Senin, 08 Desember 2014

Tata Ibadah Perayaan Malam Natal




Petunjuk

:

Ø  IBADAH berlangsung secara otomatis


Ø  Jangan LUPA mematikan Hand-Phone
Ø  Saat pembacaan prolog liturgi dimulai, pembawa liturgi sudah tampil ke depan 

















I.      PeRSIAPAN :

Ø Pelayan
:
Berdoa di Konsistori

Ø Lonceng   
:
Jemaat mempersiapkan diri dalam saat teduh pribadi

Ø PROSESI
:
Pendeta, Majelis, Pelayan, Panitia Natal 2014 memasuki gedung Gereja melalui  pintu depan Gereja (diiringi musik; instrument)
&   
 II.    KEBAKTIAN  :   oleh   Liturgis 

Jemaat dipersilahkan bangkit berdiri

1.      Bernyanyi KJ No 109 :  1 + 3  “ Hai Mari Berhimpun ”   Do = G   4 Ketuk

Ø Hai mari, berhimpun dan bersukaria ! turut semua ke Betlehem !
Lihat yang lahir Raja bala sorga !  Sembah dan Puji Dia
Sembah dan Puji Dia,  Sembah dan Puji Dia, Tuhanmu

                               
Ø Gembala dipanggil dari padang raya
   Menuju palungan-Nya yang rendah                         
   Kitapun turut bergegas ke sana! Sembah dan puji Dia,
   Sembah dan puji Dia, sembah dan puji Dia Tuhanmu!



2.      Votum Introitus & Doa

L
:
Demi nama Allah Bapa dan nama AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan nama Roh Kudus Khalik Langit dan Bumi

J
:
Amin
L
:
Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi.Sebab kasih itu berasal dari Allah, dan setiap orang yang mengasihi adalah berasal dari Allah dan anak-anak Allah.
J
:
Barang siapa tidak mengasihi ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah Kasih.
L
:
Dalam hal inilah Kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus anak-Nya yang Tunggal kedunia ini, supaya olehNya kita hidup.
J
:
Inilah kasih itu, bukan kita yang telah mengasihi Allah tetapi Allah yang telah mengasihi kita.
L
:
Allah telah mengutus anak-Nya sebagai pendamai bagi dosa-dosa kita.
Saudara-saudara yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.
J
:
Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah, jika kita saling mengasihi, Allah tetap didalam kita dan kasih-Nya sempurna didalam kita.
L
:
Karena itu sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan,   Gemetarlah di hadapanNya hai segenap bumi, Haleluya !


Mari kita berdoa :
Ya Allah Bapa kami yang di Sorga ! Kami mengucap syukur dan terimakasih kepada-Mu, karena Engkau berkenan melawat kami orang berdosa, dengan perantaraan AnakMu Jesus Kristus yang Engkau utus untuk menebus dosa-dosa kami. Dia telah merendahkan diriNya dan menjadi miskin sehingga Ia lahir di kandang domba di Betlehem, agar kami menjadi kaya. Kuasailah hati kami dan bimbinglah kami dengan rohMu yang kudus agar kami makin mengenal kasih yang dinyatakan oleh  anakMu

L+J
:
A m i n                    (Jemaat dipersilahkan duduk kembali)

3.     marende be no. 57 : 1 - 2 nunga jumpang muse    
·         Nunga jumpang muse ari pesta i, hatutubuni Tuhanta Jesus i
Tuat do Ibana sian surgo i, mebat tu hita on
Hasangapon di Debata, Dame-dame ma di jolma
Las ni roha ni Debata, hajolmaon muse.

·         Beta ale dongan tu Betlehem I, ita somba ma dakdanak na di si
Na tinongos ni parasi roha I, Debata Ama i… Reff

4.     LITURGI I:
      L: Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah, segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak ada satupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

5.     Bernyanyi KJ 85 : 1  “KU SONGSONG BAGAIMANA”
·      Ku songsong bagaimana, ya Yesus, datang Mu ?
Engkau Terang buana, Kau Surya hidupku !
Kiranya Kau sendiri Penyuluh jalanku,
Supaya ku yakini tujuan janji Mu.

6.      responsoria   :    TITUS  2 :  11-15

L
:
Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata
J
:
Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan
L
:
dan keinginan–keinginan duniawi
           J
:
dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini
L
:
dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia
J
:
dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar
L
:
dan JuruSlamat kita Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diriNya bagi kita
J
:
untuk membebaskan kita dari segala kejahatan
L
:
dan untuk menguduskan bagi diriNya suatu umat kepunyaanNya sendiri, yang rajin berbuat baik
J
:
Beritakanlah semuanya itu, nasihatilah dan yakinkanlah orang dengan segala kewibawaanmu. Janganlah ada orang yang menganggap engkau rendah


7.       LITURGI : II
8.       Bernyanyi KJ No 101 : 1  “ Alam Raya Berkumandang ”
 


Alam raya berkumandang oleh pujian mulia
dari gunung, dari padang kidung malaikat bergema.


Glo…….ria in excelsis Deo !
Glo…….ria in excelsis Deo

9.     Liturgi-III : 
L:
Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati

Besar perbuatan-perbuatan Tuhan, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukai-Nya , Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan, Tuhan itu Pengasih dan Penyayang.


10.   PADUAN SUARA :     PP + Ester

11.   Liturgi-Iv : 

         L: Saudara-saudara, hidup kita ini bagaikan uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap, Sang bayi telah lahir, bersukacitalah karena-Nya.Ingatlah bahwa kelak Dia akan datang sebagai Hakim yang Agung.

     
12.  Bernyanyi KJ No 85 : 1 – 2  “Ku Songsong Bagaimana “   
                     .      .         .     .     .    .            .

13.    candle light :  SOLO: MICHAEL. Organ -  O, Holly Night 

ü Selama proses menyalakan LILIN, diiringi organ serta Lampu dipadamkan
ü Pendeta menyalakan Lilin Besar
ü Petugas menyalakan lilin (yang dipegang) dari lilin besar, kemudian  : menyalakan lilin  yang tersedia di depan dan

ü Penatua menyalakan LILIN Jemaat





LILIN sebelah Kanan Jemaat

LILIN sebelah Kiri Jemaat
ü Utusan BPH

ü  Mewakili Pria
ü Utusan Penatua                                           

ü  Mewakili Wanita                                      
ü Ketua Panitia Natal                                      

ü  Mewakili Pemuda - Pemudi  



Ø Narator  : 



14.   marende be no. 54: 1–3 Sonang Ni Borngin Na i  
      (Jemaat dipersilahkan berdiri)



·   
Sonang ni bornginnai, uju ro Jesus i
Sonang modom do halak sude, holan dua na dungo dope
Mangingani anakNa, Jesus Tuhanta i

·   
Denggan ni bornginnai, uju ro Jesus i
Tu parmahan di Betlehem i, dipaboa na di surgo i
Nunga ro Sipangolu, Jesus Tuhanta i

·   
Godangni tua disi, dinaro Jesus i
Tung malua pardosa muse, sian hamagoanna sude
Ala ro Sipangolu, Jesus Tuhanta i

(Jemaat dipersilahkan duduk kembali)


15.   liturgi-V :  AMANAT DAN HARAPAN


L
Malam ini, kita telah mendengar kembali berita NATAL yang tak pernah usang

Kita yang hidup di abad ini, tetap berharap dan bertekad untuk menyemarakkan pemberitaan, kesaksian dan pelayanan , dalam mewujudkan Damai Sejahtera Kristus

16..PADUAN SUARA :  Hana + Bukit Sion


17.     LITURGI :  VI


18.  Bernyanyi KJ No 99: 1 – 2  “Gita Sorga Bergema “   
·         Gita sorga bergema, “Lahir Raja mulia!
Damai dan sejahtera turun dalam dunia."
Bangsa-bangsa, bangkitlah dan bersoraklah serta,
Permaklumkan Kabar Baik: Lahir Kristus, T'rang ajaib!
Gita sorga bergema, "Lahir Raja mulia!"
·         Yang di sorga disembah, Kristus, Raja yang baka,
lahir dalam dunia dan Maria bundaNya.
Dalam daging dikenal Firman Allah yang kekal;
dalam Anak yang kecil nyatalah Imanuel!
Gita sorga bergema, "Lahir Raja mulia!"

 


19.     KHOTBAH :
 THEMA:

20.   Bernyanyi KJ No 18 :  1 + 4 “ Allah hadir bagi kita ”   



Pria      :

Wanita :

Allah hadir bagi kita dan hendak memb’ri berkat,
melimpahkan kua-sa Rohnya bagai hujan yang lebat,
Reff  :     Reff :   Dengan Roh Kudus ya Tuhan, umatMu berkatilah!
            Baharui hati kami; o curahkan kurnia




Pria     :

Wanita :
Penebus, dengarkan kami yang padaMu berseru;
buka tingkap anug’rahMu, brikanlah berkat penuh !
  Reff :   Dengan Roh Kudus  ………………….



21.   PERSEMBAHAN: NATS  Matius 2 : 11

                                                      
                                                        
             Untuk menghantarkan persembahan kita, demikianlah firman Tuhan:

“ Maka masuklah mereka ke dalam rumah  itu dan melihat Anak itu bersama Maria, Ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu mas, kemenyan, dan mur “

    
22.    ende pelean be no. 49 : 6 “sai ro ma tu bara”             bl 47
Tung aha ulaning denggan ni roham, silehononnami baen lasni roham, nang sere, nang perak ndang pinangidon, Ai roha ias sambing do lomom.

 


23.   Doa Penutup & Berkat







Pendeta Resort, Majelis Jemaat, dan Panitiamengucapkan :
Selamat Hari Natal 2014

&

Tahun Baru 2015
 








PENGUMUMAN
Hadiri DAN Meriahkanlah !!!

PERAYAAN NATAL 25 & 26 DESEMBER 2014

          tgl 25    Pkl 10.00 Bhs Indonesia + Perjamuan Kudus
         

PEMBERITAHUAN


Dalam acara NATAL malam ini, disediakan Amplop Bakti NATAL PUSAT GKPI; yang akan dipersembahkan besok dalam Kebaktian Perayaan NATAL tgl 25 Des 2014 saat kolekte ke Depan.



Rabu, 03 Desember 2014

Khotbah dari Yes 64


Pemulihan menjadi sesuatu yang dinanti-nantikan ketika keterpurukan melanda kehidupan seseorang bahkan sekelompok orang. Harapan akan hadirnya pemulihan dinanti-nantikan juga oleh umat Allah saat mereka terpuruk sebagai suatu bangsa. Keterpurukan itu hampir-hampir membuat kehilangan seluruh identitas mereka. Simbol identitas mereka yaitu kota Yerusalem dan Bait Allah mengalami kehancuran (Ay 10-11). Bahkan sebagaian dari mereka harus diasingkan ke Babel, suatu negeri yang tidak mengenal Allah.
Sebagian umat Allah saat itu merefleksikan bahwa apa yang mereka alami adalah suatu tanda bahwa Allah yang selama ini memelihara mereka telah meninggalkan mereka. Di ayat 7 dikatakan, "Tidak ada yang memanggil namaMu atau yang bangkit untuk berpegang kepadaMu, itulah sebabnya Engkau menyembunyikan wajahMu terhadap kami…."
Allah kemudian membiarkan mereka terbuang dan hancur sebagai suatu bangsa karena dosa mereka sendiri. Hal tersebut dinyatakan dalam ayat 5-6, "……sesungguhnya Engkau murka sebab kami berdosa, terhadap Engkau kami memberontak sejak dulu kala. Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor…..dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin."
Ada sebagian umat Israel yang kecewa dan berputus asa karena penderitaan hidup. Mereka kemudian meninggalkan Allah dan berbalik menyembah dewa-dewa bangsa Babel. Mereka ini tidak tahan dengan keadaan. Mereka menanti tetapi akhirnya putus harap dan meninggalkan Allah.
Namun diantara umat Allah itu tidak sedikit yang tetap setia. Mereka setia kepada Allah meski mereka belum melihat adanya pemulihan. Nabi Yesaya dan kelompoknya adalah yang tetap setia kepada Allah. Nabi Yesaya mewaliki mereka mengungkapkan apa yang mereka rasakan dan apa yang mereka alami.
Dalam ayat 1-2, nabi Yesaya mengungkapkan permohonan kepada Allah. Ia mengatakan, "Sekiranya Engakau mengoyakkan langit dan Engkau turun sehingga gunung-gunung goyang di hadapanMu…….untuk membuat namamu dikenal oleh lawan-lawanMu, sehingga bangsa-bangsa gemetar di hadapanMu". Permohonan ini merupakan keyakinan mereka bahwa Allah yang mereka sembah adalah Allah yang berkuasa atas langit dan bumi. Allah sanggup mengoyakkan langit dengan dahsyat. KehadiranNya akan membuat gunung-gunung bergoncang.
Permohonan ini juga disampaikan kepada Allah dengan harapan supaya Allah mau bertindak. Dan tindakan Allah itu akan mencelikkan mata sebagian umat yang menganggap Allah telah terkalahkan oleh dewa-dewa negeri Babel. Nabi Yesaya gregetan terhadap mereka yang menganggap Allah tidak mampu bertindak memberikan pemulihan kepada umatNya.
Nabi Yesaya mewakili seluruh umat memohon belas kasihan kepada Allah. Pengakuan bahwa Allah yang adalah Bapa mereka, diungkapkan supaya Allah mengingat mereka. Allah sebagai Bapa mengetahui kesalahan umat sebagai anak yang memerlukan pengampunan. Gambaran yang lain diungkapkan yaitu Allah sebagai yang membentuk dan umat adalah buatan tanganNya. Umat tidak ada apa-apanya kalau tidak diberikan oleh penciptanya. Ini merupakan ungkapan diri yang jujur dihadapan Allah.
Umat yang diwakili nabi Yesaya juga melihat keberadaan diri mereka sebagai yang memerlukan belas kasihan. Nabi Yesaya mengatakan, "sesungguhnya, pandanglah kiranya, kami adalah umatMu (ayat 9)." Belas kasihan yang dimohonkan tersebut terus dinantikan. Meskipun ketika permohonan ini diungkapkan Allah belum bertindah seperti yang mereka harpakn tetapi mereka terus menantikan pertolongan Allah. Mereka sungguh yakin akan kebesaran Allah dan kuasanya. Ada harapan bahwa mereka yang telah berpaling kepada dewa-dewa itu akan berbalik dan menyembah Allah. Umat Allah menunggu pertolongan Allah dalam waktu yang tidak mereka ketahui tetapi mereka setia.
Dari kisah pergunulan umat Allah jaman nabi Yesaya tersebut, kita melihat dan sekaligus juga diajarkan bahwa dalam menantika pertolongan Tuhan, perlu kesetiaan. Umat Allah itu setia dalam keadaan tidak pasif tetapi aktif. Mereka aktif melihat diri mereka. Mereka mengoreksi diri mereka. Mereka mengakui keberdosaan mereka. Mereka jujur melihat diri mereka apa adanya dan mereka bertobat. Mereka mengakui Allah yang memiliki kehidupan mereka, karena Dia adalah Bapa mereka.
Dalam minggu-minggu adven ini, kita juga diajak untuk terus menantikan pertolongan Allah dengan setia. Pertolongan Allah itu kita harus nantikan dalam hubungan dengan persoalan-persoalan hidup pribadi dan keluarga kita, gereja kita, negara dan bangsa kita bahkan dunia.
Dan yang lebih utama dari semua itu adalah kita terus menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kalinya dengan setia. Dalam menanti, kita perlu terus mengoreksi diri, memperbaiki hati dan pikiran kita untuk semakin serupa dengan Dia. Jangan menjadi lemah dalam menanti, tetapi tetaplah teguh meski kita tidak tau kapan hariNya tiba. Amin. - 


Khotbah Minggu 30 Nopember 2014 Adven 1: Thema; “Tuhan itu Bapa kita” Yes 64:1-9


Salah satu masalah besar yang kita hadapi dalam hidup ini yang pasti menggelisahkan kita adalah ketika kita harus menunggu sesuatu di dalam ketidakpastian. Biasanya berbagai ketidakpastian inilah yang menggelisahkan hati kita. Coba kita Bayangkan ketika seorang ibu yang sedang menantikan kelahiran anaknya. Pada hari yang diperkirakan oleh dokter ternyata si jabang bayi tidak kunjung lahir juga. Ketika orang-orang yang sedang dalam keadaan sakit, demikian lama mereka berharap dan menunggu, tetapi tidak ada kejelasan mereka akan sembuh atau tidak. Atau juga seorang Pria/Wanita yang telah lama menantikan hadirnya jodoh yang ditentukan baginya. Ia bergumul dengan dua pertanyaan ini: apakah saya akan berjodoh dengan seseorang ataukah saya harus melajang seumur hidup saya? Mungkin juga kita sedang menunggu pengumuman penting di kantor, apakah kita menjadi salah seorang pegawai yang turut mendapatkan kenaikan pangkat tahun ini.
Semua ketidakpastian ini pastinya sangat menggelisahkan hati kita, membuat kita tidak merasa nyaman dan cemas. Kita lebih suka dengan jawaban ya atau tidak, kita tidak suka menunggu jawaban dalam waktu yang cukup lama. Di dalam hidup ini sering kali kita tidak merasa sabar atas sesuatu, semuanya harus serba pasti. Akibatnya, kita akan merasa gelisah ketika kita menjumpai sebuah ketidakpastian di dalam hidup ini.
Firman Tuhan dlm Yesaya 64:4: "Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau [Tuhan] yang berbuat demikian".Di sini Tuhan digambarkan sebagai pribadi yang bertindak bagi orang yang menantikan-Nya, bertindak sebagai Bapa yg baik. Bukankah ini adalah sebuah kabar baik? Apabila dikatakan bahwa Tuhan akan bertindak bagi mereka yang menanti-nantikan-Nya, itu menandakan dua hal. Yang pertama adalah Tuhan bertindak, dan yang kedua adalah orang-orang yang menanti-nantikan Dia.
Apabila kita percaya bahwa Tuhan bertindak, maka kita pun harus percaya bahwa Dia akan bertindak pada waktu-Nya, sehingga kita harus sabar menantikan saat itu tiba. Dengan kata lain, kita harus memahami bahwa waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Tuhan bertindak bagi orang-orang yang menanti-nantikan Dia. Jadi ada saatnya kita memang harus menunggu tindakan Allah dengan gelisah. Sering kali pada masa penantian itu kita dengan cemas bertanya-tanya, mengapa Tuhan tidak segera bertindak? Mengapa Dia tidak melakukan apa yang dipandang-Nya benar? Mengapa Dia tidak menjawab doa kita pada saat itu juga? Sekali lagi, Tuhan hendak mengajar kita untuk melihat perbedaan waktu-Nya dengan waktu kita. Dan jika memang kita merasa bahwa waktu itu terlalu lama, itu artinya Dia menghendaki kita untuk menunggu, walaupun dengan perasaan tidak tenang dan gelisah. 
 Alangkah menariknya ketika kita memperhatikan orang-orang yang sedang menunggu giliran di sebuah ruang tunggu dokter gigi. Biasanya mereka datang dengan muka muram dan tegang, (lebih baik sakit hati dr pd sakit gigi). Uniknya, ketika nama mereka dipanggil untuk giliran selanjutnya, mereka pun tidak menunjukkan ekspresi yang senang, bahkan ada yang merasa semakin tegang. Saya sering mendengar keluhan beberapa orang yang gelisah melihat anak atau cucunya belum mendapatkan jodohnya. Padahal mungkin yang bersangkutan malah bersikap santai. Semuanya itu memperlihatkan bagaimana untuk menunggu hal-hal yang wajar secara manusiawi, manusia dapat menjadi cemas, apalagi ketika kita sedang menunggu-nunggu Allah bertindak dalam hidup kita. Ketika kita jatuh sakit, kita berharap Allah segera menyembuhkan kita. Ternyata penyakit itu tidak kunjung sembuh. Kegelisahan itu akan terus menggerogoti pikiran kita. Tetapi mau tidak mau kita harus menunggu? 
 Menunggu adalah hal yang sangat menggelisahkan, terutama apabila kita menunggu waktu Tuhan bekerja atas sesuatu. Bangsa Israel pernah mengalami penantian yang membosankan. Ketika Musa sedang bersama dengan Allah di atas gunung Sinai, mereka merasa bahwa Musa terlalu lama berada di sana. Seharusnya ia segera turun dari gunung itu untuk memimpin mereka kembali, dan mereka pun menjadi sangat gelisah. Di antara mereka muncul berbagai dugaan, bisa jadi Musa telah wafat, atau mungkin ia telah pergi meninggalkan mereka, atau bahkan telah diangkat oleh Tuhan ke surga. Di tengah-tengah ketidakpastian itu mereka mengambil keputusan untuk mengumpulkan semua anting-anting serta perhiasan emas mereka dan meleburnya menjadi sebuah patung anak lembu emas untuk disembah. Begitu mudah bagi mereka untuk melepaskan diri dari ketidaksabaran untuk menunggu Musa mendapatkan hukum dari Allah bagi mereka. Mereka dengan mudahnya melupakan semua pertolongan serta mukjizat yang Allah nyatakan dalam sepanjang kehidupan mereka. Itulah sebabnya Musa begitu murka ketika kembali dan mendapati mereka berbuat tidak setia terhadap Allah.
Ada seseorang memakai kaus oblong bertuliskan "Yesus Juruselamat dunia." ia mengaku bahwa dirinya adalah seorang majelis jemaat. Dia memiliki sebuah toko yang tidak pernah ramai oleh pembeli. Ia merasa Tuhan tidak menjawab doanya untuk membuat tokonya laris. Lalu ia mengikuti saran temannya untuk meminta petunjuk dari seorang paranormal.  Ketika kami menegurnya atas tindakan ini, bapak tersebut justru berkata,"  Ya ... untuk jaga-jaga saja.  Kalau dengan Yesus tidak berhasil, ya dengan yang ini semoga bisa berhasil.  Apalagi kalau Yesus bisa bekerja sama dengan paranormal tadi.  Pasti hebat hasilnya."
Tatkala kita mengalami sakit, kita mencoba untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sembari memohon kesembuhan dari-Nya.  Tetapi ada kalanya kita tidak kunjung sembuh sehingga kita mulai memikirkan banyak alternatif di luar Kristus. Walaupun kita tahu bahwa pilihan pengobatan alternatif itu salah, apalagi dengan disebutkannya nama-nama di luar Tuhan kita, tetapi kita tidak sabar menunggu jawaban kesembuhan dari Tuhan, sehingga kita tetap melakukannya. Dengan mudahnya kita berkata bahwa kita akan meminta pengampunan dari Tuhan setelah kita sembuh berkat pengobatan alternatif itu. Tatkala kita tidak sabar menantikan jawaban serta tindakan Tuhan, sering kali kita bertindak seperti orang Israel, yaitu memutuskan untuk memakai berbagai jalan pintas yang justru bertentangan dengan kehendak-Nya, bahkan yang dibenci oleh-Nya.
Ketidaksabaran kita dalam menantikan waktu Tuhan selalu memunculkan masalah baru. Misalnya saja apabila kita merasa tidak menemukan lagi kecocokan dengan pasangan hidup kita -baik suami maupun istri- dan kita tidak sabar menunggu waktu Tuhan bekerja untuk mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik, maka dengan mudahnya kita memutuskan untuk bercerai dan mencari pasangan baru yang kita anggap lebih memahami kita dan lebih baik dari pasangan terdahulu.
Ketidaksabaran kita dalam menantikan waktu Tuhan, juga membuat kita melakukan banyak hal yang menyakiti hati-Nya dan orang lain. Kita selalu bersungut-sungut? Jawabannya terdapat pada ayat 8: "Tetapi sekarang, ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu". Inilah faktanya, bahwa didalam masa penantian itu, sebenarnya Tuhan sedang membentuk hidup kita, dengan kata lain, kita sedang dibentuk oleh sang Pembuat. Waktu yang terasa lambat dan lama itu sebenarnya merupakan masa Tuhan mempersiapkan hidup kita untuk menerima berkat-Nya. Jadi pada saat kita bertanya-tanya mengapa Tuhan begitu lama menjawab doa kita, pada saat itulah sebenarnya Dia sedang membentuk dan mempersiapkan kehidupan kita sehingga pada saat yang tepat, hidup serta karakter kita telah terbentuk tepat seperti yang diharapkan-Nya pada saat Dia memberi jawaban atau berkat kepada kita. Sering kali orang yang tidak siap, baik itu mempersiapkan diri, disiapkan oleh Tuhan, maupun menolak untuk disiapkan oleh Tuhan, justru akan menemui serta membuat masalah baru.
Kita banyak menjumpai orang yang dulunya berkekurangan secara material tetapi kehidupan keluarganya bahagia dan suami-istri saling mendoakan, terutama agar keuangan mereka diberkati lebih dari cukup. Tetapi di kala mereka telah diberkati dengan limpah secara material, sang suami mulai tergoda untuk memalingkan hati dan perhatiannya kepada wanita lain, mereka tidak lagi saling mendoakan.(Ill. Calon Pnt. Yg mengundurkan diri atas desakan istri; Suami guru naek sepeda istri berdoa spy ada kreta) Harta yang menjadi jawaban atas doa mereka ternyata tidak menjadi berkat, malah menimbulkan masalah baru. Mengapa? Karena mereka, terutama sang suami, tidak cukup matang dan siap dalam hal karakter dan iman untuk menerima berkat Tuhan, sehingga ia tidak mampu bereaksi tepat seperti yang diharapkan-Nya. Berkat Tuhan justru menjadi masalah baru, tidak lagi berkat.
Begitu pula ketika kita sakit, ada saatnya Tuhan membentuk kita terlebih dahulu supaya kita siap menerima berkat kesembuhan itu. Ketika saya sedang mengunjungi seorang pria yang sedang sakit, istrinya malah berharap agar ia tidak segera sembuh. Menurutnya, jika segera sembuh, maka sang suami akan segera kembali menjadi pria yang berperangai kasar, suka memukul dan menyakitinya serta anak-anak mereka. Itulah yang menjadi alasan Tuhan tidak segera menjawab doa kita. Dia harus membentuk sifat, karakter, iman, serta hati kita terlebih dahulu untuk menyiapkan kita menerima jawaban doa tepat pada waktunya. Ketika kita siap menerima jawaban dari pergumulan kita, karakter serta perilaku dan iman kita terbentuk, maka saat itulah Tuhan siap bertindak bagi kita, dan kita akan menerimanya dengan bahagia.

Kita semua memiliki berbagai pengalaman mengenai belum terjawabnya doa kita, sehingga itu menggelisahkan hati kita. Tetapi apabila kita mencoba memahami bahwa waktu Tuhan tidaklah sama dengan waktu manusia, dan melihat bahwa di dalam masa penantian itu Tuhan sedang menguji dan membentuk karakter kita supaya kita siap menerima jawaban Tuhan, maka masa itu menjadi masa yang tidak menggelisahkan. Sebaliknya, masa penantian itu adalah saat yang baik bagi kita untuk diperbaiki dan dibentuk, seperti tanah liat di tangan Tuhan, sang Pembentuk kita. Kita tidak boleh marah apalagi sampai bertindak konyol dengan melakukan hal-hal yang menyakiti hati-Nya apabila doa kita belum terjawab. Memang tindakan Tuhan sering kali terasa lambat, tetapi Dia tidak pernah terlambat. Masa penantian adalah masa di mana Tuhan terus membentuk hidup kita. Amen