Perdamaian sangat dibutuhkan pada jaman ini, bagaimana kita bisa berdamai dengan sesama, dengan Tuhan dan diri sendiri.Semua ini hanya dapat kita peroleh dari Dia dan FirmanNya sebagai Madu Surgawi.
Rabu, 12 Februari 2014
Khotbah Minggu 16 Februari 2014 "Ulangan 30 : 15 - 20"
Perjalanan kembara yang sangat berat dari bangsa Israel di padang gurun selama empat puluh tahun (!) sesudah mereka dibebaskan oleh Allah dari perbudakan di Mesir, di bawah pimpinan Allah melalui Musa, seolah-olah sudah hampir mencapai titik akhirnya, tujuannya. Mereka sudah tiba di daerah Moab, di sebelah timur sungai Yordan. Tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Allah itu, sudah berada di depan mata (Ulangan 1 : 1-8)! Lalu melalui Kitab Ulangan, Allah memberikan hukum-hukum kepada bangsa Israel untuk mereka wujudkan dalam rangka menegakkan dan memelihara hubungan perjanjian (covenant) antara Allah dan umat-Nya itu, yaitu hukum-hukum yang mencakup ranah-ranah peribadatan, kemasyarakatan, dan etika (Ulangan 12-26). Namun semuanya belum cukup. Di Moab itu juga, Musa, yang tahu bahwa dia tidak akan ikut memasuki Tanah Perjanjian dan akan digantikan oleh Yosua (Ulangan 31), berdiri sekali lagi di hadapan bangsa Israel, untuk memperhadapkan bangsa itu untuk mengambil pilihan yang paling menentukan bagi kehidupan mereka dan masa depan mereka.
Pilihan yang harus diambil oleh bangsa Israel bukan pilihan yang main-main, sebab kata Musa: "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk" (ayat 19a). Mereka harus memilih antara "kehidupan" atau "kematian", antara "berkat" atau "kutuk" (lihat juga ayat 15: pilihan itu adalah juga antara "kehidupan dan keberuntungan" atau "kematian dan kecelakaan"). Mereka akan menerima kehidupan, berkat, dan keberuntungan, jika mereka "mengasihi TUHAN, Allah mereka, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya" (ayat 16a). Sebaliknya, mereka akan ditimpa kematian, kutuk, dan kecelakaan jika "hati mereka berpaling dan mereka tidak mau mendengar, bahkan mereka mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya" (ayat 17). Dengan pilihan kedua itu seolah-olah Musa hendak mengatakan kepada bangsa itu, "Kalian akan binasa jika kalian masih ingin kembali lagi ke ‘Mesir', kepada ‘perbudakan' dan penyembahan kepada dewa-dewa". Namun, Musa sekaligus berseru dan mengajak bangsa itu untuk mengambil pilihan yang benar: "Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya" (ayat 19b-20a).
Sekarang ini masih ada orang-orang beriman, anggota-anggota umat Allah yang baru ("Israel yang baru"), yang merasa sudah memasuki tanah Kanaan, Tanah Perjanjian itu, sebagai sesuatu yang sudah tuntas-tas. Mereka kira-kira berpikir begini, "Bukankah kalau aku sudah percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatku, berarti aku sudah diselamatkan, lalu semuanya sudah beres-res?". Keyakinan ini tidak seluruhnya salah, sebab memang benar bahwa oleh anugerah Allah yang kita terima dengan iman kepada Kristus, kita sudah diselamatkan. Namun kebenaran ini belum lengkap seluruhnya. Mengapa? Karena, keselamatan di dalam Kristus yang kita terima dalam perjalanan hidup kita di dunia ini bersisi dua: "sudah" dan "belum". Kita memang sudah diselamatkan, namun selama kita masih menjadi musafir dalam kehidupan kita di dunia ini, keselamatan itu belum kita terima dan alami dalam wujud yang lengkap dan sempurna. Kelengkapan dan kesempurnaan dari keselamatan itu masih kita nantikan.
Itu berarti, kita bagaikan bangsa Israel di Moab itu, bahwa Tanah Perjanjian itu sebenarnya "sudah berada di tangan" namun "belum diterima dalam arti sepenuh-penuhnya". Karena itu, tantangan untuk melakukan pilihan antara "kehidupan" dan "kematian" itu juga berlaku bagi kita! Secara terus menerus! Bukankah kita yang sudah beriman masih dapat tergoda dan gampang terjatuh pada pilihan untuk meninggalkan Kristus yang kita imani itu, entah dalam situasi apa pun dan dengan alasan apa pun dan dengan cara apa pun? Selama kita masih dalam kembara kehidupan ini, setiap kali kita ditantang oleh Tuhan sendiri untuk membarui dan menyegarkan komitmen kita dalam percaya kepada Kristus dan menaati kehendak-Nya dalam kehidupan kita.
Saudaraku, dalam berbagai situasi kehidupan sehari-hari Anda, pilihan hitam-putih ini (karena memang tidak ada wilayah abu-abu) sungguh tidak mudah untuk dilakukan. Namun, tetap pilihlah kehidupan! Dengarlah dan ikutilah ajakan dan seruan dari Allah sendiri melalui Musa, "Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya"!
Keuntungan memilih jalan Tuhan atau kehidupan akan diberi berkat:
1. Pengkhotbah 6:3 Jika orang memperoleh seratus anak dan hidup lama sampai mencapai umur panjang, tetapi ia tidak puas dengan kesenangan, bahkan tidak mendapat penguburan, kataku, anak gugur lebih baik dari pada orang ini.
Untuk apa umur panjang jika tidak pernah merasa puas? celakalah mereka yang mendasarkan hidupnya kepada harta sebab walau umur panjang hartanya tidak memberinya kebahagiaan justru menjadi kebinasaan dan anak gugur lebih baik, lebih baik dia yang tidak pernah puas itu tidak usah lahir.Sebaliknya orang yang lanjut usia jika ia setia memilih jalan Tuhan meskipun di usia tuanya ia menjadi lemah tetapi selalu ada yang peduli kepadanya dan jika ia mati ada orang yang mengurus penguburannya.
2. Mazmur 37:25 Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;
Daud melihat kehidupan panjang umur, sampai masa tua orang yang benar hidupnya tidak pernah di tinggalkan. Dia tidak kesepian, tidak ketakutan, atau dia akan tetap dalam situasi pesta sebab orang-orang akan duduk di sekitarnya. Apa alasan mereka tidak di tinggalkan? Apakah karena orang kasihan kepadanya? Apakah yang membuatnya menarik sehingga orang suka berkumpul di sekitarnya? Penampilannya tua, baunya bau minyak angin, jalannya lambat, makanannya bubur dll. Tapi ia tidak akan di tinggalkan sebab ada yang berharga di dalam dirinya yang tidak pernah padam juga oleh usia tua pun tidak padam iaitu kebenaran.
Yang paling luar biasa ia telah berhasil dengan kebenarannya membentuk anak dan anak cucunya menjadi anak-anak benar, maka hidupnya senantiasa penuh ucapan syukur. Amin
"PUASA YANG SEJATI" Yesaya 58: 1-12.
"Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Yesaya 58:3a
Pembukaan:
PUASA YANG SEJATI.
Nabi Yesaya bin Amos secara serius mengingatkan umat Yehuda agar kembali bertobat kepada TUHAN karena selama ini mereka mengalami kemerosotan moral yang hebat. Untuk itu ia bernubuat dengan suara lantang bagaikan sangkakala (58:1). Kondisinya semakin parah karena umat Allah (Yehuda) rupanya jatuh pada penghayatan agama yang legalistic – formalistic (mengutamakan formalitas sesuai dengan aturan/hukum agama yang berlaku), namun secara hakiki mereka jauh dari Allah (ay.2). Yesaya menegaskan bahwa PUASA yang tidak dilandasi oleh spiritualitas yang benar adalah sia-sia belaka (ay.3-4 "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?" Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi)
Khotbah:
Puasa yang dikehendaki Allah adalah “merendahkan diri” dan “mewujudkan keadilan” kepada sesama (ay.6) ,mewujudkan “cinta kasih” dan kepedulian kepada sesama terutama kepada mereka yang menderita (ay.7). Bila hal itu dilakukan maka ada berkat TUHAN yang pasti diterima, yaitu:
• Ada pengharapan di tengah kesesakan dan pergumulan (ay. 8, 10)
• Ada relasi yang baik dengan Tuhan (ay. 9)
• Ada pengharapan di dalam Tuhan (ay. 10)
• Ada pertolongan Tuhan (ay. 11)
• Ada jaminan keberhasilan (ay. 12, 14)
Dari uraian tsb., kita bisa menarik kesimpulan bahwa PUASA bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum. Puasa juga bukan sekedar memenuhi Hukum Agama.
Namun lebih dari itu semua bahwa Puasa adalah kesediaan untuk bertobat/merendahkan diri di hadapan Allah yang ditandai dengan mewujudkan keadilan, cinta kasih dan kepeduliaan terhadap sesama manusia.
Banyak orang berpuasa karena suatu tujuan tertentu. Namun ada yang berpuasa hanya karena terpaksa atau karena kewajiban yang harus dijalankan. Tapi pada intinya orang berpuasa selalu mempunyai tujuan agar mendapatkan sesuatu yang dia doakan karena merasa tidak cukup bila berdoa saja; mungkin juga karena terlalu beratnya pergumulan yang dihadapi sehingga perlu disertai puasa. Puasa adalah sesuatu yang kita lakukan sebagai bentuk merendahkan diri di hadapan Tuhan, memohon pertolonganNya. Puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga saja tapi juga nafsu kedagingan kita.
Seringkali kita tidak mengerti arti berpuasa yang sebenarnya, sehingga tidak jarang puasa yang kita lakukan itu menjadi sia-sia. Kita menjalankan puasa agar beroleh pujian dari orang lain, supaya kelihatan kita ini rohani. Dalam Matius 6:16 dikatakan, "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya." Hal lain yang membuat puasa kita menjadi percuma adalah apabila dalam hidup kita belum ada pemberesan dengan Tuhan, yaitu kita masih menyembunyikan dosa. Inilah yang menjadi penghalan hubungan kita dengan Tuhan sehingga puasa kita 'tidak sampai' kepadaNya. Ada tertulis"...yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:2).
Selain itu, selama berpuasa hati kita masih dipenuhi kekuatiran, sehingga kita sendiri tidak yakin akan pertolongan Tuhan setelah puasa yang kita lakukan sekian lama seolah-olah tidak memberi hasil yang diharapkan. Akhirnya kita mereka-reka jalan sendiri dan mencari jalan pintas! Kita sendiri yang membatasi kuasaNya bekerja hingga puasa kita pun percuma, padahal "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:9).
Tanpa pertobatan dan penyerahan penuh kepada Tuhan, puasa kita tidak akan membawa hasil.
Kesimpulan:
Dunia Membutuhkan Kebenaran dan Kasih
Yesaya 58:1-12 membicarakan bahwa Allah menuntun agar umat memperbaiki sikap dan perbuatan mereka yang tidak peduli, bahkan cenderung menindas sesamanya yang miskin/lemah. Sesudah itu barulah kemudian Allah akan memberkati umat-Nya.
Senada dengan seruan nabi Yesaya, Mazmur 112:1-10 juga memanggil umat untuk hidup benar (takut akan Tuhan). Hanya dengan itulah mereka akan bahagia, dan akan mendapat “berkat”. Berkat yang melebihi kekayaan materi, yaitu kekayaan rohani.
1 Korintus 2:13-16 membahas hal yang bersifat teologis, yaitu tentang manusia duniawi dan manusia rohani (mengetahui pikiran Kristus). Menurut Paulus bahwa manusia rohani pasti meninggalkan perbuatan-perbuatan duniawi; kecemaran, pertengkaran, keegoisan, perpecahan dan sebagainya, dan berusaha menjadi manusia rohani yang berfokus pada Kristus, yang melakukan perbuatan terang.
Matius 5:13-20 Yesus menuntut orang-orang percaya (gereja) untuk berfungsi sebagaimana hakikatnya, yaitu melakukan perbuatan yang benar dan perbuatan kasih.
Melalui keempat bacaan ini, kita dapat menemukan sebuah pesan yang sangat jelas tentang pentingnya kita berbuat benar, berbuat kasih; peduli akan keselamatan sesama manusia. Itulah kesalehan hidup yang mendatangkan berkat, “Kesalehan” dengan melakukan ritual agama beserta peraturan-peraturan agama adalah hal yang penting. Tetapi yang dibutuhkan dunia saat ini adalah pengikut Kristus yang berfungsi sebagai garam dan terang, melakukan kebenaran dan kasih. Amin
Selasa, 28 Januari 2014
Khotbah Minggu 02 02 2014 "Yang Allah Tuntut…? Hidup Adil, Setia dan Rendah Hati" Mikha 6:1-8
Pengantar:
“Nabi Mikha melayani dalam salah satu masa paling kelam dari sejarah Israel. Negeri itu sudah lama terpecah menjadi dua kerajaan. Akhirnya, Asyur menamatkan kerajaan utara, dan Mikha dapat melihat kejahatan serta kekejaman yang menjalar ke dalam kerajaan Yehuda di selatan. Dia berkhotbah terhadap dosa-dosa yang fatal seperti ketidakjujuran, ketidakadilan, penyuapan, dan hal-hal yang mencurigakan” [alinea pertama: empat kalimat pertama].
Menurut catatan sejarah, pada tahun 734 SM kerajaan Asyur telah menaklukkan Israel dan Yehuda lalu menjadikannya sebagai wilayah jajahan. Tahun 722 SM raja Salmaneser dari Asyur kembali menginvasi Samaria lalu memenjarakan raja Hosea dan penduduknya ditawan dalam pembuangan (2Raj. 17:3-6; 18:9-11). Delapan tahun kemudian Sanherib, raja Asyur yang lain, melakukan pengepungan ketat terhadap kota Yerusalem, dan hanya atas pernyataan kesanggupan raja Hizkia dari Yehuda untuk membayar upeti yang besar maka pengepungan itu diperlonggar (2Raj. 18:13-14).
Renungan:
Amat mencengangkan kemiripan keadaan masyarakat pada masa nabi Mikha yang membuat Allah murka, dengan situasi saat ini: korupsi yang terjadi di kalangan pemimpin politik, penegak hukum, bahkan pemuka agama (Mi. 3:11); penyelewengan di bidang hukum, di mana segala sesuatu dapat diatur seturut kepentingan (Mi. 7:3); kesewenang-wenangan, ketidakadilan dan kekejaman pemimpin yang menindas orang kecil (Mi. 2:1-2); praktik keagamaan yang palsu dan kosong karena di baliknya praktik-praktik di atas berlangsung tanpa gangguan (Mi. 6:6-7), bahkan penyembahan berhala marak (Mi. 5:11-13).
Allah melalui nabi Mikha (Mi. 6:1-8) menyatakan dengan tegas kekecewaan-Nya atas keadaan umat-Nya. Untuk itu Ia mengingatkan umat-Nya akan karya penyelamatan-Nya, serta menuntut pertanggungjawaban mereka (Mi.6:3). Inti dari pesan Allah melalui nabi Mikha dalam situasi yang bobrok seperti itu adalah: “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mi. 6:8)
Hidup ini adalah hidup yang keras, dan yang terus berubah, walau lebih kerap ke arah yang lebih tidak baik, bahkan mungkin lebih parah dan kompleks ketimbang situasi di zaman nabi Mikha. Sebagai orang percaya, kita dipanggil bukan untuk “mengingkari” kehidupan nyata ini (dengan bersembunyi di balik kesalehan atau kerohanian yang sempit, atau di balik mimpi tentang hidup yang indah dan sejati di sorga sana), tetapi untuk menerangi dan menggaraminya, dengan hidup adil, setia dan rendah hati.
Penutup:
Hidup, "Berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati." Adalah tuntutan hidup sebagai warga Kristen yang percaya kepada Sang sumber Keadilan itu.
Dalam ayat-ayat sebelumnya, sang nabi mengutuk formalitas yang hampa (ayat 6,7). Ia mengatakan bahwa kegiatan beragama harus disertai cara hidup yang ditandai dengan integritas, kebaikan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan.
Mikha 6:8 masih berlaku bagi umat Allah saat ini, walaupun kematian Kristus di kayu salib telah menghapus kewajiban mempersembahkan korban sembelihan. Mungkin kita telah beriman kepada Yesus sebagai Juruselamat, dan mungkin kita menghadiri kebaktian di gereja dengan setia, memberi persembahan, membaca Alkitab, dan berdoa. Tetapi kita harus waspada agar kegiatan yang baik ini tidak merosot menjadi formalitas yang hampa. Iman kita harus menunjukkan sesuatu yang berbeda dalam cara kita hidup dan memperlakukan orang lain. Kita harus menjadi orang yang hidup dengan rendah hati di hadapan Allah, yang rindu menunjukkan kesetiaan, dan menegakkan keadilan demi Allah.
Sebagian orang mencoba menjadi baik tanpa mengenal Allah. Tetapi juga tidak benar bila kita berkata bahwa kita mengenal Allah padahal kita tidak peduli untuk berbuat baik. Amin
Jumat, 24 Januari 2014
Kamis, 23 Januari 2014
"PERPECAHAN DALAM JEMAAT KORINTUS" I Korintus 1: 10-17
Pembahasan:
Jemaat Korintus adalah jemaat yang melimpah dengan karunia Roh. Jika kita melihat surat-surat Paulus, hanya jemaat Roma yang dapat menyamai karunia Roh yang Tuhan berikan kepada jemaat Korintus. Hampir semua karunia Roh dimiliki oleh jemaat ini. Ini mungkin disebabkan perkenan Tuhan saat Paulus menginjili kota ini. Dalam Kisah 17-18, diceritakan bagaimana pembentukan jemaat Korintus dilakukan. Oleh Lukas, penulis kitab Kisah Rasul, penginjilan Paulus di Korintus diperbandingkan dengan penginjilan Paulus di Efesus. Mengenai ini, akan kita bahas pada subyek I Korintus 3. Namun yang perlu diketahui, penginjilan Paulus di Korintus dilakukan dengan hikmat Tuhan, bukan hikmat manusia. Karenanya Tuhan memberkati jemaat ini (Kisah 17:9-10). Namun, jemaat ini juga menjadi lambang gereja yang penuh dengan perpecahan.
Seperti banyak buku sejarah mengomentari mengenai kota Korintus, demikianlah jemaatnya hidup dalam eskalasi sosial budaya kota pelabuhan yang kental dengan kemaksiatan. Korintus selain sebagai kota pelabuhan, juga adalah kota industri di Akhaya. Begitu pesatnya perkembangan kota yang kini menjadi bagian negara Yunani, penduduk kota Korintus juga hidup dalam kerentanan filtrasi pengaruh luar. Karena itu, dalam jemaat berkembang berbagai doktrin. Pengaruh paling kuat adalah pengetahuan filsafat yang dikenal dengan istilah Gnosis. Pengetahuan ini didasarkan atas filsafat Plato yang mengajarkan dunia idea. Dalam dunia fana yang kita tempati ini, terdapat pula sebuah dunia maya yang sama posisinya dengan dunia ini. Jadi, jika di dunia ini hidup Yesus, maka dalam dunia maya ada pribadi yang sama yang dikenal dengan nama Kristus. Jika orang Kristen telah menjadi percaya, maka di dunia maya mereka sudah selamat. Tubuh di dunia ini tidak penting lagi. Apa yang terjadi dan apa yang dilakukan manusia Kristen sudah tidak penting lagi, karena mereka telah selamat. Inilah dasar pengajaran Gnosis Korintus kala itu. Maka, tidak heran kalau Paulus menulis banyak tentang tata cara kehidupan etis Kristen. Paulus harus menggambarkan konsep Allah tentang tubuh manusia (pasal 3, 5), pandangan Kristen terhadap perselisihan (pasal 4, 6), tentang percabulan (pasal 6), tentang perkawinan (pasal 7), tentang makanan (pasal 8), tentang cara pandang terhadap pimpinan (pasal 9), tentang Israel (pasal 10), tentang wanita (pasal 11), tentang karunia Roh (12-14), tentang kebangkitan tubuh (pasal 15) dan tentang hidup dalam jemaat universal (pasal 16). Sementara surat Paulus kepada jemaat Korintus yang kedua lebih menekankan doktrin daripada kehidupan jemaat di dunia ini. Jadi, betapa miskin dan tak terkendalinya jemaat Korintus dalam kehidupan kerohanian mereka, sementara karunia Roh begitu melimpahnya.
Parahnya lagi, jemaat Korintus ini justru menampakkan pribadi yang kerdil rohani, di tengah-tengah kelimpahan kasih karunia. Betapa tidak menjadi kerdil rohani, jika mereka meng-kotak-kan diri mereka dalam berbagai golongan. Mereka menyebut diri sebagai golongan Paulus, Apolos, Kefas dan Kristus. Perselisihan ini nampaknya sangat tajam sampai harus dilaporkan oleh keluarga Kloe kepada Paulus yang langsung menjadwal untuk datang lagi ke Korintus. Ini adalah sikap kanak-kanak rohani, bahkan penyesatan jemaat.
Pengajaran sesat, berasal dari kata CULT dalam bahasa Inggris yang sering kita terjemahkan sebagai kultur atau kultus atau budaya. Kultus hanya boleh diberikan kepada Tuhan, bukan yang lain. Ketika kita mulai mengkultuskan seseorang, maka itu sudah menjadi penyesatan.
Jemaat Korintus ini menggambarkan kehidupan pribadi kita saat ini. Bagaimana kalau kita melihat ke dalam jemaat itu sendiri? Antar majelis saling tuding. Banyak jemaat muncul bukan karena penginjilan melainkan perselisihan. GKPI Gang Sado...GKPI Marindal...GKPI Ciliwung Bandung dan masih banyak lagi yang saling serang memperebutkan mimbar ibadah. Belum lagi perselisihan terselubung di dalam organisasi yang terkesan harmonis. Banyak hal-hal yang menunjukkan bahwa sesungguhnya surat Korintus ini ditujukan kepada kita semua termasuk GKPI.
Mari kita melihat dengan cara pandang Tuhan. Kalau kita memang ingin mempermuliakan nama Tuhan, hentikan membangun kerajaan sendiri. Jangan hidup dalam tempurung gedung ibadah, karena gereja telah mendunia. Bersatu dan nyatakan perbedaan denominasi sebagai kekayaan khasanah yang Tuhan berikan. Dukung satu dengan lainnya. Jangan meng-kotak-kan gereja dengan organisasi, termasuk kartu anggota. Mari kita muliakan Tuhan dengan kekayaan kasih karuniaNya dan sesuai talenta yang Dia berikan kepada kita. Amen
Selasa, 21 Januari 2014
Khotbah Minggu 26 Januari 2014 1 Korintus 1:10-18 "KESATUAN DALAM KRISTUS"
Pendahuluan
Surat Paulus kepada jemaat Korintus yang disampaikan sekitar tahun 50-52 masih kena-mengena dengan kondisi kita di tahun 2013 ini. Korintus yang masuk wilayah Yunani ini, menjadi pusat pertemuan berbagai budaya, kota teater, kota ilmu pengetahuan, kota olah raga, kota pelabuhan, dan terkenal kuil penyembahan kepada dewa cinta Afrodite. Kota yang sangat duniawi, yang terkenal dengan kejahatannya. Dalam bahasa Yunani ada istilah “mengkorintuskan” yang berarti menjalankan kehidupan yang ditandai kemabukan dan percabulan. Jemaat ini dilanda perpecahan secara internal dengan penampilan 4 kelompok (Partai Paulus, Apolos, Kefas dan Kristus). Bahkan orang Yahudi punya komunitas ahli Taurat, orang Farisi dan orang Saduki. Selama abad pertama muncul golongan Stoa, Epikuros, bahkan nabi-nabi palsu. Pada dasarnya penyebab perpecahan ini karena jemaat tidak dewasa secara rohani.
Saudara-saudara, saya yakin bahwa kita tahu semboyan yang satu ini: “Bhinneka Tunggal Ika.” Tentu semua masih ingat artinya: Berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Para bapak bangsa, ketika menelurkan semboyan ini, tentu tahu betul bahwa bangsa Indonesia memiliki keragaman suku, bahasa, budaya, agama, dll. Meskipun demikian, ada cita-cita dalam diri mereka agar bangsa ini menjadi bangsa Indonesia yang bersatu.
Namun kalau kita melihat keadaan saat ini, bisakah dikatakan bahwa bangsa Indonesia sudah bersatu? Dahulu para pejuang kemerdekaan bahu-membahu mengusir penjajah, tetapi generasi sekarang ini justru sering bahu-membahu untuk menyerang kelompok lain yang tidak sepaham, meskipun sama-sama saudara sebangsa. Jika demikian, di manakah semangat untuk bersatu? Semangat untuk bersatu seolah-olah hanya menjadi kata-kata yang tercetak dalam dokumen yang telah usang dan lapuk dimakan usia; terasa kuno dan tidak relevan.
Ketika saudara mendengar ini, mungkin ada yang berpikir, “Ah, itu bukan urusan saya. Urusan saya adalah jemaat-jemaat yang saya layani. Persatuan dan kesatuan bangsa adalah urusan pemerintah.” Tetapi jika kita renungkan lebih dalam, sesungguhnya keadaan gereja seringkali tidak berbeda dengan keadaan bangsa ini. Kita sering menjumpai jemaat Tuhan yang terpecah belah akibat berbagai macam perselisihan, padahal semua orang percaya sudah dipersatukan dalam satu tubuh Kristus. Jika demikian, di manakah kesatuan itu? Mengapa perpecahan itu sampai terjadi?
Saudara-saudara, Firman Tuhan yang kita baca mengajarkan bahwa bahwa sebagai orang percaya yang merupakan satu tubuh Kristus, hendaknya kita memelihara kesatuan tersebut. Firman Tuhan mengajarkan bagaimana orang percaya dapat memelihara kesatuan tersebut.
I. Kesatuan tubuh Kristus dapat dipelihara jika orang percaya seia sekata dan sehati sepikir (ay. 10-11)
Penjelasan
Dalam perikop sebelumnya (ay. 5-6) dikatakan bahwa jemaat Korintus adalah jemaat yang kaya dalam segala hal, baik dalam perkataan maupun pengetahuan (ay. 5). Di ayat 7 dikatakan: “Demikianlah kamu tidak kekurangan satu karuniapun...” dan Paulus sangat mengucap syukur akan semua ini (ay. 4). Sayangnya, di dalam segala kelebihan yang dimiliki oleh jemaat Korintus, ada borok yang jika dibiarkan dapat menjadi infeksi yang menyebar dan membahayakan kesatuan tubuh Kristus, yakni perpecahan.
Saudara-saudara, di ayat 7 Paulus memberikan nasihat kepada jemaat Korintus dengan memakai bentukparalelisme antitesis. Paulus memakai frasa-frasa “seia sekata” (a)—“jangan ada perpecahan” (b)—“erat bersatu” (b’)—“sehati sepikir” (a’). Dengan bentuk demikian, kita tahu bahwa Paulus menghendaki supaya jemaat Korintus dapat bersatu dan tidak terpecah dengan cara seia sekata dan sehati sepikir.
Untuk memelihara kesatuan tubuh Kristus, rasul Paulus di dalam nama Yesus Kristus menasihatkan dengantegas agar jemaat seia sekata dan sehati sepikir (Baca ayat 10). Perhatikanlah bahwa nasihat ini disampaikan dengan sungguh-sungguh! Paulus tidak meminta jemaat seia sekata hanya untuk menghormati dia, melainkan karena Kristus. “Seia sekata” yang dimaksudkan Paulus adalah kesatuan jemaat dalam pemberitaan dan pengajaran Injil yang murni, yaitu Injil yang tidak terkontaminasi oleh hikmat manusia (2:1-5). Selanjutnya, Paulus menggunakan frasa“sehati sepikir” dengan maksud agar jemaat Korintus memiliki kesatuan dalam mind-set mereka bahwa karunia-karunia berbeda yang dimiliki harus dipakai untuk saling melengkapi sebagai sesama anggota tubuh Kristus.
Namun saudara, bukan hanya perbedaan karunia saja yang mengancam kesatuan tubuh Kristus di Korintus, tetapi juga perselisihan tajam di antara kelompok-kelompok yang ada. Hal ini dilaporkan oleh anggota keluarga Kloe, yang dikenal oleh jemaat Korintus. Berdasarkan laporan tersebut, tampaknya perselisihan antar kelompok sudah tidak wajar lagi. Pemicu utamanya adalah tidak adanya sikap yang “seia sekata” dan “sehati sepikir.” Akibatnyaterjadi perselisihan di dalam pengajaran (ps. 1-4), percabulan (ps. 5-6), masalah dalam pernikahan (ps. 7), perdebatan tentang makan persembahan berhala (ps. 8), penyimpangan dalam Perjamuan Kasih dan Perjamuan Kudus (ps. 11),kekurangan kasih (ps. 13), ketidaktertiban dalam ibadah (ps. 14), bahkan keraguan akan kebangkitan Kristus (ps. 15). Bagian pembuka yang sederhana ini Paulus tuliskan untuk meneropong panorama kitab 1 Korintus secara utuh danmenunjukkan bahwa jemaat ini sedang dalam masa kritis dan harus segera diobati. Karena itu, dengan yakin Paulus menasihatkan bahwa kalau saja setiap orang percaya dapat seia sekata dan sehati sepikir, maka kesatuan tubuh Kristus sudah pasti akan tetap terpelihara.
Ilustrasi
Saudara-saudara, gambaran setiap orang percaya yang seia sekata dan sehati sepikir dapat dibandingkan dengan penampilan sebuah orkestra. Gesekan dawai biola dipadukan dengan tiupan saxophone, petikan harpa, pukulan drum, dan ditambah dengan choir nan merdu, yang semuanya dipadukan menjadi sebuah harmoni yang begitu indah di bawah komando sang conductor. Hasilnya adalah alunan musik dan lirik yang sangat mengagumkan. That’s amazing. Inilah kesatuan itu, yaitu harmoni. Dari perbedaan peran masing-masing pihak, tercipta sebuah harmoni yang indah. Jika masing-masing pihak bermain semaunya sendiri, hasilnya tidak akan indah, tetapi kacau. Di sinilah ada kesatuan di dalam keragaman: unity in diversity.
Aplikasi
Saudara-saudara, sebuah orkestra dapat menjadi gambaran dari tubuh Kristus. Setiap bagiannya memilikiperan, karunia, dan keunikan masing-masing. Allah memang menciptakan kita berbeda dan unik satu sama lain, dengan berbagai macam latar belakang budaya, karunia, talenta, karakter, kepribadian, dan minat. Tentunya Allah tidak menghendaki perbedaan yang ada membuat kita terpecah belah, tetapi supaya kita dapat menciptakan kesatuan untuk kemuliaan-Nya. Dapat dikatakan bahwa kita adalah bagian dari orkestra agung yang Allah ciptakan sehingga dengan perbedaan itu, kita seharusnya menciptakan sebuah harmoni yang indah di bawah arahan sang ConductorAgung kita, yaitu Yesus Kristus.
II. Kesatuan tubuh Kristus dapat dipelihara jika orang percaya tidak terjebak dalam semangat favoritisme (ay. 12-17)
Penjelasan
orang Korintus pada umumnya sangat bangga akan kemampuan intelektual yang mereka miliki. Kalau kita perhatikan 1Kor. 1:18 dan seterusnya, maka kita akan melihat bahwa semakin tinggi kemampuan intelektual seseorang, dia akan semakin dihargai oleh masyarakat. Kalau saja kejadiannya di zaman sekarang, mungkin orang akan datang berbondong-bondong untuk mendengarkan orang tersebut berbicara. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang mungkin rela merogoh kocek lebih dalam hanya untuk selembar tiket yang dijual para calo tiket. Pemberitaan media pun akan menambah semarak dari penyelenggaran ceramah tersebut. Akan ada banyak stasiun TV yang berlomba-lomba untuk mendapatkan hak tayang ceramah tersebut secara live. Orang-orang “pintar” tersebut tentu akan menjadi magnet yang memiliki daya tarik yang luar biasa bagi orang-orang Korintus pada masa itu karena memang itulah yang menjadi kesukaan dan hiburan mereka.
Dengan latar belakang budaya masyarakat yang demikian itu, hampir dapat dipastikan bahwa jemaat Korintus adalah jemaat yang memiliki kebudayaan yang tinggi dan kritis. Dapat dipastikan juga bahwa telinga mereka tidak hanya terbiasa untuk mendengarkan khotbah-khotbah mingguan, tetapi juga ceramah-ceramah dari filsuf-filsuf tersebut. Dan sama seperti kebanyakan orang di Korintus, para jemaat pun nge-fans berat kepada pemimpin-pemimpin gereja yang memberi kesan khusus bagi mereka. Sikap itulah yang akhirnya menimbulkan penggolongan-penggolongan dalam jemaat Korintus, tetapi penggolongan seperti inilah yang dilihat Paulus sebagai benih perpecahan jemaat. Mari kita lihat sejenak penggolongan itu.
Golongan pertama menyebut diri mereka Paulmania. Mereka ini adalah supporter fanatik Paulus, yakni orang yang mendirikan jemaat Korintus dan menjadi bapa rohani mereka. Sebagian besar member dari kelompok ini adalah orang-orang non-Yahudi yang terkesan dengan khotbah Paulus tentang kebebasan Kristiani dan berakhirnya hukum Taurat. Kelompok ini berusaha untuk mengubah kebebasan menjadi lisensi dan menggunakan kekristenan mereka yang baru sebagai sebuah alasan untuk bertindak sesuka hati. Mereka lupa bahwa mereka diselamatkan bukan supaya mereka merdeka untuk berbuat dosa, melainkan supaya merdeka untuk tidak berbuat dosa. Mereka mungkinadalah kelompok yang melakukan percabulan dan memakan persembahan kepada berhala.
Golongan kedua menyebut diri mereka AU (Apolos United). Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang memiliki intelektual yang cukup tinggi dan menyukai hal-hal yang berbau filsafat. Mereka sangat suka kalau Injil itu dibumbui dengan pemikiran-pemikiran filsafat terkenal. Mereka kagum akan kemampuan berkhotbah dan retorika dari seorang Apolos. Mereka mengatakan bahwa Apolos-lah yang berperan penting dalam pertumbuhan jemaat Korintus karena dia yang mengajar dan membuat jemaat menjadi tumbuh berkembang sampai sebesar ini. Mereka mungkinadalah kelompok yang melakukan penyimpangan terhadap perjamuan Kudus dan melanggar ketertiban dalam ibadah.
Yang ketiga adalah mereka yang tergabung dalam PC (Peter’s Community). Anggotanya kebanyakan adalah orang-orang Yahudi. Mereka suka dengan ajaran yang mengatakan bahwa orang percaya harus tetap patuh kepada hukum Taurat. Mereka adalah kaum legalis yang mengagung-agungkan hukum, namun sekaligus meremehkan karunia dan yang menganggap bahwa pemberitaan tentang salib adalah sebuah kebodohan.
Dan yang terakhir adalah mereka yang menamakan diri sebagai CFC (Christ Fans Club). Dengan nama itu saja, orang bisa langsung melihat bahwa mereka adalah kumpulan orang-orang yang sombong, menganggap diri mereka lebih benar dari kelompok lain karena memiliki hubungan khusus dengan Kristus. Dengan berani mereka mengatakanbahwa “Kristus adalah milikku dan bukan milikmu.” Mungkin kelompok inilah yang meragukan kebangkitan tubuh karena memandang Kristus dari sisi manusia saja.
Tokoh-tokoh yang disebut di atas bukan pemimpin atau pendiri dari kelompok-kelompok tersebut. Mereka justru tidak tahu-menahu akan kelompok-kelompok tersebut. Jemaatlah yang membentuk kelompok-kelompok itu karena kekaguman mereka kepada tokoh-tokoh tersebut. Memang semua tokoh tersebut memiliki kualifikasi yang mumpuni, kemampuan yang hebat, dan berkharisma, tetapi justru hal tersebutlah yang membuat jemaat terjebak dalam pengultusan pribadi dan merendahkan kelompok yang lain. Inilah yang dinamakan dengan semangat favoritisme.
Apa yang telah dilakukan oleh para tokoh tersebut sebenarnya tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukan Kristus bagi jemaat. Dalam bagian ini, Paulus mengungkapkan kewaspadaannya agar sebagai pemimpin ia tidak mencuri kemuliaan Tuhan. Memang Paulus punya banyak fans. Ia telah membaptis beberapa orang dan bisa saja ia menjadi pujaan di antara jemaat, namun ia mengatakan bahwa tujuannya bukan itu. Tujuannya hanyalah untuk memberitakan Injil supaya salib Kristus tidak menjadi sia-sia.
Tentang hal ini, Paulus memberikan contoh dirinya sendiri. Paulus sangat sadar bahwa ia hanya alat yang dipakai Tuhan untuk memberitakan Injil. Ia tidak disalibkan seperti Kristus; Apolos dan Petrus juga tidak. Kristuslah yang telah melakukan segalanya untuk jemaat, maka sudah seharusnya jemaat hanya setia mengikut Kristus, dan bukan berpaling kepada para pemimpin rohani. Para pemimpin itu hanya alat yang dipakai Allah untuk memberitakan salib Kristus bagi penebusan dosa. Kalau begitu, maka jelaslah bahwa sebenarnya saat itu jemaat Korintus bukan mengutamakan berita firman Tuhan, tetapi justru mengutamakan pemberitanya. Mereka telah berpaling dari Tuhan kepada hamba-hamba-Nya sehingga tidak heran kalau akhirnya timbul perselisihan di antara mereka. Inilah akibat dari perangkap semangat favoritisme.
Penutup
Saudara-saudara, entah sekarang atau kelak, mungkin kita menjadi pemimpin di gereja atau lembaga Kristen. Mungkin akan ada jemaat atau orang Kristen yang mengagumi dan sangat terkesan dengan kita, bahkan nge-fansberat sama kita. Mereka mungkin akan memuja-muja kita. Kita mungkin bisa mengatakan bahwa hal itu wajar karena kitalah yang merintis atau membesarkan suatu pelayanan. Tetapi, waspadalah! Itu adalah godaan dari si Iblis supaya kita mencuri kemuliaan Kristus sehingga pada akhirnya dapat menimbulkan perpecahan di kalangan orang yang kita pimpin. Seberapapun hebatnya kita, siapakah sesungguhnya diri kita? Ingatlah bahwa kita hanyalah alat dan posisi kita sama dengan orang Kristen lainnya, yaitu anggota tubuh Kristus. Bukan kita kepalanya, tetapi Kristus. Dalam Kol. 1:18, “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.” Kristus harus menjadi yang terutama dalam kehidupan orang yang kita layani, bukan kita. Memandang kepada Kristus, dan bukan diri kita, adalah hal yang dapat membangun kesatuan dalam tubuh Kristus.
Inilah pesan hari ini, yaitu bahwa sebagai orang percaya kita ini satu tubuh. Karena itu, kita harus saling memelihara kesatuan. Mari kita ciptakan satu harmoni yang indah di dalam Kristus! Dengan demikian, semua orang dapat menjadi saksi Kristus yang hidup dan akhirnya nama Kristuslah yang dimuliakan.
Amin. Di ambil dari beberapa sumber
Kamis, 16 Januari 2014
Khotbah Minggu 19 Januari 2014 Yesaya 49:1-7 Thema : "Kesetian Hamba yang melayani".
I. Pendahuluan
Yesaya berarti “Tuhan adalah keselamatanku”. Kitab Yesaya ini ditulis dalam tiga kurun waktu yaitu: tahun 740-700 s.M, Masa pembuanga (587-535 s.M). dan masa pasca pembuangan (sekitar 530 s.M). Yesaya memberitakan penghukuman Allah atas kejahatan Israel, kaena bangsa Israel tidak hidup dalam kekudusan Allah. Allah itu adalah Allah yanng Mahakudus maka Israel Israel mestilah hidup kudus, beribadah yang benar, menegakkan keadilan, kesetiaan, dan hidup dengan kekudusan sesuai hukum Taurat. Yesaya menyerukan pertobatan sebagai satu-satunya jalan untuk dapat diselamatkan. Yesaya juga menekankan tentang pengharapan baru tentang keselamatan Israel yang mengalami pembuangan. Peristiwa pembuangan menimbulkan keputusasaan Israel. Namun Yesaya meengajak umat yang terbuang supaya ber-pengharapan, Tuhan masih mengasihi dan akan menyelamatkan Israel melalui seorang “hamba” yang dipahami sebagai Mesias. Yesaya juga menekankan dan menegaskan kedatangan Mesias dari keturunan daud sesuai janji Allah. Mesias menjadi terang dunia yang menyelamatkan seluruh bangsa-bangsa yang hidup dalam kegelapan.
Yesaya dipanggil Tuhan menjadi nabi pada tahun kematian Uzia. Penglihatan tentang pemanggilannya itu dilukiskan dalam Yesaya 6. Yesaya melihat Tuhan duduk di atasnya takhta-Nya dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci, dengan serafim berdiri di sebelah atas-Nya. Dua sayap dipakai serafim itu untuk menutupi mukanya dan dua sayap dipakai untuk menutupi kaki-Nya dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang lalu berseru “Kudus, kuduslah Tuhan semesta Alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya”.
II. Tafsiran Teks
Hamba Tuhan, sebagaimana digambarkan dalam kitab Deutero-Yesaya, mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Tuhan. “Lihat itu hambaKu yang kupegang.....aku telah menruh Rohku ke-atasnya (Yes. 42:1)”. Hamba Tuhan itu harus menderita, dalam pendertitaan Hamba Tuhan itu ada segi baru yang sebelumnya belum pernah muncul dalam kesaksian Perjanjian Lama yaitu hamba Tuhan harus menderita sebagai penganti orang lain dan demi Keselamatan-an orang lain. Dalam ayat 3 Allah mengatakan kepada Yesaya “engkau adalah hambaKu”. Tugas dari hamba Tuhan itu adalah untuk mengembalikan kehidupan orang-orang Israel kepada kehidupan yang takut akan Tuhan.hamba Tuhan mempunyai misi kepada Israel. Dia adalah orang yang memulihkan Israel. Di tengah-tengah situasi yang dihadapi oleh bangsa Israel itu Yesaya dipiliha Allah untuk menjadi Nabi “menyuarakan suara kenabian yaitu suara kebenaran Allah”. Yesaya menjalani tugasnya sebagai nabi yang adalah hamba Tuhan bagi Israel. Ada dua dimensi Allah memanggil nabinya : yang pertama adalah dimensi terkait dengan karakter dan kehidupan peribadinya, dimensi yang kedua: terkait pergumulan konteks dimana kemudianpribadi yang dipanggil diutus ke tempat itu. Maka penting bagi setiap pribadi yang dipanggil mengetahui dan melaksanakan tugasnyaa sebagai hamba Tuhan. Hamba dapat dikatakan sebagai pelayan, istilah pelayan dalam PL berasal dari bahasa Ibrani “ebed” yang artinya budak, hamba, pelayan, sedangkan dalam PB kata ini berasal dari bahasa Yunani “doulos” yang artinya sebagai hamba (budak). Dapat dikatakan secara sederhana kaata ini berarti orang yang bekerja untuk keperluan orang lain atau untuk melaksanakan kehendak orang lain. Dan hamba dalam kata ini tidak sama dengan pekerjaan upahan. (Bnd. Kata hamba ini sering digunakan oleh Yesus Kristus kare2na kata ini bukanlah suatu kehinaan atau pekerjaan yang hina melainkan hamba itu menunjukkan kesetiaan diri di hadapan Allah. Teladan hamba orang Kristen terdapat dalam Yesus Kristus yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani “Mar 10:45”).
Yesaya dipanggil dan diutus sebagai hamba Tuhan di tengah-tenagah pergumulan bangsanya. Secara spritual , Israel adalah umat yang tidak lagi setia pada Tuhan. Menjelang pembuangan mereka terbukti lebih mengandalkan bangsa lain dibanding Tuhan. Itu sebabnya, Tuhan mengizinkan Israel ditawan dan dibuang di Babel (pergumulan sosial-politik). Ada 3 tugas hamba yang diberikan kepada Yesaya pada Yesaya 49:1-7 “Pertama. Menyatakan keagungan Allah (ayat 3) tugas ini menuntut Yesaya untuk menceritakankebesaran, keagungan dan kuasa Allah yang sepatutnya diandalkan bangsa Israel. Kedua. Mengembalikan Yakub kepada-Nya (ayat 5) melalui Yesaya Israel dipanggil untuk mengutamakan Tuhan sehingga restorasi rohani akan berdampak pada tegaknya “suku-suku Yakub” (ayat. 6) yang terserak dalam pembuagan. Ketiga, menjadi terang bagi bangsa-bangsa (ayat 6), Ketika israel dapat dipulihkan maka seluruh Israel akan heran dan turut serta dalam mengakui keagungang dan kuasa Allah dalam kehidupan mereka. Dan dengan demikian bangsa Israel mampu menjadi teladan dan terang bagi bangsa-bangsa lain yang ada disekelilingnya. Ketiga hal inilah tugas dari Yesaya di tengah-tengah bangsa Israel yang hidup dalam pembuangan Babel.
III. Kesimpulan
Sebagaimana Yesaya diutus di tengah-tengah bangsa Israel ketika bangsa itu hidup dalam pembuangan, demikianlah kita sebagai orang –orang yang percaya kepada Allah yang menyatakaan dirinya melalui Yesus Kristus harus mampu menjadi Yesaya-yesaya baru untuk memberitakan suara kenabian di dalam konteks kehidupan yang penuh dengan kegelapan ini. Harga mati seorang hamba Tuhan adalah rela menderita demi kemuliaan Tuhan. Orang yang percaya adalah orang yang menerima Anugerah Tuhan. Maka setiap orang yang telah menerima keselamatan dari Allah, maka ia adalah hamba Tuhan yang dipanggil untuk memberitakan pekerjaan Allah di tengah-tengah duni. Pelayanan apapun dan dimanapun tidak pernah lepas dari persoalan . Namun tantangan dan pelayanan dan kehidupan yang dihadapi di masa sekarang ini tidak menyurutkan semnagatnya dalam melaksanakan tugas yang dipercayakan Allah. Sebagai hamba Tuhan kita bertugas untuk mengumpulkan kembali orang-orang Kristen yang hidup dalam kegelapanan yang terpecah berai. Selamat menjadi hamba, jadilah sebagai hamba yang melayani bukan untuk dilayani.
Langganan:
Postingan (Atom)