsb. Mengapa bisa demikian? Banyak faktor yang menyebabkannya. Diantara banyak penyebab tersebut penyebab utama karena kita kurang atau tidak mampu menghargai orang lain sebagaimana ia ada. Kita mau orang lain seperti yang kita mau/harapkan. Ketika itu tidak  terjadi, apa lagi ketika kita sudah berusaha mengubahnya dengan memberi menasehati, membimbing atau mengarahkannya, dsb, namun juga tidak berubah, kekecewaan kita akan semakin dalam yang akhirnya mempengaruhi hubungan kita menjadi tidak harmonis. Tidak demikian dengan seorang Samaria dalam cerita Yesus. Ketika ia melihat orang yang membutuhkan pertolongan segera ia bertindak menolong. “Belas kasihan” yang mengalir dalam hatinya mendorongnya ngenghargai orang yang “tersamun” tersebut sebagai sesama manusia. Tidak hanya merasa kasihan, tetapi melakukan tindakan konkrit dengan memberikan pertolongan. Jadi hati yang masih dialiri rasa belas kasihanlah yang memungkinkan kita mengharagai orang lain, mengasihi dan bertindak menjadi sesama bagi orang lain tanpa terkecuali.
Bagaimana supaya dalam hati kita senantiasa tergerak oleh belas kasihan, sehingga kita boleh hidup saling menghargai sebagai sesama ciptaan Tuhan? Jawabannya adalah jikalau kita tinggal dan hidup dalam Tuhan Yesus[2] dan mau dipimpin oleh Roh Kudus[3].
Kasih dalam 1Korintus 13:4-7
Berikut ini, kita akan mencoba mempelajari secara lebih mendalam masing-masing dari kasih itu Menurut R. Paulus dlm 1 Kor 13 itu:
 “Kasih itu sabar” (1 Korintus 13:4)
Kata “sabar” dalam bahasa Yunani adalah kata kerja “makrothumeo” yang tersusun dari kata “makros” yang berarti “panjang” dan “thumos” yang berarti “kemarahan”. Dengan kata lain, “makrothumeo” berarti “perlu waktu yang panjang sebelum marah1" dan merupakan lawan dari “cepat marah”. "Makrothumeo" lebih bermakna sabar terhadap orang daripada sabar terhadap keadaan. Karena untuk sabar terhadap keadaan terdapat kata Yunani yang lain, yang akan digunakan nanti dalam bagian yang sama dalam 1 Korintus. Jadi, kasih berarti tidak cepat marah kepada orang lain, tidak mudah marah. Sebaliknya, kasih itu menanggung dengan sabar.
Kasih itu murah hati” (1 Korintus 13:4)
Ciri lain dari kasih adalah murah hati. Kata kerja bahasa Yunani untuk “murah hati” adalah “chresteuomai” yang hanya dipergunakan di sini dalam Perjanjian Baru. Namun, kata itu digunakan beberapa kali, dalam dua bentuk yang berbeda. Yang satu dalam bentuk kata sifat “chrestos” dan yang lain dalam bentuk kata benda “chrestotes”. “Chrestos” berarti “baik, lemah lembut, baik hati, ramah, menunjukkan kedermawanan yang aktif meskipun tanpa dibalas ucapan terimakasih”. Jadi, “chresteuomai” berarti menunjukkan chrestos diri yaitu kelembutan hati, kebaikan, kemurahan hati sekalipun tanpa dibalas sikap atau ucapan terima kasih
Kata nyanyian ziarah dari Daud ini menggambarkan situasi saat itu, di mana kebiasaan orang Israel yang berkumpul beramai-ramai membangun tenda untuk merayakan hari-hari perayaan tertentu. Nyanyian ziarah bukan berarti nyanyian ke kuburan tapi nyanyian arak-arakan karena bangsa Israel waktu itu merayakan hari-hari tertentu[4]. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya itulah kata-kata pembukaan dimana Daud mau menggambarkan suasana umat berbagai penjuru Israel berkumpul di Yerusalem di dalam kerukunan, keakuran, keharmonisan, dan keguyuban.
Pemazmur menggambarkan berkat-berkat kerukunan itu dalam dua gambaran. Yang pertama, “seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya”. Minyak mempunyai makna kesukaan[5], keharuman[6], ketentraman[7], juga penyucian[8]. Sehubungan dengan minyak pengurapan imam, kelimpahan minyak urapan menggambarkan bahwa Tuhan memberkati umatnya dengan berkelimpahan melalui persekutuan mereka. Kedua, akibat atau dampak kesatuan/kerukunan itu digambarkan juga “seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion”.  Walaupun secara geografis, kedua lokasi Gunung Hermon dan Sion tersebut jauh sekali, tapi adalah sebuah mujizat jika embun dapat mengalir begitu jauhnya. Begitulah kasih dan kuasa Tuhan mengalir ke semua manusia, apalagi ke setiap anak-Nya yang hidup dalam persekutuan yang rukun. Sesungguhnya hidup dalam persekutuan yang rukun/harmonis sudah merupakan mujizat anugrah ilahi dimana berkat pribadi saling dibagikan untuk keberuntungan bersama. Persekutuan demikianlah yang menyenangkan hati Tuhan sehingga Ia mencurahkan berkat-berkatnya atas mereka.