Sabtu, 11 Juni 2016

RAHASIA MELEWATI DUKACITA GANTI SUKACITA Baca: Habakuk 3:1-19




ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.  Habakuk 3:19
Apa yang terjadi ketika Anda sedang terlilit banyak masalah?  Pada umumnya orang akan mengeluh dan bertindak.  Ada orang yang kemudian bertindak meninggalkan Tuhan dengan berpikir: “Tuhan tidak adil!  Kenapa semua ini diijinkan terjadi dalam hidupku.  Kalau Tuhan itu kasih seharusnya tidak terjadi begini.”  Ada juga orang yang justru sebaliknya: berkeluh tetapi justru semakin memperkuat kepercayaan akan Tuhan yang berdaulat dan menjadi perlindungan dirinya.
Inilah yang dilakukan oleh Habakuk di tengah situasi keruntuhan bangsa Israel akibat penjajahan.  Habakuk melihat penglihatan dan pemahaman mengenai apa yang terjadi di masanya dan masa akan datang.  Habakuk menuliskannya dalam sebuah nyanyian ratapan.  Nyanyian ini bukan bernada keputusasaan tetapi pengharapan akan kekuasaan Tuhan atas semesta.
Ada perbedaan mendasar antara senang dan bersukacita.  Orang yang senang adalah keadaan emosi di mana ia mendapatkan sesuatu yang diharapkan.  Misalnya seorang remaja sangat ingin mempunyai sebuah komputer, kemudian setelah beberapa bulan orang tuanya membelikan sebuah lap top.  Remaja ini akan sangat senang.
Orang yang sukacita adalah keadaan di mana ia menaruh imannya bukan pada apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi apa yang di dalam dirinya, yaitu: bagaimana ia menaruh harapan kepada Tuhannya.  Misalnya seorang ibu yang keguguran kandungan dan bayinya yang berusia 5 bulan meninggal dunia.  Ibu ini sangat sedih dan berkeluh, tetapi ia tidak berhenti di sana.  Ibu ini tetap mempercayai Tuhan punya maksud dan waktu sendiri.   Ia mengharapkan penghiburan dan kekuatan dari-Nya.  Ibu ini mendapatkan penghiburan di dalam kedukaan.  Dukacita itu akan digantikan dengan sukacita karena Tuhan yang menolongnya.
Paulus ketika menulis surat Filipi yang terkenal dengan nada sukacita justru ditulisnya pada saat ia berada dalam banyak kesulitan.  Paulus menuliskan surat Filipi di penjara yang gelap; lembab; bau dan saya membayangkan ditemani dengan kecoak dan tikus-tikus.  Pada umumnya orang menyebut keadaan Paulus adalah dukacita, tetapi justru sukacita yang ada pada Paulus karena Tuhanlah yang menjadi sandarannya.
Bagaimana keadaan kita saat ini?  Apakah emosi Anda ditentukan oleh kejadian dari luar dan memperbudak diri Anda?  Ada orang yang saling bunuh karena ketersinggungan perkataan.  Ada orang yang meninggalkan Tuhan, gereja dan tidak pelayanan karena tidak mendapat pekerjaan. 
Sedih dan berkeluh atas peristiwa yang tidak diharapkan adalah wajar, tetapi janganlah sampai ini membuat kita kehilangan kendali atas hidup ini.  Habakuk bersedih dan berkeluh atas keadaan Israel, tetapi ia tidak membiarkan dirinya di dalam kekecewaan dan tindakan reaktif.  Habakuk justru menaruh kepercayaan pada Tuhan Penyelamat dan Pemberi Kekuatan.  Habakuk memang berduka, tetapi kemudian ia bersukacita.  Ia telah memperkuat iman percayanya.  Ia melanjutkan hidup!  Kiranya Tuhan menolong kita melewati dukacita dan menaruh pengharapan kepada Tuhan yang hidup.  Amin.




Sebagai Orang Kristen: Hidup Harus Melayani Kristus Yohanes 1:1-18




Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya. Yohanes 1:12
Menjadi orang Kristen adalah proses terus menerus untuk percaya dan tinggal di dalam Kristus.  Adalah kepalsuan identitas jikalau seseorang mengaku Kristen di waktu lalu saja; sementara hidupnya tidak di dalam kesungguhan bagi Tuhan pada saat ini.  Adalah kepalsuan identitas jikalau seseorang berpikir akan menjadi pengikut Kristus yang sungguh di waktu yang akan datang; sementara mulutnya hanya mengaku “kristen”. 
Kehadiran Yesus Kristus sebagai penyataan Firman yang kekal itu dikerjakan dengan tujuan menyelamatkan manusia.  Allah yang kudus dan sempurna datang kepada manusia yang berdosa dan bercacat cela.  Kerendahan hati Allah menjadi manusia adalah anugerah terbesar yang dapat ditemukan dalam hidup manusia yang sementara ini.
Kehadiran orang percaya bukan sekedar dahulu mengaku Kristen dan percaya Yesus Kristus dengan segala karya-Nya; tetapi sejak kelahiran barunya menjadi saksi Kristus.  Menjadi Orang percaya berarti terus menerus hidup menjadi saksi.

Tuhan mau kita bukan menjadi orang Kristen  yang asal-asalan. Kekristenan yang asal-asalan tidak akan menghasilkan perubahan yang baik; justru kerap kali menyisahkan dosa terselubung yang makin memperburuk hidup orang tersebut; yakni: hidup dalam Kristen religi.  Kristen tanpa Kristus.
Kehadiran Tuhan selalu membawa perubahan bagi hidup manusia.  Manusia yang berjumpa dengan Kristus tidak pernah lagi menjadi orang yang sama.  Manusia yang berjumpa dengan Kristus memancarkan terang dengan mengenyahkan kegelapan.  Manusia yang yang berjumpa dengan Kristus memiliki kerinduan melayani dan bersaksi bagi Kristus.
Tuhan mau kita menjadi anak-anak Allah; yakni memperoleh anugerah Allah bukan saja dalam hal keselamatan; tetapi mendapatkan kuasa untuk terus menerus hidup sebagaimana seharusnya orang Kristen hidup.  Kuasa dari Allah itu mampu mengubahkan hati manusia; mampu membuat perbedaan yang kontras antara orang Kristen yang di dalam Kristus dan orang sekedar mengaku Kristen. Gbu

Jumat, 10 Juni 2016

Khotbah Minggu 05 Juni 2016 Wahyu 22: 1-5




Pendahuluan
Kitab Wahyu merupakan kitab yang ditempatkan paling terakhir dalam urutan kitab-kitab Perjanjian Baru. Kata “Wahyu” dalam nama kitab ini merupakan terjemahan dari kata Bahasa Yunani Apokalypsis yang berarti menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi.
Kata ini sebenarnya menunjuk pada jenis sastra yang terdapat dalam kitab ini. Pada umumnya, sastra apokaliptik dalam konteks Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sebenarnya dimaksudkan untuk menyatakan rahasia-rahasia yang berhubungan dengan akhir zaman atau makna sejarah.
Kitab ini berisi simbol-simbol dan lambang-lambang yang pada zaman sekarang menimbulkan pelbagai tafsiran yang tidak hanya beragam tetapi juga seringkali kontroversial (berbahaya).
Salah satu tema yang menarik didiskusikan selain “ Kota Babel” [Why. 14-18] adalah tema tentang “Yerusalem baru [Why. 21: 2-22: 5]”. Kota Yerusalem Baru ini merupakan sebuah tema yang menarik bukan pertama-tama karena ditempatkan sebagai salah satu kota yang disebutkan dalam Kitab Wahyu dan juga bukan karena sebagai kota terakhir yang disebutkan dalam bab-bab terakhir Kitab Wahyu; [Why. 21:2-22:5] tetapi bahwa kota ini dipersaksikan sebagai “kota kudus, yang turun dari surga, dan penuh dengan kemuliaan Allah.”
Tafsiran:
 SUNGAI AIR KEHIDUPAN.
Ini bisa sebagai yang sesungguhnya, yang melambangkan Roh Kudus dan hidup, berkat serta kuasa rohani yang dikaruniakan-Nya (bd. Wahy 7:17 ; Wahy 21:6; 22:17 ; Yes 44:3 ; Yoh 7:37-39 ).
 POHON-POHON KEHIDUPAN
Nas : Wahy 22:2
Pohon ini menunjuk kepada hidup kekal yang dikaruniakan kepada semua orang yang mendiami kota yang baru itu ( Kej 2:9; 3:22 ). Daun-daun yang berkhasiat menyembuhkan itu menggambarkan ketidakhadiran apa pun yang menyebabkan kesakitan jasmani ataupun rohani (bd. Yeh 47:12 ); perhatikanlah bahwa dalam tubuh baru kita nanti, kita masih akan terus bergantung pada Tuhan untuk kehidupan, kekuatan, dan kesehatan.
MEREKA AKAN MELIHAT WAJAH-NYA.
Nas : Wahy 22:4
Ini merupakan tujuan terakhir dari sejarah penebusan: Allah yang berdiam di antara umat-Nya yang setia di suatu bumi yang bersih dari segala yang jahat. Di bumi yang baru ini, orang kudus akan melihat dan tinggal bersama dengan Yesus, Anak Domba Allah, yang oleh kasih-Nya telah menebus mereka dengan kematian-Nya di kayu salib. Kesukacitaan mereka yang terbesar adalah, "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka yang akan melihat Allah" ( Mat 5:8 ; bd. Kel 33:20,23 ; Yes 33:17 ; Yoh 14:9 ; 1Yoh 3:2 ).

Gambaran tentang langit dan bumi yang baru serta tentang Yerusalem yang baru (pasal 21-22) seharusnya membuat kita merindukan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Bila kita takut menghadapi kedatangan Tuhan Yesus, berarti ada yang harus dibereskan dalam hidup kita!
Apa yang kita rasakan dan kita pikirkan ketika kita merenungkan uraian tentang masa depan yang akan dinikmati oleh orang yang beriman kepada Yesus Kristus dalam Wahyu 21-22? Apakah ada pengharapan yang lebih tinggi daripada pengharapan untuk menikmati kehidupan di kota Yerusalem Baru dengan langit dan bumi yang baru? Apakah ada pengharapan yang lebih nikmat daripada terbebas dari godaan dosa, kemerosotan fisik, dan kemerosotan lingkungan? Apakah ada tempat di bumi ini yang lebih indah daripada tempat yang disediakan Allah bagi orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus (22:1-5)? Apakah ada pengharapan yang lebih menggetarkan hati daripada menerima upah atas jerih payah yang kita lakukan untuk membangun Kerajaan Allah di bumi ini (22:12)?
Ada tiga hal yang bisa membuat kita ragu-ragu untuk mengharapkan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali: Pertama: kita tidak akan menantikan kedatangan Tuhan Yesus bila kita tidak sungguh-sungguh beriman kepada karya Kristus di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Kedua: kita tidak akan menantikan kedatangan Tuhan Yesus bila kita masih menyimpan dosa kesayangan yang belum ingin kita lepaskan. Ketiga: kita tidak akan mengharapkan Tuhan Yesus segera datang bila kita belum melakukan apa pun untuk ikut membangun Kerajaan Allah. Bila ketiga penghalang di atas telah bisa kita singkirkan, kita akan dengan berani mengatakan, “Amin,
Dari gambaran kota yang begitu mulia, perhatian Yohanes diajak beralih pada gambaran taman Eden yang baru (22:1-5; bdk. Kejadian 2). Taman Eden yang lama, di mana manusia bekerja mengelolanya dan beribadah dan bersekutu kepada Allah dari waktu ke waktu, digantikan dengan taman Eden yang baru, di mana yang ada hanyalah ibadah (3) dan bersama memerintah sebagai raja (5).
Saat Yohanes diperlihatkan semua ini, tentu kerinduannya agar segera langit dan bumi yang lama berlalu, langit dan bumi yang baru, serta Yerusalem dan taman Eden yang baru datang. Kenyataannya, dua ribu tahun berlalu, kita masih di tengah langit dan bumi yang lama. Mengapa? Karena belas kasih Allah yang ingin tak seorang pun binasa. Marilah selama waktu masih ada, yang sudah sangat singkat ini, kita memberitakan kabar baik ini kepada lebih banyak orang! Amen RHL

Khotbah Minggu 12 Juni 2016 2 Samuel 12 : 1-16



Thema:”Pengakuan Dosa Menghasilkan Pengampunan”
Pengantar:
Perbuatan Daud mengusik kekudusan Allah adalah dosa yang menyakitkan hati Allah. Oleh karena itu Nabi Natan, yang memberitahukan janji bahwa Kerajaan Daud akan kokoh selama-lamanya (2 Samuel 7:16), kini menyampaikan celaan Tuhan terhadap dia.
Hal itu Natan sampaikan dengan perumpamaan yang bisa kita lihat 2 Samuel 12 : 1-7: Perumpamaan itu menggambarkan dimana ada seorang miskin ( Uria ) yang memiliki hanya  seekor domba betina (Batsyeba) direbut oleh seorang kaya (Daud) ketika “tamunya” ( hawa nafsu ) datang kepada dia. Gambaran keakraban antara domba dan pemiliknya dalam kehidupan sehari-hari, mencerminkan kebahagiaan perkawinan yang dirusak oleh egoisme dan kekejaman Daud. Dan hal itulah yang saya katakana mengusik kekudusan Allah. “Tamu” yang dimaksud dalam ayat 4, maksudnya adalah hawa nafsu yang datang. Pada saat kedatangan “tamu” dan hendak meladeni/menjamu “tamunya” itu si Kaya tidak mengambil domba-dombanya sendiri melainkan merampas domba satu-satunya dari si Miskin itu. Meskipun dalam perumpamaan itu tidak dikatakan apa-apa tentang pembunuhan, Daud tiba-tiba menyela dan menyatakan bahwa orang kaya itu harus mati. Ia juga mengatakan bahwa domba itu harus diganti empat kali lipat.
Apakah ini secara tidak sengaja ternyata Daud meramalkan sendiri kematian anak-anaknya, yakni seperti: anak pertamanya dengan Betsyeba, Amnon, Absalom dan kemudian Adonia.
Ketika menyampaikan Firman Tuhan, Natan menyebutkan semua kebaikan yang telah Tuhan berikan kepada Daud; Pemerintahan atas Yehuda-Israel, istri-istri Saul, kenyataan yang sebelumnya tidak pernah disinggung. Apakah semuanya itu belum cukup? Tuhan pasti akan menambahkan seandainya Daud memintanya (ayat 8 ). Sebenarnya Tuhan amat menyayangi Daud. Tetapi, Daud ibarat anak yang bandel, yang tidak bisa dikendalikan. Ia telah mengkianati kemurahan Tuhan baginya, dengan mengambil hak orang lain dalam hal isteri Uria itu.
Kisah yang ditulis dalam pasal sebelumnya dalam 2 Samuel 11 & 12 mencatat kegagalan rohani yang serius dari Daud dan hukuman Allah atasnya untuk seumur hidupnya. Pengalaman hidup Daud tersebut bisa kita ambil sebagai suatu contoh. Kisah dosa-dosa dan aneka kejadian yang menyusul dalam kehidupan pribadi dan keluarga Daud menjadi suatu peringatan dan contoh yang serius untuk setiap orang percaya, bukan hanya untuk bangsa Israel. Pengalaman Daud menunjukkan bagaimana jauhnya seorang dapat jatuh apabila dia berbalik dari Allah dan pimpinan-Nya dan mulai mengandalkan diri sendiri dalam suatu tindakan.
Khotbah/Penerapan:
Lalu apa pelajaran yang bisa kita ambil dari Kisah Daud yang diperingatkan oleh Natan diatas.? 1. Jika kita adalah seorang yang pernah melakukan tindakan yang mengusik kekudusan Allah, misalnya berzinah, mencuri, mengambil hak orang lain (korupsi, menipu dsb). Kita diingatkan Allah melalui nats ini. Bahwa siapapun kita, apakah kita adalah : seorang Pendeta, Penatua, Raja, Presiden, sampai rakyat biasa, jika kita merasa pernah melakukan hal-hal yang  mengusik kekudusan Tuhan dengan tindakan dosa tersebut maka mari kita sadari dan melihat respon Allah terhadap dosa yang kita lakukan, datanglah kepadaNya dan mohon ampun.
2. Allah membenci yang namnya dosa. Allah tidak akan membiarkan orang-orang pilihanNya hidup dalam dosa. itu sebabnya Allah mengutus nabi Natan kepada Daud. Allah memakai Natan untuk menegur dosa yang telah dilakukan Daud. Allah tidak pernah berkompromi dengan hamba-hambaNya yang telah melakukan dosa. Ia akan memberikan teguran agar mereka dapat bertobat dan kembali pada jalanNya. Sekalipun tidak ada yang tahu dosa apa yang telah kita lakukan, namun mata Tuhan tidak pernah lepas memandang kehidupan kita setiap detik dan waktu.
3. Ketika kita berbuat kesalahan, maka Tuhan maka Tuhan menegor kita lewat 3 cara:
a. Hati Nurani (Insting) ketika kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan,maka hhati nurani kita merasa tidak enak dan tidak merasa tenang.
b. Pikiran (Intelek) Kalau kita mengabaikan hati nurani kita, maka Tuhan memakai pikiran kita. Kita pasti merasa terganggu karena mengetahui bahwa hal itu tidak benar dan tidak berkenan di hati Tuhan.
c. Bisikan hati  (Instuisi) Jika kita mengabaikan ke dua hal diatas maka Tuhanakan menegor kita lewat FirmanNya atau orang lain (teman, saudara atau hamba Tuhan).
Terkadang Tuhan memakai orang lain untuk menegor dan membongkar dosa dan kesalahan yang kita perbuat. Namun yang terpenting, bagaimana kita merespons tegorang yang demikian.
Kita lihat sikap Daud menerima teguran yang cukup keras? Daud tidak mengelak, tidak berbantah, tidak membuat alasan tetapi Daud memberikan respon yang sangat baik. Ia menerima teguran dari Tuhan dan mengakui bahwa ia bersalah. Tidak mudah baginya mengakui bahwa dirinya berdosa dihadapan Tuhan maupun rakyat. Tetapi Daud sungguh pemimpin yang sejati dan berjiwa besar. Ia tidak takut kehilangan popularitasnya, pendukungnnya, atau jabatannya karena harus mengakui kesalahan yang diperbuatnya. Karena Daud tahu betul bahwa posisi dan jabatan, keberhasilan dan kesuksesan datangnya dari Tuhan. Daud pun menyadari bahwa yang membangun kerajaanya adalah Tuhan. Daud belajar untuk rendah hati dan tidak takut kehilangan segala sesuatu yang dia miliki. Sebagaimana Raja Daud Bertobat dengan sungguh-sungguh dari dosanya. Marilah kita belajar seperti Daud yang memiliki kerendahaan hati untuk menerima teguran dan mau mengakui kesalahannya. Banyaknya orang yang akan mengikuti saudara sebagai pemimpin bukan karena keberhasilan yang saudara raih, tetapi karena berani menerima teguran dan mengakui kesalahan. Dalam hal ini peringatan Allah melalui Nabi Natan kepada Daud boleh menjadi sebuah pesan yang memberikan ruang kepada kita untuk SEGERA bereaksi dengan cepat berbalik kepada Allah dengan sungguh-sungguh dari dosa kita.
Kita bisa respon Daud :
Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada Tuhan." Dan Natan berkata kepada Daud: "Tuhan telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati."
(ayat 13). Amin. RHL

Jumat, 22 April 2016

Khotbah Minggu 24 April 2016 Kisah Para Rasul 11:1-18 Tema : Pertobatan Yang Memimpin Kepada Hidup Hamubaon ni Roha Asa Mangolu


Pendahuluan
Ketika mengadakan pembaruan selalu saja yang menjadi tema penting di dalamnya adalah "perubahan". Misalkan pembaruan dari sesuatu hal yang telah membudaya atau menjadi kebiasaan yang sudah mengakar di dalam masyarakat, seperti upaya pemerintah mengurangi pemakaian kantong plastik dan sejenisnya menimbulkan "konflik kecil" di dalam masyarakat. Perubahan lain yang lebih berdampak menimbulkan konflik misalkan perubahan jalur lalulintas dimana selama ini telah memberi kenyamanan  bagi sebagian pemakaianya tetapi oleh karena perubahan arah  lintasan maka menimbulkan "konflik". Yang lebih menggejolak misalkan perubahan peraturan ketika kebijakan baru di dalam suatu negara di izinkan perkawinan sama jenis kelamin, dan gereja menerimanya, memberkati pasangan satu jenis kelamin tersebut pastilah akan menimbulkan konflik yang lebih besar. Untuk mencapai kemajuan memang harus mengalami perubahan, tapi apakah ajaran agama (jalan keselamatan) dapat di ubah? Tentu hal ini akan menjadi bahasan yang menarik di dalam  pembahasan Firman Tuhan ini, yaitu tentang sikap atau reaksi orang-orang Yahudi atas pembaruan dan perubahan pemahaman  keslamatan yang telah mereka pertimbangkan berdasarkan pendapat, pengalaman, pengetahuan, budaya, kebiasaan dan kepentingannya melawan keputusan Tuhan mengadakan perubahan oleh karena kasih dan kuasaNya.
 Pembahasan
Setelah pelayanan karya keselamatan  di dalam Yesus di tengah-tengah dunia berakhir, dan Dia telah meninggalkan dunia, maka  karya keselamatan  itu di lanjutkan oleh Roh Kudus melalui para Rasul dan orang-orang percaya. Gerakan Roh memperbarui cara hidup berjemaat; mengubah pandangan lama seperti yang dipahami dan dipertahankan oleh orang orang Yahudi yaitu  memperoleh keselamatan  hanya oleh karena menjadi keturunan Abraham, menjadi orang Yahudi sebab kepada Abraham dan keturunannyalah  Allah telah  menjanjikan  keselamatan yang kekal  (bdg Kej. 17:7-13). Menurut orang orang Yahudi hanya kaumnya yang layak menjadi umat Allah karena itu sebagai umat pilihan mereka dilarang bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi apalagi memasuki rumah mereka adalah najis.
 Pemahaman orang-orang Yahudi tersebut telah membelenggunya  "kaku" melakukan  keselamatannya. Mereka terkurung dan hanya menjadi dirinya sendiri,  menutup diri kepada orang yang bukan Yahudi dan  tidak menghargainya. Oleh sebab itu melihat Petrus dituntun Roh Kudus melayani ke Kaisarea kepada Kornelius dan orang orang yang bukan Yahudi membuat orang-orang Yahudi marah dan menuduh Petrus bersalah telah melanggar aturan tradisi yang selama ini mereka pelihara  "Orang-orang yahudi tidak boleh bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi apalagi memasuki rumah mereka." Karena itu Petrus harus mempertanggung jawabkan sikapnya tersebut. Orang-orang Kristen dari kelompok Yahudi berdebat dengan Petrus tentang kelayakan untuk memasuki persekutuan orang-orang yang bukan Yahudi, masuk rumah mereka dan makan bersama mereka.  Orang-orang Yahudi mempertahankan tradisi Abraham, yaitu tradisi sunat "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan." (Kis. 15:1). Mereka mengartikan ayat tersebut:  jika orang-orang yang bukan Yahudi ingin menjadi Kristen maka mereka harus disunakan terlebih dahulu (di Yahudikan terlebih dahulu), kemudian dibaptis menjadi kristen.
 Petrus tidak  cukup memiliki pengetahuan dan pemahaman untuk mengubah tradisi lama Yahudi tersebut tapi Allah melalului Roh Kuduslah yang melakukanNya. Pada mulanya pemahaman Petrus sama dengan pemahaman orang-orang Yahudi, tapi melalui penglihatan yang ditunjukkan Allah kepadanya telah mengubah pemahamannya  yaitu; dari langit turun suatu benda yang berbentuk kain lebar yang di dalamnya terdapat berbagai jenis binatang yang haram  dan tidak tahir dan Allah memerintahkan supaya Petrus menyembelih dan memakannya, tetapi Petrus menolaknya. Peristiwa itu terjadi sampai tiga kali sampai akhirnya Petrus memahami bahwa itulah petunjuk Allah supaya ia pergi ke Kaisarea kepada Kornelius dan jemaat yang bukan orang Yahudi (Kis 10). Ketika Petrus sedang mengajar orang orang kristen di Kaisarea Roh Kudus turun atas mereka sehingga mereka dipenuhi Roh dan mereka berkata-kata dalam bahasa Roh. Melihat kejadian tersebut membuat jemaat yang dari kelompok Yahudi tercengang-cengang keheranan.
 Apa yang dilakukan Allah melalui Roh Kudus di dalam pelayanan Petrus bukanlah awal dari pembaruan tentang pemahaman kesalahan bagi  orang-orang Yahudi. Pembaruan terjadi oleh karena kasih Allah seperti keterangan Yohanes di dalam injilnya tentang tujuan kedatangan Yesus ke dalam dunia "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yoh. 3:16). Tujuan objek Kasih Allah adalah dunia yaitu supaya setiap orang dari segala bangsa dan suku yang oleh karena pelayanan injil menjadi percaya di menangkan dan menerima keselamatan.
 Suatu hari  di dalam pelayananNya Yesus di datangi wanita Kanaan (bukan Yahudi) dan berteriak kepada Yesus memohon keselamatan anak perempuannya yang kerasukan setan dan sangat menderita. Kepada perempuan itu Yesus menjawab: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Tetapi wanita itu mendekati Yesus dan menyembahNya dan terus memohon. Tapi jawab Yesus: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh. (bdg. Matius 15:21-28).
 Kasih Allah membawa harapan bagi semua orang sehingga dapat menjadi anak-anak pilihan Allah dan mengalami berkat serta keselamatan. Kasih Allah memungkinkan semua orang menjadi umat pilihanNya, tidak ada yang kecuali, bahwa setiap orang  yang mau datang kepadaNya, membuka hati dan menerima hidup baru menjadi umat pilihanNya yang akan mendapat pertolongan Allah dan bagian di dalam KerajaaNya.
 Refleksi dan Penutup
Ketika Petrus menanyakan kepada Yesus tentang upah yang akan diterimanya  oleh karena pemberitaan injil dan karena segala sesuatu yang telah dikorbankannya oleh karena Injil, maka Yesus memberi pengajaran,  yang ditutup dengan peringatan yang  keras  "Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." (Matius 19:30). Kesetiaan harus dipelihara dengan memperhitungkan kasih Allah bukan menghitung apa yang telah di perbuat.
 Menjadi anak pilihan Tuhan adalah anugerah yang senantiasa harus di syukuri, yaitu dengan cara setiap hari semakin penuh kasih dan murah hati. Sikap orang percaya yang benar, ketika mereka melihat orang  yang tidak diperhitungkan (dianggap tidak layak) mendapat kasih Allah, tetapi kepada mereka Allah menyatakan kasihNya maka oleh karena melihat bukti kasih Allah tersebut akan membangkitkan suka cita dan ucapan syukurnya  kepada Allah.  Mereka bersukacita bukan menjadi cemburu atau berkecil hati atau merasa tersaingi oleh karena kasih Allah tersebut.
 Melalui sikap orang-orang Yahudi orang percaya hendaknya  belajar; tidak boleh "sombong rohani". Mereka menganggap dirinya  yang lebih layak dan benar di hadapan Allah dan menutup diri terhadap pembaruan. Itulah yang membuat mereka menjadi terbelakang. Manusia memiliki kecerdasan untuk mempertimbangkan keputusannya, sehingga apabila manusia itu mau belajar dan memelihara hikmat Allah akan mengajarnya  memahami segala sesuatu yang terjadi dan memampukannya merespon dengan  benar. Amin. Dari Berbagai Sumber