Jumat, 06 Januari 2017

HIDUP MENGUCAP SYUKUR Khotbah Efesus 5:20



 Kita telah membicarakan bagaimana implikasi kehidupan Kristen yang dinyatakan da­lam Efesus 5:17-19: “Janganlah kamu bodoh tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehen­dak Tuhan.” Hidup mengerti kehendak Tuhan bukanlah hal yang sederhana melainkan harus di­ubah dan dibangun dengan fondasi yang tepat dari iman yang dimengerti secara tepat yang akan mem­bangun seluruh implikasi kehidupan kita. Dan kita telah melihat bagian pertama dari tiga point, bagaimana prinsip tersebut diturunkan dalam kehidupan kita. Dikatakan dalam ay. 19: “Ber­ka­ta-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani.” Sua­tu hal yang mungkin tidak biasa kita lakukan sehari-hari namun itu merupakan prinsip yang di­se­but sebagai the worship life (hidup yang beribadah). Kehidupan kita seringkali mengalami dua­lis­tik sehingga menaikkan mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani kita anggap hanya se­ba­gai urusan vertikal dan tidak pernah kita lakukan dalam hubungan kita dengan sesama. De­ngan demikian kita tidak dapat mengerti dan tidak mampu ketika diminta untuk berkomunikasi se­ca­ra surgawi, sama seperti ketika kita berkomunikasi kepada Allah. Dan itu bukanlah masalah prak­tis biasa tetapi dibelakangnya terdapat satu masalah teologis yang sangat besar, yang sulit ki­ta terima sehingga tidak terimplikasi dalam hidup kita.
Selanjutnya kita masuk dalam bagian kedua: “Ucaplah syukur senantiasa atas segala se­­­suatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.” (Yunani: di dalam se­­­gala sesuatu bersyukurlah selalu dalam nama Tuhan Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita). Kata segala sesuatu merupakan kata pertama, bersyukurlah (eukharisteō), dan se­nantiasa (meng­­­gunakan bentuk tenses present active participle = present continous active-Inggris) yaitu sa­­­tu format te­rus-menerus yang dija­lankan dalam hidup kita (habit/kebiasaan). Disini kita tahu bah­­­­wa se­be­nar­nya hidup ini harus pe­nuh dengan ucapan syukur namun secara fak­ta hidup kita ti­­dak demikian. Banyak orang tidak dapat hi­dup seperti apa yang Alkitab katakan, mereka hidup pe­­nuh de­ngan stress akibat tekanan kesulitan dan pen­de­­ritaan yang sangat berat dan semakin ha­­ri semakin bertambah, demikian juga orang Kristen tanpa kecuali.
Tujuh puluh persen orang Kristen dan mayoritas orang non Kristen ber­anggapan bah­wa manusia terdiri dari tiga unsur yaitu tubuh, jiwa dan roh (Trikotomi). Tetapi kalau kita mem­pe­la­­jari secara tepat maka sebenarnya Alkitab tegas menyatakan bahwa manusia hanya ter­diri dari dua unsur saja yaitu tubuh dan roh/ jiwa (Dikotomi). Seringkali aki­­bat kesalahan fatal ini maka kita me­­­lihat stress sebagai pro­­blem psikologis – aspek jiwa, tetapi itu sebenarnya adalah ajaran fil­­sa­fat Yuna­ni. Alkitab ti­­dak pernah mengatakan bahwa jiwa menjadi eksistensi yang lepas, be­da de­ngan roh, tetapi sebenarnya jiwa dan roh itu dipakai secara bergantian di dalam Alkitab. Ketika se­cara seratus persen saudara mampu men­ja­lan­kan “ber­syu­kur di dalam segala sesuatu se­nan­tia­­sa kepada Allah Bapa kita di dalam Tuhan Yesus Kristus,” ma­­ka kita tidak akan mungkin stress. Tetapi secara realita hal itu tidak mungkin dijalankan secara penuh dalam hidup kita ka­re­na kita lebih banyak bersunggut-sung­gut di dalam melewati hidup. Jikalau kita anggap hal diatas se­bagai aspek psikologis maka seolah-olah masalah ter­se­but dapat diselesaikan tanpa Tuhan per­lu ada (humanistik: konseling, therapi, dsb) dan itu hanyalah penyelesaian sejenak, yang nan­ti­­­nya akan menimbulkan efek yang lebih parah. Seperti cara-cara baru di Jepang yang me­nye­dia­kan suatu kamar khusus bagi orang yang stress supaya mereka dapat melampiaskan emosi me­re­­ka dengan berteriak sekuat-kuatnya. Alkitab hanya mengatakan satu hal: “Ucaplah syukur se­nan­­tiasa di dalam segala sesuatu kepada Allah Bapa di sorga di dalam Tuhan Yesus Kristus.” Mengapa kita tidak mampu mengerti apa yang dilakukan Paulus yang walaupun di dalam penjara yang paling dalam, gelap dan ter­be­leng­gu, ia masih dapat memuji Tuhan. Demikian juga Stefanus, ketika dirajam batu, ia justru mene­nga­­dahkan tangannya, menatap kedepan dan ber­syu­­kur kepada Tuhan. Mengapa kita se­ba­gai anak Tuhan sulit mengerti dan melakukan hal ini?
Disini kita akan melihat tiga aspek yang perlu kita evaluasi total dalam diri kita se­hu­bung­­­an dengan kesulitan kita untuk mengucap syukur:
 Pertama, Kita tidak mampu bersyukur ka­re­­na ki­ta gagal mengerti cinta Tuhan yang sesungguhnya baik dalam pikiran maupun prinsip hi­dup kita. Kita sudah terlalu banyak dicemari oleh format cinta dunia, cinta yang egoistik, ma­nipu­la­tif, yang mem­buat kita akhirnya gagal mengerti bahwa Allah kita mencintai dengan sungguh-sung­­guh. Mung­kin kita mampu bersyukur ketika Tuhan memberikan segala sesuatu yang meng­un­­tung­kan kita, tetapi akan sulit melakukannya ketika kita mendapatkan kesulitan dan berbagai per­­gu­mul­an hi­dup. Dan akhirnya seringkali kita mencurigai cinta kasih dalam hidup kita. Sikap men­­cu­ri­gai ka­sih sangat mungkin terjadi di dalam kehidupan manusia berdosa, tetapi jikalau hal se­­perti ini kita im­plikasikan kepada Tuhan dan mulai mencurigai Dia tidak mengasihi dan berbuat ja­hat pada kita, maka itu akan membuat kita kehilangan seluruh sukacita, ucapan syukur dan mem­­­buat kita hi­­dup di dalam kerusakan dan tekanan yang berkepanjangan. Siapa Allah kita dan ba­­gaimana Dia di dalam pengertian kita, akan sangat mempengaruhi sikap kita. Jikalau kita tahu bahwa di da­­­­lam segala hal Tuhan begitu mencintai kita maka tidak ada alasan bagi kita un­tuk tidak ber­syu­kur kepadaNya, sekalipun suatu hal yang sulit kita terima karena kita tahu itu demi kebaikan kita.
Kedua, Karena kita tidak pernah mengerti dengan tepat karya Tuhan Yesus di dalam hidup kita masing-masing. Yesus rela naik ke kayu salib bukan karena kita berjasa tetapi karena kita ber­dosa. Pada saat kita begitu jahat, berontak pada Tuhan, Ia mau menyelamatkan dan mati bagi sau­dara dan saya. Seberapa dalam kita mengerti Tuhan menebus dan menyelamatkan kita dari dosa kita. Ketika kita mengerti anugerah ini maka kita tahu bagaimana dapat bersyukur setiap hari. Tidak ada satu manusiapun yang sempurna dalam dunia ini, setiap hari kita masih berbuat do­sa, mungkin kita tidak pernah membunuh atau mencuri tetapi kita seringkali melawan dan tidak ta­at padaNya. Di dalam budaya, terutama budaya Tionghoa, ini merupakan satu hal yang sangat di­te­kankan. Bagi orang Tionghoa, yang dinamakan “u-hauw” (hormat/ berbakti) itu adalah mentaati se­cara mutlak apa yang dikatakan oleh orang tua. Terkadang ketika ayah-ibu kita salah, mereka te­tap meminta yang salah itupun harus diturut. Disini kita harus sadar bahwa ketika kita se­ba­gai orang tua, taat mutlak pada Allah sehingga anak kita taat kepada kita. Kalau orang tua tidak ta­at kepada Allah maka anak kita berhak melawan kita. Karena anak kita harus taat kepada Allah le­bih daripada kepada siapapun. Kalau kita taat kepada orang tua itu adalah karena kita taat ke­pa­da Allah yang memerintahkan kita untuk hormat kepada orang tua. Itu prinsip yang harus di­te­gas­kan tanpa kompromi di dalam aspek ini. Tetapi seringkali kita berjalan keluar dari jalur yang Tuhan inginkan dan tidak taat mutlak kepada Allah sehingga mengakibatkan hidup kita me­nga­lami tekanan dan berbagai pergumulan hidup yang tidak seharusnya kita alami. Hanya melalui da­rah Tuhan Yesus yang dicurahkan, itulah yang membuat kita kembali kepadaNya. Banyak orang Kristen bertahun-tahun datang ke gereja tetapi begitu kering dan tidak mengerti dalamnya arti penebusan Kristus bagi hidupnya dan itu mengakibatkan ia tidak pernah dapat bersyukur pa­da Tuhan. Sewaktu kita mengerti karya anugerah Tuhan Yesus, itu menjadikan hidup kita penuh de­ngan ucapan syukur dan hidup kita diubah menjadi baru, hidup yang mengerti kebenaran.
Ketiga, Kita tahu bagaimana Allah memelihara kita. Doktrin yang penting dan ditegakkan be­gitu tegas dalam teologi Reformed ialah The Providence of God (pemeliharaan Allah atas umat­Nya). Ini didasarkan pada konsep bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat. Hidup manusia ha­rus taat pada Allah karena Allah adalah Allah yang berdaulat atas sejarah. Karena ia berdaulat atas sejarah maka ia berdaulat juga atas kita yang hidup dalam sejarah kerajaanNya. Kalau kita me­ngerti ini maka kita tahu bahwa langkah hidup kita itu merupakan langkah yang berada dalam anu­gerah dan membuat kita mampu bersyukur, apapun yang terjadi. Kita seringkali tidak sadar ka­lau kita berada di dalam pemeliharaan Allah dan di dalam jalur benang merah keselamatan Tuhan dimana kita sedang berjalan di dalam figur sejarah utama keselamatan Allah.
Di dalam sebuah film, kadangkala providensia sutradara terlalu terlihat berlebihan. Se­orang sutradara sedang berperan seperti “Allah kecil” ketika ia sedang mempermainkan seja­rah­nya (film) dan ia akan menjaga supaya pemeran utamanya tetap bermain di sepanjang sejarah film­nya, dan itu demi mempertahankan benang merah sejarahnya. Tetapi ketika itu kita tidak sa­dar bahwa itu adalah cara sang sutradara mengatur. Namun Allah kita jauh lebih besar daripada se­kedar pengaturan sejarah seorang sutradara karena Ia tidak hanya bermain di dalam kurun waktu yang terbatas. Satu hal yang perlu dipikirkan adalah apakah saudara saat ini berada di da­lam garis benang merah utama sejarah ataukah hanya sebagai figuran saja. Kalau kita tahu bah­wa kita adalah umat Allah yang sedang berada di dalam jalur keselamatan Allah berarti kita ber­ada di dalam garis merah sejarah keselamatan Allah, dan Allah ingin bekerja di dalam diri sau­dara dan saya untuk menuntaskan sejarah keselamatan. Dan Allah akan memelihara hidup kita, apa­pun yang terjadi dalam diri kita tidak akan lepas dari providensia Allah. Allah yang mengatur, me­melihara dan menuntun setiap langkah kita dan sejauh kita taat padaNya maka Ia akan mem­bu­ka jalan bagi kita sebagai jalan yang terbaik dalam hidup kita.
Seberapa jauh kita sadar akan hal ini? Kita sulit menyadari providensia Allah karena kita hanya memikirkan apa yang sedang kita rancang, atur dan mainkan sehingga kita tidak me­li­hat Tuhan memelihara langkah demi langkah kita. Seringkali kita melewatkan anugerah Tuhan yang seharusnya dapat dinikmati di sepanjang sejarah hidup kita. Kita tidak melihat bagaimana Tuhan memperkenankan kita melewati tempat-tempat, kesempatan-kesempatan, pertemuan, dan ber­kat yang indah yang Tuhan berikan pada kita. Dan semuanya itu mengakibatkan kita tidak mam­pu bersyukur pada Tuhan. Kita lebih mudah melihat kejelekan dan keburukan dari setiap hal yang kita alami dan hidup kita dipenuhi segala gerutuan sepanjang hari. Sangat disayangkan jika­lau kita gagal mengerti providensia Allah. Seberapa saudara dapat mengucap syukur di dalam se­gala sesuatu senantiasa, sedemikian juga saudara akan menikmati kebahagiaan yang Tuhan se­diakan bagi kita.
Terdapat beberapa manfaat dari hidup yang penuh dengan ucapan syukur: 1). Syukur  me­matahkan pride (kesombongan); 2). Syukur memberikan kesadaran limitasi dan dependensi; 3). Syukur membawa pengharapan; 4). Syukur membawa sukacita; 5). Syukur memberikan apre­sia­si; 6). Syukur mendorong kesaksian; dan 7). Syukur memberikan semangat dan kelegaan.
Haruskah kita membelenggu diri kita di dalam tekanan-tekanan yang tidak ada pa­ha­la­nya yang kita buat sendiri untuk menghancurkan hidup kita ataukah kita akan bertobat saat ini, kem­bali pada Tuhan, mau belajar mengerti siapa Allah yang kita percayai. Biarlah pengenalan kita akan Allah mengubah seluruh hidup kita sehingga setiap hari kita boleh belajar bersyukur ke­pa­da Dia di dalam segala hal, bahkan dalam hal yang paling kecil, seperti misalnya bersyukur atas makanan yang boleh kita terima setiap harinya. Di tengah dunia yang penuh stress biarlah Tuhan memakai kita untuk menghibur supaya mereka melihat ada secercah harapan yang sung­guh indah dalam hidup kita. Kiranya ini boleh menjadi kekuatan bagi hidup kita untuk kembali ber­syu­kur di hadapan Tuhan, mengubah hidup kita di dalam satu hidup yang penuh ucapan syukur. Amin.?

Nats Alkitab untuk membantu kita dalam memberikan kata-kata penghiburan kepada yang berduka.



Yohanes 11: 25-26
Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?"
Roma 8:10
Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.
Filipi 4:6
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
Roma 11:36
Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!
Roma 14: 7-9
Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. 
1 Korintus 15: 20
Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.
1 Korintus 15: 55-57
Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu? Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. 

 Ibrani 13:14
Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang.
1 Petrus 5: 7
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
1 Petrus 5: 10
Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.
Mazmur 50:15
Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku."
Mazmur 27:10
Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.
Mazmur 116:15
Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya.
Pengkotbah 7:1
Nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal, dan hari kematian lebih baik dari pada hari kelahiran.
2 Korintus 7:10        
Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian. 

"Beberapa Nats Alkitab Untuk Yang Ulang Tahun".



Amsal 3:16
Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan
Mazmur 23: 6
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
Amsal 10: 27
Takut akan TUHAN memperpanjang umur, tetapi tahun-tahun orang fasik diperpendek
Ulangan 5:33
Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu
Mazmur 91:16
Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku."
Keluaran 20:12
Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.
Mazmur 133: 3
Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.
Mazmur 90: 12
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Mazmur 92: 13-15
Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon; mereka yang ditanam di bait TUHAN akan bertunas di pelataran Allah kita. Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.
Yeremia 17:7
Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
Ulangan 28: 8
TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu.
Mazmur 63: 8
Sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersoraksorai 
Amsal 4: 10
Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak 
Amsal 3: 1-2
Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu
Amsal 11: 19
Siapa berpegang pada kebenaran yang sejati, menuju hidup, tetapi siapa mengejar kejahatan, menuju kematian
Mazmur 16: 11
Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.
Ratapan 3: 25
Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepadaNya, bagi jiwa yang mencari Dia 
Zefanya 3: 17
Tuhan Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dengan kasih-Nya 
Yakobus 4: 8
Mendekatlah kepada Allah, Ia akan mendekat kepadamu 
Mazmur 62: 8
Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah 
Mazmur 145: 17
Tuhan itu adil dalam segala jalan-Nya, dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya 
Matius 6: 33
Tetapi carilah dahulu kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu 

Kamis, 05 Januari 2017

Khotbah Minggu 08 Jan 2017 Matius 3:13-17 Tema : “KepadaNyalah Aku Berkenan”



Sdr2 yang dikasihi Tuhan Yesus
Setiap orang pasti memiliki rencana, cita-cita, mimpi, baik untuk dirinya,keluarga bahkan untuk gereja dan masyarakat. Dan pasti ketika kita menyusun rencana itu kita merasa bahwa itu baik menurut pertimbangan kita. Apapun rencana kita dalam tahun yang baru ini pasti kita akan mengupayakan agar rencana kita itu akan terwujud, mungkin juga kita juga tidak lupa mendoa kan agar Tuhan mengabulkannya. Kita gembira jika rencana atau impian kita menjadi kenyataan. Tetapi bagaimana seandainya impian atau rencana kita tidak berjalan seperti yang kita inginkan? bukankah sering kali kita kecewa, sedih, dan marah kepada Tuhan? Tuhan mahatahu, Dia tahu perjalanan hidup kita kedepan,sementara pandangan kita sangatlah terbatas, Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita, Tuhan akan membelokkan atau menggagalkan rencana kita jika rencana itu mendatangkan celaka bagi kita. Bahkan terkadang Tuhan mengizinkan masalah datang merintangi jalan kita demi kebaikan kita
Rencana Tuhan memang tidak selalu rasional, Ia melakukan hal-hal besar yang tidak kita pahami. Ketika Tuhan menutup pintu yang satu, berarti ada pintu yang lain yang akan dibukakan, yaitu yang lebih baik bagi kita. Dia tidak akan menizinkan hal-hal terjadi dalam hidyup kita kecuali Dia punya tujuan. Oleh karena itu untuk memahami rencana Tuhan diperlukan ketaantan dan kerendah hatian. Sebab rencana Tuhan selalu mendatangkan damai sejahtera (Yeremia 29:11).
Isi
Secara umum dapat kita lihat peristiwa pembaptisan yang dilakukan oleh Yohanes pembaptis disungai Yordan dengan seruan pertobatan yang disampaikannya dan juga ketika Yesus datang untuk dibaptis oleh Yohanes sepertinya memperlihatkan bahwa Yesus sama seperti orang-orang yang lain yang adalah berdosa. Namun demikian dengan sangat kontras diberitakan bahwa walaupun Yesus datang untuk dibaptis bukanlah ingin menandakan bahwa Yesus adalah orang berdosa, tetapi seperti dikatakan oleh Yesus bahwa “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mzm. 2:7; Yes. 42:1) sebab suara yang datang dari sorga dengan jelas telah membedakan Yesus dari orang-orang disekitarNya yang datang untuk dibaptis. 
Kemudian suara dari sorga yang mengatakan “Inilah AnakKu yang Kukasihi,kepadaNyalah Aku berkenan” ingin juga menyatakan bahwa identitas Yesus bukanah berasal dari pernyataan manusia namun langsung dari sorga, bahwa Yesus adalah benar-benar berasal dari Sorga. Jelaslah bahwa Yesus bukanlah manusia biasa dan Injil Sinoptik menempatkan kisah ini sebagai permulaan pelayanan Tuhan Yesus. Pembaptisan Yesus bukanlah karena dosa ataupun cela pribadiNya, namun adalah karena dosa manusia, karena Yesus akan hadir ditengah-tengah kehidupan manusia yang berdosa menjadi Juruselamat. 
Dalam pembaptisan Tuhan Yesus kita dapat melihat teladan dan juga janji keselamatan dari Allah. Keselamatan dari Allah telah datang di dalam Yesus Kristus untuk penghapusan dosa manusia dan dalam Yesaya 42 diberitakan bahwa “Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan” dan juga akan “menjadi terang bagi bagsa-bangsa”. Penyelamatan Yesus adalah untuk semua bangsa dan akan dilakukanNya dengan merendahkan diriNya. Hal ini dapat juga kita lihat pada pembaptisan Tuhan Yesus, bahwa Ia mau memberikan diriNya ditengah-tengah umat yang berdosa dan merendahkan diriNya di sungai Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes.
Identitas Yesus sebagai Anak Allah yang datang dengan kerendahan hati dan penuh ketaatan mengingatkan kita juga bagaimana kita sebagai anak-anak Allah memiliki sikap teladan yang diperlihatkan oleh Tuhan Yesus dan demikian halnya juga dengan Yohanes Pembaptis yang memperlihatkan sikap kerendahan hati di hadapan Tuhan Yesus.
Aplikasi
Ketaatan kepada Tuhan akan memampukan kita untuk mengerti dan melihat rencana Tuhan dalam hidup. Mula-mula Yohanes menolak membabtis Yesus, karena ia merasa bahwa Yesus jauh lebih besar darinya. Tetapi setelah Yesus menjelaskan Yohanespun tunduk melakukannya. Kadang-kadang kita keberatan atau bersikeras untuk tidak mentaati Tuhan karena kita kurang mengerti, karena kita memakai pikiran kita, padahal banyak sekali perbuatanNya yang ajaib. Tetapi ketika kita sudah tahu, sudah diberi penjelasan kita seharusnya sudah tunduk.
Ketaatan membutuhkan pengorbanan, Yesus menganggap babtisan itu penting, karena itu jauh dari Galilea Ia datang ke Yordan untuk dibabtis oleh Yohanes. Yesus mentaati BapaNya dalam segala hal.Penyerahan diriNya membawaNya dari puncak popularitas menuju keadaan dimana Dia akan ditinggalkan, dari keadaan di elu-elukan orang banyak menuju pada penderitaan dan kesendirian. Oleh karena itu marilah dengan kerelaan hati kita taat kepada Tuhan dalam segala hal, karena kita tahu bahwa terlalu besar jumlah berkatNya kepada kita untuk dihitung (maz 40:6). Percayalah kepada Tuhan, Dia yang memegang kendali. Dengan demikian kita bisa berserah, relaks, tidak khawatir atau stress. Jangan merasa kecewa, marah, kecil hati ketika rencana kita tidak seperti yang kita harapkan. Percayalah Tuhan menyediakan yang lebih baik bagi kita.
Amen.