Sabtu, 23 Juli 2016

Khotbah Minggu 03 Juli 2016 Galatia 6: 7-16 “Roh Memampukan kita Berbuat Baik Bagi Semua Orang”



Pembukaan
Santo Agustinus, seorang Bapa Gereja, pernah ditanya tentang: “Apa sih Kasih itu? Bagaimana bentuk dan rupa Kasih itu?”. Santo Agustinus kemudian menjawab pertanyaan itu begini:
Kasih memiliki tangan untuk menolong orang lain, Kasih memiliki kaki untuk menghampiri mereka yang miskin, Kasih memiliki mata untuk melihat kebutuhan-kebutuhan orang lain, Kasih memiliki telinga untuk mendengar rintihan mereka yang menderita.
Sederhana, tepat sasaran! Apa itu perwujudan kasih? Kasih itu punya tangan, kaki, mata dan telinga yang bukan hanya bias kita gunakan untuk diri kita sendiri saja … melainkan bisa juga kita gunakan untuk menjangkau mereka yang lain yang ada disekitar kita. Kasih bukan hanya ‘melihat ke dalam’ tapi juga ‘melihat keluar’. Dengan demikian kita dimampukan untuk berbuat baik bagi semua orang.

Khotbah:
 “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan”, ini adalah peringatan untuk kita perhatikan. Tidak ada celah untuk kita bisa mengelabui Tuhan dari setiap apa yang kita perbuat dalam hidup kita. Jika pada manusia kita masih bisa untuk menggunakan ‘trik dan intrik’ namun dihadapan Tuhan semuanya jelas dalam pengetahuanNya. Keselamatan dari Tuhan itu tidak akan begitu saja kita terima hanya dengan mengaku percaya ataupun kesibukan kita pada kegiatan-kegiatan gereja, namun ada hal yang lebih mendalam dari itu semuanya yaitu sikap hidup kristiani sebagai wujud dari iman kita pada Tuhan.   
Kita tidak bisa lepas dari yang namanya hukum tabur tuai, apa yang kita tabur itu juga yang akan kita tuai. Jika kita menabur mengikuti kedagingan maka kita akan menuai kebinasaan, jika kita menabur sesuai dengan keinginan Roh maka kita akan menuai sesuai dengan rencana Tuhan.
Apa yang kita tabur hari ini dalam menghadapi pergumulan-pergumulan kita? Kita akan menuai apa yang telah kita tabur itu. Ada satu cerita tentang seorang guru yang tiba-tiba di maki-maki habis oleh seorang ibu dari muridnya … Sebelum sempat guru itu marah balik … dia bertanya pada dirinya sendiri dalam hati: “Si ibu ini maki-maki saya sekarang itu ‘dia yang sedang menabur’ atau ‘saya nih yang sedang menuai?”
Cepat atau lambat kita akan menuai apa yang kita tabur. Oleh sebab itu, Firman Tuhan menutup perikop kita hari ini dengan ajakan untuk tetap menaburkan apa yang baik, sehingga di kemudian hari, yang kita tuai adalah yang baik juga.
Dorongan yang disampaikan dalam surat Paulus ini untuk tidak jemu-jemu berbuat baik bukanlah atas dorongan daging tetapi atas dorongan Roh Tuhan, sebab jika perbuatan baik dilakukan atas dorongan daging maka pada akhirnya kita akan terbawa dalam sikap bermegah atas diri sendiri yang pada akhirnya perbuatan baik itu adalah atas dorongan keinginan daging.
Manusia ciptaan yang baru yang ditekankan dalam surat ini bukanlah penampakan manusia yang formalitas, tetapi manusia yang beraksi dan bersaksi oleh kuasa Roh, yaitu dengan tidak jemu-jemu berbuat baik kepada semua orang. Ini adalah sikap yang didorong oleh penerimaan Roh yang bekerja dalam manusia ciptaan baru.
Nas ini bukanlah hendak mengarahkan kita tentang pembenaran atas perbuatan baik atau menggiring kita tentang penerimaan pahala. Namun sebaliknya, iman yang telah tertabur dalam hidup kita selayaknya akan menghasilkan buah yaitu perbuatan baik. 
Standard moral, sikap dan perilaku manusia baru bukanlah apa yang baik secara manusiawi, tetapi apa yang baik sesuai dengan Firman Tuhan. Untuk mencapai sesuatu yang berharga harus ada pengorbanan, bukan dengan dengan prinsip “judi” yang berbuat sedikit dengan mengharapkan hasil yang sebanyak-banyaknya. Maka kita harus siap untuk mengorbankan keinginan daging kita dan mengutamakan tuntunan Roh Tuhan dalam setiap sikap dan perbuatan kita.
Namun nas ini memastikan bahwa perbuatan baik itu yang di dorong oleh Roh Tuhan tidak akan pernah sia-sia. Akan ada tuaian yang melimpah diperoleh dari orang menabur kebaikan. Sebab Tuhan akan memberikan kepada kita yang layak untuk kita terima sesuai dengan apa yang kita tabur.
Nats ini juga menjadi bimbingan Moral ( Prilaku Pelayanan) Orang Percaya
a.  Peringatan atas sikap ceroboh
Ini merupakan peringatan atas sikap melakukan sesuatu yang berhubungan dangan tiga kebenaran tersebut di atas dengan tidak tulus. Meremehkan suatu perbuatan kebaikan. Sikap ini sama dengan merendahkan Allah dan Firman-Nya.
b.  Hukum tabur  - tuai
Prinsip ini ditetapkan Allah sejak awal dan harus disadari dan diperhatikan setiap umat Tuhan. Kita akan menuai apa yang kita tabur bukan saja jumlahnya tetapi jenisnya. Menabur dalam hawa nafsu menuai kebinasaan. Menabur dalam Roh menuai kehidupan.
c.  Dorongan untuk tetap berbuat baik (menabur)
”Jemu”, sama dengan melalaikan. ”Menjadi lemah” – kehilangan semangat, kehabisan tenaga. Kita diingatkan jangan terjadi demikian. Pahala, keuntungan, berkat bagi setiap orang yang berbuat kebaikan kepada sesamanya pasti akan diterimanya. Janji ini pasti terjadi pada ”waktunya”.
d.  Berbuat baik hanyalah satu kesempatan yang terbatas sekali
Jika anda mengabaikan  ”kesempatan” ( Kairos – waktu yang genting dan terbatas) sekarang untuk berbuat baik, melayani, bersaksi, beribadah, siapa yang menjamin besok kesempatan yang sama seperti hari ini masih ada ? Jika anda dapat melukakan sesuatu yang baik hari ini untuk Tuhan dan sesama lakukanlah itu hari ini sebab mungkin besok tidak ada lagi.
Buah akan selalu lebih banyak dari benih yang tabur, maka berhati-hatilah dan perhatikanlah dengan teliti akan apa yang kita tabur. Jhon W. Lawrence dalam bukunya “7 Hukum Penuaian” mengatakan: Anda tidak akan pernah rugi berjalan dalam persekutuan dengan Tuhan, dan Anda pun tidak akan pernah untung jika berjalan di luar persekutuan denganNya.
Amen

Khotbah Minggu 24 Juli 2016 Kejadian 18:16-21 “Keadilan Allah Dalam KemahakuasaanNya”




Sebab Aku telah memilih dia, supaya diporintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya" (ay.19)
Setelah Tuhan berinisiatif mendatangi Abraham untuk menyampaikan dan menegaskan Janji-Nya, Tuhan berencana akan meneruskan perjalanan Abraham pergi ke Sodom dan Gomora. Pada saat itu Tuhan masih menyembunyikan maksud-Nya kepada Abraham. Sebenarnya, dapat saja saat itu Tuhan langsung menghilang dan muncul di kota Sodom. Tetapi Tuhan memilih untuk berjalan ke Sodom bersama Abraham. Mengapa Allah tidak langsung pergi ke Sodom dan menunggu disana? Alasannya adalah Tuhan tidak dapat berkumpul dengan orang-orang berdosa; Tuhan hanya berkumpul dengan orang-orang beriman. Di sinilah kita melihat perbedaan antara orang kafir dan orang beriman.
Abraham yang dipanggil oleh Tuhan keluar dari negerinya dan menuju negeri yang akan ditunjukkan oleh Tuhan kepadanya. Abraham yang menerima dengan iman kemudian menjadi orang yang diberkati dan menjadi berkat. Untuk itu Tuhan menghendaki Abraham hidup taat, berjalan menurut jalan-jalan-Nya agar ia memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadanya. Ketika Tuhan berjanji bahwa ia akan menjadi bangsa yang besar, sekalipun realisasi dari janji-janji tersebut tampak mustahil secara akal manusia, Abraham tetap percaya. Menjadi orang yang diberkati dan
Menjadi berkat adalah melalui iman kepada Tuhan. Banyak diantara orang Kristen saat ini menganggap berkat merupakan kebaikan dan keuntungan bagi mereka sendiri. Perspektif Tuhan sangat berbeda. Berkat merupakan bentuk kesaksian akan karya Tuhan dalam hidup kita, sehingga melaluinya nama Tuhan harus dimuliakan.   Pasal 18 ayat 17  dan 18 berkata: Berpikirlah TUHAN: "Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? Kedua pertanyaan ini menjelaskan relasi sebenarnya antara Allah dan Abraham serta bagaimana sesungguhnya arti kehadiran Abraham bagi Allah. Kedua  pertanyaan ini penting direnungkan dalam kaitan dengan rencana Allah bagi umatNya. Allah memiliki rencana indah bagi umatNya dan Allah memperhatikan pergumulan orang-orang yang berseru kepadaNya.
         Abraham sangat bergembira saat malaikat Tuhan datang mengunjunginya. Abraham menjamu ketiga tamunya (18:2) dengan makanan yang terbaik. Abraham sangat terhormat didatangi malaikat Tuhan dan karenanya Abraham dengan sukacita memberikan pelayanan yang terbaik dan turut mendengarkan apa yang menjadi tujuan dan rencana Allah bagi kehidupannya. (18:16) Mengapa malaikat Tuhan datang kepada Abraham? Paling tidak 3 (tiga ) hal yang hendak direncanakan Tuhan: (1) bahwa Sara akan mengandung atau memiliki keturunan tahun depan (18:10); (2) bahwa keturunan Abraham hidup menurut jalan Tuhan sebagai pelaku kebenaran dan keadilan Allah dan  (3) bahwa orang-orang Sodom dan Gomora akan dimusnahkan karena dosanya.
         Untuk rencana yang pertama dan kedua, Abraham (18:10-14) diberitahu bahwa Sara akan mengandung dan memikili anak laki-laki sebagai bukti janji Allah bagi keluarga Abraham.   Dan  untuk rencana ketiga Tuhan pun memberitahukannya kepada Abraham. Tuhan tidak menyembunyikan apa yang menjadi niat hatiNya kepada orang-orang Sodom dan Gomora. Di sini kita mendapati bagaimana Tuhan menjelaskan rencanaNya dan melibatkan umatNya untuk mengerti rencana Tuhan. Tuhan tidak menutup-nutupi apa yang hendak dilakukanNya bagi orang-orang Sodom dan Gomora yang hidup dalam dosa..
         Mengapa Abraham diberitahu Tuhan mengenai rencanaNya menghukum orang-orang Sodom dan Gomora? Pertama, Abraham adalah orang pilihanNya untuk hidup taat dihadapanNya. Abraham yang harus meninggalkan keluarga besar di tanah Ur-Kasdim demi panggilannya hidup bersama Tuhan. Abraham telah meninggalkan segala kenyamanan hidup untuk bergantung sepenuhnya pada janji Tuhan yang akan memberkati keluarganya dan keturunannya; Kedua,  Abraham mendapat kepercayaan Tuhan  menjadi pelaku keadilan dan kebenaran sesuai dengan kehendak Allah untuk menyatakan kekudusan Tuhan di tengah-tengah bangsa penyembah berhala.  Hanya Abraham yang dipercaya Allah sebagai alat kemuliaanNya.
Kebenaran firman Tuhan hari ini  yang dapat dipelajari:            
Pertama. Memahami tujuan dan rencana Allah (18:16-21). Mengapa Abraham dipercaya dan diberitahukan tujuan dan rencana-rencanaNya oleh Tuhan? Bukankah Tuhan punya otoritas untuk menyembunyikan apa yang jadi tujuan dan rencanaNya? Jawabannya: sebab Abraham adalah orang pilihan yang dipercaya menjadi saluran berkat bagi semua bangsa di bumi. Selain itu, Abraham adalah satu-satunya manusia dalam Alkitab yang disebut "sahabat" Allah ( 2 Tawarikh 20: 7 , Yesaya 41:8 , Yakobus 2:23), dan sahabat yang baik dalam  berbagi rahasia intim satu sama lain.     Ini adalah kebenaran yang penting . Ada perbedaan antara seorang hamba dan seorang teman. Seorang hamba mungkin tidak tahu tujuan tuannya, tapi tidak demikian dengan seorang sahabat ( Yohanes 15:15 ).
           Dalam Injil Yohanes 14 dan 15 , Yesus mengajak murid untuk menikmati persahabatan dengan-Nya. Namun, Ia menjelaskan bahwa persahabatan itu didasarkan pada ketaatan (Yohanes14:21, 23). Dapatkah Saudara mengatakan bahwa Saudara secara aktif dan sengaja berusaha menaati Kristus dengan sungguh-sungguh dalam seluruh area kehidupan saudara? Apakah Saudara sudah lama menjadi sahabat-Nya dan memiliki persekutuan yang intim denganNya tiap-tiap hari 1 x 24 jam sepanjang umur saudara? Jika saudara masih ragu, bimbang dan kuatir tentang hidup saudara bersama Tuhan Yesus,  mustahil saudara dapat memahami dan mengerti tujuan dan rencana Tuhan bagi hidup Saudara, bahkan dalam kaitan dengan keselamatan orang lain. Saudara harus  membangun persekutuan yang intim dengan Tuhan lewat pujian, doa, pembacaan Firman dan ketaatan dalam firmanNya.
        Kedua,  hidup di dalam jalan Tuhan. Abraham   disebut juga Bapa segala orang percaya; Bapa orang beriman. Tidak hanya ketaatannya mempersembahkan Ishak sebagai persembahan bagi Tuhan, tetapi kesungguhan hidupnya untuk bergantung pada janji Tuhan.  Abraham dipilih Allah agar keturunannya hidup menurut jalan Tuhan. Abraham dipilih untuk menjadi berkat bagi seluruh bumi, dan  panggilannya dimulai dengan cara paling sederhana yakni  “supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan” (18:19).  Agar menjadi keluarga yang diberkati Allah, maka Abraham wajib mendidik anak-anaknya dan keturunannya hidup benar di hadapan Tuhan. Anak-anak dan keturunan Abraham sendiri yang pertma-tama menjadi teladan dalam melakukan firman Allah dalam seluruh hidup mereka dengan selalu setia beribadah dan taat mengerjakan perintah Tuhan.
        Pertanyaannya, sudahkah saudara memiliki prioritas utama hidup di dalam jalan Tuhan? Apakah jalan hidup saudara adalah jalan yang menyimpang yang menuju kebinasaan?  Apakah jalan saudara adalah jalan yang lebar dan bukannya jalan yang sempit seperti yang diajarkan Tuhan Yesus? Apakah Saudara turut membantu dengan menghabiskan waktu bersama anak-anak Saudara Anda untuk mempelajari jalan Tuhan? Apakah Saudara membantu mereka untuk "menjaga jalan TUHAN? dan tidak menyimpang darinya agar anak-anak saudara hidup dalam kelakuan yang bersih?
         Adalah tugas kita sebagai orang tua menjalankan tanggung jawab sama seperti Abraham dalam mendidik anak-anak dan keturunannya hidup dalam jalan Tuhan. Hal ini bukan terjadi secara otomatis tetapi karena adalah keteladan dari kesalehan orang tua        ( Ul 6:6-9 ; Maz 132:11-12 , lihat juga Efesus 6:04 ).
          Dalam Injil Matius 18: 6-7 ""Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.” Perkataan Yesus ini sangat keras! Tuhan Yesus mengingatkan agar anak-anak kita jangan hidup dalam kesesatan sebab murka Allah akan menyala-nyala buat mereka yang mengajarkan kesesatan. Kiranya kita menjadi orang tua yang bertanggung jawab dalam menjaga jalan Tuhan dan mendidik anak-anak kita hidup di jalan Tuhan dengan selalu mendoakan mereka, membimbing mereka kepada firman Tuhan, mengajari mereka hidup dalam pengampunan dan perdamaian dan mendorong mereka menjadi sabahat-sahabat Tuhan Yesus yang setia. Tuhan memberkati kita. Amin. Dari Berbagai sumber

Khotbah Minggu 17 Juli 2016 Lukas 10:38-42 “Memilih Yang Terbaik”




A.     Pengantar
Bagi orang Timur, menyambut tamu dengan penuh keramahan adalah suatu keharusan, yang biasanya ditandai dengan penyuguhan minuman atau makanan, apalagi kalau tamu itu merupakan orang yang kita hormati. Bahkan ada orang yang mau saja berutang hanya untuk menyambut tamunya.

B.     Penjelasan Teks
Teks kita hari ini berbicara mengenai dua tokoh yang secara garis keturunan sangat dekat, tetapi sangat berbeda dalam hal penyambutan atau pelayanan kepada seorang tamu agung mereka, yaitu Yesus yang saat itu datang berkunjung ke kampung atau rumah mereka. Kisah ini ditulis “hanya”oleh Lukas bukan untuk mempertentangkan kedua tokoh ini, bukan untuk mempertentangkan aktifitas mereka berdua, bukan juga untuk menyatakan bahwa yang satu lebih rohani sedangkan yang lain lebih duniawi karenanya tidak perlu. Kisah ini ditulis untuk mengajak pembacanya menentukan “prioritas” dalam hidupnya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Marta; toh apa yang dia lakukan dengan kesibukannya itu adalah untuk melayani Yesus, bukan untuk dirinya sendiri. Adalah manusiawi juga kalau dia kesal, uring-uringan, dan akhirnya mengeluh kepada Yesus karena saudaranya “Maria” yang seolah-olah tidak peduli dengan kesibukannya itu dan hanya duduk saja dekat kaki Yesus mendengarkan perkataan-Nya.[1] Tapi apa yang terjadi? Ketika Marta dengan lumayan kasar mengeluh kepada Yesus tentang saudaranya yang nampaknya malas itu, maka Yesus menjawab dengan lemah lembut tapi tegas. “Marta, Marta ...”. Kata-kata Yesus di sini tidak untuk menyalahkan Marta dan menganggap kesibukan melayaninya salah. Pelayanan Marta dapat dianggap baik, namun dalam penilaian Yesus tindakan Maria adalah yang terbaik sebab ia memperhatikan hal yang perlu pada saat itu. Marta ternyata telah dikuasai oleh kekuatiran, kesusahan dan kesibukan dengan banyak perkara (dengan banyak kegiatan) dan melupakan sesuatu yang sangat berharga pada saat itu, yaitu satu kesempatan emas yang tidak akan terulang lagi, “mendengarkan perkataan Tuhan Yesus” yang sedang berkunjung ke rumah mereka. Yesus sebenarnya tetap menghargai apa yang Marta lakukan untuk melayani Dia, tapi Yesus juga mengingatkan bahwa Marta seharusnya berlaku seperti saudaranya Maria, mampu menentukan/memilih prioritas pada kesempatan kunjungan-Nya itu; dan itulah yang dikatakan Yesus tadi di ayat 42: tetapi hanya satu yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya. Artinya, Maria telah mempergunakan kesempatan yang ada untuk mendapatkan yang terbaik, yaitu firman kehidupan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus.
Teks ini mengajarkan bahwa pelayanan kepada Yesus tidaklah harus disalahtujukan sedemikian rupa hingga seseorang tidak mempunyai waktu untuk belajar daripada-Nya; adalah lebih baik menghormati Dia dengan mendengarkan kepada-Nya daripada menyediakan kebutuhan-Nya secara berlebihan.Duduk dekat Yesus menandakan kesediaan menerima firman-Nya, dan penyerahan diri pada bimbingan firman Tuhan itu.
C.     Pokok-pokok Renungan
1)      Kisah ini mendesak kita untuk merenungkan apa yang kita utamakan dalam hal mengikut Yesus. Melakukan perbuatan baik demi Yesus maupun memelihara hubungan intim dengan Dia dalam doa dan perenungan firman Tuhan, keduanya baik dan penting. Prioritas kita orang modern adalah seperti Marta yang mengutamakan bahkan tenggelam dalam berbagai kegiatan yang banyak dan terkesan monumental.[2] Yesus menginginkan prioritas sebaliknya. Mengapa? Sebab dengan duduk dekat kaki Yesus dan mendengarkan Dia, kita sedang mengisi hidup kita dengan sesuatu yang sangat bermakna, sesuatu yang memiliki nilai hidup bersama Yesus. Hanya apabila kita selalu lebih dulu mendengarkan suara Yesus kita akan memiliki prioritas hidup yang benar dan mengerti tindakan-tindakan apa harus kita ambil.
2)      Banyak orang yang setiap menit meng-update statusnya di fb, tapi sangat jarang meng-update pengetahuan, persekutuan dan perenungannya akan Firman Tuhan. Banyak orang sekarang yang karena kesibukan atau kegiatan yang sebenarnya bisa diatur, justru terhalangi dalam mendengarkan dan bersekutu dengan Tuhan. Karena kecapaian, acara tv, asyik fb, maka tidak ada lagi waktu untuk duduk dengan tenang, berdoa dan merenungkan Firman Tuhan.Kesibukan duniawi merupakan jerat/perangkap bagi kita ketika kesibukan itu menghalangi kita untuk mendengarkan dan bersekutu dengan Tuhan.
3)      Banyak orang yang tenggelam dalam kesibukannya, terutama mereka yang “penggila kerja” (workaholic), seolah-olah hidup mereka tidak bermkna kalau tidak sibuk; banyak juga yang seolah-olah sibuk (SBU); sehingga mereka tidak mempunyai waktu lagi untuk duduk dengan tenang mendengarkan firman Tuhan dan bersekutu dengan Kristus.
D. Aplikasi
1. Mengutamakan yang Rohani daripada yang Duniawi
Seperti yang ditunjukkan oleh Maria dan Marta, yang dilaksanakan oleh Maria ialah pelayanan Rohani sedangkan yang dilaksakan oleh Marta ialah pelayanan Jasmaniah. Yesus berkata bahwa yang dilaksanakan oleh Maria-lah yang terbaik daripada yang dilaksanakan oleh Marta. Maka dengan demikian Tuhan berkehendak kepada hal-hal yang rohaniah daripada yang Jasmaniah dalam pelayanan.
Kekriatenan sekarang cendrung seperti yang dilaksanakan oleh Marta, yakni dengan mengutamakan pelayanan yang jasmaniah. Jemaat juga teridentivikasi demikian, sebab ketika ada kebaktian dengan acara makan-makan disitulah masuk dalam daftar beribadah.
2. Jangan Cemburu tehadap orang yang melayani Tuhan dengan caranya
Marta cemburu dengan apa yang dilakukan oleh Maria dalam melayani Yesus, Maria mendengarkan Firman Yesus sendiri dan hal itu dicemburui oleh Marta, dengan segala ketidak mengertiannya tentang kebenaran.
 3. Memilih yang terbaik
Banyaknya pilihan dalam kehidupan ini hendaknya menambah kekritisan kita untuk memilih yang terbaik. Namun pilihan yang utama tetap Tuhan Allah sebab hanya Dia Maha Baik/Maha Kasih. Pilihan waktu dan kegiatan hendaknya dipilih dengan kebijaksanaan yang dari Allah. Maka dengan mendengarkan Firman saat ini, diminta kepada seluruh umat agar lebih mengutamakan Allah dan kebenarannya. Hal itu sama dengan lebih mengutamakan mendengarkan Firman Allah pada waktu yang ada daripada mengerjakan hal-hal yang lain dengan berbagai keperluan-keperluan sementara. Sebab ciri orang yang percaya di dalam Allah akan mengutamakan Allah dan itulah Kasih yang terbesar. Setelah kita mengutamakan Allah maka kekuatiran akan hilang, perkara-perkara akan kalah, sebab Tuhan Allah itu adalah Kasih dan Kebenaran yang membawa Damai sejahtera serta kehidupan yang Kekal.
D.    Penutup
Jadi, tidak ada yang salah dengan berbagai kegiatan atau kesibukan kita di dunia ini; persoalannya adalah bagaimana kita mampu menyediakan waktu dan tempat untuk suatu hal yang utama dalam hidup, prioritas yang tidak bisa diambil dari pada kita, bagian yang terbaik, yaitu “duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya”. Dengan demikian hidup kita akan semakin bernilai dan bermakna, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah.
Amen




Sabtu, 25 Juni 2016

Khotbah Minggu 26 Juni 2016 Mazmur 16:1-11 Kebahagiaan Sempurna Dalam Tuhan




Mazmur ini adalah suatu doa permohonan dan pengakuan iman yang sangat menyentuh realitas kehidupan sehari-hari. Dapat kita melihat bagaimana kita diajari bagaimana untuk perlindungan, pengajaran, keselamatan dan kehidupan yaitu pada Tuhan Allah. Tidak ada sumber yang kekal di luar dari Tuhan Allah. Inilah yang ingin disampaikan oleh pemazmur kepada kita Mazmuri ini juga mengajarkan dan menggambarkan dengan jelas bahwa hanya ada satu sumber sukacita, sumber kebahagiaan, sumber perlindungan, dan sumber keselamatan. Tidak ada sumber lainnya yang kekal di luar Tuhan. Harta dan kepunyaan kita yang terbesar adalah beriman kepada Allah. Hanya di dalam Dialah hati kita bersukacita, jiwa kita bersorak-sorak, dan tubuh kita akan diam dengan tenteram . Bahkan, hanya Dia yang mampu melepaskan kita dari jurang kebinasaan , yaitu dengan menganugerahkan keselamatan kekal melalui kematian Kristus.
Di luar Tuhan bisa saja kita mencari kebahagiaan, kehidupan, keselamatan namun yang kekal hanya ada pada Tuhan Allah, karena mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di luar Tuhan justru sebaliknya akan memperbesar kesedihan (ay.4).
Harta dan kepemilikan kita yang paling besar adalah memiliki iman kepada Tuhan Allah, sebab bagaimana tidak, bahwa hanya karena Allah sajalah yang dapat membuat:
 HATI bersukacita,
JIWA bersorak-sorak dan
TUBUH diam dengan tentram
Tidak ada barang sesuatu apapun yang boleh membuat hidup kita seperti itu selain karena Tuhan. Inilah harta yang paling berharga yang akan dirasakan oleh setiap orang yang berlindung kepada Tuhan. 
Hal terbesar lagi yang boleh menguatkan kita bahwa keselamatan itu adalah untuk selama-lamanya, bahwa orang yang beriman dan berpengharapan kepada Tuhan akan diselamatkan dari dunia orang mati dan dari kebinasaan namun kehidupan kekal adalah bahagiaan dari orang yang setia beriman kepada Tuhan. Sebab sengat maut telah dipatahkan oleh Tuhan Yesus melalui kebangkitanNya dari kematian, sebab: “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya” (Yoh. 3:36).
Apapun yang boleh kita miliki baik itu harta kekayaan emas perak uang jika kita tidak memiliki harta yang sesungguhya tidak akan menjamin sukacita kita. Namun kalaupun kita hanya cukup makan nasi campur garam jika kita bersama Tuhan tidak akan menghilangkan sukacita kita. Dalam kehidupan kita sehari-hari dapat kita melihat bahwa kepemilikan harta benda tidak menjamin seseorang boleh hidup dengan tenang, nyaman dan senang justru ada sebaliknya membuat dia tidak dapat lagi menikmati apa yang dimilikinya. Seperti yang difirmankan oleh Tuhan Yesus bahwa jika kita menuruti perintahNya dan tinggal di dalam kasihNya maka: “Sukacita-Ku ada di dalam kamu, dan sukacitamu menjadi penuh” (Yoh. 15: 11).

Semuanya itu boleh nyata kepada kita jika kita dapat meniru apa yang diperbuat oleh pemazmur ini dalam kehidupannya, yaitu penyerahan diri secara total kepada Tuhan, bahwa ia menyerahkan hidupnya dikuasai oleh Tuhan. Dapat kita perhatikan hidup yang dikuasai oleh Allah:
          Ia berdiri disebelah kananku: Maka Aku tidak goyah
          Ia depan: Ada sukacita berlimpah-limpah
          Di tangan kananNya: Ada nikmat senantiasab
Tidak ada apapun yang boleh membatasi sukacita anak-anak Allah, apapun yang boleh terjadi dalam hidup kita tidak akan menggoyahkan kita sebab Allah bersama kita, biarpun saat ini kondisi kita “sepiring berdua” atau apapun yang boleh terjadi baiklah kita selalu mengingat janji Tuhan Yesus “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat.28:20). Sukacita yang ditawarkan oleh dunia ini sifatnya hanya sementara, tidak akan bertahan lama.  Lalu, di manakah kita menemukan sukacita yang sejati dan berlimpah-limpah itu?  Sukacita yang melimpah dan yang tak lekang oleh waktu hanya akan kita temukan di dalam Tuhan Yesus.  Sukacita yang dari Tuhan tidak bergantung pada situasi dan kondisi yang ada di sekitar kita karena sukacita itu berasal dari dalam, yang dikerjakan oleh Roh Kudus.
     Jadi, kita mendapatkan sukacita yang berlimpah oleh karena ada Roh Kudus di dalam diri kita.  Itulah sebabnya Rasul Paulus menasihati,  "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!  Sekali lagi kukatakan:  Bersukacitalah!"  (Filipi 4:4).  Mungkin kita berkata,  "Teorinya gampang.  Prakteknya?  Bagaimana bisa bersukacita jika kita sedang dalam masalah, sakit, punya banyak utang, toko sepi, perusahaan lagi bangkrut dan sebagainya?"  Rasul Paulus menulis surat himbauan kepada jemaat di Filipi ini bukan saat ia sedang bersenang-senang karena menerima berkat dari Tuhan, tapi justru saat ia berada di dalam penjara alias dalam penderitaan dan kesesakan.
"Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena Tuhan itulah perlindunganmu!"  (Nehemia 8:11b).
 Amin