Rabu, 24 April 2019


BUKU ACARA
PEKAN KELUARGA
GKPI JEMAAT KHUSUS CILIWUNG BANDUNG
TAHUN 2018


Kata Sambutan Pendeta Resort
Puji dan Syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yesus Raja Gereja, karena kasih-Nya yang memberi kesempatan kepada seluruh warga jemaat untuk mewujudkan kebersamaan melalui Pekan Keluarga dan kegiatan olahraga antar sektor, semua ini kita programkan bukan semata untuk memperoleh hadiah atau mencari kejuaran tetapi dengan madsud agar semua warga jemaat saling mengenal dan tumbuh kebersamaan/cinta kasih, terutama di antara keluarga agar terbentuk hubungan yang baik, sebab firman Tuhan berkata dalam Mazmur 133: 1 – 3 “Sungguh alangkah baik dan indahnya, apabil saudara saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala yang meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab kesana TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.
Ibadah itu sangat berguna dan bermanfaat dalam Ibrani 10: 25 “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati,  dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. Karena itu marilah kita mempergunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, dan jangan sampai ada keluarga yang melewatkannya. Tuhan pasti memberkati setiap keluarga.
Dan melalui Pekan Keluarga ini setiap warga jemaat hendaknya terpanggil untuk:
1. Setia mengikuti Kebaktian di Gereja,
2. Setia dan proaktif memenuhi tanggung jawabnya sebagai warga jemaat yang baik,
3. Setia membaca Alkitab dan berdoa,
4. Setia mensyukuri berkat Tuhan yang telah diterima oleh setiap keluarga.
Tuhan Memberkati.
Bandung. -------------- 2018


Pdt. R. H. L. Tobing, S.Th., MA



TATA IBADAH PEKAN KELUARGA
Senin, ---------------- 2018
Thema:  “Keluarga yang Berbahagia”
1. Panggilan Beribadah :
P          : Beribadah kepada Tuhan dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorai-sorai, masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya.
AK      : Sebab Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya dan kesetiaan-Nya tetap turun temurun (Mzm 100:2).
2. Pujian Menghadap Tuhan : Bernyanyi KJ. No. 15: 1-2
1. Berhimpun semua menghadap Tuhan dan pujilah Dia, Pemurah dan benar. Berakhirlah segala pergumulan, diganti dengan kedamaian yang besar.
2. Hormati namaNya serta kenangkan mujizat yang sudah dibuatNya. Hendaklah t'rus syukurmu kau nyataka,n di jalan hidupmu seluruhnya.
3. Berdoa (Salah seorang peserta ibadah)
4. Bernyanyi  : KJ. 454 : 1- 2
1. Indahnya saat teduh menghadap takhta Bapaku: kunaikkan doa padaNya, sehingga hatiku lega. Di waktu bimbang dan gentar, jiwaku aman dan Segar; ku bebas dari seteru di dalam saaat yang teduh.
2. Indahnya saat yang teduh, dengan bahagia penuh, Betapa rindu hatiku, kepada saat doaku. Bersama orang yang kudus, kucari wajah Penebus; Dengan gembira dan teguh kunanti saat yang teduh.
5. Khotbah (Dibaca kepala keluarga)
The Saturday Evening Post pernah menerbitkan sebuah artikel berjudul “True Love”. Demikian petikannya: “Untuk membuktikan kesungguhan cintanya, seorang suami membuktikannya dengan mengarungi sungai yang terdalam, melintasi gurun pasir yang terluas, dan melintasi gunung yang tertinggi. Tetapi apa hasilnya? Istrinya menceraikannya. Karena apa? Karena sang suami tidak pernah dirumah”. Sang istri tidak merasakan “true love” dari suaminya.
Tatkala Yosua bersama umat Israel menyeberangi Laut Teberau, melintasi gurun pasir, mengintari Kanaan, menyeberangi sungai Yordan, bahkan sampai memasuki negeri Kanaan, semuanya itu, baik peristiwa besar maupun kecil, mereka tetap melihat Tuhan selalu hadir dan menyerati mereka. Mereka sungguh melihat “true love” Tuhan secara nyata. Ini yang membedakan “True love” manusia dengan Allah. True love Allah sangat tidak terbatas oleh tempat dan waktu, sedangkan manusia sangat terbatas. Sungguh patutlah kita bersyukur. Demikianlah true love Allah sungguh nyata dengan kehadiranNya di tengah tengah umatNya. Karena itu jugalah di akhir hidupnya, Yosua kembali menantang bangsa Israel untuk tetap menyembah Tuhan “……. Pilihlah kepada siapa kamu akan beribadah hari ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24: 15 b).

Pertanyaan Diskusi :
Baca Mazmur 136 : 1. Apa makna ayat tersebut bagi saudara? Dan bagaimana saudara menerapkan itu dalam keluarga saudara?
Seandainya saudara berada di tenagh-tengah umat Israel pada zaman Yosua, mendengar bagaimana Yosua mengajukan pilihan (Yosua 24: 15), mana saudara pilih? Jelaskan!
Dalam kehidupan kita, dalam segala hal yang sudah kita lalui, apakah kita merasakan betul kasih dan penyertaan Tuhan? Pada saat kapan? Sharingkan!
6. Bernyanyi  : KJ. 410 : 1- 2
  1. Tenanglah kini hatiku: Tuhan memimpin langkahku.
    Di tiap saat dan kerja, tetap kurasa tanganNya.
Refrein: Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh.
Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh.
  1. Di malam yang gelap benar, di taman indah dan segar,
    di taupan dan di laut tenang, tetap tanganku dipegang.
Refrein: Tuhanlah yang membimbingku; tanganku dipegang teguh.
Hatiku berserah penuh; tanganku dipegang teguh.

7. Persembahan : (Ay. Roma 12: 1), dibaca oleh yang membawa Firman
8. Doa Persembahan dan Doa Bapa Kami

---------------- Selamat Beribadah Tuhan Yesus Memberkati -----------------














Tata Ibadah Pekan Keluarga
Selasa, …………….. 2018
Thema : Jangan Cari Kesalahan Orang lain.
1. Panggilan Beribadah :
P          : Pujilah Tuhan hai jiwaku, Pujilah namaNya yang kudus hai segenap batinku.
AK      : Pujilah Tuhan, hai jiwaku dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya
P          : Dia yang mengampuni segala kesalahanmu
AK      : Yang menyembuhkan segala penyakitmu.
2. Pujian menghadap Tuhan : KJ. 10 : 1 – 2
1 Pujilah Tuhan sang Raja yang maha mulia
Segenap hati dan jiwaku pujilah Dia Datang berkaum,
b'rilah musikmu bergaung
Angkatlah puji-pujian
2. Pujilah Tuhan segala kuasa pada-Nya
Sayap kasih-Nya yang aman mendukung anak-Nya
Tiada ter'pri yang kepadamu dib'ri
Tidak kah itu kau rasa

3. Berdoa (Salah seorang anggota keluarga)
4. Bernyanyi : KJ. 439 : 3
Bila kau memandang harta orang lain, ingat janji Kristus yang lebih permai Hitunglah berkat yang tidak terbeli, milikmu di Sorga tiada terperi, Ref: Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau 'kan kagum oleh kasihNya.
Berkat Tuhan mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya.

5. Khotbah :
Bacaan: Matius 7:3 "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu ..." Sebuah puisi menulis seperti ini : Jangan mencari kesalahan orang yang timpang Atau tersandung-sandung di sepanjang jalan kehidupan, Kecuali engkau sudah mengenakan sepatu yang dipakainya, Atau menanggung beban yang dipikulnya Mungkin ada paku dalam sepatunya yang melukai kakinya, Meski tersembunyi dari pandanganmu, beban yang ditanggungnya, bila kaupikul di punggungmu, mungkin 'kan membuatmu tersandung pula. Jangan terlalu keras pada orang yang melakukan kesalahan Atau melempari dia dengan kayu atau batu Kecuali engkau yakin, ya, sangat yakin, Bahwa kau sendiri tak punya kesalahan. * Saya memiliki kebiasaan buruk, yang hampir semua dari Anda memilikinya juga. Menilai orang lain dengan poin yang sangat rendah. Dengan mudah kita akan berkata, begitu saja tak bisa, tak becus, dasar o'on, bodoh, tolol dan perkataan menyakitkan lainnya. Saat melihat orang lain melakukan kesalahan, dengan mudahnya kita mengetokkan palu layaknya hakim dan menundingnya dengan sinis, tanpa kita pernah mau tahu apa alasannya atau hal-hal apa yang membuat ia melakukan hal itu. Giliran kita mengalami apa yang ia alami. Atau merasakan apa yang ia rasa. Atau melakukan apa yang ia lakukan. Belum tentu kita bisa melakukannya dengan baik, atau jangan-jangan poin kita justru ada dibawahnya. Lihat saja para penonton bola yang bisanya cuma teriak-teriak dan memaki-maki pemain yang sedikit saja melakukan kesalahan. Sesekali turun ke lapangan dong, dan tunjukkan permainan bola Anda!, demikian saya akan menantangnya. Tak perlu menilai orang lain, sebab kita tidak pernah tahu seperti apa kita seandainya berada di posisinya. Belajar memahami orang lain jauh lebih baik daripada kita mengecamnya. Kita bukan manusia yang anti kesalahan, lalu mengapa kita begitu mudah mencaci kesalahan orang? Paling tidak kita harus pernah mengalaminya sendiri lebih dulu, barulah kita boleh berkata-kata. Stop menilai orang lain sebelum kita mengalaminya lebih dulu.

6. Bernyannyi KJ: 26:1-2
1. Mampirlah dengar doa ku, Yesus Penebus,
Orang lain kau hampiri, jangan jalan t'rus
Ref: Yesus- Tuhan, dengar doa ku, Orang lain Kau hampiri, jangan jalan t'rus
2. Dihadapan tahta rahmat, aku menyembah,
Tunduk dalam penyesalan, Tuhan tolonglah
Ref: kembali ke reff.
Atau boleh dari BE: 212: 1-2,4
1. Haholongonna badia, Sian Tuhan Jesus i
Sai songgopi, sai bongoti, Roha dohot tondingki
2. Hasonangan hadadameon, Na ro sian Jesus i
Sai pahosa au na loja, Asa bulus rohangki
4. Sai palambas ma rohangku, dompak angka dongan i
Asa tung ringas rohangku, lao manesa do sai

7. Doa Persembahan dan Doa Bapa Kami


~ Selamat beribadah Tuhan Yesus memberkati -













TATA IBADAH PEKAN KELUARGA
Rabu, --------------- 2018
Thema: Team Work


1. Panggilan Beribadah:
P : Aku hendak mengagungkan, ya Allahku Ya Bapa, dan aku hendak memuji
nama-Mu untuk seterusnya, dan selama-lamanya
AK: Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan Hendak memuliakan namaMu dan selamanya.
P : Besarlah Tuhan dan sangat terpuji
AK: Dan kebesaran-Nya tidak terduga

2. Pujian Menghadap Tuhan: KJ.3: 1+4
1. Kami puji dengan riang, Dikau Allah yang besar
Bagai bunga f'rima siang hati kam ipun mekar
Kabut dosa dan derita, kebimbangan t'lah lenyap
Sumber suka yang abadi, b'ri sinar-Mu menyerap
4. Mari kita pun memuji, dengan suara menggegap
Menyanyikan kuasa kasih, yang teguh serta tetap
kita maju dan bernyanyi, jaya walau diserang
Ikut mengagungkan kasih, dalam lagu pemenang

3. Berdoa ( salah seorang anggota keluarga)

4. Bernyanyi KJ: :249: 1-2
1. Serikat persaudaraan, berdirilah teguh
Sempurnakan persatuan, didalam Tuhan -mu
Bersama-sama majulah dikuatkan iman
Berdamai bersejahtera, dengan pengasihan
2. Serikatmu tetapteguh, diatas alasan
Yaitu satu Tuhanmu, dan satulah iman
Dan satu juga baptisan, dan bapa satulah
Yang oleh mu sekalian, di puji disembah

5. Khotbah:
Bacaan: Yohanes 17:21
"...Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau..." Saya selalu berpikir bahwa sebuah tim olahraga yang bertaburan dengan bintang, pasti akan mendulang sukses dan menjadi juara. Memang tak dapat disangkal lagi bahwa kemampuan dan keahlian individu sangat berpengaruh pada potensi tim, namun ternyata itu bukan segala-galanya. Ada satu hal lagi yang lebih penting dari pada sekedar skill individu, yaitu kerja sama dalam tim! Bagi Anda yang suka sepak bola, mungkin masih membekas kuat di benak kita kejuaraan euro-champion pada tahun 2004. Sang juara bukanlah Italia, Inggris, Perancis, Belanda ataupun Spanyol yang bertebaran bintang, tapi justru Yunani yang sama sekali tidak diperhitungan dan dianggap sebagai tim underdog. Tidak salah juga jika tim Yunani sama sekali tidak diperhitungkan, sebab mereka memang tak punya pemain yang sangat menonjol, namanya saja kita hampirhampir tidak pernah mendengarnya. Lalu apa kunci kesuksesan mereka sehingga mereka berhasil mempecundangi tim-tim unggulan? Kerja sama tim! Untuk meraih kesuksesan, kerja tim yang solid mutlak diperlukan. Jika tak ada kerja sama yang bagus, ini akan sangat memperlambat kinerja keseluruhan. Menjadi tugas seorang pemimpin untuk membuat sebuah tim kerja yang solid, ini akan berdampak besar bagi kemajuan perusahaan. Saya cuplikan kata-kata bagus dari Michael Jordan, bintang NBA "Ada banyak tim dalam setiap olahraga yang memiliki pemain-pemain hebat tetapi tidak pernah memenangkan pertandingan. Seringkali, pemain-pemain tersebut tidak mau berkorban untuk kebesaran tim yang lebih baik. Hal yang menggelikan adalah, pada akhirnya keengganan mereka untuk berkorban hanya membuat tujuan-tujuan pribadi lebih sulit dicapai. Satu hal yang saya percayai adalah jika Anda berpikir dan mencapai sesuatu sebagai sebuah tim, penghormatan pribadi akan datang dengan sendirinya." Kerja sama tim itu kunci kesuksesan kita. Unsur individu memang penting, namun tidak ada yang bisa menggantikan kerja sama tim!Satu orang dapat menjadi unsur dalam sebuah tim, tetapi satu orang tidak dapat membuat tim.

6. Bernyanyi KJ: 388:1-2
1. S'lamat ditangan Yesus,aman pelukan-Nya,
Dalam teduh kasih-Nya, aku bahagia
Lagu merdu malaikat oleh ku terdengar
Dari ne'gri mulia, damai sejaht'ra
Ref: S'lamat ditangan Yesus aman pelukan-nya
Dalam teduh kasih-nya, aku bahagia
2. S'lamat ditangan Yesus, aku tent'ram penuh
Dosa pun dan cobaan, jauh dari diriku
Duka cemas dan bimbang, kuasanya tak tetap
Goda dan air mata akan se'gra lenyap
Ref: kembali ke reff

7. Persembahan:

8. Doa Penutup dan Doa Bapa Kami


~ Selamat beribadah Tuhan Yesus memberkati ~








TATA IBADAH PEKAN KELUARGA
Kamis, --------------- 2018
Thema : Persaingan

1. Panggilan Beribadah:
P : Bersyukurlah kepada Tuhan serukanlah nama-Nya
AK: Perkenalkanlah perbuatan-Nya diantara bangsa-bagsa
P : Bernyanyilah bagi-Nya bermazmurlah bagi-Nya
AK: Percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib
P : Bermegahlah didalam nama-Nya yang kudus
AK: Biarlah bersuka cita, orang-orang yang mencari Tuhan
P : Carilah Tuhan dan kekutan-Nya
AK: Carilah wajah-Nya

2. Pujian Menghadap Tuhan: Bernyanyi KJ. No. 29: 1-2
1. Andaiku punya banyak lidah, dan punya suara yang besar
Akan kugubah madah indah, dan kubernyanyi bergemar
Memuji kasih Allah ku, yang dicurahkan padaku
2. Janganlah diam hai jiwaku, dan kau ragaku bangunlah
Nyatakanlah kegiranganmu, atas berkat anugerah
Karena selama hidupku, akan kupuji Allahku

3. Berdoa ( salah seorang peserta ibadah)

4. Bernyanyi KJ: 407:1-2
1. Tuhan Kau gembala kami, tuntun kami, domba Mu
B'rilah kami menikmati, hikmat pengurbanan Mu
Tuhan Yesus Juru selamat kami ini milkimu
Tuhan Yesus Juru selamat kami ini milik Mu
2 Kau pengawal yang setia, kawan hidup terdekat
Jauhkan kami dari dosa panggil pulang yang sesat
Tuhan Yesus juru selamat, kami mohon b'ri berkat
Tuhan Yesus juru selamat, kami mohon b'ri berkat.
Atau Boleh dari BE: 211: 1-2
1. Tuhan Jesus siparmahan,au biru-biru na do
Jesus gok di ho rohangku, sai ihut tononku Ho
Sai ihut tononku Ho, Sai Ihuttononku Ho.
Jesus gok di Ho rohangku, sai ihuttononku Ho
2. Jumpa masa sori mago, Tung pangapul Ho gogo
Ia bogas Mi hu ida, Sai ihuttononku Ho
Sai ihuttononku Ho,sai Ihuttononku Ho
Ia bogas mi huida, sai ihuttononku Ho
5. Khotbah
Bacaan: I Korintus:9:24-27 Tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu lari begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!
Inilah waktu untuk berkompetisi. Di era global ini jarang dan hampir tak ada yang bisa menjadi pemilik pasar. Semua lobang sudah terisi oleh persaingan vang ketat. Jika tak siap dalam dunia bisnis yang makin kompetitif, bisa dipastikan kita akan tereliminasi. Hal yang sama juga berlaku bagi kita sebagai pekerja. Jika potensi kita tak berkembang, atau prestasi kita sangat minim stau produktifitas kerja kita jauh dari kata efisien dan efektif, maka siapsiaplah kita meninggalkan kursi dan sebaliknya mempersilakan orang lain yang akan menempatinya. Namun sungguh bijak seandainya kita tidak membenci situasi yang mengharuskan Kita untuk berkompetisi, apalagi harus membenci pesaing kita. Sebab ada banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan dalam sebuah kompetisi jika kita bisa menyikapi dengan sudut pandang yang positif.
Pertama, persaingan bisa menjadi bahan bakar untuk memacu perusahaan kita. Tanpa persaingan mungkin kinerja kita sangat biasa, namun setelah ada ancaman dari kompetitor mau tidak mau kita harus meningkatkan kinerja kita sebaik mungkin. Kalau tidak, kita akan mati! Kedua, persaingan membuat kita tahu posisi kita. Keberhasilan pesaing bisa kita gunakan sebagai barometer atau tolak ukur. Paling tidak kita akan tahu apakah kita jauh tertinggal, ataukah sekarang ini kitalah yang jadi pemimpin pasar. Jika kita menyadari bahwa kita tertinggal, maka kita akan dengan cepat mengejar ketertinggalan itu.
Ketiga, persaingan akan membuat kita makin kreatif dan inovatif. Tak ada istilah puas setelah mencapai titik tertentu. Bahkan ketika kita sudah menjadi market leader sekalipun, jika kita tak ingin posisi kita didahului oleh pesaing kita. Mau tidak mau kita akan terus berupaya untuk terus kreatif dan inovatif.
Keempat, khusus bagi Anda yang hidup dalam persaingan di antara sesama rekan kerja, yakinlah bahwa dengan adanya persaingan maka Anda bisa memunculkan potensi terbaik yang Anda miliki. Anda akan terus melakukan personal improvement karena sebuah persaingan. Bukankah persaingan itu baik? Tanpa persaingan maka kita akan menjadi statis, dan gagal mencapai yang terbaik dalam diri.

6. Bernyanyi: KJ.402: 1-2
1. Kuperlukan Juru s'lamat, agar jangan ku sesat
S'lalu harus kurasakan bahwa Tuhanku dekat
Ref: Maka jiwaku tenang, takkan takut dan enggan
Bila Tuhan ku membimbing, ku di jalan pun ten t'ram
2. Kuperlukan juru s'lamat, karena imanku lemah
Hiburan-Nya menguatkan, sungguh tiada bandingnya
Ref: Maka...

7. Persembahan

 8. Doa Penutup dan Doa Bapa Kami

~ Selamat beribadah Tuhan Yesus memberkati ~




TATA IBADAH PEKAN KELUARGA
Jumat, ----------------- 2018
Thema: Mengampuni Itu Indah

1. Panggilan Beribadah:
P : Bersorak-soraklah bagi Allah hai seluruh bumi
AK: Mazmurkanlah Nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian
P: Katakanlah kepada Allah betapa dahsyatnya karya-Mu
AK: Oleh kekuatan-Mu yang besar, saat ini kami dapat, seperti pada saat ini
P: Kami bersyukur kepada-Mu ya Tuhan, Jadilah kehendak-Mu ditengah keluarga kami
AK: Agar keluarga kami menjadi keluarga yang berjati diri, yang diwujudkan nyatakan dalam kehiduapan bergereja dan kehidupan sehari-hari

2. Pujian menghap Tuhan: Bernyanyi KJ. 355:1-2
1. Yesus memanggil mari seg'ra ikutlah jalan s'Imat baka
Jangan sesat dengar sabdaNya,hai marilah se'gra
Ref : Sungguh nanti kita 'kan senang,bebas dosa hatipun tentram
Bersama Yesus dalam terang dirumah yang kekal
 2. Hai marilah, kecil dan besar, biar hatimu girang benar
Pilihlah Yesus jangan gentar, Hai mari datang lah Ref: kembali ke reff

3. Berdoa ( salah seorang peserta ibadah)

4. Bernyanyi KJ: 64: 1-2
1. Bila Kulihat bintang gemerlapan, dan bunyi guruh riuh kudengar
Ya Tuhan ku tak putus aku heran, melihat ciptaan-Mu yang besar
Reff : Maka jiwaku pun memuji-Mu sungguh besar Kau Allahku
Maka jiwaku pun memuji-Mu sungguh besar Kau Allahku
2. Ya Tuhan ku pabila kurenungkan pemberian-Mu dalam penebus
Kutertegun bagi ku dicurahkan oleh putra-Mu darah-Nya kudus
Reff : Maka....

5. Khotbah:
Seorang guru membawa sekeranjang kentang ke dalam kelas. Setiap anak diminta untuk mengambil kentang. Masing-masing satu kentang untuk setiap orang yang pernah membuat mereka sakit hati. "Bawalah kentang ini kemanapun kalian pergi ke sekolah, ke gereja, mandi, tidur. Pokoknya jangan dilepas. Sampai minggu depan," perintah sang guru. Para murid melakukannya. Seminggu kemudia mereka kembali ke kelas. Sang guru bertanya, "bagaimana perasaan kalian dengan kentang itu?". Para murid komplain. Ada yang bilang tidak enak. Bikin repot. Kentangnya jadi busuk dan berbau tidak sedap. Pokoknya semua murid sangat terganggu dengan kehadiran kentang itu Gurunya berkata, "begitulah juga kalau kita terus memendam rasa sakit hati.  Kita sendiri yang tidak enak. Seperti membawa kentang-kentang itu.
Pernah dibuat kesal sama seseorang? Pernah merasakan sakit hati sampai ke ubun-ubun? Pada saat seperti itu, kata Kebencian? Amarah yang sampai ke ubun-ubun? Pada saat seperti itu, kata maaf  seolah lenyap dari kamus hidup kita. Tiada maaf bagimu. Seperti diungkap oleh grup  musik Chicago: "It's hard to say I'm sorry". Tidak jarang yang lintas malah keinginan untuk balas dendam. Bahkan kerap menggunakan istilah  yang rohani: "biar Tuhan yang membalas semua perbuatan jahatnya". Tuhan malah diajak "berkolusi" dalam dendam.
Kekecewaan, kesedihan, kebencian, amarah, dan sakit hati adalah rasa yang paling mengobrak-abrik jiwa. Ada sebuah ungkapan bernada canda dalam sebuah lagu: lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati. Sakit fisik seolah lebih mudah dihadapi daripada sakit batin. Konon orang lebih gampang kurus kalau makan hati.
Dalam doa Bapa Kami, ada bagian "dan ampunilah kami atas segala kesalahan kami, seperti kamu juga telah mengampuni yang bersalah kepada kami". Mungkin sakina terbiasanya orang mengucapkan doa Bapa Kami, termasuk bagian ini. Sehingga kurang terhayati. Terucap tanpa tekad untuk melaksanakan.
Tapi ada juga yang rada "sadar diri". Karena masih punya dendam dengan sesama, masih tidak bisa memaafkan saudara, kolega, atau sahabatnya, maka ketika diajak mengucapkan doa Bapa Kami, dan sampai pada bagian tersebut, ia memilih tidak menyebutkannya. Biar tidak merasa berdosa kepada Tuhan.
Padahal megampuni adalah panggilan kita orang percaya. Mengapa? Karena Tuhan sudah lebih dulu mengampuni. Dengan kata lain, kalau saat ini kita tidak dapat mengampuni orang lain, maka pastikan dulu diri kita adalah orang yang sama sekali tidak pernah berbuat dosa.

6. Bernyanyi: BE. No.227: 1-2
1. Jesus ngolu ni tondingku, Ho do haporusanki
Gok di Ho nama diringku, rodi na sa langkaki
2. Lam tangkas ma patuduhon, tu au on pangkop-kopmi
Asa i hu haluhunghon, Hot ma au di lambung -Mi
Atau boleh diganti dengan KJ.33: 1-2

7. Persembahan

8. Doa Persembahan dan Doa Bapa kami


~ Selamat beribadah Tuhan Yesus memberkati~










TATA IBADAH PEKAN KELUARGA
Sabtu, ---------------- 2018
Thema: Nilai Waktu

1. Panggilan beribadah:
P : Sungguh alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara hidup rukun
AK: Seperti minyak yang baik, diatas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan gunung Sion,
AK: Sebab kesanalah Tuhan memerintahkan berkat, kehidupan selama lamanya.

2. Pujian menghadap Tuhan: Bernyanyi KJ. 318: 1-2

1. Berbahagia tiap rumah tangga, dimana Kaulah tamu yang tetap
Dan merasakan tiap suka cita, tanpa Tuhan -nya tiadalah lengkap
Dimana hati girang menyambut Mu, dan memandang Mu dengan berseri
Tiap anggota menanti sabdaMu, dan taat akan Firman yang kau beri
2 Berbahagia rumah yang sepakat, hidup sehati dalam kasihMu
Serta tekun mencari hingga dapat damai kekal didalam sinar Mu
Dimana suka duka kan dibagi, ikatan kasih semakin teguh
Diluar Tuhan tidak ada lagi, yang dapat memberi berkat penuh

3. Berdoa ( salah satu peserta ibadah)

4. Bernyanyi KJ. 392: 1-3
1. Kuberbahagia yakin teguh, Yesus abadi kepunyaan ku
Aku waris-Nya ku ditebus, ciptaan baru Rohul Kudus
Ref : Aku bernyanyi bahagia, memuji Yesus selamanya
Aku bernyanyi bahagia, memuji Yesus selamanya
3. Aku serahkan diri penuh, dalam Tuhan ku hatiku teduh
Sambil menyongsong kembalinya,kudiliputi anugerah
Ref : Aku bernyanyi...

5. Khotbah:
Bayangkan ada suatu bank yang setiap pagi memasukkan uang sejumlah Rp 86.400 ke rekening Anda. Anda harus menggunakan seluruhnya hari itu, tak ada saldo yang tersisa hari itu. Setiap malam bank itu menghapus saldo yang tersisa. Apa yang Anda lakukan? Tentu saja Anda berusaha menggunakan seluruhnya agar tak tersisa sesen pun!!! Kita semua memiliki bank seperti itu. Namanya adalah WAKTU. Setiap pagi, bank itu memberikan pada kita 86.400 detik. Setiap sore seluruhnya dihapus. Bila Anda tidak memanfaatkannya maka Anda mengalami kerugian. Anda tidak bisa meminta sisa yang tidak Anda manfaatkan. Setiap pagi jumlah yang sama ditambahkan lagi ke rekening Anda, setiap malam semuanya dihapus. Berapa pun yang tersisa Anda tidak dapat menggunakannya lagi esok. Anda harus hidup dari apa yang tersedia hari ini akanlah sebanyak-banyaknya untuk kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesan Anda! Jarum jam berjalan terus. Manfaatkan sebaik-baiknya hari ini Setiap waktu memiliki nilai!!
·         Untuk mengetahui nilai SATU TAHUN, tanyakan pada mahasiswa yana acogl dalam ujiannya.
·         Untuk mengetahui nilai SATU BULAN, tanyakan pada ibu yang melahirkan secara dini.
·         Untuk mengetahui nilai SATU MINGGU, tanyakan pada editor majalah mingguan.
·         Untuk mengetahui nilai SATU JAM, tanyakan pada orang yang sedang menunggu kedatangan kekasihnya.
·         Untuk mengetahui nilai SATU MENIT, tanyakan pada orang yang baru saja ketinggalan kereta.
·         Untuk mengetahui nilai SATU DETIK, tanyakan pada orang yang baru saja terhindar kecelakaan.
·         Untuk mengetahui nilai SATU MILIDETIK, tanyakan pada atlit yang baru saja memenangkan medali pada pertandingan olimpik.
Hargailah setiap saat yang Anda miliki. Dan hargailah lebih bila Anda dapat berbagi dengan orang yang khusus bagi Anda. Ingat waktu tidak akan menunggu siapapun. Kemarin adalah sejarah. Esok adalah misteri. Hari ini adalah anugerah. Hari ini adalah anugerah, oleh karena itu disebut "present" (yang bisa berarti "kini" atau "hadiah"). Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. (Matius 6:34).

6. Bernyanyi KJ. 421: 1-2
1. Yesus saja kawan ku musafir, dengan Yesus jalan ku senang
Jalan dan tujuan dalam Dia, Hati dan hidup ku pun tenang,
hati dan hidupku pun tenang,
2. Dijalanku menempuh lautan, Melintasi gunung dan lembah
Jika bukan Dia memandu ku, Tak kucapai rumahNya baka
Tak kucapai rumahNya baka

7. Persembahan

8. Doa persembahan dan Doa Bapa Kami

~ Selamat beribadah Tuhan Yesus memberkati~









PESAN PEKAN KELUARGA
MAJELIS GKPI JEMAAT KHUSUS CILIWUNG BANDUNG
“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan"
Josua, 24: 14

Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik, Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. (Maz.136:1) Itulah ungkapan yang patut kita dengungkan de hati dan kehidupan kita, khususnya pada saat ini dimana kita ada seperti saati Kita patut merenungkan akan perjalanan kehidupan kita, bagaimana tuntud Tuhan terhadap kita, kita dapat melangkah dalam pergurulan kehidupan di tenoch negara yang ditimpa bergabai krisis.
Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan. Ayat ini adalah merupakan bagian dari kata-kata perpisahan Yosua dengan bangsa Israel dimana seperti yang kita ketahui, bagaimana Tuhan menuntun bangsa tersebut keluar dari perbudakan di tanah Mesir, demikian juga bagaimana Yosua melanjutkan tongkat kepemimpinan dari Musa untuk melanjutkan perjalanan bangsa tersebut ketanah yang penuh madu dan susunya.
Josua dengan tegas mengatakan bahwa saya dan seisi rumahku akan beribadah kepada Tuhan Allah Israel, bukan kepada Allah lain. Dimana dalam hal ini Yosua adalah pemimpin yang tidak diktator melainkan demokratis hal ini terlihat dari sikapnya yang memberikan pilihan kepada bangsa tersebut untuk memilih ilah yang disukai oleh bangsa tersebut. Untuk itulah ayat ini haruslah kita formulasikan dengan keluarga kita saat ini, bahwa kita dan anggota (anak dan penghuni rumah kita) hanya kepada Tuhan lah kita beribadah.
Ditengah-tengah gejolak pergerakan sosial yang sedang melanda bangsa kita saat ini, kita selaku umat Kristen yang merupakan umat minoritas, sering mengalamai kesulitan, dan penderitaan, yang kadang kala membuat kita tawar hati. Sama seperti bangsa Israel baru sebentar di tinggalkan oleh Musa, bangsa tersebut sudah menyembah ilah lain. Selain itu saat ini tanpa dapat kita bendung bahwa globalisasi telah mempengaruhi semua aras kehidupan, tanpa kita bisa melawannya. Tidak rahasia lagi telah banyak terjadi didalam rumah tangga kristen bahwa antara bapa dan ibu tidak satu persekutuan lagi (satu gereja), antara ayah dan ibu dan anak-anak tidak lagi satu ibadah yang sama. Khususnya kalangan anak muda, lebih senang untuk beribadah di mall, ketimbang bersekutu di gereja, dan bahkan sudah banyak generasi Kristen yang pindah agama lain (menjadi murtad). Selain itu jika kita melihat dampak negatif yang ditimbulkan oleh kemajuan teknologi di bidang komunikasi, yang menyebabkan terjadinya dekandensi moral, seperti yang dialami bangsa kita saat ini, untuk itu peran kepala keluarga sangat di butuhkan.
Oleh sebab itu jika memperhatian istilah dibawah ini adalah masih sangat relevan didalam pembangunan jati diri kita yaitu:
1. When Wealth is lost, Nothing is lost (apabila kita kehilangan banta sebanarnya tidak ada yang hilang)
2. When Health is lost, somesthing is lost (apabila kita kehilangan kesehatan, ada sesuatu yang hilang)
3. When Character is lost, everythings is lost (apabila kita kehilangan watak, segalanya akan hilang)
Di dalam perjanjian Lama banyak keluarga yang dapat kita jadikan contoh di Dalam kesetiaan dan ketaatan terhadap Tuhan misalnya perjalanan kehidupan Ruth dan Mertuanya Naomi. Jika kita kembali kebelakang, apa yang tertulis di Dalam Ruth 1:16 " Allahmulah Allahku", yang merupakan perkataan yang keluar dari lubuk hati seorang perempuan yaitu Ruth, yang memiliki kesetiakawanan yang amat dalam terhadap penderitaan yang amat dahsyat, yaitu Naomi. Mereka adalah dua ibu yang berasal dari dua latar belakang sosial budaya dan agama yang berbeda. Tetapi mereka di persekutukan dengan amat mendalam dalam pergumulan hidup yang memilukan. Dalam diri Naomi yang amat tabah, menghadapi penderitaan yang bertubi-tubi, Ruth menemukan penampakan diri dan kasih Allah. Ya,ia menemukan Allah, yaitu Allahnya Naomi lalu runtuhlah tembok-tembok pemisah diantara keduanya. Allahmulah Allahku, berarti ada suatu tali ikatan yang jauh lebih kuat dan dalam, yaitu dalam ikatan kasih Allah, dibandingkan dengan tali yang rapuh primordialisme dalam berbagai bentuk dan penampakannya.
Dalam konteks kehidupan kita sebagai angota jemaat, sebagai majelis Resort dan sebagai BPH Resort Khusus, Allahmu adalah Allahku, berarti suatu kesempatan yang besar yang dapat merubuhkan tembok-tembok pemisah untuk memasuki suatu persekutuan, sehingga tidak akan terdapat kelompok-kelompok didalam persekutuan dalam suatu jemaat sehingga Doa Syafaat Yesus "Supaya mereka menjadi satu" akan terwujud didalam kehidupan berjemaat.
Untuk mewujudkan jemaat yang kokoh dan kuat, kita harus menjadikan pribadi yang siap menjadi panutan dan berkarakter. Untuk itu pembentukan karakter adalah proses tanpa henti "Character Building is Never Ending Process", yang kita dapat melalui pendidikan keagamaan dan persekutuan. Ada ungkapan yang mengatakan:
1. Mengapa repot-repot mencari panutan, lebih baik berani menjadi panutan
2. Mengapa repot-repot mengubah orang lain, ternyata yang diubah adalah justru diri kita sendiri 3. Mengapa repot-repot menyuruh orang lain berbuat baik, lebih baik kita mulai dari diri kita sendiri
Karena itu pesan pada Pekan Keluarga tahun ini adalah :
1. Hendaklah saudara-saudara menjadi pelopor-pelopor pendamaian dilingkungan kehidupan saudara-saudara. Jauhilah kekerasan dan upayakanlah pendamian dengan semua orang. "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu,hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang" (Rom 12:18).
2. Hormatilah kebebasan setiap orang untuk mewujudkan jatidirinya sebagai manusia. Junjung tinggilah harkat dan martabat sesama manusia, sebab setiap orang mempunyai kedaan sosial, ekonomi, budaya yang berbeda.
3. Hendaklah bertekun dalam doa, untuk memohon tuntunan Tuhan didalam perjalanan kehidupan keluarga, jemaat/gereja, bangsa dan negara.
4. Tingkatlah persekutuan dalam keluarga sebagai suatu cara untuk membentengi putra/putri dan seisi rumah kita dari dampak negatif globalisasi.

Selasa, 02 April 2019

Khotbah Minggu Estomihi 03 Maret 2019 Mat 16:13-20 Yesus Mesias Anak Allah Yang Hidup


Peristiwa ini terjadi pada momen yang krusial. Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem di propinsi Yudea (bdk. 19:1) untuk menggenapi rencana keselamatan. Ia sebentar lagi akan menghadapi penolakan dan penyaliban dari pihak orang-orang Yahudi (13:21). Di tengah situasi ini Ia ingin memastikan bahwa murid-murid-Nya benar-benar mengetahui siapa Dia dan (16:13-20) dan sejauh mana mereka harus berkomitmen (16:21-28). Siapakah si dia itu?  Mungkin tidak sulit untuk menjawabnya melalui berbagai pengetahuan atau curriculum vitae tentang seseorang itu. Apa lagi bila mengetahui orang yang terkenal di jaman sekarang ini tidak sesulit jaman dulu. Dengan kemajuan teknologi internet, facebook dll semua bisa dicari. Namun bila ditanya siapakah seseorang itu secara dalam, mengetahui apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, inilah yang sulit. Seperti itulah gambaran tanya jawab antara Yesus dengan para muridNya.
Perjalanan dari Galilea ke Yudea kali ini menyediakan waktu yang berharga bagi murid-murid. Orang banyak tidak mengikuti Yesus. Hanya murid-murid dan guru mereka. Pengajaran bisa lebih intensif diberikan.
Di ayat 13-17 Tuhan Yesus mengajarkan beberapa hal penting tentang pengakuan iman.
Pertama, pengakuan harus bersifat pribadi. Pada awal pembicaraan Yesus menanyakan pendapat publik tentang diri-Nya (ayat 13 “kata orang siapakah Aku ini?”). Dari informasi yang didengar murid-murid-Nya, pandangan publik tentang Yesus sangat beragam (ayat 14). Yesus lalu memberikan pertanyaan yang lebih pribadi: “tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (ayat 15). Dalam teks Yunani, kata “kamu” (lit. “kalian”) diberi penekanan dengan cara dimunculkan secara eksplisit dan diletakkan di bagian depan. Ini menyiratkan bahwa Tuhan Yesus ingin menegaskan pentingnya pengakuan secara pribadi.
Kedua, pengakuan harus benar. Pandangan banyak orang menyiratkan kerancuan konsep bangsa Yahudi tentang Mesias dan/atau akhir zaman. Herodes berpikir bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang bangkit dari kematian (14:1). Sebagian menduga bahwa Yesus adalah Elia yang akan datang (16:14) seperti dinubuatkan oleh Maleakhi (Mal 4:5; bdk. Yoh 1:19-21), padahal sebelumnya Yesus memberitahu bahwa Elia yang akan datang adalah Yohanes Pembaptis (11:14). Yang lain mengira Yesus sebagai Yeremia, karena beberapa aspek pelayanan keduanya mirip dan dalam salah satu tulisan kuno Yahudi disebutkan bahwa Yeremia dan Yesaya akan datang kembali sebelum akhir zaman. Walaupun pandangan-pandangan ini tidak ada yang negatif terhadap Yesus, tetapi Yesus tidak hanya mencari sikap positif. Walaupun Yesus disamakan dengan tokoh-tokoh Alkitab yang ternama, tetapi Ia seharusnya bukan dalam deretan manusia. Ia adalah Anak Allah. Walaupun Yesus dalam taraf tertentu adalah nabi (13:57), tetapi Ia lebih daripada sekadar nabi. Kalau Yohanes Pembaptis sebagai pembuka jalan bagi diri-Nya saja sudah “lebih daripada nabi” (11:9) dan “nabi terbesar” (11:11, 13), apalagi Yesus sendiri yang kepada-Nya Yohanes mempersiapkan jalan! Hanya pengakuan kepada Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah yang membawa keselamatan (Yoh 20:30-31).
Ketiga, pengakuan yang benar hanya dimungkinkan oleh Allah. Petrus bukan hanya sebagai orang yang “beruntung” atau “pandai” karena tebakannya tentang Yesus tepat. Ia “berbahagia” (ayat 17, LAI:TB). Hampir semua versi Inggris dengan tepat memilih terjemahan “diberkati”. Bahagia adalah tentang perasaan. Diberkati adalah kenyataan. Kebahagiaan sejati muncul dari kenyataan yang benar.
Terlepas dari seberapa jauh Petrus bisa memahami ucapannya (bdk. 16:22-23), pengakuan itu pada dirinya adalah benar dan berasal dari penyataan Bapa (ayat 17b). Manusia berdosa tidak mungkin memberi pengakuan yang benar dan sungguh-sungguh jikalau tidak ada intervensi Allah dalam diri orang itu (11:25-27).
Janji Tuhan yang teguh (ayat 18-19)
Petrus muncul dengan pernyataan yang 100 % benar dan sebenarnya dia sungguh mengenal Yesus. Petrus mengatakan : Engkau adalah  Mesias, Anak Allah yang hidup”. Bila kita ingin kembali ketika pemilih murid-murid pertama di Matius 4:18-22, Yesus menjadikan Petrus murid yang pertama. Tanpa ada bantahan dan pertanyaan, Yesus mengatakan : Mari dan ikutlah Aku? Akhirnya Petrus dan Andreas serta Yohanes dan Yakobus mengikuti Yesus. Pernyataan Petrus membuat dia menjadi Murid yang utama bagi Yesus, bahkan Yesus menetapkan atas Petrus gereja awal di dunia ini. “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya”, “kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga, apa yang kauikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga”. Betapa luarbiasanya kuasa yang diberikan Yesus kepada Petrus di situ.
Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Yesus terhadap Petrus tentang terbentuknya gereja bukanlah makna harafiah. Tetapi Yesus mau menjelaskan bahwa melalui pelayanan Petrus dan Iman kepada Yesus akhirnya munculnya jemaat pertama. (bandingkan di Kisah 2 tentang Pentakosta). Dari pengakuan Petrus itulah makna Gereja yang sesungguhnya yaitu kumpulan orang-orang percaya yang dipersatukan di dalam nama Yesus Kristus. Gereja tidak hanya gedungnya (fisiknya) tetapi gereja juga adalah persekutuan orang-orang percaya. Yesus pernah mengatakan : barang siapa berkumpul dua atau tiga orang di dalam namaKu disitulah aku berada.
Pertanyaan yang sangat penting di jaman sekarang ini adalah apakah kita masih berani menyaksikan nama Kristus di manapun kita berada? Pengakuan yang dimaksudkan bukanlah hanya sebatas untaian kata-kata yang indah, atau hanya pemanis di bibir saja. Justeru pengakuan itu lahir dari perenungan yang sangat dalam dan kesaksian hidup yang terus menerus di dalam hidup kita. Kalau kita berani menyaksikan bahwa Yesus itu adalah Messias di dalam hidup kita, maka sejalan atau selaras hidup kita juga harus mengalami transformasi ke arah Kristus yang kita imani itu. Kekristenan kita saat ini sudah perlu dipertanyakan kembali apakah kita benar-benar mengatakan seperti Petrus? Atau mungkinkah kekeristenan kita seperti mercu suar yang hanya berdiam di tempat dan tidak beranjak ke mana-mana? Melalui Firman Tuhan ini, Iman kita dipertanyakan kembali : Siapakah yesus itu sesungguhnya di dalam hidup kita?
Tugas berat yang menanti gereja (ayat 20)
Pada waktu di Kaisarea Filipi Tuhan Yesus melarang murid-murid untuk memberitahukan kepada orang-orang lain bahwa Ia adalah Mesias. Mengapa? Para murid sendiri belum benar-benar memahami apa maksud kemesiasan-Nya (16:21-23). Ia juga belum memberikan bukti tentang hal itu, yaitu kematian dan kebangkitan-Nya (16:20). Lagipula, banyak orang Yahudi memiliki pengharapan mesianis yang sangat rancu. Tuhan Yesus tidak ingin menambahkan kerumitan ini sebelum Ia memberikan bukti untuk kemesiasan-Nya.
Kini Tuhan Yesus sudah mati dan bangkit. Bukti-bukti yang meyakinkan bahwa Ia adalah Mesias telah diteguhkan. Kita pun semakin mengerti Mesias seperti apakah Dia. Melalui kitab suci kita benar-benar tahu bahwa Ia adalah pembebas dari dosa, bukan dari penjajahan militer atau politis kekaisaran Romawi.
Karena kita berada sesudah kebangkitan Tuhan Yesus, kita tidakboleh menyembunyikan berita gembira bahwa Yesus adalah Mesias.Sebaliknya, kita didorong untuk terus memberitakannya. Siapkahkita menjadi pemberita bagi Dia? Siapkah kita dilibatkan oleh Allahdalam pelebaran kerajaan-Nya? Relakah kita membayar harga bagiperkembangan gereja di muka bumi? Ingatlah, gereja pasti teguh,karena didasarkan pada janji Tuhan yang teguh. Amen


Kamis, 28 Maret 2019

Khotbah Keb. PAK 6 Maret 2019 Maz 121:1-8 TUHAN PENOLONG YANG SETIA Menjaga Hidup Kita

1.   Pet 5:6-7; Ams 3:5-6; Rm 8:31
Mazmur 121 ini merupakan "Nyanyian Ziarah". Salah satu Mazmur yang dipakai oleh para peziarah dalam perjalanan mendaki Gunung Sion selama pesta-pesta besar di Bait Suci. Hingga hari ini Mazmur ini juga dipakai sebagai mengawali sebuah perjalanan.
Dalam Mazmur sering disebutkan bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang hidup. Ada ungkapan bijak yang mengatakan : "Bukan Kesulitan, pergumulan, penyakit, persoalan, atau pahitnya hidup yang membuat hidup kita menjadi ketakutan, tapi Ketakutanlah yang membuat kita semakin sulit,ketakutanlah yg membuat kita bergumul, ketakutanlah yg membuat kita semakin merasakan pahitnya hidup. Menjalani kehidupan ini tanpa disadari seringkali kita menjadi kuatir, kita menjadi cemas, kita menjadi takut, saat kita diperhadapkan kepada persoalan hidup yang kita hadapi. Ini yang sering terjadi dalam kehidupan orang percaya. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa kita menjadi takut bila menghadapi persoalan hidup?. Yang membuat kita menjadi takut adalah, karena pandangan/focus/pikran kita hanya diarahkan kepada persoalan hidup yang kita hadapi, dan itulah yang membuat kita merasa tidak sanggup menghadapinya. Jadi intinya adalah saat pergumulan/masalah/kesulitan itu datang, semuanya tergantung kepada apa yang kita pikirkan..
Jika masalah itu datang, bagaimana hati dan pikiran kita menyikapinya, atau dengan kata lain berpusat ke arah mana pola pikir atau pandangan kita.. Apakah berpusat kepada masalah itu sendiri atau berpusat kepada solusi atau jalan keluar dari masalah itu sendiri ??
Yang membuat hidup yang sulit semakin sulit, adalah tatkala kita hanya terfokus kepada kesuilitan, kesulitan dan kesulitan itu sendiri. Oleh sebab itu, dalam menghadapi persoalan hidup, janganlah memandang pada apapun persoalan hidup yang sedang kita hadapi saat ini, karena saat kita memandang kepada persoalan tersebut maka, kita akan takut, dan mata hati kita akan ditutupi oleh besarnya persoalan itu, sehingga kita tidak dapat melihat lagi bahwa sesungguhnya apapun persoalan yang kita hadapi, tetap ada jalan keluarnya. Dalam menghadapi persoalan hidup ini, ubahlah cara pandang kita. Saat persoalan itu datang, kepada siapa atau kearah mana kita mengarahkan pandangan.. Pemazmur dalam perikop ini mengarahkan kita untuk terfokus kepada solusi dan pandangan kita ke arah yang tepat dan benar saat masalah itu menghampiri kita.
Ayat 1 : Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Kenapa pemazmur harus ke gunung2 melayangkan mata ??Apakah hanya sebatas keindahan syair atau bait puisi dari perikop ini?Pemazmur melayangkan mata ke gunung2… karena saat itu gunung2 lah diyakini bangsa Israel sebagai tempat kediaman para dewa … makanya hampir disetiap gunung dapat ditemukan kuil-kuil utk memuja para dewa. Bukan hanya Israel ya, dalam Mithologi Yunani, orang Yunani juga meyakini bahwa tempat kediaman para dewa adalah di gunung Oympus .. seperti : Zeus, Poseidon, Hera, Hades, dsb. Orang Batak juga, Pusuk Buhit, diyakini sebagai tempat mula jadi na bolon.
Ketika Daud mengatakan bahwa ia melayangkan mata ke gunung2, seolah olah ingin memperbandingan kekuatan dari dewa2 yang menghuni gunung2 dengan kekuatan daripada Tuhan yang menciptkan langit dan bumi.  Pertanyaan sang pemazmur ini lah yang juga harus kita miliki sebagai orang percaya. Ketika pemazmur merasakan beban yang berat… yang seketika ada dalam benaknya adalah : siapa atau dari mana ia akan mendapatkan pertolongan ? Pertanyaan berikut adalah : kepada siapa kita minta pertolongan ?? Di ayat 2 ;dengan tegas ia mengatakan bahwa pertolongannya sematamata adalah daripada Tuhan yang menjadikan langit dan bumi. Bagi pemazmur , Tuhanlah yang menjadikan langit dan bumi, maka segala sesuatu yang ada di bumi ini ada dalam kendali Tuhan. Dalam ayat 5 tadi pemazmur mengumpamakan Tuhan ibarat  penjaga Israel. Istilah “penjaga” dalam ayat ini menggunakan bahasa Ibrani  shaw-mar’ Shaw-mar biasanya dikenakan kepada orang yang : “melindungi; merawat; memperhatikan keperluan dan kebaikan dari pihak/benda yang dijaga.” Ketika Pemazmur menyatakan bahwa TUHAN adalah “penjaga” atau “shamar”, itu berarti bahwa dalam perjalanan hidup kita, Ia pasti memelihara iman kita sehingga kita tidak binasa; Ia memelihara kehidupan rohani kita sehingga kita tidak kehilangan kehidupan kekal kita; dan Ia memelihara dengan memperhatikan apa yang menjadi keperluan dan kebaikan kehidupan spiritualitas kita. Dalam ayat 5-6 ini, Pemazmur menyatakan bahwa TUHAN itu naungan kita. Dalam bahasa Ibraninya, kata “naungan” ini juga berarti “bayangan”. Bayangan yang dimaksud disini adalah bayangan tempat kita berlindung dari teriknya sinar matahari di siang hari atau bayangan tempat kita bersembunyi dari cahaya rembulan di malam hari. Contoh untuk memperjelas adalah sebagai berikut: Di siang hari yang terik, kita sering berusaha berlindung dari teriknya sinar matahari dengan berdiri di atas bayangan pohon atau bangunan.  Kalau pemazmur dalam ayat 5 – 6 ini menganggap Allah sebagai naungan tempat berlindung, hal Ini hendak menunjukkan bahwa Allah akan menjadi teman seperjalanan kita. Ia akan mendampingi kita dan berdiri di samping kita, sampai kita mencapai tujuan perjalanan kita, yaitu kehidupan kekal. Menjadi pengikut Kristus bukan berarti kita lepas dari masalah kehidupan dan kita dapat hidup nyaman tanpa kesusahan. Justru kita akan diuji dengan berbagai masalah untuk tetap berpegang erat dan berdiri teguh di atas kebenaran Firman Tuhan. Pemazmur mengalami berbagai keadaan yang sangat memberatkan hidupnya sehingga dia mencari pertolongan agar dapat keluar dari masalahnya. Tetapi dia tidak menemukan satu pihakpun yang dapat menolong dia. Pertolongan yang dapat dia temukan hanyalah pertolongan dari Tuhan.

Di awal perikop ini, tadi saya katakana bahwa : "Bukan Kesulitan yang membuat kita takut tapi Ketakutan yang membuat kita sulit, Oleh karena itu jangan pernah mencoba untuk menyerah & jangan pernah menyerah untuk mencoba, maka jangan katakan pada Allah aku punya masalah, tetapi katakan pada masalah aku punya Allah penolong yang setia seperti.Filipi 4 : 4 – 6 mengatakan : "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!  Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!  Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur."  Marilah kita Tetap mengandalkan Tuhan dalam segala perkara. Marilah kita Berharap sepenuhnya kepada Tuhan. Janji Tuhan adalah ya dan amin. Selama kita menjadikan Tuhan sebagai penolong hidup kita, maka kita akan melihat penggenapan setiap janji Firman Tuhan dalam hidup kita. Amin. 

Khotbah Keb. Rumah Tangga Yosua 5:13-15 Kemenangan Bagi Orang Percaya

Bagi bangsa Israel, kota Yerikho adalah salah satu penghalang untuk mencapai tanah Perjanjian.  Yerikho adalah gambaran masalah yang besar.  Pada waktu itu Yosua sedang berada dekat kota itu.  Dengan kata lain Yosua sedang dekat dengan permasalahan.
     Meski berada dalam masalah besar Yosua tidak berkecil hati dan takut, mata rohaninya tetap tertuju kepada Tuhan.  Dengan penuh keyakinan ia berpegang kepada janji Tuhan:  "Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa."  (Yosua 1:3). 
Setelah menyeberangi sungai Yordan, dan memasuki Kanaan, Kota pertama yang harus mereka hadapi adalah Kota Yerikho. Kota itu dengan tembok yang kokoh telah menutup rapat-rapat semua akses keluar masuk (6: 1) karena telah mengetahui rencana penyerangan bangsa Israel. Sebelum melakukan penyerangan tentu ada strategi dalam penyerangan, dan diberitakan ketika Yosua dekat Yerikho, dia melayangkan pandangannya yang mungkin untuk mengetahui cara untuk memasuki Yerikho.
Namun, didepannya dilihat seorang laki-laki dengan pedang yang terhunus di tangannya. Reaksi Yosua adalah mencari tahu orang itu siapa, dengan bertanya“Kawankah engkau atau lawan”. Namun jawab orang itu bukan kedua-duanya, tetapi dia adalah Panglima Balatentara Tuhan.
 Saat berada di dekat Yerikho  (masalah)  ini Yosua justru mengalami perkara-perkara yang ajaib, di mana ia bertemu dengan Panglima Balatentara Tuhan.  "Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: 'Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?'"  (ayat 14b).  Yosua belajar untuk peka akan suara Tuhan, dan ia juga belajar taat melakukan kehendakNya.  "'Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri itu kudus.' Dan Yosua berbuat demikian."  (Yosua 5:15).
     Ketika dalam permasalahan yang berat kita seringkali tidak peka akan suara Tuhan dan memilih untuk tidak taat kepadaNya karena kita merasa bahwa perintah Tuhan itu tidak masuk di akal dan aneh.  Telinga kita pun tidak kita arahkan kepada Tuhan, tapi kepada suara Iblis yang membuat kita makin takut, kuatir dan cemas, padahal Tuhan telah berjanji,  "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."  (Ibrani 13:5b).  Dalam keadaan yang demikian akhirnya ada banyak orang memilih untuk meninggalkan Tuhan Yesus dan menggadaikan keselamatan demi mendapatkan materi/kekayaan yang berlimpah, jabatan, pasangan hidup atau pertolongan instan dari kuasa-kuasa gelap.  Padahal kita tahu bahwa semua yang ada di dunia ini adalah sementara belaka.  Apa pun bentuknya, perintah Tuhan itu demi kebaikan kita.  Ketika Yosua taat melakukan apa yang diperintahkan Tuhan, janji Tuhan itu pun digenapiNya.  Yerikho akhirnya dapat ditaklukkan, artinya kemenangan besar menjadi milik Yosua dan bangsa Israel.
Yang dimaksud Panglima bala tentara TUHAN/ The Commander of the army of the LORD , adalah Malaikat YHVH (lihat ayat 15 untuk menunjuk kekhusussannya). 
Malaikat YHVH adalah Malaikat khusus yang dibedakan dengan Malaikat biasa. Karena itu ada beberapa penafsiran yang mengatakan bahwa Malaikat YHVH adalah bentuk teofani dari Allah yang Esa yang mempunyai fungsi menyatakan diri kepada manusia dan sering menyatakan diri dalam bentuk malaikat ataupun rupa manusia. 
Sebagaimana YHVH telah berbicara kepada Yosua untuk mempersiapkan dirinya terhadap peristiwa besar yang pertama – yaitu penyeberangan sungai Yordan, demikian pula Dia kini tampil kepada Yosua untuk memberikan kepastian serta petunjuk gua menghadapi peristiwa besar yang kedua, yaitu penaklukan Kanaan. Menyadari pentingnya penaklukan Yeriko bagi orang Israel (sebab mereka tidak mungkin mundur lagi) Yosua berkeputusan untuk mengintai sendiri benteng kota tersebut (silahkan baca selengkapnya Yosua 5-13 s/d 6:5).
Pelajaran apa yang dapat kita dalami dari nas ini?
1.      Sebelum Yosua dan pasukannya melakukan penyerangan atas kota Yerikho, Tuhan sudah terlebih dahulu tampil di depan dengan pedang yang sudah siap melakukan pertempuran. Yosua diingatkan oleh Tuhan, bahwa Tuhan adalah panglima perang yang akan menuntun mereka meraih kemenangan. Mereka diyakinkan, bahwa Tuhan sudah siap tampil di depan memberikan kemenangan. Seberat apapun Permasalahan Hidup kita...Percayalah Tuhan Yesus Selalu Tampil di depan asal kita Percaya. Amsal 3:5; 1 Pet 5: 6-7.
2.Dalam menjalani hidup ini, adalah wajar sebelum melakukan sesuatu kita membuat strategi dan rencana yang matang. Namun kita harus percaya, sehebat apapun kita berencana dan melakukan berbagai strategi dalam kehidupan ini, tetap rancangan Tuhan adalah rancangan terbaik dalam hidup ini. Karena belum tentu yang kita rancangkan itu adalah yang terbaik bagi diri kita, sebagaimana tertulis di Amsal 16: 9 “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya”.
Kita harus yakin dan percaya bahwa dalam setiap apapun yang akan kita hadapi dan jalani, Tuhan sudah terlebih dahulu tampil di depan yang menuntun langkah kita, dan kita percaya apapun rencana Tuhan adalah yang terbaik bagi hidup kita.
3.      Mempelajari kekuatan dan kelemahan tentu hal yang wajar untuk strategi mendapatkan kemenangan. Namun Tuhan meneguhkan Yosua tidak terfokus pada lawan yang akan dihadapinya, tetapi focus pada penyertaan dan kuasa Tuhan yang besar. Rm 8:31
Terkadang dalam menghadapi persoalan hidup, kita hanya berfokus pada masalah, sehingga yang terjadi adalah menyerah sebelum berperang, menimbulkan keragu-raguan ataupun terlalu menganggap sepele pada setiap persoalan.
Saat ini, kita hendak diingatkan oleh firman Tuhan, bahwa sebesar atau sekecil apapun persoalan yang hendak kita hadapi tetaplah mempercayakan hidup kita kepada kuasa penyertaan Tuhan. Mempercayakan diri pada pimpinan dan bimbingan Tuhan adalah sikap yang bijaksana. Sebesar apapun masalah, takutlah akan Tuhan, sujudlah kepada Tuhan bukan sujud dan takut pada masalah.

Amen RHL. Tobing

Khotbah Keb. R. Tangga 12-13 Maret 2019 Gal 1 :11-18 Hidup Bagi Injil Kristus

Rasul Paulus menghasilkan buah pemberitaan Injil dengan mendirikan sebuah jemaat di Galatia (Kis. 13-14). Seharusnya Rasul Paulus dipuji dan dihargai karena hal itu, tetapi justru kritikanlah yang muncul. Setelah Rasul Paulus mendirikan jemaat di Galatia, berita Injil yang dia sampaikan serta jabatan kerasulannya diserang oleh kelompok-kelompok Yahudi yang berusaha mengacaukan iman jemaat Galatia. Kelompok Yahudi itu berusaha memaksa jemaat di Galatia untuk disunatkan dan menerima Taurat Musa sebagai syarat agar mereka diselamatkan dan diterima dalam persekutuan orang percaya (7). Mereka juga menuduh Paulus sebagai orang yang tidak termasuk kelompok rasul yang asli, dan karena itu tidak memiliki wibawa rasuli (1, 7, 12). Maka menurut mereka, pemberitaan Paulus menyimpang dan tidak sah (9).Tentu saja bagi Paulus, tuduhan ini terasa mengganggu proses pemberitaan Injil yang dia lakukan. Apalagi jemaat Galatia yang baru bertumbuh sangat mudah memercayai hal-hal yang masuk akal (6-7). Oleh sebab itu, Rasul Paulus mematahkan kritikan dan keraguan yang ditujukan kepadanya dengan menegaskan bahwa Injil yang dia beritakan bukanlah Injil yang berasal dari pengajaran manusia (11-12), melainkan Injil yang diterima melalui penyataan Yesus Kristus (12). Kristus sendirilah yang memilih dan memerintah dia untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain (15-16). Rasul Paulus dengan tegas memproklamirkan bahwa Injil yang dia beritakan adalah kebenaran (20) dan jabatan kerasulannya dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah (1) dan manusia (18-19).
"Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya."  Galatia 1:23 Sering kita jumpai banyak pelayan Tuhan yang lebih mengutamakan penampilan lahiriah.  Mereka dianggap berhasil atau dipakai Tuhan secara luar biasa bila secara kasat mata bergelimang materi:  kaya, bermobil mewah, mengenakan pakaian atau aksesoris mahal dan bermerek.  Alkitab menyatakan,  "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."  (1 Samuel 16:7b).      Dalam melayani Tuhan Paulus adalah seorang yang apa adanya.  Ia tidak malu mengakui kelemahan dan kekurangannya.  Dengan jujur ia mengakui bahwa dirinya adalah mantan orang berdosa,  "aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman...di antara mereka akulah yang paling berdosa."  (1 Timotius 1:13, 15).  Berbeda dengan orang-orang Kristen di zaman sekarang ini yang kebanyakan berusaha menyembunyikan kekurangan dan kelemahannya karena takut reputasinya menjadi rusak.  Rasul Paulus menyadari bahwa beroleh kesempatan melayani Tuhan adalah suatu anugerah yang tak ternilai harganya.  Karena itu ia berkomitmen untuk bekerja mati-matian demi Injil.  Ke mana pun ia pergi, di mana pun berada, dan kapan pun waktunya, tak henti-hentinya ia bersaksi tentang salib Kristus dan juga membagikan kasih yang telah diterimanya dari Tuhan.  Meski didera oleh berbagai macam kesulitan, ujian, aniaya dan penderitaan, tak menyurutkan langkahnya untuk melakukan yang terbaik bagi Tuhan.  Dalam mengerjakan panggilan Tuhan ini Paulus tidak mencari nama besar atau pujian dari manusia.  Ia selalu memperkenalkan Yesus Kristus yang telah menyelamatkan manusia dari kuasa dosa dan maut.  Jadi tujuan utamanya adalah membawa orang sebanyak-banyaknya kepada Kristus dan diselamatkan.
     Seorang pelayan Tuhan sejati akan mengagungkan dan mengutamakan Tuhan, semua hanya untuk kemuliaan nama Tuhan.  Yang tak dilupakan Paulus adalah keseimbangan antara perkataan dan perbuatan.  Ia tidak hanya berbicara, namun juga mempraktekkan apa yang dikatakannya! menjadi dalil Paulus, yaitu bahwa Injil itu berasal dari “penyataan Yesus Kristus” (12). Frase itu bisa berarti “penyataan yang disampaikan oleh Yesus Kristus”, tetapi dalam Kis 9:3–8 tidak ada petunjuk bahwa Yesus mengajar Paulus, sebaliknya Yesus menyatakan diri-Nya kepada Paulus. Dalil itu yang kemudian mau dibuktikan dalam 1:13–2:10. Fokus Paulus adalah membuktikan bahwa dia tidak bergantung pada manusia dalam menerima Injil itu. Tetapi dia juga memberi beberapa petunjuk tentang sifat Injil itu sebagai Injil anugerah, dan juga bahwa Injil itu sama dengan Injil para rasul yang lain.
Aa.13–17 menceritakan panggilan Paulus oleh Allah. Ada beberapa efek dari kesaksiannya. Pertama, dia mengaku maju dalam Hukum Taurat yang dibanggakan pengajar sesat, tetapi hal itu malah membawa dia untuk menganiaya jemaat Allah. Kedua, panggilan Allah atas hidupnya dialami bukan dalam ketaatannya terhadap Hukum Taurat, melainkan ketika Yesus berjumpa dengan dia. Di sini kita melihat sifat Injil sebagai kasih karunia: Paulus dipilih di kandungan ibunya sebelum dia berbuat baik atau buruk, dan dijumpai Kristus ketika dia telah berbuat buruk dengan menjadi musuh Allah. Ketiga, seperti nabi Yeremia yang dipanggil untuk menjadi nabi bagi bangsa-bangsa, Allah merencanakan kerasulan Paulus sejak dia dikandung. Beda dengan imam dan raja, nabi-nabi dipanggil di luar lembaga-lembaga Israel. Karena dipanggil langsung oleh Allah melalui penyataan diri Yesus, Paulus tidak perlu pergi ke Yerusalem supaya kerasulannya mereka teguhkan. Injilnya tidak bergantung pada mereka.

"Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya,"  2 Timotius 4:2

Khotbah Tahun Baru 1 Jan 2019 MEMBAJAK TANAH HATI Amos 9:11-15 Luk. 7 : 31-35 Allah Menyelamatkan UmatNya

Seperti apapun seorang ayah atau ibu menghukum anaknya, ketika anaknya kembali kepadanya, pastilah menerima dengan kasih.  Itulah gambaran yang dilakukan Tuhan kepada umat-Nya, Israel. Sedemikian kerasnya hukuman yang dilakukan Tuhan kepada umat-Nya namun Tuhan kemudian memulihkan mereka. Amos 9:14-15 (TB)  Aku akan memulihkan kembali umat-Ku Israel: mereka akan membangun kota-kota yang licin tandas dan mendiaminya; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan minum anggurnya; mereka akan membuat kebun-kebun buah-buahan dan makan buahnya. 
Maka Aku akan menanam mereka di tanah mereka, dan mereka tidak akan dicabut lagi dari tanah yang telah Kuberikan kepada mereka," firman TUHAN, Allahmu. Itulah Tuhan yang tidak pendendam dan tidak mengingat-ingat kesalahan umat-Nya. Bahkan Tuhan memulihkan keadaan umat-Nya. Umat Israel di zaman Tuhan Yesus nampaknya tetaplah umat yang tegar tengkuk. Pernyataan Tuhan diberikan melalui Yohanes pembaptis dan Tuhan Yesus namun keduanya mereka tolak dengan alasan yang bertolak belakang. Jadi, bagaimana mesti bersikap? Lukas 7:35 (TB)  Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya."Ya. Ketika kebenaran dalam hikmat itu diterima dengan baik, dihayati dengan baik maka siapa yang menerima kabar selamat itulah yang menerima berkat yang besar, yaitu keselamatan dari Allah.
Sudahkah kita percaya hikmat yang dari Allah? Atau kita membiarkan begitu saja? "'Sesungguhnya, waktu akan datang,' demikianlah firman TUHAN, 'bahwa pembajak akan tepat menyusul penuai dan pengirik buah anggur penabur benih; gunung-gunung akan meniriskan anggur baru dan segala bukit akan kebanjiran.'"  Amos 9:13
Seorang hamba Tuhan atau pemberita Injil adalah sama seperti seorang petani yang sedang membajak tanah.  Mengapa tanah harus dibajak lebih dahulu?  Karena tidak semua tanah itu baik dan siap pakai, ada tanah keras, ada pula yang berbatu.  Tujuan membajak adalah untuk menggemburkan tanah atau melembutkan tanah yang akan ditaburi benih.
     Begitu pula tugas pemberita Injil.  Sebelum menyampaikan firman atau menabur benih ia harus memersiapkan tanah hati pendengar melalui doa, memohon campur tangan Tuhan, karena hanya kuasa Roh Kudus yang sanggup menjamah, menggerakkan, membasahi, meluluhkan dan melembutkan setiap hati yang keras.  "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita."  (Ibrani 4:12).  Tindakan membajak ini harus dilakukan terus-menerus, tidak ada waktu untuk berhenti jika kita mengharapkan tuaian.  "Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa."  (Amsal 20:4).  Dalam membajak  'tanah'  hati seorang pekerja tidak boleh memiliki sikap mudah putus asa, sekalipun ada masalah ketika pekerja mendapati tanah yang dibajaknya adalah tanah yang keras.  Sebagian dari mereka merasa lelah, bersungut-sungut dan kemudian berhenti membajak.
     Belajarlah kepada Musa, orang yang diutus Tuhan untuk memimpin umat Israel yang tanah hatinya sangat keras, di mana Tuhan sendiri menyebut mereka sebagai bangsa yang tegar tengkuk  (baca  Keluaran 32:9).  Namun Musa mengerjakan tugas yang dipercayakan Tuhan ini dengan penuh kesabaran dan hati yang lemah lembut.  Jika tidak, Musa pasti akan gagal di tengah jalan.  Membajak tanah hati juga harus fokus dan penuh konsentrasi dengan mata yang mengarah ke depan.  Jangan sampai kita membajak dengan setengah hati, sebab  "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."  (Lukas 9:61-62). Jadilah pekerja Tuhan yang terus bersemangat dan tidak mudah menyerah!