Rabu, 15 Juni 2016

Thema: Kejujuran




Nats : Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya (Kolose 3:9)
Bacaan : Kolose 3:9-17
Seorang pelatih football universitas memutuskan untuk mengundurkan diri setelah mengaku telah memalsukan ijazah akademis dan ijazah olahraganya. Seorang perwira militer profesional mengaku bahwa lencana tanda jasa yang ia pakai bukan miliknya. Seorang pelamar pekerjaan menyatakan bahwa pengalamannya sebagai "pengawas makanan dan minuman" yang ia tulis sebenarnya hanyalah pengalaman membuatkan kopi di pagi hari di kantornya.
Kita semua cenderung melebih-melebihkan kebenaran supaya orang lain terkesan. Baik dalam resume pekerjaan maupun percakapan biasa, sikap melebih-lebihkan tampak wajar, padahal tindakan seperti itu sebenarnya berisiko. Kebohongan kecil akan berkembang menjadi besar saat kita mencoba menutupinya. Lalu kita pun bertanya-tanya mengapa kita bisa terjerumus dalam situasi sulit seperti itu.
Dalam Alkitab tertulis, "Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya" (Kolose 3:9,10). Dengan kata lain, jika kita mengimani Yesus sebagai Juruselamat kita, maka kebohongan bukanlah apa yang Allah harapkan dari kita. Penangkal sikap menyombongkan diri sendiri adalah dengan bertumbuh menjadi serupa dengan Kristus yang penuh belas kasih, kemurahan, kerendahan hati, kesabaran, pengampunan, dan kasih (ayat 12-14).
Jika kita mau memperhatikan sesama kita dengan tulus, maka kita tidak perlu lagi berusaha membuat mereka terkesan dengan cara apa pun --David McCasland
BERSIKAP JUJUR BERARTI ANDA TIDAK PERLU TAKUT
DINILAI ORANG LAIN
Nats : Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya (Kolose 3:9)
Bacaan : Kolose 3:1-9
Setibanya di rumah setelah melakukan perjalanan, saya memberi tahu istri saya, "Aku mendapat tiket [Ing: ticket, dapat berarti surat tilang] saat berkendaraan melintasi Indiana." Istri saya tampak akan marah saat saya melanjutkan, "Tunggu! Akan kujelaskan semuanya."
Saya menceritakan kepadanya bahwa saya baru saja menyusuri jalan tol Indiana. Setiap orang yang memasukinya menerima sebuah "tiket". Tiket itu diberikan bukan karena pelanggaran lalu lintas, melainkan untuk menentukan biaya tol yang harus dibayar berdasarkan jarak tempuh.
Ini mengingatkan saya bahwa kita mungkin mengatakan kebohongan saat membuat pernyataan yang benar. Ini terjadi jika kita menggunakan kata-kata bermakna ganda, atau membuat pernyataan tak lengkap untuk meninggalkan kesan yang salah.
Orang sering menceritakan kebenaran secara setengah-setengah dan menggunakan beberapa istilah tertentu untuk menyesatkan orang lain. Sebagai contoh, saat menjual sebuah TV bekas, si penjual mungkin menekankan kualitas gambar yang sangat bagus, tetapi tidak memberi tahu si pembeli bahwa kontrol volumenya tidak berfungsi dengan semestinya. Si penjual lalu mencari-cari alasan dan berkata, "Saya berkata jujur. Saya berkata kepadanya bahwa gambarnya sangat bagus. Ia tidak bertanya tentang suaranya." Padahal ini hanyalah bentuk lain dari kebohongan.
Daripada melebih-lebihkan atau membelokkan kebenaran demi memuaskan keinginan kita sendiri, marilah kita memperhatikan kata-kata dalam Kitab Suci, "Jangan lagi kamu saling mendustai" (Kolose 3:9) --Richard De Haan
PEMBOHONG YANG PALING MEMPERDAYA
ADALAH MEREKA YANG HIDUP DI UJUNG KEBENARAN
Nats : Hai tuan-tuan, berlakulah adil dan jujur terhadap hambamu; ingatlah, kamu juga mempunyai tuan di surga (Kolose 4:1)
Bacaan : Kolose 3:22-4:1
Saat Truett Cathy memulai usaha restoran pertamanya pada tahun 1946, restoran selalu itu tutup pada hari Minggu untuk memberi waktu bagi para karyawannya berkumpul bersama keluarga dan pergi ke gereja. Hal itu masih berlaku sampai sekarang, pada lebih dari 1.000 gerai cepat saji Chick-fil-A milik perusahaan Cathy.
Semboyan Cathy adalah "utamakan orang dan prinsip dulu, baru keuntungan". Semboyan ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri, baik saat memberikan perintah maupun saat mempekerjakan seseorang.
Dalam Kolose 3:22-4:1, Rasul Paulus berpesan kepada para majikan dan hamba. Menurutnya, kita perlu ingat bahwa kita mempunyai Tuan di surga (4:1). Kita harus bekerja dengan segenap hati untuk menyenangkan-Nya, bukan hanya untuk menyenangkan orang yang mengawasi kita (3:22-24).
Truett Cathy berusaha untuk senantiasa menerapkan prinsip alkitabiah dalam menjalankan usahanya. Larry Julian, pengarang God Is My CEO, sebuah buku tentang Cathy dan para pemimpin usaha lainnya, berkata, "Allah tidak menjanjikan keuntungan nyata atas investasi, tetapi Dia menjanjikan buah Roh, yakni kasih dan kedamaian dan sukacita, dalam kehidupan pribadi seseorang. Cathy tidak hanya mengalami kedamaian dan sukacita dan kasih dalam kehidupan pribadinya, tetapi juga membuat perbedaan dalam hidup para anak asuh, anak-anak, cucu-cucu, dan para karyawannya. Ia meninggalkan warisan tentang bagaimana melakukan segala sesuatu dengan benar."
Inilah teladan yang dapat kita terapkan --David McCasland
KETIKA MANUSIA DIANGGAP LEBIH PENTING DARIPADA KEUNTUNGAN
MAKA SETIAP ORANG AKAN MEMPEROLEH KEUNTUNGAN
Nats : Neraca yang betul, batu timbangan yang betul ... haruslah kamu pakai; Akulah Tuhan, Allahmu (Imamat 19:36)
Bacaan : Imamat 19:32-37
Mantan ketua Institut Akuntan Publik Bersertifikat Amerika mengatakan bahwa etika dalam bekerja merupakan dasar dari kesuksesan bisnis. Ketika berbicara di hadapan para pemimpin bisnis dan pemimpin komunitas, Marvin Strait berkata, "Orang-orang ingin berbisnis dengan rekan yang dapat mereka percaya. Kepercayaanlah yang membuat bisnis berjalan. Itu merupakan landasan bagi sistem perusahaan bebas."
Di tengah berkembangnya skandal korporat dan menipisnya kepercayaan publik, pernyataan Marvin tersebut mengingatkan kita akan nilai kejujuran. Tanpa kejujuran, hidup dan pekerjaan kita tidak akan pernah sesuai dengan rancangan Allah.
Hukum dalam Perjanjian Lama mengatakan, "Neraca yang betul, batu timbangan yang betul ... haruslah kamu pakai; Akulah Tuhan, Allahmu" (Imamat 19:36). Selain itu Perjanjian Baru mengajarkan bahwa kebenaran dan kejujuran dalam segala perkataan dan perbuatan seharusnya menjadi ciri orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus (Efesus 4:25-28).
Salah satu cara untuk menguji pilihan-pilihan kita setiap hari adalah dengan bertanya kepada diri sendiri, "Akan malukah saya seandainya membaca berita mengenai perbuatan saya di surat kabar, atau jika keluarga dan teman-teman saya mengetahui perbuatan saya itu? Apakah saya membiarkan atau malah mencari keuntungan dari tindakan tidak etis yang dilakukan orang lain?"
Kejujuran bukan hanya kebijakan terbaik, melainkan kebijakan Allah bagi setiap aspek kehidupan kita. Hidup berintegritas berarti menghormati dan memuliakan Dia --David McCasland
KEJUJURAN MERUPAKAN KEBIJAKAN TERBAIK --BENJAMIN FRANKLIN
Nats : Sifat yang diinginkan pada seseorang adalah kesetiaannya; lebih baik orang miskin daripada seorang pembohong (Amsal 19:22)
Bacaan : Keluaran 23:1-13
Seorang pria yang jujur dan baik hati mengendarai mobil menyusuri sepanjang jalanan San Fransisco lebih dari satu jam. Ia hendak menemukan seorang wanita pemilik dompet berisi uang 1.792 dolar yang tertinggal di kursi belakang taksinya. Saya menyukai hal yang dikatakannya pada saat beberapa rekannya sesama sopir taksi mengolok-olok dirinya karena tidak mengambil uang itu. Ia menjawab mereka, Saya adalah pembawa kartu anggota iman kristiani. Apa gunanya ke gereja jika kalian tidak mempraktikkan apa yang sudah dikhotbahkan?
Dalam kitab Keluaran 23, prinsip kejujuran dan kebaikan diberikan secara bersamaan bagi bangsa Israel dalam hukum yang diberikan Allah untuk mereka. Mereka harus cukup jujur untuk mengembalikan ternak yang tersesat kepada pemiliknya, meskipun orang itu adalah musuh (ayat 4). Mereka harus cukup baik hati kepada musuh mereka untuk menolong keledai yang keras kepala agar berdiri (ayat 5). Mereka harus sangat perhatian sehingga orang miskin diperlakukan secara adil dan diberi pertolongan, meski jika hal itu dilakukan dapat mendatangkan kerugian (ayat 6-9). Para pemilik tanah harus membiarkan lahan mereka pada tahun yang ketujuh, dan mengizinkan orang-orang miskin dengan bebas mengumpulkan sedikit hasil dari ladang tersebut (ayat 10,11).
Orang yang jujur bisa menjadi orang yang kejam. Orang yang baik hati mungkin lembek dan tak terlalu memerhatikan kebenaran. Namun, jika Anda menempatkan kejujuran dan kebaikan bersama-sama, keduanya akan menjadi pasangan hebat yang menghormati Allah dan memberkati sesama HVL
KEBIJAKSANAAN ADALAH KEMAMPUAN
MENYATAKAN SESUATU TANPA MENGAKIBATKAN PERMUSUHAN
Nats : Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Yaitu dia yang berlaku tidak bercela (Mazmur 15:1,2)
Bacaan : Mazmur 15
Pada Santa Clara University di Kalifornia, seorang peneliti melakukan penelitian terhadap 1.500 orang manajer di bidang bisnis, yang menunjukkan nilai yang paling dihargai oleh karyawan dari seorang pemimpin. Para karyawan tersebut mengatakan bahwa mereka menghargai pemimpin yang dapat menunjukkan kompetensi, mampu memberikan inspirasi kepada para pekerja, dan pandai memberikan arahan.
Akan tetapi, ada sifat keempat yang lebih mereka kagumi, yaitu integritas. Lebih dari segalanya, para pekerja menginginkan seorang manajer yang memiliki perkataan yang baik, yang terkenal dengan kejujurannya, dan yang dapat dipercaya.
Walaupun temuan dari hasil penelitian ini sangat penting bagi para manajer kristiani, temuan ini juga menyampaikan sesuatu bagi setiap orang yang mengaku sebagai pengikut Yesus. Integritas harus menjadi ciri semua orang yang percaya kepada Kristus, apa pun posisi mereka.
Menurut kitab Mazmur 15, kebenaran menjadi inti setiap perkataan dan perbuatan orang kudus. Karena Allah selalu menepati kata-kata-Nya, maka wajar kiranya apabila orang kudus dikenal sebagai orang yang tindakannya sesuai dengan apa yang ia katakan.
Kita semua perlu lebih hati-hati dalam menjaga integritas kita. Apakah orang-orang di sekitar kita mengagumi kejujuran kita? Apakah Tuhan melihat kita dengan setia melakukan apa yang kita katakan-bahkan apabila hal itu akan menyakitkan bagi kita? (Mazmur 15:4) -MRD II
HANYA DENGAN HIDUP JUJUR
KITA DAPAT SEMAKIN BERMARTABAT DI MATA ORANG LAIN
Nats : Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak (Matius 5:37)
Bacaan : Matius 5:33-37
Tak lama sebelum kematian menjemputnya, Duke dari Burgundy memimpin Dewan Kabinet Perancis. Pada saat itu, para menteri membuat sebuah proposal yang akan melanggar sebuah perjanjian, namun akan mendatangkan berbagai keuntungan penting bagi negara. Ada banyak alasan yang diberikan untuk membenarkan perbuatan itu. Duke mendengarkan dengan diam, dan ketika semua orang telah menyampaikan pendapatnya, ia kemudian menutup rapat tanpa memberikan persetujuan. Sambil meletakkan tangannya di atas salinan perjanjian yang asli, ia berkata dengan suara tegas, "Saudara-saudara, kita telah mempunyai sebuah perjanjian!"
Orang kristiani memang perlu bertindak dan berbicara agar Sang Juru Selamat dimuliakan. Bila Anda berjanji, tepatilah janji itu. Jika Anda membuat suatu komitmen, hormatilah itu. Jika Anda menerima suatu tanggung jawab, jalankanlah. Yesus berkata dalam Matius 5:37, "Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya."
Kejujuran dan kredibilitas kita harus dibuktikan sehingga kita dapat dipercaya dalam perjanjian apa pun yang kita buat. Kesaksian indah yang dapat dikatakan tentang orang kristiani adalah "Ia berjanji; itu sudah cukup bagi saya". Dan jika orang-orang nonkristiani dapat memercayai kita dalam perkara-perkara bisnis, maka mereka akan semakin mungkin memercayai kita ketika kita berbicara tentang Injil.
Jika Anda tergoda untuk ingkar janji, pikirkanlah kembali perkataan Duke dari Burgundy tadi, "Saudara-saudara, kita telah mempunyai sebuah perjanjian!" -
JANGAN PERNAH BERJANJI JIKA ANDA TIDAK BERNIAT MENEPATINYA
Nats : Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah (Kisah 5:4)
Bacaan : Kisah 5:1-11
Pada suatu hari yang cerah, empat orang siswa SMA tidak dapat menahan godaan untuk membolos sekolah. Keesokan harinya mereka menjelaskan kepada guru mereka bahwa mereka tidak masuk sekolah karena salah satu ban mobil mereka kempes. Mereka lega ketika guru itu tersenyum dan berkata, "Ya, kalian ketinggalan mengikuti kuis kemarin." Namun kemudian ia menambahkan, "Duduklah dan keluarkan pensil serta kertas. Pertanyaan pertama: Ban mana yang kempes?"
Tidak seorang pun dapat lolos karena berbohong. Dalam Kisah Para Rasul 5, Ananias dan Safira mengira mereka hanya berbohong kepada Petrus dan jemaat lainnya. Namun rasul itu berkata, "Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah" (ayat 4).
Kebenaran adalah salah satu sifat Allah. Jadi apabila kita berdusta, kita menyakiti hati-Nya. Dan cepat atau lambat Dia akan mengungkapkan semua kepalsuan -- bila tidak dalam kehidupan saat ini, maka akan terungkap pada saat pengadilan terakhir, ketika kita masing-masing memberi pertanggungjawaban atas perbuatan kita sendiri kepada Allah (Roma 14:10-12).
Kita hidup dalam dunia persaingan yang ketat, dan terkadang kita dapat begitu tergoda untuk menggelapkan kebenaran agar dapat terus maju. Akan tetapi, kenikmatan sesaat karena berbohong tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan keuntungan jangka panjang karena mengatakan kebenaran.
Bila Anda menipu seseorang, akuilah itu kepadanya dan kepada Tuhan. Memang kita harus merendahkan diri, tetapi ini adalah langkah awal untuk mengembalikan kejujuran dalam hidup Anda --DJD
BILA ANDA SELALU BERKATA JUJUR
ANDA TIDAK AKAN PERNAH TERJEBAK DALAM KEBOHONGAN
Nats : "Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku (Mazmur 32:5)
Bacaan : Mazmur 32:1-5
Banyak produk kosmetik menawarkan solusi bagi mereka yang ingin membuat kulit wajah lebih putih, lebih cerah. Lalu, ada juga banyak merek pasta gigi yang mengandung whitening untuk memutihkan gigi, agar lebih bersinar. Memutihkan warna yang sudah kusam atau pekat tentu tak mudah. Namun, lebih dari semua iklan "pemutih", Tuhan menawarkan kepada kita sesuatu yang dapat "memutihkan" dosa: "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju" (Yesaya 1:18). Warna semerah kirmizi (scarlet, merah tua seperti ungu) tentu tidak mungkin diubah menjadi putih. Namun, oleh pengampunan-Nya, dosa semerah kirmizi bisa menjadi seputih salju.
Dosa semerah kirmizi, menyiratkan betapa pekatnya sebuah dosa, atau begitu lamanya satu dosa mengendap dalam diri kita. Siapa yang tahan menyimpannya? Daud tak tahan berkubang dalam dosa. Ia merasa dosa membuat tulang-tulangnya menjadi lesu (Mazmur 32:3). Ia merasa siang dan malam tangan Tuhan menekannya begitu berat (ayat 4). Daud tak ingin dosa menjauhkannya dari Tuhan. Ia tak mau menyembunyikan kesalahannya. Ia harus memberitahukan dosanya kepada Tuhan, "Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku" (ayat 5). Daud mengakui dosanya, memohon pengampunan, dan Tuhan meng-ampuninya.
Jika dosa kita sepekat kirmizi, masih sanggupkah kita bersembunyi di hadapan Tuhan? Tidakkah hidup ini akan lebih ringan jika kita tidak menyembunyikan kesalahan dan dosa kita, terhadap siapa pun, terlebih kepada Tuhan? Akuilah dosa itu. Dan, seperti Tuhan mengampuni Daud, Dia pasti mengampuni kita .
HIDUP AKAN LEBIH TENTERAM DAN NYAMAN
BILA KITA TAK MENYEMBUNYIKAN KESALAHAN
Nats : Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh? Siapakah yang buta seperti suruhan-Ku dan yang tuli seperti hamba TUHAN? (Yesaya 42:19)
Bacaan : Yesaya 42:18-25
Doof indie atau tuli gaya Hindia merupakan sikap kaum pribumi yang banyak dikritik oleh para menir Belanda pada zaman penjajahan dulu. Kaum pribumi yang bekerja sebagai pembantu para menir itu sering berpura-pura tidak mendengar perintah tuannya. Kalau dimarahi, mereka berkilah, "Maaf saya tidak dengar, Tuan." Namun, apabila tuannya adalah Tuhan semesta alam, ceritanya bisa lain.
Yesaya 42 berisi teguran Tuhan kepada umat-Nya. Awalnya, Israel punya julukan hebat: hamba Tuhan. Namun, sang nabi menyindirnya sebagai hamba Tuhan yang buta dan tuli. Bahkan satu-satunya bangsa yang buta dan tuli: "Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh?" (ayat 19). Bermata, tetapi tidak melihat. Bertelinga, tetapi tidak mendengar. Intinya, nabi menohok dengan mengatakan si hamba Tuhan ini berindra, namun indranya tak berfungsi. Mendengar itu bukan sekadar untuk menangkap bunyi yang datang, melainkan juga untuk menyimak dan memahami. Begitu juga terhadap perintah Tuhan (ayat 23). Bila sungguh-sungguh mendengarkan, kita akan tahu maksud Tuhan; baik dalam peristiwa-peristiwa yang sudah berlalu, maupun peristiwa yang sekarang. Dan menjadikan itu sebagai modal untuk mengantisipasi apa yang akan datang.
Dunia ini begitu bising dengan suara, teori, pendapat, serta gagasan kita sendiri tentang banyak hal. Mungkin itu sebabnya kita sedikit mendengarkan suara Tuhan. Kini, sediakan diri untuk berdiam, mendengarkan, dan melihat realitas hidup. Lalu bersiaplah untuk mendengarkan dengan telinga yang peka menangkap suara dan kehendak-Nya -DKL
TELINGA YANG MENDENGAR
MEMIMPIN LANGKAH KE ARAH YANG BENAR

Sabtu, 11 Juni 2016

RAHASIA MELEWATI DUKACITA GANTI SUKACITA Baca: Habakuk 3:1-19




ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.  Habakuk 3:19
Apa yang terjadi ketika Anda sedang terlilit banyak masalah?  Pada umumnya orang akan mengeluh dan bertindak.  Ada orang yang kemudian bertindak meninggalkan Tuhan dengan berpikir: “Tuhan tidak adil!  Kenapa semua ini diijinkan terjadi dalam hidupku.  Kalau Tuhan itu kasih seharusnya tidak terjadi begini.”  Ada juga orang yang justru sebaliknya: berkeluh tetapi justru semakin memperkuat kepercayaan akan Tuhan yang berdaulat dan menjadi perlindungan dirinya.
Inilah yang dilakukan oleh Habakuk di tengah situasi keruntuhan bangsa Israel akibat penjajahan.  Habakuk melihat penglihatan dan pemahaman mengenai apa yang terjadi di masanya dan masa akan datang.  Habakuk menuliskannya dalam sebuah nyanyian ratapan.  Nyanyian ini bukan bernada keputusasaan tetapi pengharapan akan kekuasaan Tuhan atas semesta.
Ada perbedaan mendasar antara senang dan bersukacita.  Orang yang senang adalah keadaan emosi di mana ia mendapatkan sesuatu yang diharapkan.  Misalnya seorang remaja sangat ingin mempunyai sebuah komputer, kemudian setelah beberapa bulan orang tuanya membelikan sebuah lap top.  Remaja ini akan sangat senang.
Orang yang sukacita adalah keadaan di mana ia menaruh imannya bukan pada apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi apa yang di dalam dirinya, yaitu: bagaimana ia menaruh harapan kepada Tuhannya.  Misalnya seorang ibu yang keguguran kandungan dan bayinya yang berusia 5 bulan meninggal dunia.  Ibu ini sangat sedih dan berkeluh, tetapi ia tidak berhenti di sana.  Ibu ini tetap mempercayai Tuhan punya maksud dan waktu sendiri.   Ia mengharapkan penghiburan dan kekuatan dari-Nya.  Ibu ini mendapatkan penghiburan di dalam kedukaan.  Dukacita itu akan digantikan dengan sukacita karena Tuhan yang menolongnya.
Paulus ketika menulis surat Filipi yang terkenal dengan nada sukacita justru ditulisnya pada saat ia berada dalam banyak kesulitan.  Paulus menuliskan surat Filipi di penjara yang gelap; lembab; bau dan saya membayangkan ditemani dengan kecoak dan tikus-tikus.  Pada umumnya orang menyebut keadaan Paulus adalah dukacita, tetapi justru sukacita yang ada pada Paulus karena Tuhanlah yang menjadi sandarannya.
Bagaimana keadaan kita saat ini?  Apakah emosi Anda ditentukan oleh kejadian dari luar dan memperbudak diri Anda?  Ada orang yang saling bunuh karena ketersinggungan perkataan.  Ada orang yang meninggalkan Tuhan, gereja dan tidak pelayanan karena tidak mendapat pekerjaan. 
Sedih dan berkeluh atas peristiwa yang tidak diharapkan adalah wajar, tetapi janganlah sampai ini membuat kita kehilangan kendali atas hidup ini.  Habakuk bersedih dan berkeluh atas keadaan Israel, tetapi ia tidak membiarkan dirinya di dalam kekecewaan dan tindakan reaktif.  Habakuk justru menaruh kepercayaan pada Tuhan Penyelamat dan Pemberi Kekuatan.  Habakuk memang berduka, tetapi kemudian ia bersukacita.  Ia telah memperkuat iman percayanya.  Ia melanjutkan hidup!  Kiranya Tuhan menolong kita melewati dukacita dan menaruh pengharapan kepada Tuhan yang hidup.  Amin.




Sebagai Orang Kristen: Hidup Harus Melayani Kristus Yohanes 1:1-18




Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya. Yohanes 1:12
Menjadi orang Kristen adalah proses terus menerus untuk percaya dan tinggal di dalam Kristus.  Adalah kepalsuan identitas jikalau seseorang mengaku Kristen di waktu lalu saja; sementara hidupnya tidak di dalam kesungguhan bagi Tuhan pada saat ini.  Adalah kepalsuan identitas jikalau seseorang berpikir akan menjadi pengikut Kristus yang sungguh di waktu yang akan datang; sementara mulutnya hanya mengaku “kristen”. 
Kehadiran Yesus Kristus sebagai penyataan Firman yang kekal itu dikerjakan dengan tujuan menyelamatkan manusia.  Allah yang kudus dan sempurna datang kepada manusia yang berdosa dan bercacat cela.  Kerendahan hati Allah menjadi manusia adalah anugerah terbesar yang dapat ditemukan dalam hidup manusia yang sementara ini.
Kehadiran orang percaya bukan sekedar dahulu mengaku Kristen dan percaya Yesus Kristus dengan segala karya-Nya; tetapi sejak kelahiran barunya menjadi saksi Kristus.  Menjadi Orang percaya berarti terus menerus hidup menjadi saksi.

Tuhan mau kita bukan menjadi orang Kristen  yang asal-asalan. Kekristenan yang asal-asalan tidak akan menghasilkan perubahan yang baik; justru kerap kali menyisahkan dosa terselubung yang makin memperburuk hidup orang tersebut; yakni: hidup dalam Kristen religi.  Kristen tanpa Kristus.
Kehadiran Tuhan selalu membawa perubahan bagi hidup manusia.  Manusia yang berjumpa dengan Kristus tidak pernah lagi menjadi orang yang sama.  Manusia yang berjumpa dengan Kristus memancarkan terang dengan mengenyahkan kegelapan.  Manusia yang yang berjumpa dengan Kristus memiliki kerinduan melayani dan bersaksi bagi Kristus.
Tuhan mau kita menjadi anak-anak Allah; yakni memperoleh anugerah Allah bukan saja dalam hal keselamatan; tetapi mendapatkan kuasa untuk terus menerus hidup sebagaimana seharusnya orang Kristen hidup.  Kuasa dari Allah itu mampu mengubahkan hati manusia; mampu membuat perbedaan yang kontras antara orang Kristen yang di dalam Kristus dan orang sekedar mengaku Kristen. Gbu

Jumat, 10 Juni 2016

Khotbah Minggu 05 Juni 2016 Wahyu 22: 1-5




Pendahuluan
Kitab Wahyu merupakan kitab yang ditempatkan paling terakhir dalam urutan kitab-kitab Perjanjian Baru. Kata “Wahyu” dalam nama kitab ini merupakan terjemahan dari kata Bahasa Yunani Apokalypsis yang berarti menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi.
Kata ini sebenarnya menunjuk pada jenis sastra yang terdapat dalam kitab ini. Pada umumnya, sastra apokaliptik dalam konteks Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sebenarnya dimaksudkan untuk menyatakan rahasia-rahasia yang berhubungan dengan akhir zaman atau makna sejarah.
Kitab ini berisi simbol-simbol dan lambang-lambang yang pada zaman sekarang menimbulkan pelbagai tafsiran yang tidak hanya beragam tetapi juga seringkali kontroversial (berbahaya).
Salah satu tema yang menarik didiskusikan selain “ Kota Babel” [Why. 14-18] adalah tema tentang “Yerusalem baru [Why. 21: 2-22: 5]”. Kota Yerusalem Baru ini merupakan sebuah tema yang menarik bukan pertama-tama karena ditempatkan sebagai salah satu kota yang disebutkan dalam Kitab Wahyu dan juga bukan karena sebagai kota terakhir yang disebutkan dalam bab-bab terakhir Kitab Wahyu; [Why. 21:2-22:5] tetapi bahwa kota ini dipersaksikan sebagai “kota kudus, yang turun dari surga, dan penuh dengan kemuliaan Allah.”
Tafsiran:
 SUNGAI AIR KEHIDUPAN.
Ini bisa sebagai yang sesungguhnya, yang melambangkan Roh Kudus dan hidup, berkat serta kuasa rohani yang dikaruniakan-Nya (bd. Wahy 7:17 ; Wahy 21:6; 22:17 ; Yes 44:3 ; Yoh 7:37-39 ).
 POHON-POHON KEHIDUPAN
Nas : Wahy 22:2
Pohon ini menunjuk kepada hidup kekal yang dikaruniakan kepada semua orang yang mendiami kota yang baru itu ( Kej 2:9; 3:22 ). Daun-daun yang berkhasiat menyembuhkan itu menggambarkan ketidakhadiran apa pun yang menyebabkan kesakitan jasmani ataupun rohani (bd. Yeh 47:12 ); perhatikanlah bahwa dalam tubuh baru kita nanti, kita masih akan terus bergantung pada Tuhan untuk kehidupan, kekuatan, dan kesehatan.
MEREKA AKAN MELIHAT WAJAH-NYA.
Nas : Wahy 22:4
Ini merupakan tujuan terakhir dari sejarah penebusan: Allah yang berdiam di antara umat-Nya yang setia di suatu bumi yang bersih dari segala yang jahat. Di bumi yang baru ini, orang kudus akan melihat dan tinggal bersama dengan Yesus, Anak Domba Allah, yang oleh kasih-Nya telah menebus mereka dengan kematian-Nya di kayu salib. Kesukacitaan mereka yang terbesar adalah, "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka yang akan melihat Allah" ( Mat 5:8 ; bd. Kel 33:20,23 ; Yes 33:17 ; Yoh 14:9 ; 1Yoh 3:2 ).

Gambaran tentang langit dan bumi yang baru serta tentang Yerusalem yang baru (pasal 21-22) seharusnya membuat kita merindukan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Bila kita takut menghadapi kedatangan Tuhan Yesus, berarti ada yang harus dibereskan dalam hidup kita!
Apa yang kita rasakan dan kita pikirkan ketika kita merenungkan uraian tentang masa depan yang akan dinikmati oleh orang yang beriman kepada Yesus Kristus dalam Wahyu 21-22? Apakah ada pengharapan yang lebih tinggi daripada pengharapan untuk menikmati kehidupan di kota Yerusalem Baru dengan langit dan bumi yang baru? Apakah ada pengharapan yang lebih nikmat daripada terbebas dari godaan dosa, kemerosotan fisik, dan kemerosotan lingkungan? Apakah ada tempat di bumi ini yang lebih indah daripada tempat yang disediakan Allah bagi orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus (22:1-5)? Apakah ada pengharapan yang lebih menggetarkan hati daripada menerima upah atas jerih payah yang kita lakukan untuk membangun Kerajaan Allah di bumi ini (22:12)?
Ada tiga hal yang bisa membuat kita ragu-ragu untuk mengharapkan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali: Pertama: kita tidak akan menantikan kedatangan Tuhan Yesus bila kita tidak sungguh-sungguh beriman kepada karya Kristus di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Kedua: kita tidak akan menantikan kedatangan Tuhan Yesus bila kita masih menyimpan dosa kesayangan yang belum ingin kita lepaskan. Ketiga: kita tidak akan mengharapkan Tuhan Yesus segera datang bila kita belum melakukan apa pun untuk ikut membangun Kerajaan Allah. Bila ketiga penghalang di atas telah bisa kita singkirkan, kita akan dengan berani mengatakan, “Amin,
Dari gambaran kota yang begitu mulia, perhatian Yohanes diajak beralih pada gambaran taman Eden yang baru (22:1-5; bdk. Kejadian 2). Taman Eden yang lama, di mana manusia bekerja mengelolanya dan beribadah dan bersekutu kepada Allah dari waktu ke waktu, digantikan dengan taman Eden yang baru, di mana yang ada hanyalah ibadah (3) dan bersama memerintah sebagai raja (5).
Saat Yohanes diperlihatkan semua ini, tentu kerinduannya agar segera langit dan bumi yang lama berlalu, langit dan bumi yang baru, serta Yerusalem dan taman Eden yang baru datang. Kenyataannya, dua ribu tahun berlalu, kita masih di tengah langit dan bumi yang lama. Mengapa? Karena belas kasih Allah yang ingin tak seorang pun binasa. Marilah selama waktu masih ada, yang sudah sangat singkat ini, kita memberitakan kabar baik ini kepada lebih banyak orang! Amen RHL