Kamis, 17 November 2016

Khotbah Minggu 13 Nopember 2016 BAGIMU AKAN TERBIT SURYA KEBENARAN DAN KESEMBUHAN Maleakhi 4:1-2 (Baca 1-6)



Nama Maleakhi berarti "utusanku"; nama ini mungkin menjadi singkatan dari "Malakhiah" yang artinya "utusan Tuhan". kepribadiannya sangat tampak dalam kitab ini. Dia adalah seorang Yahudi saleh yang tinggal di Yehuda masa pascapembuangan, rekan sezaman Nehemia, dan sangat mungkin seorang imam nabi. Kepercayaannya yang kokoh akan perlunya kesetiaan kepada perjanjian (Mal 2:4,5,8,10) dan yang melawan ibadah yang munafik dan tak bersungguh-sungguh (Mal 1:7--2:9), penyembahan berhala (Mal 2:10-12), perceraian (Mal 2:13-16), dan mencuri persepuluhan dan persembahan yang menjadi milik Allah (Mal 3:8-10) semua ini menunjuk kepada seorang yang memiliki integritas teguh dan pengabdian kuat kepada Allah
Nabi Maleakhi mendapat pernyataan Tuhan tentang hari Tuhan atau Kedatangan Tuhan yang kedua kalinya, dikatakan “Bahwa sesungguhnya hari itu datang, menyala seperti perapian, maka semua orang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik menjadi seperti jerami dan akan terbakar …..” (ay 1). Tuhan mengingatkan orang-orang “gegabah” dan “yang berbuat fasik” ( sombong dan jahat) atau tidak teliti dan tidak jadi pelaku Firman akan dibuang dan yang lain akan diselamatkan
HARI ITU DATANG. Nas : Mal 4:1
"Hari itu" mengacu kepada kedatangan Kristus yang pertama dan kedua kali. Sang nabi berbicara seakan-akan kedua kedatangan tersebut terjadi pada saat bersamaan; perpaduan ini sering kali tampak dalam nubuat PL (lihat  Za 9:9-10).
Orang yang mengabdi kepada keangkuhan dan berbuat jahat dilarang masuk kerajaan Allah (bd. Mal 3:2-3; Yes 66:15; Zef 1:18; 3:8; 1Kor 6:9-11).
* KAMU YANG TAKUT AKAN NAMA-KU. Nas : Mal 4:2
Hari Tuhan juga berarti keselamatan dan pembebasan untuk semua yang mengasihi dan hidup bagi Dia. Di dalam kerajaan-Nya kemuliaan dan kebenaran Allah akan bersinar bagaikan matahari, serta membawa kepada umat-Nya yang setia kebaikan, berkat, keselamatan, dan kesembuhan yang tertinggi. Segala sesuatu akan dibetulkan, dan umat Allah akan berlompat-lompat karena sukacita bagaikan anak lembu yang lepas kandang. Dalam bagian ini Maleakhi membahas tentang hari / saat yang telah ia singgung dalam Mal 3:17.
 I) Apa yang akan terjadi pada hari itu?
 1)   Untuk orang yang tidak beriman (ay 1).
 Kata ‘gegabah’ ini salah terjemahan.
 arrogant (= sombong).
 Orang yang tidak beriman disebut ‘sombong’ karena:
·        merasa bisa hidup tanpa Tuhan.
·        merasa dirinya cukup baik dan bisa masuk surga dengan kekuatannya sendiri. Misalnya dengan berkata: ‘Saya tidak perlu percaya Yesus ataupun ke gereja; yang penting saya tidak men-jahati orang’ atau ‘yang penting saya berbuat baik’, dsb.
·        merasa dirinya lebih baik dari orang kristen.
Semua ini jelas adalah kesombongan!
 Untuk kata ‘fasik’:(= berbuat dengan jahat).
Orang tidak beriman disebut sebagai ‘pembuat kejahatan’, karena mereka memang tidak bisa berbuat baik, dan semua yang mereka lakukan dianggap jahat oleh Tuhan (Tit 1:15)!
Tetapi hebatnya, mereka ini bisa sombong dan merasa diri baik!
 b)         Hari itu digambarkan seperti ‘api’ (ay 1).
Dalam Kitab Suci, api sering menjadi simbol dari hukuman Allah (Mat 3:10,12  Mat 13:30  Mat 25:41  Yoh 15:6  Wah 21:8).
 c)         Orang-orang yang tak beriman itu digambarkan seperti ‘jerami’ (ay 1).
·        Mereka sombong, dan merasa dirinya baik, tetapi bagi Tuhan mereka seperti jerami!
·        Mereka seperti jerami, padahal ‘hari itu’ digambarkan seperti api. Tak heran kalau mereka dihabiskan sampai tidak ditinggalkan akar dan cabang (ay 1b).
 2)   Untuk orang yang beriman (ay 2-3).
 a)   Dalam ay 2 disebutkan tentang ‘orang yang beriman’ yang disebut sebagai ‘kamu yang takut akan namaKu’.
Artinya: mereka takut kepada Tuhan, mereka hormat kepada Tuhan, mereka takut berbuat dosa, mereka hormat, cinta dan tunduk pada Firman Tuhan, dsb.
 b)   Selanjutnya ay 2 mengatakan bahwa bagi orang yang beriman itu ‘akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya’.
·        Istilah ‘surya kebenaran’ ini jelas menunjuk kepada Kristus sendiri (Yoh 8:12).
·        Istilah ‘sayap’ mungkin menunjuk kepada sinar dari surya / matahari itu. Ini memberi ‘kesembuhan’. Ada yang mengartikan ini sebagai kesembuhan dari penyakit, tapi saya lebih setuju pada pandangan yang mengatakan bahwa ini menunjuk pada ‘damai’ (bebas dari kesukaran / malapetaka).

 c)   Lalu ay 2 melanjutkan dengan mengatakan ‘kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang’.Ini tentu tidak boleh ditafsirkan secara hurufiah (karena kalimat sebelum dan sesudahnya juga tidak hurufiah!), dan lalu dianggap menunjuk pada orang yang berjingkrak-jingkrak dalam gereja-gereja yang mengadakan Toronto Blessing. Ini adalah suatu penggambaran dari sukacita (anak lembu yang dilepaskan dari kandang memang berjingkrak-jingkrak saking senangnya).
Jadi, orang yang beriman sekarang memang menderita, tetapi pada ‘hari itu’ mereka akan bersukacita.

“Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Kamu akan keluar dan berjingkrak-jingkrak seperti anak lembu lepas kandang.” (Maleakhi 4:2). Lambang yang digunakan untuk pemulihan orang-orang benar pada hari TUHAN adalah “surya kebenaran” bagaikan matahari yang “sayapnya” (cahayanya) memiliki kekuatan memulihkan.
Kesetiaan dan intergirtas pada kehendak Tuhan adalah jaminan—“Kamu akan menginjak-injak semesta alam. orang-orang fasik, sebab mereka akan menjadi abu di bawah telapak kakimu, pada hari yang Kusiapkan itu” (Maleakhi 4:3) dalam artian jika kita menjadi pelaku kebenaran akan Firman Tuhan  maka segala bentuk intimidasi orang-orang fasik akan terinjak-injak menjadi abu di telapak kaki kita.
Mereka yang setia mengerjakan kehendak-Nya, meskipun mengalami penganiayaan luar biasa, jiwa dan keselamatan kita dijamin. Tuhan mengatakan, “Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang.
Sdr/i Yang dikasihi Tuhan; Orang-orang fasik dan gegabah ada juga di dalam kehidupan bergereja… banyak hamba Tuhan hanya mencari aman…berbicara firman Tuhan tapi tidak menjadi pelaku…banyak di antara kita memakai topeng dan hidupnya hanya di panggung sandiwara…tidak berani bicara jujur, adil dan apa yang benar harus dikatakan benar.
Banyak orang kristen menggunakan topeng…topeng itu adalah hidup bergereja yang mereka bangun dengan kemewahan yang mereka sangka aman ketika hari Tuhan akan datang . “Apa yang kamu lihat di situ akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”(Lukas 21:6). Banyak kepalsuan yang menina-bobokan kebobrokan moral.
Karya yang terbesar dan mencerminkan surya kebenaran adalah yang termulia  dan yang terbaik dari yang pernah disampaikan oleh seorang hamba Tuhan adalah melalui contoh hidupnya sendiri. Ralp Waldo Emerson berkata. Tidak ada seorangpun yang dapat berkotbah lebih tinggi dari suara tangisan terhadap contoh hidupnya sendiri. Sebuah contoh jauh lebih bernilai daripada kata-kata yang disampaikan dengan baik . Seorang hamba Tuhan adalah seorang yang bukan hanya ketika berada di atas mimbar tetapi akan lebih efektif juga cerminan didalam kehidupannya sehari-hari yang terlihat di depan mata jemaatnya menjadi surya kebenaran .
kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” (Lukas 21:18-19).
Orang-orang benar pada hari Tuhan akan bersukacita bagaikan anak lembu yang keluar dari kandang, berjingkrak-jingkrak menikmati kebebasan dan rumput yang luas.
Jadilah anak-anak terang yang  senantiasa berbagi beban di dalam terang Tuhan.  Terang kehidupan diberikan dengan limpah  yang  dihantar  oleh cahaya terang  Sang Surya Kebenaran itu. Kristus adalah Surya Kebenaran . Terang itu sudah datang dan berdiam dalam diri kita tetapi banyak  manusia bersembunyi dan bercengkrama dalam kegelapan.
Orang Kristen sejati adalah perwakilan hidup dari kebenaran yang ia akui. Mereka mengikuti terang tatkala menerangi jalan mereka, tanpa peduli dengan akibatnya. Tuhan adalah Surya Kebenaran berada di pihak mereka melakukan kehendak-Nya dan Dia tidak akan pernah meninggalkan mereka.
Amin RHL



Rabu, 02 November 2016

Khotbah Minggu 06 Nopember 2016 Lukas 20: 27-38 Thema: Memberikan Hak Allah



Kaum Farisi adalah suatu kelompok keagamaan. Mereka ini tidak memiliki ambisi politik, melainkan lebih fokus dengan masalah keagamaan dan pelaksanaan ritus-ritus liturgi sesuai hukum-hukum agama Yahudi. Kaum Saduki adalah kelompok kecil yang biasanya beranggotakan para imam dan aristokrat. Mereka ini, biarpun kelompok kecil, biasanya merupakan kelompok berpengaruh, karena pada umumnya mereka kaya. Mereka juga biasanya terlibat persekongkolan dengan pemerintah yang berkuasa, termasuk pemerintah Romawi yang menjajah daerah Palestina pada masa itu.Kaum Farisi menerima Kitab Suci ditambah dengan semua peraturan dan hukum-hukum keagamaan yang tertulis maupun lisan, misalnya hukum tentang Sabbat dan tentang aturan mencuci tangan. Kaum Saduki hanya menerima hukum yang tertulis, yakni hanya Kitab Suci Perjanjian Lama. Perjanjian lama yang mereka terima juga lebih terbatas pada hukum Musa dan tak peduli dengan kitab para Nabi.Kaum Farisi percaya pada kebangkitan sesudah kematian. Mereka juga percaya akan malaikat dan roh-roh. Kaum Saduki tidak percaya pada kebangkitan dan malaikat serta roh-roh. Kaum Farisi percaya pada nasib serta yakin bahwa hidup manusia tergantung dari rencana Allah. Kaum Saduki percaya pada kehendak bebas yang tak terbatas. Kaum Farisi percaya dan berharap akan kedatangan Mesias. Kaum Saduki tidak percaya dan tidak mengharap kedatangan Mesias, sebab itu bisa mengganggu posisi mereka yang makmur. Dengan latar belakang seperti itu, kita bisa memahami alasan kaum Saduki datang pada Yesus dan mencoba membenarkan keyakinan mereka tentang tidak adanya kebangkitan, menggunakan logika mereka. Sebagai kaum imam mereka tahu hukum perkawinan Yahudi, yakni kalau sesorang laki-laki yang sudah punikah meninggal tanpa anak maka saudaranya yang lain harus menikahi iparnya tersebut untuk melanjutkan keturunan saudaranya yang telah meninggal (Ulangan 25: 5). Kaum Saduki yakin sekali bahwa ini merupakan hukum yang mengikat, sebab terdapat dalam Kitab Musa.Yesus memberi keterangan bahwa sebaiknya jangan membayangkan bahwa hidup sesudah kehidupan di dunia ini akan sama saja. Surga dan dunia jauh berbeda. Yesus memberi jawaban yang luar biasa benar dan sah untuk selamanya. Yesus memberi keterangan bahwa kehidupan di surga itu (Ilustrasi: Na sarupa ma dirimpu halak batak di surgo dht portibi on; Gabe naeng mamboan Mast u Surgo)
 merupakan kehidupan yang kekal, tak berakhir. Di sana tidak ada kawin dan mengawinkan. Kehidupan di sana bagaikan hidup para malaikat. Dan karena yang bertanya adalah kaum Saduki yang begitu menghormati hukum Musa,maka Yesus juga mengutip dari Keluaran 3: 1- 6 tentang “pertemuan Musa dengan Allah” di bukit pada sa at Musa melihat semak berapi tetapi takterbakar. Menurut Yesus, Musa sendiri percaya pada kebangkitan, sebab ia memanggil Allah sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub.
Ev. Lukas 20:27-38. Sokrates pernah berkata, “hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak layak dihidupi”. Dalam kalimat tersebut, mengandung makna yang sangat dalam, yang mengatakan kepada kita, bahwa setiap manusia perlu ada waktu untuk berdiam sejenak dan berpikir tentang segala sesuatu dalam hidupnya, baik yang pernah dialami, maupun kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada masa depan dalam kehidupannya. Refleksi yang dalam dan rutin (saat teduh) akan menghantar kita pada suatu titik yang penting, di mana titik itu akan menjadi fokus kehidupan kita, bahkan menjadi kekuatan, dan menuntun kita untuk melakukan sesuatu dengan mengerti tujuannya. Istilah Rick Warren dalam hal ini, adalah, “kehidupan yang digerakkan oleh tujuan”. Dalam pembacaan Minggu ini, Mazmur Daud dalam pasal 17:1-9; merupakan bagian-bagian ayat yang ditulis oleh orang-orang yang memiliki hidup reflektif yang kuat, dan jelas dalam kisah-kisahnya, mereka dalam hidup ini digerakkan oleh sebuah tujuan yang jelas dan terfokus. Yaitu Allah sebagai “the first”. Itulah sebabnya, ketika segala macam kondisi dan masalah yang sedang melanda (Ayub dan Mazmur 17:1-9), dan akan melanda (2 Tesalonika 2:1-5;13-17), para tokoh Alkitab tetap teguh pada pengajaran yang benar yang telah mereka terima dari para nabi dan rasul . Pada bagian Injil Lukas 20:27-38, Yesus pun memakai fokus, “the first” itu untuk menjawab pertanyaan orang Saduki yang tidak memiliki landasan teologia yang jelas. Yesus memakai frasa pada Lukas 20:38 yang persis sama dengan Ayub 19 : 25, yaitu, “Tuhan itu hidup.” Inilah teologia yang jelas dan merupakan hasil refleksi Daud, sehingga ketika masalah dalam hidupnya datang, dia mencari Allah yang hidup, dan ketika kedurhakaan akan datang, Paulus menasehatkan jemaat Tesalonika untuk tetap berpegang pada iman kepada Tuhan sebagai sumber segala sesuatu yang benar, atau kebenaran itu sendiri. Refleksi di atas mengajak kita untuk memiliki fokus hidup, di tengah-tengah dunia yang kompleks ini. Bukan hanya bersiap –siap menghadapi pengajaran yang sesat, tetapi juga sebagai perisai dalam menghadapi kesesakan atau pergumulan hidup. Bersama dengan Allah, kita hidup, sebab Dia adalah Allah “orang hidup” Sdr/I Yang dikasihi Tuhan Yesus..! 1. Sikap iman kepada Allah yang hidup menentukan keselamatan. Keselamatan merupakan anugerah dari Allah, bukan hasil usaha dari manusia. Kita telah memperoleh anugerah iman. Melalui iman, kita diperkenankan untuk melihat karya Allah yang berkenan menebus kita dari kuasa dosa sehingga kita diselamatkan. Bagi kita, kematian dan kebangkitan Kristus merupakan jawaban atas pertanyaan, bahwa apakah nanti akan ada kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Sebab melalui Kristus, kita ditebus oleh kuasa darah-Nya sehingga kita dibebaskan dari kuasa dosa dan maut. Di dalam Kristus tersedia hidup kekal yang memampukan kita untuk bersatu dengan Allah yang hidup. 2.Dia Adalah Allah Orang Hidup, Demikianlah Kita Hidup Di Hadapan Dia. Atau ini adalah pilihan yang lain: bahwa Allah adalah Allah orang hidup. Itulah yang dikatakan Kitab Suci, bahwa sesungguhnya Dia akan membangkitkan bukan hanya orang-orang percaya, tetapi bahkan orang-orang yang tidak percaya akan dibangkitkan untuk menghadap penghakiman. Itulah yang diajarkan Kitab Suci. Setiap orang akan mati, tetapi setiap orang akan dibangkitkan untuk menghadapi penghakiman Allah. Tidak ada yang dapat lolos dari penghakimanNya. Sebenarnya, Dalam Lukas 20:38, pernyataan yang sama dibuatnya. Inilah yang kita baca di sana: "Sekarang Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup; sebab di hadapan Dia semua orang hidup." Apakah artinya, "di hadapan Dia semua orang hidup"? Pernyataan ini, dalam kasus datif bahasa Yunani, berarti bahwa setiap orang hidup oleh kuasaNya dan hidup memberi pertanggungan-jawab kepada Dia. Setiap orang hidup bagi Dia. Pernyataan ini, singkatnya, menyimpulkan kenyataan bahwa segala sesuatu dari kehidupan ini berada dalam tangan Allah. Hidup anda ada di dalam tangan Tuhan. Hidup dalam Tujuan Allah Untuk menghargai kasih karunia Allah sebagai ciptaan baru dalam Kristus Yesus, hidup kita harus punya tujuan yaitu untuk melakukan segala hal yang baik. Tujuan Allah dalam hidup kita harus JELAS dan KUAT dan JANGAN PUTUS ASA meskipun belum kita capai.. Tetap percaya rencana/tujuan Allah pasti tergenapi dalam hidup kita (Yes 55:8-11) (Yes 55:8) Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. (Yes 55:9) Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yes 55:10) Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, (Yes 55:11) demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.Amen
Illustrasi: 1. Percaya akan Mujijat Tuhan msh sama hari ini…. 2. Vocus Kpd Pengharapan jgn masalah

Khotbah Minggu 30 Oktober 2016 Bertobat Lebih Baik dari Mempersembahkan Korban Yesaya 1: 10- 18 Epistel: Lukas 19: 1-10



Kita ketahui bahwa kitab Yesaya adalah kitab yang menekankan “kekudusan Allah” dengan tujuan mengingatkan umat Israel bahwa mereka harus menyembah Tuhan Allah saja, serta berbuat sesuai dengan sifat kekudusan-Nya itu. Salah satu yang disoroti oleh Yesaya adalah upacara-upacara ibadah yang dilakukan umat pada saat itu dan bagaimana sikap mereka kepada sesama manusia. Dalam pembahasan ini kita akan melihat bagaimana Yesaya melihat ibadah Israel dan sikap hidup mereka, khususnya dalam Yesaya 1:10-18.
Hubungan Yesaya 1:10-20 Dalam Keseluruhan Kitab
Dalam pemberitaannya, nabi Yesaya sangat menekankan pemahaman tentang Allah sebagai “Raja Israel” dan “Allah adalah Yang Maha Kudus”. Namun setelah Allah memilih Yesaya sebagai nabi, Yehuda mengalami krisis politik yang sangat hebat sehingga umat Allah hidup dalam ketidakadilan, kekerasan dan ketidakjujuran (Yes 1:14, 21-23). Yerusalem yang dahulu sangat dibanggakan sebagai kota hukum yang baik, yaitu di mana umat Allah hidup dalam kebenaran, kejujuran, adil dan kesetiaan kepada Allah, tapi sekarang mereka meninggalkan itu semua, umat Israel sudah melupakan Allah. Mereka tidak peduli lagi kepada Allah, nilai-nilai kemanusiaan mereka abaikan. Keadaan inilah yang mendorong Yesaya untuk menyampaikan pesan Allah bahwa umat Israel akan ditimpa malapetaka yang dahsyat. Pasal 1 merupakan pendahuluan untuk seluruh kitab Yesaya. Pasal 1 secara singkat berisi mengenai ratapan mengenai kekerasan hati Yehuda dan panggilan untuk bertobat
Ayat 10
Di dalam menghadapi krisis bahaya yang dilukiskan dalam ayat-ayat 5-9, mereka yang berada di Yerusalem memperbanyak korban-korban dan perayaan-perayaan religius untuk mendapatkan keselamatan. Mungkin TUHAN masih dapat dipengaruhi dengan segala kesibukan religius itu, lalu menolong mereka. Inilah pandangan secara agama kafir yang hanya memperhatikan soal-soal lahiriah saja, formal saja. Maka mereka kini dipanggil oleh nabi untuk mendengar “firman TUHAN” yang akan menyadarkan mereka dan membuka segala kedok kemunafikan mereka dan untuk mendengar “pengajaran Allah kita”, agar mereka menginsyafi kebodohan mereka dan bertobat dari segala praktik-praktik dan pemikiran-pemikiran yang berasal dari “Allah kita”. Mereka itu disebut di sini “para pemimpin (penghulu) manusia Sodom” dan “manusia Gomora”. Sodom adalah lambang untuk menggambarkan dunia dalam pemberontakannya terhadap Allah melalui kehidupan yang penuh kejahatan dan perbuatan asusila, serta untuk melambangkan murka Allah terhadap kejahatan tersebut.
Marilah, baiklah kita berperkara! -- firman TUHAN -- Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.
Tuhan angkat bicara “Marilah, baiklah kita berperkara!”. “oops..! apa yang sedang terjadi?” Bahkan mereka sudah disamakan dengan manusia Sodon dan Gumora. Sepertinya Tuhan sedang marah besar. Tentu ada penyebabnya.
Selidik punya selidik, ternyata ada yang salah tentang perilaku mereka di bait Allah dengan kenyataan kehidupan mereka. Begitu tingginya kesenjangan antara praktek ibadah dengan kenyataan hidup yang mereka jalankan. Sungguh tidak ‘nyambung “jauh panggang dari api”, terjadi kesenjangan “bagai bumi dan langit”.
Perlakuan mereka datang ke bait Allah layaknya seperti membayar premi asuransi dengan perlindungan total. Selama bait Allah ada diantara kita, selama persembahan yang terbaik diberikan dan menjalankan ritual keagamaan, maka semuanya akan baik-baik saja kita akan mendapatkan keselamatan. Demikianlah anggapan mereka tentang Tuhan.
Ternyata, mereka datang ke bait Allah hanya bermodalkan “kebiasaan”, hanya sekedar memperpanjang masa asuransi. Padahal sesungguhnya yang terjadi adalah mereka datang dan pergi ke bait Allah tanpa membawa apa-apa dan tidak pergi dari bait Allah tanpa membawa sesuatu yang berguna bagi hidup mereka. Yang mereka bawa datang ke bait Allah tidak lain hanyalah tubuhnya dan persembahan yang tidak berguna itu, tetapi tidak membawa dirinya.
Yang Tuhan inginkan bukan korban persembahan yang terbaik itu, tetapi dirinya yang penuh dosa itu untuk diampuni supaya mereka pulang dari bait Allah juga dapat pulang membawa pembaharuan dalam hidupnya. Tetapi itulah yang terjadi, bagaimana mereka datang, seperti itu jugalah mereka pulang, tidak ada yang berubah.
Apakah Tuhan sebodoh yang mereka pikirkan? Sehingga mereka dapat mempermainkan Tuhan? Apakah Tuhan tidak mengetahui apa yang mereka perbuat? Kejahatan dan ketidakadilan yang mereka perbuat. Kedatangan mereka ke bait Allah tidak lain hanya mengotori bait Allah dan membuat Tuhan semakin murka atas sikap mereka.
Maka Tuhan ingin berperkara dengan mereka di depan pengadilan. Maka dapat dipastikan bahwa mereka sudah kalah telak. Sebab dikatakan dosanya sudah seperti warna Kirmizi dan kain kesumba yang tidak dapat luntur. Maka seharusnya tidak ada lagi jalan selain dari hukuman dijatuhkan atas mereka.

Namun, Tuhan ingin berperkara bukan untuk melakukan penghukuman jika mereka mau “membersihkan diri”; “Berhenti berbuat jahat”; “belajar berbuat baik” dan mau datang untuk dikuduskan Tuhan. Walaupun kelihatannya Tuhan sedang marah, tetapi yang Tuhan mau lakukan adalah supaya mereka dapat tampil dihadapan Tuhan tanpa ada sesuatu yang ditutupi dan mengakui segala dosanya.
Yang Tuhan perlihatkan adalah kasihNya, yang dapat mengubah kehidupan kita menjadi baik, mengubah kehidupan yang “merah” karena dosa menjadi “Putih” bersinar seperti salju dan hangat seperti bulu domba. 
Jika kita sudah dapat memahami nas ini, maka patutlah kita merenungkan:
1.       Jika kita datang ke gereja, maka apakah kita hanya bermodalkan “kebiasaan” dan “rutinitas”? Apakah kita datang dan pergi dari Gereja tanpa ada yang mau di ubah dan tanpa ada yang akan berubah? Yang mau kita bawa ke hadapan Tuhan adalah diri kita, yaitu diri yang terbuka dan mau untuk di ubah Tuhan.
2.      Dosa akan memisahkan kita dari Tuhan, sekalipun kita datang kehadapanNya di dalam doa dan ibadah.
3.      Sebesar apapun dosa kita, namun karena kasihNya yang besar Dia tetap memanggil kita untuk mau diubah dan disucikan.
Kita sering mendengar kata "tobat" dan "bertobat". Apa yang dimaksud dengan kata Tobat ini?
Tobat dalam kamus Bahasa Indonesia berarti: sadar dan menyesal akan dosanya dan berniat akan memperbaiki tingkah laku dan perbuatannya.
Dalam bahasa Ibrani tobat diartikan “Syub”: membalikan diri, memalingkan diri, kembali. Kata “Syub” memang tidak berarti apa-apa kalau tidak diikuti oleh kata “Nakas” yang berarti menyesal. Sedangkan dalam bahasa Yunani adalah "Metanoia", artinya berubah di dalam atau juga bisa diartikan secara bebas, berubah dari dalam.
Jadi orang yang bertobat adalah orang yang berbalik kepada Allah, berubah pikirannya dari yang jahat kepada kebaikan. Orang yang bertobat bukan takut akan hukuman, bukan juga karena pengaruh lingkungan, bukan pula takut akan akibat-akibat dosa itu, bukan pula takut akan merosotnya derajat di mata manusia. Tetapi yang menyebabkan kepedihan hatinya sedalam itu ialah bahwa ia telah memedihkan hati Allah, bahwa ia telah menyinggung hati Allah, bahwa ia telah merusak hubungannya dengan Allah. Pendek kata, orang yang bertobat adalah orang yang mau berdamai dengan Allah.
Sebagai tanda bahwa orang itu mau berdamai dengan Allah:
1. Ia menyesali dosanya dengan tulus hati (Mazmur 51:6)
2. Ia mengakui dosanya (Lukas 15)
3. Ia membenci dosa serta menjauhkan diri dari dosa.