Senin, 21 Desember 2015

Khotbah Roma 2:17-29 Thema: “Sunat di dalam Hati secara Rohani”


“Sunat adalah sunat di dalam hati.” Kita diselamatkan ketika kita percaya di dalam hati. Kita harus diselamatkan di dalam hati. Allah berkata, “sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah; Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah” (Roma 2:29). Kita harus memiliki pengampunan dosa didalam hati kita. Kalau kita tidak memiliki pengampunan dosa di dalam hati kita, maka hal itu tidak sah. Manusia memiliki “bagian rohani dan bagian lahiriah,” dan setiap orang harus menerima pengampunan dosa di dalam bagian rohaninya.
Dalam perikop ini, Paulus menafsirkan Hukum Taurat dan Sunat. Sebenarnya Paulus menafsirkan kedua hal ini dari Perjanjian Lama yang membahas tentang Hukum Taurat dan Sunat seperti Ul. 30:6; Yes. 52:5, dibandingkan denganYer. 7:4-15; Yer. 9:23-24.
Dalam hal ini, ada dua hal yang perlu disoroti dengan teliti yaitu Hukum Taurat dan Sunat. Bagi orang Yahudi, Hukum Taurat sangat besar peranannya dan inilah yang menjadi dasar pandangan orang Yahudi tentang dirinya sendiri terhadap keselamatan yang akan diperoleh. Namun Paulus memberikan paradigma baru tentang hal ini. Dalam perikop ini, Paulus menggunakan sastra Yunani yang disebut diatribe (serangan yang penuh Ironi). Paulus menjelaskan bahwa status istimewa sebagai Yahudi tidak menyebabkan Yahudi terlindung dari hukuman terakhir.
Dari ayat 17-24, bahwa dengan Hukum Taurat bukan berarti terlindung dari Hukum Tuhan. Buktinya, kehadiran Hukum Taurat tidak mencegah orang Yahudi melakukan dosa seperti yang dianggap sebagai dosa kafir. Maka dihadapan pengadilan Allah, orang Yahudi sama saja kedudukannya dengan orang kafir.
Pandangan Paulus ini juga berlaku terhadap setiap insan manusia, termasuk orang Yahudi karena ini juga yang dikatakan oleh Yesus dalam Mat. 5:21-48, Paulus melancarkan kecaman kepada orang Yahudi dan orang kafir (1:18-22) agar mencari keselamatan dalam Yesus Kristus.
Dalam ayat 25-29, Paulus berbicara tentang pandangan Yahudi yang membedakan Yahudi dengan orang kafir yaitu sunat. Paradigma baru : Paulus menegaskan bahwa sunat itu sendiri tidak menjadi sarana keselamatan, sebab yang penting ialah berbuat baik (ayat 10). Paulus mengecam orang Yahudi Kristen karena mereka menganggap dirinya aman dari hukuman Allah berdasarkan status mereka selaku umat perjanjian. Dalam ayat 29a, Paulus mengecam mereka karena memahami Hukum Taurat secara hukumiah, artinya : seolah-olah manusia wajib memenuhi tuntutan hukum, sedangkan Tuhan wajib memberi keselamatan sebagai upah upaya itu (timbal balik). Paham hukumiah mengenai Hukum Taurat membuktikan penekanan status eksklusif selaku umat Tuhan dan ini berdampak pada Hukum Taurat.
Dalam Hukum Taurat mereka memperoleh pengenalan Allah dan kebenaran. Dengan demikian kelebihan orang Yahudi digambarkan terutama dengan dua kata kerja yaitu kauxasthai dan katexoumenos yang berlokasi pada Hukum Taurat.
Paulus menunjuk kepada kejujuran Allah yang menghukumi orang yang bersalah sama dengan hukuman yang serupa. Orang Yahudi yang menghukumi orang Kafir akan menghukumi dirinya sendiri karena mereka melakukan hal serupa dengan orang kafir. Dari itu orang Yahudi dan Kafir berdiri di bawah ukuran dan tuduhan dan dakwaan yang serupa. Allah tidak memandang bulu (berdasarkan pasal 2;12-16). Kelebihan orang Yahudi yang didasarkan Hukum Taurat yang tertulis, yakni sebagai penyataan yang mengikat dari kemauan Allah (pasl 2;17-24) dan atas sunat sebagai pertanda kesetiaan persekutuan Allah (pasal 2:25-29) adalah tanda kekuatan di hadapan penghakiman Allah, tanpa pemenuhannya yang sempurna.
Mempunyai Hukum Taurat bukanlah ukuran kelebihan mereka, karena orang kafir pun mengenal Hukum Taurat (pasal 2:14-15). Kepada orang Yahudi dan kepada orang Kafir yang mereka hukumi berlaku ukuran yang sama. Bisa juga dikatakan orang yang mengerjakan Hukum Taurat itulah yang akan dibenarkan oleh Allah (2:13).
Diperhadapkan dengan keselamatan yang telah mulai Nampak sejak perbuatan pertolongan Allah dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, kelebihan orang Yahudi terhadap orang Kafir telah menjadi sia-sia. Baik orang Yahudi, baik orang Yunani adalah jatuh ke dalam dosa (3:9-20). Pengadilan Allah adalah didasarkan atas kebenaran (ayat 11) yang menjadi ukuran bukan karena atas nama hak (Privilegien).
Paulus juga memberikan pertanyaan-pertanyaan retorik untuk menyindir orang Yahudi secara keras. Oleh karena itulah orang Yahudi tidak menyenangi Paulus. Setelah Paulus menunjukkan bahwa baik orang Kafir dan orang Yahudi harus dihukumi menurut Hukum Taurat, sekarang Paulus mengatakan pelanggaran Hukum Taurat orang Yahudi 92;17-24) yang sesuai dengan tuduhan orang Kafir itu (1:18-32).
Paulus memperdebatkan soal kepercayaan oran Yahudi atas kepemilikan Hukum Taurat untuk jaminan atas keselamatan mereka. Dengan sangat jelas dikatakan bahwa ukuran dari pengadilan Allah tersebut bahwa Hukum Taurat dapat berfaedah jika dapat dilakukan secara sempurna. Tetapi dalam kenyataannya justru yang sebaliknya terjadi yaitu betapa dalamnya jurang pemisah antara kelebihan-kelebihan dan tuntutan orang Yahudi dengan cara hidup mereka. Kelebihan yang banyak ini dikatakan Paulusa dalam kalimat-kalimat pertanyaan ironisnya ataupun retorik. Demikian lah Hukum Taurat itu menjadi hal yang menentukan kepada mana orang Yahudi bersandar sebagai jaminan keselamatan .
Atas dasar kepemilikan pengetahuan akan kehendak Allah melalui Hukum Taurat sehingga mereka yakin menjadi penuntun orang buta, menjadi terang bagi orang yang berada dalam kegelapan, pendidik orang bodoh dan pengajar orang yang belum dewasa (ay.19-20). Mungkin saja ini berasal dari bahasa mission dari suatu kelompok Yahudi Hellenis tertentu. Mereka merasa dirinya lebih tinggi sebagai “pemilik dan jurubicara rahasia-rahasia Allah”. Dakwaan Paulus sangat hebat dalam hal sunat (2:25-29). Hukum Taurat dan sunat adalah tonggak-tonggak utama dari perasaan terpilih orang Yahudi yang tak boleh diganggu gugat. Sebenarnya sunat itu adalah bagian daripada Hukum Taurat dan berakar padanya. Bagi orang Yahudi, itu adalah tanda keikutsertaan Israel dalam perjanjian persekutuan dengan Allah, sebagai suatu materai yang paling pasti dari pemilihan Allah dan sebagai tanda pengenal absolute dari kelebihan agama mereka terhadap bangsa-bangsa lain. Walaupun sebenarnya bukan hanya orang Yahudi yang melakukan sunat, namun mereka melihat sunat yang tertera dalam Hukum Taurat itu sebagai sesuatu yang sama sekali lain dan tersendiri. Dalam hal tertentu, sunat itu mempunyai kesamaan bagi mereka dengan sakramen yang memberikan suatu karakter indelibilis, jadi suatu jaminan keselamatan yang nampak.
Penyanjungan hebat atas sunat ini ditolak oleh Paulus. Dalam 2: 25 Paulus tidak melawani kenyataan sunat sebagai materai perjanjian persekutuan yang diberikan Allah kepada Israel. Tetapi dengan 25, Paulus sangat cepat menyerang bahwa sunat itu sendiri hamper sama otomatis mempunyai kekuatan menyelamatkan. Faedah dari sunat itu bergantung hanya dari perbuatan Hukum Taurat. Hukum Taurat dan sunat tidaklah dapat dipisahkan. Pemenuhan Hukum Tauratlah yang membuat pelaksanaan penyunatan berguna untuk keselamatan (ay. 25a), berarti disini perbuatan yang mempunyai suatu pengenaan langsung dengan pengadilan penghukuman, dengan mana orang dihakimi.
Dengan sangat agresif Paulus mengkonfrontir tuntutan-tuntutan orang Yahudi dengan kenyataan prilaku mereka 2:21-24; 2;25). Perbuatan mereka berdiri bertolak belakang dengan tuntutan-tuntutannya. Mereka mengajar orang lain, bukan dirinya sendiri. Paulus mengutarakan sebagian Hukum Taurat yang sepuluh itu tanpa urutannya yaitu pencurian (21), zinah (22), dan gambar berhala (23). Mereka jijik akan gambar berhala, namun mereka sendiri merampok rumah berhala. Perampokan yang dimaksud di sini bukan terjadi di dalam Bait orang Yahudi tetapi di rumah berhala orang kafir. Orang Yahudi sejati itu tidak nampak kejahudiannya, artinya bukan hanya hal batin yang tidak nampak, tetapi seluruh eksistensinya berada dalam rahasia kepribadian, yang baru akan dinyatakan pada eskaton, tetapi sebaliknya juga bahwa kesalehan adalah termasuk hal yang nampak. Paulus mematahkan hak-hak keselamatan orang Yahudi untuk menujukkan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah.
Paulus tidak berbicara mengenai sunat lahiriah, tetapi sunat di dalam hati secara rohani, pengampunan dosa adalah di dalam hati. Kalau ada orang-orang yang tidak mau berbicara mengenai percaya secara lahiriah, tetapi yang dikatakan adalah percaya dalam hati. Allah berkata di dalam hati kita ketika kita menjadi anak-anakNya. Rasul Paulus tidak menempatkan pengharapannya kepada hal-hal yang lahiriah. Mereka yang dosa-dosanya sudah dihapuskan juga memiliki manusia lahiriah dan rohani. Manusia lahiriah sudah disalibkan ketika Yesus Kristus disalibkan. Kita menjadi kudus dan benar dengan percaya di dalam hati, bukan menurut perbuatan manusia lahiriah kita. Oleh karena itulah hati menjadi hal yang sangat penting di hadapan Allah.

Sebenarnya bangsa Yahudi menurut Paulus sudah menjadi batu sandungan bagi bangsa-bangsa lain. Hal ini dikarenakan bangsa Yahudi yang seharusnya benar-benar melakukan Hukum Taurat dengan sungguh-sungguh tetapi justru Yahudi sendiri yang melakukan kesalahan terhadap Hukum Taurat bahkan memegahkan diri atas Hukum Taurat dan Sunat yang mereka miliki. Bangsa Yahudi berani mengatakan bangsa-bangsa lain berada dalam kegelapan bahkan dikatakan buta. Disinilah Paulus memberikan tekanan terhadap Yahudi dengan diatribe itu. Oleh karena itu mungkin saja pada masa itu jugalah ada pandangan dari bangsa-bangsa lain yaitu Allah orang Yahudi adalah Allah yang menyatakan Hukum Taurat dan Allah juga memberikan batu sandungan. Sebenarnya Paulus juga sangat menghargai Hukum Taurat dan Sunat (Roma 7) tetapi Paulus melihat ada paradigma yang salah dari bangsa Yahudi dalam memahami Hukum Taurat termasuk keselamatan yang dianggap datang dari Hukum Taurat. Amen RHL.

Khotbah 2 Raja-raja 2: 1-12 “Estapet Kepemimpinan”


Pendahuluan
Elia adalah nabi yang dipakai Tuhan dengan luar biasa. Banyak rencana dan karya Tuhan terjadi melalui dirinya, seperti bernubuat supaya hujan turun dan tidak turun (1 Raj 17:1, 18:41-46), menegur penguasa tinggi, raja Ahab (1 Raj 18), mengalahkan nabi-nabi Baal di gunung Karmel (1 Raj 18:20-40) dan lain sebagainya.
Elisa adalah tipe orang yang setia dan patuh, Ia setia kepada seniornya,  pembimbingnya, mentornya, gurunya. Dalam hal ini, Elia merasa senang, karena dia merasa tidak salah pilih (1 Raj 19:19-21). Kesetiaan Elisa tampak dalam peristiwa perjalanannya dengan Elia, ada 3 kali Elia hendak meninggalkan Elisa, tetapi Elisa tetap bersikeras harus tetap mengikuti Elia, hingga Elia pergi berangkat ke sorga, sesuai dengan perintah Tuhan Allah.
Penjelasan
Kabar keberangkatan Elia ke surga dalam angin badai tampaknya sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan komunitas kenabian. Rupanya kenaikan Elia ke surga ini sudah diberitahukan lebih dulu, baik kepada Elia, Elisa maupun rombongan nabi di Betel dan Yerikho (ay 1,3,5,10).
Elia berusaha untuk meninggalkan Elisa (ay 2,4,6). Ini dimaksudkan untuk betul-betul mendapatkan kesendirian, atau untuk mengetest kesetiaan Elisa. Tiga kali Elia berusaha melakukan hal ini, dan tiga kali pula Elisa menolak untuk ditinggalkan (ay 2,4,6). Dalam keadaan normal seorang pelayan harus menuruti majikannya, tetapi dalam perikop ini, Elisa, yang tahu bahwa itu adalah saat-saat terakhir ia bisa bersama tuannya (ay 3b,5b), menolak untuk ditinggalkan. Jelas Elisa lebih memilih untuk tetap bersama Elia. Ia terus menempel ke Elia saat mereka melakukan perjalanan, mungkin terlihat menyedihkan tetapi hal ini mengungkapkan keintiman hubungan mereka, yang melampaui hubungan ayah-anak (ay 12).
Di dua lokasi, rombongan nabi (para murid nabi) bertanya pada Elisa tentang keberangkatan Elia (ay 3, 5). Jawaban Elisa atas pertanyaan ini kasar, mencerminkan ketegangan emosionalnya akan suatu perpisahan. 
Akhirnya, mereka mencapai perjalanan akhir. Di sungai Yordan, sekarang saatnya bagi Elia untuk menyeberang. Sekali lagi Elia mencoba untuk mencegah Elisa mengkutinya, tetapi lagi-lagi, Elisa bersikeras bahwa ia akan tetap mengikuti Elia.  Di seberang Sungai Yordan, pada saat-saat terakhir keberadaan Elia di bumi. Elia berkata kepada anak didiknya yang masih muda itu, "Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu." Jawab Elisa: "Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu."
Banyak penafsir menganggap bahwa Elisa meminta kuasa dua kali lipat dari apa yang dimiliki oleh Elia, dan bahkan mereka lalu membuktikan bahwa Elisa melakukan mujijat dua kali lebih banyak dari Elia. Tetapi ini merupakan penafsiran yang salah. Alasannya, Elisa tidak pernah menjadi dua kali lebih hebat dari Elia, bahkan Elisa tidak pernah bisa menyamai Elia. Bahwa Elia tetap lebih besar dari Elisa, juga terlihat dari fakta bahwa yang muncul bersama Yesus pada waktu pemuliaan di gunung adalah Musa dan Elia, bukan Elisa (Mrk 9: 4).
Lalu apa artinya permintaan ini? Ini dihubungkan dengan Ulangan 21:17, yang mengatakan bahwa anak sulung diberi warisan dua bagian, atau dua kali lipat dari anak yang lain. Jadi, Elisa rupanya menganggap bahwa Elia mempunyai banyak anak rohani (ini mencakup nabi-nabi di Betel dan Yerikho), dan ia meminta warisan sebagai anak sulung. suatu ‘bagian dobel’ dari roh Elia, bukan suatu kuasa yang lebih besar dari yang dimiliki Elia, tetapi bagian yang diberikan kepada anak tertua yang menggantikan posisi ayahnya.
Permintaan ini tidak menunjukkan ketamakan, karena tamak atau tidaknya tergantung dari motivasi Elisa. Kalau ia meminta hal itu demi kemuliaan Tuhan, maka tentu itu bukan ketamakan. Bahkan kalau seseorang meminta ‘hal duniawi’ seperti mobil, asalkan motivasinya untuk kemuliaan Tuhan, maka itu bukan suatu ketamakan.
Elia tahu bahwa bukanlah haknya untuk memberikan apa yang Elisa minta. Jadi dia berkata, "Yang kau minta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi."  Dengan kata lain, Elisa meminta sesuatu yang Elia tidak bisa berikan sebab hal itu adalah pemberian Allah.  Elisa meminta semangat yang ada dalam diri Elia, yang membuatnya menjadi nabi terbaik dalam sejarah Yahudi, yaitu semangat yang berasal dari Allah. Kuasa dari Allah yang memberinya kemampuan untuk melakukan mukjizat. Kuasa dari Allah yang memberinya suara untuk berbicara tentang kebenaran kepada penguasa dunia. Kuasa dari Allah yang memberi Elia kebijaksanaan untuk mengetahui apa yang dibutuhkan. Kuasa dari Allahlah yang bekerja melalui Elia, yang membawa gairah dan kasih sayang yang melimpah dalam pelayanannya.
Elisa meminta semangat, bukan sebagai hadiah atau lencana kehormatan, tetapi karena ia membutuhkannya untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Dia membutuhkan itu dalam rangka untuk menjadi pemimpin dalam komunitasnya. Dia membutuhkannya untuk membawa kesembuhan dan kasih sayang bagi orang di sekitarnya. Ia membutuhkan semangat pelayanan agar ia bisa memenuhi misinya.
Melalui perikop ini jelas kelihatan  bahwa Elisa adalah figur yang sangat cocok dan tepat menjadi pengganti Elia, memimpin bangsa Israel. Elisa setia, serius, sungguh-sungguh,  dan gigih berjuang. Kesungguhan Elisa menjadi pelayan itu terbukti sebab ia memenuhi syarat untuk memiliki kuasa atau wibawa Elia melalui ‘dapat melihat Elia berangkat ke sorga’ dengan kereta berapi dan kuda berapi. Ini menjadi suatu legitimasi dari Allah sendiri, bahwa ia benar-benar disetujui dan dipilih Allah sebagai pengganti Elia.
Selanjutnya Elisa memiliki kompetensi seperti Elia, sanggup melakukan apa yang telah dilakukan oleh Elia yakni melakukan tanda mujijat (ay 14). Legimitasi berikutnya adalah dari teman-temannya nabi yang lain (manusia), dimana teman-temanya itu melihat semua kejadian itu dengan jelas dari jarak tertentu (ay 15).
Refleksi:
Kisah Elia dan Elisa dalam perikop ini berbicara tentang bimbingan dan transisi kepemimpinan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Proses transisi, suksesi dan kelangsungan tugas kenabian sangat menentukan sukses tidaknya sebuah pelayanan. Dari sini kita belajar bahwa sebaiknya hubungan senior dengan junior adalah hubungan yang saling membangun, bukan hubungan yang saling bersaing dan sikut-menyikut. Terlebih dalam hal suksesi kepemimpinan (periodeisasi) di tengah-tengah jemaat maupun organisasi lainnya.
Kita juga belajar dari Elisa tentang bagaimana ia belajar dan mengikuti orang yang lebih berpengetahuan dan lebih bijaksana. Permintaan Elisa untuk "dua bagian roh" adalah tentang warisan rohani yaitu semangat pelayanan bukan kekuasaan. Dia ingin melanjutkan pelayanan Elia dan bukan memulai model pelayanan yang ia ciptakan sendiri. Ini merupakan sebuah pelayanan yang dilakukan dalam kerendahan hati.
Dalam hidup kita ini, kita memiliki peran  sesuai dengan talenta dan pekerjaan kita masing-masing. Baiklah kita tetap setia memberikan yang terbaik bagi Allah melalui talenta dan pekerjaan kita tersebut. Elisa setelah terpilih untuk menggantikan posisi Elia maka ia memberikan dirinya sepenuhnya untuk melayani dengan tulus, sepenuh hati dan penuh kesetiaan.
Percayalah, jika Allah memanggil kita untuk suatu tugas pelayanan, Allah akan memberikan semangat dan kasih karunia kepada kita untuk melakukannya. Ingatkan diri Anda bahwa semua pelayanan yang Anda lakukan bisa menjadi persembahan yang harum bagi Allah. Amen



Jamita Yeremia 33 : 14 - 16 “Ahu patubuhon Sada Tumbur Hatigoran”


Saluhut do jolma on manghirim asa jumpang angka hamubaon. Siala ni ido umbahen siganup ari na i mangula jolma i, nang di balian, di huta nang angka ulaon siganup ari, sude nai adong do na pinaimana manang na hinirimna. Ai ndang adong labana mangolu, ia so adong na hinirim. Panghirimon martujuan do i tu hamubaon. Alai boha do taringot tu hamubaon ni roha nang panghaporseaon maradophon Tuhan na hinaporseaonna, on do na gabe sungkunsungkun sian turpuk jamita on. Ai dibagasan turpuk on, nunga tangkas dipatuduhon Debata pambahenan holong tu saluhut jolma na tinompa na i, marhite sian naung dilehon sada janji manang bagabaga haluaon di jolma i. Nuaeng, boha do jolma i manghangoluhon bagabaga i? Dipareahi do manang ditundalhon manang diparsoadahon. Tarlumobi molo sai tapaihutihut, ndang hombar tu haporseaon i be angka na taula, na tahirim, jala hamubaon i pe gabe ndang jumpang di hita. Ndang tarida be dia do nuaeng imbar ni halak na mandok dirina porsea di Jesus dohot na so porsea di Jesus i. Antong, marhite advent I on, ingkon tongtong do patubuhononta angka pambahenan na patuduhon hita na halak Kristen, ima sian angka parange na denggan na so mubauba hinorhon ni gogo ni portibi on na mambahen hita sipata gabe sumusa manang di na so lam taantusi manang na songon dia do pardalanan ni bangso ta on, na lam leleng lam so boi denggan. Tarida ma i sian na  lam martamba angka na pogos gabe tu hajahaton...na mora tu pangarupaon.
HATORANGAN NI TUPUK
Di na naung lam mandate roha ni bangso Israel di habuangan Babel, hinorhon ni na so sonang be roha nasida manginganton na so huta na, na sai jotjot ma nasida ndang boi be songon na somal mangulahon hombar tu parugamoon ni nasida, disi ma nang Debata mangalehon bagabagaNa tu bangso i, na mandok na tongtong do di haholongi Debata nasida jala uhum holong do pinasahat ni Debata. Boi ma dohonon bangso Juda (Yehuda) nunga dibagasan masa kritis. Nunga bongot be tentara ni Babel tu Jerusalem, siala ni ima gaba tubu ma di roha ni nasida:”Ise nama na boi pangondian jala paulihon on? Pagogohu do bangso Babel on ianggo di nasida, umbahen na tolap ni nasida mambahen sada paraloan ai tangkas diida nasida bangso Asyur pe nunga ditaluhon nasida. Alai, holong ni rohaNa pasahathon janjiNa, naeng paulionna nasida jala mulak songon hinadenggan ni na parjolo i (33:13). Tarida ma i sian hinasintong ni pambahenan di Debata tu nasida, asa nian mangolu jala malua nasida sian hasusaan ala dosa i. Sian angka panurirang na parjolo, nunga tangkasa dipabotohon Debata bagabagaNa tu angka na olo mulak tu dalan ni Debata. Nang di uhum Debata nasida, alai sai ungkap do dalan laho mulak tu Debata. Alai tung ahama labana i sasude, molo so adong na gabe uluan na gogo dinasida. Ai so adong uluan ni nasida manang rajana na boi mangulhon manang manotophon ulaon hasintongan, dohot mangaturhon ngolu na marugamo na boi mamboan bangso tu adopan ni Debata, siala ni ido lam dipaudut Debata do sandok janjiNa (bagabagaNa) taringot tu ngolu ni bangsona.
On ma nuaeng na pinatariashon ni panurirang Jeremia, paboa hinasintong ni hata ni Debata. Ai si Jeremia sandiri pe, tung mansai marungkil do hinorhon ni uhum na jinalo ni bangso i sian Debata, jala ibana na patariashon uhum i. Dison adong dua makna ni pandohan ni Debata:
1.        Sai manontong do holong ni roha ni Debata. Ndang tarunsat angka bagabaga ni Debata naung pinatariasNa tu ompu ni bangso Israel (Abraham, Isak dohot Jakob). Nang pe tarrimas Debata na manghorhon habuangan dohot parhatobanan, alai na sai pabangkitonna do raja na boi paluahon nasida sian uhum i. Manang...haluan haportibion (Kebebasan dari pejajahan dunia/kemerdekaan dunia).
2.        Ndada holan raja ni Israel na binagabagahonNa i. Alai sandok Ibana na gabe Raja ni portibi on.
On ma na nidokna “haluaon bolon” (Keselamatan Universal).
Boasa pola patuduhonon ni Debata i? Asa disi ma sasintongna idaon ni jolma jala panghilalahonon ni jolma na sintong do Debata di saluhut angka na binahenNa. Ndang hea  marsala Debata, jala di Ibana do sandok huaso di banuaginjang nang na di tano on. Ai ndada holan rimas na pinamasa ni Debata tu halak Israel, alai dohot do nang haholongon ni Debata marhite sian na malua sian hamaolon i, manang malua sian uhum i.
Secara pastina, dipabotohon ma tu bangsoNa marhite tumbur ni si Daud na boi pajongjonghon hasintongan (keadilan), asa dibagasan hasongan nang las ni roha bangso i (hidup dalam damai sejahtera). pahotonNa ma padanNa tu si Daud dohot tu sude pinomparna, jala sian nasida ingkon bangkit raja (Andorang so tajaha jala tapahantus pangantusion taringot turpuk jamita on, ingkon jumolo do hita marningot manang na songon dia do pardalanan ni ngolu ni si Daud sian sihaetehonna sahat tu na dipangkit Debata ibana gabe raja na manggomgomi bangso na tarpillit i, bangso ni Debata. Ai dibagasan i do jumpang hita udut ni bagabaga ni Debata sijaloon ni Daud tu joloansa on taringot tu ngolu ni bangsoNa nang saluhut jolma nang pangisi ni tano on;  2 Sam. 7:12-16). Sahat rodi tingkina, ndang hea dope disundati Debata bagabagaNa, nang tung godang angka pangalaho pardosaon ni bangsoNa nang si Daud sandiri dohot pomparanna. Jadi boi ma dohonon:”pamangkulingion nang uhum na pinamasa ni Debata tu pomparan ni si Daud na so satia tu Ibana, on do sasintongna na patuduhon hasetiaon ni Debata dibagabagaNa sandiri (PerjanjianNya kekal)
Aplikasi
1.     On ma na naeng idaonta di asi ni roha ni Debata. Ndang diloas Debata jolma i mate dibagasan hadosaonna na mambahen hamatean na salelenglelengna. Alai lomo ni roha ni Debata, mangolu jala dapotan hangoluan na salelenglelengna jolma. On ma bagabaga naeng si jaloonta sadari on sian Debata. Ai paubaon ni Debata do ngolu ni angka na manghirim di haluaon na binoanNa. Na marsak gabe marlas ni roha, na marsahit gabe malum, na pampang gabe mardalan denggan, na mapitung gabe buha simalolongna. Sandok marolopolop sandok tano on ditingkina na so taboto dope. Siala na so taboto disi ringkot manbgolu jala patubuhonon panghirimon, jala na so taida dope. Antong, pos ma rohanta, sai na paubaon ni Debata do ngolu ni angka na olo manjanghon Ibana jala na manontong manghirim di Tuhan i.
2.     Puji Tuhan, Jesus Kristus ima Mesias, sian marga ni si Daud jala gabe Sintua ni Malim na badia jala na songkal situtu, lobi sian habalgaon ni hamalimon ni si Harun na laho manguluhon sada bangso na imbaru, lobi sian bangso Isarel sandiri. Marhite Ibana, nunga dipauli jala dipajongjong Debata muse bangsoNa. Hita na porsea tu Tuhan  Jesus ima gabe bangsoNa ala ni asi ni roha (anugerah). Siala ni i rap ma hita mambahen sada komitmen dohot  hasetiaon ndang be mangulahon dosa na parjolo i.

Nunga be tabereng rumang ni parugamoon di bangso Indonesia. Jala nunga taboto be manang songon dia rumang ni angka pangalaho ni angka uluan ni bangso i sandiri. Siala ni ido, marhite Natal di taon 2015 on, saluhut halak Kristen ingkon manangiangkon asa bangso on sonang dibagasan par-Tuhan-on na be. Ai ndang holan hamaloon sambing na ringkot na gabe uluan ni bangso on, alai ingkon roha na mar-Tuhan do jala pamarentaon ni Debata adong dibagasan ulaon nasida. Hita ndang na laho mang-Kristen-on saluhut bangso Indonesia, alai dao andul sian i, ingkon pabotohononta barita  ni Tuhan Jesus, asa gabe Ibana Raja jala Sintua ni Malim dibagasan roha ni sandok jolma on. Amen

Khotbah Seksi Pria GKPI Jemaat Khusus Helvetia Thema; “JADILAH TELADAN BAGI ORANG-ORANG YANG PERCAYA”


Surat ini memuat nasihat atas kegiatan pemberitaan Injil dan sejumlah wejangan pribadi. Di dalam pasal 4:12, Paulus menasihatkan Timotius agar melalui perkataan, tingkah laku dan kesetiaannya, ia dapat menjadi teladan bagi banyak orang. Timotius bisa menjadi seorang pribadi yang berintegritas baik, setia dan sanggup mengaplikasikan firman Allah dalam hidupnya sehari-hari, sehingga tidak ada alasan bagi orang lain untuk memandangnya rendah karena dirinya masih muda.
Meskipun ia muda, belum banyak pengalaman, belum terlalu dewasa, dan kalau kata orang jaman sekarang menyebutnya “anak masih bau kencur” tetapi ia dapat menjadi teladan di dalam perkataan, tingkah laku, kesetiaan, dan kesuciannya sehingga orang lain atau orang yang lebih tua darinya tidak memandang rendah akan dirinya. Ini yang menjadi Problem  sering di tengah2 jemaat Pendeta, Majelis, Penatua tidak menjadi Teladan baik dalam perbuatan maupun dalam perkataan. Kalau Pendeta, Penatua tidak punya etika berbicara, mau kemana warga jemaat ini dibawa.
Sudahkah kita mengeluarkan perkataan yang membangun orang lain (Amsal 16:24)? Sudahkah perkataan kita sesuai dengan apa yang Yesus kehendaki untuk kita miliki? Yakobus 3:5 berkata, “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.”
Marilah kita belajar menjadi seorang muda yang dapat menjadi teladan di dalam perkataan, tingkah laku dan kesucian hidup. Kita bisa mulai dari perkataan kita. Milikilah perkataan-perkataan yang penuh kejujuran, dapat membangun dan dapat dipercaya. Perkataan seperti ini membangun kepercayaan dan tidak bisa dijadikan alasan bagi orang lain untuk merendahkan kita. 
JADILAH TELADAN
Dengan demikian maka orang muda dapat menjadi teladan bagi orang-orang dewasa. Bukan karena pengalaman, tetapi karena Firman Tuhan yg tertanam dalam hatinya.
PERKATAAN
“Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah;” (1Petrus 4:11).
Firman Tuhan itu harus selalu berada di hati dan di mulut kita senantiasa (Roma 10:8). Setiap kali kita berkata-kata, ingatlah selalu bahwa Firman Allah telah di taruh Tuhan di mulut kita (Yeremia 1:9). Tidak pantas kita berkata-kata kotor, cabul, dusta dan fitnah (Efesus 5:3-4). Ingatlah kita diberi kuasa di mulut kita, jangan sembarang bicara.
“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia”. (Efesus 4:29)
Orang dibenarkan atau dihukum bisa karena perkataannya (Matius 12:36-37, Amsal 18:21). Karena itu berhati-hatilah dengan perkataan kita, biarlah kita selalu ingat bahwa Allah berdiri didepan mulut kita setiap kali kita berkata-kata (Mazmur 141:3).
TINGKAH LAKU
“Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya”. (Amsal 1:32)
Orang muda sering kali lalai dalam mengerjakan suatu tanggung jawab, tidak jarang mereka sering kali enggan mengerjakan atau berbuat sesuatu. Pada hal disini kita belajar menjadi teladan bagi orang-orang dewasa. Kita telah tahu, lewat Firman dan pimpinan Roh Tuhan saja kita dapat lebih dari mereka yang berpengalaman.
Jangan suka enggan melakukan sesuatu. Pengkotbah 9:10 mengatakan, “segala sesuatu yang dijumpai tangganmu kerjakanlah itu!” Jangan suka menunda suatu pekerjaan dan juga jangan takut gagal, sebab jika Tuhan beserta kita apa saja yang kita kerjakan Tuhan akan buat menjadi indah (1 Samuel 10:6-7, Roma 8:28).
KASIH
“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” (1 Petrus 4:8)
Jadilah teladan didalam kasih. Jangan pernah membenci siapapun yang bersalah kepada kita, orang yang menjahati kita berbuat jahil ataupun kurang ajar (Matius 5:46-47). Kasih menutupi banyak dosa, bukan menutup-nutupi. Dosa harus dibereskan, siapa yang bersalah dia yang dihukum (Kolose 3:25), tetapi karena kasih kita “menutupi” dosa tersebut dengan mengenalkan Kristus kepada mereka, dengan menegur kesalahan mereka agar bertobat dan berbalik, itu seperti menyelamatkan mereka dari maut (Yudas 1:22-23).
Jadilah teladan dengan menunjukan kasih kepada semua orang tanpa pilih-pilih. Baik itu teman, saudara, kerabat maupun musuh kita. Jangan pandang bulu, suku, ras, jenis kelamin, jenis baju, jenis dompet dll.
KESETIAAN
“Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya; lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong.” (Amsal 19:22)
Orang yang setia dijaman ini sudah susah mencarinya (Amsal 20:6), siapa yang setia? Banyak orang berkianat, banyak orang menipu, berbohong dan mencelakakan orang lain, bahkan teman baik ataupun saudara. Sudah hampir dibilang tidak ada orang setia di dunia ini kecuali anak-anak Tuhan. Jadilah teladan didalam kesetiaan bagi orang-orang dewasa.
KESUCIAN
“Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.” (2 Korintus 6:17)
Jangan bergaul dengan orang berdosa, jangan ikuti satupun dari jalannya (Amsal 4:14-15, Mazmur 1:1). Tunjukanlah teladan kita kepada orang-orang dewasa dengan hidup didalam kesucian. Tidak ikut-ikutan arus dunia ini, mode dunia ini dan segala sesuatu yang duniawi yang membuat dosa mudah masuk. Ingat pergaulan yang jahat merusakan kebiasaan yang baik (1 Korintus 15:33).

Tidak ada seorang manusiapun yang sanggup melawan dosa. Jangan lawan dosa, tetapi buang jauh-jauh dosa itu, jangan jamah. Kita masih hidup didalam bungkus daging dan daging ini sangat lemah dan tidak mungkin menang melawan dosa (Roma 7:22-24). Hanya dengan Tuhan Yesus saja kita dapat menang bukan dengan kekuatan kita melawan keinginan dosa, tetapi karena telah dilepaskan. Karena itu jangan dilawan tepi jahui.

Khotbah Natal PP GKPI Helvetia Thema; All For Jesus (Roma 12: 1) Agar Pelajar Sidhi/Remaja/PP Selalu Mempersembahkan Talentanya Untuk Tuhan.


All for Jesus, all for Jesus!
All my being’s ransomed powers:
All my thoughts and words and doings,
All my days and all my hours.
Refrain
All for Jesus! All for Jesus!
All my days and all my hours;

All for Jesus! All for Jesus!
All my days and all my hours.
Let my hands perform His bidding,
Let my feet run in His ways;
Let my eyes see Jesus only,
Let my lips speak forth His praise.

Sdr/I yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus Dalam semua suratnya, Paulus selalu mengakhiri Pesannya dengan suatu daftar Kewajiban-kewajiban Praktis yang didasarkan pada Doktrin. Dalam kehidupan Kristen, Doktrin dan Kewajiban selalu berjalan bersama.
Apa yang kita percayai menolong kita untuk menentukan bagaimana kita bertindak. Tidak cukup kalau kita hanya mengerti Penjelasan Paulus tentang doktrin, tetapi kita harus mewujudkan pengetahuan kita dalam Hidup kita dan dengan kehidupan kita sehari-hari kita menunjukkan bahwa kita percaya kepada Firman Allah.
Salah satu dari kewajiban itu adalah Melayani Tuhan, karunia yang dianugrahkan oleh Tuhan kepada kita harus kita gunakan dengan Iman. Karena karunia rohani itu adalah alat untuk membangun, bukan mainan dan harus kia sadari bahwa Melayani Kristus biasanya berarti Pertentangan dengan iblis; karena itu Rasul Paulus memperingatkan para pembaca; agar menjaga Semangat Rohani merea, karena mereka sedang Melayani Tuhan dan bukan manusia. Itulah sebabnya maka Paulus menyambung Nasehatnya dalam ayat 12: “BERSUKACITALAH”
Sdr/I yang dikasihi Tuhan Yesus: Persekutuan Kristen lebih dari sekadar Pernyataan rasa simpati dan jabatan tangan. Persekutuan Kristen berarti saling membagikan Beban dan Berkat, sehingga kita semua bertumbuh bersama-sama dan Melayani Tuhan bersama-sama.
Bekerja adalah suatu unsure dari hakekat manusia, yang dijadikan Allah menurut gambar-Nya. Karena itu wajarlah jika bekerja adalah merupakan Panggilan dan Perintah Allah, manusia yang tidak mau bekerja sebenarnya sedang membunuh kemanusiaannya, dan ini jelas melanggar perintah Allah.
Rasul Paulus berkata dalam Filipi 1 : 21- 22; Sebab bagiku hidup…..dst Jika aku harus hidup…….bekerja memberi buah. Dari ungkapan ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa: menurut Paulus, bekerja itu adalah suatu tuntutan yang harus membuahkan hasil yang baik. Memang ada dua dilemma (blessed dilemma) bagi Paulus, hidup adalah Kristus, mati adalah keuntungan. Kalau kita hidup di dunia ini harus didalam Kristus membuahkan buah yang baik, bukan menikmati hidup (enjoy life) tetapi untuk melayani Kristus, dan memberi buah dalam pelayanan Tuhan.
Mempersembahkan tubuh yg dimaksud disini adalah; Seluruh pikiran, perkataan, dan perbuatan, pokoknya seluruh kemampuan dan kegiatan kita, harus dipersembahkan kepada Tuhan, jangan setengah-setengah atau sisa-sisa waktu, uang dsb.
Nasehat Paulus untuk mempersembahkan tubuh sebagai implikasi dari iman yang adalah esensi dari ibadah yang sejati harus terlebih dahulu terlihat dari kehidupan sesama mereka yang percaya kepada Kristus (ay.3). Implikasi iman kepada Kristus akan nyata terlihat dalam kehidupan jemaat dengan adanya satu tujuan hidup yang jelas, yakni walaupun memiliki karunia yang berbeda-beda dari Allah, kita sedang berbuat dalam satu tubuh di dalam Kristus.
Ada 3 prinsip yang harus dijalankan dalam kehidupan jemaat:
1.   Kita adalah anggota seorang terhadap yang lain
Setiap jemaat memiliki karunia yang berbeda-beda, semuanya memiliki keunikan dan peran tersendiri dalam tubuh Kristus. Sehingga setiap anggota adalah sama di hadapan Tuhan. Maka tidak ada alasan untuk memegahkan diri ataupun menyombongkannya menganggap diri lebih dari yang lain.
2.   Karunia itu adalah untuk dilakukan sesuai dengan iman
Tuhan karuniakan berbagai bakat dan kemampuan yang berbeda-beda dalam jemaat, dan karunia itu diberikan bukan untuk disimpan ataupun dinikmati sendiri, namun Tuhan memberikannya supaya dapat dipergunakan untuk saling menolong dan membantu. Maka kita mempersembahkan hidup kita menjadi persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Tuhan. Kita melakukan yang terbaik kepada Tuhan sesuai dengan karunia yang diberikan bagi kita.
3.    Melakukan karunia itu dengan hati yang iklas, rajin dan penuh sukacita
Apapun karunia yang kita miliki lakukanlah dengan iklas, rajin dan penuh sukacita. Jangan lakukan dengan terpaksa ataupun karena alasan-alasan tertentu kita melakukan sesuatu.
Apapun yang kita lakukan dalam kehidupan kita adalah bekerja dan berbuat untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan selalu ada saja yang namanya hambatan dan tantangan, disinilah kita juga akan dikuatkan untuk mampu menghadapi semuanya sebab kita berbuat adalah untuk Tuhan. Jika kita bekerja dan berbuat apapun itu, jika kita melakukannya untuk manusia kita pasti akan putus asa dan mundur ketika ada halangan dan tantangan, namun karena kita melakukan segala sesuatu adalah untuk Tuhan, Amen RHLT


Minggu, 06 Desember 2015

HIDUP YANG BERKUALITAS Efesus 4: 11 – 16


“Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak aLlah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus…..di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala ke arah Dia, Kristus, yang adalah kepala.” (Efesus 4:13-15)
Dalam situasi kehidupan yang telah mengglobal seperti sekarang ini akibat kemajuan teknologi dan perkembangan pasar bebas antar negara sering kita mendengar istilah Sumber Daya Manusia (SDM) dan Kualitas kehidupan. Dalam kehidupan kita sekarang ini seseorang dikatakan mempunyai sumber daya apabila ia bermanfaat dan berguna bagi proses produksi suatu barang atau jasa tertentu. Semakin baik, semakin terampil semua orang mencarinya. Tetapi ketika ia tidak lagi mampu berfungsi untuk bekerja pada suatu bidang pekerjaan yang menghasilkan uang maka ia akan dibuang dan dilecehkan. Oleh sebab itulah dalam jaman sekarang ini pandangan umum terhadap kelompok manusia usia lanjut (manula) dan mereka yang cacat anggota tubuhnya sering dinilai sudah tidak lagi bersumber daya.
Di dalam kehidupan sekarang ini juga terjadi perendahan makna kualitas hidup manusia. Hidup seseorang dikatakan berkualitas hanya jika ia sukses dalam pekerjaan, sukses pelajaran di sekolah atau kampus, berhasil mendapatkan uang sebanyak mungkin atau ketika seseorang dapat mengikuti gaya hidup modern, yaitu mampu membeli dan mengikuti produk-produk keluaran terakhir yang mahal. Beberapa iklan di TV juga turut mengembangkan pemahaman ini dimana iklan-iklan itu mendorong pembeli membeli produk-produk tertantu dengan embel-embel supaya hidupnya dinilai berkualitas. Jika tidak memakai produk yang ditawarkan maka dinilai belum berkualitas hidupnya.
Apa sebenarnya makna dan ukuran kualitas hidup kita sebagai orang-orang beriman di tengah dunia yang terus berubah yang merupakan milik Allah ini?
Alkitab kita tidak pernah melihat dan memahami kualitas kemanusiaan kita seperti yang menjadi kecenderungan sekarang ini. Khususnya dalam bacaan kita hari ini, Efesus 4: 11 – 16, kita dapat melihat bahwa  Paulus mempunyai pandangan dan penilaian yang lain dalam menilai kualitas sumber daya dan kulaitas hidup seseorang. Setidaknya Paulus mengatakan ada tiga hal yang patut kita perhatikan untuk melihat dan menilai kulaitas hidup kita sendiri dan hidup orang lain. Ketiga hal itu ialah sebagai berikut:
Pertama, hidup seseorang dikatakan berkualitas apabila mempunyai kedekatan hubungan pribadi yang mendalam dengan Tuhan Allahnya. Atau dengan kata lain apakah kita mempunyai ikatan emosional dengan Tuhan kita. Pengertian emosional disini jangan diartikan kalau berdoa harus menangis, apabila bernyanyi harus bertepuk tangan, kalau berdoa harus berteriak-teriak atau tertawa. Tetapi yang dimaksudkan disini ialah apakah kita merasa begitu dekat dan selalu ingin menaati segenap perintahNya. Sehingga apabila berdoa itu benar-benar keluar dari hati kita yang paling dalam, pada saat menyanyi kita menyanyi dengan sungguh-sungguh dan penghayatan yang penuh. Apa yang kita lakukan tidak dibuat-buat.
Paulus dalam ayat berikutnya mengatakan kalau kita mempunyai kedekatan atau hubungan emosional seperti ini maka kita tidak akan terombang-ambingkan oleh berbagai macam rupa angin pengajaran yang dapat menyesatkan kita dari hadapan Tuhan. Saudara ada banyak ajaran baru yang dikemas dengan sangat menarik sehinga orang tertarik. Tetapi kalau kita teliti maka apa yang mereka ajarkan sebenarnya menyesatkan kita. Misalnya ada ajaran yang mengatakan bahwa kalau ikut Tuhan semua persolan beres, tidak akan menemui kesulitan, semua urusan bisnis pasti lancar, kaya dan berkelimpahan. Tetapi kalau kita tidak mengalami itu semua maka berarti iman kita belum beres dan belum sungguh-sungguh terima Tuhan sebagai Juruselamat. Saudara, menarik apa yang diajarkan tetapi sebenarnya menyesatkan. Mengapa? Sebab dalam firman Tuhan dikatakan bahwa setiap orang mengikut Tuhan pasti memikul salib. Ini berarti tidak semua urusan akan selalu berjalan mulus. Tidak selalu sukses dalam dagang dan mungkin suatu saat kita merugi. Tuhan tidak menjanjikan langit selalu cerah atau matahari selalu bersinar dengan terangnya bagi para pengikutNya. Yang Tuhan janjikan ialah kekuatan, penghiburan dan kemampuan dalam menghadapi semua tantangan kehidupan yang kita hadapi.
Di samping itu, mereka yang mempunyai ikatan emosional dengan Tuhan Allahnya akan melibatkan dirinya dalam pengembangan gereja. Ia tidak berpikir apa yang dapat gereja berikan baginya melainkan apa yang dapat dilakukannya bagi pertumbuhan gereja dimana ia menjadi anggotanya.
Akibat lain apabila mempunyai hubungan yang emosional dengan Tuhan Allahnya ialah mereka selalu mengucap syukur dalam segala hal. Dalam susah dan senang mereka tidak melupakan Tuhannya. Dalam kegagalan mereka tidak undur diri dai hadapan Tuhan melainkan mencari letas penyebab kegagalannya itu dan berupaya memperbaikinya. Mereka menyakini bahwa Allah akan turut bekerja dalam setiap tindakan yang mereka lakukan.
Kedua, hidup seseorang dikatakan berkualitas apabila memiliki kedewasaan dan kematangan dalam menjalani kehidupannya. Saudara, sekarang ini tampaknya budaya instant sudak merasuki kehidupan manusia. Ada kopi instant, susu instant, ijazah instant dan lain sebagainya. Orang pada umumnya tidak mau repot-repot. Semuanya ingin serba cepat. Karena itu jangan heran kalau kita melihat atau mendengar ada orang yang menghalalkan segala cara untuk cepat meraih kedudukan, kekayaan dan sebagainya. Seseorang yang memiliki kamatangan dan kedewasaan tidak melakukan hal itu. Sebab ia menyadari bahwa untuk meraih suatu keberhasilan diperlukan waktu, tenaga, kesabaran, ketekunan dan kerja keras.
Selain itu, seseorang yang mempunyai kematangan dan kedewasaan dalam hidup menyadari bahwa ia tidak dapat hidup tanpa kehadiran orang lain. Ia menyadari dirinya tidak berarti tanpa orang lain berada di sekitarnya. Mereka yang menyadari ini tentu akan bersikap mau menerima kepelbagaian suku bangsa dan agama seseorang. Ia juga akan menyadari dan menerima orang lain dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Seperti dirinya sendiri mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Ketiga, hidup seseorang berkualitas ketika ia mampu mengetahui kebenaran dan melakukan kebenaran dalam hidupnya. Saudara, apa ukurannya kalau dikatakan bahwa kita mampu mengetahui suatu kebenaran dan melakukan kebenaran itu? Dalam Yesaya 32: 17 dikatakan, “Dimana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan, dan ketentraman untuk selama-lamanya.” Dengan demikian jika apa yang kita pikirkan dan perbuat itu mendatangkan damai sejahtera, ketenangan dan ketentraman bagi  mereka yang ada di sekitar kita apakah di tengah keluarga, temnpat kerja, sekolah dan pergaulan lainnya; maka dapat dikatakan bahwa apa yang kita pikirkan dan perbuat itu adalah sebuah kenaran. Tetapi sebaliknya jika mereka yang ada di sekitar kita justru merasakan ketakutan, kecemasan, kekuatiran; itu berarti apa yang kita pikirkan dan lakukan adalah sebuah ketidak benaran.
Dunia kehidupan kita sedang berubah dan akan terus mengalami perubahan. Ada perubahan yang mendatangkan kebaikan, misalnya kemajuan teknolgi; tetapi juga ada perubahan yang tidak baik, yaitu melihat dan menilai kualitas manusia dari sudut fungsi, manfaat, kesuksesan dan kemwahan. Sebagai umat beriman kita jangan terjebak dalam pola penilaian seperti itu.  Tetapi marilah kita dalam kehidupan sehari-hari dan khususnya ditengah keluarga kita masing-masing memperlihatkan sikap yang mempunyai kedekatan hubungan dengan Tuhan, kematangan dan kedewasaan dalam hidup serta mampu melihat dan melakukan kebenaran. Sehingga mereka yang berada dekat dengan kita merasakan damai sejahtera, ketenangan dan ketentraman.
Di akhir renungan ini saya ingin menyampaikan petikan sebuah puisi yang bertutur demikian:
Yang dunia butuhkan
Seorang yang rendah hati yang menyadari keterbatasannya
Seorang yang yakin bahwa dirinya akan lumpuh jika tidak ditopang oleh sesamanya
Seorang yang sudi menjadi penopang sesamanya
Seorang yang lebih rindu memberi daripada meminta
Seorang yang tetap tersenyum walau kesuksesan terasa jauh dari hidupnya
Seorang yang dapat menghargai perbedaan yang ada
Seorang yang tetap mengasihi sesamanya yang tidak lagi mampu berbuat apa-apa
Dunia membutuhkan orang yang berkualitas demikian
Tuhan memberkati Saudara. Amin


Khotbah Lukas 1:26-38 “Bagi Allah tidak ada yang Mustahil”


 Berita kelahiran Yesus disampaikan oleh Malaikat Tuhan kepada Maria. Melalui Nats ini kita akan belajar dari Maria bagaimana hidup bergembira dalam rencana Allah, sekalipun rencana tersebut adakalanya membuat hidup kita terasa berat.
1. Ayat 31-33: Berita baik apa yang diterima oleh Maria?
2. Ayat 27, 34: Pergumulan apa yang dihadapi oleh Maria pada saat mendengar kabar baik tersebut?
3. Bagaimana respon Maria terhadap berita itu pada akhirnya? (ay.46)
4. Mengapa dalam pergumulan yang demikian berat, Maria tetap dapat memuliakan Tuhan dan hatinya bergembira? (ay. 35-36)
5. Belajar dari Maria, bagaimana caranya kita dapat bergembira dalam rencana Allah?
Penjelasan:
Kabar baik yang diterima Maria adalah kehadiran seorang bayi bernama Yesus, yang nantinya akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah yang Mahatinggi. Ia adalah Raja untuk selama-lamanya dan KerajaanNya tidak berkesudahan. Ini adalah sebuah peristiwa yang luar biasa dan mencengangkan. Sudah sepantasnyalah semua orang bergembira dengan kabar baik ini. Tetapi sebagaimana umumnya yang terjadi dalam keseharian kita, tidak semua kabar yang dinilai baik bagi seseorang akan menjadi kabar baik pula untuk orang yang lain. Demikian pula yang terjadi pada Maria. Berita yang sangat istimewa ini tidak membuat Maria lupa bahwa walau ia yang dipercaya untuk mengandung dan melahirkan bayi itu, tetapi ia tetap adalah seorang perawan yang masih terikat status pertunangan dengan Yusuf. Ada risiko besar yang harus ditanggungnya bila sampai masyarakat mengetahui tentang kehamilannya. Kabar baik itu sepintas lalu memang sepertinya tidak baik untuk seorang Maria. Tetapi tidak demikian kenyataannya. Maria bersukacita, bergembira karena kabar tersebut. Bagaimana bisa itu terjadi dalam hidup kita? Bisa saja! Asalkan kita mau memilih jalan yang dipilih Maria, yaitu jalan kerendahan hati. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
Hingga hari ini Tuhan terus menggemakan kabar baik bagi setiap kita yang hidup di dalamNya. Namun sayang, tidak semua orang Kristen mau bergembira di dalam kabar baik rencana Allah. Ada orang-orang yang lebih percaya kepada rencanaNya, kepada jalan hidupnya sendiri. Sehingga kabar baik dari Allah tidak pernah dirasakan baik olehnya, melainkan ditolak, dihindari, dan bahkan diabaikan. Untuk bisa merasakan kegembiraan seperti Maria, maka marilah kita belajar merendahkan diri di hadapan Allah kita yang besar. Karena Allah terlalu besar, terlalu tinggi untuk kita selami pikiranNya, karena itu cukuplah dengan percaya kepada kesetiaanNya dan merendahkan hati. Sama seperti Maria yakin bahwa situasi yang sulit bisa ia hadapi karena ‘kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi’ (ay.35), maka kuasa Allah yang sama juga sedang menaungi kita melewati perjalanan hidup kita sehingga kita sungguh dapat bergembira di dalam Dia.
Orang yang menerima anugerah adalah orang yang diberkati di antara kaumnya.
a. Baca Luk 1:26-28 !!!
Kata ‘MALAIKAT’ di situ diambil dari kata ‘AGGELO’ (pengucapan: angelo) yang punya arti utusan atau pembawa pesan Allah. Pesan apa yagn dibawa oleh malaikat Gabriel ini kepada Maria?
Kata ‘DIBERKATI’ di situ berasal dari kata ‘EULOGEO’ yang punya arti DIBUAT MAKMUR, DIBUAT BERBAHAGIA, DAN DILIMPAHI DENGAN BERKAT.
c. Jadi dari ayat ini kita mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa ORANG YANG MENDAPAT ANUGERAH BESAR DARI TUHAN HIDUPNYA AKAN MAKMUR, BERBAHAGIA, DAN BERKELIMPAHAN BERKAT MELAMPAUI ORANG-ORANG DI SEKELILINGNYA.
Lihat kehidupan Maria: Pada awalnya dia adalah seorang gadis biasa yang sederhana dan polos. Tidak banyak orang yang mengenal dia, bukan berasal dari keluarga kerajaan yang punya kekuasaan besar atau kekayaan yang besar. Mungkin dia seperti kebanyakan dari kita yang hadir pada saat ini. Tapi perhatikan baik-baik: Ketika dia mendapatkan anugerah Allah yang besar itu, hidupnya disertai Tuhan, langkah-langkahnya diatur oleh Tuhan, dan dia dipakai secara luarbiasa untuk melahirkan bayi Yesus, namanya harum dicatat dalam Alkitab, dan melalui hidupnya banyak orang-orang yang diberkati. INILAH ANUGERAH BESAR ITU!
d. Apa artinya bagi kita? Tidak peduli seberapapun sederhananya keadaan kita saat ini, tidak peduli seberapapun rendahnya kedudukan kita sekarang, tidak peduli seterbatas apapun kita – kalau anugerah Tuhan turun atas hidup kita, maka hidup kita tidak akan tetap sama, kita akan melihat tingkap-tingkap langit terbuka, bahkan pintu gerbang Surga terbuka dan hidup kita dilimpahi dengan kemakmuran, kebahagiaan dan berkat yang luarbiasa. JADI TERIMA ANUGERAH ITU PADA HARI INI.
e. Kalaupun saat ini rumah tangga anda sedang berantakan dan keluarga terasa porak poranda – tidak ada lagi kerukunan dan keharmonisan, yang ada setiap hari ada kata-kata kasar yang saling menyakiti, pandangan mata yang curiga, amarah, kebencian dan kekecewaan satu dengan yang lain – jangan pernah menyerah, jangan biarkan Iblis menang dengan perceraian, tapi biarlah hari ini hati kita terbuka lebar sehingga kasih karunia Allah bisa turun dalam rumah tangga dan keluarga kita. ANUGERAH itu ibaratnya seperti TERANG KEMULIAAN ALLAH – Bangkitlah menjadi teranglah sebab kemuliaan Tuhan telah terbit atasmu. Kalau kemuliaan Tuhan terbit atas keluarga kita, maka kita akan melihat malaikan Tuhan bekerja dan memulihkan keluarga kita menjadi indah kembali.
f. Jika sakit penyakit terus menggerogoti tubuh anda dan dokter berkata yang begini harus operasi dan biayanya sangat tinggi. Mungkin saat ini saudara datang dalam keadaan putus asa, rasanya tidak ada lagi harapan, tidak ada lagi yang bisa menolong, hanya tinggal menunggu waktu saja. Saya katakan pada saudara saat ini, ada yang lebih tinggi dari dokter, ada yang lebih berkhasiat dari obat, ada yang lebih hebat dari rumah sakit – itu namanya anugerah Tuhan. Terimalah anugerah itu sekarang dan lihat tubuh kita akan dipulihkan kembali.
Masalahnya seringkali kita tidak menyadari kalau anugerah Tuhan itu sedang datang dalam kehidupan kita. Ini masuk dalam poin kedua:
2. Seringkali kita tidak sadar kalau Allah sedang memberikan kasih karuniaNya kepada kita.
a. Baca Lukas 1:29-33 !!!
b. Pertama kali Maria mendengar pesan anugerah yang disampaikan itu, Maria TERKEJUT – Alkitab bahasa Inggris menulis Maria TERGANGGU, GELISAH, TAKUT, TIDAK MENGERTI. Ini adalah respon pertama kalau anugerah Tuhan turun atas hidup seseorang. Seringkali kita punya pandangan tersendiri tentang anugerah sehingga kita berpikir: kalau anugerah Tuhan turun, pasti yang ada hanyalah berkat, kemakmuran, dan kebahagiaan.
Padahal Allah katakan: JalanKu bukan jalanmu, caraKu bukan caramu; sejauh langit dari bumi, demikian bedanya racanganKu dengan rancanganmu. Supaya YUSUF bisa mendapatkan apa yang sudah dijanjikan melalui mimpi (keluarganya tunduk dan menghormati Yusuf), terlebih dahulu Tuhan harus membawa dia ke Mesir. Dan proses menuju janji Tuhan yang luarbiasa itu terasa sangat menyekitkan bagi Yusuf: dia harus hidup jauh dari keluarga dan orang tuanya, dia dijual sebagai budak, dia difitnah dan diperlakukan tidak adil, dia ditipu dan dilupakan.
Mungkin saja respoon Yusuf sama dengan Maria pada waktu pertama kali menarima anugerah Tuhan itu: YUSUF BINGUNG, TIDAK MENGERTI, GELISAH, TAKUT, DST. Akan tetapi karena dia tetap setia kepada Tuhan, maka apa yang sudah dijanjikan Tuhan diberikan dalam hidupnya – dalam sekejab nasibnya berubah menjadi orang besar yang berkuasa dan sangat berpengaruh, bahkan keluarganya tunduk kepadanya.
c. Jangan-jangan anda tidak menyadari bahwa situasi yang tidak menyenagkan yang sedang anda rasakan pada saat ini adalah JALAN ANUGERAH TUHAN. Jangan-jangan anda mengeluh, bersungut, dan menyalahkan Tuhan. Jangan-jangan anda mulai berpikir untuk pergi dan meninggalkan Tuhan. Jangan-jangan anda sudah mulai undur dalam pelayanan. Jangan-jangan anda capai untuk berdoa, mendengar Firman, apalagi memberitakan Injil.
Hari ini dengarkan baik-baik: Janganlah jemu-jemu berbuat baik, karena kalau kita tidak menjadi lemah, maka kita akan menuai pada waktunya.
3. Anugerah adalah pemberian cuma-cuma.
b. Sewaktu Maria mendengar tentang berita anugerah tersebut respon berikutnya yang muncul adalah PERTANYAAN – Bagaimana mungkin itu terjadi, bukankah aku belum bersuami? Mana mungkin aku hamil, aku masih perawan?! Kok bisa, tidak masuk akal!
Seringkali kita juga bertanya-tanya kepada Tuhan: Apa iya Tuhan berikan masa depan yang indah bagiku? Masak sih keluarga saya masih bisa dipulihkan? Mana mungkin orang tua saya dipersatukan kembali? Rasanya mustahil studi saya selesai! Bagaimana caranya membayar utang yang sudah menggunung ini! 7 keturunanpun rasanya tidak mungkin selesai!
c. Pada saat Maria bertanya seperti itu, malaikat tersebut menjawab: Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah yang Mahatinggi akan menaungi engkau. Artinya tanpa benih laki-laki, Maria bisa hamil karena Tuhan memberi benih ilahi dalam rahimnya, dan benih tersebut yang menjadikan yang mustahil menjadi tidak mustahil. Tanpa benih ini, mustahil Maria hamil, tapi dengan benih ilahi, Maria hamil dan melahirkan bayi Yesus. Jadi bukan dengan benih kekuatan manusia, tapi melalui benih kekuatan Allah.
Tuhan tau dengan keadaan kita yang sekarang tidak mungkin bagi kita sendiri untuk menggenapi rencana Tuhan dan mewarisi kepenuhan janji FirmanNya dalam hidup kita. Ada hal-hal tertentu yang tidak mungkin kita alami hanya dengan keberadaan kita sekarang ini. Oleh karena itu, perlu campur tangan eksternal / pihak luar. Kalau itu tidak mungkin bagi manusia, itu porsinya Allah – waktunya untuk Allah bergerak dan memberikan benih ilahi / kekuatan ilahi tersebut dalam hidup kita – itulah yang disebut dengan anugerah. Dengan anugerahNya, ada perkara-perkara mustahil yang terjadi dalam hidup kita. Jadi belajarlah hidup dalam anugerah.
d. Anugerah bukan sesuatu yang kita terima sebagai upah / hasil kerja kita. Anugerah adalah sebuah pemberian cuma-cuma dari Tuhan. Mengapa? Karena Allah tau bahwa berusahapun tidak mungkin bagi kita untuk mendapatkan hal tersebut, sebagai Bapa yang baik, Dia memilih untuk memberikannya sebagai anugerah kepada kita. Allah tau sekeras apapun manusia berusaha, tetap saja akan binasa dalam api neraka, oleh karena itu, Yesus menyerahkan nyawaNya untuk memberikan keselamatan kepada kita, itulah anugerah.
Daud adalah orang yang sederhana, setiap hari dia di padang menggembalakan domba, masa depan sebaik apa yang bisa dia harapkan. Kalau sampai dia bisa menjadi raja, itulah anugerah Tuhan.
Tadinya kita hidup dalam dosa dan jauh dari Tuhan, sekarang kita bisa terlibat dalam pelayanan, beribadah tiap minggu, bertumbuh kehidupan rohani kita, dan menyelematkan jiwa-jiwa – itupun anugerah Tuhan. Amen