Senin, 18 Juni 2018

Khotbah Kebaktian R. Tangga 5-6 Juni 2018 MENGAKUI KEDAULATAN TUHAN Keluaran 7 : 14 – 25


“Tulah pertama: Air menjadi Darah”
Cara apa yang Tuhan bisa pakai agar orang mengakui kedaulatan-Nya atas hidup mereka? Salah satunya adalah dengan menghancurkan semua yang menjadi pegangan hidup mereka, sehingga mau tidak mau mereka akan berpaling kepada satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka.Tulah pertama dijatuhkan. Tulah air menjadi darah menggerogoti sendi utama kehidupan bangsa Mesir. Sungai Nil, yang selama ini disembah sebagai salah satu dewa utama Mesir, jadi tak berfungsi. Padahal Nil adalah sumber air minum dan sekaligus sumber makanan, karena ikan yang hidup di dalamnya. Inilah awal persoalan dalam nas ini adalah ketika Firaun berkeras hati dan menolak membiarkan bangsa Israel keluar dari Mesir. Penolakan ini adalah bukti bahwa Firaun tidak takut kepada Allah Israel. Firaun dengan sangat keras hendak mengandalkan kekuatan mantera dan ramalan para dukun yang bekerja untuknya. Oleh karena ramalan dan mantera itu begitu diyakini oleh Firaun, membuat ia berkeras hati untuk tidak memperbolehkan bangsa Israel keluar dari Mesir. Walaupun sebenarnya sikap Firaun ini adalah suatu kebodohan, karena sikap dari penolakan itu mengakibatkan bangsa Mesir merasakan perbuatan tangan Tuhan seperti dalam Kel.8-10. Nas ini membuktikan dengan jelas, bahwa tidak ada apapun di dunia ini yang dapat diandalkan. Kita hanya berharap kepada kasih sayang-Nya semata.
Tugas besar dari Tuhan kemudian diberikan kepada Musa. Musa datang menjumpai Firaun untuk menyampaikan kepadanya, dari siapa dan untuk apa dia menerima tugas besar itu. Tugas besar yang disertai dengan wibawa dari yang mengutusnya merupakan andalan utama Musa. Musa tidak datang kepada Firaun dari dirinya sendiri, tetapi atas nama Tuhan yang berkuasa atas seluruh ciptaan. Kuasa dan wibawa Tuhan yang secara simbolik dinyatakan dengan tongkat yang ada di tangannya akan dinyatakan kepada Firaun secara khusus dan kepada bangsa Mesir secara umum. Tongkat yang dipakai oleh Musa hendak menyatakan kuasa Allah atas seluruh bumi dan bukti dari keberpihakan Tuhan kepada bangsa Israel. Hal itu dinyatakan dengan tegas dalam ay. 16 “TUHAN, Allah orang Ibrani, telah mengutus aku kepadamu untuk mengatakan: Biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku di padang gurun; meskipun begitu sampai sekarang engkau tidak mau mendengarkan.”
Cara apa yang Tuhan bisa pakai agar orang mengakui kedaulatan-Nya atas hidup mereka? Salah satunya adalah dengan menghancurkan semua yang menjadi pegangan hidup mereka, sehingga mau tidak mau mereka akan berpaling kepada satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka. Sungai Nil dipercaya oleh orang Mesir membawa berkat bagi kehidupan mereka. Oleh karena keberadaan Sungai Nil-lah, maka Mesir dapat menjadi suatu negeri yang pertaniannya amat subur dan menjadi kerajaan yang berkembang dengan pesat. Berhubungan dengan fakta bahwa dalam setahun hujan hampir tidak terjadi di Mesir, maka Sungai Nil juga menjadi hampir satu-satunya sumber air minum bagi orang Mesir. Dengan alasan-alasan inilah, orang-orang Mesir sangat mendewakan Sungai Nil. Sungai Nil dipercaya dikuasai oleh seorang dewa bernama dewa Hapi. Hal inilah yang menjadi alasan dari tindakan Firaun yang biasa datang ke Sungai Nil pada pagi hari, yaitu untuk memberikan persembahan atau sesajen kepada dewa sungai Nil untuk memohonkan berkat.
Tuhan menggunakan moment di mana Firaun pada pagi hari datang ke tepi Sungai Nil untuk mempersembahkan persembahan kepada dewa Sungai Nil, untuk menjelaskan kepada orang Mesir bahwa mereka telah salah mengerti. Sungai Nil hanyalah merupakan salah satu alat penyalur berkat Tuhan bagi orang Mesir, dan bukan tuhan itu sendiri. Yang harus disembah, dihormati, dan ditakuti adalah Allah yang memberikan berkat-Nya melalui Sungai Nil, dan bukan sungai Nil itu sendiri yang dijadikan sebagai dewa. Kesuburan Mesir akibat adanya Sungai Nil telah membuat orang Mesir, khususnya Firaun, merasa aman dan tidak merasa perlu takut akan Allah orang Ibrani, serta tidak perlu mengakui keberadaan dari Allah orang Ibrani. Akhirnya, Allah memberikan hukuman dan pengajaran-Nya kepada orang Mesir dengan mengubah air Sungai Nil menjadi darah, untuk menunjukkan siapakah yang menjadi Allah sebenarnya, siapakah yang berkuasa atas Sungai Nil, dan siapakah yang sebenarnya memberikan berkat kesuburan kepada orang Mesir melalui Sungai Nil.
Tanda yang Allah berikan melalui Musa ini harus diperhatikan tujuannya, karena tujuan itu jauh lebih penting dari tanda itu sendiri. Sungai Nil merupakan sumber kehidupan Mesir, oleh karena itu mereka menyembah dewa sungai ini. Ikan-ikan yang hidup di sungai Nil juga merupakan sumber kehidupan bagi Mesir sehingga mereka menyembah dewa-dewa dalam bentuk ikan. Melalui tulah ini, Allah ingin menjelaskan bahwa sumber kehidupan manusia adalah Allah sendiri, bukan sungai atau ikan yang harus disembah orang Mesir. Memang para ahli di Mesir bisa melakukan tanda yang sama, tetapi mereka tidak bisa memulihkan kembali. Ini menunjukkan bahwa kuasa yang menyertai Musa dan Harun lebih dari kuasa yang menyertai para ahli di Mesir.
Melalui tulah itu, Allah memaksa Firaun mengakui bahwa Tuhan orang Israel tidak boleh dibuat main-main. Tulah ini menimbulkan bencana besar bagi penduduk Mesir karena Nil merupakan sumber semua aliran air yang ada di Mesir. Namun ketika para ahli Mesir mampu menghasilkan mukjizat yang serupa, mengubah air menjadi darah, Firaun berkeras menolak mengakui Allah Israel. Ini merupakan kebodohan. Firaun tidak mau menyadari bahwa para ahlinya telah kalah melawan kuasa Allah Israel (ayat 22). Mereka hanya mampu meniru mukjizat yang dilakukan Musa, yang sebenarnya justru menambahkan sengsara bagi rakyat karena semua air jadi tidak dapat digunakan untuk apapun. Kalau memang mampu, seharusnya mereka mengadakan mukjizat yang membalikkan, yaitu dari darah menjadi air yang jernih. Akibatnya harga yang mahal harus dibayar oleh rakyat Mesir karena kebebalan dan kekeraskepalaan Firaun.
Kadang-kadang Tuhan memakai bencana untuk menyadarkan manusia bahwa mereka tidak bisa menolak Allah dalam hidup mereka. Anak-anak Tuhan pun tidak jarang harus dicambuk dengan penderitaan hidup agar mereka sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan dalam hidup, bukan kekuatan dan hikmat sendiri. Sebab itu kita perlu belajar mengakui kedaulatan Allah atas hidup kita. Bahkan kita perlu menundukkan diri dan taat pada cara yang Tuhan terapkan dalam hidup kita! Amen


Khotbah Keb. R. Tangga 30-31 Mei 2018 Yoh. 3:1-8 Percakapan Yesus Dengan Nikodemus



Dalam nas ini diberitakan bahwa Nikodemus yang adalah seorang Farisi, pemimpin orang-orang Yahudi (Sanhedrin) dan juga Ahli Taurat (7:26,48,50; 3:10) sedang melakukan percakapan dengan Yesus. Hal menarik yang dapat diperhatikan bahwa adanya percakapan Yesus dengan seorang tokoh Yudaisme yang sangat berpengaruh. Jika semua agama membawa setiap penganutnya ke dalam kehidupan kekal yang berbahagia, Nikodemus pasti berada di antrian deretan depan. Jika segala jenis kebaikan relijius memadai untuk menghantar seseorang ke surga, Nikodemus merupakan salah satu orang yang paling pamtas untuk menerimanya. Para pembaca Injil Yohanes yang teliti dengan mudah akan menemukan keistimewaan Nikodemus.
Di kalangan bangsa Yahudi yang terkenal sangat relijius, Nikodemus menempati posisi yang istimewa. Dia adalah pemimpin agama Yahudi dari golongan Farisi. Pada zaman itu bangsa Yahudi mendapatkan perlakuan agak khusus dari pemerintah Romawi dalam hal otonomi. Untuk hal-hal tertentu, mereka bisa memutuskan sendiri perkara-perkara mereka melalui sebuah mahkamah konstitusi yang disebut Sanhedrin. Nah, salah satu elemen penting dalam kelembagaan ini berasal dari golongan Farisi. Tentu saja tidak semua orang Farisi secara otomatis menjadi anggota Sanhedrin. Hanya mereka yang terpilih saja untuk mewakili.
Dari kacamata kultural dan relijius pada zaman itu, semua ini jelas memberi keuntungan bagi Nikodemus. Dia dipandang sebagai seorang yang rohani. Bahkan di antara berbagai kelompok relijius waktu itu, golongan Farisi terkenal sangat militan dan detil dalam menaati Hukum Taurat. Mereka secara sengaja membedakan diri  dari rakyat biasa yang dinilai tidak mengenal Taurat (7:49; bdk. Luk. 18:10-14; Flp. 3:5-6). Mereka terlihat lebih taat daripada golongan Saduki yang hanya berkutat pada ritual di bait Allah dan dipandang dekat dengan para penguasa asing. Jika setiap agama menawarkan jalan yang valid kepada kehidupan kekal yang berbahagia, bukankah Nikodemus pantas mendapatkan akses khusus untuk ke jalan tersebut?
Dia menunjukkan sikap kepada Yesus yang jauh lebih positif daripada orang-orang Farisi yang lain.
Nikodemus menjumpai Yesus pada malam hari dapat dipahami adalah adanya unsur kebijaksanaan karena kekacauan mungkin bisa terjadi jika pertemuan ini diketahui oleh banyak orang karena status Nikodemus sebagai tokoh agama yang terpandng. Namun yang jelas motif Nikodemus untuk datang kepada Yesus tentunya bukanlah motif untuk melakukan konfrontasi seperti yang telah terjadi sebelumnya (2:18 dst.) namun adalah karena ia ingin mengenal Dia dengan baik.
Nikodemus  : “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah”
Yesus          : “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat  melihat Kejaraan Allah”
Kedatangan Nikodemus kepada Yesus untuk berbicara bukan dengan sebuah pertanyaantetapi dengan sebuah pernyataan (“kami tahu”). Nikodemus berbicara dalam bentuk jamak untuk mengatakan apa yang kelompok-kelompok tertentu percayai atau tidak percayai tentang Yesus (2:23). Ia menyebut Yesus dengan “Guru yang diutus Allah” dan ia dapat mendasarkan pandangannya ini sama seperti pandangan umum orang-orang Yahudi bahwa mujizat-mujizat yang dilakukan Yesus mengindikasikan bahwa Ia adalah seseorang yang diutus Allah (9:31 dst.) dan Yesus merespon Nikodemus dengan “Amin-amin” (LAI= "Sesungguhnya").
Hal menarik dapat diperhatikan dari Nikodemus adalah keingintahuan yang mendalam akan pengenalan akan Firman Tuhan. Walaupun sebenarnya dia sudah merupakan seorang ahli taurat dan merupakan seorang dari pemimpin agama namun keingintahuan begitu besar dalam dirinya, tidak puas akan apa yang telah diketahui. Nikodemus memperhatikan fenomena yang terjadi dikalangan orang Yahudi dari pekerjaan yang dilakukan oleh Yesus yang mengindikasikan bahwa Yesus adalah yang diutus Allah (9:31 dst.). Inilah yang membawanya keinginan untuk berjumpa dengan Yesus dengan mengusung alasan untuk membuka pembicaraan kepada Yesus dengan kata “kami tahu”. Patut untuk di tiru sikap Nikodemus yang positif yang mau terbuka untuk mempelajari dan menanggapi sesuatu yang baru untuk diketahui dan dipahami. 
Nikodemus         : “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua?”
Yesus                 :  “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh (ayat 2= “kembali”), ia tidak dapat  masuk ke dalam Kejaraan Allah”
Dilahirkan kembali = dilahirkan dengan air dan Roh
Sepertinya satu kalimat yang disampaikan oleh Yesus mengenai Kerajaan Allah bahwa “Jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” membuat Nikodemus terguncang atas pemahaman yang dipahami selama ini dan terlihat dari jawabnya atas pernyataan Tuhan Yesus “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?”. Nikodemus memberikan tanggapan kemustahilan akan apa yang telah Yesus katakanan, sebab ia menanggapi dan mengartikannya “masuk kembali ke dalam rahim ibunya” sementara yang Yesus maksudkan adalah seperti yang terlihat pada ayat 5 dan 8 yaitu suatu kelahiran “dari air dan Roh” dan itu adalah “dari Allah” (1:12-13). Memang perbuatan Allah adalah mustahil jika hanya ditanggapi dengan logika manusia. Kita akan mengatakan “bagaimana mungkin?” tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk. 1: 37).Menanggapi pertanyaan Nikodemus, Yesus kembali memberikan pernyataan untuk menjelaskan pernyataanNya tentang kelahiran kembali bahwa untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah harus dilahirkan dari “air dan Roh”. Pemahaman akan “air” dalam hal “lahir kembali” dalam seluruh rangkaian percakapan Yesus dengan Nikodemus memang tidak lagi disinggung kecuali masalah kuasa “Roh”, namun demikian pemahaman akan “air dan Roh” dapat merujuk kepada Baptisan jika kita pahami dalam konteks “memasuki Kerajaan Allah” dan juga jika memperhatikan nas yang ada setelah percakapan Yesus dengan Nikodemus yaitu tentang Baptisan Yohanes (3: 22 dst.). Baptisan adalah untuk melepaskan yang lama dan Roh sebagai pencipta dan karunia hidup yang baru. “air dan Roh” juga dapat merujuk kepada pembaharuan rohani yang tersirat pada Yehezkiel 36: 25-27 yaitu air yang menjernihkan dan Roh yang baru untuk hati yang keras. 
Hidup baru dalam Kristus tidak terlepas dari Iman percaya akan salib Kristus, percaya akan pengampunan dosa melalui Yesus Kristus yaitu dengan pertobatan, maka baptisan adalah jalan untuk memasukinya yaitu penyucian hidup yang lama kepada hidup yang bersih didalam Kristus. Kemudian “Roh” adalah kuasa Allah untuk memampukan kita untuk hidup dan memahami maksud dan rencana Allah.
Selanjutnya Yesus memberikan penjelasan tentang “Dilahirkan dari air dan Roh”, yaitu dengan mengkontraskan perbandingan yaitu yang “dilahirkan dari daging” dan yang “dilahirkan dari Roh” dan kemudian dijelaskan bagaimana Roh itu bekerja dengan memberikan gambaran “angin” yang merujuk pada “Roh” bahwa angin bertiup kemana ia mau, bebas dan berkuasa yang tidak dapat ditelusuri pergerakannya.
Nikodemus        : “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?”
Yesus       : “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”
Kemungkinan untuk dilahirkan kembali hanya terjadi adalah karena kasih Allah.Untuk dapat melihat dan masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah percaya akan keselamatan dari Allah yang telah turun dari sorga yaitu Yesus Kristus. Pertanyaan Nikodemus (“bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?”) membawa percakapan selanjutnya yang berfokus pada Kristus sebegai kebenaran sejati yang turun dari sorga. Rahasia wahyu Allah dalam Kristus terdapat  di dalam inkarnasi Firman sebagai pemberian Anak-Nya yang tunggal merupakan dasar bagi kedatangan Kerajaan Allah dan kuasa oleh Anak Manusia.
Lebih rinci lagi Yesus menyatakan mengenai peninggian Anak Manusia berdasarkan referensi kisah di Bil. 21:8 dst. Dimana Musa meninggikan ular di padang gurun. Yesus memberikan arti “peninggian Anak Manusia” dengan arti ganda seperti yang tertulis dalam Matius 16:21 dan Lukas 9:22 bahwa Anak Manusia akan dinaikkan di kayu salibadalah jalan peninggian Anak Manusia. Sebagaimana memandang ular merupakan sarana kuasa Allah untuk penyelamatan dari kuasa kematian, maka Yesus sebagai Anak Manusia dalam penderitaan dan kematianNya di kayu salib juga adalah untuk membawa keselamatan dari Allah.
Kita tidak dapat mengesampingkan akal budi dan logika dalam hidup ini, namun bagaimanapun banyak hal-hal yang tidak kita mengerti terlebih Firman Allah tidak akan dapat kita mengerti dan lakukan jika hanya dengan logika. Namun kuasa Roh Kudus akan memampukan kita untuk mengerti segala sesuatunya. Ada banyak orang yang akan stress menghadapi tekanan hidup karena dihadapi hanya dengan akal budinya saja, tetapi dengan Roh Allah seberat apapun tekanan hidup itu tidak akan pernah membuat kita hancur. Itulah sebabnya dalam 1 Korintus 2: 10 dikatakan: “Sebab Roh Allah menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah”.
Lahir kembali akan menjadikan kita ciptaan Allah yang baru, hal itu hanya terjadi jika kuasa Roh Kudus bekerja dalam diri kita untuk memampukan kita meninggalkan manusia lama. Kerajaan Allah hanya akan menjadi bahagian dari orang-orang yang telah diperbaharui oleh Allah. Sehingga iman percaya kita kepada Kristus bukanlah sifatnya verbal hanya pada perkataan, namun menjadi pola hidup yang benar-benar diubah menjadi ciptaan Allah yang baru. Galatia 2: 20. Amen. RHL



Khotbah Keb. R. Tangga 22-23 Mei 2018 Yesaya 40:12-14 KEKUATAN ALLAH YANG TAK TERTANDINGI


Ayat-ayat ini menekankan hikmat, kebesaran, keagungan, dan kuasa kreatif Allah
Kebenaran-kebenaran yang terungkap di sini mengilhami umat-Nya untuk percaya Dia, yang dapat melepaskan mereka dan menetapkan kerajaan-Nya untuk selama-lamanya.
Kekaguman kita kepada Allah membuat kita kehabisan kata dan cara untuk mengungkapkannya. Penggambaran tentang kedahsyatan Allah digambarkan dengan gunung, laut, langit, debu tanah ini yang ditonjolkan dalam ayat 12-14. Yesaya menggambarkan bangsa lsrael dengan setitik air, setitik debu halus beratnya. Allah memiliki hikmat dari cara Allah menciptakan semesta dengan teratur sehingga terjadi keseimbangan dalam ciptaan-Nya, Dla Allah yang kekuatan-Nya tidak tertandingi, walaupun dalam pandangan bangsa Israel bangsa lain dirasa sangat menakutkan, tetapi dalam pandangan Tuhan mereka bukan apa-apa. Demiklan pula dengan korban bakaran dan persembahan manusia tidak pernah cukup atau setara dengan
kebesaran dan keagungan Allah (ay 16-17).
Umat pilihan Tuhan (bangsa Israel) sangat mengakui kebesaran Tuhan. Mereka percaya bahwa keluarnya nenek moyang mereka dari perhudakan di Mesir hanya karena "pertolongan Tuhan". Tetapi ketika mereka dibuang ke Babel, mereka merasa ditinggalkan oleh Tuhan, dan bahkan mereka merasa "Tuhan mereka" tidak sanggup menolong mereka. Keadaan 

Ini membuat bangsa ini merasaputus asa dan tidak punya pengharapan lagi.

Memahami kemahakuasaan Tuhan, maka hendaknya kita tetap berpengharapan kepada-Nya walau bagaimanapun kehidupan yang yang kita alami saat ini. Sebagalmana Allah yang sanggup membebaskan umat pada masa pembuangan, adalah juga Allah yang sama yang selalu menyertai kehidupan kita sebagai orang percaya saat ini. Masalah apa yang sedang membuat anda meragukan kehadiran Allah dalam hldup ini? Percayalah, Allah yang berdaulat diatas segala-galanya. Orang yang menantikan Tuhan tidak akan pernah kecewa. Mungkln Dia tidak menghapus semua beban berat itu. Namun yang pasti Dia akan memberikan kekuatan-Nya pada anda agar dapat bertahan dan terlepaskan dari beban pergumulan anda.

Terbang Mengatasi Masalah
Nats : Orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN ... seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya (Yesaya 40:31)
Bacaan : 
Yesaya 40:15-31
Salah satu bahaya hidup di dunia yang penuh kesulitan ini adalah bahwa kita dapat berpusat pada persoalan kita dan, bukannya pada Allah. Ketika hal ini terjadi, kita kehilangan cara pandang yang benar. Sedikit demi sedikit, semua persoalan kita tampak bertambah besar dan kekuatan Allah yang Mahakuasa menjadi tampak kecil. Kita kehilangan iman yang memindahkan gunung dan menjadi orang yang terus-menerus kuatir, bahkan menciptakan sendiri gunung tekanan yang tidak perlu, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Yesaya 40 merupakan resep mujarab bagi kita yang memandang Allah begitu kecil. Allah mengingatkan kita bahwa Dia jauh lebih besar daripada dunia yang diciptakan-Nya. Dia menunjukkan bahwa dibandingkan dengan-Nya, "bangsa-bangsa adalah seperti setitik air dalam timba" (ayat 15) dan penduduk bumi "seperti belalang" (ayat 22). Firman-Nya tidak bermaksud merendahkan kita, tetapi justru untuk mendorong kita untuk memandang kepada Dia dan memperoleh cara pandang-Nya akan kehidupan ini.
Namun demikian, Allah menawarkan kepada kita lebih dari sekadar sebuah cara pandang yang baru. Dia menawarkan sesuatu yang akan memampukan kita hidup dengan pandangan itu. Daripada hanya merenungi persoalan-persoalan kita, marilah kita bergantung kepada-Nya. Dia akan memberikan kekuatan baru, dan sayap-sayap iman akan membawa hati kita terbang di atas kesulitan-kesulitan kita. Memang ada kesulitan yang besar, namun hal itu akan tampak kecil karena kita mempunyai Allah yang besar. Dan yakinlah bahwa Anda akan mendapati segala sesuatu berubah. Amen 




Khotbah Keb. Rumah Tangga 15-16 Mei 2018 Matius 9:27-31 BELAS KASIHAN TUHAN DAN IMAN


"Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?"  Matius 9:28
Injil Matius menjelaskan bahwa Yesus orang Nazareth ini mempunyai kuasa atas sakit-penyakit, dan juga punya kuasa atas kebutaan secara phisik. Oleh karena itu, Yesus dengan belas kasih-Nya mencelikkan mata kedua orang buta, dan terjadilah demikian. Yang menyebabkan mereka dapat melihat adalah iman mereka. Keduanya percaya bahwa Yesus itu bukan hanya sekedar Anak Daud, sebagai orang yang terpandang di antara raja-raja Israel. Kuasa Yesus adalah kuasa Allah.
Sementara itu, inspirasi bathin yang dapat kita tarik dari Injil Matius hari ini antara lain bahwa kita sebagai umat beriman barangkali tidak buta secara phisik. Namun apa yang terjadi? Kita memang punya mata, tetapi ternyata tidak melihat, dan kita juga punya telinga, tetapi tidak mendengar. Tentu ini harus diartikan secara rohani. Dengan kata lain pula, bahwa di balik kesembuhan jasmani, kesembuhan rohani juga sangat penting. Memiliki hidup rohani yang baik, akan menjadikan seseorang memiliki phisik yang sehat pula. “Mens sana in corpore sano”, jiwa/pikiran yang sehat dalam tubuh yang sehat”. Artinya bahwa dalam menjalani hidup ini, baik jasmani dan rohani harus dipelihara dengan baik.
Bagaimana keadaan Saudara hari ini?  Mungkin Saudara sedang terbaring lemah di tempat tidur karena sakit-penyakit?  Atau mungkin Saudara sudah merasa putus asa karena dokter sudah mengangkat tangan sebagai pertanda ketidaksanggupan menangani sakit yang Saudara derita?  Jangan berputus asa, karena bagi orang percaya pengharapan itu selalu ada!  Berserulah kepada Tuhan Yesus dan mohon belas kasihan-Nya, karena Dia adalah Allah yang menyembuhkan.  "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."  (Matius 8:17).  Ini merupakan penggenapan dari nubuatan yang disampaikan oleh nabi Yesaya,  "Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah."  (Yesaya 53:4)  dan  "Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh."  (1 Petrus 2:24b).
     Seseorang beroleh kesembuhan dari Tuhan bukan karena ia baik dan layak, atau karena ia adalah seorang keluarga pendeta, orang kaya, orang berpangkat, terkenal,  melainkan semata-mata oleh karena belas kasihan dari Tuhan.  Selain karena belas kasihan Tuhan, yang menjadi kunci untuk mendapatkan mujizat dari Tuhan adalah iman kita, karena  "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat."  (Ibrani 11:1), tanpa iman tak seorang pun berkenan kepada Tuhan dan Ia  "...memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia."  (Ibrani 11:6).
Dua kisah orang buta yang berteriak minta pertolongan Yesus, yang hari ini diceritakan dalam Injil adalah kisah cerita dua manusia yang berani meminta bantuan. Dua orang buta mengikuti Yesus dan berseru-seru mohon disembuhkan. Orang buta itu tak berdaya. Secara fisik, mereka tidak bisa berbuat banyak. Banyak hal bergantung pada kemurahan hati orang lain. Melihat upaya dan mendengar seruan mereka, dan setelah bertanya kepada mereka, Yesus kemudian menyentuh mata kedua orang itu dan sembuhlah mereka. Dua orang buta ini bisa menjadi guru bagi kita dalam mengarungi kehidupan sehari-hari. Mereka yakin bahwa dalam nama Yesus segala sesuatu bahkan yang tampaknya tidak mungkin menjadi mungkin. Buta menjadi melek. Tuli bisa mendengar. Kusta menjadi tahir. Yang mati dibangkitkan.
Banyak orang percaya pada Yesus, pada sabda, pada pengajaran dan pada karya-Nya, tetapi tidak mengimani pribadi dan sabda-Nya tersebut. Sebab mereka mengikuti Yesus masih dengan penuh perhitungan untung rugi, nyaman dan tidak nyaman. Maka marilah kita menghayati iman dalam hidup sehari-hari, dengan dan dalam iman kita hidup dan bertindak. Kesengsaraan, kemiskinan, kesulitan, tantangan dan hambatan merupakan media bagi kita untuk semakin beriman, semakin terbuka pada Penyelenggaraan Ilahi, karya Roh Kudus. Melalui mukjizat Yesus yang menyembuhkan dua orang buta, yang berteriak-teriak,“Yesus, Anak Daud, kasihanilah kami!” Yesus mengajarkan agar kita tidak lekas menyerah dalam doa permohonan kita. Maka hadapilah semuanya itu dengan rendah hati dan dalam doa serta kasih karunia Roh Kudus.Imanlah yang dituntut.  Dari manakah iman kita dapatkan?  "...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus."  (Roma 10:17).  Semakin kita banyak mendengar firman Tuhan dan tinggal di dalam firman-Nya iman kita akan semakin bertumbuh dan apa yang kita imani akan menjadi sebuah kenyataan!"Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia;"  Yakobus 5:15. Amen


Khotbah Kebaktian R. Tangga 8-9 Mei 2018 HADAPILAH MASALAH DENGAN TANGGUNG JAWAB Yakobus 1: 2 - 8.


Selama kita masih hidup di dunia ini, persoalan akan tetap ada. Bahkan masalah sepertinya datang silih berganti, yang seringkali membuat kita merasa tidak mampu menghadapi semuanya.
Jadi apabila saat ini kalau kita berpikir bahwa kita bisa menjalani hidup ini tanpa masalah, itu berarti kita sendiri ada di dalam masalah, karena telah memiliki pola pikir yang salah.
Tidak mungkin manusia hidup didunia ini tanpa masalah. Sebab saat manusia pertama kali jatuh kedalam dosa, ini merupakan sumber masalah yang terbawa sampai saat ini. Dengan pemahaman ini kita akan semakin mengerti bahwa setiap masalah yang datang kita harus tetap menghadapinya, dan bukan berusaha lari dari masalah yang kita hadapi.
Masalah yang datang harus kita hadapi dengan penuh tanggung jawab, dan berjuang dalam menghadapinya dengan tekun, karena sesulit apapun masalah yang kita hadapi, didalam Tuhan kita Yesus Kristus, pasti ada jalan keluarnya.
Firman Tuhan mengajarkan kita supaya menganggap sebuah masalah sebagai suatu kebahagiaan.
Yakobus 1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
Mungkin kita berkata bagaimana mungkin kita bisa menganggap setiap masalah sebagai suatu kebahagiaan ? Sebenarnya karena selama ini kita telah memiliki pola pikir yang salah, dimana yang kita inginkan hanyalah hidup tanpa masalah.
Padahal dibalik sebuah masalah sesungguhnya kita sedang di didik, kita sedang di ajar oleh Tuhan, supaya kita lulus didalam ujian terhadap iman percaya kita kepada Tuhan. Karena dengan ujian itu maka kita akan semakin bertekun.
Menjalani hidup sebagi orang Kristen bukanlah berarti langkah kita menjadi mudah dan tanpa masalah; sebaliknya kita justru menghadapi banyak ujian/pencobaan. "Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia," (Filipi 1:29). Namun, ujian dan pencobaan yang kita alami itu semuanya mendatangkan kebaikan bagi kita; Tuhan ingin melihat sejauh mana kualitas iman anak-anakNya. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi apabila seseorang mengalami ujian dan pencobaan: ia kecewa dan meninggalkan Tuhan, atau akan semakin tekun dan melekat kepadaNya sehingga imannya semakin bertumbuh dan dewasa.
Adakalanya Tuhan memperingatkat kita dengan keras melalui keadaan atau situasi yang kita alami supaya kita belajar bergantung penuh kepadaNya dan berdiri di atas dasar iman yang teruji. Iman yang teruji tidak terjadi dalam semalam, namun harus melewati proses yang panjang, yang di dalamnya terkandung unsur ketekunan dan kesetiaan.
 Beberapa proses ujian yang harus kita alami adalah:
1.      Kelimpahan.Luk 16:11 Hal lain, selain masalah dan penderitaan, yang terkadang diijinkan untuk menguji iman kita adalah kelimpahan. Banyak anak Tuhan yang jatuh alam dosa justru pada waktu ia diberkati dan dalamkelimpahan. Ketika sedang susah atau dalam keadaan miskin biasanya seseorang lebih mengutamakan Tuhan dan selalu berusaha untuk dekat dengan Dia, berdoa pun all out, tetapi pada waktu mengalami pemulihan, diberkati dan menjadi kaya, ia mulai lebih dekat dengan hartanya dibanding dengan Tuhan; yang diutamakan dan dicari bukan lagi Tuhan, melainkan dunia dengan segala kesenangannya.Maksud Tuhan Yesus adalah ada hubungan yang langsung dari bagaimana saya mengurus uang dengan kedewasaan rohani. Artinya jika aku tidak setia dalam mengurus kekayaan materi, maka Yesus tidak akan mempercayakanku kekayaan rohani. Uang adalah ujian. Dlm Kis2: 45)
2. Peristiwa buruk. Hal ini pernah dialami Ayub, padahal ia seorang yang "...saleh dan jujurl ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan." (Ayub 1:!). Semua anaknya mati, hartanya ludes, istrinya mengutuk dia, bahkan tubuhnya penuh borok. Namun Ayub tetap kuat karena dia tahu bahwa Tuhan sedang memprosesnya. Karena lulus dalam ujian, kehiudpan Ayub dipuluhkan secara luar biasa (baca Ayub 42:10-17).
Yakobus 1:3-4 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. 
Tuhan tidak membiarkan kita sendiri. Oleh sebab itu saat kita menghadapi masalah mintalah hikmat Tuhan yang akan menuntun kita untuk menyelesaikan segala persoalan yang kita hadapi.Jadi jangan dengan mudahnya kita selalu meminta pertolongan Tuhan untuk mengangkat masalah yang kita hadapi. Tetapi mintalah hikmat Tuhan supaya kita mampu menyelesaikan masalah yang kita hadapi dengan tanggung jawab.Tuhan telah memberikan potensi yang dikaruniakan kepada setiap orang percaya, supaya mampu untuk menghadapi apapun keadaan hidup saat ini. 
Hal ini juga bukan berarti kita tidak perlu mengharapkan pertolongan Tuhan, tetapi kita harus kerjakan apa yang menjadi bagian kita yang harus kita kerjakan, sebagai manusia yang bertanggung jawab. Sebab sebagai anak-anak-Nya tanpa kita meminta pertolonganpun, Tuhan pasti menolong, asal saja kita setia didalam Dia. Karena Dia Bapa yang baik.
Kita harus belajar menjadi dewasa dalam iman percaya kita kepada Tuhan. Karena apabila kita tidak menjadi dewasa dalam iman percaya kita kepada Tuhan, maka jangan pernah berharap Tuhan akan dengan mudahnya mengubah hidup kita.
Yakobus 1:7-8 Dengan menjadi dewasa dalam iman percaya kepada Tuhan, kita akan semakin mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita. Sehingga bila ada masalah yang Tuhan izinkan terjadi di dalam hidup kita, kita akan tetap melihatnya bukan lagi menjadi masalah, karena kita tahu didalam Tuhan kita akan cakap menanggung segala perkara.
Persoalan boleh datang, masalah yang kita hadapi boleh silih berganti, tetapi kita tidak akan menjadi takut lagi. Saat ini kita diajar untuk mengerti bahwa, masalah-pun kita telah mnganggapnya sebagai suatu kebahagiaan.Jadi sebuah kebahagian hidup bukan hanya sesuatu yang enak untuk dinikmati, yang membuat kita bisa tinggal didalam rasa nyaman, tetapi masalah-pun bagi kita saat ini bisa menjadi sebuah kebahagiaan hidup, karena kita tahu didalam Tuhan kita Yesus Kristus dan oleh hikmat yang Tuhan karuniakan bagi kita, maka kita akan tetap melihat pasti ada jalan keluarnya. Lalu kita bisa berkata kepada Tuhan “Engkaulah kota benteng perlindunganku, disepanjang umur hidupku”. Amin.


Khotbah Minggu 20 Mei 2018 Pentakosta KisahRas 10: 44-48. Roh Kudus Di Curahkan utk Semua Bangsa


“Yesus cinta semua bangsa, semua bangsa di dunia, kuning, putih dan hitam, semua di cinta Tuhan, Yesus cinta semua bangsa di dunia..” Lirik lagu yang sederhana ini, kembali mengingatkan kita akan makna cinta Tuhan yang universal. Tidak membedakan bangsa, warna kulit, bahasa atau perbedaan lainnya. Semua orang sama di hadapan Tuhan dan kepada siapa pun kabar keselamatan harus dinyatakan dan disaksikan. Tidak ada perbedaan di hadapan Tuhan, menjadi sebuah pemahaman yang akan mendorong kita untuk lebih mengasihi sesama dan mewartakan cinta kasih Tuhan yang telah kita nikmati. Namun, dalam kenyataan hidup sering kali manusia terjebak dalam sikap pengkotak-kotakan, pemisahan berdasarkan kepentingan masing-masing pribadi atau kelompok. Sehingga tanpa disadari kekristenan dan gereja pun dapat terancam sikap tertutup melakukan misi Kristus, yakni beritakan Injil sampai ke ujung dunia. Bagaimana Firman Tuhan menyaksikannya bagi kita dan memampukan untuk melakukannya?Kisah Para Rasul menjadi rangkaian kesaksian bagaimana Roh Kudus yang diutus Tuhan menjadi penolong bagi manusia, bekerja di atas orang-orang yang percaya. Jemaat mula-mula terdiri dari orang-orang yang melihat langsung sebagai saksi karya Yesus di dunia dan ada pula yang mendengar lalu percaya sehingga mereka menjadi pengikut Kristus. Tugas orang yang percaya, tidak hanya mendengar tetapi juga memperdengarkan kabar keselamatan tersebut. Tentunya hal ini tidak mudah dilakukan. Kita mengingat bagaimana para murid Yesus saat pertama kali melihat Yesus telah mati di kayu salib? Tentu pada awalnya mereka menjadi takut dan gentar. Tantangan memberitakan kabar keselamatan datang dari dalam dan luar diri sendiri. Termasuk pembatasan sosial antara Yahudi dan bukan Yahudi menjadi salah satu tantangan pada saat itu.Ketika Roh Kudus yang dijanjikan Tuhan turun ke atas mereka pada hari Pentakosta (Kis 2), hal berbeda mulai terlihat. Para murid yang berkumpul di Yerusalem mulai menyaksikan tentang karya Allah yang tidak hanya dimengerti orang Yahudi. Melalui khotbah Petrus, banyak orang yang memberi diri untuk bertobat dan dibabtis. Perjalanan pemberitaan Injil menyaksikan Roh Kudus bekerja melalui orang percaya dan dalam kehidupan jemaat mula-mula yang menembus tembok-tembok pemisah. Roh Kudus memakai banyak orang dari berbagai suku bangsa untuk turut menyaksikan kabar keselamatan.Kisah Para Rasul 10 mencatatkan tentang Injil yang diberitakan kepada bangsa lain, bukan Yahudi. Kornelius merupakan seorang perwira Romawi di Kaisarea yang mendapat penglihatan dari Tuhan (Kis 10:1-8). Kornelius dan seisi rumahnya taat kepada Allah dalam doa dan persembahan. Tuhan memerintahkannya untuk pergi ke Yope dan menjemput Simon Petrus. Sebelum mereka bertemu, Tuhan juga memberikan Petrus penglihatan hingga tiga kali, tentang perintah Allah memakan apa yang selama ini dianggap makanan haram bagi orang Yahudi (Kis 10:9-16). Hal ini memberikan pengertian kepada Petrus bahwa pemberitaan keselamatan dari Tuhan dibukakan bagi semua orang, tidak hanya orang Yahudi (menentang larangan seorang Yahudi bergaul dengan orang yang bukan Yahudi).
Allah tidak membeda-bedakan orang yang mau percaya dan melakukan FirmanNya. Pada saat itu orang-orang percaya yang berkumpul di rumah Kornelius menerima karunia Roh Kudus. Roh Kudus yang dicurahkan bagi bangsa-bangsa lain juga menjadi saksi bahwa semua orang yang membuka hati menerima Tuhan akan menyaksikan kemuliaanNya (ay 44-46). Setelah menerima curahan Roh Kudus dan babtisan, mereka meminta Petrus untuk tinggal beberapa hari lagi dan menyampaikan pengajaran tentang Kristus.
Tantangan yang kita hadapi sebagai orang percaya yang mau setia melakukan dan memberitakan Injil, akan menjadikan doa sebagai kekuatan kita. Invocatio (Kolose 4:2) merupakan peneguhan bahwa doa akan menguatkan hati kita agar semakin berserah kepada Tuhan dalam pujian dan persembahan. Roh Kudus memampukan kita juga bersekutu dan saling menopang di dalamNya sehingga kesaksian hidup orang yang berdoa dan melakukan, akan menjadi kekuatan pemberitaan Firman. Hal yang harus kita lakukan adalah:
Bertekunlah dalam doa. Sebab di dalam doa, Tuhan akan berbicara tentang apa yang harus kita lakukan sebagai orang percaya.
Memberitakan keselamatan. Sikap hidup yang berdoa dan bersaksi akan menjadi pemberitaan Firman yang hidup. Oleh sebab itu lakukan Firman dalam sikap hidup kita sebagai orang percaya.
Doakan dan beritakan kepada semua orang. Persekutuan dalam doa dan pemberitaan Firman akan menjangkau banyak orang. Karena kita melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan Roh Kudus memampukan dan tidak akan diam, melainkan bekerja menggerakkan hati banyak orang.
Keselamatan dari Tuhan melalui Kristus, tidak tertutup bagi beberapa orang saja, melainkan harus dinyatakan kepada semua orang. Dalam minggu ini kita semakin dikuatkan untuk membawa setiap doa dan pergumulan pribadi dan pemberitaan Injil bagi banyak orang, dalam namaNya. Karena sungguh besar kuasanya doa menyatakan keselamatan bagi semua orang, tanpa perbedaan dihadapanNya. Amin.
Karya Roh dalam Kehidupan Umat
Janji Tuhan Yesus kepada para murid dan umat percaya bilamana Ia wafat dan naik ke surga adalah akan mengutus Parakletos, yaitu Roh Kudus. Di Yohanes 14:17-26, dan Yohanes 16: 13-14 Roh Kudus yang diutus oleh Kristus akan berkarya:
1.Ia akan menyertai mereka senantiasa (Yoh. 14:16)
2.Ia akan tinggal di dalam diri mereka (Yoh. 14:17).
3.Kehadiran-Nya tidak dapat dilihat oleh dunia (Yoh. 14:17).
4.Ia akan mengajar mereka segala sesuatu (Yoh. 14:26).
5.Ia akan membantu mereka untuk mengingat semua hal yang telah diajarkan Yesus (Yoh. 14:26).
6.Ia akan memimpin mereka dalam seluruh kebenaran (Yoh. 16:13).
7.Ia akan memuliakan Kristus (Yoh. 16:14).
Alkitab mengajar kita bahwa Roh Kudus dapat menginsafkan kita akan dosa. Dan hanya melalui pekerjaan roh Kudus saja, kita dapat dilahirkan kembali dan dijadikan 'manusia baru'. Dengan pertolongan Roh Kudus kita kita menanggalkan dan mematikan 'manusia lama' yang ada dalam diri kita. Peranan Roh Kudus dalam kehidupan kita, rumah tangga dan pekerjaan kita membuat kita betul-betul mengikuti petunjuk-petunjuk Firman Tuhan untuk menyenangkan hati Tuhan dan sesama.
Melalui cara kerja Roh yang semakin meluas, menjadi sebuah kesaksian yang hidup bagi Petrus dan teman sebangsanya, bahwa setiap yang percaya pada Nama Tuhan akan menerima pengampunan dan keselamatan penuh. Roh Kudus mendorong setiap orang percaya bersaksi tentang Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ada panggilan kudus untuk bersaksi dan dorongan untuk menyaksikan Yesus tanpa takut. Petrus dengan penuh keberanian bersaksi tentang Yesus meskipun dia harus menentang eksklusivisme bangsanya, bahkan dalam tekanan apapun tidak ada yang menghalangi orang percaya menyaksikan perkerjaan Tuhan, oleh karena dorongan Roh Kudus.
Kornelius tidak mempunyai metode membujuk hati Allah supaya dia dan sahabatnya diterima sebagai bagian dari penerima anugerah Tuhan, melainkan Allah sendiri yang bertindak memberi kasih karunia. Perbuatan baik manusia tidak pernah dapat menyelamatkan dirinya, tetapi iman pada Allah otomatis membuat manusia berbuat baik, karena perbuatanNya ditujukan pada Tuhan bukan pada manusia. itulah yang disaksikan Petrus, keuniversalitasan Allah dalam Roh Kudus.
Ketulusan kita sebagai umat membuat orang lain terbuka menerima keberadaan kita, meskipun kita memliki latar belakan yang berbeda. Ketulusan Kornelius mempercayai Tuhan dan ketulusannya berbuat baik pada sesama, membuat Petrus dan orang Yahudi yang bersunat tidak ada alasan menolaknya, sebaliknya menganjurkan agar mereka dibaptis dalam Nama Yesus Kristus. Kornelius telah menjadi Israel baru, yang diperbaharui oleh Tuhan sehingga bagi Petrus, dia bukan orang asing tetapi sesama umat Allah. Kornelius dan orang yang ada di rumahnya telah memperlihatkan hidup yang dikuasai Roh, di mana di tengah persekutuan itu terdengar dari antara mereka puji-pujian dan bahasa Roh.
Roh sangat berkuasa mempengaruhi cara pandang kita terhadap orang lain dalam membangun persekutuan yang baik dan hidup. Dengan Roh Tuhan kita dapat memahami kekurangan orang lain, sebab Roh membuat kita sekarakter dengan Yesus. Dalam bahasa Yunani karakter berarti cap atau stempel, maka dengan pemenuhan Roh dalam diri manusia, manusia dapat menjadi stempel kristus di dunia. Kristus yang terbuka kepada semua orang mewariskan sikap yang sama pada capNya. Karena adalah sumber pengertian (Yesaya 40, 12-14).
Roh (Nus) daya berpikir. Bila Roh Allah ada dalamku, maka Roh itu akan menuntun kita merancang masa depan, memberi daya pikir untuk memahai kehidupan bersama. Dengan Kuasa Roh Kudus kita dimampukan Memuliakan Allah Bapa. Sebab Tuhan yang turun ke dunia ini, atas semua umatNya adalah Roh pemersatu, Roh yang mengikat satu dengan lain dalam persekutuan yang kudus dan am. Amen



Khotbah Minggu 13 Mei 2018 Tuhan mendengar doa, menyembuhkan penyakit, dan memperpanjang umur kita Khotbah: 2 Raja-raja 20:1-7 Matius 9:27-31



Coba kita Bayangkanlah diri kita sebagai seorang pekerja sukses yang berkarya di sebuah kantor akuntansi besar. Usia baru lima puluh tahun dan masih mempunyai banyak hal yang ingin dilakukan dan kerjakan disepanjang sisa hidup kita itu, paling tidak, rencana pensiun yang menarik. Tetapi suatu hari dokter mengatakan kepada Anda bahwa Anda mengidap kanker otak yang tidak bisa dioperasi dan di vonis hidup hanya tinggal 100 hari.
Bagi seorang bernama Eugene O’Kelly, apa yang bapak dan ibu bayangkan tadi adalah kenyataan dalam hidupnya. Kisah hidupnya itu dituangkan dalam bukunya yang berjudul “Chasing Daylight” (Mengejar Mentari Pagi). Pada 24 Mei 2005, Eugene menerima berita yang menghancurkan rencana hidupnya itu.
Saat dia mengetahui keseriusan penyakitnya, dia melakukan apa yang sudah terlatih dilakukannya sebagai seorang akuntan – dia menyusun daftar: 
1. Keluar dari pekerjaan saya. 
2. Memilih pengobatan medis yang memperbolehkan saya untuk ... 3. Memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya dan sebaik mungkin bagi mereka yang paling berpengaruh dengan kondisi saya. Bahkan Eugen menyusun daftar pekerjaan untuk hari-hari terakhirnya: 
Menyelesaikan urusan hukum dan keuangan, membuka hubungan, mempermudah, hidup untuk hari ini, menciptakan momen-momen bahagia, memulai masa peralihan ke keadaan berikutnya, merencanakan pemakaman dan tetap bersemangat sampai akhir. Kita pasti tahu bahwa di dalam Alkitab, ada seorang Raja Israel yang juga mengalami pengalaman yang sama. Dia tahu berapa lama lagi dia hidup di dunia ini.
Hizkia sakit keras (ayat 1), tetapi ketika Hizkia berdoa kepada Allah untuk memohon belas kasih-Nya, maka Allah memperpanjang 15 tahun lagi usia Hizkia (ayat 6). 
Yang menarik adalah data yang bisa kita temukan dari perikop paralelnya di II Tawarikh 32:24-33. Di sana kita mendapat keterangan yang cukup mengejutkan. Dikatakan dalam teks II Tawarikh itu bahwa pasca usia Hizkia diperpanjang 15 tahun, pada awalnya Hizkia sempat terjatuh dalam dosa keangkuhan (ayat 25). Bersyukur karena Hizkia segera berbalik dari keangkuhannya itu dan memulai sebuah hal yang baik bagi Israel di sisa waktu hidupnya itu. Mulai dari membangun tempat-tempat perbekalan (ayat 27-28), mendirikan kota-kota yang baru (ayat 29), dan membuat bendungan air bagi tanah Israel (ayat 30). Hari ini, betul memang kita tidak akan pernah tahu kapan akhir ajal kita itu datang. (Sampai grup band Ungu menulis lagu yang liriknya kira-kira begini, “Andai ku tahu, kapan tiba ajalku ...”). Tetapi satu hal yang seharusnya kita tahu adalah bahwa kita tak akan selamanya ada di dunia ini. Hidup kita ini terbatas. Bahkan ada banyak orang yang bila sudah memiliki koleksi umur yang “sudah banyak” menjadi agak enggan menyanyikan lirik lagu “Panjang Umurnya” bukan? Kenapa? Karena sebetulnya bukan jadi malah bertambah, melainkan justru makin berkurang dengan bertambahnya usia kita hari ini. 
Satu hal yang menjadi renungan kita pada Minggu Exaudi ini adalah ketika hari kita di dunia ini semakin berkurang, sudahkah kita melakukan sesuatu yang berarti bagi orang-orang yang ada di sekitar kita dan terlebih bagi Tuhan? Baik Eugene O’Kelly maupun Hizkia pada akhirnya menyadari bahwa hidup mereka itu sesingkat itu di dunia ini.
 Dan mereka memutuskan untuk mengisi sisa waktu di dunia ini dengan hal-hal yang baik dan berguna. 

Bagaimana dengan bapak dan ibu hari ini? Bolehkah saya mengajak kita semua hari ini untuk membayangkan apabila pengalaman Eugene yang memiliki sisa waktu hidup hanya 100 hari itu adalah, katakanlah, akhir hidup kita di dunia ini yang tinggal 100 hari lagi. Hanya membayangkan saja, apa yang akan bapak dan ibu lakukan dengan waktu yang tersisa 100 hari itu dalam kehidupan keseharian bapak dan ibu hari ini? 
Belas kasihan Tuhan. Tuhan menjawab doa Hizkia karena belas kasihan-Nya. Di dalam 2 Tawarikh 32:24-26 dikatakan: Hizkia jatuh sakit, sehingga hampir mati dan ia berdoa kemudian Tuhan memberikan tanda ajaib tetapi Hizkia tidak berterimah kasih, malah menjadi angkuh. Tetapi akhirnya ia sadar dan merendahkan diri, sehingga murka Tuhan tidak menimpanya dan ia beroleh belaskasihan Tuhan. Sepanjang hidup kita adalah anugerah dan belas kasihan Tuhan. Hanya belas kasihan Tuhan dalam kehidupan kita, maka Ia menjawab permohonan kita dan memberikan kita yang terbaik.
Kiranya firman Tuhan hari ini mendorong kita semakin dekat kepada Tuhan dan mau berkomunikasi dengan Tuhan. Setiap hari  dalam segala keadaan kita harus menyapa Tuhan melalui doa. Kalau kita mau disapa oleh Tuhan maka terlebih dahulu kita harus menyapa Tuhan. Tuhan memberkati.
Kitab 2 Raja-Raja menunjukkan dengan jelas bahwa dosa dan ketidaksetiaan para raja Yehuda (yaitu keturunan Daud) mengakibatkan pembinasaan Jerusalem dan kerajaan Daud. Akan tetapi, perjanjian baru juga menunjukkan dengan jelas, bahwa Allah di dalam kesetiaanNya menggenapi janji perjanjiannya kepada Daud melalui Yesus Kristus, “Anak Daud”, (Mat 1:1; Mat 9:27-31: Mat 21:9), yang masa pemerintahan dan kerajaanNya takkan pernah berakhir (Luk 1:32-33; bd. Yes 9:7).
Siapakah Raja Hizkia ? Dia merupakan raja ke-13 dalam sejarah kerajaan Yehuda (Israel selatan). Dia seorang dari beberapa raja Yehuda yang memiliki nilai baik. Menurut 2Raja 18:3, “la melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya.” Dia dilukiskan Alkitab sebagai raja yang punya hubungan akrab dengan Allahnya. Hizkia adalah seorang reformis (pembaharu).
Reformasi yang dilakukannya bukan pembaharuan dalam arti “di luar” melainkan “di dalam” kerangka Alkitab. Sama seperti Martin Luther yang melakukan reformasi dengan “back to the Bible” (kembali kepada Alkitab), demikianlah juga Hizkia justru melakukan pembaharuan dengan kembali kepada firman Tuhan.

Reformasinya dilakukan dengan mengimplementasikan ketaatan hidup pada masa kini juga. Seluruh negeri dibersihkannya. Mezbah, berhala / dewa asing dan tempat pemujaannya dihancurkan. Bahkan ular tembaga Musa yang dibuat saat di padang pasir dahulu kala tidak luput dari penghancuran karena ular buatan itu tidak lagi mengarahkan mata orang kepada Allah melainkan sudah menjadi berhala. (2 Raja 18:4: “Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular yang nama disebut “Nehustan”. Bait Allah di Yerusalem, yang pintu-pintunya dikunci oleh ayahanda sang raja (yakni Raja Ahas), kini dibuka dan dibersihkan. Kelemahan Hizkia adalah bahwa dia egois dalam arti mementingkan masa pemerintahannya saja (hanya fokus untuk menjawab permasalahan sekarang) sehingga dia gagal (tidak mau) mengantisipasi masa depan.Keberhasilannya melakukan pembaharuan justru membuatnya menjadi bangga bahkan sombong. Tindakannya yang tidak bijaksana dengan memperlihatkan segala kekayaannya kepada utusan Kerajaan Babel membuat Yehuda masuk dalam daftar bangsa bangsa yang akan ditaklukkan Babel. Ketika Nabi Yesaya memberitahukan kebodohannya itu, jawabannya mencerminkan betapa sang raja memang sungguh tidak peduli dengan masa depan kerajaannya. Jawabnya adalah( 2 Raja 20:19) “Sungguh baik firman Tuhan yang engkau ucapkan itu!” Tetapi pikirnya’ “Asal-ada,damai dan keamanan seumur hidupku!” Jelas sekali, dia bersyukur karena seluruh malapetaka yang akan menimpa Yehuda tidak terjadi pada masa hidupnya, melainkan sesudah kematiannya. Kehidupan tiga raja sesudahnya Manasye, Amon, dan Yosia sangat dipengaruhi oleh prestasi dan kelemahan Hizkia ini.
Pokok-pokok Khotbah

1.Saat menderita sakit adalah saat untuk berdoa secara khusus. Selama 100 tahun lebih dalam sejarah Yehuda (732-640 sebelum Kristus), Hizkia adalah satu satunya raja yang setia beriman kepada Tuhan. Sesudah Nabi Yesaya memperingatkan bahwa kematiannya sudah dekat, Raja Hizkia segera berdoa kepada Tuhan. “Ah Tuhan, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapanMu dengan setia dan dengan tulus hati dan bahwa aku telah melakukan apa yang baik di mataMu” (ayat 3). Karena iman dan doanya, Allah menyembuhkan penyakitnya dan menyelamatkan kotanya dari serangan kerajaan Asyur. Di samping itu, Tuhan juga memperpanjang (menambah) umur sang raja 15 tahun lagi. Lman dan doa, jika keduanya dilakukan dengan sungguh-sungguh dan langsung ditujukan kepada Allah yang hidup, dapat mengubah setiap keadaan.

2.Kematian pasti datang dan itu mestinya membuat kita semakin dekat kepada Allah. Itulah sebabnya, setiap orang Kristen diwajibkan mengingat saat kematiannya [yang pasti akan datang].  Dalam hal kematian, semua orang pasti akan menjalani tahapan akhir kehidupan didunia ini. Baik pengemis maupun seorang raja semua sama dalam hal ini. Semua menuju akhir hidup. Apabila dipikir-pikir, saat kematian terasa menjadi berat karena kita akan berpisah dengan semua yang kita miliki: keluarga, pekerjaan, jabatan, sahabat, harta kekayaan bahkan kita akan meninggalkandunia ini.  Pada hal banyak urusan yang belum terselesaikan. Namun kematian memberi orang beriman suatu sukacita, karena kita akan bertemu dengan Allah kita.

3.Hidup dan mati adalah mutlak di tangan Allah. Penyembuhantanpa berkat Allah adalah sia-sia. Dalam 20:7 dikatakan oleh Yesaya: “Ambillah sebuah kue ara!” Lalu orang mengambilnya dan ditaruh pada barah itu, naka sembuhlah ia”. Bukan kue ara itu yang sesungguhnya menyembuhkan penyakit baginda tapi berkat Tuhan semata. Apabila kita sakit, kita harus yakin bahwa sumber segala kesembuhan adalah Tuhan. Dokter, obat, dll, hanyalah alatNyauntuk menunjukkan kebaikanNya kepada orang yang dikasihani’ Nya.
4.Kesehatan yang dipulihkan harus digunakan dalam memperbaiki perenungan kepada Allah.Dalam tiga hari sesudah disembuhkan, (20:5: pada hari yang ketiga engkau akan pergi ke rumah TUHAN), baginda harus pergi menyampaikan kurban sebagai tanda syukurnya atas berkat Allah. Apabila sekarang ini kita masih diberi hari yang baru, itu adalah berkat Tuhan yang sudah sepatutnya kita syukuri. Dia masih memberi kita kesempatan untuk beribadah kepadaNya.
Apakah Allah masih bekerja hari ini, masih mendengar doa kita, masih menyembuhkan penyakit kita, masih memperpanjang umur kita? Ya, tentu saja, Dia tidak saja bekerja pada zaman Alkitab, tetapi juga sepanjang zaman sampai hari ini, bahkan hingga selama-lamanya. Amen