Minggu, 15 Desember 2013

Khotbah Natal, 25 Desember 2013 Matius 1:18-25 “KELAHIRAN YESUS KRISTUS”

Pendahuluan: Melalui pengalamannya sebagai seorang hamba Tuhan Karl Bart, seorang teolog dari Swiss, mengungkapkan bahwa “keberanian adalah rasa takut yang telah disertai dengan doa”. Ungkapan ini secara nyata dialami oleh Maria dan Yusuf ketika mereka menghadapi situasi kehidupan yang sulit dan sangat menakutkan. Maria mengalami kebingungan dan terus bertanya dalam hati dan doanya, mengapa aku Tuhan? aku kan hanya seorang wanita biasa dari keluarga yang biasa-biasa, berasal dari Nazaret, tempat yang diabaikan dan tidak pernah diperhitungkan. Mengapa aku Tuhan? aku kan telah bertunangan dan jika aku hamil di luar pernikahan, maka semua orang di kampungku akan menyeret dan melempariku dengan batu, sesuai dengan hukum yang berlaku. Tapi……jika itu yang menjadi kehendakMu ya Tuhan, aku ini hambamu, lakukanlah sesuai dengan rencanaMu, pakailah hidupku agar bisa menjadi berkat bagi banyak orang. Demikian juga pergumulan yang terjadi dalam diri Yusuf, mengapa aib ini harus terjadi pada tunanganku? aku sungguh mengasihinya dan kita sudah berjanji akan saling menjaga hidup yang kudus dihadapan Allah. Mengapa peristiwa ini terjadi dalam kehidupanku, kala aku berada di ambang kebahagiaan akan menikahi dambaan hatiku? Yusuf mengalami ketakutan, kebingungan, namun ia berserah pada kehendak Tuhan. Pilihan dan panggilan Tuhan untuk menghadirkan Kristus dalam diri seseorang ternyata mengandung resiko yang tidak ringan dan ada konsekuensi yang harus ditanggung. Namun apapun resiko yang harus dihadapi, seseorang pasti akan punya keberanian untuk menghadapinya, asal kan tetap taat dan berharap dalam doa akan penyertaan dan campur tangan Tuhan. Penjelasan: Natal adalah sesuatu yang khusus bagi setiap orang percaya, dan identitas yang tidak dapat dipisahkan dari kekristenan. Ada banyak orang atau tetangga yang tidak pernah kita lihat pergi ke gereja, tiba-tiba di bulan Desember, ada pohon Natal di rumahnya, bahkan dia sendiri pergi ke gereja. Memang, Natal adalah identitas kekristenan, tetapi seringkali kita hanya disibukkan dengan hal-hal lahiriah, sehingga tidak dapat memahami makna Natal yang sebenarnya. Melalui Matius 1:18-25, ada tiga perkara penting yang harus selalu kita ingat saat merayakan Natal: Natal berbicara tentang Allah yang peduli dengan manusia Dunia ini telah menjadi dunia yang egois, sehingga sulit menemukan orang yang peduli dengan orang lain. Akibatnya, dunia ini terasa kacau, hidup lebih menyakitkan, karena masing-masing orang hanya peduli pada kepentingan dan kesenangannya sendiri. Oleh sebab itu, ada jurang yang semakin tajam dalam hidup ini: yang kaya semakin bertambah kaya, dan yang miskin semakin ditekan sehingga semakin miskin. Kekristenan yang sejati tidak mementingkan diri sendiri. Alkitab berkata “pergi dan jadikan sekalian bangsa muridKu”, secara kekristenan itu memang berbicara tentang penginjilan, tetapi secara sosial, itu berbicara bagaimana Allah mengajarkan kita untuk peduli dengan orang lain. Ø Allah unik dalam jalanNya Allah kita unik dalam jalanNya, dengan kata lain jalanNya sulit untuk kita pahami. Kita memang tidak percaya bahwa Allah beranak dan punya anak, tetapi yang kita percayai yakni bahwa Allah telah turun menjadi manusia, dan di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehNya manusia dapat beroleh keselamatan selain di dalam nama Yesus. Allah unik dalam jalanNya, sehingga kita tidak tahu sampai kapan, tidak tahu mengapa, dan tidak tahu bagaimana. Tetapi kita tahu, bahwa rencanaNya pasti akan digenapi dalam hidup kita. Itulah mengapa kita tidak berkecil hati. Di balik keunikan jalanNya, Allah membuktikan bahwa Dia adalah Allah yang tidak pernah gagal, dan tidak pernah mempermalukan orang yang berharap kepadaNya. Ø Kasih Allah belum lengkap tanpa respon manusia Memang, Allah memberitahukan semuanya kepada Yusuf. Tetapi Yusuf tidak akan menerima dan mengalami segala sesuatu jika dia tidak meresponinya. Artinya, tidak hanya Allah yang berbuat, tetapi Yusuf juga perlu melakukan sesuatu. Allah tidak membutuhkan siapapun yang tidak mau meresponiNya. Alah tidak membutuhkan seseorang karena kebesaran atau kehebatannya, melainkan seseorang yang mau meresponiNya. Kasih Allah belum lengkap tanpa respon manusia. Kasih Allah yang sepihak itu harus menjadi kasih yang lengkap ketika kita meresponiNya. Allah telah melakukan segalanya untuk kita, dan waktu kita meresponi kasihNya, di sana kita bisa melihat indahnya kuasa Natal. Mungkin, ada banyak hal baik yang belum terjadi dalam hidup kita, karena kita tidak meresponiNya. Karena Yusuf mau meresponi, maka Yusuf melihat pertolongan Tuhan, Ketaatan akan selalu mendatangkan hasil bagi orang percaya. Dalam kisah yang dicatat Matius di perikop ini lebih menceritakan mengenai pergumulan seorang manusia bernama Yusuf dalam menanggapi rencana besar Allah bagi manusia. Beberapa kali Matius menekankan bahwa peristiwa kelahiran Yesus ini adalah karya Allah Roh Kudus dan pesan ini pun disampaikan malaikat Tuhan kepada Yusuf. Dengan kata lain penulis kitab berusaha mengajak kita melihat bahwa semua proses kelahiran Yesus tidak lepas dari campur tangan Allah, bukan hanya kepada Maria, tetapi juga kepada Yusuf yang mendapat pesan khusus melalui sebuah mimpi. Allah menggunakan malaikat sebagai pengantara untuk menyampaikan pesan kepada Yusuf agar jangan menceraikan Maria. Bahkan kelahiran Yesus ini pun sudah direncanakan Allah jauh pada zaman sebelum mereka, dan sudah dinubuatkan oleh nabi Yesaya. Dengan demikian jelaslah bahwa Allah sudah mempersiapkan rencana keselamatan bagi manusia sejak lama, bahkan sejak manusia jatuh dalam dosa (Kej.3:15). Dalam menggenapkan rencanaNya, Allah memakai orang-orang tertentu, baik itu para nabi di zaman PL, Yohanes Pembaptis yang hidup di antara zaman PL dan PB, hingga yang terdekat melalui Yusuf dan Maria. Masing-masing pribadi ada peranan secara khusus, bahkan termasuk para malaikat sebagai pembawa berita. Yusuf dan Maria memainkan peran yang Allah percayakan kepada mereka dengan ketundukan pada rencana Allah. Yusuf dan Maria mau dipakai Allah dan itu ditunjukkan melalui ketaatan mereka dan kesediaan mereka untuk menjalani hidup seperti yang Allah tentukan bagi mereka, walau ada risiko atau kesulitan yang harus dihadapi karena ketaatan tersebut. Namun Yusuf tidak melarikan diri, melainkan percaya bahwa Anak itu adalah Imanuel. Hingga hari ini Allah masih bekerja menggenapkan pekerjaanNya melalui manusia-manusia, diantaranya adalah kita. Sediakah kita menjadi orang kepercayaan Allah? Orang kepercayaan yang tetap setia mengerjakan kehendak Allah dengan taat, bahkan ketika ada risiko/kesulitan yang kita hadapi? Menjelang peringatan Natal, mari merenungkan dan mengambil tindakan atas pertanyaan: Apa yang akan kita lakukan bagi Allah untuk menunjukkan kepadaNya bahwa kita adalah orang yang dapat dipercayaiNya? Tuhan ingin kita juga memiliki hidup yang taat kepada Firman Tuhan. Tuhan ingin kita seperti Yusuf mencintai Firman Tuhan, menggumuli dan melakukannya dalam hidup. Ketaatan kita kepada Firman Tuhan akan membentuk karakter hidup kita semakin lama semakin baik, menjadikan kita bijaksana dalam hidup dan bahkan membuat kita menjadi berkat bagi orang lain. Ketaatan kita kepada Firman Tuhan akan memproses hidup kita semakin berkualitas dan memuliakan Dia. Persoalannya, sudahkah Firman Tuhan mengubahkan hidup kita? Atau Firman Tuhan hanya penghias bibir kita; hanya menambah pengetahuan kita. Apakah Firman Tuhan sudah kita praktekkan dalam hidup kita. Seberapa banyak Firman Tuhan mengubahkan hidup kita. Atau kita di gereja mengangguk-angguk tetapi setelah keluar dari gereja kita lupa dengan apa yang kita iyakan di dalam gereja? Pada waktu Yusuf hendak melaksanakan rencanaNya itu, ternyata Malaikat Tuhan datang berbicara kepada Yusuf lewat mimpi. Tuhan mencegah niat Yusuf untuk menceraikan tunangannya itu. Sebelumnya, Yusuf sama sekali tidak tahu rencana keselamatan dari Tuhan. Itu sebabnya, melalui mimpi Tuhan berfirman kepada Yusuf bahwa anak dalam kandungan Maria itu berasal dari Roh Kudus. Anak dalam kandungan yang kelak disebut Yesus itu sedang menjalankan misi penebusan bagi dosa manusia. Maria dan Yusuf dilibatkan dalam misi itu. Oleh sebab itu Yusuf diperintahkan untuk mengambil Maria sebagai istrinya. Sebenarnya perintah dari Tuhan bukanlah hal yang gampang bagi Yusuf. Ia bisa saja tidak MENTAATI PERINTAH TUHAN ITU. Pertama, peristiwa itu tidak masuk akal. Bagaimana bisa maria mengandung dari roh kudus. Kedua, Jika Yusuf mengambil Maria sebagai Istrinya, maka ia tentu akan memiliki TUGAS yang sangat tidak gampang dalam rencana Allah. Saudara lihat dalam perjalanan berikutnya, bagaimana Yusuf membawa keluarganya mengungsi ke Mesir karena ancaman Herodes. Yusuf kemudian membawa keluarganya ke Nazaret dan bersama dengan Tuhan Yesus hidup disana. Saudara juga ingat bagaimana Yusuf dengan Maria berusaha mencari Yesus di bait Allah ketika ia berumur 12 tahun. Tugas dan tanggung jawab Yusuf besar. Apakah Yusuf menolak? Ternyata tidak. Dalam ayat 24 dikatakan “sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan Malaikat itu kepadanya.” Yusuf tidak bersoal jawab dengan Tuhan; Yusuf tidak mengajukan sejumlah argumentasi atau alasan untuk menolak perintah Tuhan. Yusuf TANPA KERAGUAN SEDIKITPUN MENTAATI perintah Tuhan. Kehebatan atau kemampuan luar biasa yang kita miliki ketika mendengar perintah Tuhan adalah mengajukan banyak sekali alasan-alasan untuk menolak perintah Tuhan. Tuhan memberikan banyak perintah kepada kita, namun banyak sekali alasan yang kita kemukakan untuk menolak perintah Tuhan. - Perintah untuk beribadah kepada Tuhan dengan setia. Alasan: ada tamu, ada undangan, sakit perut, pekerjaan banyak, capek, waktu untuk keluarga. - Perintah untuk melayani Tuhan: Alasan: tidak ada waktu, saya tidak suka orang itu. - Masih banyak perintah lain yang kita tidak patuhi dengan alasan-alasan yang begitu banyak. Amin. Dari berbagai Sumber

Sabtu, 14 Desember 2013

Khotbah Minggu, 29 Desember 2013 Kolose 3:15-17 “Damai Sejahtera Kristus Memerintah dalam hatimu”

Pendahuluan: Bersyukurlah, merupakan kata yang mudah diucapkan, tetapi realisasinya tidak demikian. Ketika Allah memperhatikan dan mempedulikan kebutuhan kita, maka ungkapan syukur merupakan pilihan yang paling bijaksana. Dalam menyelidiki mengenai bersyukur, maka di bawah ini akan memaparkan tiga alasan mengapa kita selayaknya bersyukur kepada Allah, yaitu: 1. Dikuduskan dan dikasihi-Nya (Kolose 3:12). - Kenakanlah buah-buah kebenaran. - Sabarlah seorang terhadap yang lain. - Ampunilah satu sama lain. 2. Diperintahkan damai sejahtera Kristus (Kolose 3:15). - Menghasilkan kasih (Kolose 3:14). - Menciptakan persatuan (Kolose 3:14). - Mencari perdamaian (I Petrus 3:11). 3. Didiami oleh perkataan Kristus (Kolose 3:16). - Dalam mengajar. - Dalam menegur yang salah. - Memuji dan memuliakan Allah. Untuk mengetahui tujuan penulisan surat Kolose ini, kita perlu tahu kondisi jemaat yang dikirimi surat, keduanya saling berkaitan. Dari pembacaan ayat-ayat di atas, kita mengetahui adanya pengaruh ajaran yang salah dalam jemaat Tuhan. Ajaran-ajaran Yunani berusaha masuk ke dalam gereja. Ajaran-ajaran tersebut salah karena tidak kembali kepada Kristus. Jemaat Kolose sudah merendahkan diri, beribadah kepada malaikat dan mendapatkan penglihatan, tapi menurut Paulus semuanya itu salah karena tidak kembali kepada Kristus. Paulus dalam surat Kolose berkali-kali menekankan untuk kembali kepada Kristus. Kolose 1 adalah salah satu pengajaran yang penting mengenai Kristologi. • Kolose 1:3-5 : Kami selalu mengucap syukur kepada Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, setiap kali kami berdoa untuk kamu, karena kami telah mendengar tentang imanmu dalam Kristus Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil. • Kolose 1:8 : Dialah juga yang telah menyatakan kepada kami kasihmu dalam Roh. • Kolose 2:16 : Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; • Kolose 2:18-19 : Janganlah kamu biarkan kemenanganmu digagalkan oleh orang yang pura-pura merendahkan diri dan beribadah kepada malaikat, serta berkanjang pada penglihatan-penglihatan dan tanpa alasan membesar-besarkan diri oleh pikirannya yang duniawi, sedang ia tidak berpegang teguh kepada Kepala, dari mana seluruh tubuh, yang ditunjang dan diikat menjadi satu oleh urat-urat dan sendi-sendi, menerima pertumbuhan ilahinya. • Kolose 2:23 : Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskan hidup duniawi. Sebagai jemaat Kristen yang adalah orang-orang pilihan Allah yang diKuduskan dan diKasihiNya patut kita syukuri. Bukan berarti bahwa kita orang Kristen awalnya orang baik-baik semua dan suci tak bercacat. Dengan perayaan Natal telah mengingatkan kita: Kelahiran Yesus, Dialah yang menyelamatkan umatnya dari dosa mereka dan Dia lmanuel. (Mat. 1:21,23). Semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak- anak Allah yaitu mereka yang percaya dalam namaNya. (Yoh. 1:12). Allah yang baik memilih dan menguduskanNya, menibahariNya, sehingga orang Kristen sebagai anak Tuhan, punya kelebihan dari orang lain. Penjelasan: Rasul Paulus dalam Kol. 3:15-17 mengemukakan beberapa unsur persekutuan anak-anak Tuhan: a. Hidup dalam pasekutuan anak Tuhan Sebagai orang piiihan yang dikuduskanNya dan dikasihiNya, setiap pribadi harus mengalami pembaharuan mencakup segi moral, etika,dan spiritual yang telah diselamatkan, dengan meninggalkan kebiasaan hidup lama, sikap hidup yang buruk (3:5-9) Hidup dalam persekutuan anak-anak Tuhan dengan mengenakan pakaian Hidup baru.Kenakanlah : Belas Kasihan, Kemurahan, Kerendahan Hati, Kelemah lembutan, dan Kesabaran. Kasus : Dalam satu jemaat adalah seorang yang rajin melayani, terpilih jadi penatua nyatanya mudah sekali tersinggung, merasa dia lebih baik dari yang lain, sikap hidup lama masih menguasai hidupnya, karena dia belum di selamatkan, merusak persekutuan dengan membentuk kelompok, memecah persatuan. Memang kita perlu menguji diri kita sendiri apakah kita sungguh pacaya pada keselamatan Tuhan Yesus ( 2 Kor 13:3-7 ). b. Saling nienganipuni seseorang dengan yang lain: Dalam hidup bergereja, sering kali ada hal yang membuat sakit hati, tersinggung satu sama lain, oleh karena itu kita harus sabar terhadap yang lain dan ampunilah seorang akan yang lain. Hanya dengan sikap demikian persekutuan anak-anak di baharui dan damai Sejahtera sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian (ayat 13c) Tuhan Yesus sebagai teladan kita, dalam pengampunan kita harus mengikuti jejakNya ya Bapa, Ampunilah mereka, Sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Luk23:24a). Bagaimana Saudara sulitkah mengampuni orang yang jelas telah bersalah kepada kita, atau yang telah mempermalukan kita, atau yang menyakiti hati kita. Perlu kita koreksi diri, kita juga bukan yang yang paling benar, paling suci bukan? Apakah kita terlalu miskin untuk mengampuni atau terlalu pelit untuk mempraktekkan Firman Tuhan. “Sesudah Dia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, di dalam Dia kita memiliki penebusan kita yaitu pengampunan dosa” (Kol. 2:13c + Kol. 1:14, 1 Pet. 2:21-24). Jadi jika kita ingin mernbangun persekutuan anak-anak Tuhan, lakukanlah mengampuni seseorang akan yang lain, jangan menaruh dendam, kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Pengampunanjangan ditunda (3 : 14) Sebagaimana dianjurkan Amsal 3:27-35: "Jangan menahan kebaikan dari orang yang berhak menerimanya, padahal engka mampu melakukannya", Jangan menunda atau tangguhkan perbuatan kebaikan. Seorang Kristen. Barbara Pachter mengatakan kata bijak: "Jika engkau katakan aku hendak melakukau sesuatu yang baik, lakukanlah dan lakukanlah tepat waktu, tentukan batas akhirya, selalu siap melakukan yang baik.” John Wesiey, (Bapak Gereja Methodis) mengatakan, “Lakukanlah segala macam kebaikan yang anda dapat lakukan dengan segala cara yang dapat anda lakukan di segala tempat yang anda jumpai, di setiap saat yang diberikan, bagi siapa saja yang anda jumpai, sejauh yang anda dapat lakukan. Pelayan Tuhan tidak menunggu saat yang tepat. Pelayan Tuhan tidak melakuan tugas asal saja” (Kol. 3:23). c. Hendaklahi perkataan Kiistus diam dengan segala kekayaannya diam diantarakamu (ayat 16). Sebagai anak-anak Tuhan, setiap hari, 1 Minggu, 1 bulan, 1 tahun membaca Firman Tuhan. Apa sudah banyak kita simpan dalam hati kita atau sedikit, apa lagi siap melakukannya dan memakainya pada waktu yang tepat. “Bagamana kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat karena yang di ucapkan mulut meluap dari hati” (Matius 12 : 34-35 ). “Firman Tuhan itu dekat kepadamu, yakni di dalam hatimu dan di dalam mututmu” (Roma 10: 8 + 10). Perkataan Kristus kita gunakan tiap hari dengan segala hikmat mengajar, menegur, seorang akan yang lain, dan sambil menyanyikan Mazmur, pujian dan nyanyian Rohani dan mengucap syukur pada Allah (ayat 16 ) Hal itu terjadi jika benar-benar perkataan Krtstus diam di antara kita, berkuasa di antara kita akan tercipta persatuan yang kokoh. Tiap anggota tubuh wajib menjaga dan memelihara supaya hidup damai sejahtera kristus (ayat 15). Tanpa persatuan dalam Gereja (tubuh Kiistus), Gereja itu tidak akan dapat menjadi saksi Damai Sejahtera bagi dunia. d. Wujud Transformasi Hidup : “Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan perbuatan, lakukanlah semua itu dalam nama Tuhan Yesus" (ayat 17). Transformasi hanya bisa terjadi bila terus menerus dengan Kristus, maka Transfotmasi semakin menyerupai Yesus Kristus. Artinya : bagaimana kita melihat: Trasformasi itu di teruskan dan menetapkan tingkah laku yang mulia dan menumbuhkan karakter ilahi. Sebagaimana karakter Jesus Kristus di praktekkannya sepanjang hidupnya dalam pelayananNya di dunia ini. Sebagai Tuhan teiah mengampuni, perbuatlah demikian (3:13c). Kenakanlah Kasih dan hendaklah Damai Sejahtera memerintah dalam hati (ayat 15).Menjadi seperti Kristus (Ef. 4:13, 1 Pet. 2:21) Renungan Kita harus membangun persekutuan anak-anak Tunan (1 Yoh 3:1). Jangan asal saja. Belajarlah mengampuni dari masalah yang kecil : ''Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapa yang di Sorga akan menganipuni kamu juga ( Matius 6 . 14 ) Semuanya harus berjuang dan berusaha memelihara, menciptakan damai sejahtera. Kehidupan Kristiani harus mehujudkan Kehidupaa keluarga Allah (Efesus 2:19). Amin.

Khotbah Minggu Advent IV, 22 Desember 2013 Matius 3:1-12 "Persiapkan Jalan Untuk Tuhan"

Pendahuluan Yohanes Pembaptis berseru: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat. 3:1-2) Kata “bertobat” (Yunani = perubahan pikiran atau berbalik arah). Jika demikian, menurut Yohanes untuk masuk dalam Kerajaan Sorga, seseorang perlu mengubah pikirannya dari cara hidup dalam “keakuan”, bahkan dalam “kesombongan rohani” berbalik arah dengan mengakui pemerintahan Kristus yaitu mewujudkan kasih dan keadilan sebagaimana yang selalu diajarkan dan dinampakkan dalam kehidupan Tuhan Yesus. Benturan demi benturan yang terjadi di sekeliling kita, apakah itu di tempat kerja, di tempat kita melayani, atau bahkan dalam kehidupan keluarga kita, sering mengobarkan api kebencian dan permusuhan. Namun justru di tempat inilah kita dipanggil oleh Kristus untuk mengobarkan api cinta-kasih, pengampunan dan kemurahan hati. Sekarang, dalam masa Adven ini, kita dipanggil untuk menundukkan diri dan mengijinkan Kristus memerintah serta mengendalikan seluruh kehidupan kita, sehingga kita dimampukan untuk menghadirkan damai sejahtera Kristus ditengah situasi bangsa yang sedang mengalami berbagai musibah, demikian juga peristiwa kekerasan, kecenderungan suka pamer “kehebatan diri sendiri”, dan tidak peduli pada yang lain. Penjelasan 1. Hidup dan pelayanan Yohanes Pembaptis adalah Pintu masuk bagi Yesus Kristus memulai karya keselamatan dunia. (ay 1-3), Penampilan Yohanes Pembaptis di padang gurun menjadi sangat fenomenal karena : Ø Masyarakat yang haus akan perobahan sosial dan agama tiba-tiba terbangun dari mimpi lama akan kedatangan Mesias, hampir semua kalangan melihat sudah tiba saatnya janji itu digenapi. Ø Pilihan tempat pelayanan Yohanes Pembaptis di padang gurun, kemudian menegaskan betapa dalamnya kerinduan masyarakat akan kedatangan zaman pembaruan itu, sehingga jarak yang jauh dari kota ke padang gurun, serta segala kesulitan dan ancaman yang tidak sedikit di padang gurun pun sama sekali tidak dihiraukan penduduk Yerusalem dan seluruh Yudea. Ø Tema khotbah Yohanes Pembaptis benar-benar menantang seluruh umat yang merindukan kembali persekutuan yang intim dan tulus dengan Allah, sebab tidak ada orang yang boleh datang bersekutu denganNya di dalam kenajisan oleh satu titik dosa pun. Oleh karena itu, seruan Yohanes Pemnbaptis yang mengatakan :“Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat“ ay 2, memang menggetarkan hati seluruh umat itu dan menggerakkan jiwa mereka dengan tidak ragu-ragu memberi diri mereka dibaptis. 2. Profil Yohanes Pembaptis sebagai perintis kedatangan Mesias meyakinkan umat akan penggenapan firman Tuhan (ay 4-6). Penulis injil Matius meyakinkan pembaca Injil ini, bahwa kedatangan penduduk Yerusalem dan seluruh Yudea ke padang gurun untuk menerima baptisan pertobatan secara tidak langsung dipengaruhi oleh penampilan Yohanes Pembaptis. Masyarakat luas dengan cermat memerhatikan penampilan Yohanes Pembaptis, baik dari tata busana dan pola makan serta gagasan yang diucapkannya. Penampilan Yohanes dilihat sebagai penampakan kembali sosok Elia, nabi legendaris Israel. Elia yang penuh kharisma mendemonstrasikan kepada seluruh umat Israel bahwa Yahwe adalah satu-satunya Allah yang hidup, tidak ada Allah lain kecuali Yahwe (1 Raja 18:20-39), seakan hidup kembali. Artinya profil Yohanes Pembaptis memiliki andil yang besar juga dalam meyakinkan umat akan kebenaran khotbah pertobatan yang disampaikannya. 3. Yohanes Pembaptis pemimpin gembala yang menggunakan tongkat dan gadanya dengan baik (ay 7-10). Sebagaimana yang diperlihatkan Yohanes Pembaptis, bahwa teguran keras justru pertama-tama dialamatkan kepada para pemimpin umat yang dinilai korup, tidak setia dan munafik, yaitu orang-orang Farisi dan Saduki. Yohanes Pembaptis tidak ragu-ragu menegur mereka sebagai keturunan ”Ular beludak” (ay 7) dan juga teguran disampaikan kepada seluruh umat, bahwa rasa nyaman berdiri dibalik kebesaran nama Abraham secara genealogis sama sekali tidak bisa mengubah kehidupan dan masa depan mereka. Oleh karena itu Yohanes pembaptis berseru agar mereka berhenti dari rasa nyaman dan kebanggaan masa lalu yang semu, tetapi mereka harus benar-benar menanam dan memelihara pohon yang baik dan yang menghasilkan buah yang baik. Sebab nama besar Abraham tidak menghalangi ”kapak” penghukuman Tuhan untuk menebang habis orang-orang yang tidak menghasilkan buah yang baik (ay 8). 4. Pemimpin gembala mengarahkan seluruh hidup dan pelayanannya kepada kemuliaan nama Tuhan Yesus Kristus (ay 11-12). Apapun yang dilakukan dan hasil yang dicapai oleh seseorang pemimpin dalam pelayanannya harus diukur dari siapakah yang mendapat kemuliaan dan kehormatan melalui pelayanan tersebut ? Yohanes Pembaptis dengan jelas menunjukkan bahwa seluruh hidup dan pelayanannya bermuara pada pengagungan nama Yesus Kristus, Mesias yang dinanti-nantikan seluruh umat. Yohanes Pembaptis dengan rendah hati menempatkan posisi dan seluruh pencapaiannya jauh dibawah apa yang dikerjakan dan dicapai oleh Yesus Kristus. Hal itu jelas sekali dari pernyataan simbolis ”aku membaptis kamu dengan air”, lalu memperhadapkannya dengan apa yang akan dilakukan Yesus Kristus ”Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan Api” (ay 11). Apa yang dilakukan Yohanes Pembaptis sama sekali tidak sebanding dengan apa yang dilakukan Yesus Kristus, hasila khir yang dicapai oleh pelayanan Yohanes Pembaptis hanya sebatas menjadi anggota komunitas Yahudi dddalam agama Yahudi yang fana, tetapi apa yang dihasilkan oleh pelayanan Yesus Kristus menjadi jalan menuntun setiap orang percaya masuk ke dalam Kerajaan Allah yang kekal. Renungan Oleh Karena itu firman Tuhan yang menjadi khotbah dalam minggu Advent yang ke IV ini, mengajak seluruh umat untuk meneladani Yohanes Pembaptis agar hidup dan melakukan tugas panggilan masing-masing untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan membangun KerajaanNya didunia ini, dimana nama Tuhan Yesus Kristus akan diagungkan dan dimuliakan sepanjang masa. Melalui firman ini juga kita diingatkan untuk merenungkan sejauhmana kita telah merespon kerinduan warga gereja dan masyarakat melihat wujud Kerajaan Allah ditengah-tengah situasi yang kering saat ini. Gereja harus lebih konkrit memikirkan pelayanan yang sungguh-sungguh menarik perhatian dan mendorong warga jemaat melibatkan diri bagi terciptanya pertobatan sosial sebagai wujud dari pengenalan akan datangnya Kerajaan Allah. Firman ini juga mengajak para pelayan gereja untuk memberikan keteladanan bagaimana hidup sederhana dan bertanggungjawab, dimana perkataan dan pengakuan verbal benar-benar sama dan sebangun dengan perilaku dan pelayanannya. Yohanes memberitakan penghakiman dan undangan pertobatan. Dua hal ini disampaikan Yohanes supaya kita bisa menyiapkan diri untuk menyambut kerajaan Surga. Pertama, penghakiman, Tuhan pasti melakukan penghakiman kepada umat-Nya. Penghakiman dimulai dari gereja, orang-orang yang terdekat, pemimpin agama. Kita sebagai orang Kristen harus berhati-hati karena kita dibenarkan bukan karena jabatan ataupun latar belakang kita secara keturunan. Banyak orang Kristen terjebak dalam tradisi kekristenan, tetapi tidak ada pertobatan sungguh-sungguh. Yohanes menginginkan pertobatan yang sejati. Ia seorang yang jujur dan berani sehingga umurnya pendek. Banyak orang Kristen ingin seperti Ayub (kekayaan), Daud (kekuasaan), ataupun Salomo (kebijaksanaan), tetapi jarang dari kita yang ingin menjadi Yohanes Pembaptis yang penuh dengan kejujuran dalam memberitakan firman Tuhan. Dari Berbagai Sumber

Khotbah Minggu 15 Desember 2013 Yesaya 35: 1-10

Tema : “Kuatkanlah Hatimu, Jangan Takut” Pendahuluan: Jesaya 35 : 1- 10, termasuk dalam proto Yesaya, menuliskan tentang bangsa Israel yang terancam oleh bangsa-bangsa disekitarnya terutama Asyur yang pada saat itu mau memperluas daerah kekuasaannya. Dalam situasi ketakutan ini bangsa Israel mengharapkan jalan keluar yaitu mengandalkan Mesir bukan Tuhan. Jesaya Pasal 35 : 1-10 secara jelas menggambarkan situasi bangsa ini : seperti gurun, padang kering, tangan yang lemah lesu, lutut yang goyah. Digambarkan keadaan yang “tawar hati” patah semangat alias setengah pingsan. Dalam keadaan yang demikianlah Yesaya memberikan khabar sukacita tentang pengharapan akan datangnya penolong yaitu : ... Allahmu akan datang dengan pembalasan... Ia sendiri datang menyelamatkan kamu ! ( Yesaya 35 : 4 ). Dengan demikian bangsa Israel diberi pemahaman keselamatan dan kebahagiaannya tidak didapat dengan usaha sendiri atau pertolongan bangsa Mesir tetapi Allahlah yang menyelamatkan. “Habis gelap terbitlah terang” adalah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan isi berita bacaan kita hari ini. Suasana gelap itu dapat kita lihat pada pasal-pasal sebelumnya di mana Yesaya memberitakan berbagai macam hukuman yang mengerikan. Sekarang Yesaya justru memberitakan datangnya terang, yaitu keselamatan dan pemulihan dari Tuhan. Penjelasan: Ay. 1-2. Datangnya keselamatan dan pemulihan itu digambarkan dengan indah di ayat-ayat ini. Gambaran apa yang digunakan di sini? Apa yang hendak ditegaskan melalui penggambaran ini? (Catatan: Libanon, Karmel dan Saron adalah tempat-tempat yang terkenal sangat subur) Ay. 3-4. Apa yang diharapkan dengan janji pemulihan di atas? Kepada siapakah penghiburan ini diberikan? Ay. 5-10. Dalam hal apa saja mereka akan mengalami pemulihan? Sebutkanlah minimal empat hal. Ay. 5-10. Perhatikan bagaimana pemulihan itu terjadi. Apa yang hendak ditegaskan di sini? Melalui bacaan hari ini apa yang Anda pelajari mengenai kasih Tuhan? Dan mengenai kuasa-Nya? Renungan Dari pasal-pasal sebelumnya cukup jelas bahwa bukan hanya bangsa-bangsa lain yang akan menerima hukuman, melainkan juga bangsa Israel sendiri. Jika demikian, apakah itu berarti bahwa “nasib” umat Tuhan akan sama dengan bangsa-bangsa lain? Tentu saja, tidak. Berbeda dari bangsa-bangsa lain, umat Tuhan akan mengalami pemulihan yang luar biasa. Bayangkan perubahan drastis yang digambarkan di sini. Padang gurun, padang kering dan padang belantara adalah gambaran keadaan mereka sebelum dipulihkan. Sedangkan kesuburan Libanon, Karmel dan Saron adalah gambaran keadaan mereka setelah dipulihkan. Selain drastis, pemulihan itu juga bersifat menyeluruh. Pemulihan akan terjadi meliputi pemulihan fisik, pemulihan atas kondisi tanah mereka (berarti juga dalam pekerjaan mereka sebagai petani), pemulihan secara sosial (yaitu pulihnya keamanan) dan juga secara spiritual (di mana mereka dapat kembali beribadah di Bait Allah dengan penuh sukacita). Semua bentuk pemulihan yang mereka alami itu akan terjadi secara ajaib. Itu berarti bahwa kuasa Tuhanlah yang mengerjakannya bagi mereka. Mungkinkah pemulihan seperti itu juga dialami oleh umat Tuhan di masa kini? Ada sebuah kisah menarik dari dunia bisnis. Setiap tahun berbagai macam bisnis di Amerika menggunakan jutaan palet (semacam alas pengangkut barang yang terbuat dari kayu). Setelah beberapa kali digunakan palet-palet kayu ini akan rusak dan untuk membuangnya diperlukan $5 per palet. Namun sebuah perusahaan non-profit, Big City Forest, mempunyai gagasan cemerlang. Mereka mengubah limbah kayu ini menjadi bahan pelapis lantai dan bahan mebel. Mereka membeli potongan-potongan limbah kayu itu $30 per ton. Namun setelah menjadi pelapis lantai nilainya $1.200 per ton, dan setelah menjadi mebel $6.000 per ton. Di tangan mereka limbah kayu yang menjadi beban perusahaan diubahkan menjadi bahan-bahan yang berguna dan bernilai tinggi. Jika Big Forest City sanggup melakukan keajaiban seperti itu terhadap limbah kayu, tidakkah Allah sang Pencipta sanggup melakukannya terhadap Anda? Kuasa Allah yang kreatif terwujud nyata bukan hanya pada waktu menciptakan semesta, melainkan juga pada waktu memulihkan ciptaan-Nya yang jatuh dalam dosa. Allah meyelamatkan menyatakan sesuatu perubahan nyata antara lain : Ada kesembuhan secara fisik/jasmani : orang buta dicelikkan, bisu bersorak sorai, lumpuh melompat seperti rusa. Alam yang indah : Gersang menjadi berumput hijau, kering menjadi kolam/ada air, ditempat srigala berbaring ( tempat ketakutan ) tumbuh tebu dan pandan ( jadi lahan pertanian ) Jalan raya yang disebut jalan kudus. Yang dimaksud disini tentunya bukan jalan raya umum tetapi menunjuk kepada jalan untuk orang-orang khusus yang melintasinya yaitu : Orang-orang suci bukan orang-orang najis/tidak tahir/orang pandir. Orang-orang yang dibebaskan Tuhan akan pulang dan masuk ke sion ( ibukota Jerusalem ) : Kegirangan dan sukacita memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh. Ini khabar sukacita tentang pembebasan dan keselamatan. Didalam hidup banyak kesusahan yang terjadi. Kesusahan terjadi bisa dikarenakan : Kemalasan kebodohan/keterbelakangan lingkungan/ alam misalnya : tandus atau terjadi bencana alam gempa, banjir, tsunami,gunung meletus, angin topan, dsb. Keserakahan karena tidak mampu menahan keinginan atas nikmat duniawi misalnya melakukan korupsi supaya ada uang untuk menggaet wanita-wanita yang diinginkan sehingga ditangkap dan masuk penjara Rencana Tuhan untuk kebaikan misalnya seperti nabi Yunus, Ayub Karena Iman kepada Tuhan Yesus seperti Yohanes dipenjarakan karena memberitakan pekerjaan Yesus ( lihat bahan bacaan : Matius 11 : 2-6 ) Dalam kesusahan setiap orang membutuhkan jalan keluar (solusi). Pertolongan hanya ada pada Yesus yang mampu menyelamatkan dan memberikan sukacita sesungguhnya. Andalkan Tuhan dalam pergumulan dan kesusahan bukan mengandalkan diri sendiri, teman, keluarga, harta dan pangkat. Perubahan nyata akan terjadi, saudara akan menjadi pemenang dalam iman, dikuatkan dalam menghadapi kesusahan, memiliki pengharapan bahwa hari esok lebih baik bahkan bisa “BERDAMAI DENGAN DENGAN KESUSAHAN”. Kebahagian milik setiap orang yang menerima Yesus “ KINI DAN YANG AKAN DATANG” Usul ilustrasi : Nick Vujijic adalah seorang yang cacat phisik memiliki tubuh dan kaki kecil, tidak memiliki tangan. Dia memberitakan injil dan menyaksikan besar kuasa Tuhan dalam hidupnya. Dia berdamai dengan kelemahan phisiknya. Hidupnya berguna, bahkan banyak orang menjadi termotivasi menjalani hidup setelah melihat dan mendengar kesaksiannya. “KEBAHAGIAN SESUNGGUHNYA BUKAN OLEH KEADAAN DAN KEBERADAAN KITA TETAPI OLEH SUMBER KEBAHAGIAAN ITU SENDIRI YAITU TUHAN YESUS”, Amin. Dari Berbagai Sumber

Selasa, 03 Desember 2013

"Mengakui Kristus Sebagai Raja" Daniel 7: 9-10,13-14; Wah 1: 4-8; Joh 18: 33-37

Sesuai Tahun Liturgi Gereja, Minggu Kristus Raja merupakan minggu penutup Tahun Liturgi Gereja, sekaligus saat untuk menyambut Adven. Menjelang Minggu Kristus Raja kita akan merenungkan tema seputar “Mengakui Kristus Sebagai Raja”. Untuk itu, mari kita lebih dulu memperhatikan mahkota-mahkota Kristus. Dalam kitab Wahyu dikatakan bahwa: “Di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota…” (Wahyu 19:12). Sudah tentu tiap-tiap mahkota memiliki maknanya sendiri. Tuhan Yesus Kristus memiliki Mahkota Surgawi. Alkitab menyatakan bahwa Dia adalah Allah Pencipta (Yoh 1:1-3) dan Raja di atas segala raja (Why. 17:14). Sebagai Raja di atas segala raja yang bertakhta di Surga, di kepala-Nya ada Mahkota Surgawi. Mahkota Surgawi itu rela Ia lepaskan demi umat manusia. Ia rela mengorbankan Mahkota Surgawi yang Ia miliki untuk datang ke dalam dunia yang fana pada Natal pertama. Tentang Dia Alkitab berkata: “Walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Fil 2:6-7). Dalam keadaan sebagai manusia, Ia rela mengenakan Mahkota Duri (Mat. 27:29). Mahkota Duri adalah mahkota penderitaan, mahkota ejekan, dan mahkota kutukan. Yesus Kristus rela mengenakan Mahkota Duri di atas kayu salib demi menyelamatkan orang-orang berdosa. Puji Tuhan! Mahkota Duri bukan akhir segalanya. Allah Bapa sangat meninggikan Dia (Flp. 2:9-11) dan mengaruniakan kepada-Nya Mahkota Kemuliaan (Ibr 2:9). Ia rela menanggalkan Mahkota Surgawi untuk datang ke dalam dunia dan rela mengenakan Mahkota duri di atas kayu salib untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Allah mengaruniakan kepada-Nya Mahkota Kemuliaan. Ingatlah firman Tuhan: “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp. 2:9-11). Dahulu kala ada seorang raja yang ingin melihat Tuhan. Ia mengancam semua imam dan semua orang bijak dengan hukuman berat jika mereka tidak berhasil menunjukkan Tuhan kepadanya. Ketika mereka semua sedang berpikir keras, datanglah seorang gembala yang membawa sang raja ke padang rumput. Ia menunjuk pada matahari dan berkata kepada raja, “Lihatlah baik-baik.” Raja berusaha dengan keras untuk menatap matahari, tapi ia tidak sanggup. Kemudian raja menundukkan kepala sambil berteriak, “Apa yang hendak kau lakukan padaku? Membuatku buta?” “Tapi baginda,” kata gembala itu, “matahari hanyalah salah satu ciptaan Tuhan, suatu gambaran samar-samar dari diri-Nya sendiri. Jika baginda raja tidak dapat melihat matahari, bagaimna baginda dapat melihat Tuhan?” (Willi Hoffsuemer) Sama seperti sang raja, banyak orang yang “ingin melihat” Tuhan. Melihat-Nya melakukan tanda-tanda mujizat dan perbuatan-perbuatan yang ajaib. Tanpa sungguh-sungguh menyadarai bahwa Tuhan itu adalah Raja, di dalam hati mereka berkata: “Jika Tuhan itu adalah Tuhan, maka tunjukkanlah kuasa dan mujizatmu?” “Jika Engkau adalah Tuhan, sembuhkanlah penyakitku.” “Jika Engkau adalah Tuhan, jawablah doaku dan perbuatlah sesuai dengan keinginanku.” Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: “Apakah kita benar-benar mengakui-Nya sebagai Raja?” Jangan-jangan, secara tidak disadari, kita sudah menempatkan diri sendiri sebagai raja, dan kita menempatkan Tuhan dalam kedudukan sebagai “pesuruh” saja. Kita selalu meminta Dia untuk menjaga kita, memenuhi kebutuhan kita, dan melakukan kehendak kita, tapi kita lupa bahwa Tuhan adalah Allah yang berdaulat dan Raja yang mulia. Tuhan itu Raja (Dan. 7:13-14). Ia adalah Raja di atas segala raja (Why. 19:6,16). Hendaklah kita mengakui Dia sebagai Raja di dalam hati, pikiran dan perbuatan kita. Diri-Nya yang harus kita muliakan, kehendak-Nya yang harus kita cari, dan perintah-Nya yang harus kita lakukan. Alkitab mengatakan: “Sebab TUHAN ialah Hakim kita, TUHAN ialah yang memberi hukum bagi kita; TUHAN ialah Raja kita, Dia akan menyelamatkan kita” (Yes. 33:22). “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Ams. 3:6).

"Keagungan dan Kasih Setia Tuhan" Kolose 1:15-20

Pendahuluan: Tak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupannya orang beriman juga mengalami kesulitan, dan bahkan penderitaan. Kesulitan dan penderitaan itu bisa terjadi karena kesalahan diri sendiri, atau disebabkan oleh sesuatu di luar dirinya, yang kemudian juga menimbulkan banyak pertanyaan. Tidak jarang, ketika penderitaan hidup datang, apalagi bila dirasakan terlalu berat, orang beriman menjadi ragu-ragu akan kasih dan kesetiaan Tuhan. Di satu pihak, orang beriman menyakini akan kebesaran dan keagungan Tuhan, namun pada pihak lain, ia sebagai orang beriman, seperti berada pada keadaan yang tidak memungkinkannya mengakui kebesaran dan keagungan Tuhan. Dengan membaca dan merenungkan firman Allah, kita akan tahu bahwa Allah selalu memperhatikan keadaan umatNya, dan pasti akan menolong dan menyelamatkannya. Sejak semula kasih Allah tidak berubah. Sekalipun banyak orang menolak dan ingin menghalangiNya, Ia tetap dengan rencanaNya, yakni membawa manusia kembali kepadaNya. Melalui manusia Yesus, yang dapat merasakan semua pergumulan dan penderitaan manusia, Allah menyatakan kasih dan karuniaNya yang menyelamatkan. Dengan menghayati apa yang dilakukan Allah di dalam Yesus Kristus ini, umat beriman akan dikuatkan dalam menjalani kehidupannya, sekalipun tidak selalu mudah. Kitab Kolose merupakan suatu dokumen yang mengandung arti yang dalam sekali dan tidak ternilai harganya. Uraian ajaran ini bernada pembelaan karena Paulus bermaksud memerangi ajaran-ajaran mistik dan asketik yang bercorak Yahudi dengan pengertian yang salah tentang alam, penyembahan kepada malaikat-malaikat. Tema pokok Kolose ini adalah kepenuhan dan keutamaan Kristus dan kesempurnaan orang Kristen dalam Dia dibandingkan mistik dan siksaan diri yang diajarkan oleh ilmu filsafat dan hikmat manusia. Ajaran sesat yang mencampurkan teosofi, agama Yahudi dan asketisisme itu nampak bersifat rohani, tetapi pada hakekatnya menjauhkan Kristus dari jabatan-Nya sebagai Tuhan. Beberapa hal yang dibentangkan dalam Kol 1:15-20 ini yang melukiskan Kristus sejati sebagai Allah adalah: pertama, Dia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Kedua, sulung dari segala yang diciptakan. Ketiga, di dalam Dialah diciptakan segala sesuatu. Keempat, Dia adalah terlebih dahulu dari segala sesuatu. Kelima, segala sesuatu ada di dalam Dia. Keenam, seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia. Bagi orang Kristen, Allah dikenal bukan saja sebagai Pencipta, tetapi juga Pembebas. Cara pembebasan itu ialah melalui karya penebusan yang dikerjakan oleh Anak-Nya yang tunggal. Penebusan itu berisikan penebusan dosa (1:13-14). Sebagai bentuk syukur atas karya penebusan Allah tersebut, meluaplah syukur rasul Paulus dalam bentuk puji-pujian yang menunjukkan betapa agung dan utamanya Kristus di atas segala sesuatu. Pasal 1:15-20 merupakan doksologi (pujian) Paulus rentang keagungan dan kemuliaan Yesus Kristus. Ia termulia atas seluruh ciptaan (ay. 15-17) dan di dalam penebusan (18-19). Paulus menunjukkan adanya sesuatu yang hilang di dalam ajaran yang menyelusup ke dalam jemaat Kolose: pandangan yang tepat akan siapa Kristus. Maka, dengan cara pandang yang terarah ini, jemaat diberi peranti untuk menangkal setiap bentuk penyelewengan. Di sini, rasul mengajak jemaat masuk ke dalam suasana penyembahan terhadap Pribadi Kristus, dan bukan sekadar dimensi doktrinal. Keutamaan Kristus ini secara langsung melucuti kepongahan kuasa-kuasa lain yang ingin berkuasa. Penjelasan Teks Kalau kita perhatikan, ada dua bait di dalam nyanyian pujian di 1:15-20 Bait pertama—Kristus, Allah, dan Ciptaan, 1:15-16 1:15 Kristus, gambar Allah 1:16 Kristus, Agen Penciptaan dan Tujuan Segala Sesuatu Bridge—Kristus, Figur Sentral, 1:17,18a 1:17a Kristus, Yang Terlebih Dahulu Ada 1:17b Kristus, Penopang Segala Sesuatu 1:18a Kristus, Kepala Gereja Bait Kedua—Kristus, Allah, dan Ciptaan Baru, 1:18b-20 1:18b Kristus, Dasar Gereja 1:19 Kristus, Kepenuhan Allah 1:20 Kristus, Sarana Pendamaian Segala Sesuatu Pertama, Kristus, Allah dan Ciptaan (1:15-16). Kristus disebut sebagai gambar Allah (eikon Theou) yang berarti representasi tepat atau perwujudanAllah sendiri. Allah adalah roh, dan Ia tidak akan pernah kelihaatan (1Tim. 6:16). Anak Allah adalah pengungkapan yang kelihatan. Ia tidak hanya mencerminkan Allah, tetapi, sebagai Allah sendiri, Ia menyatakan Allah kepada kita (Yoh. 1:18; 14:9; Ibr. 1:1-2). Kemuliaan Kristus mengekspresikan kemuliaan ilahi-Nya (2Kor. 4:4). Ia bukanlah salinan, tetapi pengejawantahan hakikat Allah sendiri. Kita memperoleh “pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2Kor. 4:6). Kristus adalah “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” (Ibr. 1:3). Sebagai yang sulung dari segala ciptaan, Kristus memiliki keutamaan dan kuasa seperti seorang anak sulung di keluarga kerajaan (Ibr. 1:2). Ia datang dari surga, bukan dari debu tanah (1Kor. 15:47), dan Dialah Tuhan segala sesuatu (Rm. 9:5; 10:12; Why. 1:5; 17:14). Kristus benar-benar suci (Ibr. 7:26-28; 1Ptr. 1:19; 2:22; 1Yoh. 3:5), dan Ia memiliki kuasa untuk menghakimi dunia (Rm. 2:16; 2Kor. 5:10; 2Tim. 4:1). Karena itu, Kristus lebih dari segala sesuatu di atas ciptaan, termasuk dunia roh. Meskipun kata “sulung” mengandung arti anak pertama yang dilahirkan manusia, 1:16 segera menjelaskan kebenaran siapa Yesus, bahwa Ia adalah Pencipta. Kristus, tidak sama dengan ciptaan; Ia sendiri adalah Khalik alam semesta. Sebagai Agen dan Tujuan Segala Sesuatu, di sini Paulus memakai kata sambung di dalam, melalui dan untuk Kristus. Jadi, Paulus hendak membungkam pernyataan bahwa Kristus bukan setara dengan Allah. Kata sambung “untuk” menunjukkan bahwa tujuan dari segala ciptaan yakni untuk “memuliakan Kristus.” (Bdk. Yoh. 1:3; Ibr. 1:2-3). Sebagaimana seluruh kepenuhan Allah berada di dalam Dia (1:19), maka di dalam Dia pula seluruh kuasa penciptaan menyatakan Dia adalah Tuhan yang terutama. Oleh sebab para pengajar sesat percaya bahwa dunia fisik ini jahat, mereka berpikir bahwa Allah yang adalah roh tak mungkin menciptakannya. Tetapi Paulus menerangkan bahwa segala singgasana, maupun kerajaan, pemerintah, maupun penguasa, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, tunduk di bawah kuasa Kristus sendiri. Pada zaman Paulus diyakini bahwa umat manusia sedang menghadapi kuasa yang bekerja untuk menjatuhkannya. Tetapi segala macam kuasa ini tunduk tak berkutik di bawah Kristus. Kristus, tiada tanding dan tiada banding. Karena Kristus adalah Pencipta semesta, maka segala kuasa baik yang tak kelihatan maupun yang kelihatan berada di bawah kekuasaan mutlak Kristus. Maka, tidak benar pula jika dikatakan bahwa di samping Kristus, ada perantara lain seperti malaikat yang patut dipuja. Semua kuasa malaikat dan kuasa langit dan bumi takluk di bawah kuasa Kristus. Dialah Tuhan segala sesuatu. Kedua, Kristus adalah Figur Sentral (1:17, 18a). Bahwa Kristus yang lebih dahulu ada. Kristus sudah ada baik secara waktu maupun posisi. Ia adalah Allah yang agung. Kristus Penopang segala sesuatu. Ia bukan hanya Pencipta; Ia juga Penjaga segala hal. Oleh Dia, segala sesuatu ada, dan oleh Dia segala sesuatu terus menjadi. Di dalam Dia, segala sesuatu terjalin, terpelihara dan terjaga dari kekacauan. Sebab Kristus adalah Penopang kehidupan, tidak ada satu pun di dalam dunia yang dapat bebas dari Dia. “Segala sesuatu ada di dalam Dia” dapat dipahami “segala sesuatu terjalin satu sama lain” (sunestaken), yaitu dalam satu keterikatan yang koheren dan logis, tertopang dan tegak, terjaga dari segala keterpurukan dan kekacauan. Di dalam Dia saja dan oleh sabda-Nya, kita menjumpai prinsip pemersatu kehidupan. Umat di Kolose, dan semua kaum beriman, adalah hamba-hamba-Nya yang tiap hari harus mempercayai penjagaan dan pemeliharaan-Nya. Serta, Kristus adalah Kepala Gereja. Gereja ada oleh sebab Kristus adalah awal dan sumber keberadaan-Nya. Kristus adalah Sang Kepala. Orang-orang Kristen harus bekerja bersama-sama di bawah perintah dan otoritas Yesus Kristus. Gereja terdiri dari banyak tipe manusia dari segala jenis latar belakang, dengan pelbagai karunia dan kemampuan. Kendati berbeda-beda, semua orang percaya memiliki prinsip pemersatu—iman di dalam Kristus. Di dalam kebenaran hakiki ini, semua orang percaya bersepakat. Semua orang percaya tidak kehilangan identitasnya, tetapi semuanya bersatu di dalam Kristus, kepala tubuh. Tiap anggotanya bekerja untuk menuntaskan pekerjaan Kristus di atas dunia (Ef. 4:15). Ketiga, Allah, Kristus, dan Ciptaan Baru (1:18b-20). Kristus disebut sebagai dasar gereja, sebab Dialah “yang sulung . . . yang pertama bangkit dari antara orang mati.” Dialah yang pertama mati serta bangkit. Orang yang percaya pun akan mengalami kebangkitan (1Kor. 15:20; 1Tes. 4:14). Tetapi Ia tetap menduduki tempat yang terutama. Kebangkitan Kristus adalah batu penjuru keyakinan Gereja—alasan keberadaan gereja. Hanya Kekristenan yang memiliki Allah yang menjadi manusia, wafat dengan cara hina bagi umat-Nya, dan dibangkitkan kembali dalam kuasa dan kemuliaan untuk memerintah ciptaan lama dan ciptaan baru (yang dimulai oleh gereja) selama-lamanya. Kebangkitan meyakinkan kaum beriman bahwa Kristus bukan legenda; Ia hidup dan memerintah kerajaan-Nya. Kristus juga Kepenuhan Allah. Allah berkenan agar “kepenuhan-Nya” (“totalitas” atau “kesempurnaan”) tinggal (artinya “hidup secara permanen”) di dalam Kristus. Paulus ingin memberikan pemahaman kepada orang Kolose bahwa Kristus adalah tempat bersemayamnya Allah; karena itu, kristus adalah ilahi, berdaulat dan agung. Kristus secara sempurna menampilkan segala atribut (sifat) dan aktivitas Allah: Roh, Firman, hikmat, kemuliaan. Dengan pernyataan ini, Paulus menolak alam pikir Yunani bahwa Yesus tidak mungkin bisa menjadi manusia sekaligus Allah sejati. Kristus benar-benar manusia; Ia pun benar-benar Allah. Rasul pun menolak ajaran sesat bahwa segala kuasa malaikat mengalir dari Allah, memenuhi ruang antara surga dan bumi, sehingga menjadi perantara Allah dan manusia. Ketika kita memiliki Kristus, kita memiliki segala sesuatu yang ada pada Allah, dalam rupa manusia. Segala ajaran yang mengecilkan salah satu aspek—kemanusiaan dan keilahian Kristus—adalah ajaran yang salah. Di dalam Dia, kita menemukan segala hal yang kita butuhkan. Akhirnya, Kristus adalah Sarana Pendamaian Segala Sesuatu. Pendamaian berarti meneguhkan kembali hubungan. Perseteruan menjadi persekutuan. Permusuhan menjadi persahabatan. Oleh sebab Kristus adalah Pencipta dan Penopang segala sesuatu, maka wafat dan salib-Nya menyediakan pendamaian bagi segala sesuatu. Kepenuhan Allah tinggal di dalam Kristus dan kepenuhan Allah ini mendamaikan segala sesuatu kepada Diri-Nya sendiri. Pendamaian ini dipenuhi di dalam Dia (Kristus) dan “oleh darah salib Kristus.” “Baik yang di bumi maupun yang di surga” berarti tidak ada satu pun di alam semesta ini yang terhindar dari jangkauan Kristus. Tidak ada wilayah netral; segala sesuatu berada di bawah kekuasaan-Nya. Tidak ada kuasa kegelapan yang dapat merendahkan karya-Nya bagi gereja-Nya. Iblis dan kuasa jahat tunduk kepada-Nya. Mereka tidak akan diperdamaikan dengan Allah. Sebaliknya, takdir akhir mereka jelas (lihat Why. 20:7-10). Pendamaian dengan cara demikian ini tidak mungkin dapat dikerjakan oleh kuasa-kuasa ataupun malaikat-malaikat. Mereka bukanlah Pencipta dan Penopang, maka tidak mungkin bagi mereka untuk mengerjakan pendamaian tersebut. Kuasa jahat yang menyamar sebagai malaikat terang malahan dilucuti kedoknya, dibongkar kepalsuannya dan menjadi tontonan kekalahan. Ia ditaklukkan di bawah kuasa kemenangan Kristus (2:15). Penerapan 1. Siapakah Yesus Kristus? Kolose 1:15-20 menerangkan bagi kita siapa Dia: a. Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (1:15) b. Ia adalah yang sulung dari segala ciptaan (1:15) c. Oleh Dia segala sesuatu diciptakan (1:16) d. Ia adalah Kepala tubuh, gereja (1:18) e. Ia adalah yang pertama dari semua yang dibangkitkan (1:18) f. Kepenuhan Allah tinggal di dalam-Nya (1:19) g. Melalui Kristus, Allah berkenan mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya (1:20) 2. Kematian Kristus membuka jalan bagi kita untuk datang kepada Allah. Salib membuka jalan yang terhalang dosa sehingga kita tidak mendapatkan persekutuan dengan Allah. Hal ini tidak berarti bahwa setiap orang secara otomatis diselamatkan (seperti paham universalisme—Yesus mati bagi semua, maka semua selamat). Hanya yang percaya dan datang kepada Kristus akan diselamatkan. Kita dapat menerima keselamatan itu tatkala kita datang kepada Kristus yang telah wafat di tempat kita. Allah berkenan melakukan ini melalui Putra-Nya agar kita mendapatkan persekutuan yang kekal dengan Dia. Satu-satunya jalan kepada pendamaian adalah melalui salib Kristus. 3. Apa implikasi bagi kehidupan kita ketika kita mengenal siapa Kristus? a. Kita harus menyembah Dia dengan pujian dan ucapan syukur, b. Kita harus belajar mengenal Dia lebih sungguh, sebab Dia adalah Allah, c. Kita harus menaati Dia, sebab Dia adalah otoritas yang ultimat, dan tidak boleh menduakan kasih Kristus dengan tawaran-tawaran yang lain, d. Kita harus mengasihi Dia atas segala karya-Nya bagi kita. Amen

Khotbah HUT “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian,hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Mazmur 90:12

Pencarian tujuan hidup telah membingungkan banyak orang. Hal ini disebabkan oleh karena kita pada umumnya memulai dengan titik awal yang keliru, yaitu diri kita sendiri. Kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berpusat pada diri sendiri seperti, Ingin menjadi apakah aku kelak? Apa yang sebaiknya aku lakukan dengan hidupku? Apakah sasaran-sasaranku, ambisi-ambisiku, impian-impianku untuk masa depanku? Tetapi memusatkan perhatian pada diri sendiri tidak akan pernah menyingkapkan tujuan hidup kita. Firman-Nya menyaksikan bahwa “di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia” (Ayub 12:10). Itu menjadi suatu pertanda bahwa Tuhan-lah yang empunya segala sesuatu dalam hidup kita. Lalu, pertanyaan yang muncul - bagaimana kita menemukan tujuan Tuhan Allah menciptakan kita? Kita diperhadapkan dengan dua pilihan. Pilihan pertama adalah spekulasi, yang merupakan pilihan sebagian besar orang. Banyak orang menebak, menduga, dan berteori. Ketika orang berkata, “Aku selalu berpikir bahwa hidup ini adalah…,” yang mereka maksudkan ialah “inilah perkiraan terbaik yang bisa ku hasilkan.” Banyak sekali ‘orang pintar’ disekitar kita bahkan termasuk diri kita sendiri, berspekulasi tentang makna kehidupan. Dengan berupaya mengkaitkannya terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kita cenderung mendefenisikan bahwa tujuan hidup adalah seperti ini, seperti itu, dan sebagainya – menurut cara berpikir kita masing-masing.” Filsafat adalah suatu ilmu penting dan memiliki manfaat, tetapi apabila filsafat menentukan tujuan hidup, bahkan para filsuf yang paling bijak sekali pun hanyalah sekedar mampu menebak saja. Itu berarti, tiada satu pun di dunia ini yang dapat merumuskan tujuan hidup manusia secara utuh. Ini sangat penting untuk kita pahami. Kemudian pilihan kedua adalah penyataan, yang merupakan cara Tuhan Allah sendiri menyatakan tentang kehidupan di dalam Firman-Nya. Cara termudah untuk menemukan suatu jenis barang tertentu adalah dengan bertanya langsung pada si pembuat (pencipta) barang tersebut. Demikian pula hal yang sama berlaku untuk menemukan tujuan hidup kita, mari kita tanyakan pada Tuhan Allah Sang Pencipta, bukan sebaliknya malah bertanya apalagi sampai menaruh pengaharapan terhadap kuasa duniawi. “Hikmat Allah…tersembunyi jauh di dalam maksud-maksud-Nya…” Apa yang Tuhan Allah tentukan sebagai cara untuk memunculkan hal terbaik yang Ia ciptakan di dalam kita merupakan berita yang sudah ada sejak semula – sebelum dunia dijadikanNya (1 Korintus 2:7). Tuhan Allah adalah sumber kehidupan, maka untuk menemukan tujuan hidup kita harus melihat FirmanNya yang mengandung hikmat dan kebijaksanaan, bukan sebaliknya hikmat dunia. Kita harus membangun kehidupan ini di atas kebenaran-kebenaran kekal, bukan dari psikologi umum, motivasi sukses, atau kisah-kisah yang memberi inspirasi. Itu memang diperlukan, tetapi sifatnya hanyalah pelengkap – sedangkan yang menjadi substansi pokok adalah hikmat dari Tuhan Allah sendiri. Sebab FirmanNya berkata, “Di dalam Kristuslah kita menemukan siapa kita dan untuk apa kita hidup” (Efesus 1:11). Ini sungguh mengajak kita untuk dapat lebih mengenal diri sendiri sebagai pribadi yang otentik, pribadi yang unik, pribadi yang berharga di mata-Nya. Merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi kita, ketika kita memasuki satu kesempatan yang baru dengan mengenang kembali peristiwa hari lahir ke dunia, itulah yang selanjutnya kita sebut dengan peristiwa ‘Ulang Tahun’. Peristiwa ulang tahun bagi sebagian orang kerap sekali dijadikan sebagai moment perayaan, yang di dalamnya kita dapat saling berbagi, tertawa bersama, saling menguatkan dengan cara memberikan kata-kata peneguhan dan motivasi sebagai pelengkap tujuan hidup itu tadi, dan yang terpenting adalah mengucap syukur kepada-Nya atas berkat dan perlindungan yang sudah diberikan. Dengan bertambahnya usia terhadap seseorang diharapkan dapat menambahkan kedewasaan berpikir dan bertindak. Oleh karena itu dibutuhkan suatu panduan yang mampu menuntun arah perjalanan hidup seseorang supaya lebih baik adanya di waktu mendatang. Pemazmur dalam nas renungan ini menyampaikan maksudnya kepada kita dengan mengkemasnya dalam bentuk doa permohonan. Doa permohonan tersebut lahir dari keyakinan imannya bahwa Tuhan Allah adalah Penolong Israel yang setia dan Penolong yang mahakuasa bagi manusia ~ manusia yang sungguh begitu tiada berarti dan patut menerima penghukuman. Dalam permohonan itu disebutkan supaya diberi ‘hati yang bijaksana’ yakni hati yang sadar akan hakikat kepapaan manusia dan tahu hidup sesuai dengannya. Sebab hidup ini merupakan benar-benar singkat dan selalu berada dalam ancaman hukuman Tuhan bila kita menyimpang dari jalanNya, maka dibutuhkan suatu pengontrol bagi kita agar mampu menjalani hidup supaya baik adanya dengan memiliki hati yang bijaksana. Hati yang bijaksana ialah hati yang “mengenal kekuatan murka Tuhan” (bnd.Mazmur 90:11). Oleh karena itu untuk memperoleh hati yang bijaksana maka manusia perlu dibimbing oleh Tuhan Allah (“ajarlah”). Ungkapan “Ajarlah kami menghitung hari-hari…” sungguh mau mengatakan bagi kita, tidak perlu malu untuk belajar, membuka diri terhadap kekurangan dan kelemahan diri sendiri, meminta pertolonganNya supaya kita dianugerahkan hati yang bijaksana. Justru banyak orang pada zaman sekarang sangat sulit untuk membuka diri, belum mampu mengenali diri sendiri dan menerimanya apa adanya. Hal ini sungguh patut untuk dipergumulkan. Mengenai hal ini, seseorang pernah menulis catatan ini: "Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulitnya mengubah seluruh dunia ini, lalu aku putuskan untuk mengubah negaraku saja. Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku pun mulai mengubah keluargaku. Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri. Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini." Pesan yang kita peroleh dari tulisan di atas ialah: Tidak ada yang bisa kita ubah sebelum kita mengubah diri sendiri. Tak bisa kita mengubah diri sendiri sebelum mengenal diri sendiri. Takkan kenal pada diri sendiri sebelum mampu menerima diri ini apa adanya. Saudara, Yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, ulang tahun merupakan moment yang sangat penting bagi kita untuk dapat mengevaluasi karya dan upaya yang sudah dikerjakan pada masa lampau, selanjutnya kita dapat berbenah diri untuk melangkah lebih pasti pada masa yang akan datang dengan dibekali hati yang bijaksana sebagai bentuk penyertaan Tuhan Allah dalam hidup kita. Sungguh patutlah kita mengucap syukur kepada-Nya, sebab Tuhan itu sungguh baikKehidupan yang kita peroleh sampai hari ini merupakan bukti nyata penyertaanNya, bahwa Tuhan Allah itu sungguh baik sehingga Dia memelihara hidup kita, keluarga kita, serta memperlengkapi kita dengan hikmat dan kebijaksanaan daripadaNya. Amin.