Kamis, 28 Maret 2019

Khotbah Minggu 17 Maret 2019 Reminiscere Ingatlah Segala RahmatMu dan Kasih setiaMu ya Tuhan Ibrani 4: 14-16 Yesus Imam Besar Agung

Tidak sedikit  dari manusia yang sampai saat ini masih mencari jalan menuju keselamatan. Banyak cara digunakan agar mereka beroleh keselamatan. Bukan saja keselamatan di dunia, tetapi juga keselamatan di akhirat nanti. Masalahnya, tak sedikit dari mereka yang terjerumus pada janji-janji kosong tentang keselamatan.
Surat Ibrani mengingatkan kita bahwa firman Allah berisi kebenaran Allah. Firman-Nya sangat tajam melebihi pedang bermata dua. Kebenaran Allah selalu menelanjangi segala perbuatan manusia. Tidak ada seorang pun yang mampu menyembunyikan dirinya dari kemahatahuan Allah. Itulah sebabnya, setiap orang harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di hadapan Allah kelak.
Namun Pada saat diminta pertanggungjawaban oleh Allah, kita tidak perlu merasa takut. Sebab kita memiliki Kristus yang adalah Imam Besar Agung. Sebagai Iman Besar Agung, Dia mewakili manusia berdosa memasuki Ruang Mahakudus untuk menghadap Allah dengan membawa kurban pengampunan dosa.
Mengapa Yesus disebut oleh penulis surat Ibrani sebagai Imam Besar Agung? Karena Dia adalah Anak Allah yang Mahatinggi. Hal ini ditandai oleh keimaman-Nya yang sempurna. Sebagai seorang manusia, dia turut merasakan kelemahan kita. Dia pernah dicobai dalam segala hal sama seperti manusia, hanya saja Yesus tidak berbuat dosa. Itu sebabnya Dia memberikan keberanian kepada manusia untuk menghadap Allah, agar Allah mengasihi dan memberkati kita.
Apa jaminan keselamatan bagi kita? Kalau kita mau menyakini dan menyerahkan seluruh hidup kita kepada Sang Imam Agung yang sempurna. Kita tidak harus mencari ke mana dan dengan cara apa? Cukuplah percaya dan memercayakan hidup kita kepada Yesus, sembari setia melakukan kehendak-Nya.
Yesus adalah Imam Besar Agung kita. Sebagai perantara, Ia membawa Allah kepada manusia dan mewakili manusia di hadapan Allah. Itu sebabnya kita tidak perlu takut datang di hadapan Allah untuk memohon kemurahan-Nya
Imam besar Perjanjian Lama yang terutama adalah mewakili bangsa Israel menyembah Tuhan dan membawa korban dari mereka untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Setahun sekali, imam besar harus membawa korban persembahan bangsa Israel masuk ke Tempat Mahakudus untuk menyembah dan mengakui dosa-dosa mereka. Imam besar harus mempersiapkan diri untuk memasuki Tempat Mahakudus dengan selamat, kalau tidak, ia tidak akan berkenan kepada Tuhan. Karena itu, keberadaan imam besar adalah untuk menjadi perantara Israel dan Tuhan. Ibrani 4:14-16 dan 10:10-14 mencatat bahwa Yesus adalah imam besar karena Dia adalah perantara pemulihan hubungan kita dengan Allah. Sebagai imam besar: Yesus memiliki 3 keistimewan:
Pertama: Dia adalah Imam Besar Agung.
Imam besar dalam Perjanjian Lama mewakili umat berdiri di hadapan Allah, dia harus meninggalkan umat masuk ke dalam ruang Maha Kudus, bersekutu dengan Tuhan dan menyampaikan isi hati umat kepada Tuhan.
Bait suci dalam Perjanjian Lama dibagi menjadi 3 bagian:
1. Pelataran : tempat umat Israel berdiri
2. Ruang Kudus : tempat para Imam melayani
3. Ruang Maha Kudus : tempat Imam besar melayani
Antara ruang Kudus dan ruang Maha Kudus dibatasi oleh tirai, dan pada saat imam besar setahun sekali masuk, dia tidak nampak dari luar. dia berhadapan dengan Tuhan untuk menyampaikan hati umat Israel kepada Tuhan. Tetapi dia tidak dapat selamanya tinggal di dalam ruang Maha Kudus karena Bait Suci hanya suatu simbolis saja, yang dibuat oleh tangan manusia. Tidak demikian halnya dengan Yesus sebagai Imam Besar kita. Yang masuk ke ruang yang Maha Kudus yang bukan buatan tangan manusia, melainkan masuk kedalam surga yang mulia selama-lamanya. Puji Tuhan. Walaupun Dia masuk ke dalam surga yang mulia, tetapi Dia juga Allah yang Imanuel yang selalu beserta kita. Dalam keadaan suka, duka, sehat maupun sakit Dia selalu mendampingi kita, sehingga kita tidak berjalan sendirian.
Karena Yesus adalah Imam Besar Agung yang dapat
memahami keadaan kita; Dia bukan hanya Imam yang
membawa korban kepada Allah, tetapi Dia juga memahami bagaimana kondisi kita karena Dia telah datang ke dunia melalui jalan kehidupan yang berliku-liku. Bahkan pada akhirnya, Ia rela mengalami bagian yang paling menakutkan dari manusia — kematian, tetapi kebangkitan-Nya memberi kita pengharapan kekal. Dia Imam Besar Yang memahami kelemahan-kelemahan kita (Nyanyian Dia Mengerti 36)
Yang dimaksud memahami disini mengandung arti ikut ambil bagian dalam penderitaan kita, bahkan ikut menanggung segala penderitaan kita. Imam Besar ini juga yang selalu mendampingi kita dan memahami sepenuhnya apa yang tengah kita hadapi. Hidup yang tak menentu ini membutuhkan penyerahan diri sepenuhnya untuk setiap kelemahan-kelemahan yang kita miliki yang membuat kita menjauh dari-Nya. Karena itu Maukah kita mempertaruhkan segenap hidup kita ke dalam tangan tangan-Nya. Karena Allah kita adalah Allah yang Perduli (Ny. No 26)
Kedua, Yesus adalah Imam Besar Agung yang
mempersembahkan dirinya sendiri; Ia bukan membawa korban biasa tetapi korban sempurna – Yesus sendiri. Karena Yesus adalah orang yang tidak ada dosa, Namun karena kasih-Nya, Ia telah mempersembahkan diri untuk menjadi korban penghapus dosa yang kekal sehingga kita yang percaya kepada-Nya dapat diselamatkan. Yesus benar-benar tahu bahwa hanya Dia yang bisa menyelamatkan umat manusia, jadi Dia secara pribadi datang ke dunia untuk mati di kayu salib dan menjadi korban yang sempurna.
Ke tiga, Yesus adalah Imam Besar yang duduk berdoa untuk kita;  tidak seperti para imam besar sebelumnya, mereka berdiri menghadap Allah untuk mempersembahkan korban, dan Yesus setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah. Yesus duduk untuk berdoa bagi kita, sebagai perantara, Dia tidak hanya sampai di di surga ada sebelah kanan Allah tetapi Ia berdoa untuk kita juga di sana (7:25).
Calo yang kita kenal sekarang biasanya mencari keuntungan terbesar untuk pekerjaan mereka. Namun, Yesus, perantara di dalam hidup kita, tidak pernah mencari keuntungan bagi diri-Nya sendiri tetapi Ia memberikan seluruh diri-Nya. Yesus sungguh ingin memahami keadaan kita, Ia mempersembahkan diri-Nya dan duduk berdoa untuk kita. Yesus sebagai Imam Besar, Yesus menguntungkan kita lewat kasih-Nya — pengharapan kekal.

Dia juga adalah sebagai Imam Besar kita yang berkuasa dan yang mampu mengampuni dosa kita, dan menyelamatkan kita. Dan Membuat Hidup kita berarti. (Smua Baik No. 18) Amen 

Khotbah Minggu 13 Feb 2019 Keluaran 33 : 12 – 17. Allah Menuntun UmatNya


Saudara-saudara  yang dikasihi oleh Tuhan Yesus,Masa depan Kita diibaratkan seperti kanvas kosong, menunggu kita mulai melukisnya.  Lukisan yang kita buat hanya dibatasi ukuran visi, warna, yang kita taruh di palet dan keinginan kita untuk tetap bekerja sampai selesai.
Kita telah memasuki hari yang ke 13 di tahun 2019, Tuhan membentangkan masa depan yang bersih dan tak berdosa di depan kita.  Mengutip kata-kata John F. Kennedy, “Kita seharusnya tidak membiarkan rasa takut menghambat kita untuk mengejar harapan.” Alasan yang mendasar untuk kita tidak takut meraih masa depan adalah penyertaan Tuhan atas kita semua.
Bagaimana cara pandang kita untuk memasuki penyertaan Tuhan secara benar ?
1.PENYERTAAN ALLAH DIDASARI ATAS KASIH KARUNIANYA “ 12 – 15”
Dalam hidup ini semua hal yang terjadi oleh karena kasih karunia-Nya.  Misalnya, setiap hari kita bisa menghirup oksigen yang telah tersedia dengan gratis. 
Dalam kisah ini, Musa meminta Allah untuk menyertai umat-Nya dalam perjalanan menuju tanah perjanjian.  Karena bangsa Israel tegar tengkuk, Tuhan akan membinasakan mereka.
Musa dengan rendah hati memohon agar Allah menyertai perjalanan mereka. 
Apa itu kasih karunia?  Kasih karunia adalah persediaan kebaikan Allah yang tidak pernah habis-habisnya, yang diberikan kepada kita walaupun kita tidak layak untuk menerimanya.  Allah menyediakan kasih karunia yang berlimpah-limpah, justru pada waktu kita masih berada di dalam dosa (Roma 5 : 8).
Dia tidak berjanji bahwa jalan yang kita lalui akan mulus, Ia berjanji untuk membimbing kita  dan membawa-Nya kepada kemenangan (Yesaya 41 : 10).
2. PENYERTAAN ALLAH MENJADIKAN KITA UMAT YANG BERBEDA ”16”
Tidak ada yang lebih menyukakan hati daripada hidup yang serba pasti.  Hal tersebut memberikan pijakan yang kuat dan aman terhadap “kesadaran identitas” – kita adalah anak-anak Allah yang memiliki “ciri” yang berbeda dengan orang dunia.
Ketika Allah memilih Israel, Dia punya tujuan khusus atas bangsa tersebut.  Melalui Israellah bangsa-bangsa akan datang kepada Allah.  Israel menjadi bangsa yang kudus (dipisahkan)  berbeda dari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.
Ciri bahwa anda orang Kristen yang berbeda :ketika semua orang panik, damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal menjaga hati dan pikiran kita.  Ketika semua orang takut, iman kepada Allah menjaga hati kita ketika semua orang bingung, kita punya jawaban.
Benar apa yang dikatakan oleh sebuah ungkapan ini, “Bukan pekerjaan, namun kekhawatiran hiduplah yang merampas kekuatan dan mematahkan iman kita.“
3. PENYERTAAN ALLAH MEMBERIKAN PENGALAMAN SUPRA ALAMIAH ”18”
Kekristenan bukan hanya berbicara teori/filsafat, kekristenan merupakan pengalaman hubungan secara pribadi dengan Allah.  Dan dengan pengalaman itulah kita dapat bertumbuh.
Musa memohon kepada Allah untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya.  Disaat-saat Israel ketakutan kepada Allah, Musa rindu didalam hadirat-Nya.
Kemuliaan Allah adalah proses menunjukkan sifat-sifat-Nya yang khas.  Kemuliaan Allah tidak akan sirna.  Ditengah-tengah orang-orang sedang bingung memikirkan masa depan, mari kita masuk didalam hadirat-Nya.  Disanalah kita akan dikenyangkan.
Bila Presiden dipilih rakyat dalam jangka waktu 5 tahun.  Kita dipilih Allah untuk selamanya.  Mari kita berpegang teguh dalam penyertaan-Nya.
Dalam sebuah perjalanan ditengah malam yang gelap tentu kita sangatlah membutuhkan penerang sebagai  penunjuk jalan sehingga kita tidak tersesat dan dapat merasakan aman karena dapat melihat. Penerang itu bisa saja berupa senter, lampu ataupun obor. Tetapi jika penerang seperti itu tidak ada maka kunang-kunang malam yang memancar cahaya yang kecil pun sangat berarti bagi kita. Musa sebagai pemimpin umat Israel meminta agar Tuhan memandu perjalanan umatNya, membimbing umatNya dan memberi  ketenteraman kepada umatNya. SebalikNya umat juga harus mau  megandalkan Tuhan dalam perjalanannya.    Hidup adalah sebuah perjalanan dan kita tidak tahu apa yang terjadi di jalan itu maka kita memerlukan bimbingan Tuhan dalam perjalanan itu. Hal itu disadari oleh Musa dalam memimpin bangsa Israel masuk Tanah Perjanjian. Ketika Allah memerintahkan bangsa itu untuk melanjutkan perjalanan mereka tetapi tanpa penyertaan Dia, Musa tidak mau karena dia menyadari bahwa perjalanan itu tidak akan berhasil. Bagaimanakah sikap yang harus kita miliki agar perjalanan itu disertai oleh Tuhan? Perhatikan khususnya pasal  33:1-23.
Tidak memberontak kepada Allah
                Allah berencana untuk tidak mendampingi bangsa itu melanjutkan perjalanannya untuk memasuki Tanah Perjanjian karena mereka telah menjadi bangsa yang tegar tengkuk (ayat 5) yang seringkali memberontak kepada Allah. Hal inilah yang membuat Allah muak dengan tingkah laku mereka sehingga Dia tidak mau bersama-sama dengan bangsa itu.
                Kalau ingin menikmati penyertaan Tuhan dalam perjalanan hidup kita jangan sekali-kali memberontak kepada-Nya. Jangan merasa lebih tahu dari Tuhan karena itu akan membuat kita akan mendapatkan masalah. Tetapi biarkan Dia menuntun langkah kita walaupun masalah dan pergumulan mewarnai perjalanan itu, Dia tahu apa yang harus Dia perbuat sebab Dia Allah yang Mahakuasa. Jadi jangan perbesar masalah Anda tetapi perbesarlah Allah dalam diri Anda.
Memohon Anugerah Allah
                Allah menyertai  bangsa Israel dalam perjalanan mereka ke Tanah Perjanjian bukan karena mereka baik tetapi karena Anugerah Tuhan semata-mata (ayat 16). Hal inilah yang membedakan bangsa Israel dari bangsa-bangsa yang lain bukan karena mereka lebih baik tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah. Kesadaran inilah yang dimiliki oleh Musa sehingga ia memohon belas kasihan-Nya untuk menyertai perjalanan mereka menuju Tanah Perjanjian.Kalau kita ingin mendapatkan penyertaan Tuhan dalam perjalanan hidup kita, maka mintalah anugerah dan penyertaan-Nya menuntun kita untuk sampai di Kanaan kehidupan kita. Jangan pernah merasa bahwa kita pantas mendapatkan penyertaan Tuhan tetapi sadarilah bahwa kesediaan-Nya mendampingi kita untuk melangkah maju semata-mata karena Dia mengasihi kita
Saudara-saudara yang dikasihi oleh Tuhan Yesus,
Seperti Musa yang sangat mengharapkan tuntunan Tuhan dalam perjalanan menuju tanah perjanjian demikian juga kita dalam perjalanan hidup kita, kita membutuhkan tuntunan Tuhan. Firman Tuhan adalah pelita[1]  bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita ( band. Mazmur 119 : 105 ). Jika kita mau dituntun Tuhan berarti hidup kita mau diterangi firman Tuhan. Yang nyata serta nampak itu disebut terang. Terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran ( Efesus 5 : 9 ).  Hidup dalam terang berarti ‘hidup tertib, hidup dengan norma-norma yang jelas dan ada arah yang pasti. Namun hidup dalam gelap adalah hidup yang meraba-raba. Tersandung-sandung, terbentur-bentur. Hidup dalam ketidak jelasan dan ketidakpastian. Orang Kristen tahu apa yang benar dan apa yang salah. Tahu apa yang baik dan jahat.  Tuhan menyatakan kemulianNya bagi orang sungguh berharap kepadaNya.Tegar tengkuk sama dengan kesombongan, pengandalan diri sendiri, harta benda, kepintaran yang dapat menutupi kemulian Tuhan. Untuk itu sebagai anak-anak Tuhan kita harus melepaskan penutup dan penghalang-penghalang itu dan merespon kasih karuniaTuhan dengan hidup sebagai garam[2]dan terang bagi dunia ini ( Matius 5 : 13-16 ). Perbuatan-perbuatan terang dalam kehidupan sehari-hari seorang Kristen sangat penting bagi dunia ini. Dunia akan menjadi heran atas perbuatan-perbuatan itu, lalu memuliakan Tuhan, yang memberi kekuatan kepada orang Kristen untuk berbuat begitu.
Dalam Yohanes 8:12, Yesus berkata, “akulah terang dunia; barang siapa mengikut Aku, ia tidak berjalan dalam kegelapan melainkan ia akan mempunyai  terang  hidup “. Hiduplah dalam Yesus karena Yesus adalah hidup. Hidup dalam Yesus berarti  hiduplah dalam terang.
Seperti lirik lagu dalam Kidung Jemaat No.424 : 1, 3 “ Yesus menginginkan daku “
Yesus menginginkan daku bersinar bagiNya
Dimana pun ku berada ku mengenangkanNya             
Bersinar, bersinar itulah kehendak Yesus
Bersinar-bersinar aku bersinar terus.
Kumohon Yesus menolong menjaga hatiku
Agar bersih dan bersinar meniru Tuhanku
Bersinar-bersinar itulah kehendak Yesus
Bersinar bersinar  aku bersinar terus
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus.. Mari bersinar terus ! dan nyatakanlah kemulian Tuhan dalam hidup saudara senantiasa. Amin

Khotbah Minggu 24 Feb 2019 Mal 3:13-18. Ibadah Yang Benar

Banyak orang beranggapan bahwa apa pun yang kita lakukan secara sembunyi-sembunyi, tidak diketahui Tuhan.  Namun Alkitab jelas menyatakan:  "...tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepadaNya kita harus memberikan pertanggungan jawab."  (Ibrani 4:13). Ada Ujar2 berkata: Bentaknya 1 Menit;Namparnya 1 Detik; Nyesalnya 10 Jam; Menyembuhkan Lukanya Seumur Hidup.      Dalam kitab Maleakhi ini ditunjukkan kepada kita bahwa Tuhan mendata secara detil semua cara yang dilakukan umatNya untuk menolak kasih yang telah Allah berikan, dengan ketidaktaatan mereka.  Manusia seringkali tidak menyadari akan pertolongan dan bimbingan Tuhan dalam hidupnya.  Mereka menganggap bahwa semua yang telah mereka capai selama ini adalah buah dari kerja kerasnya sendiri, tanpa embel-embel.  Namun, pada saat manusia mengalami kesulitan atau kegagalan, mereka mulai mengkambinghitamkan Tuhan dan menganggap bahwa Tuhan tidak peduli terhadap dirinya.
"Kamu berkata: 'Adalah sia-sia beribadah kepada Allah. Apakah untungnya kita memelihara apa yang harus dilakukan terhadap-Nya dan berjalan dengan pakaian berkabung di hadapan TUHAN semesta alam?'"  Maleakhi 3:14
Rasul Paulus menasihati Timotius,  "Latihlah dirimu beribadah."  (1 Timotius 4:7b).  Mengapa kita harus terus melatih diri dalam hal ibadah?  Karena ibadah itu berguna dalam segala hal dan mengandung janji, artinya ada berkat-berkat yang luar biasa disediakan Tuhan bagi setiap orang yang menghormati Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan sungguh.  "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar."  (1 Timotius 6:6).  Jadi dibutuhkan sikap dan motivasi yang benar bagi seseorang untuk mengalami kuasa dan berkat dalam ibadah.
Sudahkah kita menjadikan ibadah sebagai kebutuhan utama dalam hidup ini?  Atau kita berpikir bahwa beribadah kepada Tuhan itu tidak ada untungnya dan hanya membuang-buang waktu saja?  Alkitab menegaskan,  "...dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia."  (1 Korintus 15:58b), bahkan mendatangkan keuntungan besar  (baca  Amsal 14:23a).  Pertanyaan:  seberapa besar kerinduan kita untuk bertemu Tuhan dalam setiap ibadah?  Adakah kita memiliki rasa haus dan lapar akan kebenaran seperti yang ditunjukkan oleh jemaat gereja mula-mula, sehingga kehidupan mereka  "...disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan."  (Kisah 2:47)?
I. Dosa Israel:
1. Kata-kata.
Dosa disini mereka lakukan dengan kata-kata. Ini terlihat dari kata 'bicaramu' dalam ay 13, yang menunjukkan bahwa Maleakhi menyerang kata-kata mereka. Dosa dengan kata-kata sudah ada pada Mal 2:17, tapi yang di sini lebih gawat lagi.
Kita juga sering berdosa melalui kata-kata kita. Karena itu lebih baik tidak berbicara kalau memang tidak berguna. Ingat akan Amsal 10:19 yang berbunyi: "Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi". Tuhan mendengar kata-kata kita (Bil 12:2 Yer 8:6 Maz 139:4).
Seringkali orang beranggapan bahwa Tuhan hanya memperhatikan tingkah laku kita, tetapi ayat-ayat di atas itu menunjukkan bahwa Tuhan juga memperhatikan / mendengarkan segala pembicaraan kita. Yesus berkata bahwa kita akan dihakimi juga berdasarkan kata-kata kita (Mat 12:36-37). Karena itu jangan hanya menguduskan diri dalam hal tindakan kita, tetapi juga dalam kata-kata kita!
Penerapan:
Dosa melalui kata-kata bisa terjadi kalau kita mencaci maki, mengeluarkan kata-kata kotor, menyebut nama Allah dengan sia-sia, berdusta, memfitnah, membicarakan kejelekan orang, bersungut-sungut, Benar apa Kata Yak 3:8 TTp Tdk seorgpun yg Berkuasa menjinakkan Lidah. Sdr2 Diantara banyak hal buruk, yg Terburuk adalah Lidah yg tajam (Fredrik Von Schiller)
2. Kata-kata mereka menentang Tuhan (ay 13).
Ay 13: 'tentang Aku' seharusnya adalah 'menentang Penerapan:
Seringkah kita mengeluarkan kata-kata menentang Tuhan? Hal ini bisa terjadi pada waktu kita menyatakan kepada orang lain betapa tidak adilnya Tuhan itu, atau betapa tidak pedulinya Tuhan kepada kita, atau betapa tulinya Dia terhadap doa kita, dsb.
 3. Kata-kata kurang ajar yang menentang Tuhan (ay 13).
Apa yang dimaksud dengan 'kata-kata kurang ajar yang menentang Tuhan' itu?
 a. Mereka menganggap bahwa mereka sudah mentaati Firman Tuhan (ay 13b-14).
Bahwa mereka menganggap bahwa diri mereka sudah mentaati Firman Tuhan, terlihat dari kata-kata 'memelihara' dan 'berjalan' dalam ay 14, Mungkin ini adalah ketaatan lahiriah saja (bdk. Mat 15:8-9) atau ketaatan sebagian seperti dalam Yes 58:3-4.
Tetapi yang jelas adalah bahwa mereka menganggap diri mereka benar!
Penerapan:
Kalau kita menganggap diri kita benar, maka dengan itu kita mengucapkan kata-kata kurang ajar yang menentang Tuhan, karena Tuhan menyatakan diri kita sebagai orang berdosa.
b. Mereka berkata bahwa ikut / taat Tuhan itu sia-sia / tak ada untungnya (ay 14).
'beribadah' seharusnya 'melayani'.
Mereka menganggap hal ini sia-sia (ay 14a).
Penerapan:
Apakah kita sering beranggapan bahwa pelayanan yang kita lakukan untuk Tuhan itu adalah sia-sia? Kalau ya, bacalah 1Kor 15:58, yang menyuruh kita untuk giat melayani Tuhan karena jerih payah / pekerjaan yang kita lakukan dalam Tuhan, tidak akan sia-sia! Ini menunjukkan sikap egois dalam mentaati Tuhan!
c. Mereka berkata bahwa orang jahat itu lebih enak (ay 15).
Penerapan:
bahwa jadi orang tidak kristen itu enak karena bisa melakukan dosa-dosa yang menyenangkan.Bagi Laki2 bisa kawin 2-3 X
maka bukankah sebetulnya sama saja dengan kita berkata 'berbahagialah orang yang tidak percaya'?
Penerapan:
Apakah kita sering iri hati kepada orang-orang yang berhasil menjadi kaya / makmur dengan menggunakan cara kerja yang jahat...?
Kata Ibrani yang sama digunakan dalam Mal 3:10 dan diterjemahkan 'menguji / ujilah'. Dalam Yak 1:13 kata 'mencobai' itu maksudnya mencobai supaya jatuh ke dalam dosa (baca Yak 1:12-15). Jelas dalam arti seperti ini, Allah tidak bisa dicobai oleh siapapun. Tetapi dalam Mal 3:15 ini kelihatannya arti dari kata 'mencobai' itu adalah seperti yang diberikan oleh NIV yaitu 'challenge' (= menantang). Dalam arti seperti ini Allah bisa dicobai.
 Kesimpulan:
Dosa Israel adalah menuduh bahwa Allah itu tidak adil. Mereka merasa bahwa mereka hidup taat, tetapi menderita, sedangkan orang lain yang hidupnya jahat justru enak.
Maz 73 isinya mirip sekali dengan tuduhan Israel dalam Mal 3:13-15 ini (bacalah Maz 73 ini!), tapi toh berbeda! Bedanya adalah:
sikap hati dalam Maz 73 adalah bertanya-tanya, sedangkan dalam Mal 3:13-15 sikap hatinya adalah memberontak / marah kepada Tuhan. Dalam Maz 73 pemazmur mengutarakan hal itu kepada Allah (ini terlihat dari Maz 73:18-27 dimana pemazmur itu menggunakan kata-kata 'Engkau', 'Kau', dan 'Mu' untuk menyebut Allah), sedangkan dalam Mal 3:13-15 mereka berbicara satu kepada yang lain / ngrasani Tuhan (ay 13b).



Khotbah Minggu Estomihi 03 Maret 2019 Mat 16:13-20 Yesus Mesias Anak Allah Yang Hidup

Peristiwa ini terjadi pada momen yang krusial. Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem di propinsi Yudea (bdk. 19:1) untuk menggenapi rencana keselamatan. Ia sebentar lagi akan menghadapi penolakan dan penyaliban dari pihak orang-orang Yahudi (13:21). Di tengah situasi ini Ia ingin memastikan bahwa murid-murid-Nya benar-benar mengetahui siapa Dia dan (16:13-20) dan sejauh mana mereka harus berkomitmen (16:21-28). Siapakah si dia itu?  Mungkin tidak sulit untuk menjawabnya melalui berbagai pengetahuan atau curriculum vitae tentang seseorang itu. Apa lagi bila mengetahui orang yang terkenal di jaman sekarang ini tidak sesulit jaman dulu. Dengan kemajuan teknologi internet, facebook dll semua bisa dicari. Namun bila ditanya siapakah seseorang itu secara dalam, mengetahui apa yang ada di dalam hati dan pikirannya, inilah yang sulit. Seperti itulah gambaran tanya jawab antara Yesus dengan para muridNya.
Perjalanan dari Galilea ke Yudea kali ini menyediakan waktu yang berharga bagi murid-murid. Orang banyak tidak mengikuti Yesus. Hanya murid-murid dan guru mereka. Pengajaran bisa lebih intensif diberikan.
Di ayat 13-17 Tuhan Yesus mengajarkan beberapa hal penting tentang pengakuan iman.
Pertama, pengakuan harus bersifat pribadi. Pada awal pembicaraan Yesus menanyakan pendapat publik tentang diri-Nya (ayat 13 “kata orang siapakah Aku ini?”). Dari informasi yang didengar murid-murid-Nya, pandangan publik tentang Yesus sangat beragam (ayat 14). Yesus lalu memberikan pertanyaan yang lebih pribadi: “tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (ayat 15). Dalam teks Yunani, kata “kamu” (lit. “kalian”) diberi penekanan dengan cara dimunculkan secara eksplisit dan diletakkan di bagian depan. Ini menyiratkan bahwa Tuhan Yesus ingin menegaskan pentingnya pengakuan secara pribadi.
Kedua, pengakuan harus benar. Pandangan banyak orang menyiratkan kerancuan konsep bangsa Yahudi tentang Mesias dan/atau akhir zaman. Herodes berpikir bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang bangkit dari kematian (14:1). Sebagian menduga bahwa Yesus adalah Elia yang akan datang (16:14) seperti dinubuatkan oleh Maleakhi (Mal 4:5; bdk. Yoh 1:19-21), padahal sebelumnya Yesus memberitahu bahwa Elia yang akan datang adalah Yohanes Pembaptis (11:14). Yang lain mengira Yesus sebagai Yeremia, karena beberapa aspek pelayanan keduanya mirip dan dalam salah satu tulisan kuno Yahudi disebutkan bahwa Yeremia dan Yesaya akan datang kembali sebelum akhir zaman. Walaupun pandangan-pandangan ini tidak ada yang negatif terhadap Yesus, tetapi Yesus tidak hanya mencari sikap positif. Walaupun Yesus disamakan dengan tokoh-tokoh Alkitab yang ternama, tetapi Ia seharusnya bukan dalam deretan manusia. Ia adalah Anak Allah. Walaupun Yesus dalam taraf tertentu adalah nabi (13:57), tetapi Ia lebih daripada sekadar nabi. Kalau Yohanes Pembaptis sebagai pembuka jalan bagi diri-Nya saja sudah “lebih daripada nabi” (11:9) dan “nabi terbesar” (11:11, 13), apalagi Yesus sendiri yang kepada-Nya Yohanes mempersiapkan jalan! Hanya pengakuan kepada Yesus sebagai Mesias dan Anak Allah yang membawa keselamatan (Yoh 20:30-31).
Ketiga, pengakuan yang benar hanya dimungkinkan oleh Allah. Petrus bukan hanya sebagai orang yang “beruntung” atau “pandai” karena tebakannya tentang Yesus tepat. Ia “berbahagia” (ayat 17, LAI:TB). Hampir semua versi Inggris dengan tepat memilih terjemahan “diberkati”. Bahagia adalah tentang perasaan. Diberkati adalah kenyataan. Kebahagiaan sejati muncul dari kenyataan yang benar.
Terlepas dari seberapa jauh Petrus bisa memahami ucapannya (bdk. 16:22-23), pengakuan itu pada dirinya adalah benar dan berasal dari penyataan Bapa (ayat 17b). Manusia berdosa tidak mungkin memberi pengakuan yang benar dan sungguh-sungguh jikalau tidak ada intervensi Allah dalam diri orang itu (11:25-27).
Janji Tuhan yang teguh (ayat 18-19)
Petrus muncul dengan pernyataan yang 100 % benar dan sebenarnya dia sungguh mengenal Yesus. Petrus mengatakan : Engkau adalah  Mesias, Anak Allah yang hidup”. Bila kita ingin kembali ketika pemilih murid-murid pertama di Matius 4:18-22, Yesus menjadikan Petrus murid yang pertama. Tanpa ada bantahan dan pertanyaan, Yesus mengatakan : Mari dan ikutlah Aku? Akhirnya Petrus dan Andreas serta Yohanes dan Yakobus mengikuti Yesus. Pernyataan Petrus membuat dia menjadi Murid yang utama bagi Yesus, bahkan Yesus menetapkan atas Petrus gereja awal di dunia ini. “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu dan alam maut tidak akan menguasainya”, “kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga, apa yang kauikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga”. Betapa luarbiasanya kuasa yang diberikan Yesus kepada Petrus di situ.
Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Yesus terhadap Petrus tentang terbentuknya gereja bukanlah makna harafiah. Tetapi Yesus mau menjelaskan bahwa melalui pelayanan Petrus dan Iman kepada Yesus akhirnya munculnya jemaat pertama. (bandingkan di Kisah 2 tentang Pentakosta). Dari pengakuan Petrus itulah makna Gereja yang sesungguhnya yaitu kumpulan orang-orang percaya yang dipersatukan di dalam nama Yesus Kristus. Gereja tidak hanya gedungnya (fisiknya) tetapi gereja juga adalah persekutuan orang-orang percaya. Yesus pernah mengatakan : barang siapa berkumpul dua atau tiga orang di dalam namaKu disitulah aku berada.
Pertanyaan yang sangat penting di jaman sekarang ini adalah apakah kita masih berani menyaksikan nama Kristus di manapun kita berada? Pengakuan yang dimaksudkan bukanlah hanya sebatas untaian kata-kata yang indah, atau hanya pemanis di bibir saja. Justeru pengakuan itu lahir dari perenungan yang sangat dalam dan kesaksian hidup yang terus menerus di dalam hidup kita. Kalau kita berani menyaksikan bahwa Yesus itu adalah Messias di dalam hidup kita, maka sejalan atau selaras hidup kita juga harus mengalami transformasi ke arah Kristus yang kita imani itu. Kekristenan kita saat ini sudah perlu dipertanyakan kembali apakah kita benar-benar mengatakan seperti Petrus? Atau mungkinkah kekeristenan kita seperti mercu suar yang hanya berdiam di tempat dan tidak beranjak ke mana-mana? Melalui Firman Tuhan ini, Iman kita dipertanyakan kembali : Siapakah yesus itu sesungguhnya di dalam hidup kita?
Tugas berat yang menanti gereja (ayat 20)
Pada waktu di Kaisarea Filipi Tuhan Yesus melarang murid-murid untuk memberitahukan kepada orang-orang lain bahwa Ia adalah Mesias. Mengapa? Para murid sendiri belum benar-benar memahami apa maksud kemesiasan-Nya (16:21-23). Ia juga belum memberikan bukti tentang hal itu, yaitu kematian dan kebangkitan-Nya (16:20). Lagipula, banyak orang Yahudi memiliki pengharapan mesianis yang sangat rancu. Tuhan Yesus tidak ingin menambahkan kerumitan ini sebelum Ia memberikan bukti untuk kemesiasan-Nya.
Kini Tuhan Yesus sudah mati dan bangkit. Bukti-bukti yang meyakinkan bahwa Ia adalah Mesias telah diteguhkan. Kita pun semakin mengerti Mesias seperti apakah Dia. Melalui kitab suci kita benar-benar tahu bahwa Ia adalah pembebas dari dosa, bukan dari penjajahan militer atau politis kekaisaran Romawi.
Karena kita berada sesudah kebangkitan Tuhan Yesus, kita tidakboleh menyembunyikan berita gembira bahwa Yesus adalah Mesias.Sebaliknya, kita didorong untuk terus memberitakannya. Siapkahkita menjadi pemberita bagi Dia? Siapkah kita dilibatkan oleh Allahdalam pelebaran kerajaan-Nya? Relakah kita membayar harga bagiperkembangan gereja di muka bumi? Ingatlah, gereja pasti teguh,karena didasarkan pada janji Tuhan yang teguh. Amen


Khotbah Minggu 03 Feb 2019 Lukas 4:16-21 INJIL YANG MEMBEBASKAN

Dalam Hal apakah Injil itu membebaskan..? Dalam kitab Lukas, dikatakan kabar baik yang disampaikan bagi orang-orang miskin, orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta, dan membebaskan orang-orang yang tertindas. Hal ini dapat saja diartikan secara harafiah bahwa memang kabar baik (INJIL) yang berisi berita keselamatan ditujukan bagi orang-orang tersebut. Namun apakah benar bahwa INJIL tersebut hanya datang bagi orang-orang semacam itu saja? Bukanlah demikian sebenarnya. Memahami bahwa situasi serupa yang digambarkan adalah penindasan, tentu kita dapat melihat sesuatu yang berbeda dalam konteks ini. Bangsa Israel saat itu dikendalikan dan dipimpin oleh sekelompok orang yang disebut orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki. Para ahli Taurat juga termasuk di dalamnya. Mereka menjadi golongan yang eksklusif, bahkan di antara bangsa Israel itu sendiri. Orang-orang miskin berada jauh dari mereka, begitu pula dengan orang-orang tawanan. Mereka mendiskriminasi dan menjadi penindas bagi orang-orang miskin dan para tawanan. Maka dengan demikian, kabar baik yang Yesus maksudkan tentulah penghapusan diskriminasi tersebut. Yesus ingin mengajarkan firman Allah yang sesungguhnya, sehingga seluruh bangsa Israel dapat memahami firman Allah dengan benar, bukan sesat dan eksklusif seperti yang dilakuka orang Farisi dan ahli Taurat. Sebutan penglihatan bagi orang-orang buta, dapat diartikan bukan saja secara harafiah (karena Yesus memang telah menyembuhkan orang buta), tetapi juga berarti mereka yang “buta” terhadap pengetahuan akan firman Allah. Demikian pula dengan sebutan orang yang tertindas. Ini semua mengarah kepada seluruh bangsa Israel yang “tertindas” oleh pengajaran ahli Taurat. Sebagai contoh adalah dalam hal memberikan persembahan. Bangsa Israel dituntut untuk memberikan persembahan yang telah “dikhususkan”, yang sebenarnya diperjualbelikan agar ahli-ahli Taurat dan orang Farisi memperoleh keuntungan.
Pendidikan dalam bentuk ajar – mengajar sebuah tradisi dalam kehidupan umat Tuhan. Proses belajar tentu sangat memberikan pencerahan. Layak kemudian jika Israel dikenal sebagai bangsa yang ‘hebat’. Tempat utama untuk melaksanakan proses ajar-belajar adalah rumah ibadat.
Yesus telah dikenal sebagai seorang guru. Oleh sebab itu, ketika Yesus ‘pulang kampung’ ke Nazaret, wajar sekali Ia diminta mengajar oleh pengelola rumah ibadat. Bahan pengajaran yang diberikan kepada Yesus untuk diajarkan diambil dari kitab Yesaya. Yesus mengajar dengan mengutip nas Yesaya 61 : 1 – 2. 
Yesus menyampaikan tugas panggilan diriNya. Dia adalah guru yang disertai oleh Roh Allah. Yesus bukanlah guru biasa  tetapi guru yang telah menerima pengurapan. Dengan demikian, Dia adalah guru yang sungguh-sungguh diutus oleh Tuhan untuk memberitakan Tahun Rahmat Tuhan.
Yesus mengajarkan agar setiap orang ; menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan bagi orang-orang buta, membebaskan orang-orang yang tertindas, memberitakan Tahun Rahmat Tuhan. Pengajaran Yesus ini tidak selalu dipahami secara harafiah tetapi dapat dimengerti secara rohani. ‘miskin’ tidaklah semata-mata hanya berkaitan dengan harta. Orang miskin harta akan haus dengan kekayaan. Mereka ingin memperoleh harta kekayaan dunia. Harapannya, dengan kekayaan itu ia akan beroleh hidup bahagia. Tetapi benarkah orang yang dipenuhi harta kekayaan beroleh kebahagiaan. Yesus begitu tajam mengkritik pandangan seperti itu. (Matius 19:23) : Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Kritik Yesus terhadap orang kaya ini adalah, karena orang kaya ini merasa terpenuhinya seluruh kehidupannya, sehingga ia (merasa) tidak berharap atau bergantung kepada siapa (apa) pun. Ia tidak bergantung. Baginya tidak perlu ada penolong. Ia hidup dengan keangkuhannya. Sementara, orang miskin menyadari perlunya penolong dalam hidupnya. Lalu, kepada orang-orang miskin yang bagaimanakah yang perlu disampaikan kabar baik ? Sesungguhnya bukan kepada orang yang miskin harta atau kaya harta, melainkan kepada orang-orang yang membutuhkan penolong agar beroleh kebahagiaan. Yesus berkata (Matius 5:3) ; ‘Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.’ Dengan demikian, kebahagiaan bukan ditentukan oleh harta dunia, melainkan ketergantungan setiap orang kepada Tuhan. Dengan memiliki pencerahan tentang harta, maka manusia akan dimampukan menempuh jalan yang benar. Itulah kabar baik bagi mereka.
Demikian halnya dengan tawanan (bagaimana orang merasa bebas dari rasa bersalah), kebutaan (buta rohani sangat banyak di zaman ini), ketertindasan (kita perlu mendoakan penguasa yang selalu menindas orang kecil dan minoritas) ; semuanya perlu dilihat secara rohani. Pada akhirnya, Yesus ingin agar seluruh umat menikmati Tahun Rahmat Tuhan. Tahun Rahmat Tuhan adalah, terwujudnya keselamatan di bumi ini, dimana setiap orang dapat menikmati Rahmat Tuhan ; berkat dan bahagia, secara jasmani dan rohani. Tahun rahmat Tuhan, dimana manusia mengalami perubahan ; hati, jiwa, pikiran dan tindakannya. Orang yang menerima kabar baik, yang bebas dari kungkungan akan merasakan berkat dan kebahagiaan. Ia memperoleh pengertian baru akan arti hidup ini, yang membuatnya bersukacita. Orang yang hidup dalam sukacita akan memancarkan kasih Allah itu. Kasih Allah yang terpancar dari hati, pikiran, tindakan, dan perkataan akan mempengaruhi hidup dalam keluarga, gereja, dan masyarakat sehingga semuanya bersukacita. Inilah sesungguhnya tujuan dari kehadiran Gereja di dunia ini, dimana setiap orang dapat menikmati anugerah Tuhan di dalam hidupnya.
Di zaman ini, Pendidikan rohani menjadi sangat penting. Kita perlu mendiskusikan dan menggumuli berbagai kehidupan ini secara rohani. Sering sekali warga gereja berhadapan dengan masalah kehidupan ini dan selalu mengatasinya secara duniawi pula. Lalu tidak pernah ada jalan keluar. Pendidikan Rohani ini perlu dikembangkan agar kita makin dicerahkan. Dengan pencerahan itu kita tidak lagi dibalut oleh pikiran kita sendiri tetapi kita makin menyadari makna dan tanggung jawab kehidupan.
Kita semua anak-anak Tuhan adalah ‘guru’, yang telah diberi Roh dan diurapi oleh Allah. Ada tugas kita, apapun profesi kita agar dapat memberi pencerahan bagi banyak orang. Kita memberitakan Injil melalui kata, prilaku, dan perbuatan kita. Dengan demikian, banyak orang terbebas dari belenggubelengu yang mengikat dirinya.

Dalam hidup sekarang ini, kita berhadapan dengan berbagai perubahan, dan perubahan ini disebut kemajuan. Tidak sedikit orang, yang karena perubahan itu membuatnya menjadi ‘tertekan/tertawan/terbelenggu’ karena ingin agar dapat mengikuti semua perubahan itu. Sebagai orang percaya, kita tidak harus serta merta mengikuti semua perubahan itu tetapi kita perlu belajar. Dan sumber pengajaran kita adalah firman Tuhan (Alkitab). Firman Tuhan akan menjadi landasan kita untuk menyikapi semua perubahan ini. Firman Tuhan akan mencerahkan hati, jiwa, pikiran kita sehingga segala yang terjadi dalam kehidupan ini membuat kita dapat menikmati anugerah Tuhan. AMIN

Sabtu, 27 Oktober 2018

Khotbah Minggu 19 Agus 2018 Kejadian 17, 15-27 Indahnya Keberagaman


Epistel : Gal. 4:22-28 (Ceriterakan Makna Kebersamaan Melalui Bulan Keluarga ini Gal. 6:2; Ngambil Nasi Jgn Berebut; Pikirkan na parpudi/Kepedulian)
Allah yang penuh anugerah
Allah melimpahkan anugerah-Nya kepada siapa pun semata-mata berdasarkan kehendak-Nya dan bukan berdasarkan apa yang dilakukan orang tersebut. Anugerah Allah dapat dibagi menjadi anugerah khusus dan anugerah umum.
Walaupun di pasal 16 Sarai telah melakukan kesalahan dengan memberikan solusi yang tidak sesuai dengan jalan Tuhan, Tuhan tetap mengingat Sarai dan mengganti namanya menjadi Sara. Tuhan menyatakan bahwa ia akan menjadi ibu bagi bangsa-bangsa dan akan melahirkan raja-raja (16). Ketika Abraham meminta kepada Tuhan untuk memilih Ismael (17), Allah menegaskan bahwa anak yang lahir dari Saralah yang akan mewarisi perjanjian Allah dengan Abraham (19). Allah memilih semata-mata berdasarkan kasih karunia dan kedaulatan-Nya. Apa yang Allah janjikan merupakan anugerah khusus karena ini adalah perjanjian yang kekal, yang akan menjadikan keturunan Ishak sebagai umat Allah.
Meski Allah tidak memilih Ismael untuk mewarisi perjanjian-Nya, tetapi dalam kasih karunia-Nya Allah juga memberikan anugerah umum kepada Ismael sehingga ia pun diberkati untuk menjadi bangsa yang besar (20). Jadi, walaupun keturunan Ismael tidak akan menjadi umat Allah dan mendapatkan anugerah khusus dari Allah, bukan berarti bahwa Allah tidak akan memberkati dia beserta keturunannya.
Abraham merespons anugerah Allah dengan menaati perintah-Nya. Ia memanggil Ismael, semua orang yang lahir di rumahnya, dan budak-budaknya untuk melaksanakan sunat (23-27).
Allah kita memang adalah Allah yang penuh dengan kasih karunia dan kemurahan. Ia selalu memberkati, terutama keturunan orang-orang yang berkenan kepada-Nya. Jadi kita tidak perlu heran jika melihat bahwa secara umum manusia tetap diberi anugerah yang berlimpah dari Tuhan. Namun sebagai umat percaya, kita harus sadar bahwa anugerah yang Allah berikan kepada kita merupakan anugerah yang khusus. Karena itu kita perlu mensyukurinya dan mewujudkan rasa syukur kita dengan menjalankan apa yang telah Allah perintahkan.
1. Identitas baru yang diberikan Allah kepada istri Abraham, Sarai menjadi Sara, adalah suatu janji bahwa dia akan menjadi ibu bangsa-bangsa, dari keturunannya akan muncul raja-raja bangsa-bangsa. Itulah janji Allah bagi Abraham dan istrinya Sara. Janji itu merupakan lelucon bagi Abraham, dia tertawa; mungkinkah di usianya yang ke-99 dengan seorang istri berusia 90 tahun dapat melahirkan seorang anak?
2. Allah bukanlah manusia sehingga Dia berbohong, itu berarti janji Allah adalah ya dan amin, sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk 1,37). Namun pikiran manusia sering sulit menerima janji dan cara kerja Allah, sebagaimana Abraham yang mengandalkan pikirannya. Dia berpikir bahwa usia subur seorang perempuan maksimal 50 tahun, maka janji Allah menjadi hal yang lucu baginya, dan dia kurang menyakini apa yang dikatakan Tuhan tentang Sarai menjadi Sara.
3. Ketidakpercayaan Abraham menyebabkan dia memohon agar Ismail diperkenankan di hadapanNya, tetapi Tuhan mengulang bukan Ismail, tapi seorang anak yang lahir dari Sara dan akan diberi dia nama Ishak. Tentang Ismail anak Hagar, hambanya yang dijadikan sebagai gundik, Tuhan akan memberkati dan memberi keturunan yang banyak baginya, serta menjadikan bangsa yang besar di mana akan berdiri 12 raja dari keturunannya, karena dia bukan anak perjanjian, tapi anak yang lahir atas kehendak manusia, anak perjanjian adalah Ishak, karena kepada Ishak yang akan lahir pada tahun depan lah Allah membuat perjanjian selama-lamanya. Dialah anak yang dijanjikan (Gal 4, 22-28).
4. Pengulangan janji Allah membuat Abraham mengubah pikiran, dia mengaminkan janji itu, sehingga melaksanakan sunat baginya, Ismail, dan semua laki-laki yang ada di rumahnya, yang dibeli dan lahir di rumahnya, setelah Allah naik meninggalkan Abraham. Sunat adalah lambang perjanjian umat Allah.
5. Bagaimanakah kita merespon janji Allah dalam hidup kita? Apakah kita mengandalakan pikiran kita, jika janji itu bertentangan dengan ilmu pengetahuan, dengan pemahaman kita atau mungkin karena tidak sesuai dengan keinginan kita? Banyak orang menertawakan janji dan cara kerja Allah dalam hidupnya, seolah-olah apa yang dikatakan Tuhan adalah lelucon, sesuatu yang tidak masuk akal, sehingga terkadang kita sulit menerima dan mengaminkan janji Allah dalam hidup kita. 
6. Saya sering mendengar orang melihat sesuatu dan berkata bahwa tidak mungkin dia bisa memiliki barang tersebut. Jika saya katakana bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, dia akan menentang, bukan mengaminkan kekuatan dan kemampuan Tuhan mengatasi pikiran dan kemampuan kita. Pikiran kita telah mengkonsepkan Allah sebatas yang dapat kita lakukan tentang kehidupan kita, padahal Allah jauh melebihi apa yang kita pikirkan, apa yang kita kotakkan tentang Allah. Dan satu hal yang harus kita ingat, bahwa ketidakpercayaan manusia, tidak membatalkan perjanjian yang sudah Allah Firmankan.
7. Menertawakan Firman adalah penyangkalan atas kuasa Firman itu, maka dampak dari ketidakyakinan akan janji yang telah dikatakan adalah ketidak sejahteraan. Bila kita pelajari lebih dalam lagi maka kita akan melihat bagaimana Hagar menertawai Sara yang melahirkan pada usia tua, dan bagaimana Ismail mengolok-olok Ishak yang kecil.
8. Firman Tuhan mengajak kita untuk percaya penuh pada janji Tuhan,walaupun agak ‘lama’ janji itu diwujudkan dari yang kita harapkan. Janji Tuhan adalah ya dan amin, maka ketika Tuhan berfirman, kita hanya percaya dan menunggu semua janji itu, karena Tuhan berkarya tepat pada waktunya. Merancang masa depan yang baik bagi kita, maka jangan andalkan pikiranmu tentang masa depanmu, percayalah bahwa Tuhan tidak manusia yang mau berbohong. Allah berjanji, mari kira meraih janji itu dengan iman dan perjuangan. Amin


Khotbah Minggu 16 Sep 2018 Rut 2:8-16. Solidaritas Kepada Sesama”


Dalam Alkitab hanya 2 kitab saja yang diberi nama wanita: Rut dan Ester.Namun keduanya mempunyai ciri yang bertentangan. Rut adalah wanita bukan Israel, kemudian bersuamikan seorang Israel yang termasuk leluhur raja Daud. Sedang Ester adalah wanita Israel, yang hidup ditengah-tengah orang kafir, bersuamikan raja bangsa kafir. Baik Rut maupun Ester, keduanya adalah orang besar dan berbudi. Namun Kitab Rut adalah unik, karena inilah satu-satunya kitab dalam Alkitab yang seluruhnya menceritakan riwayat seorang wanita.
a)    Kisah tentang Rut terjadi di tengah-tengah zaman kekerasan yang dikisahkan dalam kitab Hakim-Hakim. Walaupun suaminya, seorang Israel sudah meninggal, ia tetap menunjukkan kesetiaannya terhadap ibu mertuanya yang berbangsa Israel itu, dan selalu beribadat kepada Tuhan umat Israel. Pada akhir kisah ini Rut mendapat seorang suami baru dari antara sanak saudara mendiang suaminya. Melalui pernikahannya yang kedua ini Rut menjadi nenek buyut Daud, raja Israel yang terbesar. Kisah-kisah dalam buku Hakim-hakim menunjukkan kesukaran-kesukaran yang terjadi karena umat Tuhan meninggalkan Tuhan. Sebaliknya, kisah Rut menunjukkan berkat-berkat yang diberikan Tuhan kepada seorang asing yang meninggalkan agamanya untuk percaya kepada Tuhan Israel. Oleh sikapnya itu ia menjadi anggota umat Tuhan.
c) Cerita dalam kitab ini bukanlah sekedar cerita roman, namun berisi tipologi atau lambang; yakni Tipologi penebusan; itulah pokok dari kitab ini yakni ada dua: pertama penebusan terhadap orang kafir; yakni Rut yang berlatar belakang kafir dan masuk dalam keluarga Israel bahkan sebagai nenek moyang raja Daud yang mereka sangat hormati dan kagumi. Bahkan Bangsa Israel juga mengetahui dari nubuat, bahwa Mesias yang mereka nantikan adalah keturunan Daud, berarti juga keturunan Rut, seorang wanita kafir. Kedua. Penebusan sebagai mempelai; merupakan penebusan tingkat tinggi. Rut sebagai bayangan gereja Tuhan yang asalnya dari bangsa kafir merupakan
fakta dari rencana Allah yang tersembunyi dalam kitab Perjanjian Lama . Melalui Rasul Paulus misteri Allah itu diungkapkan (Ef.3:6) bahwa dengan Berita Injil yang bukan Yahudi turut serta menjadi ahli waris Kerajaan Allah dalam Yesus Kristus.

b) Dalam perikop ini kita melihat pembicaraan pribadi dan langsung antara Rut dan Boas; suatu dialog antara penebus dan orang yang akan ditebus. Inilah suatu tipologi yang indah bagaimana kita harus mempunyai dialog dengan Tuhan kita, Yesus Kristus. Seringkali kita mendengar bahwa hubungan antara mertua dan menantu sangatlah sulit dan rentan konflik. Tetapi dari kisah Rut, kita dapat belajar bahwa pandangan tersebut tidaklah seluruhnya benar. Justru dalam kisah Rut, kita dapat belajar bahwa hubungan mertua dan menantu ternyata dapat begitu menyentuh dan mengharukan. Di antara Rut dan Naomi terjalin ikatan kasih yang sangat mendalam. Rahasianya Rut dan Naomi memiliki kedewasaan kepribadian yang ditopang oleh imannya kepada Tuhan. Tidaklah berkelebihan jikalau dalam kepribadian Rut terpancarlah ”inner-beauty” (kecantikan yang terpancar dari dalam batinnya), sehingga dia dipilih oleh Tuhan untuk menurunkan keturunan seorang raja besar yaitu Daud. Bahkan Rut dipilih oleh Tuhan untuk kelak menurunkan diri Tuhan Yesus. Walaupun Rut seorang wanita Moab, tetapi dia diberkati oleh Tuhan sehingga dia dapat memiliki kepribadian dan spiritualitas iman yang menakjubkan.
c) Latar belakang masa lalu, harta, status dan kehebatan manusia tidaklah cukup kuat untuk membuat kita kepada sebuah karakter terhormat. Rut mendapatkannya dengan kesetiaan kepada Allah. Langkah imannya yang teguh kepada Allah yang belum lama ia kenal membuat dirinya hidup penuh pengharapan, tidak bersungut-sungut, rendah hati dan berbudi pekerti. Dan itu semua membuatnya menjadi sosok wanita terhormat yang diakui oleh orang lain, bahkan berkenan pada Tuhan sehingga lewat dirinyalah Sang Penebus lahir di dunia ini. Hidup ini tidaklah mudah. Setiap saat ada banyak keinginan yang bisa menjerumuskan kita kepada kemerosotan moral hingga berujung pada dosa. Ada begitu banyak penderitaan yang mungkin saat ini belum terlihat jalan keluarnya. Tapi kita diingatkan untuk tidak bersandar pada kekuatan diri sendiri, melainkan bergantunglah pada Allah dengan pengharapan tanpa henti. (2 Korintus 1:8-9). Mata Tuhan tetap melihat segala yang kita lakukan, dan Dia selalu lebih dari siap untuk melimpahkan berkat kepada siapapun yang selalu taat dengan sungguh-sungguh kepadaNya. "Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia." (2 Tawarikh 16:9a). Terang Tuhan akan terpancar lewat kita jika kita mengijinkanNya hidup di dalam kita, dan kita hidup di dalamNya. Langkah iman tidak akan pernah sia-sia, karenanya hiduplah selalu sesuai firman Tuhan !. Bukti bahwa saudara dan saya adalah umat yang telah ditebus dengan darah Yesus adalah penyertaan Tuhan. Sekarang, mari kita perhatikan, pelajari tentang sikap Boas terhadap Rut. Sikap Boas terhadap Rut: 
a.    Boas langsung memperhatikan Rut (ay 5) Mungkin sekali Rut adalah seorang yang cantik, sehingga Boas langsung memperhatikan Rut. Juga pesan Boas dalam ay 9,15,16 yang melarang pekerja-pekerja lelaki mengganggu Rut, secara implicit (tidak langsung) menunjukkan bahwa Rut adalah seorang yang cantik.
b.    Boas mengajak Rut bicara (ay 8) 
Mungkin sekali saat itu ada kebiasaan bagi orang-orang yang memunguti bulir-bulir jelai / gandum yang tersisa itu untuk berpindah-pindah dan mencari pemilik ladang yang baik (cf ay 2: ‘orang yang murah hati kepadaku’) Boas menasehati Rut untuk tidak pindah ke ladang lain, tetapi tetap saja memunguti jelai di ladang Boas. Ini ia katakan jelas supaya ia bisa sering bertemu dengan Rut! 
c. Boas melindungi Rut dengan memberi pesan kepada pegawai-pegawainya (ay 9,15,16)
d. Boas berdoa untuk Rut (ay 12) 
Doa ini akhirnya dijawab oleh Tuhan melalui diri Boas sendiri 
e. Boas mengajak Rut makan (ay 14)
Boas memberi makanan yang begitu banyak sehingga berlebihan dan akhirnya diberikan kepada Naomi (ay 18) 
f. Boas memberikan hak khusus kepada Rut (ay 15) 
Ia jelas tak memberikan hak seperti ini kepada para pemungut yang lain!
g. Boas memberi perintah kepada para pegawainya untuk mempermudah pekerjaan Rut (ay 16) 
Dari semua ini terlihat dengan jelas bahwa Boas tertarik kepada Rut! Suatu perhatian penuh kasih sayang dan belas-kasih itulah yang terjadi dalam diri Boas terhadap Rut.
1) Kalau ditinjau dari sudut manusia, maka munculnya titik terang dalam kehidupan Rut itu, terjadi secara kebetulan!
2) Kalau ditinjau dari sudut Allah, maka tidak ada kebetulan! Dari sejak semula, Allah sudah menentukan / merencanakan semuanya dan Allah lalu mengatur segala sesuatu sehingga semua terjadi sesuai dengan Rencana Allah yang kekal!
a. Bacalah ayat-ayat KS ini: Amsal 16:9 19:21 21:1
Rut mungkin memikir-mikir ke ladang mana ia akan pergi. Tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya (Amsal 16:9 19:21).
Ruth berani untuk meninggalkan masa lalunya dan memulai sesuatu yang baru. Persoalan banyak orang di zaman ini adalah ketidakmampuan kita meninggalkan kesedihan, persoalan kehidupan masa lalu yang selalu membayangi diri. Ketidakmampuan itu membuat banyak orang lari dari kenyataan dan akibatnya, persoalan demi persoalan melanda kehidupan, sementara persoalan yang satu belum selesai, persolan lain telah datang. Rut berani untuk meninggalkan masa lalunya dan beranjak ke depan untuk memulai sesuatu yang baru, yang walaupun belum diketahui bagaimana keadaannya nantinya.
Maka dapat kita simpulkan beberapa dari sikap Rut untuk kita renungkan bersama, yaitu:
1. Bersikeras mengikuti Tuhan dan jangan mendua hati di tempat persimpangan.
2. Meninggalkan masa lampau saudara dan hidup dengan iman.
3. Bersikeras memulai hidup baru dengan Allah dan memegang semua instruksiNya, peraturanNya.
4. Jangan malas untuk melakukan pekerjaan yang hina dan kecil. Ayub 8:7,“Maka kedudukanmu yang dahulu akan kelihatan hina, tetapi kedudukanmu yang kemudian akan menjadi sangat mulia.” Yang penting bukan bagaimana awalnya tapi bagaimana akhir saudara ikut Tuhan.
5. Jangan mencari kehormatan. Seperti Ruth berkata, “Biarkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku.” (Rut 2:2).
6. Hidup berintegritas. Apa itu integritas? Karakteristik dari Ruth adalah seseorang yang loyal dan tidak egois.
7. Hormati mertuamu, orangtua, otoritas, pemimpin Anda.
Amin.