Rabu, 07 September 2016

Khotbah Minggu POUK KP 11 September 2016 Yohanes 14:12-14; 1 Kor 1: 26



Thema: Membangun Keluarga Yang Takut Akan Tuhan (Thema bln Sep)
“Generasi Yang Melakukan Perkara Besar”

Keluarga adalah lembaga pertama dan yang tertua Allah ciptakan dalam dunia ini. Sebelum ada lembaga-lembaga lain seperti satu bangsa dan gereja, Allah terlebih dahulu menciptakan lembaga keluarga. Karena Allah mau semua lembaga-lembaga yang ada dibangun di atas keluarga yang benar. Keluarga adalah inti masyarakat yang terkecil. Sedangkan inti dari keluarga adalah pasangan  suami isteri.
Selanjutnya anak-anak adalah berkat yang Tuhan tambahkan dan berikan. Hubungan pasangan suami isteri adalah gambaran hubungan Kristus dengan jemaat, Efesus 5:32. Hubungan yang indah antara Kristus dengan jemaat, Allah gambarkan melalui hubungan suami isteri yang intim dan mesra, sehingga dapat dilihat oleh dunia ini.
Sehingga tidak heran sejak keluarga pertama yakni keluarga Adam dan Hawa menjadi sasaran utama dari serangan iblis. Sebab:
Satu keluarga memiliki dampak yang luar biasa.
Satu keluarga yang telah mengalami pemulihan dapat berdampak membawa pemulihan kepada satu komunitas.Satu komunitas yang telah dipulihkan dapat berdampak kepada satu kota.
Kota yang telah dipulihkan kemudian dapat berdampak kepada satu bangsa, yang akhirnya berdampak kepada bangsa-bangsa.
Semuanya diawali dari satu keluarga. Sebaliknya satu keluarga yang bobrok dan hancur juga dapat berdampak secara negatif kepada satu komunitas, kota, bangsa dan sampai kepada bangsa-bangsa. Pesan Tuhan yang begitu kuat pada hari-hari terakhir ini ialah: Aku akan datang segera.
Sebelum Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya, memang iblis bekerja ekstra keras untuk menghancurkan keluarga.
Sebab jika keluarga hancur dampaknya sangat luas ke berbagai aspek dalam bidang kehidupan masyarakat yang lain.
Berbagai cara dipakai iblis untuk menghancurkan keluarga, seperti mengaburkan fungsi atau peran orang tua, suami isteri.
Begitu banyak para orangtua tidak lagi melakukan perannya secara maksimal untuk mendidik anak-anak mereka.
Ulangan 6:4-9 Orangtua bekerja dari pagi sampai malam, sehingga anak bertumbuh sendiri. 
Kurangnya waktu bagi suami isteri curhat secara terbuka, demikian juga antara orangtua dengan  anak yang membuat ikatan emosional antara sesama anggota keluarga begitu rapuh. Apa yang harus dilakukan oleh tiap-tiap keluarga, pasangan suami isteri sebelum kedatanganNya kedua kali?
Setiap keluarga harus menjadi saksi Kristus, hidup intim dan kudus dengan Tuhan. Mengerti kehendak dan rencana Allah, dan inilah yg disebut Generasi Yg Melakukan Perkara
Besar.Dan Generasi ini akan Melakukan 3 Hal yg telah ditetapkan Tuhan:
1. A.Pola Allah untuk suami Allah menetapkan suami-suami sebagai imam, nabi dan raja. Sebagai imam, berarti suami bertanggungjawab memimpin mezbah keluarga dan merawat kerohanian setiap anggota keluarga. Sebagai imam, suami bertanggung jawab untuk mengerti apa pesan dan kehendak Tuhan bagi setiap anggota keluarganya. Sebagai raja, suami berarti sebagai pemimpin tertinggi, kepala dalam struktur satu keluarga. Suami sebagai penanggung jawab terakhir dalam satu keluarga. Sebagai kepala berarti siap menjadi contoh, panutan, teladan bagi seluruh anggota keluarganya. Apakah Anda sebagai suami telah menerapkan pola Allah tersebut?
B. Pola  Allah untuk isteri Allah menetapkan istri-istri sebagai penolong, pendamping dan penghibur. Penolong  bukan berarti lebih tinggi atau lebih rendah, tetapi sederajat. Kejadian 1:27. Tetapi Allah memberikan pengurapan sebagai penolong yang memiliki hal-hal khusus yang tidak dimiliki oleh pria.
C. Pola Allah untuk anak Anak-anak wajib menghormati orang tua dan menaati dalam segala hal. Keluaran 20:12, Efesus 6:1-3.  Menghormati mengandung pengertian, selalu bertanya kepada orangtua sebelum mengambil keputusan yang prinsipil. Tidak pernah bertanya kepada orangtua adalah salah satu pemberontakan anak terhadap orangtua. Tuhan telah memberikan otoritas bagi orangtua untuk mendidik anak, karena itu setiap anak belajar menghargai otoritas yang Allah berikan bagi orangtua.Apakah Anda sebagai anak telah menerapkan pola Allah tersebut? Setiap anggota keluarga perlu menyadari, bahwa keluarga berasal dari Allah, sehingga semua pola yang Allah tetapkan bertujuan agar apapun yang dilakukan atau dikerjakan semua harus bermuara untuk kemuliaan Allah. 
2.  Agar setiap anggota keluarga berbuah Sebab Tuhan telah memilih kita untuk menghasilkan buah. Yohanes 15:16 
A..Suami yang berbuah Kasihnya kepada Allah terus bertumbuh, mengasihi isterinya dan anak-anaknya walaupun ada hal-hal yang tidak disenangi, mudah memaafkan isteri, memberi teladan yang baik bagi seluruh keluarganya. Karakternya baik, komitmennya tinggi, kompetensinya bertumbuh.
B.Isteri yang berbuah Siap menundukkan diri dalam kepemimpinan suami dengan kelebihan dan kekurangannya, memaksimalkan potensi suami dan anak-anak, tidak membiarkan hatinya terluka, membangun rumahnya dengan bijak. Amsal 31:10-31 
C.Anak yang berbuahDalam kondisi yang bagaimanapun, selalu menghormati dan menaati orangtua.Suami, isteri dan anak yang berbuah memiliki karakter yang baik, komitmen yang tinggi terhadap keluarga dan kompetensi yang bertumbuh. 
3. Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup (Roma 12:1). Persembahan berarti harus ada korban. Tidak ada persembahan tanpa kurban. Suami, isteri dan anak dalam keluarga harus siap memberikan korban. Korban itu sesuatu yang tidak mudah,  Untuk menciptakan unity dalam keluarga, perlu pengorbanan, saling peduli, saling memaafkan tanpa hitung-hitungan. Mengasihi berarti siap terluka. Mengasihi berarti kadang dilukai dan melukai, tetapi siap mengampuni, kemudian cintanya bertambah dalam lagi. Itulah kehidupan. Tuhan Yesus akan datang segera, biarlah setiap keluarga semuanya siap menjadi saksi Kristus dengan menyadari bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, untuk Allah, bagi kemulianNya. Dengan karakter yang baik, komitmen yang tinggi dan kompetensi yang bertumbuh keluarga berbuah, sehingga dapat memberikan persembahan yang hidup bagi Dia.

 Kita tidak perlu ragu akan janji Allah dalam kehidupan kita. Apa saja yang kita minta di dalam nama Yesus pasti akan dikabulkan! Simpanlah janji ini di dalam hati kita! Yang perlu kita lakukan hanyalah menyembah Tuhan setiap hari dengan roh kita yang paling dalam. Rindukan agar Roh Kudus memenuhi kita lebih lagi, sama seperti dalam penglihatan Yehezkiel, mulai dari pergelangan kaki, naik ke pinggang, sampai akhirnya berenang.

Kata-kata Yesus bahwa kita akan melakukan pekerjaan yang lebih besar dari pekerjaanNya, jelas menunjukkan bahwa kita harus bekerja untuk Dia / melayani Dia!
Perbuatan besar yang telah Allah lakukan bagi kita umat-Nya.
1. Perbuatan besar yang telah Allah lakukan bagi kita umat-Nya.
Mengapa Allah melakukan perbuatan atau perkara besar bagi hidup kita umat-Nya? Ada bebera alasan mendasar Allah melakukan perbuatan atau perkara besar bagi hidup kita, yaitu: (a) Allah tertarik dengan kita umat-Nya. Pemazmur menulis demikian: "Supaya terluput orang-orang yang Kaucintai,..." - Mazmur 108:7a; (b) Allah menyatakan kuasa-Nya untuk memberi kemenangan bagi umat-Nya. Pemazmur mengungkapkannya demikian: "...selamatkanlah dengan tangan kanan-Mu dan jawablah aku" - Mazmur 108:7b; (c) Allah menggenapi firman-Nya supaya umat-Nya dapat bersukacita akan Dia. Pemazmur menulis demikian: "Allah telah berfirman di tempat kudus-Nya: "Aku hendak beria-ria, Aku hendak membagi-bagikan Sikhem, dan lembah Sukot hendak Kuukur" - Mazmur 108:8; (d) Allah membuktikan diri bahwa hanya Dialah satu-satunya penuntun dan penolong bagi umat-Nya. Pemazmur menulis demikian: "Siapakah yang akan membawa aku ke kota yang berkubu? Siapakah yang menuntun aku ke Edom?" - Mazmur 108:11.
2. Bersama Allah kita dapat melakukan perkara-perkara besar.
Dalam hal apa kita bisa melakukan perkara-perkara besar bersama Allah? Kita bisa melakukan perkara-perkara besar bersama Allah dalam hal, yaitu: (a) mengalahkan musuh itu adalah suatu pekerjaan besar yang dapat dilakukan umat Allah. Siapa saja musuh yang harus kita kalahkan bersama Allah? Musuh yang harus kita kalahkan ialah: (1) Iblis - Kisah Para Rasul 13:10; (2) cinta akan dunia ini - Yakobus 4:4; (3) diri kita sendiri - Amsal 16:18; (b) percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah suatu pekerjaan besar di mata Allah. Penulis Injil Yohanes menulis demikian: "Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah" - Yohanes 6:29

Senin, 22 Agustus 2016

"MEMBANGUN HIDUP YANG BERHASIL" “1 Korintus 3:11-12″




“Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami” I Korintus 3:11-12
Dalam Alkitab kita tercantum ada 202 ayat yang mengandung kata keberhasilan. Ini membuktikkan bahwa Allah serius ingin memberikan kita hidup yang berhasil. Jika Allah membuat kita berhasil, Ia ingin kita bukan hanya berhasil untuk diri kita sendiri, tetapi kita juga berhasil untuk membawa orang mengenal Tuhan. Dunia memiliki ukuran sendiri untuk menilai orang seperti apa yang nantinya akan berhasil. Menurut dunia orang yang miskin dan bodoh mungkin akan jauh dari keberhasilan. Tetapi tercatat ada orang-orang sukses di dunia yang dulunya dianggap bodoh. Beberapa diantaranya adalah: Thomas A. Edison, Beethoven, Abraham Lincoln, Bill Gates, dan Mark Zuckerberg. (I Korintus 1:27) 5 Langkah untuk mencapai keberhasilan :
1. MELETAKKAN DASAR YANG TEPAT (I Korintus 3:11-12)
 “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”à Orang yang bijak adalah orang yang tau meletakkan pondasi yang benar dalam kehidupannya. Jangan menggunakan kekuatan dan hikmat manusia sebagai dasar. Orang yang membangun iman diatas dasar Kristus adalah orang yang mengandalkan Allah. Maka bagi orang tersebut Allah menyediakan janji ini Yeremia 17:7-8 àDasar yang tepat adalah Yesus Kristus. Matius 7:24
Dasar kita harus tepat baru kita dapat berbuah bahkan di tahun-tahun kering. Jadilah pribadi yang bukan hanya tahu mengenai Firman Allah, tetapi juga melakukannya.
2. CARILAH PENASEHAT YANG BENAR (Mazmur 1:1-3)
Dalam Alkitab tersedia begitu banyak nasehat yang Allah berikan untuk keuntungan kita. Jangan sampai kita salah melangkah dan rugi besar hanya karena kita salah memilih penasehat. Dalam I Raja-raja 12 tercatat kisah mengenai Raja Yerobeam yang pada waktu itu memimpin kerajaan Israel, tetapi karena salah mendengarkan nasehat maka terjadi pemberontakan rakyat dan kerajaan Israel terbagi mejadi dua. Carilah dan dengarkanlah nasehat yang tepat. Apabila kita meminta nasehat dari orang yang mengenal Tuhan bukan hanya sekedar nasehat yang kita dapatkan tetapi minimal mereka akan berdoa untuk kita.
3. JANGAN MENCONTOH ORANG BERDOSA (Mazmur 1:1)
 tidak ada masa depan dan harapan bagi mereka.
àDalam Terjemahan sehari-hari ayat ini berbunyi: “Berbahagialah orang yang tidak mengikuti nasihat orang jahat, tidak mencontoh orang berdosa dan tidak bergaul dengan orang yang menghina Allah” bagaimana kehidupan orang berdosa yang tidak pantas kita contoh? Yaitu ketika mereka menjadi orang-orang yang tidak peduli dengan sesama, egois dan mementingan keuntungan diri sendiri, menipu dalam perdagangan dan bahkan menggunakan kuasa iblis untuk mendapatkan keuntungan. Jangan mencontoh mereka dan bahkan kita tidak perlu iri akan apa yang mereka peroleh Amsal 24:19-22 dan Mazmur 1:4-6
4. MENJAGA PERGAULAN (Mazmur1:1c BIS)
Pergaulan memiliki dua dampak dalam kehidupan kita:
- Pergaulan ita akan berdampak pada kehidupan jasmani kita. Pergaulan akan mempengaruhi pola pikir kita (I Korintus 15:33). Pergaulan akan membentuk kebiasaan, dan kebiasaan akan membentuk karakter, karakter akan menentukan masa depan kita. Jadi mari jaga pergaulan kita. Kita memiliki begitu banyak kegiatan gereja dalam sepekan untuk menjaga pergaulan kita tetap ada dalam lingkungan keluarga Allah. Karena itu mari terlibat di dalamnya!
- Dampak kehidupan rohani. Apa yang terjadi dalam roh terimpartasi dalam tubuh jasmani. Karena itu jika secara jasmani kita sudah tercemar maka pasti roh kita pun telah dicemari. Mari jaga kehidupan kita dengan menjaga pergaulan kita.
5. HIDUP DALAM FIRMAN TUHAN (Mazmur 1:2-3)
Orang yang berhasil dan diberkati adalah orang yang memiliki “kesukaan” akan firman Tuhan. Kesukaan sama dengan hobby/ kegemaran. Mari ganti hobby kita dengan merenungkan FirmanNya siang dan malam sehingga apapun yang kita kerjakan akan berhasil dan kita akan beruntung di setiap jalan-jalan kita.
Ketika Allah selesai menciptakan dunia dengan segala isinya, lembaga yang kali pertama Ia ijinkan untuk beroperasi adalah lembaga perkawinan. Alkitab mencantumkan begitu jelas "rules" untuk sebuah pernikahan. 
Lembaga perkawinan melahirkan sebuah keluarga. Itu sebabnya pernikahan merupakan kondisi normal atau keadaan alamiah yang mau tidak mau berlangsung dalam kehidupan semua umat manusia, tanpa terkecuali. Pernikahan merupakan hak asasi yang Tuhan berikan kepada semua umat manusia. Lembaga perkawinan merupakan suatu persahabatan atau suatu kesatuan yang jauh melebihi seks (Maleakhi 2:14). Pernikahan adalah suatu kesatuan sosial dan spiritual, juga kesatuan seksual. Pernikahan yang dibangun atas dasar hubungan persekutuan persahabatan, dimana suami-istri saling mengasihi dan mencintai akan jauh lebih kuat dibandingkan dengan pernikahan yang dibangun karena hubungan seksual. Pernikahan juga merupakan kesatuan yang tercipta dari suatu komitmen dari janji-janji yang timbal balik. Komitmen ini tersirat dari sejak mulanya di dalam konsep meninggalkan orangtua dan bersatu dengan istrinya (Maleakhi 2:14; Amsal 2:17). Allah adalah saksi atas suatu pernikahan. Dialah yang mengadakan pernikahan dan menjadi saksi atas janji-janji tersebut (Matius 19 :6). Mengapa seorang lagi-lagi dianjurkan menikah? Apa tujuan pernikahan menurut Allah? 
Pertama, Pernikahan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan emosional, "Tidak baik manusia seorang diri" (kejadian 2:18). 
Kedua, Pernikahan mempunyai tujuan sosial, ''Beranak-cuculah dan bertambah banyak..." (Kejadian 1:28). 
Ketiga, Pernikahan bertujuan mencegah imoralitas, "... tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah seorang laki-laki mempunyai istrinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri" (1 Korintus 7:2). 
Keempat, Pernikahan ditetapkan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan rohani, agar suami istri mengalami kepenuhan di dalam kasih Kristus (Efesus 5:22-23), serta memancarkan kasih-Nya kepada sekelilingnya.

Khotbah Minggu 14 Agustus 2016 Luk 12: 49-56 “Memilih dan Memutuskan Yang Benar Dalam Tuhan”



Ilustrasi: Bill Borden anak seaoarng Hartawan Kristen: (Band Ketika kita melihat awan gelap=hujan dsb)
Khotbah ini Hub dgn ISIS/Mesir yg membunuh isteri
Krn membaca Alkitab.

Yesus membawa pemisahan
Ay. 51 Bukan damai, melainkan pertentangan. Yudaisme merupakan agama keluarga di mana para penganutnya beribadah menurut kesatuan rumah tangga dan bukan perseorangan. Yesus sudah melihat sebelumnya bahwa pernyataan-pernyataan-Nya akan memisahkan keluarga dan akan mengharuskan dibuatnya keputusan pribadi.(Mengikut Yesus Keputusanku)
SEMUA orang senang hidup rukun, damai dan tentram. Sedapat mungkin menghindari ketegangan atau pertentangan. Kalau ada soal cepat-cepat harus diselesaikan atau dicarikan solusi. Suasana damai dan tentram harus dijaga.
Tetapi bagaimana Sabda Yesus hari ini: “Kamu sangka Aku datang membawa damai ke bumi? Bukan. Bukan damai, melainkan pertentangan. Karena mulai sekarang ada pertentangan antara lima orang dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan: bapa melawan putranya, dan putra melawan bapanya, ibu melawan putrinya, dan putri melawan ibunya, ibu mertua melawan menantu, dan menantu melawan ibu mertua-nya.”
Bahkan Tuhan Yesus masih menambahkan: “Aku datang melem-parkan api ke bumi dan betapa kudambakan agar api itu selalu menyala.”
Apakah makudnya ini? Apakah Yesus mau mengacaukan keluarga? Apakah Yesus mau mengacaukan masyarakat? Tentu tidak. Sebelum Yesus datang ke dunia masyarakat sudah kacau. Sebelum Yesus datang ke keluarga kita, keluarga kita juga sudah mengalami kekacauan, sebab kekacauan itu sudah melekat dalam hidup manusia.
Kekacauan dalam keluarga biasanya soal warisan, soal menantu, soal pengeluaran uang, soal menyekolahkan anak, soal biaya pengobatan dsb. Tanpa Tuhan Yesus suasana kacau sudah ada. Jadi kekacauan bukan karena Tuhan Yesus. Tuhan Yesus datang ke dunia ini membawa ajaran baru tentang Kerajaan Allah, tentang cintakasih dan tentang persaudaraan.
Dan api yang dilemparkan ke bumi adalah Roh Kudus. Dan Tuhan Yesus sudah sadar bahwa ajaran-Nya akan membawa pertentangan. Dengan lain kata Tuhan Yesus memang mengizinkan adanya pertentangan dimana-mana, tetapi bukan pertentangan siapa menang siapa kalah, bukan pertentangan soal kuasa, bukan pertentangan soal kekayaan, tetapi pertentangan untuk mencari kebenaran.
Sabda Tuhan Yesus adalah kebenaran dan hidup. Dan Roh Kudus yang dibawa oleh Tuhan akan membawa terang bagi orang yang menerimanya. Maka pertentangan itu terjadi karena ada orang yang sudah mau menerima penerangan dari Roh Kudus serta menerima kebenaran dari ajaran Yesus, berhadapan dengan orang yang menutup diri dari kebenaran.
Dalam masyarakat pun belum tentu hal yang baik di terima. Karena ada orang yang menolak hal yang baik, agar kejahatannya tidak kelihatan.
Ada orang menolak usulan yang baik, soal demokrasi, karena yang menolak itu dapat mempertahankan status mereka dan menggunakan kuasa untuk korupsi. Demikian pula dengan ajaran Yesus. Kalau dalam keluarga yang dicari adalah kehendak sendiri, bukan apa yang jadi kehendak Tuhan, maka pertentangan akan terjadi.

Percaya atau tidak!
Ketika kita melihat awan gelap mulai berarak, maka dengan mudah kita menyimpulkan bahwa hujan akan segera tiba. Menurut Yesus, mengambil kesimpulan bahwa Yesus adalah Mesias juga merupakan hal mudah, bila orang mau melihat berbagai perbuatan kemesiasan-Nya. Sama mudahnya seperti ketika orang melihat tanda-tanda cuaca dan kemudian menyimpulkan bahwa hari akan terang atau malah akan turun hujan (54-56).
Tetapi tetap saja banyak orang yang tidak mau atau tidak berani mengakui bahwa Yesus adalah Mesias. Padahal sebagai orang-orang yang hidup pada zaman Yesus, mereka telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri tanda-tanda ajaib yang Dia lakukan, yang membuktikan kemesiasan-Nya. Ini bisa terjadi karena mereka ikut-ikutan pendapat pemimpin agama mereka tentang Yesus. Padahal seharusnya mereka bisa mengambil kesimpulan sendiri tentang Yesus dan memutuskan bagaimana sikap mereka sebenarnya terhadap Dia yang mereka kenal secara pribadi (57). Karena bagaimanapun tiap orang akan dimintai pertanggungjawaban tentang hal itu. Berdasarkan hal itulah akan terjadi pemisahan yang membuat manusia terbagi ke dalam kelompok orang percaya dan yang tidak percaya. Bahkan dalam satu keluarga pun bisa saja terjadi pemisahan. Dan dampak lanjut dari pemisahan ini adalah kemarahan Allah yang akan menimpa mereka yang tidak percaya pada Kristus!
Kita yang hidup pada masa kini tidak lagi secara langsung melihat karya Yesus. Tetapi semua kisah itu dapat kita "lihat" melalui kesaksian Alkitab. Melalui Alkitab pula kita melihat bagaimana Tuhan menyatakan diri dan kebenaran-Nya. Maka setiap kita bertanggung jawab untuk memutuskan sikap kita pada Dia. Karena itu, belajarlah firman Tuhan dengan seksama. Niscaya Roh Kudus akan mengajar kita hingga sampai pada kesimpulan dan keputusan yang benar.
Pembicaraan lebih lanjut tentang penderitaan-penderitaan-Nya sendiri, yang sudah disadari-Nya, dan tentang penderitaan-penderitaan para pengikut-Nya, yang Ia ingin agar mereka pun terus menyadarinya dalam kehidupan mereka. Secara umum (ay. 49), "Aku datang untuk melemparkan api ke bumi." Sebagian orang mengartikan perkataan ini dengan pemberitaan Injil dan pencurahan Roh Kudus, api suci. Api ini dikirim Kristus dengan tugas untuk memurnikan dunia, untuk mengangkat sisa-sisa kotoran di dalamnya, dan untuk membakar sekamnya, dan api itu telah menyala. Injil sudah mulai diberitakan, dan sudah ada persiapan bagi pencurahan Roh Kudus. Kristus membaptis dengan Roh Kudus dan dengan api. Roh ini turun dalam lidah-lidah api. Namun demikian, dari perkataan selanjutnya, tampak bahwa api ini harus lebih dimengerti sebagai api penganiayaan. Kristus bukanlah penyebab dari penganiayaan ini, sebab penganiayaan terjadi karena dosa para pengacau, para penganiaya. Namun, Ia mengizinkannya, bahkan menugaskannya, sebagai api yang memurnikan untuk menguji mereka yang dianiaya. Api itu telah menyala dalam bentuk permusuhan orang-orang Yahudi yang tidak saleh terhadap Kristus dan para pengikut-Nya. "Betapakah Aku harapkan api itu telah menyala! Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera. Jika api itu telah menyala, apakah yang hendak Kuperbuat? Haruskah Aku menunggu sampai api itu dipadamkan? Tidak, sebab api itu harus melekat kepada-Ku dan kepada semua orang, dan dengannya Allah akan semakin dipermuliakan."
 Ia sendiri harus menderita banyak hal, Ia harus melewati api yang telah menyala ini (ay. 50), "Aku harus menerima baptisan." Penderitaan-penderitaan biasanya dibandingkan dengan api atau air (Mzm. 66:12; 69:2-3). Penderitaan-penderitaan Kristus adalah keduanya, api dan air. Ia menyebut penderitaan-penderitaan-Nya ini sebuah baptisan (Mat. 20:22), sebab Ia dibenamkan di dalam air atau diperciki dengan air, seperti Israel yang dibaptis dalam awan dan dibenamkan ke dalamnya, seperti Israel yang dibaptis dalam laut (1Kor. 10:2). Ia harus diperciki dengan darah-Nya sendiri, dan dengan darah musuh-musuh-Nya (Yes. 63:3).
Perhatikanlah di sini:
(1) Kristus sudah melihat sebelumnya penderitaan-penderitaan-Nya. Penderitaan itu adalah baptisan, bukan luapan air. Aku harus dibenamkan, bukan ditenggelamkan, di dalamnya. Ia menyebutnya dengan suatu istilah yang menguduskan segala penderitaan-Nya itu, sebab baptisan adalah nama yang menguduskan penderitaan itu, sebab baptisan adalah upacara yang kudus. Kristus dalam penderitaan-Nya mempersembahkan diri-Nya bagi kehormatan Bapa-Nya, dan menahbiskan diri-Nya sebagai imam untuk selama-lamanya (Ibr. 7:27-28).
(2) Keberanian Kristus dalam menghadapi penderitaan-Nya: "Betapakah Aku harapkan api itu telah menyala!" Ia rindu akan saat Ia harus menderita dan wafat, mata-Nya tertuju pada kemuliaan yang akan diperoleh dari penderitaan-penderitaan-Nya. Penderitaan-penderitaan Kristus adalah kesengsaraan jiwa-Nya, yang dengan senang hati dijalani-Nya, dengan harapan bahwa melalui penderitaan itu Ia akan melihat keturunan-Nya (Yes. 53:10-11). Betapa hati-Nya terpatri pada penebusan dan keselamatan umat manusia.
. Ia memberi tahu mereka yang ada di sekeliling-Nya bahwa mereka juga harus menanggung berbagai kesusahan dan kesulitan (ay. 51): "Kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi, untuk memberimu ketenangan dalam memiliki bumi, dan hidup berkelimpahan secara lahiriah di dalamnya?" Di sini tersirat bahwa mereka cenderung berpikiran seperti ini, malah bahwa mereka terus beranggapan demikian, bahwa Injil akan diterima di mana-mana, bahwa semua orang akan memeluknya dengan suara bulat dan bahwa oleh sebab itu mereka akan berusaha membuat para pengabarnya merasa tenang dan hebat, bahwa Kristus, kalaupun Ia tidak memberi mereka kemegahan dan kekuasaan, setidaknya akan memberi mereka kedamaian. Dalam hal ini mereka didorong oleh bacaan-bacaan dari Perjanjian Lama yang berbicara tentang kedamaian dalam kerajaan Mesias, yang hanya ingin mereka mengerti sebagai kedamaian lahiriah. "Tetapi," kata Kristus, "kamu keliru, sebab apa yang akan terjadi justru bertentangan dengan itu, dan karena itu janganlah kamu menghibur dirimu dengan gambaran Firdaus orang-orang bodoh. Kamu akan melihat":
(1) "Bahwa pemberitaan Injil akan mengakibatkan pertentangan." Rancangan Injil dan kuasanya yang benar memang untuk menyatukan anak-anak manusia satu dengan yang lain, untuk mengumpulkan mereka bersama-sama dalam jalinan kasih yang kudus, dan jika mereka semua mau menerimanya, maka itulah yang akan dihasilkan. Akan tetapi, nyatanya, ada orang banyak yang bukan hanya tidak mau menerima Injil, tetapi juga menentangnya, yang marah karena kejahatan-kejahatan mereka diusik olehnya, dan berang terhadap orang-orang yang menerimanya. Semuanya ini memberikan kesempatan, meskipun bukan penyebab, bagi adanya pertentangan itu. Ketika orang kuat dan bersenjata menjaga rumahnya, di dunia orang-orang bukan-Yahudi, maka amanlah segala miliknya. Segalanya serba tenang, karena semua orang menuju ke arah yang sama, para filsuf dengan berbagai aliran mereka dapat hidup rukun satu sama lain, begitu pula dengan para penyembah ilah-ilah yang beraneka ragam. Tetapi ketika Injil diberitakan, dan banyak orang diterangi olehnya, dan berbalik dari kuasa Iblis kepada Allah, maka timbullah suatu gejolak, suatu suara berderak-derak (Yeh. 37:7). Sebagian orang memisahkan diri mereka dengan memeluk Injil, dan ini membuat yang lain marah. Ya, bahkan di antara orang-orang yang menerima Injil akan ada berbagai pendapat dan perasaan yang berbeda dalam menanggapi perkara-perkara kecil, dan ini akan mengakibatkan pertentangan, yang diperbolehkan Kristus demi tujuan-tujuan yang kudus (1Kor. 11:18), yaitu agar orang-orang Kristen dapat belajar dan berlaku sabar satu sama lain (Rm. 14:1-2).
(2) "Bahwa pertentangan ini akan dialami juga oleh keluarga-keluarga, dan pemberitaan Injil akan menimbulkan perpecahan di antara kerabat-kerabat terdekat" (ay. 53): ayah melawan anaknya laki-laki dan anak laki-laki melawan ayahnya. Ini terjadi apabila yang satu menjadi Kristen dan yang lain tidak, sebab yang menjadi Kristen akan bersemangat untuk mempertobatkan yang lain dengan perkataan dan tindakan kasih (1Kor. 7:16). Paulus, segera setelah ia bertobat, bersoal jawab (Kis. 9:29). Orang yang terus tidak percaya akan merasa berang dan akan membenci serta menganiaya orang yang melalui iman dan ketaatannya bersaksi melawan dan mencela ketidakpercayaan serta ketidaktaatan mereka. Semangat fanatisme dan penganiayaan akan memutuskan tali persaudaraan dan kasih sayang yang paling kuat (lih. Mat. 10:35 dan Mat. 24:7. Amen