Selasa, 31 Juli 2018

Khotbah Minggu 05 Agustus 2018 Kekuatan Tangan Tuhan yang Membebaskan/Memerdekakan Keluaran 13, 11-16 Sidhi 2 Orang dan Babtisan


1. 17 Agustus adalah Hari kemerdekaan Indonesia dari penjajahan tahun ini kita rayakan kemerdekaan yang ke 73 tahun. Kemerdekaan ini diperoleh dengan Rahmat Tuhan yang Maha Esa, itu berarti bahwa kemerdekaan adalah pemberian Tuhan; Kekuatan tangan Tuhan yang membawa bangsa ini keluar dari penjajahan. Apakah yang perlu kita lakukan sebagai bangsa yang menerima rahmat dan kemurahan Tuhan?
2. Bangsa Israel pun menerima kemerdekaan dari Tuhan, dengan keluarnya mereka dari perbudakan Mesir. Kebebasan ini merupakan berkat Tuhan, oleh karena itu mereka bersyukur dengan pemberian Tuhan, dengan pembebasan yang telah mereka nikmati. Berkat yang mereka terima, diwujudkan dengan mengadakan ucapan syukur dengan memberikan persembahana anak sulung dari semua binatang peliharaannya, juga tebusan anak sulung untuk anak Tuhan, di mana semua anak sulung menjadi iman, namun tugas ini sudah menjadi tugas kaum Lewi.
^    Mengucap Syukur Adalah Kunci Kebahagiaan
Kekayaan tidak dapat memberi kita kebahagiaan, begitu pula dengan jabatan, kepandaian, kekuatan kita. Jika uang menjadi tolak ukur kebahagiaan, Adolf Merckle tidak akan menabrakan dirinya di kereta, jika ketenaran dapat menjamin kebahagiaan, tentunya para selebritis tidak ada yang depresi. Kunci kebahagiaan adalah selama kita mensyukuri hidup ini. Ketika kita mengucap syukur, kita membuka diri untuk bahagia.
^    Menjadi Pribadi yang Positif
Orang yang mengucap syukur dalam segala hal adalah orang yang senantiasa membangun dirinya ke arah yang lebih baik. Melihat segala sesuatu pada sisi yang benar, setiap kejadian yang ada entah baik atau buruk tidak melemahkan dia, namun selalu berdampak positif.
Mungkin anda berkata, bagaimana mungkin saya dapat mengucap syukur sedangkan hidup saya sudah sulit, saya menanggung masalah yang begitu berat. Jadi bagaimana kita dapat mengucap syukur ?
+    Ingatlah Selalu ada hal untuk disyukuri
Siapapun anda, seberat apapun hari yang anda lalui ingatlah bahwa selalu ada hal untuk disyukuri. Ketika kita masih diberikan kesehatan mengucap syukurlah, ketika kita masih bisa makan kita mengucap syukur, ketika kita masih memiliki rumah untuk berlindung, teman yang mengasihi kita, bahkan ketika kita masih diberikan nafas kehidupan, mengucap syukurlah. Seberat apapun masalah pergumulan kita selalu ada hal untuk disyukuri.
+    Segala Sesuatunya Mendatangkan Kebaikan
(Roma 8:28a) “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia”. Ketika kita mengasihi Tuhan, kita melakukan kehendakNya dan dalam hal ini kita mengucap syukur. Ingatlah bahwa Allah selalu merancangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi dia, bagi setiap pribadi yang melakukan kehendak Allah, setiap pribadi yang mengucap syukur. Ketika kita tahu bahwa segala sesuatunya (entah menyenangkan atau tidak) pasti mendatangkan kebaikan, mengapa kita enggan mengucap syukur ?
3. Bila Tuhan memberi yang baik padamu, membawa kita keluar dari kesusahan di tengah hidupmu, sebagaimana yang dijanjikanNya padamu (ay.11), maka haruslah kau memberi persembahan syukur, persembahan anak sulung (ay12), di mana semua yang baik, semua yang paling kita cinta kita beri sebagai persembahan kepada Tuhan. Bagian ini hendak mengatakan supaya kita tidak memberi dari sisa-sisa yang kita miliki. Saya pernah mendengar satu keluarga ingin mempersembahkan anaknya yang paling bodoh menjadi pendeta. Kata mereka, saudaranya yang lain pintar, jadi bisa jadi dokter, bisa cari kerja, sayang kalau jadi Pendeta, sayang memberi yang terbaik kepada Allah. Itu sebabnya sulit bagi kita memberi perpuluhan , karena perpulhan selalu diberi di awal bukan dari sisa uang bulanan kita. Mengapa? Karena kita berpikir bahwa hidup kita bersumber dari kekuatan kita sendiri.
4. Tuhan menjelaskan bahwa semua yang kita miliki adalah hasil kebaikan Tuhan memelihara kehidupan kita, sehingga dalam ay 13 dikatakan: Tetapi setiap anak keledai yang lahir terdahulu kau tebuslah dengan seekor domba; atau, jika engkau tidak menebusnya, engkau harus mematahkan batang lehernya. Tetapi mengenai manusia, setiap anak sulung di antara anak-anakmu lelaki, haruslah kautebus. Ada bayaran dari semua yang kita miliki. Dalam arti meski kita mempunyai sesuatu, tapi kita tidak berhak atas semua yang kita miliki, sebab kita hanya tempat penitipan belaka. Bahkan anak kita sendiripun adalah titipan maka, anak sulung harus dibri pada Tuhan, namun Lewi telah menggantikannya, maka dibayar dengan persembahan hidup untuk ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan.
5. Tradisi persembahan syukur bukanlah hanya milik pribadi. Maka ketika Indonesia merdeka, sejarah mencatat, bahwa kemerdekaan itu adalah Rahmat tuhan yang Maha Esa. Catatan ini hendeka meneruskan pemahaman bangsa Indonesia akan kemerdekaan yang diperoleh 73 tahun lalu adalh hasil karya tangan Tuhan. Setiap generasi harus mengetahui ini, bahwa kemerdekaan adalah rahmat Tuhan. Demikianlah maksud Allah terhadap orang israel, setelah mereka masuk ke tanah Kanaan, ke tanah yang dijanjikan Allah bagi mereka, agar memberitahukan mewariskan tradisi persembahan kepada generasi berikut. Dalam ay 14, dikatakan: Dan apabila anakmu akan bertanya kepadamu di kemudian hari: Apakah artinya itu? maka haruslah engkau berkata kepadanya: Dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN telah membawa kita keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan.
6. Maksud dari ay 14 ini bahwa sesuatu yang terbaik akan diberikan kepada Tuhan. Memberi persembahan beri persembahan terbaik (Jgn Uang 200 utk Parkir pun kurang), menjadi sintua, jangan menunggu sampai pensiun dari pekerjaan, berilah dirimu dengan sungguh dipakai Tuhan apakah sebagai sintua, pendeta, pekerja sosial bahkan pekerja pemerintahan, semua berilah yang terbaik. Cara kerja yang baik untuk memuliakan Tuhan akan menurun dari generasi ke generasi, sehingga kemerdekaan itu mempunyai makna teologis. Dengan demikian pemilikian tanah kanaan akan selalu dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Pemilikan kita atas sesuatu akan kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan. Dan tanggung jawab ini yang akan kita jelaskan pada generasi muda kita, mengapa harus bersyukur, emngapa haru memakai semua yang punya untuk emmuliakan Tuhan? Karena tangan Tuhan yang kuatlah yang membawa kita keluar dari perbudakan, dari ketidakmampuan dan keterpurukan kita, sehingga kita menjadi bangsa yang merdeka, dimerdekan dengan kasih Tuhan yang ajaib.
7. Sikap hidup kita yang tahu berterimakasih akan mendidik generasi muda untuk selalu percaya pada Tuhan, percaya pada kekuatan tanganTuhan, bahwa Tuhan sanggup melakukan perkara-perkara besar. Semua komponen bangsa akan mengethui, walaupun dari sudut kekuatan Belanda dan Jepang tidak mungkin dikalahkan Indonesia, tetapi fakta sejarah membuktikan, bahwa kemerdekaan telah kita peroleh, dan itu adalah anugerah Tuhan dengan kekuatan tanganNya.
8. Hal kemerdekaan ini sangat akrab dalam pengalaman orang Israel, sebab ketika Firaun dengan tegar menolak untuk membiarkan mereka pergi, maka TUHAN membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, dari anak sulung manusia sampai anak sulung hewan (15a). Alasan inilah menyebabkan mengapa dipersembahkan kepada TUHAN segala binatang jantan yang lahir terdahulu dari kandungan, sedang semua anak sulung di antara anak-anak lelaki kutebus (ay 15b). Ketika kemerdekaan itu kita lihat sebagai pemberian Tuhan, maka kita mengisi kemerdekaan itu dengan sebaik-baiknya, maka kita akan menggunakan kemerdekaan itu untuk memuliakan Tuhan. Sebagai orang meredeka, hendaklah kita mensyukuri kebebasan yang dibawa Tuhan kepada kita, dengan saling mengasihi, tidak saling menggigit atau saling menelan. Janganlah kita mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (gal 5, 13-15: Epistel). Artinya kemerdekaan yang kita terima akan menjadi cara kita mewujudkan cinta kasih Allah yang membebaskan kita. Jangan sampai ada orang meresa tidak merdeka di alam kemerdekaan yang telah kita terima dari Tuhan, karena kemerdekaan tidak kita wujudkan dnagn saling mengasihi dan melayani seorang terhadap yang lain.
9. Kebaikan kita dalam mengisi kemerdekaan, memberi kesejahterahan pada rakyat akan terus mewujud dalam hidup kita dan anak-anak kita. Tuhan berkata dalam ay.16; Hal itu harus menjadi tanda pada tanganmu dan menjadi lambang di dahimu, sebab dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN membawa kita keluar dari Mesir."
10. Jangan melupakan kabikan Tuhan, jangan mengatakan semua hasil kekuatanmu, tapi tuliskanlah di loh hatimu, bahwa tangan kuat Tuhanlah yang membawa kita keluar dari perbudakan dosa, Tuhanlah memerdekakan negara kita dari penjajahan, Tangan Tuhan membuktikan keselamatan kita dalam darah Yesus Kristus di Golgata. Amin. RHLT
Dari Berbagai Sumber.


Khotbah Minggu 29 Juli 2018 Mat 16:24-28 Pengikut Yesus Yang Setia


Mengikut orang atau seseorang yang belum kita kenal dan tidak jelas arah tujuannya tentu saja rasanya berat sekali. Kalau kita dijanjikan tentang hal-hal yang enak nantinya mungkin akan mau dan merasa senang, tetapi bila kita disuruh menanggung beban yang berat dari orang yang kita ikuti tentu hati kita akan menentangnya, bahkan kita sama sekali tidak sudi mengikutinya.
Mengikut Yesus bukanlah perkara yang gampang, ada harga yang harus dibayar dan harga itu amat mahal, “Setiap orang yang mengikut aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut aku”. Yesus menghendaki pengikut-pengikut yang sadar, paham, tidak hanya ikut-ikutan, terpikat oleh janji-janji lalu lupa membuat kalkulasi mampukah kubayar nanti?
Yesus katakan bahwa harga sebuah kemuridan untuk mengikut Dia itu tinggi sakali, mengapa? Sebab Yesus memang bukan barang murahan dan yang kita peroleh apabila benar-benar mengikut Dia juga bukan hadiah sembarangan,  “Dan setiap orang yang karena namaKu meninggalkan segala sesuatu akan menerima seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Mat 19:29). Jadi wajar sekali apabila kita mau memperoleh barang yang “bagus” kita mesti bersedia membayar mahal. Masalahnya adalah apakah kita memang benar-benar menganggap Yesus itu cukup berharga? Lebih berharga dari yang lain termasuk keluarga bahkan diri kita?
Yang ketiga, Yesus menghendaki agar kita yang mengikut Dia adalah pengikut yang konsekuen, berani menanggung resiko dan menjadikan Dia yang nomer satu dan yang satu-satunya dalam hidup kita. Ketika kita rela berkorban dan memikul salib demi Yesus kita pasti akan memperoleh anugerah yang besar sekali. Bertahanlah! Iman dan kesetiaan kita kepada Yesus tidak akan mengecewakan.
Tiga Hal Penting : Dlm Mengikut Yesus
HARUS MENYANGKAL DIRI
MEMIKUL SALIB
MENGKUTI PELAYANAN
Maknanya berarti, keputusan untuk mengikut Yesus adalah hal yang sangat “MAHAL” harganya. Sebab, manusia harus meletakkan semua kepentingan dirinya kepada Kristus, Rela mati bagi Kristus, dan Rela miskin melayani DIA dalam dunia ini.
Yesus memberikan syarat itu, agar murid-muridnya berhenti berpolemik tentang apa yang mereka makan, upah apa yang mereka dapatkan dari semua pengorbanan waktu.
Murid-muridnya mulai berhitung-hitung, jika waktu saya habis, maka apa imbalannya. Manusia memperhitungkan untung rugi dalam setiap kehidupannya, itu sangat wajar. Tetapi, syarat mengikut Tuhan Yesus, tidak menjanjikan emas, perak dan makanan seperti harapan manusia baik di zaman itu maupun di zaman modern sekarang ini.
Harus Menyangkal Diri
Menyangkal Diri, adalah tindakan yang sangat berat dilakukan manusia, sebab harus meletakkan semua hak-hak kepemilikkannya terhadap apapun yang selayaknya manusia miliki. Jika saya seharusnya berhak mendapatkan kesempatan untuk menginap di hotel bintang lima, karena alasan penghargaan dan jabatan yang saya miliki,  maka saya sangkal diri saya, bahwa hak itu tidak saya terima, sebab saya bukan diriku lagi, saya lebih baik bersama-sama dengan orang-orang yang papah. Penghormatan adalah penghargaan yang sia-sia di dunia ini. “bukan aku lagi …..tetapi Yesus yang ada dalam diriku”
Sekarang bukan lagi saya yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri saya. Hidup ini yang saya hayati sekarang adalah hidup oleh iman kepada Anak Allah yang mengasihi saya dan yang telah mengurbankan diri-Nya untuk saya. Galatia 2 : 20
Memilih hidup seperti Yesus, sama dengan menyerahkan seluruh visi misi dan opsesi hidup kita tanpa syarat. Mampukah ? Mampukan anda menyangkal diri sekarang dan hanya hidup kepada KRISTUS?
Harus Memikul Salib
Memikul salib adalah menanggung beban berat yang tidak biasa dialami oleh orang pada umumnya. Seberapa beratnya salib itu Tuhan yang sudah menentukan ukuran yang pas untuk setiap kita yang mau mengikuti DIA hari ini. Salib itu menyerupai dengan penderitaan selama mengikut DIA, jadi sangat salah kalau para hamba TUHAN saat ini berfoya-foya mengelola uang Gereja Tuhan, namun mereka seharusnya menanggalkan jas dan jubahnya. Yesus memikul salibnya, bukan karena IA salah, bukan karena dosaNya. Demikian juga kita yang hari ini mempersiapkan diri menanggung beban yang berat seperti Yesus.
Tuhan Yesus, babak belur dan hampir-hampir saja mati dalam perjalanan Fiadolorosa, menuju Golgota. Namun, ukuran beban salib itu TUHAN yang MAHA KUASA, yaitu Bapa yang baik itu, telah menentukan batas kemampuan yang wajar bagi setiap manusia. Sekalipun rasanya mau mati karena begitu  beratnya beban itu, namun pasti berhasil sampai pada bukit Golgota. Bagaimana dengan anda?
Dalam Matius 10:38, denga tegas Tuhan Yesus bermaksud, bahwa mereka yang takut menahan beban, tidak rela mati, tidak mampu menderita, tidak layak untuk hidup.
Mat 10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. 
Tidak layak hidup bagi Tuhan Yesus, berarti tidak pantas, bahkan tidak berhak  untuk menikmati berkat dari ALLAH yaitu Bapa kita. Kata ini sangat tegas, bahwasanya siapa pun manusia di bawah kolong langit ini yang mau sukses dalam hidupnya haruslah ia memikul beban yang seharusnya bukan bebannya. Tetap beban yang telah diletakkan oleh Tuhan di punggung kita, yaitu beban visi misi Yesus untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Sudah berapa jiwa yang engkau bawa kepada Kristus? Dari cara hidupmu, apakah sudah membawa pengaruh yang besar merubah hidup orang lain dan mengenal kasih Kristus?
Menyangkal diri berarti mengakui ketergantungan kita kepada Allah, dan karena itu, kita menyerahkan hak dan otoritas diri kita sepenuhnya kepada Allah. Kita mengakui bahwa hidup yang diserahkan kepada Tuhan, sebagai pemegang hak dan otoritas penuh untuk menentukan bagaimana hidup kita dijalani bukan saja sudah seharusnya tetapi juga akan membawa kebaikan bagi kita.
Dalam buku kecil ‘Hatiku Rumah Kristus,’ Robert Boyd Munger mengungkapkan dengan indah bagaimana suatu kehidupan yang diserahkan sepenuhnya kepada Kristus sebagai penguasa hidup kita adalah cara terbaik untuk menjalani kehidupan Kristen. Ibu Teresa pernah mengatakan bahwa dirinya hanyalah pensil sederhana yang diserahkan ke dalam tangan Tuhan untuk Ia pakai sesukaNya untuk maksud Allah.
Menyangkal diri berarti pertempuran seumur hidup menaklukkan dosa dalam diri kita. Mau tidak mau, harus kita akui bahwa ada banyak sifat buruk di dalam diri kita. Untuk lepas dari keinginan dosa yang melekat dalam dirinya sampai inilah rasul Paulus bergumul sampai ia mendapatkan kemenangan rohani dalam diri Allah Tritunggal (Rom 7:13-8:17).
Dalam Gal 5:19-21 Paulus memperingatkan kita bahwa orang yang menuruti keinginan daging tidak layak mendapat bagian di dalam Kerajaan Allah. Tidak seorangpun dari kita yang bebas dari dosa; karena itu, jangan ada orang yang menyombongkan diri. Biarlah setiap kita yang jatuh dalam berbagai macam dosa ini, berusaha untuk bangkit kembali dengan pertolongan Tuhan. Biarlah kita menyalibkan tubuh dosa kita sehingga dosa kehilangan kuasaNya di dalam diri kita. Inilah pengalaman rasul Paulus: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku.“ (Gal 2:19-20)
Hanya setelah belajar untuk menyangkal diri, kita mampu melakukan kebaikan sejati kepada orang lain dan kepada dirinya sendiri. Selama belum menyangkal diri, bahkan ketika berbuat baik sekalipun, semua itu kita lakukan demi dirinya. Kita hanya berbuat baik kepada yang baik kepada kita, kepada orang yang kita sukai, kepada orang yang akan memberikan keuntungan kepada kita, atau yang suatu hari dapat menolong kita. Bahkan berbuat amal pun itu untuk mengumpulkan amal bagi kita, atau melaukan kebajikan yang sangat mulia, karena itu memberikan kesenangan rohani kita. Demikian juga, hanya setelah belajar untuk menyangkal diri kita baru dimampukan untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita.
Penyangkalan diri memampukan kita untuk mengakui diri kita hanya penatalayan Tuhan dan segala sesuatu yang ada pada diri kita: talenta, kepandaian, kekayaan, waktu, kesempatan, kelancaran, kesehatan, dsb adalah karunia dari Tuhan. Dan semua itu bukan untuk dipakai bagi kepentingan kita sendiri, apalagi untuk diboroskan atau untuk tujuan yang berdosa, sebaliknya kita akan memakai semua itu dengan rendah hati, disiplin dan dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan maksud dan ketetapan Allah.
Musuh setiap orang ialah dirinya sendiri: keegoisannya, hawa nafsu dan keinginan daging di dalam dirinya; bukanlah situasi luar seperti kurang pintar, kaya, kurang tampan atau kurang cantik, kurang mendapat kesempatan, dan sebagainya. Anak Tuhan harus berjuang menaklukkan dosa sehingga rencana Tuhan yang indah dapat terwujud dalam dirinya. Kemenangan pribadi atas atas diri sendiri inilah rahasia kemenangan rohani yang memberikan kesuksesan di bidang lain. Sebaliknya kegagalan untuk menaklukkan sifat-sifat buruk dalam diri kita secara pasti menghambat kemajuan yang diharapkan Tuhan dari kita. Kiranya Tuhan menolong kita menjadi muridNya yang sejati. Amin. 
Dari Berbagai Sumber






Khotbah Minggu 22 Juli 2018 Menjadi Pemimpin Yang Adil dan Jujur Ev.: 1 Raja-raja 21 : 1 – 16


Setiap manusia pasti mempunyai banyak keinginan. Dan itu tidak salah. Namun tidak berarti tidak ada masalah. Sebab dalam kenyataannya tidak semua keinginan kita dapat terpenuhi dan hal ini dapat membuat kita kecewa, bersungut-sunggut, menyalahkan orang lain, diri kita bahkan menyalahkan Tuhan; juga tidak semua keinginan yang tercapai tersebut sungguh-sungguh bermanfaat bagi kita, membawa kebahagiaan bagi kita. Oleh karena itu dibutuhkan kebijaksanaan menyikapi dan memilah-milah (sekala prioritas) dalam merealisasikan kenginan-keinginan tersebut. Terlebih sebagai orang percaya, kita harus dapat membedakan mana keinginan daging dan mana keinginan roh. Paulus dalam Galatia 5:17 mengingatkan jemaat/kita agar tidak hidup dalam keinginan daging, tapi hidup dalam keinginan roh. Keinginan daging[1] berlawanan dengan keinginan roh[2]. Mengapa? Sebab keinginan daging berpusat pada keinginan manusia yang berdasarkan hawa nafsu dan membawa kepada kebinasaan, sebaliknya keinginan roh berpusat pada keinginan Tuhan, keinginan yang mendatangkan damai sejahtera.
 Misalnya berkeinginan menjadi kaya, banyak harta, tidak kurang apa pun, namun bagi orang percaya ternyata bukan hal tersebut yang paling penting atau yang menjadi perioritas utama dalam hidup. ternyata walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu. Apa artinya ini? Yesus mengingatkan kita tentang arti hidup yang sesungguhnya.(Luk 12:15) Dapatkah manusia dengan hartanya membeli kebahagiaan yang sesungguhnya (padahal tujuan terpenuhinya keinginan apa pun itu tidak lain agar bahagia), terlebih membeli ganti nyawanya? Jawabannya, tidak.
1 Raja-Raja 21:1-16 menceritakan mengenai kelakuan atau tindakan seorang raja Samaria (Israel Utara) yang bernama Ahab dan Istrinya Izebel mewujudkan keinginannya untuk memiliki kebun anggur Nabot dengan cara yang keji, yakni membunuh Nabot dengan jalan membuat suatu konspirasi jahat yang di skenarioi Izebel.
Ahab sebagai seorang raja, kehidupanya pasti tidak kekurangan. Ia memiliki kebun yang jauh lebih baik dari kebun anggur Nabot[4]. Namun mengapa Ahab mengingi kebun anggor Nabot? Alasannya sangat sederhana yakni karena kebun tersebut berdekatan denganrumahnya dan kebun itu mau ditanami sayur-sayuran (ayt.2). Ahab berpikir alangkah senangnya kalau kebun anggur Nabot menjadi miliknya. Ia tidak perlu jauh-jauh menanam sayur-sayuran. Disamping itu, untuk melepaskan kepenatan atau kebosanan di istana ia dapat pergi melihat kebun sayur-sayuran yang dekat dengan istananya. Keinginan Ahab ini saya pikir sangat wajar. Bukanakah kita juga menginginkan yang sama? Kalau bisa, saya pikir kita juga sangat mengingini agar tempat kerja tidak jauh dari rumah kita. Kalau bisa hanya dengan berjalan kaki kita bisa sampai ditempat kerja, sehingga tidak perlu kuatir dengan kemacetan yang selalu kita alami khususnya di kota Jakarta ini. Demikian juga tempat sekolah anak-anak kita, dsb. Masalahnya ialah ketika keinginan tersebut tidak memungkinkan terwujud (mentok) apakah kita harus menghalalkan cara-cara yang tidak terpuji? Ahab, ketika keinginannya mentok, dimana Nabot tidak bersedia menjual kebun anggurnya dengan alasan yang sangat jelas, yakni Tuhan melarang penjualan tanah pusaka/warisan nenek monyangnya [5], membuatnya kesal, gusar bahkan menyakiti diri dengan mengurung diri dan tidak mau makan. Keinginan telah berubah menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi. Akibatnya sangat luar biasa, Nabot orang yang taat terhadap aturan agama, harus mati ketika berhadapan dengan Izebel yang jahat, yang menghalalkan segala cara untuk menyenangkan hati suaminya, raja Ahab, dengan memenuhi keinginannya memiliki kebun anggur Nabot[6].
Pada akhir2 ini bahwa banyak wanita yang bermasalah dengan urusan belanja[7]. Wanita memang seringkali kesulitan menahan godaan belanja. Saat tidak melihat iklan atau melihat barang tertentu, keinginan untuk membeli tidak muncul. Namun, sesaat setelah melihat sebuah barang yang baru, lucu, dan stylish (apalagi jika bisa dicicil), seketika muncul keinginan untuk memiliki barang tersebut. Parahnya lagi, kadang keinginan ini berubah menjadi sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi. Kalau tidak dipenuhi, hidup menjadi tidak bergairah, seperti Ahab, gusar, tidak mau makan. Dengan kata lain bila keinginan tersebut belum terpenuhi ia merasa hidup belum normal, ia menjadi merana. Sama dengan orang kecanduan narkoba, bila tidak menggunakannya disarakan hidupnya hampa, menderita, tidak bahagia. Padahal sebaliknya bila hal tersebut tidak dihentikan akibatnya tidak hanya merugikan dirinya tetapi juga orang lain, terlebih keluarganya. Yang paling parah lagi, bila dalam memenuhi keinginan tersebut ia menghalalkan segala cara, tidak lagi memiliki rasa takut melakukan dosa. Seperti raja Ahab dan Istrinya Izebel, dengan tega membunuh Nabot. Bagaimana endingnya orang yang demikian? Pasti bukan berakhir dengan baik[8]. Hidupnya akan dipenuhi banyak masalah dan akibatnya tidak akan merasa bahagia.
(2) Salah satu trik untuk menahan pengeluaran yang tak diperlukan saat berbelanja adalah dengan membedakan apakah pembelanjaan tersebut berdasarkan keinginan atau kebutuhan. Bagaimana membedakan keinginan dan kebutuhan? Sebenarnya sangat mudah. Yang sulit adalah mengendalikan diri sendiri. Ada tiga hal pokok yang membedakan antara keinginan dan kebutuhan, yaitu:
Keinginan selalu datang tiba-tiba tanpa perencanaan, sedangkan kebutuhan sudah dapat diperkirakan jauh hari.
Keinginan, bila tidak dipenuhi hanya mengganggu mood, sedangkan kebutuhan bila tidak dipenuhi akan mengganggu jalannya kehidupan.
Keinginan bila dipenuhi akan membawa penyesalan di kemudian hari (hati tidak tentram) karena ternyata barang yang baru dibeli tidak terlalu diperlukan. Sedangkan kebutuhan bila dipenuhi maka hati akan tenteram dan damai.
Kerena itu, suami-istri hendaknya saling mengingatkan dan menguatkan agar memiliki kebijaksanaan dalam memenuhi keinginan-keinginan sesuai dengan kemampuan.
1. Ahab: Penguasa yang dikuasai. Tentunya kita masih ingat dalam zaman Orba dahulu, Sang Penguasa atau Anak Sang Penguasa atau bahkan teman Sang Penguasa begitu berkuasa. Apa pun yang mereka inginkan harus dapat dimiliki dengan cara apa pun, walau harus menabrak batas-batas moral, nilai-nilai agama, atau bahkan mengorbankan nyawa orang lain. Namun kekuasaan itu ternyata tidak pernah memberikan kepuasan kepada mereka. Setelah mereka berhasil menguasai bisnis-bisnis besar, mereka masih menginginkan bisnis-bisnis kecil seperti tata niaga jeruk, lahan perparkiran, dan pemasok sepatu seragam untuk sekolah tertentu. Siapa pun tidak berani menentang atau menghalangi keinginan mereka karena risikonya sangat berat.
Kisah kebun anggur Nabot memanifestasikan paradoks itu dengan tepat.
Ahab, sebagai raja Israel, mempunyai kekuasaan, kekayaan, dan kemegahan yang pasti jauh di atas Nabot. Namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah ia miliki. Ia tidak dapat menguasai nafsu untuk mengingini dan memiliki sesuatu, walaupun ia tahu bahwa firman Tuhan memang melarang Nabot untuk menjual kebunnya. Nafsu yang tidak dapat dikuasai itu akhirnya berbuahkan tindakan dosa yaitu melanggar firman Tuhan secara sadar dan sengaja. Atas bujukan istrinya, ia menyetujui untuk melenyapkan Nabot secara licik dan sadis. Dengan demikian, keinginan Ahab terpuaskan.
Jelas tergambar bahwa walaupun Ahab sebagai penguasa Israel, namun ia sendiri hanyalah seorang budak nafsu. Oleh karena itu Allah mendatangkan hukuman yang setimpal kepadanya. Walaupun Allah menangguhkan hukuman-Nya, tidak berarti bahwa Allah membatalkannya.
Paradoks ini dapat menjadi cermin bagi Kristen masa kini. Hati-hatilah terhadap setiap keinginan yang timbul dalam hati. Kita harus dapat menguasai dan mengontrolnya dengan cara belajar puas dan merasa cukup terhadap apa pun yang kita miliki sekarang. Karena keinginan yang tidak terkontrol akan berbuahkan dosa yang dibenci oleh Allah. Kuasailah nafsu sebelum nafsu menguasai kita.
2. Ahab, si anak manja. Kisah Ahab adalah kisah seorang yang memiliki jabatan tertinggi di dalam pemerintahan, namun bertingkah bagaikan anak kecil yang manja karena terbiasa mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya. Kisah ini menarik untuk dikaji secara kejiwaan. Namun dalam renungan kita hari ini, mari kita mengkaji kisah ini secara teologis.
Pertama, Ahab serakah. Ia tidak mengendalikan hawa nafsu keserakahannya. Ia tidak mau menyadari bahwa Tuhan sudah memberikan hak dan “berkat” kepada setiap orang sesuai dengan kasih karunia-Nya. Keinginan yang serakah adalah dosa di mata Tuhan (ay. 1-4).
Kedua, Izebel licik. Ratu jahat ini menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Jelas ini bukan sikap iman! Orang yang merasa bahwa ia bisa dan harus mendapatkan apapun dengan memakai cara apapun, bukan anak Tuhan (ay. 5-10)!
Ketiga, para tua-tua dan pemuka Kota Samaria adalah masyarakat kelas atas yang memiliki moral rusak dan hati nurani yang busuk. Buktinya mereka mau saja mengikuti perintah Izebel yang jelas-jelas bermotivasikan kejahatan. Masyarakat seperti ini adalah masyarakat yang sakit (ay. 11-12)!
Keempat, dua orang dursila adalah orang-orang yang mau melakukan apa saja demi sedikit keuntungan. Ini adalah produk dari masyarakat yang sakit (ay. 13-14).
Betapa mengerikannya kalau keserakahan Ahab, kelicikan Izebel, dan kerusakan moral dan hati nurani masyarakat Samaria adalah gambaran kehidupan pemimpin-pemimpin dan kelompok elit negeri ini. Pastilah produk yang muncul adalah orang-orang dursila. Siapa yang bisa mengatasi semua ini? Syukur kepada Allah. Allah sendiri, melalui anak-anak-Nya yang mau dipakai-Nya untuk menyuarakan kebenaran dan menegakkan keadilan.3. Lalu, apa yang harus kita perbuat, agar kita hidup benar dan tidak serakah? Dalam (Amsal 16 : 16 – 20) menghantar kita untuk memahaminya. Pada, ayat 16 dikatakan, “memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak”. Dalam rangka mendorong seseorang melakukan hidup dengan benar, ayat ini menasihatkan bahwa memperoleh hikmat dan pengertian jauh lebih penting daripada emas dan perak. Hikmat dalam bahasa Ibrani adalah “hokmah” dari akar kata yang berarti teguh dan berpengalaman. Hikmat adalah pengetahuan untuk menjalani kehidupan (Am.1:5). Tempat hikmat adalah di dalam hati, yang menjadi pusat pengambilan keputusan yang bermoral dan berakal (bnd. 1 Raja 3:9, 12). Begitu pentingnya hikmat, sehingga penulis Amsal mengatakan “Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk” (Am. 3:21-23). Orang Israel percaya bahwa hikmat berasal dari Allah, “tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian” (Ayb. 12:13). Oleh karena itu memperoleh hikmat dan pengertian jauh melebihi emas dan perak. Karena hikmat adalah dasar, fondasi, jalan (bhs. Ibrani, derek), sedangkan emas dan perak tidak dapat dijadikan sebagai jalan dan dasar. Melalui hikmat dan pengertian, manusia dapat memahami jalan Tuhan. Marhite hapistaran dohot hapantason i, i do bohal laho mangantusi dohot mananda dalan lomo ni roha ni Debata. Itulah yang paling berharga.Menjaga hati supaya jangan congkak dan tinggi hati, itu berarti menjaga kehidupan, ”jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Am.23: 4).
Persoalan pokok mereka adalah karena mereka tidak mempunyai permulaan hikmat yaitu takut akan Tuhan.
Firman Tuhan atau persekutuan dengan Tuhan (= takut akan Tuhan), itulah yang berharga di dalam kehidupan orang yang percaya, dan kepadanya akan diberikan kebahagiaan sejati.
4.  . Namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah ia miliki. Ia tidak dapat menguasai nafsu untuk mengingini dan memiliki sesuatu, walaupun ia tahu bahwa firman Tuhan memang melarang Nabot untuk menjual kebunnya. Nafsu yang tidak dapat dikuasai itu akhirnya berbuahkan tindakan dosa yaitu melanggar firman Tuhan secara sadar dan sengaja. Atas bujukan istrinya, Izebel, ia menyetujui untuk melenyapkan Nabot secara licik dan sadis. Dengan demikian, keinginan Ahab terpuaskan. Jelas tergambar bahwa walaupun Ahab sebagai penguasa Israel, namun ia sendiri hanyalah seorang budak nafsu.
Dan itulah yang diingatkan oleh Amsal 16:16-20 ini, hikmat yang merupakan pewujudan dari takut akan Tuhan menjaga setiap orang dari nafsu-nafsu jahat, dari keinginan daging. Hikmat itu lebih penting daripada emas dan perak, juga menjaga orang dari kecongkakan dan tinggi hati, seperti raja Ahab yang memakai kuasanya dengan salah menjadi orang yang congkak. Murka Allah dinyatakan kepada raja Ahab. Firman Tuhan melalui nabi Elia menyatakan akan hukuman Tuhan kepada raja Ahab dan keluarganya (baca, 1 Raja-raja 21: 17-29), bahwa dia akan mati dan darahnya akan dijilat anjing. Firman Tuhan terbukti, raja Ahab mati dalam peperangan, dan darahnya dijilat anjing (1 Raja-raja 22:38). Amin.

Khotbah Minggu 15 Juli 2018 Kisras 18:1-8 Mau Saling Melayani Dan Berbuat Baik.



(Pembukaan Pekan Keluarga Spy Setiap Kel. Melaksanakan Kebaktian dan Kolekte. Spirit Berbakti Dan Memberi hrs nyata dlm Kehidupan setiap Org Kristen Ams,3:9: Mz 37:25)

Darwin berpandangan bahwa dalam perjuangan hidup, hanya makhluk yang paling ulet dan paling mampu menyesuaikan diri dengan Alam yang dapat bertahan hidup. Ini adalah evolusi kompetitif. Namun dalam ilmu biologi evolusioner modern, banyak ilmuwan mulai beralih dari konsep evolusi kompetitif ke konsep koevolusi[1]. Dalam koevolusi diyakini bahwa perjuangan hidup spesies bukanlah hasil dari kompetisi, tetapi hasil bahu-membahu mutual antarspesies dalam ekosistem. Mereka yang dapat bertahan hidup justru bukan mereka yang berkompetisi satu dengan lainnya, tetapi mereka yang mau belajar bekerja sama satu sama lain. Hewan seperti rayap, semut, dan tawon bisa bertahan hidup justru karena mereka mampu bekerja sama atau tolong menolong dan menjalani kehidupan sosial yang mengagumkan, bukannya karena mengasingkan dan bermusuhan satu dengan lainnya.
Rasul Paulus memberi nasihat tentang cara hidup koevolusi, bukan kompetitif. Dari pada masing-masing memikirkan bagaimana kepentingan mereka sendiri terpenuhi, Paulus mengajarkan jemaat Galatia untuk saling tolong-menolong menanggung beban bersama[2].
Sebenarnya, dalam kehidupan orang Batak, cara hidup koevolusi bukan hal yang baru.”[3] 
Diceritakan tentang satu keluarga yaitu keluarga Akwila dan Priskila. Akwila adalah seorang laki-laki Yahudi dari Pontus dengan istrinya Priskila mengungsi dari Roma menuju Korintus untuk menghindari pengejaran terhadap orang-orang Yahudi di bawah pemerintahan Claudius. Lalu yang menjadi pertanyaannya, apa maksudnya kita harus belajar dari Akwila dan Priskila ?
dalam perikop ini diceritakan tentang pekabaran injil yang dilakukan oleh Paulus di Kota Korintus. Kota ini dalam cerita sejarahnya merupakan sebuah kota kuno yang terkenal sebagai kota perdagangan tetapi juga terkenal dengan kota yang dosa tumbuh subur . Salah satu yang terkenal adalah adanya rumah berhala Aphrodite yaitu dewi cinta kasih. Bisa dibayangkan bagaimana Paulus mempunyai suatu tugas yang berat untuk memberitakan injil di tempat ini. Di kota ini juga Paulus bertemu dengan Priskila dan Akwila. Dalam bacaan kita diceritakan bagaimana Akwila dan Priskila menerima Paulus dengan senang hati untuk tinggal bersama mereka dan melakukan pekerjaan yang sama dengan Paulus yaitu sebagai tukang tenda. Paulus tinggal bersama Akwila dan Priskila selama 1 tahun 6 bulan, ini bukan merupakan waktu yang singkat. Tentunya pekabaran injil yang dilakukan oleh Paulus tidak terlepas dari peranan penting keluarga ini. Paulus sebagai tokoh utama yang melakukan pekabaran injil dalam hal ini melakukan apa yang menjadi misinya yaitu mengenalkan Kristus yang sudah bangkit kepada jemaat dan berusaha keras meyakinkan orang-orang dalam rumah-rumah ibadat. Akwila dan Priskila dalam hal ini adalah adalah teman kerja Paulus yang sangat setia meskipun mereka berdua bukan tokoh utama dalam melakukan pekabaran injil tetapi mereka setia mendampingi Paulus, memberikan bantuan, membantu pelayanan Paulus dengan segenap hati. Jika dibaca sampai ayat terakhir akan ditemukan bahwa Perjalanan pekabaran injil Paulus setelah itu kembali ke Antiokhia, dan Akwila serta Priskila masih bersamanya sampai tiba di Efesus. Sesampainya di Efesus ternyata Paulus tidak tinggal lebih lama, hanya Akwila dan Priskila yang tinggal di situ, Paulus kembali ke Antiokhia meskipun jemaat disitu sudah memintanya untuk tetap tinggal bersama mereka tetapi ia berkata “Aku akan kembali padamu, jika Allah mengkehendakinya”. Paulus tidak berada di Efesus, yang ada hanyalah Akwila dan Priskila yang tadinya dengan setia bersama dengan Paulus memberitakan injil.
di Kota Efesus. Pada perikop berikutnya terlihat bahwa selain Paulus, ada juga seorang yang bernama Apolos yang datang ke Efesus untuk memberitakan injil. Sangat terlihat bahwa Apolos ini adalah seorang yang fasih berbicara, berasal dari Aleksandria sebuah kota yang terpandang sebagai pusat pendidikan pada masa itu. Dijelaskan fasih berbicara, dapat juga diterjemahkan sebagai seorang yang pandai dan baik dalam mengajar atau seorang yang terpelajar, yang tahu banyak hal khususnya dalam soal-soal tentang kitab suci. Dijelaskan pula bahwa Apolos ini adalah seseorang yang sudah menerima pengajaran dalam jalan Tuhan, jalan disini lebih dimaksudkan kepada cara hidup atau cara berkelakuan yang sesuai dengan kehendak Allah. Dalam pekabaran yang Apolos lakukan, Apolos tidak takut sedikitpun, dia mengajar dengan penuh semangat. Hanya yang menjadi kendala adalah Apolos hanya tau sampai baptisan Yohanes, dia belum mengetahui tentang baptisan dalam nama Yesus. Akwila dan Priskila tampil untuk bersaksi kepada Apolos, memberitahu Apolos tentang injil sudah mereka ketahui sebelumnya, dalam pengalaman mereka dengan Paulus tentang Yesus Kristus. Akwila dan Priskila tidak takut, tidak malu bersaksi kepada Apolos sekalipun mereka tahu bahwa Apolos adalah orang terpandang, sementara mereka hanyalah tukang tenda.
hal pertama yang bisa kita pelajari dari kehidupan keluarga Akwila dan Priskila adalah mereka melayani secara total. Perkara menerima seorang asing masuk ke dalam rumah tangga untuk menetap dan menjadi anggota keluarga selama 1 tahun 6 bulan bukanlah hal yang mudah, apalagi untuk orang-orang yang sudah nyaman dengan kehidupan pribadi, tidak ingin terganggu dengan keberadaan orang lain. Akwila dan Priskila berbeda, mereka sangat menunjukkan tekad mereka, kesetiaan mereka dalam melayani Tuhan. Bukan saja tempat tinggal yang mereka korbankan, waktu, tenaga, pikiran juga mereka persembahkan untuk membantu pekerjaan pekabaran injil. Lamanya waktu tinggal Paulus dengan mereka mungkin bisa sedikit memberi gambaran kepada kita betapa baiknya pelayanan yang diberikan keluarga ini kepada Paulus sehingga Paulus kelihatan betah berada di tengah-tengah keluarga ini.
Paulus, Akwila dan Priskila berprofesi sebagai pembuat tenda
Komitmen, kerelaan, pengorbanan, kesetiaan yang dimiliki oleh keluarga Akwila seharusnya bisa diteladani oleh keluarga-keluarga pada masa kini. Keluarga Akwila yang hanya profesi sebagai tukang tenda namun bisa melakukan pekerjaan besar memberi arti bahwa dalam kesederhanaan,keterbatasan secara manusiawi sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak bisa melayani. Dalam keadaan apapun, jika sudah bertekad, berkomitmen melayani Tuhan, pasti akan ada jalan untuk mewujudkannya. Komitmen itu tentunya harus dilandasi dengan sikap kerelaan, pengorbanan rendah hati dan kecintaan terhadap Tuhan yang diakui memegang segala kendali atas hidup kita sebagai manusia.
Hal yang berikutnya adalah sebagian orang berpikir bahwa yang dipandang dalam melakukan pekerjaan mulia memberitakan injil hanyalah orang-orang yang secara langsung memberitakan injil, memberitakan Kristus, berkhotbah di depan umum, di atas mimbar, dan jarang melihat kepada orang-orang yang juga melalui apa yang dikerjakan mereka walaupun sederhana, bukan sebagai pengkhotbah tapi sebenarnya mereka turut mengambil bagian menjadi pekabar injil. Akwila dan Priskila diceritakan tidak pernah meninggalkan pekerjaan tukang tenda mereka, mereka tetap berprofesi sebagai tukang tenda, tapi apakah mereka bukan pekabar injil? dari cerita ini kita bisa menyebut mereka juga adalah para pekabar injil. Paulus dan Apolos bisa kita sebut sebagai pekabar injil secara verbal, sedangkan Akwila dan Priskila yang membantu Paulus, menyediakan fasilitas, membantu Apolos untuk lebih mengenal siapa Kristus bisa kita sebut sebagai pekabar injil non verbal. Mereka memang tidak tampil di hadapan umum untuk langsung menceritakan tentang Kristus, tetapi tindakan mereka memperlihatkan mereka juga mengabarkan injil, memperkenalkan Yesus Kristus lewat hidup mereka. Dalam PI Belajar dari Akwila dan Priskila, mereka tidak harus meninggalkan pekerjaan mereka sebagai tukang tenda, tetapi dalam keseharian mereka tetap bisa melakukan pekabaran injil. Mereka tidak mengejar kekayaan, kekuasaan, pengakuan sebagai tokoh-tokoh utama pekabar injil, yang penting bagi mereka adalah hidup mereka dalam pekerjaan yang sederhana, tetap bisa melayani Tuhan, membantu pekerjaan pekabaran injil.
Akwila dan Priskila, sepasang penginjil Yesus
Sdr/i seharusnya bisa mencontohi apa yang dilakukan oleh keluarga Akwila dan Priskila. Sekali lagi saya tekankan bahwa perkembangan gereja, perkembangan iman Kristen bukan saja tanggung jawab pendeta dan para majelis, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh keluarga Kristen yang menjadi anggota gereja tersebut. Tidak banyak di antara kita yang dalam kesederhanaan, mau melayani Tuhan dengan segenap hati. Tidak jarang orang yang kecil menurut ukuran manusia dipandang bisa dan bahkan mereka pun tidak memandang diri mereka sebagai seorang yang ingin dipakai Tuhan. Di dalam keterbatasan kita sebagai manusia, ingatlah bahwa perencanaan Allah itu baik adanya.
Sementara kota Korintus salah satu kota terkaya dan terpadat penduduknya di Yunani. Saat itu Yunani di bagi menjadi 2 Propinsi. Mekadonia dengan ibu kotanya Tesalonika dan Akhaya ibu kotanya Korintus. Korintus juga mempunyai penduduk yang menyembah berhala, terkenal karena kesombongannya dan kebejatan moralnya, sampai-sampai pada saat itu kalau ada orang yang bermoral bejat, lalu disebut dengan sebutan “orang Korintus”.
Di Korintus ini, Paulus bertemu dengan Akwila (seorang Yahudi) dan istrinya Priskila (mungkin dari bangsa Roma). Tidak di ketahui tentang pertobatan dari mereka. Dalam ayat 2 hanya disebutkan mereka berasal dari Pontus, dan baru datang dari Italia karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus, di samping seorang penginjil, juga mempunyai pekerjaan sampingan membuat kemah/tenda. Hal ini mempertemukannya dengan keluarga Akwila yang juga mempunyai pekerjaan yang sama. Walaupun sama-sama pembuat kemah/tenda, tidak membuat satu dengan yang lain merasa sebagai saingan atau tersaingi sehingga membuat jarak atau menggunakan teori evolusi kompetitif, tetapi sebaliknya menggunakan pemahaman koevolisi. Paulus tinggal di rumah keluarga ini. Mereka bersahabat, mereka bekerja sama. Dan mereka semakin berkembang baik usaha maupun kerohanian mereka. Dalam ayat 4,5 disebutkan bahwa tugas Paulus memberitakan Injil dapat terus dilakukan. Pekerjaan tidak boleh menghambat panggilan utama orang percaya yakni memberitakan Injil, baik melalui pekerkataan maupun perbuatan. Hal inilah yang dinampakkan Paulus. Dan bagaimana dengan Akwila dan Priskila? Kehadiran Paulus di rumah mereka, serta kerjasama yang dilakukan selama ini juga tidak hanya menambah pengetahuan atau pemahaman mereka tentang iman kristen tetapi juga menumbuhkan semangat memberitaka Injil kepada mereka. Kalau kita baca dalam Kisah Rasul 18:18 disebutkan bahwa Akwila dan Priskila menyertai Paulus ke Efesus, dan di Efesus Akwila/Priskila memberi pengajaran kepada Apolos mengenai jalan Tuhan[5]. Juga dalam Roma 16:3, Paulus mengatakan bahwa mereka kawan sekerjanya dalam Kristus.
(1) Salah satu ciri kehidupan di era globalisasi ini ialah kehidupan yang semakin kompetitif. Kehidupan demikian jelas memiliki plus minus. Bila kita berkemampuan, berkualitas dalam IPTEK, kita akan semakin maju, semakin berkembang, tetapi sebaliknya akan tersingkir. Juga manusia akan semakin individualistis. Kerjasama oke, bila selevel atau menguntungkannya. Tentu hal ini tidak sesuai dengan iman kristen[6].
(2) Memang benar bahwa di era globalisasi kita harus semakin berkualitas, kita harus semakin berkembang, semakin maju, tetapi bukan dengan menyingkirkan orang lain atau tidak mau peduli terhadap orang lain. Bagaimana caranya? Paulus mengatakan dengan bertolong-tolongan, dengan bekerjasama[7]. Dalam meningkatkan kemampuan berbisnis, misalnya kita dapat sharing, saling membangun dalam penegetahuan dan keterampilan. Meningkatkan usaha, misalnya, kita dapat bekerjasama, baik jaringan usaha maupun permodalan. Hal ini dapat dilakukan dan akan berjalan dengan baik bila kita masing-masing hidup takut akan Tuhan, hidup ber-iman. Artinya setiap kita dapat dipercaya, bertanggungjawab, dan jujur.
(3) Dalam pembacaan kita (1 Timotius 6:6) disebutkan ibadah memang memberi keuntungan besar. Keuntungan besar yang dimaksud Paulus tentu berbeda dengan pemahaman guru-guru sesat pada waktu itu dimana motivasi mereka lebih tertuju kepada mencari keuntungan materi. Dan hal ini sangat berbahaya[8]. Keuntungan besar yang dimaksud Paulus dalam arti rohani, walaupun juga mempunyai dampak duniawi[9]. Artinya dalam ibadah (persekutuan) kita akan mengenal satu dengan yang lain, usahanya, pergumulannya, dll. Melaluinya kita dapat menjalin kerjasama dan saling tolong menolong sehingga sebagaimana Paulus dan keluarga Akwila tidak hanya kebutuhan mereka tercukupi tetapi juga bertumbuh dalam hal kerohanian dan hal tersebut nampak dalam semangat mereka memberitakan Injil.Amen.
Dari berbagai sumber


Khotbah Minggu 08 Juli 2018 Pengkh 5: 9-16 Muliakan Tuhan Dengan Harta Milikmu.



Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya? Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur.”
Kesuksesan seseorang di jaman sekarang cenderung diukur dengan berapa banyak harta dan kekayaan yang dimilikinya. Tidak salah, namun juga tak mutlak benar. Harta dan kekayaan walaupun sangat penting, tapi bukanlah segala-galanya yang menentukan dalam hidup manusia. Banyak hal lain dari kehidupan ini yang nilainya sama atau bahkan lebih tinggi dari harta dan kekayaan. Sebut saja kesehatan, nafas kehidupan, persahabatan, cinta, kebahagiaan, dsb. Apalah artinya harta tanpa kesehatan, apalah arti kekayaan tanpa nafas kehidupan, apalah arti harta tanpa persahabatan, apalah arti kekayaan tanpa cinta, dan apalah artinya uang banyak tanpa cinta. Seperti kata pengkhotbah semuanya sia-sia. Pelajaran yang bisa kita kutip dari kitab pengkhotbah mengenai harta, diantaranya:, Pertama: harta dan kekayaan walaupun perlu, tapi tak pantas dijadikan sebagai objek cinta. Manusia tidak salah memiliki harta dan kekayaan, tapi yang salah adalah jika manusia mencintai harta melebihi segalanya (ay 9). Jika manusia telah menjatuhkan cintanya pada uang, maka manusia itu tidak akan pernah puas terhadap uang; dan jika manusia jatuh cinta pada kekayaan, maka manusia itu tidak akan puas dengan penghasilannya. Jadi jika kita selalu merasa tidak puas dengan uang dan penghasilan kita, itu adalah ciri-ciri bahwa kita telah terseret pada sikap mencintai uang.Yang benar adalah cintailah Tuhan Allahmu dengan seluruh kemampuanmu, dan cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22: 37-39), maka kepuasan yang kita cari akan kita temukan. Hanya kasih Allah yang bisa memuaskan dahaga kita (Mazmur 107: 8-9)  Kedua: semakin bertambahnya harta, semakin bertambah pula yang menghabiskannya (ay 10). Ini adalah sebuah logika mutlak mengenai kekayaan. Jarang terjadi bahwa dimana kekayaan semakin bertambah maka pengeluaran semakin sedikit. Yang sering terjadi adalah, ketika uang semakin banyak, kebutuhan yang aneh-aneh pun sering muncul tiba-tiba, dan akhirnya pengeluaranpun semakin banyak pula. Oleh sebab itu jangan buru-buru ingin kaya, tapi jika pun ingin kaya, persiapkanlah diri agar dapat mengatur kekayaan itu untuk kebahagiaan sejati.
 Ketiga: lebih berbahagia menjadi seorang pekerja yang menikmati pekerjaannya, daripada seorang kaya yang menderita karena hartanya (ay 11). Seseorang yang menikmati pekerjaannya, tahu membagi waktu kapan saatnya untuk bekerja dan kapan saatnya untuk istirahat. Ketika ia bekerja ia akan mencurahkan seluruh kemampuan terbaiknya melakukan pekerjaan sesuai tahapannya sampai ia selesai. Dan ketika  ia istirahat, maka ia akan benar-benar istirahat mengumpulkan kekuatan untuk pekerjaan berikutnya. Kecil besarnya upah yang diperoleh olehnya tidak akan mempengaruhi kualitas kerjanya. Sedikit banyaknya ia makan, ia akan tertidur dengan lelap, karena pikirannya begitu tenang karena puas dengan semua hasil kerja terbaiknya. Tapi orang yang memburu harta, sering tak dapat tertidur sekalipun makan banyak, dan sering tidak bahagia sekalipun hidupnya bergelimang harta. Bersama Tuhan, kita akan berbahagia dengan apa yang kita miliki,  tapi tanpa Tuhan tak satupun kemegahan dunia ini dapat membahagiakan kita  (Luk 11: 28) 
.     Dalam 1 Tim 6:10: “akar segala kejahatan adalah cinta akan uang”. Demi dan untuk uang, banyak orang mau melakukan apa saja. Lalu kejahatanpun muncul dan subur. Inilah persepsi yang keliru dalam memaknai materi dunia ini. Uang menjadi tuhan dan manusia menjadi budaknya.
9.     Alkitab sesungguhnya tidak melarang orang untuk sukses dan kaya. Paulus mengecam orang yang malas bekerja dan berusaha, yang hidup bagai benalu. Untuk orang dengan tipe seperti ini, ia berkata: jangan makan! (2 Tes 3:10). Manusia harus bekerja keras dalam hidupnya supaya bisa memaknai hidupnya.
10. Harta benda harusnya bisa memuliakan Tuhan (Ams 3:9) seperti yang diperlihatkan oleh Abraham, Ayub dan tokoh Alkitab lainnya. Kekayaan harus mendekatkan manusia pada penciptanya dalam ungkapan syukur. Artinya sumber dari berkat itu adalah Tuhan, berkat itu bukanlah Tuhan.
11.Karena itu, Tuhan Yesus sangat serius ketika berfirman supaya manusia saling mengasihi satu dengan yang lain. Dalam perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh (Luk.12:13-21), Yesus menyimpulkan bahwa yang terutama adalah kaya di hadapan Allah, maka kaya dalam dunia inipun tidak akan menjadi masalah lagi.
12.Tuhan tidak berjanji bahwa mereka yang percaya dan melayani Dia akan selalu menjadi orang kaya, namun Ia berjanji bahwa orang itu dan bahkan anak cucunya tidak akan sampai mengalami kekurangan atau meminta-minta ( Mazmur 37 : 25 ).
Tuhan akan selalu menyediakan dan mencukupi kebutuhan orang benar yang mau terlebih dulu mencari Kerajaan Allah. Berapa banyak berkat yang kita terima adalah urusan Tuhan yang memberi berkat. Menyenangkan Tuhan adalah tugas kita sebagai kehidupan yang sudah diberkati.
Kita lihat dalam Alkitab, ada kehidupan orang-orang kaya yang menyenangkan Tuhan :
1. Abraham
Mengapa Abraham menyenangkan Tuhan ? Karena Abraham bukan orang yang tamak dan mudah tergiur pada apa yang baik menurut kacamata jasmani, terbukti saat ia membiarkan Lot memilih tanah yang lebih dekat Sodom yang lebih subur.
2. Zakheus
Zakheus yang semula adalah seorang pemeras menjadi berubah total setelah bertemu Yesus. Dan satu tindakan pertama yang ia lakukan setelah bertobat adalah dengan memutar balik orientasinya yang semula lebih ia tekankan kepada kekayaan untuk diri sendiri, sekarang menjadi berbagi dengan sesama yang kekurangan, bahkan kepada mereka yang dulu pernah ia peras dan tipu.
3. Yakub. Meski awalnya adalah seorang anak yang menipu ayahnya sendiri, Yakub kemudian menjadi diberkati karena sikap pantang menyerah, integritas, dan kerja keras yang ia tunjukkan terutama saat bekerja pada Laban. Bukan hanya kekayaan saja yang diberikan Tuhan kepada Yakub, tapi ia juga diperdamaikan kembali dengan Esau. Itu satu berkat. 4. Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain ( Lukas 8 : 3. Mereka adalah donator bagi pelayanan Yesus bahkan meski Herodes tidak mendukung Yesus, para wanita ini tetap tahu apa yan terbaik dalam memanfaatkan kekayaan mereka. Amen.RHLT

Khotbah Minggu 01 Juli 2018 Mark 16: 14-20 @Memberitakan Injil Kepada Segala Mahluk@ Peneguhan Sidhi


 Firman Tuhan ini mengingatkan kita untuk mengerti tugas kita sebagai gereja. Kita dipanggil menjadi anggota tubuh Kristus atau gereja, semata-mata bukan hanya untuk gereja kita sendiri. Amanat Agung, Firman Tuhan ini mengajarkan kita akan tugas kita sebagai gereja, bahwa misi gereja adalah untuk semua orang dan bangsa. Kalau kita membaca ayat 15 “pergilah ke seluruh dunia beritakan injil kepada segala makhluk”. Seperti salah satu isi dari Amanat Agung bahwa tugas kita adalah harus pergi dan jangkauannya adalah seluruh dunia bahkan dikatakan segala makhluk. Jadi, penting sekali diingat bahwa kita bertanggungjawab untuk pergi memberitakan injil bukan tinggal diam. Dalam teks ini juga satu hal yang menarik adalah bahwa ada ketegasan bagi mereka yang percaya dan dibaptis akan selamat tapi bagi yang tidak percaya akan dihukum. Jadi, pilihannya hanya dua selamat atau hukuman. Ayat 17-18 kita melihat bahwa ada tanda-tanda yang dimiliki oleh orang percaya, memiliki kuasa dan karunia yang dianugerahkan oleh Tuhan bagi masing-masing kita: mengusir setan, berbicara dalam bahasa baru, terlepas dari bahaya maut, bahkan menyembuhkan orang sakit semua itu Tuhan berikan untuk memperlengkapi jemaatNya dalam pemberitaan injil dan pelayanan. Sebagai orang percaya masa kini karunia ini pun Tuhan berikan bagi kita. Apakah kita sudah menggunakannya untuk memberkati dan melayani orang lain.
            Dari teks ini kita belajar sikap dari murid-murid Tuhan Yesus, mereka pun pergilah memberitakan injil ke segala penjuru...(ayat 20). Mereka taat dan segera pergi memberitakan injil seperti yang diperintahkan kepada mereka, dan Tuhan turut bekerja serta tanda-tanda itu menyertai mereka. Bagaimana dengan kita, sudahkah kita pergi? Atau selama ini kita hanya memikirkan diri sendiri atau hanya memikirkan gereja kita? Pernahkah kita berpikir untuk orang lain dan bangsa yang belum mendengar injil? Bersyukurlah karena hari ini kita dingatkan bahwa  “Misi Gereja untuk semua orang, Segala Mahluk dan bangsa”.
Ada 3 hal yang dapat kita pergumulkan melalui nas ini:
1.      Mempercayai kebangkitan Yesus (ayat 12-14)
Setelah kebangkitan Yesus, berita tentang kebangkitanNya langsung tersiar melalui penampakan Yesus kepada Maria Magdalena dan juga kepada dua orang yang dalam perjalanan. Apa yang mereka saksikan dan rasakan itu pula yang disampaikan pada murid-murid Yesus. Namun mereka tidak percaya akan apa kesaksian dari orang yang telah bertemu dengan Yesus yang hidup.
Bisa muncul pertanyaan “mengapa Yesus tidak langsung memberitakan kebangkitanNya langsung kepada murid-muridNya?” Mengapa Yesus menyatakan kebangkitanNya pertama kepada orang lain? Jawabnya adalah: Tuhan Yesus punya maksud yang dalam disi. Yaitu:
a.      Kebenaran berita tentang kebangkitan Yesus. Bahwa lebih baik orang-orang yang ada di luar murid Yesus yang lebih dahulu mengetahuinya, sebab jika murid-muridNya yang mengetahui lebih dulu, maka berita yang mereka sampaikan nantinya akan sulit dipercayai, karena bisa saja orang lain menganggap murid Yesus sedang berhalusinasi karena kesedihan.
b.      Karena kebangkitan Yesus menjadi inti dari iman para pengikut Yesus, maka sangat penting bagi Yesus benar-benar mempersiapkan murid-muridNya memahami dan mempercayai dengan baik tentang kebangkitan Yesus. Bahwa murid-murid Yesus memang benar-benar teguh meyakini, menyaksikan, melihat dan menggumuli apa yang telah terjadi pada Yesus, bahwa Yesus telah bangkit dari kematian.
Hal ini menjadi sangat penting, sebagaimana kita melihat bagaimana murid-murid Yesus saja yang telah bersama-sama melayani dengan Yesus memperlihatkan ketidakpercayaannya pada hari kebangkitan Yesus, maka pertanyaannya, bagaimana pula dengan kita saat ini, dan bagaimana pula puluhan ribu tahun yang akan datang. apakah pengikut Yesus akan tetap memiliki iman yang teguh tentang kebangkitan Yesus?
Yesus meneguhkan kita, sebagaimana dikatakanNya kepada Tomas: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya” (Yoh. 20:29).
Maka yang menjadi pertanyaan untuk kita gumuli saat ini adalah: “Apakah kebangkitan Yesus memiliki relevansi dengan hidup kita saat ini?”; “Sejauhmana kebangkitan Yesus itu berdampak pada kita?” Atau jangan-jangan kebangkitan Yesus itu sudah ditelan oleh rutinitas, hanya memperlihatkan kepercayaan yang tidak berdampak apa-apa. Apakah Yesus memang benar-benar hidup pada diri kita?
2.      Amanat Agung (ayat 15-16)“penginjilan” adalah “Tugas” dan “tanggung jawab setiap orang “YANG SUDAH MENJADI MURID YESUS DAN SUDAH MENERIMA ROHKUDUS” didalam hidupnya. Dan itu adalah “PERINTAH” Yesus sendiri,tidak mesti melihat apakah dia itu seorang “pejabat-Gerejawi atau jabatan suatu kelembagaan/denominasi tertentu”. Pemaknaan yang lebih tegas tentang arti Penginjilan dapat dipahami dengan: “buah” dan “berbuah” atau “tuaian” dan “menuai”. Lukas 10:2-3,  Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Yohanes15:2,5-6, Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Dari nats tersebut, nyata bahwa: “Penginjilan” adalah “Proses mempersiapkan, menyediakan BUAH-BUAH bagi KerajaanNya”, tidak hanya dalam hal menuai saja, tetapi juga membentuk diri sendiri supaya menjadi “RANTING YANG BERBUAH” dan “BERBUAH-BANYAK”, karena: “SETIAP RANTING YANG TIDAK BERBUAH” (meskipun sudah ada dalam Yesus), akan “dipotongNya”.Sering, penginjilan itu dipahami secara “pemahaman-sempit” dalam arti: “Penginjilan hanya eksternal saja atau hanya bagi mereka yang non Kristiani”. Padahal “INTI-PENGINJILAN” adalah: “MENYAMPAIKAN BERITA KESELAMATAN ITU DAN MEMPERSAKSIKAN KARYA JURUSELAMAT/YESUS DIDALAM HIDUPNYA” kepada orang lain (Siapa saja, dimana saja dan kapan saja), supaya mereka juga: “MENDAPAT KESELAMATAN ITU DARI YESUS”.
Setelah para murid Yesus mempercayai akan apa yang telah terjadi, maka Yesus memberikan amanat. Amanat ini menjadi tugas setiap orang percaya, bahwa setiap orang beriman harus memberitakan kabar baik. Kabar baik itu adalah tongkat estafet yang harus dibawa dan dilanjutkan. Jika kita mempercayai kebangkitan Yesus, maka beritakanlah, saksikanlah. 
Dalam buku Markus ini, amanat agung Yesus memiliki ciri khas, bahwa kabar baik itu harus diberitakan kepada segala mahluk, maka tumbuh-tumbuhan dan binatang bahkan semua alam semesta harus diberitakan tentang kebangkitan Yesus.
Artinya disini bahwa setiap orang percaya harus memakai kehidupannya menjadi hidup yang bersaksi, yang memberitakan firman Tuhan dalam segala lini kehidupan. Dengan penuh keyakinan kita memberitakan bahwa satu-satunya keselamatan bagi dunia ini adalah percaya kepada Yesus, diluar kepercayaan kepada Yesus adalah hukuman. Mau selamat? Ikut Yesus, percaya kepada kebangkitan Yesus. Maka jika dikatakan percaya, beriman kepada Yesus maka harus berbuat - “to do something”.
3.      Orang percaya diberi kemampuan ( ayat 17-18)
Bahwa kebangkitan Yesus telah memberikan kuasa dan kemampuan kepada setiap orang yang percaya. Yaitu kemampuan dan kuasa yang berasal dari luar kemampuan manusia. Jika hanya mengandalkan kemampuan diri kita sebagai manusia tentu kita tidak akan mampu menjadi orang percaya. Tetapi Tuhan memberikan kepada kita kekuatan dan perlindungan Tuhan untuk memampukan untuk dapat hidup dalam iman percaya kita.
Sebagaimana rasul Paulus katakana “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah” – Efesus 2: 8. Kita bertekun dalam firman Tuhan, rajin bersekutu dalam ibadah, mendekatkan diri kepada Tuhan dalam kidung pujian dan doa – itu semua adalah penampakan kuasa Tuhan yang bekerja dalam diri kita, bukan karena kekuatan kita mampu berbuat seperti itu, tetapi itu adalah tanda penyertaan Tuhan ada dalam diri kita. Itu bukan kemampuan fisik kita, tetapi itu adalah pemberian Allah yang patut kita syukuri, bahwa kita tetap dapat teguh di dalam keselamatan yang telah diberikan oleh Tuhan. Hanya karena kekuatan dari Tuhan saja kita dapat dan mampu berjalan dalam terang Tuhan.
Itu pula sebabnya Yesus mengatakan “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah” – Markus 14:38. Sebab iman kita bisa tertidur dan bahkan mati jika kita membiarkan diri kita ini dikuasai oleh kelemahan kita sebagai manusia. Maka kita membutuhkan kekuatan kepada Tuhan supaya mampu hidup di dalam panggilanNya. Sebagaimana Yesus yang memberikan teladan bagi kita, Dia berdoa di taman Getsemani ketika hendak memasuki penderitaanNya untuk dimampukan menyelesaikan misi dari BapaNya.
Maka kita patut bersyukur, sebagai orang percaya menjalankan tugas panggilan kita sebagai pengikut Yesus, kita dipersiapkan, kita diteguhkan, kita diarahkan dan kita diberikan kemampuan untuk menjadi panggilan kita sebagai seorang Kristen. Bahwa kuasa Allah bekerja dalam diri kita. Amin. RHLT