Jumat, 17 Juli 2015

MEMBANGUN HUBUNGAN DENGAN TUHAN. Yak. 4:8

Membangun hubungan dengan Tuhan bukanlah sebuah langkah yang sulit. Sebab firman Tuhan berkata, Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu (Yak 4:8). Di dalam bahasa Inggris, pesan firman ini lebih jelas. Dikatakan bahwa draw near to God and he will draw near to you. Di dalam pengertian aslinya, draw near menggambarkan tangan kita yang mendekat, menyambut uluran tangan Tuhan, yang sudah terlebih dahulu terulur pada kita. Kalimat ini amat jelas tujuannya yaitu sebuah hubungan persekutuan di dalam doa antara manusia dan Allah, menggambarkan gairah dan keinginan bersekutu denganNya. Inisiatip hubungan itu adalah Allah sendiri dan bagian kita adalah menyambut inisiatipNya. Kita harus memberi respon. Saya suka membayangkan anak saya sewaktu bermain layangan. Ketika ia berusaha menarik turun layangan itu dengan benang, maka layang-layang tersebut makin dekat kepadanya. Berarti, di dalam hubungan dengan Tuhan, usaha untuk mendekat kepada Allah harus dimulai di dalam diri kita. Semakin kita menginginkanNya, bergairah, maka sikap itu akan menjadi sinyal bagi Allah untuk menjawab kegairahan kita kepadaNya.
Bahwa aturan di dalam membangun hubungan dengan Tuhan, ada di dalam diri kita. Bukan di dalam diri orang lain atau pengalaman orang lain. Gagalnya kita membangun hubungan dengan Tuhan seringkali terjadi karena kita terlalu terfokus pada pengalaman orang lain dan secara alamiah menjadikan itu sebagai sebuah standard yang juga harus kita alami. Ini jebakan iblis yang mau menggagalkan hubungan kita dengan Tuhan. Perhatikan aturan ini. (a) Setiap kita punya hubungan yang khas dengan Tuhan yang tidak harus sama dengan pengalaman orang lain. Tuhan kita sangat kreatif. (b) Hubungan dengan Tuhan tidak pernah dapat dimetodakan. Seringkali cara Tuhan intim dengan seseorang berbeda secara radikal dibandingkan caranya dengan orang lain.
Tuhan pasti punya cara berhubungan dengan kita. Di dalam Alkitab dengan jelas Yesus mengatakan, "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Matius 6:5-6). Doa merupakan sebuah hubungan intim yang tidak boleh diketahui oleh orang lain. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam kamar sewaktu sepasang suami isteri sedang berada di dalam. Keintiman dengan Tuhan seperti itu. Setiap orang punya cara yang khas untuk terhubung dengan Tuhannya di dalam “kamar”nya masing-masing. Tapi coba kita lihat apa yang terjadi hari-hari ini. Banyak orang justru memamerkan bagaimana ia cinta Tuhan dan berhubungan dengan Tuhan secara emosional di hadapan orang lain. Orang seperti ini biasanya tidak berakar di dalam hubungan intim. Bahkan apa yang mereka tampilkan bukanlah hubungan yang sejati. Mereka menyembah Tuhan tidak dengan roh tetapi di jiwa. Yesus mendeteksi kehadiran orang-orang ini disekelilingnya dan mencerca mereka dengan sebutan munafik! Orang seperti ini hanya memakai topeng di dalam setiap pekerjaan pelayanan yang dilakukannya. Saya banyak menjumpai orang-orang di dalam pelayanan saya yang memang terlihat sangat rohani dan antusias di depan jemaat dan orang lain, menyatakan kecintaannya kepada Tuhan. Tetapi dikemudian hari terungkap bahwa orang ini ternyata tidak seperti itu. Dia suka menceritakan kerinduannya untuk terhubung dengan Tuhan tetapi pada kenyataannya apa yang ditampilkannya adalah sesuatu yang emosional. Sesuatu yang ingin dilihat oleh orang lain.
Ada satu contoh kasus di dalam gereja. Pada waktu Yesus sedang berada di dekat kotak persembahan, Dia dengan jelas mengamati seseorang yang memberikan persembahan dalam jumlah besar agar orang di dalam gereja melihat siapa dia. Sesaat setelah itu, seorang janda miskin juga memasukkan persembahannya. Tetapi Yesus berkata maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. (Markus 12:43). Itu sebabnya saya seringkali berkata kepada teman-teman di dalam pelayanan, hati-hati menerima persembahan dari orang yang secara emosional tidak stabil. Hatinya dengan cepat dapat berubah dari mendekatimu menjadi membenci atau menjauhimu hanya karena kita – hamba hamba Tuhan – tidak mau menuruti apa yang menjadi keinginannya. Kekacauan di dalam gereja seringkali dipicu oleh ulah sejumlah orang yang secara finansial kuat tetapi mengatur gembala atau hamba Tuhan. Penyembahan, kerinduan dan hubungan yang sejati ada di dalam kamarmu! Bukan apa yang kamu tampilkan di depan orang banyak. Bukan persembahan persembahan materi yang engkau berikan kepada orang lain. Bukan gayamu saat memuji dan menyembah yang menarik perhatian orang lain. Tetapi ditentukan oleh bagaimana hatimu dengan sungguh-sungguh mencari wajahNya, pada saat engkau sedang terhubung denganNya di dalam kamar secara pribadi.
Perjumpaan di dalam kamar adalah sebuah intimacy. Allah bergairah terhadap setiap keintiman. Alkitab pernuh dengan firman yang bersifat janji. Perhatikan, janji selalu berhubungan dengan pemberian Allah kepada sdr dan saya. Dimana ada penyembahan, disanalah Allah hadir sebab Dia menginginkan penyembahan dan tentu saja penyembah. Penyembahan adalah sesuatu yang menyenangkan hatiNya. Ketika Daud memburu Tuhan dan berkeinginan berada di dekatNya setiap saat, Daud membentuk dirinya menjadi seorang penyembah. Dia bahkan membangun komunitas penyembahan disekeliling tabut Tuhan, duapuluh empat jam, imam-imam musik bergiliran menari, memuji dan menyembah Tuhan. Hadirat Allah hanya dapat ditarik dan dipertahankan melalui penyembahan. Rupanya ini kuncinya! Penyembahan adalah kunci keintiman kita dengan Tuhan. Alkitab berkata, Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel. (Mazmur 22:3) .
Rasul Paulus mengingatkan kita untuk menyala-nyala terlebih dahulu sebelum melayani Tuhan. Penting sekali bagi kita untuk menyala terlebih dahulu. Itu akan membuat roh kita peka dan melayani bukan dengan kekuatan daging atau jiwa kita. Roh yang peka diperlukan untuk memutuskan apakah kita masuk ke dalam sebuah pintu yang terbuka atau tidak. Ingat sdr-sdr, tidak semua pintu yang terbuka harus kita masuki. Kita tidak pernah tahu siapa yang ada dibalik pintu itu. Terutama di dalam hal persembahan. Kalau kita membawa hadirat Tuhan, maka banyak pintu akan terbuka di depanmu. Orang akan berbondong-bondong mendatangi dan melekat kepadamu dengan motif yang berbeda-beda. Ada yang tulus dan ada yang punya kepentingan khusus. Saya mau jujur kepada sdr sebagai sesama hamba Tuhan. Saya banyak menemukan tipe-tipe orang dalam membangun motifnya saat mengatakan menjadi pendukung pelayanan. Hati-hati sdr. Orang yang semula bermuka manis dapat berbalik mencerca kita karena motivasinya di dalam memberi kurang baik. Oleh sebab itu, kita harus tetap memposisikan diri sebagai hamba Tuhan dan bukan hamba uang! Saya pernah punya pengalaman seperti ini. Seseorang yang mendekat kepadamu akan diuji dan dibuktikan motivasinya seiring dengan waktu. Bukan diuji oleh besar persembahannya kepadamu. Jangan lupa, hati manusia bisa berubah! Jika orang-orang ini kecewa dan tidak menerima sesuatu yang mereka harapkan dari pemberian persembahan kasih kepadamu, mereka bisa berbalik mencelamu dihadapan orang lain. sekali lagi berhati-hati. Tidak setiap orang yang ingin terhubungan dengan kita memiliki motivasi yang benar sampai kelak itu teruji dengan waktu.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk masuk di dalam keintiman? kita perlu mendekat kepada Tuhan melalui penyembahan dan hubungan pribadi. Aplikasi praktisnya sangat sederhana. Saya selalu memposisikan diri di depan Tuhan pada waktu saya berdoa atau cuma sekedar duduk diam menikmati hadiratNya di manapun saya pergi. Saat-saat paling menyenangkan adalah ketika menuju ke kantor di dalam mobil. Saya bisa merasakan urapan dan jamahanNya selama perjalanan dari rumah ke gereja. Kamar kita adalah ruang doa kita. Kita harus punya ruang privacy bersama Tuhan. Ruang privacy tidak melulu bicara tentang kamar (atau tempat) tetapi menyangkut waktu atau saat-saat berhubungan denganNya. Ada titik dimana saya sedang berada ditengah komunitas, saya merasa Dia sedang memberi sinyal untuk terhubung denganNya, maka saya akan langsung menyambut uluran tanganNya saat itu juga. Saya pergi menyingkir dan intim dengan Dia. Itu saat-saat yang indah dimana Dia sedang meminta sesuatu yang pribadi dengan kita. Jadi hal ini tidak berbicara tentang elevasi waktu belaka! Tetapi kualitas perjumpaan. Sama seperti Ester berjumpa dengan Raja, yang hanya berlangsung beberapa menit. Tetapi perjumpaan yang sesaat itu, mampu membuat hati raja terikat kepadanya. Itulah kualitas perjumpaan yang selalu menjadi kerinduan saya di dalam terhubungan dengan Tuhan baik saat memuji, menyembah, berdoa atau membaca firmanNya. Terlebih saat melakukan sejumlah aktifitas lainnya. Amen

Jamita di Punguan Parhalado GKPI Jem. Khusus Helvetia Selasa 02 Juni 2015 Heber 12 : 14


Ia Surat Heber on di tujuhon tu halak Kristen Jahudi na di bagasan haporsuhon hinorhon ni pangaleleion alani haporseaon  taringot tu Jesus Kristus. Torop do halak Kristen na ganggu uju i marhaporseaon. Surat Heber on ma patoranghon ia Jesus Kristus i ima Debata na gabe jolma , tumimbo sian angka malim ro di angka surusuruan. Ibana do dalan laho padomuhon Padan na robi dohot Padan na imbaru, padomuhon  parsaoran nadenggan maradophon Debata.( 1:1-2;2;2-3) Jala turpuk on ima sada pangajarion na manosoi dohot na pa ingothon Halak Kristen i asa mangolu di bagasan pangoloion, halomoan dohot biar mida Jahowa mardongan hadaulaton ( Beribadah dengan hormat dan takut pada Tuhan ) mangulahon hasintongan hadameon nang habadiaon dibagasaan parugamoon na sintong.
Gabe Parhalado na halomoan jala na mabiar dohot na marhadaulaton  ma hita  manghobasi ulaon ni Tuhan i. I ma ibadah na hinalomohon ni Debata ( Rom 12:1, Fil 4:18) . Api na mangallang do Debatanta i ( Debata Parlulu, Allah yang cemburu 5 Musa 4:24) marlapatan unang ta jua Debata , dohot Jesus Kristus,  holan  tu Ibana ma hita marsomba, unang ta olo i be sibolis laho manegai parsaoranta naung denggan i.
III. Impola tu Jamita : Jamita si an Yesaya 6:8
1.     Ro ma hita tu Sion , tatopot ma Bagas joro ni Debata nabadia i,  mamuji marsaor rap hon Debata dibagasan habadiaon.  Ai nabadia jala na songkal do Debata tama  hita mangolu dibagasan habadiaon . Jesus Kristus do pardomuanta dohot Debata.
2.     Ta argahon ma Panjouon ni Tuhan Jesus Kristus, tung unang adong sian hita na manjua asa parsidohot hita di HarajaonNa.
3.     Mandok mauliate ma hita tu Debata jala mamuji Ibana sian roha na ias jala marsitututu dibagasan roha biar mardongan hadaulaton asa gabe parhalado dohot ruas na hi nalomohonNa hita.
4.     Halak Kristen ingkon do marsihohot di angka sitaonon dohot parungkilon na, tongtong di bagasan las ni roha alani panghirimon na pinasahat ni Debata marhite Tuhan Jesus Kristus di sude angka na manghaporsea i Ibana
5 dibagasan Jesus do singkop las ni rohanta , antong Beribadah ma hita holan tu na pasonanghon roha ni Debata, unang ibadah na holan pasonanghon dirinta sandiri . Ibadah ta, i ma ibadah na dibagasan biar mida Jahowa, alai barani jala gok las ni roha mangasahon asi ni roha ni Tuhan Jesus. Amen
Pdt. R.H. Lumbantobing, S.Th. MA



Kamis, 16 Juli 2015

Khotbah Minggu, 19 Juli 2015 Minggu VII setelah Trinitatis Markus 6: 30-34; 53-56

 Saudara-saudara yang dikasihi Kristus Yesus, Kemana pun Yesus pergi ke desa-desa, ke kota-kota atau ke kampung-kampung orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepadaNya supaya mereka diperkenankan  hanya menjamah jumbai jubahNya. Dan semua orang yang menjamahnya menjadi sembuh”.
SETIAP perjumpaan dengan Tuhan akan membawa perubahan dalam hidup manusia, baik secara lahir maupun secara batin. Perjumpaan dengan Yesus yang sungguh-sungguh terjadi dalam iman.
Dulu orang Yahudi dan orang Parisi kerap berjumpa dengan Yesus, tetapi tidak terjadi perubahan apa-apa dalam hidup mereka, karena mereka tidak percaya akan Tuhan Yesus. Sedangkan orang biasa yang sederhana dan tulus ingin menjumpai Yesus dengan iman kepercayaan mereka, sehingga seperti dikatakan dalam Injil: Semua orang yang menjamah jubahNya atau dijamah oleh Yesus menjadi sembuh.
 S eluruh perbuatan Yesus adalah pernyataan diri Allah yang memelihara dan mengarahkan hidup manusia menuju pemenuhan yang sempurna. TindakanNya tidak sekedar memuaskan tetapi memampukan manusia untuk mengerti dan mau menunaikan tugas panggilannya di tengah-tengah gejolak kehidupan. Dia tidak hanya memberi makanan dan minuman sebab hal-hal itu hanyalah sebahagian dari tanda-tanda kehidupan. Juga mereka tidak perlu putus asa ketika menghadapi kesulitan hidup bahkan dengan menghadapi serangan dan siksaan yang paling kejam sekali pun sebagaimana dialami oleh Yohanes pembabtis yang mati dibunuh dengan kepala dipenggal (ay 27). Seluruh pengalaman hidup itu membutuhkan pemaknaan dari sudut pandang iman.
 Dalam teks ini diberitakan bahwa para rasul-rasul berkumpul bersama Yesus dan melaporkan semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. Pelayanan itu adalah penampakan pekerjaan Yesus karena itu harus didiskusikan dengan Yesus. Pelayanan itu datang dari Yesus oleh sebab itu juga harus dipertanggungjawabkan-pada Yesus. Pelayan yang benar adalah pelayan yang bertanggungjawab, yang berani melaporkan seluruh kegiatannya dalam persekutuan dengan Yesus. Pelayanan harus memiliki fondasi sebagaimana Yesus melakukannya dalam kata dan perbuatan. Pelayanan itu harus selalu memiliki waktu bertemu dengan Yesus. Bila seluruh pelayan mau mempertanggungjawabkan perkataan dan perbuatannya di hadapan Yesus maka tidak ada kekwatiran akan adanya ketidak beresan pelayanan. Laporan itu amat penting demi keberlanjutan pelayanan. Pelayan yang tidak membuat laporan sama dengan mempersempit ruang gerak pelayanan bahkan dapat merusak masa depan gereja. Yesus mengajak para rasul itu ke tempat yang sunyi sebagai bentuk penguatan sekaligus pernyataan bahwa pergerakan para rasul itu ada dalam wilayah tanggungjawabnya. Para rasul diajak untuk bertemu secara khusus sehingga mereka mendapat pemahaman yang khusus dan lengkap. Para pelayan yang dekat dekat Yesus akan semakin kuat dan mendapat semangat baru dalam melayani. Seringkali rasa frustasi datang bukan karena beratnya beban pelayanan tetapi karena persekutuan dengan Yesus diabaikan. Yesus mengajak mereka ke tempat khusus tidaklah untuk menjadikan pelayanan itu menjadi sulit dijangkau atau menjadi eksklusif. Pelayan tidak perlu mempersulit kedatangan jemaat. Pejabat gereja tidak menjadi lebih hebat ketika untuk menjumpainya saja teramat sulit atau dipersulit-sulit. Dalam pertemuanlah pemahaman diluruskan dan maksud baik diteruskan. Yesus mengajak rasul-rasul itu ke tempat yang sunyi tetapi mudah di jangkau (ay 33: banyak orang melihat dan mengetahui tujuan mereka). Waktu dan tempat khusus bagi pelayan adalah kebutuhan yang tidak terpisahkan dari kemajuan pelayanan. Di tempat khusus itu justru mereka menggumuli lebih dalam bagaimana intensifikasi pelayanan dapat djalankan. Waktu dan tempat khusus bagi pelayanan adalah kesempatan instropeksi dan evaluasi demi perbaikan dan pengembangan. Menurut Injil Markus ini, rasa ingin berjumpa dari orang banyak itu begitu tinggi. Mereka bahkan orang banyak itu mampu mendahului rombongan Yesus tiba di tempat. Kejadian itu mencerminkan antusiasme yang tinggi karena kebutuhan yang mendesak. Mereka tidak hanya kekurangan dalam berbagai kebutuhan jasmani tetapi juga mereka kehilangan tuntunan sebab Yesus melihat "mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala" (ay. 34), di antara mereka banyak yang sakit (ay. 53). Gambaran ini mencerminkan hidup manusia yang penuh penderitaan.
 Menurut teks ini penderitaan yang paling besar bukan karena soal makanan (sebab baru pada tindakan selanjutnya di atasi sebagaimana terbaca dalam ay. 36-44), tetapi lebih mengarah kepada "ketercerai-beraian" sebagai dampak ketidakhadiran para gembala. Tetapi penulis Injil Markus dalam kaitan ini lebih menegaskan lagi bahwa prioritas pelayanan gereja bukanlah persekutuan atau diskusi tentang apa yang pernah Yesus ucapkan tetapi pemberitaan tentang Allah yang hidup yang menghadirkan berbagai keajaiban dalam situasi konkrit.
Saudara-saudara, Dalam "pengasingan" itu, Yesus dan para muridNya diserbu oleh tuntutan kesengsaraan manusia. Manusia terdesak oleh kebutuhan dan kepentingan dan seringkali tidak menemukan jawaban bahkan yang sering terjadi malah bertemu dengan pemangsa yang berkedok turut meringankan beban. Namun Yesus tergerak oleh belaskasihan sebab Dia adalah Kasih itu sendiri. Dia adalah jawaban atas semua kebutuhan bahkan Dia sanggup memberikan sukacita yang melampaui harapan manusia. KasihNya menggerakkan semua berkat tidak saja menyangkut kebutuhan rohani tetapi juga kebutuhan jasmani. Manusia tidak perlu menggunakan segala cara mempengaruhi Yesus untuk bertindak sebab Dia tahu apa yang dilakukan bahkan sebelum manusia memintanya. Dia memberikan berkat-berkatNya bukan karena dipengaruhi manusia seolah-olah karena permintaan itu yang menggerakkanNya bertindak. Kita meminta sebagai kesungguhan kita yang membutuhkannya. Jika dalam doa Bapa kami disampaikan "berikanlah kami makanan..." tidak berarti bahwa makanan dari Allah tidak tersedia atau ada setelah kita memintanya, tetapi supaya kita juga turut menikmatinya (bnd. Katekismus Luther).
Injil Markus menegaskan bahwa cara yang pertama Yesus lakukan mengasihi orang banyak itu adalah dengan "mengajarkan banyak hal" sebagai penegasan bahwa kebutuhan yang utama bukanlah makanan dan minuman tetapi "memahami kehidupan" sebagaimana Yesus jalankan. Sebanyak apapun makanan jika manusia "penuh ketidaktahuan" (bodoh) maka tidak akan menolong hidupnya bergerak ke masa yang akan datang. Pengetahuan itu bersumber dari Firman Allah dan itulah yang membebaskan manusia dari kemiskinan, kebodohan, kekacauan, penyakit dan lainnya. I.L. Nommensen pernah berkata "Kamu tidak akan dapat memimpin hidupmu dan orang lain keluar dari kemiskinan dan kebodohan, kamu harus belajar Firman Allah". Firman Allah adalah hati Allah, semakin mengerti Firman Allah semakin dekat dengan sumber-sumber kehidupan. Dalam kaitan ini perlu diingat teori ilmu ukur yang mengatakan bahwa "jarak terpendek dari dua titik adalah garis lurus yang menghubungkannya". Semakin mengerti Firman Allah semakin banyak jalan lurus yang terhubung dengan kegiatan / aktifitas yang menghasilkan berkat yang benar. Serpakin dekat kepada Yesus semakin banyak terobosan yang mengentaskan kehidupan dari beragam gejolak yang menggerogotinya. Banyak orang menderita, meskipun tidak semuanya tahu bagaimana mereka mengatasi masalah-masalah itu. Sebahagian pergi ke dukun atau meminta kesembuhan dari kuburan nenek-moyang. Masih ada juga yang mencoba mengatasi penderitaannya dengan menuduh orang lain sebagai kambing hitam. Penderitaan seakan-akan tidak akan pernah lenyap dari dunia ini bahkan survey membuktikan semakin banyak penyakit yang timbul dalam ketidaktahuan. Semakin banyak dokter, semakin banyak pula penyakit yang tak terdiagnosa. Semakin banyak pakar semakin banyak pula masalah. Jika dahulu kala, ketika zaman permulaan Yesus datang di dunia ini banyak orang datang kepada Yesus mendapat kesembuhan, mengapa di jaman modern ini orang semakin sedikit membawa pergumulan hidupnya kepada Yesus? Rumah-rumah ibadah lebih sepi dari tempat-tempat hiburan yang gelap. Kegiatan rohani sekain tak menarik sebab manusia lebih tertarik dengan aktifitas duniawi. Manusia mengharapkan banyak hal tetapi tidak tahu sumber hidup yang benar. Manusia mengalami disorientasi kehidupan. Saudara-saudara yang dikasihi Kristus Yesus, Meskipun dunia makin asyik dengan dirinya dan mencoba mengatasi persoalan hidup dengan kekuatannya, kasih Allah tidak pernah sepi.
Yesus tetap menjadi penyembuh dan akan memulainya dari hal-hal mendasar untuk memulainya; bertolak dari iman. Bila dalam teks ini dinyatakan bahwa hanya dengan menjamah rumbai jubahNya saja mereka sembuh, tidak berarti bahwa sumber kekuatan itu ada pada jubah. Bukan jubah itu yang memberi kesembuhan kepada yang memegangnya seolah-oleh jubah itu punya kuasa magis tetapi seluruhnya (maupun benda) yang melekat dan mendekat pada Yesus telah menjadi saluran kuasa. Setiap orang yang imannya melekat pada Yesus adalah juga saluran berbagai kuasa yang Yesus ijinkan. Yesus tidak terlalu sulit untuk dijangkau hanya saja hati kita harus lurus dan tulus menghampirinya. Tidak ada usaha yang terlalu sulit dilakukan sebab Dia tidak mendasarkan tindakanNya pada perbuatan manusia. "Orang membuka jendela bukan supaya matahari terbit, tetapi karena matahari terbit jendela dibukakan". Yesus datang maka semua orang yang ingin mengalami perubahan seharusnya bergegas menyongsong kehadiran Yesus. Dia mengasihi kita dan kasihNya digerakkan oleh hatiNya. Hati Allah ada dalam FirmanNya. Amin.


Senin, 09 Maret 2015

Khotbah Minggu 22 Maret 2015 Mazmur 119:9-16 Tema : “Bersukacita Menaati Firman Tuhan”

 Pendahuluan
Mazmur 119 merupakan mazmur sekaligus pasal yang terpanjang dalam Alkitab. Ditulis setelah Bait Allah dibangun kembali, sebagai suatu perenungan akan keindahan firman Allah dan juga keindahan hidup orang-orang yang sedia dituntun oleh firman Allah.
Kerinduan pemazmur untuk dirinya sendiri tidak lain adalah menjaga hidupnya tetap bersih, tidak menyimpang dari printah-perintah Tuhan. Dan kerinduan ini bukan hanya menjadi angan-angan atau moto hidup semata sebagaimana yang juga biasa diucapkan oleh orang-orang Kristen pada umumnya. Kerinduan ini ditindaklanjuti dengan usaha-usaha untuk menggapainya, yaitu dengan mencari Tuhan melalui firmanNya. Merobah sikap dan mental akan mengarahkan kita kepada tuntutan hidup sesuai firmanNya.
Reformasi adalah perjuangan yang harus terus dikerjakan oleh umat Tuhan. Reformasi artinya kembali ke formasi (bentuk semula). Manusia pertama diciptakan serupa dan segambar dengan Allah, sempurna memiliki akal dan pikiran sehingga layak menjadi mitra Tuhan untuk menjaga keselarasan hidup di dunia ini. Setelah manusia jatuh kedalam dosa keserupaan dan kesegambaran manusia dengan Allah itu telah ternoda, tercoreng, kabur (buram) bahkan gelap sama sekali, hampir tidak kelihatan lagi sifat-sifat ilahi dalam kehidupan manusia, sehingga muncullah istilah “homo homini lupus = manusia menjadi serigala atas sesamanya, ada pendapat yang mengatakan bahwa manusia adalah hewan bercelana, artinya hanya “celana” yang membedakan manusia dengan ciptaan yang lain...ironis....menyedikan
Kebobrokan moral membuat hidup menjadi kacau, kejam dan sadis....mengerikan. Tepat sekali Presiden Ri Joko Widodo menetapkan Revolusi Mental menjadi lokomotif pemerintahannya. Revolusi Mental adalah terapi dari seluruh masalah yang sedang melanda kehidupan manusia. Permasalahannya adalah bagaimana kita memulai revolusi mental yang telah rusak ini ? cukupkah dengan rajin beribadah ? cukupkah hanya dengan berteriak....revolusi mental....revolusi mental dengan sedirinya mental kita berubah..?”
Saya percaya bahwa kita rindu akan perubahan yang signifikan dalam diri , keluarga, gereja dan bangsa kita. Kita rindu akan kehidupan yang tentram dan damai, diwajah setiap insan kembali memancarkan “rupa dan gambar “ Allah, yang penuh kasih, bertanggung jawab, memiliki daya kreatifitas untuk membangun kehidupan menjadi “lebih baik”. Dibawah ini pemazmur memberikan tips untuk mrevolusi mental yang telah rusak
Pendalaman Nats
(1) Mempertahankan Kelakuan Tetap Bersih (ay.9)
Hidup benar (bersih) ditengah-tengah angkatan yang jahat memang sangat sulit dan berat, karena hidup di dunia ini tidak terlepas dari pengaruh lingkungan. Hidup ditengah masyarakat yang beraneka ragam, nilai kebenaran itu sendiri “nisbi”apa yang kita anggap benar belum tentu benar di mata orang lain dan apa yang dianggap benar oleh orang belum tentu itu benar menurut kita, sehingga nilai kebenaran itu tidak mutlak tetapi tergantung siapa. Bagi segelintir orang korupsi itu benar karena banyak orang melakukannya.... tapi bagi sebagian orang korupsi itu satu momok yang harus di berantas,.. bagi sebagian orang tidak ke gereja itu juga suatu yang benar (buktinya mereka tidak ke gereja, kalau mereka anggap tidak ke gereja itu salah pasti mereka datang ke gereja). Dalam hal ini pemazmur memberikan satu nilai kebenaran adalah “Sesuai Dengan Firman Tuhan” kalau boleh saya meringkaskan isi Firman Tuhan itu adalah “mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri”,. Firman Tuhan itu dapat di ilustrasikan dengan salib. Salib adalah pertemuan antara kayu vertikal dan kayu yang horizontal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, karena begitu di pisahkan itu bukan lagi salib namanya. Demikian juga antara mengasihi Tuhan dengan mengasihi sesama manusia tidak dapat dipisahkan, karena tidak mungkin kita mengasihi Tuhan tanpa mengasihi sesama manusia. Untuk mempraktekkan kasih ini menjadi tanggung jawab kita, itulah salib yang harus kita pikul setiap saat. Walaupun sebagian orang menganggap “salib” itu ketinggalan zaman, tidak relevan lagi ditengah kehidupan yang sarat dengan persaingan, sulitnya mendapatkan peluang kehidupan “jangankan uang halal uang haram pun sulit mendapatkannya” sehingga uang haram pun dianggap anugerah. Mental seperti ini harus di revolusi. Paulus dalam suratnya ke Jemaat Roma pasal 12 :2 “ Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” Selanjutnya surat Paulus yang kedua kepada Timotius di pasal 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
Langkah pertama untuk melakukan revolusi mental adalah setiap orang harus mempertahankan kelakuannya tetap bersih yaitu hidup sesuai dengan Firman Tuhan.
(2) Dengan segenap hati mencari Tuhan
Segenap hati artinya totalitas, tidak terpecah, focus, konsentrasi penuh, tidak bercabang, murni, (kudus= tidak campur aduk). Kalau kita berbicara dengan segenap hati mencari Tuhan, itu artinya tidak ada yang lain selain Tuhan menjadi tujuan hidup. Apakah benar semua orang yang pergi ke gereja murni (dengan segenap hati) mencari Tuhan ? karena kalau menurut logika saya, “apa yang kita cari pasti itu yang kita temukan” orang yang pergi ke pasar di tengah-tenga begitu banyak barang yang ditawarkan tidak akan semua mereka beli pasti yang mereka beli adalah sesuai dengan kebutuhan mereka dan logikanya apa yang mereka butuhkan pasti itu yang mereka cari, tidak akan mungkin seorang ibu yang pergi kepasar mencari dan membeli bawang sementara stok bawangnya masih banyak di rumah. Mungkin belakangan ini sering kita dengar “keluhan-keluhan jemaat, siapa yang berkhotbah....ah Pdt si anu.... ah... enggak enak...monoton... enggak ada lucu-lucunya....enggak menarik....
Menurut hemat saya kalau kita sungguh-sungguh datang ke gereja mau mencari Tuhan dengan segenap hati, setiap pembacaan Firman Tuhan (tanpa di khotbahkan) kita dapat bertemu dengan Tuhan, ketika kita bernyanyi syair lagu yang kita lantunkan dapat membawa jiwa kita kepada Tuhan sehingga kita merasakan bertemu dengan Tuhan.
Marilah mencari Tuhan dengan segenap hati tanpa dinodai dengan motivasi-motivasi yang lain, kuburan bukan tujuan menjadi Kristen (karena ada sebagian orang menjadi Kristen agar nanti mati ada yang mengurus penguburannya), kekayaan bukan menjadi tujuan datang kehadirat Tuhan (karena ada sebagian jemaat mengikut Yesus supaya berlimpah hal ini yang diajarkan oleh teologia sukses yang sangat bertentangan dengan teologia salib)
Sumber kebahagiaan yang kekal ada di dalam Tuhan, sehingga pemazmur rindu berjalan di jalan Tuhan tidak sedikitpun menyimpang dari perintah-perintah Tuhan.
(3) Hati yang menyimpan janji-janji Tuhan
Hati adalah jendela mata artinya apa yang ada dihatimu akan terpancar dari matamu, kalau hatimu lagi marah maka matamu akan merah, kalau hatimu lagi bersukacita maka matamu akan berseri-seri.
Suasana hati itu sendiri tergantung dari apa yang ada dialamnya jika hati didisi dengan kebencian maka yang maka seluruh hidup kita akan memancarkan rada kesal, marah, kebencian. Jika hati kita dipenuhi dengan janji-janji maka akan terpancar suatu gelora yang membara, semangat yang luar biasa. Sebuah janji pasti membuahkan pengharapan, jadi hati-hati kalau kita berjanji, karena janji yang kita ucapkan akan menumbuhkan pengharapan dan ketika pengharapan itu tidak terpenuhi akan timbul “sakitnya tu di sini di dalam hatiku”
Pamazmur mengisi hatinya dengan “janji-janji Tuhan”, janji Tuhan yang akan menyelamatkan, janji Tuhan yang tidak pernah diingkari, karena Tuhan itu penuh kasih dan setia, dan kuasa apapun tidak mampu membatalkan janji-Nya. Janji-janji Tuhan yang ada dihatinya membuat dia terus rindu menjalin hubungan dengan Tuhan memalui perenungan Firman Tuhan (Mzm 119: 97 “betapa kucintai Taurat-Mu....” biasanya orang yang jatuh cinta...mau makan ingat si dia....mau tidur ingat si dia...mau mandi ngat si dia.... di dompet ada si dia.... di kamar ada si dia...” di sisi lain apa yang kita pikirkan hal itu juga yang terpancar dalam hidup kita.
Mari kita menyimpan-janji keselamtan, janji kekekalan Tuhan di hati kita sehingga janji Tuhan itu meberikan pengharapan yang teguh di hati kita, dan pengharapan itu akan memampukan kita mengalahkan tantangan dan cobaan serta godaan yang menggiurkan sekali pun, sehingga kita tetap suci walaupun didalam debu
(4) Menceritakan Firman Tuhan
Surat Paulus kepada Timotius, dalam 1 Timotius 4:16 “ Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau”, kelemahan kita sebagai orang Kristen adalah kurangnya dalam menceritakan Firman Tuhan, itu kelihatan dalam kebaktian rumah tangga dan juga PA, begitu diberikan kesempatan untuk bersaksi semuanya tertunduk.... bahkan ada yang toel kiri dan kanan.... yang mau bersaksi orangnya hanya itu-itu saja.
Satu prinsip yang harus kita pegang “pada akhirnya akan menjadi hakim pada dirinya sendiri” walaupun saat ini masih banyak orang hanya banyak berbicara tanpa bukti tetapi akhirnya kata-kata yang diucapkan itu akan terus terngiang di telinga dan berbisik di hatinya, akan timbul perasaan malu sendiri jika perkataannya tidak sesuai dengan prilakunya. Hal inilah yang membuat pemazmur selalau rindu menceritakan hukum Tuhan yang dia ucapkan, karena ucapan-ucapannya itu akan menjadi pagar/rel menjaga dia tetap berjalan dalam undang-undang Tuhan.
Marilah kita memperkatakan Firman Tuhan sehingga kita juga diproses hidup dalam apa yang kita perkatakan, Hanya Firmna Tuhan yang terus di perkatakan, diperdengarkan dapat memperbaharui hati kita....

Jika hati kita sudah diperbaharui oleh Firman Tuhan....akan terjadi revolusi mental yang akan membawa perubahan yang radikal dalm hidup ini. Hidup benar di tengah kehidupan dunia penuh dosa, mungkin dianggap ketinggalan zaman, tidak relevan, akan ditindas dan dilindas, jangan takut karena Kristus yang tidak memuliakan diri-Nya sendiri menjadi Imam Besar dimuliakan oleh Dia yang telah berfirman kepada-Nya “Anakku Engkau” (Bahan Bacaan Ibrani 5:5-10). Amen

Khotbah Minggu 15 Maret 2015 Ibr 12:18-29 “Beribadah dengan Hormat dan Takut”


Penguraian dalam kitab Ibrani meneguhkan seruan dalam berbagai hal. Pasal 11 adalah daftar yang terkenal tentang saksi-saksi iman yang berpuncak pada Kristus dalam psl.12. Topik itu beralih ke pentingnya menerima didikan Allah sebagai anak. Kemudian, dalam ayat-ayat sebelum perikop kita (aa.14-17), ada pentingnya tidak menolak anugerah Allah seperti Esau. Perikop kita memberi alasan untuk seruan itu (perhatikan kata “sebab” pada awal a.18).
Dalam bagian ini penulis kembali ke perbandingan yang dikembangkan dalam pp.3-4 antara Israel dalam pengembaraan di padang gurun dengan jemaat dalam pengembaraan di dunia. Peringatan di sana ialah bahwa ada banyak dari mereka yang berbagian dalam anugerah Allah tetapi tidak sampai pada tujuan yang dijanjikan Allah karena ketidaktaatan (4:1-3).
 Di sini perbandingannya antara titik awalnya setelah ditebus, masing-masing dilambangkan oleh sebuah gunung. Setelah Israel dibebaskan dari Mesir mereka berkumpul di gunung Sinai, seperti yang diceritakan dalam Kel 19. Pemandangan pada saat itu sangat menakutkan, menegaskan betapa Allah itu kudus sehingga berbahaya bagi umat yang najis seperti Israel (aa.18-20). Sebaliknya, gunung Sion di sorga dalam aa.21-24 memberi gambaran yang sangat menyemangatkan. Penulis menggambarkan kumpulan malaikat yang meriah dan orang-orang benar yang karena disempurnakan luput dari penghakiman Allah. Semua itu karena Yesus sudah mengadaan perjanjian baru oleh darah-Nya (a.24; bnd. p.8 & 9:15). Titik awal kita dalam Kristus adalah penuh harapan.
Jika darah Kristus berbicara, jangan janji itu ditolak, lebih lagi karena Kristus yang menyampaikannya berasal dari sorga, bukan dari bumi seperti Musa (a.25). Untuk mendukung itu penulis mengembangkan suatu implikasi dari kuasa dahsyat Allah. Di gunung Sinai bumi digoncangkan, tetapi ada janji dalam Hag 2:6 bahwa Allah akan menggoncangkan bumi dan langit. Ayat itu merujuk pada tujuan Allah untuk menempatkan bangsa-bangsa di bawah kedaulatan-Nya (Hag 2:7), tetapi penulis Ibrani hanya mengambil satu aspek, yaitu bahwa dalam janji itu penggoncangan tinggal satu lagi. Jika tidak ada penggoncangan lagi, maka yang dapat digoncangkan sudah diubah menjadi tak tergoncangkan (aa.26-27). Artinya bahwa kerajaan yang dijanjikan adalah mantap, kokoh, sangat layak disyukuri dengan rasa hormat dan takut (a.28).
Kalimat terakhir mungkin mengagetkan kita, karena sepertinya kembali ke gambaran gunung Sinai, dari pada gambaran gugung Sion dsb. Tetapi sebenarnya penulis tidak menyampaikan dua gambaran Allah yang bertolak belakang. Allah adalah Allah yang dahsyat, hakim semua orang. Oleh karena itu, ada harapan bahwa Dia dapat menghanguskan semua yang jahat, bertentangan dengan kehendak Allah (aa.26-27). Gunung Sion lebih menjanjikan bukan karena keadilan Allah diganti dengan anugerah-Nya, melainkan karena dalam Kristus keadilan dan anugerah-Nya berjumpa. Orang-orang benar disempurnakan dalam darah Kristus sehingga dapat berdiri di hadapan Sang Hakim (aa.23-24).
Jadi, jika pada dasarnya penulis mau supaya pembaca tetap berpegang pada Kristus, dalam a.28 kita melihat respons yang diperlukan oleh yang berpegang. Intinya bersyukur. Kita bersyukur karena Kristus sudah membawa kita kepada tempat yang menyemangatkan; kita sudah dianggap sebagai umat Allah yang berada di sorga memuji Dia. Kita juga bersyukur karena tujuan kita adalah kerajaan yang kokoh, tak tergoncangkan. Bersyukur adalah cara beribadah yang berkenan. Dengan bersyukur kita menghormati Allah dan menunjukkan bahwa kita kagum atas semua yang Dia lakukan.
TANGGUNG JAWAB YANG BERAT; Murka Allah sangat mengerikan pemandangan itu, sehingga Musa berkata: "Aku sangat ketakutan dan sangat gemetar."
Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion, ke kota Allah yang hidup, Yerusalem sorgawi dan kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah/atau GEREJA/SORGA;
·       anak-anak sulung, yang namanya terdaftar di sorga
·       Allah, yang menghakimi semua orang,
·       roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna,
·       Tuhan Yesus, Pengantara perjanjian baru”
jangan menolak Dia, yang berfirman atau  berpaling dari Dia yang berbicara dari sorga?
·       Waktu itu suara-Nya menggoncangkan bumi, tetapi sekarang Ia memberikan janji: "Satu kali lagi Aku akan menggoncangkan bukan hanya bumi saja, melainkan langit juga."
·       Artinya akan ada  perubahan pada apa yang dapat digoncangkan, karena ia dijadikan supaya tinggal tetap apa yang tidak tergoncangkan/kekekalan.
Untuk menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita
·       mengucap syukur
·       dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya,
·       dengan hormat dan takut.
Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.
RAHASIA BESAR ; JIKA KITA MENGHORMATI TUHAN YESUS, AKAN ADA KUASA MUJIZAT YANG TERJADI DALAM HIDUP KITA. CAMKAN ITU.



Khotbah Minggu 08 Maret 2015 Kel. 20: 1-17


I.             Pendahuluan
 Nats ini merupakan sumber Alkitabiah dari Sepuluh Hukum yang diberikan Allah kepada Musa di gunung Sinai, tiga bulan setelah bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir. Hukum ini diberikan kepada bangsa Israel agar bangsa tersebut dapat berkaca dan melihat apakah sikap mereka telah sejalan dengan kehendak Allah. Andaikata hukum tersebut tidak ada maka hidup manusia akan semakin kacau. 'Hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang' (Galatia 3:24). Kita tidak dapat diselamatkan oleh karena melaksanakan Hukum Taurat, melainkan oleh karena imanlah kita dapat diselamatkan. Tetapi karena buah dari iman kepada Allahlah maka kita melaksanakan Hukum Taurat. Hukum yang paling mendasar (basic code) dalam hukum ilahi bangsa Israel adalah ayat 2-17 yang dinamakan dengan berbagai sebutan, antara lain "sepuluh hukum", "sepuluh ucapan", dekalog' dan "sepuluh perintah Allah".
II.           Keterangan:
Ayat Ayat 1-2: Lalu Allah mengucapkan segala Firman ini, yang berarti bahwa Allah mengucapkan sebuah ucapan yang sarat dengan aturan teknis (terminus teknikus) kepada 'ketentuan perjanjian' di Timur Dekat, dan kita dapat membaca pada buku Ulangan: "Dan la memberitahukan kepadamu perjanjian, yang diperintahkanNya kepadamu untuk dilakukan, yakni kesepuluh Firman dan la menuliskannya pada dua loh batu" (Ulangan 4:13), dan dipertegas dengan perkataan 'Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar', inilah yang merefleksikan struktur perjanjian kerajaan kontemporer. Perjanjian Kerajaan pada awal perjanjian lama sering diawali dengan identifikasi (perkenalan) diri sendiri seorang Raja, melalui prolog historis yang singkat (Bnd Kejadian 15:7). Berdasarkan kepada identifikasi diri sendiri mengenai Allah, serta prolog historis singkat yang menerangkan bahwa Allah sendirilah yang mengeluarkan bangsa Israel, sehingga ditekankan kembali di dalam perintahNya harus dilaksanakan/dilakukan dengan cara melaksanakan perintah Allah (selaku patron/patokan perjanjian kerajaan), sehingga diakui bahwa Allah adalah raja di tengah-tengah bangsa Israel, dan sebagai kesaksian bahwa bangsa Israel adalah bangsa Allah. Selaku bangsa Allah maka setiap orang Israel tanpa terkecuali harus memperlihatkan kepatuhan (obedience) dan penyerahan diri secara penuh kepadaNya, karena Allah telah memberikan kepada mereka kasih karunia dan berkat. Bangsa Israel harus yakin kepada kedaulatan Allah yang akan menemani bangsa Israel secara berkelanjutan (continuing care). Ayat 3-6: "Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku" (You shall have no other gods before me) bertujuan untuk menekankan agar tidak ada lagi 'allah' yang lain (secara nyata atau secara imajinasi) yang akan menjadi tandingan/saingan Tuhan Allah yang penuh dengan kasih karunia di hati dan pikiran bangsa Israel, agar mereka juga tidak mendua hati. Karena pada awalnya agama bangsa Israel telah ditekankan agar 'Monotheisme' (bukan polytheisme). Satu Tuhan, jangan ada lagi tuhan yang lain. Rasul Paulus juga menekankan mengenai kesatuan kepada Allah: "namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup" (I Korintus 8:6). Dan Allah juga memerintahkan untuk tidak membuat patung yang menyerupai apapun yang ada di langit atas, atau yang ada di bumi di bawah atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Seperti yang kita ketahui, Tuhan Allah bukan yang berbentuk 'visible' (dapat dilihat mata), oleh karena itu bangsa Israel menentang setiap patung atau penyembahan yang bertujuan memperlihatkan bentuk Allah dan itu merupakan sebuah dosa. Oleh karena itu, sebuah dosa apabila ada yang menyembah allah lain, serta yang membuat patung penyembahan meniru allah lain (Ulangan 4:19+23-28). Konsekuensi dari hukum ke dua memperlihatkan kepada bangsa Israel bahwa Allah adalah Allah yang pencemburu yang akan membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku. Allah tidak suka memiliki saingan atau menyembah Dia dengan setengah hati, melainkan harus dengan sepenuh hati dan pikiran untuk menyembah Dia. Sebenarnya sikap 'cemburu' dan 'membalaskan' merupakan bagian dari kasih Allah karena: a.  Allah mau meminta ketaatan yang khusus dari manusia yang hanya kepadaNya (Ulangan 4:24) b. Dia akan mengiring semua manusia yang melawan kepadaNya ke dalam penghukuman (1 Raja-raja 14:22) c. Allah selalu setia melindungi bangsaNya (2 Raja-raja 19:31) Siapa yang mengingkari janji Allah dan yang menolak Allah sebagai Raja, berarti membawa hukuman kepada diri sendiri dan kepada seluruh keturunan keluarganya. Kita juga dapat melihat bagaimana Yosua bersama-sama bangsa Israel disuruh Allah untuk menghukum orang Israel yang melawan Allah bersama bangsa Kanani yang berada di sekitar Israel. Biasanya keturunan atau keluarga orang Israel dihitung sampai kepada keturunan ketiga. Ayat 7: Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan. Dalam alkitab bahasa Inggris (NIV) tertulis "misuse the name of the lord" yang berarti salah mempergunakan nama Tuhan dilarang diperintah Allah, misalnya memakai nama Tuhan untuk ingkar janji kepada sesama manusia, berbohong untuk menunjukkan kebenarannya, memakai nama Tuhan untuk mengutuk atau memakai formula magis dengan nama Tuhan. Kita tidak dapat mengendalikan Allah dengan memakai namaNya (Bnd Imamat 19:12;5; Ulangan 5:11; Yeremia 7:9). Dalam Perjanjian Baru saat Yesus berkhotbah di bukit, Kristus juga mengelaborasi mengenai tidak dibenarkannya bersumpah palsu (Matius 5:33-37). Ayat 8-11: Perintah ini khusus untuk menguduskan hari Sabbat, agar enam hari manusia bekerja. Dalam ayat inilah pertama sekali istilah 'Sabbat' muncul sebagai hari perhentian yang harus dikuduskan, walaupun secara prinsipil telah ada dalam proses penciptaan. Dalam Kejadian 2:3 dikatakan "Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah la berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuatNya itu". Walaupun istilah 'Sabbat' tidak dipakai dalam ayat tersebut, tetapi di dalam bahasa Ibrani yang dipakai untuk kata 'berhenti' berasal dari kata benda 'Sabbat'. Keluaran 20:11 ini mengutip setengah dari bagian Kejadian 2:3, tetapi kata 'ketujuh' diganti menjadi 'Sabbat'. Inilah yang menunjukkan bahwa kata 'Sabbat' sama dengan kata 'Hari yang Ketujuh'. Catatan pertama mengenai kewajiban menguduskan hari Sabbat adalah yang dilakukan bangsa Israel saat di padang gurun antara Mesir dan Sinai (Keluaran 16), dan dalam Nehemia 9:13-14 hari Sabbat bukanlah sebuah perjanjian yang bersifat 'obligatoris' sampai kepada penerimaan Hukum Taurat di gunung Sinai. Bangsa Israel disuruh untuk menguduskan hari Sabbat, bukan mau mengatakan bahwa hari ketujuh lebih kudus dari diriNya sendiri. Tetapi kekudusannya karena kehadiran Allah di dalam hari tersebut. Kekudusan Sabbat berarti: memakai hari yang ketujuh sebagai hari khusus untuk memuji Allah. Karena hari ketujuh berbeda dengan hari-hari yang lain (hari-hari kerja), maka Allah memerintahkan untuk tidak melaksanakan pekerjaan apapun pada hari itu karena: a. Allah berhenti pada hari yang ketujuh setelah la selesai menciptakan, oleh karena itu bangsa Israel harus melaksanakan 'kerja - istirahat' yang sama. b.Bangsa Israel haruslah berhenti pada hari Sabbat, dan para pekerja/pesuruh/budak dapat juga berpartisipasi pada hari Sabbat, karena Allah juga telah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir (Ulangan 5:14-15). Sabbat sebagai tanda (sign) akan perjanjian Allah kepada bangsaNya di gunung Sinai (31:12-17). Ayat 12: Hormatilah ayahmu dan ibumu (honor your father and your mother), yang mau dikatakan di ayat ini adalah agar semua orang menghormati ayahnya dan ibunya, seperti yang diperintahkan dalam Imamat 19:3, dan ditekankan kembali "Apabila ada seorang yang mengutuki ayahnya atau ibunya, pastilah ia dihukum mati; ia telah mengutuki ayahnya atau ibunya, maka darahnya tertimpa kepadanya sendiri" (Imamat 20:9). Seperti itulah pentingnya untuk menghormati orangtua di tengah-tengah komunitas bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, bahkan sampai dikatakan siapa yang tidak mau mendengarkan pengajaran orang tuanya, maka dia akan ditangkap oleh ayahnya dan ibunya serta membawanya kehadapan para pemuka agama serta kepada tetua kampung. Dan semua laki-laki akan melempari dia dengan batu sampai mati (Ulangan 21:18-21). Namun dalam Perjanjian Baru tidaklah seperti itu beratnya hukuman secara fisik, tetapi Rasul Paulus mengatakan "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian" (Efesus 6:1). Ada sebuah janji di dalam perintah Allah ini yaitu supaya lanjut umurmu di tanah yang berikan Tuhan Allah kepada bangsa Israel. Janji ini diekspresikan ketika bangsa Israel meneruskan perjalanan dari Sinai menuju ke tanah Kanaan melewati sisa perjalanan mereka di padang gurun. Ayat 13-17: Dalam ayat ini, diuraikan kembali panggilan agar tidak membunuh, berzinah, mencuri, bersaksi dusta, dan mengingini rumah sesama. Agar bangsa Israel tidak membunuh apabila tidak ada alasan yang kuat untuk melakukannya (bnd Matius 5:21-26). Dikatakan disini jangan berzinah, merupakan dosa kepada Allah dan kepada hubungan rumah tangga (Matius 5:27-30). Jangan mencuri, maksudnya adalah agar didalam kerendahan hatiiah orang memakai apa yang diberikan Allah kepadanya, jangan memakan yang bukan bagian kita. Dikatakan juga jangan bersaksi dusta, berarti mengajari manusia untuk selalu mengatakan yang benar. Jangan mengingini rumah sesamamu, agar tidak ada didalam hati seseorang sebuah motivasi yang jahat untuk merampas sesuatu yang diinginkannya (Matius 15:19). Melanggar perintah Allah di dalam hati juga sama dengan melawan secara fisik (Matius 5:21-30).
III.         Aplikasi Khotbah/ Bahan Renungan 1.Yang harus kita mengerti dan kita renungkan dari khotbah Evangelium ini adalah masalah ketaatan kepada Allah yang penuh dengan kasih karunia. Jangan sampai mendua hati untuk menyembah kepadaNya, jangan ada dari kita warga jemaat yang masih mau menyembah arwah-arwah dari nenek moyang kita yang telah meninggal, demikian juga jangan lagi ada yang menjadi hamba uang. Saat ini banyak orang menjadi penyembah harta, seakan-akan harta adalah segala-galanya di dalam kehidupannya. Inilah yang menjadi tugas kita untuk memberitakan firman Tuhan kepada orang yang telah mendua hatinya, agar imannya menjadi murni kembali.Jangan ada lagi dari warga jemaat yang mengatakan "Orang tua adalah Allah yang terlihat". Pandangan tersebut sama sekali tidak mempunyai dasar dari firman Tuhan. Tidak mungkin orang tua selaku manusia digambarkan sebagai Allah yang terlihat di dunia ini, karena hakekat manusia dan hakekat Allah adalah berbeda. Kita hanya disuruh untuk menghormati orang tua kita! 2.Jangan sampai kita menganggap orang tua adalah Allah yang terlihat. Apabila kita menghormati orang tua pada masa-masa hidupnya maka umur kita akan panjang di dunia ini, tetapi kata 'panjang/lama' disini bukanlah secara kronologis tetapi juga secara ontologis. 3. Allah mengajari kita untuk memakai waktu istirahat pada hari 'Sabbat' (Setelah di / Perjanjian Baru menjadi hari minggu, karena pada Minggu subuh hari kebangkitan Tuhan Yesus dari kematian). Kita pakailah hari minggu sebagai hari istirahat dari berbagai pekerjaan, fokuslah kita pada hari minggu untuk memuji Tuhan. Aktifitas di hari minggu pun haruslah berkaitan dengan memuji dan memuliakan Tuhan, misalnya: Ibadah di gereja, memberikan penguatan dan penghiburan. 4. Janganlah kita iri dan dendam kepada sesama manusia, karena iri dan dendam sama dengan yang membunuh. Dan janganlah kita berzinah serta berbohong/bersaksi dusta serta mencuri. Mari kita manfaatkan waktu yang diberikan Tuhan Allah kepada kita untuk mencari dan melaksanakan yang sesuai dengan kehendak Allah. Mari kita jauhkan sifat rakus dan sikap yang hedonis yang hanya mencari kenikmatan dunawi. Amin 




Senin, 02 Februari 2015

Khotbah Minggu 01 Februari 2015. Markus 1: 21-28 Thema: “Tuhan Mengajar dan Mengusir Roh Jahat”


Setelah memanggil murid-muridnya yang pertama Yesus mengawali kegiatannya di Kapernaum dengan mengajar di sebuah tempat ibadat. Orang-orang takjub mendengar pengajarannya. Pada kesempatan itu juga ia mengeluarkan roh jahat dari orang yang kerasukan. Orang banyak mulai bertanya-tanya apa sebenarnya yang sedang terjadi. Dan sejak itu tersiarlah berita tentang dia di seluruh wilayah Galilea.
 MENGGUGAH PERHATIAN
Markus kerap menceritakan pelbagai reaksi orang ketika mendengar pengajaran Yesus tanpa menuliskan apa yang diajarkannya. Ia memang ingin menunjukkan bagaimana Yesus dipandang sebagai guru yang membuat pikiran orang terbuka. Para pendengarnya sudah cukup tahu ajaran-ajaran agama. Yang mereka butuhkan ialah rasa mantap. Pengajaran pokok Yesus sebenarnya sudah ditampilkan Markus dalam Mrk 1:15, yakni bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Dan inilah yang diajarkannya hari itu di sinagoga di Kapernaum. Jadi yang dikatakan orang-orang nanti pada akhir petikan hari ini sebagai “ajaran baru” ialah pewartaan mengenai sudah datangnya Kerajaan Allah tadi. Dan ujud nyata kerajaan ini ialah mulai tersingkirnya kuasa-kuasa jahat.
Kita akan tertarik pada kisah mengenai orang yang kerasukan setan di sinagoga tempat Yesus mengajar hari itu. Markus memang hendak menekankan hubungan antara kegiatan mengajar Yesus dengan pengusiran roh jahat. Bisa ditengok Mrk 1:39 tentang Yesus memberitakan Injil di rumah-rumah ibadat di Galilea dan mengusir setan-setan.; juga 3:14 tentang dua belas rasul yang ditetapkannya ditugasinya memberitakan Injil dan diberi kuasa mengusir setan; menurut 6:12 mereka pun berbuat demikian. Orang dari zaman itu, juga dari zaman kita sekarang, akan lebih tertarik pada pengusiran roh jahat. Memang Yesus kerap mengusir roh jahat dan menyembuhkan penyakit yang tak bisa ditangani tabib. Tapi sebenarnya Yesus hadir di tengah masyarakat terutama untuk mewartakan hadirnya Kerajaan Allah. Pengusiran roh dan penyembuhan ajaib adalah kelanjutan dari benarnya warta itu, bukan sebaliknya.
Begitulah pada hari itu, di sebuah tempat ibadat, ia mulai mewartakan Kerajaan Allah. Orang-orang datang untuk menjalankan ibadat Sabat dan mendengarkan bacaan dari Taurat dan Para Nabi beserta penjelasannya. Setelah itu mereka juga berbincang-bincang mengenai macam-macam hal. Itulah latar peristiwa yang dikisahkan Injil hari ini. Markus mencatat bagaimana orang-orang takjub mendengar Yesus. Hati mereka tersentuh. Ia dapat menyalurkan kekuatan batin kepada pendengarnya dengan kata-kata pengajarannya.
BAGI ORANG YANG KERASUKAN
Hari itu juga ikut datang orang yang kerasukan. Orang dulu percaya bahwa ada roh baik, yakni yang berasal dari Allah, ada roh yang jahat, yang memisahkan diri dari sumbernya, yakni Allah, dan melawannya. Bila kita bahasakan secara sederhana, roh jahat itu kekuatan-kekuatan yang “ndak bener”, yang tidak murni, ada sisi-sisi kotornya, tidak bersih. Yang dilakukannya menimbulkan banyak perkara yang ndak bener tadi. Jadi roh jahat ialah kekuatan-kekuatan yang tak teratur. Tapi tetap kuat dan susah dihadapi dan sering membingungkan. Ia mengacaukan tatanan, membuat orang kehilangan pegangan sampai berputar-putar tanpa arah dan menjauh dari tatanan yang diadakan oleh roh baik. Pada zaman Yesus dulu, penyakit aneh-aneh yang tak dapat ditangani tabib sering dipandang sebagai akibat kerasukan. Orang yang demikian ini biasanya disendirikan. Kalau di Jawa dulu dipasung. Mereka tidak dibiarkan mengikuti macam-macam kegiatan di masyarakat, termasuk datang ke tempat ibadat. Kita akan bertanya, lho orang yang kerasukan kali ini kok ada di sinagoga. Tidak biasa. Bisa jadi memang belum diketahui bahwa orang tadi kerasukan. Ia boleh jadi termasuk orang baik-baik di Kapernaum. Mungkin ia sudah sedikit aneh, rada mejenun, tapi masih bisa ditolerir.
Orang tadi – yang belum diketahui bahwa kerasukan – ikut datang mendengarkan warta Yesus. Tentunya warta Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah, dan percayalah kepada Injil seperti tertulis dalam Mrk 1:15. Apa yang terjadi? Roh jahat yang bersembunyi di dalam diri orang tadi tak tahan mendengar semua itu. Ia berteriak, memakai mulut orang yang malang itu. Tak tahan berada di dekat kehadiran dia yang membawakan keilahian. Kini ada pembicaraan antara roh jahat dan Yesus. Boleh dicatat, bagi Yesus berhadapan dengan roh jahat bukan barang baru. Beberapa waktu sebelumnya, selama 40 hari, ia disertai roh baik dan malaikat berada bersama dengan macam-macam kekuatan gelap dan mengenali gerak gerik mereka (Mrk 1:12-13).
Roh jahat itu meneriakkan tiga kalimat keras. Yang pertama bernada umpatan, “Apa urusanmu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret!”. Ia merasa terganggu oleh kehadiran Yesus. Merasa dirusuhi. Marah. Kenapa tidak ngurus daganganmu sendiri, begitu jalan pikirannya. Ia mengira Yesus sama seperti dia, mencari pengaruh, memasarkan komoditi perkara batin dan kekuatan-kekuatan supernatural. Yang kedua, roh jahat mulai merasa terancam, “Apakah engkau datang untuk membinasakan kami?” Akhirnya ia malah menggertak bahwa ia kenal siapa dia, yakni “Yang Kudus dari Allah.” Mengatakan aku kenal siapa kamu kerap bisa membuat orang jadi rada “groggy”. Ada hal-hal yang disembunyikan yang diketahui! Tapi benar juga bahwa kekuatan jahat betul-betul mengenal apa dan siapa yang ada di situ. Ada wilayah suci yang tak memungkinkan roh jahat bergerak. Dan wilayah itu ada pada “orang dari Nazaret” ini. Keunggulannya jelas dirasakan. Itulah yang disaksikan orang-orang waktu itu dan diberitakan kepada kita sekarang. Mereka makin bertanya-tanya, lalu siapa sebetulnya dia yang diakui kewibawaannya bahkan oleh kawanan roh jahat yang memakai kata “kami” itu. Jadi roh-roh seperti itu merasa terancam dan gentar di hadapan orang Nazaret yang sedemikian dekat dengan Allah yang Mahasuci.
Yesus menghardik  dan  menyuruh  Roh  itu  diam. Kerasukan  kerap  berujud  sebagai  pergi  datangnya  suara-suara yang tak keruan, yang mengacaukan dan menakutkan. Kata-kata roh kepada Yesus itu kedengarannya biasa saja, tapi sebenarnya amat mengacaukan.  Suara-suara itu mau membuat Yesus pergi tanpa mencampuri urusan ini. Mereka mau agar ia tidak menanggung risiko dicurigai berkawan dengan kaum roh seperti itu. Juga diteriakkan apa ia mau menghabisi. Yesus tidak membinasakan roh jahat. Tindakan ini bukan urusannya. Itu urusan Allah Yang Maha Kuasa. Yesus mengeluarkan roh dari dalam diri orang yang kerasukan yang mau mendekat kepadanya. Bahkan boleh dikatakan, roh yang menjahati itu masih diberi kesempatan untuk tidak menjahati lagi dan menemukan kembali asalnya yang sejati.
Sebelum dikeluarkan, roh tadi masih berusaha membingungkan Yesus dan mungkin orang-orang lain dengan gelar “Yang Kudus dari Allah”. Ia mau membuat Yesus mulai takabur, merasa besar, dan mulai merasa diri sama dengan Yang Maha Kuasa sendiri. Tadi roh jahat sudah berteriak apa Yesus itu mau “membinasakan kami” – hal yang hanya bisa dilakukan Allah Maha Kuasa sendiri. Maklum gelar “Yang Kudus” itu dalam kesadaran orang dulu dikenakan kepada Allah sendiri, lihat Yes 40:25 dan 57:15, atau kepada imam Harun yang dipilih Allah untuk berkurban bagi umat seperti Mzm 106:16, atau kepada nabi besar Elisya dalam 2Raj 4:9. Yesus hendak dibuat merasa seperti orang-orang besar itu, bahkan seperti Allah sendiri! Karena itulah Yesus menyuruh roh tadi diam. Lihat betapa pintarnya roh jahat. Mengakui kalah tapi sekaligus mau menanamkan benih ketakaburan yang bakal menjatuhkannya! Tetapi Yesus tetap pada jalannya: ia menyuruh roh itu keluar dari diri orang malang tadi.
APA INI?
Reaksi orang-orang dicatat Markus dalam 1:27. Terjemahan LAI berbunyi, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh ….”. Memang teks aslinya digemakan. Tetapi naskah-naskah tua tidak memakai tanda baca sehingga dapat pula dimengerti dan diterjemahkan sebagai berikut: “Apa ini? Suatu ajaran baru! Disertai dengan kuasa ia memberi perintah kepada roh-roh…” Apa yang hendak dijelaskan Markus dengan ungkapan “disertai dengan kuasa” itu? Ajarannya yang didengar orang banyak atau perintahnya kepada roh-roh? Kedua terjemahan tadi sama cocoknya dengan teks asli. Bila demikian, kiranya Markus hendak menyampaikan bahwa ajaran Yesus dan tindakan mengeluarkan roh jahat berhubungan erat satu sama lain. Kedua-duanya “disertai dengan kuasa”. Bacaan ganda ini juga termasuk makna teksnya.
Injil Markus mengajak kita mendekat kepada pribadi Yesus. Bukan kepada sekumpulan ajaran belaka. Keterpukauan orang-orang yang mengenal Yesus itu disampaikan kepada kita supaya kita berani datang mendekat dan mendengarkannya. Markus juga hendak membuat kita melihat bahwa dalam memberi pengajaran, Yesus juga menyingkirkan pengaruh roh jahat yang mengancam kita. Inilah kebesarannya. Inilah kuasanya. Dan kita diajak mendekat padanya. Amen