Senin, 22 Agustus 2016

Khotbah Minggu 21 Agustus 2016 POUK KOTAWISATA 1 Korintus 13;1-7 Thema; ‘Bila Tak Ada Kasih’




Kasih yang tiada taranya(Pem. Masuk ke Santo Agustinus).
Dalam kisah hidup Mahatma Gandhi tokoh pejuang bagi kemerdekaan India, yang terkenal dengan gerakan non kekerasan, suka pergi ke mana-mana dengan telanjang dada. Pada suatu hari, ketika ia mengunjungi sebuah desa, seorang gadis remaja merasa risih dengan penampilannya, lalu mendekatinya dan berkata: ”Mengapa kakek tidak mengenakan baju? Jika Kakek berkenan, saya akan minta kepada ayah saya untuk memberikan baju buat kakek. ”Jika kau mau memberi aku baju”, kata Gandhi, beri juga saudara-saudaraku yang lain. Jika tidak, mereka yang juga berpakaian seperti aku ini akan iri terhadapku, lalu akan bertengkar denganku.” kalau begitu, saya akan minta kepada ayah saya untuk memberikan baju buat semua saudara kakek,” jawab gadis itu. ”berapa jumlah saudara kakek? ”Tidak banyak, kok. Cuma empat ratus juta, jawab Gandhi sambil tersenyum. Mendegar jawaban Gandhi, gadis itu tersipusipu dan tidak tahu harus berkata apa. Saudara-saudara yang dikasihi oleh Yesus Kristus kesetiakawanan merupakan perbuatan luhur, tetapi berat karena menuntut pengorbanan. Oleh sebab itu, banyak orang mau mendapat nama karena melakukan kesetiakawanan, tetapi menghindari pengorbanannya. Pada hal satu hal yang dibutuhkan dari kasih adalah pengorbanan Kasih sebagai jatidiri orang Kristen Rasul Paulus menggambarkan betapa besarnya peran kasih dalam kehidupan ini. Sebagaimana Tuhan telah mengasihi kita tanpa henti-hentinya. Sebagai tanda kasih Tuhan kepada kita adalah Dia selalu mengampuni kita. Dalam 1 Korintus 13:1-13 ini Rasul Paulus menegaskan bahwa karunia yang paling utama yang harus dipraktekkan oleh setiap warga gereja untuk membangun tubuh Kristus adalah kasih. Semua karunia sehebat apa pun, akan menjadi sia-sia tanpa kasih dan tidak berguna bagi orang lain dan juga bagi diri sendiri.
 Siapa dari kita yang tidak seperti jemaat Korintus, menganggap penting karunia berkomunikasi, karunia nubuat, hikmat, iman, atau karunia berkorban dalam pelayanan? Bila kita sadar bahwa Yesus rela mengorbankan diri-Nya demi menebus kita maka kita merasakan kasih itu tidak terbatas Tuhan atas diri kita. Sebagai anak-anak Tuhan, kita pun seharusnya bisa merefleksikan kasih Tuhan yang tidak terbatas itu kepada orang lain. Kasih bukan saja salah satu dari ciri khas orang Kristen, tetapi jiwa dari jatidiri orang Kristen. Ketika kita memberi sesuatu dengan motif lain dan bukan berdasarkan kasih, hal-hal seperti di atas pun mungkin terjadi. Kasih sejati akan membuat kita memberi dengan sukacita, tanpa menyimpan apapun di balik pemberian, dan tidak mengharapkan apapun, bahkan ucapan terima kasih sekalipun (Ilustrasi: Suami ketok Pintu krn kemalaman). Kasih sejati adalah kasih yang tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih sejati tidak mengharapkan balasan, tidak pamrih, dan keluar dari hati sebagai ungkapan kasih kita terhadap orang lain. Semuanya itu penting bila berguna dan bila dilakukan dalam kasih dan digerakkan oleh kasih pula. Penekanan Paulus tentang kasih sebagai jiwa dan jati diri kekristenan kepada orang-orang Kristen di Korintus saat itu merupakan salah satu bentuk ungkapan yang memprihatinkan dirinya. Jemaat Korintus yang merasa dirinya memiliki karunia dari Tuhan, menjadi sombong dan mulai menganggap bahwa diri mereka lebih tinggi tingkatannya dibandingkan dengan jemaat yang tidak memiliki karunia tersebut. Kasih akan berkaitan erat dan terwujud dalam beberapa sifat yang mencerminkan sifat Kristus sendiri. Yaitu: kesabaran, kemurahan hati, tidak cemburu, tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri. Orang yang hanya mementingkan diri sendiri, berarti tidak memiliki kasih. Akan tetapi orang yang dihidupkan Kristus dan hidup bagi Kristus, itulah yang akan memiliki kasih. Karena itu Paulus memberikan ketegasan bahwa kepandaian berbicara, bernubuat, memiliki hikmat dan pengetahuan manusia jika tidak disertai kasih hanya akan menciptakan kegaduhan, dan membuat dirinya tidak berharga. Orang demikian tidak mencemburui kemajuan atau kemampuan orang lain, melainkan sambil memuji Tuhan dan mendorong kemajuan orang lain. Penekanan Paulus ini memberikan pelajaran penting untuk kita, orang-orang Kristen masa kini, yaitu bahwa kita adalah orang yang dihidupkan oleh Kristus dan bagi Kristus. Karena itu kitalah orang-orang yang akan memiliki dan menyatakan kasih Kristus itu dalam segala aspek kehidupan kita. Kasih adalah bahagian dari apa yang kita hidupi Sama seperti orang Kristen di Korintus, kita pun cenderung menganggap penting hanya hal-hal yang berdampak langsung. Pada hal yang utama dan yang terpenting sebenarnya ialah yang dampaknya lama bahkan abadi. Kasih mutlak untuk kualitas kehidupan di kalangan Gereja Kristen sendiri. Jauh melebihi nubuat, kesembuhan ilahi, hikmat, bahasa roh. Kasih itu abadi. Bahkan bila dibandingkan dengan iman dan pengharapan sekali pun, ternyata kasihlah yang abadi. Itu sebabnya kasih harus kita kejar, agar selalu menjiwai sikap dan tindakan kita dalam hidup dan pelayanan. Mengapa ? Kasih akan saudara-saudara perlu ditambah dengan kasih akan semua orang. Sebab kasih kepada semua orang adalah kasih kepada sesama manusia. Ini adalah hukum yang terutama yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus (Mat. 5:43-48; 22:39). Bagi orang percaya, kasih haruslah diwujudkan dalam tindakan nyata. Karena ada banyak orang hidup tanpa pernah merasakan kasih yang nyata. Tugas kitalah sebagai orang-orang percaya adalah untuk menyatakan kasih yang lain daripada yang lain kepada dunia yang membutuhkan. Selain itu kasih adalah pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan segala hal (Kol.3:14). Jadi kasih itu tidak boleh hanya bersifat eksklusif. Orang Kristen adalah garam dunia dan terang dunia (Mat. 5:13-16). Jadi kita harus memberi warna yang berbeda. Oleh sebab itu betapa hebatnya efek yang dihasilkan oleh hati yang penuh kasih itu. Kasih yang telah diterimanya dari Allah. Suatu ketika melalui pelayanannya, ibu Teresa menemukan bahwa penyakit terhebat abad ini adalah kurangnya kasih dan perhatian terhadap sesama. Tanpa kasih semua karunia yang hebat sekali pun menjadi sia-sia. Selanjutnya ketika ibu Teresa menerima hadiah nobel, beliau ditanya: "Apa yang dapat kita lakukan untuk mendorong perdamaian dunia? Jawabnya: "Pulanglah dan kasihi keluargamu". Oleh karena itu kasih kepada Tuhan dan sesama adalah perintah yang utama dan tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum tersebut. Hal ini juga berlaku sebagai dasar kepemimpinan dalam komunitas Gereja. Bahkan kalau kita membaca semua pesan dan perintah di Alkitab, maka kita menyadari bahwa semua perintah tersebut mempunyai dasar kasih, sehingga rasul Paulus mengatakan bahwa kalau seseorang dapat berbicara dengan semua bahasa manusia dan malaikat, dapat bernubuat, memiliki seluruh pengetahuan, memiliki iman, membagi-bagikan harta maupun menyerahkan diri untuk dibakar, namun tanpa kasih, maka semuanya menjadi tidak berguna. Jadi, kita dapat melihat supremasi kasih yang mengatasi segalanya. Agustinus seorang bapak gereja ternama mengatakan: ”jika seseorang memiliki kasih, maka orang tersebut dapat berbuat apapun”. Agustinus melihat betapa pentingnya posisi kasih itu. Kasih Tuhan lebih dari segalanya. Kasih seperti inilah yang menjadi dasar spiritualitas dari setiap pemimpin Kristiani. Kita percaya bahwa iman dan pengharapan bekerja bersamaan dan kasih itu melengkapinya. Iman akan Tuhan Yesus Kristus, akan menimbulkan pengharapan akan berkat, penyertaan, perlindungan, keselamatan, pertolongan, jawaban doa, kedatangan-Nya kembali, dan sebagainya. Kalau kita sudah beriman dan memiliki pengharapan, tentunya akan menjalankan apa yang diajarkan oleh-Nya. Tentu sekali ajaran yang paling penting adalah hukum kasih. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Kasih melengkapi iman dan pengharapan, dan dengan kasih kita dikenal sebagai murid-murid Kristus (Yoh 13:34-35). Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh. Kita harus hidup dalam kasih dan percaya akan kuasa Roh Kudus. Seorang yang dipenuhi Roh Kudus otomatis akan mencerminkan sifat kasih dalam kehidupannya sebab buah-buah Roh adalah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (Gal. 5:22-25). Di sini Paulus menekankan bahwa memiliki karunia Roh tanpa mempunyai kasih tidak berguna sama sekali. "Jalan yang lebih utama lagi" ialah menjalankan karunia rohani dalam kasih. Sebagai satu-satunya keadaan di mana karunia rohani dapat memenuhi kehendak Allah, kasih haruslah menjadi prinsip yang mengendalikan semua manifestasi rohani. Mereka harus dengan sungguh-sungguh menginginkan hal-hal dari Roh karena mereka dengan tulus ingin menolong, menghibur, dan memberkati orang lain dalam hidup ini. Karena itu, Paulus menasihati jemaat Korintus untuk "mengejar kasih itu dan berusaha memperoleh karunia Roh". Amen. RHL
I) “Kasih itu sabar” (1 Korintus 13:4)
Kata “sabar” dalam bahasa Yunani adalah kata kerja “makrothumeo” yang tersusun dari kata “makros” yang berarti “panjang” dan “thumos” yang berarti “kemarahan”. Dengan kata lain, “makrothumeo” berarti “perlu waktu yang panjang sebelum marah1"
2.Kasih itu murah hati” (1 Korintus 13:4)
Ciri lain dari kasih adalah murah hati. Kata kerja bahasa Yunani untuk “murah hati” adalah “chresteuomai” yang hanya dipergunakan di sini dalam Perjanjian Baru.  “chresteuomai” berarti menunjukkan chrestos diri yaitu kelembutan hati, kebaikan, kemurahan hati sekalipun tanpa dibalas sikap atau ucapan terima kasih
3. “Kasih tidak cemburu” (1 Korintus 13:4)
Kata “cemburu” yang digunakan dalam bagian ini adalah kata kerja bahasa Yunani “zeloo”. Kata bendanya adalah “zelos”. “Zeloo” dan “zelos” keduanya dapat dipergunakan dalam artian yang baik juga dalam artian yang buruk. Namun zelos dan zeloo paling sering digunakan dalam artian yang buruk. Dalam artian yang buruk zelos berarti iri hati, kecemburuan. Yakobus 3:14-16 menjelaskan akibat dan sumber kecemburuan:
 “Jika kamu menaruh perasaan iri hati [zelos] dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran! Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan. Sebab di mana ada iri hati [zelos] dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.”
4.“Kasih tidak memegahkan diri” (1 Korintus 13:4)
"BARANGSIAPA YANG BERMEGAH, HENDAKLAH IA BERMEGAH DI DALAM TUHAN”
5.Kasih itu tidak sombong (1 Korintus 13:4)
6.“Kasih tidak melakukan yang tidak sopan” (1 Korintus 13:5)
8. “Kasih tidak pemarah”(1 Korintus 13:5)
Kata yang diterjemahkan “pemarah” di sini adalah kata kerja bahasa Yunani “paroxuno” yang secara harfiah bermakna “mempertajam dengan cara menggosok di atas permukaan benda, menajamkan, mengasah, menghasut, menggusarkan”.
9. “Kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1 Korintus 13:5)
10. “Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan tetapi karena kebenaran” (1 Korintus 13:6)
Kata “ketidakadilan” adalah kata Yunani “adikia”. Artinya adalah: “apa yang tidak selaras dengan yang benar, apa yang tidak seharusnya; apa yang tidak seharusnya berdasarkan kebenaran yang telah terungkap; sehingga artinya adalah kesalahan, ketidakbenaran.” Segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran adalah ketidakbenaran.
11. “Kasih menutupi segala sesuatu” (1 Korintus 13:7)
Kata “menutupi” adalah kata kerja bahasa Yunani “stego”. Penggunaan khusus kata ini terdapat dalam 1 Korintus 9:12 di mana kita membaca Paulus dan rekan sepelayanannya, meskipun telah melakukan tanggung jawab yang besar, lebih memilih untuk tidak menggunakan hak mereka untuk memperoleh “penghidupan dari pemberitaan Injil” tetapi “menanggung [stego] segala sesuatu, 12. “Kasih percaya segala sesuatu” (1 Korintus 13:7)
Kata “percaya” adalah kata kerja bahasa Yunani “pisteuo” yang muncul 246 kali dalam Perjanjian Baru. Percaya secara alkitabiah berarti percaya pada apa yang telah Allah ungkapkan di dalam Firman-Nya atau melalui manifestasi roh-Nya
13. “Kasih mengharapkan segala sesuatu” (1 Korintus 13:7)
Hal lain yang Firman Alah katakan tentang kasih adalah bahwa kasih itu mengharapkan segala sesuatu. Sekali lagi, frasa “segala sesuatu” harus dipahami di dalam konteks yang lebih umum dari Firman Allah. Segala sesuatu di sini adalah segala sesuatu yang Firman Allah katakan.
14. Kasih sabar menanggung segala sesuatu (1 Korintus 13:7)
Akhirnya, kita belajar bahwa kasih itu sabar menanggung “segala sesuatu”. Kata “sabar menanggung” di sini adalah kata kerja “hupomeno”. Arti kata tersebut mirip dengan arti kata “makrothumeo” (sabar) 3. Kasih dalam 1 Korintus 13:4-7: Kesimpulan
Sebagai kesimpulan bagian ini, kita melihat bahwa kasih adalah sebuah produk dari berjalan di dalam natur yang baru, dengan kata lain, kasih dihasilkan apabila kita mengenakan dan memanfaatkan semua hal yang Firman Allah katakan tentang siapa kita dan apa yang dapat kita lakukan.

Minggu, 21 Agustus 2016

Khotbah Minggu 28 Agustus 2016 1 Joh 3: 18-24 “Menuruti PerintahNya Dan Berkenan KepadaNya”



Surat ini tidak memberitahukan kepada kita identitas penulisnya. Tetapi kalau membandingkan surat ini dengan Injil Yohanes, para ahli berpendapat bahwa penulis yang sama menulis kedua maha karya ini, ditilik dari gaya bahasa dan penulisan.
Menurut sejarah gereja, Rasul Yohanes tinggal di kota Efesus pada akhir hidupnya. Jadi ada kemungkinan besar Yohanes berada di Efesus waktu dia menulis surat ini. Kita tahu dari tradisi gereja bahwa Rasul Yohanes hidup sampai akhir abad pertama, sehingga kebanyakan ahli teologi berpendapat bahwa surat Yohanes yang pertama ini ditulis disekitar tahun 90.
Rasul Yohanes menulis tujuannya di dalam 1 Yoh.5:13 Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.
Rupanya ada banyak nabi-nabi palsu yang mengajarkan ajaran-ajaran mereka yang palsu dan menyesatkan banyak orang dari kebenaran. Dari apa yang ditulis Rasul Yohanes di dalam surat ini, kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa nabi-nabi palsu itu berasal dari satu golongan mula-mula yang dikemudian hari disebut “gnostik” dari kata bahasa Yunani yang berarti “pengetahuan.” Pada akhir abad I merebaknya sebuah ajaran sesat mengenai Kristus, yaitu dikenal dengan ajaran Gnostisisme (segala benda adalah jahat). Mereka menyatakan bahwa Yesus tidak mungkin Allah, dan ada yang mengatakan bahwa Kristus adalah manusia tetapi bukan Allah. Melihat situasi yang demikian maka Yohanes berusaha untuk mengembalikan kebenaran tentang Kristus, bahwa Yesus Kristus adalah Allah. Agar orang-orang yang sudah setia kepada Kristus pada saat itu dan sebagai anak-anak Allah tidak tersesat oleh ajaran tersebut. Karena Yohanes menyadari bahwa kaum Gnostis bukan orang-orang Kristen yang sejati dan Yohanes menegaskan agar anak-anak Allah yang sebenarnya bisa menunjukkan cirri-ciri sebagai anak-anak Allah yang sejati.
Penjelasan
Kalau umumnya kita mengenal "kasih" dengan membaca surat Rasul Paulus di 1Kor.13, maka bacaan kita kali ini merupakan penggalan dari ajaran "kasih" yang ditulis oleh Rasul Yohanes di 1Yoh.3.
Secara umum seluruh pasal 3 ini diberi perikop oleh Alkitab LAI sbb:
- 1Yoh.2:28-29 ~ 3:1-10 Anak-anak Allah
- 1Yoh.3:11-18 Kasih terhadap saudara sebagai tanda hidup baru
- 1Yoh.3:19-24 Keyakinan di hadapan Allah
Dari perikop ini, akan timbul pertanyaan ... keyakinan bagaimana di hadapan Allah?
Rasul Yohanes telah menegaskan bahwa orang percaya tidak berbuat dosa. Tanda yang nampak dari anak-anak Allah adalah kasih yang mereka lakukan. Namun, pada kenyataannya anak-anak Allah masih sering berbuat dosa. Misalnya, dengan tidak mengasihi saudara dan sesama manusia seperti Kristus mengasihi seluruh manusia. Jika demikian, apakah masih layak disebut anak-anak Allah? 
Jemaat kristus pada waktu itu mengalami apa yang dikatakan sebagai: "Tuduhan hati yang menyebabkan hidup menjadi tidak tenang". Mereka bergumul dengan orang-orang yang mereka benci karena orang-orang tersebut "jahat" dan akhirnya membuat mereka diliputi "keraguan" karena mereka sadar bahwa mereka tidak bisa melakukan apa yang Tuhan perintahkan untuk saling mengasihi (ay.18). Ketidak-mampuan untuk bisa saling mengasihi itulah yang membuat jemaat Kristus pada waktu itu mulai "menuduh hati mereka sendiri" bahwa mereka tidak pantas dan tidak layak" menjadi pengikut Kristus. Keraguan yang timbul inilah yang dimaksud Rasul Yohanes di dalam kalimat/frasa: "sebab jika kita dituduh olehnya," (ay.20) dan "jikalau hati kita tidak menuduh kita," (ay.21).
Uraian kali ini, akan menyorot tentang "keraguan" ini dan cara mengatasinya yang diberikan Allah melalui Rasul Yohanes.
1. Mengatasi Keraguan dengan Kasih terhadap sesama
1Yoh.3:18-19
3:18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.
3:19 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah,
Kasih bagi anak-anak Allah bukanlah kata benda atau kata sifat, tetapi "kasih" adalah kata kerja. Hanya dengan menjalankan kasih yag disertai tindakan saja, maka kita boleh mendapat ketenangan bahwa kita mendapat jaminan dalam Kasih Allah. 
Perkataan Kristus di Mat.5:16 (Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.) mendasari untuk bagaimana sebenarnya tindakan kasih anak-anak Allah seharusnya dilaksanakan dan bukan hanya diperagakan secara verbal/ucapan belaka.
2. Mengatasi keraguan dengan Kebesaran Allah.
1Yoh.3:20
3:20 sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.
Allah menghendaki domba gembalaannya mendapatkan "padang yang berumput hijau dan air yang tenang". Bukan hidup dengan kekuatiran dan ketidakpastian terhadap gembalanya. Perhatikan ucapan Kristus di Yoh.10-27-28 (10:27 Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, 10:28 dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.).
Perhatikan juga, bahwa tujuan Rasul Yohanes menulis surat ini adalah untuk menguatkan dan mengarahkan jemaat Kristus atas iman percaya mereka karena mereka dikacaukan oleh ajaran-ajaran palsu yang menyesatkan. Jadi, kemungkinan besar, ada pula ajaran-ajaran yang menyatakan bahwa "keselamatan diperoleh dari pengetahuan istimewa", juga bahwa keselamatan kita akan terluput karena kesalahan masa lalu, dosa orangtua kita, dll dsb. Dan hal ini menyebabkan keraguan atas keyakinan para pengikut Kristus.
Di sinilah Rasul Yohanes menguatkan dengan mengatakan, bahwa bila kita telah menerima Yesus sebagai Juruslamat kita, dan dengan saling mengasihi dalam perbuatan ~ maka walaupun ada keraguan dalam hati kita, tetapi Allah Maha Tahu tentang hati anak-anakNYA. bandingkan dengan Roma 8:1 Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.
3. Mengatasi keraguan dengan Iman Percaya
1Yoh.3:21-24
3:21 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah,
3:22 dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.
3:23 Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.
3:24 Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.
Keragu-raguan kita dapat kita atasi dengan:
- Iman Percaya terhadap kekuatan doa dengan hidup menuruti segala perintahNYA dan berbuat apa yang berkenan kepadaNYA (1Yoh.3:21-22)
- Iman Percaya dalam Yesus Kristus Anak ALLAH dan menjalankan perintah mengasihi yang diberikan Yesus Kristus. (1Yoh.3:23)
- Iman Percaya bahwa Roh Kudus yang adalah Allah berdiam di dalam kita (1Yoh.3:24) = Bandingkan dengan Roma 8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.
PENUTUP
Merangkum uraian di atas, maka pelajaran yang kita dapat kita ambil untuk kehidupan kita sekarang adalah:
1. Kasih adalah berupa tindakan yang diambil dalam kebenaran (ay.18). Kebenaran mana bersumber pada Yesus Kristus dan pengajaranNYA. Sehingga ketika kita mengenal kebenaran dalam ajaran Kristus, hati kita boleh tenang di hadapan Allah (ay.19). 
2. Allah lebih mengenal kita dari pada kita mengenal diri sendiri (ay.20). Oleh karena itu sepatutnyalah kita menyerahkan segalanya bukan kepada penilaian hati melainkan pada belas kasihan Allah. Betapapun kuat dan hebatnya suara hati menuduh, kita dapat menghampiri Allah yang penuh belas kasihan dan pengampunan. Inilah dasar keberanian kita untuk menghampiri Allah dan memohon pada-Nya (ay.21).
3. Ketika menghampiri Allah, kita harus menuruti segala perintah-Nya dan melakukan yang berkenan pada-Nya (ay.22). Ini merupakan bukti, bahwa kita memiliki relasi dengan Allah yaitu relasi yang dilandasi dan diwarnai dengan dan oleh kasih (ay.23). Sangat penting diperhatikan, bahwa ketulusan hati yang penuh kasih hanya muncul jika atau karena percaya sepenuhnya kepada Yesus Kristus.
4. Allah telah mengaruniakan Roh Kudus kepada kita (ay.24). Roh yang diberikan pada kita merupakan jaminan kuat bahwa kita adalah anak-anak Allah.

Khotbah Minggu 21 Agustus 2016 Yesaya 58:9-14, Thema: “Engkau Akan Menjadi Seperti Mata Air Yang Tidak Pernah Mengecewakan”


Pendalaman Nas:
 
Kalau kita memperhatikan pembagian kitab Yesaya, nas kita dikelompokkan pada bagian Trito Yesaya (Psl.55-66), yang menceritakan kehidupan bangsa Israel setelah pulang dari pembuangan Babel. Nas kita (Yesaya 58:4-14) merupakan kritikan terhadap ibadah umat Israel, dalam hal ini sehubungan dengan cara mereka berpuasa. Satu hal yang positif bahwa umat Israel sekembali mereka dari pembuangan Babil, mereka masih melakukan ibadah dengan rajin, rajin mengkaji kebenaran di dalam hukum Allah (ayat 2-3) dan juga rajin berpuasa tentunya dengan harapan besar agar Tuhan mengabulkan atau memberikan apa yang menjadi harapan mereka sebagai bangsa yang baru “merdeka” yakni untuk hidup sejahtera. Tidak disebutkan apakah puasa dilakukan secara bersama-sama (keseluruhan umat), secara kelompok atau pribadi-pribadi, juga jenis puasa yang dilakaukan dan lamanya berpuasa. Hal ini dikemukakan karena dalam Perjanjian Lama hanya ada satu praktek puasa yang ditentukan yaitu pada saat hari Pendamaian (hari pengampunan dosa – Im 16; 23:26-32). Saat itu, seluruh bangsa Israel merayakan hari itu dengan berpuasa dan beristirahat. Namun sebagaimana telah disebutkan bahwa praktek puasa sudah biasa dilakukan dalam kehidupan umat Israel sejak nabi Musa, baik secara perorangan (mis, 2 Samuel 12:22) mapun kadang-kadang secara bersama-sama (mis, Hakim 20:26; Yoel 1:14). Selain kewajiban hukum agama, biasanya ada dua alasan seseorang atau sekelompok orang berpuasa, yaitu: bukti lahiriah dukacita dan pernyataan pertobatan. Berpuasa juga kerap kali dilakukan dengan tujuan memperoleh bimbingan dan pertolongan Allah atau meminta kuasa dalam memerangi setan. Ada juga orang yang berpuasa demi orang lain. Apapun tujuannya, praktek puasa harus diikuti penyerahan diri kepada Tuhan yang tampak dalam kelakuan hidup yang baik. Sebab praktek puasa tanpa diikuti sikap hidup yang benar adalah sia-sia. Artinya doa mereka, harapan mereka tidak akan dikabulkan Tuhan (ayat 4b). Hal inilah yang dikeritik nabi Yesaya dalam perikop kita sebab nampak kecendrungan praktek puasa yang dilakukan umat telah merosot menjadi kebiasaan leglistik - sekedar upacara ritual tanpa penyerahan diri kepada Tuhan (bd. Zakaria 7:5), dan menjadi perilaku yang munafik (Matius 16:6) demi untuk membenarkan diri sendiri (Lukas 18:12). Puasa telah kehilangan maknanya. Itulah sebabnya dalam ayat 6-7 nabi Yesaya dengan keras menekankan arti puasa yang benar. Memang puasa dilakuakan dalam relasi antara manusia dengan Tuhannya, namun relasi dengan Tuhan itu seharusnya juga berdampak positif dalam relasi dengan sesama. Bila puasa demikian yang dilakukan, lebih dari yang diharapkan akan diberikan Allah kepada umatNya, juga diberikan kepada kita. Itulah janji yang terkandung dalam ayat 8-12: (a) Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu (kesehatan jasmani dan rohani). (b) Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! (hubungan yang mesra dengan Tuhan, diumpamakan hubungan bapa dan anak) (c) TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. (d) Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan "yang memperbaiki tembok yang tembus", "yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni". Renungan: "Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan" (Yes 58:9-58). Yesaya mengingatkan kita semua untuk tidak dengan mudah menyalahkan atau mencari kesalahan dan kekurangan orang lain, melainkan 'memuaskan hati orang yang tertindas'. Menyalahkan atau mencari kesalahan dan kekurangan orang lain merupakan bentuk penindasan yang halus. "Duduk di kursi tinggi sambil menggoyangkan kaki memang enak dan nikmat, namun kasihan mereka yang kena sepakan goyangan kaki', demikian kata sebuah pepatah. Para petinggi atau atasan sering berusaha menunjukkan kewibawaannya dengan menunjukkan kesalahan dan kekurangan bawahan atau anggotanya. Semakin menunjuk kesalahan dan kekurangan orang lain, maka pada giliran berikutnya pada umumnya semakin hebat menunjuk kesalahan dan kekurangan orang lain. Orang yang bersikap mental demikian pasti akan mengalami kekeringan atau frustrasi, serba tidak puas. Kita semua mendambakan kepuasan hati dalam cara hidup dan cara bertindak kita, maka baiklah kami ajak memuaskan hati orang tertindas. Maka baiklah dengan rendah hati kita dekati dan sapa saudara-saudari kita yang tertindas untuk memperoleh apa yang mereka dambakan, dan kemudian dengan jiwa besar dan hati rela berkorban kita tanggapi dambaan hati mereka. Semoga pepatah "jatuh tertimpa tangga" tidak menjadi kenyataan dalam diri saudara-saudari kita yang tertindas: hidup miskin, berkekurangan serta tertindas selalu dilecehkan dan diolok-olok atau bahkan digusur dari tempat mereka berteduh dengan kekerasan. "Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku. Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu. Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari. Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku." (Mzm 86:1-4). Amen. RHL

Sabtu, 23 Juli 2016

Khotbah Minggu 7 Agustus 2016 Kejadian 15 : 1 - 6 Thema: “Jangan Takut Akulah Perisaimu”




Pendahuluan
Dalam dunia kerajaan yang identik dengan perang, perisai biasanya dipakai sebagai senjata untuk menghadapi, melawan dan melindungi diri dari serangan musuh. Oleh karena itu kata “Akulah Perisaimu” yang menjadi thema kita ingin menekankan bahwa Allah akan menjadi senjata Abram dalam menghadapi dan melawan serangan-serangan musuh.
Bahagian pasal ini merupakan perjanjian Allah dengan Abram. Allah meyakinkan Abram bahwa allah akan tetap menyertai,melindungi dan memberkati Abram. Berkat yang dijanjikan Allah menimbulkan pertanyaan Abram,karena dia pada saat itu belum mempunyai anak (keturunaan),sedangkan dia dan istrinya sarah sudah lanjut usia.
Allah berkata kepada Abram bahwa berkat - berkat yang akan diterimanya bukan untuk elieser hambanya,tapi untuk anak nya sendiri yang akan lahir dari istrinya sarah.
Allah juga mengingatkan apa yang pernah dijanjikan Allah bahwa keturunannya seperti bintang – bintang dilangit. Walau janji Allah itu sulit diterima secara logika,tapi Abram percaya sehingga dia diterima Allah sebagai orang yang benar.

Khotbah:
Orang percaya sering kali mendapatkan dirinya berada di antara janji Allah dan pengalaman pribadinya sendiri, janji Allah sudah jelas, tetapi keadaan-keadaan tidak membawa kepada penggenapan janji itu.  Kegagalan dalam situasi ini bukan dipihak Allah, melainkan dipihak manusia. 
Apa yang berlaku bagi orang percaya sekarang ini berlaku juga untuk Abraham.  Allah telah memberikan janji yang luar biasa kepadanya, namun berbagai peristiwa, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang sedemikian mendalam dalam hatinya, sehingga ia mulai takut. Mengadakan perjalanan melintasi negri yang asing tidaklah mudah.  Kelaparan telah mendorongnya ke Mesir dan ia meninggalkan Mesir dengan perasaan malu ketika ia kembali ke Kanaan. 
Ia bertindak sebagai penengah dalam suatu pertengkaran yang hebat antara gembalanya dan para gembala Lot, penyerbuan raja-raja dari Timur, dan penawaran Lot juga telah mempersulit keadaan, sudah tentu Abraham sama seperti kebanyakan orang, bingung dan takut tentang berbagai keadaan-keadaan yang sulit.
Pada suatu keadaan Tuhan menampakkan diri kepada Abraham “dalam suatu penglihatan” dan ini merupakan pernyataan Allah yang kelima kepadanya, dan setiap kali Allah menampakkan diri selalu mengacu kepada suatu penglihatan yang diprakarsai oleh Allah.  Inilah sarana yang dipakai Allah untuk  berkomunikasi dengan Abraham serta meyakinkan Abraham bahwa dalam kesengsaraannya.   Allah adalah “perisai dan upahmu ….. Sangat besar ungkapan ini menyatakan bahwa Allah akan melindunginya dan juga akan menggenapi semua Janji-janji Allah kepadanya.  Tanggapan Abraham menunjukkan keprihatinan yang mendalam karena ia tidak mempunyai anak sebagai ahli waris.
Abraham bertanya kepada Allah” Apakah yang mewarisi rumahku adalah Beliezer orang Damsyik itu.?”  Disini Abraham sedang mengusulkan kepada Allah untuk mengadopsi anak.  Karena dengan tidak mempunyai anak dianggap sebagai kutukan oleh kaum wanita timur, tetapi yang lebih dirisaukan oleh Abraham yaitu ahli waris.  Laki-laki untuk mewarisi harta bendanya dan berkat-berkat dimasa depan yang dijanjikan Allah kepadanya.  Abraham menyimpulkan bahwa Ia dan Sarah sudah tidak mungkin lagi mempunyai anak, karena sudah tua.  Tetapi Allah tidak mau menggunakan cara ini (mengadopsi anak), untuk menggenapi janjinya kepada Abraham, Allah berkata “orang ini tidak akan menjadi ahli warismu”, yang menjadi  ahli warismu adalah anakmu sendiri bukan seorang hamba yang diadopsi.
Allah  melihat Abraham sedang mengalami kekecewaan dan kesukaran maka Allah menyuruh dia untuk melihat kelangit dan berkata “hitunglah bintang-bintang jika engkau dapat menghitunngnya” Allah menjanjikan keturunan yang tak terhitung banyaknya seperti bintang-bintang.
Abraham percaya kepada Tuhan dan Allah membenarkan dia, atau menyatakan dia benar.  Artinya: Abraham mempunyai hubungan yang benar dengan Allah yaitu dengan penuh kesetiaan dan ketaatan hatinya terarah pada Tuhan dalam kepercayaan tanpa kebimbangan.  Tuhan memberkati. Amen.