Rabu, 04 Juni 2014

Khotbah Minggu 29 Juni 2014- Roma 6 : 12-23 Thema: “Hiduplah dalam Pembenaran, Pengudusan dan Kasih”


Setelah mempelajari tentang implikasi perbedaan manusia pertama dan kedua poin kedua yaitu kehidupan yang mati vs kematian yang hidup di pasal 6 ayat 1 s/d 11, mulai ayat 12 s/d 23, Paulus mulai mengimplikasikan secara praktis di dalam hidup yang melawan dosa.
Setelah kita dibaptiskan di dalam kematian-Nya dan memperoleh hidup baru di dalam kebangkitan-Nya, kita tidak boleh lagi hidup di dalam dosa. Apa artinya ? Ada dua arti.
Pertama, tidak lagi hidup di dalam dosa berarti hidup kita tidak ditundukkan di bawah dosa. Hal ini diajarkan Paulus di ayat 12, “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” Kata “berkuasa” dalam KJV diterjemahkan reign yang dalam bahasa Yunani berkaitan dengan kerajaan. Dengan kata lain, Paulus memakai metafora ketika ia mengajar bahwa dosa di sini sebagai tuan manusia ketika manusia masih menjadi hamba dosa. Ketika manusia masih menjadi hamba dosa, manusia itu tetap manusia lama yang menjadikan dosa sebagai tuannya. Karena itu Paulus mengajar jemaat Roma (dan kita juga) untuk tidak menyerah kalah terhadap kedagingan kita, melainkan kita harus berani menolak dosa. Bagaimana caranya ? Paulus menjelaskan bahwa kita bisa menolak dosa dengan tidak menuruti keinginan dosa.
Kedua, tidak hidup di dalam dosa berarti kita tidak menyerahkan anggota tubuh kita sebagai alat dosa. Di ayat 13, Paulus mengajarkan hal ini, “Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.” Kata “menyerahkan” berarti ada unsur penyerahan aktif dari pribadi tertentu kepada pribadi lain. Demikian pula, ketika ayat ini mengajarkan bahwa kita jangan menyerahkan anggota-anggota tubuh kita kepada dosa berarti kita tidak boleh lagi secara aktif berperan serta di dalam dosa apalagi untuk sesuatu yang lalim. Kata “kelaliman” dalam ayat ini bahasa Yunaninya adikia berarti injustice (=ketidakadilan). Dengan kata lain, kita tidak boleh menyerahkan tubuh kita untuk dipakai iblis dalam mengerjakan apapun yang tidak adil atau jahat karena itu melawan Allah dan berdosa. Mengapa kita bisa melakukan semuanya itu ? Paulus memberikan jawabannya di ayat 14, “Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia.” Yaitu, karena kita tidak dikuasai lagi oleh dosa, atau tidak memerintah hidup kita, maka kita tidak hidup di dalam dosa.
Hari ini, setelah kita merenungkan ketiga ayat ini, adakah hati kita tergerak untuk tidak lagi hidup bermain-main di dalam dosa ? Adakah kita berkomitmen untuk menggemari dosa, tetapi sebaliknya menggemari Firman Allah dan Kebenarannya ? Itulah citra diri manusia baru yang telah ditebus Kristus dari hidup yang sia-sia
Rasul Paulus mengatakan, “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran…sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran…Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal” (Rm. 6:18, 20, 22). Di sini rasul Paulus sedang berbicara tentang perubahan status dari orang-orang yang menerima dan percaya kepada Yesus Kristus, yaitu mereka yang tadinya adalah “hamba dosa” sekarang menjadi “hamba kebenaran.” Berdasarkan ayat-ayat ini, menjadi hamba kebenaran berarti menjadi “hamba Allah.” Apa istimewanya menjadi hamba Allah? Kita membaca di sini bahwa dengan menjadi hamba Allah akan menghasilkan buah berupa pengudusan, dan dari pengudusan akhirnya kepada hidup yang kekal. Sedangkan “hamba dosa” telah menyebabkan kemerosotan (Rm. 3:23) dan berujung kepada kebinasaan (Rm. 6:23).
Dalam Perjanjian Baru penebusan selalu dikaitkan dengan kata hamba (=budak) dan kebebasan (=kemerdekaan). Ketiga kata ini merupakan kata-kata kunci dalam konsep keselamatan menurut teologi Kristen sebagaimana diperkenalkan oleh Paulus dan rasul-rasul lainnya di abad pertama. Perlu diingat, teologi Kristen yang diajarkan Yesus Kristus dan disebarluaskan oleh murid-murid dan rasul-rasul lainnya itu diperkenalkan tatkala perbudakan sedang marak-maraknya. Istilah-istilah yang lazim dalam dunia perbudakan itu digunakan sebagai metafora dalam rangka menyajikan rencana keselamatan Allah dan pelaksanaannya secara lebih mudah untuk dipahami oleh masyarakat pada masa itu. Orang berdosa itu sama seperti seorang hamba atau budak yang sedang berada di tangan majikan yang menguasainya, dan untuk memerdekakannya harus dengan tebusan.
“Bila kita memahami penebusan sebagai kemerdekaan dari suatu bentuk perbudakan yang menuntut bantuan dari luar, kita bisa menyimpulkan bahwa umat manusia yang berdosa itu terikat oleh suatu kuasa atau pengaruh yang lebih kuat daripada dirinya. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah: Oleh kuasa atau perantara apakah umat manusia yang berdosa itu telah begitu terikat?” [alinea pertama].
Zaman perbudakan adalah masa di mana kemanusiaan berada di titik nadir, keadaan terendah dalam peradaban, tatkala manusia diperlakukan seperti benda atau barang dagangan yang diperjual-belikan. Perbudakan memiliki sejarah terpanjang dalam hikayat manusia, di mana menurut catatan perbudakan telah dikenal sejak zaman Hamurabi sehingga hal itu termaktub dalam Code of Hammurabi (1760 SM); perbudakan baru berakhir secara resmi tahun 1981 ketika Mauritania, sebuah negara bekas jajahan Prancis di Afrika Barat, mengumumkan pemberlakuan UU Abolisi Perbudakan dan menjadikannya sebagai negara terakhir di dunia yang melarang perbudakan.
Dalam Roma 6:12-23, ini rasul Paulus juga mengingatkan bahwa sebagai orang-orang yang sudah ditebus dari perhambaan dosa kita tidak lagi menjadi “hamba dosa” tetapi sudah menjadi “hamba kebenaran.” Penggunaan kata “hamba” di sini untuk mempertahankan pemahaman tentang makna kepatuhan, yang semula tunduk kepada keinginan dosa sekarang tunduk kepada tuntutan kebenaran. Kalau tadinya sebagai hamba dosa telah menimbulkan kecemaran yang akan berakhir dalam kebinasaan, sekarang sebagai hamba kebenaran membuahkan kekudusan yang berujung kepada hidup kekal.
Peralihan dari “hamba dosa” kepada “hamba kebenaran” (=hamba Allah) adalah sebuah pengalaman sangat istimewa yang momentumnya perlu terus dipelihara, agar seseorang yang semula diperhamba oleh dosa menyadari akan kemerdekaannya sehingga tidak selalu merasa dikendalikan oleh kuasa dosa. Sebaliknya, menjadi hamba kebenaran adalah memiliki kebebasan untuk melakukan hal-hal yang benar tanpa dihalang-halangi lagi oleh kuasa dosa yang sudah tak berdaya lagi. Namun, seringkali kebiasaan hidup berdosa yang sudah mendarah-daging itu masih terbawa terus walaupun kita sekarang sudah menjadi hamba Allah. Seperti mantan narapidana yang baru dibebaskan setelah bertahun-tahun meringkuk di balik jeruji besi, acapkali agak sukar baginya untuk bisa langsung berperilaku sebagai orang merdeka. Sehingga rasul Paulus mengingatkan, “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup.
Apa yang kita pelajari tentang dimerdekakan dari perbudakan dosa?
1. Kemerdekaan dari perbudakan dosa adalah keadaan di mana manusia tidak lagi terikat pada keinginan alamiah untuk berbuat dosa. Sebagaimana seorang budak yang dibebaskan dari perbudakan memiliki kesempatan untuk menikmati hidup yang lebih bermartabat, demikianlah seorang hamba dosa yang sudah dimerdekakan itu beroleh kesempatan untuk hidup lebih suci/Kudus.
2. Dimerdekakan dari perhambaan dosa bukanlah atas kekuatan kita sendiri melainkan itu adalah karunia Tuhan. Status baru ini memberi suatu kesempatan kepada kita untuk hidup terlepas dari kekangan dosa, dan untuk melakukan kebenaran sehingga kita disebut sebagai “hamba kebenaran.”
3. Meskipun Allah telah menyediakan kemerdekaan dari perhambaan dosa bagi setiap orang, namun pilihan tetap berada pada diri orang itu sendiri. Tidak seperti perbudakan fisik yang berasal dari kehendak di luar diri orang yang dijadikan budak itu, perhambaan dosa berpangkal di dalam diri orang yang menjadi hamba dosa itu sendiri. Jika kita benar2 mengasihi Kristus yang telah melahirkan kita kembali melalui KasihNya, kita tidak akan melakukan dosa lagi.
Amen


Senin, 02 Juni 2014

Khotbah Minggu 22 Juni 2014 Mateus 10: 24-39 Thema: Mengakui Yesus di depan Manusia”


Dalam buku kumpulan cerita bermakna, saya membaca sebuah cerita bagus yang menceritakan tentang seorang ibu yang menulis sebuah artikel menarik tentang pengalamannya mendekor ulang rumahnya. Segala sesuatu berjalan dengan lancar sampai suatu hari, suaminya menolak nasihat ahli dekorasi interior yang mereka sewa. Sang suami ingin tetap memasang sebuah lukisan Yesus yang besar pada dinding di ruang tamu.
          Ibu itu mencoba untuk menasihati suaminya agar berpikir ulang, tetapi ia menolaknya dengan keras. Kemudian, setelah diskusi dengannya, sang istri teringat pada sabda Tuhan ini: “Setiap orang yang mengakui Aku di depan orang lain, Aku akan mengakuinya di hadapan Bapa-Ku yang di surga (Mat 10:32).” Perdebatan di antara mereka selesai. Suaminya yang menang.
          Kini, ibu itu mengaku bahwa ia gembira karena suaminya yang menang sebab lukisan itu ternyata mempunyai pengaruh yang luar biasa bagi keluarga dan para tamu. Suatu hari, seorang tamu bgerkunjung dan memandangi lukisan itu. Akhirnya tamu itu berkata kepadanya, “Sebetulnya mata Yesus itu tidak sedang memandang kepada kalian, tetapi ia memandang lewat kalian.”
Dan suatu malam, seorang sahabat yang lain duduk di seberang lukisan itu berkata,  “Aku selalu merasa begitu damai bila berada di rumahmu ini.”
Ibu itu menutup artikelnya dengan berkata, dia tahu orang lain akan tersenyum mendengar kata-katanya itu, bahkan mungkin menertawakannya, tetapi dia tidak peduli. “Inilah yang saya ketahui,” katanya, “Ketika anda mengundang Yesus masuk ke dalam rumahmu, Anda tidak akan menjadi orang yang sama lagi.”
          Saudara/iku terkasih, penginjil Matius dalam bacaan hari ini memberi pesan kepada kita akan 2 hal penting yakni: Teladan dan Ketaatan! Dalam perutusan para murid, Yesus berpesan kepada mereka supaya di dalam menjalankan perutusan mereka harus tetap taat dan setia kepada tugas dan perutusan Yesus; selain itu pula mereka harus mampu untuk menjadi teladan dalam hal cara hidup bagi orang-orang di tempat mereka berkarya.
          Kedua poin ini diharapakan oleh Yesus untuk menjadi keutamaan yang harus dimiliki oleh setiap keluarga Kristiani. Tak terkecuali saudara/i sekalian. Yesus senantiasa mengharapkan agar dalam hidup kita sehari-hari, kita mampu untuk menjadi pewarta kabar sukacita Kristus bagi orang lain; siapapun dia, terlepas dari status kita; baik kita sebagai pelayan umat atau sebagai bapa keluarga, ibu rumah-tangga ataupun sebagai anak dalam keluarga. Pola pewartaan kita tentu harus sesuai dengan status kita masing-masing.
          Pertama, kepada setiap orang tua diharapkan agar menjalankan fungsinya dengan baik; tentu dengan cara memberikan teladan yang baik kepada anak-anaknya. Teladan yang dimaksudkan ialah cara hidup yang baik, keharmonisan yang terjalin antara suami dengan istri atau istri dengan suami, serta rasa cinta dan kasih kepada anak-anaknya. Selain itu pula para orangtua diharapkan memberi nasehat serta pelajaran berharga yang nantinya dapat berguna bagi anak-anaknya untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang dewasa baik dalam iman, harap dan kasih.  
         Kedua, kepada setiap anak-anak sebagai generasi  Kristiani diharapkan memiliki ketaatan yang mantap kepada orangtuanya. Ketaatan yang dimaksudkan ialah rasa hormat dan patuh kepada orangtua, yang dibarengi oleh rasa pengabdian dan kesadaran bahwa orangtua merupakan perpanjangan tangan dari Tuhan untuk membentuk kita menjadi pribadi yang dewasa dan matang.
Saudara/I Dalam kehidupan sehari-hari betapa sering tanpa kita sadari makna percaya kepada Kristus hanya dihayati sebagai perjuangan spiritualitas untuk menghayati pengajaran-pengajaran Kristus. Sehingga tokoh Yesus Kristus sering hanya dihayati sebagai seorang “guru moral” atau pengajar yang bijaksana dan berpengaruh luas. Padahal kita akan dimampukan untuk melaksanakan seluruh pengajaran dari Kristus, ketika kita memiliki hubungan yang personal dan intim dengan Dia. Ketika dalam kehidupan iman sehari-hari kita mau menerapkan hubungan kita dengan Kristus sebagai seorang mempelai, maka kehidupan kita akan dipenuhi oleh kuasa anugerahNya yang memampukan kita untuk melaksanakan kehendak dan rencana Allah. Karena itu  persekutuan atau relasi yang personal dengan Kristus pada hakikatnya tidak dapat ditawar atau dinegosiasi lagi jikalau kita ingin menanggalkan dan menyalibkan manusia lama yang kita miliki. Bahkan makna relasi kita dengan Kristus harus melebihi relasi dan kasih kita kepada orang-orang yang kita cintai. Di Mat. 10:37, Tuhan Yesus berkata:“Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku”.  Perkataan Tuhan Yesus tersebut hendak menegaskan sesuatu yang sangat fundamental, yaitu bahwa Dia memiliki hak untuk memperoleh prioritas yang paling utama sehingga manusia harus mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa dan akal-budinya melebihi kasih mereka kepada orang-orang yang dicintainya seperti kasih kepada ayah, ibu dan anak-anaknya. Bukankah dalam perkataan Tuhan Yesus tersebut menggemakan firmanNya agar manusia mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal-budinya (Mat. 22:37)? Jadi bukankah terdapat paralelisme gagasan teologis antara ajaran Tuhan Yesus di Mat. 22:37 dengan Mat. 10:37?  Bukankah inti dari Mat. 22:37 dan Mat. 10:37 merupakan panggilan dan dasar pijak bagi umat manusia untuk memprioritaskan diri Kristus sebagai yang paling utama, sehingga setiap orang tanpa terkecuali dengan hati yang tulus mempersekutukan dirinya sebagai seorang mempelai wanita yang sungguh-sungguh mau mengasihi mempelai pria dengan seluruh hidupnya?
                 Kesediaan diri untuk  mempersekutukan dengan Kristus pada satu pihak memberikan karunia bagi kita untuk terus dimampukan melaksanakan kehendak Allah;  dan pada pihak lain mengajak kita untuk berani mengambil pilihan hidup secara tepat. Pilihan hidup yang perlu ditempuh dan dilakukan oleh setiap orang percaya kepada Kristus adalah:
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:38).
“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat. 10:39).
 Ungkapan Tuhan Yesus yang menyatakan “barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” jelas suatu ungkapan yang berkias. Arti “memikul salib” secara harafiah lebih tepat diterjemahkan dengan “memikul palang salib” sebab pada zaman dahulu orang-orang yang dihukum salib dipaksa untuk memikul sebuah balok berat  (crossbeam) ke tempat dia akan dieksekusi. Jadi arti simbolis dalam ucapan Tuhan Yesus tersebut merupakan suatu panggilan agar setiap orang percaya mau mengambil keputusan yang disadari yaitu mau menyangkal diri secara total dan berjalan di belakang Kristus menuju tempat Dia akan dieksekusi mati. Kesediaan mau menyangkal diri berarti pula kesediaan untuk menampik atau menolak berbagai keinginan duniawi yang pada puncaknya rela kehilangan nyawa. Di sinilah kita sering gagal untuk mengikut Kristus dalam arti yang sesungguhnya karena kita sering gagal untuk menolak berbagai keinginan duniawi. Padahal seseorang yang sedang  memikul palang salib senantiasa berjuang dan berupaya sedemikian rupa untuk tetap tegar menuju ke tempat eksekusi! Jadi seharusnya setiap orang Kristen yang ingin memperoleh kehidupan sebagai manusia baru di dalam Kristus harus bersedia  menyalibkan manusia lamanya dengan jalan senantiasa mau menyangkal diri.  Tapi kehausan kita untuk serakah, egois, iri-hati dan memperoleh sebanyak-banyaknya kenikmatan duniawi yang menyebabkan kita tidak tahan untuk berjalan memikul palang salib di belakang Kristus.
 Perkataan Tuhan Yesus yang menyatakan: “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat. 10:39) sering disalahpahami maknanya. Dalam hal ini Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa hidup atau nyawa seseorang itu tidak bernilai sehingga tidak perlu diperjuangkan dan dipertahankan. Sebab yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus justru mau menegaskan bahwa hidup atau nyawa manusia begitu bernilai, karena itu janganlah hidup itu dipertahankan dengan cara-cara yang merugikan nilai dan martabat dirinya. Karena betapa sering manusia berupaya untuk “mempertahankan nyawa” (hidupnya) dengan cara-cara yang tidak etis, tidak bermoral dan bersifat egosentris. Karena keadaan yang sulit, seseorang merasa berhak untuk merampas hak milik orang lain. Karena kemiskinan, seseorang merasa berhak melakukan perbuatan tercela. Karena merasa dirinya kuat dan berkuasa, maka seseorang sering merasa berhak untuk menindas dan menekan sesamanya yang lemah. Sikap mereka secara duniawi tampaknya berhasil mempertahankan hidup, tetapi sesungguhnya mereka telah menghancurkan nilai-nilai dan makna dari hidupnya yang paling esensial. Mereka gagal total menghargai kehidupan atau nyawanya sendiri dengan cara merebut atau merampas hak hidup orang lain. Itu sebabnya mereka tetap hidup sebagai manusia lama yang tetap dibelenggu oleh kuasa dosa. Tetapi hidup mereka akan berubah secara drastis dan dapat menjadi manusia baru di dalam Kristus, ketika mereka mau menanggalkan pola hidupnya yang lama dengan cara mempersekutukan diri secara personal dengan Kristus; yaitu ketika mereka bersedia kehilangan nyawa karena Kristus. Mereka bersedia menolak godaan dan tawaran duniawi dengan tetap konsisten berjalan di belakang Kristus. Jadi dalam persekutuan dengan Kristus, seseorang yang kehilangan hidupnya secara duniawi justru bertujuan supaya mereka dapat mengalami suatu kehidupan yang bermakna dan otentik.
 Jika demikian, apakah saudara saat ini secara pribadi telah memiliki persekutuan dengan Tuhan Yesus? Ataukah saudara masih menempatkan Kristus sekedar sebagai guru moral atau pengajar yang bijaksana, tetapi saudara belum memiliki hubungan yang personal dengan Dia? Apabila kita belum memiliki hubungan yang personal dan khusus dengan Tuhan Yesus, maka kasih kita kepadaNya tidak pernah melebihi kasih kita kepada orang-orang yang kita cintai. Mereka terlalu kita cintai, tetapi pada sisi yang lain sebenarnya kita telah menjerumuskan hidup kita dan orang-orang yang kita cintai kepada kuasa dunia ini.  Tetapi sebaliknya ketika kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan Yesus dengan segenap hati dan kasih kita kepadaNya melebihi semua hal di dunia ini, kita justru akan dimampukan untuk mengasihi secara benar setiap orang yang ada di sekitar kita. Bagaimanakah sikap saudara sekarang? Amin. Dari berbagai sumber.


Minggu, 01 Juni 2014

Khotbah Minggu 15 Juni 2014 Kejadian 1:1-2+ 4a Thema: “Memuji Allah Sang Pencipta”

Pendahuluan:
Kitab Kejadian adalah kitab yang pertama dalam  Alkitab. Kitab ini dibagi atas 50 pasal dan berisi dua hal penting: Pertama: Sejarah peristiwa-peristiwa penting.  Kedua: Sejarah Bapak-bapak orang beriman. Melalui dua pembagian ini, dapat dilihat kemahakuasaan Allah dalam setiap peristiwa  penting dan juga kemahakuasaan kehendak Allah yang bekerja  dalam kehidupan setiap Bapak orang beriman.
Kitab Kejadian memberikan penjelasan mengenai Manusia sbb: Pertama, manusia adalah ciptaan Tuhan Allah. Manusia bukan hasil evolusi panjang dan berjuta-juta tahun dari mahluk yang paling sederhana seperti mikroba, lalu berkembang menjadi mahluk-mahluk yang lebih kompleks yang disebut binatang kemudian menjadi manusia, seperti anggapan penganjur teori Evolusi Darwin. Manusia, bukan “percikan api Ilahi” yang terperangkap dalam tubuh yang harus mengalami pembebasan kepada hakikatnya yang abadi, sebagaimana diajarkan kaum Gnostik, Kebatinan, Gerakan Zaman Baru, Hinduisme, Budhisme. Manusia adalah “keberadaan yang adanya diadakan oleh Yang Ada secara kekal”. Dialah Tuhan Allah yang memulai segala sesuatu dan Ada sebelum segala sesuatu dan Ada dengan sendirinya.
I.             1)   Kej 1 merupakan fakta sejarah:
Ada orang-orang (golongan Liberal) yang mengatakan bahwa Kej 1-11 bukanlah fakta sejarah, tetapi sekedar suatu dongeng, illustrasi, perum-pamaan dsb. Ini salah, dan bahkan sesat! Karena itu hati-hatilah dengan semua pengkhotbah / pendeta / gereja yang mempunyai pandangan demikian. Perlu diperhatikan bahwa pada awal dari Kej 1 tidak digunakan kata-kata ‘once upon a time / pada suatu waktu’ seperti yang digunakan dalam dongeng-dongeng pada umumnya! Tetapi di sini digunakan kata-kata ‘in the beginning / pada mulanya’ (Kej 1:1). Ini jelas menunjukkan bahwa Kej 1 itu bukanlah suatu dongeng atau illustrasi, tetapi merupakan fakta sejarah. Disamping itu:
·        Kej 2:1 yang berbunyi: “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya” jelas menunjukkan bahwa Kej 1 adalah fakta sejarah.
·        Kel 20:11 yang berbunyi: “Sebab enam hari lamanya TUHAN menja-dikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan mengu-duskannya”, jelas juga menunjukkan bahwa Kej 1 merupakan fakta sejarah. Kalau Kej 1 itu hanyalah dongeng, illustrasi, dsb, maka itu berarti bahwa Allah menetapkan hari ke 7 sebagai hari Sabat berda-sarkan suatu dongeng! Ini betul-betul tidak masuk akal.
2)   Alkitab menyatakan Allah.
Pada awal dari Alkitab, pada Kej 1:1 sudah dikatakan tentang ‘Allah’. Alkitab memang menyatakan Allah kepada kita. Jadi, pada waktu meng-hampiri Alkitab, kita harus mempunyai keinginan untuk mengenal Allah.
Penerapan: Apakah saudara mempunyai keinginan untuk mengenal Allah? Dan apakah saudara belajar Firman Tuhan dengan tujuan supaya mengenal Allah atau lebih mengenal Allah? Kalau tidak, tidak ada guna-nya saudara belajar Alkitab!
3)   Allah adalah pencipta segala sesuatu.
Allah yang disebut dalam Kej 1:1 itu adalah Pencipta! Ini salah satu bagian Kitab Suci yang mendasari kalimat pertama dari 12 Pengakuan Iman Rasuli yang berbunyi: “Aku percaya kepada Allah, Bapa yang mahakuasa, khalik langit dan bumi”.

II) Penciptaan yang dilakukan oleh Allah.
 Allah menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1-2).
Ada suatu teori / penafsiran yang salah tentang Kej 1:1-2 ini, yang disebut ‘Gap Theory’. Teori ini mengatakan bahwa di antara Kej 1:1 dan Kej 1:2 terdapat ‘gap’ (= celah / selang waktu) yang lamanya jutaan tahun atau bahkan ratusan juta tahun. Mereka menganggap bahwa dalam Kej 1:1, langit dan bumi dan segala isinya sudah sempurna. Lalu terjadi pemberontakan Lucifer / Iblis, sehingga bumi menjadi tidak berbentuk dan kosong seperti dalam Kej 1:2. Lalu dalam Kej 1:3-dst Allah melakukan penciptaan ulang.
Dasar dari ‘gap theory’ ini adalah:
1)   Mereka berpendapat bahwa Allah tidak mungkin mencipta sesuatu yang kacau seperti yang tertulis dalam Kej 1:2 – ‘bumi belum berben-tuk dan kosong, gelap gulita menutupi samudera raya’. Karena itulah mereka beranggapan bahwa penciptaan dalam Kej 1:1 sudah sempur-na, tetapi lalu menjadi rusak / kacau karena pemberontakan Iblis.
2)   Dengan adanya ‘gap’ jutaan tahun ini maka Alkitab menjadi cocok dengan ilmu Geologia yang mengatakan bahwa umur bumi sudah jutaan tahun.
3)   Kej 1:2 berbunyi: ‘Bumi belum berbentuk dan kosong’.
NIV menterjemahkan sebagai berikut: ‘Now the earth was formless and empty’ (= Bumi adalah tidak berbentuk dan kosong).
Ditinjau dari sudut bahasa Ibrani, kata ‘HAYETAH’ yang diterjemahkan ‘was / adalah’, juga bisa diterjemahkan ‘became / menjadi’. Kalau dipilih terjemahan ini, maka Kej 1:2 menjadi: ‘Dan bumi menjadi tidak berbentuk dan kosong’. Terjemahan ini cocok dengan ‘gap theory’.
Saya berpendapat bahwa ‘Gap theory’ ini harus ditolak dengan alasan / penjelasan sebagai berikut:
a)   Kej 1:1-2 tidak berarti bahwa Allah menciptakan sesuatu yang kacau, tetapi bahwa Ia menciptakan yang sempurna secara bertahap.
Penganut ‘gap theory’ tidak mau mempercayai bahwa Allah melaku-kan penciptaan secara bertahap, tetapi dalam teori mereka sendiri mereka berpendapat bahwa pada waktu Allah melakukan ‘penciptaan kembali’ dalam Kej 1:3-dst, maka Allah melakukannya secara berta-hap. Ini menunjukkan ketidak-konsekwenan teori ini.
b)   Ilmu Geologia sama sekali tidak mempunyai kepastian dalam menen-tukan umur bumi.
Perlu diketahui bahwa ada banyak metode yang bisa digunakan untuk menentukan umur bumi, dan ternyata metode-metode ini menghasil-kan hasil yang sangat bervariasi. Misalnya metode pertama meng-hasilkan bilangan 100 juta tahun, maka metode kedua ternyata meng-hasilkan bilangan 20 ribu tahun, dsb. Disamping itu perlu diketahui bahwa para ahli ilmu pengetahuan itu kebanyakan adalah orang yang bukan kristen, bahkan anti kristen. Karena itu, kalau dengan metode tertentu mereka menemukan bahwa umur bumi adalah jutaan tahun, maka hasil itu dipublikasikan, sedangkan kalau dengan metode yang lain menghasilkan bilangan ribuan atau puluhan ribu tahun (sehingga cocok dengan Alkitab), maka hasil itu mereka sembunyikan.
Hal lain yang perlu diketahui adalah bahwa pada waktu Allah men-ciptakan segala sesuatu dalam Kej 1, maka semua itu diciptakan dalam keadaan sudah mempunyai umur tertentu (yang tidak kita ketahui).
  Misalnya:
·        Pada waktu Adam diciptakan pada hari ke 6, ia tidak diciptakan sebagai seorang bayi yang baru lahir, tetapi sebagai manusia dewasa. Karena itu, andaikata pada hari ke 7 seorang ilmuwan memeriksa Adam, maka mungkin sekali ia mendapatkan bahwa Adam sudah berumur 30 tahun, atau 50 tahun, padahal Adam baru berumur 1 hari!
·        Pada waktu pohon-pohonan diciptakan oleh Allah pada hari ke 3, mereka tidak diciptakan sebagai tunas yang baru tumbuh, tetapi sebagai pohon yang sudah besar. Karena itu, andaikata pada hari ke 4 seorang ilmuwan memeriksa sebuah pohon, maka mungkin sekali ia akan mendapatkan bahwa pohon itu sudah berumur 100 tahun, padahal sebetulnya baru berumur 1 hari.
·        Demikian juga pada waktu Allah menciptakan bumi dengan lapisan batu-batuannya, Allah menciptakannya dalam keadaan sudah mempunyai umur tertentu. Dan kita tidak tahu berapa umur bumi pada waktu diciptakan. Bisa saja 1000 tahun, atau satu juta tahun, atau bahkan ratusan juta tahun!
Karena itu, kalaupun para ilmuwan jaman sekarang bisa menemu-kan suatu metode penentu umur bumi yang betul-betul dapat di-percaya, dan dengan metode itu didapatkan bahwa umur bumi sudah 5 juta tahun, maka itu tidak menunjukkan bahwa Kitab Sucinya salah. Siapa tahu bahwa Allah memang menciptakan bumi ini dalam keadaan sudah berumur mendekati 5 juta tahun?
c)   Kalau ‘gap theory’ mau mencocokkan Alkitab dengan Ilmu Geologia dalam persoalan umur bumi, lalu bagaimana dengan umur dari tulang-tulang manusia yang jutaan tahun (ini menurut ‘ilmu pengetahuan’; tetapi inipun tidak bisa dipercaya!)? Apakah mereka mau berkata bahwa dalam Kej 1:1 itu juga sudah ada manusia?
·        Kalau dikatakam bahwa dalam Kej 1:1 sudah ada manusia, maka:
*        itu berarti bahwa Adam bukan manusia pertama, dan ini ber-tentangan dengan 1Kor 15:45a yang berbunyi: “Seperti ada tertulis: ‘Manusia pertama, Adam menjadi makhluk hidup’”.
*        perlu dipertanyakan: bagaimana manusia itu bisa mati, padahal belum ada dosa?
·        Kalau mereka berkata bahwa dalam Kej 1:1 itu belum ada manu-sia, maka mereka tetap tidak bisa mencocokkan Alkitab dengan ‘ilmu pengetahuan’.
d)   Kalaupun di antara Kej 1:1 dan Kej 1:2 ada pemberontakan setan, mengapa alam semesta harus menjadi kacau / rusak? Iblis memang kuat, tetapi ia jelas sama sekali bukan tandingan Allah, sehingga ‘pertempuran’ antara Iblis dan Allah sama sekali ‘tidak seru’ dan tidak perlu sampai menghancurkan alam semesta. Pandangan yang me-ngatakan bahwa pertempuran Iblis melawan Allah itu sampai harus menghancurkan ciptaan Allah, adalah pandangan yang terlalu me-rendahkan Allah, karena secara tidak langsung mereka beranggapan bahwa kekuatan Iblis dan Allah itu tidak terlalu berbeda jauh. Amen. Dari Berbagai Sumber



Khotbah Minggu 08 Juni 2014 1 Korintus12 : 3-13 Thema : “Aneka Karunia dan Pelayanan Tetapi satu Roh dan satu Tuhan”


 Pembukaan:
      Peristiwa Pentakosta senantiasa menghadirkan terciptanya suatu kehidupan bersama yang dibangun secara transformatif. Secara fisik keadaan para murid Tuhan Yesus tidak berubah tetapi secara spiritualitas mereka benar-benar berubah. Apabila mereka dahulu dibelenggu oleh perasaan takut dan tidak berdaya, maka dalam peristiwa pencurahan Roh mereka dipenuhi oleh perasaan damai-sejahtera yang membuat mereka berani untuk menyampaikan kesaksian iman kepada lingkup yang lebih luas. Para murid Tuhan Yesus juga dilengkapi oleh karunia-karunia Roh sehingga mereka dapat melaksanakan peran mereka secara efektif. Sehingga sejak peristiwa Pentakosta, para murid Tuhan Yesus berhasil dipakai oleh Allah untuk mengumpulkan umat yang waktu itu jauh dari perasaan damai-sejahtera. Melalui peristiwa Pentakosta, maka terbentuklah suatu komunitas jemaat yang dapat mengalami perasaan damai-sejahtera dan pengampunan Allah di dalam Kristus.  Mereka dapat mengalami makna pendamaian (rekonsiliasi) yang riel dengan Allah, sesama dan diri mereka sendiri. Karena itu hari ini kita merayakan suatu hari raya turunnya Roh Kudus yang menjadi pemberian termahal dan  pemberian Allah yang terbaik (Mat 7:11 ; Yak 1:17).
Pemberian Allah adalah pernyataan kasihNya yang terbesar, Anaknya yang tunggal (Yoh 3:16), Roh Kudus adalah pemberian Allah yang termahal (Yoh 14:15-19)
Roh Kudus bukan Kuasa, tapi pribadi Allah Tri tunggal (Yoh 14:26). Artinya Roh Kudus akan menolong kita yang buka diri dipenuhi dan dituntunNya untuk hidup menurut kehendakNya (Gal 5:22-25; 1 Kor 6 : 19-20)
Betapa malangnya orang Kristen yang tidak mengenal karunia-karunia Rohani Roh Kudus. Karena Roh Kudus adalah karunia Allah bagi setiap orang percaya, maka karunia Roh Kudus harus di beri membantu kita untuk menjalankan pekerjaan pelayananTuhan berikan kepada kita. Roh Tuhan yang menghidupkan dan membaharui, Aku memberi hidup kembali (Yes 36:26-27; Yes37:1-9). Biarlah kemuliaanTuhan tetap untuk selama-lamanya, biarlah Tuhan bersukacita karena perbuatan-perbuatanNya (Maz 104)

Khotbah dari  1 Kor 12:3-13
Karunia-karunia Roh Memfokuskan pada rupa-rupa karunia Roh, rupa-rupa pelayanan dan berbagai-bagai perbuatan ajaib, merupakan sarana yang diberikan secara spontan kepada kita untuk tugas pelayanan.
Dalam kenyataannya muncul dua pemahaman tentang rupa-rupa karunia dan pelayanan yaitu:
=> Apakah rupa-rupa karunia menentukan pelayanan artinya: Kita perlu menentukan dulu karunia yang kita miliki baru cari pelayanan.
=> Rupa-rupa pelayanan itu didukung oleh karunia-karunia apapun yang mungkin dariTuhan (1 Kor12:6-8, Efesus 4:11) dimanfaat dan digunakan semaksimal mungkin.
Orang Kristen perlu aktif dan kreatif dalam pelayanan, maka Roh Kudus akan mengurapi kita dengan Karunia-karunia Roh.
Kepada kita dikaruniakan antara lain (1 Kor12:4-11, 27-31)
Karunia berkata-kata dengan hikmat dimanifestasikan dalam pelayanan
Seorang mengucapkan kata nubuat tidak selalu berarti bahwa dia memiliki pelayanan untuk bernubuat.
Seorang pernah sekali mengusir Roh Jahat, tidak berarti pelayanan yang dimilikinya adalah pelepasan. Kita harus percaya pada mujizat, karena bagi Allah tidak ada yang mustahil (Maz 46:2-3; Yoh 6:35; Kis 2:3).
Karunia menyembuhkan, Manusia memiliki tubuh, jiwa dan Roh, Tuhan ingin manusia itu sehat dalam ketiganya (kesembuhan jasmani, jiwa dan Rohani (Markus 16:18; Mat 10:8)
Karunia memberi nasehat, untuk mendorong, membesarkan hati, memberi kekuatan, jadi bukan mengeritik, melemahkan (1 Kor12:9 ; Roma 12:8)
Setiap orang percaya memiliki karunia Roh Kudus, salah satu adalah karunia melayani, untuk menolong sesama dan memuliakanTuhan serta membangun (1 Kor12:12-13, 18).
Rasul Paulus katakan, semua karunia yang diberikan Allah bagi setiap orang percaya untuk melengkapi pelayan, karunia kemurahan adalah karunia yang indah memberi kekuatan pengharapan (Roma 12:8), dan karunia memberi, bukan saja melengkapi pelayanan, tetapi mempengaruhi kehidupan Gereja, waktu, uang, talenta. Pelayanan pekerjaan Tuhan akan lumpuh jika karunia memberi tidak dimiliki orang percaya pada TuhanYesus (Amsal 3:9-10; 2 Kor 8:2-3).
Untuk beroleh selamat, kita harus memiliki iman kepada Yesus Kristus, bila iman disertai rasa lapar dan haus akan kebenaran (Mat 5:6; 12:9). Iman memampukan orang percaya untuk segala perkara, Bagi orang percaya tidak ada yang mustahil (Markus 9:23).
Oleh Roh Kudus seorang mengakuYesus Tuhan (1 Kor 12:13)
 Penerapan:
Gereja adalah suatu keragaman yang harus nyata dalam kesatuan (12 : 26-27). Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama (1 Kor 12:31)
=> Sadarlah kita karunia yang diberikan Tuhan kepada kita bukan untuk diri sendiri tapi membangun kebersamaan dan memuliakan Tuhan.
=> Ada gereja yang menonjolkan Karunia Roh tertentu saja (Karunia penyembuhan).
Bagi kita, seperti Tuhan Yesus katakan “Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun keatas kamu, dan kamu akan menjadi saksiku sampaikeujungBumi (Kis 1:8)
Roh Kudus memberi kekuatan dan keberanian untuk melayani, mempersatukan dan bersaksi tentang kristus.
Kita semua adalah satu didalam Kristus,
Janganlah ada merasa karunianya lebih hebat, yang lain lebih rendah.
“Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita, jika satu anggota di hormati, semua anggota bersukacita (1 Kor 12:26).

Amen. Dari Berbagai Sumber

Minggu, 18 Mei 2014

"Yesus Bagi yang Saleh dan Sekuler"


John Shelby Spong penulis buku “Yesus bagi Orang Non Religius” bersikukuh menggugat doktrin yang diimani orang saleh dalam kurun waktu yang cukup panjang. Buktinya, ia tidak meragukan Yesus sebagai Tuhan, tapi ia tidak ingin menyembah suatu Allah yang tidak dapat ditatang atau setia pada suatu tradisi yang mengharuskan mengunci rapat-rapat pikiran.
Yesus sebagai seorang wisatawan sorgawi yang datang dari Allah di balik langit melalui suatu kelahiran ajaib dan yang ketika karyanya sudah selesai kembali kepada Allah itu melalui suatu perjalanan kosmik. Bagi John Shelby Spong penulis bestseller “The Sins of Scripture” ini, kisah ajaib itu sesuatu yang secara harfiah tidak masuk akal, tetapi juga sedikit lebih dari uraian teologis yang berbelit-belit dan sukar dipahami. “Mereka tidak mengerti bahwa mereka sebetulnya telah mengubur Yesus di dalam peti dan suatu dunia lain, suatu waktu lain dan suatu tempat lain,” papar Spong.
Pada ulasan lain ia mengimbuhkan argumen yang radikal sekitar kelahiran Yesus. Tidak ada bintang di atas Betlehem. Tempat lahir Yesus di Betlehemn bukan sejarah. Nabi Mikha tidak meramalkannya. Sebuah bintang tidak memberitahukannya. Para Majus tidak mengikuti bintang itu. Bintang itu tidak membawa mereka ke istana raja atau ke rumah Betlehem, tempat yang dikatakan oleh tradisi sebagai tempat kelahiran bayi Kristus. Para Majus tidak mempersembahkan emas, mur dan kemenyan. “Semua rincian ini adalah bagian dari sebuah mitologi yang sedang tumbuh yang harus dipisahkan dari Yesus jika kita ingin melihatnya sebagaimana dia adanya.”
Tempat kelahiran Betlehem adalah suatu bagian lain dari suatu tradisi tafsir mesianik yang sedang berkembang. Jika sejarah adalah agenda utama kita, pada perayaan Natal kita harus bernyanyi “Hai kota mungil Nazaret” sebab kota inilah yang kuat kemungkinan sebagai tempat di mana orang yang dikenal sebagai Yesus dari Nazaret dilahirkan. “Ada apa dengan Yesus ini, sehingga membuat orang merasa perlu menyelimuti kelahirannya dengan asal-usulnya dari Betlehem dan dengan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban?” (hal. 28)
Buku yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Umum ini pun, berupaya membeberkan kisah orang tua Yesus dari sudut pandang Matius, Markus, Lukas dan sumber tertulis yang dinamakan Q (Jerman Quelle—sumber) “Bukankah ia ini anak tukang kayu. Bukankah ibunya bernama Maria?” (Matius 13:55)
Bagi Spong ayat ini rupanya menggugah, kenapa musti melibatkan Maria? Apakah nama itu sekedar melengkapi atau mempertanyakan siapakah sesungguhnya Maria? “Hanya dari penulisan ulang oleh Matius atas perikop Markus ini muncul tradisi Yusuf sebagai seorang tukang kayu. Matius melicinkan teks Markus sehingga teks ini selaras dengan perikop tentang kelahiran ajaib Yesus yang baru ia masukkan ke dalam injilnya.”
“Saya tidak percaya bahwa orang bernama Yusuf ini, yang menjadi ayah insani yang melindungi Yesus, pernah hidup. Teks-teks yang kita teliti di atas mendukung pernyataan saya ini. Yusuf dari awal sampai akhir adalah sosok mitologis ciptaan murni penulis yang kita sebut Markus.” (hal. 40) 
“Saya tidak berpikir ada orang yang mengetahui siapa ayah Yesus, termasuk para penulis Perjanjian Baru. Markus tidak pernah mengatakannya. Matius dan Lukas mengatakan bahwa Roh Kudus adalah ayah Yesus sebenarnya. Injil Yohanes, yang sering disebut Injil Keempat, menyingkirkan kisah kelahiran ajaib Yesus, tetapi merujuk pada Yesus sebabagai anak Yusuf pada dua kesempatan (Yohanes 1:45; 6:42)”
Menurut penulis buku yang aslinya “Jesus for the Non-Religions” ini, alasan mengapa Yusuf tetap menjadi sosok tidak jelas sepanjang sejarah Kristen, karena ia memang merupakan karakter sastrawi sejak dari awalnya, diciptakan dari mitologi interpretatif yang berkembang.
Memang, Spong tidak serta-merta menerima mitos interpretatif yang menyelimuti kehidupan Yesus dari sisi pemahaman tradisionil. “Namun, kendatipun telah mengatakan itu, saya tetap seorang Kristen yang setia. Saya masih meyakini kebenaran yang ditemukan dalam realitas asasi yang saya namakan Allah dan saya masih melihat di dalam Yesus keallahan dan kemanusiaan menetap sepenuh-penuhnya.” (hal. 84)
Terus terang, banyak informasi dijumpai saat membaca buku ini, bahkan membuat yang saleh akan geleng-geleng kepala dengan paparan John Shelby Spong yang amat berani. Soalnya, penulis yang juga dosen tamu di berbagai universitas di Amerika Utara ini, hendak membersihkan potret Yesus dari batas-batas agama yang dipahami secara tradisionil.
Buku ini bisa dijadikan refrensi perbandingan serta pantas dibaca para teolog, mahasiswa dan pendeta yang melayani di abad 21 ini. Baharuddin Silaen


"GERAKAN ZAMAN BARU THE NEW AGE MOVEMENT"


Salah seorang profesor Seminari Teologi di Dallas, Norman L. Geisler, menyatakan bahwa New Age Movement (NAM) adalah musuh Kekristenan yang paling berbahaya. Sayangnya, masih banyak yang belum tahu apa sebenarnya NAM itu sehingga banyak yang terjebak kedalamnya. Mungkin ada yang beranggapan ini adalah kepercayaan baru, padahal hanya sedikit yang baru pada gerakan ini. Ternyata pengajaran New Age mulai dikenal sejak tahun 1960an dimana banyak terjadi kegairahan untuk menggali filsafat timur, khususnya agama-agama mistik timur seperti Hinduisme, Budhisme dan Taoisme.
Ada 6 ciri utama pemikiran New Age, antara lain : all is unity, all is divine, humanity is divine, a change in consciousness, all religion are one, dan cosmic evolutionary optimism. Manusia adalah ukuran untuk semua hal, lebih mulia dari hewan, dan keselamatan dunia bergantung  pada manusia. Keselamatan itu adalah aktualisasi diri dan dosa adalah ketidaktahuan. Melalui proses kelahiran kembali yang lama (reinkarnasi), manusia akan mencapai kesempurnaan.
Pada prinsipnya, segala bentuk penyebaran NAM itu menonjolkan usaha manusia dalam penyatuan dirinya dengan alam. Dan tugas manusia adalah menyatukan diri dalam kekuatan dan keseimbangan alam itu. Bagi NAM, Tuhan tidak menciptakan dunia. Dia (Tuhan) menjadi dunia. All is unity menegaskan bahwa hanya ada satu esensi di alam semesta, setiap orang dan apapun menjadi bagian dari esensi itu (disebut juga monism).Tuhan adalah sebagai kekuatan impersonal hidup atau energi. Landasan filosofinya sendiri adalah Gnotisme dan Okultisme. Di tengah-tengah pengaruh rasionalisme dan materialisme yang tidak manusiawi di masa modern, NAM menawarkan pengubahan / transformasi tatanan masyarakat, ekonomi dan politik melalui pengalaman yang bersifat alami.
Bagaimana pendapat NAM tentang Yesus Kristus? NAM memaknakan Kristus sebagai Kesadaran Kristus (Christ Consciousness). Yesus dianggap hanya sebagai salah satu Kristus yang memperlengkapi dirinya untuk menerima kesadaran Kristus seperti yang dilakukan nabi lain seperti Buddha, Krisna, dan Muhammad. Oleh karena itu, jika pengikut New Age menyebut Tuhan dan Kristus maka mereka tidak sedang membicarakan Tuhan dan Kristus di dalam Alkitab.
Pemikiran New Age hampir sudah menyentuh semua area kehidupan, antara lain pendidikan, sejarah, kebudayaan, agama, politik, psikologi, ilmu pengetahuan dan kesehatan. Percaya adanya UFO, adanya anak indigo (anak-anak dengan kekuatan khusus dan aura warna ungu), adanya karma, aura yang dianggap sebagai energi yang dipancarkan oleh tubuh, dan 666 yang dianggap sebagai nomor alkitabiah oleh Alice Bayley  termasuk pemikiran New Age. Hati-hati ! Jangan terjebak dengan nama. Organisasi seperti Church Universal & Triumphant, Christian Science, dan The Unity School of Christianity termasuk organisasi New Age.
Beberapa praktek New Age adalah astrologi, bioenergi, spritualisme, reinkarnasi, yoga, meditasi, kegiatan okultisme, dsb. Adapun tokoh New Age yang terkenal adalah The Beatles, Jeremy Rifkin, Alice Bailey, Alvin Toffler, Shirley MacLaine, Abraham Maslow, Marilyn Ferguson, dan David Spangler. Musik bernuansa mistik mewarnai lagu-lagu The Beatles setelah mereka berguru pada Mahareshi Mahesh Yogi, seorang guru kebatinan India dan belakangan musik New Age dipopulerkan oleh musikus Jepang, Kitaro. Film New Age, khususnya film anak-anak menekankan kekuatan tenaga dalam atau tenaga batin yang digambarkan seperti sinar yang keluar dari pukulan seseorang, seperti Stars Wars dan Pokemon. Dalam film seri Star Wars diperlihatkan bahwa ucapan yang populer di kalangan Kristen, yaitu 'May God be with you' diganti menjadi 'May the Force be with you'. NAM juga secara praktis dipraktekkan dalam bisnis dengan pelatihan-pelatihan Gerakan Pengembangan Diri/Pribadi (Human Potential Movement). Kekuatan batin di sini dianggap sebagai bejana yang tak terhingga isinya atau potensi diri yang harus diaktualisasikan (menurut Abraham Maslow) dan direalisasikan (menurut Carl Jung), agar seseorang menjadi lebih percaya diri, misalnya 7 habis dan Asia Works. Ucapan terkenal yang menggambarkan falsafah ini adalah: 'If it is going to be, it is up to me."
Kekristenan juga mulai terpengaruh dengan gerakan ini. Hal ini dapat dilihat dalam munculnya teologi kemakmuran, kecendrungan untuk mengunjungi ‘holy land’, persekutuan yang cenderung hiruk pikuk di permukaan tetapi tidak mendalam, leburnya batas pendeta dengan jemaat, pembabtisan berulang-ulang, dan formalitas ibadat yang tidak lagi dipentingkan.
Bagaimana seorang Kristen menanggapi hal ini ? Kita telah diberikan Tuhan akal budi untuk bisa mengkritisi apa yang salah dan melihat apa yang benar di mata Allah. Salah satu yang dapat Anda kritisi adalah pernyataan Shirley MacLaine dalam bukunya 'Out on a Limb' bahwa 'I am God', suatu pandangan yang menjadikan manusia sebagai allah dan menurunkan allah dari takhtanya, bergeser dari theosentris kepada anthroposentris. Sebagai pengikut Kristus kita percaya percaya bahwa Alkitab adalah kebenaran yang objektif dan diinspirasi oleh Tuhan (baca 2 Tim 3:16; 2 Pet 1:21;Mat 5:18). Jadi, tidak ada individu yang boleh menjadikan dirinya dan perasaannya sebagai puncak otoritas. Alkitab harus menjadi standar objektif. Untuk melihat kebenaran dalam Alkitab yang bertentangan dengan ciri pemikiran dan prinsip New Age di atas, saudara-saudara dapat membaca Keluaran 3:14,20; Roma 3:23,5:12,6:23,1:18, Ef 2:8-9,Kis 4:12 dan 1 Kor 8:12.
Dari pengalaman 'batin yang bermasalah' dan 'berpotensi memberontak', para nabi selalu mengingatkan umat Tuhan. Difirmankan bahwa: "Bukan karena jasa manusia mereka menang, tetapi karena kuasa Allah" (Ulangan 9:5-6). Demikian juga penulis kitab Amsal mengatakan: "Percaya dan takutlah kepada Allah dan jangan bersandar pada pengertianmu sendiri" (Amsal 3:5-8). Dalam kitab Yeremia difirmankan bahwa: "Terkutuklah mereka yang mengandalkan kekuatan sendiri ... diberkati mereka yang mengandalkan Tuhan" (Yeremia 117:5-8).
Pdt. Herlianto, Mth, ketua Yabina ministry, dalam salah satu makalahnya mengingatkan agar kita waspada menghadapi filosofi yang didasarkan tradisi mistis kuno dan harus kembali kepada firman Allah yang benar agar kita tidak mencampuradukkan faham kekristenan dengan faham mistik. Kita juga harus mendoakan pengikut New Age agar mereka percaya kepada Kristus.

Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.(Kolose 2:8-9)
Karena ...
Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kolose 2:6-7). 


Sabtu, 17 Mei 2014

Yohannes 17: 1-11 (Khotbah Minggu 01 Juni 2014) Thema: "Supaya semua pengikut Kristus menjadi satu”

Doa adalah komunikasi yang paling ampuh dan tercepat untuk berbicara dengan Tuhan.
Doa adalah napas peredaran kehidupan rohani setiap orang yang percaya.
Kemajuan teknologi informasi terbukti cukup membantu antar individu maupun institusi dalam berkomunikasi. Memang efisiensi dan efektifitas menjadi tuntutan dunia era sekarang ini. Ambil contoh misalnya dengan semakin canggihnya handphone, yang tidak hanya bisa untuk mengirim pesan atau tulisan yang bisa dibaca maupun berkata-kata yang bisa didengar, namun bisa juga melihat orang yang sedang berbicara dengan kita. Namun di tengah kemajuan teknologi informasi ini, ternyata ada yang hilang dari kemajuan komunikasi ini. Anggapnya serasa sah dan cukup terwakili komunikasi jarak jauh, dengan slogan “jauh di mata dekat di hati”.Komunikasi tanpa ”sentuhan” dan kehadiran fisik secara bersama pada ruang dan waktu yang satu, bisa jadi telah kehilangan orisinalitasnya. Bisa-bisa terjadi saling memanipulasi fakta baik fisik maupun batin. Di samping itu di tengah hiruk-pikuk kecanggihan telekomunikasi, hati dan jiwa terasa ”kesepian” karena ketidak-hadiran fisik secara bersama.
Komunikasi langsung dalam komunitas kehidupan bersama religius baik secara verbal maupun spiritual masih relevan untuk dipertahankan. Pun pula dalam hal berdoa bersama. Di tengah derasnya iklan religius maupun permintaan tentang dukungan doa jarak jauh untuk sesuatu hal dari pemirsa tayangan televisi maupun dari pendengar pesawat radio, muncul masalah baru. Tentu menjadi relatif bila dipertanyakan sejauhmana kuasa doa jarak jauh itu. Namun ada yang hilang dari diri individu pendoa dan yang didoakan yakni nihilnya kehadiran bersama. Tidak bisa disalahkan bila semakin banyak pelayanan doa jarak jauh, yang menjadi masalah adalah bila telah terjadi komersialisasi doa. Apakah sudah menjadi suatu pemakluman karena zaman? Tentu bagi komunitas komunal tradisional akan ”menggugat” dengan adanya fenomena yang demikian ini. Tidak menutup kemungkinan masyarakat modern-pun mengalami hal serupa. Kehadiran bersama untuk berdoa lebih dari sekadar menjawab masalah yang didoakan, sebab ada sentuhan fisik, ada dukungan moral, yang akan dapat mengalirkan arus hangatnya pertautan batin dan spiritual.
Keterangan:
Doa Yesus dalam Yoh 17 dikenal “Doa Tuhan Yesus sebagai Imam Besar” tetapi ada yang berpendapat “ Doa penyerahan” atau “ Doa Kemenangan”  tetapi ini cenderung adalah nubuat dari Yesus sang Nabi. Yang tercantum di pasal 17 tidak dicatat di injil sipnotis tetapi Injil Yohanes tidak mencatat doa Yesus di Taman Getsemani. Jika eksegese bahwa ini adalah nubuatan dari Yesus sang Nabi maka doa Yesus di Getsemani benar benar hanya dicantumkan di Injil Sinopsis sedangkan bentuk nubuatan terdapat di Yohanes 17 hal ini disebabkan Yohanes 17 kata ἐρωτῶ bukan berarti berdoa melainkan lebih tepat meminta.
Ayat 1. Seruan telah tiba saatnya mengigatkan kita bahwa seluruh Injil Yohanes setuju pada salib-Nya. (Yoh 2:4; 7:30; dan 8:20) Yesus bekerja sesuai dengan waktu yang tepat. Saat waktu mendekat Yesus berkata menyatakan kerelaan-Nya untuk disalibkan dan mengerjakan tugas-Nya yaitu “Permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau” Salib adalah kemuliaan sebab melalui salib maka sifat-sifat menjadi nyata seperti: kasih-Nya kepada manusia, ketaatan kepada kehendak Bapa, kerendahan hati-Nya, kasih karunia-Nya. Melalui salib manusia mengenal Bapa sehingga Bapa dipermuliakan.
Ayat 2. Pemuliakanlah Anak-Mu mengigatkan Allah Bapa bahwa sebelum dunia dan manusia diciptakan, dalam kekekalan yang lampau. Allah Bapa telah memberikan kepada Tuhan Yesus kuasa atas segala manusia. Allah Bapa memberikan kuasa itu dengan tujuan supaya Tuhan Yesus menyelamatkan setiap manusia yang dipilih oleh Allah Bapa. Permohonan agar Dia dipermuliakan berdasarkan rencana keselamatan yang ditakdirkan dalam masa kekekalan yang lampau. Tuhan Yesus mempunyai kuasa atas seluruh manusia, namun mereka yang dipilih Bapa akan menerima keselamatan dari Tuhan Yesus.
Ayat 3. Hidup yang kekal bukan status atau kualitas manusia. Hidup yang kekal adalah hubungan pribadi antara manusia dengan Allah. Mengenal Allah bukan saja jalan menuju kehidupan yang kekal, tetapi pengenalan tersebut adalah kehidupan yang kekal.
Ayat 4. Yesus berkata-kata seolah olah Dia telah menaati kehendak Bapa dan disalibkan, padahal belum. Apakah Yesus bernubuat? Apakah Yesus bersikap itu karena penyaliban-Nya sudah pasti? Tuhan Yesus mempermuliakan Bapa dengan menyelesaikan pekerjaan yang diberikan kepada-Nya. Jalan yang ditempuh Yesus adalah sesuatu yang khusus kepada Tuhan Yesus sendiri.
Ayat5. Kemuliaan yang Dia minta adalah kemuliaan surgawi yang Dia nikmati sebelum menjadi manusia, tetapi kemuliaan ini tidak dapat dipisahkan dengan kemuliaan salib.
Dalam ayat 6-11. Yesus mendoakan murid-murid. Dan menjadi alasan memohon dan Yoh 11b-16 supaya murid murid dilindungi, serta Yoh 17: 17-19 supaya murid murid dikuduskan. permintaan Yesus adalah sesuatu yang dikabulkan sehingga identik dengan nubuat.
Ayat 6-9. Mereka itu adalah milik-Mu dua kali diucapkan dalam waktu berdekatan. di ayat 6 memakai imperfect Tense dan di ayat 9 gunakan present tense. Apakah karena murid-murid adalah milik Bapa menjadi alas an Yesus meminta permohonan khusus? Alasan yang dikemukakan anara lain: bahwa Dia telah menyatakan nama Allah kepada mereka, bahwa mereka itu milik Allah dan Allah telah memberikan mereka kepada Tuhan Yesus, bahwa murid murid telah menuruti Firman Allah, bahwa iman para murid yang Dia ucapkan semakin mantab, bahwa murid murid menerima, mengetahui dan percaya Tuhan Yesus datang dari Allah. Mereka milik Bapa sehingga jadi berkat bagi dunia, karena murid-murid memberitakan Injil di dunia tetapi dunia tidak dapat diberkati dengan perkataan seperti ini karena dunia melawan Allah.
Ayat 10-11a. Setiap orang dapat berkata, segala milik-ku adalah milik-Mu tetapi hanya Tuhan Yesus berkata Milik-Mu adalah milik-Ku. Yesus akan meninggalkan murid-murid dan kembali ke Bapa sehingga memohon agar murid-murid dilindungi.
Khotbah:
Injil Yohanes 17:1-11 (Supaya mereka menjadi Satu)
Setelah Yesus memberikan petuah kepada para murid agar tetap tegar menghadapi penceraiberaian menjelang Ia ditangkap untuk disalibkan (Yoh 16:32-33), Ia berdoa kepada Bapa. Permohonan di hadirat Bapa adalah agar kemuliaan Bapa memancar kepada-Nya. Bahwa kemuliaan Kristus diwujudkan di dalam kesetiaan menjalankan pekerjaan penyelamatan bagi dunia. Kemuliaan Yesus Kristus dipancarkan dengan jalan penyelesaian pekerjaan penebusan dosa dunia.
Doa Yesus dilanjutkan dengan kesaksian bahwa umat telah Ia terima sebagai milik-Nya karena mau mendengarkan firman yang Ia sampaikan. Karena keterharuan atas iman percaya serta kesetiaan umat menjalani firman yang hidup itu, Yesus mengajukan permohonan agar umat yang dipercayakan kepada-Nya, mendapatkan pemeliharaan iman dan pengharapan. Dengan iman dan pengharapan yang sama maka umat menjadi satu. Pengakuan akan keesaan Allah ditunjukkan dengan kebersatuan hati dan perjuangan menjalani kehidupan di dunia yang penuh penghambatan. Yesus juga berdoa agar umat menjalani kehidupan di dunia dengan ketekunan membangun iman dan pengharapan yang sama dan yang satu.
Bertekun bersama di dalam doa membutuhkan prasyarat yakni proses bersekutu dan berdoa bersama tidak kalah pentingnya dari isi bahkan kuasa doa itu sendiri. Kuasa doa justeru dimaknai dari wujud persekutuan yang bertekun berdoa. Persekutuan doa tidak berhenti pada level basa-basi atau hanya formalitas belaka, yakni bahwa semua yang hadir turut menangkupkan kedua telapak tangan, memejamkan mata dan menundukkan kepala, namun tiada pertautan hati dan spiritual. Dalam pada itu ada dua dimensi penting yang mesti dihayati yakni pertama, makna kehadiran fisik dan hati di antara yang hadir di dalam persekutuan. Kedua, ketekunan berdoa bersama menuntut keseriusan olah spiritual.
Aplikasi:
1. Perkembangan/pertumbuhan gereja mula-mula tidak terlepas dari Kuasa Doa . Dalam Kisras 1: 6-14 dijelaskan bahwa Para rasul bertekun bersama berdoa di tempat yang dipersiapkan dengan baik, hal ini menunjukkan kesiapan fisik dan spiritualnya. Hal ini mengingatkan kita bagaimana mungkin kita bisa bertekun berdoa bila tidak mempersiapkan fisik yang segar dan hati yang saling rengkuh.
2. Sama seperti Yesus mendoakan para murid-Nya agar mendapatkan pemeliharaan iman dan pengharapan di tengah-tengah penceraiberaian oleh dunia melalui persekutuan dan persaudaraan di antara para murid-Nya. Baiklah kita saling mendukung dalam doa agar setiap warga jemaat terpeliharan iman dan pengharapan di tengah pergumulan hidup yang semakin sulit dan berat. Agar di dalam setiap pergumulan itu di antara kita tidak merasa ”sendirian”, namun ada kekuatan iman karena dukungan doa bersama.
Akhirnya marilah kita bertekun di dalam doa bersama dengan beralaskanpersaudaraan kasih, kesiapan hati, dan pengharapan akan kebaikan Tuhan sehingga masukilah doa dengan sukacita, serta berdoalah terus karena pergumulan hidup di dunia ini semakin berat.
Amen