“DAMAI ITU INDAH”
Saya mengawali khotbah ini dengan sebuah ceritera dongeng, suatu hari dewa wisnu, yang sudah bosan mendengarkan permohonan seorang penyembah, lalu ia menampakkan diri dan berkata: “ Sudah kuputuskan . Aku akan memberikan kepadamu 3 hal, apapun yang kau minta. Sesudah itu, tidak ada sesuatupun yang akan kuberikan kepadamu lagi. Dengan gembira, penyembah itu mengajukan permohonan yang pertama. Ia meminta isterinya mati krn sangat cerewet, supaya ia dapat menikah lagi dengan wanita yang lebih muda dan baik. Permohonannya dikabulkan dengan segera. Tetapi ketika teman-teman dan sanak saudaranya dating menghadiri pemakaman isterinya, mereka memuji-muji kebaikan isterinya itu, mendengar semua pujian itu ia mengingat kembali sifat isterinya. Kemudian ia menyesal karena telah bertindak gegabah. Saat itu ia menyadari bahwa dulu ia buta terhadap segala kebaikan isterinya. Maka ia memohon, agar dewa menghidupkan kembali isterinya itu. Sesuai dengan janji, sang dewa mengabulkan permintaannya dan isterinya hidup kembali. (namanya pun dongeng). Kini kesempatan hanya tinggal satu. Dia bermaksud tidak melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, karena ia sudah tidak sempat memperbaikinya lagi. Lalu ia meminta nasehat dengan bertanya kemana-mana. Beberapa kawan menasehatkan agar ia meminta diluputkan dari kematian. Semula ia setuju dengan itu, tetapi seorang teman mengatakan, untuk apa hidup terus kalau sakit, karena itu lebih baik memohon kesehatan. Ada yang menasehatkan bahwa yang paling penting dalam hidup adalah uang. Uang dapat mengatur segala-galanya kata temannya itu.
Bulan demi bulan, tahun demi tahun berlalu tanpa ada keputusan mengenai apa yang harus dimintanya. Akhirnya, ia menyerah dan berkata kepada dewa: “ berkenanlah kiranya dewa memberi nasehat, dewa tertawa dan berkata: hai manusia, mintalah hati yang damai, entah apapun yang terjadi, yang penting ada damai”.
Begitu pentingnya “damai itu”. Aplikasi dan implikasi ceritera diatas menunjukkan bahwa; tua atau muda, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat, dokter atau pasien, sama-sama membutuhkan hati yang damai.
Ingat orang muda yang kaya dalam Mateus 19: 16-26. Dia masih muda dan kaya. Namun dia tidak merasakan damai di hatinya. Itulah sebabnya dia datang kepada Yesus dan bertanya: “Guru yang baik, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal..?” Dalam pertanyaan
itu tersirat kehausan akan damai dan kepastian akan keselamatan. Karena tidak adanya jaminan keselamatan, maka hatinya tidak aman dan tidak damai.
Ingat juga tentang Zakeus dalam Lukas 19: 1 – 10, Zakeus adalah kepala pemungut cukai yang sangat kaya. Tetapi rupanya ia tidak bahagia dengan segala kedudukan dan kekayaannya itu. Karena itu, dia mencari hati yang damai. Ketika Yesus lewat dari kotanya Yeriko, Zakeus berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu. Dia sudah mendengar tentang segala pekerjaan dan keajaiban yang dilakukan Yesus. Karena dia pendek dia memanjat pohon supaya dapat melihat Yesus secara langsung. Disini harga diri sudah ditinggalkan, gengsi tidak perlu lagi dipertahankan, yang penting “penyakit” dapat disembuhkan. Tanpa di sangka-sangka Yesus
menawarkan kepada Zakeus, lebih dari yang ia cari, Yesus berkata: Zakes, segeralah turun, sebab hari ini, Aku harus menumpang di rumahmu”. Pucuk dicinta ulam tiba, sesudah Yesus dating dan makan dirumahnya, Zakeus berubah menjadi manusia baru. dst
Ingat juga ceritera tentang Simeon yang tua, yang benar dan yang soleh itu ( Luk 2: 21-40). Ketika Maria dan Yusuf membawa Yesus ke bait Allah, sesuai dengan hokum Musa, Simeon menantang anak itu sambil berkata:”sekarang, Tuhan, biarkanlah hambaMu ini pergi dalam Damai Sejahtera, sesuai dengan FirmanMu, sebab mataku telah melihat Keselamatan yang dari padaMu”. Jadi Simeon yang sudah sangat tua itu juga mencari Damai di hati, dan hanya dia peroleh setelah bertemu dengan Yesus.
Jadi, sekali lagi, kita tanpa kecuali: tua atau muda, kaya atau miskin, pelacur, penjahat, perampok, orang percaya atau tidak percaya, semua membutuhkan hati yang damai.
Pada sat Gusdur menjabat Presiden, dalam pembukaan Konfrensi tentang Rekonsiliasi pernah mengatakan:
“Prinsip mendasar dalam merekonsiliasi adalah pengampunan terhadap lawan politik. Dengan adanya pengampunan, segala masalah dapat diselesaikan dan bersama-sama membangun masa depan suatu bangsa.”
Bahwa dasar rekonsiliasi adalah pengampunan, dan hal ini sudah terbukti ampuh. Di Afrika Selatan ketika Nelson Mandela, yang disiksa lawan-lawan politiknya selama berpuluh-puluh tahun terpilih menjadi presiden, dia justru mengampuni musuh-musuhnya itu, Pengampunan terhadap lawan-lawan politik seperti itu, di praktekkan juga di Korea Selatan, segera sesudah Kim Da Jung terpilih menjadi presiden, dia memberikan grasi kepada dua mantan
presiden yang pernah menindas dan memenjarakannya. Tindakan pengampunan kepada musuh-musuh yang dilakukan kedua pemimpin diatas sangat penting artinya dalam rangka rekonsiliasi.
Agama Kristen dapat menyumbangkan ajaran tentang Pengampunan (forgiveness) sebagai prasarat rekonsiliasi, apalagi di tengah-tengah gereja. Hannah Arendt, seorang ahli filsafat politik Jahudi menegaskan bahwa: “The discoverer of the role of forgiveness in the realm of human affairs was Jesus of Nazareth” ( penemu ajaran tentang pengampunan dalam hubungan antar manusia adalah Yesus dari Nazaret). Salah satu inti pengajaran Yesus adalah pengampunan (Mat 6: 12). Kuasa pengampunan yang diajarkan Yesus itu memang luar biasa, ini dapat kita lihat sewaktu Yesus disalibkan. Disekitar bukit tengkorak (Golgata) tempat Yesus disalibkan, serdadu-serdadu itu mengolok-olok Dia, Pemimpin Jahudi mengolok-olok mengejek Dia (Luk 23:35). Tetapi pada puncak penghinaan dan penderitaan itu Yesus mengucapkan sebuah doa kepada BapaNya “ Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Mendengar doa yang “aneh” ini seorang penjahat yang tersalib di sebelah kananNya langsung berubah (bertobat), dan memohon kepada Yesus, “Yesus, ingatlah akan daku, apabila Engkau dating sebagai Raja.” Mengapa penjahat itu berubah( bertobat)…? Dia terharu karena Yesus mendoakan musuh-musuhNya. Bagi orang Jahudi dan bagi peradaban dunia pada waktu itu, hokum yang berlaku adalah hokum pembalasan: mata ganti mata, gigi ganti gigi (Kel 21:24). Tetapi Yesus mengajarkan hokum yang baru:..” Kasihilah musuhmu, berbuat baiklah kepada orang yang
membeci kamu, mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu” (Luk 6: 27-28).
Jika ajaran Yesus ini dapat kita terapkan dalam persekutuan gereja dan persekutuan dalam pekerjaan, alangkah indahnya PERSAUDARAAN YANG RUKUN, sebagai mana diungkapkan pemazmur dalam Maz 133: 1 . Tugas kesaksian (marturia) gereja tidak terlepas dari kualitas persekutuan (koinonia). Dalam nats ini kehidupan persekutuan dan persaudaraan yang rukun digambarkan dengan menggunakan 2 zat cair; yaitu minyak yang baik dan embun gunung.
Penggunaan minyak sering kita jumpai dalam Perjanjian Lama, dipakai untuk melaksanakan pengurapan dalam peristiwa ibadah kepada seseorang yang akan memangku jabatan istimewa. Misalnya dalam 1 Samuel 10:1; Samuel menuangkan minyak atas kepala Saul ketika ia memangku jabatan sebagai raja. Minyak juga dipakai untuk menahbiskan seseorang untuk jabatan imam. Itu berarti bahwa
minyak dipakai sebagai lambang pengurapan dari Roh Kudus, sehingga melalui minyak yang dituangkan dalam persekutuan ibadat menandai kehidupan yang diurapi sebagai seorang hamba Tuhan ditengah-tengah jemaat.
Kerukunan tidak akan dapat terwujud dalam kehidupan manusia, jika kehidupan persekutuan kita belum menjadi kehidupan yang diurapi oleh Tuhan Allah.
Embun gunung secara umum dipakai untuk menggambarkan kesegaran dalam kehidupan ini. Bukankah kini banyak orang setelah melewatkan hari-hari kerja yang penat, ingin
berekreasi di daerah pegunungan yang sejuk…? Sapuan embun gunung dapat memacu semangat dan kesegaran untuk melanjutkan tugas yang baru. Dalam Hosea 14: 6; Allah digambarkan sebagai embun bagi Israel, yaitu: Aku akan seperti embun bagi Israel, maka ia akan berbunga seperti pohon hawar.” Berarti, embun gunung juga mempunyai fungsi untuk menyuburkan tanaman. Dalam konteks ini kerukunan tidak akan dapat terwujud, jika masing-masing individu tidak mampu hadir seperti embun gunung. Sering kehadiran kita seperti panasnya api atau bara api; sehingga dalam setiap kali kehadiran kita, jusstru membawa Suasana antipati. Di tengah-tengah persekutuan kita sering tidak mampu untuk membawa perasaan dan suasana yang segar. Kehadiran kita menjadi kehadiran yang tidak diharapkan orang lain. Itulah sebabnya dengan keadaan yang demikian, kehadiran kita tidak mungkin dapat menghasilkan sesuatu yang membangun dan produktif bagi kehidupan sesama.
Kerukunan dalam persekutuan persaudaraan juga tidak akan dapat terwujud, jika kita kurang rendah-hati. Kita perlu belajar dari kecenderungan gterak minyak maupun embun gunung. Kedua-nya senantiasa bergerak “turun”. Disebutkan dalam ayat2-3, bahwa minyak yang baik diatas kepala meleleh ke janggut… dan leher jubah Harun. Dan embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion.
Kita mengetahui bahwa umat Israel terdiri dari duabelas suku. Jumlah suku tersebut dapat dipakai untuk mengambarkan kemajemukan (pluralitas) dalam kehidupan persekutuan umat Allah. Jika hidup kita merupakan kehidupan yang diurapi dan membawa kesegaran bagi sesame, maka kita akan mampu hidup bersama secara
rukun dalam kemajemukan. Bik kemajemukan dalam pandangan hidup, adapt-istiadat, pendidikan, keyakinan agama, maupun usia dan pengalaman. Sebab masaing-masing insane bersedia untuk saling mengakui dan menerima keunikan dan keberagamaan itu dihayati sebagai bagian yang utuh dari kehidupan ini. Amin
Pdt. R.H.L. Tobing.
Perdamaian sangat dibutuhkan pada jaman ini, bagaimana kita bisa berdamai dengan sesama, dengan Tuhan dan diri sendiri.Semua ini hanya dapat kita peroleh dari Dia dan FirmanNya sebagai Madu Surgawi.
Selasa, 20 April 2010
"EMOSI"
Amsal 16: 32
Kitab Amsal adalah nasehat yang praktis dalam kehidupan, suatu kumpulan peribahasa yang penuh hikmat yang ditulis oleh Salomo yang tujuannya ialah – untuk mengetahui hikmat dan didikan (1.2) – pendidikan bagi orang-orang yang belum berpengalaman …1:4 - menambah ilmu bagi yang bijaksana 1:5. j. Sitlow Baxter dalam bukunya menggali isi alkitab menyatakan bahwa Amsal ini adalah yang menjungjung tinggi hikmat, yang dirangkai sebagai perumpamaan orang pandai yang menggunakan kata-kata yang terpilih guna merumuskan suatu hikmat dalam kalimat pendek. Hikmat disembunyikan dalam perumpamaan atau kiasan yang sifatnya sebagai sumur yang dalam atau seperti tambang yang kaya raya. Amsal berbeda dengan Mazmur :
• Mazmur digunakan untuk peribadatan
• Amsal diperuntukan buat peoman sehari-hari.
Dimana dipergunakan untuk mengajar orang agar bijak karena mengetahui hukum. Dapat kita baca bahwa kitab amsal ini dimulai dengan nasehat yang mengatakan: untuk memperoleh pengetahuan dan hikmat pertama-tama harus mempunyai rasa hormat dan takut akan Tuhan (1:7) kitab ini juga mempunyai makna menata tatanan kehidupan manusia baik secara pribadi, keluarga, dan masyarakat. Kebenaran dan keadilan serta kejujuran diharapkan oleh pengamsal menjadi bagian dari tatanan kehidupan manusia. Harapan tersebut merupakan renungan dan pengamalan yang dalam terhadap Situasi yang tidak kondusif, Situasi penderitaan, penindasan dan sikap ketidak pedulian terhadap sesama, sehingga munculnya tatanan masyarakat yang buruk (Amsal 5; 6:20-35). Terhadap kebobrokan dan situasi yang kurang menyenangkan tersebut maka dicari solusi yang benar dan tepat dalam neraca : Takut akan Tuhan (1:7). Jika takut akan Tuhan akan memiliki sifat-sifat seperti: rendah hati, sabar, menghargai orang lain dan setia terhadap teman.
Dari manakah datangnya kekerasan, sengketa dan perselisihan dan perpecahan..? Dalam 1 Kor 1: 10-13; 6:1-8 dijelaskan jemaat itu terbagi karena merebutkan Pimpinan, Dalam Galatia 5:15 orang-orang kudus di Galatia saling menggigit dan menelan. Dalam jemaat di Filipi dua wanita bertengkar dan mengakibatkan perpecahan dalam jemaat (Fil 4:1-3). Benar kata Yakobus 4: 1 bahwa datangnya pertengkaran itu adalah dari hawa nafsu yang saling berjuang didalam tubuh, itulah emosi, iri hati dan memetingkan diri sendi. Amin
Kitab Amsal adalah nasehat yang praktis dalam kehidupan, suatu kumpulan peribahasa yang penuh hikmat yang ditulis oleh Salomo yang tujuannya ialah – untuk mengetahui hikmat dan didikan (1.2) – pendidikan bagi orang-orang yang belum berpengalaman …1:4 - menambah ilmu bagi yang bijaksana 1:5. j. Sitlow Baxter dalam bukunya menggali isi alkitab menyatakan bahwa Amsal ini adalah yang menjungjung tinggi hikmat, yang dirangkai sebagai perumpamaan orang pandai yang menggunakan kata-kata yang terpilih guna merumuskan suatu hikmat dalam kalimat pendek. Hikmat disembunyikan dalam perumpamaan atau kiasan yang sifatnya sebagai sumur yang dalam atau seperti tambang yang kaya raya. Amsal berbeda dengan Mazmur :
• Mazmur digunakan untuk peribadatan
• Amsal diperuntukan buat peoman sehari-hari.
Dimana dipergunakan untuk mengajar orang agar bijak karena mengetahui hukum. Dapat kita baca bahwa kitab amsal ini dimulai dengan nasehat yang mengatakan: untuk memperoleh pengetahuan dan hikmat pertama-tama harus mempunyai rasa hormat dan takut akan Tuhan (1:7) kitab ini juga mempunyai makna menata tatanan kehidupan manusia baik secara pribadi, keluarga, dan masyarakat. Kebenaran dan keadilan serta kejujuran diharapkan oleh pengamsal menjadi bagian dari tatanan kehidupan manusia. Harapan tersebut merupakan renungan dan pengamalan yang dalam terhadap Situasi yang tidak kondusif, Situasi penderitaan, penindasan dan sikap ketidak pedulian terhadap sesama, sehingga munculnya tatanan masyarakat yang buruk (Amsal 5; 6:20-35). Terhadap kebobrokan dan situasi yang kurang menyenangkan tersebut maka dicari solusi yang benar dan tepat dalam neraca : Takut akan Tuhan (1:7). Jika takut akan Tuhan akan memiliki sifat-sifat seperti: rendah hati, sabar, menghargai orang lain dan setia terhadap teman.
Dari manakah datangnya kekerasan, sengketa dan perselisihan dan perpecahan..? Dalam 1 Kor 1: 10-13; 6:1-8 dijelaskan jemaat itu terbagi karena merebutkan Pimpinan, Dalam Galatia 5:15 orang-orang kudus di Galatia saling menggigit dan menelan. Dalam jemaat di Filipi dua wanita bertengkar dan mengakibatkan perpecahan dalam jemaat (Fil 4:1-3). Benar kata Yakobus 4: 1 bahwa datangnya pertengkaran itu adalah dari hawa nafsu yang saling berjuang didalam tubuh, itulah emosi, iri hati dan memetingkan diri sendi. Amin
Rabu, 07 April 2010
BERTUMBUH DALAM ANUGERAH DAN PENGENALAN AKAN TUHAN
II Petrus 3 : 18 - Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. BagiNya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.
Agar kita tidak berkutat dan hanyut dalam realita hidup yang sulit dipahami, maka kita harus bertumbuh seperti bunga bakung sekalipun tumbuh di bawah pohon yang rimbun, semua mata tertuju pada pohon yang besar, bunga bakung tidak pernah dipedulikan tapi ia tetap bertumbuh sesuai kodratnya.
Di mana lokasi/zona yang Tuhan inginkan untuk kita bertumbuh? Kita harus bertumbuh dan memiliki Kualitas di areal:
1. Kasih karunia (= anugerah-TL, grace-bahasa Inggris, kharis-bahasa Yunani).Artinya satu titik pandang/tujuan, yang di dalamnya terdapat pemberian, berisi kemurahan hati, suasana senang, keramahan, roh rasa syukur bahkan berisi makna-makna faedah/ keuntungan.Bagaimana bentuk anugerah?
Salah satu keuntungan jika kita berada di zona anugerah: Efesus 2 : 8, kita berjubahkan selamat (= sôzô-bahasa Yunani; be make whole), ketika kita berada di areal anugerah kita memiliki semua yang tampak, yang belum tampak bahkan yang tidak tampak; tapi Tuhan tahu kita memerlukannya. Di dalam gudang sôzô tersimpan semua kebutuhan kita. Betapa berbahagia kita selamat, berada di anugerah yang sebenarnya kita tidak layak untuk menerimanya tapi Allah sediakan. Namun perlu kita perhatikan Filipi 1 : 29 bahwa pemberian itu juga mempunyai warna; dimana kita harus rela juga menderita.
Mazmur 105 : 37. Pada waktu orang Mesir mulai kejam, memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat membangun kota perdagangan, mereka ditekan, dianiaya tapi apa yang mereka kerjakan dibuat berhasil oleh Tuhan, Mesir menjadi kota terkenal di seputar Laut Tengah. Pada waktu Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir mereka membawa hampir seluruh kekayaan Mesir.
2. Pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita.
Pengenalan; knowledge = pengetahuan; gnôsis-bahasa Yunani, diangkat dari kata ginôskô yang artinya memahami dengan pasti; Daniel 2 : 11 - 16. Di tengah ancaman kematian: Daniel menyerahkan tubuh, jiwa dan rohnya kepada Tuhan, tidak ada satupun yang ia sisakan untuk dirinya dan Tuhan nikmati ginôskô dengan Daniel sehingga Tuhan bukakan semua rahasia dan dia bisa mengartikan mimpi dari raja Nebukadnezar.
Kisah Para Rasul 12 : 3 - 5, Petrus ditangkap oleh raja Herodes Agripa I dan ia meng-hadapi hukuman pancung sesudah Paskah tapi Tuhan melepaskannya dari penjara karena ia mau mengenal Tuhannya, ia lepaskan tubuh, jiwa, rohnya kepada Tuhan, ia alami ginôskô dengan Tuhan.
Di banyak kesempatan Tuhan ingin melihat sikap kita untuk menikmati persekutuan yang intim dengan Tuhan, melepaskan tubuh, jiwa, roh kita kepada Tuhan, bukan hanya sekedar percaya, mengimani dan ber-doa tapi juga melepaskan yang sebenarnya merupakan bagian Tuhan seperti seorang wanita menyerahkan kepemilikannya pada suaminya sehingga ia alami ginôskô. Ketika kita lepaskan semua bagian kita pada Tuhan dan menyerahkan kepemilikan karena kita mau wujud-nyatakan kasih kita pada Tuhan sehingga kita akan nikmati ginôskô, Tuhan bisa merasakan kalau kita tulus atau tidak. Matius 7 : 22 - 23, mereka ini aktif tapi tertinggal di luar karena kekuatiran mereka serahkan pada Tuhan tapi semua yang menyentuh jiwa, roh dan tubuh tidak mereka serahkan dan Tuhan berkata, ”Aku tidak pernah ginôskô denganmu”.
3.Kita senantiasa mau Merendahkan diri di hadapan Tuhan;jangan mengandalkan Pikiran dan Kekuatan kita. (I.Pet 5:6 Jak 4: 10)Maukah kita bertumbuh di dalam kharis dan ginôskô? Praktekkanlah 5 M dalam kehidupanmu. Mendengar(Rom10:17):Membaca(Jes 34:16):Menghayati(Rom10:9-10;IITim3:16):Mempercayai(Rom1:16):Melakukan (Yak 1:22-23; 2: 17) INTAN SURGAWI
Setiap hari kita harus memiliki kerendahan hati untuk mau diajar seperti seorang murid. Kesombongan adalah musuh berbahaya bagi perbaikan diri. Amsal 2 : 10. Memandang positif masa depan adalah lebih baik daripada mengenang perbuatan negatif masa lalu. Jadikan kegagalan masa lalu pemacu semangat meraih sukses masa depan penuh harapan. Dengan yakin kita dapat berkata Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku ? Ibrani 13 : 6.
Amin: Pdt. R.H.L. Tobing.
Agar kita tidak berkutat dan hanyut dalam realita hidup yang sulit dipahami, maka kita harus bertumbuh seperti bunga bakung sekalipun tumbuh di bawah pohon yang rimbun, semua mata tertuju pada pohon yang besar, bunga bakung tidak pernah dipedulikan tapi ia tetap bertumbuh sesuai kodratnya.
Di mana lokasi/zona yang Tuhan inginkan untuk kita bertumbuh? Kita harus bertumbuh dan memiliki Kualitas di areal:
1. Kasih karunia (= anugerah-TL, grace-bahasa Inggris, kharis-bahasa Yunani).Artinya satu titik pandang/tujuan, yang di dalamnya terdapat pemberian, berisi kemurahan hati, suasana senang, keramahan, roh rasa syukur bahkan berisi makna-makna faedah/ keuntungan.Bagaimana bentuk anugerah?
Salah satu keuntungan jika kita berada di zona anugerah: Efesus 2 : 8, kita berjubahkan selamat (= sôzô-bahasa Yunani; be make whole), ketika kita berada di areal anugerah kita memiliki semua yang tampak, yang belum tampak bahkan yang tidak tampak; tapi Tuhan tahu kita memerlukannya. Di dalam gudang sôzô tersimpan semua kebutuhan kita. Betapa berbahagia kita selamat, berada di anugerah yang sebenarnya kita tidak layak untuk menerimanya tapi Allah sediakan. Namun perlu kita perhatikan Filipi 1 : 29 bahwa pemberian itu juga mempunyai warna; dimana kita harus rela juga menderita.
Mazmur 105 : 37. Pada waktu orang Mesir mulai kejam, memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat membangun kota perdagangan, mereka ditekan, dianiaya tapi apa yang mereka kerjakan dibuat berhasil oleh Tuhan, Mesir menjadi kota terkenal di seputar Laut Tengah. Pada waktu Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir mereka membawa hampir seluruh kekayaan Mesir.
2. Pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita.
Pengenalan; knowledge = pengetahuan; gnôsis-bahasa Yunani, diangkat dari kata ginôskô yang artinya memahami dengan pasti; Daniel 2 : 11 - 16. Di tengah ancaman kematian: Daniel menyerahkan tubuh, jiwa dan rohnya kepada Tuhan, tidak ada satupun yang ia sisakan untuk dirinya dan Tuhan nikmati ginôskô dengan Daniel sehingga Tuhan bukakan semua rahasia dan dia bisa mengartikan mimpi dari raja Nebukadnezar.
Kisah Para Rasul 12 : 3 - 5, Petrus ditangkap oleh raja Herodes Agripa I dan ia meng-hadapi hukuman pancung sesudah Paskah tapi Tuhan melepaskannya dari penjara karena ia mau mengenal Tuhannya, ia lepaskan tubuh, jiwa, rohnya kepada Tuhan, ia alami ginôskô dengan Tuhan.
Di banyak kesempatan Tuhan ingin melihat sikap kita untuk menikmati persekutuan yang intim dengan Tuhan, melepaskan tubuh, jiwa, roh kita kepada Tuhan, bukan hanya sekedar percaya, mengimani dan ber-doa tapi juga melepaskan yang sebenarnya merupakan bagian Tuhan seperti seorang wanita menyerahkan kepemilikannya pada suaminya sehingga ia alami ginôskô. Ketika kita lepaskan semua bagian kita pada Tuhan dan menyerahkan kepemilikan karena kita mau wujud-nyatakan kasih kita pada Tuhan sehingga kita akan nikmati ginôskô, Tuhan bisa merasakan kalau kita tulus atau tidak. Matius 7 : 22 - 23, mereka ini aktif tapi tertinggal di luar karena kekuatiran mereka serahkan pada Tuhan tapi semua yang menyentuh jiwa, roh dan tubuh tidak mereka serahkan dan Tuhan berkata, ”Aku tidak pernah ginôskô denganmu”.
3.Kita senantiasa mau Merendahkan diri di hadapan Tuhan;jangan mengandalkan Pikiran dan Kekuatan kita. (I.Pet 5:6 Jak 4: 10)Maukah kita bertumbuh di dalam kharis dan ginôskô? Praktekkanlah 5 M dalam kehidupanmu. Mendengar(Rom10:17):Membaca(Jes 34:16):Menghayati(Rom10:9-10;IITim3:16):Mempercayai(Rom1:16):Melakukan (Yak 1:22-23; 2: 17) INTAN SURGAWI
Setiap hari kita harus memiliki kerendahan hati untuk mau diajar seperti seorang murid. Kesombongan adalah musuh berbahaya bagi perbaikan diri. Amsal 2 : 10. Memandang positif masa depan adalah lebih baik daripada mengenang perbuatan negatif masa lalu. Jadikan kegagalan masa lalu pemacu semangat meraih sukses masa depan penuh harapan. Dengan yakin kita dapat berkata Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku ? Ibrani 13 : 6.
Amin: Pdt. R.H.L. Tobing.
Selasa, 30 Maret 2010
NAMANYA "YESUS"
Suatu saat lucifer (raja segala raja dari Iblis) mengumpulkan semua setan² baik setan muda, setan praktikum, dan setan² yg sudah tua yg mampu utk menggoda iman manusia. Dengan semangat dan suara yang kuat Lucifer mengumandangkan Pidatonya yg bertema: Mari Sama² Menjalin Kerjasama dalam Rangka Menghancurkan Kerajaan Kristen di Dunia ini"
Hari Pertama sesudah berlangsungya pidato tersebut, Lucifer langsung mengutus setan² itu untuk terjun dan berkeliaran di dunia. Malam..sudah larut dia menunggu laporan dari hamba²nya itu...satu orang datang..dan menangis... dan kemudian yang satu lagi datang...juga menangis...yg berikutnya juga demikian...MENANGIS!!! Akhirnya dia menutup pintu kamarnya dan berusaha untuk bertanya penyebabnya, mengapa kalian bertiga menangis...?....Setan (bertiga) menjawab: Iman mereka kuat!!! Nah ..kata Lucifer..sekarang pergi kalian dan bagi² kan uang ini untuk mereka...bisanya Manusia gampang di goda dengan Harta lihat saja Gayus Tambunan tegoda hanya karena uang. Dengan Hasil yang sama mereka juga kembali dengan Menagis terisak-isak!!! Melihat hal itu Lucifer menjadi berang dan sangat marah sekali.....dengan suara yang keras...dia menjerit dan bertanya siapa namanya yang berani membuat mereka menangis dan iman nya yg kuat seperti itu..lalu setan yang bertiga menjawab serentak: NAMANYA YESUS!!! Lucifer takut dan gemetar seperti di sambar petir.
Iman yang kuat akan membuat Iblis takut
mendekati kita!!!
Hari Pertama sesudah berlangsungya pidato tersebut, Lucifer langsung mengutus setan² itu untuk terjun dan berkeliaran di dunia. Malam..sudah larut dia menunggu laporan dari hamba²nya itu...satu orang datang..dan menangis... dan kemudian yang satu lagi datang...juga menangis...yg berikutnya juga demikian...MENANGIS!!! Akhirnya dia menutup pintu kamarnya dan berusaha untuk bertanya penyebabnya, mengapa kalian bertiga menangis...?....Setan (bertiga) menjawab: Iman mereka kuat!!! Nah ..kata Lucifer..sekarang pergi kalian dan bagi² kan uang ini untuk mereka...bisanya Manusia gampang di goda dengan Harta lihat saja Gayus Tambunan tegoda hanya karena uang. Dengan Hasil yang sama mereka juga kembali dengan Menagis terisak-isak!!! Melihat hal itu Lucifer menjadi berang dan sangat marah sekali.....dengan suara yang keras...dia menjerit dan bertanya siapa namanya yang berani membuat mereka menangis dan iman nya yg kuat seperti itu..lalu setan yang bertiga menjawab serentak: NAMANYA YESUS!!! Lucifer takut dan gemetar seperti di sambar petir.
Iman yang kuat akan membuat Iblis takut
mendekati kita!!!
Rabu, 17 Maret 2010
“PILIHANMU SANGAT MENENTUKAN”
Pepatah kuno berkata: Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak ada gunanya. Pepatah ini masih sangat relevan sampai saat ini didalam semua hal, agar tidak salah pilih, baik terhadap pasangan hidup, pasangan kerja dan lain-lain. Karena jika salah pilihan maka berbagai macam bencana akan tertuai.
Pilihan berhubungan dengan sikap dalam mengambil keputusan, jika salah mengambil keputusan juga akan menuai bencana. Jika saja rakyat salah memilih pimpinannya maka rakyat akan menderita, demikian juga gereja, salah memilih pimpinannya, salah memilih penatuanya akan berakibat buat jemaatnya.
Jabatan memang sesuatu yang patut dibanggakan, namun bagi kebanyakan orang bukan sekedar kebanggaan, tetapi bisa berubah menjadi kekuasaan atau kesombongan. Dalam situasi yang lain, jabatan dapat digunakan untuk mencari uang . Tetapi bagi mereka yang punya kesadaran, jabatan akan digunakan untuk tujuan pengabdian. Jabatan atau kekuasaan keduanya selalu berdampingan. Kekuasaan biasanya sangat ditentukan oleh jabatan, tetapi jabatan yang diperoleh dengan cara persaingan, inilah yang menjadi persoalan. Untuk situasi gereja, seharusnya jabatan dihayati sebagai tugas panggilan dan bukan hasil perjuangan.
Menurut Max Webert kekuasaan merupakan kemampuan untuk melaksanakan kemauan sendiri dalam suatu hubungan sosial, sekalipun harus mengalami perlawanan. Senada dengan pandangan ini, Van Doorn juga mengemukakan pendapatnya bahwa kekuasaan merupakan kemungkinan untuk menguasai alternatif-alternatif bertindak seseorang atau kelompok sesuai dengan tujuan. Apa yang dikemukakan Max Webert dan Van Doorn tentang kuasa dalam usaha untuk mencapai tujuan, tidak terlepas dari keinginan pribadi seseorang atau kelompok. Apakah itu dengan memanfaatkan kekuasaan dalam arti bertindak meskipun harus menggunakan kekerasan atau menggunakan uang.
Jabatan selaku Pendeta, Penatua, Majelis ataupun Guru Jemaat adalah merupakan panggilan untuk melayani. Bukan sebaliknya :”Jabatan digunakan untuk melampiaskan kekuasaan atau untuk menyampaikan rencana atau tujuan sendiri”. Dan tidak pula untuk mencari kehormatan.
Dietrich Bonhoeffer, Simartir yang dengan keras menentang Hitler mengatakan: When Christ calls a man, He bids him come and die . Ungkapan ini boleh jadi akan menakutkan . Betapa tidak ! Bila seseorang terpanggil untuk menunaikan tugas panggilannya,maka daripadanya dituntut pengorbanan sekalipun harus berhadapan dengan kekerasan bahkan kematian.
When Christ calls a man, He bids him come and die, ungkapan ini tidak hanya slogan semata, tetapi nyata. Tepatnya sembilan April Satu Sembilan Empat-empat, Dietrich Bonheeffer, harus mengahiri hidupnya ditiang gantungan, ia memilih kematian ketimbang penyangkalan terhadap Yesus, benar apa yang dikatakan Yesus dari Nazaret itu: “setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikut Aku”. Ungkapan ini memperhadapkan seseorang kepada pilihan. Tidak hanya menyangkal dalam arti meninggalkan perbuatan lama dan memulai perbuatan seperti yang diperbuat Yesus, tetapi juga memikul salib, yang berarti rela menanggung derita demi pelayanan, bukan sebaliknya mencari nama dan uang.
Salib memang berat, tetapi harus dijadikan sahabat. Kosuke Koyama mengatakan ‘Tak ada gagang pada salib’. Maksudnya tidak ada alat yang efisien untuk menguasai sesuatu, sesuai dengan keinginan kita. Lihat saja Yesus anak tukang kayu, Ia tidak mengusahakan alat yang lain untuk dapat membawa salib itu kemana-mana, seperti seorang pengusaha untuk menenteng tasnya. Mestinya salib harus diletakkan diatas pundak. Dalam kesempatan lain Yesus berkata: “Kuk yang kupasang itu enak dan beban Ku pun ringan”. Firman ini bernada menghibur, sekalipun merupakan pernyataan. Memilih salib disatu pihak merupakan beban dan dipihak lain merupakan sukacita.
Salib lambang kemenangan. Kemenangan yang telah lebih dahulu diperjuangkan Yesus. Kemenangan yang diperjuangkan dengan cara penyerahan. Jika demikian, bagi mereka yang memiliki lambang kemenangan, daripanya dituntut penyerahan kepada Yesus.
Ada satu ceritera dimana suatu ketika diadakan perlombaan menghabiskan sepiring bubur kacang hijau dengan menggunakan sebuah sendok yang panjangnya satu meter, setelah hitungan dimulai para peserta berusaha untuk menghabiskannya, tetapi sampai selesai tidak ada yang jadi pemenang, hanya tertawaan dari para penonton yang menjadi pemenang, sebab pemenang hanya ada jika diantara mereka ada kerja sama, seharusnya keinginan untuk jadi pemenang secara pribadi harus diurungkan. Jika ingin menjadi pemenang, maka kerja sama dengan seorang teman harus dilaksanakan. Oleh karena itu tidak perlu ngotot dan tetap bertahan pada keakuan menanggung bebanmu. Tidak perlu mancari jalan yang tidak benar untuk menjadi pemenang. Rasul Paulus berkata kepada jemaat Galatia 6:2 :”bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu, demikian kamu memenuhi hukum Kristus”. Sejalan dengan ucapan Paulus, Dietrich Bonhoeffer mengatakan: “seperti Kristus menanggung beban kita, demikian jugalah kita harus menanggung beban saudara-saudara kita”.
Memilih kerjasama berarti berusaha menghindarkan atau paling tidak mengurangi persoalan atau beban. Memilih kerjasama berarti mengutamakan kebersamaan, yang juga mengutamakan tugas panggilan. Dalam melaksanakan tugas panggilan, perlu ada kerjasama untuk mewujudkan suatu tujuan bersama.
Pilihan , ini sangat erat hubungannya dengan kepribadian seseorang. Dalam hubungan dengan jabatan di Gereja, pilihan juga melibatkan kepribadian Yang Maha Kuasa, caranya: ‘pilihan Dia percayakan kepada orang-orang pilihanNya’. Mungkin saja kita bertanya..! siapa gerangan orang-orang kepercayaanNya..? tentu mereka adalah orang-orang yang percaya kepadaNya. Karena itu:
1. Berhati-hatilah dalam mengambil keputusan untuk menentukan pilihanmu, lihat kepada diri anda..? tanyakanlah…mampukah saya..? pantaskah saya..?
2. Jika saudara telah terlibat didalam perlombaan, berhati-hati pula untuk mengambil keputusan, sebab keputusanmu bisa berakibat fatal bagi banyak orang. Amin.
Pdt. R.H.L. Tobing.
Pilihan berhubungan dengan sikap dalam mengambil keputusan, jika salah mengambil keputusan juga akan menuai bencana. Jika saja rakyat salah memilih pimpinannya maka rakyat akan menderita, demikian juga gereja, salah memilih pimpinannya, salah memilih penatuanya akan berakibat buat jemaatnya.
Jabatan memang sesuatu yang patut dibanggakan, namun bagi kebanyakan orang bukan sekedar kebanggaan, tetapi bisa berubah menjadi kekuasaan atau kesombongan. Dalam situasi yang lain, jabatan dapat digunakan untuk mencari uang . Tetapi bagi mereka yang punya kesadaran, jabatan akan digunakan untuk tujuan pengabdian. Jabatan atau kekuasaan keduanya selalu berdampingan. Kekuasaan biasanya sangat ditentukan oleh jabatan, tetapi jabatan yang diperoleh dengan cara persaingan, inilah yang menjadi persoalan. Untuk situasi gereja, seharusnya jabatan dihayati sebagai tugas panggilan dan bukan hasil perjuangan.
Menurut Max Webert kekuasaan merupakan kemampuan untuk melaksanakan kemauan sendiri dalam suatu hubungan sosial, sekalipun harus mengalami perlawanan. Senada dengan pandangan ini, Van Doorn juga mengemukakan pendapatnya bahwa kekuasaan merupakan kemungkinan untuk menguasai alternatif-alternatif bertindak seseorang atau kelompok sesuai dengan tujuan. Apa yang dikemukakan Max Webert dan Van Doorn tentang kuasa dalam usaha untuk mencapai tujuan, tidak terlepas dari keinginan pribadi seseorang atau kelompok. Apakah itu dengan memanfaatkan kekuasaan dalam arti bertindak meskipun harus menggunakan kekerasan atau menggunakan uang.
Jabatan selaku Pendeta, Penatua, Majelis ataupun Guru Jemaat adalah merupakan panggilan untuk melayani. Bukan sebaliknya :”Jabatan digunakan untuk melampiaskan kekuasaan atau untuk menyampaikan rencana atau tujuan sendiri”. Dan tidak pula untuk mencari kehormatan.
Dietrich Bonhoeffer, Simartir yang dengan keras menentang Hitler mengatakan: When Christ calls a man, He bids him come and die . Ungkapan ini boleh jadi akan menakutkan . Betapa tidak ! Bila seseorang terpanggil untuk menunaikan tugas panggilannya,maka daripadanya dituntut pengorbanan sekalipun harus berhadapan dengan kekerasan bahkan kematian.
When Christ calls a man, He bids him come and die, ungkapan ini tidak hanya slogan semata, tetapi nyata. Tepatnya sembilan April Satu Sembilan Empat-empat, Dietrich Bonheeffer, harus mengahiri hidupnya ditiang gantungan, ia memilih kematian ketimbang penyangkalan terhadap Yesus, benar apa yang dikatakan Yesus dari Nazaret itu: “setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikut Aku”. Ungkapan ini memperhadapkan seseorang kepada pilihan. Tidak hanya menyangkal dalam arti meninggalkan perbuatan lama dan memulai perbuatan seperti yang diperbuat Yesus, tetapi juga memikul salib, yang berarti rela menanggung derita demi pelayanan, bukan sebaliknya mencari nama dan uang.
Salib memang berat, tetapi harus dijadikan sahabat. Kosuke Koyama mengatakan ‘Tak ada gagang pada salib’. Maksudnya tidak ada alat yang efisien untuk menguasai sesuatu, sesuai dengan keinginan kita. Lihat saja Yesus anak tukang kayu, Ia tidak mengusahakan alat yang lain untuk dapat membawa salib itu kemana-mana, seperti seorang pengusaha untuk menenteng tasnya. Mestinya salib harus diletakkan diatas pundak. Dalam kesempatan lain Yesus berkata: “Kuk yang kupasang itu enak dan beban Ku pun ringan”. Firman ini bernada menghibur, sekalipun merupakan pernyataan. Memilih salib disatu pihak merupakan beban dan dipihak lain merupakan sukacita.
Salib lambang kemenangan. Kemenangan yang telah lebih dahulu diperjuangkan Yesus. Kemenangan yang diperjuangkan dengan cara penyerahan. Jika demikian, bagi mereka yang memiliki lambang kemenangan, daripanya dituntut penyerahan kepada Yesus.
Ada satu ceritera dimana suatu ketika diadakan perlombaan menghabiskan sepiring bubur kacang hijau dengan menggunakan sebuah sendok yang panjangnya satu meter, setelah hitungan dimulai para peserta berusaha untuk menghabiskannya, tetapi sampai selesai tidak ada yang jadi pemenang, hanya tertawaan dari para penonton yang menjadi pemenang, sebab pemenang hanya ada jika diantara mereka ada kerja sama, seharusnya keinginan untuk jadi pemenang secara pribadi harus diurungkan. Jika ingin menjadi pemenang, maka kerja sama dengan seorang teman harus dilaksanakan. Oleh karena itu tidak perlu ngotot dan tetap bertahan pada keakuan menanggung bebanmu. Tidak perlu mancari jalan yang tidak benar untuk menjadi pemenang. Rasul Paulus berkata kepada jemaat Galatia 6:2 :”bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu, demikian kamu memenuhi hukum Kristus”. Sejalan dengan ucapan Paulus, Dietrich Bonhoeffer mengatakan: “seperti Kristus menanggung beban kita, demikian jugalah kita harus menanggung beban saudara-saudara kita”.
Memilih kerjasama berarti berusaha menghindarkan atau paling tidak mengurangi persoalan atau beban. Memilih kerjasama berarti mengutamakan kebersamaan, yang juga mengutamakan tugas panggilan. Dalam melaksanakan tugas panggilan, perlu ada kerjasama untuk mewujudkan suatu tujuan bersama.
Pilihan , ini sangat erat hubungannya dengan kepribadian seseorang. Dalam hubungan dengan jabatan di Gereja, pilihan juga melibatkan kepribadian Yang Maha Kuasa, caranya: ‘pilihan Dia percayakan kepada orang-orang pilihanNya’. Mungkin saja kita bertanya..! siapa gerangan orang-orang kepercayaanNya..? tentu mereka adalah orang-orang yang percaya kepadaNya. Karena itu:
1. Berhati-hatilah dalam mengambil keputusan untuk menentukan pilihanmu, lihat kepada diri anda..? tanyakanlah…mampukah saya..? pantaskah saya..?
2. Jika saudara telah terlibat didalam perlombaan, berhati-hati pula untuk mengambil keputusan, sebab keputusanmu bisa berakibat fatal bagi banyak orang. Amin.
Pdt. R.H.L. Tobing.
ROH KUDUS
ROH KUDUS ( HOLY SPIRIT)
Pendahuluan:
Tuhan Allah mencurahkan RohNya dan bekerja serta berdiam dalam hidup kita. Kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita menuntut pembaharuan, tidak hanya dalam teori tetapi dalam praktek hidup, dalam perilaku sehari-hari dan dalam kesaksian hidup.
Kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita hendaknya memberi dampak positif bagi hidup kita dan lingkungan kita, pembawa Kasih, Sukacita, Damai Sejahtera serta menjadi saluran berkat Tuhan bagi setiap orang.
Dari hidup orang Kristen yang telah menerima berkat keselamatan/kesembuhan Ilahi (Blessing Divine Healing) dari Allah melalui pengorbanan Tuhan Yesus oleh karena Kasih-Nya yang tiada taranya, haruslah kita menjadi berkat dan pelita bagi orang lain, dan ini dapat kita lakukan hanya melalui bimbingan Roh Kudus.
Mungkin timbul dalam hati kita satu pertanyaan atau suatu kerinduan, bagaimana agar pekerjaan Roh Kudus atau agar Tuhan Yesus hidup dalam hati kita dan kita hidup di dalam Dia..? Jawabannya singkat “ Dia harus tinggal dan hidup di dalam kita”, berarti kita harus memberi tempat dalam hati kita untuk Dia berkarya dan kita harus tinggal dan hidup dalam Dia. Kristus yang berkuasa dalam hidup kita, sehingga kita dapat berkata “not I but Christ” Gal 2:20.
Peranan roh kudus mutlak diakui baik dalam Perj. Lama dan Perj. Baru. Namun banyak orang kristen melalaikan bahkan menyia-yiakan Pribadi, Kuasa dan Manifestasi Roh Kudus. Jemaat Tuhan yang tidak menghargai Roh Kudus menjadi jemaat yang mati, sebaliknya kalau jemaat Tuhan menghormati Roh Kudus akan menjadi jemaat yang hidup, karena Roh Kudus dapat membangkitkan KUASA- Kuasa untuk sukses, Kuasa untuk hidup berkemenangan.
Satu teladan yang baik dari kehidupan Daud dalam menghormati dan menghargai Roh Kudus tertulis dalam Maz. 51:13, …”janganlah mengambil RohMu yang kudus dari padaku…!” Daud sadar tanpa Roh Kudus hidupnya akan berantakan, sebab itu ia mengutamakan Roh Kudus diatas segala-galanya.
Dalam Perjanjian Baru, kita temukan penekanan yang sangat penting berkatian degan pokok Roh Kudus.
“Kamu akan beroleh Kuasa, kalau Roh Kudus turun atas kamu…” Kisah 1:8. oleh karena Roh Kudus menyertai hidup seseorang maka orang itu dapat memiliki Kuasa untuk mengalahkan yang jahat, Kuasa untuk menghancurkan musuh dan kuasa untuk memasuki hidup yang sukses dan bahagia. Roh kudus mutlak kita perlukan dalam hidup dan Pelayanan kita. Tanpa Roh Kudus kita tidak mempunyai kuasa.
Roh Kudus adalah Roh Kebenaran yang diberikan oleh Allah dan Roh itu akan bersaksi tentang Yesus dan Dia akan menolong, menyertai dan tinggal didalam setiap orang percaya. sejak pada awalnya, Alkitab memperkenalkan kepada kita Roh Allah itu. Dalam kejadian 1:1-2: “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong (tak didiami): gelap gulita menutupi samudra raya (lautan yang mula-mula) dan ROH ALLAH melayang-layang diatas permukaan air”.
Di sini kita lihat bahwa Roh Kudus bukan sekedar suatu “Kuasa” atau “Pengaruh” yang sewaktu-waktu digunakan. Roh kudus adalah satu oknum ilahi yang mempunyai PRIBADI sama derajatnya dengan Allah Bapa dan Allah Anak. Roh kudus adalah pribadi ketiga dari Ketritunggalan Allah. Ia layak dihormati dan dihargai sama seperti menghormati Allah Bapa dan Tuhan Yesus.
Kurang pengertian mendalam mengenai Pribadi Roh Kudus, menyebabkan banyak orang kurang menghargai dan menghormati keberadaan Roh Kudus.
Pada hal “kunci utama kepada perkembangan dan pertumbuhan Gereja” adalah pada penghormatan dan penghargaan yang tinggi pada pribadi Roh Kudus ( Respect to personality of Holy Spirit)”. Memang masih banyak orang yang masih meragukan keberadaan Roh Kudus, akan tetapi sebagai anak-anak Allah, kita harus mengenal Dia dengan benar. ( Rom 8 : 9, 15 dan Johannes 14 : 16 – 17).
Peranan Roh Kudus dalam kehidupan orang Percaya:
Dalam I. Korint 3: 16; 6: 19 diterangkan bahwa tubuh kita adalah BaitNya, jika kita dipenuhi Roh Kudus, maka Dia tinggal dalam kita.
Roh Kudus menyembuhkan I. Kor 12:9, Roma 8:11.
Roh Kudus membebaskan orang percaya dari ikatan dosa. Roma 8: 2.
Mengubah kita sehingga kita memiliki karakter Yesus. Menghasilkan buah. Gal 5:22-23.
Penolong dan Mengajar segala Kebenaran. Joh 14: 16-17; 26.
Memimpin anak-anak Allah. Roma 8:16.
Menyucikan I. Pet 1: 2; II Tes 2: 13.
Menolong dan membimbing dalam doa. Roma. 8: 26-27.
Roh Kudus itu memberi dorongan bagi kita untuk bersaksi. Kisah 1: 8; 5: 32, I. Kor 12:3. Dan masih banyak lagi yang dapat diungkapkan oleh Alkitab, Karena itu hargailah dan terimalah Roh Kudus sebagai pribadi Allah dan sambut Dia dalam hidupmu.
Bagaimana kita Menghidupkan Roh Kudus itu dalam kehidupan kita…?
1. Bertobat dan taati Dia Kis 2: 38; 5: 32.
2. Serahkan dirimu menjadi persembahan yang Kudus. Roma 12: 1-3.
3. Terapkan 5 M.
4. Jangan padamkan Roh I. Tes 5: 19
5. Jangan mendukakan Roh Kudus. Efesus 4: 30.
6. Jangan menentang Roh Kudus. Kis 7: 51.
Amin. RHL. Tobing.
Pendahuluan:
Tuhan Allah mencurahkan RohNya dan bekerja serta berdiam dalam hidup kita. Kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita menuntut pembaharuan, tidak hanya dalam teori tetapi dalam praktek hidup, dalam perilaku sehari-hari dan dalam kesaksian hidup.
Kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita hendaknya memberi dampak positif bagi hidup kita dan lingkungan kita, pembawa Kasih, Sukacita, Damai Sejahtera serta menjadi saluran berkat Tuhan bagi setiap orang.
Dari hidup orang Kristen yang telah menerima berkat keselamatan/kesembuhan Ilahi (Blessing Divine Healing) dari Allah melalui pengorbanan Tuhan Yesus oleh karena Kasih-Nya yang tiada taranya, haruslah kita menjadi berkat dan pelita bagi orang lain, dan ini dapat kita lakukan hanya melalui bimbingan Roh Kudus.
Mungkin timbul dalam hati kita satu pertanyaan atau suatu kerinduan, bagaimana agar pekerjaan Roh Kudus atau agar Tuhan Yesus hidup dalam hati kita dan kita hidup di dalam Dia..? Jawabannya singkat “ Dia harus tinggal dan hidup di dalam kita”, berarti kita harus memberi tempat dalam hati kita untuk Dia berkarya dan kita harus tinggal dan hidup dalam Dia. Kristus yang berkuasa dalam hidup kita, sehingga kita dapat berkata “not I but Christ” Gal 2:20.
Peranan roh kudus mutlak diakui baik dalam Perj. Lama dan Perj. Baru. Namun banyak orang kristen melalaikan bahkan menyia-yiakan Pribadi, Kuasa dan Manifestasi Roh Kudus. Jemaat Tuhan yang tidak menghargai Roh Kudus menjadi jemaat yang mati, sebaliknya kalau jemaat Tuhan menghormati Roh Kudus akan menjadi jemaat yang hidup, karena Roh Kudus dapat membangkitkan KUASA- Kuasa untuk sukses, Kuasa untuk hidup berkemenangan.
Satu teladan yang baik dari kehidupan Daud dalam menghormati dan menghargai Roh Kudus tertulis dalam Maz. 51:13, …”janganlah mengambil RohMu yang kudus dari padaku…!” Daud sadar tanpa Roh Kudus hidupnya akan berantakan, sebab itu ia mengutamakan Roh Kudus diatas segala-galanya.
Dalam Perjanjian Baru, kita temukan penekanan yang sangat penting berkatian degan pokok Roh Kudus.
“Kamu akan beroleh Kuasa, kalau Roh Kudus turun atas kamu…” Kisah 1:8. oleh karena Roh Kudus menyertai hidup seseorang maka orang itu dapat memiliki Kuasa untuk mengalahkan yang jahat, Kuasa untuk menghancurkan musuh dan kuasa untuk memasuki hidup yang sukses dan bahagia. Roh kudus mutlak kita perlukan dalam hidup dan Pelayanan kita. Tanpa Roh Kudus kita tidak mempunyai kuasa.
Roh Kudus adalah Roh Kebenaran yang diberikan oleh Allah dan Roh itu akan bersaksi tentang Yesus dan Dia akan menolong, menyertai dan tinggal didalam setiap orang percaya. sejak pada awalnya, Alkitab memperkenalkan kepada kita Roh Allah itu. Dalam kejadian 1:1-2: “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong (tak didiami): gelap gulita menutupi samudra raya (lautan yang mula-mula) dan ROH ALLAH melayang-layang diatas permukaan air”.
Di sini kita lihat bahwa Roh Kudus bukan sekedar suatu “Kuasa” atau “Pengaruh” yang sewaktu-waktu digunakan. Roh kudus adalah satu oknum ilahi yang mempunyai PRIBADI sama derajatnya dengan Allah Bapa dan Allah Anak. Roh kudus adalah pribadi ketiga dari Ketritunggalan Allah. Ia layak dihormati dan dihargai sama seperti menghormati Allah Bapa dan Tuhan Yesus.
Kurang pengertian mendalam mengenai Pribadi Roh Kudus, menyebabkan banyak orang kurang menghargai dan menghormati keberadaan Roh Kudus.
Pada hal “kunci utama kepada perkembangan dan pertumbuhan Gereja” adalah pada penghormatan dan penghargaan yang tinggi pada pribadi Roh Kudus ( Respect to personality of Holy Spirit)”. Memang masih banyak orang yang masih meragukan keberadaan Roh Kudus, akan tetapi sebagai anak-anak Allah, kita harus mengenal Dia dengan benar. ( Rom 8 : 9, 15 dan Johannes 14 : 16 – 17).
Peranan Roh Kudus dalam kehidupan orang Percaya:
Dalam I. Korint 3: 16; 6: 19 diterangkan bahwa tubuh kita adalah BaitNya, jika kita dipenuhi Roh Kudus, maka Dia tinggal dalam kita.
Roh Kudus menyembuhkan I. Kor 12:9, Roma 8:11.
Roh Kudus membebaskan orang percaya dari ikatan dosa. Roma 8: 2.
Mengubah kita sehingga kita memiliki karakter Yesus. Menghasilkan buah. Gal 5:22-23.
Penolong dan Mengajar segala Kebenaran. Joh 14: 16-17; 26.
Memimpin anak-anak Allah. Roma 8:16.
Menyucikan I. Pet 1: 2; II Tes 2: 13.
Menolong dan membimbing dalam doa. Roma. 8: 26-27.
Roh Kudus itu memberi dorongan bagi kita untuk bersaksi. Kisah 1: 8; 5: 32, I. Kor 12:3. Dan masih banyak lagi yang dapat diungkapkan oleh Alkitab, Karena itu hargailah dan terimalah Roh Kudus sebagai pribadi Allah dan sambut Dia dalam hidupmu.
Bagaimana kita Menghidupkan Roh Kudus itu dalam kehidupan kita…?
1. Bertobat dan taati Dia Kis 2: 38; 5: 32.
2. Serahkan dirimu menjadi persembahan yang Kudus. Roma 12: 1-3.
3. Terapkan 5 M.
4. Jangan padamkan Roh I. Tes 5: 19
5. Jangan mendukakan Roh Kudus. Efesus 4: 30.
6. Jangan menentang Roh Kudus. Kis 7: 51.
Amin. RHL. Tobing.
BERPIKIR POSITIF
Khotbah Pembukaan Sidang MPL PGIW Jabar
Salah satu dari fakta paling penting dan kuat mengenai diri kita diekspresikan di dalam pernyataan berikut ini oleh William James, yang merupakan salah satu dari sedikit orang bijaksana yang pernah dihasilkan oleh Amerika. William James berkata: “Penemuan terbesar dari generasi saya adalah bahwa manusia dapat mengubah hidup mereka dengan mengubah sikap pikiran mereka.” Sebagaimana Anda berpikir, begitulah Anda jadinya.
Jauh sebelum penemuan William James, mengubah hidup dapat dilakukan dengan pembaharuan budi seperti yang tertulis dalam Alkitab, Roma 12: 2; “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Artinya, dengan pembaharuan budi, sikap-perilaku kita akan berubah ke arah sikap-perilaku yang berkenan kepada Allah. Berkenan kepada Allah berarti sikap pikiran kita positif menerima keadaan kita dalam kondisi apapun di kehidupan ini. Sebagaimana Anda berpikir, begitulah budi Anda, begitu jugalah akhlak/watak/tabiat Anda, itulah gambaran siapa Anda sesungguhnya.
Secara teoritis, ungkapan ini memberikan pengertian bahwa budi – akal/nalar – merupakan pola pikir: alat batin yang merupakan panduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk; yang melahirkan sikap-perilaku. Sikap-perilaku ini akan tercermin dalam perbuatan dan tindakan, yang menggambarkan siapa kita sebenarnya. Secara praktis, pola pikir merupakan cara seseorang mengeluarkan (mengungkapkan) pendapatnya dalam ucapan, perbuatan dan tindakan untuk merespons lingkungannya dan orang lain di sekitarnyasuatu cara tindak (course of action) dalam menyampaikan sesuatu dalam ucapan (kata-kata), perbuatan dan tindakan. Oleh karena itu, seseorang dapat dinilai apakah ia baik, buruk, elegan, smart, bijak, keras kepala, sombong, egois, emosional, dsb dari sikap-perilakunyadari perbuatan dan tindakannya.
Kurt Lewis, seorang psikolog terkenal dari Amerika Serikat menyatakan: “Seseorang akan berperilaku menurut apa yang menguntungkan bagi dirinya untuk merespons keadaan lingkungannya dan orang-orang di sekitarnya.” Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pada dasarnya seseorang akan melakukan tindakan apa saja yang mendatangkan keuntungan bagi dirinya dan kelompoknya, dan ia juga akan berbuat apa saja untuk mempertahankan eksistensi dirinya maupun kelompoknya dari serangan luar (orang lain/komunitas lain di sekitarnya). Oleh karena itu, apabila ada seseorang menyatakan bahwa Si A bersalah, Si A akan berupaya berbuat dan bertindak menurut pola pikirannya sendiri untuk mengungkapkan bahwa ia tidak bersalah, walaupun sebenarnya ia bersalah. Dalam keadaan terjepit dan terpojok (mendapat kritikan atau serangan dari orang lain), Si A akan berupaya untuk mempertahan diri dengan mengemukakan kebenarannya menurut pola pikirnya. Dalam mengharapkan sesuatu atau dukungan dari orang-orang di sekitarnya, Si A akan memunculkan watak silumannya dengan menyembunikan watak aslinyamenunjukkan siapa ia dari sisi baiknya, bahkan bila perlu dengan menggunakan potensifund and forces yang ia miliki untuk menampakkan siapa dirinya bagi orang-orang di sekitarnya. Hal lain adalah, bila Si A tidak mendapatkan dari orang-orang di sekitarnya sesuai dengan apa yang diinginkannya dari mereka, Si A dapat bertindak apatis, menunjukkan tidak bersahabat, mengungkapkan sisi negatif mereka yang tidak disenangi tanpa instropeksi diri dengan bertanya pada diri sendiri: mengapa mereka tidak memberikan/mendukung/melakukan yang sesuai dengan keinginan saya? Hal inilah yang menciptakan ketidakharmonisan, saling curiga, ketidakpercayaan, kedengkian dan sebagainya di tengah pergaulan dan di kehidupan sehari-hari, juga di tengah organisasi (pekerjaan), yang pada akhirnya bermuara pada penghancuran kepentingan bersamakepentingan yang lebih besar dan utama.
Pola pikir dapat membawa kita ke arah keselamatan dan kebahagiaan di satu sisi, dan ke arah ketidaknyamanan dan kehancuran diri sendiri dan kelompok di sisi yang lain. Pola pikir yang membawa kita ke arah kedamaian dan kebahagian adalah pola pikir dengan prinsip “berpikir positif (positive thinking)”penuh kedamaian, persahabatan, care-ness, dan tidak impulsif. Sementara pola pikir ke arah kehancuran adalah berpikir negatifsarat dengan kecurigaan, tidak peduli, tidak bersahabat, dan impulsif.
Menurut Norman Vincent Peale, seorang pendeta dari Amerika Serikat, dalam bukunya “Berpikir Positif” (The Power of Positive Thinking)” – terjual lebih dari 15 juta eksemplar – menyatakan: “Pikiran yang damai menghasilkan kekuatan.” Kedamaian merupakan kekuatan (energi) yang memberikan kita suatu ketenangan batin dan kewaspadaan. Dalam keadaan batin/perasaan kita tenang, kita akan mampu mengkaji dan menganalisis suatu keputusan apa – perbuatan dan tindakan – yang sepatutnya kita lakukan. Konteksnya adalah: kita akan mampu memahami apa yang kita lakukan, bagaimana kita melakukan, dan memahami risiko apa yang mungkin muncul sebagai konsekuensi logis dari perbuatan dan tindakan kita tersebut bagi diri sendiri dan orang lain.
Sejalan dengan pemikiran Peale, Stephen R. Covey dalam bukunya “Kepemimpinan yang Berprinsip” menyatakan: “Orang-orang berprinsip menikmati hidup. Oleh karena rasa aman mereka datang dari dalam, tidak dari luar, mereka tidak perlu mengkotak-kotakkan orang dan menyamaratakan segala sesuatu dan semua orang dalam hidup ini untuk memperoleh rasa pasti. Mereka pada dasarnya tidak dapat dipengaruhi dan mampu untuk menyesuaikan diri pada hampir semua hal yang sedang terjadi. Salah satu prinsip baku mereka adalah fleksibilitas. Mereka menjalani kehidupan yang berkelimpahan.” Pernyataan ini sejalan dengan konsep berpikir positif. Artinya, banyaknya harta, kedudukan/jabatan yang tinggi, dan pekerjaan yang mapan bukan jaminan untuk mendapatkan kedamaian, rasa pasti, dan kehidupan berkelimpahan. Akan tetapi, untuk mendapatkan kesemuanya itu bersumber dari sikap pemikiran positif yang muncul dari dalambersumber dari pola pikir manusia yang positif dalam menyikapi (menerima) keadaannya.
Berpikir positif berarti memiliki sikap mental positif (SMP) dalam menanggapi dan merespons berbagai situasi/keadaan, apakah situasinya baik atau tidak, menyenangkan atau menyakitkan, bukan persoalan dan kendala yang tidak bisa diatasi bagi mereka yang berpikir positif. Seseorang yang berpikiran positif akan mampu menghargai pendapat orang lain dan tidak menganggap dirinya, pendapatnya, eksistensinya lebih berharga (lebih penting) daripada orang lain. Hal lain, orang yang berpikiran positif akan mampu menerima kritikan, dan menciptakan kritikan ini sebagai masukan (input) – sebagai stimulus – untuk memperbaiki dirinya. Oleh karena itu, seseorang dengan pikiran positif berarti ia mampu bersikap kritis-positif, kreatif-inovatif, dan logis-realistis dalam berbuat dan bertindak. Akan tetapi, persoalannya terletak pada: bagaimanakah cara tindak (course of action) agar kita mampu berpikir positif?
Banyak para psikolog terkenal di dunia seperti Sigmund Freud, Gordon Allport (1897 – 1967), Carl Rogers (1902- ), Erich Fromm (1900- ), Abraham Maslow (1909 – 1970), Carl Jung (1875 – 1961), Viktor Frankl (1905- ), Fritz Perls (1893 – 1970) menggali penemuan mereka dengan bersumber dari pemahaman keagamaan dan pengalaman hidup mereka masing-masing. Penemuan mereka di bidang “psikologi pertumbuhan” atau “psikologi kesehatan” pada dasarnya bertujuan bukan untuk merawat korban-korban neurosis dan psikosis, tetapi untuk membuka dan melepaskan potesi manusia yang sangat hebat supaya mengaktualisasikan dan memenuhi bakat-bakatnya serta menemukan dalam kehidupan ini suatu arti yang lebih dalam. Singkatnya, penemuan ini berusaha memperluas, memperbesar, dan memperkaya kepribadian manusia, benar-benar suatu perubahan dari tekanan sebelumnya. Yang menarik dari penemuan-penemuan mereka adalah suatu simpulan bahwa sikap pikiran manusia tumbuh dan berkembang bukan oleh obyek perubahan yang terjadi di tengah kehidupan manusia. Akan tetapi, pertumbuhan dan perkembangan pola pikir manusia terjadi oleh karena manusia – sebagai subyek perubahan – harus menghadapi tantangan perubahan itu sendiri untuk memenuhi kebutuhannya.
Dalam menghadapi tantangan perubahan, pola pikir – sikap pemikiran – manusia harus bertumbuh dan berkembang mengikuti sesuai dengan perkembangan dari perubahan itu sendiri. Sebab, sesuatu hal yang terjadi dahulu tidak sama dimensi persoalannya dengan hal yang terjadi pada sekarang ini. Suatu sikap pemikiran yang tidak sesuai dengan perkembangan perubahan akan memetik buah kegagalan. Contoh faktual adalah kegagalan sistem pendidikan tinggi di Indonesia yang lahir dari pemikiran lama, tidak positif menanggapi perubahan yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia. Semakin banyak sarjana ekonomi bukan berarti perekonomian Indonesia semakin maju, malah semakin terpuruk ke dunia ketidakpastian. Semakin banyak sarjana hukum, bukan berarti sistem peradilan dan penegakan hukum di Indonesia semakin baik, bahkan hukum bisa diperjualbelikan. Semakin banyak sarjana teknik, bukan berarti semakin banyak produk-produk teknologi Indonesia yang masuk pasar global, bahkan Indonesia sangat tergantung dengan teknologi bangsa lain. Contoh ini memberi bukti kepada kita bahwa sikap pemikiran yang tidak mau berubah mengikuti perkembangan perubahan akan terbelenggu oleh pemikiran itu sendiri.
Menurut Firman Tuhan, cara tindak untuk melahirkan pikiran positif ada tertulis dalam Injil Lukas 6: 31, 38; yaitu, ayat 31: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Dan ayat 38: “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah keluar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
Merujuk pada Firman Tuhan ini, bahwa untuk mendapatkan pikiran positif, ada beberapa “langkah tindakan” yang harus kita lakukan untuk membaharui sikap-perilaku kita ke arah sikap-perilaku positif, yaitu:
1). Berupayalah untuk selalu bersahabat dengan orang-orang di sekitar Anda, lingkungan Anda dan di manapun Anda berada;
2). Berupayalah untuk memahami mereka (orang lain di sekitar Anda) terlebih dahulu sebelum mereka memahami Anda;
3). Perbuatlah kepada mereka akan apa yang ingin mereka perbuat untuk Anda;
4). Berupayalah agar Anda tetap dalam keadaan terkontrolon going track, tidak mudah terpancing dan terpengaruh oleh hal-hal yang dapat merusak keadaan atau hal-hal yang menyakitkan bagi Anda;
5). Berupayalah untuk bersikap-perilaku bahwa mereka sangat penting bagi Andamereka sangat Anda butuhkan untuk mendapatkan keberhasilan bersama;
6). Berupayahlah untuk mengkomunikasikan tindakan dan perbuatan Anda adalah dalam rangka mendatangkan kebaikan bagi sesama, dan Anda harus terbuka untuk menerima kritikan dan menganggapnya sebagai masukan berharga untuk perbaikan; dan
7). Berupayalah untuk mengaplikasikan sikap pemikiran positif Anda dalam perbuatan dan tindakan sebagai (merupakan) pengejawantahan kasih, yakni suatu proses memberikan pencerahan bagi mereka untuk mendatangkan kekuatan dan keberhasilan bersamauntuk memperoleh kesuksesan sesuai dengan kepentingan dan tujuan bersama; the spirit of diversity.
Keberhasilan terapi ini sangat tergantung pada diri kita masing-masing, bukan pada orang lain. Akan tetapi, yang menjadi question mark-nya adalah: apakah kita mau berubah atau tidak? Apakah kita mau melakukan terapi tersebut? Hidup ini ibarat kita berada di tengah hutan belantara yang penuh dengan binatang berbisa dan buas yang siap melumatkan kita sebagai santapannya. Apakah kita takut menghadapi keadaan seperti itu? Tentu, namun semuanya sangat tergantung pada kita. Jika kita ingin berhasil keluar dari dalam hutan tersebut dengan selamat, kita harus berpikir positif, karena dengan pikiran kita yang positif, kita akan mampu menyikapi keadaan lingkungan kita yang banyak dengan binatang berbisa dan buas. Berpikir positif dalam menyikapi keadaan berarti kita mampu mendatangkan kekuatan dari dalam yang membuat kita tidak takut menghadapi datangnya ancaman. Melalui kekuatan dari dalam inilah yang memampukan kita untuk mencari solusi cara tindak – perbuatan dan tindakan – yang sesuai dengan keadaan untuk keluar dari keadaan (ancaman). Sekali lagi, semuanya terpulang pada diri kita masing-masing. Dengan pikiran positiftenang menghadapi berbagai tantangan dan ancaman, akan muncul kekuatan pada diri kita yang memampukan kita untuk mencari solusi dalam menerobos hambatan sehingga terbuka peluang ke luar dari tengah hutan tersebut dengan selamat. Sekali lagi, semuanya terpulang pada diri kita masing-masing.
Akhirnya, jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Anda mencapai puncaknya. Karena, Anda kemudian akan melihat betapa rendahnya gunung itu (Dag Hammarskjold).
RHL. Tobing
Salah satu dari fakta paling penting dan kuat mengenai diri kita diekspresikan di dalam pernyataan berikut ini oleh William James, yang merupakan salah satu dari sedikit orang bijaksana yang pernah dihasilkan oleh Amerika. William James berkata: “Penemuan terbesar dari generasi saya adalah bahwa manusia dapat mengubah hidup mereka dengan mengubah sikap pikiran mereka.” Sebagaimana Anda berpikir, begitulah Anda jadinya.
Jauh sebelum penemuan William James, mengubah hidup dapat dilakukan dengan pembaharuan budi seperti yang tertulis dalam Alkitab, Roma 12: 2; “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Artinya, dengan pembaharuan budi, sikap-perilaku kita akan berubah ke arah sikap-perilaku yang berkenan kepada Allah. Berkenan kepada Allah berarti sikap pikiran kita positif menerima keadaan kita dalam kondisi apapun di kehidupan ini. Sebagaimana Anda berpikir, begitulah budi Anda, begitu jugalah akhlak/watak/tabiat Anda, itulah gambaran siapa Anda sesungguhnya.
Secara teoritis, ungkapan ini memberikan pengertian bahwa budi – akal/nalar – merupakan pola pikir: alat batin yang merupakan panduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk; yang melahirkan sikap-perilaku. Sikap-perilaku ini akan tercermin dalam perbuatan dan tindakan, yang menggambarkan siapa kita sebenarnya. Secara praktis, pola pikir merupakan cara seseorang mengeluarkan (mengungkapkan) pendapatnya dalam ucapan, perbuatan dan tindakan untuk merespons lingkungannya dan orang lain di sekitarnyasuatu cara tindak (course of action) dalam menyampaikan sesuatu dalam ucapan (kata-kata), perbuatan dan tindakan. Oleh karena itu, seseorang dapat dinilai apakah ia baik, buruk, elegan, smart, bijak, keras kepala, sombong, egois, emosional, dsb dari sikap-perilakunyadari perbuatan dan tindakannya.
Kurt Lewis, seorang psikolog terkenal dari Amerika Serikat menyatakan: “Seseorang akan berperilaku menurut apa yang menguntungkan bagi dirinya untuk merespons keadaan lingkungannya dan orang-orang di sekitarnya.” Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pada dasarnya seseorang akan melakukan tindakan apa saja yang mendatangkan keuntungan bagi dirinya dan kelompoknya, dan ia juga akan berbuat apa saja untuk mempertahankan eksistensi dirinya maupun kelompoknya dari serangan luar (orang lain/komunitas lain di sekitarnya). Oleh karena itu, apabila ada seseorang menyatakan bahwa Si A bersalah, Si A akan berupaya berbuat dan bertindak menurut pola pikirannya sendiri untuk mengungkapkan bahwa ia tidak bersalah, walaupun sebenarnya ia bersalah. Dalam keadaan terjepit dan terpojok (mendapat kritikan atau serangan dari orang lain), Si A akan berupaya untuk mempertahan diri dengan mengemukakan kebenarannya menurut pola pikirnya. Dalam mengharapkan sesuatu atau dukungan dari orang-orang di sekitarnya, Si A akan memunculkan watak silumannya dengan menyembunikan watak aslinyamenunjukkan siapa ia dari sisi baiknya, bahkan bila perlu dengan menggunakan potensifund and forces yang ia miliki untuk menampakkan siapa dirinya bagi orang-orang di sekitarnya. Hal lain adalah, bila Si A tidak mendapatkan dari orang-orang di sekitarnya sesuai dengan apa yang diinginkannya dari mereka, Si A dapat bertindak apatis, menunjukkan tidak bersahabat, mengungkapkan sisi negatif mereka yang tidak disenangi tanpa instropeksi diri dengan bertanya pada diri sendiri: mengapa mereka tidak memberikan/mendukung/melakukan yang sesuai dengan keinginan saya? Hal inilah yang menciptakan ketidakharmonisan, saling curiga, ketidakpercayaan, kedengkian dan sebagainya di tengah pergaulan dan di kehidupan sehari-hari, juga di tengah organisasi (pekerjaan), yang pada akhirnya bermuara pada penghancuran kepentingan bersamakepentingan yang lebih besar dan utama.
Pola pikir dapat membawa kita ke arah keselamatan dan kebahagiaan di satu sisi, dan ke arah ketidaknyamanan dan kehancuran diri sendiri dan kelompok di sisi yang lain. Pola pikir yang membawa kita ke arah kedamaian dan kebahagian adalah pola pikir dengan prinsip “berpikir positif (positive thinking)”penuh kedamaian, persahabatan, care-ness, dan tidak impulsif. Sementara pola pikir ke arah kehancuran adalah berpikir negatifsarat dengan kecurigaan, tidak peduli, tidak bersahabat, dan impulsif.
Menurut Norman Vincent Peale, seorang pendeta dari Amerika Serikat, dalam bukunya “Berpikir Positif” (The Power of Positive Thinking)” – terjual lebih dari 15 juta eksemplar – menyatakan: “Pikiran yang damai menghasilkan kekuatan.” Kedamaian merupakan kekuatan (energi) yang memberikan kita suatu ketenangan batin dan kewaspadaan. Dalam keadaan batin/perasaan kita tenang, kita akan mampu mengkaji dan menganalisis suatu keputusan apa – perbuatan dan tindakan – yang sepatutnya kita lakukan. Konteksnya adalah: kita akan mampu memahami apa yang kita lakukan, bagaimana kita melakukan, dan memahami risiko apa yang mungkin muncul sebagai konsekuensi logis dari perbuatan dan tindakan kita tersebut bagi diri sendiri dan orang lain.
Sejalan dengan pemikiran Peale, Stephen R. Covey dalam bukunya “Kepemimpinan yang Berprinsip” menyatakan: “Orang-orang berprinsip menikmati hidup. Oleh karena rasa aman mereka datang dari dalam, tidak dari luar, mereka tidak perlu mengkotak-kotakkan orang dan menyamaratakan segala sesuatu dan semua orang dalam hidup ini untuk memperoleh rasa pasti. Mereka pada dasarnya tidak dapat dipengaruhi dan mampu untuk menyesuaikan diri pada hampir semua hal yang sedang terjadi. Salah satu prinsip baku mereka adalah fleksibilitas. Mereka menjalani kehidupan yang berkelimpahan.” Pernyataan ini sejalan dengan konsep berpikir positif. Artinya, banyaknya harta, kedudukan/jabatan yang tinggi, dan pekerjaan yang mapan bukan jaminan untuk mendapatkan kedamaian, rasa pasti, dan kehidupan berkelimpahan. Akan tetapi, untuk mendapatkan kesemuanya itu bersumber dari sikap pemikiran positif yang muncul dari dalambersumber dari pola pikir manusia yang positif dalam menyikapi (menerima) keadaannya.
Berpikir positif berarti memiliki sikap mental positif (SMP) dalam menanggapi dan merespons berbagai situasi/keadaan, apakah situasinya baik atau tidak, menyenangkan atau menyakitkan, bukan persoalan dan kendala yang tidak bisa diatasi bagi mereka yang berpikir positif. Seseorang yang berpikiran positif akan mampu menghargai pendapat orang lain dan tidak menganggap dirinya, pendapatnya, eksistensinya lebih berharga (lebih penting) daripada orang lain. Hal lain, orang yang berpikiran positif akan mampu menerima kritikan, dan menciptakan kritikan ini sebagai masukan (input) – sebagai stimulus – untuk memperbaiki dirinya. Oleh karena itu, seseorang dengan pikiran positif berarti ia mampu bersikap kritis-positif, kreatif-inovatif, dan logis-realistis dalam berbuat dan bertindak. Akan tetapi, persoalannya terletak pada: bagaimanakah cara tindak (course of action) agar kita mampu berpikir positif?
Banyak para psikolog terkenal di dunia seperti Sigmund Freud, Gordon Allport (1897 – 1967), Carl Rogers (1902- ), Erich Fromm (1900- ), Abraham Maslow (1909 – 1970), Carl Jung (1875 – 1961), Viktor Frankl (1905- ), Fritz Perls (1893 – 1970) menggali penemuan mereka dengan bersumber dari pemahaman keagamaan dan pengalaman hidup mereka masing-masing. Penemuan mereka di bidang “psikologi pertumbuhan” atau “psikologi kesehatan” pada dasarnya bertujuan bukan untuk merawat korban-korban neurosis dan psikosis, tetapi untuk membuka dan melepaskan potesi manusia yang sangat hebat supaya mengaktualisasikan dan memenuhi bakat-bakatnya serta menemukan dalam kehidupan ini suatu arti yang lebih dalam. Singkatnya, penemuan ini berusaha memperluas, memperbesar, dan memperkaya kepribadian manusia, benar-benar suatu perubahan dari tekanan sebelumnya. Yang menarik dari penemuan-penemuan mereka adalah suatu simpulan bahwa sikap pikiran manusia tumbuh dan berkembang bukan oleh obyek perubahan yang terjadi di tengah kehidupan manusia. Akan tetapi, pertumbuhan dan perkembangan pola pikir manusia terjadi oleh karena manusia – sebagai subyek perubahan – harus menghadapi tantangan perubahan itu sendiri untuk memenuhi kebutuhannya.
Dalam menghadapi tantangan perubahan, pola pikir – sikap pemikiran – manusia harus bertumbuh dan berkembang mengikuti sesuai dengan perkembangan dari perubahan itu sendiri. Sebab, sesuatu hal yang terjadi dahulu tidak sama dimensi persoalannya dengan hal yang terjadi pada sekarang ini. Suatu sikap pemikiran yang tidak sesuai dengan perkembangan perubahan akan memetik buah kegagalan. Contoh faktual adalah kegagalan sistem pendidikan tinggi di Indonesia yang lahir dari pemikiran lama, tidak positif menanggapi perubahan yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia. Semakin banyak sarjana ekonomi bukan berarti perekonomian Indonesia semakin maju, malah semakin terpuruk ke dunia ketidakpastian. Semakin banyak sarjana hukum, bukan berarti sistem peradilan dan penegakan hukum di Indonesia semakin baik, bahkan hukum bisa diperjualbelikan. Semakin banyak sarjana teknik, bukan berarti semakin banyak produk-produk teknologi Indonesia yang masuk pasar global, bahkan Indonesia sangat tergantung dengan teknologi bangsa lain. Contoh ini memberi bukti kepada kita bahwa sikap pemikiran yang tidak mau berubah mengikuti perkembangan perubahan akan terbelenggu oleh pemikiran itu sendiri.
Menurut Firman Tuhan, cara tindak untuk melahirkan pikiran positif ada tertulis dalam Injil Lukas 6: 31, 38; yaitu, ayat 31: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Dan ayat 38: “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah keluar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
Merujuk pada Firman Tuhan ini, bahwa untuk mendapatkan pikiran positif, ada beberapa “langkah tindakan” yang harus kita lakukan untuk membaharui sikap-perilaku kita ke arah sikap-perilaku positif, yaitu:
1). Berupayalah untuk selalu bersahabat dengan orang-orang di sekitar Anda, lingkungan Anda dan di manapun Anda berada;
2). Berupayalah untuk memahami mereka (orang lain di sekitar Anda) terlebih dahulu sebelum mereka memahami Anda;
3). Perbuatlah kepada mereka akan apa yang ingin mereka perbuat untuk Anda;
4). Berupayalah agar Anda tetap dalam keadaan terkontrolon going track, tidak mudah terpancing dan terpengaruh oleh hal-hal yang dapat merusak keadaan atau hal-hal yang menyakitkan bagi Anda;
5). Berupayalah untuk bersikap-perilaku bahwa mereka sangat penting bagi Andamereka sangat Anda butuhkan untuk mendapatkan keberhasilan bersama;
6). Berupayahlah untuk mengkomunikasikan tindakan dan perbuatan Anda adalah dalam rangka mendatangkan kebaikan bagi sesama, dan Anda harus terbuka untuk menerima kritikan dan menganggapnya sebagai masukan berharga untuk perbaikan; dan
7). Berupayalah untuk mengaplikasikan sikap pemikiran positif Anda dalam perbuatan dan tindakan sebagai (merupakan) pengejawantahan kasih, yakni suatu proses memberikan pencerahan bagi mereka untuk mendatangkan kekuatan dan keberhasilan bersamauntuk memperoleh kesuksesan sesuai dengan kepentingan dan tujuan bersama; the spirit of diversity.
Keberhasilan terapi ini sangat tergantung pada diri kita masing-masing, bukan pada orang lain. Akan tetapi, yang menjadi question mark-nya adalah: apakah kita mau berubah atau tidak? Apakah kita mau melakukan terapi tersebut? Hidup ini ibarat kita berada di tengah hutan belantara yang penuh dengan binatang berbisa dan buas yang siap melumatkan kita sebagai santapannya. Apakah kita takut menghadapi keadaan seperti itu? Tentu, namun semuanya sangat tergantung pada kita. Jika kita ingin berhasil keluar dari dalam hutan tersebut dengan selamat, kita harus berpikir positif, karena dengan pikiran kita yang positif, kita akan mampu menyikapi keadaan lingkungan kita yang banyak dengan binatang berbisa dan buas. Berpikir positif dalam menyikapi keadaan berarti kita mampu mendatangkan kekuatan dari dalam yang membuat kita tidak takut menghadapi datangnya ancaman. Melalui kekuatan dari dalam inilah yang memampukan kita untuk mencari solusi cara tindak – perbuatan dan tindakan – yang sesuai dengan keadaan untuk keluar dari keadaan (ancaman). Sekali lagi, semuanya terpulang pada diri kita masing-masing. Dengan pikiran positiftenang menghadapi berbagai tantangan dan ancaman, akan muncul kekuatan pada diri kita yang memampukan kita untuk mencari solusi dalam menerobos hambatan sehingga terbuka peluang ke luar dari tengah hutan tersebut dengan selamat. Sekali lagi, semuanya terpulang pada diri kita masing-masing.
Akhirnya, jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Anda mencapai puncaknya. Karena, Anda kemudian akan melihat betapa rendahnya gunung itu (Dag Hammarskjold).
RHL. Tobing
Langganan:
Postingan (Atom)