Kamis, 16 Februari 2017

SIKAP HIDUP SEBAGAI ANAK BAPA (Matius 5:38-48)



Yesus memperkenalkan Bapa yang sangat baik kepada generasi ini. Bapa yang sangat baik itu adalah Bapa yang sempurna (Matius 6:48). Kasih yang Bapa berikan kepada seluruh umat manusia adalah sempurna. Bapa ingin kita hidup di dalam kasih-Nya.
Bila kita hidup dengan kasih manusia, maka kasih kita sangat terbatas. Kasih manusia itu bersyarat, sedangkan kasih Bapa tidak bersyarat. Dengan kasih manusia, kita akan bersikap baik kepada mereka yang baik kepada kita, dan bersikap sebaliknya kepada mereka yang berbuat tidak baik kepada kita. Orang kristen seharusnya memiliki sikap hidup sebagai anak Bapa yang penuh dengan kasih.
Ucapkan: “Saya adalah anak Bapa yang penuh kasih”

Bagaimana sikap hidup sebagai anak Bapa yang penuh kasih?
Ada tiga sikap penting, yaitu :
1. DO NOT RETALIATE (Matius 5:38-39)
“Do Not Retaliate” artinya jangan membalas (dendam). Hukum Taurat mengajarkan : mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi Hukum Kasih mengajarkan sebaliknya, yaitu : janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
Ketika Yesus harus menanggung seluruh dosa manusia, ia tidak membalas dengan marah kepada orang-orang yang mengolok, meludahi, memukul, menyiksa, menyalibkan Dia, tetapi Yesus menyerahkan diri ke tangan Bapa yang. Yesus tidak membalas, tetapi Ia melepaskan kasih-Nya.
Bagaimana Saudara tidak membalas dendam kepada orang yang jahat kepadamu?
Ucapkan: “Saya tidak akan membalas dendam”
2. DO MORE THAN REQUIRED (Matius 5:40-41)
Hal kedua yang penting adalah Do More Than Required, artinya melakukan lebih banyak dari yang diminta/dikehendaki/dituntut/diharapkan kepada kita. Hukum Taurat mengajarkan kepada kita untuk meminta dan menuntut bagian (hak-hak) kita; tetapi Hukum Kasih mengajarkan untuk memberi dan melakukan lebih banyak untuk orang lain.
Yesus berkata : “Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena menginginkan bajumu, serahkan juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.” Anak Bapa akan melakukan lebih kepada orang lain sebagai bukti kasihnya kepada Bapa.
Ceritakan pengalaman Saudara melakukan lebih banyak kepada Tuhan atau sesama!
Ucapkan : “Saya akan melakukan lebih banyak”
3. BE KIND AND GENEROUS (Matius 5:42)
Sikap anak Bapa yang ketiga adalah Be Kind and Generous, artinya baik hati (ramah) dan murah hati (dermawan). Bapa kita dikenal sebagai Bapa yang sangat baik, Bapa yang suka memberi (A Giver God), murah hati, penuh dengan belas kasihan, dan penyayang.
Yesus mengajarkan agar kita memberi kepada yang meminta dan tidak menolak orang yang meminjam dari kita. Tidak menahan kebaikan kepada orang lemah (Amsal 3:27-28). Mengasihi orang yang bersikap jahat kepada kita merupakan hal yang tidak mudah. Yesus mau agar kita tetap mengasihi orang yang jahat kepada kita, dan juga mendoakan dia yang menganiaya kita. Bila kita mempunya Bapa yang mengasihi orang yang jahat, kita pun sebagai anak juga mengasihi orang yang demikian.
Ceritakan bagaimana Saudara belajar menjadi seorang yang ramah dan baik hati?
Ucapkan : ”Saya adalah anak Bapa yang baik hati dan murah hati”
KESIMPULAN :

Seorang penulis Kristen Alfred Plummer (1841-1926) menulis: Membalas kebaikan dengan kejahatan berarti membiarkan iblis mempengaruhi kita dengan kebencian,iri dan dengki, membalas kebaikan dengan kebaikan adalah suatu hal yang manusiawi. Sedangkan membalas kejahatan dengan kebaikan adalah sifat ilahi.Kita tidak akan pernah bisa bahagia dan damai sejahtera jika masih menyimpan dendam dan kebencian.



Bila hati kita penuh dengan kasih Bapa, maka sikap yang terpancar keluar adalah sikap anak Bapa yang penuh kasih, yaitu tidak mendendam, melakukan lebih banyak dari yang diminta/diharapkan dan dikenal sebagai anak Bapa yang baik hati dan murah hatinya. Dengan demikian Bapa yang disurga akan terus menyempurkan kita dengan kasih-Nya. Amen. Dari berbagai sumber.

Khotbah Minggu 19 Februari 2017 Mat. 5; 38-48 “Kasihilah Musuh Mu”



Bagaimana caranya menyukakan hati Tuhan? Kita menyukakan hati Tuhan dengan perbuatan nyata, yaitu bagaimana dalam seluruh langkah hidup kita memperoleh perkenanan Tuhan. Maksudnya, melakukan segala sesuatu dengan sikap hati yang benar. Di mana pun dan kapan pun dan melalui segala apa pun juga Tuhan menghendaki kita melakukan segala hal dengan sikap hati yang benar.
Sikap hati yang benar ini sejatinya bukan untuk kepentingan Tuhan, sebab Ia tidak membutuhkan apa-apa dari diri kita. Tetapi Ia menghendaki agar ciptaan-Nya yang juga adalah anak-anak keturunan-Nya memiliki karakter seperti diri-Nya. Bapa di surga adalah sempurna, maka kita pun harus sempurna (ay. 48). Seperti apakah sikap hati yang menyenangkan hati-Nya itu? Sebelum berkata “Kamu harus sempurna,” Tuhan Yesus menasihati agar orang percaya tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi harus mengasihi musuh. Bila orang menampar pipi kanan, kita memberi pipi kiri; kita harus mendoakan orang yang menganiaya kita. Agar kita mempedulikan sesama kita yang membutuhkan pertolongan tanpa sikap diskriminatif, Ia mengatakan bahwa Bapa juga memberi hujan dan matahari kepada semua orang tanpa memandang muka. Itulah contoh perbuatan nyata yang memperoleh perkenanan Tuhan.
Kalau kita simak Keluaran pasal 21 ternyata ini merupakan peraturan-peraturan yg diberikan Tuhan kepada para pemimpin Israel untuk menegakkan keadilan di antara orang-orang Israel supaya tidak terjadi kekacauan , anarki, perang antar suku, dsb. Jadi ini adalah hak dari pemerintah yg menjadi hukum untuk mengatur keadilan bagi suatu bangsa. Roma 13:1-2, 4 mengatakan bahwa pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan kemarahan Allah atas mereka yg berbuat jahat! Jadi sebenarnya yg dimaksud dengan firman "mata ganti mata, dst" adalah peraturan/hukum yg diberikan oleh suatu pemerintah untuk menegakkan keadilan bagi rakyatnya.

Ayat 39 mengatakan supaya kita jangan melawan orang yg berbuat jahat bahkan kalau ditampar pipi kanan hendaklah kita memberikan pipi kiri kita. Sepertinya ayat ini tidak masuk akal. Masakah Allah mengajarkan kita untuk pasrah saja, diam saja ketika berhadapan dengan orang jahat? Yang dimaksud dengan ayat ini bukanlah supaya kita pasrah saja menghadapi kejahatan. Yak 4:7 mengatakan supaya kita tunduk kepada Allah tetapi melawan si Iblis. Ef 6:18 juga mengajarkan supaya kita melawan kejahatan. Jadi yg dimaksud di sini adalah janganlah mendendam karena dijahati oleh orang lain. Janganlah suka membalas perbuatan jahat orang lain. Menampar pipi kanan berarti menampar dengan punggung tangan. Hal ini merupakan penghinaan bagi orang Yahudi. Bahkan ketika kita dihina oleh orang lain janganlah mendendam karena dendam itu tidak baik. Anak Tuhan hendaklah belajar untuk memiliki kasih Kristus, memiliki pengampunan terhadap orang-orang yg bersalah kepada kita. Bukankah Yesus juga mengajar kita untuk berdoa mohon ampun kepada Allah atas segala kesalahan kita seperti kita juga mengampuni orang-orang yg bersalah kepada kita? (Mat 6:12)
Ayat 40: Pada zaman Yesus, kalau orang yg tidak mampu suka menggadaikan bajunya sebagai jaminan atas hutangnya. Tetapi jarang yg mau menggadaikan jubahnya karena jubah adalah sebuah primer bagi orang Yahudi pada zaman itu. Jubah dipakai untuk melindungi tubuh dari teriknya matahari di siang hari dan melindungi tubuh dari dinginnya angin gurun di malam hari. Arti dari ayat ini adalah untuk mengajar kita belajar untuk mengalah kepada orang lain.

Ayat 41 merupakan suatu kebiasaan yg terjadi pada zaman itu. Biasanya merupakan suatu paksaan yg dilakukan oleh tentara Roma terhadap orang Yahudi untuk melakukan suatu pekerjaan (Bandingkan Mat 27:32). Orang sering melakukan suatu pekerjaan, tindakan karena terpaksa. Setiap orang yg melakukan sesuatu karena terpaksa biasanya menghasilkan hal-hal yg negatif, mematikan kreativitas; tidak ada suka cita, yg ada hanyalah perasa19:18 an tertekan dan kedukaan. Sebaliknya kalau orang yg berpikir positif melakukan apa saja yg semula terpaksa akan menghasilkan hal-hal yg positif untuk dirinya maupun untuk orang lain. Ayat 41-42 ingin mengajarkan kita supaya janganlah memikirkan diri sendiri, hanya mau melakukan hal-hal yg kita sukai saja. Padahal sebenarnya kita juga bisa melayani orang lain meskipun terkadang kita tidak menyukai hal itu. 1 Kor 10:31 mengatakan supaya kalau kita melakukan sesuatu hendaklah itu dilakukan untuk memuliakan Tuhan. Suka atau tidak suka kita harus belajar untuk melayani sesama kita.
Ayat 43 merupakan tafsiran dari para rabi Yahudi padahal aslinya tidak begitu. Imamat 19:18 mengatakan suapay janganlah kita menuntu balas, janganlah dendam dan hendaklah kita mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Ayat 44 yg mengatakan supaya kita mengasihi musuh kita sepertinya tidak realistis. Secara natural kita mengasihi orang yg mengasihi kita dan membenci orang yg tidak kita sukai. Terlebih lagi untuk mengasihi musuh kita. Sulit!!! Tetapi masalahnya Gal 5:23 mengatakan bahwa salah satu dari buah Roh Kudus adalah penguasaan diri. Kalau Roh Kudus ada di dalam diri kita maka seharusnya ada penguasaan diri sedemikian rupa, ada kesadaran untuk belajar mengampuni dan menerimanya. Ayat 44 ini juta mengajarkan kita berdoa untuk orang yg menjadi musuh kita. Mengapa? Allah bukan hanya meminta kita untuk mengampuni orang yg bersalah terhadap kita dan menerimanya. Tetapi selain itu kita juga harus mendoakan dia karena hanya Tuhanlah yg mampu mengubah manusia. Kita percaya Tuhanlah yg menciptakan manusia. Sebagai yg membuat manusia hanya Tuhan yg mampu untuk mengubah dan membentuknya. Hal ini ingin mengingatkan kita untuk selalu menyertai Tuhan dalam segala perbuatan.

Ayat 45-48 ingin mengajarkan kita bahwa anak Tuhan harus serupa dengan Bapaknya. Zaman dulu orang tua sering berpesan supaya hendaklah setiap keturunan menjaga nama baik nenek moyang mereka. Jadi arti sempurna dalam ayat 48 ini bukan berarti kita harus sama seperti Tuhan seratus persen. Yang dimaksud dengan sempuran di sini adalah memiliki kedewasaan penuh, bukan seperti anak-anak lagi tetapi dewasa dalam pemikiran dan tindak tanduk kita. Kasih Tuhan seperti matahari yg bersinar untuk orang baik dan orang jahat. Jadi hendaklah kita jangan suka memilih-milih kalau hendak mengasihi atau melayani.
Kesimpulan:
Ajaran yang diberikan oleh Yesus walau sulit bukan berarti sesuatu yang tidak mungkin.Yesus adalah model kita,melalui kasih dan pengampunanNya terhadap mereka yang menganiayaNya (Luk.23:34).Seorang penulis Kristen Alfred Plummer (1841-1926) menulis: Membalas kebaikan dengan kejahatan berarti membiarkan iblis mempengaruhi kita dengan kebencian,iri dan dengki, membalas kebaikan dengan kebaikan adalah suatu hal yang manusiawi. Sedangkan membalas kejahatan dengan kebaikan adalah sifat ilahi.Kita tidak akan pernah bisa bahagia dan damai sejahtera jika masih menyimpan dendam dan kebencian.
 Melakukan lebih dari yang diharapkan oleh orang lain,ini menunjukkan sikap bahwa hidup dan perbuatan kita yang tidak tergantung pada apa yang kita dengar dan apa yang kita terima dari orang lain ( bnd Roma 12:2) .Hidup kita haruslah tergantung dari pemeliharaan Allah,bagaimana Allah telah menunjukkan keadilanNya dengan memberikan kita hidup dari apa yang telah Dia sediakan.
Panggilan  untuk menjadi seorang kristen dan hidup bermakna adalah panggilan untuk menjadi saksi Kristus. Caranya dengan mencintai Tuhan Allah melalui cinta terhadap sesama. Untuk itu kita harus memahami kebutuhan dan perasaan orang lain. Kita harus belajar mengampuni dan meredakan kemarahan kita. Untuk itu kita perlu menjalin hubungan erat dengan Tuhan. Bila ini sudah terjadi maka kita akan mudah mengampuni kesalahan sesama. Bila kita rajin berdoa untuk berkomunikasi dengan Tuhan maka segala masalah dapat kita selesaikan dengan pertolonganNya.
Kuncinya adalah komunikasi. Segala masalah bisa kita komunikasikan secara terbuka. Bila hal ini kita lakukan maka hidup kita akan mengalamai pertumbuhan dan perkembangan pribadi. Komunikasi adalah saling tukar pikiran dan perasaan.
 Perikop ini ingin mengajarkan kita untuk bercermin sudahkah kita bersikap dewasa atau masih kekanak-kanakan? (Bandingkan Ibrani 15:11-14). Sudahkan kita mencerminkan sifat dan karakter Allah di dalam kehidupan kita sehari-hari?. Amen

Jumat, 13 Januari 2017

Khotbah .MAZMUR 92:13, 14.



Thema: “Menjadi Tua itu Sudah Pasti, Tapi Bagaimana Menjadi Tua Dengan Bijaksana”
Bertumbuh Subur secara Rohani pada Saat Kepala Sudah Beruban
”Mereka yang ditanam di Bait Tuhan.....5M

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah (exo anthropos) kami semakin merosot, namun manusia batiniah (eso anthropos) kami dibaharui dari sehari ke sehari” 2 Korintus 4:16
Siapakah orang bijaksana? Orang bijaksana tidak identik dengan orang yang berpengetahuan tinggi. Karena orang yang berpengetahuan tinggi, belum tentu berbijaksana, orang yang bijaksana belum tentu berpengetahuan tinggi. Bijaksana jauh lebih penting dari pengetahuan, karena bijaksana adalah arah dari pengetahuan
Realita Hidup Manusia
Menurut ilmu pengetahuan alam, yang kita kenal sebagai hukum Termodinamika  II. bahwa segala sesuatu yang ada di dunia bersifat merosot atau berkurang. Contoh, batu baterai tanpa digunakan pun tenaga yang tersimpan di dalamnya akan semakin merosot. Gedung yang megah bila tidak dirawat akan menjadi lapuk dengan sendirinya. Taman bunga yang indah tanpa dirawat akan rusak dan dipenuhi semak belukar. Bahkan rumah tangga yang pada mulanya serasi bila tidak dibina keindahannya akan merosot dengan sendirinya. Demikian halnya dengan manusia.
Pertama, setiap hari, semua orang yang hidup bertambah usianya. Berdasarkan kronologis (urutan waktu), usia biologis manusia menurut pengalaman Pemazmur  pada umumnya adalah 70 tahun dan bisa mencapai 80 tahun. Pemazmur mengatakan “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap”  (Mazmur 90:10). Dengan bertambahnya usia berarti hidup biologis kita berkurang bila dilihat dalam kronologis waktu. Inilah fakta pertama dan terpenting!
Kedua, berdasarkan hukum Termodinamika II, bahwa setiap orang seiring bertambahnya usia akan mengalami kemerosotan biologis (jasmniah). Sebagian orang berusaha menyangkali penuaan ini dan berusaha mempertahankan kemudaannya yang perlahan-lahan mulai hilang. Kosmetik dan krim kecantikan tidak mampu menyembunyikan keriput dan noda ketuaan. Inilah fakta kedua: siapapun tidak mampu menaham proses penuaan!
Ketiga, ciri-ciri penuaan adalah kemerosotan. Dalam gerontologi atau ilmu tentang lanjut usia, ada tiga bentuk kemorosotan yang akan dialami manusia. Secara kronologis, menjadi tua berarti merosotnya usia hidup. Seiring bertambahnya usia, berarti semakin berkurang kesempatan hidup, dengan kata lain, semakin dekat dengan kematian jasmaniah. Secara biologis, menjadi tua berarti merosotnya kondisi fisik dan keadaan kesehatan. Saat kita makin tua kemampuan reflek akan berkurang; lensa mata menjadi kurang elastis, penglihatan kurang tajam dan tidak dapat melihat jauh (istilah medis “presbiopa”); dan pada berbagai tingkat daya pendengaran mulai berkurang (istilah medis “presbikusis”). Secara psikologis, menjadi tua berarti merosotnya kemampuan berpikir dan mengingat (istilah medis “dimensia”) Karena itu jangan Tawar Hati sebab:
Amsal 24:10. Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.
Dari mana tawar hati itu? Ketika kita menghadapi berbagai macam tantangan, penderitaan, masalah, penyakit, banyak orang mulai tawar hati. Orang percaya anak-anak Tuhan, Saudara dan saya, tidak boleh tawar hati. Sayur saja tidak boleh tawar, tidak enak, apa lagi hidup kita. Jangan sampai tawar hati, karena kecillah kekuatanmu, tidak ada semangat.
 Bertambahnya usia itu sendiri bukan kutukan, karena tahun-tahun harus berlalu agar kita tetap ada. Malah, pertumbuhan dan kematangan adalah ciri-ciri yang diinginkan pada semua makhluk hidup.
 Bagaimana orang Kristen dapat terus ”bertumbuh subur pada saat kepala sudah beruban”?
Firman Allah meyakinkan kita bahwa ”mereka yang ditanam di rumah Allah . masih bertumbuh subur pada saat kepala sudah beruban”. (Mazmur 92:13, 14) Dengan bahasa kiasan, sang pemazmur menuturkan kebenaran yang mendasar bahwa hamba-hamba Allah yang setia dapat terus bertumbuh, makmur, dan sejahtera secara rohani, sekalipun mengalami kemerosotan jasmani. Banyak contoh pada zaman Alkitab dan zaman modern membuktikannya.
”Tidak Pernah Meninggalkan Bait”
Bagaimana nabiah Hana yang lanjut usia memperlihatkan pengabdiannya kepada Allah, dan bagaimana ia diupahi?
 Perhatikan Hana, seorang nabiah. Ia berusia 84 tahun, tetapi ”tidak pernah meninggalkan bait, memberikan dinas suci malam dan siang dengan berpuasa dan membuat permohonan”. Karena ayahnya bukan orang Lewi, melainkan ”dari suku Asyer”, Hana tidak dapat secara harfiah tinggal di bait. Bayangkan upaya yang mesti ia kerahkan untuk hadir di bait setiap hari dari waktu dinas pagi sampai waktu dinas malam! Namun, karena pengabdiannya, Hana diupahi dengan limpah. Ia mendapat hak istimewa berada di bait sewaktu Yusuf dan Maria membawa Yesus kecil ke bait untuk diserahkan kepada Yehuwa sesuai dengan Hukum. Saat melihat Yesus, Hana ”mengucapkan syukur kepada Allah dan berbicara tentang anak itu kepada semua orang yang menantikan pembebasan Yerusalem”.—Lukas 2:22-24, 36-38; Bilangan 18:6, 7.
Bagaimana banyak saudara-saudari lansia dewasa ini memperlihatkan semangat seperti Hana?
Dewasa ini, di antara kita ada banyak saudara-saudari lansia yang, seperti Hana, berhimpun secara teratur, sungguh-sungguh berdoa demi kemajuan ibadat yang sejati, dan memiliki hasrat membara untuk memberitakan kabar baik. Seorang saudara berusia 80-an yang berhimpun secara teratur bersama istrinya mengatakan, ”Berhimpun sudah menjadi kebiasaan kami. Kami tidak mau berada di tempat lain. Di mana umat Allah berada, di sana kami ingin berada. Di sanalah kami merasa nyaman.” Teladan mereka sungguh membesarkan hati kita semua!—Ibrani 10:24, 25.
Terus Mengasah Pikiran
7. Pada usia lanjut, bagaimana Musa mengungkapkan keinginannya memperdalam hubungannya dengan Allah?
7 Pengalaman hidup diperoleh seiring dengan berlalunya waktu. (Ayub 12:12) Namun, kemajuan rohani tidak otomatis diperoleh dengan bertambahnya usia. Musa tidak pernah merasa terlalu tua untuk belajar. Setelah puluhan tahun melayani Allah, menikmati banyak hak istimewa, dan mengemban berbagai tanggung jawab yang serius, Musa memohon
Menjadi Tua, Apa Seharusnya Dilakukan?
1., tetap bertumbuh dan semakin giat dalam hal-hal rohani. (2 Korintus 2:16; 1 Korintus 15:58). Semakin lama seseorang menjadi orang Kristen, kehidupan rohaninya pun harus bertambah kuat. Setiap hari manusia batiniah harus diperbaharui antara lain melalui persekutuan yang berkelanjutan dengan Kristus dan firman Tuhan (Yohanes 15:1-8); melalui doa dan perenungan firman (Yohanes 17:17); oleh iman dikuatkan oleh kuasa Roh Kudus (Efesus 3:16). Hanya dengan cara demikian kehidupan batiniah akan bertumbuh. Walau jasminiah terus-menerus merosot.
2., hidup bijaksana dan menjadi teladan. Pemazmur, setelah mengetahui betapa singkatnya hidup ini, memohon kepada Tuhan, “ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12). Satu alasan untuk status penting yang diberikan kepada orang yang lanjut usia adalah kepercayaan bahwa lanjut usia disertai hikmat. Karena orang tua dianggap telah mencapai kebijaksanaan, kedudukan yang berkuasa diberikan kepada mereka.
3. utamakan hal-hal yang menjadi prioritas kita karena waktu yang terbatas (Efesus 5:15-17).  Orang-orang yang ada di sekitar kita, anak, isteri, suami, orang tua, teman-teman, akan mati dan kita pun akan mati. Kasihi dan  hargailah mereka selagi masih bisa. Sebab jika sudah tidak ada, kita tidak bisa berbuat apa-apa.  Ada pepatah yang mengatakan “Yesterday is history, tomorrow is misteri, today is reality” . Artinya, hari kemarin adalah sejarah, hari esok adalah misteri, hari ini adalah kenyataan. Waktu dan kesempatan yang kita punya dalam hidup ini sangat terbatas, karena ini manfaatkan dengan sebaik-baiknya. 4. bergantung dan berserah kepada Tuhan. Yesaya 46:4 mengatakan “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu”.  Manusia adalah mahluk ciptaan yang berpribadi, yang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah (Kejadian 1:26). Sebagai mahluk berpribadi, kita memiliki kemandirian yang relatif (tidak mutlak), dalam pengertian bahwa kita memiliki kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan dan membuat pilihan-pilihan sendiri. Tetapi, sebagai mahluk ciptaan, kita bergantung pada Tuhan bagi keberlangsungan hidup kita; Kita tidak bisa berdiri sendiri; hidup kita bergantung pada Tuhan Pencipta dan Penebus kita. Di dalam Tuhanlah kita hidup, bergerak, dan bernafas (Kejadian 1:26; 2:7; Kisah Para Rasul 17:28). Janji Tuhan bahwa Ia akan memelihara kita hingga kita tutup usia dapat kita andalkan.

Khotbah Minggu 15 Januari 2017 Yesaya 49:1-7 Thema: “Menjadi Terang Bagi Bangsa2”



Pendahuluan Yesaya berarti “Tuhan adalah keselamatanku”. Kitab Yesaya ini ditulis dalam tiga kurun waktu yaitu: tahun 740-700 s.M, Masa pembuanga (587-535 s.M). dan masa pasca pembuangan (sekitar 530 s.M). Yesaya memberitakan penghukuman Allah atas kejahatan Israel, kaena bangsa Israel tidak hidup dalam kekudusan Allah. Allah itu adalah Allah yanng Mahakudus maka Israel  mestilah hidup kudus, beribadah yang benar, menegakkan keadilan, kesetiaan, dan hidup dengan kekudusan sesuai hukum Taurat. Yesaya menyerukan pertobatan sebagai satu-satunya jalan untuk dapat diselamatkan. Yesaya juga menekankan tentang pengharapan baru tentang keselamatan Israel yang mengalami pembuangan. Peristiwa pembuangan menimbulkan keputusasaan Israel. Namun Yesaya mengajak umat yang terbuang supaya ber-pengharapan, Tuhan masih mengasihi dan akan menyelamatkan Israel melalui seorang “hamba” yang dipahami sebagai Mesias. Yesaya juga menekankan dan menegaskan kedatangan Mesias dari keturunan daud sesuai janji Allah. Mesias menjadi terang dunia yang menyelamatkan seluruh bangsa-bangsa yang hidup dalam kegelapan. Mesia sebagai Hamba Tuhan yang dimaksud ialah tertuju kepada Tuhan Yesus sebab dalam perikop ini seorang hamba yang dimaksud ialah seorang yang dipersiapkan sejak semula, sebelum ia dilahirkan. Ia seorang hamba yang datang dengan perkataan seperti sebilah pedang tajam yang menembus hati nurani orang yang mendengarkannya, bahkan ia mempunyai anak panah yang melambangkan hukuman Allah bagi setiap orang yang tidak menerima Firman Allah tersebut. Ia adalah seorang hamba yang di dalam diriNya kelak menyatakan keangungan Allah. Seorang hamba yang sanggup memenuhi segala tuntutan Allah dari bangsa Israel bahkan mengembalikan Israel sejati yakni membawa setiap orang menjadi umat percaya dan menjadi umat yang mengenal Tuhan sampai ke ujung dunia. Ia juga adalah seorang hamba yang ditolak, dikecewakan, dimusuhi, dihina, dijijikkan semua orang dan pada akhirnya kepadanya bangkit segala bangsa memberi hormat dan pembesar-pembesar dunia sujud menyembahnya.
Hamba Tuhan yang mempunyai tugas mulia yakni menjadi Terang bagi bangsa-bangsa agar keselamatan dari Allah diterima oleh seluruh dunia. Untuk tujuan ini Tuhan memanggil, hambanya. Pemilihan adalah Otoritas Tuhan, pemilihan adalah Inisitif Tuhan, bukan kemauan atau prestasi seseorang. Tuhan menyertai dan memberi kuasa kepada hambaNya. Tuhan menyertai dan melindunginya seperti anak panah yang disembunyikan dalam tabung panahnya. Karena itulah hamba Tuhan tersebut sanggup melakukan tugasnya dengan baik, memberitakan perkataan Tuhan dengan tajam dan tepat sasaran seperti pedang yang tajam dan anak panah yang runcing. Ia tidak takut terhadap apa pun sebab Tuhan yang telah memilih dan memanggilnya, maka Tuhan pula yang akan menyertainya.
 Menerima Yesus berarti menerima terang hidup. Kesediaan kita hidup dalam terang itulah yang membuat jalan hidup kita tetap  terarah ke depan untuk menjalani tahun yang baru ini. Menerima Yesus sebagai hamba Tuhan berarti menyadari diri juga sebagai hamba Tuhan dalam arti tertentu. Menjadi hamba Tuhan berarti mengakui otoritas Tuhan sebagai sang pemilik hidup ini sehingga mau tidak mau kalau Allah mau kita harus menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan. Hamba Tuhan memikirkan kepentingan orang lain (persekutuan) dan bukan kepantingan diri sendiri. Ia bukan menganggap diri ‘kurang’ tapi ‘kurang’ memikirkan kepentingan diri, tetapi kepentingan Allah. Seorang hamba Tuhan tidak berusaha ‘memanfaatkan’ Allah demi tujuan-tujuan mereka, tetapi mereka membiarkan Allah memakai mereka demi tujuan-tujuan Allah. Mereka berpikir sebagi hamba yang menyenangkan tuannya di Sorga dan bukan menjadi tuan yang menuntut kesenangan dari orang lain. Hamba Tuhan yang baik mempertanyakan apa yang ia kerjakan dan bukan menyelidiki apa yang orang lain kerjakan. Hamba Tuhan terpanggil membawa terang dan bukan sumber kegelapan. Hamba Tuhan yang baik mendasarkan identitasnya di dalam Hamba Tuhan yang sejati yakni Kristus. Bagaimana dengan kita? 
 Didalam Kitab Yesaya ada empat nyanyian tentang hamba Tuhan. (Fsl. 42:1-4; 49: 1-7 ; 50:4-9; 52:13-53:12) . Fasal 49 ini merupakan nyanyian kedua dari empat nyanyian tersebut yang menceritakan tentang karakter, karya dan pengalaman seorang hamba Tuhan.
Dari nyanyian ini kita melihat ada 3 peranan Tuhan yang digambarkan, yaitu:
 (1) Ia telah memilih dan memanggil orang-orang yang telah ditentukanNya untuk menjadi hambaNya;
Pemilihan adalah Otoritas Tuhan, pemilihan adalah Inisitif Tuhan, bukan kemaauan atau prestasi seseorang.
Yesus berkata didalam Yohanes 15:16; ”bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu…..dst.
  (2) Ia yang akan melindungi, menyertai serta memberi kemampuan kepada hamba-hambaNya untuk melakukan tugas yang sudah Allah tentukan bagiNya; Tuhan tidak pernah membiarkan kita, melepaskan kita ketika kita diutus untuk memberitakan berita kesalamatan. Ada janji, ada jaminan, bukan hanya kemenangan sementara tapi kemenangan yang kekal.
Tuhan menyertai dan melindunginya seperti anak panah yang disembunyikan dalam tabung panahnya. Karena itulah hamba Tuhan tersebut sanggup melakukan tugasnya dengan baik, memberitakan perkataan Tuhan dengan tajam dan tepat sasaran seperti pedang yang tajam dan anak panah yang runcing. Ia tidak takut terhadap apa pun sebab Tuhan yang telah memilih dan memanggilnya, maka Tuhan pula yang akan menyertainya.
Ketika masih anak-anak, dan terjadi perkelahian dan ada ketakukan menghadapi lawan, Jika saat itu Bapa kita mengatakan, jangan takut, hadapilah dia, aku akan membantumu, biasanya kata-kata seperti ini menjadi sugesti yang memberikan kekuatan untuk menghadapi lawan tersebut. Apalagi tugas kita adalah: “Maju tak gentar membela yang benar” hati dengan kalimat ini, jangan sampe salah diucapkan apalagi dijalankan; “Maju tak gentar membela yang bayar”.
 Dengan mengingat bahwa semua kemampuan yang kita miliki dalam melayaniNya adalah karena penyertaan Tuhan, itu juga berarti panggilan harus kita gunakan dengan baik untuk Tuhan, bukan menyombongkan diri.
 (3) Allah juga menentukan tugas hamba yang dipilihNya;
Ada 3 Tugas penting seorang hamba:
Pertama: Menyatakan keagungan Tuhan (ay-3)
Tugas ini menuntut kita untuk menceritakan kebesaran dan keagungan Tuhan yang layak diandalkan.
Kata “memceritakan” = memberikan kesaksian, Rasul di dalam I Korintus 9:16 menuliskan: ”……sebab itu adalah keharusan bagiku.Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan injil” (“keharusan”)
Bandingkan juga Kesaksian Yeremia didalam Yeremia 20:9; ”Tetapi apabila aku berpikir: "Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya", maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup”.
 Kedua: Mengembalikan Yakub kepadaNya(ay-5)
Artinya melalui Yesaya Israel dipanggil untuk mengutamakan Tuhan sehingga restorasi rohani akan berdampak pada tegaknya suku-suku Yakub. Panggilan kita sebagai hamba kini juga untuk menegakkan “suku-suku Yakub”, bangsa yang terpilih, Imamat yang rajani, bansa yang kudus (I Pet 2:9).
 Ketiga:Menjadi terang bagi bangsa-bangsa (ay-6)
Ketika Israel dipulihkan bangsa-banghsa lain akan terheran heran dan turut mengakui kedaulatan Allah yang disembah Israel.
Menjadi terang seperti Yohanes pembaptis yang tampil menunjuk kepada Yesus (Bacaan; Yohanes 1:29-42). Yohanes Pembaptis, yang merendahkan dirinya, ia adalah “seorang Pelopor yang bersedia dilupakan”.
Menjadi terang juga berarti kita bertanggung-jawab atas “kegelapan-kegelapan “ yang ada disekitar kita.
Amen. Dari Berbagai Sumber