Senin, 12 Desember 2016

Khotbah Awal Tahun Ibu2 Kel. Tobing Jakarta Selatan. " Istri yang bagaimanakah anda" ?



Ilustrasi: Istri yg bijak sana akan selalu menerapkan  5.M

Saudari-saudari perempuan yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus! Wanita Kristen mempunyai peranan yang sangat penting ditengah-tengah keluarga, masyarakat dan gereja. Benar wanita itu harus menduduki tempat yang sederajat dengan pria/suami. Hawa dijadikan dari tulang rusuk adam, dia bukanlah kepala atau kaki atau telunjuk adam. Karena itu perempuan/istri adalah teman, sahabat dan jodoh dari pria/suami. Sebab itu istri harus berdiri berdampingan atau sederajat dengan suami, mempunyai tanggung jawab yang sama dan sangat penting ditengah-tengah keluarga. Namun yang menjadi masalah perempuan/istri tidak pernah menyadari kedudukannya ini baik ditengah-tengah keluarga masyarakat maupun gereja sehingga sering terjadi kekerasan oleh karena tidak ada saling pengertian. Gereja-gereja di seluruh dunia telah menyepakati tahun 2001-2010 sebagai dasa warsa mengatasi kekerasan, dasa warsa ini merupakan respons gereja-gereja terhadap meningkatnya kekerasan secara global, bukan saja ragam bentuknya atau cara-cara yang digunakan tetapi juga skalanya. Dilihat dari segi skala, kekerasan kini dilakukan secara terorganisir dan mengglobal dengan menggunakan jaringan teknologi yang sangat canggih. Dengan menyepakati dasa warsa ini berarti gereja-gereja di seleruh dunia bertekad untuk ambil bagian dalam mengerahkan daya, dana dan waktu untuk mengatasi kekerasan dalam semua bidang kehidupan termasuk kekerasan terhadap perempuan. Untuk itu kita perlu menyadari apa fungsi kita sebagai perempuan/ibu dan tergolong istri yang bagaimanakah kita ? dimata suami, anak, mertua dan saudara-saudari lainnya agar kekerasan ini dapat semakin ditekan. Sdi.. Melalui kebaktian persekutuan perempuan kristen Asia ini kita akan mencba memaparkan peranan, sikap perempuan yang dilihat dari kacamata kristen. Sehingga kita tahu tergolong istri yang bagaimanakah kita ?
  1. Sarah (Istri Abraham) : Kejadian 12 ;
Istri yang bagaimanakah sarah ini ? pada waktu Allah memerintahkan kepada Abraham untuk meninggalkan tanah kelahirannya, saudaranya, rumahnya, hartanya dan segalanya disinilah nampak Sarah adalah istri yang sangat setia sebab dia yakin bahwa Tuhan akan memberikan janji-Nya kepadanya.Dia tdk menolak utk ikut Abraham.
  1. Delilah (istri Simson yang jelita) Hakim-hakim 14 ;
Kecantikan delilah membuat simson jadi gelap mata ia silau karena paras yang jelita padahal delilah adalah istri yang matrealistis. Simson tidak menyadari bahwa sesungguhnya delilah lebih mencintai harta daripada dirinya sendiri. Delilah istri yang menghianati suami, istri yang memperalat air matanya untuk mengadu harta dan mencelakakan suami.
  1. Maria (Ibunda Yesus) Lukas 2 : 19;
Wanita yang rendah hati yang pasrah yang menyimpan segala perkara di dalam hatinya, yang tidak suka membeberkan mengenai keluarganya kepada orang lain.
  1. Martha & saudara Maria (Wanita yang rajin dan cekatan) Lukas 10
Pada situasi sekarang ini sering kita dengar apa yang dikatakan wanita karir dan juga eman sipasi perempuan. Karena tuntutan eman sipasi tadi maka banyak kaum ibu menghabiskan waktunya di luar rumah, sibuk dengan segala macam urusan, arisan, salon kegiatan sosial dan lain-lain, karena kesibukan ini dan ikut menggalakan emansipasi maka segala urusan rumahtangga diserahkan kepada pembantu.Anak2 akhirnya lebih dekat dgn pembantu, bahkan merindukan pembantu dari ibunya.Ill. ONAN
  1. Monica (Ibunda Agustinus Bapa Gereja yg terkenal itu) ;
Monica mempunyai penderitaan batin yang amat sangat. Suaminya seorang kafir anaknya Agustinus selalu menyusahkannya sedangkan monica sendiri pengikut kristus yang setia. Didalam keputusannya menghadapi anak dan suaminya yang selalu menyusahkannya ia hanya pasrah kepada Tuhan dan berdoa. Dengan kekuatan itu dan iman yang ada padanya yang tidak jemu-jemu berdoa kepada Tuhan agar suami dan anaknya berobah sikap, doanya dikabulkan Tuhan yang akhirnya agustinus menjadi Bapak Gereja yang terkenal.
  1. Chatarina Vonbora (Istri dari Martin Luther Bapak Reformator) ;
Vonbora yang terus menerus berjuang untuk mendukung suaminya agar menegakkan kebenaran sehingga perjuangan Marthin Luther berhasil.
Dari keenam contoh ini di pihak manakah saudari ? jawablah didalam hatimu masing-masing.

DR. Emili Hartshorn Mudd dalam artikelnya Woman Finest Role dalam buku Succesfull Mariage (Perkawinan yang sukses)  untuk memenuhi syarat sebagai seorang istri yang sukses maka perlu :
  1. Harus memiliki kualitas sebagai diplomat wanita :
Sebab ada saja permasalahan yang sulit atau timbul ditengah-tengah keluarga dan gereja yang satu melapor begini dan sepihak melapor begitu, sehingga si istri harus pandai mendamaikan, bertindak serba bijaksana dan sikap itulah yang disebut diplomat.
  1. Keterampilan sebagai seorang pengusaha :
Mengatur hidangan keluarga, perbelanjaan anak dan memenuhi segala pembayaran rumah tangga seperti, Listri, air, sampah memerlukan keahlian mengatur keuangan. Seorang pungusaha harus berhemat karena hemat itu pangkal kaya dan boros itu ujung dari kemiskinan.
  1. Kemampuan sebagai juru masak yang baik :
Mungkin sebagai juru masak yang bisa menghidangkan makan siang yang penting dapat menitikan selera di tengah-tengah keluarga. Biarlah wajah tidak secantik; Listailor tidak seayu; ayu azhari, suaranya tidak semerdu; Krisdayanti tetapi masakannya sedap dilahap niscaya kalah kecantikan dan keayuan tadi seorang suami.
  1. Seorang perawat yang terlatih :
Kecermatan sebagai perawat perlu dimiliki seorang istri yang mengharapkan sukses dan berlanjut dalam perkawinan, sebab pada waktu suami jatuh sakit dan anak-anaknya perlu kesabaran sebagai perawat.
  1. Kesanggupan sebagai guru :
Yang mampu mendidik, membimbing mengajar dan memberi semangat kepada suami dan anak.
  1. Kecantikan sebagai Ratu ayu :
Suami mana yang tidak mencari istri yang cantik, menarik dan ramping yang dapat menyambut suami dengan senyum rapi dan bergairah.

Keenam syarat ini jika dapat dilaksanakan akan menghasilkan keluarga yang bahagia semoga Tuhan memberkati kita. Amin
 Pdt. R.H.L. Tobing.S.Th. MA

Khotbah Natal Tahun 2016 Thema: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud”.



Gempar,Sibuk.Repot.Pada saat Kelahiran Yesus Juru Selamat itu.
Setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita. Allah bertindak memperbaiki situasi hidup umat-Nya. Berita sukacita itulah yang diserukan oleh Malaikat: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11).
Natal menjadi momen di mana tidak hanya orang Kristen yang merayakan Natal, orang-orang non-Kristen pun “merayakan” Natal. Caranya, dengan memasang pohon Natal dan aksesoris Natal lainnya di toko mereka atau menggelar diskon besar-besaran di toko/swalayan/dll mereka (tidak ada bedanya dengan hari raya lainnya). Natal sepertinya sudah menjadi tradisi setiap tahun yang tidak ada bedanya dengan hari raya lainnya.
Inti Natal adalah Kristus yang lahir. Jika kita memperhatikan Lukas 2:11, secara konteks, para malaikat Tuhan memberitahukan kepada para gembala di situ bahwa pada hari itu telah lahir bagi mereka Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Para malaikat TIDAK memberitakan bahwa pada hari itu telah lahir bagi mereka: Penolong kaum tertindas, Pembebas mereka yang terbelenggu penjajah, pemberi berkat, dll, seperti konsep “Natal” ala postmodern sekarang. Mengapa para malaikat tidak memberitakan hal tersebut? Karena itu TIDAK penting dan berpusat kepada manusia (antroposentris), sedangkan maksud Kristus diutus adalah menggenapkan kehendak Allah (Theosentris), sehingga yang diberitakan oleh para malaikat adalah berita Theosentris, bukan antroposentris  atheis.
Mari kita menyelidiki berita Theosentris tersebut. Ada tiga jabatan yang langsung dikenakan kepada Tuhan Yesus di dalam Lukas 2:11 ini, yaitu: Juruselamat, Kristus, dan Tuhan. Mari kita menelusuri ketiga jabatan ini beserta implikasinya.
Sebagai Juruselamat, kelahiran Kristus dan karya-Nya di dunia adalah menyelamatkan umat pilihan Allah dari dosa-dosa yang membelenggu mereka. Sejak zaman Perjanjian Lama, bangsa Israel menantikan kedatangan Juruselamat yang dapat membebaskan mereka dari penjajahan. Konsep mereka tentang Juruselamat adalah konsep antroposentris humanis yang tidak ada bedanya dengan konsep “Natal” ala postmodern sekarang. Akibatnya ketika Kristus hadir di tengah-tengah mereka sebagai Pribadi yang “lemah,” seolah-olah “tidak berkuasa,” tidak berpasukan, dll, mereka akhirnya banyak yang menolak-Nya. Kedatangan Kristus bukan bermakna fisik/jasmaniah (membebaskan Israel dari penjajahan), tetapi rohani, yaitu menyelamatkan umat pilihan Allah dari dosa-dosa yang membelenggu mereka. Hal ini terus ditekankan oleh Tuhan Yesus kepada para murid-Nya, tetapi sayangnya, menjelang Tuhan Yesus naik ke Sorga, para murid-Nya masih bertanya, kapan Dia akan memulihkan Kerajaan Israel (Kis. 1:6). Hari ini, di hari Natal, kita diingatkan kembali, bahwa Kristus yang lahir bagi kita adalah Kristus, Sang Juruselamat, yang menyelamatkan kita dari belenggu dosa. Sejak kita masih seteru/musuh Allah, Allah telah mengasihi kita dengan mengutus Kristus sebagai Juruselamat yang mendamaikan Allah yang Mahakudus dengan kita yang berdosa (Rm. 5:10). Kelahiran Kristus ini memberikan pengharapan kepada kita bahwa ada jalan keluar dari dosa, yaitu penebusan Kristus. Dosa manusia tidak bisa diselesaikan dengan cara manusia melalui perbuatan baik (amal), karena semakin manusia berbuat “baik” (supaya diselamatkan dan masuk “sorga”), manusia semakin berbuat dosa. Sebagai Kristus, Ia adalah yang Diurapi oleh Allah (Messiah). Kedua, Tuhan Yesus bukan hanya sebagai Juruselamat, Ia juga adalah Kristus yang berarti yang Diurapi oleh Allah (anointed). Sebagai Yang Diurapi oleh Allah, Kristus yang diutus oleh Allah Bapa mengemban mandat penting yaitu menggenapkan karya penebusan bagi umat pilihan yang berdosa. Berarti, Kristus sendiri adalah Utusan Allah sekaligus Pribadi kedua Allah Trinitas. Sebagai Tuhan, Ia adalah Tuhan yang harus disembah dan ditinggikan. Setelah para malaikat mengatakan hal ini, mereka bersama-sama menaikkan puji-pujian yang memuliakan Allah (baca ayat 14). Jika kita membaca kisah orang-orang Majus dari Timur di Matius 2, Matius mencatat bahwa di hadapan bayi Kristus, mereka sujud menyembah dan memberikan persembahan (Mat. 2:11). Semuanya ini membuktikan bahwa Kristus adalah Tuhan yang harus disembah dan ditinggikan. Kata “Tuhan” yang dipakai di dalam Lukas 2:11 menggunakan bahasa Yunani kurios yang berarti Tuan (Lord) atau Master (Guru).
Di bawah ini saya mengutip sebuah Doa yang dipanjatkan oleh salah seorang Bapa Gereja yang bernama Francis De Asisi :
Tuhan, Jadikan aku alat bagi Kedamaian Mu,
Di mana ada kebencian, biarlah aku menabur Kasih
Di mana ada luka hati, biarlah aku menabur pengampunan
Di mana ada kebimbangan, biarlah aku menabur iman
Di mana ada keputus-asaan biarlah aku menabur pengharapan
Di mana ada kegelapan , biarlah aku menabur terang
Dan di mana ada kesedihan, biarlah aku menabur suka-cita
Oh Tuhan, tolonglah agar aku tidak mencari untuk dihibur, tetapi aku ingin menghibur, aku
tidak mencari untuk dimengerti tetapi mengerti.
Tidak mencari untuk dikasihi, tetapi mengasihi,
Karena hanya dalam memberilah, kami menerima; dan mengampunilah kami diampuni. Dalam kematianlah, kami lahir kehidupan yang kekal. Amin

Rabu, 30 November 2016

Khotbah Minggu 04 Desember 2016 Roma 15 : 4 - 13 Thema; Berpegang Teguh Pada Pengharapan



 Pendahuluan
Roma 15, merupakan kesimpulan dalam kitab Roma, bagaimana sesungguhnya cara kita hidup. Ada istilah lemah dan kuat dalam Roma 15, tetapi kata kuat dan lemah jangan disalah artikan. Manusia tidak dapat menilai siapa yang kuat siapa yang lemah, siapa yang lebih kuat. Memang dunia ini dunia persaingan, sehingga tanpa sadar, dalam watak kita ada persaingan dan keinginan untuk lebih unggul, pintar dan hebat. Konsep itu sudah tertanam dalam hati kita, walaupun kita sudah mengenal Tuhan. Sehingga kita sering secara tidak sadar membandingkan diri kita dengan orang lain dalam berbagai faktor. Inilah yang sering membuat terjadinya perselisihan satu dengan yang lain.
Sebelum kita membahas perenungan kita pada pagi hari ini saya ingin memberikan ilustrasi. Pada suatu hari ada percakapan antara mulut, otak, perut dan jantung. Kata otak  kepada mulut “ aku itu lebih berharga dari kamu, karena aku yang lebih dibutuhkan, kalau tidak ada aku kamu tidak dapat berbicara apa-apa”, kemudian mulut membalas dengan mengatakan “ sama saja, kalau tidak ada aku, kamu juga tidak berguna, karena aku yang paling di butuhkan saat berkomunikasi dengan orang lain”, kemudian datanglah si perut dan dia mengatakan “ yang paling penting itu aku, karena tanpa aku kalian tidak dapat berpikir dan berbicara, kemudian datanglah jantung “tunggu dulu, tanpa aku kalian semua mati dan tidak dapat berbuat apa-apa”. Dari ilustrasi di atas memperlihatkan bahwa kesatuan antara anggota tubuh itu sangatlah penting, Apa jadinya jika salah satu anggota tubuh itu tidak berfungsi? Tentu akan mempengaruhi anggota tubuh yang lain, oleh sebab itu anggota tubuh tidak sebaiknya untuk saling merendahkan . Anggota tubuh itu sama seperti anggota Jemaat yang dipersatukan oleh tubuh Kristus. Sebaiknya saling bekerja sama untuk menjalankan fungsi masing-masing sebagai anggota Kristus bukan saling menjatuhkan atau membanggakan dirinya
Dengan melihat Surat Roma besar kemungkinan bahwa jemaat Kristen disana terdiri dari Yahudi dan non Yahudi, dimana keberadaan kelompok Yahudi adalah minoritas pada kota itu. Karena dalam surat Roma ini, kelihatannya Paulus terkadang berbicara khusus kepada kelompok Yahudi, seperti sebutan “Abraham” “bapa kita” (4:1) dan dalam hal lain ia berbicara kepada yang non Yahudi (1:5 dsb; 11:13; 28:31).
Sama halnya dengan kekristenan di Indonesia demikian juga posisi Yahudi dalam jemaat Roma yang minoritas. Paulus mengangap penting menyapa jemaat Roma dengan keadaan yang demikian, agar jemaat Roma dapat bertahan dalam keharmonisan, walaupun dengan berbagai suku dan bangsa (Yahudi dan non Yahudi) serta keragaman kuantitas. Jemaat dengan keragaman itu, bukanlah menjadi jemaat tanpa pengharapan, justru dengan keadaan itu, jemaat perlu berpegang teguh pada sumber pengharapannya, yakni Tuhan Yesus Kristus.
Keterangan Nats
Berpegang Teguh Pada Pengharapan (4)
Hidup tanpa pengharapan, sama halnya dengan hidup tanpa masa depan. Tanpa pengharapan akan mengakibatkan sikap pesimistis akan masa depan yang lebih baik. Untuk menghadapi kehidupan ini perlu pengharapan, sebab dengan pengharapan akan menambah semangat seseorang untuk mencapai sesuatu. Rasul Paulus memberikan pengertian kepada jemaat Roma untuk hidup dalam pengharapan. Pengharapan yang dimaksud adalah pengharapan yang telah diberikan oleh Allah, yang sudah tertulis dalam Alkitab.
Pada ayat 4 dinyatakan “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci”. Alkitab berisi pelajaran bagi orang Kristen, pelajaran itu diberikan supaya orang percaya teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan. Pengharapan harus dipegang, jangan sampai lepas, oleh karenanya setiap orang yang berpengharapan adalah orang yang memiliki ketekunan. Sebab dengan melihat serta memaknai kehidupan ini, tentunya terkadang seolah-olah tidak ada pengharapan. Untuk menghadapi masa paling sulit sekalipun, bukan berarti tidak ada jalan keluar, asalkan tetap bertekun memegang erat pengharapan.
Dalam Kerukunan Memuliakan Allah (5-6)
Rasul Paulus juga mengharapkan dan menghimbau agar jemaat di Roma hidup dalam kerukunan. Kepelbagaian suku bangsa dalam persekutuan, tidaklah menjadi penghalang adanya kesatuan untuk memuji dan memuliakan Allah serta berbuat kasih. Keragaman suku bangsa dalam satu jemaat adalah kekayaan yang patut di syukuri. Dengan keragaman dalam satu jemaat, tentunya akan memberikan nilai tambah pada jemaat itu sendiri untuk melaksanakan kehendak Allah.
Perbedaan atau keragaman adalah karya ciptaan Allah, keragaman itu juga menunjukkan bahwa Allah memiliki daya cipta yang luar biasa. Keragaman dapat juga dinyatakan sebagai bentuk dari kebesaran dan kemahakuasaan Allah, oleh sebab itu segala perbedaan bukan menjadi tembok penghalang untuk memuliakan Allah dalam kebesaran dan kemahakuasaanNya. Justru dengan keragaman itulah seharusnya manusia semakin sadar dan bersyukur bahwa Allah patut untuk di sembah, sebab Dia mahakuasa.
Kesatuan Allah adalah Ajakan Bagi Bangsa-Bangsa Memuji Tuhan
Banyak perbedaan yang pasti akan dijumpai dalam satu jemaat, seperti yang terjadi dalam jemaat Roma, ada Yahudi ada non Yahudi. Bukan hanya perbedaan suku dan bangsa, namun dalam satu jemaat biasa dan bisa saja hanya ada satu suku dan bangsa, seperti kebanyakan gereja yang ada di Indonesia. Namun hal itu tidak menjamin adanya keselarasan pemahaman dalam jemaat itu. Kenyataannya masih ada kita dengar gereja yang memisahkan diri dari sinodenya lalu membuka gereja yang baru dan membuka sinodenya yang baru juga. Ada juga jemaat yang harus menerima siasat gereja, namun tidak bisa menerimanya, akhirnya pergi ke sekte yang lain dan diterima. Hal tersebut hanyalah sebagian kecil dari perbedaan pemahaman dan kehidupan bergereja yang dapat kita temui saat ini.
Dalam ayat 7 pada perikop ini rasul Paulus mengatakan “terimalah yang satu dengan yang lain, seperti Kristus juga telah menerima kita”. Dalam nats ini kata kunci untuk membentuk kesatuan itu adalah “saling menerima”. Sikap saling menerima perbedaan tentunya perlu untuk dipahami dengan sebaik-baiknya. Apakah gereja dituntut untuk menerima kesesatan? Tentunya tidak sesederhana itu yang dimaksudkan oleh Paulus. Saling menerima dalam nats ini ialah didalam Kristus. Tuhan Yesus Kristus menerima kita dengan kepelbagaian dosa dan kehidupan serta cara pandang kita, namun perlu dipahami Tuhan Yesus tidak pernah menerima Iblis untuk diselamatkan. Tuhan Yesus Kristus menerima kita dengan kasihNya dan tentunya kita juga akan menerima yang satu dengan yang lain dengan kasih Tuhan Yesus Kristus. Didalam Tuhan Yesus Kristus akan menerima pembenaran dan kasih. Setiap yang diterima oleh Tuhan Yesus sudah memperoleh pembenaran dan kasihNya. Oleh karenanya, menerima satu dengan yang lain tidak terlepas dari pembenaran dan kasih Allah. Itulah yang menyebabkan gereja dapat menerima orang-orang yang dianggap sangat berdosa, namun harus diingat haruslah siap untuk masuk kedalam pembenaran dan kasih Tuhan Yesus Kristus.
Demikian halnya dalam kepelbagaian dalam jemaat, harus bisa saling menerima yang satu dengan yang lain, namun tetap berada dalam posisi pembenaran dan kasih dari Tuhan Yesus Kristus. Dengan saling menerima didalam pembenaran dan kasih Tuhan Yesus Kristus, maka akan terjadi saling menerima dan terjadilah harmoni kedamaian. Dengan terciptanya kedamaian dalam satu jemaat, ini akan memberikan efek yang baik dalam pekabaran Injil. Suku dan bangsa akan melihat jemaat yang hidup dalam damai itu sebagai contoh yang baik untuk ditiru, dan juga akan diikuti. Dengan demikian nama Allah akan dimuliakan oleh suku dan bangsa.
Penutup
Apa yang ditulis dalam Roma 15, tidak dapat lepas dari doa yang Yesus naikkan sebelum Dia naik ke salib, yang merupakan dasar, fondasi, isi hati Tuhan, kerinduan Tuhan, untuk kita. Yoh 17:1-26, fokus pada ayat 21-23 yang menjadi fondasi dan kebenaran dari pesan yang ada dalam Roma 15. Doa syafaat Yesus dibagi atas 3 bagian:
1.       Untuk diri sendiri. 2. Untuk murid-murid. 3. Untuk umat Kristiani pada umumnya.
Kesatuan dan persatuan antar murid Yesus dan antar anak-anak Tuhan, merupakan kerinduan hati Yesus. Kesatuan itu merupakan satu persekutuan dari hati ke hati. Dalam doa ini, kita dapat melihat betapa besar kasih Yesus. Relationship antar kita dengan Tuhan diibaratkan seperti Gembala dan domba, tidak hitung-hitungan, penuh kasih sayang dan pengertian. Kesatuan antara murid-murid akan membawa dunia menjadi percaya.
Tujuan kedatangan Yesus ke dunia adalah supaya dunia percaya Yesus sebagai Mesias dan juru selamat.
Kesatuan dan sikap saling menerima, merupakan implikasi dan aplikasi dari iman dari seseorang.
Sikap kita yang saling menerima, merangkul dan saling memperhatikan, merupakan bukti bahwa kita sungguh-sungguh mengenal hati Tuhan. Tidak sama dengan konsep saling menerima, merangkul dan memperhatikan dalam hal duniawi.
Orang dunia saling menyenagkan dan memperhatikan. Misalnya jika merasa letih dan capek, mereka pergi minum-minum. Kesannya lebih menyenangkan, tetapi berbeda dengan konsep orang Kristen. Konsep menyenangkan, menerima dan memperhatikan dunia beda dengan yang ada dalam Yesus. Orang-orang yang berkumpul karena mengkonsumsi narkoba, kadang-kadang lebih kompak dari persekutuan orang percaya. Orang-orang gang juga siap mati untuk temannya. Itu satu kebanggaan bagi mereka.
Kesatuan untuk menyenangkan satu sama lain, bukan dengan sikap duniawi, tetapi ada hakekat kekristenannya. Yesus berkali-kali mengungkapkan kesatuan, saling menerima, supaya dunia percaya.
Sikap dan tingkah laku kita terhadap dunia sangat penting. Jangan munafik.
Yoh 17:23, melalui kesatuan, saling menerima, menolong dan persekutuan yang indah merupakan bukti bahwa mereka sungguh-sungguh memiliki hati Tuhan.Amen

Kamis, 17 November 2016

Khotbah Minggu 20 Nopember 2016. “Segala Sesuatu di Ciptakan dan Diperdamaikan di Dalam Dia” Kolose 1:11-20



 Kitab Kolose merupakan suatu dokumen yang mengandung arti yang dalam sekali dan tidak ternilai harganya. Uraian ajaran ini bernada pembelaan karena Paulus bermaksud memerangi ajaran-ajaran mistik dan asketik yang bercorak Yahudi dengan pengertian yang salah tentang alam, penyembahan kepada malaikat-malaikat. Tema pokok Kolose ini adalah kepenuhan dan keutamaan Kristus dan kesempurnaan orang Kristen dalam Dia dibandingkan mistik dan siksaan diri yang diajarkan oleh ilmu filsafat dan hikmat manusia. Ajaran sesat yang mencampurkan teosofi, agama Yahudi dan asketisisme itu nampak bersifat rohani, tetapi pada hakekatnya menjauhkan Kristus dari jabatan-Nya sebagai Tuhan.
Beberapa hal yang dibentangkan dalam Kol 1:11-20 ini yang melukiskan Kristus sejati sebagai Allah adalah: pertama, Dia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Kedua, sulung dari segala yang diciptakan. Ketiga, di dalam Dialah diciptakan segala sesuatu. Keempat, Dia adalah terlebih dahulu dari segala sesuatu. Kelima, segala sesuatu ada di dalam Dia. Keenam, seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia.
Melalui doa Paulus dalan Nats kita dia ingin mengajak kita saat ini menyadari bahwa kita memiliki Allah yang begitu mengasihi kita yaitu Yesus Kristus. Dengan kasihNya itu “Melayakkan kita untuk mendapat bagian dalam kerajaanNya sebagai orang-orang kudus”. Dia “melayakkan – melepaskan – memindahkan – menebus – mengampuni”, bahwa Allah di dalam Yesus Kristus berbuat untuk keselamatan kita. Itulah Allah yang kita imani dan yang kita kenal.
Maka dari itu, dengan pengenalan seperti itu kita diarahkan untuk dapat memahami apapun kondisi kehidupan yang sedang kita hadapi dan apapun yang akan terjadi, kita pasti akan menanggungnya dengan “Tekun, Sabar, bersyukur dan bersukacita” (ay.11-12). Bahwa sukacita seorang Kristen itu adalah sukacita di dalam setiap keadaan. Iman akan semakin kuat dan bertumbuh ketika kita mengandalkan iman atas setiap situasi hidup yang kita lalui.
“Tekun, Sabar, bersyukur dan bersukacita” harus nyata bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Sebab tidak ada alasan untuk tidak berbuat seperti itu karena iman kita kepada Allah yang memberi jaminan atas keselamatan kita. Maka apapun kondisi dan situasi yang kita hadapi ke-empat hal di atas akan tetap bergelora dalam kehidupan kita. Sebagaimana Mazmur 46: 3 mengatakan “Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut”.
Dalam nas kita ini, Paulus menerangkan bagi kita untuk mengenal Allah yang kita imani melalui Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang menciptakan kita dan yang menjadikan segala sesuatunya. Kita (manusia) yang diciptakan oleh Allah adalah menurut gambar dan rupaNya (Kej. 1:26), dan kehadiran Allah di tengah-tengah kehidupan manusia melalui Yesus Kristus memperlihatkan bagaimana Allah itu menyatakan diriNya dalam rupa manusia. Supaya melalui Yesus manusia dapat melihat bagaimana kuasa atas kehidupan ini ada dalam Yesus Kristus Tuhan kita, bahwa seluruh kepenuhan Allah ada di dalam Dia. Melalui Yesus Kristus kita dapat melihat dan mengimani kuasa atas kehidupan ada padaNya, bahwa Dia adalah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati.
Maka disini Paulus mendefenisikan hubungan kita dengan Allah adalah hubungan yang organik, yaitu Kristus adalah kepala dan kita tubuhNya. Menandakan hubungan yang begitu erat yang ‘tak terpisahkan. Sebagaimana Paulus menuliskannya di Roma 8: 35 “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”. Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari Tuhan, sekalipun itu maut sebab dengan kesatuan kita dengan Kristus, sebagaimana Kristus bangkit dari antara orang mati demikian juga kita akan dibangkitkanNya dari kematian.
Sehingga nas ini mengarahkan kita bahwa selama kita masih hidup dalam dunia ini, tetaplah untuk: 
“Tekun” di atas dasar iman yang telah terbangun dalam diri kita, walau apapun yang akan terjadi ‘tak akan memisahkan kita dari Tuhan. “Maka demi nyawamu, bertekunlah mengasihi Tuhan Allahmu” (Yosua 23:11).
“Sabar” menahan diri tidak gegabah, tetap menguasai diri dalam terang Firman Tuhan, sebab akan tiba waktunya kita menerima buah dari kesabaran kita. “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota” (Amsal 16: 32)
“Bersyukur” atas apapun yang ada dalam hidup kita, sebab bersyukur akan membuat kita mampu melewati hal yang sukar, bersyukur akan membuat kita senantiasa memandang Allah dan menjauh dari ketakutan, sebagaimana Paulus mengatakan: “Mengucap syukurlah dalam segala hal” ( 1 Tes. 5: 18).
“Bersukacita” adalah sikap kita merespon atas apapun yang terjadi, sebab sukacita tidak datang dari perasaan atau pikiran kita tetapi sukacita adalah sinar dari iman yang menyinari hidup kita. “Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan, sekali lagi kukatakan: bersukacitalah” (Filipi 4:4).
Penerapan 1. Siapakah Yesus Kristus? Kolose 1:15-20 menerangkan bagi kita siapa Dia: a. Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (1:15) b. Ia adalah yang sulung dari segala ciptaan (1:15) c. Oleh Dia segala sesuatu diciptakan (1:16) d. Ia adalah Kepala tubuh, gereja (1:18) e. Ia adalah yang pertama dari semua yang dibangkitkan (1:18) f. Kepenuhan Allah tinggal di dalam-Nya (1:19) g. Melalui Kristus, Allah berkenan mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya (1:20) 2. Kematian Kristus membuka jalan bagi kita untuk datang kepada Allah. Salib membuka jalan yang terhalang dosa sehingga kita tidak mendapatkan persekutuan dengan Allah.
Amen