|
Pendahuluan
Saudara-Saudara, kejujuran
tampaknya telah menjadi sesuatu yang langka dalam kehidupan kita dewasa
ini. Mulai dari pengemis jalanan yang pura-pura sakit, pedagang yang
mengurangi timbangan, pelaku bisnis yang main curang, produsen iklan yang
menggunakan trik untuk menipu konsumen, hingga para koruptor dari kelas teri
maupun kelas kakap, rasanya cukup dapat menjadi gambaran nyata bahwa
nilai-nilai kejujuran itu memang sudah pudar. Karena itu, tepatlah apa
yang dikatakan oleh seorang wartawan sebuah surat kabar, “Ketidakjujuran
tampaknya sudah menjadi suatu kebiasaan yang sangat umum dalam masyarakat
kita. Terkadang ketidakjujuran itu dilakukan karena dianggap sebagai
alasan yang terbaik. Namun, ketidakjujuran juga tidak jarang dilakukan
hanya demi keuntungan pribadi, secara khusus untuk memudahkan usaha-usaha
yang berkaitan dengan hubungan-hubungan sosial maupun bisnis.”
Saudara, pada suatu siang ada
seorang salesman obat mengetuk pintu sebuah rumah tua yang penghuninya
miskin. Setelah wanita pemilik rumah ini mengintip siapa yang datang,
ia segera berkata kepada anak laki-lakinya yang masih kecil, “Nak, ayo cepat
bukakan pintu dan katakan pada salesman tersebut bahwa ibu sedang
mandi.” Sang anak pun segera berlari ke depan dan setelah membukakan
pintu ia berkata, “Pak, tadi ibu saya berpesan dari ruang tamu katanya ia
sedang mandi.”
Saudara, kejadian sepele seperti di
atas tentu bukanlah hal yang asing lagi di telinga kita, atau bahkan hal
seperti itu telah menjadi bagian yang kita lakukan sehari-hari. Kita
juga sering ikut tergelincir dalam praktik-praktik ketidakjujuran, baik
dalam perkara-perkara yang besar maupun sekedar mengatakan dusta-dusta kecil,
dusta-dusta untuk menjaga kesopanan, mengatakan kejujuran yang setengah benar
saja, atau melakukan tindakan-tindakan lain yang serupa? Saudara,
kejujuran memang barang langka yang sukar ditemui dalam masyarakat
kini.
Penjelasan
“Sebenarnya apa seh yang dimaksud
dengan kejujuran itu? Kejujuran, seperti yang diuraikan dalam Alkitab,
sesungguhnya memiliki makna yang luas. Mari kita sama-sama membuka
Titus 2:7-8,
“Jadikanlah dirimu sendiri suatu
teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan
bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam
pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk
yang dapat mereka sebarkan tentang kita.”
Selain itu mari kita kembali
membuka 2Korintus 8:21. SS, ketika Paulus menuliskan tentang
komitmennya untuk mengurus dengan jujur uang yang diberikan orang-orang
percaya guna membantu orang-orang yang kekurangan, dia berkata begini:
“Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga
di hadapan manusia.”
Dari sini kita melihat bahwa
kejujuran itu sesungguhnya bukan hanya berbicara mengenai pemakaian lidah
untuk berkata kebenaran, tetapi melibatkan juga cara hidup serta pola
pemikiran yang benar sehingga dapat menghasilkan gaya hidup yang patut dipuji
dan dihormati. Kejujuran itu harus meliputi cara hidup kita seluruhnya,
yaitu seluruh pembicaraan, pikiran, motivasi, serta tindakan kita; baik
ketika kita sedang sendiri maupun ketika berhadapan dengan orang lain.
Melalui pengertian tersebut kita
harus menyadari bahwa standar kejujuran yang Allah berikan jelas tidak sama
dengan standar kejujuran yang dunia tawarkan. Bagi dunia, kejujuran itu
hanya bersifat relatif dan tergantung pada situasi. Apa yang benar
dalam satu situasi belum tentu benar di dalam situasi lain. Akibatnya,
tidak ada standar kejujuran yang absolut. Terkadang dunia juga sering
menyamakan kejujuran dengan hukum. Mereka mengatakan bahwa apa saja
yang diperbolehkan di dalam hukum yang tertulis dari negara adalah
jujur. Jika hukum tidak menyebutkan bahwa suatu tindakan itu adalah
benar atau salah, maka mereka akan menganggap bahwa hal tersebut benar.
Karena itu tidak heran bila ada banyak orang-orang yang melakukan praktek
ketidakjujuran namun tetap dapat berkata, “Loh memangnya kenapa kalau aku
melakukan ini? Toh tidak ada hukum yang melarang!”
Ada pula orang-orang yang menilai
kejujuran itu sebagai persoalan hati nurani dari setiap orang. Mereka
berpendapat bahwa mematuhi hukum-hukum yang berlaku itu hanya dilakukan agar
tidak memperoleh hukuman saja. Jadi sesungguhnya, hukum yang sebenarnya
itu ada di dalam diri seseorang. Tidak ada tindakan yang benar-benar
salah sehingga apapun boleh diperbuat dan sama sekali tidak dinyatakan salah,
kecuali hal tersebut melanggar hati nuraninya. Saudara, itulah
nilai-nilai kejujuran yang dunia tawarkan saat ini. Semuanya sangatlah
subyektif dan tidak memiliki standar yang pasti.
Namun tidak demikian dengan
Alkitab, Bagi Allah, kejujuran adalah sesuatu yang mutlak dan harus dilakukan
dalam seluruh aspek hidup kita. Kejujuran itu bukan sekedar apa yang
kita katakan dan kita perbuat, namun menyangkut seluruh motivasi, pikiran,
serta hati kita. Kejujuran itu bukan sekedar dilakukan dalam
perkara-perkara besar, namun menyangkut pula perkara-perkara kecil yang
mungkin kita anggap remeh. Dan kejujuran itu pun bukan sekedar
dilakukan untuk kepentingan diri, namun menyangkut tanggung jawab kita juga
kepada Allah dan sesama.
Ilustrasi
Di dalam bukunya, seorang musisi
bernama Don Wyrtzen menceritakan bagaimana ayahnya, Jack Wyrtzen, pendiri Word
of Life, mengajarnya secara keras tentang kejujuran. Dikisahkan bawa
saat itu Don menghadiri KKR ayahnya di New York’s Time Square. Suatu
kali ia dan temannya yang bernama Jimmy memutuskan untuk naik kereta bawah
tanah. Alih-alih membeli tiket seharga 15 sen dolar, mereka memutuskan
untuk merangkak saja di bawah pintu pagar putar. Malam itu, ia dan
Jimmy menyombongkan kepandaian mereka sehingga dapat naik kereta keliling New
York tanpa membayar apa pun. Namun, sang ayah justru menanggapi hal itu
dengan sangat serius. Sang ayah mengatakan pada mereka bahwa tindakan
tersebut adalah kecurangan dan Allah sangat membencinya. Kemudian ia
pun dipaksa oleh ayahnya untuk menulis sepucuk surat ke New York City Port of
Authority dan meminta maaf kepada mereka serta melampirkan uang untuk
membayar tiket. Saudara, bagi sang ayah kejujuran adalah
perkara yang sangat serius di mata Allah dan ia tidak ingin kehilangan
kesempatan untuk mengajari anaknya mengenai hal ini.
Aplikasi
Lalu bagaimana dengan setiap
kita? Apakah kita pun menyadari bahwa kejujuran adalah suatu hal yang
sangat dituntut Allah dalam kehidupan orang percaya?
Penjelasan lebih lanjut
Saudara, berulang kali Alkitab menegaskan pada kita bahwa sifat hakiki Allah
adalah kebenaran. Dalam Yesaya 65:16 dan Mazmur 31:6 dikatakan bahwa Ia
adalah Allah yang Benar; Mazmur 119:16 dan Yohanes 17:17 juga
mengatakan bahwa Ia adalah Firman yang Benar; kemudian Yohanes 16:13
pun berkata hal yang serupa bahwa Ia adalah Roh yang Benar. Jadi, Allah
yang kita miliki sesungguhnya adalah Allah yang Benar, dapat diandalkan,
setia, serta dapat dipercaya di dalam memelihara komitmen-komitmen-Nya.
Oleh karena itulah, Allah sangat
membenci, bahkan mengutuki ketidakjujuran di dalam segala bentuknya.
Ketidakjujuran merupakan kekejian bagi-Nya karena itu adalah milik Si
Jahat. Yohanes 8:44 mengatakan bahwa iblis adalah pendusta dan bapa
dari segala pendusta. Jadi pada saat kita melakukan ketidakjujuran,
sesungguhnya kita sedang mengikuti pola hidup iblis dan menempatkan diri
untuk menjadi musuh Allah.
Apakah Saudara ingat akan kisah
Ananias dan Safira? Suami istri ini menjual sebidang tanah kemudian
menyimpan sebagian uangnya untuk mereka sendiri serta membawa sisanya kepada
rasul sebagai persembahan. Mereka tidak berdosa karena mereka memberi sebagian
hasil penjualan tanah mereka, namun mereka jatuh dalam dosa ketika berusaha
membuat orang lain percaya bahwa mereka telah memberikan seluruh uangnya bagi
Tuhan. Dan akibat perbuatan tersebut, Allah menghukum mati Ananias dan
Safira saat itu juga. Saudara, di sini kita menyaksikan bahwa Allah
sangat membenci ketidakjujuran, bahkan yang sekecil apapun bentuknya. Ia
menindak pelanggaran tersebut dengan begitu keras. Karenanya, Saudara, jangan
sekali-kali kita berpikir bahwa saat ini Allah tidak akan keberatan bila kita
bersikap tidak jujur. Seharusnya kisah tersebut dapat menjadi warning
bagi kita bahwa Allah sangat concern akan masalah kejujuran. Ia
menuntut agar setiap orang percaya dapat mempraktikkan kejujuran ini secara
konsisten, di mana pun dan kapan pun, baik ketika sedang sendiri maupun saat
berhadapan dengan orang lain.
Saudara-Saudara, seharusnya sebagai
orang percaya kita dapat menyadari kembali dengan sungguh-sungguh apa peran
kita yang sebenarnya di tengah dunia ini. Dalam Efesus 5:8-11, Paulus
pun menjelaskan hal ini secara tegas,
“Memang dahulu kamu adalah
kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu
hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan
dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang
tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan
itu.”
Di sini Paulus mencoba menegaskan
bahwa kehidupan orang percaya tidaklah boleh sama seperti dahulu.
Allah telah menebus kita dari cara hidup kita yang lama sehingga kehidupan
kita saat ini haruslah berpadanan dengan status kita yang baru. Yang
menarik adalah ketika Paulus mencoba mengontraskan kehidupan orang percaya
dan orang yang belum percaya dengan istilah terang dan gelap. Istilah
terang di sini sebenarnya merupakan penggambaran Paulus akan terang yang
telah dibawa oleh Yesus Kristus ke dalam hidup orang-orang percaya.
Rupanya ada tiga hal yang ingin Paulus tekankan mengenai istilah “terang”
tersebut. Pertama, terang akan menghasilkan buah-buah yang baik, yaitu
kebajikan, keadilan, dan kebenaran. Kedua, terang memampukan
orang-orang percaya untuk membedakan apa yang membawa sukacita dan dukacita
bagi Allah. Dan yang ketiga, terang itu akan membuka tabir dari setiap
kejahatan. Saudara, seharusnya kebenaran ini dapat menyadarkan setiap
kita bahwa inilah peran yang harus kita jalani sebagai orang percaya.
Sesungguhnya Allah telah memampukan sekaligus menuntut kita untuk menjadi
terang di tengah-tengah dunia yang gelap ini, dan salah satunya adalah
melalui kehidupan yang jujur. Allah ingin agar kejujuran itu bukan
hanya sekedar sesuatu yang kita ketahui atau percayai, namun dapat menjadi
gaya hidup setiap kita sehingga orang lain pun dapat melihat perbedaan
tersebut.
Ilustrasi
Saudara, suatu hari saya mendengar
sebuah kesaksian yang menarik dari seorang pemuda Kristen yang baru saja
lahir baru. Pemuda itu menceritakan tentang pengalamannya ketika pergi
berbelanja ke sebuah supermarket. Diceritakan bahwa setelah selesai
berbelanja dan membayar, ia pun bergegas kembali ke mobil sambil mendorong
kereta belanjaannya. Saat ia sedang memasukkan barang-barang
belanjaannya, ia rupanya menemukan ada sebuah kartu ucapan yang terselip di
bawah kereta belanjaan tersebut dan belum sempat ia bayarkan. Spontan
saja ia bergegas masuk lagi ke toko, mengantri, dan meminta maaf pada
kasir. Saat kasir tersebut sedang membungkus kartunya, seorang ibu yang
berada di belakangnya tampak tercengang sambil berkata pelan, “Ya ampun Dik,
itu kan cuma sebuah kartu ucapan! Siapa juga yang tahu? Enggak
usah kembali!”
Saudara, kemudian pemuda tersebut
bercerita bahwa selama beberapa detik ia hanya bisa terdiam tanpa tahu harus
berkata apa. Namun, tak lama kemudian ia berhasil mendapatkan jawaban
yang tepat untuk ibu tersebut, “Bu, seandainya ibu kehilangan dompet,”
katanya sambil tersenyum, “Saya yakin ibu berharap dompet itu ditemukan oleh
orang konyol seperti saya, bukan?”
Aplikasi
Saudara, saat ini dunia
sangat membutuhkan orang-orang yang jujur. Dan kalau bukan kita,
siapa lagi yang akan melakukannya? Setiap kita dipanggil bukan untuk
menjadi serupa dengan dunia ini, namun untuk membawa terang, sehingga
orang-orang dapat melihat perbedaan di dalam diri kita. Mungkin
tindakan kita memang tidak akan bisa menghentikan praktik-praktik
ketidakjujuran yang ada di dalam dunia ini, namun setidaknya kita telah
belajar untuk menetapkan standar kejujuran tersebut pada diri kita sendiri.
Setelah itu, kita akan bisa melanjutkannya pula dalam keluarga kita, tempat
kerja, bahkan lingkungan sekitar kita.
Penutup
Percayalah Saudara apa yang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia karena
Allah sangat menghargai setiap usaha kita dalam menerapkan kejujuran. Ada
kemungkinan bahwa dalam perjalanannya, setiap kita akan mengalami begitu
banyak masalah, seperti kehilangan pekerjaan, diejek, dijauhi, dan banyak
tantangan-tantangan berat lain yang dapat saja kita hadapi. Namun percayalah,
Allah sendiri yang akan menjadi pembela kita. Kita tidak perlu takut,
sebab hidup kita ada di tangan-Nya. Yang terpenting Saudara, teruslah hidup
dalam kejujuran dan jangan menyerah! Lihatlah bagaimana Allah akan
berkarya melalui kehidupan kita.
Amin.
|
Perdamaian sangat dibutuhkan pada jaman ini, bagaimana kita bisa berdamai dengan sesama, dengan Tuhan dan diri sendiri.Semua ini hanya dapat kita peroleh dari Dia dan FirmanNya sebagai Madu Surgawi.
Rabu, 15 Juni 2016
Khotbah: Kolose 3:9-17 Kejujuran
Khotbah Ibadah Persekutuan Besar Fak. Ekonomi UKI Thema: “Kejujuran” Jumat 17 Juni 2016
Hai
tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga
mempunyai tuan di surga (Kolose 4:1) Jika ya, hendaklah kamu
katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak apa yg lebih dari pada
itu berasal dari si jahat. (Matius 5:37)
Saudara-Saudara,
kejujuran tampaknya telah menjadi sesuatu yang langka dalam kehidupan kita
dewasa ini. Mulai dari pengemis jalanan yang pura-pura sakit, pedagang
yang mengurangi timbangan, pelaku bisnis yang main curang, produsen iklan yang
menggunakan trik untuk menipu konsumen, hingga para koruptor dari kelas teri
maupun kelas kakap, rasanya cukup dapat menjadi gambaran nyata bahwa
nilai-nilai kejujuran itu memang sudah pudar.
Apa itu kejujuran?
Sebenarnya apa yang
dimaksud dengan kejujuran itu? Kejujuran,
seperti yang diuraikan dalam Alkitab, sesungguhnya memiliki makna yang
luas. Mari kita sama-sama membuka Titus 2:7-8,
“Jadikanlah dirimu
sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan
bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam
pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang
dapat mereka sebarkan tentang kita.”
Dari sini kita melihat bahwa kejujuran itu sesungguhnya bukan
hanya berbicara mengenai pemakaian lidah untuk berkata kebenaran, tetapi
melibatkan juga cara hidup serta pola pemikiran yang benar sehingga dapat
menghasilkan gaya hidup yang patut dipuji dan dihormati. Kejujuran itu
harus meliputi cara hidup kita seluruhnya, yaitu seluruh pembicaraan, pikiran,
motivasi, serta tindakan kita; baik ketika kita sedang sendiri maupun ketika
berhadapan dengan orang lain.
Jujur didefinisikan juga
sebagai (1) Hati yang lurus(Dosen dlm menilai
benar2 objektip) tidak berbohong atau berkata apa adanya, (2) Tidak curang atau mengikuti aturan yang
berlaku Mahasiswa tdk Contek dlm ujian)(3) Tulus
iklas; tidak munafik atau bermuka dua. Jadi, jujur adalah sikap
moral yang sejati, yang berasal dari hati yang bersih, lalu diterjemahkan ke
dalam tutur kata dan perbuatan. Kejujuran tidak datang dari luar, melaikan
datang dari dalam diri manusia ketika seseorang mengakui kebenaran Allah.
Dalam Alkitab, Tuhan
telah menetapkan dengan sangat jelas, bahwa
berdusta, menipu, dan mencuri itu salah (baca: Kel. 20:15-16; Im.
19:11-13). Tuhan mengulangi ketetapanNya ini sepanjang sejarah. Tuhan menghukum
mati Akhan yang tidak jujur (Yosua 7:11), Tuhan juga menghukum mati Ananias dan
Safira yang berbohong (KPR 5:3-4). Siapa saja yang tidak jujur melawan Tuhan
karena hal itu melanggar ketetapanNya.
Dari
perspektif penciptaan,
secara teologi manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah -
Kejadian 1:26-27. Hal itu menegaskan bahwa manusia sempurna diciptakan oleh
Allah. Karena manusia diciptakan sempurna, maka manusia memiliki karakter yang
sempurna.
Salah satu karakter manusia ialah KEJUJURAN/JUJUR. Tetapi, setelah
manusia jatuh ke dalam dosa, maka karakter manusia menjadi rusak. Manusia
menjadi lebih suka bohong dari pada hidup jujur. Mengapa demikian?
Karena kalau hidup jujur sudah pasti tidak akan mendapat untung (Ilustrasi: Suami berkata bohong Isterinya
sakit,lebih baik dia mati). Sebaliknya,
kalau bohong mendapat untung. Inilah paradigma yang sudah terbangun secara
umum dalam diri manusia, baik orang non Kristen maupun orang Kristen yang
notabene adalah pengikut Kristus.
Menurut Alkitab,
bohong itu dosa, sehingga sebenarnya berbohong itu tidak ada untungnya. Iblis
telah memutar-balikkan fakta karena memang dia adalah bapa pendusta dari
mulanya. Jadi, seharusnya kita memutuskan untuk mulai berhenti berbohong dan berkatalah jujur. Karena, kalau kita jujur
dijamin pasti ada untungnya. Pertanyaannya ialah: "Apa untungnya kalau
kita hidup jujur? Berikut beberapa keuntungan yang akan kita peroleh, bila kita
hidup jujur. Pertama, Kejujuran
mendatangkan ketenangan - Mazmur 32:10-11. Orang kalau bicaranya jujur dan
hidupnya tulus, pasti mengalami ketenangan. Dan orang yang hidupnya tenang
pasti lebih sehat, sehingga orang yang jujur kata Alkitab selalu
bersorak-sorak.
Kedua,
Kejujuran membawa hidup yang lebih dekat dengan TUHAN Allah - Amsal 3:32. Orang
jujur hidupnya dekat sama TUHAN Allah. Mengapa? Karena di dalam TUHAN Allah
tidak ada yang dusta. Di dalam TUHAN Allah tidak ada kemunafikan. Dikatakan
demikian karena Dia adalah Allah yang benar dan di dalam Dia tidak ada
ketidak-benaran.
Ketiga, Kejujuran mendatangkan berkat yang
luar biasa - Yesaya 33:15-16. Orang
jujur hidupnya dijamin oleh TUHAN Allah. Di mana ada kejujuran, maka TUHAN
Allah akan memerintahkan berkat-berkat-Nya ke dalam perbendaharaan atau ke
dalam lumbung-lumbung atau ke dalam pundi-pundi orang-orang jujur. Keempat,
Kejujuran pada akhirnya pasti melihat kemenangan besar - Mazmur 140:14; Amsal
2:21-22. Ketika kita bicara jujur dan berjalan dalam ketulusan tentunya kita
akan menemui tantangan, hambatan, kesulitan dan sebagainya. Untuk sementara
jalan orang jujur berat dan lambat. Kadang kala jalan yang ditempuh oleh orang
jujur untuk sementara penuh onak dan duri. Tetapi, hasil akhirnya TUHAN Allah
mendatangkan kemenangan yang besar bagi orang-orang jujur. Marilah kita belajar
untuk hidup jujur dan dalam ketulusan. Patut diakui bahwa untuk hidup jujur
memang tidak gampang. Tetapi, di manapun
orang jujur berada mujizat dan kemenangan dari TUHAN Allah menyertainya.
Amin
Saudara, saat ini
dunia sangat membutuhkan orang-orang yang jujur. Dan kalau bukan
kita, siapa lagi yang akan melakukannya? Setiap kita dipanggil bukan
untuk menjadi serupa dengan dunia ini, namun untuk membawa terang, sehingga
orang-orang dapat melihat perbedaan di dalam diri kita. Mungkin tindakan
kita memang tidak akan bisa menghentikan praktik-praktik ketidakjujuran yang
ada di dalam dunia ini, namun setidaknya kita telah belajar untuk menetapkan
standar kejujuran tersebut pada diri kita sendiri. Setelah itu, kita akan
bisa melanjutkannya pula dalam keluarga kita, tempat kerja, bahkan lingkungan
sekitar kita.
Ams 2:7 Ia
menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang
tidak bercela lakunya,
Ams 3:32 karena orang yang sesat
adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.
Ams 11:3 Orang yang jujur dipimpin
oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.
Ams 11:6 Orang yang jujur dilepaskan
oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya.
Ams 14:11 Rumah orang fasik akan musnah, tetapi kemah
orang jujur akan mekar.
Ams 15:8
Korban orang fasik adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi doa orang jujur dikenan-Nya.
Ams 15:19
Jalan si pemalas seperti pagar duri, tetapi jalan orang jujur adalah rata.
Ams 16:13
Bibir yang benar dikenan raja, dan orang yang berbicara jujur dikasihi-Nya.
Thema: Kejujuran
Nats :
Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama
serta kelakuannya (Kolose
3:9)
Bacaan : Kolose 3:9-17
Bacaan : Kolose 3:9-17
Seorang
pelatih football universitas memutuskan untuk mengundurkan diri setelah mengaku
telah memalsukan ijazah akademis dan ijazah olahraganya. Seorang perwira militer
profesional mengaku bahwa lencana tanda jasa yang ia pakai bukan miliknya.
Seorang pelamar pekerjaan menyatakan bahwa pengalamannya sebagai "pengawas
makanan dan minuman" yang ia tulis sebenarnya hanyalah pengalaman
membuatkan kopi di pagi hari di kantornya.
Kita semua
cenderung melebih-melebihkan kebenaran supaya orang lain terkesan. Baik dalam
resume pekerjaan maupun percakapan biasa, sikap melebih-lebihkan tampak wajar,
padahal tindakan seperti itu sebenarnya berisiko. Kebohongan kecil akan
berkembang menjadi besar saat kita mencoba menutupinya. Lalu kita pun
bertanya-tanya mengapa kita bisa terjerumus dalam situasi sulit seperti itu.
Dalam
Alkitab tertulis, "Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah
menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru
yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut
gambar Khaliknya" (Kolose
3:9,10). Dengan kata lain, jika kita mengimani Yesus sebagai Juruselamat
kita, maka kebohongan bukanlah apa yang Allah harapkan dari kita. Penangkal
sikap menyombongkan diri sendiri adalah dengan bertumbuh menjadi serupa dengan
Kristus yang penuh belas kasih, kemurahan, kerendahan hati, kesabaran,
pengampunan, dan kasih (ayat 12-14).
Jika kita
mau memperhatikan sesama kita dengan tulus, maka kita tidak perlu lagi berusaha
membuat mereka terkesan dengan cara apa pun --David McCasland
BERSIKAP
JUJUR BERARTI ANDA TIDAK PERLU TAKUT
DINILAI ORANG LAIN
DINILAI ORANG LAIN
Nats :
Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama
serta kelakuannya (Kolose
3:9)
Bacaan : Kolose 3:1-9
Bacaan : Kolose 3:1-9
Setibanya di
rumah setelah melakukan perjalanan, saya memberi tahu istri saya, "Aku mendapat
tiket [Ing: ticket, dapat berarti surat tilang] saat berkendaraan melintasi
Indiana." Istri saya tampak akan marah saat saya melanjutkan,
"Tunggu! Akan kujelaskan semuanya."
Saya
menceritakan kepadanya bahwa saya baru saja menyusuri jalan tol Indiana. Setiap
orang yang memasukinya menerima sebuah "tiket". Tiket itu diberikan
bukan karena pelanggaran lalu lintas, melainkan untuk menentukan biaya tol yang
harus dibayar berdasarkan jarak tempuh.
Ini
mengingatkan saya bahwa kita mungkin mengatakan kebohongan saat membuat
pernyataan yang benar. Ini terjadi jika kita menggunakan kata-kata bermakna
ganda, atau membuat pernyataan tak lengkap untuk meninggalkan kesan yang salah.
Orang sering
menceritakan kebenaran secara setengah-setengah dan menggunakan beberapa
istilah tertentu untuk menyesatkan orang lain. Sebagai contoh, saat menjual
sebuah TV bekas, si penjual mungkin menekankan kualitas gambar yang sangat
bagus, tetapi tidak memberi tahu si pembeli bahwa kontrol volumenya tidak
berfungsi dengan semestinya. Si penjual lalu mencari-cari alasan dan berkata,
"Saya berkata jujur. Saya berkata kepadanya bahwa gambarnya sangat bagus.
Ia tidak bertanya tentang suaranya." Padahal ini hanyalah bentuk lain dari
kebohongan.
Daripada
melebih-lebihkan atau membelokkan kebenaran demi memuaskan keinginan kita
sendiri, marilah kita memperhatikan kata-kata dalam Kitab Suci, "Jangan
lagi kamu saling mendustai" (Kolose
3:9) --Richard De Haan
PEMBOHONG
YANG PALING MEMPERDAYA
ADALAH MEREKA YANG HIDUP DI UJUNG KEBENARAN
ADALAH MEREKA YANG HIDUP DI UJUNG KEBENARAN
Nats : Hai
tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga
mempunyai tuan di surga (Kolose
4:1)
Bacaan : Kolose 3:22-4:1
Bacaan : Kolose 3:22-4:1
Saat Truett
Cathy memulai usaha restoran pertamanya pada tahun 1946, restoran selalu itu
tutup pada hari Minggu untuk memberi waktu bagi para karyawannya berkumpul
bersama keluarga dan pergi ke gereja. Hal itu masih berlaku sampai sekarang,
pada lebih dari 1.000 gerai cepat saji Chick-fil-A milik perusahaan Cathy.
Semboyan
Cathy adalah "utamakan orang dan prinsip dulu, baru keuntungan".
Semboyan ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri, baik saat memberikan
perintah maupun saat mempekerjakan seseorang.
Dalam Kolose
3:22-4:1, Rasul Paulus berpesan kepada para majikan dan hamba. Menurutnya,
kita perlu ingat bahwa kita mempunyai Tuan di surga (4:1).
Kita harus bekerja dengan segenap hati untuk menyenangkan-Nya, bukan hanya
untuk menyenangkan orang yang mengawasi kita (3:22-24).
Truett Cathy
berusaha untuk senantiasa menerapkan prinsip alkitabiah dalam menjalankan
usahanya. Larry Julian, pengarang God Is My CEO, sebuah buku tentang Cathy dan
para pemimpin usaha lainnya, berkata, "Allah tidak menjanjikan keuntungan
nyata atas investasi, tetapi Dia menjanjikan buah Roh, yakni kasih dan kedamaian
dan sukacita, dalam kehidupan pribadi seseorang. Cathy tidak hanya mengalami
kedamaian dan sukacita dan kasih dalam kehidupan pribadinya, tetapi juga
membuat perbedaan dalam hidup para anak asuh, anak-anak, cucu-cucu, dan para
karyawannya. Ia meninggalkan warisan tentang bagaimana melakukan segala sesuatu
dengan benar."
Inilah
teladan yang dapat kita terapkan --David McCasland
KETIKA
MANUSIA DIANGGAP LEBIH PENTING DARIPADA KEUNTUNGAN
MAKA SETIAP ORANG AKAN MEMPEROLEH KEUNTUNGAN
MAKA SETIAP ORANG AKAN MEMPEROLEH KEUNTUNGAN
Nats :
Neraca yang betul, batu timbangan yang betul ... haruslah kamu pakai; Akulah
Tuhan, Allahmu (Imamat
19:36)
Bacaan : Imamat 19:32-37
Bacaan : Imamat 19:32-37
Mantan ketua
Institut Akuntan Publik Bersertifikat Amerika mengatakan bahwa etika dalam
bekerja merupakan dasar dari kesuksesan bisnis. Ketika berbicara di hadapan
para pemimpin bisnis dan pemimpin komunitas, Marvin Strait berkata,
"Orang-orang ingin berbisnis dengan rekan yang dapat mereka percaya.
Kepercayaanlah yang membuat bisnis berjalan. Itu merupakan landasan bagi sistem
perusahaan bebas."
Di tengah
berkembangnya skandal korporat dan menipisnya kepercayaan publik, pernyataan
Marvin tersebut mengingatkan kita akan nilai kejujuran. Tanpa kejujuran, hidup
dan pekerjaan kita tidak akan pernah sesuai dengan rancangan Allah.
Hukum dalam
Perjanjian Lama mengatakan, "Neraca yang betul, batu timbangan yang betul
... haruslah kamu pakai; Akulah Tuhan, Allahmu" (Imamat
19:36). Selain itu Perjanjian Baru mengajarkan bahwa kebenaran dan
kejujuran dalam segala perkataan dan perbuatan seharusnya menjadi ciri
orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus (Efesus
4:25-28).
Salah satu
cara untuk menguji pilihan-pilihan kita setiap hari adalah dengan bertanya
kepada diri sendiri, "Akan malukah saya seandainya membaca berita mengenai
perbuatan saya di surat kabar, atau jika keluarga dan teman-teman saya
mengetahui perbuatan saya itu? Apakah saya membiarkan atau malah mencari
keuntungan dari tindakan tidak etis yang dilakukan orang lain?"
Kejujuran
bukan hanya kebijakan terbaik, melainkan kebijakan Allah bagi setiap aspek
kehidupan kita. Hidup berintegritas berarti menghormati dan memuliakan Dia
--David McCasland
KEJUJURAN
MERUPAKAN KEBIJAKAN TERBAIK --BENJAMIN FRANKLIN
Nats : Sifat
yang diinginkan pada seseorang adalah kesetiaannya; lebih baik orang miskin
daripada seorang pembohong (Amsal
19:22)
Bacaan : Keluaran 23:1-13
Bacaan : Keluaran 23:1-13
Seorang pria
yang jujur dan baik hati mengendarai mobil menyusuri sepanjang jalanan San
Fransisco lebih dari satu jam. Ia hendak menemukan seorang wanita pemilik
dompet berisi uang 1.792 dolar yang tertinggal di kursi belakang taksinya. Saya
menyukai hal yang dikatakannya pada saat beberapa rekannya sesama sopir taksi
mengolok-olok dirinya karena tidak mengambil uang itu. Ia menjawab mereka, Saya
adalah pembawa kartu anggota iman kristiani. Apa gunanya ke gereja jika kalian
tidak mempraktikkan apa yang sudah dikhotbahkan?
Dalam kitab Keluaran
23, prinsip kejujuran dan kebaikan diberikan secara bersamaan bagi bangsa
Israel dalam hukum yang diberikan Allah untuk mereka. Mereka harus cukup jujur
untuk mengembalikan ternak yang tersesat kepada pemiliknya, meskipun orang itu
adalah musuh (ayat 4).
Mereka harus cukup baik hati kepada musuh mereka untuk menolong keledai yang
keras kepala agar berdiri (ayat 5).
Mereka harus sangat perhatian sehingga orang miskin diperlakukan secara adil
dan diberi pertolongan, meski jika hal itu dilakukan dapat mendatangkan
kerugian (ayat 6-9).
Para pemilik tanah harus membiarkan lahan mereka pada tahun yang ketujuh, dan
mengizinkan orang-orang miskin dengan bebas mengumpulkan sedikit hasil dari
ladang tersebut (ayat 10,11).
Orang yang
jujur bisa menjadi orang yang kejam. Orang yang baik hati mungkin lembek dan
tak terlalu memerhatikan kebenaran. Namun, jika Anda menempatkan kejujuran dan
kebaikan bersama-sama, keduanya akan menjadi pasangan hebat yang menghormati
Allah dan memberkati sesama HVL
KEBIJAKSANAAN
ADALAH KEMAMPUAN
MENYATAKAN SESUATU TANPA MENGAKIBATKAN PERMUSUHAN
MENYATAKAN SESUATU TANPA MENGAKIBATKAN PERMUSUHAN
Nats : Siapa
yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela (Mazmur
15:1,2)
Bacaan : Mazmur 15
Bacaan : Mazmur 15
Pada Santa
Clara University di Kalifornia, seorang peneliti melakukan penelitian terhadap
1.500 orang manajer di bidang bisnis, yang menunjukkan nilai yang paling
dihargai oleh karyawan dari seorang pemimpin. Para karyawan tersebut mengatakan
bahwa mereka menghargai pemimpin yang dapat menunjukkan kompetensi, mampu
memberikan inspirasi kepada para pekerja, dan pandai memberikan arahan.
Akan tetapi,
ada sifat keempat yang lebih mereka kagumi, yaitu integritas. Lebih dari
segalanya, para pekerja menginginkan seorang manajer yang memiliki perkataan
yang baik, yang terkenal dengan kejujurannya, dan yang dapat dipercaya.
Walaupun
temuan dari hasil penelitian ini sangat penting bagi para manajer kristiani,
temuan ini juga menyampaikan sesuatu bagi setiap orang yang mengaku sebagai
pengikut Yesus. Integritas harus menjadi ciri semua orang yang percaya kepada
Kristus, apa pun posisi mereka.
Menurut
kitab Mazmur
15, kebenaran menjadi inti setiap perkataan dan perbuatan orang kudus.
Karena Allah selalu menepati kata-kata-Nya, maka wajar kiranya apabila orang
kudus dikenal sebagai orang yang tindakannya sesuai dengan apa yang ia katakan.
Kita semua
perlu lebih hati-hati dalam menjaga integritas kita. Apakah orang-orang di
sekitar kita mengagumi kejujuran kita? Apakah Tuhan melihat kita dengan setia
melakukan apa yang kita katakan-bahkan apabila hal itu akan menyakitkan bagi
kita? (Mazmur
15:4) -MRD II
HANYA DENGAN
HIDUP JUJUR
KITA DAPAT SEMAKIN BERMARTABAT DI MATA ORANG LAIN
KITA DAPAT SEMAKIN BERMARTABAT DI MATA ORANG LAIN
Nats : Jika
ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak (Matius
5:37)
Bacaan : Matius 5:33-37
Bacaan : Matius 5:33-37
Tak lama
sebelum kematian menjemputnya, Duke dari Burgundy memimpin Dewan Kabinet
Perancis. Pada saat itu, para menteri membuat sebuah proposal yang akan
melanggar sebuah perjanjian, namun akan mendatangkan berbagai keuntungan
penting bagi negara. Ada banyak alasan yang diberikan untuk membenarkan
perbuatan itu. Duke mendengarkan dengan diam, dan ketika semua orang telah
menyampaikan pendapatnya, ia kemudian menutup rapat tanpa memberikan
persetujuan. Sambil meletakkan tangannya di atas salinan perjanjian yang asli,
ia berkata dengan suara tegas, "Saudara-saudara, kita telah mempunyai
sebuah perjanjian!"
Orang
kristiani memang perlu bertindak dan berbicara agar Sang Juru Selamat
dimuliakan. Bila Anda berjanji, tepatilah janji itu. Jika Anda membuat suatu
komitmen, hormatilah itu. Jika Anda menerima suatu tanggung jawab, jalankanlah.
Yesus berkata dalam Matius
5:37, "Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya."
Kejujuran
dan kredibilitas kita harus dibuktikan sehingga kita dapat dipercaya dalam
perjanjian apa pun yang kita buat. Kesaksian indah yang dapat dikatakan tentang
orang kristiani adalah "Ia berjanji; itu sudah cukup bagi saya". Dan
jika orang-orang nonkristiani dapat memercayai kita dalam perkara-perkara
bisnis, maka mereka akan semakin mungkin memercayai kita ketika kita berbicara
tentang Injil.
Jika Anda
tergoda untuk ingkar janji, pikirkanlah kembali perkataan Duke dari Burgundy
tadi, "Saudara-saudara, kita telah mempunyai sebuah perjanjian!" -
JANGAN
PERNAH BERJANJI JIKA ANDA TIDAK BERNIAT MENEPATINYA
Nats :
Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah (Kisah
5:4)
Bacaan : Kisah 5:1-11
Bacaan : Kisah 5:1-11
Pada suatu
hari yang cerah, empat orang siswa SMA tidak dapat menahan godaan untuk
membolos sekolah. Keesokan harinya mereka menjelaskan kepada guru mereka bahwa
mereka tidak masuk sekolah karena salah satu ban mobil mereka kempes. Mereka
lega ketika guru itu tersenyum dan berkata, "Ya, kalian ketinggalan
mengikuti kuis kemarin." Namun kemudian ia menambahkan, "Duduklah dan
keluarkan pensil serta kertas. Pertanyaan pertama: Ban mana yang kempes?"
Tidak
seorang pun dapat lolos karena berbohong. Dalam Kisah
Para Rasul 5, Ananias dan Safira mengira mereka hanya berbohong kepada
Petrus dan jemaat lainnya. Namun rasul itu berkata, "Engkau bukan
mendustai manusia, tetapi mendustai Allah" (ayat 4).
Kebenaran
adalah salah satu sifat Allah. Jadi apabila kita berdusta, kita menyakiti
hati-Nya. Dan cepat atau lambat Dia akan mengungkapkan semua kepalsuan -- bila
tidak dalam kehidupan saat ini, maka akan terungkap pada saat pengadilan
terakhir, ketika kita masing-masing memberi pertanggungjawaban atas perbuatan
kita sendiri kepada Allah (Roma
14:10-12).
Kita hidup
dalam dunia persaingan yang ketat, dan terkadang kita dapat begitu tergoda
untuk menggelapkan kebenaran agar dapat terus maju. Akan tetapi, kenikmatan
sesaat karena berbohong tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan
keuntungan jangka panjang karena mengatakan kebenaran.
Bila Anda
menipu seseorang, akuilah itu kepadanya dan kepada Tuhan. Memang kita harus
merendahkan diri, tetapi ini adalah langkah awal untuk mengembalikan kejujuran
dalam hidup Anda --DJD
BILA ANDA
SELALU BERKATA JUJUR
ANDA TIDAK AKAN PERNAH TERJEBAK DALAM KEBOHONGAN
ANDA TIDAK AKAN PERNAH TERJEBAK DALAM KEBOHONGAN
Nats :
"Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau
mengampuni kesalahan karena dosaku (Mazmur
32:5)
Bacaan : Mazmur 32:1-5
Bacaan : Mazmur 32:1-5
Banyak
produk kosmetik menawarkan solusi bagi mereka yang ingin membuat kulit wajah
lebih putih, lebih cerah. Lalu, ada juga banyak merek pasta gigi yang
mengandung whitening untuk memutihkan gigi, agar lebih bersinar. Memutihkan
warna yang sudah kusam atau pekat tentu tak mudah. Namun, lebih dari semua
iklan "pemutih", Tuhan menawarkan kepada kita sesuatu yang dapat
"memutihkan" dosa: "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan
menjadi putih seperti salju" (Yesaya
1:18). Warna semerah kirmizi (scarlet, merah tua seperti ungu) tentu tidak
mungkin diubah menjadi putih. Namun, oleh pengampunan-Nya, dosa semerah kirmizi
bisa menjadi seputih salju.
Dosa semerah
kirmizi, menyiratkan betapa pekatnya sebuah dosa, atau begitu lamanya satu dosa
mengendap dalam diri kita. Siapa yang tahan menyimpannya? Daud tak tahan
berkubang dalam dosa. Ia merasa dosa membuat tulang-tulangnya menjadi lesu (Mazmur
32:3). Ia merasa siang dan malam tangan Tuhan menekannya begitu berat (ayat
4).
Daud tak ingin dosa menjauhkannya dari Tuhan. Ia tak mau menyembunyikan
kesalahannya. Ia harus memberitahukan dosanya kepada Tuhan, "Aku akan
mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku" (ayat 5).
Daud mengakui dosanya, memohon pengampunan, dan Tuhan meng-ampuninya.
Jika dosa
kita sepekat kirmizi, masih sanggupkah kita bersembunyi di hadapan Tuhan?
Tidakkah hidup ini akan lebih ringan jika kita tidak menyembunyikan kesalahan
dan dosa kita, terhadap siapa pun, terlebih kepada Tuhan? Akuilah dosa itu.
Dan, seperti Tuhan mengampuni Daud, Dia pasti mengampuni kita .
HIDUP AKAN
LEBIH TENTERAM DAN NYAMAN
BILA KITA TAK MENYEMBUNYIKAN KESALAHAN
BILA KITA TAK MENYEMBUNYIKAN KESALAHAN
Nats :
Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang
Kusuruh? Siapakah yang buta seperti suruhan-Ku dan yang tuli seperti hamba
TUHAN? (Yesaya
42:19)
Bacaan : Yesaya 42:18-25
Bacaan : Yesaya 42:18-25
Doof indie
atau tuli gaya Hindia merupakan sikap kaum pribumi yang banyak dikritik oleh
para menir Belanda pada zaman penjajahan dulu. Kaum pribumi yang bekerja
sebagai pembantu para menir itu sering berpura-pura tidak mendengar perintah
tuannya. Kalau dimarahi, mereka berkilah, "Maaf saya tidak dengar, Tuan."
Namun, apabila tuannya adalah Tuhan semesta alam, ceritanya bisa lain.
Yesaya
42 berisi teguran Tuhan kepada umat-Nya. Awalnya, Israel punya julukan
hebat: hamba Tuhan. Namun, sang nabi menyindirnya sebagai hamba Tuhan yang buta
dan tuli. Bahkan satu-satunya bangsa yang buta dan tuli: "Siapakah yang
buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh?"
(ayat 19).
Bermata, tetapi tidak melihat. Bertelinga, tetapi tidak mendengar. Intinya,
nabi menohok dengan mengatakan si hamba Tuhan ini berindra, namun indranya tak
berfungsi. Mendengar itu bukan sekadar untuk menangkap bunyi yang datang,
melainkan juga untuk menyimak dan memahami. Begitu juga terhadap perintah Tuhan
(ayat 23).
Bila sungguh-sungguh mendengarkan, kita akan tahu maksud Tuhan; baik dalam
peristiwa-peristiwa yang sudah berlalu, maupun peristiwa yang sekarang. Dan
menjadikan itu sebagai modal untuk mengantisipasi apa yang akan datang.
Dunia ini
begitu bising dengan suara, teori, pendapat, serta gagasan kita sendiri tentang
banyak hal. Mungkin itu sebabnya kita sedikit mendengarkan suara Tuhan. Kini,
sediakan diri untuk berdiam, mendengarkan, dan melihat realitas hidup. Lalu
bersiaplah untuk mendengarkan dengan telinga yang peka menangkap suara dan
kehendak-Nya -DKL
TELINGA YANG
MENDENGAR
MEMIMPIN LANGKAH KE ARAH YANG BENAR
MEMIMPIN LANGKAH KE ARAH YANG BENAR
Langganan:
Postingan (Atom)