Jumat, 11 September 2015

Khotbah pada Pesta Pembangunan GKPI Jemaat Khusus Helvetia Medan. Thema: AKU MENCINTAI RUMAH-MU, OH TUHAN! (I LOVE THY HOUSE, O LORD!) “I Love Thy Kingdom, Lord”


TUHAN, aku cinta pada rumah kediaman-Mu dan pada tempat kemuliaan-Mu bersemayam” (Mazmur 26:8).

I.    mengapa kita mencintai jemaat ini, I Timotius 3:15.
II.   apa yang kita cintai dalam jemaat ini, II Korintus 5:19;
       I Timotius 1:15; Yohanes 3:16.
III. bagaimana kita menunjukkan kasih kita untuk jemaat
kita ini, Yakobus 1:22.

I. Mengapa kita mencintai jemaat ini.
Kita mencintai jemaat oleh karena jemaat adalah kediaman Tuhan, tempat di mana Tuhan bersemayam dalam hati umat-Nya. Allah diam dalam hati umat-Nya, dan ketika kita berkumpul bersama di sini di tempat untuk menyembah Tuhan, kita benar bila berkata bahwa ini adalah tempat dimana Tuhan hadir, ini adalah kediaman-Nya! Ketika umat yang mengenal Allah ada di sini, maka Allah sendiri hadir, hidup di antara mereka, dimanifestasikan di dalam puji-pujian mereka dalam
“Keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup”
      (I Timotius 3:15).
Saya mengasihi gereja ini oleh karena Allah ada di sini. Di dalam hati kita, di dalam pujian-pujian penyembahan kita, di dalam doa-doa kita, ada kesucian dan sukacita yang anda tidak akan pernah temukan di mana pun juga di tempat lain.
Keluarlah sendirian, di kegelapan jalanan kota ini, Dan masuklah ke night Club sdr tidak akan merasakan kehadiran Allah disana. Masuklah ke bar atau tempat dansa sdr akan melihat lampu-lampu yang bergemelapan dan mendengar musik yang bising – namun sdr akan keluar dari sana dengan kekosongan, karena Allah yang Kudus tidak akan memanifestasikan Diri-Nya disana. Sdr harus datang ke gereja agar sdr merasakan dan menemukan realitas Allah dan arti serta tujuan hidup sdr.
Aku mencintai rumah-Mu, Oh Tuhan, karena Engkau bersemayam di sini! Engkau ada di sini dalam puji-pujian dan penyembahan kami! Engkau ada di sini di dalam hati kami – ketika kami berkumpul bersama untuk bersekutu! Itu lah sebabnya mengapa aku mencintai gereja kami!
II. Apa yang kita cintai dalam jemaat ini.
Kita mencintai orang-orang dalam jemaat ini. Karena di jemaat ada Kasih, maka Gereja yg tdk mewujudkan Kasih bukanlah gereja. ada sesuatu yang kita semua cintai tentang orang-orang di jemaat ini. Seseorang yang pernah mengunjungi kita, orang yang sebelumnya belum pernah ada di sini, harus merasakan itu. Ada sukacita, ada Damai jika kita masuk ke jemaat ini. Kita juga mengasihi khotbah yang dikhotbahkan di gereja ini, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami”
      (II Korintus 5:19).
 “TUHAN, aku cinta pada rumah kediaman-Mu dan pada tempat kemuliaan-Mu bersemayam” (Mazmur 26:8).
III. Bagaimana kita menunjukkan kasih kita untuk jemaat kita ini.
Kita tidak menunjukkan kasih kita hanya dalam kata-kata belaka. Kita dapat berkata ribuan kali bahwa kita mengasihi jemaat kita ini namun sesungguhnya itu tidak ada artinya. Rasul Yakobus menegaskan itu ketika ia berkata,
“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri” (Yakobus 1:22).
Kita tidak menunjukkan kasih kita untuk jemaat ini dengan kata-kata saja, namun juga dengan tindakan-tindakan kita, dengan apa yang kita lakukan yang lahir dari ketaatan kita terhadap FirmanNya. Masuk Give the Best to the Lord ................! Pemberian menurut Reymon Olson
 “TUHAN, aku cinta pada rumah kediaman-Mu dan pada tempat kemuliaan-Mu bersemayam” (Mazmur 26:8).

Amin.

Kamis, 03 September 2015

Khotbah Kebaktian R. Tangga Epistel Minggu 06 Sep 2015 Markus 7 : 24 – 37.



Perjalanan Tuhan Yesus ke daerah dekat kota Tirus, ke daerah yang bagi orang Yahudi adalah daerah kafir, adalah bukti bahwa Kristus sedang menunjukkan kasih Allah yang terbuka bagi semua orang. Di sana Kristus didatangi oleh seorang Ibu, yang bukan orang Yahudi, kelahiran daerah Fenisia di Siria. Daerah ini adalah kampung halaman Izebel yang keji itu, isteri dari Raja Ahab yang merampas kebun anggur Nabot. Lihatlah, betapa kasih Allah yang menyelamatkan merengkuh dan menembus sekat-sekat dosa-dosa manusia. Diceriterakan, bahwa dalam perjalanan-Nya dari pantai Danau Galilea menuju daerah Tirus(Pesisir Utara Galilea), Yesus mampir sejenak di sebuah rumah untuk beristirahat. Maksudhati tidak ingin diketahui, tetapi kehadiran-Nya memang selalu menarik perhatian banyak orang, sehingga mereka mengerumuni-Nya.
Di antara orang banyak itu, terdapat seorang perempuan Siro-Fenisia, yang anaknya sedang kerasukan roh jahat. Perempuan itu segera datang kepada Tuhan Yesus dan tersungkur sambil memohon agar anaknya disembuhkan. Tapi apa jawab Yesus ? "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak danmelemparkannya kepada anjing." (Markus 7 : 27)
Jawaban Yesus terkesan mengesankan keengganan-Nya untuk menolong perempuan itu. Selain itu, terkesan pula bahwa Dia ingin lebih mendahulukan karya-Nya kepada umat Israel sebagai umat pilihan Allah. Sebab kita tahu, bahwa secara ritual, status anak hanya ditujukan kepada orang-orang Israel sebagai umat pilihan Allah. Sedangkan status "anjing" ditujukan kepada orang-orang non-Israel sebagai ganti istilah "kafir" atas penyembahan mereka kepada berhala atau ilah-ilah lain. Ya, mereka telah menajiskan dirinya karena mencemarkan diri kepada kuasa kegelapan.
Apa respon perempuan itu terhadap jawaban Tuhan Yesus ? Markus 7 : 28 menyebutkan begini : "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak”. Wanita Siro-Fenisia tidak membantah terhadap perkataan Kristus yang begitu pedas dan menyakitkan itu. Dia membenarkan perkataan Tuhan Yesus bahwa dia secara ritual hanya berstatus sebagai “anjing”. Karena itu dia hanya berhak makan remah-remah yang jatuh dari meja perjamuan yang disediakan Allah kepada “anak-anak-Nya”. Dia tidak menuntut untuk memperoleh makanan di meja perjamuan yaitu persekutuan umat Allah. Wanita ini hanya meminta sisa-sisa makanan yang terbuang dari meja perjamuan Allah.
Dari jawaban wanita Siro-Fenisia tersebut justru kita dapat melihat kebesaran hatinya yang lahir dari iman kepada Kristus. Tepatnya wanita Siro-Fenisia tidak memperlakukan Tuhan Yesus sebagai obyek untuk memperoleh apa yang diinginkan hatinya, melainkan sebagai Mesias yang memiliki kuasa untuk mengusir roh jahat yang merasuki tubuh anaknya. Perempuan itu rela bersikap rendah serendahnya di hadapan Yesus sebagai bukti imannya kepada Tuhan Yesus.
Dengan demikian, ada dua hal yang bisa kita tangkap dari bacaan itu :
(1). Sikap yang terkesan kasar dari Tuhan Yesus hanyalah sebuah ujian atas kesungguhan iman dari perempuan Siro-Fenisia yang memohon anaknya untuk disembuhkan itu. Nyatanya, iman perempuan itu benar-benar teruji, sekalipun ia seakan-akan merasa terhina atas usahanya untuk memohon penyembuhan bagi anaknya. Keseriusan atas imannya nampak dari sikapnya dalam memohon kepada Tuhan Yesus…..sekalipun merasa direndahkan….. Jadi ada perbedaan antara meminta dan memohon. Perempuan itu menjadi contoh bagaimana seseorang memohon kepada Tuhan dalam iman yang sungguh-sungguh, yang dibuktikannya melalui sikap yang merendah serendahnya.
(2). Dua kisah penyembuhan Tuhan Yesus yang diawali kepada orang non-Yahudi lalu kepada orang tuli dan gagap, memperlihatkan bahwa tindakan Tuhan Yesus tidak pilih kasih. Ia melakukannya sesuai dengan kebutuhan orang-orang yang dilayani-Nya. Sekalipun pemohon pertama adalah orang bukan Israel, hal itu tidak menghambat-Nya untuk tetap menunjukkan kasih dan kepedulian-Nya. Itu berarti, Sikap Tuhan Yesus sama sekali tidak membedakan latar belakang dan status seseorang ketika disembuhkan…… Semua orang di mata Tuhan adalah pantas untuk ditolong. Begitulah perbuatan yang benar-benar dilandasi oleh iman yang benar….
Lalu apa pesan Firman Tuhan kali ini ?
 Dalam gereja, ada tradisi "Siapa yang berpendapat, maka dialah yang harus mengerjakannya". Kondisi ini jelas membuat orang enggan berpendapat, apalagi bertindak dalam pelayanan nyata. Ironisnya, seringpula terjadi di mana di dalam gereja menjadi kumpulan orang-orang yang hanya berpendapat/berkomentar tentang banyak hal soal pelayanan gereja. Banyak orang yang mengambil posisi sebagai para pemikir, tetapi tidak untuk para pelayan yang mau berjerih lelah dengan pelayanan yang nyata. Di sini, Firman Tuhan jelas menginginkan kita untuk memberikan waktu, tenaga, pikiran dan segala talenta yang Tuhan berikan untuk perbuatan yang nyata dalam pelayanan.
Lalu Yesus menyembuhkan orang tuli dan gagap yang dibawa kepadaNya. Yesus memisahkan ia dari orang banyak, Yesus ingin berdua saja dengan si tuli dan gagap itu, Yesus ingin berelasi secara personal dan akrab. Dengan begitu, Yesus dapat ‘membuka’ ketulian dan kegagapan yang menghalangi orang itu untuk berelasi dengan orang lain.
Injil hari ini sungguh indah. Jika kita ingin merenungkannya secara lebih mendalam, kita dapat merefleksikan bahwa sebenarnya kita semua juga sakit. Kita juga terkadang sakit Tuli dan gagap. Kita terkadang tuli terhadap Tuhan yang hadir melalui orang-orang yang berada disekitar kita. Banyak sekali orang-orang yang memerlukan bantuan dari kita, tapi terkadang kita menutup telinga dan berpura-pura tuli sehingga kita memiliki alasan untuk tidak mendengarnya. Kita juga terkadang Gagap. Kita gagap dalam hal mewartakan kasih Allah kepada sesama. Entah mungkin karena takut, malu, minder atau alasan lain. Karenanya kita jarang membantu orang lain. Kita tidak bisa melihat Tuhan dalam diri orang lain.
Mungkin juga kita kerap menjadi tuli dan gagap yang membuat kita tidak dapat berelasi dengan sesama, kita tidak peduli dengan orang disekitar kita, kita acuh dan tidak mau tau, kita sibuk dengan diri sendiri, kita tidak ‘meng-orangkan’ orang yang disamping kita karena kita begitu sibuk dengan hp-hp/BB BB kita, kita sibuk berselancar di dunia maya, hingga tidak heran kalau kita menjadi lupa akan banyak hal, kita tidak tau apa yang terjadi di sekeliling kita, dan parahnya lagi kita tuli akan panggilan Tuhan.

Oleh karenanya baiklah kita datang kepada Yesus sendiri agar Dia berkenan menyembuhkan ketulian dan kegagapan kita. Amen 

Khotbah Minggu 06 September 2015. Yesaya 35 : 4 – 7a Tema : “Kuatkanlah Hatimu, Janganlah Takut, Allah Menyelamatkan”


Pengantar
Jesaya 35  termasuk dalam proto Yesaya, menuliskan tentang bangsa Israel yang terancam oleh bangsa-bangsa disekitarnya terutama Asyur yang pada saat itu mau memperluas daerah kekuasaannya. Dalam situasi ketakutan ini bangsa Israel mengharapkan jalan keluar yaitu mengandalkan Mesir bukan Tuhan. Jesaya Pasal 35 secara jelas menggambarkan situasi bangsa ini : seperti gurun, padang kering, tangan yang lemah lesu, lutut yang goyah. Digambarkan keadaan yang “tawar hati” patah semangat alias setengah pingsan. Dalam keadaan yang demikianlah Yesaya memberikan khabar sukacita tentang pengharapan akan datangnya penolong yaitu : ... Allahmu akan datang dengan pembalasan... Ia sendiri datang menyelamatkan kamu ! ( Yesaya 35 : 4 ). Dengan demikian bangsa Israel diberi pemahaman keselamatan dan kebahagiaannya tidak didapat dengan usaha sendiri atau pertolongan bangsa Mesir tetapi Allahlah yang menyelamatkan. “Habis gelap terbitlah terang” adalah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan isi berita bacaan kita hari ini. Suasana gelap itu dapat kita lihat pada pasal-pasal sebelumnya di mana Yesaya memberitakan berbagai macam hukuman yang mengerikan. Sekarang Yesaya justru memberitakan datangnya terang, yaitu keselamatan dan pemulihan dari Tuhan
Beberapa tahun yang lalu sebuah tulisan berjudul “ The God is dead”. Dalam tulisan tersebut, dipertanyakan eksistensi atau kebaradaan kemahakuasaan dan Kasih Allah untuk menyelamatkan manusia. “jika Tuhan masih hidup Dia tidak akan membiarkan terjadinya peperangan, kelaparan , penindasan dsbnya”.
Dengan kata yang berbeda tetapi dalam pengertian yang hampir sama, Ketika kita diperhadapkan kepada hidup di tengah-tengah situasi yang tidak menentu, penuh ancaman, bahaya dan penderitaan, bekerja di bawah tekanan orang lain, dan beribadah di tengah-tengah ketidakpastian keamanan di negara kita ini, Saat menjalani masa-masa sulit, masa-masa suram dan bahkan lembah kekelaman dalam hidup ini, kita kehilangan sukacita , menjadi tawar hati dan pesimistis, seperti: dukacita dan, perasaan tertolak, marah, iri hati, kebencian, dendam, permusuhan, kekecewaan, dll. Kita katakan Tuhan tidak adil, Tuhan tidak lagi berpihak kepada kita. “The God is dead”.
Yesaya 35:4-7a dimulai dengan instruksi singkat untuk untuk tidak takut. Instuksi ini juga menekankan pembalikan besar yang terjadi melalui kehadiran TUHAN. Padang pasir berubah dari tempat yang kering dan tandus menjadi tanah yang subur dengan kelimpahan air, orang buta akan melihat, orang tuli akan mendengar, dan orang lumpuh akan "melompat seperti rusa".
Renungan
Sukacita yang besar akan dinyatakan bagi umat Tuhan, suatu sukacita yang melebihi masa keemasan raja-raja sebelumnya di Israel, termasuk pada masa raja Hizkia di Yehuda. Dalam konteks yang lebih luas, teks ini seolah-olah menjawab balik masa-masa kesuraman oleh karena penghakiman Allah atas dunia (lih. Yesaya 24),
Seiring dengan ancaman hukuman Allah yang memang bukan sekadar omong kosong itu, ternyata Allah itu juga adalah pengasih dan setia. Ternyata Allah yang menghukum itu adalah juga Allah sumber hidup yang menerbitkan dan mengembalikan segala sesuatu menjadi baru dan indah. Kasih dan setia Allah itulah yang kembali menebar semarak pengharapan umat. Pengharapan yang sempat layu dan kering kini digantikan dengan suatu janji yang menyatakan bahwa Allah berpihak pada mereka. Kengerian akan diganti dengan kesukaan, kebinasaan akan ditaklukkan oleh kehidupan baru. Keberpihakan Allah ini terungkap melalui kata-kata: "Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!" (ay. 4).Ada kesembuhan, pemulihan hubungan, perubahan alam, kedamaian, pembaruan kondisi hidup. Janji ini tidak dibatasi oleh lingkup jasmani dan rohani saja, melainkan janji yang berdimensi kekal menembus batas-batas keberadaan manusia. Kata “Ia sendiri akan datang” menyatakan bahwa Allah yang berinisitif, Allah yang memulai, Allah yang tidak tega atas keberadaan umatNya yang hidup oleh berbagai penderitaan yang terjadi. Hal ini merupkan eksistensi Allah terhadap umatNya: ketika manusia/Adam dan Hawa memakan buang yang dilarang oleh Tuhan, menusia ia bersembunyi/melarikan diri dari hadapan Allah, namun Allah berinisiatif, mencari: ”Dimanah engkau???”(Kej. 3 : 9).
Gambaran kehidupan yang dilakonkan bangsa Israel dalam banyak aspek mereka bukan lagi seperti umat pilihan Allah. Mereka malah menjadi pemberontak, krisis terjadi di mana-mana, seperti krisis politik, ekonomi dan bahkan agama. Kemerosotan-kemerosotan moral dan kehidupan spiritual sudah sangat memprihatinkan, malah dalam arti tertentu bangsa Israel mungkin lebih bobrok dan bebal dari bangsa-bangsa lain di sekitarnya; dan konsekuensinya adalah hukuman yang datang bersamaan dengan hilangnya pengharapan akan keselamatan dan pembaharuan.
Kenyataan yang dilakonkan oleh bangsa Israel, kini terjadi juga berulang-ulang terjadi dalam kehidupan bangsa pilihanNya. Jika kita dalam “komunitas” gambaran diatas maka BERTOBATLAH.
Sukacita besar dinyatakan karena Allah sendiri akan membuat suatu perubahan dan pembaharuan yang sangat signifikan dalam diri umat manusia, yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia, bahkan tidak mungkin dilakukan oleh para raja siapa pun. Perubahan dan pembaharuan ini terungkap terungkap dalam ayat 5-6a: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai”.
Sukacita besar karena Allah sendiri akan membuat alam menjadi sumber kehidupan dan kesegaran.: “sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara; tanah pasir yang hangat akan menjadi kolam, dan tanah gersang menjadi sumber-sumber air; di tempat serigala berbaring akan tumbuh tebu dan pandan”. Kiasan ini ingin menekankan pembaruan yang ajaib dan dahsyat yang jauh melebihi kuasa pemerintahan siapa pun, dan jauh lebih besar dari hukuman yang dijatuhkan (Ayat 6b-7)
Penutup:
Pernahkah Anda kehilangan harapan, atau paling tidak hampir kehilangan pegangan hidup? Bagaimana rasanya hidup di tengah-tengah situasi yang tidak menentu, penuh ancaman, bahaya dan penderitaan? Bagaimana rasanya bekerja di bawah tekanan orang lain, dan dihantu-hantui oleh ancaman mutasi yang tidak jelas alasannya? Bagaimana rasanya hidup bergereja dan beribadah di tengah-tengah ketidakpastian keamanan di negara kita ini? Bagaimana pula perasaan kita melihat orang-orang yang dengan jelas-jelas menyalahgunakan kekuasaan, wewenang dan jabatan demi kepentingan diri sendiri, termasuk orang-orang yang memperjual-belikan hukum di negara kita ini? Bagaimana perasaan kita melihat orang-orang yang telah merusak alam dan lingkungan hidup kita tapi malah bebas berkeliaran dan semakin “menggila” dalam usahanya merusak kehidupan di alam ini? Bagaimana dengan orang-orang yang sudah “resistan” terhadap kritikan karena ketidakadilan yang mereka lakukan?
Masih banyak lagi hal-hal yang bisa kita tanyakan pada diri sendiri dalam hidup ini, bahkan dalam hidup berkelompok, bergereja, bermasyarakat dan berbangsa.
Apa yang dapati kita lakukan?
Pertama,kita harus tetap memercayai janji keberpihakanAllah bagi kita, sebab Dia sudah menunjukkan kita dalam diri Yesus Kristus. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendiri sebab Dia mengerti dan peduli akan keadaan kita.
Kedua,kita harus tetap memiliki harapan bahwa Tuhan Yesus pasti datang lagi untuk menyelamatkan, mengubah dan membaharui dunia di mana kita saat ini berada, dan karenanya kira harus tetap setia melakukan firman Tuhan.
Ketiga, kita juga harus bisa menjadi agen perubahan dan pembaharu bagi manusia, alam dan lingkungan di mana kita berada.
Dia akan datang dan menyelamatkan kita. Dia akan datang kembali pada akhir zaman, untuk membinasakan mereka yang telah membuat kesusahan dan penderitaan di dunia ini. Dia akan datang untuk memberi kelegaan bagi mereka yang tadinya tertindas dan teraniaya. Dia akan datang untuk memberi kelegaan bagi kita semua seperti yang dikatakan-Nya: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28). Kalau begitu, masihkan kita lemah-lesu, goyah, tawar hati dan takut?
Kita harus tetap memercayai janji keberpihakan Allah bagi kita, sebab Dia sudah menyatakan KasihNya dalam diri Yesus Kristus. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendiri sebab Dia mengerti dan peduli akan keadaan kita.
Kita harus tetap memiliki harapan bahwa Tuhan Yesus pasti datang lagi untuk menyelamatkan, mengubah dan membaharui dunia di mana kita saat ini berada, dan karenanya kira harus tetap setia melakukan firman Tuhan.
Ketika Tuhan mengunjungi umatNya, hanya ada satu jawaban yang tepat. Semua ciptaan dan kemanusiaan ditransformasikan pada penampilan Allah, dan semua bergembira bersama dan bersorak-sorai. Amen


Rabu, 26 Agustus 2015

Epistel : Ulangan/5 Musa 4 : 1 – 2 Tema : MELAKUKAN TAURAT DAN NASEHAT TUHAN Nama Minggu : 13 Set Trinitas (Tritunggal) Rabu, 2 September 2015


A. Pengantar
Kitab Ulangan ditulis jauh sesudah Musa meninggal, meskipun banyak yang beranggapan Kitab ini ditulis oleh Musa sendiri untuk mempertahankan keaslian dari beberapa isi yang memang disampaikan oleh Musa sendiri. Namun secara keseluruhan Kitab Ulangan tidak mungkin ditulis oleh Musa, hal ini diperkuat dari keterangan yang dapat diperoleh dalam pasalnya yang ke 34 dalam Kitab Ulangan.
B. Penjelasan Nas
Ulangan 4 ditulis dengan kalimat langsung dari Musa, sehingga kita dapat meraskan bahwa yang itu adalah suara dan perkataan Musa sendiri yang menasehati umatnya Israel. Orang bisa mengatakan, “demikianlah yang dinasehatkan Musa dulu”, atau demikianlah redaktur menulis dan merekonstruksi ucapan Musa. Sehingga ucapan-ucapan Musa dalam Kitab Ulangan dapat memperkuat bahwa Musalah penulisnya. Kita percaya bahwa penulis Kitab Ulangan di zaman kerajaan sebelum Raja Yosia mencoba seobjektif mungkin mendokumenkan bagaimana Musa menasehatkan tentang hukum-hukum dan ketetapan Allah bagi bangs Israel. Tidak ada ditemui naskah lain yang dapat menggugatnya, sehingga oleh gereja-gereja saat ini bisa percaya bahwa Kitab Ulangan adalah ucapan Musa yang ditulis oleh Deutronomis. 
                Nas  ini berisi nasehat atau pengajaran Musa kepada bangsa Israel.  Nas kita dimulai dengan perkataan Musa: “maka sekarang….”. Ini menunjukkan tindakan yang harus diambil pada masa kininya, atau tanggapan yang patut terhadap hal-hal yang baru diceritakan Musa. Tanggapan tersebut bisa positif (setuju dan dilakukan) mapun negatif (tidak setuju dan tidak dilakukan). Itu terserah kepada masing-masing umat Israel, yang jelas sebagaimana dinyakini Musa bahwa barangsiapa melakukan pengajaran yang disampaikannya, yakni hidup patuh melakukan ketetapan dan peraturan Hukum Allah (“hoq” dan “misypat” = petunjuk tegas yang berasal dari Tuhan) ia akan hidup (supaya hidup).


Yang dimaksud di sini suatu hidup yang bahagia karena diatur menurut petunjuk-petunjuk Tuhan dan dalam persekutuan dengan Dia. Lebih jauh dapat juga dipahami sebagai hidup kekal, sebab tiap Firman Tuhan adalah “roti hidup” (Ulangan 8:3), dan FirmanNya menunjukkan jalan ke hidup yang kekal. Pengertian ini mengandung dua aspek: pertama, “hidup” adalah lawan “maut”. Itu berarti bahwa taat kepada Tuhan adalah jalan untuk mencegah ancaman maut. Bagi mereka yang sudah mendengar Firman Tuhan serta panggilannya, tidak ada lagi jalan netral. Mereka harus memilih antara hidup dan maut. Kedua, hidup menunjuk suatu gairah semangat dan nikmat dalam eksistensi manusia. Hidup adalah lawan kelesuan. Perhatian terhadap Firman Allah mengantar kepada kelimpahan dan berkat.
C. Refleksi
1.    Kepemimpinan Musa patutlah kita teladani, terlebih ditengah-tengah krisis kepemimpinan saat ini. Walaupun Allah menyatakan bahwa dia tidak akan masuk kenegeri kanaan, tidak mambuat Musa kendor semangat dalam menyampaikan pengajaran atau nasehat kepada umat Israel.
2.    Kita diingatkan bahwa salah satu panggilan dan tugas kita adalah menjadi umat yang mau mendengar pengajaran yang disampaikan hambaNya. Dalam hal ini sebagaimana disebutkan dalam Amsal 1:8-9, hendaknya kita seperti seorang anak yang mendengarkan pengajaran orang tuanya, sebab pengajaran itu bila dilakukan akan membawa kebahagiaan.
3.    Seperti Musa, Tujuannya tidak lain, yakni memberikan bimbingan agar kehidupan keristen dibangunkan. Bukankah kita seharusnya saling membimbing dan saling menguatkan? Karena itu tugas panggilan ini sangat penting.


KETETAPAN TUHAN ITU SEMPURNA

Evangelium : Wahyu/Pangungkapon 3 : 14 – 22 Tema : BARANGSIAPA KUKASIHI, IA KUTEGOR DAN KUHAJAR Nama Minggu : 13 Set Trinitas (Tritunggal) Minggu, 30 Agustus 2015


A. Pengantar
Jemaat Laodikia adalah jemaat yang terkhir dari ketujuh jemaat yang disapa Tuhan dalam kitab Wahyu. Jemaat ini istimewa karena inilah satu-satunya jemaat yang tentangnya Kristus hanya mencela. Tak satupun pujian yang diberikan Tuhan kepada mereka. Hal ini terjadi karena Jemaat Laodikia tidak memiliki kesungguhan hati. Ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari jemaat ini.
B. Penjelasan Nas
Ketidaksungguhan Jemaat Laodikia (ay.14-16), Jemaat Laodikia dinyatakan sebagai jemaat yang tidak memiliki kesungguhan hati dalam mengikuti Tuhan. Mereka dikatakan sebagai jemaat yang “suam-suam kuku”. Suam-suam kuku berasal dari kata ' KHLIAROS HUDOR', air yang rasanya tidak enak dan menyebabkan muntah, kalo dewasa ini barangkali dapat diibaratkan dengan air yang mengandung 'kaporit'. Orang Kristen yang suam kuku adalah orang Kristen yang merasa nyaman, puas diri dan tidak menyadari akan kebutuhannya. Orang Kristen yang suam kuku seolah berkat. "Kami sudah lama percaya kepada Yesus Kristus, kami Kristen udah puluhan tahun.  Inilah gambaran dari jemaat Laodikia.
Gereja Laodikia yang merasa mandiri, puas diri dan merasa nyaman dan aman itu seolah berkata: “Kami tidak membutuhkan apa pun!” Namun sementara itu kuasa rohani mereka melemah; kekayaan materi dan angka statistik mereka hebat menyelubungi mereka seperti kain kafan menyembunyikan mayat yang membusuk.
Penyebab ketidaksungguhan jemaat di Laodikia (ay.17-18), Jemaat Laodikia ada di tengah kota Laodikia. Kota ini sangat istimewa, kota ini memiliki tiga hal yang dibanggakan: Pertama, Laodikia Ini terkenal dengan kemakmurannya, sebagai satu pusat kegiatan perbankan, dan keuangan  terbesar di dunia pada saat itu. Keadaan ini membuat orang Laodikia memiliki mentalitas mandiri, merasa tidak butuh siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.

Kedua, Laodikia termasyur dengan kerajinan pakaian jadinya, khususnya yang terbuat dari wol, ini menimbulkan mentalitas yang sombong, mereka begitu bangga dan yakin diri akan kecantikan dan ketampanannya. Mereka selalu terobsesi untuk dikagumi orang lain.
Ketiga, Laodikia juga tersohor karena mutu sekolah kedokterannya, yang berhasil membuat prestasi medis kota ini lebih melambung lagi adalah salep mata dan salep telinga yang mereka produksi. Sehingga mereka merasa diri selalu sehat khususnya dalam pendengaran dan penglihatan mereka.
Sikap Tuhan atas Ketidaksungguhan Jemaat Laodikia, Ternyata Tuhan tidak tinggal diam melihat ketidaksungguhan jemaat Laodikia, ada dua sikap Tuhan yaitu Tuhan akan menegor dan menghajar (ay 19a). Kata menegur berasal dari kata “elegcho” yang artinya menunjukkan kesalahan dengan tujuan menginsafkan seseorang. Bukan hanya menegor tetapi jemaat ini pun akan dihajar oleh Tuhan, dihajar maksudnya ini merupakan peringatan yang lebih keras.
Solusi Lepas dari Ketidaksungguhan Jemaat Laodikia (ay 19—22), Tuhan memberikan solusi bagi jemaat Laodikia yaitu: “relakanlah hatimu dan bertobatlah! Perintah untuk bertobat diawali dengan kerelaan hati, ini merupakan poin yang penting, pertobatan yang sungguh hanya terjadi bila ada kerelaan hati. Kerelaan hati digunakan kata “zeloo” artinya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bertobat.
C. Refleksi
1.    Keadaan rohani jemaat Laodikia dikatakan “Suam-suam kuku” karena mereka menganggap kekayaan, penampilan dan kesehatan yang mereka miliki adalah segalanya. Untuk itu berhati-hatilah dalam kemapanan hidup jangan sampai kitapun memiliki keadaan yang sama dengan jemaat Laodikia.
2.    Kedaaan suam-suam kuku hanya bisa dikalahkan dengan satu tindakan itulah bertobat dan menerima Kristus dalam hidup kita sebagai Tuhan dan Juruselamat.
3.    Jika kita memiliki kesungguhan hati dalam mengikut Kristus maka kita akan memiliki persekutuan yang indah dengan Tuhan Yesus pada masa sekarang  di dunia dan pada masa yang akan datang di Sorga.



Khotbah Kebaktian Rumah Tangga Efesus 6:10-20


Efesus 6:10, “akhirnya, hendaklah kamu kuat…”; II Tim 2:1, “jadilah kamu kuat karena kasih karunia…”
Bagaimana supaya roh kita menjadi kuat:
(1) Kita harus memiliki Firman (I Yoh 2:14). Firman itulah yang akan kita pakai untuk membangkitkan jiwa kita, roh kita akan memakai firman itu untuk berkata2 kepada jiwa kita dan membangunnya kembali.
(2) Kita harus dekat dengan Tuhan. Kita akan selalu kuat bila kita menaruh pengharapan kita pada Tuhan, dan Tuhanlah yang akan memberikan kekuatan itu bagi hidup kita.

Pernahkah anda tertanya-tanya mengapa setelah seseorang itu menjadi orang Kristen, hidupnya menjadi semakin sulit? Saya pernah mendengar seseorang berkata “hidup saya sebelum menjadi orang Kristen jauh lebih aman!”\
Sejujurnya, bukan mudah untuk menjadi orang Kristen. Bukan mudah untuk hidup sebagai garam dan terang di dunia ini.
Apakah yang menyebabkan hal ini? Mengapa hal-hal yang sulit terjadi kepada orang yang saleh? Jawabnya adalah kerana kita sedang berada dalam peperangan rohani! Paulus menjelaskan hal ini di dalam suratnya kepada Efesus.
 Peperangan rohani tidak dapat dielakkan, oleh itu kita harus tahu apa strategi Iblis dan Bagaimana cara mengatasinya!

IBLIS ADALAH MUSUH YANG NYATA
 semua orang Kristen harus sadar bahwa Iblis tidak akan pernah berhenti untuk menghancurkan manusia! Oleh karena itu, maka kita semua harus berdiri teguh di dalam Tuhan! kita harus tetap dalam posisi siap siaga menghadapi Iblis.
Kita harus menggunakan senjata rohani.
2 Korintus 10:3-4

STRATEGI IBLIS
Pertama, Iblis berusaha menyesatkan manusia.
Mari kita lihat apa yang dikatakan Paulus sebelumnya di dalam Efesus 4:14.
Efesus 4:14
sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan.
1 Timotius 4:1-2
Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka.
Cara Iblis yang kedua adalah membuat hidup manusia susah. Sebagai contoh Iblis menghasut Yudas Iskariot untuk mengkhianati Yesus sehingga Yesus ditangkap, diainaya disiksa dan mati di kayu Salib.
Akibat dari kesusahan hidup ialah manusia mencari alasan untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain. Itulah sebabnya kita melihat ada pembunuhan, peperangan, kemiskinan, penyakit, kebencian,  dan sebagainya. Semua ini tidak mendatangkan kemuliaan kepada Allah.
Cara Iblis yang ketiga adalah melalui pencobaan. Iblis berusaha mencobai manusia untuk menjatuhkan mereka di dalam dosa. Kalau kita melihat cara Iblis mencobai Yesus, kita mendapati ada 3 hal yang dicobai Iblis.
Keinginan daging
Keingin Mata
Keangkuhan hidup.
CARA MENGATASI TIPU MUSTILAH IBLIS
Menurut Firman Tuhan ada 4 cara yg dapat mengatasi Iblis? Semua ini berbicara tentang siapa yang menguasai hati, atau siapa yang kita kasihi dan cara hidup kita. Kita akan membaca dari Yakobus 4:7-8 dan Efesus 6:10-17.
Yakobus 4:7-8
Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!
Nah menurut Yakobus, ada 3 cara kita melawan Iblis.
Tunduk kepada Allah
Mendekat kepada Tuhan
Menyucikan tangan dan hati
Pertama tunduk kepada Allah. Kita tidak boleh memberontak kepada Allah. Ada banyak orang mencari Allah kerana berkat, kasih, pengampunan dan kesembuhan akan tetapi mereka menolak ketika Allah meminta komitmen dan ketaatan. Bagaimana kita tahu bahawa kita mengenal Allah? 1 Yoh 2:3 Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.
Kedua, Mendekat kepada Allah.
Ini berbicara tentang doa. Kenapa doa penting? Ini kerana doa menyatakan bagaimana sebenarnya hubungan kita dengan Allah. Bila hubungan kita dengan Allah intim, maka kita akan dapat mendengar suaraNya, mengenal jalan-jalanNya dan mengerti kehendakNya.
Ketiga adalah menyucikan tangan dan hati.
kita harus menjaga hati kita agar tidak dicemarkan dengan perasaan-perasaan yang jahat dan pikiran-pikiran yang najis. Itulah sebabnya Alkitab berkata kalau kamu merasa marah, cepat-cepat redakan kemarahan kamu dan carilah perdamaian. Kalau disimpulkan, mentahirkan tangan dan hati ini kata yang muncul adalah kekudusan! Bagaimana anda menjelaskan kekudusan? Menurut saya kekudusan bukanlah mengasihi Yesus dan melakukan semua yang kamu inginkan, akan tetapi kekudusan adalah mengasihi Yesus dan melakukan semua yang Yesus inginkan!
Tapi saya sering jatuh di dalam dosa? Bagaimana? Alkitab berkata anda harus cepat2 mengakui dosa. (1 Yohanes 1:8-9)
Keempat adalah menggunakan perlengkapan senjata Allah (Efesus 4:10-17)
Untuk apa kita menggunakan seluruh perlengkapan senjata Allah? Ada dua hal iaitu supaya kita dapat bertahan dari serangan Iblis dan kedua supaya kita dapat melawan Iblis. Itulah sebabnya Yakobus berkata tunduklah kepada Allah dan lawanlah Iblis. Kalau kita tunduk kepada Allah lalu kemudian kita pergi melawan Iblis tanpa pakaian perang dan senjata Allah, kita tentu akan dikalahkan.

Amen.

Sabtu, 15 Agustus 2015

Khotbah Minggu 16 Agustus 2015 Ibrani 13: 1-15 Thema Minggu : “Aku Sekali-kali Tidak Meninggalkan Engkau”/ Sandok Tung Na So TinggalhononKu do Ho


I. Pendahuluan
Surat  Ibrani adalah Surat yang dialamatkan pertama sekali kepada orang Yahudi yang telah menjadi pengikut Kristus. Mereka telah menerima dan menjadi pengikut Kristus, namun karena terjadi penganiayaan yang begitu berat, baik secara kehidupan sosial maupun secara fisik, baik dari pihak bangsa Yahudi maupun Romawi, mereka mulai bimbang dan goyah untuk mempertimbangkan kembali menjadi agama Yahudi. Dengan demikian, Surat Ibrani memberikan penguatan dan peneguhan serta mengingatkan mereka supaya tetap beriman kepada Yesus dan tinggal tetap dalam Kekristenan. Untuk Itulah dalam kitab Ibrani diperlihatkan kesempurnaan Kristus sebagai keselamatan dan kehidupan yang jauh lebih unggul dan sempurna dari siapapun dalam dunia ini. Sang Penulis menyatakan identitas sejati Yesus sebagai Allah. Dialah Penguasa Tertinggi. Ia lebih mulia daripada agama atau malaikat manapun. Ia lebih tinggi dari pemimpin Yahudi manapun (seperti Abraham, Musa, atau Yosua) dan lebih tinggi daripada Imam manapun
Tidak jarang kita melihat kasus-kasus kehidupan yang terjadi ditengah-tengah kehidupan kita sehari-hari akibat satu masalah dapat merembes memunculkan masalah yang lain. Contoh sederhananya bisa akibat permasalahan ekonomi keluarga dapat berdampak pada keharmonisan rumahtangga atau bahkan dapat membuat seseorang mencari uang dengan jalan yang tidak benar.
Jika kita tidak mampu mengendalikan diri menghadapi suatu tantangan hidup dapat berdampak ke bagian kehidupan yang lain.
Sehingga dalam tujuan penulisan surat Ibrani ini kita diingatkan oleh Tuhan supaya orang percaya di dorong untuk tetap tabah dan setia di dalam iman, semakin dewasa secara rohani dan mempertahankan kekudusan sebagai umat pilihan Allah. Seberapa beratpun tantangan yang sedang dihadapi oleh orang percaya supaya jangan pernah meninggalkan kesetiaan kepada iman, tetap menjaga kekudusan.
Disinilah diingatkan kembali bagaimana orang Kristen itu supaya semakin dewasa secara rohani, setiap saat perjalanan kehidupan yang boleh kita lalui kita manfaatkan untuk semakin mendewasakan dan mematangkan kita. Sehingga setiap kondisi kehidupan yang kita lalui adalah untuk menempah kita menjadi orang Kristen yang tangguh dan kuat.
Beberapa nasehat diperlihatkan kepada kita untuk menjaganya dan memperhatikan dengan seksama sekalipun beratnya tantangan kehidupan yang harus kita hadapi, beberapa nasehat itu diantaranya:
-    Kasih persaudaraan
-    Menjaga kekudusan pernikahan
-    Tidak menjadi hamba uang
-     Memperhatikan dan meniru iman orang-orang yang menjadi pembimbing iman dan yang telah mendahului mereka yang tetap berpengang dalam iman.
-     Ucapan bibir yang memuliakan Tuhan
Sebagai umat yang percaya kita mempunyai tujuan hidup yaitu “mencari kota yang akan datang” (ay.14). Sebab dunia bukanlah tempat tinggal yang tetap. Sehingga nasehat yang disampaikan Firman Tuhan ini sangat jelas supaya dalam menghadapi persoalan kehidupan apapun, kita tidak diombang-ambingkan nasehat-nasehat yang menyesatkan kita.
Sebaliknya, kita diteguhkan bahwa apapun pergumulan yang sedang kita hadapi ada Tuhan yang menjadi penolong kita (ayat 6). Kuasa pertolongan Tuhan itu tetap nyata sepanjang masa, Allah tetap bekerja ditengah-tengah kehidupan umatNya. Sebab Tuhan Yesus adalah kekal dahulu sekarang dan sampai selamanya (ayat 8).
Maka dibutuhkan kesabaran di dalam iman menghadapi segala apapun kondisi yang kita hadapi. Jika kita mendahului dengan ketakutan dan kekawatiran, maka nasehat-nasehat penyesat akan mudah merasuki kehidupan kita, akhirnya yang terjadi satu masalah dapat merambat membawa masalah baru dalam kehidupan kita. Biarlah setiap apapun yang terjadi dapat kita hadapi dengan iman bahwa Tuhan ada, melihat dan akan menolong kita. 
Pertama, hidup saling mengasihi dan menghormati.
Kasih adalah dasar dari keluarga, oleh sebab itu mengasihi bukan hanya tugas seorang suami tetapi juga seorang istri (Titus 2:4-5).  Perempuan diciptakan oleh Allah dengan tujuan menjadi penolong bagi laki-laki.  Jadi istri adalah “penolong” bagi suami bukan penodong atau perongrong.  Demikian pula dengan para suami harus mengasihi istri dengan tulus, jujur dan sungguh-sungguh.  Didalam menanggung beban suami istri harus saling tolong menolong (Gal 6:2).  Hidup tolong menolong adalah bukti bahwa orang itu saling mengasihi, seperti memberi tumpangan kepada yang membutuhkan dan memperhatikan orang hukuman dan orang yang diperlakukan sewenang-wenang ialah bukti dari kasih persaudaraan (Ibrani 13: 1-3)

Kedua, menjaga kekudusan keluarga. (ayat 4)
Kekudusan perkawinan sangatlah berharga dihadapan Allah sebab kekudusan perkawinan pada dasarnya mencerminkan kekudusan Allah.  Oleh sebab itu diperintahkan: “ Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.  Suami istri harus menjaga kekudusannya sebab dengan demikian mereka diberkatin oleh Tuhan dan menjadi alat bagi kemuliaan-Nya.

Ketiga, percaya akan pemeliharaan Tuhan (ayat 5 – 6)
Tidak dapat dipungkiri bahwa kecintaan akan materi secara berlebihan telah menjadi budaya umum dalam masyarakat.  Segala sesuatu diukur berdasarkan kepemilikan atas materi.  Demikian pula dalam kehidupan keluarga, masalah ekonomi, keinginan akan materi seringkali menjadi pemicu bagi retaknya bangunan kokoh sebuah keluarga.  Oleh sebab itu diperingatkan: “ Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.”  Pemujaan akan uang pada hakekatnya ialah pengingkaran akan Allah.  Pengingkaran bahwa Allah memiliki kesanggupan oleh kuasa-Nya untuk memelihara kehidupan kita dari sehari ke sehari. TERPUJILAH TUHAN. Amen
Dari Berbagai Sumber