Jumat, 10 Juni 2016

Khotbah Minggu 05 Juni 2016 Wahyu 22: 1-5




Pendahuluan
Kitab Wahyu merupakan kitab yang ditempatkan paling terakhir dalam urutan kitab-kitab Perjanjian Baru. Kata “Wahyu” dalam nama kitab ini merupakan terjemahan dari kata Bahasa Yunani Apokalypsis yang berarti menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi.
Kata ini sebenarnya menunjuk pada jenis sastra yang terdapat dalam kitab ini. Pada umumnya, sastra apokaliptik dalam konteks Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sebenarnya dimaksudkan untuk menyatakan rahasia-rahasia yang berhubungan dengan akhir zaman atau makna sejarah.
Kitab ini berisi simbol-simbol dan lambang-lambang yang pada zaman sekarang menimbulkan pelbagai tafsiran yang tidak hanya beragam tetapi juga seringkali kontroversial (berbahaya).
Salah satu tema yang menarik didiskusikan selain “ Kota Babel” [Why. 14-18] adalah tema tentang “Yerusalem baru [Why. 21: 2-22: 5]”. Kota Yerusalem Baru ini merupakan sebuah tema yang menarik bukan pertama-tama karena ditempatkan sebagai salah satu kota yang disebutkan dalam Kitab Wahyu dan juga bukan karena sebagai kota terakhir yang disebutkan dalam bab-bab terakhir Kitab Wahyu; [Why. 21:2-22:5] tetapi bahwa kota ini dipersaksikan sebagai “kota kudus, yang turun dari surga, dan penuh dengan kemuliaan Allah.”
Tafsiran:
 SUNGAI AIR KEHIDUPAN.
Ini bisa sebagai yang sesungguhnya, yang melambangkan Roh Kudus dan hidup, berkat serta kuasa rohani yang dikaruniakan-Nya (bd. Wahy 7:17 ; Wahy 21:6; 22:17 ; Yes 44:3 ; Yoh 7:37-39 ).
 POHON-POHON KEHIDUPAN
Nas : Wahy 22:2
Pohon ini menunjuk kepada hidup kekal yang dikaruniakan kepada semua orang yang mendiami kota yang baru itu ( Kej 2:9; 3:22 ). Daun-daun yang berkhasiat menyembuhkan itu menggambarkan ketidakhadiran apa pun yang menyebabkan kesakitan jasmani ataupun rohani (bd. Yeh 47:12 ); perhatikanlah bahwa dalam tubuh baru kita nanti, kita masih akan terus bergantung pada Tuhan untuk kehidupan, kekuatan, dan kesehatan.
MEREKA AKAN MELIHAT WAJAH-NYA.
Nas : Wahy 22:4
Ini merupakan tujuan terakhir dari sejarah penebusan: Allah yang berdiam di antara umat-Nya yang setia di suatu bumi yang bersih dari segala yang jahat. Di bumi yang baru ini, orang kudus akan melihat dan tinggal bersama dengan Yesus, Anak Domba Allah, yang oleh kasih-Nya telah menebus mereka dengan kematian-Nya di kayu salib. Kesukacitaan mereka yang terbesar adalah, "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka yang akan melihat Allah" ( Mat 5:8 ; bd. Kel 33:20,23 ; Yes 33:17 ; Yoh 14:9 ; 1Yoh 3:2 ).

Gambaran tentang langit dan bumi yang baru serta tentang Yerusalem yang baru (pasal 21-22) seharusnya membuat kita merindukan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Bila kita takut menghadapi kedatangan Tuhan Yesus, berarti ada yang harus dibereskan dalam hidup kita!
Apa yang kita rasakan dan kita pikirkan ketika kita merenungkan uraian tentang masa depan yang akan dinikmati oleh orang yang beriman kepada Yesus Kristus dalam Wahyu 21-22? Apakah ada pengharapan yang lebih tinggi daripada pengharapan untuk menikmati kehidupan di kota Yerusalem Baru dengan langit dan bumi yang baru? Apakah ada pengharapan yang lebih nikmat daripada terbebas dari godaan dosa, kemerosotan fisik, dan kemerosotan lingkungan? Apakah ada tempat di bumi ini yang lebih indah daripada tempat yang disediakan Allah bagi orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus (22:1-5)? Apakah ada pengharapan yang lebih menggetarkan hati daripada menerima upah atas jerih payah yang kita lakukan untuk membangun Kerajaan Allah di bumi ini (22:12)?
Ada tiga hal yang bisa membuat kita ragu-ragu untuk mengharapkan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali: Pertama: kita tidak akan menantikan kedatangan Tuhan Yesus bila kita tidak sungguh-sungguh beriman kepada karya Kristus di kayu salib untuk menebus dosa manusia. Kedua: kita tidak akan menantikan kedatangan Tuhan Yesus bila kita masih menyimpan dosa kesayangan yang belum ingin kita lepaskan. Ketiga: kita tidak akan mengharapkan Tuhan Yesus segera datang bila kita belum melakukan apa pun untuk ikut membangun Kerajaan Allah. Bila ketiga penghalang di atas telah bisa kita singkirkan, kita akan dengan berani mengatakan, “Amin,
Dari gambaran kota yang begitu mulia, perhatian Yohanes diajak beralih pada gambaran taman Eden yang baru (22:1-5; bdk. Kejadian 2). Taman Eden yang lama, di mana manusia bekerja mengelolanya dan beribadah dan bersekutu kepada Allah dari waktu ke waktu, digantikan dengan taman Eden yang baru, di mana yang ada hanyalah ibadah (3) dan bersama memerintah sebagai raja (5).
Saat Yohanes diperlihatkan semua ini, tentu kerinduannya agar segera langit dan bumi yang lama berlalu, langit dan bumi yang baru, serta Yerusalem dan taman Eden yang baru datang. Kenyataannya, dua ribu tahun berlalu, kita masih di tengah langit dan bumi yang lama. Mengapa? Karena belas kasih Allah yang ingin tak seorang pun binasa. Marilah selama waktu masih ada, yang sudah sangat singkat ini, kita memberitakan kabar baik ini kepada lebih banyak orang! Amen RHL

Khotbah Minggu 12 Juni 2016 2 Samuel 12 : 1-16



Thema:”Pengakuan Dosa Menghasilkan Pengampunan”
Pengantar:
Perbuatan Daud mengusik kekudusan Allah adalah dosa yang menyakitkan hati Allah. Oleh karena itu Nabi Natan, yang memberitahukan janji bahwa Kerajaan Daud akan kokoh selama-lamanya (2 Samuel 7:16), kini menyampaikan celaan Tuhan terhadap dia.
Hal itu Natan sampaikan dengan perumpamaan yang bisa kita lihat 2 Samuel 12 : 1-7: Perumpamaan itu menggambarkan dimana ada seorang miskin ( Uria ) yang memiliki hanya  seekor domba betina (Batsyeba) direbut oleh seorang kaya (Daud) ketika “tamunya” ( hawa nafsu ) datang kepada dia. Gambaran keakraban antara domba dan pemiliknya dalam kehidupan sehari-hari, mencerminkan kebahagiaan perkawinan yang dirusak oleh egoisme dan kekejaman Daud. Dan hal itulah yang saya katakana mengusik kekudusan Allah. “Tamu” yang dimaksud dalam ayat 4, maksudnya adalah hawa nafsu yang datang. Pada saat kedatangan “tamu” dan hendak meladeni/menjamu “tamunya” itu si Kaya tidak mengambil domba-dombanya sendiri melainkan merampas domba satu-satunya dari si Miskin itu. Meskipun dalam perumpamaan itu tidak dikatakan apa-apa tentang pembunuhan, Daud tiba-tiba menyela dan menyatakan bahwa orang kaya itu harus mati. Ia juga mengatakan bahwa domba itu harus diganti empat kali lipat.
Apakah ini secara tidak sengaja ternyata Daud meramalkan sendiri kematian anak-anaknya, yakni seperti: anak pertamanya dengan Betsyeba, Amnon, Absalom dan kemudian Adonia.
Ketika menyampaikan Firman Tuhan, Natan menyebutkan semua kebaikan yang telah Tuhan berikan kepada Daud; Pemerintahan atas Yehuda-Israel, istri-istri Saul, kenyataan yang sebelumnya tidak pernah disinggung. Apakah semuanya itu belum cukup? Tuhan pasti akan menambahkan seandainya Daud memintanya (ayat 8 ). Sebenarnya Tuhan amat menyayangi Daud. Tetapi, Daud ibarat anak yang bandel, yang tidak bisa dikendalikan. Ia telah mengkianati kemurahan Tuhan baginya, dengan mengambil hak orang lain dalam hal isteri Uria itu.
Kisah yang ditulis dalam pasal sebelumnya dalam 2 Samuel 11 & 12 mencatat kegagalan rohani yang serius dari Daud dan hukuman Allah atasnya untuk seumur hidupnya. Pengalaman hidup Daud tersebut bisa kita ambil sebagai suatu contoh. Kisah dosa-dosa dan aneka kejadian yang menyusul dalam kehidupan pribadi dan keluarga Daud menjadi suatu peringatan dan contoh yang serius untuk setiap orang percaya, bukan hanya untuk bangsa Israel. Pengalaman Daud menunjukkan bagaimana jauhnya seorang dapat jatuh apabila dia berbalik dari Allah dan pimpinan-Nya dan mulai mengandalkan diri sendiri dalam suatu tindakan.
Khotbah/Penerapan:
Lalu apa pelajaran yang bisa kita ambil dari Kisah Daud yang diperingatkan oleh Natan diatas.? 1. Jika kita adalah seorang yang pernah melakukan tindakan yang mengusik kekudusan Allah, misalnya berzinah, mencuri, mengambil hak orang lain (korupsi, menipu dsb). Kita diingatkan Allah melalui nats ini. Bahwa siapapun kita, apakah kita adalah : seorang Pendeta, Penatua, Raja, Presiden, sampai rakyat biasa, jika kita merasa pernah melakukan hal-hal yang  mengusik kekudusan Tuhan dengan tindakan dosa tersebut maka mari kita sadari dan melihat respon Allah terhadap dosa yang kita lakukan, datanglah kepadaNya dan mohon ampun.
2. Allah membenci yang namnya dosa. Allah tidak akan membiarkan orang-orang pilihanNya hidup dalam dosa. itu sebabnya Allah mengutus nabi Natan kepada Daud. Allah memakai Natan untuk menegur dosa yang telah dilakukan Daud. Allah tidak pernah berkompromi dengan hamba-hambaNya yang telah melakukan dosa. Ia akan memberikan teguran agar mereka dapat bertobat dan kembali pada jalanNya. Sekalipun tidak ada yang tahu dosa apa yang telah kita lakukan, namun mata Tuhan tidak pernah lepas memandang kehidupan kita setiap detik dan waktu.
3. Ketika kita berbuat kesalahan, maka Tuhan maka Tuhan menegor kita lewat 3 cara:
a. Hati Nurani (Insting) ketika kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan,maka hhati nurani kita merasa tidak enak dan tidak merasa tenang.
b. Pikiran (Intelek) Kalau kita mengabaikan hati nurani kita, maka Tuhan memakai pikiran kita. Kita pasti merasa terganggu karena mengetahui bahwa hal itu tidak benar dan tidak berkenan di hati Tuhan.
c. Bisikan hati  (Instuisi) Jika kita mengabaikan ke dua hal diatas maka Tuhanakan menegor kita lewat FirmanNya atau orang lain (teman, saudara atau hamba Tuhan).
Terkadang Tuhan memakai orang lain untuk menegor dan membongkar dosa dan kesalahan yang kita perbuat. Namun yang terpenting, bagaimana kita merespons tegorang yang demikian.
Kita lihat sikap Daud menerima teguran yang cukup keras? Daud tidak mengelak, tidak berbantah, tidak membuat alasan tetapi Daud memberikan respon yang sangat baik. Ia menerima teguran dari Tuhan dan mengakui bahwa ia bersalah. Tidak mudah baginya mengakui bahwa dirinya berdosa dihadapan Tuhan maupun rakyat. Tetapi Daud sungguh pemimpin yang sejati dan berjiwa besar. Ia tidak takut kehilangan popularitasnya, pendukungnnya, atau jabatannya karena harus mengakui kesalahan yang diperbuatnya. Karena Daud tahu betul bahwa posisi dan jabatan, keberhasilan dan kesuksesan datangnya dari Tuhan. Daud pun menyadari bahwa yang membangun kerajaanya adalah Tuhan. Daud belajar untuk rendah hati dan tidak takut kehilangan segala sesuatu yang dia miliki. Sebagaimana Raja Daud Bertobat dengan sungguh-sungguh dari dosanya. Marilah kita belajar seperti Daud yang memiliki kerendahaan hati untuk menerima teguran dan mau mengakui kesalahannya. Banyaknya orang yang akan mengikuti saudara sebagai pemimpin bukan karena keberhasilan yang saudara raih, tetapi karena berani menerima teguran dan mengakui kesalahan. Dalam hal ini peringatan Allah melalui Nabi Natan kepada Daud boleh menjadi sebuah pesan yang memberikan ruang kepada kita untuk SEGERA bereaksi dengan cepat berbalik kepada Allah dengan sungguh-sungguh dari dosa kita.
Kita bisa respon Daud :
Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada Tuhan." Dan Natan berkata kepada Daud: "Tuhan telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati."
(ayat 13). Amin. RHL

Jumat, 22 April 2016

Khotbah Minggu 24 April 2016 Kisah Para Rasul 11:1-18 Tema : Pertobatan Yang Memimpin Kepada Hidup Hamubaon ni Roha Asa Mangolu


Pendahuluan
Ketika mengadakan pembaruan selalu saja yang menjadi tema penting di dalamnya adalah "perubahan". Misalkan pembaruan dari sesuatu hal yang telah membudaya atau menjadi kebiasaan yang sudah mengakar di dalam masyarakat, seperti upaya pemerintah mengurangi pemakaian kantong plastik dan sejenisnya menimbulkan "konflik kecil" di dalam masyarakat. Perubahan lain yang lebih berdampak menimbulkan konflik misalkan perubahan jalur lalulintas dimana selama ini telah memberi kenyamanan  bagi sebagian pemakaianya tetapi oleh karena perubahan arah  lintasan maka menimbulkan "konflik". Yang lebih menggejolak misalkan perubahan peraturan ketika kebijakan baru di dalam suatu negara di izinkan perkawinan sama jenis kelamin, dan gereja menerimanya, memberkati pasangan satu jenis kelamin tersebut pastilah akan menimbulkan konflik yang lebih besar. Untuk mencapai kemajuan memang harus mengalami perubahan, tapi apakah ajaran agama (jalan keselamatan) dapat di ubah? Tentu hal ini akan menjadi bahasan yang menarik di dalam  pembahasan Firman Tuhan ini, yaitu tentang sikap atau reaksi orang-orang Yahudi atas pembaruan dan perubahan pemahaman  keslamatan yang telah mereka pertimbangkan berdasarkan pendapat, pengalaman, pengetahuan, budaya, kebiasaan dan kepentingannya melawan keputusan Tuhan mengadakan perubahan oleh karena kasih dan kuasaNya.
 Pembahasan
Setelah pelayanan karya keselamatan  di dalam Yesus di tengah-tengah dunia berakhir, dan Dia telah meninggalkan dunia, maka  karya keselamatan  itu di lanjutkan oleh Roh Kudus melalui para Rasul dan orang-orang percaya. Gerakan Roh memperbarui cara hidup berjemaat; mengubah pandangan lama seperti yang dipahami dan dipertahankan oleh orang orang Yahudi yaitu  memperoleh keselamatan  hanya oleh karena menjadi keturunan Abraham, menjadi orang Yahudi sebab kepada Abraham dan keturunannyalah  Allah telah  menjanjikan  keselamatan yang kekal  (bdg Kej. 17:7-13). Menurut orang orang Yahudi hanya kaumnya yang layak menjadi umat Allah karena itu sebagai umat pilihan mereka dilarang bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi apalagi memasuki rumah mereka adalah najis.
 Pemahaman orang-orang Yahudi tersebut telah membelenggunya  "kaku" melakukan  keselamatannya. Mereka terkurung dan hanya menjadi dirinya sendiri,  menutup diri kepada orang yang bukan Yahudi dan  tidak menghargainya. Oleh sebab itu melihat Petrus dituntun Roh Kudus melayani ke Kaisarea kepada Kornelius dan orang orang yang bukan Yahudi membuat orang-orang Yahudi marah dan menuduh Petrus bersalah telah melanggar aturan tradisi yang selama ini mereka pelihara  "Orang-orang yahudi tidak boleh bergaul dengan orang-orang yang bukan Yahudi apalagi memasuki rumah mereka." Karena itu Petrus harus mempertanggung jawabkan sikapnya tersebut. Orang-orang Kristen dari kelompok Yahudi berdebat dengan Petrus tentang kelayakan untuk memasuki persekutuan orang-orang yang bukan Yahudi, masuk rumah mereka dan makan bersama mereka.  Orang-orang Yahudi mempertahankan tradisi Abraham, yaitu tradisi sunat "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan." (Kis. 15:1). Mereka mengartikan ayat tersebut:  jika orang-orang yang bukan Yahudi ingin menjadi Kristen maka mereka harus disunakan terlebih dahulu (di Yahudikan terlebih dahulu), kemudian dibaptis menjadi kristen.
 Petrus tidak  cukup memiliki pengetahuan dan pemahaman untuk mengubah tradisi lama Yahudi tersebut tapi Allah melalului Roh Kuduslah yang melakukanNya. Pada mulanya pemahaman Petrus sama dengan pemahaman orang-orang Yahudi, tapi melalui penglihatan yang ditunjukkan Allah kepadanya telah mengubah pemahamannya  yaitu; dari langit turun suatu benda yang berbentuk kain lebar yang di dalamnya terdapat berbagai jenis binatang yang haram  dan tidak tahir dan Allah memerintahkan supaya Petrus menyembelih dan memakannya, tetapi Petrus menolaknya. Peristiwa itu terjadi sampai tiga kali sampai akhirnya Petrus memahami bahwa itulah petunjuk Allah supaya ia pergi ke Kaisarea kepada Kornelius dan jemaat yang bukan orang Yahudi (Kis 10). Ketika Petrus sedang mengajar orang orang kristen di Kaisarea Roh Kudus turun atas mereka sehingga mereka dipenuhi Roh dan mereka berkata-kata dalam bahasa Roh. Melihat kejadian tersebut membuat jemaat yang dari kelompok Yahudi tercengang-cengang keheranan.
 Apa yang dilakukan Allah melalui Roh Kudus di dalam pelayanan Petrus bukanlah awal dari pembaruan tentang pemahaman kesalahan bagi  orang-orang Yahudi. Pembaruan terjadi oleh karena kasih Allah seperti keterangan Yohanes di dalam injilnya tentang tujuan kedatangan Yesus ke dalam dunia "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yoh. 3:16). Tujuan objek Kasih Allah adalah dunia yaitu supaya setiap orang dari segala bangsa dan suku yang oleh karena pelayanan injil menjadi percaya di menangkan dan menerima keselamatan.
 Suatu hari  di dalam pelayananNya Yesus di datangi wanita Kanaan (bukan Yahudi) dan berteriak kepada Yesus memohon keselamatan anak perempuannya yang kerasukan setan dan sangat menderita. Kepada perempuan itu Yesus menjawab: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Tetapi wanita itu mendekati Yesus dan menyembahNya dan terus memohon. Tapi jawab Yesus: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh. (bdg. Matius 15:21-28).
 Kasih Allah membawa harapan bagi semua orang sehingga dapat menjadi anak-anak pilihan Allah dan mengalami berkat serta keselamatan. Kasih Allah memungkinkan semua orang menjadi umat pilihanNya, tidak ada yang kecuali, bahwa setiap orang  yang mau datang kepadaNya, membuka hati dan menerima hidup baru menjadi umat pilihanNya yang akan mendapat pertolongan Allah dan bagian di dalam KerajaaNya.
 Refleksi dan Penutup
Ketika Petrus menanyakan kepada Yesus tentang upah yang akan diterimanya  oleh karena pemberitaan injil dan karena segala sesuatu yang telah dikorbankannya oleh karena Injil, maka Yesus memberi pengajaran,  yang ditutup dengan peringatan yang  keras  "Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." (Matius 19:30). Kesetiaan harus dipelihara dengan memperhitungkan kasih Allah bukan menghitung apa yang telah di perbuat.
 Menjadi anak pilihan Tuhan adalah anugerah yang senantiasa harus di syukuri, yaitu dengan cara setiap hari semakin penuh kasih dan murah hati. Sikap orang percaya yang benar, ketika mereka melihat orang  yang tidak diperhitungkan (dianggap tidak layak) mendapat kasih Allah, tetapi kepada mereka Allah menyatakan kasihNya maka oleh karena melihat bukti kasih Allah tersebut akan membangkitkan suka cita dan ucapan syukurnya  kepada Allah.  Mereka bersukacita bukan menjadi cemburu atau berkecil hati atau merasa tersaingi oleh karena kasih Allah tersebut.
 Melalui sikap orang-orang Yahudi orang percaya hendaknya  belajar; tidak boleh "sombong rohani". Mereka menganggap dirinya  yang lebih layak dan benar di hadapan Allah dan menutup diri terhadap pembaruan. Itulah yang membuat mereka menjadi terbelakang. Manusia memiliki kecerdasan untuk mempertimbangkan keputusannya, sehingga apabila manusia itu mau belajar dan memelihara hikmat Allah akan mengajarnya  memahami segala sesuatu yang terjadi dan memampukannya merespon dengan  benar. Amin. Dari Berbagai Sumber


Selasa, 22 Maret 2016

Khotbah Minggu 13 Maret 2016. POUK. KP Tahun Perobahan (Metamorphosis) TAJAMKANLAH MATA KAPAKMU Kunci Kemajuan Dalam Hidup “II Raja-raja 6 : 1 – 7″


Berubah adalah kunci untuk mengalami kemajuan dan terobosan dalam hidup. Tidak semua perubahan adalah kunci, tapi kalau mau mengalami kemajuan, kita tidak boleh harga mati, harus mau berubah.
Kita harus menyingkirkan spirit bebal dari hidup kita. Kalau mau maju, berubah! Orang tidak mau berubah karena terlalu cepat puas. Kemapanan atau stagnasi merupakan akhir dari kemajuan dan awal dari kemunduran. Kalau kita sudah sampai pada comfort zone, itulah akhir dari kemajuan dan awal dari kemunduran, jangan cepat puas dengan hidup ini, hanya Yesus yang dapat memuaskan. Karakter kita harus berubah! Terlalu cepat puas adalah kunci kepada kemandegan dalam hidup.
Saudara, untuk menerima dan mengalami suatu terobosan untuk maju dalam hidup, kita harus menyadari kemampuan yang ada dalam diri kita. Dan mari kita belajar 3 hal yang perlu kita ketahui dalam melangkah maju dalam kehidupan kita.
1. BERSEDIA UNTUK BERUBAH
“Orang bebal adalah orang Yang mengerjakan dengan cara yang sama tetapi mengharapkan hasil yang berbeda” – Albert Einstein
ketika kita mau berubah, maka hidup kita juga akan berubah. Menjadi orang Kristen, harus siap dalam menghadapi perubahan. Dan untuk mengalami hidup yang di ubahkan, kita perlu untuk berubah. Sampai sejauh mana kita memiliki keinginan untuk berubah, maka sejauh itu juga kita akan mengalami hidup yang maju dihadapan Allah. Jangan menunggu waktu kita dipanggil Tuhan baru kita muali berubah, karena bila waktunya tiba, semuanya sudah terlambat.Karena itu Tajamkan Mata Kapakmu dgn bekerja dengan tekun tanpa lelah agar dapat di pakaiNya utk mewartakan KerajaanNya.
2. BERANI MENGHADAPI KESULITAN
“Dan terjadilah, ketika seorang sedang menumbangkan sebatang pohon, jatuhlah mata kapaknya ke dalam air. Lalu berteriak-teriaklah ia : “wahai tuanku!! Itu barang pinjaman” 2 Raja-raja 6 : 5
Jika kita mau mengalami kemajuan dalam hidup, maka kita juga harus berani menghadapi kesulitan. Tidak mudah memang tetapi kerja keras pasti akan membuahkan hasil yang baik. Contoh Yusuf, memperlihatkan kepada kita bahwa hidup perlu untuk berubah. Duduk diam dan menunggu perubahan itu datang tidak akan membawa kita memiliki kehidupan yang maju. Ketika Yusuf mau untuk beranni menghadapi kesulitan, maka Tuhan membuat Yusus menjadi pemimpin, sesuai dengan mimpi yang diberikan Tuhan Allah kepadanya.
3. BERANI MENGHADAPI TANGGUNG JAWAB
Saudara, dengan tanggung jawab yang berani kita pikul, maka kita juga akan memiliki pribadi yang bertanggung jawab dengan apa yang kita kerjakan. Kita ini adalah kawan sekerja Allah (baca : 2 Raja-raja 6 : 6-7). Mungkin kita menghadapi kesulitan dalam segi materi, pekerjaan, atau keluarga. Tetapi mari kita berani untuk menghadapinya. Dan jangan lupa untuk berseru minta tolong kepada Tuhan, maka kita akan melihat Tuhan melakukan bagiannya. Kasulitan datang bukan untuk membuat kita menjadi lemah. Tetapi untuk membuat kita menjadi semakin kuat. Ketika Petrus diminta Tuhan untuk melemparkan jalanya, maka petrus pun mengikuti apa yang Tuhan mau, walaupun kedengaran konyol.
Datanglah kepada Tuhan, maka Tuhan akan membuat kita menjadi maju dalam kehidupan yang indah bersama Tuhan. Jangan pernah mengharapkan mujizat Tuhan terjadi dalam kehidupan saudara jika saudara sendiri menolak untuk menghadapi kehidupan yang maju bersama Tuhan.
Amin
Bersedia untuk berubah
Dalam 2 Raja-Raja 6:1-7, dikisahkan bahwa nabi-nabi mengatakan tempat mereka telah terlalu sempit, di mana 50 orang itu tinggal di ruangan yang sempit.
Roh Kudus harus dicurahkan adalah karena Roh Kudus menghasilkan buah Roh yang merupakan karakter Kristus. Karakter yang tidak berubah dan tidak mau berubah, maka nasib kita tidak berubah! Ijinkan Yesus mengubah spirit kita.
Seorang anak muda 40 tahun, dia berkata kepada pendetanya kenapa belum mendapatkan jodoh. Kemudian pendeta itu memberikan dia resep 3B: Berdoa, Berusaha, dan Bercermin! Saya bertemu dengan banyak jomblowan-jomblowati, sudah melakukan B yang pertama dan kedua, mereka sudah banyak berdoa dan berusaha. Tapi ternyata mereka tidak pernah bercermin, malah menetapkan standar terlalu tinggi.
Hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin, esok lebih baik dari hari ini.
Jangan mau menyerah kepada nasib dan takdir! Nasib dan takdir itu bukan kekristenan, karena firman Tuhan berkata dalam Yeremia 29:11, Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dengan iman kita harus mengubah nasib!
Dalam 2 Korintus 5:7 dikatakan --sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat--. Kita ini berjalan dengan iman!
Mungkin Anda pernah menonton mengenai Nic Vujicic, anak seorang hamba Tuhan. Dia lahir tanpa tangan dan kaki, ibunya menolak dia, dan ayahnya berharap dia mati saja. Tapi anak itu ternyata bertumbuh walaupun diharapkan mati oleh orang tuanya. Dia menjadi saksi yang luar biasa, dan tanpa tangan dan kaki tapi dia menjadi motivator yang luar biasa, dalam umur 26 tahun saat ini dia telah memiliki kekayaan berlimpah-limpah, rumah di Australia dan Amerika Serikat, tabungan di bank berjuta-juta dolar. Orang tuanya membatasi hidupnya, tapi dia ketika baca Yohanes 9:1-7, Yesus sendiri mengatakan bukan salah siapa pun tapi semua yang terjadi itu agar pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia.
Jangan berkata, "Aku mau menyerah saja, dari sono nya sudah begini." Kalau Saudara mau berubah, Tuhan sanggup untuk memulihkan! Mari miliki spirit of change, sedia untuk berubah.,
Berani untuk menghadapi kesulitan
2 Raja-Raja 6:5, Dan terjadilah, ketika seorang sedang menumbangkan sebatang pohon, jatuhlah mata kapaknya ke dalam air. Lalu berteriak-teriaklah ia: "Wahai tuanku! Itu barang pinjaman!"
Ketika mereka berusaha untuk memotong kayu, tiba-tiba jatuhlah mata kapaknya ke dalam air. Kesulitan datang ketika kita mau bertumbuh dalam hidup. John F Kennedy katakan, krisis yang hebat menghasilkan orang-orang yang hebat. Kalau tidak pernah ada tantangan dan kesulitan, mungkin kita tetap biasa saja. Tapi kalau pergumulan dan kesulitan besar datang, maka kita akan mengalami kemenangan besar dalam hidup.
Mari bergairah menghadapi tantangan dan kesulitan karena justru itu menunjukkan bahwa bagi Tuhan tidak ada perkara yang terlalu sulit untuk Dia hadapi, Allah yang Maha Besar dalam Yesus Kristus. Dia jauh lebih besar dari problem yang kita hadapi. Melalui kesulitan-kesulitan itu justru Dia ingin menunjukkan kemuliaan-Nya.
Kalau  ada yang bersaksi bahwa Tuhan menyembuhkan dari flu atau kudis, mungkin yang tepuk tangan hanya sedikit. Tapi kalau sembuh dari kanker, maka tentu tepuk tangannya luar biasa.
Kalau mau mengalami kebesaran Tuhan, siap hadapi tantangan yang besar! Alami pergumulan-pergumulan ini dengan sukacita, karena di balik pergumulan ada kemenangan yang heran dan luar biasa.
Orang yang masih bersama-sama dengan kita saat kita mengalami kesulitan dan tantangan adalah sahabat yang sejati. Jangan menyerah, bangkit bersama Tuhan yang sudah bangkit! Janji-Nya menyertai kita, sekalipun ada kesulitan-kesulitan dalam hidup ini. Di balik kesulitan-kesulitan hidup, Tuhan sediakan perkara-perkara yang indah dan dahsyat, luar biasa.
Hari ini, mari kita berani hadapi kesulitan. Kalau kesulitan menghadang, katakan, siapa takut!
2 Raja-Raja 6:5-7, Dan terjadilah, ketika seorang sedang menumbangkan sebatang pohon, jatuhlah mata kapaknya ke dalam air. Lalu berteriak-teriaklah ia: "Wahai tuanku! Itu barang pinjaman!" Tetapi berkatalah abdi Allah: "Ke mana jatuhnya?" Lalu orang itu menunjukkan tempat itu kepadanya. Kemudian Elisa memotong sepotong kayu, lalu dilemparkannya ke sana, maka timbullah mata kapak itu dibuatnya. Lalu katanya: "Ambillah." Orang itu mengulurkan tangannya dan mengambilnya.
Pinjaman itu harus dikembalikan.Sdr/I semua yg kita miliki ini termasuk napas kehidupan ini adalah barang pinjaman, yg harus kita kembalikan kepada pemiliknya, apa yg telah kita perbuat terhadap barang pinjaman ini…?
Santo Agustinus katakan, tanpa Tuhan, kita tidak mampu, tapi tanpa kita, Tuhan tidak mau.
Saudara dan saya adalah mitra kerja Tuhan, Dia mau kerja sama dengan kita. Ambil tanggung jawab yang lebih. Kalau Saudara diberkati berlimpah-limpah itu supaya Saudara menjadi berkat. Jika kita mau mengambil tanggung jawab yang lebih dalam hidup ini, maka Allah akan melakukan yang lebih.
Ketika Elisa melemparkan kayu, maka kapak itu muncul. Besi harusnya tenggelam, tapi bisa mengapung, itu namanya mujizat.(  Elisa di sini, dengan menaikkan mata kapak dan membuat besi mengapung, mengatasi hukum alam - hukum gravitasi. Sampai saat ini dalam usaha ini di sana tidak terlihat adanya campur tangan yang bersifat supranatural / gaib.)
Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia. (1 Korintus 2:9) Itu yang namanya mujizat!
Mujizat,  adalah perbuatan Tuhan. Tapi Tuhan hanya buat mujizat kalau kita setia melakukan bagian kita, lakukan apa yang bisa kita lakukan. Yang tidak bisa kita lakukan, Tuhanlah yang akan melakukannya. Ijinkan Dia melakukan hal-hal yang dahsyat bagi kita, bagi dia tidak ada perkara yang mustahil.
Ketika kita mau mengambil tanggung jawab lebih, menghadapi tantangan dan kesulitan, Tuhan akan ambil bagiannya mengadakan mujizat. Jangan cepat menyerah, mari bangkit kembali bersama Tuhan, karena kuasa-Nya dicurahkan untuk memampukan kita.
Amin!





Prinsip-prinsip Dasar tentang Perubahan 2 Raja 6:1-7

Pada suatu hari berkatalah rombongan nabi kepada Elisa: “Cobalah lihat, tempat tinggal kami di dekatmu ini adalah terlalu sesak bagi kami. 
·         Perubahan biasanya terjadi ketika orang merasa tidak nyaman dalam hidupnya.
Baiklah kami pergi ke sungai Yordan dan masing-masing mengambil satu balok dari sana, supaya kami membuat tempat tinggal untuk kami.” Jawab Elisa: “Pergilah!” 
·         Perubahan membutuhkan komitmen dan perencanaan yang matang
Lalu berkatalah seorang: “Silakan, ikutlah dengan hamba-hambamu ini.” Jawabnya: “Baik aku akan ikut.” 
·         Perubahan biasanya membutuhkan teladan dan mentor yang dapat menjadi pandu dalam membentuk kebiasaan yang baik
Maka ikutlah ia dengan mereka. Setelah mereka sampai di sungai Yordan, merekapun menebang pohon-pohon. 
·         Perubahan membutuhkan tindakan yang nyata. Just do it!
Dan terjadilah, ketika seorang sedang menumbangkan sebatang pohon, jatuhlah mata kapaknya ke dalam air. Lalu berteriak-teriaklah ia: “Wahai tuanku! Itu barang pinjaman!” 
·         Perubahan akan mengalami tantangan dan masalah
Tetapi berkatalah abdi Allah: “Ke mana jatuhnya?” Lalu orang itu menunjukkan tempat itu kepadanya. Kemudian Elisa memotong sepotong kayu, lalu dilemparkannya ke sana, maka timbullah mata kapak itu dibuatnya. 
·         Perubahan dimulai dari perubahan yang kecil yang kemudian akan mengakibatkan perubahan yang besar
Lalu katanya: “Ambillah.” Orang itu mengulurkan tangannya dan mengambilnya.
·         Perubahan membutuhkan perayaan kemenangan untuk setiap keberhasilan yang terjadi, seberapapun kecilnya

Mulailah berubah! Jadilah sang pembaharu!


Kamis, 25 Februari 2016

Marlas Ni Roha Mangoloi Hata Ni Tuhan I
Heber 5 : 5 – 10

     a.       Songon Anak ni Debata Jesus, ringkot do patuduhononna pangoloionNa (kesetiaan martugas). Tarida do i di pelaksanaan ni tohonanNa: Raja, Malim, Panurirang, na gabe pengantara Ibana, penghubung ni Debata tu jolma, jala antara ni jolma tu Debata. Ala ni i sian Debata Ibana gabe jolma paulakhon jolma tu Debata. Tagan jolma Ibana: adong tingkina ndang jolma, ai na dijolmahon do Ibana, ai Debata hian do. Johannes 1 : 14  didok “dungi gabe daging ma Hata i......”. Tung jolma situtu Ibana, alai ingkon papataronna na Debata situtu jala Ibana sandiri do jolma asli jala sejati hombar na nidok di 1 Musa 1: 26.
    b. Tagan jolma dipelehon pangidoan dohot elekelek mandok ‘disombahon’. Marungkin di hajolmaonNa asa rimpas patuduhononna na so hea mardosa alai mamorsan dosa ni hajolmaon di bagasan dagingna. Dioloi Debata tangiangna di Getsemane, hape mate do Jesus. Nda songon na paradoks ma i? Ndang dipalua sian hatahuton mate, jala gabe mangolu situtu hamamateNa i, sihorhon haluaon tu saluhut jolma. Na gabe maol siat tu roha ni halak Jahudi hatiha i; boi do ditanggali hajolmaonNa i, asa mulak tu ha-DebataonNa?
    c.       Marsiranggut situtu do hajolmaonNa dohot ulaon tohonan na nilohonNa sian Debata Ama i. Songon jolma mansai borat do hamamateNa na pinadomu tu ha-DebataonNa, hape ndang boi mate Debata. On ma sada hahomion na so tarhasigatan ni haporseaon, huaso ni jolma na mar ha-Debataon, ingkon mambutbut sorop ni hamatean, marhite hamatean. Dibagasan pangoloionNa i do sahat ha-Kristuson-Na gabe malim ro di saleleng ni lelengna. Diida Ibana do borat ni ulaon i, gabe pelean pardengganan Ibana, jala songon birubiru ni Debata na mamorsan dosa ni jolma nang portibi on (Joh.1: 29, 36). Marungkil situtu do Ibana di porlak Getsemane laho mananggali hajolmaonNa i, pola malhot hodokNa mardekdehan (marhaltohalto). Na ingkon mate do Ibana, alai ndang pola tahutan, jala hamamateNa i do hangoluan ni sandok manisia ala pangoloion ni jolma di Tuhan i.
    d.      Haunduhon nang pangoloion i do na gabe Anak Hinsu ni hangoluan na sian Debata, songon  na pantik sude sorop ni dosa nang hamatean nang sibolis tu daging ni Jesus, jala hira i dihamatehon. Hape nanaeng pamatehon sorop ni hamatean i do Jesus. Tinggal dihamatean ma sorop i, alai hehe ma ianggo Jesus, jala gabe rimpas, ias, pita jala badia ma ibana dohot na hinophopNa i. Pangoloion ni Jesus i manghorhon haluaon nang hangoluan sisaleleng ni lelengna di sude jolma na mangoloi Ibana. I do umbahen asa dihatindangkon Apostel Paulus na so habiaranna be hamatean i “Jo hamatean didia soropmi....? ( 1 Kor. 15: 54-56). Naung ditaluhon Jesus hamatean i siala pangoloionNa tu Debata Ama i. Pangoloion tu Ama i, ima kunci ni ha-Anahon ni Debata nang tu jolma pardosa na malua. Ha-Anahon i ma bisuk ni Debata na gantung di Hau pinarsilang i.
     e.      Ibana do Sintua ni Malim mangihuthon horong ni si Melkisedek: Molo didok sintua ni malim di ngolu parugamoon ni halak Jahudi, ibana ma na pasahathon pelean tu Debata di Bagas Joro i, jala laos ibana do na pasahathon pasupasu. Di halak Kristen naung porsea di Tuhan Jesus, antusanna do naung termasuk di hadirion ni Jesus tlu pangalaho dohot hadirion, i ma: Hamalimon, Hapanurirangon dohot Harajaon. Tugas ni Jesus songon malim i ma na padomuhon hajolmaon muse asa mulak tu Debata na manompa ibana, ala sebelumna disirang dosa. Marhite Tuhan Jesus Kristus, mulak saor ma hita muse tu Debata. Ia hamalimon na niulahon ni hajolmaon, ndang boi menjamin kwalitas ni hubungan i tu Debata. Alai ianggo hamalimon na niulahon ni Jesus, justru menjamin asa mulak denggan marsaor jolma tu Debata asa taruli di hangoluan  sisaleleng ni lelengna. I do alana umbahen na digoari Jesus malim na bolon, naung manorusi angka banuaginnjang. Molo dung sahat pamerengan ni haporseaonta tusi, naeng ma gomos i tatiop, so tung maon ganggu muse rohanta gabe ndang marfungsi hamalimon ni Jesus ii tu hita ala hagangguon i. Alai na pasti diciptahon Jesus do asa hamalimon na niulahonna i, na sahali ro di saleleng ni lelengna (ex hapax), tongtong berkwalitas di roha ni jolma sian najolo sahat tu sadari on, nang sahat ro di angka ari na aneng ro dope. Unang be muba i saleleng hita mangolu. 
     f.        Sintua ni malim naung saor ditongatonganta na martudutudu tu Tuhan Jesus. Ibana do jolma jala Debata situtu, gabe boi dihilala angka na hinilala ni jolma di ortiibi on. Ai aut so jolma situtu Ibana, maol do hita mandok naung dihilala Jesus na tahilala i. Alai nang Jesus pe tarunjun do Ibana agan pe so mardosa Ibana. Di na pinanghilalahon ni Jesus sude angka na tahilala, ro di sude angka hagaleonta i, laos disi do hita manghilala na dibuati Jesus angka hahuranganta i gabe dimampuhon hita manghirim di pasupasu na marragam dope tu tingki na mangihut, agan pe nian ndang apala siparjambar be hita disi ala ni angka pangalaosionta di sude panggulmiton ni ngolunta di adopan ni Debata.
     g.       Sahat tu tingki on, sai marsaringar do pangantusion na dirajumi do nang parhobas di joro (pandita, Parjamita, guru huria, Bibelvrow, Diakones, Sintua, Evangelis dohot angka sipararat Hata ni Debata) na gabe songon perantara tu Debata na mangolu i. Pemahaman na songon i tong do denggan, jala so tung disalah-gunakan angka partohonan tohonanna laho pasauthon na di rohana, binsan mangoloi ruas i, manang lomolomo ni rohana sambing. Ingkon tongtong do tanggung jawab ni parhalado ni huria angka ruas na p inasahat ni Debata tu huria i, naeng adong sogot alus ni parhalado tu Debata molo disungkun tu dia marlaoan angka ruas i. Naeng ma tutu si tutu diulahon i ndada ala ni sangkap nang roha roha ni pangula i alai ala ni Tuhan i do, jala na ringkot di sangkap ni Tuhan i do songon na tarsurat di Pilippi 2: 4-5 Unang ma na ringkot di hamu be matahon hamu, dohot ma na di dongan! Songon parrohaon ni Kristus Jesus ma parrohaonmuna! Dohot na nidok Jesus di Mateus 16 :23 Alai humusor ma anggo Ibana mandok tu si Petrus: Laho ma ne ho, bolis! Gasip do ho di Ahu, ai ndang diparrohahon ho angka na di Debata, angka na di jolma do.
    h.      Di Padan na robi, na targoar malim na parjolo i ma si Aron. Ia tugas ni malim, i ma na berhubungan tu Debata, na manguluhon angka kebanktian-kebaktian, paradehon angka pelean i dipasahat do i tu malim na manguluhon manang tu angka keluargana, asa bulus hibul rohana dohot tingkina manguluhon dohot mangulahon ruhut ni angka parugamaon so pola lola tingkina mamijngkiri angka haporluan siganup ari. Ala perantara do malim i tu Debata, disi ma dipanghilalahon situan na torop na boi pulih muse hubunganna tu Debata, ala ni pangalaosionna na sai laon. Molo di bagasjoro i jolo, adong do na margoar bilut na badia situtu, holan sahali sataon doo boi i dimasuhi sintua ni  malim. Ndang boi sembarangan masuk markomunikasi tu Debata di tingki i, ai terbatas do kesempatan i dohot halak pe ingkon dikhususkan do. Dung pe di ‘karya’ ni Jesus Kristus maribak ma hirehire na di bagasjoro i, gabe talak ma sahat tu bilut na badia situtu i, na marlapatan ganup jolma nunga bebas markomunikasi tu Debata laho pasahathon sude nasa ngoluna marhitehite Jesus Kristus i (ptds.Johannes 14: 6 “Gabe didok Jesus ma tu ibana: Ahu do dalan i dohot hasintongan dohot hangoluan. Ndang adong na sahat tu Ama i, ia so marhite sian Ahu.”). Ala ni i patut ma hita marlas niroha dibagasan Kristus i huhut unduk jala serep marroha mangulahon patik nang HataNa songon topik ni Minggunta: Marlas ni roha Mangoloi Hata ni Tuhan i. Amen.


Arti Sebuah Oikumene
Di dalam satu ibadah, beberapa rekan keluar dari ruangan segera ketika acara memasuki bagian pujian penyembahan. Ternyata mereka tidak tahan berada di dalam, ibadah itu tidak sesuai dengan aliran dogma yang mereka pahami selama ini. Di kelompok agama mereka, mereka tidak pernah bernyanyi dengan tepuk tangan ataupun mengangkat tangan. Menurut mereka, ibadah haruslah khusyuk dan tenang. Mereka dulu pernah menyampaikan ke pengurus bahwa mereka kurang bisa menerima ibadah seperti itu, tapi tetap saja begitu terus setiap ibadah. Mereka pun berpikir, kenapa para jemaat itu melakukan ibadah yang tidak oikumene dan tidak mempedulikan pendapat kami?
Di satu ibadah lain, beberapa orang mengeluh setelah selesai mengikuti kegiatannya. Mereka merasa ibadahnya masih belum terlalu mengena ke hati setiap jemaatnya. Istilahnya, soulnya belum tersentuh. Seharusnya pujian penyembahannya lebih mengena lagi ke hati. Namun ketika tadi pada saat ibadah mereka berusaha mengekspresikan pujian mereka, jemaat lain justru memandangi dan melarang mereka melakukannya. Kenapa demikian? Kenapa para jemaat itu melarang kami? Mereka tidak melakukan ibadah yang oikumene?

Pertanyaannya, apa makna sebenarnya dari Oikumene?
Menurut Wikipedia, Oikumene adalah peningkatan kerja sama dan saling pemahaman yang lebih baik antara kelompok-kelompok agama atau denominasi di dalam agama yang sama.
Oikumene merupakan manifestasi (penampakan) persekutuan orang Kristen dalam satu tubuh antara sesama denominasi gereja yang memiliki latar belakang dogma dan theologia yang berbeda, baik di wilayah lokal, regional, nasional maupun internasional. Sebenarnya kata Oikumene berasal dari Bahasa Yunani yaitu Oikosyang berarti “rumah” dan “monos” yang berarti “satu”. Yang dimaksud dengan “rumah” adalah dunia ini, sehingga kata oikumene berarti dunia yang didiami oleh seluruh manusia. Karena itu oikumene juga dalam arti manifestasi persekutuan seluruh umat manusia yang memiliki latar belakang budaya, agama yang berbeda (majemuk).
 apa kaitan antara toleransi dengan oikumene?
Menurut saya kedua hal ini jelas sangat berkaitan erat. Oikumene merupakan sikap toleransi. Toleransi  atas adanya perbedaan dogma atau theologia di dalam satu agama yang sama. Toleransi ketika teman satu agama kita beribadah ataupun melakukan sesuatu hal yang sesuai dengan dogma yang diajarkan di kelompok agamanya.
Pertanyaan selanjutnya yang keluar adalah apakah kita benar-benar sudah melakukan hal ini? Memiliki toleransi terhadap rekan satu agama yang berbeda paham/dogma/theologia dengan kita? Apakah kita sudah menjunjung Oikumene?
Miris ketika di luar sana kita berkoar-koar menjunjung tinggi toleransi umat beragama dan pluralisme, tapi di dalam persekutuan kita sendiri, di agama kita, kita ternyata masih mengkotak-kotakkan dogma yang ada. Kita menggerutu ketika tata cara ibadah yang kita ikuti tidak sesuai dengan tata cara aliran kita. Kita kemudian mencap para pelaksana ibadah itu tidak oikumene, tidak mempedulikan aliran agama lain yang juga beribadah di sana. Terkadang kita juga menertawai sesuatu hal yang dilakukan teman kita yang berbeda aliran agama dengan kita. Mungkin kelihatannya itu menyenangkan, tapi bagaimanakah perasaan kita ketika kita yang diberlakukan seperti demikian?
Ketika kita menggerutu suatu tata cara ibadah tidak oikumene, sadarkah kita bahwa justru kita yang tidak oikumene? Atau ketika di suatu persekutuan yang khusyuk kita melihat ada orang yang bertepuk tangan, kita kemudian mencap dia tidak oikumene, sekali lagi, sadarkah kita bahwa kita yang saat itu tidak oikumene!!!
Menurut saya, oikumene adalah saat dimana di dalam satu persekutuan dengan tata cara ibadah aliran A, orang-orang dari aliran lain di tempat itu juga dapat beribadah dengan mengekspresikan diri sesuai alirannya, dan orang dari aliran A bisa menerimanya/menghargainya. Contoh, ketika beribadah di gereja karismatik, orang-orang dari aliran konservatif yang beribadah di sana tetap bisa bernyanyi dengan gayanya, dan demikian juga sebaliknya ketika beribadah dengan tata cara konservatif, orang yang beraliran karismatik tetap bisa beribadah dengan gayanya. Jemaat yang lain tidak boleh memaksakan tata cara alirannya kepada yang lain.
Apakah suatu aliran agama lebih baik dari aliran agama lain? Tentu tidak! Tuhan saja tidak pernah mengkotak-kotakkan aliran agama, bisa dibaca sendiri di Alkitab, apa hak kita sehingga kita bisa menghakimi aliran agama lain??!
Seperti doa Yesus yang tertulis di Yohanes 17:21, “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”, kiranya kita tetap satu dan tidak mengkotak-kotakkan.
Agar semua satu adanya, atau dalam bahasa latin, UT OMNES UNUM SINT!!