Pendahuluan
Saudara-Saudara,
kita tentu mengetahui sosok pria yang bernama Walt Disney. Selain
menjadi seorang produser film dan pemain sandiwara yang sangat terkenal, ia
juga adalah penemu di dalam bidang animasi serta desain penempatan
suara. Melalui karya-karyanya, Disney berhasil menyentuh hati jutaan
orang di seluruh dunia, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa.
Karena itu, tidaklah heran bila pada akhirnya ia mendapat julukan sebagai
“legenda di bidang hiburan pada abad ke-20.”
Namun,
siapa yang pernah menyangka bahwa semua kesuksesan yang ia raih saat ini
tidak diperolehnya dengan mudah? Ketika itu Disney lahir dalam sebuah
keluarga yang miskin dan setiap hari ia harus bangun pk. 03.30 pagi untuk
membantu ayahnya mengantarkan koran-koran pada pelanggan. Setelah
dewasa, Disney mencoba masuk ke dinas ketentaraan, namun usahanya
gagal. Kemudian ia pun mencoba lagi untuk melamar pekerjaan ke berbagai
perusahaan, tetapi lagi-lagi ditolak. Saat itu ia merasa sangat sedih
dan bingung,
Saudara,
rasanya ia tidak memiliki keahlian khusus lain yang dapat ia jadikan sebagai
nilai jualnya, kecuali kecintaannya pada menggambar. Karena itu
perlahan-lahan ia mencoba mengembangkan kemampuannya ini dan memberanikan
diri untuk mengirimkan gambar kartunnya ke berbagai studio.
Hasilnya? Kembali ia ditolak oleh mereka karena karyanya dianggap
kurang menarik. Namun karena kegigihannya, ia pun berhasil mendapatkan
kontrak dengan sebuah studio kecil. Saya kira tidak ada satu orang pun
yang pernah membayangkan, bahwa ketika film kartun buatannya yang berjudul Alice
in The Wonderland itu diputar, cerita tersebut berhasil menduduki peringkat
pertama film Amerika selama tiga tahun berturut-turut. Rasanya tidak
ada satu orangpun yang pernah membayangkan bahwa dari talenta menggambar yang
ia miliki, Disney akhirnya berhasil mendirikan sebuah studio sendiri yang
kemudian bisa menciptakan tokoh-tokoh kartun penting lainnya seperti Donald
Duck, Mickey Mouse, Snow White, Cinderella, dan masih banyak lagi. Dan
rasanya tidak ada satu orangpun yang pernah membayangkan bahwa lewat
kesungguhannya menggunakan dan mengembangkan talenta itu, ia berhasil mengumpulkan
uang yang kemudian digunakannya untuk mendirikan sebuah taman bermain bagi
anak-anak di seluruh dunia, yang dikenal dengan nama The Disneylands.
Saudara,
mari kita bayangkan sejenak, kira-kira apa yang akan terjadi bila pada waktu
itu Disney tidak sungguh-sungguh menyadari talenta yang ia miliki dan tidak
berusaha untuk mengembangkannya dengan maksimal? Tampaknya ia bukan
hanya akan kehilangan seluruh kesuksesan yang telah ia raih selama ini,
tetapi ia sendiripun tidak akan pernah menyadari bahwa di dalam dirinya
ternyata tersimpan sebuah talenta yang begitu berharga, yang ketika ia
kembangkan dapat menjadi berkat bagi orang-orang di seluruh dunia. Saudara,
bukan hanya Walt Disney, tetapi setiap kita di tempat ini pun juga telah
dipercayakan mutiara talenta yang begitu berharga untuk kita kembangkan.
Namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita sudah menyadarinya?
Sudahkah kita menggunakannya secara maksimal? Atau jangan-jangan
mutiara talenta tersebut sama sekali belum kita sentuh dan belum kita
kenali...
I.
Ada pembagian talenta-talenta dan terjadi perbedaan dalam pengelolaannya
(tidak dibacakan)
Penjelasan
Saudara,
persoalan mengenai talenta ini bukanlah satu persoalan yang dianggap sepele
oleh Tuhan Yesus. Ketika Yesus memberitakan kebenaran tentang
kedatangan-Nya nanti yang kedua, issue mengenai talenta menjadi satu bagian
penting yang disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya. Waktu itu Yesus
ingin, saat Ia pergi, para murid dapat setia menggunakan seluruh talenta yang
telah dipercayakan pada mereka. Yesus pun mengumpamakannya seperti
seorang tuan kaya yang berencana untuk bepergian ke luar negeri dalam tempo
yang cukup lama. Sang tuan ini kemudian memanggil ketiga orang hambanya
dan mempercayakan hartanya untuk dikelola oleh mereka. Saudara, Yesus
di sini sesungguhnya memberikan penggambaran yang sangat menarik.
Setiap kita mungkin tidak merasa heran ketika mendengar cerita seperti
ini. Namun, tidak demikian halnya kalau kita hidup di zaman dulu.
“Mempercayakan harta kepada hamba” adalah sebuah kejadian yang tidak biasa
dan tidak akan pernah didengar oleh siapapun juga pada saat itu karena
kedudukan seorang hamba dianggap sangat rendah. Hamba di zaman dulu itu
tidak punya kesempatan untuk memiliki sesuatu, bahkan atas hidupnya sendiri
saja mereka tidak punya hak apa-apa. Seumur hidup, mereka adalah milik
tuannya.
Karena
itulah, kesempatan untuk mengelola harta milik sang tuan sesungguhnya adalah
suatu anugerah dan kepercayaan yang luar biasa. Dan, kepercayaan yang
tuannya berikan ini tidak main-main. Hamba yang pertama diberi lima
talenta, hamba yang kedua diberi dua, dan yang ketiga diberi satu talenta,
masing-masing menurut kesanggupannya. Saudara, talenta merupakan satuan
mata uang yang terbesar di zaman itu. Seorang pekerja kira-kira harus
bekerja 20 tahun untuk bisa mendapatkan satu talenta saja, itupun tanpa
dipotong biaya makan dan biaya hidup lainnya. Jadi meskipun hanya
mendapat satu talenta, jumlah tersebut bukanlah jumlah yang patut diremehkan
dan lebih dari cukup bagi seorang hamba untuk mulai berusaha. Dapatkah
Saudara bayangkan bagaimana kira-kira perasaan ketiga hamba ini ketika diberi
kepercayaan untuk mengelola harta tuannya yang begitu besar?
Alkitab
mengatakan bahwa hamba yang pertama dan kedua ini “segera pergi” untuk
menjalankan uang tersebut. Frasa “segera pergi” di sini
sesungguhnya merupakan bukti bahwa mereka tahu dengan jelas tanggung jawab
besar yang telah dipercayakan tuannya dan mereka pun langsung berusaha
mengerjakannya tanpa ditunda. Kedua hamba ini tidak hanya duduk
berlipat tangan sambil menunggu keuntungan datang kepadanya, namun mereka
sungguh-sungguh berusaha keras melangkahkan kakinya mencari keuntungan.
Dan benar saja, jerih payah mereka tidak sia-sia. Kedua hamba ini
dikatakan berhasil menggandakan uangnya serta meraih keuntungan sebanyak
100%.
Namun, hal
ini kontras sekali dengan apa yang dilakukan oleh hamba ketiga. Hamba
yang memperoleh satu talenta ini lebih memilih untuk pergi dan menggali
lobang di dalam tanah, lalu menyembunyikan uang tuannya di sana.
Saudara, kita memang tidak tahu apa yang menjadi alasan di balik semua
tindakannya itu. Alkitab sendiri pun tidak pernah memberikan gambaran
yang jelas mengenai motif dari tindakannya. Akan tetapi satu hal yang
dapat kita ketahui bersama adalah bahwa menurut hukum rabinik pada zaman itu,
tindakan menguburkan talenta merupakan tindakan yang dinilai paling aman
untuk menghindari kerugian. Jadi kalau mau dipikir secara logis,
tindakan menguburkan talenta sebenarnya adalah tindakan paling tepat yang
dapat ditempuh seseorang untuk membebaskannya dari kerugian yang mungkin
terjadi. Uang yang telah dipercayakan oleh tuannya ini tidak akan
berkurang sedikitpun. Tetapi yang menjadi permasalahannya adalah apakah
itu yang dikehendaki oleh tuannya? Saudara, sebenarnya pembagian talenta ini
dimaksudkan agar para hamba dapat bekerja bagi tuannya, dan bukannya berdiam
diri seperti ini. Pembagian talenta dimaksudkan untuk memampukan hamba
ini meningkatkan keuntungan tuannya, dan bukannya dikubur tanpa memperoleh
keuntungan sedikit pun.
Ilustrasi
SS,
beberapa waktu yang lalu seorang rekan saya bercerita dengan antusiasnya
bahwa sekarang ia telah memiliki sebuah handphone yang baru. Dengan
wajah sumringah ia berkata, “Kamu tahu gak kalo handphone ini tuh adalah handphone
yang sudah lama kuidam-idamkan! Modelnya baru dan keren banget!”
Pada waktu itu saya benar-benar senang ketika mengetahui bahwa
impiannya untuk memiliki handphone ini akhirnya terkabul juga. Kemudian
saya pun bertanya pada dia, “Memangnya di handphone-mu itu ada fasilitas apa
aja seh?” Kemudia dia menjawab, “Wahhh buaanyyaaaakkkkkk! Semua
bisa, lengkap deh pokoknya, namanya juga handphone canggih!” “Berarti
kamu uda bisa facebook-an dari handphone-mu dong?” Dengan muka memerah
dan tersenyum lebar dia berkata, “Nah itu dia masalahnya, gue kagak tau cara
pakenya!! Hehehe, ajarin dong!” Oh Saudara, untung tak dapat
diraih, malang tak dapat ditolak, handphone yang begitu canggih, yang dilengkapi
dengan fasilitas kamera, MP3, internet, face-book, e-mail, menjadi sia-sia
karena hanya digunakan sebatas telepon dan sms! Sungguh sangat
disayangkan bukan? Seluruh fitur canggih pada handphone tersebut
akhirnya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya hanya karena pemilik HP
tersebut tidak berusaha untuk menggunakan dan mengoptimalkannya.
Aplikasi
Saudara-Saudara,
mungkin kita saat ini bisa tersenyum-senyum geli ketika mendengar kisah
“kegaptekan” rekan saya ini. Tapi bukankah kalau mau jujur, kita pun
seringkali “gaptek” di dalam mengenali talenta-talenta yang telah Tuhan
percayakan pada kita? Atau mungkin juga ada diantara kita yang sudah
tahu apa talenta-talenta kita, namun belum menggunakannya secara
maksimal? Harus saya akui, saya pun pernah menjadi orang yang seperti
ini. Jangankan berusaha untuk mengembangkan talenta yang saya miliki,
menggunakan pun rasanya sangat jarang. Bahkan saya juga sempat tidak
mengetahui apa yang menjadi talenta saya. Namun saya kemudian disadarkan
bahwa sesungguhnya talenta yang telah Tuhan percayakan itu bukan untuk
disimpan, namun harusnya dipakai dan dikembalikan bagi kemuliaan Tuhan.
Hal ini pula yang Tuhan mau dari setiap engkau, Saudara, sadarilah
bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan pada kita mutiara talenta yang
begitu berharga, yang sesuai dengan kapasitas dan panggilan kita di dunia
ini. Ada yang diberi talenta berbicara di depan audience, menyanyi,
memimpin pujian, bermain drama, menggambar, fasih dalam berbicara, dan masih
banyak lagi. Ada pula diantara kita yang dipercaya lima, dua, atau
mungkin hanya satu talenta. Namun, apapun jenisnya dan berapapun jumlah
talenta yang dipercayakan, kita tetap harus sungguh-sungguh menemukan,
mengolah, dan menggunakannya bagi kemuliaan Tuhan serta menjadi berkat bagi
orang-orang di sekitar kita.
Dan
ketahuilah Saudara bahwa setiap keputusan yang kita ambil, entah itu setia
dalam mengelola talenta yang telah Tuhan percayakan maupun mengabaikannya
begitu saja, sesungguhnya akan membawa kita pada suatu konsekuensi...
II.
Ada penghitungan atas pekerjaan mereka (tidak dibacakan)
Penjelasan
Saudara,
kita kembali pada kisah Alkitab tadi. Lama setelah itu dikatakan bahwa sang
tuan akhirnya pulang, lalu mengadakan perhitungan dengan ketiga orang
hambanya. Perhitungan pun dilakukan sesuai waktu dan urutannya, dimulai
dari hamba pertama. Hamba yang pertama datang bukan hanya dengan lima
talenta yang dia terima, tetapi juga dengan lima talenta yang
dihasilkannya. Hamba ini dapat mendekati tuannya dengan perasaan bebas
karena ia telah melakukan tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh dan
setia. Hamba ini mengakui dengan rasa syukur atas kesediaan tuannya
memberikan sesuatu kepadanya. Ini dapat dilihat dari pernyataan, “Tuan,
lima talenta tuan percayakan kepadaku. Kemudian dia melanjutkan,
“lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.” “Lima talenta lainnya”
ini berasal dari kata alla talanta (άλλα τάλαντα), yang memberikan suatu
ekspresi penekanan; bukan hanya pada talenta-talenta yang sebelumnya telah ia
miliki, namun juga pada talenta-talenta lain yang telah berhasil diperoleh.
Dan
kesenangan itu menjadi semakin sempurna saat tuannya pun memberikan pujian
serta hadiah kepada hamba tersebut, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku
yang baik dan setia. Engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam
perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara
yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”
Hal yang sama rupanya dialami juga oleh hamba yang kedua. Kemurahan
hati tuannya ini ternyata tidak berkurang sedikit pun. Sang tuan tetap
memberikan penghargaan yang sama seperti yang telah diberikan pada hamba yang
pertama.
Namun saat
hamba yang ketiga datang untuk memberikan pertanggungjawaban, suasana pun berubah.
Bukannya segera mengembalikan uang tersebut, hamba ini justru mengeluarkan
dulu sedikit perkataan, “Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam
yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut di mana
tuan tidak menanam.” Saudara, coba perhatikan baik-baik. Saat
berbicara, hamba ini rupanya tetap menggunakan panggilan sopan yang sama
dengan kedua hamba lainnya, yaitu “Sir” atau “tuan”, namun pada kenyataannya
ia memiliki pandangan yang sangat berbeda mengenai tuannya. Berbeda
dengan kedua rekannya, hamba ini justru menganggap tuannya sebagai orang yang
kejam, yang menuai di tempat di mana ia tidak menabur dan memungut di mana ia
tidak menanam. Karena alasan inilah hamba itu takut dan pergi
menyembunyikan talenta tuannya di dalam tanah.
Saudara,
hamba yang ketiga ini kemudian mencoba memberikan pertanggungjawaban kepada
tuannya. Dia mengandalkan dalih karena takut menanggung resiko, maka
dia menggali lubang di dalam tanah dan menguburkan uangnya. Akibatnya
ia mampu berkata, “Ini, terimalah kepunyaan tuan! Kata “ini” berasal
dari kata ide (ϊδε) yang artinya look, yang seolah-olah mengatakan bahwa dia
memang tidak dapat menggandakan talenta tersebut seperti yang dilakukan oleh
teman-temannya, tetapi dia juga ingin menyampaikan bahwa talenta tuannya
tersebut tidak berkurang sedikit pun. Jadi kalau diterjemahkan, kurang
lebih hamba itu berkata: “Look, you have what is yours.” Terlihat
sekali dari pernyataannya bahwa hamba tersebut berbicara seolah-olah yang dia
lakukan itu bukanlah kesalahan besar. Malah, tampaknya dia merasa layak
memperoleh pujian atas sikapnya yang berhati-hati dengan menyimpan talenta
itu di tempat yang aman dan tidak membahayakan. Di sini ia mengira
bahwa dalihnya itu akan berhasil sehingga dia akan selamat dari
hukuman.
Saudara, kalau
mau dikoreksi, bukankah kita juga sering menciptakan alasan atas setiap
kesalahan yang telah kita lakukan. Pikiran kita otomatis bekerja untuk mencari
alasan agar kita dapat terhindar dari hukuman yang mungkin akan kita alami.
Jika di dunia ini ada “sekolah khusus untuk membuat alasan”, maka
setiap kita mungkin telah mendapatkan gelar doktor atau bahkan mungkin ada
diantara kita yang sudah mendapatkan gelar profesor. Betapa mudahnya
kita menyalahkan orang-orang di sekitar kita dan bahkan pada Tuhan
sendiri. Di dunia, kita mungkin masih bisa berbuat begini. Tapi kelak,
saat penghakiman-Nya tiba, kita tidak akan dapat berkelit lagi, persis
seperti yang dialami hamba ketiga ini…
Secara
mengejutkan, sang tuan ini justru berkata kepada hambanya (ay. 26-27), “Hai
kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di
tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak
menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada
orang yang menjalankan uang, supaya sekembalinya aku menerimanya serta dengan
bunganya.” Saudara, pada bagian ini sebenarnya sang tuan sedang mencoba
untuk mengatakan bahwa jika sang hamba tahu kalau tuannya kejam, maka sudah
sepatutnyalah ia melakukan kebalikan dari apa yang telah dilakukannya.
Artinya, jika sang tuan adalah seorang yang kejam, bukankah hamba ini
seharusnya menjadi lebih rajin dan lebih bersungguh-sungguh lagi untuk
menyenangkan sang tuan? Setidaknya kalau bukan demi kasih maka rasa takut
itulah yang harusnya membuat hamba ini bekerja. Atau jika sang hamba
menganggap bahwa sang tuan menuai di tempat di mana ia tidak menabur, maka
hal itu sesungguhnya tidak ada urusannya dengan diri sang hamba karena tuannyalah
pemilik dari talenta tersebut dan ia jelas menghendaki supaya talenta itu
dikembangkan.” Saudara, dakwaan-dakwaan tersebut rupanya mampu
menyadarkan dan membungkam hamba ini sehingga ia tidak dapat membela dirinya
lagi.
Setelah
memarahi hamba tersebut dan membuatnya jelas mengapa dia dipersalahkan, sang
tuan pun mengambil tindakan yang sangat tegas. Katanya, “Sebab itu…”
Saudara, kata “sebab itu” sangatlah penting karena menunjukkan hubungan
sebab akibat. Di sini jelas sekali digambarkan bahwa tuannya itu bukan
orang yang bertindak semena-mena. Hamba yang telah diberi kepercayaan
ini telah menyia-nyiakan kepercayaan yang tuannya telah berikan, “sebab itu”
ia layak menerima konsekuensinya.
Ilustrasi
Saudara,
suatu hari seorang sahabat saya mengirimkan sebuah sms singkat pada saya,
“ntar kalo loe uda pulang cepet telepon gue yah. Gue lagi bener-bener
sedih!” Saudara, tidak biasanya ia mengirim sms yang seperti ini.
Dengan penuh kecemasan, akhirnya saya pun segera meneleponnya dan bertanya
ada masalah apa. Dengan terisak ia pun menceritakan bahwa hari itu ia
telah dipecat dari pekerjaannya di Jakarta. Setelah ia cukup tenang,
saya pun kemudian bertanya apa yang menyebabkan perusahaan tersebut
memecatnya? Sahabat saya ini kemudian bercerita kalau selama ini dia
itu dianggap tidak menunjukkan kinerja yang baik selama bekerja di
sana. Sebagai karyawan, ia dinilai kurang bertanggung jawab menjalankan
pekerjaannya sehingga perusahaan pun akhirnya memecatnya. Saudara,
setiap kita yang pernah bekerja tentu menyadari sekali akan aturan-aturan
seperti ini. Ada punishment yang akan perusahaan berikan kepada
karyawan yang dinilai tidak bertanggung jawab menjalankan tanggung
jawabnya. Namun di balik itu, perusahaan pun akan menyediakan reward
bagi karyawan yang dinilai baik dalam pekerjaannya. Dan setiap kita
bisa mengalami kejadian seperti yang teman saya alami.
Saudara,
jika perusahaan di dunia ini saja dapat memberlakukan aturan seperti
ini, apalagi Tuhan yang jelas-jelas adalah pemilik seluruh hidup kita dan
juga atas talenta-talenta kita. Bukankah Ia jauh lebih berhak untuk
meminta pertanggungjawaban setiap kita dalam menggunakan seluruh talenta yang
telah Ia percayakan?
Aplikasi
Saudara,
sadarilah bahwa menggunakan talenta itu bukan suatu pilihan, namun merupakan
satu keharusan bagi setiap kita di tempat ini. Ia memiliki
tujuan-tujuan ilahi ketika mempercayakannya pada kita dan kita harus berusaha
sekuat tenaga untuk mencapai tujuan tersebut. Dan ada waktunya, di mana
setiap kita harus mempertanggungjawabkan hal ini. Pada saat penghakiman
terakhir setiap kita akan dihakimi sesuai dengan kesetiaan kita menggunakan
talenta yang telah Tuhan percayakan. Saudara, kebenaran ini sesungguhnya
bukan untuk menakut-nakuti setiap kita. Tapi kita diajak untuk
mengintropeksi diri kita, apakah selama ini kita telah setia dalam
menggunakan apa yang telah Tuhan percayakan. Selagi masih ada waktu,
selagi masih ada kesempatan, mari pergunakan seluruh talenta itu dengan
sebaik-baiknya.
Penutup
Jadi
jelaslah Sdr bahwa talenta yang telah Tuhan percayakan adalah suatu anugerah
yang luar biasa bagi kita. Kita dapat dipercaya untuk melayani Allah
dan juga menjadi rekan sekerja-Nya di tengah dunia ini. Mari kita
syukuri hal ini. Bertanggung jawablah untuk sungguh-sungguh menemukan,
mengolah, dan menggunakannya bagi kemuliaan Tuhan serta menjadi berkat bagi
orang di sekitar kita, sehingga kelak Tuhan akan bisa berkata, “Baik sekali
perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul
tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu
tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam
kebahagiaan tuanmu.”
Amin.
|
Perdamaian sangat dibutuhkan pada jaman ini, bagaimana kita bisa berdamai dengan sesama, dengan Tuhan dan diri sendiri.Semua ini hanya dapat kita peroleh dari Dia dan FirmanNya sebagai Madu Surgawi.
Rabu, 15 Juni 2016
Khotbah Matius 25:14-30 Setiakah Anda Dalam Mengembangkan Talenta Anda?
Khotbah: Kolose 3:9-17 Kejujuran
|
Pendahuluan
Saudara-Saudara, kejujuran
tampaknya telah menjadi sesuatu yang langka dalam kehidupan kita dewasa
ini. Mulai dari pengemis jalanan yang pura-pura sakit, pedagang yang
mengurangi timbangan, pelaku bisnis yang main curang, produsen iklan yang
menggunakan trik untuk menipu konsumen, hingga para koruptor dari kelas teri
maupun kelas kakap, rasanya cukup dapat menjadi gambaran nyata bahwa
nilai-nilai kejujuran itu memang sudah pudar. Karena itu, tepatlah apa
yang dikatakan oleh seorang wartawan sebuah surat kabar, “Ketidakjujuran
tampaknya sudah menjadi suatu kebiasaan yang sangat umum dalam masyarakat
kita. Terkadang ketidakjujuran itu dilakukan karena dianggap sebagai
alasan yang terbaik. Namun, ketidakjujuran juga tidak jarang dilakukan
hanya demi keuntungan pribadi, secara khusus untuk memudahkan usaha-usaha
yang berkaitan dengan hubungan-hubungan sosial maupun bisnis.”
Saudara, pada suatu siang ada
seorang salesman obat mengetuk pintu sebuah rumah tua yang penghuninya
miskin. Setelah wanita pemilik rumah ini mengintip siapa yang datang,
ia segera berkata kepada anak laki-lakinya yang masih kecil, “Nak, ayo cepat
bukakan pintu dan katakan pada salesman tersebut bahwa ibu sedang
mandi.” Sang anak pun segera berlari ke depan dan setelah membukakan
pintu ia berkata, “Pak, tadi ibu saya berpesan dari ruang tamu katanya ia
sedang mandi.”
Saudara, kejadian sepele seperti di
atas tentu bukanlah hal yang asing lagi di telinga kita, atau bahkan hal
seperti itu telah menjadi bagian yang kita lakukan sehari-hari. Kita
juga sering ikut tergelincir dalam praktik-praktik ketidakjujuran, baik
dalam perkara-perkara yang besar maupun sekedar mengatakan dusta-dusta kecil,
dusta-dusta untuk menjaga kesopanan, mengatakan kejujuran yang setengah benar
saja, atau melakukan tindakan-tindakan lain yang serupa? Saudara,
kejujuran memang barang langka yang sukar ditemui dalam masyarakat
kini.
Penjelasan
“Sebenarnya apa seh yang dimaksud
dengan kejujuran itu? Kejujuran, seperti yang diuraikan dalam Alkitab,
sesungguhnya memiliki makna yang luas. Mari kita sama-sama membuka
Titus 2:7-8,
“Jadikanlah dirimu sendiri suatu
teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan
bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam
pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk
yang dapat mereka sebarkan tentang kita.”
Selain itu mari kita kembali
membuka 2Korintus 8:21. SS, ketika Paulus menuliskan tentang
komitmennya untuk mengurus dengan jujur uang yang diberikan orang-orang
percaya guna membantu orang-orang yang kekurangan, dia berkata begini:
“Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga
di hadapan manusia.”
Dari sini kita melihat bahwa
kejujuran itu sesungguhnya bukan hanya berbicara mengenai pemakaian lidah
untuk berkata kebenaran, tetapi melibatkan juga cara hidup serta pola
pemikiran yang benar sehingga dapat menghasilkan gaya hidup yang patut dipuji
dan dihormati. Kejujuran itu harus meliputi cara hidup kita seluruhnya,
yaitu seluruh pembicaraan, pikiran, motivasi, serta tindakan kita; baik
ketika kita sedang sendiri maupun ketika berhadapan dengan orang lain.
Melalui pengertian tersebut kita
harus menyadari bahwa standar kejujuran yang Allah berikan jelas tidak sama
dengan standar kejujuran yang dunia tawarkan. Bagi dunia, kejujuran itu
hanya bersifat relatif dan tergantung pada situasi. Apa yang benar
dalam satu situasi belum tentu benar di dalam situasi lain. Akibatnya,
tidak ada standar kejujuran yang absolut. Terkadang dunia juga sering
menyamakan kejujuran dengan hukum. Mereka mengatakan bahwa apa saja
yang diperbolehkan di dalam hukum yang tertulis dari negara adalah
jujur. Jika hukum tidak menyebutkan bahwa suatu tindakan itu adalah
benar atau salah, maka mereka akan menganggap bahwa hal tersebut benar.
Karena itu tidak heran bila ada banyak orang-orang yang melakukan praktek
ketidakjujuran namun tetap dapat berkata, “Loh memangnya kenapa kalau aku
melakukan ini? Toh tidak ada hukum yang melarang!”
Ada pula orang-orang yang menilai
kejujuran itu sebagai persoalan hati nurani dari setiap orang. Mereka
berpendapat bahwa mematuhi hukum-hukum yang berlaku itu hanya dilakukan agar
tidak memperoleh hukuman saja. Jadi sesungguhnya, hukum yang sebenarnya
itu ada di dalam diri seseorang. Tidak ada tindakan yang benar-benar
salah sehingga apapun boleh diperbuat dan sama sekali tidak dinyatakan salah,
kecuali hal tersebut melanggar hati nuraninya. Saudara, itulah
nilai-nilai kejujuran yang dunia tawarkan saat ini. Semuanya sangatlah
subyektif dan tidak memiliki standar yang pasti.
Namun tidak demikian dengan
Alkitab, Bagi Allah, kejujuran adalah sesuatu yang mutlak dan harus dilakukan
dalam seluruh aspek hidup kita. Kejujuran itu bukan sekedar apa yang
kita katakan dan kita perbuat, namun menyangkut seluruh motivasi, pikiran,
serta hati kita. Kejujuran itu bukan sekedar dilakukan dalam
perkara-perkara besar, namun menyangkut pula perkara-perkara kecil yang
mungkin kita anggap remeh. Dan kejujuran itu pun bukan sekedar
dilakukan untuk kepentingan diri, namun menyangkut tanggung jawab kita juga
kepada Allah dan sesama.
Ilustrasi
Di dalam bukunya, seorang musisi
bernama Don Wyrtzen menceritakan bagaimana ayahnya, Jack Wyrtzen, pendiri Word
of Life, mengajarnya secara keras tentang kejujuran. Dikisahkan bawa
saat itu Don menghadiri KKR ayahnya di New York’s Time Square. Suatu
kali ia dan temannya yang bernama Jimmy memutuskan untuk naik kereta bawah
tanah. Alih-alih membeli tiket seharga 15 sen dolar, mereka memutuskan
untuk merangkak saja di bawah pintu pagar putar. Malam itu, ia dan
Jimmy menyombongkan kepandaian mereka sehingga dapat naik kereta keliling New
York tanpa membayar apa pun. Namun, sang ayah justru menanggapi hal itu
dengan sangat serius. Sang ayah mengatakan pada mereka bahwa tindakan
tersebut adalah kecurangan dan Allah sangat membencinya. Kemudian ia
pun dipaksa oleh ayahnya untuk menulis sepucuk surat ke New York City Port of
Authority dan meminta maaf kepada mereka serta melampirkan uang untuk
membayar tiket. Saudara, bagi sang ayah kejujuran adalah
perkara yang sangat serius di mata Allah dan ia tidak ingin kehilangan
kesempatan untuk mengajari anaknya mengenai hal ini.
Aplikasi
Lalu bagaimana dengan setiap
kita? Apakah kita pun menyadari bahwa kejujuran adalah suatu hal yang
sangat dituntut Allah dalam kehidupan orang percaya?
Penjelasan lebih lanjut
Saudara, berulang kali Alkitab menegaskan pada kita bahwa sifat hakiki Allah
adalah kebenaran. Dalam Yesaya 65:16 dan Mazmur 31:6 dikatakan bahwa Ia
adalah Allah yang Benar; Mazmur 119:16 dan Yohanes 17:17 juga
mengatakan bahwa Ia adalah Firman yang Benar; kemudian Yohanes 16:13
pun berkata hal yang serupa bahwa Ia adalah Roh yang Benar. Jadi, Allah
yang kita miliki sesungguhnya adalah Allah yang Benar, dapat diandalkan,
setia, serta dapat dipercaya di dalam memelihara komitmen-komitmen-Nya.
Oleh karena itulah, Allah sangat
membenci, bahkan mengutuki ketidakjujuran di dalam segala bentuknya.
Ketidakjujuran merupakan kekejian bagi-Nya karena itu adalah milik Si
Jahat. Yohanes 8:44 mengatakan bahwa iblis adalah pendusta dan bapa
dari segala pendusta. Jadi pada saat kita melakukan ketidakjujuran,
sesungguhnya kita sedang mengikuti pola hidup iblis dan menempatkan diri
untuk menjadi musuh Allah.
Apakah Saudara ingat akan kisah
Ananias dan Safira? Suami istri ini menjual sebidang tanah kemudian
menyimpan sebagian uangnya untuk mereka sendiri serta membawa sisanya kepada
rasul sebagai persembahan. Mereka tidak berdosa karena mereka memberi sebagian
hasil penjualan tanah mereka, namun mereka jatuh dalam dosa ketika berusaha
membuat orang lain percaya bahwa mereka telah memberikan seluruh uangnya bagi
Tuhan. Dan akibat perbuatan tersebut, Allah menghukum mati Ananias dan
Safira saat itu juga. Saudara, di sini kita menyaksikan bahwa Allah
sangat membenci ketidakjujuran, bahkan yang sekecil apapun bentuknya. Ia
menindak pelanggaran tersebut dengan begitu keras. Karenanya, Saudara, jangan
sekali-kali kita berpikir bahwa saat ini Allah tidak akan keberatan bila kita
bersikap tidak jujur. Seharusnya kisah tersebut dapat menjadi warning
bagi kita bahwa Allah sangat concern akan masalah kejujuran. Ia
menuntut agar setiap orang percaya dapat mempraktikkan kejujuran ini secara
konsisten, di mana pun dan kapan pun, baik ketika sedang sendiri maupun saat
berhadapan dengan orang lain.
Saudara-Saudara, seharusnya sebagai
orang percaya kita dapat menyadari kembali dengan sungguh-sungguh apa peran
kita yang sebenarnya di tengah dunia ini. Dalam Efesus 5:8-11, Paulus
pun menjelaskan hal ini secara tegas,
“Memang dahulu kamu adalah
kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu
hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan
dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan.
Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang
tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan
itu.”
Di sini Paulus mencoba menegaskan
bahwa kehidupan orang percaya tidaklah boleh sama seperti dahulu.
Allah telah menebus kita dari cara hidup kita yang lama sehingga kehidupan
kita saat ini haruslah berpadanan dengan status kita yang baru. Yang
menarik adalah ketika Paulus mencoba mengontraskan kehidupan orang percaya
dan orang yang belum percaya dengan istilah terang dan gelap. Istilah
terang di sini sebenarnya merupakan penggambaran Paulus akan terang yang
telah dibawa oleh Yesus Kristus ke dalam hidup orang-orang percaya.
Rupanya ada tiga hal yang ingin Paulus tekankan mengenai istilah “terang”
tersebut. Pertama, terang akan menghasilkan buah-buah yang baik, yaitu
kebajikan, keadilan, dan kebenaran. Kedua, terang memampukan
orang-orang percaya untuk membedakan apa yang membawa sukacita dan dukacita
bagi Allah. Dan yang ketiga, terang itu akan membuka tabir dari setiap
kejahatan. Saudara, seharusnya kebenaran ini dapat menyadarkan setiap
kita bahwa inilah peran yang harus kita jalani sebagai orang percaya.
Sesungguhnya Allah telah memampukan sekaligus menuntut kita untuk menjadi
terang di tengah-tengah dunia yang gelap ini, dan salah satunya adalah
melalui kehidupan yang jujur. Allah ingin agar kejujuran itu bukan
hanya sekedar sesuatu yang kita ketahui atau percayai, namun dapat menjadi
gaya hidup setiap kita sehingga orang lain pun dapat melihat perbedaan
tersebut.
Ilustrasi
Saudara, suatu hari saya mendengar
sebuah kesaksian yang menarik dari seorang pemuda Kristen yang baru saja
lahir baru. Pemuda itu menceritakan tentang pengalamannya ketika pergi
berbelanja ke sebuah supermarket. Diceritakan bahwa setelah selesai
berbelanja dan membayar, ia pun bergegas kembali ke mobil sambil mendorong
kereta belanjaannya. Saat ia sedang memasukkan barang-barang
belanjaannya, ia rupanya menemukan ada sebuah kartu ucapan yang terselip di
bawah kereta belanjaan tersebut dan belum sempat ia bayarkan. Spontan
saja ia bergegas masuk lagi ke toko, mengantri, dan meminta maaf pada
kasir. Saat kasir tersebut sedang membungkus kartunya, seorang ibu yang
berada di belakangnya tampak tercengang sambil berkata pelan, “Ya ampun Dik,
itu kan cuma sebuah kartu ucapan! Siapa juga yang tahu? Enggak
usah kembali!”
Saudara, kemudian pemuda tersebut
bercerita bahwa selama beberapa detik ia hanya bisa terdiam tanpa tahu harus
berkata apa. Namun, tak lama kemudian ia berhasil mendapatkan jawaban
yang tepat untuk ibu tersebut, “Bu, seandainya ibu kehilangan dompet,”
katanya sambil tersenyum, “Saya yakin ibu berharap dompet itu ditemukan oleh
orang konyol seperti saya, bukan?”
Aplikasi
Saudara, saat ini dunia
sangat membutuhkan orang-orang yang jujur. Dan kalau bukan kita,
siapa lagi yang akan melakukannya? Setiap kita dipanggil bukan untuk
menjadi serupa dengan dunia ini, namun untuk membawa terang, sehingga
orang-orang dapat melihat perbedaan di dalam diri kita. Mungkin
tindakan kita memang tidak akan bisa menghentikan praktik-praktik
ketidakjujuran yang ada di dalam dunia ini, namun setidaknya kita telah
belajar untuk menetapkan standar kejujuran tersebut pada diri kita sendiri.
Setelah itu, kita akan bisa melanjutkannya pula dalam keluarga kita, tempat
kerja, bahkan lingkungan sekitar kita.
Penutup
Percayalah Saudara apa yang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia karena
Allah sangat menghargai setiap usaha kita dalam menerapkan kejujuran. Ada
kemungkinan bahwa dalam perjalanannya, setiap kita akan mengalami begitu
banyak masalah, seperti kehilangan pekerjaan, diejek, dijauhi, dan banyak
tantangan-tantangan berat lain yang dapat saja kita hadapi. Namun percayalah,
Allah sendiri yang akan menjadi pembela kita. Kita tidak perlu takut,
sebab hidup kita ada di tangan-Nya. Yang terpenting Saudara, teruslah hidup
dalam kejujuran dan jangan menyerah! Lihatlah bagaimana Allah akan
berkarya melalui kehidupan kita.
Amin.
|
Khotbah Ibadah Persekutuan Besar Fak. Ekonomi UKI Thema: “Kejujuran” Jumat 17 Juni 2016
Hai
tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga
mempunyai tuan di surga (Kolose 4:1) Jika ya, hendaklah kamu
katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak apa yg lebih dari pada
itu berasal dari si jahat. (Matius 5:37)
Saudara-Saudara,
kejujuran tampaknya telah menjadi sesuatu yang langka dalam kehidupan kita
dewasa ini. Mulai dari pengemis jalanan yang pura-pura sakit, pedagang
yang mengurangi timbangan, pelaku bisnis yang main curang, produsen iklan yang
menggunakan trik untuk menipu konsumen, hingga para koruptor dari kelas teri
maupun kelas kakap, rasanya cukup dapat menjadi gambaran nyata bahwa
nilai-nilai kejujuran itu memang sudah pudar.
Apa itu kejujuran?
Sebenarnya apa yang
dimaksud dengan kejujuran itu? Kejujuran,
seperti yang diuraikan dalam Alkitab, sesungguhnya memiliki makna yang
luas. Mari kita sama-sama membuka Titus 2:7-8,
“Jadikanlah dirimu
sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan
bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam
pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang
dapat mereka sebarkan tentang kita.”
Dari sini kita melihat bahwa kejujuran itu sesungguhnya bukan
hanya berbicara mengenai pemakaian lidah untuk berkata kebenaran, tetapi
melibatkan juga cara hidup serta pola pemikiran yang benar sehingga dapat
menghasilkan gaya hidup yang patut dipuji dan dihormati. Kejujuran itu
harus meliputi cara hidup kita seluruhnya, yaitu seluruh pembicaraan, pikiran,
motivasi, serta tindakan kita; baik ketika kita sedang sendiri maupun ketika
berhadapan dengan orang lain.
Jujur didefinisikan juga
sebagai (1) Hati yang lurus(Dosen dlm menilai
benar2 objektip) tidak berbohong atau berkata apa adanya, (2) Tidak curang atau mengikuti aturan yang
berlaku Mahasiswa tdk Contek dlm ujian)(3) Tulus
iklas; tidak munafik atau bermuka dua. Jadi, jujur adalah sikap
moral yang sejati, yang berasal dari hati yang bersih, lalu diterjemahkan ke
dalam tutur kata dan perbuatan. Kejujuran tidak datang dari luar, melaikan
datang dari dalam diri manusia ketika seseorang mengakui kebenaran Allah.
Dalam Alkitab, Tuhan
telah menetapkan dengan sangat jelas, bahwa
berdusta, menipu, dan mencuri itu salah (baca: Kel. 20:15-16; Im.
19:11-13). Tuhan mengulangi ketetapanNya ini sepanjang sejarah. Tuhan menghukum
mati Akhan yang tidak jujur (Yosua 7:11), Tuhan juga menghukum mati Ananias dan
Safira yang berbohong (KPR 5:3-4). Siapa saja yang tidak jujur melawan Tuhan
karena hal itu melanggar ketetapanNya.
Dari
perspektif penciptaan,
secara teologi manusia diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa Allah -
Kejadian 1:26-27. Hal itu menegaskan bahwa manusia sempurna diciptakan oleh
Allah. Karena manusia diciptakan sempurna, maka manusia memiliki karakter yang
sempurna.
Salah satu karakter manusia ialah KEJUJURAN/JUJUR. Tetapi, setelah
manusia jatuh ke dalam dosa, maka karakter manusia menjadi rusak. Manusia
menjadi lebih suka bohong dari pada hidup jujur. Mengapa demikian?
Karena kalau hidup jujur sudah pasti tidak akan mendapat untung (Ilustrasi: Suami berkata bohong Isterinya
sakit,lebih baik dia mati). Sebaliknya,
kalau bohong mendapat untung. Inilah paradigma yang sudah terbangun secara
umum dalam diri manusia, baik orang non Kristen maupun orang Kristen yang
notabene adalah pengikut Kristus.
Menurut Alkitab,
bohong itu dosa, sehingga sebenarnya berbohong itu tidak ada untungnya. Iblis
telah memutar-balikkan fakta karena memang dia adalah bapa pendusta dari
mulanya. Jadi, seharusnya kita memutuskan untuk mulai berhenti berbohong dan berkatalah jujur. Karena, kalau kita jujur
dijamin pasti ada untungnya. Pertanyaannya ialah: "Apa untungnya kalau
kita hidup jujur? Berikut beberapa keuntungan yang akan kita peroleh, bila kita
hidup jujur. Pertama, Kejujuran
mendatangkan ketenangan - Mazmur 32:10-11. Orang kalau bicaranya jujur dan
hidupnya tulus, pasti mengalami ketenangan. Dan orang yang hidupnya tenang
pasti lebih sehat, sehingga orang yang jujur kata Alkitab selalu
bersorak-sorak.
Kedua,
Kejujuran membawa hidup yang lebih dekat dengan TUHAN Allah - Amsal 3:32. Orang
jujur hidupnya dekat sama TUHAN Allah. Mengapa? Karena di dalam TUHAN Allah
tidak ada yang dusta. Di dalam TUHAN Allah tidak ada kemunafikan. Dikatakan
demikian karena Dia adalah Allah yang benar dan di dalam Dia tidak ada
ketidak-benaran.
Ketiga, Kejujuran mendatangkan berkat yang
luar biasa - Yesaya 33:15-16. Orang
jujur hidupnya dijamin oleh TUHAN Allah. Di mana ada kejujuran, maka TUHAN
Allah akan memerintahkan berkat-berkat-Nya ke dalam perbendaharaan atau ke
dalam lumbung-lumbung atau ke dalam pundi-pundi orang-orang jujur. Keempat,
Kejujuran pada akhirnya pasti melihat kemenangan besar - Mazmur 140:14; Amsal
2:21-22. Ketika kita bicara jujur dan berjalan dalam ketulusan tentunya kita
akan menemui tantangan, hambatan, kesulitan dan sebagainya. Untuk sementara
jalan orang jujur berat dan lambat. Kadang kala jalan yang ditempuh oleh orang
jujur untuk sementara penuh onak dan duri. Tetapi, hasil akhirnya TUHAN Allah
mendatangkan kemenangan yang besar bagi orang-orang jujur. Marilah kita belajar
untuk hidup jujur dan dalam ketulusan. Patut diakui bahwa untuk hidup jujur
memang tidak gampang. Tetapi, di manapun
orang jujur berada mujizat dan kemenangan dari TUHAN Allah menyertainya.
Amin
Saudara, saat ini
dunia sangat membutuhkan orang-orang yang jujur. Dan kalau bukan
kita, siapa lagi yang akan melakukannya? Setiap kita dipanggil bukan
untuk menjadi serupa dengan dunia ini, namun untuk membawa terang, sehingga
orang-orang dapat melihat perbedaan di dalam diri kita. Mungkin tindakan
kita memang tidak akan bisa menghentikan praktik-praktik ketidakjujuran yang
ada di dalam dunia ini, namun setidaknya kita telah belajar untuk menetapkan
standar kejujuran tersebut pada diri kita sendiri. Setelah itu, kita akan
bisa melanjutkannya pula dalam keluarga kita, tempat kerja, bahkan lingkungan
sekitar kita.
Ams 2:7 Ia
menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang
tidak bercela lakunya,
Ams 3:32 karena orang yang sesat
adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat.
Ams 11:3 Orang yang jujur dipimpin
oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.
Ams 11:6 Orang yang jujur dilepaskan
oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya.
Ams 14:11 Rumah orang fasik akan musnah, tetapi kemah
orang jujur akan mekar.
Ams 15:8
Korban orang fasik adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi doa orang jujur dikenan-Nya.
Ams 15:19
Jalan si pemalas seperti pagar duri, tetapi jalan orang jujur adalah rata.
Ams 16:13
Bibir yang benar dikenan raja, dan orang yang berbicara jujur dikasihi-Nya.
Langganan:
Postingan (Atom)