Jumat, 23 Oktober 2015

Epistel : Yeremia 3 : 11 – 18 Tema : ALLAH MENYELAMATKAN ORANG BERIMAN Nama Minggu : 21 Set Trinitas (Tritunggal) Rabu, 28 Oktober 2015


A. Pengantar
Yeremia memulai pelayanan sebagai nabi dalam pemerintahan Yosia dan ia ikut mendukung gerakan pembaharuan Yosia. Akan tetapi, ia segera menyadari bahwa gerakan itu tidak menghasilkan perubahan yang sungguh sungguh dalam hati bangsa itu. Yeremia mengingatkan bahwa jika tidak ada pertobatan nasional sejati, maka hukuman dan permusuhan akan datang dengan tiba tiba.
Pelayanan Yeremia sebagai nabi diarahkan kepada kerajaan selatan Yehuda, sepanjang 40 tahun terakhir dari sejarahnya (626-586 SM). Ia masih menyaksikan seruan Babel ke Yehuda yang berakhir dengan kebinasaan Yerusalem dan Bait Suci. Karena tugas Yeremia ialah bernubuat kepada bangsa itu selama bertahun tahun.
          B. Penjelasan Nas
Kembali kepada TUHAN dan bertobat (ay. 11-12), Israel diumpamakan seperti perempuan murtad, yang artinya berpaling dari Allah dan pergi menyembah berhala dan senantiasa membenarkan diri akan apa yang mereka lakukan sebagai kebencian di hadapan TUHAN. Walaupun demikian Allah tetap memberi kesempatan kepada mereka untuk kembali kepada Allah yang murah hati dan tidak akan murka bilaman mereka datang kepadaNya.
          Mengakui dan menyesali akan dosa (ay. 13), Pengakuan akan dosa dan menyesalinya adalah jalan satu satunya sebagai wujud pertobatan serta di dalam kesetiaan untuk senantiasa mendengarkan suara Allah. Dan merekan akan melupakan apa yang mereka lakukan selama ini sebagai kekejian bagi TUHAN, yaitu berpalingnya mereka menyembah berhala.
          Allah akan berkuasa atas bangsaNya (Ay. 14 – 15), Panggilan Allah kepada pertobatan adalah agar Allah berkuasa atas umatNya dan mereka tidak lagi di bawah kekuasaan baal. Bila mereka kembali dengan penyesalan, dan menikmati kasih dan anugerah TUHAN dan membawa mereka kembali ke Sion.

          Allah akan memulihkan (Ay. 16-18), Tabut perjanjian TUHAN yang dianggap sebagai jimat akan diganti bahwa Allah akan menaruh Taurat dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka sehingga mereka mengenal Allah yang memanggil mereka menjadi umat pilihanNya (Yer. 31:33), sehingga mereka tida lagi hidup menurut kedegilan hatinya yang jahat. Kaum Israel dan Yehuda akan bersama sama mendiami tanah yang diberikan TUHAN kepada nenek moyang mereka menjadi milik pusaka mereka. Allah memanggil Israel untuk bertobat dan menjanjikan pengampunan serta pemulihan.
          C. Refleksi
1.    Manusia senantiasa mengikuti keinginannya sendiri dan keiginan tersebut adalah menuju maut dan apa yang kita lakukan itu adalah keberpalingan kita dari iman.
2.    Pada zaman modernisasi sekarang ini banyak manusia percaya akan kuasa kuasa duniawi sehingga kita terjebak kepada kuasa tersebut dan melupakan TUHAN di dalam kehidupan kita.
3.    Tuhan Yesus datang ke dunia adalah untuk memanggil orang berdosa untuk bertobat. Mengenali akan dosa dosa dan menyesalinya adalah langkah maju menuju kepada Pertobatan. AMIN
D. Diskusi
1.    Di dalam kehidupan ini sangat sulit untuk membedakan sikap dan karakter, kalau ada pertanyaan demikian bagaimana cara membedakan sikap dan karakter dalam hidup manusia?
2.    Jika kita melihat kehidupan akhir-akhir ini, semakin banyaknya kejahatan dan perbuatan dosa, sudah banyak orang yang tidak lagi takut untuk melakukan dosa. Bagaimana cara kita untuk melawan kekuatan dosa?


AKU DATANG BUKAN MEMANGGIL ORANG BENAR, TETAPI ORANG BERDOSA SUPAYA MEREKA BERTOBAT (LUKAS 5 : 32)

Evangelium : Markus 10 : 46 – 52 Tema : KUASA YESUS MENYELAMATKAN ORANG BERIMAN Nama Minggu : 21 Set Trinitas (Tritunggal) Minggu, 25 Oktober 2015


A. Pengantar
Kebutaan yang mengakibatkan berbagai keterbatasan dalam kehidupan ini merasakan betapa ketidak berutungan hidup tidak berpihak kepada dia, walaupun memang diakui pada zaman modern ini berbagai hal dapat dilakukan untuk menjadikan prestasi dalam kehidupan ini. Saat ini banyak orang yang cacat fisik termasuk tuna netra dapat memberikan yang terbaik bagi bangsanya, keluarganya dan diri sendiri. Namun dibalik itu semua orang yang buta tetap berpengharapan untuk dapat melihat. Namun kapankah itu terjadi dalam hidupnya?
Bartimeus dalam nas ini, yang buta sejak lahir mengakibatkan berbagai keterbatasan dalam kehidupannya sehingga ia menjadi seorang pengemis dan duduk di pinggir jalan memohon belas kasihan dari orang orang yang lewat sebagai sumber kehidupannya. Melalui nas ini mari kita lihat sesuatu yang terjadi pada diri seorang pengemis buta bernama Bartimeus, yang membawa pemulihan besar dalam kehidupannya.
B. Penjelasan Nas
Diberitakan dalam nas ini bahwa setelah Yesus keluar dari Yerikho bersama dengan murid muridNya dan juga orang banyak berbondong bondong mengikuti Yesus dan Bartimeus yang buta mendengar tentang Yesus lewat tepat di dekatnya sehingga ia berseru “Yesus Anak Daud kasihinilah aku” Bartimeus seorang buta dan miskin tidak pantas memanggil Yesus, sebab dalam pemikiran masyarakat pada saat itu bahwa Bartimeus dianggap terlalu rendah dan juga bilamana ada orang yang cacat ha itu adalah sebagai hukuman oleh karena dosanya sehingga orang orang memarahinya untuk tidak berteriak teriak memanggil Yesus.
          Bartimeus sadar bahwa kesempatan untuk berjumpa dengan Yesus adalah menjadikan kesembuhan baginya sehingga ia tidak akan menyerah sekalipun walaupun masyarakat melarangnya untuk bertemu dengan Yesus. Teriakan itu ditujukan memanggil Yesus karena didorong oleh iman percayanya kepada Yesus yang sanggup memenuhi harapannya. Teriakan yang diarahkan Bartimeus kepada Yesus ternyata didengar sehingga Yesus merespon.
          Iman tidak tergantung kepada apa kata orang, tidak terletak kepada pendapat manusia, tidak pula tergantung kepada strata sosial tetapi hubungan dan respon kita kepada Tuhan. Bartimeus berpegang teguh akan hal itu, dan Yesus berkata dengan imannya itulah yang menggerakkan Tuhan Yesus untuk kemudian menyelamatkannya. Iman seperti itu sanggupn menggerakkan Tuhan untuk urun tangan melakukan hal hal yang ajaib dalam hidup kita. Singkatnya, iman itulah yang kita butuhkan untuk menerima berkat dan mujizat Tuhan kepada kita. Berbicara tentang iman, mungkin kita mudah menguaraikannya dan mengkhotbahkannya namun seringkali kita sulit untuk melakukannya. Hal itu terasa bilamana kita mempunyai pergumulan, menghadapi sakit penyakit, situasi ekonomi terasa semakin sulit.
C. Refleksi
1.    Jika saat ini diantara kita ada yang mungkin sedang menghadapi jalan buntu yang terlihat seperti tidak ada lagi punya solusi atau harapan, ini saatnya untuk belajar mengambil keputusan seperti Bartimeus. Ia datang berseru seru kepada Tuhan dengan mengedepankan imannya dan lihatlah bagaimana Tuhan merespon seruannya.
2.    Sebagaimana yang dialami oleh Bartimeus tentang orang orang yang di sekitarnya yang melarang Bartimeus untuk berhenti berteriak minta tolong. Demikian juga kita, seringkali orang orang disekitar kita maupun terdekat menjadi batu sandungan bagi kita bahkan tidak peduli dengan pergumulan kita.
3.    Meski dunia mungkin sudah menyerah, dan tak satu pun harapan yang terlihat, tapi kita harus ingat bahwa diatas segalanya kita punya Tuhan yang sangat peduli kepada kita, yang sama sekali tidak terbatas. AMIN


Hadirkan Kuasa Tuhan Dalam Hidup Kita Melalui Iman Yang Tegar Dan Tidak Mudah Menyerah

Sabtu, 17 Oktober 2015

Khotbah Minggu 18 Oktober 2015 Yeremia 8 : 4-7 Thema: “Yang Jatuh Bangun, Yang Berpaling Kembali”


Sejauh burung terbang mengepakkan sayapnya, tetapi ketika senja tiba maka burung pun akan kembali kesarang, masakan bangsa ini tidak tahu dan mau kembali ke jalan yang benar...? Siapa orang yang jatuh yang ‘tak ingin bangkit kembali?. Ada naluri yang alamiah bagi ciptaan Tuhan termasuk manusia untuk mengenali situasi dan kondisi yang terbaik baginya.
Secara alamiah manusiapun pastinya mengetahui kondisi fisiknya sedang prima atau kurang sehat.
Sejak awal penciptaan Tuhan telah menetapkan bahwa kondisi terbaik manusia adalah hidup dalam ketetapan dan perintah Tuhan, dalam Ulangan 28: 1 dikatakan: “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi “.
 Kondisi terbaik manusia tidak terlepas dari Firman yang keluar dari mulut Allah, sebab manusia dijadikan oleh Firman yang keluar dari mulut Allah. Maka kehidupan manusia tidak terlepas dari kesetiaan kepada Tuhan. Dalam Mazmur 119: 105 dikatakan: “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku”.  

KEJAHATAN YEHUDA
Dosa apa saja yang dilakukan oleh orang-orang Yehuda, tidak hanya dilakukan oleh bangsa itu, tetapi juga oleh para pemimpin dan para imam, bahkan dosa itu justru di awali oleh para imam dan pemimpin. Dosa tersebut diuraikan sbb :
Kejahatan para Imam (Pemimpin) :
1. Para Imam tidak lagi mencari Tuhan (Yer.2:8)
2. Mengajarkan kedamaian yang palsu (Yer.5:12)
3. Para imam dan nabi mencari keuntunga duniawi (Yer.6:13)
Kejahatan Rakyat/Bangsa itu (Kolektif) :
1. Menukar Allah dengan allah (illah) lain (Yer.2:11)
2. Membunuh, Berzinah , Bersumpah Palsu, membakar korban kepada Baal (Yer.7:9)
3. Mereka mendirikan bukit-bukit pengorbanan Tofet di lembah Ben-Hinom untuk membakar anak-anaknya laki-laki dan perempuan, suatu hal yang tidak pernah Kuperintahkan dan yang tidak pernah timbul dalam hati-Ku. (Yer 7:31)

SUARA PERTOBATAN
Sedemikian dalamnya dosa dan orang Yehuda, bahkan sesuatu yang tidak pernah timbul didalam hati Tuhan sekalipun telah mereka lakukan. Allah memakai Yeremia untuk mengingatkan orang-orang Yehuda untuk mau meninggalankan dosa-dosanya menunjukkan Kasih Allah yang besar.
Bagaimana Kasih Allah tersebut diwujudkan dalam suara panggilan yang disuarakan Yeremia untuk bertobat :
Ayat (4) Apabila orang jatuh, masakan ia tidak bangun kembali ? Apabila orang berpaling, masakan ia tidak kembali ?
Ayat (5) Mengapakah bangsa ini berpaling, berpaling terus menerus ? Mereka berpegang pada tipu, mereka menolak untuk kembali.
Ayat (6b) Tidak ada yang menyesal karena kejahatannya … Sambil berlari semua mereka berpaling, …
Keseluruhan Ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak mempersoalkan berapa kali orang tersebut jatuh, atau kepada siapa mereka berpaling, tetapi yang dipertanyakan Allah adalah, tidak kah mereka mengingat siapa mereka sesungguhnya ? bangsa yang telah dibebaskan Allah dari perbudakan Mesir, masakan mereka akan terus jatuh ? Masakan mereka terus berpaling ?

Suara ini juga datang kepada kita hari ini, Allah memanggil anda, memanggil saya secara pribadi lepas pribadi, keluarga lepas keluarga, gereja lepas gereja bahkan memanggil kita sebagai bangsa untuk KEMBALI, tidak perduli SEBERAPA BESAR KESALAHAN DAN KETIDAK SETIAAN yang anda sudah lakukan, yang penting bagi Tuhan adalah Sdr/Saya  MAU KEMBALI KEPADNYA.
Suara ini juga datang kepada saya, sebagai Hamba Allah, ibu Bapak sebagai Majelis, Ibu Bapak sebagai Ibu dan Bapak didalam keluarga, yang dipercayakan Tuhan untuk menyampaikan kebenaran Firman Tuhan. Masikah kita senantiasa memperbincangkan-nya sebagaimana perintah Allah kepada Yosua ”Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati ... (Yos..1:8a) atau masikah kita bertekun dalam membaca kitab suci seperti yang permintaan Paulus kepada Timotius ? Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar. (1 Tim 4:13)
Atau kita sudah lebih suka memperbincangkan hal-hal lain yang pada akhirnya itu akan memberi keuntungan bagi kita pribadi lepas pribadi ?. Andai kita tidak lagi bersedia untuk MENYUARAKAN SUARA PERTOBATAN bagaimana mungkin mereka yang larut dalam dosa akan kembali ?
Kecaman Tuhan datang atas umatNya yang telah berpaling dari Tuhan bahkan menolak untuk kembali ke jalan Tuhan. Tidak ada rasa bersalah bagi mereka melakukan kejahatan, mereka telah kehilangan naluri sebagai umat Tuhan yang seharusnya menyadari bahwa jalan hidup yang mereka jalani telah salah arah.
Tuhan hendak menyadarkan umat Israel, bahwa mereka telah jatuh dan tersesat. Ada konsekuensi yang harus diterima ketika hidup manusia tidak lagi diterangi oleh Firman Tuhan. Penghukuman yang disuarakan kepada umat Israel adalah konsekuensi atas dosa yang telah mereka lakukan. Penderitaan yang akan mereka terima akibat hati yang bebal menolak uluran tangan Tuhan untuk membangunkan mereka untuk bangkit kembali.
Firman Allah menyapa kita saat ini melihat kembali kondisi kehidupan yang sedang kita lalui saat ini. Apakah kita sedang terjatuh atau telah tersesat salah arah. Tuhan menyuarakan kepada kita untuk mau bangkit dan kembali kepada kondisi semula.
Sebagaimana yang Tuhan katakan bahwa umat Israel tidak pernah mengatakan “Apakah yang telah kulakukan ini!”. Mereka tidak pernah sadar dan mengakui bahwa apa yang telah mereka lakukan telah menyalahi perintah Tuhan. Seperti yang ditulis oleh Paulus di 1 Tesalonika 5:21 “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik”. Bahwa segala sesuatu yang kita perbuat dalam kehidupan ini harus kita uji. Dengan demikian dalam pengujian terhadap segala yang kita perbuat dalam hidup ini perlu menyediakan waktu untuk saat teduh dan membutuhkan pengenalan yang baik akan perintah Tuhan.
Tuhan yang telah menyatakan diriNya melalui Yesus Kristus sebagai anugerah dan rahmat yang agung dari sorga menyatakan kehidupan yang benar kepada kita. Menyuarakan kepada kita untuk bangkit dari keterpurukan hidup dan berbalik arah kembali kepada kuasa Firman Tuhan. Kesempurnaan hidup kita tergantung pada ketaatan kepada Tuhan bukan perlawanan pada kehendak Tuhan.
Tuhan memahami dan melihat apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Dalam nas ini kita bisa melihat bagaimana kasih Allah yang tulus mau mengangkat manusia yang menuju kesengsaraan akibat dosa. Namun kenyataannya walaupun Firman Tuhan sering disuarakan dan diperdengarkan, masih banyak diantara jemaat Tuhan yang sampai saat ini merasa nyaman bahkan merasa tidak berdosa melakukan pekerjaan yang melanggar Firman Tuhan. 
Sikap bebal dan pengerasan hati terhadap sabda Tuhan sudah waktunya untuk dimusnahkan dan disingkirkan dalam hidup ini, supaya anugerah Tuhan masuk memberi kehidupan bagi kita. Mulailah untuk terbuka menerima tawaran keselamatan dari Tuhan. Dalam kesediaan menerima Tuhan bersabda atas hidup kita akan membuat kita semakin dalam mengenal Tuhan. Amen


Sabtu, 26 September 2015

Khotbah Minggu 27 September 2015 17 Sert Trinitatis Markus 9: 38 – 50 Thema: Tuhan Menepati JanjiNya”


Nas Firman Tuhan ini adalah kelanjutan dari pembicaraan Tuhan Yesus dengan murid-muridNya sebelumnya di Markus 9: 30-37 yaitu perkataan Yesus yang tidak dimengerti para muridNya dan juga pembicaraan murid-muridNya tentang siapa yang terbesar diantara mereka. Dalam nas khotbah kali ini ini memperlihatkan pada kita bahwa ternyata murid Yesus juga belum mengerti sepenuhnya akan apa yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus.
Pikiran tentang siapa yang terbesar diantara mereka masih jelas terlihat ketika Yohanes mengungkapkan bahwa mereka telah mencegah orang yang diluar murid Yesus yang selalu bersamaNya untuk mengusir setan dalam nama Yesus. Anggapan murid-murid Yesus bahwa mereka tidak memiliki hak untuk berbuat sesuatu atas nama Yesus sementara mereka bukanlah bagian dari murid-murid yang selalu bersama Yesus.
Yesus menjawab: “Tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku” Jawaban Yesus sebenarnya memiliki makna yang sama dengan apa yang diungkapkanNya sebelumnya. Bahwa akan tiba waktunya Yesus akan menderita, disiksa dan akan dibunuh, dan orang-orang yang berbuat atas nama Yesus saat itu bisa saja kembali berbalik untuk mengumpat Yesus.
Perikop ini terdiri dari dua bagian: pertama ayat 38-42 membicarakan tugas untuk saling bermurah hati dan bersabar; kedua: 43-50 membicarakan hal perlunya penertiban diri. Bagian pertama mengatur sikap para murid terhadap orang lain; sedang bagian kedua, mengartur sikap mereka terhadap diri mereka sendiri. Terhadap orang lain mereka harus bermurah hati, terhadap diri sendiri mereka harus keras.
Jika hidup menjadi diberkati serta dibebaskan dari kuasa kejahatan, pekerjaan semacam itu tidak boleh dirintangi, jika motif pekerjaan itu benar. Panggilan untuk hidup bertoleransi ditegaskan di sini.
Yesus berkehendak supaya kehidupan kita tidak menjadikan anak-anak kecil (dapat diartikan orang-orang yang sederhana) tersandung.
Dalam arti kiasan Yesus menegaskan bahwa perlu dilakukan operasi/ pembedahan rohani guna menyelamatkan jiwa orang.
Ayat 49: api mengandung pengertian pemurnian/penyucian; (ayat 50) garam di sini bisa berarti karunia tabiat Kristen.

Kehadiran sesorang atau sesuatu selalu membawa dampak tertentu terhadap lingkungannya baik dalam arti poristif maupun negatif. Kehadiran yang membawa dampak negatif, kehadiran yang membawa tanda-tanda kematian. Sebaliknya kehadiran yang membawa dampak positif, hampir dapat dipastikan kehadiran yang membawa tanda-tanda kehidupan (bandingkan dengan bacaan1).
Dunia di mana kita berada dan hidup sekarang ini hampir bisa dikatakan sedang berada dalam situasi dan kondisi yang menunjukkan tanda-tanda kematian. Bahkan mungkin dapat dikatakan berada dalam kematian secara menyeluruh, lahir, batin, mental, spiritual, jiwa, rasa/ perasaannya, pikirannya, kesadarannya, dst.. mati sajroning urip.
Di tengah-tengah sikon yang demikian itu, gereja/ orang Kristen dipanggil untuk hadir membawa tanda-tanda kehidupan, sehingga hidup dan kehidupan menjadi hidup secara menyeluruh.
Kehadiran yang membawa tanda kehidupan, diwujudkan dengan:
Mengembangkan sikap toleransi:
a. Menghormati hak dan pemikiran orang lain. Setiap orang punya hak untuk memikirkan sesuatu dan memikirkannya benar-benar sampai ia sendiri tiba pada kesimpulan dan keyakinannya sendiri. Jangan terlalu cepat memberikan penilaian terhadap sesuatu yang sebetulnya tidak kita mengerti. Jangan memandang enteng dan jangan menentang apa yang tidak kita mengerti.
b. Menyadari bahwa setiap orang bukan hanya memiliki hak untuk berpikir, melainkan juga hak untuk berbicara. Dari semua hak demokratis, yang paling berharga adalah kebebasan berbicara. Tentu saja ada batas-batasnya, yaitu sepanjang orang tersebut tidak menanamkan ajaran-ajaran yang bermuara pada kehancuran moralitas dan runtuhnya dasar-dasar dari semua masyarakat yang berbudaya dan yang Kristiani.
c. Selalu harus ingat bahwa setiap ajaran atau kepercayaan pada akhirnya harus dinilai dari hasilnya: orang macam apakah yang dihasilkannya? Yang perlu selalu kita pertanyakan, bukanlah “bagaimana gereja ditata?” melainkan “0rang macam apakah yang dihasilkan oleh gereja?”
Memberi pertolongan kepada yang membutuhkan. Perlu diperhatikan betapa sederhana pertolongan itu, yaitu hanya secangkir air. Kita tidak diminta untuk melakukan
hal-hal di luar kekuatan kita. Kita diminta untuk memberikan hal-hal sederhana, hal-hal yang dapat diberikan oleh siapapun
Tidak menyebabkan yang lemah tersandung. Sebab siapapun yang melakukannya pasti mendapat hukuman yang berat, dikalungi batu kilangan yang besar dan dimasukkan ke dalam laut, artinya sama sekali tidak mempunyai harapan untuk selamat.
Tidak mengajari orang lain untuk berbuat dosa. Berdosa adalah sesuatu yang mengerikan. Akan tetapi, lebih mengerikan lagi apabila seseorang mengajar orang lain untuk berbuat dosa. Allah bersikap keras terhadap orang bedosa, tetapi Ia akan bersikap tegas dan keras terhadap orang yang mempermudah orang menuju pada jalan dosa dan yang kelakuannya, entah sengaja atau tidak, menaruh batu sandungan di jalan orang yang lebih lemah.
Menyadari bahwa dalam hidup ini ada satu tujuan yang untuknya seseorang pantas berkurban. Dalam hal-hal fisik, seseorang mungkin harus memotong/ melakukan amputasi anggota tubuhnya, demi keselamatan tubuh secara keseluruhan dan kadang-kadang merupakan jalan satu-satunya untuk mempertahankan kehidupan tubuh secara keseluruhan. Dalam kehidupan rohani, hal yang serupa dapat terjadi. Artinya, jika ada sesuatu dalam hidup kita yang menjadi penghalang bagi kita untuk mematuhi kehendak Allah sepenuhnya, sekalipun itu adalah perilaku yang sudah menjadi kebiasaan dan bagian hidup kita selama ini, maka penghalang itu harus dibasmi. Pembasmian itu bisa jadi sama sakitnya dengan mengalami operasi salah satu bagian dari tubuh kita. Akan tetapi, jika kita benar-benar mau mengenal kehidupan yang sebenarnya, kebahagiaan dan kedamaian yang sesungguhnya, hal itu mau tidak mau, suka tidak suka, harus dijalani.
Memberikan cita rasa baru dan gairah baru sama seperti yang dilakukan oleh garam terhadap makanan, kepada dunia yang telah dipenuhi oleh berbagai macam kelelahan dan kebosanan.
Membawa antiseptik terhadap racun kehidupan, memberikan pengaruh yang membersihkan ke dalam dunia yang penuh dengan berbagai kebusukan. Sama seperti garam mengalahkan kebusukan yang akan menyerang daging mati, demikian juga kekristenan menyerang kebusukan dunia.
Selalu mempunyai garam dalam diri kita dan selalu hidup berdamai seorang dengan yang lain. Garam dalam ayat ini berarti “kemurnian”. Orang-orang zaman itu mengatakan, tidak ada yang murni selain garam, sebab garam terbuat dari dua hal termurni, yakni matahari dan laut. Hendaklah kita selalu memiliki pangaruh yang memurnikan dari Roh Kudus. Kita murnikan diri kita dari sifat mementingkan diri sendiri, dari kepahitan, dari amarah dan dendam kesumat. Kita bersihkan diri kita dari rasa jengkel, muram, egois. Hanya dengan demikian kita mampu hidup berdamai dengan sesama.
Penutup
Pasti tidak kita inginkan bersama dan jauh dari harapan kita, dunia di mana kita tinggal semakin hari semakin menghembuskan tanda-tanda kematian dalam berbagai bidang dan segi kehidupan. Tetapi, inilah keinginan, kerinduan dan harapan kita, dunia ini selalu dipenuhi oleh tanda-tanda kehidupan secara menyeluruh dan merata dalam berbagai bidang dan berbagai segi kehidupan. Dan pasti ini sebuah keinginan dan harapan yang sangat indah, baik dan benar. Tetapi keinginan dan harapan yang baik, indah dan benar itu, harus diwujud nyatakan dalam sikap, tindakan, perilaku, tutur kata nyata.! Amin.


Kamis, 24 September 2015

Epistel : Bilangan 11 : 4-6, 10-16, 24-29 Tema : JANJI TUHAN KEPADA JEMAAT YANG SETIA MELAYANINYA Nama Minggu : 17 Set Trinitas (Tritunggal) Rabu, 30 September 2015


A. Pengantar
Bagian Alkitab ini mengetengahkan bagaimana perjalanan umat Israel ketika mereka keluar dari tanah Mesir, tanah perbudakan. Suatu perjalanan yang mungkin tidak terbayangkan sebelumnya. Bagi mereka mungkin perjalanan menuju Kanaan adalah perjalanan yang menyenangkan. Perjalanan dimana keadaan mereka tidak lagi berada dibawah kuasa tentara Mesir, mereka bisa mengatur hidup mereka sendiri. Mungkin bagi mereka perjalanan ke Tanah perjanjian tentunya tidak akan membuat mereka bosan dan pastinya perjalanan itu adalah perjalanan yang menjanjikan kemudahan dimana keinginan mereka bisa terpenuhi. Tetapi ternyata yang mereka alami tidak seperti yang mereka harapkan dan bayangkan.
B. Penjelasan Nas
          Dikisahkan, orang Israel mulai bersungut-sungut dan menggerutu. Mereka mulai mengeluh dengan keadaan yang mereka hadapi. Sungut-sungut bukan karena jarak tempuh dari Mesir ke Kanaan yang sebenarnya tidak terlalu jauh. Menggerutu bukan disebabkan oleh karena kelelahan ditengah perjalanan. Tetapi mereka bersungut-sungut dan menggerutu soal perut mereka. Bukan perut yang lapar melainkan karena kerakusan dan keserakahan untuk makan daging.  Orang Israel sangat bernafsu untuk makan daging. Lapar daging membuat mereka bersungut-sungut. Dan mereka sepertinya menyesal dengan perjalanan yang dituntun Tuhan ini. Bagi mereka, lebih baik mereka masih tinggal di Mesir karena bisa makan makanan yang sesuai dengan keinginan mereka.
Makanan Manna yang diberikan Tuhan bagi mereka selama dalam pengembaraan ini sepertinya tidak memuaskan mereka. Bahkan ketidakpuasan ini membuat mereka menangis. Ini menunjukkan bagaimana kuatnya keinginan bangsa Israel untuk menikmati makanan yang melebihi Manna. Makanan tidak dilihat sebagai kebutuhan pokok untuk menopang tubuh yang lelah, lemah dan menunjang untuk aktivitas manusia tetapi ternyata hanya dilihat sebagai sejauh mana bahan yang dimakan itu memenuhi selera lidah.
Disini kita melihat bahwa ternyata kerakusan dan keserakahan dapat menyeret dan mengantar umat Tuhan untuk melupakan Tuhan, bahkan lebih fatal lagi mempersalahkan Tuhan yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Mencermati keadaan ini Musa yang adalah pemimpin umat saat itu menjadi stress dan tak berdaya. Dalam ayat 11-15 kita mendapati bagaimana Musa mengira bahwa ia ditinggalkan Tuhan dalam menata dan mengatur umat Tuhan ini. Musa merasa tidak mampu lagi bahkan ia berpikir bahwa Tuhan memberikan beban yang sangat berat baginya. Apalagi kini mereka menuntut sesuatu yang sepertinya sulit untuk diberikan



Kemudian Tuhan menyuruh Musa untuk mengumpulkan 70 orang tua-tua Israel yang nantinya mendampingi dan membantu Musa mengatur bangsa ini. Pengangkatan 70 orang ini dimaksudkan Tuhan agar Musa tidak bekerja sendirian melainkan bersama dengan orang-orang ini untuk dapat memimpin orang Israel. Dan akhirnya Tuhan mendengar keluhan dan gerutu bangsa ini sekalipun keluhan dan gerutu ini sebenarnya merupakan dosa dan kekejian di mata Tuhan. Tuhan menjawab mereka. Tetapi perlu diingat bahwa jawaban Tuhan atas keinginan mereka sesungguhnya adalah hukuman Tuhan juga atas mereka.
C. Refleksi
1.    Perjalanan kehidupan orang percaya adalah perjalanan yang tidak pernah sepi dari berbagai pergumulan dan tantangan kehidupan. Tantangan tersebut yang menantang keberimanan kita bukan saja hanya datang dari luar diri dan hidup kita, tetapi juga ternyata tantangan yang lebih besar justru datang dari diri kita sendiri.
2.    Ketika kesabaran dan ketabahan menggapai harapan dan cita-cita, tergantikan dengan kerakusan dan keserakahan maka disitulah awal kejatuhan kita. Ketika keinginan perut menguasai hati kita, maka biasanya nalar dan akal sehat tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Firman Tuhan mengingatkan kita untuk bersyukur dengan setiap berkat yang diberikan Tuhan, entah menurut kita itu kecil ataupun besar. Manakala pemberian Tuhan dalam hidup kita dinilai dengan rasa syukur maka tidak akan terlihat berkat Tuhan itu besar atau kecil.
3.       Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa ternyata kepemimpinan dalam komunitas orang percaya bukanlah kepemimpinan yang terpusat pada satu orang. Melainkan Tuhan memakai semua orang dengan talenta dan karunia yang ada untuk saling melengkapi satu dengan yang lain.

D. Diskusi
1.    Tuhan telah menepati janjiNya kepada orang yang percaya sehingga kita memperoleh berkat, tetapi mengapa orang yang percaya itu tetap bersungut sungut dalam hidupnya?
2.    Apa janji Allah kepada umat pilihanNya?
3.    Apa yang pesan dalam perikop ini kepada kita ?


Janji TUHAN Manis Bagi Jemaat Yang Setia MelayaniNya, Pahit Bagi Jemaat Yang Melanggar Firman TUHAN

Jumat, 11 September 2015

Evangelium : Markus 8 : 27 -38 Tema ; MENGIKUT YESUS : MENYANGKAL DIRI, MEMIKUL SALIB Nama Minggu, 15 Set Trinitas (Tritunggal) Minggu, 13 September 15


A. Pengantar
Untuk menjadi pengikut Yesus membutuhkan pengorbanan. Ada beberapa tahapan yang harus dilalui dan dijalani. Tahapan itu adalah menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus. Ketiga tahapan ini merupakan syarat mutlak bagi setiap orang yang telah memutuskan jalan hidupnya untuk beriman kepada Yesus. Menerima Yesus adalah gampang dan mudah, tetapi memeliharan dan mempertahankan menjadi mengikut Yesus adalah perkara yang sulit. Menerima Yesus adalah murah sekali tetapi mengikut Yesus harus dibayar mahal. Karena itu, dalam khotbah hari ini kita akan membahas secara mendalam apa yang dimaksud dengan mengikut Yesus dan menjadi murid Yesus. Apa tanggung jawab dan konsekuensi yang harus kita terima sebagai pengikut Yesus.
B. Pengantar Nas
Ay.27-28 Ketika Yesus dan murid-muridNya berangkat ke Kaisarea Filipi, kira-kira 40 km di sebelah utara danau Galilea, Yesus bertanya tentang siapakah Dia menurut orang banyak. Ada yang mengatakan Yesus adalah Yohanes Pembabtis, Elia dan seorang dari para nabi (Markus 1:4,6:14-15;Lukas9:7-8 ). Menurut mereka (pemahaman orang Yahudi), dengan kedatangan Yohanes Pembabtis,Elia dan seorang dari para nabi,maka Mesias tidak lama lagi akan datang. Tokoh ini dipercayai sebagai perintis jalan dan pembawa berita dari Mesias.
Ay.29-30 Menurut Petrus, Yesus adalah Mesias. Petrus mengakui bahwa Yesus adalah orang yang dipilih dan di urapi oleh Allah(Yoh.6:68-69). Kata “Mesias”berasal dari kata Ibrani yang berarti “yang diurapi”. Sama artinya dengan Kristus dalam bahasa Yunani” Christos”. Yang di urapi adalah para Imam(1 Taw.29:22), dan Nabi (Yes.61:1), yang paling sering disebut di urapi adalah Raja (1 Sam.10:1). Yang di urapi adalah seseorang yang di pilih untuk melayani Tuhan dan umatNya dan sebagai Raja, bertanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan damai Allah di dunia,yaitu menolong dan membebaskan korban ketidak adilan, khususnya orang miskin
 Ay.31-33 Yesus mengajarkan pengertian Mesias yang berbeda dari pemahaman orang banyak, bukan sebagai raja yang berkuasa, tapi sebagai anak manusia yang harus menanggung banyak penderitaan, ditolak, dibunuh dan bankit pada hari yang ketiga. Yesus sedang berbicara tentang penangkapan dan kematianNya di kayu salib dan Allah yang membangkitkanNya dari kematian.
Ay.34-38 Menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Yesus, artinya penurunan tahta diri(keinginan,kehendak dan hawa nafsu manusiawi), agar hidup hanya berpusat kepada Kristus. Dalam hubungan kita dengan Tuhan harus mengikutinya dengan memasrahkan diri kepada Tuhan dan menerima konsekwensi dan menanggung resiko terhadap penderitaan oleh karena panggilan sebagai murid atau orang percaya.(Yoh.15:19,Gal.6:14). Dan Yesus mengatakan tentang kehilangan nyawa, sebagai penyataan kesetiaan terhadap kehendak Allah, bukan perjuangan kepada sifatnya sementara tapi kekekalan. Pengajaran tentang persyaratan mengikut Yesus memang cukup keras dan tegas tapi hal itu bukan lah hal yang mustahil bagi orang percaya sebab Yesus membuat perjanjian yang pasti tentang kedatanganNya(8:38), dan kerajaanNya(9;1). Sekalipun penderitaan yang menanti namun nubuat Mesianis tentang pemerintahanNya akan mewujudnyatakan kemenangan keselamatan.
C. Refleksi
1.    Pengenalan yang benar akan Yesus menentukan kesetiaan seseorang dalam mengikut dan  melakukan kehendakNya.
2.    Mengikut Yesus dan melakukan kehendaknya berarti menyangkal diri dan memikul salib. Memberi diri untuk dibentuk, diubah seturut dengan kehendakNya
3.    Kapan dan dimana pun sebagai pengikut Yesus tidak ragu dan tidak malu menderita demi kebenaran dan keadilan.


Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah tegu, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan ! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (I Kor 15 : 58)

Khotbah Epistel : Mazmur 116 : 1 – 9 Tema : YA TUHAN, LUPUTKANLAH AKU Nama Minggu : 15 Set Trinitas (Tritunggal) Rabu, 16 September 2015


A. Pengantar
Mazmur 116 ini merupakan doa permohonan kepada TUHAN untuk meluputkan pemazmur dari genggaman kematian. Dalam pengalaman kesaksian pemazmur  ini dia tidak memiliki daya lagi untuk melepaskan diri, dia sudah diikat oleh tali tali maut dan dunia orang mati yang menggemgamnya bahkan sudah pasrah pada kematian dengan memahami bahwa kematian orang benar berharga di mata TUHAN.  Dalam keadaan terpuruk pemazmur berdoa memhon pertolongan agar Tuhan meluputkannya.
B. Penjelasan Nas
1. Keyakinan Pemazmur
Hal pertama yang kita perhatikan dari Nas ini adalah pengakuan dan keyakinan iman pemazmur kepada TUHAN. Dia memiliki hubungan yang baik dengan TUHAN. Keyakinan pemazmur yang kita temukan dalam perikop ini menunjukkan kekuatan iman pemazmur. Dia memiliki hubungan yang baik dengan TUHAN. Percaya bahwa TUHAN adalah mengawasi dan memilihara hidup orang yang sederhana dan lemah dan sekaligus menjadi pembela. Bagi pemazmur TUHAN itu adil dan segera menjawab doa orang yang mengalami pergumulan berat.
2. Keadaan Pemazmur
Ayat 3 – 6, menunjukkan bahwa pemazmur sangat terpuruk dan nampaknya tidak ada celah baginya untuk keluar dari permasalahan. Celah itu hanya ada pada satu titik saja yaitu doa dan permohonan agar TUHAN meluputkannya. TUHAN itu baik, penyayang dan pemelihara semua hidup orang. Dia bertindak pada waktu yang tepat. Tidak dibiarkanNya orang orang yang dikasihiNya tertindas dan ditenggelamankan oleh beban.

 3. pertolongan TUHAN dan Respon Pemazmur
Hal yang ketiga yang kita lihat dalam Mazmur 116 ini adalah pertolongan TUHAN dan respon pemazmur. Pemazmur merasakan sendiri pertolongan TUHAN dalam ketidakberdayaannya, TUHAN meluputkan dan menyelamatkannya. Pemazmur dapat keluar dari pergumulan bukan karena kekuatannya sendiri atau kerena kemampuan untuk mengelola konflik yang terjadi dalam kehidupannya melainkan karena TUHAN sendiri. TUHANlah yang memelihara, TUHAN yang mendengar doa permohonannya dan TUHAN sendiri yang bertindak meluputkan dan menyelamatkannya.
C. Refleksi
1.    Jika mengalami pergumulan berat tetaplah memiliki hubungan yang baik kepada TUHAN dan berharap akan pertolonganNya
2.    Yang membuat pemazmur berani berseru memanggil nama TUHAN ialah pengenalannya akan TUHAN dan karakterNya . Dari seruan yang terjawab itulah muncul seruan seruan Seruan pemazmur ialah pernyataan tekadnya untuk membalas pertolongan TUHAN

3.   Dalam keadaan terhimpit sekalipun tidak akan memutus hubungan kita dengan TUHAN, karena TUHAN dpat disapa dan dihubungi sejauh doa. AMIN