Senin, 18 Juni 2018

Khotbah Minggu 06 Mei 2018 Bertekun Dalam Doa Keluaran 32, 7-14



Doa merupakan sarana dimana kita dapat berkomunikasi dengan Tuhan. Lewat doa kita dapat menyampaikan semua permohonanan, ucapan syukur, Tapi melalui doa juga dapat menghadirkan kuasa Allah untuk mengubah suatu keadaan, menyembuhkan yang sakit, mengusir roh-roh jahat dll. Seperti apa yang dikatakan oleh Paul Yonggi Choo, "banyak doa banyak kuasa, sedikit doa sedikit kuasa". Doa dapat menghadirkan kuasa supranatural yang besar dalam kehidupan orang percaya. Namun ternyata Doa yang memiliki kuasa atau dampak tidak datang dengan sendirinya ada harga yang harus dibayar untuk memilikinya.
Doa pengampunan dosa merupakan item penting dalam setiap ibadah Gereja-Gereja Lutheran, karena ibadah yang memuji, adalah ibadah yang menyadari kesalahannya dan yang mengerti bahwa Tuhan lah maha pengampun. Dalam doa pengampunan kita diarahkan untuk semakin mengarahkan hidup ke arah yang semakin baik yang mau diubah oleh Roh Tuhan.
Mengapa perlu mohon pengampunan? Hidup manusia penuh dengan berbagai kekeliruan. Saya selalu mengibaratkan dosa seperti menyapu rumah. Meski kita menyapu setiap detik, debu atau sesuatu yang kotor tetap ada. Artinya walaupun setiap saat kita mohon ampun, tetapi debu dosa selalu hingga di hati kita oleh berbagai hal yang kita hadapi dalam kehidupan kita. Karena itu kita perlu terus menerus Memohon Pengampunan kepadaNya melalui Doa..Karena kita sadar:
1)    Allah Yang Mahakuasa dapat melakukan apa saja, tidak ada yang mustahil bagi Dia (Lukas 1:37).
2)    Allah Yang Mahakuasa mengundang umat-Nya untuk berdoa kepada-Nya. Doa kepada Allah harus dilakukan secara terus menerus (Lukas 18:1), dengan rasa syukur (Filipu 4:6), dalam iman (Yakobus 1:5), dalam kehendak Allah (Matius 6:10), bagi kemuliaan Allah (Yohanes 14:13-14), dan dari hati yang benar dengan Allah (Yakobus 5:16). 
3) Allah Yang Mahakuasa mendengar doa-doa anak-anak-Nya. Dia memerintahkan kita untuk berdoa, dan Dia berjanji untuk mendengarkan ketika kita berdoa. “Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya” (Mazmur 18:7).
4) Allah Yang Mahakuasa menjawab doa. “Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku” (Mazmur 17:6). “Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya” (Mazmur 34:18).
Pertemuan Musa dengan Allah menjadi terganggu oleh rancangan jahat yang dilakukan bangsa tersebut. Allah telah melihat suatu perlawanan. Allah menyebut bangsa itu sebagai bangsa yang tegar tengkuk (9). Awal dari dosa ini adalah ketidak sabaran menanti pertolongan Tuhan. Kalau seseorang mengandalkan kekuatannya, tentu dia tidak akan mampu menunggu hasil kerjanya. Dia ingin cepat selesai walau hasil tidak maksimal, sehingga bisa menjadi bumerang bagi dirinya. Dan sesuatu yang dikerjakan dengan cepat tanpa memakai hikmat dari Tuhan akan mendatangkan celaka, sehingga dalam Yakobus 1, 5 dikatakan supaya meminta hikmat dari Allah untuk melewati kehidupan ini, supaya tidak gegabah dan salah mengambil keputusan, atau menyimpulkan secara salah.
Kekeliruan dan penyelewengan dalam mengambil keputusan, mendatangkan kemarahan. Allah marah pada bangsa itu. Dalam ay. 10, dikatakan.....’ supaya murka-Ku bangkit terhadap mereka dan Aku akan membinasakan mereka’. Allah tidak menyukai sikap hidup yang mengandalkan diri dan kekuatan dunia di tengah persoalan yang kita hadapi. Tuhan membenci manusia yang mendua hati, dimana memilih Allah sekaligus mammon secara bersamaan, padahal orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. (Jak 1, 8). Maka adalah tepat jika penulis kitab pengkhotbah mengatakan, ‘adalah baik menanti dengan diam pertolongan Tuhan’. Jangan mencari kuasa lain, jika yang kita harapkan belum terkabul. Kemarahan Allah akibat ketidaksabaran menanti pertolongan Tuhan akan membinasakan bangsa tersebut.
Sesuai dengan nama minggu kita, rogate, berdoa, inilah inti dari khotbah ini, di mana Musa berdoa (memohon) untuk diberi pengampunan atas dosa dan kesalahan bangsa itu. Musa mewakili bangsa itu agar dibebaskan dari murka yang akan datang. Musa memohon ampun untuk sebuah kesalahan besar yang dilakukan bangsa tersebut, dengan mengingatkan Allah akan janjiNya pada tiga orang leluhur mereka, yang kepadanya Allah telah berjanji bahwa keturunan mereka akan menjadi bangsa yang besar (ay 13), sekaligus mengingatkan Allah supaya bangsa Mesir tidak menghina keputusan Allah yang membawa bangsa itu keluar, tetapi dibiarkan binasa (12).
Ada enam hal yang kita pahami dalam dialog Musa dengan Allah atas bangsa ini, yaitu :
1.    Dosa adalah maut. Bila dosa menguasai hati manusia maka upah dosa adalah maut dan kebinasaan. Melalui perikope ini, kita sebagai orang berdosa diajak untuk memohon pengampunan dosa supaya murka Allah berlalu dari kita.
2.    Kasih dan pemeliharaan Tuhan tidak pernah berhenti. Saat bangsa yang jahat itu akan dihukum, dibinasakan, bukan membuat kasih Tuhan tidak mengalir, tetapi mengalihkan aliran ke tempat di mana ada hati yang merespon. Dalam ay 10b dikatakan: “tetapi engkau akan Kubuat menjadi bangsa yang besar." Kalau kita menolak cinta kasih Allah, kasih itu tidak akan hilang tapi akan mencari hati lain sebagai tempat beroperasinya kasihNya untuk menyatakan kabaikan Allah di dunia.
3.    Doa menjangkau banyak hal. Doa berkekuatan mengubah keputusan Allah. Ketika Allah hendak membinasakan bangsa itu, doa Musa yang penuh pengharapan dan kerendahan hati membuat Allah tidak konsisten dengan keputsanNya, tetapi kerendahan hati Musa, menunjukkan bahwa Allah yang disembah adalah Allah yang konsisten dalam mengasihi umatNya.
4.    Doa bukanlah kemampuan merangkai kata, tapi doa adalah hati yang remuk redam yang mengharp pertolongan Tuhan. Bukan kebaikan Musa dan kesetiaanya pada Tuhan yang ditonjolkan ketika memohon pengampunan pada Tuhan tetapi ia mengingatkan Allah atas kebaikanNya, atas kuasaNya yang membawa bangsa itu eluar dari Mesir. Dalam doa tidak ada penojolan kebaikan atan penonjolan diri, tapi penonjolan akan kebaikan dan perhatian Allah pada umat.
5.    Doa tidak egois. Doa Musa bukan doa internal, untuk dirinya sendiri, tetapi keluar dari dirinya, di mana dia berdoa untuk keselamatan seluruh bangsa itu supaya tidak dibinasakan, supaya memperoleh kasih setia Tuhan. Maka berdoa tidak hanya memikirkan bagaiman meja makan kita boleh berisi setiap hari, tapi leboh dari itu bagaimana kita mengusahakan supaya meja makan orang lain pun berlimpah dari kebaikan Tuhan.
6.    Doa dapat mengubah hati. Doa permohonan yang dinaikkan Musa mengubah hati Allah dari yang marah menjadi mengampuni. Maka berdoa tidak sekedar menyampaikan kata-kata permohonan dan pemintaan kita pada Allah, tapi dalam doa yang kita mohonkan, kita diubah oleh kuasa Roh yang lebih dahulu mendoakan doa-doa kita.
Hidup orang yang berdoa adalah hidup yang yakin dan percaya, punya integritas. Sebab perilaku kita mempengaruhi doa kita. Musa adalah yang berintegritas tinggi, sehingga doanya berkuasa. Yakobus mengatakan, Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (5,16b).
Permohonan Musa ini menjadi berdaya guna (sangat besar kuasanya), karena Musa mepunyai perjumpaan yang baik dengan Allah. Intimitas yang baik secara vertikal akan mengarahkan Musa pada doa yang benar. Dia menjadi tahu, apa yang baik bagi kehidupan dalam hubungan horizontalnya dengan sesama. Dalam perjumpaan yang baik akan memimpin orang percaya tahu apa yang harus didoakan, diminta dan diharapkan dari Allah yang peduli dan membawa manusia pada kebaikan. Maka ketika ada hubungan yang mesra antara manusia dan Allah, manusia akan semakin pasti dengan pertolongan tangan Tuhan yang kuat. Apapun pengalaman manusia dalam kehidupan, hubungan baiknya dengan Tuhan akan membuat yakin dan percaya; ya dan amin akan jawaban-jawaban doanya, dan tidak akan membuatnya bimbang dalam keputusan Allah, baik atau tidak baik waktunya, sebab pilihannya telah jatuh dalam Kristus sebagai Tuhan dan Juru s’lamat yang membawa kebaikan menuju kekalan. Tuhan menyertai perjalanan kita. Selamat menjadi pendoa sejati! Amin.
Bagaimana menghadirkan doa yang penuh kuasa dalam kehidupan kita:
Doa yang dilakukan oleh orang benar (Yak. 5:16)
Kita sudah dibenarkan oleh anugerah Tuhan Yesus melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib. Itu bukan usaha kita, itu kebenaran yang dianugerahkan kepada kita sehingga secara posisi/status menjadi benar di hadapan-Nya. Namun yang dimaksudkan di atas dengan kata "benar", adalah hidup benar di didalam pengalaman kehidupan kita sehari-hari, di dalam tindakan kita, di dalam perkataan kita dan semua keberadaan kita. Yang ditekankan dalam ayat di atas adalah bagaimana orang percaya di dalam kehidupannya sehari-hari, apakah ia hidup dalam keinginan daging atau dalam keinginan Roh, mengenakan nilai-nilai Kristus atau mengenakan nilai-nilai dunia ini. Apa yang dihidupi seseorang di dalam kehidupannya sangat menentukan kemenangan dan kekalahan seseorang di dalam kehidupan doanya. Semakin seseorang dapat menundukkan dirinya di bawah otoritas Firman Tuhan tiap-tiap hari semakin besar manifestasi kuasa Allah di dlam dirinya.
Doa yang dilakukan oleh orang yang memiliki iman (Yak. 5:15)
Setelah kita dapat melatih hidup kita untuk menundukkan daging kita dan hidup di dalam keinginan Roh, di sisi yang lain kita perlu memiliki "iman". Sebab Firman Tuhan berkata,
"Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang ambingkan kian kemari oleh angin." (Kis. 1:6).
Yang dimaksudkan ayat di atas adalah kita tidak boleh dengan sikap yang ragu-ragu ketika sedang datang kepada Tuhan untuk berdoa karena orang yang bimbang tidak memperoleh apa-apa. Untuk itu "iman", perlu kita pelihara, jaga, dan tingkatkan dengan memberinya makanan "Firman Tuhan".
Doa yang dilakukan oleh orang yang memiliki kepekaan rohani (Kis. 16:18)
"Kepekaan rohani", sangat diperlukan di dalam doa. Sensitivitas rohani tidak datang dengan sendirinya di dalam diri kita. Itu perlu dilatih dan diasah, seperti Samuel yang mula-mula di dalam pelayanannya harus belajar bagaimana mendengar "suara Tuhan". Kita perlu tau terlebih dahulu roh territorial apa yang menguasai wilayah, kelompok atau seseorang. Dan hal itu diperlukan kepekaan rohani atau kemampuan mendengar suara Tuhan. Supaya doa kita menjadi lebih efektif dan mengena kepada sasarannya. Jadi kita perlu melatih kepekaan rohani di dalam doa, puasa, dan Firman Tuhan setiap hari. Kiita perlu belajar untuk hidup dalam firman Tuhan, hidup dalam kehendak Roh Kudus dan memiliki iman di dalam berdoa. Amen. RHL




Khotbah Minggu 17 Juni 2018 2 Petrus 3 : 1 – 13 Menantikan Hari Tuhan Dengan Setia


Surat II Petrus ini mengingatkan kita kepada kedatangan janji Tuhan yang dinamakan juga dengan Parusia. Kapankah kedatangan Tuhan yang disebut dengan Parusia itu? Konsep waktu TUhan dengan manusia berbeda. Di dalam ayat 8 dikatakan bahwa seribu tahun sama dengan 1 hari atau 1 hari sama dengan 1 tahun di mata Tuhan (Mzm 90:4). Karena mengenai waktu kapan kedatangan Tuhan itu adalah merupakan otoritas ataupun kuasa Allah. Tapi yang penting atau perlu di dalam khotbah kita pada saat ini adalah kita menunggu dengan sabar, setia dan tekun kapan waktu saja. Walaupun banyak orang berfikir dan beranggapan bahwa Tuhan itu lupa atau lambat memenuhi janjinya tapi Tuhan itu sabar dan punya rencana supaya setiap orang dapat bertobat dan selamat. Manusia diberi mengevaluasi dirinya untuk bertobat, berubah sikap dari yang tidak baik menjadi baik. Dapat kita lihat bahwa bagaimana Tuhan memberikan waktu dan kesempatan bagi kita manusia. Gambaran kedatangan Tuhan itu juga digambarkan seperti kedatangan pencuri, waktunya kita tidak tahu karena Tuhan tidak mengumumkannya atau memberitahukannya terlebih dahulu. Langit akan lenyap. BUmi dan segala yang ada di atasnya akan hilang dan lenyap. Apakah yang dibuat oleh orang yang beriman kepada Tuhan? Rasul Petrus mengatakan,” Kamu harus hidup tidak bercela dan berkenan di hadapan Tuhan, bersih dan tidak bercela di hadapanNya”.Tujuan Petrus menyampaikan surat ini adalah agar mereka dengan tekun mengejar kesalehan dan pengenalan yang benar akan Kristus. Selain itu Petrus juga ingin menolak dan menentang tindakan para nabi palsu di kalangan gereja Asia Kecil yang mencoba meruntuhkan kebenaran Injil. Petrus menasihatkan agar orang percaya senantiasa waspada supaya mereka tidak terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tidak mengenal hukum. Petrus ingin agar mereka bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat, Yesus Kristus. Khusus dalam pasal 3 ini, Petrus menentang keraguan para nabi palsu akan kedatangan Kristus yang kedua kalinya dan memastikan bahwa Yesus akan datang untuk keduakalinya untuk mengadakan penghakiman kepada segenap umat manusia.
1.      Tuhan Tidak Pernah Lalai dengan Yang Dijanjikan-Nya Pasal 3:1-7 Petrus menjelaskan bagaimana situasi kehidupan manusia sebelum masa Hari Tuhan itu datang. Para guru-guru palsu dan para pengejek-pengejek yang hidup menurut hawa nafsunya akan tampil untuk menggoyang iman percaya orang Kristen. Mereka akan mengatakan, “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan.” Mereka sebenarnya sudah tahu bahwa hari Tuhan itu ada, namun karena tak kunjung datang, maka mereka tidak lagi percaya akan hari Tuhan, sebab jauh sebelum mereka lahir, tentang hari Tuhan telah dikumandangkan oleh para nabi. Untuk itu Petrus menegaskan kembali agar segenap orang Kristen tidak tidak tergoda oleh perkataan-perkataan itu. Hendaklah mereka senantiasa setia dalam penantian dengan tetap melakukan apa yang berkenan di hadapan Tuhan. Sehingga ketika hari Tuhan itu benar-benar datang, maka hari itu menjadi hari sukacita bagi mereka, namun kebinasaan bagi yang melawan kehendak Tuhan. Petrus mengingatkan agar orang percaya tidak perlu menghitung-hitung hari untuk menentukan kapan Tuhan Yesus datang untuk keduakalinya. Karena kedatangan Tuhan itu tidak dapat diperhitungkan atau diprediksi dengan perhitungan hari-hari manusia. Sesungguhnya di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.
2.      Hari Tuhan (ay. 10 – 13)
Akan tetapi kedatangan hari Tuhan itu akan benar-benar menyentak semua orang. Petrus mengumpakan-Nya seperti kedangan pencuri. Tentu pencuri biasanya datang ketika semua orang terlelap menikmati tidurnya, demikian Allah akan datang dengan tiba-tiba saat manusia menikmati hidupnya. Yang menikmati hidup dalam Tuhan akan bersukacita, sementara orang yang masih asyik menikmati hidup dalam kesibukan dan dosa-dosanya akan tersentak karena tidak ada lagi waktu keduakalinya untuk berbalik dan bertobat. Yang ada adalah hukuman kekal yang akan menyiksanya. Hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan lenyap. Untuk itu Petrus mengajarkan agar mereka tetap mempertahankan kesucian dan kesalehan hidup mereka selama masa penantian Tuhan datang. Hidup orang percaya harus dipusatkan pada Allah dan pengharapan akan menerima hidup baru di dalam-Nya. Kedatangan Tuhan yang diibaratkan sebagai pencuri juga diungkapkan oleh Paulus, “karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam” (1 Tes. 5 : 2). Selain itu, di Wahyu 3 : 3, “Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah!
3.      Tugas & Tanggungjawab Orang Percaya (ay. 14 – 15)
Petrus tidak hanya mengingatkan dan meneguhkan iman orang percaya, namun juga mengajarkan mereka apa yang menjadi tugas dan tanggungjawab mereka dalam menanti hati Tuhan itu. Petrus mengajarkan mereka agar mereka tidak berdiam diri dan berpangku tangan dalam menanti kedatangan hari Tuhan. Petrus katakan, “....sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia”. Meskipun kedatangan hari Tuhan itu tidak pasti kapan, namun Petrus mengajar mereka agar senantiasa berusaha dan tetap hidup dalam kebenaran sehingga kapanpun hari Tuhan itu datang, tidak menimbulkan keterkejutan.Seluruh perikop ini membahas mengenai kedatangan Kristus. Ada dua istilah yang digunakan di sini, yaitu “kedatangan Kristus” (parousia, ay. 4) dan “hari Tuhan” (ay. 10). “Hari Tuhan” ditemukan juga dalam Kitab Wahyu dengan sebutan “hari Allah” (Why. 16:14). “Hari Allah” akan ditandai dengan hancurnya ‘langit’ oleh api dan mencairnya ‘unsur-unsur langit’. Kita tidak tahu secara pasti bagaimana proses itu terjadi, tetapi hal tersebut jelas disebabkan oleh “hari Allah” dan bukan merupakan bencana alam atau sesuatu yang disebabkan oleh kecerobohan manusia. Allah akan mengangkat langit dan bumi yang lama dan mempersiapkan jalan untuk langit dan bumi yang baru (Why. 21:1; 2Ptr. 3:13). Rasul Petrus tidak bermaksud menakut-nakuti orang Kristen, dengan apa yang dipaparkannya ini, melainkan untuk mengingatkan bahwa segala sesuatu yang mereka perbuat di bumi ini bersifat sementara. Hanya hidup dalam ketaatan kepada Allah akan memberikan hidup kekal (1 Yoh. 2:17). “Hari Allah” merupakan saat di mana mereka menerima ganjaran tersebut.Kita sedang berada dalam masa penantian datangnya hari Tuhan. Kita harus terus rnengingatnya, dan menata hidup untuk hari itu. Kesadaran akan hari Tuhan itu akan menentukan cara atau pola hidup kita. Artinya, keyakinan seseorang mengenai kedatangan Kristus akan menentukan cara hidupnya. Jika manusia memiliki pengharapan hidup seperti dikehendaki oleh Petrus, maka mereka akan menjalani kehidupan yang kudus apapun konsekuensinya. Itulah sebabnya Petrus dengan penuh kesungguhan menasihatkan, “Betapa suci dan salehnya kamu harus hidup”.Jika sekarang Tuhan masih memberi kesempatan kepada kita, sebelum Hari Tuhan itu terjadi, artinya Tuhan masih berpanjang sabar terhadap kita. Dia tidak ingin “seorang pun binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” Maka itu kita harus segera bertobat dan menjalani hidup kudus sehingga berkenan di hadapan Allah sampai kepada akhir dunia ini. Memang kita tidak tahu kapan hari Tuhan itu terjadi, tetapi hari itu pasti datang. Kita diberi waktu untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya. Mari kita bertanya: sudahkah hidup saya diarahkan untuk menyambut hari Tuhan tersebut? Apakah kita sudah menggunakan waktu dengan baik untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus kedua kali?Petrus telah membuat kita tercengang. Di satu pihak, bayangan kita akan bumi yang dilahap oleh bola api bersama seluruh hasil karya dan budayanya mengguncangkan jiwa karena kita merupakan bagian dari zaman ini. Di pihak lain, pandangan bahwa hidup yang kudus dapat mempercepat kedatangan Kristus dan dengan demikian mempengaruhi seluruh alam semesta membangkitkan perasaan bahwa kita memiliki hak istimewa yang menakjubkan. Petrus berharap bahwa secara bersama-sama kedua pandangan di atas akan mendorong orang Kristen untuk menanti-nantikan kedatangan Kristus dan menjalani kehidupan kudus dengan penuh kesungguhan hati.Ya, kita menanti hari itu dengan kesungguhan hati sambil berjaga-jaga. Kita berjaga-jaga bukan saja terhadap perubahan alam yang akan terjadi tetapi juga terhadap orang-orang yang dapat menggoyahkan pengharapan kita. Seperti dikatakan Petrus, “Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menuruti hawa nafsunya. Kata mereka: “Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu?” …(ay. 3-4). Banyak orang tidak dapat bertahan terhadap orang-orang seperti, membuat banyak dari kita yang berpaling…. Berjaga-jagalah!
Nats ini 1.        mengingatkan kita, bahwa kita  sama sekali tidak perlu merasa takut dan khawatir akan kedatangan akhir dunia. Sebaliknya, umat Kristiani sebarusnya merindukan kedatangan Yesus Kristus untuk kalinya, sebagai sebuah peristiwa pembebasan/ pelepasan penuh bagi kita, akhir dari semua ikatan, kemenangan final Tuhan Yesus Kristus.
2.        Setidaknya ada 4 hal pokok yang perlu kita miliki dalam menyongsong kedatangan Tuhan Yesus yang keduakalinya. Pertama, Hidup dan Percaya. Kedua, Berbalik dan Bertobat. Ketiga, Menjalin Hubungan dan Komunikasi dengan Tuhan dalam Doa.Keempat, Taat dan Mau Diatur (Firman ) Tuhan. Keempat prinsip dasar ini akan menuntun orang percaya untuk senantiasa sabar dalam pengharapan menanti Hari Tuhan sembari melakukan apa yang berkenan di hadapan-Nya. Amen. RHL

Khotbah Minggu 10 Juni 2018 Yesaya 41, 14-20 Allah Yang Maha Kudus, Penolong, dan Penebus.


Rasa takut adalah hal yang alami di dalam diri seseorang..kadangkala rasa takut bisa muncul diluar jangkauan pemikiran seseorang…
"Di manakah Engkau, Tuhan?" Kalimat tanya bernada menggugat ini sering kita lontarkan saat Tuhan terasa meninggalkan kita dalam ketakutan, apalagi pada saat itu kita justru sangat membutuhkan uluran tangan-Nya. Benarkah Tuhan meninggalkan kita pada saat yang dernikian? 
kita pasti pernah mendengar kisah Foots Print, ilistrasi Jejak-jejak Kaki . Kita berjalan-jalan di pantai bersama Tuhan. Pada saat yang sangat bahagia, kita melihat dua pasang jejak kaki di belakang kita. Sepasang kaki kita dan sepasang kaki Tuhan. Anehnya, justru pada saat kita menghadapi masa-masa yang paling sulit,masa masa menakutkan, kita melihat: jejak kaki itu tinggal sepasang. Di situlah kita menggugat, "Di manakah Engkau, Tuhan?" Tuhan menjawab dengan tepat dan mengharukan. "Anak-Ku, engkau sangat berharga di mata-Ku, Aku sangat mengasihi engkau dan Aku tidak akan meninggalkan engkau….
Pada waktu engkau dalam bahaya dan dalam penderitaan engkau hanya melihat sepasang jejak kaki saja,
karena pada waktu itu Aku menggendong engkau."…
Orang yang takut bukan berarti tidak percaya kepada Tuhan..ada berbagai macam ketakutan manusia, termasuk kita umat Tuhan yang hadir saat ini di Bait Nya…
• Ada yang takut pada petir, hujan lebat, suara gemuruh..
• Ada yang takut berenang, takut tenggelam, takut dengan kedalaman laut, danau, dan sungai..
• Ada pula yang takut pada ketinggian, takut jatuh…
• Dan ada banyak trauma, ketakutan-ketakutan lainnya..
Saudara-saudari terkasih....
Umat Israel juga di dalam nats kita pada minggu ini berada dalam situasi “Takut“.ini adalah kondisi ketika Israel dibuang ke Babel. layaknya orang yang : terpenjara, terkurung, dan tertawan, umat pilihan Tuhan tak berdaya diantara bangsa-bangsa disekelilingnya.
di ayat 14 dikatakan : Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman TUHAN, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel”. Simbol cacing yakub dan ulat Israel menggambarkan Tanpa TUHAN, Israel tidak lebih dari seekor cacing dan ulat yang lemah, yang tak berdaya dan yang dengan mudahnya diinjak oleh dunia. kita harus menyadari betapa kecilnya, betapa lemahnya dan betapa tak berdaya nya kita dihadapan Tuhan. Ayat ini mengingatkan kita umat Tuhan, untuk tidak pernah merasa hebat, tetapi harus menyadari semua yang kita dapat, yang kita alami di dunia ini hanya kasih karunia dari Tuhan saja. Ulat dan cacing adalah spesies binatang melata, yang lemah dan bila disbanding dengan binatang/hewan2 lainnya yang lebih besar, lebih kuat, dan buas, ulat dan cacing tidak ada apa-apa nya.ini menunjukkan “ketergantungan umat Israel kepada Tuhan”.Di ayat 15 dikatakan : Sesungguhnya, Aku membuat engkau menjadi papan pengirik yang tajam dan baru, dengan gigi dua jajar; engkau akan mengirik gunung-gunung dan menghancurkannya, dan bukit-bukitpun akan kaubuat seperti sekam.kemudian di ayat 16 dikatakan : Engkau akan menampi mereka, lalu angin akan menerbangkan mereka, dan badai akan menyerakkan mereka. Tetapi engkau ini akan bersorak-sorak di dalam TUHAN dan bermegah di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel. Ayat ini merupakan penggambaran bagaimana TUHAN mampu membuat mujijat, bagaimana Tuhan mampu memberi kesempurnaan kekuatan untuk menjaga bangsa Israel. Bagaimana Tuhan memberi kekuatan dan harapan untuk Israel..
Kadang kala didalam kehidupan kita, kita merasa sangat lemah, tidak berdaya , menderita, tidak punya harapan lagi dan boleh dibilang hancur lebur. Situasi yang kadang tidak ada jalan keluarnya bagi akal manusia. Kita terpuruk dan merasa seolah sudah tidak ada harapan lagi didalam hidup kita.
Mari kita lihat ayat 17 hingga ayat 19 : Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air, tetapi tidak ada, lidah mereka kering kehausan; tetapi Aku, TUHAN, akan menjawab mereka, dan sebagai Allah orang Israel Aku tidak akan meninggalkan mereka.Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering.Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya. Di dalam ayat ini Tuhan memberikan janji kepada umatnya bahwa bagaimanapun keadaannya Tuhan akan selalu menolong,menyertai dan menopang kehidupan kita. Penderitaan yang menyedihkan atau menghadapi masa2 penuh bahaya paling suram pun. TUHAN akan melimpahkan semua kebutuhan umatnya, menyegarkan jiwa dengan makanan dan minuman, menyediakan taman taman rindang yang indah dan hutan hutan kecil bagi kesenangan rohani kita. Tujuh spesies pohon menggambarkan kesempurnaan karya Tuhan dalam memenuhi kebutuhan ini. 
• Pohon Aras
• Pohon Penaga
• Pohon Murad
• Pohon minyak
• Pohon sanobar
• Pohon berangan
• Pohon cemara
Lambang 7 pohon menggambarkan : kesempurnaan penciptaan Tuhan, angka 7 adalah angka kesempurnaan, sangat sering ditemukan di dalam Alkitab.
Pemeliharaan penuh rahmat ini menguatkan iman umat TUHAN dan bersukacita dalam kesetiannya.namun terkadang betapa sering kita jatuh kedalam keraguan akan kesempunaan pemberian Tuhan .
Suatu hari ada seorang ibu yang ingin berangkat ke suatu daerah..sang ibu berpesan kepada suaminya agar tak lupa memberi makan anak mereka.semua makanan sudah disiapkan di lemari es. Esok harinya si bapak me manaskan makanan dan sembari mengeluarkan pudding ke atas meja makan. Lalu si anak bangun dan mengambil langsung pudding tersebut. Tetapi si bapak mengambil pudding itu dan menyimpannya kembali ke dalam lemari es. Lalu si ayah berkata…nak..kamu makan nasi dulu, setelahnya baru papa kasih pudding yah..tetrapi si anak terus menerus merengek rengek dan menangis…si anak me raung raung meminta pudding. Tetapi si ayah tetap tidak memberikannya.
Saudara saudari betapa kita sering meminta kepada Tuhan seolah 2 permintaan kita itu sudah baik adanya.padahal Tuhan Bapa kita Dia yang lebih tahu apa yang jd makanan pokok kita.
Kita sering merasa bahwa pudding itu lah yang kita mau dan inginkan…padahal itu tidak memberi pertumbuhan..kita bahkan sering merengek memohon apa yang ada didalam hati kita.
Hubungan baik dengan Tuhan akan menghasilkan hubungan baik dengan sesama manusia dan lingkungan hidup. Rusaknya hubungan antar manusia dan anatar manusia dengan alam adalah akibat pemberontakan terhadap Tuhan.bila kita perhatikan perjalanan Israel umat pilihan Tuhan… mereka dijajah oleh bangsa Asyur dan takluk kepada bangsa yang lebih kuat, pertistiwa itu dimaknai akibat Israel berbuat dosa dan yang jahat di mata Tuhan. Stabilitas politik, kemakmuran dan kesejahteraan warga serta keadaan alam yang bersahabat semuanya tergantung pada hubungan baik dengan Tuhan. Berkat Melimpah selalu disediakan Tuhan bagi orang percaya.
Pertobatan atau Metanonia, adalah starting point pemulihan keadaan orang percaya. Israel yang tidak berdaya, hancur dan putus harapan dan dijuluki sebagai “si cacing Yakub”, “ si ulat Israel “ akan mengalami tranformasi. Pertobatan mereka akan menjadi peluang untuk menikmati pemulihan keadaan secara ekonomi, politik, sosial budaya dan kerohanian. Tuhan bertindak menolong dan menebus mereka dalam keputus asaan dan ketidak mampuannya. Tuhan akan memberdayakan mereka sehingga mereka menjadi “papan pengirik yang tajam dan baru, dengan gigi dua jajar..
Di ayat terakhir dikatakan :
supaya semua orang melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan TUHAN yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya. Hidup bersama dengan Tuhan membuat kita mempunyai kekuatan untuk menghadai tantangan yang menghadang perjalanan jidup kita. Gunung-gunung dan bukit-bukit yang menghadang akan ditaklukkan. Yesaya menggambarkan penuh harapan itu dengan mengatakan “Tetapi engkau ini akan bersorak-sorak di dalam TUHAN dan bermegah di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel.”.• Setiap orang yang mengarahkan diri pada Tuhan akan mendapatkan air kehidupan. Tuhan menyediakan kebutuhan hidup dan memeliharan kehidupan orang-orang percaya.
• Kesejahteran itu digambarkan dengan mudahnya mendapatkan air. Lahan kering dirubah menjadi lahan basah. Meskipun perjalanan hidup kita tak pernah lepas dari tantangan, tetapi Peluang pun akan selalu ada di sana ketika kita menjalani semuanya bersama Tuhan. • Pada minggu kali ini kita dipanggil untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita, supaya kita tidak kuatir tentang apa pun juga. Kadang kala kita mengalami perubahan yang begitu menakutkan, dari sumber air berubah menjadi tanah kering, kadang kala kita harus berjalan tertatih seolah tidak punya kekuatan, dengan mengandalkan Tuhan kita pasti sanggup menghadapi setiap perubahan-perubahan didalam hidup kita.• Jaminan hidup, pemeliharaan dan penjagaan sejati kita dapat hanya dari Tuhan saja.karena itu, mari kita dating kepada Tuhan.
Pada akhirnya kita akan mengaku “bahwa tangan TUHAN yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya.” Amin



Khotbah Minggu 03 Juni 2018 Wahyu 16:1-7 @Kekuatan Allah Atas Dunia



 Murka Allah bukan lagi memakai sepertiga alam melainkan seluruh alam semesta menjadi alat penghukuman Allah bagi seluruh umat manusia yang memusuhi Allah. Tidak ada lagi tempat bersembunyi untuk dapat menghindar dari luapan murka-Nya. Murka Allah ditujukan kepada para musuh Allah, sebagai pembalasan atas darah para martir yang telah mereka curahkan. Ini menegakkan keadilan-Nya (5-7). Tujuh murka Allah ini mirip dengan tulah zaman Musa terhadap Mesir. Semua yang tidak mau menaati-Nya, yang mengikut Iblis dengan segala bentuk mukjizat palsunya akan binasa oleh murka Allah (10-14). Meski telah sedemikian dahsyat murka Allah dan sedemikian nyata kebenaran-Nya, ternyata mereka tidak bertobat sedikit pun (9, 11, 13-14). Pada tiga cawan terakhir, murka Allah memuncak, namun pihak lawan menghimpun kekuatan terakhir mereka untuk membalas (14). Akhirnya, hanya dengan satu pukulan maha dahsyat Ilahi, mereka dihancurkan tuntas (18-21).Betapa ngeri kedahsyatan murka Allah serta kebinasaan yang diakibatkannya. Untuk pengikut Kristus, pesan Tuhan mendesak dan menghibur. Kita harus berjaga-jaga senantiasa sebab hari murka Tuhan tersebut seperti pencuri (15a). Berjaga-jaga adalah sifat sejati seorang beriman yang akan menampakkan diri dalam ketaatan dan kesetiaan menjaga hidup kudus (16b). Kita yang kini tertekan secara rohani karena melihat kejahatan makin biadab dan makin menjadi-jadi boleh terhibur bahwa semua itu kelak akan dimusnahkan dan ditiadakan oleh murka-Nya yang adil!

Camkan: Bersukalah akan keadilan, kekudusan dan peneguhan kebenaran Allah.
Penumpahan 7 cawan emas yang penuh berisi murka Allah ke atas bumi Wahyu 15:5-8 ~ 16:1-21:Cawan 1 bisul yang jahat dan berbahaya, menimpa semua yang memakai tanda binatang (= Antikristus), dan menyembah patungnya Wahyu 16:2;
Cawan 2 air laut menjadi darah, sehingga matilah semua makhluk yang hidup di dalam laut Wahyu 16:3;
Cawan 3 semua sungai dan mata air menjadi darah. “Adil Engkau, Engkau yang ada dan yang sudah ada, Engkau yang kudus, yang telah mmenjatuhkan hukuman ini. 16:6 Karena mereka telah menumpahkan darah orang-orang kudus dan para nabi, Engkau juga telah memberi mereka minum darah; hal itu wajar bagi mereka!” – Wahyu 16:4-7;
Cawan 4 matahari diberi kuasa untuk menghanguskan manusia dengan api. Manusia dihanguskan oleh panas api yang dahsyat, dan mereka menghujat nama Allah dan tidak bertobat. Sebab pada masa itu, orang tidak lagi bisa bertobat Wahyu 16:8-9;
Cawan 5 takhta dan kerajaan binatang (= Antikristus) menjadi gelap; orang-orang menggigit lidahnya karena kesakitan yang luarbiasa Wahyu 16:9-11;
Cawan 6 sungai besar, yaitu sungai Efrat, menjadi kering. Tujuannya: untuk mempersiapkan jalan bagi raja-raja yang datang dari sebelah timur. Timur bicara tentang sorga (Matius 24:27). Sungai Efrat dikeringkan untuk mempersiapkan jalan bagi Yesus yang akan segera datang dari sorga. Haleluya! Namun perhatikan, di pihak lain, Iblis dan sekutunya: Antikristus dan nabi-nabi palsu malah mengumpulkan raja-raja di seluruh dunia, dan mempersiapkan diri untuk perang Harmagedon, yaitu peperangan terakhir melawan Yesus, Sang Penunggang Kuda Putih Wahyu 16:12-16;

Cawan 7 ditumpahkan ke angkasa: mendatangkan kilat, guruh dan gempa bumi besar dan dahsyat, sehingga kota besar, yaitu Yerusalem terbelah menjadi tiga bagian, kota-kota dunia runtuh, semua pulau dan gunung hilang lenyap, hujan es besar seberat 100 pon jatuh menimpa manusia; sungguh malapetaka yang amat dahsyat – Wahyu 16:17-21.
Demikianlah ke-7 cawan berisi 7 malapetaka dahsyat yang akan menimpa semua orang yang tidak percaya pada saat Yesus datang kembali kelak.
Namun, puji Tuhan! Bagi saudara dan saya yang percaya dan hidup di dalamNya, bukan hanya nama kita terdaftar di sorga Wahyu 21:27, tetapi bahkan mendapat tempat di dalam sorga. “di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus Efesus 2:6-7. Haleluya! Tuhan Yesus memberkati saudara.
Ayat 1: Dan aku mendengar suara yang nyaring dari dalam Bait Suci berkata kepada ketujuh malaikat itu: “Pergilah dan tumpahkanlah ketujuh cawan murka Allahh itu ke atas bumi.”
Dengan malapetaka ketujuh cawan murka itu, Allahh akan menurunkan murkaNya atas para hamba Antikristus dan umatnya yang masih hidup di dalam dunia ini. Semua makhluk dan manusia akan disapu oleh badai murka Allahh, yang meledak setelah bertahun-tahun masa kesabaranNya, dan mereka akan menderita karena malapetaka besar yang akan merajalela sepanjang sisa tahun-tahun Masa Kesengsaraan Besar. Pada saat ini, dunia ini akan menjadi puing-puing, dihancurkan berkeping-keping, dan dihancurkan sama sekali.
Wahyu 16 adalah pasal dimana malapetaka ketujuh cawan dicurahkan. Mereka yang, sampai ke saat akhir ini, tetap tidak percaya kepada Injil yang berisi kesksian keselamatan, yang akan memungkinkan mereka untuk diangkat ke angkasa oleh Tuhan—yaitu, Injil air dan Roh—akan dibinasakan oleh malapetaka itu.
 Ayat 2: Maka pergilah malaikat yang pertama dan ia menumpahkan cawannya ke atas bumi; maka timbullah bisul yang jahat dan yang berbahaya pada semua orang yang memakai tanda dari binatang itu dan yang menyembah patungnya.
Malapetaka berupa bisul yang jahat dan berbahaya yang Allah curahkan melalui malaikatNya akan turun ke atas mereka yang menerima tanda dari Binatang itu. Malapetaka bisul ini adalah penyakit kulit yang tidak bisa disembuhkan yang akan membuat kulit penderitanya menjadi bengkak, yang infeksinya juga akan menyebar menjadi borok yang bernanah. Betapa beratnya penderitaan ini, ketika penderitanya disiksa oleh bisul yang jahat dan berbahaya sampai hari kematian mereka? Tetapi Allahh bukan hanya akan mencurahkan malapetaka bisul kepada semua orang yang menerima tanda dari Binatang itu, tetapi Ia juga akan mencurahkan enam malapetaka yang lainnya segera sesudah itu. Dengan demikian, semua orang harus menemukan cara untuk lepas dari malapetaka itu melalui Injil air dan Roh, dan menghindar dari malapetaka yang sangat mengerikan itu dengan percaya kepada Injil itu sekarang juga, pada saat ini juga.
Tuhan kita mengatakan bahwa Ia akan mencurahkan enam malapetaka lagi kepada mereka yang menyembah Binatang itu dan patungnya. Apakah dosa yang paling dibenci Allah? Dosa ini adalah membuat patung dari suatu atau seseorang yang bukan Allah, mengilahikannya, dan tunduk kepada mereka. Karena itu kita harus tahu dengan pasti siapakah Tuhan Allah dan Yesus Kristus itu, dan percaya serta menyembah Kristus . Tidak ada sesuatu atau seseorang di seluruh alam semesta ini, selain Tuhan Allah sendiri, yang bisa menjadi Allah kita.
Kalau anda sungguh-sungguh ingin menghindar dari malapetaka bisul dan keenam malapetaka yang lainnya itu, belajarlah dan percaya kepada Injil air dan Roh yang diberikan oleh Tuhan. Orang dalam jumlah yang tidak terhitung banyaknya yang sudah melawan Allahh di dalam kehidupan sehari-harinya, dan yang menolak untuk percaya kepada Injil air dan Roh, akan menderita karena malapetaka itu sampai saatnya ketika mereka sepenuhnya dibinasakan.
 Ayat 3: Dan malaikat yang kedua menumpahkan cawannya ke atas laut; maka airnya menjadi darah, seperti darah orang mati dan matilah segala yang bernyawa, yang hidup di dalam laut.
Malapetaka yang kedua adalah laut yang berubah menjadi darah orang mati. Allahh akan membunuh semua makhluk hidup di laut dengan malapetaka ini. Karena malapetaka dari cawan yang kedua yang dicurahkan oleh Allahh, lautan akan menjadi busuk dan semua mekhluk yang ada di dalamnya tidak akan bisa lagi hidup di dalamnya. Tidak ada seorangpun yang kemudian bisa makan dari hasil laut ketika Allahh menurunkan malapetaka yang kedua ini. Melalui malapetaka kedua ini, Allahh akan menunjukkan bahwa Ia itu hidup, dan bahwa Ia adalah Tuhan atas segala kehidupan.Malapetaka yang kedua adalah penghukuman Allahh yang diberikan kepada semua manusia di dunia ini yang, bukannya menyembah Tuhan Allahh atas semua ciptaanNya, justru menyembah kepada patung Binatang itu, musuh Allahh, dan mencurahkan darah orang-orang kudus. Malapetaka yang kedua adalah yang paling layak. Allahh menunjukkan kepada kita bahwa Ia kemudian akan mengambil segala kekayaan alam dari mereka yang tidak mau bersyukur kepada Tuhan atas semua makhluk yang diciptakan oleh Allahh.
     Ayat 4-7: Dan malaikat yang ketiga menumpahkan cawannya atas sungai-sungai dan mata-mata air, dan semuanya menjadi darah. Dan aku mendengar malaikat yang berkuasa atas air itu berkata: “Adil Engkau, Engkau yang ada dan yang sudah ada, Engkau yang kudus, yang telah menjatuhkan hukuman ini. Karena mereka telah menumpahkan darah orang-orang kudus dan para nabi, Engkau juga telah memberi mereka minum darah; hal itu wajar bagi mereka!” Dan aku mendengar mezbah itu berkata: “Ya Tuhan, Allahh, Yang Mahakuasa, benar dan adil segala penghakimanMu.”Malapetaka ketiga yang akan mengubah sungai dan mata air menjadi darah itu memang malapetaka yang paling mengerikan. Malapetaka ini, yang terjadi sebagai penghukuman atas dosa-dosa semua orang yang tidak percaya kepada Allahh, kemudian akan membuat mata air menjadi darah dan membuat mustahil bagi mereka untuk bisa tetap hidup di dunia ini. Allahh akan menjadikan semua sungai dan mata air di dunia ini menjadi darah. Malapetaka ini, juga, adalah penghukuman yang diturunkan kepada manusia di dunia sebagai upah dan penghukuman dari perlawanan mereka terhadap Allahh, yang sudah memberikan kepada mereka air, akar dari segala kehidupan.Alasan mengapa Allah akan memberikan malapetaka ini kepada mereka yang melawanNya adalah karena mereka sudah membunuh orang-orang kudus dan nabi-nabiNya ketika mereka masih ada di dunia. Mereka adalah orang-orang yang tidak hanya menolak untuk percaya kepada Allahh sebagai Allahh, tetapi juga melawan Dia dalam persekutuan dengan Antikristus.Karena terpukau oleh kuasa dari Antikristus, mereka yang melawan kasih Allah di dunia ini akan menganiaya dan membunuh orang-orang kudus yang sangat dikasihi Allahh dan para hambaNya. Mereka yang tidak percaya kepada Injil air dan Roh, yang sudah Tuhan kita berikan untuk membebaskan manusia di dunia ini dari dosa, akan membunuh banyak orang-orang kudus dan nabi-nabi di akhir jaman dan menumpahkan darah mereka.  Karena itu Allahh kemudian akan mencurahkan malapetaka yang ketiga ke dunia ini dimana musuh-musuhNya hidup, mengubah air di sana, akar dari segala kehidupan, menjadi darah, dan dengan itu membinasakan mereka.Ini adalah penghukuman yang adil dari Allah, dan karena itu orang-orang kudus yang ada di angkasa akan bersukacita. Mengapa? Karena dengan keadilan penghukumanNya yang dijatuhkan kepada musuh-musuh yang sudah membunuh orang-orang kudus, Allahh akan membalaskan kematian orang-orang kudus kepada mereka. Dengan demikian, orang-orang kudus dan para hamba Allah tidak perlu merasa takut, tetapi justru mempertahankan iman mereka kepada Tuhan Allah, dan memandang ke depan kepada janji Allahh dan kuasaNya ketika mereka menghadapi kemartiran mereka
 Ketujuh meterai (Why 6:1-17; 8:1-5), sangkakala (Why 8:6-21; 11:15-19), dan cawan (Why 16:1-21) merupakan tiga seri penghakiman yang berbeda dan susul menyusul dari Allah. Penghakiman ini semakin dahsyat dan akibatnya semakin parah seiring dengan makin dekatnya akhir zaman. Ketujuh meterai, sangkakala dan cawan berhubungan satu dengan yang lain – meterai ketujuh berlanjut pada ketujuh sangkakala (Why 8:1-5). Sangkakala ketujuh berlanjut pada ketujuh cawan (Why 11:15-19; 15:1-8).
Empat meterai pertama dari ketujuh meterai dikenal sebagai keempat pengendara kuda zaman akhir. Meterai pertama memperkenalkan si Antikristus (Wahyu 6:1-2). Meterai kedua menyebabkan peperangan besar (Wahyu 6:3-4). Meterai ketiga mengakibatkan kelaparan (Wahyu 6:5-6). Meterai keempat mengakibatkan terjadinya penyakit, kelaparan yang lebih dahsyat dan peperangan yang lebih dahsyat (Wahyu 6:7-8).
Meterai kelima memberitahu kita mengenai orang-orang yang akan mati bagi iman mereka pada akhir zaman (Wahyu 6:9-11). Allah mendengar seruan mereka meminta keadilan, dan akan memberikan keadilan pada waktunya – dalam wujud meterai keenam, bersama dengan sangkakala dan cawan penghakiman. Ketika meterai keenam dibuka, gempa bumi yang dahsyat akan terjadi, mengakibatkan kehancuran yang dahsyat – bersamaan dengan berbagai fenomena astronomis yang tidak biasa (Wahyu 6:12-14). Mereka yang bertahan hidup saat itu akan berteriak, "Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu." Sebab sudah tiba hari besar murka mereka dan siapakah yang dapat bertahan?” (Why 6:16-17).

Ketujuh sangkakala digambarkan dalam Kitab Wahyu 8:6-21. Ketujuh sangkakala merupakan “isi-”nya ketujuh meterai (Why 8:1-5). Sangkakala pertama mengakibatkan hujan es dan api yang menghancurkan kebanyakan tanaman dalam dunia (Why 8:7). Sangkakala kedua mengakibatkan apa yang kelihatannya merupakan meteor jatuh ke dalam laut dan mengakibatkan musnahnya kebanyakan makhluk hidup dalam laut (Why 8:8-9). Sangkakala ketiga sama dengan sangkakala kedua, kecuali pada dampaknya yang mempengaruhi danau-danau dan sungai-sungai, bukannya pada lautan (Why 8:10-11). Sangkakala keempat mengakibatkan matahari dan bulan menjadi gelap (Why 8:12). Sangkakala kelima mengakibatkan wabah “belalang setan” yang menyerang dan menyiksa umat manusia (Why 9:1-11). Sangkakala keenam melepaskan tentara setan yang membunuh sepertiga umat manusia (Why 9:12-21). Sangkakala ketujuh memanggil ketujuh malaikat dengan membawa ketujuh cawan murka Allah (Why 11:15-19; 15:1-8). Ketujuh cawan penghakiman digambarkandalam Kitab Wahyu 16:1-21. Ketujuh cawan penghakiman itu merupakan akibat dari dibunyikannya ketujuh sangkakala. Cawan pertama mengakibatkan bisul yang menyakitkan di antara umat manusia (Why 16:2). Cawan kedua mengakibatkan matinya semua makhluk hidup dalam laut (Why 16:3). Cawan ketiga mengakibatkan sungai berubah menjadi darah (Why 16:4-7). Cawan keempat dari ketujuh cawan mengakibatkan panas matahari menjadi amat dahsyat dan mengakibatkan sakit yang luar biasa (Why 16:8-9). Cawan kelima mengakibatkan kegelapan yang dahsyat dan kesakitan yang makin hebat karena bisul dari cawan pertama (Why 16:10-11). Cawan keenam mengakibatkan Sungai Efrat menjadi kering. Bala tentaranya si Antikristus akan dikumpulkan untuk perang Harmagedon (Why 16:12-14). Cawan ketujuh menghasilkan gempa bumi yang dahsyat; yang kemudian diikuti oleh hujan es besar (Why 16:15-21). Amen. RHL

Senin, 30 April 2018

Khotbah Minggu 29 April 2018 Nyanyikanlah Pujian Syukur Bagi Tuhan1 Tawarikh 16:7-13


Daud seorang yang mengutamakan Tuhan. Setelah selesai peletakan Tabut Allah di kemah yang disediakan dan ritual mempersembahkan korban dilaksanakan, Asaf dan saudara-saudara sepuaknya disuruh Daud untuk menyanyikan syukur bagi Tuhan.
Nyanyian syukur ini bersumber dari beberapa mazmur. Ayat 8-22 dari Mzm. 105:1-15, memuji-muji Tuhan yang sudah berkarya dalam sejarah Israel mulai dari Abraham sampai menjadi bangsa yang besar. Ayat 23-33 dari Mzm. 96, puji-pujian kepada TUHAN yang mulia, besar, dahsyat. Ayat 34-36 dari Mzm. 106:1, 47-48, puji-pujian sebab Tuhan, Allah baik.Dengan merenungkan mazmur pujian Asaf, kita bisa membayangkan suasana sukacita saat raja Daud dan bangsa Israel telah berhasil memindahkan tabut Allah ke Yerusalem. Sudah begitu lama tabut berada di tempat yang tidak semestinya, kini tabut ada di Sion, kota Daud, ibukota Kerajaan Israel. Asaf mengajak umat untuk bersyukur bagi Tuhan sebab Tuhan sudah mengikatkan perjanjian dengan Abraham, Ishak, Yakub menjadi perjanjian kekal. Berkaitan dengan perjanjian ini, Tuhan memberikan tanah milik pusaka dan kerajaan dan raja-raja, nabi-nabi yang melindungi umat-Nya. Selanjutnya Asaf mendorong segenap bumi bernyanyi bagi Tuhan dan juga menceriterakan kemuliaan dan perbuatan-Nya diantara bangsa-bangsa. Asaf juga mengajak bangsa-bangsa datang dan mengakui bahwa Tuhan itu Raja. Kemudian Asaf menutup dengan ajakan untuk bersyukur Tuhan itu baik, kasih setia-Nya selama-lamanya, Ia adalah Tuhan, Allah, Penyelamat umat.
Semua orang harus mengucap syukur, bahkan langit dan bumi beserta segala ciptaan harus mengucap syukur. Pada ayat 12 dikatakan bahwa orang-orang pilihan-Nya mengucap syukur kepada Tuhan. Artinya hanya orang-orang pilihan saja yang mampu mengucap syukur kepada Allah. Mengucap syukur tidak cukup hanya dengan mengangkat tangan dan bernyanyi bagi Dia, tetapi ada sikap lain yang menunjukkan bahwa kita mengucap syukur.
Lalu bagaimana cara kita mengucap syukur kepada Allah? Cara kita mengucap syukur kepada Allah dimulai dengan:
Memanggil Nama Tuhan (Ayat 7-8)
                Dalam budaya orang Israel yang bertugas untuk mengangkat Tabut Perjanjian adalah suku Lewi. Artinya mereka adalah orang-orang yang dikhususkan untuk melayani Tuhan dan Bani Asaf untuk pertama kalinya dipercayakan oleh Daud untuk mengangkat Tabut Allah dan menyanyikan nyanyian syukur kepada Allah. Dalam ayat 8 berkata bersyukurlah kepada-Nya dan panggil nama Tuhan.
Pada saat kita memanggil nama Tuhan, hal ini menandakan bahwa kita sedang mengucap syukur kepada Allah. Sebab itu Mazmur berkata bersyukurlah kepada Tuhan, dan dimulai dengan memanggil nama-Nya. Memanggil dapat diartikan alamat dan untuk menuju sebuah alamat, harus ada tujuan yang jelas. Dengan demikian, ketika kita memanggil seseorang, kita harus menyebut namanya. Begitu juga pada saat kita memanggil nama Tuhan, kita harus menyebut nama-Nya dan fokusnya harus jelas yaitu kepada Tuhan dan Daud mempraktekkan hal ini. Sehingga mengucap syukur tidak hanya mengangkat tangan melainkan memanggil nama-Nya dan pada saat mengucap syukur kepada Allah jangan kita fokus kepada hal-hal lain. Jangan fokus kepada orang lain tetapi fokuslah kepada Allah.
Memperkenalkan Perbuatan-Nya (Ayat 8)
Memperkenalkan perbuatan-Nya artinya memberitahukan agar semua orang tahu tentang perbuatan Allah. Memperkenalkan juga berarti mempromosikan Tuhan kepada orang lain dan hidup kita adalah untuk mempromosikan perbuatan Tuhan. Untuk dapat mempromosikan sesuatu harus ada sumber atau buktinya. Begitu juga ketika kita mempromosikan Tuhan, kita harus memiliki bukti atau sumber yang dapat dipercaya dan sumber promosi itu diri kita sendiri. Pada saat kita memperkenalkan Tuhan, kehidupan kita juga harus menunjukkan bahwa kita adalah orang percaya dan orang lain pun akan memuliakan Tuhan.
Memperkenalkan Tuhan adalah tanda bahwa kita mengucap syukur kepada Allah. 1 korintus 14:16 mengajarkan kepada kita bahwa untuk memperkenalkan Tuhan harus dengan bersuara tidak dilakukan di dalam hati agar setiap orang yang ada disisi kita dapat mendengar apa yang kita katakan. Jadi mengucap syukur bukan hanya memanggil nama-Nya tetapi memperkenalkan Tuhan.
Mempercakapkan Segala Perbuatan-Nya (Ayat 9)
Mempercakapkan artinya membicarakan, mengupas atau memperbincangkantentang perbuatan Tuhan. Mazmur berkata percakapkanlah perbuatan-Nya yang ajaib dan kelahiran kita pun adalah sebuah keajaiban dari Tuhan. Sebagai orang Kristen kita harus mempercakapkan tentang perbuatan Tuhan saat kita sakit, atau ketika Tuhan menolong kita dalam keadaan sulit. Dengan demikian, orang lain pun akan merasakan tentang kebaikan Tuhan dan kita dapat menyaksikan kebaikan Tuhan kepada orang lain.
Selalu Bermegah Di dalam Tuhan (Ayat 10)
Bermegah dapat diartikan adanya suatu kebanggaan. Pada saat kita bangga pada seseorang, kita pasti akan membicarakannya terus menerus. Begitu juga pada saat kita bangga memiliki Tuhan, kita akan membicarakan Tuhan secara terus menerus tanpa rasa takut. Pada saat kita bangga kepada Tuhan, kita sedang mengucap syukur kepada-Nya. Yesaya 45:25 berkata “Tetapi seluruh keturunan Israel akan nyata benar dan akan bermegah di dalam Tuhan”. Artinya seluruh manusia di muka bumi ini akan bermegah di dalam Tuhan dan kita adalah orang-orang yang ada di dalamnya, yaitu orang-orang pilihan-Nya. Dan kita dapat berkata bahwa bukan karena kuat kita melainkan Allah yang ada dalam hidup kita.
 Mau Dipimpin Oleh Tuhan (Ayat 11)
Mengucap syukur tidak hanya bermegah di dalam Tuhan tetapi juga mencari Dia adalah tanda kita mengucap syukur. Dalam 1 Tawarikh 14:10-14, dikisahkan bahwa Daud sebelum berperang melawan orang Filistin, ia bertanya terlebih dahulu kepada Tuhan dan Tuhan menjawabnya. Sehingga Daud mengalami kemenangan. Hidup kita juga harus seperti demikian, mencari Tuhan selalu. Orang yang mencari wajah Tuhan adalah ciri orang yang mau dipimpin oleh Tuhan dan Daud melakukannya.
Untuk melakukan segala sesuatu, kita perlu bertanya kepada Tuhan. Sebab hanya Tuhan saja yang akan memberikan jawaban pasti kepada kita. Bahkan dalam kisah ini, Allah memberikan strategi yang baik kepada Daud untuk melawan orang Filistin. Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa ada ide-ide baru dan tidak terbatas yang Tuhan beri ketika kita datang mencari Tuhan. Saat kita datang kepada Tuhan, maka Tuhan akan memberi jawaban.
 Ingatlah ! Akan Tuhan (Ayat 12)
Pada saat mengucap syukur kepada Tuhan, itu tandanya kita mengingat akan Tuhan. Mengingat artinya tidak lupa dan saat kita  mengingat Tuhan, kita tidak lupa akan perbuatan-Nya kepada kita. Jangan lupa akan kebaikan-Nya dan ingatlah atas pertolongan-Nya kepada kita. Tetapi terkadang manusia sering lupa bahkan sengaja melupakan kebaikan yang sudah diterima daripada Tuhan.  Ingatlah bahwa Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita.
Mazmur 77:12 berkata “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan, ya aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala”. Ingat bahwa dari awal kejadian hidup kita pun itu merupakan kebaikan Allah yang perlu kita syukuri (Mazmur 139:13-14). Bahkan sampai sekarang pun Allah masih tetap sama, memimpin dan menyertai bahkan janji-Nya kekal sampai selamanya.
Sebab itu marilah kita mengucap syukur kepada Allah sebagai tanda kita berkarya maksimal bagi Dia dalam kehidupan kita sehari-hari lewat memanggil nama Tuhan, memperkenalkan perbuatan-Nya, mempercakapkan segala perbuatan-Nya, mau dipimpin oleh Tuhan, dan ingat akan Tuhan.
Mencari Tuhan adalah sebuah kebutuhan, keharusan dan juga perintah bagi semua manusia.  Selagi ada waktu dan kesempatan marilah kita mencari Tuhan dengan seluruh keberadaan hidup kita, bukan hanya sebatas formalitas atau lahiriah saja, melainkan harus melibatkan hati dan pikiran, sebab  "TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita."  (1 Tawarikh 28:9).  Jangan sampai kita hanya datang mendekat kepada Tuhan secara lahiriah sementara hati dan pikiran jauh dari Tuhan, seperti yang diperbuat oleh bangsa Israel:  "...bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,"  (Yesaya 29:13).  Ibadah yang demikian adalah kebencian Tuhan.  "Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu."  (Amos 5:21).
     Biarlah teguran Tuhan ini menjadi peringatan keras bagi kita supaya kita tidak lagi bermain-main dengan ibadah kita.  Tuhan menegur bukan berarti Dia kejam dan tidak mengasihi kita, justru menunjukkan bahwa Tuhan sangat mempedulikan kita.  "...perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan,"  (Amsal 6:23).  Karena itu carilah Tuhan segera selagi Ia berkenan untuk kita temui.
Berbahagialah orang yang mencari Tuhan dengan segenap hati!  
Mazmur 119:2
 Amen
                                                                         



Khotbah Ke. Rumah Tangga 1-2 Mei 2018 Mateus 11:25-30


Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."  Matius 11:28
Apakah saat ini Saudara merasa letih, lesu dan tak berdaya karena beratnya beban permasalahan yang harus Saudara tanggung dalam hidup ini?  Mulai dari bangun pagi sampai hendak tidur malam banyak perkara yang kita pergumulkan dan keluhkan, mulai dari masalah keuangan keluarga yang pas-pasan, usaha yang seret dan sedang berada di ujung tanduk, beban pekerjaan, dan suasana kerja yang tidak kondusif, kesehatan yang terganggu karena sakit-penyakit yang lama belum kunjung sembuh, belum lagi anak-anak di rumah yang susah diatur dan studinya yang kian terseok-seok.
     Dalam hal pelayanan pun kita merasa bahwa pelayanan yang kita lakukan selama ini serasa sia-sia, tidak ada kemajuan, jalan di tempat dan kita pun berniat untuk mundur karena tidak tahan dengan tekanan dari berbagai pihak.  Akhirnya kekuatiran dan kecemasan terus saja membayangi langkah kaki kita yang kian gontai.  Abraham L. Feinberg, seorang rohanian Amerika, menulis tentang sepuluh kiat untuk menikmati kebahagiaan hidup.  Salah satu dari sepuluh kiat itu adalah:  "Berhentilah kuatir.  Rasa kuatir akan membinasakan hidupmu."  Alkitab juga menegaskan bahwa kekuatiran itu sama sekali tidak mendatangkan kebaikan bagi seseorang, sebab  "Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang,"  (Amsal 12:25), dan  "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?"  (Matius 6:27).
     Mengapa Saudara harus memikul beban itu sendirian?  Rasul Petrus menasihati,  "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu."  (1 Petrus 5:7).  Tuhan berjanji,  "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."  (Ibrani 13:5b).  Karena itu kuatkan diri dan tetaplah percaya kepada Tuhan Yesus!  Keadaan dunia ini boleh saja berubah, tetapi kita punya Tuhan yang tidak pernah berubah:  kuasa, kasih, kemurahan dan kebaikan-Nya  "...tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya."  (Ibrani 13:8).  Tuhan Yesus tetaplah sebagai jalan dan kebenaran dan hidup bagi orang percaya. Dia adalah setia dan dapat diandalkan. Lalu mengapa kita tidak dapat menikmati ketenangan yang permanen? Karena kita hanya berhenti di “Marilah” saja.
Jika kita introspeksi diri baik-baik, alasan utama adalah karena kita mengabaikan ayat-ayat berikutnya, ayat 29-30 di sini selanjutnya dikatakan: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Yang disebut dengan orang-orang Kristen adalah murid-murid Kristus, orang yang harus belajar seperti Kristus dan mengikuti Kristus. Hanya orang yang secara konsisten terus belajar dan meneladani Yesus, barulah ia dapat terus menerus menikmati kehidupan yang penuh ketenangan dan kedamaian yang kekal itu.
Pertama, jangan biarkan kata “kuk” ini menakut-nakuti Anda. Karena ini adalah kuk dari Kristus, Dia akan membantu kita memikulnya. Ia akan membuat kita menyukainya, melalui daya tarik keadilan dan kebenaran. Ia akan membuat kita bosan dengan kesenangan semu dan membuat kita bergembira karena melatih diri untuk kebajikan.
Pada saat itu cara orang-orang Yahudi melatih sapi muda untuk membajak sawah adalah membiarkan sapi muda dengan sapi yang sudah berpengalaman berdampingan untuk memikul satu kuk. Sapi muda itu akan belajar dari sapi tua membajak di sana dengan patuh dan perlahan-lahan sapi muda itu akan menjadi terbiasa. Tuhan kita seperti sapi tua ini. Hari ini Tuhan tidak hanya berjalan bersama kita, Dia juga ada di dalam kita. Ketika kita membiarkan Tuhan hidup di dalam kita, maka kerendahan hati Tuhan akan dinyatakan di dalam diri kita. Selanjutnya dikatakan lagi: “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (ayat 30). Yang dimaksud dengan enak dan ringan yaitu yang sesuai, karena Tuhan tidak akan memberikan kuk yang melampaui batas kemampuan kita.
Kedua, belajar apa? 1. Lemah-lembut dan rendah hati. Yang disebut lemah-lembut adalah tidak panik, rendah hati lawan kata adalah sombong; semua keberhasilan kita juga bukan karena kemampuan dan kehebatan kita, untuk apa tinggi hati dan sombong, sesungguhnya tidak ada yang dapat dibanggakan! Kita juga tidak ada apa-apanya. Yesus adalah Allah Tritunggal yang Mahatinggi, tapi Ia rela merendahkan diri menjadi manusia seperti yang tercatat di dalam Flp. 2:7-8. Jika bukan karena anugerah Allah, apalah artinya kita? 2. Pengenalan dan keyakinan terhadap Allah Bapa: “Pada waktu itu berkatalah Yesus: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu” (ay. 25-26). Yakin dan jelas siapa yang dilayani; Dia adalah Bapa, Tuhan langit dan bumi: Dia adalah Bapa kita, Dia tidak akan sesuka hati memperlakukan kita, setiap hal harus dengan seizin-Nya baru bisa terjadi di atas diri kita. Segala sesuatu ada di dalam kuasa-Nya. Karena itu buat apa kita menghitung-hitung untung rugi, keberhasilan dan kegagalan kita. 3. Ayat 25-26: Jelas bahwa Allah adalah Bapa, Tuhan langit dan bumi, aku bersyukur kepada-Mu. Mengucap syukur dalam segala hal. Waktu itu Yesus berada dalam situasi pasang surut, pekerjaan tidak berhasil, ditolak, diremehkan,…mengapa Ia masih bersyukur kepada Allah Bapa? Karena Yesus tahu siapa Bapa, karena Bapa maka Ia harus taat. Yakin bahwa Allah Bapa tidak akan salah juga tidak akan ada yang salah. 4. Ayat 27 menunjukkan betapa eratnya hubungan Dia dengan Allah Bapa. Dia membiarkan Bapa mengenal Dia (jujur, tanpa rasa sesal)Sebaliknya Ia juga sepenuhnya memahami Allah Bapa. Bagaimana kita di hadapan Allah, ada berapa banyak hal yang kita tidak berani terbuka kepada-Nya, dan sejauh mana pemahaman kita terhadap Allah Bapa? Tidak mengherankan, kita tidak dapat menikmati ketenangan! Amen


Khotbah Kaum Lansia 01 Mei 2018 Memuji Tuhan Atas Kebaikan dan KuasaNya yg Menyembuhkan Matius 21:14-16.


Cerita kehidupan di dunia seperti sebuah gua yang besar, ketika kita berbicara kita akan mendengar gaungnya. Gaung yang menunjukkan kehidupan manusia, gaung antara susah dan senang, suka dan tidak suka, tawa dan tangisan, marah dan kasih mesra. Seperti itu juga sikap Allah kepada manusia, terkadang keras dan lembut.
 Seperti kehadiran Yesus di Bait Allah membawa perubahan bagi orang-orang yang pada awalnya merasa Bait Allah tempat untuk berjual beli (Mat. 21:12). Yesus mambersihkan semua tujuan orang-orang yang salah ketika berada di Bait Allah. Yesus menegaskan bahwa Bait Allah adalah rumah doa bukan sarang penyamun. Hal itu terbukti ketika Yesus menyembuhkan orang-orang timpang dan buta yang datang menjumpai Yesus, dan rasa syukur akan kasih Yesus ini ditunjukkan dengan pujian yang dinaikkan oleh anak-anak yang hadir di Bait Allah pada saat itu.
 Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah (ay.12). Bait Suci adalah rumah doa, tetapi otoritas di Bait Suci telah menjadikannya sarang penyamun (ay.13, bandingkan dengan Yesaya 56:7; Yeremia 7:11).Setelah Yesus menyucikan Bait Allah, orang-orang buta dan orang-orang timpang datang kepada Yesus di Bait Allah dan mereka disembuhkan (ay.14). Aneh tapi nyata, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat tidak suka melihat Yesus menyembuhkan orang-
 orang sakit, mereka tidak suka melihat anak-anak memuji Tuhan (ay.15-16).Bait Allah yang di Yerusalem telah mengalami pergeseran fungsi (ay.13). Seharusnya Bait Allah adalah rumah doa, rumah kesukaan bagi segala bangsa . Praktek jual beli yang terjadi di Bait Allah menunjukkan bahwa orientasi ibadah tidak lagi berfokus pada Tuhan dan firman-Nya. Keadaan yang memprihatinkan tersebut membuat Bait Allah tidak ubahnya seperti sarang penyamun (Yeremia 7:9-11).
Kehadiran Yesus di Bait Allah menjadikannya bait kesembuhan/pemulihan, bait mujizat dan bait pujian (ay.14-15).
Roh agamawi dan orang-orang yang dipengaruhinya adalah penghambat/penghalang bagi pekerjaan Tuhan. Orang-orang semacam itu bukanlah orang yang tepat untuk dijadikan sebagai tim dalam melayani Tuhan (ay.15-17).
Bait Allah adalah orang-orang beriman yang telah diselamatkan (1 Korintus 6:19; Ibrani 3:6), karena itu sebagai orang-orang beriman yang telah diselamatkan, kita harus memperhatikan praktek dan motivasi ibadah kita. Apakah yang menjadi tujuan ibadah kita? Siapakah yang kita sembah dalam peribadatan kita?Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1-2).
Kita harus mewaspadai roh agamawi yang menganggap agama dan peribadatan hanya sebagai ritual atau tradisi tanpa mau mentaati firman Tuhan (Markus 7:6-9).
Mari kita undang Tuhan Yesus masuk ke dalam hidup kita, masuk ke dalam rumah tangga kita, masuk ke dalam komunitas kita (Wahyu 3:20). Sebab di mana ada Tuhan Yesus, di situ ada kesembuhan/pemulihan, ada mujizat dan ada puji-pujian bagi Allah.
Kehadiran Yesus di dunia diakui orang-orang percaya untuk menunjukkan kasih Allah kepada manusia. Walaupun masih banyak manusia kurang menyadari itu. Yesus hadir bukan saja dalam hal kebahagian tapi juga dalam kesusahan. Dan kehadiran Yesus membawa perubahan yang baik bagi orang-orang percaya. Kuasa Yesus mampu menyelesaikan setiap perkara manusia, tidak mungkin menurut dunia tapi dihadapan Yesus semua mungkin adanya. Muzijat-muzijat Yesus tetap terjadi sampai saat ini bagi orang-orang yang percaya padaNya.
Dalam kehidupan ini banyak permasalahan dan tantangan. Ketika permasalahan itu semakin mencekam baru kita sadar untuk menjumpai Yesus Sang Penolong. Seperti orang-orang yang datang kepada Yesus di Bait Allah untuk disembuhkan Yesus. Walaupun perbuatan Yesus akhirnya membuat para iman jengkel karena pujian-pujian rasa syukur yang diserukan oleh anak-anak. Atau selama ini kita yang mengaku sebagai anak-anak Allah kurang peka terhadap permasalahan orang lain ketika mereka timpang dan buta dalam arti imannya yang sudah timpang dan perlakuannya sudah dibutakan oleh dunia ini sehingga tidak lagi berjalan dalam kebenaran Kristus perlu pertolongan penguatan dari kita sebagai orang percaya atau malahan kita juga yang selalu merasa jengkel ketika kita melihat orang-orang memuji Allah dengan kesaksian-kesaksian hidupnya. Amen.